Anda di halaman 1dari 6

Profil Perumahan dan Permukiman di Kota Kupang

http://www.bappedakotakupang.org/index.php?option=com_content&view=article&id=14%3Aprofil-
perumahan-dan-permukiman-di-kota-kupang&catid=42%3Abidang-fispra&Itemid=18

Kota Kupang merupakan ibukota Propinsi Nusa Tenggara Timur yang memiliki luas wilayah 18.027 Ha, terdiri dari 4
(empat) kecamatan serta 45 (empat puluh lima) kelurahan, yang mencakup daratan, lautan dan udara secara terintegrasi.
Dengan total populasi penduduk yang diperkirakan pada tahun 2009 mencapai 276.268 (perkiraan dalam RTRW tahun
2005). Menurut Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Kupang, fungsi kota tersebut ditetapkan sebagai Pusat Kota
Kegiatan Nasional (PKN), Pusat Kegiatan Pemerintahan Provinsi Nusa Tenggara Timur, Pusat Pengembangan Pariwisata,
Pusat Pendidikan, Pusat Pelayanan Kesehatan, Pengembangan Kawasan Budidaya, Pengembangan Prasarana Transportasi
dan Ekonomi, Pusat Pengembangan Kawasan Prioritas Timor Barat.

Gambar 3. 14 Potensi Kota Kupang

Kondisi alam di Kota Kupang dapat dikatakan cukup berbeda dengan wilayah survey lainnya. Kota Kupang memiliki
kontur wilayah yang beragam disertai dengan kondisi tanah berbatu karang, layaknya seperti wilayah Nusa Tenggara Timur
lainnya. Hal ini menyebabkan munculnya tantangan baru dalam merencanakan tata ruang khususnya peruntukan wilayah
permukiman di Kota tersebut.
Menurut RTRW Kota Kupang tahun 2005, rencana lingkungan perumahan di kota Kupang menyebar pada berbagai
kawasan kota yang terbagi ke dalam tujuh Bagian Wilayah Kota (BWK). Adapun rencana pembangunan perumahan baru
yang mantap difokuskan pada BWK VI yakni Kelurahan Naioni dengan luas 1.552,34 Ha dan BWK VII yaitu
Kelurahan Sikumana dengan luas 830,30 Ha. Untuk persebaran kawasan permukiman di BWK lainnya, terpadu dengan
fungsi utama pada masing-masing BWK.

Pengembangan kawasan permukiman di wilayah Kota Kupang diarahkan pada :

• Kawasan permukiman yang telah dikembangkan dan masih dapat ditingkatkan kepadatannya (Intesifikasi),
dengan tetap memperhatikan ambang batas kepadatan penduduk netto maksimal 300 jiwa/hektar.

• Kawasan permukiman baru diarahkan kebagian Selatan dan Tenggara Kota (Kelurahan Naeoni, kelurahan
Fatukoa, Kelurahan Belo, Kelurahan Liliba dan Kelurahan Naimata). Recana Luas peruntukan lahan Permukiman
di wilayah Kota Kupang adalah 9.125,39 Ha atau 55.118 dari luas wilayah Kota Kupang;

Berdasarkan wawancara dan diskusi yang dilakukan bersama dengan Bappeda Kota Kupang Bidang
Fisik, kriteria lokasi survei yang meliputi: Lokasi Perumahan Swadaya untuk Golongan Masyarakat
Berpendapatan Rendah (MBR), dan bukan merupakan kawasan kumuh, maka ditetapkan lokasi kecamatan yang dapat
disurvei, yakni Kecamatan Kelapa Lima, Oebubu, Alak, dan Maulafa. Peta Kota Kupang dan lokasi survei perumahan
dapat di lihat pada gambar di bawah ini.

