Anda di halaman 1dari 78

Pedoman Pendidikan

Jurusan Kedokteran Fakultas Kedokteran

Pedoman Pendidikan Jurusan Kedokteran Fakultas Kedokteran UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2010

UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG

2010

Visi

Menjadi Institusi Pendidikan Kedokteran Yang Terkemuka Dan Bertaraf Internasional

Misi

Merintis Pendidikan , Penelitian, dan Pengabdian kepada Masyarakat di bidang Kedokteran terkini serta bermutu

Nilai

1. Responsif

2. Efektif dan Efisien

3. Suportif

4. Inovatif

5. Komitmen

PENGANTAR

Puji syukur senantiasa kita panjatkan kepada Allah Tuhan Yang Maha Kuasa atas ijinnya

sehingga Buku Pedoman Akademik T.A.2009/2010 ini bisa terselesaikan.

Pedoman Akademik 2009/2010 untuk Penyelenggaraan Program Studi Pendidikan Dokter

Jurusan Kedokteran (S1) Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya ini diterbitkan berdasarkan Surat

Keputusan Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya No. 046/SK/J10.1.17/AK/2009 dalam

rangka memberikan acuan bagi seluruh sivitas akademika yang terlibat dalam penyelenggaraan

Kurikulum Berbasis Kompetensi untuk Tahun Akademik 2009/2010. Perubahan pada Buku Pedoman

Akademik 2009/2010 dimaksudkan untuk menyempurnakan Buku Pedoman Akademik 2007/2008

dan 2008/2009.

Pada Buku Pedoman Akademik ini telah disusun struktur kurikulum untuk seluruh Tahap

Akademik dari Semester I sampai dengan Semester VII, yang terdiri atas 2 semester Tahap Dasar

Kedokteran dan 5 semester Tahap Kompetensi Klinik. Berbeda dengan Pedoman Akademik tahun-

tahun sebelumnya, sejak Tahun Akademik 2009/2010 diberlakukan penapisan pada akhir Semester

II untuk bisa melanjutkan ke Semester diatasnya. Pemberian materi pembelajaran selain dalam

bentuk Blok, juga beberapa matakuliah diberikan dengan model Non-Blok. Disamping itu, juga

diberikan model pembelajaran Problem Based Learning pada setiap akhir Semester III sampai

dengan Semester VII untuk melatih mahasiswa melakukan self directed learning.

Dengan mengharapkan ridho Allah SWT, serta komitmen seluruh sivitas akademika, semoga

Kurikulum Berbasis Kompetensi akan terselenggara dengan lebih baik di Fakultas Kedokteran

Universitas Brawijaya.

Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Dekan,

Ttd.

Dr. dr. Samsul Islam, SpMK, MKes. NIP. 19480724 198003 1 002

Halaman

DAFTAR ISI

VISI, MISI, NILAI

i

PENGANTAR

ii

DAFTAR ISI

iii

DAFTAR TABEL

v

DAFTAR GAMBAR

vi

Bab I

Bab II

KOMPETENSI DAN STANDAR KOMPETENSI DOKTER

1.1 Batasan Kompetensi

1.2 Jabaran Operasional Kompetensi

1.3 Elemen Kompetensi

1.4 Acuan Standar Kompetensi Dokter

1.5 Manfaat Standar Kompetensi Dokter

1.6 Standar Kompetensi Dokter

1.6.1 Area Kompetensi

1.6.2 Komponen Kompetensi

1.6.3 Penjabaran Kompetensi

…………………………….…. …………………………… … ……………………….… …………………………….…… ………………………….……. ….………………………….… .………………………….…… …………………………….… ………………………

KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER (PSPD) FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA 2.1 Sejarah

2.2 Definisi Kurikulum dan Pendekatan Pembelajarannya ………….………….

2.3 Karakteristik KBK PSPD FKUB

2.4 Struktur Kurikulum

……………………………….

………………………….…….

…………………….………….

2.4.1

Umum

………………………………

2.4.2

Tahap Pendidikan Dasar Kedokteran ………….……………………

2.4.3

Tahap Pendidikan Kedokteran Klinik ……………………….……

2.4.4

Tahap Kepaniteraan Klinik (Clerkship) …….………………………

2.5 Isi Kurikulum

………………………………

2.5.1 Struktur Kurikulum

2.5.2 Sebaran Matakuliah di Setiap Semester …………………………

2.5.3 Tahap Pendidikan Profesi (Clerkship) ………………………….….

…………… …………………

Bab III PERAN, FUNGSI, KOORDINASI, PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

3.1 Peran dan Fungsi dalam Penyelenggaraan Pembelajaran

3.1.1 Pimpinan Fakultas

3.1.2 Gugus Jaminan Mutu (GJM)

3.1.3 Unit Jaminan Mutu (UJM)

3.1.4 Medical Education Unit (MEU)

3.1.5 Jurusan

3.1.6 Laboratorium

3.1.7 UPT Labskill & Laboratorium Sentral Biomedik

3.1.8 Urusan Administrasi Akademik Jurusan

3.1.9 Penanggungjawab Matakuliah (PJMK)

3.1.10 Kelompok Pengajar

3.1.11 Mahasiswa

3.2 Prosedur dan Koordinasi Proses Pembelajaran

Bab IV PEMBELAJARAN BLOK

4.1 Strategi Pembelajaran

4.2 Struktur Materi

4.3 Organisasi dan Prosedur Pembelajaran Blok

4.4 RancanganPembelajaran

4.5 Implementasi Pembelajaran

………………………………… ………

Bab V PEMBELAJARAN NON-BLOK

5.1

Pembelajaran Berbasis Masalah (PBL)

…………………………………… ……

5.2

Metodologi ………………………………… ………

5.3

Tugas Akhir

……………………………………

……

5.4

Program Kerja Nyata Mahasiswa (PKNM) ………………………………… ………

Bab VI KETERAMPILAN DAN KETERAMPILAN KLINIK

6.1

Keterampilan dan Keterampilan Klinik

……………………………………….

6.2

Keterampilan Klinik (clinical skill)

………………………………………

6.3

Buku Pedoman Pembelajaran Keterampilan Klinik

……………………….

Bab VII EVALUASI HASIL PEMBELAJARAN

7.1 Umum

7.2 Tujuan

7.3 Jenis Evaluasi

7.4 Evaluasi Hasil Belajar

7.5 Ujian Penunjang

7.6 Konversi Skor menjadi Nilai Huruf

7.7 Penilaian Kemampuan Akademik

7.8 Evaluasi Pendidikan dan Lama Masa Studi

7.9 Transkrip Kompetensi

7.10 Sertifikat Kompetensi

7.11 Yudisium

………………………………………

………………………………………

………………………………………

………………………………………

………………………………………

………………………………………

………………………………………

…………………………………

………………………………………

………………………………………

………………………………………

Bab VIII BIMBINGAN KONSELING, KEPENASIHATAN AKADEMIK, SERTA KEGIATAN EKSTRAKURIKULER

8.1 Bimbingan Konseling

8.2 Kepenasehatan Akademik

8.3 Kegiatan Ekstrakurikuler

Bab IX PENGEMBANGAN

…………………………………………

…………………………………………

…………………………………………

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Sebaran, Kodifikasi, dan Beban Studi Matakuliah ……………… …………….

Tabel 7.1 Konversi Skor ke dalam Nilai Huruf

…………………………….……

DAFTAR GAMBAR

………………………………

Gambar 3.1 Bagan Pembelajaran KBK PS Pendidikan Dokter – FKUB

…………………

……………………………… Gambar 4.3 Contoh “Topic & Topic Tree” Sistem Reproduksi

………………………………

………………………………

Gambar 4.2 Komponen Pembelajaran Blok

Gambar 4.1 Bagan Organisasi dan Prosedur Pembelajaran Blok

Gambar 2.1 Bagan Struktur Kurikulum

………………

…………………….

Gambar 6.1 Organisasi Pembelajaran Keterampilan Gambar 7.1 Proses Evaluasi Komponen Blok

Halaman

Halaman

Bab I KOMPETENSI DAN STANDAR KOMPETENSI DOKTER

1.1 Batasan Kompetensi

Berdasarkan Pasal 1 Surat Keputusan Menteri Pendidikan Nasional No. 045/U/2002 tentang Kurikulum Inti Pendidikan Tinggi, yang dimaksud dengan Kompetensi adalah seperangkat tindakan cerdas, penuh tanggung jawab yang dimiliki seseorang sebagai syarat untuk dianggap mampu oleh masyarakat dalam melaksanakan tugas-tugas di bidang pekerjaan tertentu.

1.2 Jabaran Operasional Kompetensi

Batasan Kompetensi diatas dijabarkan sebagai berikut:

1.2.1 Kompetensi sebagai “seperangkat tindakan cerdas yang penuh tanggungjawab” menunjukkan bahwa hakikat dasar Kompetensi adalah sebuah kemampuan yang diperoleh dari integrasi 3 domain: a) cerdas, sebagai kemampuan kognitif yang merupakan buah pikir intelektual, b) tindakan, sebagai kemampuan psikomotorik, dan c) bertanggungjawab, merupakan kemampuan afektif sebagai buah perilaku dan sikap.

1.2.2 Dalam konteks profesi dokter, kompetensi ini mengandung makna sebagai integrasi kemampuan berfikir, bertindak, dan berperilaku sebagai seorang dokter. Setiap tindakan profesional seorang dokter harus didasarkan kepada hasil berfikir yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, dilakukan sesuai dengan standar prosedur yang ditetapkan, dan disertai dengan sikap dan perilaku sesuai dengan etika, kode etik, dan tanggungjawab seorang dokter.

1.2.3 Penguasaan keilmuan (kognitif), keterampilan bertindak (psikomotorik), sikap dan perilaku profesional (afektif), secara sendiri-sendiri tidak menggambarkan penguasa-an kompetensi, melainkan harus dilakukan secara integratif diantara ketiganya.

1.2.4 Dengan kerangka berfikir diatas, maka pembelajaran kompetensi pada dasarnya adalah pembelajaran dengan mengintegrasikan ketiga domain itu sekaligus. Tanpa mengintegrasikan ketiganya, pembelajaran tidak dapat dikatakan sebagai bentuk pembelajaran kompetensi.

1.2.5 “Dianggap mampu oleh masyarakat“ dalam definisi kompetensi mengindikasikan beberapa hal: 1) bahwa lulusan Program Studi Pendidikan Dokter tidak otomatis dipandang kompeten dalam menjalankan tugasnya melainkan telah dibekali dengan kompetensi untuk mampu memerankan kompetensi itu di masyarakat (“competence performer”), 2) kompetensi berbeda dengan ijazah yang merupakan bentuk pengakuan resmi institusi pendidikan yang menghasilkannya, dan 3) dalam praktek, pengakuan masyarakat atas kompetensi lulusan pendidikan dokter direpresentasikan oleh Konsil Kedokteran Indonesia dengan memberikan lisensi untuk berpraktek di masyarakat.

dilaksanakan apabila yang bersangkutan bertugas di masyarakat di luar profesinya tersebut.

1.3 Elemen Kompetensi Dari uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya didalam kompetensi terkandung beberapa elemen, masing-masing: a) kompetensi sebagai landasan kepribadian, b) kompetensi sebagai penguasaan ilmu dan keterampilan, c) kompetensi sebagai kemampuan berkarya, dan d) kompetensi sebagai sikap dan perilaku dalam berkarya menurut tingkat keahlian, berdasarkan ilmu dan keterampilan yang dikuasai, dan e) kompetensi juga merupakan pemahaman kaidah berkehidupan masyarakat sesuai dengan keahlian dalam berkarya.

