Anda di halaman 1dari 5

Tawadhu

Merendahkan diri (tawadhu’) adalah sifat yang sangat terpuji di hadapan


Allah dan juga di hadapan seluruh makhluk-Nya. Setiap orang mencintai sifat ini
sebagaimana Allah dan Rasul-Nya mencintainya. Sifat terpuji ini mencakup dan
mengandung banyak sifat terpuji lainnya.

Tawadhu’ adalah ketundukan kepada kebenaran dan menerimanya dari siapapun


datangnya baik ketika suka atau dalam keadaan marah. Artinya, janganlah kamu
memandang dirimu berada di atas semua orang. Atau engkau menganggap semua
orang membutuhkan dirimu.

Menerima dan tunduk di hadapan kebenaran sebagai perwujudan


tawadhu’ adalah sifat terpuji yang akan mengangkat derajat seseorang bahkan
mengangkat derajat suatu kaum dan akan menyelamatkan mereka di dunia dan
akhirat. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Negeri akhirat itu Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak menyombongkan diri
dan berbuat kerusakan di muka bumi dan kesudahan yang baik bagi orang-orang
yang bertakwa.” (Al-Qashash: 83)

Perintah untuk Tawadhu:

-“Sungguh telah ada bagi kalian pada diri Rasul teladan yang baik.” (Al-
Ahzab: 21)

-“Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu yaitu


orang-orang yang beriman.” (Asy-Syu’ara: 215).

-“Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku agar kalian


merendahkan diri sehingga seseorang tidak menyombongkan diri atas yang lain
dan tidak berbuat zhalim atas yang lain.” (Shahih, HR Muslim no. 2588).

“ Dan hamba-hamba tuhan yang maha penyayang itu adalah orang-orang


yang berjalan diatas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil
menyapa mereka.mereka mengucapkan kata-kata yang baik ‘. ( Qs Al Furqan-63 ).

Macam-macam Tawadhu:

1.Tawadhu’ yang terpuji yaitu ke-tawadhu’-an seseorang kepada Allah dan tidak
mengangkat diri di hadapan hamba-hamba Allah.

2. Tawadhu’ yang dibenci yaitu tawadhu’-nya seseorang kepada pemilik dunia


karena menginginkan dunia yang ada di sisinya
Taat

Taat secara bahasa adalah senantiasa tunduk dan patuh, baik terhadap Allah,
Rasul maupun ulil amri. “ Hai orang-orang yang beriman taatilah Allah dan taatilah
Rasul (Nya), dan ulil amri diantara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat
tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al Quran) dan Rasul
( Sunahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian yang
demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya “.(QS An-Nisa : 59)

Taat pada Allah tidak hanya asal taat, didalam pelaksanaan teknisnya harus benar dan
sungguh-sungguh sesuai dengan kemampuan yang dimiliki, dan dengan tampa alasan apapun
menghentikan segala larangan-Nya. Sebenarnya apa-apa yang menjadi perintah Allah Taalla
sudah tidak diragukan lagi pasti tersimpan segala kemaslahatan (kebaikan), sedangkan apa-apa
yang menjadi larangan-Nya sudah tertulis akan segala kemudharatanya (keburukan).
Kemudharatan (bencana alam dimana-mana) yang sering terjadi akhir-akhir ini merupakan imbas
dari tidak menghiraukan segala larangan Allah dan Rasul-Nya. Qs Ali Imran ayat 32
memperjelasnya :
“ Katakanlah, taatilah Allah dan Rasul-Nya, jika kamu berpaling, maka sesungguhnya
Allah tidak menyukai orang-orang kafir “.
Begitu juga ketaatan kepada Rasul, yaitu Rasulullah Saw dengan selalu
meimplementasikan yang terdapat dalam hadis beliau. Sebagai utusan Allah Nabi
Muhammad Saw mempunyai tugas menyampaikan amanah kepada umat manusia
tampa memandang status, jabatan, suku dsb. Oleh karena itu bagi setiap muslim
yang taat kepada Allah Swt harus melengkapinya dengan mentaati segala perintah
Rasulullah Saw sebagai utusan-Nya. Sebagai mana yang difirmankan Allah didalam
Qs At Taqabun ayat 12

“ Dan taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul, jika kamu berpaling,
maka sesungguhnya kewajiban rasul kami hanyalah menyampaikan (amanah Allah)
dengan terang “.

