Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

Indonesia adalah negara yang diberkahi oleh sumber daya melimpah. Itu semua

sudah kita ketahui sejak masih duduk di bangku SD. Para guru kita dengan

bersemangat berusaha menumbuhkan semangat kebangsaan melalui pemahaman akan

kondisi faktual betapa kita sebenarnya memiliki modal besar untuk melangkah maju.

Yang biasanya tidak diajarkan sampai kita kuliah adalah mengapa dengan modal

begitu besar, Indonesia tidak kunjung sejahtera, makmur, dan berkeadilan sebagaimana

diamanatkan oleh pembukaan UUD 1945. Kita juga acap kali bingung dengan

kenyataan betapa pemerintah yang seharusnya bertugas mengarahkan dan

membimbing seluruh rakyat menuju kondisi yang serba lebih baik justru begitu sering

mengecewakan dan malahan tampak kebingungan sendiri dalam menentukan langkah.

Kita juga sering merasa aneh mengapa masyarakat, apalagi yang sudah berpendidikan

seperti mahasiswa, yang setidaknya sudah menikmati hasil pembangunan, malah

merusak fasilitas umum dan fasilitas pemerintah yang sebenarnya diperuntukkan juga

untuk memelihara kepentingan masyarakat.

Salah satu alternatif untuk menjawab berbagai kegalauan itu adalah dengan

mengetahui betapa banyak masalah struktural yang melilit kita. Yang dimaksud dengan

masalah struktural adalah berbagai masalah berskala besar, sistematis dan mendasar,

baik yang disadari atau tidak, yang sejak lama terus mengikat kita pada keterpurukan.

Mengingat masalahnya begitu mengakar dan meluas, maka pembenahan tidak dapat

dilakukan oleh satu pihak saja, termasuk oleh pemerintah, melainkan harus melibatkan

semua dari kita, dalam posisi dan kedudukan masing-masing, tinggi atau rendah, untuk

1
2

bersama-sama secara sadar mengatasinya. Seberapa lama kita harus menunggu

penyelesaian semua masalah struktural tersebut, itu berpulang pada kita semua,

seberapa serius kita mau mengupayakanya.

Lantas, apa saja yang menjadi masalah struktural Indonesia yang menyebabkan

perekonominannya tidak optimal dalam memakmurkan penduduknya? Di sini kita

kemungkinan akan berbeda pendapat. Tiap orang akan punya pendapat sediri yang

berlainan satu sama lain. Karena kebenaran mutlak itu hanya dari sisi Allah, maka

tidak apa-apa kalau kita berbeda pendapat asal tidak menyalahi syariat. Karena itu,

mari kita saling belajar dan bertukar pikiran, demi memperoleh pendapat, atau

sekurang-kurangnya pemahaman yang lebih baik. Bertolak dari semangat itu, pada

makalah yang bersumber dari buku Lanskap Ekonomi Indonesia yang dikarang oleh

Faisal Basri ini, beliau mengajukan pendapat tentang apa saja yang menjadi masalah

struktural di Indonesia.

Sekurang-kurangnya, ada tiga masalah besar yang menurut hemat penulis

merupakan persoalan paling mendasar yang harus segera dibenahi. Jika ketiga masalah

struktural ini dapat diatasi dengan baik, penulis merasa yakin situasi negara kita secara

berarti dan signifikan akan lebih baik, sehingga akan jauh lebih siap menghadapai

berbagai perubahan dan dinamika globalisasi di segala bidang. Ketiga masalah itu

adalah:

a. Minimnya sumber daya manusia yang berkualitas yang terutama

disebabkan oleh masih lemahnya kinerja pendidikan maupun kualitas

pendidikan itu sendiri.

b. Keterbatasan infrastruktur, baik fisik maupun non fisik.


3

c. Kelemahan kerangka kelembagaan (institutional framework) atau bisa pula

disebut infrastuktur lunak (soft infrastructure).

Makalah ini akan menyajikan sejauh mana masalah struktural tersebut mengikat kaki

kita untuk sulit bergerak maju, serta lebih spesifik mengulas masalah stuktural pertama

yaitu Pendidikan.
4

BAB II

PERMASALAHAN: PEMBANGUNAN SDM YANG MASIH MINIM

2.1. Indeks Pembangunan Manusia yang Relatif Rendah

Salah satu indikator yang digunakan untuk mengukur sejauh mana

pembangunan manusia seutuhnya telah membuahkan hasil di suatu negara

adalah Indeks Pembangunan Manusia (Human Development Index/HDI). Pada

dasarnya, HDI digunakan untuk mengklasifikasikan apakah sebuah negara

adalah negara maju, negara terbelakang atau negara berkembang. Namun, HDI

juga dipercaya sebagai pengukur efektivitas program dan kebijakan pemerintah

terhadap kualitas hidup penduduknya (negara kaya atau berpendapatan tinggi,

negara berpendapatan menengah-atas, negara berpendapatan menengah-bawah,

atau negara miskin alias berpendapatan rendah).