1.4 Acuan Standar Kompetensi Dokter

Untuk mengukur kompetensi dokter perlu ditetapkan sejumlah parameter yang menjadi acuan ketercapaiannya. Dalam konteks standar pendidikan dokter secara nasional, Standar Kompetensi Dokter yang ditetapkan Konsil Kedokteran Indonesia merupakan parameter acuan bagi Program Studi Pendidikan Dokter FKUB. Dalam konteks standar pendidikan internasional, Program Studi Pendidikan Dokter FKUB menggunakan standar yang ditetapkan oleh World

Federation of Medical Education: WFME Global Standards Basic Medical Education for Quality Improvement (WFME, Copenhagen, 2003).

Dengan dikuasainya standar kompetensi oleh seorang profesi dokter, maka yang bersangkutan akan mampu: a) mengerjakan tugas atau pekerjaan profesinya, b) mengorganisasikan tugasnya agar pekerjaan tersebut dapat dilaksanakan, c) segera tanggap dan tahu apa yang harus dilakukan bilamana terjadi sesuatu yang berbeda dengan rencana semula, d) menggunakan kemampuan yang dimiliki untuk memecahkan masalah di bidang profesinya, dan e) melaksanakan tugas dengan kondisi berbeda.

1.5 Manfaat Standar Kompetensi Dokter

1.5.1 Bagi Institusi Pendidikan Kedokteran Sesuai dengan Undang-Undang RI No. 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas dan Peraturan Pemerintah No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan yang mengatakan bahwa kurikulum program studi menjadi wewenang institusi pendidikan kedokteran, maka Standar Kompetensi Dokter merupakan kerangka acuan utama bagi institusi pendidikan kedokteran dalam mengembangkan kurikulumnya masing-masing. Dengan demikian, walaupun kurikulum berbeda, tetapi dokter yang dihasilkan dari berbagai institusi diharapkan memiliki kesetaraan dalam hal penguasaan kompetensi.

1.5.2 Bagi Pengguna Standar Kompetensi Dokter dapat dijadikan kerangka acuan utama bagi Departemen Kesehatan maupun Dinas Kesehatan Propinsi ataupun Kabupaten dalam pengembangan sumber daya manusia kesehatan, dalam hal ini dokter, agar dapat memberikan pelayanan kesehatan yang baik. Dengan Standar Kompetensi, Depkes dan Dinas Kesehatan sebagai pihak yang akan memberikan lisensi dapat mengetahui kompetensi apa yang telah dikuasai oleh dokter dan kompetensi apa yang perlu ditambah, sesuai dengan kebutuhan spesifik di tempat kerja. Dengan demikian pihak Depkes dan Dinas Kesehatan dapat menyelenggarakan pembekalan atau pelatihan jangka pendek sebelum memberikan Ijin Praktik.

1.5.4 Bagi Mahasiswa Standar Kompetensi Dokter dapat digunakan oleh mahasiswa untuk mengarahkan proses belajarnya, karena mahasiswa mengetahui sejak awal kompetensi yang harus dikuasai di akhir pendidikan. Dengan demikian proses pendidikan diharapkan dapat berjalan lebih efektif dan efisien.

1.5.5 Bagi Departemen Pendidikan Nasional dan Badan Akreditasi Nasional Standar Kompetensi Dokter dapat dikembangkan lebih lanjut menjadi kriteria pada Akreditasi Program Studi Pendidikan Dokter.

1.5.6 Bagi Kolegium Dokter Indonesia Standar Kompetensi Dokter dapat dijadikan acuan dalam menyelenggarakan program pengembangan profesi secara berkelanjutan.

1.5.7 Bagi Kolegium-Kolegium Spesialis Standar Kompetensi Dokter dapat dijadikan acuan dalam merumuskan kompetensi dokter spesialis yang merupakan kelanjutan dari pendidikan dokter.

1.5.8 Untuk Program Adaptasi bagi Lulusan Luar Negeri Standar Kompetensi Dokter dapat digunakan sebagai acuan untuk menilai kompetensi dokter lulusan luar negeri.

1.6 Standar Kompetensi Dokter

Program Studi Pendidikan Dokter FKUB mengacu pada Standar Kompetensi Dokter yang ditetapkan Konsil Kedokteran Indonesia sebagai berikut :

1.6.1 Area Kompetensi:

a. Komunikasi efektif

b. Keterampilan klinis

c. Landasan ilmiah ilmu kedokteran

d. Pengelolaan masalah kesehatan

e. Pengelolaan informasi

f. Mawas diri dan pengembangan diri

g. Etika, moral, medikolegal dan profesionalisme serta keselamatan pasien.

1.6.2 Komponen Kompetensi:

1.6.2.1 Area Komunikasi Efektif

a. Berkomunikasi dengan pasien serta anggota keluarganya

b. Berkomunikasi dengan sejawat

c. Berkomunikasi dengan masyarakat

d. Berkomunikasi dengan profesi lain.

1.6.2.2 Area Keterampilan Klinis

a.

Memperoleh dan mencatat informasi yang akurat serta penting tentang pasien dan keluarganya

b.

Melakukan prosedur klinik dan laboratorium

c.

Melakukan prosedur kedaruratan klinis.

1.6.2.3

Area Landasan Ilmiah Ilmu Kedokteran

a.

Menerapkan konsep-konsep dan prinsip-prinsip ilmu biomedik, klinik, perilaku, dan ilmu kesehatan masyarakat sesuai dengan pelayanan kesehatan tingkat primer

b.

Merangkum dari interpretasi anamnesis, pemeriksaan fisik, uji laboratorium dan prosedur yang sesuai

c.

Menentukan efektivitas suatu tindakan.

1.6.2.4 Area Pengelolaan Masalah Kesehatan

a. Mengelola penyakit, keadaan sakit dan masalah pasien sebagai individu yang utuh, bagian dari keluarga dan masyarakat

b. Melakukan pencegahan Penyakit dan Keadaan Sakit

c.

Melaksanakan pendidikan kesehatan dalam rangka promosi kesehatan dan pencegahan penyakit

d.

Menggerakkan dan memberdayakan masyarakat untuk meningkatkan derajat kesehatan

e.

Mengelola sumber daya manusia serta sarana dan prasarana secara efektif dan efisien dalam pelayanan kesehatan primer dengan pendekatan Kedokteran Keluarga.

1.6.2.5

Area Pengelolaan Informasi

a.

Menggunakan teknologi informasi dan komunikasi untuk membantu penegakan diagnosis, pemberian terapi, tindakan pencegahan dan promosi kesehatan, serta penjagaan, dan pemantauan status kesehatan pasien

c.

Memahami manfaat dan keterbatasan teknologi informasi

d.

Memanfaatkan informasi kesehatan.

1.6.2.6

Area Mawas Diri dan Pengembangan Diri

a.

Menerapkan mawas diri

b.

Mempraktikkan belajar sepanjang hayat

c.

Mengembangkan pengetahuan baru.

1.6.2.7

Area Etika, Moral, Medikolegal dan Profesionalisme serta Keselamatan Pasien

a.

Memiliki sikap profesional

b.

Berperilaku profesional dalam bekerja sama

c.

Sebagai anggota Tim Pelayanan Kesehatan yang profesional

d.

Melakukan praktik kedokteran dalam masyarakat multikultural di Indonesia

e.

Memenuhi aspek medikolegal dalam praktik kedokteran

f.

Menerapkan keselamatan pasien dalam praktik kedokteran.

1.6.3 Penjabaran Kompetensi

1.6.3.1 Area Komunikasi Efektif

Kompetensi Inti:1.6.3 Penjabaran Kompetensi 1.6.3.1 Area Komunikasi Efektif Mampu menggali dan bertukar informasi secara verbal dan non

Mampu menggali dan bertukar informasi secara verbal dan non verbal dengan pasien pada semua usia, anggota keluarga, masyarakat, kolega dan profesi lain.

Lulusan Dokter Mampu:usia, anggota keluarga, masyarakat, kolega dan profesi lain. a. Berkomunikasi dengan pasien serta anggota keluarganya 1)

a. Berkomunikasi dengan pasien serta anggota keluarganya 1) Bersambung rasa dengan pasien dan keluarganya Memberikan salam

rasa dengan pasien dan keluarganya Memberikan salam Memberikan situasi yang nyaman bagi pasien Menunjukkan sikap

Memberikan situasi yang nyaman bagi pasienrasa dengan pasien dan keluarganya Memberikan salam Menunjukkan sikap empati dan dapat dipercaya Mendengarkan

Menunjukkan sikap empati dan dapat dipercayaMemberikan salam Memberikan situasi yang nyaman bagi pasien Mendengarkan dengan aktif (penuh perhatian dan memberi waktu

Mendengarkan dengan aktif (penuh perhatian dan memberi waktu yang cukup pada pasien untuk menyampaikan keluhannya dan menggali permasalahan pasien)bagi pasien Menunjukkan sikap empati dan dapat dipercaya Menyimpulkan kembali masalah pasien, kekhawatiran, maupun

Menyimpulkan kembali masalah pasien, kekhawatiran, maupun harapannyamenyampaikan keluhannya dan menggali permasalahan pasien) Memelihara dan menjaga harga diri pasien, hal-hal yang

Memelihara dan menjaga harga diri pasien, hal-hal yang bersifat pribadi, dan kerahasiaan pasien sepanjang waktukembali masalah pasien, kekhawatiran, maupun harapannya Memperlakukan pasien sebagai mitra sejajar dan meminta

Memperlakukan pasien sebagai mitra sejajar dan meminta persetujuannya dalam memutuskan suatu terapi dan tindakan.bersifat pribadi, dan kerahasiaan pasien sepanjang waktu 2) Mengumpulkan Informasi Mampu menggunakan open-ended

2) Mengumpulkan Informasi Mampu menggunakan open-ended

2) Mengumpulkan Informasi Mampu menggunakan open-ended maupun closed question dalam menggali informasi ( move

maupun closed question dalam menggali

informasi (move from open to closed question properly)

Meminta penjelasan pada pasien pada pernyataan yang kurang dimengertimenggunakan open-ended maupun closed question dalam menggali informasi ( move from open to closed question properly

Menggunakan penalaran klinik dalam penggalian riwayat penyakit pasien sekarang, riwayat keluarga, atau riwayat kesehatan masa laluMelakukan penggalian data secara runtut dan efisien Tidak memberikan nasehat maupun penjelasan yang prematur saat

Melakukan penggalian data secara runtut dan efisiensekarang, riwayat keluarga, atau riwayat kesehatan masa lalu Tidak memberikan nasehat maupun penjelasan yang prematur

Tidak memberikan nasehat maupun penjelasan yang prematur saat masih mengumpulkan data.lalu Melakukan penggalian data secara runtut dan efisien 3) Memahami Perspektif Pasien Menghargai kepercayaan pasien

3) Memahami Perspektif Pasien

Menghargai kepercayaan pasien terhadap segala sesuatu yang menyangkut penyakitnyasaat masih mengumpulkan data. 3) Memahami Perspektif Pasien Melakukan eksplorasi terhadap kepentingan pasien,

Melakukan eksplorasi terhadap kepentingan pasien, kekhawatirannya, dan harapannyapasien terhadap segala sesuatu yang menyangkut penyakitnya Melakukan fasilitasi secara profesional terhadap ungkapan

Melakukan fasilitasi secara profesional terhadap ungkapan emosi pasien (marah, takut, malu, sedih, bingung, eforia, maupun pasien dengan hambatan komunikasi misalnya bisu-tuli, gangguan psikis)terhadap kepentingan pasien, kekhawatirannya, dan harapannya Mampu merespon verbal maupun bahasa non-verbal dari pasien

Mampu merespon verbal maupun bahasa non-verbal dari pasien secara profesionalhambatan komunikasi misalnya bisu-tuli, gangguan psikis) Memperhatikan faktor biopsikososiobudaya dan norma-norma

Memperhatikan faktor biopsikososiobudaya dan norma-norma setempat untuk menetapkan dan mempertahankan terapi paripurna dan hubungan dokter pasien yang professionalmaupun bahasa non-verbal dari pasien secara profesional Menggunakan bahasa yang santun dan dapat dimengerti oleh

