Anda di halaman 1dari 17

MENEBAR DANA MENUAI KEMISKINAN

Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan (PNPM MP) Program Penanggulangan Kemiskinan Bank Dunia Di Kabupaten Banyuwangi

Editor:

M. Helmi Rosyadi, Wuna H. Kusuma, Fenti N.R

Penulis:

M. Helmi Rosyadi (Ketua Umum Dewan Pimpinan Kolektif Aliansi Rakyat Miskin Kab. Banyuwangi),

Fenti N.R. (Kordinator Gerakan Rakyat Anti-Pemiskinan Kab. Banyuwangi), Wuna H. Kusuma (Sekretaris Umum Serikat Perempuan Banyuwangi),

Tim Riset:

M. Helmi Rosyadi

Wuna H. Kusuma Fenti N.R Kasyadi Eko Suryanto Herlina Candra Kusuma

Working Paper No.1 2009

Tim Riset: M. Helmi Rosyadi Wuna H. Kusuma Fenti N.R Kasyadi Eko Suryanto Herlina Candra Kusuma

DAFTAR ISI

Ucapan Terima Kasih

i

Kata Pengantar

ii

Pendahuluan

Hal. 1

Metodologi Penelitian

Hal. 6

Temuan Hasil Penelitian

Hal. 7

1. Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Perdesaan Tidak Mensejahterakan Masyarakat

2. Masyarakat Terjerat Hutang

3. Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Perdesaan Tidak Partisipatif

4. Lemahnya Kontrol dan Kordinasi Pemerintah Daerah Didalam Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Perdesaan

5. Korupsi Terjadi di Masyarakat

6. Terjadi Konflik di Masyarakat

7. Menghancurkan Kearifan Lokal

Kesimpulan

Hal. 10

Rekomendasi

Hal. 11

Bibliografi

Hal. 12

Ucapan Terima Kasih

Penelitian tentang Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Perdesaan ini dapat terlaksana berkat dukungan kawan-kawan dari Gerakan Rakyat Anti-Pemiskinan (GARAP) Banyuwangi, Lingkar Study Kerakyatan (LASKAR), Solidaritas Masyarakat untuk Transparansi (SOMASI) dan Serikat Perempuan Banyuwangi (SEKARWANGI).

i

KATA PENGANTAR

Penelitian tentang Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan (PNPM MP) merupakan sebuah penelitian yang dilakukan Dewan Pimpinan Kolektif Aliansi Rakyat Miskin (DPK-ARM) Kabupaten Banyuwangi atas program yang dibiayai dari Bank Dunia baik melalui utang maupun dana hibah dari berbagai donor melalui manajemen Bank Dunia. Penelitian ini dimaksudkan untuk menelusuri manfaat dari program yang dibiayai oleh utang maupun dana hibah dari berbagai donor luar negeri terhadap pembangunan di Indonesia maupun pembangunan di Kabupaten Banyuwangi.

Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan (PNPM MP) yang sebelumnya sejak tahun 1998-2006 bernama Program Pengembangan Kecamatan (PPK) dan tahun 2007 berganti nama Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM PPK) yang oleh Bank Dunia disebut sebagai Community Driven Development, sering disanjung oleh Bank Dunia sebagai program yang berhasil dan pantas direplikasi di negara lain. Program ini sudah berlangsung sekitar 10 tahun, yang merupakan bagian dari program pengentasan kemiskinan. Jika program ini berhasil, mengapa kemiskinan di wilayah PNPM MP diimplementasikan masih tinggi? Mengapa jumlah pengangguran masih besar di wilayah PNPM MP diimplementasikan? Mengapa masih ada kasus gizi buruk dan busung lapar di wilayah PNPM MP diimplementasikan?

Masih banyak lagi pertanyaan yang bisa diajukan guna mempertanyakan ke-efektifan dan keberhasilan dari program yang sebagian besar dananya dibiayai oleh utang Bank Dunia ini. Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan (PNPM MP) ini merupakan salah satu bukti yang diungkapkan oleh BAPPENAS dalam penelitian tahun 2006, yang mengatakan bahwa utang luar negeri tidak hanya dipakai untuk pembangunan dan juga bukan dimaksudkan untuk mencari solusi masalah kemiskinan tetapi untuk tujuan mencari keuntungan (profit seeking drives) bagi pejabat pemerintah di pusat dimana proyek utang yang diimplemetasikan oleh departemennya akan menambah anggaran departemennya karena alokasi APBN untuk matching fund akan bertambah. Alokasi APBN yang bertambah berarti tambahan pendapatan.

Di lain pihak utang memberi pekerjaan (job security) bagi para staff yang bekerja pada Bank Dunia dan para konsultan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan (PNPM MP). Apakah Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan (PNPM MP) ini dapat mengurangi kemiskinan dan memberikan kesejahteraan bagi masyarakat di perdesaan, itu bukan urusan para pejabat pemerintah di pusat, staff Bank Dunia dan Konsultan Program. Yang penting bagi mereka dapat pekerjaan dan tambahan pendapatan.

Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan (PNPM MP) merupakan sebuah tragedi dari utang luar negeri (the tragedy of foreign debt). Temuan-temuan dalam penelitian ini menunjukkan dampak negatif lebih luas dari program penanggulangan kemiskinan yang dibiayai oleh utang. Dimana bukan kemiskinan yang diberantas tetapi hutang yang kelak harus dibayar oleh rakyat dan anak cucu kita.

Banyuwangi, 11 Juli 2009

M. Helmi Rosyadi Ketua Umum

ii

MENEBAR DANA MENUAI KEMISKINAN

Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan (PNPM MP) Program Penanggulangan Kemiskinan Bank Dunia di Kabupaten Banyuwangi

PENDAHULUAN

Sejarah Bank Dunia di Indonesia, Jejak Utang yang Memiskinkan.

Saat ini eksistensi Bank Dunia di negara berkembang mendapat kritikan dan gugatan yang tajam. Gugatan itu muncul karena setelah lebih dari setengah abad berdiri, program dan bantuan Bank Dunia terhadap peningkatan kemakmuran di negara miskin dan berkembang tak kunjung terwujud. Yang terjadi kenyataannya Bank Dunia anti demokrasi, dikontrol oleh pemerintahan negara-negara maju (G8), Terutama Amerika Serikat yang memiliki hak istimewa, misalnya hak untuk memblok atau memveto perubahan atau keputusan yang tidak disetujuan oleh Amerika Serikat dan hak untuk menempatkan presiden Bank Dunia (dalam kenyataannya, presiden Bank Dunia dicalonkan oleh Amerika Serikat dan dipilih oleh Dewan Gubernur Bank Dunia, sehingga Presiden Bank Dunia selalu berkebangsaan Amerika Serikat) dan kebijakannya selalu menguntungkan lembaga-lembaga keuangan swasta internasional (IFIs), perusahaan-perusahaan multinasional (TNCs/MNCs) dan para pejabat serta politisi yang korup (komprador). 1