Sebagai tolok ukur sumber daya manusia, secara konseptual HDI adalah

perhitungan dalam formula tertentu yang memadukan tiga komponen utama,

yakni :

a. Kualitas hidup materiil yang diwakili oleh indikator tingkat

pertumbuhan ekonomi (GDP) per kapita tahunan.

b. Kondisi kesehatan penduduk yang diwakili oleh indikator usia haraan

hidup (life expectancy).

c. Kondisi pendidikan. Indikator wakilnya pada awalnya hanya tingkat

melek huruf, namun kemudian diperluas ke sejumlah indikator

pendidikan lainnya yang akan diuraikan lebih lanjut.


5

Tentang tingkat pertumbuhan ekonomi, masalah yang dihadapi

Indonesia ternyata bukan semata-mata pada besaran (sekian persen) tingkat

pertumbuhan ekonomi tahunan, melainkan lebih pada kualitas pertumbuhan

ekonomi itu sendiri. Yang lebih relevan untuk dibahas di sini adalah kondisi

kesehaan dan pendidikan. Kalau keduanya hendak ditentukan mana yang lebih

penting, maka penulis (Faisal Basri-ed) cenderung pada pendidikan karena hal

inilah yang paling menentukan karakter dan kualitas pribadi individu. Satu lagi

catatan tambahan yang perlu dikemukakan disini adalah HDI itu sendiri

sekadar merupakan barometer umum. Seperti diakui sendiri oleh ekonom

Amartya Sen yang merintisnya, konsepsi HDI mengandung banyak kelemahan

dan lebih merupakan suatu gambaran umum. Meskipun demikian, dengan

segala keterbatasannya, HDI diakui sudah diakui lebih baik dan komprehensif

ketimbang indikator GDP dan pertumbuhan ekonomi yang semula dipakai

semata pasokan utama dalam menaksir tingkat kesejahteraan suatu negara.

Berdasarkan analisis penulis, masalah kesehatan, apalagi masalah pendidikan,

selama ini memang berkaitan langsung dengan berbagai keterpurukan yang ada

di negara kita. Lebih jauh, penulis menyimpulkan bahwa lemahnya kondisi

sumber daya manusia-lah yang menjadi akar dari berbagai keterpurukan di

Indonesia, termasuk tentunya di bidang ekonomi.

Berdasarkan data resmi UNDP, pada tahun 2004 (datanya diumumkan

akhir tahun 2006), HDI Indonesia meraih skor 0,697 dan menempati urutan ke-

108 dari total 177 negara yang diteliti. Di lingkungan Asia Tenggara saja,

Indonesia tercecer jauh ketinggalan dari Singapura yang berada di urutan paling
6

tinggi (no.25 di dunia), disusul Brunei Darussalam, Malasyia, Thailand dan

Filiphina.

2.2. Pembangunan Sektor Kesehatan yang Belum Optimal

Kalau dibandingkan dengan rentang waktu semata, harus diakui

Indonesia khususnya seama masa pemerintahan Orde baru sudah mencatat

banyak kemajuan. Berbagai indikator kesehatan mulai dari tingkat kematian

bayi, kecukupan gizi anak-anak dan remaja, kondisi sanitasi umum, jumlah

dokter dan juru rawat, jumlah rumah sakit dan terutama Pusat Kesehatan

Masyarakat (Puskesmas) sudah berkembang cukup pesat. Angka kematian bayi

dan anak terus tumbuh dari tahun ke tahun, sementara angka usia harapan hidup

(indikator umum kualitas kesehatan) terus melejit. Pemerintah sendiri terus

menambah alokasi belanja kesehatan, baik dalam jumlah nominal maupun

sebagai persentase dari total anggaran. Namun, bila semua pencapaian itu

dibandingkan dengan negara-negara lain, tampak bahwa kinerja sektor

kesehatan di Indonesia masih sangat terbatas dan belum memadai.