Hasil Survei
Klasifikasi kategori tingkat pendidikan penghuni rumah swadaya di Kota Kupang, maka jumlah penghuni paling besar
dengan tingkat pendidikan terakhir SMA (44,94%), kemudian tingkat SMP dengan persentase sebesar 26,97%, tingkat SD
dengan persentase mencapai 19,10% dan jumlah terendah yaitu pada tingkat pendidikan perguruan tinggi (8,99%). Dari
data tersebut dapat dipahami bahwa sebagian besar Kepala Keluarga yang termasuk ke dalam kelompok MBR memiliki
pendidikan terakhir SMA.

Sebagian besar penghuni rumah swadaya (71,91%) telah tinggal selama lebih dari 10 tahun di lokasi perumahan
swadaya tersebut. Sedangkan untuk jangka waktu tinggal 5-10 tahun persentasenya sebesar 25,84%. Dari data ini dapat
disimpulkan bahwa sebagian besar penghuni yang tinggal dalam lingkungan permukiman swadaya, yang biasa dikenal
dengan perkampungan kota telah menetap dalam jangka waktu yang cukup lama.

Terkait dengan kepemilikan lahan dan bangunan tempat tinggal yang dibangun langsung secara swadaya oleh masyarakat
Kota Kupang, sebagian besar merupakan milik sendiri (66,67%). Selebihnya, merupakan warisan dari orang tua (22,52%),
dan persentase paling rendah yaitu status kepemilikan dengan sewa/kontrak. Mengenai izin bangunan, sebagian besar
rumah swadaya yang dibangun oleh masyarakat tidak memiliki izin bangunan (66,67%). Hal tersebut dapat disebabkan
karena pembangunan rumah dilakukan sendiri oleh masyarakat sehingga proses perizinan menjadi kurang diperhatikan.

Prasarana dasar lingkungan di lokasi permukiman swadaya yang ditemui di Kota Kupang ditunjukkan dengan sebagian
besar masyarakat terlayani air bersih langsung (sistem pipa) dan tidak langsung dari PDAM dengan persentase sebesar
60%, ketersediaan penerangan jalan 80%, kondisi jalan dengan aspal terawat (61%), saluran drainase yang kurang terawat
dan tidak tersedia pada beberapa lokasi perumahan swadaya. Namun demikian, ketersediaan jamban masih rendah
karena hanya 40% rumah yang sudah memiliki jamban sendiri di dalam rumahnya.

Kondisi fisik bangunan dari bahan dinding, atap dan lantai pada perumahan swadaya masyarakat Kota Kupang dalam
kategori baik. Bahan dinding yang digunakan adalah tembok (60%) dan kayu bebak (35%). Material atap mayoritas dari
bahan seng (97%), dan mayoritas bahan lantai sudah berupa perkerasan, hanya 15% yang masih berupa tanah. Bangunan
rumah swadaya masyarakat Kupang memiliki ciri khas berupa bahan dinding rumah dari kayu bebak (kayu tradisional
Kupang).

Untuk penyaluran air bersih pipa di Kota Kupang, dilakukan oleh PDAM Kabupaten Kupang dan Kota Kupang yang baru
saja terbentuk tahun 2009. Pembentukan PDAM Kota disebabkan karena terjadi perubahan wilayah adminstrasi
Kabupaten Kupang menjadi Kota Kupang pada beberapa wilayah kecamatan pada tahun 2005. Perubahan administrasi
ini kemudian menjadi dasar pembentukan PDAM Kota Kupang, yang baru saja berdiri pada bulan Maret 2009. Selama
jangka waktu 2005 sampai dengan 2009, pemerintah mengkaji dan mempersiapkan pembentukan perusahaan daerah
tersebut dan kemudian PDAM Kota secara mandiri setelah tiga tahun berikutnya.

