Anda di halaman 1dari 21

IKTERUS NEONATORUM

PENDAHULUAN
• Salah satu penyebab mortalitas pada bayi baru
lahir adalah ensefalopati bilirubin (lebih dikenal
sebagai kernikterus).
• Ensefalopati bilirubin merupakan komplikasi
ikterus neonatorum yang paling berat.
• Selain angka mortalitas yang tinggi, juga dapat
menyebabkan gejala sisa berupa cerebral palsy,
tuli nada tinggi, paralisis dan displasia dental
yang sangat mempengaruhi kualitas hidup.
Angka kejadian/ Epidemiologi
 Angka kejadian ikterus pada neonatus di Amerika
ditemukan 65%, di Malaysia 75%,
 Di Surabaya tahun 2000 sebanyak 30% dan 2002 : 13%
(Indarso F, 2005). Di Jakarta di laporkan 32,19%.
 Di RSCM Jakarta ialah 32,19 % dan 62,53% kadar bilirubin
indireknya melebihi 10 mg%
 Diperkirakan 60% bayi cukup bulan dan 80% bayi kurang
bulan mengalami ikterus atau hiperbilirubin dalam minggu
pertama kelahirannya.
 Angka kematian terkait hiperbilirubinemia sebesar 13,1%.
Definisi
• Ikterus adalah gambaran klinis berupa
pewarnaan kuning pada kulit dan mukosa
karena adanya deposisi produk akhir
katabolisme hem yaitu bilirubin. Secara klinis,
ikterus pada neonatus akan tampak bila
konsentrasi bilirubin serum lebih 5 mg/dL.2
• Hiperbilirubinemia adalah keadaan kadar
bilirubin dalam darah >13 mg/dL.2
PATOFISIOLOGI
• Bilirubin toksik, hrs dikeluarkan tubuh. Sebagian besar
berasal dr degredasi Hb & sebagian lagi berasal dr hem
bebas/ dr proses eritropoesis yg tdk efektif. 
• Pembentukan bilirubin dimulai dg proses oksidasi yg
menghasilkan biliverdin serta beberapa zat lain.
• Biliverdin ini mengalami reduksi & menjadi bilirubin bebas/
bilirubin IX alfa. Zat ini sulit larut dlm air tapi larut di lemak,
krn punya sifat lipofilik yg sulit diekskresi & mudah melalui
membrane biologic spt placenta & sawar darah otak.
• Bilirubin bebas tsb kemudian bersenyawa dg albumin &
dibawa ke hepar.
• Di hepar tjd mekanisme ambilan, shg bilirubin terikat dg reseptor
membran sel hati & masuk ke dlm sel hati.
• Segera sth ada dlm sel hati, tjd persenyawaan dgn ligandin ( protein -Y),
protein-Z, & glutation hati lain yg membawanya ke reticulum
endoplasma hati, tempat terjadinya proses konjugasi.
• Proses ini timbul berkat adanya enzim glukoronil transferase yg kmd
menghasilkan bentuk bilirubin direk. Jenis bilirubin ini larut dlm air & pd
kadar ttt dpt diekskresikan mll ginjal.
• Sebagian besar bilirubin yg terkonjugasi ini diekskesi mll duktus
hepatikus ke dlm saluran pencernaan & selanjutnya mjd urobilinogen &
keluar dr tinja sbg sterkobilin.
• Dlm usus sebagian diarbsorbsi kembali oleh mukosa usus &
terbentuklah proses arbsorpsi enterohepatik.
Gambar berikut menunjukan metabolisme pemecahan hemoglobin dan
pembentukan bilirubin.

Hemolisis
Sel darah Hemoglobin Heme
merah
Biliverdin Karbonmonoksida

Bilirubin Karboksi
Sirkulasi hemoglobi
entero n
hepatik BMG
BMG: bilirubin monoglucuronide BDG
BDG: bilirubin diglucuronide CO ekspirasi