Menggunakan bahasa yang santun dan dapat dimengerti oleh pasien (termasuk bahasa daerah setempat) sesuai dengan umur, tingkat pendidikanparipurna dan hubungan dokter pasien yang professional ketika menyampaikan pertanyaan, meringkas informasi,

ketika menyampaikan pertanyaan, meringkas informasi, menjelaskan hasil diagnosis, pilihan penanganan serta prognosis.daerah setempat) sesuai dengan umur, tingkat pendidikan 4) Memberi Penjelasan dan Informasi Mempersiapkan perasaan

4) Memberi Penjelasan dan Informasi

Mempersiapkan perasaan pasien untuk menghindari rasa takut dan stres sebelum melakukan pemeriksaan fisikserta prognosis. 4) Memberi Penjelasan dan Informasi Memberi tahu adanya rasa sakit atau tidak nyaman yang

Memberi tahu adanya rasa sakit atau tidak nyaman yang mungkin timbul selama pemeriksaan fisik atau tindakannyarasa takut dan stres sebelum melakukan pemeriksaan fisik Memberi penjelasan dengan benar, jelas, lengkap, dan jujur

Memberi penjelasan dengan benar, jelas, lengkap, dan jujur tentang tujuan, keperluan, manfaat, risiko prosedur diagnostik dan tindakan medis (terapi, operasi, prognosis, rujukan) sebelum dikerjakanmungkin timbul selama pemeriksaan fisik atau tindakannya Menjawab pertanyaan dengan jujur, memberi konsultasi, atau

Menjawab pertanyaan dengan jujur, memberi konsultasi, atau menganjurkan rujukan untuk permasalahan yang sulit.(terapi, operasi, prognosis, rujukan) sebelum dikerjakan Memberikan edukasi dan promosi kesehatan kepada pasien

Memberikan edukasi dan promosi kesehatan kepada pasien maupun keluarganyaatau menganjurkan rujukan untuk permasalahan yang sulit. Memastikan mengkonfirmasikan bahwa informasi dan

Memastikan mengkonfirmasikan bahwa informasi dan pilihan-pilihan tindakan telah dipahami oleh pasiendan promosi kesehatan kepada pasien maupun keluarganya Memberikan waktu yang cukup kepada pasien untuk merenungkan

Memberikan waktu yang cukup kepada pasien untuk merenungkan kembali serta berkonsultasi sebelum membuat persetujuandan pilihan-pilihan tindakan telah dipahami oleh pasien Menyampaikan berita buruk secara profesional dengan

Menyampaikan berita buruk secara profesional dengan menjunjung tinggi etika kedokterankembali serta berkonsultasi sebelum membuat persetujuan Memastikan kesinambungan pelayanan yang telah dibuat dan

Memastikan kesinambungan pelayanan yang telah dibuat dan disepakati.secara profesional dengan menjunjung tinggi etika kedokteran b. Berkomunikasi dengan sejawat 1) Memberi informasi yang

b. Berkomunikasi dengan sejawat 1) Memberi informasi yang tepat kepada sejawat tentang kondisi pasien baik secara lisan, tertulis, atau elektronik pada saat yang diperlukan demi kepentingan pasien maupun ilmu kedokteran

2) Menulis surat rujukan dan laporan penanganan pasien dengan benar, demi kepentingan pasien maupun ilmu kedokteran

3) Melakukan presentasi laporan kasus secara efektif dan jelas, demi kepentingan pasien maupun ilmu kedokteran.

c. Berkomunikasi dengan masyarakat 1) Menggunakan bahasa yang dipahami oleh masyarakat 2) Menggali masalah kesehatan menurut persepsi masyarakat 3) Menggunakan teknik komunikasi langsung yang efektif agar masyarakat memahami kesehatan sebagai kebutuhan 4) Memanfaatkan media dan kegiatan kemasyarakatan secara efektif ketika melakukan promosi kesehatan 5) Melibatkan tokoh masyarakat dalam mempromosikan kesehatan secara profesional.

d. Berkomunikasi dengan profesi lain 1) Mendengarkan dengan penuh perhatian, dan memberi waktu cukup kepada profesi lain untuk menyampaikan pendapatnya 2) Memberi informasi yang tepat waktu dan sesuai kondisi yang sebenarnya ke perusahaan jasa asuransi kesehatan untuk pemrosesan klaim 3) Memberikan informasi yang relevan kepada penegak hukum atau sebagai saksi ahli di pengadilan (jika diperlukan) 4) Melakukan negosiasi dengan pihak terkait dalam rangka pemecahan masalah kesehatan masyarakat.

1.6.3.2 Area Keterampilan Klinis

Kompetensi Inti:kesehatan masyarakat. 1.6.3.2 Area Keterampilan Klinis Melakukan kewenangannya. prosedur klinis sesuai masalah,

Melakukan

kewenangannya.

prosedur

klinis

sesuai

masalah,

Lulusan Dokter Mampu:Melakukan kewenangannya. prosedur klinis sesuai masalah, kebutuhan pasien dan sesuai a. Memperoleh dan mencatat

kebutuhan

pasien

dan

sesuai

a. Memperoleh dan mencatat informasi yang akurat serta penting tentang pasien dan keluarganya Menggali dan merekam dengan jelas keluhan-keluhan yang disampaikan (bila perlu disertai gambar), riwayat penyakit saat ini, medis, keluarga, sosial serta riwayat lain yang relevan.

b. Melakukan prosedur klinik dan laboratorium 1) Memilih prosedur klinis dan laboratorium sesuai dengan masalah pasien 2) Melakukan prosedur klinis dan laboratorium sesuai kebutuhan pasien dan kewenangannya 3) Melakukan pemeriksaan fisik dengan cara yang seminimal mungkin menimbul- kan rasa sakit dan ketidaknyamanan pada pasien 4) Melakukan pemeriksaan fisik yang sesuai dengan masalah pasien 5) Menemukan tanda-tanda fisik dan membuat rekam medis dengan jelas/ benar 6) Mengidentifikasi, memilih ,menentukan pemeriksaan laboratorium yang sesuai 7) Melakukan pemeriksaan laboratorium dasar 8) Membuat permintaan pemeriksaan laboratorium penunjang 9) Menentukan pemeriksaan penunjang untuk tujuan penapisan penyakit 10) Memilih dan melakukan keterampilan terapeutik, serta tindakan prevensi sesuai dengan kewenangannya.

c. Melakukan prosedur kedaruratan klinis 1) Menentukan keadaan kedaruratan klinis 2) Memilih prosedur kedaruratan klinis sesuai kebutuhan pasien atau menetapkan rujukan

3) Melakukan prosedur kedaruratan klinis secara benar dan etis, sesuai dengan kewenangannya 4) Mengevaluasi dan melakukan tindak lanjut.

1.6.3.3 Area Landasan Ilmiah Ilmu Kedokteran

Kompetensi Inti:tindak lanjut. 1.6.3.3 Area Landasan Ilmiah Ilmu Kedokteran Mengidentifikasi, menjelaskan dan merancang penyelesaian

Mengidentifikasi, menjelaskan dan merancang penyelesaian masalah kesehatan secara ilmiah menurut ilmu kedokteran kesehatan mutakhir untuk mendapat hasil yang optimum.

Lulusan Dokter Mampu:kesehatan mutakhir untuk mendapat hasil yang optimum. a. Menerapkan konsep-konsep dan prinsip-prinsip ilmu

a. Menerapkan konsep-konsep dan prinsip-prinsip ilmu biomedik, klinik, perilaku, dan ilmu kesehatan masyarakat sesuai dengan pelayanan kesehatan tingkat primer 1) Menjelaskan prinsip-prinsip ilmu kedokteran dasar yang berhubungan dengan terjadinya masalah kesehatan, beserta patogenesis dan patofisiologinya 2) Menjelaskan masalah kesehatan baik secara molekular maupun selular melalui pemahaman mekanisme normal dalam tubuh. 3) Menjelaskan faktor-faktor non biologis yang berpengaruh terhadap masalah kesehatan. 4) Mengembangkan strategi untuk menghentikan sumber penyakit, poin-poin patogenesis dan patofisiologis, akibat yang ditimbulkan, serta risiko spesifik secara efektif 5) Menjelaskan tujuan pengobatan secara fisiologis dan molekular15 6) Menjelaskan berbagai pilihan yang mungkin dilakukan dalam penanganan pasien. 7) Menjelaskan secara rasional dan ilmiah dalam menentukan penanganan penyakit baik klinik, epidemiologis, farmakologis, fisiologis, diet, olah raga, atau perubahan perilaku 8) Menjelaskan pertimbangan pemilihan intervensi berdasarkan farmakologi, fisiologi, gizi, ataupun perubahan tingkah laku 9) Menjelaskan indikasi pemberian obat, cara kerja obat, waktu paruh, dosis, serta penerapannya pada keadaan klinik 10) Menjelaskan kemungkinan terjadinya interaksi obat dan efek samping 11) Menjelaskan manfaat terapi diet pada penanganan kasus tertentu 12) Menjelaskan perubahan proses patofisiologi setelah pengobatan. 13) Menjelaskan prinsip-prinsip pengambilan keputusan dalam mengelola masalah kesehatan.

b. Merangkum dari interpretasi anamnesis, pemeriksaan fisik, uji labora- torium dan prosedur yang sesuai 1) Menjelaskan (patofisiologi atau terminologi lainnya) data klinik dan laboratorium untuk menentukan diagnosis pasti. 2) Menjelaskan alasan hasil diagnosis dengan mengacu pada evidence- based

medicine.

c. Menentukan efektivitas suatu tindakan 1) Menjelaskan bahwa kelainan dipengaruhi oleh tindakan 2) Menjelaskan parameter dan indikator keberhasilan pengobatan. 3) Menjelaskan perlunya evaluasi lanjutan pada penanganan penyakit.

1.6.3.4 Area Pengelolaan Masalah Kesehatan

Kompetensi Inti:3) Menjelaskan perlunya evaluasi lanjutan pada penanganan penyakit. 1.6.3.4 Area Pengelolaan Masalah Kesehatan

Mengelola masalah kesehatan pada individu, keluarga, ataupun masyarakat secara komprehensif, holistik, berkesinambungan, koordinatif, dan kolaboratif dalam konteks pelayanan kesehatan tingkat primer.

dalam konteks pelayanan kesehatan tingkat primer. Lulusan Dokter Mampu: a. Mengelola penyakit, keadaan sakit

Lulusan Dokter Mampu:

a. Mengelola penyakit, keadaan sakit dan masalah pasien sebagai individu yang utuh, bagian dari keluarga dan masyarakat 1) Menginterpretasi data klinis dan merumuskannya menjadi diagnosis sementara dan diagnosis banding 2) Menjelaskan penyebab, patogenesis, serta patofisiologi suatu penyakit 3) Mengidentifikasi berbagai pilihan cara pengelolaan yang sesuai penyakit pasien 4) Memilih dan menerapkan strategi pengelolaan yang paling tepat berdasarkan prinsip kendali mutu, kendali biaya, manfaat, dan keadaan pasien serta sesuai pilihan pasien 5) Melakukan konsultasi mengenai pasien bila perlu 6) Merujuk ke sejawat lain sesuai dengan Standar Pelayanan Medis yang berlaku, tanpa atau sesudah terapi awal 7) Mengelola masalah kesehatan secara mandiri dan bertanggung jawab sesuai dengan tingkat kewenangannya 8) Memberi alasan strategi pengelolaan pasien yang dipilih berdasarkan patofisiologi, patogenesis, farmakologi, faktor psikologis, sosial, dan faktor-faktor lain yang sesuai 9) Membuat instruksi tertulis secara jelas, lengkap, tepat, dan dapat dibaca15 10) Menulis resep obat secara rasional (tepat indikasi, tepat obat, tepat dosis, tepat frekwensi dan cara pemberian, serta sesuai kondisi pasien), jelas, lengkap, dan dapat dibaca 11) Mengidentifikasi berbagai indikator keberhasilan pengobatan, memonitor perkembangan penanganan, memperbaiki dan mengubah terapi dengan tepat 12) Memprediksi, memantau, mengenali kemungkinan adanya interaksi obat dan efek samping, memperbaiki atau mengubah terapi dengan tepat 13) Menerapkan prinsip-prinsip pelayanan dokter keluarga secara holistik, komprehensif, koordinatif, kolaboratif, dan berkesinambungan dalam mengelola penyakit dan masalah pasien 14) Mengidentifikasi peran keluarga pasien, pekerjaan, dan lingkungan sosial sebagai faktor yang berpengaruh terhadap terjadinya penyakit serta sebagai faktor yang mungkin berpengaruh terhadap pertimbangan terapi.

b. Melakukan Pencegahan Penyakit dan Keadaan Sakit 1) Mengidentifikasi, memberi alasan, menerapkan dan memantau strategi pencegahan tertier yang tepat berkaitan dengan penyakit pasien, keadaan sakit atau perma-salahannya (pencegahan tertier adalah pencegahan yang digunakan untuk memper-lambat progresi dari penyakitnya dan juga timbulnya komplikasi, misalnya diet pada penderita DM, olah raga dsb.) 2) Mengidentifikasi, memberikan alasan, menerapkan dan memantau strategi pencegahan sekunder yang tepat berkaitan dengan pasien dan keluarganya (pencegahan sekunder adalah kegiatan penapisan untuk mengidentifikasi faktor risiko dari penyakit laten untuk memperlambat atau mencegah timbulnya

penyakit, contoh pap smear, mantoux test).

