Anda di halaman 1dari 5

Rangkaian Osilasi Amstrong

 Pengertian

Armstrong osilator (juga dikenal sebagai Meissner osilator menurut insinyur


listrik Edwin Armstrong, Kadang-kadang disebut sebagai pengingat osilator karena
umpan balik yang diperlukan untuk menghasilkan osilasi ini disediakan menggunakan
pengingat kumparan (T di diagram rangkaian) melalui kopel magnet antara kumparan L
dan koil T.

 Dalam rangkaian praktis, frekuensi osilasi yang sebenarnya akan sedikit berbeda
dari nilai yang diberikan oleh formula ini karena kapasitansi dan induktansi, kerugian
internal (perlawanan), dan pemuatan rangkaian tangki oleh kumparan pengingat. Dalam
aplikasi itu, antena dipasang pengingat tambahan kumparan, dan umpan balik yang
berkurang, misalnya, dengan sedikit menambah jarak antara kumparan T dan L, jadi
hanya pendek sirkuit osilasi. Hasilnya adalah sempit-band frekuensi radio filter dan
penguat. Non-linier karakteristik dari transistor atau tabung menyediakan demodulated
sinyal audio.

Rangkaian dasar dibuat dengan memberikan panjar maju pada sambungan emitor-
basis dan panjar mundur pada kolektor. Pemberian panjar dilakukan lewat resistor 3 R .
Resistor 1 R dan 2 R berlaku sebagai pembagi tegangan.Saat awal transistor diberi daya,
resistor 1 R dan 2 R membawa transistor ke titikpengoperasian Q pada bagian tengah
garis beban (lihat gambar 17.7-b). Keluarantransistor (pada kolektor) secara ideal adalah
0 volt. Saat terjadi hantaran arus awal pada saat dihidupkan, terjadi darau (noise) yang
akan terlihat pada kolektor.

Namun biasanya berharga sangat kecil. Misalnya kita mempunyai isyarat -1 mV


yang Nampak pada kolektor. Transformator T1 akan membalik tegangan ini dan
menurunkannya dengan faktor 10 (nisbah primer-sekunder 1:10). Isyarat sebesar +0,1
mV akan Nampak pada C1 pada rangkaian basis.Perhatikan bahwa transistor memiliki b
= 100. Dengan +0,1 mV berada pada basis, 1 Q akan memberikan isyarat keluaran
sebesar -10 mV pada kolektor. Perubahan polaritas dari + ke – pada keluaran akibat
adanya karakteristik dasar penguat emitor bersama.

Tegangan keluaran sekali lagi akan mengalami penurunan oleh transformator dan
diberikan pada basis 1 Q . Isyarat kolektor sebesar -10 mV sekarang akan menyebabkan
terjadinya tegangan sebesar + 1 mV pada basis. Melalui penguatan transistor, tegangan
kolektor akan segera menjadi -100 mV. Proses ini akan berlangsung, menghasilkan
tegangan kolektor sebesar -1 V dan akhirnya -10 V. Pada titik ini, transistor akan
membawa garis beban sampai mencapai kejenuhan

Dengan tanpa adanya perubahan pada C V pada kumparan primer 1 T , tegangan


pada kumparan sekunder secepatnya akan menjadi nol. Tegangan basis secapatnya akan
kembali pada titik Q. Penurunan tegangan basis ke arah negatif ini (dari jenuh ke titik Q)
membawa C V ke arah positif. Melalui transformator, ini akan nampak sebagai tegangan
ke arah positif pada basis. Proses ini akan berlangsung melewati titik Q sampai berhenti
pada saat titik cutoff dicapai. Transformator selanjutnya akan berhenti memberikan
masukan tegangan ke basis.

Transistor segera akan berbalik arah. 1 R dan2 R menyebabkan tegangan basis


naik lagi ke titik Q. Proses ini akan terus berulang: Q akan sampai di titik jenuh –
kembali ke titik Q – ke cutoff - kembali ke titik Q. Dengan demikian tegangan AC akan
terjadi pada kumparan sekunder dari transformator.Frekuensi osilator Armstrong
ditentukan oleh nilai 1 C dan S (nilai induktasi diri kumparan sekunder) dengan
mengikuti persamaan frekuensi resonansi untuk LC.

Keluaran dari osilator Armstrong dapat diubah dengan mengatur harga 3 R .


Penguatan akan mencapai harga tertinggi dengan memasang  R pada harga optimum.
Namun pemasangan 3 R yang terlalu tinggi akan mengakibatkan terjadinya distorsi,
misalnya keluaran akan berupa gelombang kotak karena isyarat keluaran terpotong.