7

BAB III

PEMBAHASAN MASALAH

3.1. Hakikat Arti Penting Pendidikan

Tanpa mengabaikan masalah-masalah struktural lainnya, penulis (Faisal

Basri-ed) berpendapat bahwa pendidikan adalah masalah besar dan

fundamental nomor satu bagi Indonesia. Sebelum masuk pada pembahasan

lebih jauh, mari kita simak beberapa kenyataan dasar yang dikemukakan oleh

Michael J.Bonnell (www.mikebonnell.com) berikut ini:

a. Makmur tidaknya suatu negara tidak ditentukan oleh usianya. Mesir dan

India sudah berusia ribua tahun, namun kesejahteraan hidupnya masih

minim.

b. Kesejahteraan suatu negara ternyata tidak pula ditentukan oleh

kekayaan alamnya.

c. Tingkat kecerdasan manusia tidaklah berbeda berdasarkan warna kulit

atau kebangsaannya, atau apakah ia berasal dari negara makmur atau

miskin.

d. Ras ternyata juga tidak ada hubungannya dengan semangat dan kerja

keras untuk maju.

Baiklah, kalau bukan ras, kekayaan alam, usia peradaban, dan

stereotype atau faktor primordial yang menjadi penentu, lantas apa? Apa yang

menentukan suatu negara/bangsa menjadi maju dan sejahtera atau tidak?


8

Penentunya adalah sikap hidup (attitude) orang-orang yang ada di tiap negara.

Sikap hidup itu berlatar kebudayaan, namun pada intinya terbentuk oleh proses

pendidikan selama bertahun-tahun. Dalam kalimat lain, pedidikanlah yang

menjadi penentu yang mendasar apakah suatu bangsa/negara akan dapat

maju/makmur atau tidak. Ukuran keberhasilan pendidikan juga tidak semata-

mata diukur pada jumlah akuntan, insiyur atau dokter, atau jumlah medali emas

dalam olimpiade matematika/fisika internasional, tetapi lebih ditekankan pada

terbentuknya sikap hidup yang positif.

Di negara-negara maju, mayoritas penduduknya memiliki sikap hidup

positif, diantaranya:

a) Etika yang tinggi dan terpuji sebagai prinsip utama.

b) Interitas

c) Penuh tanggung jawab

d) Hormat pada hukum dan aturan

e) Mau bekerja keras

f) Selalu berusaha menjadikan dirinya lebih baik

g) Mendahulukan tabungan dan investasi daripada bersenang-senang atau

ikut lomba gengsi

h) Menghargai waktu

Sedangkan di negara-negara berkembang, apalagi terbelakang, ternyata

sedikit saja penduduknya yang punya sikap hidup positif seperti diuraikan di

atas. Padahal agar dapat maju, suatu negara harus memiliki sistem pendidikan
9

yang memungkinkan para warganya mengembangkan dan memiliki sikap

hidup positif. Sikap itulah yang lebih penting ketimbang atribut sosial atau

profesi.

Profesinya sendiri bisa apa saja. Ia boleh seorang guru besar di

universitas bergengsi atau guru mengaji di kampung-kampung kumuh,

bendahara atau pesuruh kantor, top management atau security perusahaan,

selama ia memiliki ciri-ciri sikap hidup positif itu, maka apapun profesinya

akan bermanfaat bagi orang lain. Demikian pula dengan tingkat pendidikan,

tidak semua orang harus menjadi sarjana, bahkan boleh jadi seorang lulusan SD

yang punya sikap hidup positif lebih berhasil pendidikannya ketimbang seorang

profesor tetapi malahan tidak punya sikap hidup positif.

Hakikat atau arti penting pendidikan ini diuraikan mengawali kajian

tentang kualitas pendidikan sekadar untuk mengingatkan kita semua bahwa

pendidikan itu sedemikian pentingnya untuk diangap sebagai kegiatan sekunder

yang boleh dilakukan sambil lalu saja. Selama ini, belum ada penelitian khusus

untuk mengukur seberapa banyak warga indonesia yang punya sikap hidup

positif, namun penulis (Faisal Basri-red) merasa mayoritas masyarakat

Indonesia belum memiliki sikap hidup positif. Penulis pun yakin banyak

diantara sidang pembaca yang berpendapat sama. Kalau mereka yang bersikap

hidup positif lebih banyak daripada yang tidak, maka penulis yakin Indonesia

akan jauh lebih baik daripada situasinya sekarang.