Kehadiran Bank Bank Dunia di Indonesia berawal dari munculnya Orde Baru (pemerintahan Soeharto). Bank Dunia adalah gabungan dari empat lembaga pembangunan internasional multilateral yakni, International Bank for Reconstruction and Development (IBRD), International Development Association (IDA), International Finance Corporation (IFC) dan Multilateral Investment Guarantee Agency (MIGA). Sebenarnya ada lembaga kelima yang tergabung didalamnya yakni, International Centre for Settlement of Investment Disputes (ICSID), namun lembaga ini tidak berfungsi sebagai kreditur/donatur tetapi untuk menengahi perselisihan antara investor asing dengan pemerintah yang timbul sebagai akibat langsung penanaman modal. Bank Dunia didirikan pada tahun 1946 di Breeton Woods, New Hampshire, Amerika Serikat dan mulai menjalankan aktivitasnya di Indonesia tepat setelah pemeritahan Orde Baru (Orba) yang mengintegrasikan perekonomian Indonesia ke dalam sistem kapitalisme internasional. Pilihan untuk mengintegrasikan ekonomi nasional ke kapitalisme internasional (baca: imperialis), dengan demikian merupakan sebuah pilihan sadar, tanpa paksaan. Ada tiga hal yang bisa menjelaskan rasionalitas pilihan itu: pertama, setelah menghancurkan massa rakyat dan kelompok-kelompok progresif-revolusioner yang merupakan pendukung utama pemerintahan Presiden Soekarno, pemerintahan Soeharto bebas melaksanakan politik kolaborasi dengan pihak imperialis; kedua, setelah berhasil merebut kekuasaan dari tangan Soekarno, pemerintahan Orde Lama mewarisi satu struktur perekonomian yang buruk, buruk dalam pengertian struktur perekonomian tidak mendukung ditegakkannya sistem ekonomi yang kapitalistik. Benyamin Higgins, seorang pakar ekonomi tahun 1950-an yang mewakili kelompok yang pro modal asing internasional. ”Indonesia” demikian ujar Benyamin Higgins, ”merupakan contoh negara berkembang yang paling gagal melaksanakan proses pembangunan ekonomi. Penilaian sama buruknya datang dari J. Panklaykim dan H.W Arndt berujar:

”Siapa yang menganggap bahwa Indonesia dalam kondisi ekonomi yang baik, pasti belum

mengadakan study yang mendalam tentang permasalahan tersebut

Apabila Indonesia memenuhi

semua kewajiban utang luar negeri, konsekuensinya tidak ada lagi devisa yang tersisa untuk

Pada tahun 1965, inflasi meningkat

mencapai lebih dari 500 persen

membiayai anggaran pembagunan rutin yang dibutuhkan

dan pada era 1950-an, defisit anggaran belanja negara adalah 10

sampai 30 dari total penerimaan dan meningkat di tahun 1960-an menjadi lebih dari 100 persen,

bahkan pada tahun 1965 defisit tersebut mencapai 300 persen.” 2

1 ”Demand of the IMF&World Bank:2001,”ATTAC Weekly Newsletter-Wednesday 13/06/2001

2 Ibid., h.2

ketiga: karena rezim Orba harus mengambil langkah-langkah penyelesaian yang cepat, terutama untuk memenuhi kebutuhan pokok rakyat, sementara kemampuan pembiayaan nasional sangat terbatas, maka satu-satunya pilihan adalah mengandalkan pinjaman luar negeri dalam bentuk utang, atau dalam pernyataan Sri Mulyani Indrawati:

”Bila masyarakat masih miskin, perusahaan swasta belum berkembang dan pemerintah tidak me memiliki sumber pajak yang berarti, maka suntikan modal dari luar dalam bentuk utang (terutama bersyarat lunak) menjadi sumber tak tergantikan untuk menggerakkan perekonomian. Bila kemampuan swasta makin membaik, dan penerimaan pajak pemerintah makin kuat dan meluas, maka peranan utang luar negeri pemerintah seharusnya menurun atau bahkan hilang.” 3

Demikianlah, diatas basis ekonomi yang dipandang rapuh tersebut, rezim Orba segera mengambil langkah-langkah untuk meyakinkan lembaga keuangan internasional (IFIs) agar menanamkan modalnya di Indonesia. Langkah konkrit dan sistematis segera diambil. Pada 6 Mei 1966, Menteri Luar Negeri Adam Malik berbicara di depan DPR tentang niat Indonesia untuk memperbaiki hubungan dengan Amerika Serikat. Seminggu kemudian, Indonesia mengirimkan misi resmi yang pertama dipimpin oleh Umaryadi Nyotowiyono, ke beberapa negara Eropa untuk mengusahakan penjadwalan utang luar negeri dan kredit baru. Pada minggu terakhir di bulan yang sama, Sri Sultan Hamengku Buwono IX sendiri memimpin delegasi yang lain ke Jepang untuk tujuan serupa, yang pada waktu itu pemerintah Jepang setuju mengadakan konferensi buat para kreditor Indonesia untuk membicarakan pembayaran kembali utangnya. Misi lain dikirim ke Malaysia dan Singapura.

Demikian juga konferensi dagang pertama di Jenewa, Swiss, 1967, ternyata disponsori oleh James A. Linen, Presiden dari Time Inc. Di dalam pertemuan tersebut, seperti dikemukakan Jeffrey A. Winters, setelah mendengar presentasi delegasi Indonesia, Eugene R. Black, Presiden World Bank sampai tahun 1963, yang juga penasehat dekat bagi Presiden AS, Lyndon B. Johnson, sejak tahun 1965 menyatakan:

”Modal swasta adalah seperti seorang perawan yang sangat segan dan pemalu. Dibutuhkan rayuan. Modal swasta tidak bersedia untuk masuk ke suatu negara karena sering menerima sambutan yang tidak baik. Kenyataan bahwa pihak Indonesia bersedia datang ke tempat ini adalah sangat luar biasa. Ini berarti bahwa mereka mengakui makna penting dari modal swasta dan saya sangat berharap bahwa mereka akan bersedia untuk tidak memberlakukan kondisi-kondisi yang mempersulit modal asing untuk berinvestasi di Indonesia”

Setelah kegagalan konferensi sebuah konsorsium tujuh negara kreditor Indonesia (Amerika Serikat,

Inggris, Perancis, Jerman Barat, Italia, Belanda dan Jepang) dan negara non-kreditor seperti Australia, Kanada, Selandia Baru dan Swiss, serta IMF, pada tanggal 19-20 September 1966 di Tokyo, IMF segera mengambil langkah-langkah pro-aktif untuk meyakinkan pemilik modal internasional mengenai nilai strategis dari posisi Indonesia. Sementara dalam negoisasi dengan rezim Orba, IMF menuntut komitmen dan kesediaan Presiden Soeharto agar sesegera mungkin merealisasikan proyek liberalisasi ekonomi sebagai syarat pokok bagi masuknya investor asing. Desakan ini berupa keharusan pemerintah untuk menandatangani sebuah perjanjian yang disebut Letter of Intent (LoI), dimana didalamnya termuat sejumlah kebijakan yang harus dipatuhi dan dilaksanakan oleh rezim Orba. Butir-butir kesepakan dalam Letter of Intent (LoI) itu antara lain:

1.