.
 Prinsip kerja

Bila sakelar? ditutup (Gambar 11-5a), suatu gejolak elektron mulai mengalir
melalui kumparan? penggelitik (tickler coil) yang menghasilkan suatu medan magnetik
yang mengembang di sekelilingnya. Medan tersebut memotong lilitan dari kumparan
rangkaian LC, sehingga menginduksikan tegangan di dalam kumparan tersebut.
Tegangan induksi ini merangsang kejut pada rangkaian penalaan yang mengawali osilasi
pada frekuensi LC.

Pada waktu rangkaian LC mulai berosilasi, tegangan ac yang timbul di dalamnya


akan diberikan ke komponen penguatan yang menghasilkan suatu perubahan dengan
amplitude yang telatif tinggi pada arus penggelitik. Adanya pembesaran dan
penyusutanmedan magnetic di sekitar kumparan penggelitik akan menginduksikan ac ke
dalam rangkaian LC, sehingga menjaga rangkaian tetap berosilasi.

Perhatikan bahwa kumparan penggelitik dan rangkaian LC membentuk suatu


transformator dengan kumparan penggelitik sebagai primernya. Semua energi ac di
dalam rangkaian LC merupakan hasil dari induksi yang berasal dari penggelitik.
Selama kedua kumparan mempunyai orientasi sedemikian rupa sehingga
menghasilkan suatu efek pembantu antara keduanya, maka osilasi rangkaian LC akan
terus meningkat kekuatannya sampai tercapai daya osilasi maksimum (terjadi dengan
segera). Amplitudo maksimum ditentukan oleh beberapa faktor tegangan catu-daya,
faktor gandengan antara penggelitik dan rangkaian LC, Q pada rangkaian LC, besarnya
penumpu yang ditimbulkan, dan nilai kapasitansi dari penggelitik ke tanah.

Bila kumparan? penggelitik digulung dengan arah yang salah, maka tegangan
yang diinduksikan ke dalam rangkaian LC oleh arus kumparan-penggelitik akan
berlawanan fasa dengan osilasi di dalam rangkaian LC, sehingga rangkaian tidak akan
menghasilkan osilasi bertahan dan tidak akan timbul tegangan ac.

Semua rangkaian LC mempunyai rugi-rugi tertentu (resistansi, atau energi yang


terinduksi ke rangkaian luar). Energi yang diumpan-balik ke rangkaian LC harus cukup
besar untuk mengatasi semua rugi-rugi agar rangkaian LC berosilasi pada amplitudo tetap
dan tidak terendam. Sebenarnya, dalam hal ini digunakan umpan-balik yang lebih besar
dari nilai minimum ini.

Efek umpan-balik sefasa yang mampu menghasilkan osilasi dikenal sebagai


regenerasi. Umpan-balik yang berlawanan fasa akan menghalangi osilasi dan dikenal
sebagai degenerasi. Bila ingin membuat supaya suatu rangkaian elektronik berosilasi,
maka perlu ditimbulkan regenerasi di dalamnya. Bila diinginkan tidak terjadi osilasi,
maka perlu dilakukan degenerasi pada rangkaian tersebut atau menetralkan.

Dalam rangkaian Armstrong terdapat beberapa metode untuk mengontrol umpan-


balik dari rangkaian penggelitik ke LC :

1. dengan mengubah-ubah gandengan rangkaian penggelitik ke LC

2. dengan mengubah-ubah tegangan catu-daya dc (dan berarti arus penggelitik-


kumparannya)
3. dengan mengubah-ubah kapasitansi penggelitik ke tanah yang melengkapi lintasan ac
dari rangkaian penggelitik ke sumber atau emitter. Semakin besar kapasitansi ini akan
semakin besar komponen ac yangmengalir dalam kumparan penggelitik.

Cara kerja rangkaian Armstrong BJT NPN (Gambar 11-5b) dapat dikatakan sama seperti
JFET (atau triode?). Perhatikan bahwa rangkaian LC-nya ditap pada titik impedansi yang
lebih rendah pada kumparan agar lebih sesuai dengan impedansi basis-emiter yang relatif
rendah pada BJT. Perhatikan juga bahwa rangkaian transistor dengan impedansi lebih
rendah menggunakan kapasitor rangkaian yang lebih besar daripada yang digunakan pada
rangkaian FET (atau VT) yang mempunyai impedansi lebih tinggi. Perubahan pada Vcc
akan cukup berpengaruh terhadap frekuensi osilator