Ekskresi melalui usus dan


kandung empedu
Lanjutan........
Etiologi
Peningkatan kadar bilirubin umum terjadi pd setiap BBL, karena:
• Hemolisis yang disebabkan oleh jumlah sel darah merah lebih
banyak dan berumur lebih pendek.
• Fungsi hepar yang belum sempurna (jumlah dan fungsi enzim
glukuronil transferase, UDPG/T dan ligand dalam protein
belum adekuat)  penurunan ambilan bilirubin oleh
hepatosit dan konjugasi.
• Sirkulus enterohepatikus meningkat karena masih
berfungsinya enzim  glukuronidase di usus dan belum ada
nutrien.
Peningkatan kadar bilirubin yang berlebihan (ikterus nonfisiologis) dapat
disebabkan oleh faktor/keadaan:
• Hemolisis akibat inkompatibilitas ABO atau isoimunisasi Rhesus, defisiensi
G6PD, sferositosis herediter dan pengaruh obat.
• Infeksi, septikemia, sepsis, meningitis, infeksi saluran kemih, infeksi intra
uterin.
• Polisitemia
• Ekstravasasi sel darah merah, sefalhematom, kontusio, trauma lahir
• Ibu diabetes
• Asidosis
• Hipoksia/asfiksia
• Sumbatan traktus digestif yang mengakibatkan peningkatan sirkulasi
enterohepatik
Faktor Risiko
1. Faktor Maternal
• Ras atau kelompok etnik tertentu (Asia, Native American,Yunani)
• Komplikasi kehamilan (DM, inkompatibilitas ABO dan Rh)
• Penggunaan infus oksitosin dalam larutan hipotonik.
• ASI
2. Faktor Perinatal
• Trauma lahir (sefalhematom, ekimosis)
• Infeksi (bakteri, virus, protozoa)
3. Faktor Neonatus
• Prematuritas
• Faktor genetik
• Polisitemia
• Obat (streptomisin, kloramfenikol, benzyl-alkohol, sulfisoxazol)
• Rendahnya asupan ASI
• Hipoglikemia
• Hipoalbuminemia
Tanda dan Gejala
Ikterus fisiologis
– Timbul pada hari kedua dan ketiga
– Kadar bilirubin indirek tidak melebihi 10 mg%
pada neonatus cukup bulan dan 12,5 mg% pada
neonatus kurang bulan.
– Kadar bilirubin direk tidak melebihi 1 mg%
– Kecepatan peningkatan kadar bilirubin tidak
melebihi 5 mg% perhari
– Ikterus menghilang pada 10 hari pertama
– Tidak terbukti mempunyai hubungan dgn
keadaan patologi
• Ikterus Patologis (Hiperbilirubinemia)
• Ikterus terjadi dalam 24 jam pertama
• Kadar bilirubin indirek melebihi 10 mg% pada
neonatus cukup bulan atau melebihi 12,5 mg
% pada neonatus kurang bulan
• Kadar bilirubin direk melebihi 1 mg%
• Peningkatan bilirubin lebih dari 5 mg% perhari
• Ikterus menetap sesudah 2 minggu pertama
• Mempunyai hubungan dgn proses hemolitik
Penegakan diagnosa
• Anamnesis
• Pemeriksaan fisik : WHO menerangkan cara menentukan
ikterus secara visual, sbb
– Pemeriksaan dilakukan dg pencahayaan cukup (siang hari dg cahaya
matahari) krn ikterus bisa terlihat lebih parah bila dilihat dg
pencahayaan buatan & bisa tdk terlihat pd pencahayaan yg kurang.
– Tekan kulit bayi dg lembut dg jari utk mengetahui warna di bawah kulit
dan jaringan subkutan.
– Tentukan keparahan ikterus berdasarkan umur bayi & bagian tubuh yg
tampak kuning
• Pemeriksaan laboratorium : pemeriksaan kadar bilirubin darah
• Pemeriksaan radiologis
Rumus kremer
Rumus Kramer
DAERAH LUAS IKTERUS KADAR BILIRUBIN (mg%)

1 Kepala dan leher 5

2 Daerah 1 (+) badan bagian atas 9

3 Daerah 1, 2 (+) badan bagian bawah 11


dan tungkai

4 Daerah 1, 2, 3 (+) lengan dan kaki di 12


bawah dengkul

5 Daerah 1, 2, 3, 4 (+) tangan dan kaki 16


Penatalaksanaan oleh bidan
Tentukan apakah fisiologis atau patologis
Jika patologis :
Cegah gula darah tdk turun (Menganjurkan untuk Memberi ASI dini & sering)
Nasihati agar menjaga bayi tetap hangat selama perjalanan rujukan
Sertakan contoh darah 2,5 ml jika timbul pd 2 hr pertama lahir
Rujuk segera
Jika fisiologis :
Ajari ibu Perawatan bayi sehari-hari : memberi ASI sesering mungkin karena
pemberian minum yang mencukupi dapat membantu untuk mengekskresi
bilirubin, Memandikan, merawat tali pusat, pencegahan infeksi, menjaga bayi
selalu hangat
Menganjurkan menjemur bayi dibawah sinar matahari selama kurang lebih ½
jam yaitu ¼ jam tidur terlentang dan ¼ jam tidur telungkup dan bayi dalam
keadaan telanjang.
Kunjungan ulang sth 7 hr atau ditemukan tanda bayi malas menyusu, kuning
bertambah sampai tangan dan kaki atau lebih, tinja pucat, BAK < 6 x/hr
Penatalaksanaan umum
• Tentukan jenis ikterus: patologis atau fisiologis
• Penatalaksanaan pada bilirubin indirek:
10-12mg% adalah fototerapi
12-15mg% adalah fototerapi
Bila protein rendah diberikan albumin atau plasma
Kalori cukup
• Tanggulangi penyakit penyerta
• Bila kadar bilirubin lebih dari 20mg% (bayi cukup bulan)
atau kadar bilirubin 18mg% (bayi premature) dilakukan
transfusi tukar.
Tatalaksana awal ikterus neonatorum sesuai
dengan WHO :
• Mulai terapi sinar bila ikterus diklasifikasikan
sebagai ikterus berat.
• Tentukan apakah bayi memiliki faktor risiko
berikut: berat lahir < 2,5 kg, lahir sebelum usia
kehamilan 37 minggu,hemolisis atau sepsis.
• Ambil contoh darah dan periksa kadar
bilirubin serum dan hemoglobin, tentukan
golongan darah bayi dan lakukan tes Coombs.
Lanjutan........
• Bila kadar bilirubin serum di bawah nilai
dibutuhkannya terapi sinar, hentikan terapi
sinar.
• Bila kadar bilirubin serum berada pada atau di
atas nilai dibutuhkannya terapi sinar
• Tentukan diagnosis banding
Terima kasih.......

Anda mungkin juga menyukai