3.2. Prestasi Pendidikan Umum Indonesia yang Rendah


10

Masalah Ujian Akhir Nasional (UAN) masih terus menjadi polemik.

Berbagai kalangan menaruh keberatan terhadap penerapan UAN dengan alasan

terlalu memberatkan para siswa, mengurangi makna pendidikan karena hanya

mendorong para siswa mencetak nilai tertentu pada mata pelajaran tertenu,

mendorong lebih jauh komersialisasi pendidikan karena para siswa tidak lagi

cukup belajar di sekolah tetapi juga harus mengikuti aneka kursus dan pelajaran

tambahan agar lulus UAN, dan seterusya. Pemerintah sendiri bersikukuh

dengan peogram UAN ini, bahkan menerapkannya sampai ke jenjang Sekolah

Dasar. Alasannya, karena prestasi pendidikan Indonesia selama ini terbilang

rendah dan kian tertinggal dengan negara-negara lain, bahwa anak-anak harus

pontang-panting belajar agar lulus UAN, itu adalah resiko wajar dari para

pelajar yang memang harus menghabiskan sebagian besar waktunya untuk

belajar.

Penulis (Faisal Basri-red) juga orang tua dari tiga anak yang masih

duduk di bangku sekolah dan sama halnya dengan para orang tua lainnya,

penulis ikut pusing dan merasa ketar-ketir menjelang kenaikan kelas apalagi

tatkala UAN tiba. Meskilun demikian, penulis condong pada sikap pemerintah ,

yakni para pelajar kita memang harus didorong bahkan dipaksa untuk belajar

lebih keras dan serius. Kurikulum dan sistem pendidikan yang ada di negara

kita memang masih jauh dari harapan penulis , karena penulis mengangankan

suatu sistem pendidikan yang dapat mendorong segenap anak didik memiliki

sikap hidup yang postif sebagaimana diuraikan di atas. Apa yang ada saat ini

memang masih jauh dari ideal, namun penulis berpendapat UAN sudah
11

merupakan suatu langkah maju yang perlu didukung. Alasan pemerintah juga

sah yakni prestasi pendidikan kita memang relatif rendah.

Ribuan pelajar Indonesia memang bisa memperoleh tempat di berbagai

universitas ternama di mancanegaa, tetapi jangan lupa , jumlah pelajar di

Indonesia itu mencapai jutaan orang dan mayoritas boleh dikatakan tidak tahu

apa-apa selepas bangku skoalah. Kalaupun mereka bisa lolos ujian, apa yang

sudah dipelajari tampaknya hilang begitu saja setelah ujian selesai.

Kemampuannnya dalam memecahkan masalah tak banyak bedanya dari mereka

yang tidak pernah sekolah atau bahkan selama kuliah. Dalam kondisi seperti

ini, program pemacu kinerja belajar siswa seperti UAN rasanya memang tidak

bisa ditolak.

Tentu saja kita boleh berbangga kalau anak-anak berbakat istimewa

seperti para pelajar didikan Prof. Johannes Suryo berhasil meraih medali emas

olimpiande sains internasional, namun jangan lupakan fakta dasar yang kelam

itu. Kita tentu aka lebih senang dan bangga kalau mayoritas siswa Indonesia

lebih nyata dalam memperoleh hasil pendidikan, bukan seperti sekarang yang

seolah-olah para siswa kita berada di sekolah sekadar melewatkan waktu antara

jam makan pagi dan makan siang saja.

Kalau sejak muda mereka tidak terbiasa meraih hasil maksimal atau

iktikad terbiasa berjuang untuk meraih prestasi yang memuaskan, tidakkah

mereka kalau sudah bekerja dan menjalani peran sebagai angota masyarakat

juga asal-asalan saja? Jika ia menjadi pegawai, ia bekerja asal memenuhi absen

lalu tinggal menghitung hari menunggu gaji. Kalau ia punya toko, ia akan puas
12

kalau ada satu dua pembeli datang dalam sehari sehingga gaji karyawan , listrik

dan sedikit keuntungan sudah terjamin, tanpa mau repot-repot berusaha

bagaimana ia mengembangkan tokonya agar bisa mempekerjakan sebanyak

mungkin pegawai dan meningkatkan kesejahteraan keluarganya sendiri serta

keluarga para pekerjanya.