3) Mengidentifikasi,

kegiatan

strategi pencegahan primer yang tepat, berkaitan dengan pasien, anggota keluarga dan masyarakat (Pencegahan primer adalah mencegah timbulnya penyakit, misalnya imunisasi).

memberikan

alasan,

menerapkan

dan

memantau

4) Mengidentifikasi peran keluarga pasien, pekerjaan, dan lingkungan sosial sebagai faktor risiko terjadinya penyakit dan sebagai faktor yang mungkin berpengaruh terhadap pencegahan penyakit. 5) Menunjukkan pemahaman bahwa upaya pencegahan penyakit sangat bergantung pada kerja sama tim dan kolaborasi dengan professional di bidang lain.

c. Melaksanakan pendidikan kesehatan dalam rangka promosi kesehatan dan pencegahan penyakit 1) Mengidentifikasi kebutuhan perubahan perilaku dan modifikasi gaya hidup untuk promosi kesehatan pada berbagai kelompok umur, jenis kelamin, etnis, dan budaya 2) Merencanakan dan melaksanakan pendidikan kesehatan dalam rangka promosi kesehatan di tingkat individu, keluarga, dan masyarakat 3) Bekerja sama dengan sekolah dalam mengembangkan program “Usaha Kesehatan Sekolah (UKS)”.

d. Menggerakkan dan memberdayakan masyarakat untuk meningkatkan derajat kesehatan 1) Memotivasi masyarakat agar mampu mengidentifikasi masalah kesehatan masyarakat 2) Menentukan insidensi dan prevalensi penyakit di masyarakat serta mengenali keterkaitan yang kompleks antara faktor psikologis, kultur, sosial, ekonomi, kebijakan, dan faktor lingkungan yang berpengaruh pada suatu masalah kesehatan 3) Melibatkan masyarakat dalam mengembangkan solusi yang tepat bagi masalah kesehatan masyarakat 4) Bekerja sama dengan profesi dan sektor lain dalam menyelesaikan masalah kesehatan dengan mempertimbangkan kebijakan kesehatan pemerintah, termasuk antisipasi terhadap timbulnya penyakit-penyakit baru 5) Menggerakkan masyarakat untuk berperan serta dalam intervensi kesehatan 6) Merencanakan dan mengimplementasikan intervensi kesehatan masyarakat, serta menganalisis hasilnya 7) Melatih kader kesehatan dalam pendidikan kesehatan 8) Mengevaluasi efektivitas pendidikan kesehatan 9) Bekerja sama dengan masyarakat dalam menilai ketersediaan, pengadaan dan pemanfaatan pelayanan kesehatan masyarakat.

e. Mengelola sumber daya manusia dan sarana prasarana secara efektif dan efisien dalam pelayanan kesehatan primer dengan pendekatan kedokteran keluarga 1) Menjalankan fungsi managerial (berperan sebagai pemimpin, pemberi informasi, dan pengambil keputusan) 2) Menerapkan manajemen mutu terpadu dalam pelayanan kesehatan primer dengan pendekatan kedokteran keluarga 3) Mengelola sumber daya manusia 4) Mengelola fasilitas, sarana dan prasarana.

1.6.3.5 Area Pengelolaan Informasi

1) Kompetensi Inti:

Mengakses, mengelola, menilai secara kritis kesahihan dan kemamputerapan informasi untuk menjelaskan dan menyelesaikan masalah, atau mengambil keputusan dalam kaitan dengan pelayanan kesehatan di tingkat primer.

2) Lulusan Dokter Mampu

a. Menggunakan teknologi informasi dan komunikasi untuk membantu penegakan diagnosis, pemberian terapi, tindakan pencegahan dan promosi kesehatan, serta penjagaan, dan pemantauan status kesehatan pasien 1) Menggunakan teknologi informasi dan komunikasi (internet) dengan baik 2) Menggunakan data dan bukti pengkajian ilmiah untuk menila relevansi dan validitasnya 3) Menerapkan metode riset dan statistik untuk menilai kesahihan informasi ilmiah 4) Menerapkan keterampilan dasar pengelolaan informasi untuk menghimpun data relevan menjadi arsip pribadi 5) Menerapkan keterampilan dasar dalam menilai data untuk melakukan validasi informasi ilmiah secara sistematik 6) Meningkatkan kemampuan secara terus menerus dalam merangkum dan menyimpan arsip.

b. Memahami manfaat dan keterbatasan teknologi informasi Menerapkan prinsip teori teknologi informasi dan komunikasi untuk membantu penggunaannya, dengan memperhatikan secara khusus potensi untuk berkembang dan keterbatasannya.

c. Memanfaatkan informasi kesehatan 1) Memasukkan dan menemukan kembali informasi dan database dalam praktik kedokteran secara efisien 2) Menjawab pertanyaan yang terkait dengan praktik kedokteran dengan menganalisis arsipnya 3) Membuat dan menggunakan rekam medis untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan.

1.6.3.6 Area Mawas Diri dan Pengembangan Diri

Kompetensi Inti:kesehatan. 1.6.3.6 Area Mawas Diri dan Pengembangan Diri a. Melakukan praktik kedokteran dengan penuh kesadaran atas

a. Melakukan praktik kedokteran dengan penuh kesadaran atas kemampuan dan keterbatasannya

b. Mengatasi masalah emosional, personal, kesehatan, dan kesejahteraan yang dapat mempengaruhi kemampuan profesinya

c. Belajar sepanjang hayat

d. Merencanakan, menerapkan dan memantau perkembangan profesi secara berkesinambungan.

Lulusan Dokter Mampudan memantau perkembangan profesi secara berkesinambungan. a. Menerapkan mawas diri dan keterbatasan diri berkaitan

a. Menerapkan mawas diri

dan keterbatasan diri berkaitan dengan praktik

kedokterannya dan berkonsultasi bila diperlukan 2) Mengenali dan mengatasi masalah emosional, personal dan masalah yang berkaitan dengan kesehatannya yang dapat mempengaruhi kemampuan profesinya 3) Menyesuaikan diri dengan tekanan yang dialami selama pendidikan dan praktik kedokteran 4) Menyadari peran hubungan interpersonal dalam lingkungan profesi dan pribadi 5) Mendengarkan secara akurat dan bereaksi sewajarnya atas kritik yang membangun dari pasien, sejawat, instruktur, dan penyelia 6) Mengelola umpan balik hasil kerja sebagai bagian dari pelatihan dan praktik 7) Mengenali nilai dan keyakinan diri yang sesuai dengan praktik kedokterannya

1) Menyadari

kemampuan

8) Mengikuti kemajuan ilmu pengetahuan yang baru. 9) Berperan aktif dalam Program Pendidikan dan Pelatihan Kedokteran Berkelanjutan (PPPKB) dan pengalaman belajar lainnya 10) Menunjukkan sikap kritis terhadap praktik kedokteran berbasis bukti (Evidence-

Based Medicine)

11) Mengambil keputusan apakah akan memanfaatkan informasi atau evidence untuk penanganan pasien dan justifikasi alasan keputusan yang diambil 12) Menanggapi secara kritis literatur kedokteran dan relevansinya terhadap pasiennya 13) Menyadari kinerja professionalitas diri dan mengidentifikasi kebutuhan belajarnya.

b. Mengembangkan pengetahuan baru

dan

mengembangkannya menjadi pertanyaan penelitian yang tepat 2) Merencanakan, merancang, dan mengimplementasikan penelitian untuk menemu- kan jawaban dari pertanyaan penelitian. 3) Menuliskan hasil penelitian sesuai dengan kaidah artikel ilmiah 4) Membuat presentasi ilmiah dari hasil penelitiannya.

1) Mengidentifikasi

kesenjangan

dari

ilmu

pengetahuan

yang

sudah

ada

1.6.3.7 Area Etika, Moral, Medikolegal dan Profesionalisme serta Keselamatan Pasien

Kompetensi IntiMedikolegal dan Profesionalisme serta Keselamatan Pasien a. Berperilaku professional dalam praktik kedokteran serta

a. Berperilaku professional dalam praktik kedokteran serta mendukung kebijakan

kesehatan

b. Bermoral dan beretika serta memahami isu-isu etik maupun aspek medikolegal dalam praktik kedokteran

c. Menerapkan program keselamatan pasien.

Lulusan Dokter Mampupraktik kedokteran c. Menerapkan program keselamatan pasien. a. Memiliki Sikap profesional 1) Menunjukkan sikap yang

a. Memiliki Sikap profesional 1) Menunjukkan sikap yang sesuai dengan Kode Etik Dokter Indonesia 2) Menjaga kerahasiaan dan kepercayaan pasien 3) Menunjukkan kepercayaan dan saling menghormati dalam hubungan dokter pasien 4) Menunjukkan rasa empati dengan pendekatan yang menyeluruh 5) Mempertimbangkan masalah pembiayaan dan hambatan lain dalam memberikan pelayanan kesehatan serta dampaknya 6) Mempertimbangkan aspek etis dalam penanganan pasien sesuai standar profesi 7) Mengenal alternatif dalam menghadapi pilihan etik yang sulit 8) Menganalisis secara sistematik dan mempertahankan pilihan etik dalam pengobatan setiap individu pasien.

b. Berperilaku profesional dalam bekerja sama 1) Menghormati setiap orang tanpa membedakan status sosial 2) Menunjukkan pengakuan bahwa tiap individu mempunyai kontribusi dan peran yang berharga, tanpa memandang status sosial 3) Berperan serta dalam kegiatan yang memerlukan kerja sama dengan para petugas kesehatan lainnya 4) Mengenali dan berusaha menjadi penengah ketika terjadi konflik 5) Memberikan tanggapan secara konstruktif terhadap masukan dari orang lain 6) Mempertimbangkan aspek etis dan moral dalam hubungan dengan petugas kesehatan lain, serta bertindak secara professional

7) Mengenali dan bertindak sewajarnya saat kolega melakukan suatu tindakan yang tidak profesional.