Penghapusan atau liberalisasi pengendalian devisa dan impor;

2.

Devaluasi nilai tukar mata uang;

3.

Program-program anti-inflasi dalam negeri yang mencakup: (1). pengendalian kredit bank; tingkat bunga yang lebih tinggi dan barangkali persyaratan cadangan yang lebih tinggi; (2). pengendalian devisit pemerintah; pengetatan belanja; peningkatan pajak dan harga-harga yang dikenakan oleh perusahaan pemerintah; penghapusan subsidi konsumen; (3). pengendalian kenaikan upah, sepanjang ada dalam kekuasaan pemerintah; dan (4) penghapusan pengendalian harga;

4.

Keterbukaan terhadap investasi asing. 4

3 Sri Mulyani Indrawati, Koran Tempo, 12/11/2001

4 Mochtar Mas’oed, ”Ekonomi dan Struktur Politik Orde Baru 1966-1971,” LP3ES, Jakarta, 1989, h. 86

Seiring dengan tekanan untuk membuka pasar domestik dalam negeri, rezim Orba yang didukung oleh ekonom-ekonom borjuasi pro liberalisme (mafia berkeley), segera membuat Undang-Undang Penanaman Modal Asing (UU PMA) pada tahun 1967. Dalam UU PMA, para investor asing diberikan insentif (kemudahan) antara lain:

1.

Pembebasan pajak terhadap keuntungan perusahaan-perusahaan sampai enam tahun bagi proyek- proyek yang diutamakan. Tax holiday ini kemudian dapat diperpanjang oleh pemerintah;

2.

Pembebasan pajak dividen untuk periode yang sama;

3.

Pembebasan dari pajak material modal pada saat mulai investasi modal asing;

4.

Pembebasan dari bea masuk impor untuk peralatan mesin, alat-alat dan kebutuhan-kebutuhan awal pendirian pabrik;

5.

Hak mentransfer keuntungan yang sedang berlangsung dalam mata uang dalam negeri. 5

Demikianlah, setelah melalui jalan perundingan yang melelahkan, Pemerintahan Soeharto berhasil mendapatkan persetujuan Paris Club pertama pada 1967, akhirnya pembayaran utang pampasan perang Belanda dibebankan kepada pemerintah, sebagai prasyarat bagi Indonesia untuk mendapatkan pinjaman dari lembaga multilateral maupun bilateral, yang kemudian pembayarannya ditangguhkan lebih dari 25 tahun. 6 Puncaknya, pada pertemuan Amsterdam bulan Februari 1967, dicapai kesepakan untuk membentuk konsorsium negara kapitalis maju dan lembaga keuangan multilateral untuk memberikan pinjaman kepada Indonesia. Konsorsium yang dikenal dengan sebutan International Government Group on Indonesia (IGGI) ini, dalam menyalurkan pinjamannya kepada Indonesia, melalui Bank Dunia. Pada tahun 1992, Pemerintah Indonesia membubarkan IGGI dan membentuk Consultative Group on Indonesia (CGI). 7 Dengan terbentuknya konsorsium pemberi bantuan (baca: utang), sejak 1968-2009 sudah ratusan proyek pembangunan Indonesia yang dibiayai Bank Dunia, diantaranya Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) yang merupakan bagian dari policy driven kebijakan makro ekonomi yang didesain Bank Dunia dan didukung oleh Asia Development Bank (ADB) dan Jepang. Dalam skema utang Bank Dunia dan ADB, PNPM (baik yang bentuknya bersyarat (conditional cash transfer) maupun tak bersyarat (unconditional cash transfer) termasuk dalam utang program yang bernama Development Policy Loan (DPL), khususnya dalam komponen Service Delivery. Utang ini digunakan untuk pembiayaan bagi perubahan kebijakan ekonomi agar sejalan dengan agenda pasar bebas (neoliberalisme) dan mendorong iklim investasi. Sejak Desember 2004 hingga Desember 2008, Pemerintah Indonesia dan World Bank telah menandatangani lima perjanjian utang yaitu DPL 1-5. Sumber pendanaan utang ini selain dikucurkan dari Bank Dunia, juga didukung (co-financing) oleh ADB dan Pemerintah Jepang (Development Policy Support). Sumber dan Jumlah Dana: Development Policy Loan (DPL) (dalam Juta US Dollar)

Development Policy Loan

Bank Dunia

Pemerintah Jepang

ADB

Total

Year

DPL 1

300

100

-

400

2004-2005

DPL 2

400

100

200

700

2005-2006

DPL 3

600

100

200

900

2006-2007

DPL 4

600

200

200

1.000

2007-2008

DPL 5

750

100-200

200

1.050-1.150

2008-2009

Total

2,650

600-700

800

4.050-4.150

 

Sumber: Dokumen Policy Loan 1-5, World Bank

Kisah Bank Dunia yang Gagal

Bagaimana Bank Dunia memaknai performance ekonomi selama Orde Baru berkuasa? Dalam laporan tahun 1996, berjudul, Indonesia: Dimension of Growth, Bank Dunia memberikan penilaian positif. Dalam laporannya menyatakan, “tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia adalah salah satu yang tertinggi di dunia, khususnya di Asia Pasifik; cadangan devisa nasional meningkat tajam; kaum buruh turut menikmati pertumbuhan ekonomi; penduduk yang pindah dari sektor pertanian memperoleh pekerjaan yang produktivitasnya lebih tinggi di perkotaan; upah riil buruh meningkat setiap tahun (sebesar 5,9% per tahun dalam periode 1989-1994 dengan menggunakan index 1989-100); disparitas pendapatan regional per kapita semakin menyempit; jumlah penduduk miskin bertambah banyak; dan distribusi pendapatan berada pada tingkat rendah jika dibandingkan dengan negara-negara lain.