Dengan kondisi seperti ini, tentunya cakupan wilayah pelayanan dan instalasi air minum yang dilaksanakan oleh
Kabupaten Kupang terkadang tumpang tindih dengan PDAM kota. Pembagian asset dan pengurusan batas wilayah
pelayanan sampai saat ini masih dalam tahap proses pengurusan. Walaupun secara normative, pembagian cakupan
pelayanan dapat disesuaikan dengan batas administrasi kabupaten dan kota, di lain pihak masih banyak hal lainnya yang
perlu ditelaah lebih lanjut.
Saat ini penduduk Kota dan Kabupaten Kupang yang telah terlayani air bersih pipa PDAM mencapai 29% pada tahun
2008. Tingkat kehilangan air saat ini masih cukup besar yang mencapai angka 35% dengan upaya penurunan tingkat
kebocoran mencapai 3% per tahun. Kapasitas produksi terpasang 517 liter/detik dengan kapasitas produksi operasi 312
liter/detik. Untuk lebih jelasnya, data umum serta produksi air minum PDAM Kupang diuraikan dalam tabel berikut ini.
Tabel 3. 8 Kondisi Dominan Prasarana Dasar Lingkungan
Uraian Kondisi Persentase
Sumber Air Bersih PDAM 59,55%
Jamban Luar Rumah 56,2%
Kapasitas Listrik 450 Watt 61,9%
Penerangan Jalan Ada, belum 79,78%
cukup
Kondisi Jalan Aspal terawat 60,67%
Bahan Dinding Tembok 57,3%
Bahan Atap Seng 97,8%
Bahan Lantai Plester 34,83%
Sumber: Hasil analisis survei perumahan swadaya, 2009
Terkait dengan perbaikan fasilitas prasarana dasar lingkungan, salah satu program yang terdapat di Kota tersebut ialah
PNPM Mandiri yang turut memberikan bantuan fasilitasi prasarana jalan dan peningkatan ekonomi local.

Analisis Keadaan Rumah


Analisis ini menunjukkan kondisi perumahan swadaya di Kota Kupang tehadap aspek luas perkapita (layanan 10M2), fisik
rumah, air minum, jamban dan listrik. Secara umum kondisi perumahan swadaya di Kupang masih belum memuaskan.
Kondisi selengkapnya adalah sebagai berikut:

• Sebagian besar luas bangunan rumah di Kota Kupang belum memenuhi standar 10M2 per orang (65%).
Hanya kurang lebih 35% yang memiliki luas rumah lebih dari 10 m2.

• Fisik rumah yang dinilai berdasarkan material bangunan kemudian dibobotkan ke dalam faktor fisik rumah
perumahan swadaya di Pontianak menunjukkan bahwa 47% merupakan bangunan permanen, 32% merupakan
bangunan semi permanen, dan selebihnya 10% masih berupa bangunan non permanen.

Air minum menunjukkan bahwa sebagian besar rumah swadaya di Kota Kupang memperoleh air bersih dari PDAM
baik dari jaringan pipa maupun tanki (85%). Hanya 15% masyarakat perumahan swadaya yang mengakses air bersih
melalui sumber lain.
• Jamban, ketersediaan jamban pada rumah swadaya telah mencapai 57% yang menunjukkan besarnya kesadaran
masyarakat akan pentingnya sanitasi yang baik. Meskipun lebih dari separuh rumah swadaya memiliki jamban
dalam rumah, namun yang menggunakan jamban di luar rumah/komunal masih cukup besar 43%.

• Sebagian besar penghuni perumahan swadaya telah memiliki jaringan listrik di rumahnya dengandaya listrik
tersambung sebesar 450 watt dan 900 watt.
Analisis Keadaan Prasarana Lingkungan
Kondisi jalan di lingkungan perumahan secara umum sudah diaspal (60,7%). Kondisi jalan dengan perkerasan yang
terawat hanya sekitar 24,7% dan yang masih berupa jalan tanah sebesar 14,7%.
• Sekitar 80% penerangan jalan di lingkungan perumahan yang sudah dimiliki pada setiap jalan.

Dengan demikian terdapat 20% lingkungan perumahan yang belum memiliki penerangan jalan.

• Kondisi drainase di lingkungan perumahan swadaya Kota Kupang ternyata cukup memprihatinkan, sebesar
58,43% tidak memiliki jaringan drainase di lingkungan rumahnya. Jaringan drainase yang ada sebesar 26,97%
dalam kondisi terawat dan sisanya 14,6% berada dalam kondisi tidak terawat.