c. Berperan sebagai anggota Tim Pelayanan Kesehatan yang profesional 1) Berperan dalam pengelolaan masalah pasien dan menerapkan nilai-nilai profesionalisme 2) Bekerja dalam berbagai tim pelayanan kesehatan secara efektif 3) Menghargai peran dan pendapat berbagai profesi kesehatan 4) Berperan sebagai manager baik dalam praktik pribadi maupun dalam sistem pelayanan kesehatan 5) Menyadari profesi medis yang mempunyai peran di masyarakat dan dapat melakukan suatu perubahan 6) Mampu mengatasi perilaku yang tidak profesional dari anggota tim pelayanan kesehatan lain.

d. Melakukan praktik kedokteran dalam masyarakat multikultural di Indonesia 1) Menghargai perbedaan karakter individu, gaya hidup, dan budaya dari pasien dan sejawat 2) Memahami heterogenitas persepsi yang berkaitan dengan usia, gender, orientasi seksual, etnis, kecacatan dan status sosial ekonomi.

e. Aspek Medikolegal dalam praktik kedokteran Memahami dan menerima tanggung jawab hukum berkaitan dengan :

1) Hak asasi manusia 2) Resep obat 3) Penyalahgunaan tindakan fisik dan seksual 4) Kode Etik Kedokteran Indonesia 5) Pembuatan surat keterangan sehat, sakit atau surat kematian 6) Proses di pengadilan 7) Memahami UU RI No. 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran 8) Memahami peran Konsil Kedokteran Indonesia sebagai badan yang mengatur praktik kedokteran 9) Menentukan, menyatakan dan menganalisis segi etika dalam kebijakan kesehatan.

f. Aspek keselamatan pasien dalam praktik kedokteran

Menerapkan standar keselamatan pasien :f. Aspek keselamatan pasien dalam praktik kedokteran 1) Hak pasien 2) Mendidik pasien dan keluarga 3)

1) Hak pasien 2) Mendidik pasien dan keluarga

3) Keselamatan pasien dan kesinambungan pelayanan 4) Penggunaan metoda peningkatan kinerja untuk melakukan evaluasi dan

program

peningkatan keselamatan pasien

5) Peran kepemimpinan dalam meningkatkan keselamatan pasien 6) Mendidik staf tentang keselamatan pasien 7) Komunikasi yang merupakan kunci bagi staf untuk mencapai keselamatan pasien.

Menerapkan 7 (tujuh) langkah keselamatan pasien :merupakan kunci bagi staf untuk mencapai keselamatan pasien. 1) Membangun kesadaran akan nilai keselamatan pasien 2)

1) Membangun kesadaran akan nilai keselamatan pasien 2) Memimpin dan mendukung staf 3) Mengintegrasikan aktifitas pengelolaan risiko 4) Mengembangkan sistem pelaporan

5) Melibatkan dan berkomunikasi dengan pasien 6) Belajar dan berbagi pengalaman tentang keselamatan pasien 7) Mencegah cidera melalui implementasi sistem keselamatan pasien.

Bab II

KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA

2.1 Sejarah

Sejak tahun 1982, pendidikan dokter di Indonesia mengacu pada “Kurikulum Inti Pendidikan Dokter Indonesia” atau KIPDI I yang menitikberatkan pada penguasaan disiplin ilmu. Sesuai dengan percepatan perkembangan ilmu kedokteran dan kesehatan, telah disepakati bahwa KIPDI akan diperbarui setiap 10 tahun. Pada tahun 1994, KIPDI II diterbitkan dan masih menitikberatkan pada penguasaan disiplin ilmu sehingga gambaran dokter yang akan dihasilkan belum terinci secara eksplisit. Standar Kompetesensi Dokter disusun untuk memperbarui KIPDI II tahun 1994 yang sudah saatnya diganti. Format Standar Kompetensi Dokter berbeda dengan KIPDI sebelumnya, karena menyesuaikan dengan perkembangan peraturan terkini yang tercantum pada SK Mendiknas No.045/U/2002, Undang-Undang RI Nomor 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas, Undang-Undang RI Nomor 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran, dan Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Jauh sebelum ditetapkannya, sejak SK Mendiknas No.045/U/2002, melalui Tim Penataan Kurikulum yang dibentuk berdasarkan SK Dekan FKUB No. 86//ST/J.191.10/KP/1999, FKUB telah berupaya mengembangkan kurikulum mengacu pada The Five Star Doctor (WHO-SEARO, 1995 ). Hasil kerja tim ini menjadi bahan Rapat Kerja Tahun 2000 yang menghasilkan Profil Lulusan dan Kompetensi lulusan yang saat itu diputuskan mencacu pada Kompetensi Lulusan berdasarkan The Australian Medical Council. Untuk tindak lanjutnya, melalui SK Dekan FKUB No. 036/SK/J10.1.1.17/KP/2002 dibentuk Komite Kurikulum. Produk Komite ini berupa Struktur Kurikulum KBK yang pertama kali dibahas dan disetujui dalam Rapat Kerja Tahun 2004. Pada saat itu, banyak rumusan Kompetensi Lulusan Pendidikan Dokter digagaskan. Selain dari The Australian Medical Council, muncul pula Konsep Kompetensi Dokter dari Proyek Health Worker Service World Bank / DitjenDikTi dan dari Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia (AIPKI). Acuan akhir adalah rumusan Kompetensi berdasarkan SK Mendiknas No 045/U/2002 pada pasal 2, sedang Standar Kompetensi mengacu pada rumusan Konsil Kedokteran Indonesia (KKI).

Untuk mempersiapkan pembelajaran KBK, Dekan FKUB membentuk Tim Persiapan Pelaksanaan PBL dengan Surat Tugas No. 901/ST/J10.1.17/KP/2004. Tim ini mengadakan beberapa kali uji coba penyelenggaraan PBL, Training of Trainers untuk calon fasilitator PBL, pelatihan penyusunan modul untuk mempersiapkan bahan ajar, sekaligus sosialisasi PBL/KBK bagi dosen, mahasiswa, dan tenaga administrasi. Pada tahun itu pula dibuka labskill sebagai prasarana dan sarana pembelajaran keterampilan klinis. Menjelang diawalinya implementasi KBK pada tahun ajaran 2007-2008, Dekan membentuk Kelompok Kerja Substansi Kurikulum melalui SK No. 035/SK/J10.1.17/KP/2007 yang kemudian dikembangkan menjadi Medical Education Unit berdasarkan SK Dekan FKUB No. 046/SK/J10.1.17/2007 yang bertugas mengembangkan kurikulum, SDM, infrastruktur, teknologi informasi, dan monitoring evaluasi atas KBK. Unit ini telah merancang Struktur Kurikulum, Mekanisme Pengkoordinasian Pelaksanaan KBK, Proses Belajar Mengajar KBK, Penilaian Proses dan Hasil Belajar KBK, yang dituangkan dalam Pedoman Akademik 2007-2008, yang terus

dikembangkan setiap tahunnya sampai kini. Untuk lebih mengefektifkan kinerja serta sinergi dengan Jurusan Kedokteran dalam melaksanakan proses pembelajaran di Program Studi Pendidikan Dokter, pada tahun 2009 Medical Education Unit mengalami pengembangan personil dengan fungsi seperti sebelumnya, dan unit ini yang menyusun Pedoman Akademik ini.

2.2 Definisi Kurikulum dan Pendekatan Pembelajarannya

Kurikulum, menurut David Pratt (1990) adalah: “An organized set of formal teaching and learning intentions“. Mengacu kepada definisi tersebut, hakekat sebuah kurikulum adalah sebuah dokumen tertulis tentang struktur pembelajaran yang memiliki manajerial yang jelas dan terencana (organized), mengikat (formal) dosen maupun mahasiswa dalam sebuah proses belajar mengajar yang mempunyai tujuan yang jelas (teaching-learning intentions). Sebagai sebuah struktur, maka kurikulum harus terdiri dari: rumusan tujuan, materi ajar yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan beserta distribusinya secara tepat ke dalam semester, distribusinya kedalam matakuliah, dan distribusinya dalam beban belajar, proses belajar mengajar dengan model pembelajaran yang sesuai, evaluasi proses (yang dapat diamati) dan hasil belajar yang terstandarisasi (dapat diukur), untuk menghasilkan pengukuran (scoring) dan penilaian (grading) serta pengambilan keputusan yang adil, objektif, dan jujur. Dalam konteks kurikulum konvensional, ketercapaian tujuan kurikulum dinyatakan dengan kelulusan atas seluruh matakuliah disiplin ilmu (discipline-based). Dalam konteks Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), ketercapaian tujuan kurikulum dinyatakan dengan telah dikuasainya kompetensi yang ditetapkan yang diukur berdasarkan Standar Kompetensi yang digunakan, yaitu Standar Nasional yang mengacu Standar Kompetensi Dokter dari Konsil Kedokteran Indonesia, dan Standar Internasional yang mengacu pada WFME

Global Standandarts of Basic Medical Education for Quality Improvement .

Kurikulum, menurut KepMenDikNas 045/U/2002 pasal 3 dan 5, terdiri dari Kurikulum Inti sebagai penciri kompetensi utama yang ditetapkan secara nasional, dan Kurikulum Pendukung yang berisi kompetensi pendukung atau kompetensi lain yang bersifat khusus dan gayut dengan kompetesi utama suatu program studi yang ditetapkan oleh program studi itu sendiri.

2.3

Karakteristik KBK PSPD FKUB

2.3.1

KBK Program Studi Pendidikan Dokter FKUB (PSPD FKUB), dirancang melalui sejarah yang cukup panjang dengan pendalaman pada karakteristik dan kapasitas berkembang yang ada (lihat Sejarah). Oleh karena itu, selain karakteristik KBK pada umumnya, KBK PSPD FKUB mengamanatkan pula keinginan stakeholders terutama para senior untuk selain membekali kompetensi bagi lulusannya, juga membekali penguasaan disiplin ilmu kedokteran, agar selain mampu bekerja di sektor kesehatan masyarakat, lulusan juga berpeluang me- ngembangkan diri sebagai ilmuwan atau melanjutkan diri sebagai pengembang Ilmu Kedokteran (medical scientist). Dalam konteks operasional, hal ini memberikan tugas kepada Laboratorium di lingkungan PSPD FKUB untuk selain wadah membelajarkan kompetensi, juga menjadi pusat pengembangan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat terkait disiplin ilmu masing-masing.

2.3.2

Penekanan pada pembelajaran disiplin ilmu ini akan memperkuat pencapaian area kompetensi “Landasan Ilmiah Ilmu Kedokteran” dalam implementasi tugas profesi.

2.3.3

PSPD FKUB menetapkan Kedaruratan Medik dan Biomedik sebagai unggulan institusinya. Sehubungan dengan itu, secara institusional. unggulan ini dimasukkan ke dalam KBK sebagai Kurikulum Pendukung sesuai ketetapan KepMenDikNas diatas.

2.3.4 Bagi PSPD FKUB, masyarakat pengguna (stakeholders) bukan hanya masyarakat yang membutuhkan layanan kesehatan dan atau kedokteran dari lulusannya. Masyarakat pengguna lainnya, dimana lulusan juga dapat berkiprah, adalah komunitas ilmiah baik Lembaga Riset dan Pengembangan, juga pendidikan jenjang akademik S2-S3. Implementasi Kebijakan ini dalam KBK PSPD FKUB dinyatakan dengan pembelajaran Metodologi Riset, penelitian untuk menyusun Tugas Akhir (TA) yang bersifat wajib, dan pembelajaran disiplin ilmu yang disebut sebagai Matakuliah Disiplin Ilmu (MKDI) secara sinergis pada setiap Blok KBK dengan pembelajaran kompetensi yang disebut sebagai Matakuliah Kompetensi (MKK).

2.3.5 Evaluasi keberlanjutan studi dilaksanakan pada akhir Semester II dan Semester VII, agar mahasiswa yang memang memiliki potensi akademik yang baik dapat melanjutkan pendidikannya ke semester-semester berikutnya. Kebijakan ini bertujuan untuk menjamin kualitas lulusan Uji Kompetensi Dokter tetap terjaga, selain menjamin kualitas PSPD FKUB sendiri sebagai institusi pendidikan dokter yang unggul dan berkualitas.