Dalam perjalanan waktu, laporan Bank Dunia itu tidak lebih hanya sebagai isapan jempol belaka untuk menutupi fundamental ekonomi Indonesia yang rapuh. Ini terbukti ketika krisis moneter mendera di tahun 1997, dalam waktu sekejap prestasi pembangunan itu hancur berantakan. Mari kita kenang periode 1997 itu, saat krisis terjadi, statistik menunjukkan pendapatan perkapita US$ 1,200 pada awal 1996 turun menjadi US$ 300 pada awal 1998; nilai perusahaan terdaftar di pasar bursa US$ 118 milliar merosot menjadi US$ 17 milliar; hanya 22 dari 286 perusahaan yang terdaftar di bursa efek Jakarta yang tidak bangkrut. 9 Sumber lain menyebutkan bahwa pada saat krisis 420.000 buruh sektor kontruksi, tekstil dan elektronik di-PHK. Jika pada tahun 1976 jumlah penduduk miskin berjumlah 54,2 juta atau 40,1 % dari jumlah penduduk Indonesia, kemudian pada tahun 1996 menjadi 22,5 juta atau 11,3 % penduduk, maka pada akhir 1998 jumlah penduduk miskin mencapai 49,5 juta jiwa atau 24,2 % dari jumlah penduduk. Bahkan penelitian Biro Pusat Statistik (BPS), International Labour Organzation (ILO) dan United Nation Developmment Project (UNDP), memperlihatkan angka kemiskinan yang jauh lebih besar, yaitu 79,4 juta jiwa atau 39,1 persen dari jumlah penduduk. 10 Hasil survey yang dilakukan Helen Keller Internasional (HKI) tentang gizi ibu sebelum dan sesudah krisis, juga menunjukkan hasil yang memprihatinkan. Hasil survey terhadap 7200 rumah tangga di Jakarta dan Jawa Tengah menunjukkan bahwa setelah krisis semakin sulit bagi ibu-ibu dari rumah tangga miskin semakin tidak mampu untuk membeli dan mengkonsumsi makanan bergizi, seperti daging, telur, dan susu 11 . Saat ini pun kondisinya tidak jauh berubah. Meskipun pertumbuhan ekonomi Indonesia selama 5 tahun terakhir positif dengan rata-rata 5 % dan PDB Indonesia meningkat mendekati PDB Negara maju (Swedia dan Belgia), keadaan sosial ekonomi kita masih sangat rawan dan rentan. Data Departemen Sosial menunjukkan sedikitnya 41 juta pekerja sektor informal masih tidak terlindungi asuransi sosial, Pada tahun 2008, jumlah penduduk miskin per bulan Maret 2008 tercatat berjumlah 34,96 juta jiwa (15,42%) dan sekitar 100 juta jiwa lebih masih hidup dengan pendapatan kurang dari 2 dollar perhari. Indeks pembangunan manusia (HDI) berada di urutan 107 dari 174 negara. 12

Lalu dimana letak kisah sukses yang ditorehkan Bank Dunia dalam berbagai laporannya? Hasil study Sritua Arief menunjukkan, proyek-proyek pembangunan yang dibiayai Bank Dunia yang diharapkan dapat meningkatkan pendapatan masyarakat dan mengurangi angka kemiskinan, justru semakin memiskinnkan kelompok miskin dan membangkrutkan usaha kecil, hancurnya usaha rakyat seperti peternakan kecil, pertanian kecil, perikanan rakyat, produksi makanan dan minuman kecil, industri perabotan rumah tangga, industri kerajinan rakyat, pertekstilan rakyat skala kecil dan lainnya. 13 Study lain yang dilakukan Indonesia Corruption Watch (ICW) mengenai efektivitas bantuan Bank Dunia untuk Proyek Penanggulangan Kemiskinan Perkotaan (P2KP), menguatkan temuan Sritua Arief. Dalam study itu, ICW menyimpulkan: “Sebagai sebuah program yang ditujukan untuk pengentasan kemiskinan dan peningkatan kesejahteraan rakyat miskin perkotaan, P2KP sesungguhnya salah kaprah dan parsial. Program P2KP ini gagal ketika hanya dijadikan obat penenang akibat kebijakan makro ekonomi yang mencekik rakyat miskin. 14 Hal serupa juga terjadi pada bantuan untuk Jaring Pengaman Sosial (JPS). Study yang dilakukan JARI dan INFID, menyatakan, “Program JPS yang nampaknya membantu rakyat miskin pada hakekatnya bersifat buruk. JPS menambah utang rakyat, membuat ketergantungan atau menghilangkan keswadayaan dan kemampuan rakyat untuk mandiri dan menghilangkan solidaritas sosial. 15

8 Sritua Arief, “Pembangunanisme dan Ekonomi Indonesia Pemberdayaan Rakyat Lokal Dalam Arus Globalisasi,” Wacana Mulia, Bandung, 1998, h. 101-102

9 Ken Young, “Krisis: Konteks dan Prospeknya,” dalam Geoff Forrester and R.J. May, Jatuhnya Soeharto,”AJI, 1999 h.91. Pada Juli 1998 Kepala BPS mengumumkan bahwa 79,4 juta penduduk hidup dibawah garis kemiskinan, dan diperkirakan akan naik menjadi 96 juta pada akhir 1998.

10 “Buku Putih Jaring Pengaman Sosial (JPS),” JARI dengan INFID, PT Bina Pariwara, Jakarta, 2001, h. 1-2

11 Ibid., h. 3

12 Ibid., h. 17

13 Lihat Sukarna Wirata, “Hutang Luar Negeri: Masalah dan Kecenderungannya,” dalam ”Indonesia Menapak Abad 21, Kajian Ekonomi Politik,” Millenium Publiser, Jakarta, 2000, h. 42

14 Laporan Hasil Penelitian P2KP,” ICW, Jakarta, h. 53

15 “Buku Putih Jaring Pengaman Sosial (JPS),” JARI dengan INFID, PT Bina Pariwara, Jakarta, 2001, h. 1-2 Hal. 4

Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan (PNPM MP) Didesain Bank Dunia dan Dibiayai dengan Utang

Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan (PNPM MP) yang sebelumnya sejak tahun 1998-2006 bernama Program Pengembangan Kecamatan (PPK) dan tahun 2007 berganti nama Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM PPK) bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat miskin diperdesaan dan kesempatan kerja melalui peningkatan kapasitas masyarakat (modal sosial) dalam pengambilan keputusan dan pembangunan.

Selama satu dasarwarsa program ini berjalan, seperti di Kabupaten/Propinsi lain, hampir menjangkau seluruh Kecamatan dan Desa/Kelurahan di Kabupaten Banyuwangi dan pada tahun 2009 PNPM MP menjangkau seluruh Kecamatan dan Desa/Kelurahan di Kabupaten Banyuwangi (lihat tabel dibawah). Setidaknya melalui dokumen dan sosialisasi PNPM MP terlihat bahwa program ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup/kesejahteraan masyarakat di perdesaan melalui peningkatan pendidikan, kesehatan, daya beli/perekonomian, termasuk pembangunan sarana dan prasarana.

