Anda di halaman 1dari 5

HAKEKAT, MASALAH DAN STUDI TENTANG TEORI DAN LANDASAN PKN

Oleh : Sawaludin
Nim : 1006995
Mata kuliah : Landasan dan Teori Pendidikan Kewarganegaraan
Program studi : Pendidikan Kewarganegaraan
Dosen : Prof. Dr. A. Azis Wahab, M.A. (Ed).

A. HAKEKAT DAN MASALAH PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN


Pada dasarnya PKn atau Civic Education adalah merupakan suatu program
pendidikan/pembelajaran yang secara programatik-prosedural berupaya
memanusiakan (humanizing) dan membudayakan (civilizing) serta memberdayakan
(empowering) manusia/anak didik (diri dan kehidupan) menjadi warga negara yang
baik sebagaimana tuntutan keharusan/yuridis konstitusional bangsa/negara dan
sebagainya (Budimansyah, D dan Syam, S. : 9). Sedangkan di lain pihak dikatakan
bahwa pendidikan kewarganegaraan itu adalah salah satu bidang kajian yang
mengemban misi nasional untuk mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia
melalui koridor “value-based education” (Winataputra, U.S dan Budimansyah, D.
2007: 86).
Rujukan WNI yang baik dalam NKRI ialah UUD 1945/2003 yang jabarannya
termuat dalam tap MPR dan UU (a.1. UUSPN menjadi kiblat seluruh program dan
sistem pendidikan).
Menurut landasan konstitusional di atas, maka Visi PKn NKRI lahirnya
manusia/WNI dan kehidupan masyarakat bangsa NKRI religius, cerdas, demokratis,
dan lawful ness, damai-tentram-sejahtera, moderen dan berkepribadian indonesia.
Misi yang di embannya adalah program pendidikan yang membelajarkan dan
melatih anak didik secara demokratis-humanistik-fungsional.
Membelajarkan hendaknya dimaknai memberi pembekalan pengetahuan agar
dapat memberikan atau menumbuhkan “civic intellegence” dan “civic partisipation”
serta “civic responsibility” sebagai anak bangsa dan warga negara Indonesia. Serta
supaya WNI melek politik-hukum, membina jati diri WNI berkepribadian/
berbudaya Indonesia dalam tatanan kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara yang
moderen.
Jadi hakekat dari isi pesan program PKn yang utama terdapat pada UUSPN
2003 yang harus memuat antara lain:
a. Insan dan kehidupan religius-imtaq dalam semua gatra kehidupan
b. Melek politik-hukum-tahu/faham hal ihwal keharusan berkehidupan berbangsa-
bernegara baik secara konstitusional maupun secara praktis/nyatanya
(kemarin,kini, dan esok hari), tatanan dan kehidupan politik, hukum dan
masyarakat indonesia.
c. Insan dan kehidupan demokrasi yang lawfulness dalam
NKRI/pancasila/berbudaya indonesia.
d. Insan dan kehidupan yang cerdas, damai dan sejahtera
e. Insan dan kehidupan yang cinta bangsa negara, patriotik.
f.Pergaulan dunia yang setara dan damai.
Tersirat dalam semua uraian di atas sejumlah hal yang secara konseptual dan
praksisnya paradoxs/tambrakan dengan hakekat globalisme dan modernity. Dan ini
berarti tantangan riil yang cukup berat untuk dihadapi oleh para guru PKN, PAI,
bahasa, dan budaya daerah dan semacamnya.