• TPS pada perumahan swadaya di Kupang ternyata baru dimiliki oleh 58% penghuni dan 42% belum memiliki
TPS. Keadaan ini hendaknya perlu mendapat perhatian agar pengelolaan sampah lebih baik lagi sehingga dapat
menciptkan lingkungan perumahan sehat.

Analisis Keadaan Penghuni dan Kegiatan Warga

Profil penghuni dilihat dari kriteria warga yang harus diprioritaskan dalam pelayanan perbaikan keadan perumahan dan
permukiman. Namun karena kajian kali ini dilakukan pada permukiman swadaya, maka gambaran penghuni tidak sama
dengan gambaran penduduk yang ada dalam data statistik yang sifatnya lebih umum, walau dalam kategori sama yaitu
perumahan kota. Berikut ini keadaan penghuni perumahan swadaya di Kota Kupang:

• Jumlah anggota keluarga penghuni perumahan swadaya di Kupang yang berjumlah 1-4 orang (dengan asumsi
jumlah anak dua orang) persentasenya sebesar 36%, dan 64% lebih dari 4 orang. Keadaan ini menunjukkan
bahwa tingkat hunian perumahan swadaya cukup padat.

• Tingkat pendidikan terakhir SMA (44,94%), kemudian tingkat SMP dengan persentase sebesar 26,97%,tingkat SD
dengan persentase mencapai 19,10% dan jumlah terendah yaitu pada tingkat pendidikan perguruan tinggi (8,99%).

• Kerentanan pekerjaan penghuni didasarkan pada seberapa rentan pekerjaan penghuni terhadap kondisi eksternal.
Penghuni perumahan swadaya yang memiliki pekerjaan yang rentan di Pontianak sebanyak 77% sedangkan yang
tidak rentan sebanyak 23%. Kondisi ini menunjukkan bahwa penghuni perurmahan swadaya di Kupang
didominasi oleh penghuni yang memiliki pekerjaan yang rentan. Sehingga diharapkan program-program
pengembangan perumahan lebih memprioritaskan pada perumahan swadaya agar dapat memberikan dukungan
biaya bagi peningkatan kualitas perumahan.

• Baiknya, penghasilan masyarakat didominasi oleh penghuni dengan penghasilan diatas UMR hingga 34,8% dan
penghasilan antara (menengah) sebanyak 28,1%.Keadaan ini menunjukkan bahwa perumahan swadaya masih
menjadi pilihan masyarakat untukmembangun rumahnya, tidak hanya yang berpenghasilan rendah juga yang teleh
berpenghasilan cukup tinggi.

• Pada perumahan swadaya yang disurvei pada penelitian ini 85,4% menyatakan pernah mendapatkan program
perbaikan dan 14,6% belum pernah.
• Kegiatan sosial yang dilakukan pada perumahan swadaya berkisar antara 1-2 kegiatan (71,9%).

Kegiatan tersebut pada umumnya berupa kegiatan gotong royong dan kegiatan arisan.

• Hubungan antar warga penghuni perumahan swadaya di Kupang pada umumnya baik (70,8%), dan 29,2%
menyatakan sangat baik. Kondisi ini menunjukkan masih terjaganya rasa kebersamaan dalam lingkungan
masyarakat perumahan swadaya.

Analisis Keterkaitan antar Faktor


Analisis ini dilakukan untuk mendapatkan gambaran tentang potensi dan permasalahan pengembangan perumahan
swadaya di Kota Kupang. Berdasarkan hasil analisis crosstab yang telah dilakukan dapat terpetakan faktor-faktor yang
memiliki pengaruh terhadap faktor lain.

• Hubungan warga penghuni perumahan swadaya di Kupang dipengaruhi oleh tingkat penghasilan dan
kerentanan pekerjaan. Hubungan antar warga yang secara umum sangat baik terjadi pada penghuni dengan tingkat
penghasilan baik (30%).