Lokasi dan Alokasi Dana PNPM MP Tahun Anggaran 2009 Kabupaten Banyuwangi

Berdasarkan Surat Menko Kesra RI Nomor B.2066/KMK/D.VII/2008 Tanggal 29 Oktober 2008

   

Desa/

 

Alokasi Dana

No

Kecamatan

Kel

APBN

APBD

Total

1

Pesanggaran

5

1.600.000.000

400.000.000

2.000.000.000

2

Bangorejo

7

1.600.000.000

400.000.000

2.000.000.000

3

Purwoharjo

8

2.400.000.000

600.000.000

3.000.000.000

4

Tegaldlimo

9

1.600.000.000

400.000.000

2.000.000.000

5

Cluring

9

1.600.000.000

400.000.000

2.000.000.000

6

Gambiran

6

1.600.000.000

400.000.000

2.000.000.000

7

Srono

10

1.600.000.000

400.000.000

2.000.000.000

8

Glenmore

7

1.600.000.000

400.000.000

2.000.000.000

9

Singojuruh

11

1.600.000.000

400.000.000

2.000.000.000

10

Rogojampi

18

1.600.000.000

400.000.000

2.000.000.000

11

Kabat

16

1.600.000.000

400.000.000

2.000.000.000

12

Glagah

10

2.400.000.000

600.000.000

3.000.000.000

13

Wongsorejo

12

2.400.000.000

600.000.000

3.000.000.000

14

Songgon

9

1.600.000.000

400.000.000

2.000.000.000

15

Sempu

7

1.600.000.000

400.000.000

2.000.000.000

16

Kalipuro

9

1.600.000.000

400.000.000

2.000.000.000

17

Siliragung

5

1.600.000.000

400.000.000

2.000.000.000

18

Licin

8

2.400.000.000

600.000.000

3.000.000.000

 

Jumlah

166

32.000.000.000

8.000.000.000

40.000.000.000

Sumber: Konsultan Manejemen Wilayah (KMW) PNPM Perdesaan

Implementasi Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan (PNPM MP) didukung dengan sumber pendanaan yang berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Nasional (APBN) dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dengan cost sharing system.

Bagi masyarakat miskin, bantuan seperti itu menjadi ”berkah” ditengah himpitan hidup yang susah dan mahalnya harga kebutuhan pokok. Namun, di saat bersamaan, berkah itu berubah menjadi beban khususnya perempuan/ibu-ibu yang dililit hutang simpan pinjam perempuan (SPP). Mereka terpaksa memikul beban ini, karena kewajiban membayar dan melunasi utang juga sanksi moral dari sesama warga masyarakat bila tidak membayar atau melunasi hutang kepada Unit Pengelola Keuangan (UPK) Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan (PNPM MP) karena hutang ditanggung renteng.

Jika dilihat keberhasilan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan (PNPM MP) lebih pada kemampuan dalam manajemen pengelolaan program, dimana tujuannya melibatkan partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan program. Hal ini terlihat dari struktur kelembagaan program hingga di tingkat Kecamatan sampai Kelurahan/Desa. Namun, pada tingkat pencapaian dalam kerangka yang lebih mendasar, yaitu tercapainya kesejahteraan masyarakat yang bermakna terpenuhinya hak dasar rakyat hanya slogan semata. Faktanya sejak program ini digulirkan sepuluh tahun silam angka kemiskinan tidak mengalami penurunan signifikan.

METODE PENELITIAN

Riset ini menggunakan metode semi-grounded multiple case study dimana para peneliti merupakan instrument penelitian yang utama, dan bukan kuesioner yang diaplikasikan kepada sejumlah responden. Metode pengumpulan data yang dipergunakan adalah study pustaka untuk mencari informasi seputar obyek penelitian yang dalam hal ini adalah Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan (PNPM MP). Kemudian melakukan pengamatan lapangan dan wawancara dengan pelaku Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan (PNPM MP) dan penerima manfaat.

Analisis terhadap data di lapangan dibandingkan dengan berbagai asumsi dari Bank Dunia atau mereka yang mendukung Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan (PNPM MP) dan dengan asumsi dari tim riset.

Adapun asumsi Bank Dunia :

Meningkatnya kesejahteraan masyarakat perdesaan;

Memberdayakan masyarakat;

Memperkuat institusi lokal;

Mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik (good governance).

Adapun asumsi Tim Riset :

Partisipasi dalam pelaksanaan PNPM MP bersifat semu;

Korupsi terjadi masyarakat;

Mengakibatkan konflik di masyarakat.

Penentuan desa/kelurahan sebagai study kasus yang diteliti, menggunakan pendekatan maksimalisasi perbedaan (maximizing differences) dengan mencari sebanyak mungkin kasus yang dalam hal ini desa/kelurahan yang berbeda atau kontras kategorinya satu sama lainnya. Adapun kategori dimaksud :

Kontras antara desa/kelurahan yang terletak dekat dekat dan terjah dengan pusat pemerintahan;

Kontras dengan dengan desa/kelurahan yang penduduknya berprofesi petani dengan penduduknya berprofesi buruh ataupun pedagang;

Kontras antara desa/kelurahan yang dikategorikan berhasil melaksanakan program dengan desa yang/ kelurahan yang dianggap gagal.

Seluruh hasil pengumpulan data di lapangan kemudian diverifikasi dan diklasifikasi melalui focus group discussion (kelompok diskusi terarah) yang melibatkan masyarakat, LSM, Ornop, Akademisi, Pemda, pelaku PNPM MP. Melalui pengumpulan data, analisis dan pendiskusian diperoleh temuan:

TEMUAN HASIL PENELITIAN

1. Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Perdesaan Tidak Mensejahterakan Masyarakat

Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan (PNPM MP) bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat miskin diperdesaan dan kesempatan kerja melalui peningkatan kapasitas masyarakat (modal sosial) dalam pengambilan keputusan dan pembangunan. Namun kenyataannya kesejahteraan masyarakat yang bermakna terpenuhinya hak dasar rakyat, hanya slogan semata. Faktanya sejak program ini digulirkan sepuluh tahun silam angka kemiskinan tidak mengalami penurunan signifikan. Angka kemiskinan di Kabupaten Banyuwangi masih sangat besar. Jumlah penduduk miskin di Banyuwangi menurut data BPS tahun 2007 sebesar 157.347 KK atau sekitar 460.000 jiwa yang tersebar di 24 kecamatan dengan rincian; hampir miskin 64.649 KK, miskin 65.451 KK dan sangat miskin 27.247 KK. Jika dihitung kasar, angka kemiskinan di Banyuwangi relatif tinggi sebesar 28,75% dari total keseluruhan jumlah penduduk Banyuwangi 1,6 juta jiwa. Lemahnya sumber daya manusia (SDM) semakin memperparah kemiskinan. Minimnya lulusan pendidikan formal juga memicu banyaknya angka kemiskinan. Data tahun 2006, penduduk Banyuwangi kebayakan hanya tamatan SD/ MI yang mencapai 33,93%, tamatan SMP/MTS/sederajat 17,09%, tamatan SMA 9,37%, tamatan SMK 5,15% dan tamatan Perguruan Tinggi hanya 1,56%, sisanya banyak yang tidak tamat atau tidak pernah mengenyam pendidikan formal. Jumlah pengangguran juga masih tinggi sebesar 9,93% atau sekitar 34.000 jiwa, disebabkan karena penyerapan kerja yang masih relatif kecil dimana jumlah pegawai di instansi formal hanya sebesar 185.000 jiwa dan sisanya bekerja di sektor informal, bekerja kasar dan menjadi TKW. Jumlah pengangguran juga masih tinggi sebesar 9,93% atau sekitar 34.000 jiwa, disebabkan karena penyerapan kerja yang masih relatif kecil