B. TEORI DAN LANDASAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN


Secara historis-epistemologis, Amerika Serikat (USA) dapat dicatat sebagai
negara perintis kegiatan akademis dan kurikuler dalam pengembangan konsep dan
paradigma "citizenship education" dan "civic education". Untuk pertama kalinya,
yakni pada pertengahan tahun 1880-an di USA mulai diperkenalkan mata
pelajaran "Civics" sebagai mata pelajaran di sekolah yang berisikan materi mengenai
pemerintahan. Selanjutnya lahir sebutan-sebutan lain seperti civic education dan
citizenship education. Istilah-istilah "civics, dan "civic education", lebih cenderung
digunakan dalam makna yang serupa untuk mata pelajaran di sekolah yang memiliki
tujuan utama mengembangkan siswa sebagai warga negara yang cerdas dan baik.
"Citizenship education" lebih cenderung digunakan dalam visi yang lebih luas untuk
menunjukkan "instructional effects" dan "nurturant effects" dari
keseluruhan proses pendidikan terhadap pembentukan karakter individu sebagai
warganegara yang cerdas dan baik.
Dilihat visi lain perkembangan "citizenship education" dan "civic education",
dalam kenyataannya secara historis-epistemologis tidak bisa dipisahkan dari
perkembangan pemikiran tentang "social studies/social studies education", seperti
dapat dilihat di USA. Mengenai saling keterkaitan antara "citizenship
education" dan "civic education" dan "social studies", pada dasarnya ada dua
pandangan utama. Pandangan pertama melihat "citizenship education" dan "civic
education" sebagai bagian dari 'social studies", dan pandangan kedua
melihat "citizenship education” dan "civic education" sebagai esensi atau inti
dari "social studies". Sementara itu secara epistemologis, sesungguhnya "social
studies” juga memiliki kaitan sangat erat dengan "social sciences".
Mencermati perkembangan Pendidikan Kewarganegaraan di Indonesia, sampai
sejauh ini baik istilah yang dipakai, misi dan isi mata pelajaran
"Civics"/Pengetahuan Kewargaan Negara, Pendidikan Kewargaan Negara,
Pendidikan Moral Pancasila, dan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, dan
Pendidikan Kewarganegaraan yang berkembang selama hampir empat dasawarsa
(1962-1998) menunjukkan terjadinya inkonsistensi pemikiran yang secara mendasar
mencerminkan terjadinya krisis konseptual, yang tentunya berdampak pada
terjadinya krisis operasional kurikuler. Keadaan ini mirip dengan situasi yang juga
pemah dialami di Amerika Serikat, dimana "Civics, Civic Education, Citizenship
Education, Social Studies/Social Science Education" sejak kelahirannya tahun
1880-an sampai dengan terbitnya dokumen akademis NCSS (1994) 'Curriculum
Standards for Social Studies: Expectations of Excellence" dan dokumen akademis
Civitas (1994) ‘National Standards for Civics and Government’. Tampaknya
mereka telah berhasil mengatasi krisis konseptual dan kurikuler. Setidaknya
mereka kini telah mencapai suatu konsensus akademis dan programatik yang pada
gilirannya akan memandu terjadinya proses kurikulum yang Iebih koheren. Bagi
Indonesia konsensus serupa sangatlah penting dan didambakan untuk mendapatkan
paradigma yang cocok mengenai pendidikan bidang sosial di sekolah.
Unsur ontologi Pendidikan kewarganegaraan memiliki dua dimensi, yakni objek
telaah dan objek pengembangan. Objek telaah adalah keseluruhan aspek idiil,
instrumental, dan praksis pendidikan kewarganegaraan yang secara internal dan
ekstemal mendukung sistem kurikulum dan pembelajaran Pendidikan
Kewarganegaraan di sekolah dan di luar sekolah, serta format gerakan sosial-
kutural kewarganegaraan masyarakat. Objek pengembangan atau sasaran
pembentukan adalah keseluruhan ranah sosio-psikologis peserta didik, yakni
ranah kognitif, afektif, konatif, dan psikomotorik yang menyangkut status,
hak, dan kewajibannya sebagai warganegara, yang perlu dimuliakan dan
dikembangkan secara programatik guna mencapai kualitas warganegara yang
"cerdas, dan baik", dalam arti demokratis, religius, dan berkeadaban dalam konteks
kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bemegara.
Epistemologi Pendidikan Kewarganegaraan mencakup metodologi penelitian dan
metodologi pengembangan. Metodologi penelitian digunakan untuk
mendapatkan pengetahuan baru melalui: (1) metode penelitian kuantitatif yang
memfokuskan proses pengukuran dan generalisasi untuk mendukung proses konseptualisasi,
dan (2) metode penelitian kualitatif yang memfokuskan pada pemahaman holistik
terhadap fenomena alamiah untuk membangun suatu teori. Adapun metodologi
pengembangan digunakan untuk mendapatkan paradigma pedagogis dan
rekayasa kurikuler yang relevan guna mengembangkan aspek-aspek sosial-
psikologis peserta didik, dengan cara mengorganisasikan berbagai unsur instrumental
dan kontekstual pendidikan.
Aspek aksiologi Pendidikan Kewarganegaraan adalah berbagai manfaat dari
hasil penelitian, hasil pengembangan, dan/atau hasil penelitian dan pengembangan
dalam bidang kajian Pendidikan Kewarganegaraan yang telah dicapai bagi
kepentingan dunia pendidikan, khususnya untuk dunia persekolahyan dan
pendidikan tenaga kependidikan.
DAFTAR PUSTAKA
Budimansyah, D dan Syam, S. 2006. Pendidikan nilai moral dalam dimensi PKn. Bandung.
FPIPS UPI
Winataputra, U.S dan Budimansyah, D. 2007. Civic Education, Konteks, Landasan, Bahan
Ajar dan Kultur Kelas. Bandung. Program studi Pendidikan Kewarganegaraan SPS
UPI.
Materi Kuliah PKn dan Masyarakat Multikultur Pertemuan 1 dan ke 2. http://upi.edu.

Anda mungkin juga menyukai