Ketaatan tersebut dalam artian harus selalu taat dan mematuhi peraturan-
peraturan yang telah ditelurkan secara bersama, tentu selam peraturan itu masih
diatas nilai-nilai kemanusiaan dan tidak menyimpang dari aturan agama Islam.
Seorang anak harus taat dan patuh pada kedua orang tuanya, murid kepada gurunya, istri
kepada suaminya agar kasus-kasus perceraian yang marak terjadi belakangan ini dan dengan
berbagai macam penyebabnya dapat diminimalisir dsb. Dari Ibnu Umar Ra. Nabi Muhammad
Saw bersabda :
“ Wajib bagi seorang muslim mendengarkan dan taat sesuai dengan yang disukai dan apabila
diperintah untuk menjalankan maksiat jangan dengarkan dan jangan taati “. ( Hr. Muslim ).
Qanaah
Qanaah ialah menerima dengan cukup.

Qanaah itu mengandung lima perkara:

1. Menerima dengan rela akan apa yang ada.


2. Memohonkan kepada Tuhan tambahan yang pantas, dan berusaha.
3. Menerima dengan sabar akan ketentuan Tuhan.
4. Bertawakal kepada Tuhan.
5. Tidak tertarik oleh tipu daya dunia.

Itulah yang dinamai Qanaah, dan itulah kekayaan yang sebenarnya.

Rasulullah saw bersabda:

"Bukanlah kekayaan itu lantaran banyak harta,kekayaan ialah kekayaan jiwa".

Artinya: Diri yang kenyang dengan apa yang ada, tidak terlalu haloba dan cemburu,
bukan orang yang meminta lebih terus terusan. Kerana kalau masih meminta tambah,
tandanya masih miskin.

Rasulullah saw bersabda juga:

Artinya:

"Qanaah itu adalah harta yang tak akan hilang dan pura (simpanan) yang tidak akan
lenyap". (HR. Thabarai dari Jabir).