2. Masyarakat Terjerat Hutang

Simpan pinjam perempuan (SPP) Selain memberikan modal usaha bagi perempuan juga ingin memperkenalkan sistem perbankan ke masyarakat perdesaan. Pengembalian pinjaman juga disertai bunga, antara 1,5% (ketentuan PNPM MP), sampai 3%, juga ada yang sampai 10% (sesuai kesepakatan) atau mengikuti suku bunga bank. Kenyataannya pemberian pinjaman difokuskan hanya pada warga masyarakat yang sudah mempunyai usaha, sedangkan warga masyarakat yang tidak mempunyai usaha tidak diberi pinjaman. Seperti di Kecamatan Gambiran untuk mendapatkan pinjaman SPP, ibu-ibu yang dipilih oleh kepala desa hanyalah yang sudah mempunyai usaha. Selain itu terjadi kemacetan pengembalian pinjaman SPP setiap bulan di beberapa Kecamatan di Kabupaten Banyuwangi, karena kebanyakan penerima pinjaman SPP adalah petani yang baru memperoleh hasil panen empat sampai enam bulan sekali.

Simpan pinjam perempuan (SPP) awal mulanya membantu perempuan pengusaha kecil, tetapi kemudian malah diberatkan pada pengembalian pinjaman pokok dan bunga. Seperti yang dialami seorang ibu yang pernah menerima modal dari program PNPM PPK (2007) di Desa Patoman Kecamatan Rogojampi, awal sangat gembira dan berterima kasih karena telah dibantu modal untuk mengembangkan kios kelontongnya. Namun itu hanya sesaat, karena usaha yang dikembangkannya tidak mampu memberikan keuntungan malah harus membayar bunga dan pinjaman pokok. Seorang anggota Unit Pengelola Kegiatan (UPK) di Kecamatan Rogojampi juga menyatakan hal yang sama, bahwa program ini tidak memberikan kesejahteraan di masyarakat. Kebanyakan usaha yang ada tidak berkembang, karena berbagai faktor, yakni beban pengembalian pinjaman dan membuat usaha dadakan dengan tujuan hanya untuk mendapatkan pinjaman modal yang digulirkan. Parahnya, ukuran keberhasilan program ini hanya melihat jumlah pinjaman yang telah dilunasi, tetapi tidak pernah dilakukan verifikasi kepada kelompok masyarakat penerima dana, seberapa besar manfaat dana tersebut bagi masyarakat. Menurut Fasilitator Kabupaten (Faskab) Banyuwangi, Kecamatan yang berhasil mengelola dana SPP adalah Kecamatan Kabat, beberapa desa di Kecamatan Glagah dan Kecamatan Sempu, yang dianggap berhasil karena anggota kelompok berhasil mengembalikan pinjaman plus bunga seratus persen dan meningkatnya jumlah perputaran dana.

Keberhasilan tersebut ternyata juga menimbulkan masalah baru, diantaranya yang sangat menyedihkan adalah alat produksi harus terjual. Hal ini dijumpai di Kecamatan Kabat yang dinilai berhasil. Akibat tidak sanggup membayar pinjaman, salah satu warga terpaksa menjual kambingnya.

Selain temuan diatas, beberapa permasalahan di dalam PNPM MP adalah kurangnya sosialisasi, sehingga banyak warga di wilayah cakupan program PNPM MP tidak mengetahui adanya simpan pinjam perempuan (SPP) dan usaha ekonomi produktif (UEP). Beberapa warga di wilayah cakupan program PNPM MP mengeluhkan jika penerima dana adalah mereka yang mempunyai garis kekerabatan dan pertemanan dengan Tim Pengelola Kegiatan (TPK) di Desa dan Unit Pengelola Kegiatan (UPK) di Kecamatan. Pendataan penduduk miskin dilakukan tidak dengan sungguh-sungguh. Beberapa rumah tangga miskin (RTM) di wilayah cakupan program PNPM MP mengaku bahwa mereka tidak pernah didata sebagai penduduk miskin. Sementara yang lain mengeluhkan bahwa petugas pendata hanya melihat kondisi fisik rumah, kemudian menentukan apakah satu keluarga termasuk miskin atau tidak. Menurut warga, program ini tidak adil dan tidak menyentuh masyarakat miskin karena suara mereka tidak pernah didengar dan diperhatikan.

3.

Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan (PNPM MP) Tidak Partisipatif

Tidak partisipatifnya Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan (PNPM MP) dapat dilihat dari rancang bangun (design) program, karena harus dilaksanakan sesuai Petunjuk Teknis Operasional (PTO) PNPM MP yang telah ditetapkan oleh Bank Dunia. Konsep partisipatif yang menjadi prinsip PNPM MP menjadi rancu dikarenakan setiap tahapan mulai dari Konsultan Manajemen sampai Tim Pengelola Kegiatan (TPK) harus mengacu PTO PNPM MP. Keterlibatan perempuan di dalam program ini juga sangat minim terbukti setiap pertemuan musyawarah kebanyakan didominasi oleh laki-laki. Selain itu ketidakpartisipatifnya PNPM MP terbukti dari fasilitator kecamatan yang banyak berasal dari luar daerah (Kabupaten lain) sehingga tidak faham budaya setempat. Usulan warga di desa juga banyak yang gugur di Musyawarah Atar Desa (MAD).

4.

Lemahnya

Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan (PNPM MP)

Kontrol

dan

Kordinasi

Pemerintah

Daerah

Dalam

Program

Nasional

Walaupun ada Direktorat Jenderal Pemberdayaan Masyarakat dan Daerah di Departemen Dalam Negeri dan Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Daerah (BPMD) di Propinsi serta Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (BPMD) di Kabupaten, sebagai pembina program ini, ada kekaburan tolak ukur kinerja Pemerintah Kabupaten dan Pemerintah Kecamatan. Indikator yang digunakan oleh BPM dalam melakukan evaluasi juga tidak jelas, BPM tidak mempunyai petunjuk pelaksanaan (juklak) dan petunjuk teknis (juknis). Fungsi BPM hanya mengunjungi desa/kelurahan yang mengelola dana PNPM MP. Menurut mereka yang penting infrastruktur dan dana bergulir (UEP dan SPP) sudah dapat dimanfaatkan masyarakat dan pinjaman dikembalikan.