Jadi, jelaslah bahwa pendidikan merupakan masalah sruktural pertama

yang harus segera diatasi. Jika kondisi pendidikan Indonesia terus dibiarkan

saja, maka bukan hanya perekonomian Indonesia yang akan lemah., tetapi juga

bidang-bidang lainnya mulai dari soal politik (para anggota DPR, mislanya,

yang begitu sering mangkir dalam sidang-sidang rutin dewan, mungkin karena

ketika bersekolah mereka seing membolos, atau malah hanya terkantuk-kantuk

di kelas); sosial hinga budaya (bukannya tergerak mengembangkan kebudayaan

sendiri, melainkan sekadar menikamti saja semua budaya pop mancanegara

yang sudah tersedia dan gampang dinikmati). Bung Karno pernah menyatakan

jatuh bangunnya suatu bangsa tergantung pada generasi mudanya. Apa yang

bisa diharapkan sebuah bangsa yang generasi mudanya sudah puas atau

malahan tidak peduli dengan hasil belajar ala kadarnya, dan yang sama sekali

tidak berminat mengembangkan atau menerapkan segala sesuatu yang sudah

secara susah payah dipelajari sebelumnya?

3.3. Minimnya Kegiatan Riset dan Pengembangan (R&D)

Secara nasional, ada dua bidang R&D yang dianggap paling penting.

Pertama adalah R&D ilmu-ilmu dasar dari berbagai cabang ilmu mulai dari

penelitian tentang logam dasar, sampai dengan mikrobiologi. Sedangkan yang

kedua adalah penelitian teknologi yang bisa diaplikasikan secara luas di dunia
13

usaha. Teknologi yang dimkasud disini tidak melulu teknologi tingi serba hebat

dan canggih seperti teknologi kedirgantaraan atau teknologi nuklir. Bahkan

yang lebih ditekankan di sejumlah negara yang terbukti sukses

mengembangkan teknologi dengan produksinya sendiri adalah teknologi

pangan dan teknologi industri sederhana dan dapat langsung diaplikasikan dan

dimanfaatkan oleh para petani atau pekerja industri rumahan.

Thailand selama ini telah sukses mengembangkan teknologi

hortikultura yang disponsori langsung oleh Raja Bumibhol Adunjaded demi

memperbaiki harkat kehidupan para petani yang juga merupakan profesi

mayoritas di Tahailand. Kita semua tentu pernah mengenal jambu Bangkok,

duren Bangkok, anggrek Thailand yang menjadi simbol Thai Airways. Padahal,

Indonesia lebih kaya dengan varietas ketiga tanaman itu, namun selama ini

tidak ada program pengembangan berskala nasional dan berkesinambungan

sehingga kita pun gagal memanfaatkan kekayaan alam kita sendiri. Kemajuan

cukup baik telah dilakukan pada sektor beras, dimana Indonesia telah

mengembangkan sejumlah bibit unggul padi, meskipun lagi-lagi di sektor ini

Indonesia tertinggal dari Filiphina yang memiliki IRRI (International Rice

Research Institute) yang telah meraih reputasi dunia. Alokasi dana APBN

untuk kegiatan-kegiatan riset di Indonesia sejauh ini masih sangat terbatas.


14

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

Pada bulan Agustus 2008 telah muncul berita baik berkenaan dengan

pendidikan. Pemerintah, atas paksaan keputusan Mahkamah Konstitusi tangal 13

Agustus 2008 yang mewajibkan alokasi 20 persen APBN untuk pendidikan sesuai

dengan amanat konstitusi, telah mulai melakukannya pada APBN 2009. Dalam pidato

kenegaraan tangal 15 Agustus 2008, Presiden SBY menyatakan pemerintah

mengalokasikan 20 persen dari dana RAPBN 2009 yang untuk pertama kalinya

melampaui angka Rp 1 kuadtriliun (Rp1.122.200.000.000.000) dana yang disediakan

untuk pendidikan mencapai Rp224 triliun. Presiden juga menyatakan tambahan dana

itu akan dimanfaatkan Departemen Pendidikan Nasional dan Departemen Agama

dalam menuntaskan program wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun.,

merehabilitasi gedung sekolah serta membangun puluhan ribu kelas dan ribuan kelas

baru, meneruskan bantuan operasional sekolah melalui Pemda, serta menambah gaji

dan kesejahteraan guru agar pendapatan terendah seorang guru mencapai Rp2 juta per

bulan. Dalam APBN 2009 yang disahkan DPR, nilai total belanja pada APBN

diciutkan menjadi Rp1.037,1 triliun, namun dana untuk pendidikan tetap dialokasikan

20 persen (Rp207,4 triliun).