• Jumlah banyaknya kegiatan sosial di lingkungan perumahan, terkait dengan pekerjaan penghuni perumahan
swadaya. Baik pekerjaan rentan ataupun tidak rentan, keduanya secara merata memiliki kegiatan sosial di
lingkungannya.

• Kondisi luas rumah (kepadatan rumah/orang) dipengaruhi oleh tingkat penghasilan dan jumlah anggota
keluarga, Sedangkan untuk analisis keterkaitan antara kondisi ekonomi masyarakat dengan fisik rumah sebesar
25% terdapat keterkaitan antara fisik rumah baik dan penghasilan tinggi.

• Kepemilikan jamban di dalam rumah pada perumahan swadaya di Kupang hanya 40 %. Variabel ini tidak
memiliki hubungan yang valid dengan kondisi yang lain.

• Ketersediaan air bersih dipengaruhi oleh karakteristik penghuni (pekerjaan). Kondisi ini menunjukkan bahwa
preferensi berlangganan air melalui PDAM didasarkan pada kemampuan financial keluarga.

• Program bantuan perbaikan lingkungan pada perumahan swadaya dipengaruhi oleh pekerjaan dan jumlah
keluarga. Program ini didominasi pada lingkungan perumahan dengan penghuni yang memiliki pekerjaan rentan
dengan jumlah keluarga lebih dari empat orang. Keadaan ini menunjukkan bahwa program perbaikan perumahan
terdapat pada lokasi perumahan yang cukup padat (keluarga lebih dari empat orang) dan pekerjaan yang rentan.

• Kondisi drainase pada perumahan swadaya di Kota Kupang sebagian besar tidak terawat. Kondisi drainase ini
dipengaruhi oleh jumlah anggota keluarga, dimana komposisinya seimbang antara jumlah anggota keluarga 1-4
orang dan lebih dari 4 orang. Terkait dengan tingkat pendidikan dan pekerjaan, kondisi drainase yang tidak
terawat banyak dijumpai pada penghuni dengan tingkat pendidikan rendah dan pekerjaan yang rentan.

Rumusan Karakteri stik Perumahan Swadaya di Kota Ku pang


Analisis berikut ini merupakan tahap terkahir dari studi peantauan terhadap karakteristik perumahan swadaya di
beberapa kota di Indonesia. Untuk memberikan informasi yang lebih sederhana terkait dengan karakteristik perumahan
swadaya di Kota Kupang, maka dapat diilutrasikan pada tabel berikut ini:

Rumusan Karakteristik Perumahan Swadaya Di Kota Kupang

• Potensi

Kondisi rumah secara fisik sudah baik. Kondisi yang baik ini juga ditunjang oleh sudah banyaknya program
pemerintah yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas lingkungan permukiman di Kota Kupang. Pelaksanaan
program ini telah dirasa berjalan cukup baik, bila dilihat dari frekuensi pelaksanaan maupun masyarakat yang
menjadi target pelaksanaan program Telah terdapat jaringan air bersih dan peluang masyarakat penghuni
perumahan swadaya untuk

• Permasalahan
Luasan rumah dari berbagai tingkat ekonomi dan pendidikan terbilang rendah, dimana setiap orang menghuni
ruang kurang dari 10 meter persegi. Pelayanan PDAM masih belum merata, dan dari segi cakupan masih rendah,
yakni hanya melayani 59,55% penduduknya.

• Usulan Kebijakan

Pelaksanaan kredit mikro di sektor perumahan patut dipertimbangkan oleh pemerintah, sehingga masyarakat
memiliki akses untuk mengembangkan rumahnya. Melalui pengembangan rumah ini diharapkan dapat
meningkatkan kesejahteraan dan taraf hidup dari penghuni. Penambahan kapasitas terpasang di PDAM Kupang,
sehingga dapat menjadi potensi bagi peningkatan pelayanan dan peningkatan akses MBR terhadap sumber-
sumber air bersih.