2.3.6 Dengan dasar-dasar diatas serta penerapan otonomi pendidikan khususnya otonomi akademik, maka selain karakteristik KBK pada umumnya, PSPD FKUB mengembangkan KBK-nya dengan karakteristik berikut:

a. Masa Studi adalah 5 tahun, terdiri dari Pendidikan Tahap Akademik 7 semester dan Pendidikan Tahap Profesi Dokter Clerkship 3 semester.

b. Curriculum content sepanjang 7 semester disusun sesuai dengan prinsip pembelajaran KBK. Pada semester awal, pembelajaran keilmuan dibelajarkan lebih banyak dan semakin berkurang pada semester-semester diatasnya. Sebaliknya, penguasaan keterampilan klinik (clinical skill) menjadi lebih banyak menjelang pendidikan tahap clerkship dilaksanakan.

c.Pendidikan Tahap Akademik akan menghasilkan lulusan dengan gelar Sarjana Kedokteran (SKed.). Sebagai Sarjana, selain dapat melanjutkan mengikuti Pendidikan Tahap Profesi Dokter, lulusan dapat melanjutkan diri mengikuti pendidikan akademik S2 dan selanjutnya.

d. Pembelajaran pada dua semester awal dari Tahap Pendidikan Akademik dimaksudkan untuk pencapaian dasar 7 Area Kompetensi KKI terutama “Area Komunikasi Efektif” dan “Landasan Ilmiah Ilmu Kedokteran”. Tahap ini berujung pada evaluasi keberlanjutan studi ke semester-semester barikutnya.

e. Pembelajaran pada lima semester berikutnya merupakan pembelajaran ilmu-ilmu klinik berbasis pada Sistem (System-based Clinical Science). Pada setiap Sistem dibelajarkan:

Struktur dan Fungsi Normal serta Perubahan Patologis Sistem tersebut, Penyakit yang menyangkut Sistem, Prinsip Terapi, Dampak Penyakit pada Individu, Keluarga, dan Masyarakat, serta Kedaruratan Medik (sebagai konsekuensi menjadi Unggulan PSPD FKUB).

Acuan dalam penyusunan materi ini adalah United States Medical Licensing Examination

(USMLE) tahun 2008. Tahap ini diakhiri dengan evaluasi untuk memperoleh gelar SKed.

f. Pendidikan Tahap Akademik ditambah Pendidikan Tahap Profesi Clerkship akan menghasilkan lulusan dengan sebutan Dokter (tanpa lisensi atau doctor without license) yaitu dokter yang belum memiliki hak untuk berpraktik dan dengan sendirinya belum memperoleh ijin untuk berpraktik (SIP).

g. Pembelajaran Kompetensi berlangsung sinergis dan integratif dengan Pembelajaran Disiplin Ilmu. Pembelajaran sebagaimana diuraikan nanti pada bab-bab berikutnya, menggunakan model Blok. Setiap Blok akan mengandung komponen Matakuliah Disiplin Ilmu (MKDI) baik dalam bentuk perkuliahan dengan atau tanpa praktikum, dan komponen Matakuliah Kompetensi (MKK) yang terdiri dari modul dan keterampilan klinik dari MKDI tersebut yang terintegrasi dalam pembelajarannya.

h. Menyadari bahwa penyusunan modul dengan tema disease atau clinical skill tertentu tidak dapat mengakomodasi seluruh materi disiplin ilmu, maka materi MKDI yang tidak terlibat dalam modul dapat dibelajarkan tersendiri sepanjang pembelajaran setiap Blok berlangsung, pada Semester III sampai dengan Semester VII.

i. Materi MKDI yang relevan dengan modul dan keterampilan klinik (clinical skill) tertentu, diintegrasikan ke dalam dan menjadi komponen pendukung modul dan keterampilan klinik tersebut. Setiap modul diberi nama yang menggambarkan isi modul terintegrasi.

j. Oleh karena itu sebuah Blok akan mengandung komponen penguasaan kompetensi dan komponen penguasaan disiplin ilmu sekaligus.

k. Untuk meningkatkan mutu lulusan khususnya dalam area “Landasan Ilmiah Ilmu Kedokteran” dan “Area Mawas Diri serta Pengembangan Diri”, PSPD FKUB membelajarkan Metodologi Riset dan memberikan Tugas Akhir kepada mahasiswanya. Pembelajaran materi ini menunjukkan berkorelasi positif dengan ketercapaian prestasi bergengsi dalam berbagai lomba karya ilmiah nasional yang diadakan Dikti dan institusi lain. Materi ini mendorong pula ketercapaian paradigma learning how to learn sebagai bekal pencapaian area kompetensi “Belajar Sepanjang Hayat”.

untuk

l. PSPD

FKUB

menerapkan

pula

PBL-hybrid pada setiap

semester

kurikulumnya

“Belajar

konsistensi pendekatan pembelajaran dengan pendekatan SPICES (Student Centered,

Problem-based, Intergrated, Community Oriented, Early Exposure to Clinic, and Systematic

) pada setiap Blok KBK.

memperkuat

pencapaian

kompetensi

Sepanjang

Hayat”

dan

memelihara

m. Diujung Semester VII, sebelum tahap Clerkship, diberikan matakuliah kompetensi tentang

keamanan pasien sesuai dengan The WHO Patient Safety Curriculum Guides for Medical

Schools yang bertujuan memberikan kompetensi dalam penanganan/manajemen terhadap kesalahan terapi atau timbulnya reaksi samping (adverse reactions) dan secara umum untuk lebih meningkatkan komunikasi efektif, penggunanaan evidence-based medicine, serta berpraktik dengan aman dan etis.

n. Dengan melalui pembelajaran-pembelajaran diatas, maka lulusan PSPD FKUB akan memperoleh: 1) Transkrip Kompetensi, 2) Sertifikat Penguasaan Kompetensi, dan 3) Transkrip Akademik untuk digunakan memasuki pasar kerja dan atau komunitas ilmiah lainnya.

2.4 Struktur Kurikulum

Rekapitulasi hal-hal karakteristik KBK PSPD FKUB diatas diatur dalam Struktur Kurikulum berikut.

2.4.1 Umum

a. Pendidikan Dokter di Program Studi Pendidikan Dokter FKUB ditempuh dalam 5 tahun. Pendidikan ini dibagi menjadi 2 tahap pendidikan berturutan, masing-masing Tahap Pendidikan Akademik berlangsung 7 semester dan Tahap Pendidikan Profesi 3 semester. Tahap Pendidikan Akademik meliputi Tahap Pendidikan Dasar Kedokteran selama 2 semester yakni Semester I dan II, serta Tahap Pendidikan Kompetensi Klinik selama 5 semester. Tahap Pendidikan Profesi terdiri dari Tahap Clerkship.

b. Implementasi Pendidikan dikaitkan dengan kekhususan Kurikulum Berbasis Kompetensi baik kekhususan dalam penetapan beban studi maupun dalam proses belajar mengajarnya yang berbeda bermakna terhadap pembelajaran konvensional.

Blok karena kompetensi yang diperoleh dalam Blok itu tidak akan dibelajarkan lagi dalam Blok lain melainkan langsung diaplikasikan dalam praktik klinik.

d.

Setiap Blok terdiri dari 4 komponen: 1) Matakuliah Disiplin Ilmu (MKDI) yang terkait dengan tema Blok, 2) Praktikum MKDI (kalau ada), 3) Modul terintegrasi (integrasi MKDI terkait tema Blok), dan 4) Skill (pembelajaran keterampilan klinik terkait tema Blok). Pada Semester I dan II, modul dan keterampilan klinik tidak selalu berkaitan.

e.

Setiap Blok disebut sebagai Matakuliah Kompetensi (MKK).

f.

Diluar struktur Blok, pada semester tertentu terdapat PBL- hybrid, Metodologi, Tugas Akhir, dan Program Kerja Nyata Mahasiswa (PKNM).

2.4.2

Tahap Pendidikan Dasar Kedokteran

Dasar

Kedokteran, khususnya dalam pencapaian kompetensi “Landasan Ilmiah Ilmu Kedokteran” melalui Humaniora, Ilmu Dasar Kedokteran yang terintegrasi, Dasar Komunikasi Efektif dan History Taking, Dasar Kedaruratan Medik, Pemeriksaan Fisik Diagnostik Umum, dan Tanda- Tanda Vital, yang semuanya akan menjadi dasar bagi penguasaan keilmuan kedokteran klinik dan keterampilan klinik pada tahap-tahap selanjutnya.

b. Tahap ini sekaligus merupakan tahap penapisan bagi mereka yang dapat atau tidak dapat melanjutkan pendidikan KBK di Program Studi Pendidikan Dokter Jurusan Kedokteran FKUB.

a. Pendidikan

pada

tahap

ini

bertujuan

menghasilkan

penguasaan

Kompetensi

2.4.3 Tahap Pendidikan Kompetensi Klinik

a.

Pendidikan pada tahap ini bertujuan mencapai seluruh area kompetensi dokter melalui pembelajaran Blok-Blok Kompetensi Klinik (clinical sciences) berbasis Sistim. Pada tahap ini terdapat 14 blok meliputi 11 sistim dan 3 Disiplin Ilmu Kedokteran Klinik yang tidak termasuk dalam Sistim, yaitu: 1) Sistim Muskuloskeletal, 2) Sistim Hematologi dan Jaringan Limforetikuler, 3) Sistim Kulit dan Jaringan Ikat, 4) Sistim Saraf dan Jiwa, 5) Sistim Mata dan THT, 6) Sistim Kardiovaskuler, 7) Sistim Respirasi, 8) Sistim Gastro-Entero-Hepatologi, 9) Sistim Reproduksi, 10) Sistim Ginjal dan Saluran Kemih, 11) Sistim Endokrin dan Metabolik, 12) Anestesi, 13) Penyakit Tropik & Infeksi, 14) Kedokteran Forensik, Etika dan Kode Etik Kedokteran, serta Keamanan Pasien,.

b.

Pada semeter diluar pembelajaran Blok, terdapat PBL-hybrid, Metodologi, Tugas Akhir dan PKMN.

c.

Pada setiap Blok, beberapa matakuliah dasar kedokteran dan kedokteran klinik terintegrasi baik horisontal maupun vertikal ke dalam Blok yang relevan.

d.

Keterampilan klinik terkait dengan Blok/MKK tersebut juga diintegrasikan. Keterampilan klinik dibelajarkan dalam “sistim Labskill”. Yang dimaksud “sistim Labskilladalah sistim pembelajaran keterampilan klinik yang dilaksanakan baik di Labskill, di lab sentral Biomedik, dan di Laboratorium atau di Bagian/Departemen yang dipandang perlu. Pembelajaran Keterampilan klinik dikoordinasikan oleh Tim Skill dibawah Jurusan Kedokteran.

e.

Setelah menyelesaikan tahap pendidikan ini, diperoleh gelar Sarjana Kedokteran (SKed.) dan berhak mengikuti Wisuda Sarjana.

f.

Tahap pendidikan ini merupakan tahap penapisan untuk mengikuti tahap pendidikan selanjutnya. Gelar Sarjana Kedokteran yang diperoleh merupakan prasyarat otomatis untuk melanjutkan pendidikan ke tahap clerkship atau untuk mendaftarkan diri mengikuti Program Pascasarjana S2.