Di Pemerintahan Pusat, PNPM MP dikordinasi oleh Kementrian Kesejahteraan Rakyat, di Propinsi dan Kabupaten langsung dikerjakan oleh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SPKD). Tetapi sesuai PP No. 39 Tahun 2006 tentang Mekanisme Evaluasi dan Pelaporan, fungsi Badan Perencana Pembangunan Daerah (BAPPEDA) monitoring dan evaluasi hanya sebatas pada aspek manajerial, bahwa program sudah terlaksana dan digunakan oleh masyarakat. Pada tingkat pelaksanaan program, menunjukkan adanya intervensi dari Pemerintah Kecamatan dan Pemerintahan Desa. Seperti contohya di Kecamatan Glagah dalam rangka rehabilitasi bangunan pasar, maka dilakukan musyawarah yang kemudian membentuk panitia, namun dientervensi oleh pemerintah kecamatan dan desa sehingga panitia tidak berfungsi, juga terdapat idikasi kuat TPK Desa Glagah tidak jelas karena sekretarisnya non-aktif.

5.

Korupsi Terjadi di Masyarakat

Pelaksanaan Program Nasional Pemberdayaan Mandiri Perdesaan (PNPM MP) mengakibatkan terjadinya korupsi dimasyarakat. fee Tim Pengelola Kegiatan (TPK) yang hanya sebesar 3% dari besaran proyek sesuai PTO PNPM MP yang dibuat oleh Bank Dunia dengan alasan keterbatasan dana dan kemandirian desa ke depannya, berdampak mark up anggaran untuk pembelian bahan yang tidak sesuai standar harga pada pelaksanaan proyek. Adanya indikasi korupsi proyek bedah rumah di Kelurahan Banjarsari Kecamatan Glagah salah satu buktinya.

6. Terjadi Konflik di Masyarakat

Program bedah rumah di Kelurahan Banjarsari Kecamatan Glagah mengakibatkan konflik horisontal dikarenakan adanya warga mampu memperoleh program bedah rumah sebaliknya rumah tangga miskin (RTM) yang kondisi rumahnya tidak layak malah tidak memperoleh program bedah rumah. Selain itu konflik horisontal juga terjadi di Kecamatan Kabat dikarenakan Ketua Unit Pengelola Kegiatan merupakan salah satu calon anggota legislatif (caleg) dari salah satu partai politik peserta pemilu 2009.

7. Menghancurkan Kearifan Lokal

Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan (PNPM MP) menghancurkan kearifan lokal. Terbukti dengan temuan penelitian, antara lain:

Pengingkaran nilai keswadayaan : bentuk keswadayaan yang dianut oleh PNPM MP adalah keswadayaan dalam bentuk material berupa uang. Semakin banyak uang, maka kemungkinan untuk proposal lolos semakin terbuka. Sehingga keswadayaan hanya menjadi syarat untuk mendapatkan bantuan, bukan untuk memperkuat sistem sosial. Bagi masyarakat, keswadayaan adalah pengejawantahan nilai-nilai hidup, memperkokoh relasi manusia dengan sesama, alam dan sang pencipta. Kegiatan hanya menjadi wahana untuk membangun dan memperkokoh sistem sosial.

Pengikisan budaya komunal (gotong royong) menjadi individualistis : partisipasi dan keswadyaan semu yang berkedok populis malah mengikis budaya lokal. Kerja komunal seperti gotong royong yang dilakukan tanpa pamrih, kini berganti dengan kerja bersama yang mendapat upah (cash for work). Nilai sosial ekonomi tidak diperhitungkan dalam pelaksanaan PNPM MP.

KESIMPULAN

1. Dari sudut pandang Bank Dunia, Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan (PNPM MP) mampu meningkatnya kesejahteraan masyarakat perdesaan, memberdayakan masyarakat, memperkuat institusi lokal, dan mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik (good governance) namun kenyataanya PNPM MP tak ubahnya seperti program Inpres Desa Tertinggal (IDT), Kredit Usaha Tani (KUT) maupun Nusa Tenggara Agriculture Area Developmen Project (NTAADP) dan Sulawesi Agriculture Area Developmen Project (SAADP) yang dibiayaai oleh Bank Dunia guna mempercepat pembangunan di daerah tertinggal di Kawasan Timur Indonesia (KTI) yang di masa lalu terbukti gagal, dimana proses pelaksanaannya masih bersifat top down, dan tanpa mempertimbangkan karakteristik kemiskinan masing-masing daerah (seragam). Akibatnya, selain hal ini justru mematikan inisiatif dan daya kreatif lokal, program yang dilaksanakan juga kurang relevan dengan prioritas dan kebutuhan masyarakat miskin.

2. Penanggulangan kemiskinan dimaknai secara parsial dan residual. PNPM MP memang memupuk semangat dan pembelajaran sosial (social learning) masyarakat di perdesaan. Masyarakat memperoleh kesempatan dan bertanggung jawab secara baik dalam merencanakan, merumuskan, melaksanakan, menggunakan uang, memantau dan mengevaluasi program pemberdayaan. Tetapi PNPM MP yang hanya berskala lokal itu umumnya bersifat sedekah pemerataan, yang tidak secara signifikan mengangkat desa tertinggal menjadi desa maju. Sehingga PNPM MP tidak mampu mengurangi angka kemiskinan, karena PNPM MP tidak memperbaiki akses rakyat pada pelayanan publik, tidak memenuhi hak dasar rakyat dan tidak menyelesaikan akar persoalan kemiskinan secara menyeluruh.

3. Pelaksanaan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan (PNPM MP) berdampak buruk dalam beberapa hal, seperti :

3.1. PNPM MP tidak partisipatif dimana warga masyarakat yang tidak memiliki usaha tidak punya kesempatan untuk mengelola dana Usaha Ekonomi Produktif (UEP) dan perempuan yang tidak memiliki usaha tidak punya kesempatan untuk memperoleh dana Simpan Pinjam Perempuan (SPP). Hanya yang mempunyai garis kekerabatan dan pertemanan dengan Tim Pengelola Kegiatan (TPK) di Desa dan Unit Pengelola Kegiatan (UPK) di Kecamatan yang biasanya mengelola dana UEP dan SPP.

3.2. Ketentuan PNPM MP yang meminimalisasi fungsi kontrol pemerintah, mengakibatkan lemahnya sistem pengawasan dan evaluasi oleh Pemerintah Daerah.

3.3. PNPM MP mendidik masyarakat menjadi korup, karena kesenjangan upah antara Konsultan Manajemen dan Fasilitator Kecamatan yang memperoleh upah yang layak dengan sementara Unit Pengelola Kegiatan (UPK) di Kecamatan diupah berdasarkan bunga pengembalian dana bergulir dan fee Tim Pengelola Kegiatan (TPK) di Desa/Kelurahan hanya 3% dari besaran proyek.