Meskipun masih dicurigai dan dinilai belum mencukupi oleh sejumlah

kalangan, perubahan ini merupakan keputusan besar yang patut diapresiasi, karena

dilakukan ketika kondisi keuangan negara masih terbatas sehingga sebagai

konsekuensinya ambang defisit anggaran dibaikkan menjadi 1,9 persen (sebelumnya

1,5 persen) dan tambahan utang dalam negeri terpaksa diadakan. Dalam soal alokasi
15

dana APBN, pemerintah tampaknya memang sudah memberikan usaha maksimal.

Dengan tercapainya alokasi 20 persen APBN untuk bidang pendidikan, maka tibalah

saatnya kita melakukan reorientasi pendidikan dengan lebih mementingkan sisi

output daripada input. Sisi input seperti jumlah anggaran, jumlah sekolah dan guu

sudah banyak dipenuhi.

Melalui orientasi baru yang lebih memerhatikan sisi output, kita harus mulai

berfikir bagaimana dengan dana dan sumber daya yang ada, kita dapat meningkatkan

kualitas dan hasil kegiatan belajar mengajar agar para siswa dari semua tingkatan tidak

sekadar menghabiskan waktu sekian lama di sekolah, melainkan benar-benar

mendapatkan sesuatu sebagai bekal hari depannya.

Langkah mendesak yang harus segera dilakukan tampaknya adalah

meningkatkan kualitas para guru, sekaligus membina disiplin dan karakternya. Masih

begitu banyak guru yang memandang profesinya itu tak lebih dari sebuah sumber

penghasilan. Peningkatan keejahteraan yang akan segera dilakukan pemerintah

tentunya merupakan momentum ideal bagi kita semua, bukan hanya pemerintah, untuk

juga meminta lebih dari para guru. Sudah bukan rahasia lagi jika cukup banyak guru

(juga dosen) yang asal-asalan dalam bekerja, lalu tinggal menunggu hari gajian. Masih

sangat banyak guru yang menganggap bahwa urusannya hanya menyampaikan bahan

pelajaran; perkara apakah muridnya memahami pelajarannya, apalagi dapat

memanfaatkannya, sudah bukan urusannya lagi. Para siswa yang tidak puas lalu

bertanya lebih banyak bukannya diapresiasi, melainkan dianggap gangguan, bahkan

ditafsirkan sebagai suatu kekurang ajaran. Belum lagi kasus kekerasan dan pelecehan

seksual oleh guru terhadap murid-muridnya sendiri.


16

Dalam kenyataanya, memang ridak semua guru pantas disebut “pahlawan tanpa

tanda jasa”. Bahwa gaji guu selama ini mepet sehinga mereka acap kali harus mencari

tambahan nafkah, adalah suatu hal yang kita maklumi dan prihatinkan. Namun, kalau

tambahan nafkah dicari dengan mengorbankan tugas utama mereka sebagai pendidik

tetap atau bahkan menjadikan anak-anak didiknya sebagai sumber penghasilan

tambahan (padahal tidak semua murid mampu memberikan “subsidi” paksaan itu),

toleransi tentunya tidak bisa diberikan lagi.

Pada prinsipnya, anak-anak Indonesia di manapun, entah ia di Jakarta,

Sinabang, Sabang, Natuna, Bawean, Sambas, Long Iram, Poso, Tomoho, Tepus, Raja

Ampat, Rote hingga Miangas, punya hak konstitusional yang sama untuk memperoeh

pendidikan.

Penambahan angaran pendidikan secara signifikan sejak tahun 2009 hendaknya

dimanfaatkan sebagai momentum untuk melakukan berbagai perbaikan subtantif yang

berorientasi pada otuput pendidikan. Di sisi lain, pengawasanpun harus ditingkatkan

agar anggaran pendidikan yang sedemikian besar dapat efektif karena penambahan

angaran dalam waktu bersamaan juga memperbanyak lahan korupsi potensial baru.

Semoga pula penambahan anggaran pendidikan ini dapat meringankan beban

masyarakat dalam menyekolahkan anak-anaknya, karena gaji guru, keperluan

operasional sekolah, dan buku-buku secara bertahap sudah menjadi tanggungan

pemerintah. Semoga masing-masing dari kita selalu ingat bahwa kualitas pendidikan

sangat menentukan keberhasilan dan kemajuan sebuah bangsa.


17

DAFTAR PUSTAKA

Basri, Faisal. Lanskap Ekonomi Indonesia. 2009. Jakarta: Erlangga