2.4.4

Tahap Kepaniteraan Klinik (Clerkship)

a. Lama Studi Pendidikan tahap ini adalah 76 minggu.

b. Pada tahap ini lulusan Sarjana Kedokteran mengikuti pembelajaran klinik dalam bentuk kepaniteraan klinik di Jejaring Lahan Pendidikan dibawah supervisi dan mengikuti dosen yang kompeten.

c. Yang dimaksud Jejaring Lahan Pendidikan adalah sarana/prasarana pembelajaran klinik terpadu dan dalam konteks pengelolaan pembelajaran dibawah koordinasi Jurusan Kedokteran. Jejaring dapat meliputi: Rumahsakit Utama Pendidikan, Rumahsakit afiliasi/satelit, dan Pusat Kesehatan Masyarakat yang dimanfaatkan bagi pendidikan klinik PSPD FKUB.

d. Pembelajaran dilaksanakan oleh dosen tetap, dosen jejaring lahan pendidikan baik sebagai dosen luar biasa maupun sebagai dosen kontrak. Legitimasi dalam pembelajaran dicapai dengan Surat Tugas Dekan.

e. Rotasi pembelajaran clerkship didelegasikan kepada Koordinator Clerkship /Pembelajaran Klinik dibawah Jurusan.

f. Setelah menyelesaikan tahap ini dengan baik, mahasiswa/Sarjana Kedokteran berhak mendapatkan sebutan Dokter, akan tetapi tanpa lisensi sebagai pengakuan untuk diperbolehkan melakukan praktik dokter.

2.5 Isi Kurikulum

2.5.1 Struktur Kurikulum

Struktur kurikulum berbasis kompetensi Program Studi Pendidikan Dokter dapat dilihat pada Gambar 2.1 pada halaman berikut.

SEMESTER

TAHAP

 

ISI PEMBELAJARAN

 

XII

Magang

   

MAGANG

 

XI

 

X

Kepaniteraan

   

IX

Klinik

 

ROTASI KLINIK BERBASIS LABORATORIUM

 

VIII

 

VII

 

PKNM

 

Kedokteran

Kompetensi

 

Keselamatan Pasien (3) Kedokteran Forensik (3) Bahasa Inggris (2)

PBL5

   

(3)

Tropik

Endokrin-Metabolik

(1)

KOMPETENSI KLINIK

 

(2)

(6)

PERBAIKAN UJIAN BLOK

     

UJIIAN BLOK ke-1

 

Sistem Ginjal

 

UJIAN BLOK ke-2

VI

Tugas Akhir

Sistem Gastro-Entero-Hepatologi

Sistem

& Saluran

PBL4

 

(4)

 

Reproduksi

Kemih

(1)

   

(7)

(4)

(4)

V

Metris (2)

Sistem Respirasi (5) Anestesi-2 (1)

Sistem Kardiovaskuler (7) Anestesi-1 (1)

PBL3

Kewirausahaan

(1)

 

(2)

     

IV

 

Metodologi 2

 

Sistem Saraf (5) Psikiatri (3)

 

Sistem Mata (3) THT (3)

PBL2

 
 

(2)

 

(1)

 
     

Sistem Muskuloskeletal (8)

 

Sistem

Sistem Kulit

 

III

Bedah, Onkologi, Radiologi Dasar (2)

Hematologi

(6)

& Jaringan

Ikat

PBL1

(1)

(6)

   

Biologi

Dasar

Farmako

Basic

IKM-KP 2

Siklus Hidup

Basic

II

Mikroba

Infeksi

kinetik-

Communic

(3)

& Nutrisi

Life

(3)

Mikroba

Farmako

ation &

(4)

Support

DASAR KEDOKTERAN

(2)

dinamik

History

& Basic

Imunologi

(3)

Taking

Physical

(2)

(2)

Examina

tion

(3)

 

Metod-1

Bioetika &

Humaniora

Struktur,

Biokim,

IKM-

I

 

(2)

Hk.Kedok-

teran

(2)

 

(6)

Fungsi,

Patologi

Umum

(4)

Biomol,

Biosel,

(3)

KP 1

(3)

Gambar 2.1 Bagan Struktur Kurikulum

Keterangan : 1 sks KBK adalah “satuan waktu efektif ” yang setara dengan tatap muka, tutorial, tugas modul mandiri selama 20 jam

2.5.2 Sebaran Matakuliah di Setiap Semester Sebaran matakuliah berdasarkan tahap pendidikan dan semester dengan beban studi serta kode matakuliah adalah seperti pada Tabel 2.1.

Tabel 2.1 Sebaran, Kodifikasi dan Beban Studi Matakuliah

Tahap

Semester

Paruh

Matakuliah

Kode

Beban

Pendidikan

Semester

Matakuliah

studi

ke-

     

Humaniora:

   

I

1

Agama Pancasila & Kewarganegaraan Bahasa Indonesia

H1

2

H2

2

Dasar

H3

2

Kedokteran

Bioetika & Hukum Kedokteran

BHK

2

Metodologi 1, berisi:

Met1

2

Metode Ilmiah & Perkembangan Ilmu, Keterampilan Belajar

 

Struktur, Fungsi, dan Patologi

DK1.1

4

2

Umum

Biokimia, Biologi Molekuler, Biologi Seluler

DK1.2

3

     

Ilmu Kesehatan Masyarakat & Kedokteran Pencegahan (IKM- KP) 1, berisi:

DK2.1

3

Riwayat Alami Penyakit, Sehat- Sakit- Penyakit, Tingkat Pencegah An dan Faktor Resiko Lingkungan Sos-Bud, Gizi Komunitas, Epidemiologi

   

Biologi Mikroba

 

DK1.3

3

II

1

Dasar Infeksi Mikroba

 

DK1.4

2

Imunologi

DK1.5

2

Farmakodinamika - Farmakokinetika

 

DK1.6

3

 

Ilmu Kesehatan Masyarakat &

DK2.2

3

2

Kedokteran Pencegahan (IKM- KP) 2, berisi:

Prinsip Dasar Manajemen Kesehatan Komunitas

 

Siklus Hidup & Nutrisi

 

DK1.7

4

Basic Communication & History Taking

DK3.1

2

Basic Life Support, General Survay, Vital Sign

DK3.3

3

     

Kompetensi Klinik

 

KKMS

10

III

1

Muskuloskeletal-Bedah-

 

Kompetensi

Onkologi-Radiologi Dasar

Klinik

 

Kompetensi Klinik Hematologi

KKHL

6

2

& Limforetikuler

 

Kompetensi Klinik Kulit & Jaringan Ikat

 

KKKJI

6

Problem Based Learning 1

 

PBL1

1

 

1

Kompetensi

Klinik

Saraf

dan

KKSJ

8

IV

Jiwa

 

Kompetensi

Klinik

Mata

dan

KKMT

6

2

THT

Metodologi 2, berisi:

 

Met2

2

Critical appraisal Evidence Based Medicine

Problem Based Learning 2

 

PBL2

1

   

Kompetensi Klinik Respirasi

KKRes

5

V

1

Kompetensi Klinik Anestesi-1

KKAn2

1

Metodologi 3, berisi:

 

Met3

2

Dasar penulisan proposal penelitian: Pengembangan permasalahan & hipotesis, Disain penelitian (eksperimental & observasi), Pengolahan data, Statistik aplikatif

Kewirausahaan

 

KWU

2

 

Kompetensi

Klinik

KKKV

7

2

Kardiovaskuler

 

Kompetensi Klinik Anestesi-2

KKAn1

1

   

Problem Based Learning 2

PBL2

1

   

Kompetensi Klinik

 

KKGEH

7

VI 1

Gastroenterohepatologi

Kompetensi Klinik Reproduksi

KKRep

4

 

Kompetensi Klinik Ginjal dan

KKGSK

4

2

Pelaksanaan Tugas Akhir

Met4

4

Problem Based Learning 4

PBL4

1

   

Kompetensi

Klinik

Endokrin

KKEM

6

VII 1

dan Metabolik

Kompetensi Spesifik, berisi:

KSKT

2

Kedokteran Trop ik

Kedokteran Tropik

 

Kompetensi Penunjang, berisi:

   

2

2 Keselamatan Pasien Kedokteran Forensik Bahasa Inggris KPKP 3

Keselamatan Pasien Kedokteran Forensik Bahasa Inggris

KPKP

3

KPKF

3

H4

2

Program

Kerja

Nyata

PKNM

3

Mahasiswa

Problem Based Learning 5

PBL5

1

2.5.3 Tahap Pendidikan Profesi (Clerkship)

Ketentuan menyangkut pendidikan, pembelajaran, rotasi, dan asesmen proses, serta hasil belajar

untuk Tahap Pendidikan Profesi (Kepaniteraan Klinik & Magang) akan ditentukan kemudian.

Bab III

PERAN, FUNGSI, KOORDINASI PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Manajemen internal yang efektif, produktif, dan efisien merupakan salah satu indikator kualitas sebuah institusi pendidikan. Manifestasi dari manajemen internal yang seperti itu akan tercipta apabila terdapat deskripsi jelas tentang peran, fungsi, dan tugas masing-masing unsur penyelenggaraan pembelajaran Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Unsur yang dimaksud meliputi: Pimpinan Fakultas, Gugus Penjaminan Mutu (GJM), Unit Penjaminan Mutu (UJM), Jurusan, Medical Education Unit (MEU), Laboratorium, Penanggung-jawab Matakuliah dan Kelompok Pengajar, Staf Administrasi Akademik, Penasehat Akademik, Unit Bimbingan dan Konseling, serta Mahasiswa.

3.1 Peran dan Fungsi dalam Penyelenggaraan Pembelajaran

3.1.1 Pimpinan Fakultas

a. Pimpinan Fakultas terdiri dari Dekan, Pembantu Dekan I Urusan Akademik, Pembantu

Dekan II Urusan Personalia dan Keuangan, Pembantu Dekan III Urusan Kemahasiswaan Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya.

b. Pimpinan Fakultas dalam Pedoman Akademik ini berfungsi sebagai Pimpinan Struktural Fakultas dalam implementasi kurikulum.

c. Pimpinan Fakultas bertugas:

1) Menyelenggarakan tugas dan fungsi fakultas dalam memelihara penyelenggaraan pendidikan oleh jurusan, khususnya dalam impementasi kurikulum 2) Merumuskan jabaran produk normatif Senat Fakultas menyangkut penyelenggaraan Kurikulum Berbasis Kompetensi ke dalam program operasional 3) Merumuskan Kebijakan Operasional Fakultas terkait dengan penyelenggaraan dan pengembangan Kurikulum.

3.1.2 Gugus Jaminan Mutu (GJM)

a. Gugus Jaminan Mutu Fakultas (GJM) adalah unit penunjang Fakultas, dibawah dan bertanggungjawab kepada Dekan dalam hal pengendalian standar dan penjaminan mutu Institusi Fakultas.

b. Dalam melaksanakan tugasnya, mengacu pada Petunjuk Pelaksanaan dari Pusat Jaminan Mutu (PJM) Universitas.

3.1.3 Unit Jaminan Mutu (UJM)

a. Unit Jaminan Mutu (UJM) adalah unit penunjang fakultas di bawah dan bertanggungjawab kepada Dekan dalam hal pengendalian standar dan penjaminan mutu Jurusan.

b. Unit Jaminan Mutu (UJM) bertugas:

1) Menyusun Standar Penjaminan Mutu Jurusan dalam melaksanakan tugas dan fungsi penyelenggaraan Kurikulum Berbasis Kompetensi di Program Studi Pendidikan Dokter 2) Menyusun dan melaksanakan Standar Operasional Prosedur (SOP) Monitoring dan Evaluasi terhadap Jurusan dalam penyelenggaraan KBK Program Studi Pendidikan Dokter

3) Bersama Medical Education Unit melakukan monitoring dan evaluasi penyelengga-raan kurikulum dan proses belajar mengajar oleh Jurusan.

3.1.4 Medical Education Unit (MEU)

Medical Education Unit berfungsi sebagai unit penunjang fakultas dibawah dan bertanggungjawab kepada Dekan dalam perencanaan, pengkajian, dan pengembangan, monitoring dan evaluasi internal terhadap kurikulum, proses belajar mengajar, keterampilan instruksional dosen, dan infrastruktur Akademik Fakultas.