3.4. Mendorong terjadinya konflik horisontal, karena PNPM MP menimbulkan kesejangan ekonomi dan tidak mampu menghilangkan kesenjangan kemiskinan.

Hal. 10

REKOMENDASI

Berdasarkan hasil temuan peelitian dan diskusi kelompok terarah (focus group discussion) yang dilakukan tim riset bersama warga masyarakat, tokoh agama, tokoh masyarakat, mahasiswa, akademisi, LSM, Ornop, yang diselenggarakan pada hari Minggu, 12 Juli 2009 Pukul 13.00 - 17.00 WIB di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Bintang Timur ada dua hal yang ingin kami ajukan sebagai rekomendasi :

1. Pemerintah Indonesia harus berani mendesak Bank Dunia dengan melakukan renegoisasi utang (khusus dalam pembiayaan program PPK dan PNPM PPK) serta menghentikan PNPM MP, karena hanya membebani dan menambah utang negara dimana kenyataannya juga menimbulkan banyak masalah di masyarakat.

1.1. PNPM MP tidak mampu mengurangi angka kemiskinan terbukti angka kemiskinan di Kabupaten Banyuwangi masih sangat besar. Jumlah penduduk miskin di Banyuwangi menurut data BPS tahun 2007 sebesar 157.347 KK atau sekitar 460.000 jiwa yang tersebar di 24 kecamatan dengan rincian; hampir miskin 64.649 KK, miskin 65.451 KK dan sangat miskin 27.247 KK. Jika dihitung kasar, angka kemiskinan di Banyuwangi relatif tinggi sebesar 28,75% dari total keseluruhan jumlah penduduk Banyuwangi 1,6 juta jiwa.

1.2. Terjadinya korupsi di masyarakat, karena kesenjangan upah antara Konsultan Manajemen dan Fasilitator Kecamatan yang memperoleh upah yang layak sementara Unit Pengelola Kegiatan (UPK) di Kecamatan diupah berdasarkan bunga pengembalian dana bergulir dan fee Tim Pengelola Kegiatan (TPK) di Desa/Kelurahan hanya 3% dari besaran proyek.

1.3. PNPM MP tidak partisipatif dimana hanya yang mempunyai garis kekerabatan dan pertemanan dengan Tim Pengelola Kegiatan (TPK) di Desa dan Unit Pengelola Kegiatan (UPK) di Kecamatan yang biasanya mengelola dana Usaha Ekonomi Produktif (UEP) dan Simpan Pinjam Perempuan (SPP).

1.4. Mendorong terjadinya konflik horisontal, karena PNPM MP menimbulkan kesejangan ekonomi dan tidak mampu menghilangkan kesenjangan kemiskinan.

1.5. Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan (PNPM MP) mematikan inisiatif dan daya kreatif lokal serta menghancurkan kearifan lokal.

2. Pemerintah Pusat seharusnya mendorong terwujudnya kebijakan nasional yang mengakomodasi kerjasama antar daerah, khususnya berkaitan pengelolaan ekonomi, sehingga memungkinkan adanya relasi utang-piutang antar daerah. Realitasnya banyak daerah di Indonesia yang memiliki Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang tinggi bisa berbagi (sharing) dengan daerah yang PAD-nya rendah. Dengan demikian beban negara untuk pembayaran utang luar negeri, khususnya ketergantungan terhadap Bank Dunia dapat dihilangkan.

BIBLIOGRAFI

Bosshard, Peter, et all, Occasional Paper, Kredibilitas Pinjaman: Mandat dan Partner Baru untuk Bank Dunia, INFID, Jakarta, 1999.

Erler, Briggette, Bantuan Mematikan, Catatan Lapangan Tentang Bantuan Asing, LP3ES, Jakarta 1989.

Hill, Hal, Ekonomi Indonesia, Murai Kencana, Jakarta, 2001.

INFID, Kebocoran Hutang Luar Negeri, Occasional Paper, 2000.

JARI dengan INFID, Buku Putih Jaring Pengaman Sosial (JPS), PT Bina Pariwara, Jakarta, 2001.

Mas’oed, Mochtar, Ekonomi dan Struktur Politik Orde Baru 1966-1971, LP3ES, Jakarta, 1989.

Sritua, Arief, Pembangunanisme dan Ekonomi Indonesia, Pemberdayaan Rakyat Lokal dalam Arus Globalisasi, Wacana Mulia, Bandung, 1998.

Thomas, Vinot, et.al., ”The Quality of Growth, Kualitas Pertumbuhan, Diterbitkan untuk Bank Dunia oleh PT Pustaka Utama Grafiti, Jakarta, 2001.

Erlangga,

Todaro,

Michael

P,

Pembangunan

Ekonomi

di

Dunia

Ketiga,

Edisi

Keenam,

Penerbit

Jakarta, 1999.

Young, Ken, Krisis: Konteks dan Prospeknya, dalam Geoff Forrester and R.J. May, Jatuhnya Soeharto, AJI, 1999.

Wiranta, Sukarna, Hutang Luar Negeri, dalam Indonesia Menapak Abad 21, Kajian Ekonomi, Millenium Publiser, Jakarta, 2000.

Muktiono Irfan, et.al., UTANG YANG MEMISKINKAN, Study Kasus Proyek Bank Dunia di Nusa Tenggara Barat dan Sulawesi Tengah, ICW, Jakarta 2002.

Karmila, Bank Dunia, Penerbit Cempaka Putih, Klaten 2008.

World Development Report 2000/2001Attacking Poverty, World Bank, 2000.

04/DPK-ARM/2008.

Helmi,

Wuna

(2007).

Rakyat

Miskin

Banyuwangi

Menggugat.

Kertas

Posisi

Banyuwangi: DPK-ARM Kabupaten Banyuwangi.

Wuna, dkk (2009). Feminisasi Pemiskinan Dalam Kebijakan Pertanian di Indonesia. Kertas Posisi 03/ SERUNI/2009. Banyuwangi: Komite Sentral Serikat Perempuan Indonesia

Koran Tempo, 12 November

Demands of the IMF & World Bank: 200,” ATTAC Weekly Newsletter – Wednesday June 13, 2001

Anonim (2006). Profil Program Pengembangan Kecamatan Propinsi Jawa Timur. Surabaya: Penerbit BPMD Jatim & Kordinator PPK Prov. Jatim.

PPK (2005a). Jenis dan Proses Pelaksanaan Kegiatan Program Pengembangan Kecamatan (PPK). Penjelasan IV

PPK (2005b). Pendanaan dan Administrasi Kegiatan PPK. Penjelasan IX.

KDP (2007) Profil PPK. diakses dari www.kdp.com.

Petunjuk Teknis Operasional (PTO) Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan (PNPM MP). Direktorat Pembangunan Daerah Departemen Dalam Negeri, 2008.

Staff Aprasial Report PNPM.

Annual Report TA.2008 PNPM.