Anda di halaman 1dari 2

Penggolongan Umat Islam Indonesia

Akar permasalahan mengapa Umat islam Indonesia menjadi mayoritas dalam


kuantitas dan minoritas dalam kualitas adalah tidak terlepas dari definisi umat
Islam Indonesia yang kita golongkan menjadi 5 bagian

Pertama :

Orang yang menyatakn dirinya sebagai pemeluk agama Islam, golongan inilah
yang merupakan mayoritas. Mereka hanya terkait secara nominal, sebagian besar
tidak tahu apa-apa tentang Islam (atau ini gambaran dari “buih dilautan?”).

Kedua :

Orang Islam yang sudah menjalankan ritus-ritus keagamaan, dengan definisi ini
jumlah umat Islam turun dengan drastis.

Ketiga :

Adalah himpunan yang memiliki pengetahuan yang memadai tentang ajaran


Islam, golongan ini sangat sedikit.

Keempat:

Umat Islam adalah orang yang mengatur perilaku ditengah masyarakat sesuai
dengan ajaran Islam, berpakaian, makan, minum, bertetangga, belajar, bergaul.
Golongan ini biasanya hanya terkonsentrasi pada aktivis mesjid dan anggota-
anggota jamaah yang dibina secara teratur.

Kelima:

Umat Islam adalah himpunan orang islam yang terlibat secara ideologis dengan
ajaran islam. Mereka menjadikan Islam sebagai dasar dalam memandang
persoalan dunia. Kelompok ini biasa disebut fundamentalis. Dengan definisi ini
ummat islam hanyalah super minoritas.

Perbedaan dalam mendefinisikan umat Islam dapat mengaburkan pemikiran dan


mengacaukan pengambilan keputusan atau prediksi serta menimbukan
perbedaan strategi perjuangan.

Tak bisa di ingkari memang, faktanya adalah bahwa umat islam di Indonesia
adalah mayoritas. (kalau mau rajin meneliti, lihatlah penghuni perumahan massal
(baca: RSS), kampung-kampung kumuh, desa nelayan, dan periksa juga
prosentase pemilik(bukan penjaga) muslim yg memiliki toko-toko di plaza-plaza
megah atau sentra ekonomi dan bisnis). Akan tetapi riwayat umat Islam di
Indoneia penuh dengan perpecahan. Umat Islam berhimpun untuk pecah.
Syarikat Islam dan Masyumi berhasil menjadi organisasi pemersatu dan berakhir
dengan perpecahan.
Tidak bisanya umat Islam Indonesia bersatu menyebabkan tidak adanya program
yang dapat membangun dan menyentuh seluruh lapisan. Apakah yang
sebenarnya menjadi sumber perpecahan?, ada yang menyebutnya perbedaan
fiqh, latar belakang agama, pendidikan, kebudayaan, ambisi politik dan
kepentingan pribadi atau bahkan politik divide et impera.