Anda di halaman 1dari 12

TETANUS NEONATORUM

EPIDEMIOLOGI
• Tetanus neonatorum menyebabkan 50% kematian
perinatal dan menyumbangkan 20% kematian bayi.
• Angka kejadian 6-7/1000 KH di perkotaan dan 11-
23/1000 KH di pedesaan.
• Sedangkan angka kejadian tetanus pada anak di
rumah sakit 7-40 kasus/tahun,
• 50% terjadi pada kelompok 5-9 tahun, 30%
kelompok 1-4 tahun, 18% kelompok > 10 tahun,
dan sisanya pada bayi.
PENGERTIAN
• Tetanus berasal dari bahasa yunani yaitu tetanus, dari teinein
“meregang”.
• Tetanus yaitu penyakit infeksi akut & sering fatal yg disebabkan oleh
basil clostridium tetani yg menghasilkan tetanoplasmin neorotoksin,
masuk ke dlm tubuh mll luka tusuk yg terkena infeksi ( spt jarum
logam, splinter kayu / gigitan serangga), pintu masuk lainnya
termasuk luka bakar, luka bedah, ulkus kutaneus, lokasi suntik
penyalahgunaan narkoba, tali pusat neonatus (t. neonatorum), dan
uterus paska partus. (Dorland,2000:2216)
• Tetanus neonatorum adalah penyakit tetanus yang terjadi pada
neonatus yang disebabkan oleh cotridium tetani yaitu kuman yang
mengeluarkan toksin (racun) yang menyerang system saraf pusat.
(Abdul Bari Syarifuddin, 2000)
Patofisiologi
• Spora kuman tetanus yg ada di lingkungan dpt
berubah mjd bentuk vegetatif bila ada dlm
lingkungan anaerob, dg tekanan oksigen jaringan
yang rendah. Kuman ini dapat membentuk metalo-
exotosin tetanus, yg terpenting utk manusia adl
tetanospasmin.
• Gejala klinis timbul sbg dampak eksotoksin pd sinaps
ganglion spinal & neuromuscular junction serta
syaraf otonom sehingga menyebebkan kekakuan /
kejang otot
Etiologi
• Penyebab infeksi ini adalah clostridium tetani.

• Kuman ini bersifat anaerob (berkembang biak tanpa


oksigen).
• Clostridium tetani terdapat ditanah, saluran pencernaan
manusia dan hewan kuman ini dapat membuat spora
yang tahan lama dan berkembang biak dlm luka yg
kotor / jaringan nekrotik yg tidak ada oksigen.
Faktor Risiko
• Pemberian imunisasi tetanus toksoid (TT) pada
ibu hamil tidak dilakukan, atau tidak lengkap,
atau tidak sesuai dengan ketentuan program.
• Pertolongan persalinan tidak memenuhi
syarat-syarat “3 bersih”
• Perawatan talipusat tidak memenuhi
persyaratan kesehatan. (Sudarti, M.Kes dkk,
2010)
Tanda dan Gejala
• Masa inkubasi 3 sampai 10 hari.
• Gejala permulaan ialah kesulitan minum
karena terjadi trismus.
• Mulut mencucu seperti ikan (harpermond)
sehingga bayi tidak dapat minum dengan baik.
• Dapat terjadi spasmus otot yang luas dan
kejang umum.
• Leher kaku dapat terjadi opisthotonus
lanjutan

• Dinding abdomen kaku, mengeras & kadang tjd


kejang otot pernafasan & sianosis
• Suhu meningkat
• Dahi berkerut, alis mata terangkat, sudut mulut
tertarik kebawah muka rhesus sardonikus
• Ekstermitas biasanya terulur dan kaku
• Tiba-tiba bayi sensitive terhadap rangsangan,
gelisah dan kadang-kadang menangis
Penatalaksanaan Umum
Di puskemas
•Bersihkan jalan nafas
•Beri oksigen
•Atasi kejang dengan Diazepam 0,5 mg/kg/i.m. atau supositoria.
Apabila masih kejang ulangi tiap 30 menit
•Ditambah luminal 30 mg i.m. sampai kejang berhenti
•Infuse glucose 10% sebanyak 80 ml/kg/hari
•Antibiotika 1kali (penisilin prokain 50.000 U/kg/hari i.m)
•Bersihkan tali pusat
•Rujuk ke rumah sakit
Di Rumah Sakit…
• Sama seperti diatas
• Umur lebih dari 24 jam ditambah Bikarbonas Natrikus 1,5%
(4:1)
• Dosis anti kejang i.v. dengan dosis rumat
• Diazepam 8-10 mg/kg i.v. diganti tiap 6 jam
• ATS 10.000 U/hari i.m.
• Ampisilin 100 mg/kg i.v. atau Prokain Penisilin 50.000 U/kg/
i.m. selama 3 hari
• Ruang perawatan tenang.
(Abdul Bari Saefuddin dkk, 2000: 390-391)
Penatalaksanaan Oleh bidan di Desa
• Bebaskan jalan nafas
• Pakaian bayi dikendurkan/dibuka
• Ruangan & lingkungan harus tenang
• Bila tidak kejang berikan ASI sedikit demi sedikit dg
pipet/ diberikan personde (kalau bayi tidak mau
menyusui)
• Perawatan tali pusat dengan teknik aseptik dan
antiseptik
• Segera rujuk ke rumah sakit
(Hanifa Winkjosastro, 2007)
S I H
K A
MA
E R I
•T