Orang yang mempunyai sifat qanaah telah memagar hartanya sekadar apa yang dalam
tangannya dan tidak menjalar fikirannya kepada yang lain.
SALAH satu sebab yang membuat hidup ini tidak tentram adalah terpedayanya diri oleh
kecintaan kepada harta dan dunia. Orang yang terpedaya harta akan senantiasa merasa tidak
cukup dengan apa yang dimilikinya. Akibatnya, dalam dirinya lahir sikap-sikap yang
mencerminkan bahwa ia sangat jauh dari rasa syukur kepada Allah Sang Maha Pemberi rezeki.
Orang-orang yang cinta dunia akan selalu terdorong untuk berburu segala keinginannya, meski
harus menggunakan segala cara: licik, bohong, mengurangi timbangan atau sukatan, dan
sebagainya. Ia juga tidak pernah menyadari, sesungguhnya harta hanyalah ujian.
"Maka apabila manusia ditimpa bahaya ia menyeru Kami, kemudian apabila kami berikan
kepadanya nikmat dari Kami ia berkata: 'Sesungguhnya aku diberi nikmat itu hanyalah karena
kepintaranku'. Sebenarnya itu adalah ujian, tapi kebanyakan mereka itu tidak mengetahui" (QS.
Az-Zumar (39):49).
Ayat tersebut mengindikasikan adanya orang-orang yang tidak tepat dalam menyikapi harta dan
dunia yang diberikan kepadanya. Ia menyangka, ketentraman hidupnya ditentukan oleh banyak-
tidaknya harta yang ia miliki, besar-kecilnya tempat tinggal, tinggi-rendahnya kedudukan dan
pangkat yang disandangnya.
Ketentraman hidup sesungguhnya hanya dapat diraih melalui penyikapan yang tepat terhadap
harta dan dunia, sekecil dan sebesar apa pun harta yang dimilikinya. Sikap demikian dikenal
dengan sebutan qanaah, yang berarti merasakan kecukupan dan kepuasan atas harta dan dunia
miliknya.
Orang yang qanaah hidupnya senantiasa bersyukur. Makan dengan garam akan terasa nikmat
tiada terhingga, karena ia tidak pernah berpikir tentang daging yang tiada di hadapannya. Makan
dengan sayur lodeh atau daging akan sangat disyukurinya. Ia pun akan berusaha untuk membagi
kenikmatan yang diterimanya itu dengan keluarga, kerabat, teman atau pun tetangganya, karena
ia ingat pada orang-orang yang hanya bisa makan dengan garam saja.
Sabar
Sabar adalah pilar kebahagiaan seorang hamba. Dengan kesabaran itulah seorang hamba akan
terjaga dari kemaksiatan, konsisten menjalankan ketaatan, dan tabah dalam menghadapi berbagai
macam cobaan. Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Kedudukan sabar dalam iman laksana
kepala bagi seluruh tubuh. Apabila kepala sudah terpotong maka tidak ada lagi kehidupan di
dalam tubuh.” (Al Fawa’id, hal. 95)
Pengertian Sabar
Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Sabar adalah meneguhkan
diri dalam menjalankan ketaatan kepada Allah, menahannya dari perbuatan maksiat kepada
Allah, serta menjaganya dari perasaan dan sikap marah dalam menghadapi takdir Allah….”
(Syarh Tsalatsatul Ushul, hal. 24)
Macam-Macam Sabar
Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Sabar itu terbagi menjadi
tiga macam:
1. Bersabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah
2. Bersabar untuk tidak melakukan hal-hal yang diharamkan Allah
3. Bersabar dalam menghadapi takdir-takdir Allah yang dialaminya, berupa berbagai hal yang
menyakitkan dan gangguan yang timbul di luar kekuasaan manusia ataupun yang berasal dari
orang lain (Syarh Tsalatsatul Ushul, hal. 24)
Sebab Meraih Kemuliaan
Di dalam Taisir Lathifil Mannaan Syaikh As Sa’di rahimahullah menyebutkan sebab-sebab
untuk menggapai berbagai cita-cita yang tinggi. Beliau menyebutkan bahwa sebab terbesar untuk
bisa meraih itu semua adalah iman dan amal shalih.
Di samping itu, ada sebab-sebab lain yang merupakan bagian dari kedua perkara ini. Di
antaranya adalah kesabaran. Sabar adalah sebab untuk bisa mendapatkan berbagai kebaikan dan
menolak berbagai keburukan. Hal ini sebagaimana diisyaratkan oleh firman Allah ta’ala, “Dan
mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat.” (QS. Al Baqarah [2]: 45).
Yaitu mintalah pertolongan kepada Allah dengan bekal sabar dan shalat dalam menangani semua
urusan kalian. Begitu pula sabar menjadi sebab hamba bisa meraih kenikmatan abadi yaitu surga.
Allah ta’ala berfirman kepada penduduk surga, “Keselamatan atas kalian berkat kesabaran
kalian.” (QS. Ar Ra’d [13] : 24).
Allah juga berfirman, “Mereka itulah orang-orang yang dibalas dengan kedudukan-kedudukan
tinggi (di surga) dengan sebab kesabaran mereka.” (QS. Al Furqaan [25] : 75).
Selain itu Allah pun menjadikan sabar dan yakin sebagai sebab untuk mencapai kedudukan
tertinggi yaitu kepemimpinan dalam hal agama. Dalilnya adalah firman Allah ta’ala, “Dan Kami
menjadikan di antara mereka (Bani Isra’il) para pemimpin yang memberikan petunjuk dengan
titah Kami, karena mereka mau bersabar dan meyakini ayat-ayat Kami.” (QS. As Sajdah [32]:
24)