3.1.5 Jurusan

a. Jurusan dalam Pedoman Akademik ini adalah Jurusan Kedokteran yang merupakan salah satu Jurusan diantara 3 jurusan yang ada di Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya yang ditetapkan berdasarkan Keputusan Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya atas nama Rektor Universitas Brawijaya.

b. Personalia Jurusan terdiri dari seorang Ketua dan seorang Sekretaris yang dipilih dan ditetapkan berdasarkan Keputusan Rektor No. 233/SK/2007 tentang Pemberhentian dan Pengangkatan Ketua/Sekretaris Jurusan Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

c. Struktur dan Kedudukan Jurusan sesuai dengan Struktur Jurusan menurut Struktur dan Kedudukan Organisasi Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya.

d. Jurusan berfungsi sebagai unit struktural dalam organisasi Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya yang bertanggungjawab kepada Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya sebagai unit penyelenggara pendidikan dokter.

e. Jurusan dalam Pedoman Akademik ini membawahi Program Studi Pendidikan Dokter dan Kelompok Pengajar terkait dengan Program Studi tersebut.

f. Dalam menyelenggarakan pendidikan dokter, Jurusan bertugas:

1) Mengoperasionalkan Visi, Misi, dan Grand Strategy fakultas sesuai dengan fungsi dan kedudukannya dibidang akademik, khususnya dalam penyelenggaraan Kurikulum Berbasis Kompetensi di Fakultas 2) Menetapkan Silabus dan Isi Pengajaran 3) Menetapkan area, komponen, dan kompetensi bahan ajar tiap Matakuliah Kurikulum Berbasis Kompetensi 4) Menjaga agar seluruh area kompetensi tersebar secara proporsional dalam seluruh matakuliah dan keterampilan yang dibelajarkan 5) Menetapkan laboratorium yang akan menjadi host sebagai tempat utama pembelajaran kompetensi terkait 6) Mengkoordinasikan Penanggungjawab Matakuliah Kompetensi (PJMK) 7) Mengkoordinasikan pelaksanaan pembelajaran dan evaluasi hasil belajar Program Studi Pendidikan Dokter.

g. Dalam melaksanakan tugasnya, Jurusan dibantu oleh:

1) Koordinator Pendidikan Dasar Kedokteran, untuk Semester I, II 2) Koordinator Pendidikan Kompetensi Kinik, untuk Semester III, IV, V, VI, dan VII 3) Koordinator Pendidikan Profesi, untuk Clerkship.

h. Dalam penyelenggaraan pendidikan dokter berdasarkan Kurikulum Berbasis Kompetensi, Jurusan berkoordinasi dengan:

1) Pimpinan Fakultas, dalam hal implementasi kebijakan akademik Fakultas, dan penyelenggaraan ketetapan Fakultas terkait dengan tugas dan fungsi Jurusan.

2) Jurusan lain dilingkungan fakultas dalam hal resource sharing penggunaan sumberdaya manusia, sarana, prasarana, dan unit-unit penyelenggara pendidikan serta administrasi akademik fakultas. 3) Unit Jaminan Mutu dalam hal koordinasi pemantauan penjaminan mutu kurikulum dan pelaksanaan proses belajar mengajar. 4) Medical Education Unit dalam hal koordinasi tentang:

3.1.6

Medical Education Unit dalam hal koordinasi tentang: 3.1.6 Perencanaan, Pengkajian, dan Pengembangan Konsep Kurikulum

Perencanaan, Pengkajian, dan Pengembangan Konsep Kurikulum dan Evaluasi Kurikulum Perencanaan, Pengkajian, dan Pengembangan Konsep Proses Belajar Mengajar dan Evaluasi Hasil Belajar Perencanaan, Pengkajian, serta Pengembangan Konsep Keterampilan Instruksional Dosen dan Konsep Pengembangan Infrastruktur Jurusan. 5) Laboratorium dalam hal:

Infrastruktur Jurusan. 5) Laboratorium dalam hal: Penempatan dosen laboratorium dalam kelompok pengajar
Infrastruktur Jurusan. 5) Laboratorium dalam hal: Penempatan dosen laboratorium dalam kelompok pengajar

Penempatan dosen laboratorium dalam kelompok pengajar pengampu matakuliah Kurikulum Berbasis Kompetensi Penetapan bahan ajar matakuliah laboratorium dalam matakuliah Kurikulum Berbasis Kompetensi Pemanfaatan sarana dan prasarana akademik yang dimiliki laboratorium dalam pembelajaran terintegrasi Kurikulum Berbasis Kompetensi Monitoring dan Evaluasi Proses dan Hasil pelaksanaan pembelajaran Kurikulum Berbasis Kompetensi. 6) Penanggungjawab Matakuliah Kompetensi (PJMK), dalam hal:

Mengkooordinasikan penyusunan jadwal, materi pembelajaran, tutor/fasilitator dan pengampu materi pembelajaran, serta pelaksanaan ujian dan penilaian matakuliah kompetensi. 7) Sub bagian Administrasi Akademik Fakultas dalam hal:

Mengkoordinasikan unit administrasi khusus jurusan dalam jajaran tata usaha, khususnya di bagian adminsitrasi akademik fakultas untuk tata laksana administrasi pengajaran dan pelaksanaan pembelajaran di Jurusan Mengusulkan kebutuhan, pemanfaatan, pemeliharaan, dan pengembangan sarana dan prasarana tata usaha dan bagian administrasi akademik fakultas yang diperlukan bagi perencanaan dan penyelenggaraan pembelajaran. 8) Dosen Penasehat Akademik, melalui otoritas Pembantu Dekan I dalam hal:

pembimbingan rencana studi, cara belajar, dan pemantauan proses dan hasil belajar mahasiswa. 9) Unit Bimbingan Konseling, melalui otoritas Pembantu Dekan III dalam hal bimbingan non-akademik yang diperlukan mahasiswa. 10) Mahasiswa melalui perwakilannya, dalam hal: perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, dan evaluasi proses belajar mengajar.

pemantauan, dan evaluasi proses belajar mengajar. Laboratorium a. Laboratorium adalah unit fakultas yang
pemantauan, dan evaluasi proses belajar mengajar. Laboratorium a. Laboratorium adalah unit fakultas yang
pemantauan, dan evaluasi proses belajar mengajar. Laboratorium a. Laboratorium adalah unit fakultas yang
pemantauan, dan evaluasi proses belajar mengajar. Laboratorium a. Laboratorium adalah unit fakultas yang
pemantauan, dan evaluasi proses belajar mengajar. Laboratorium a. Laboratorium adalah unit fakultas yang
pemantauan, dan evaluasi proses belajar mengajar. Laboratorium a. Laboratorium adalah unit fakultas yang

Laboratorium

a. Laboratorium adalah unit fakultas yang berfungsi sebagai pusat pembelajaran, sumber belajar, dan dosen dalam disiplin ilmu terkait dengan pembelajaran Kurikulum Berbasis Kompetensi.

b. Dalam Pedoman Akademik ini, Laboratorium bertugas:

Memfasilitasi Jurusan dalam penggunaan sarana dan prasarana belajar baik

sebagai host maupun sebagai wadah penunjang pembelajaran KBK 2) Memfasilitasi permintaan Jurusan dalam menunjuk dosen laboratorium yang menjadi host MKK untuk menjadi Penanggungjawab Matakuliah dan atau anggota kelompok pengajar matakuliah KBK 3) Memfasilitasi Jurusan dengan mengkontribusikan bahan ajar (course content)

1)

matakuliah-nya yang relevan dengan kompetensi tertentu.

c. Dalam hal memfasilitasi Matakuliah Disiplin Ilmu (MKDI) diatas, Laboratorium seyogyanya:

1) Memperhatikan dan berkoordinasi dengan Jurusan untuk menjaga pemerataan pendistribusian dosen laboratorium dalam kegiatan Jurusan agar seluruh dosen laboratoriumnya berfungsi maksimal dalam memenuhi standar EWMP masing-masing dosen 2) Memperhatikan dan berkoordinasi dengan Jurusan untuk menjaga agar program pengajaran Laboratorium (kuliah dan praktikum) tersebar dalam program pengajaran Jurusan secara proporsional agar tujuan instruksional masing-masing matakuliah laboratorium tetap dapat dicapai secara maksimal 3) Memperhatikan dan berkoordinasi dengan Jurusan untuk menjaga agar isi matakuliah (course content) laboratorium dapat terdistribusikan secara proporsional ke dalam silabus Jurusan 4) Memelihara dan mengembangkan mutu isi matakuliah yang relevan dengan kompetensi yang akan dicapai lulusan 5) Tetap mengembangkan potensi akademik, keterampilan instruksional, penelitian dan pengembangan ilmu dosen dilingkungannya dalam menunjang pembelajaran Kurikulum Berbasis Kompetensi.

d. Laboratorium dipimpin oleh seorang Kepala Laboratorium yang bertanggungjawab kepada Dekan dalam perancangan dan pelaksanaan tugas Laboratorium, yaitu:

1) Menjaga terdistribusinya pembelajaran ilmu di Laboratorium dalam MKK dan MKDI untuk mencapai kompetensi dokter yang ditetapkan 2) Melaksanakan pengembangan ilmu di Laboratorium melalui penelitian & pengabdian kepada masyarakat 3) Mengatur pengembangan staf dalam bidang akademik dan profesional

e. Dalam melaksanakan tugasnya, Kepala Laboratorium dibantu oleh satu atau lebih Penanggungjawab Pembelajaran (PJP) untuk mengkoordinasikan pembelajaran dengan setiap Program Studi yang menggunakan Laboratorium terkait dalam proses belajar mengajarnya.

f. Dalam hal pembelajaran Matakuliah Kurikulum Berbasis Kompetensi, PJP bertanggung- jawab terhadap evaluasi hasil belajar MKDI dan atas sepengetahuan Kepala Laboratorium menyerahkan nilai ujian MKDI kepada PJMK.

UPT Labskill dan Laboratorium Sentral Biomedik dalam Pedoman Akademik ini adalah unit penunjang teknis fakultas dibawah Dekan yang berfungsi menjadi tempat memfasilitasi pembelajaran Keterampilan Klinis, Penelitian, dan Pembelajaran Biomedik Pendidikan Dokter.

3.1.8 Urusan Administrasi Akademik Jurusan

a. Urusan Administrasi Akademik Jurusan dalam Pedoman Akademik ini adalah staf Tata Usaha Fakultas yang bertugas khusus menunjang administrasi pembelajaran Kurikulum Berbasis Kompetensi yang dilaksanakan oleh Jurusan.

b. Sebagai staf penunjang pembelajaran Kurikulum Berbasis Kompetensi, bertugas membantu Jurusan dengan memberikan daya dukung dalam operasionalisasi akademik serta melaksanakan registrasi akademik yang meliputi:

1) Registrasi mahasiswa baru dan daftar ulang mahasiswa lama 2) Registrasi keikutsertaan mahasiswa dalam kegiatan akademik khusus seperti Semester Pendek dan lain-lain 3) Presensi dosen dan mahasiswa dalam proses belajar mengajar 4) Membantu penjadwalan kegiatan, tempat, dan waktu pembelajaran dengan berkoordinasi dengan program studi lain 5) Administrasi Kartu Rencana Studi (KRS), Kartu Hasil Studi (KHS), Kartu Hasil Kemajuan Belajar (KHKB) mahasiswa peserta Kurikulum Berbasis Kompetensi 6) Melaksanakan penyusunan, penyimpanan, dan pemanfaatan database akademik dalam Sistim Informasi Akademik (SIAkad) 7) Melaksanakan pengisian berkala dan berkesinambungan borang akreditasi akademik 8) Melaksanakan penyiapan sarana/prasarana rapat-rapat akademik Jurusan.

3.1.9 Penanggungjawab Matakuliah (PJMK)

a. Penanggungjawab Matakuliah (PJMK) adalah dosen yang ditetapkan Dekan untuk mengkoordinasikan sebuah Kelompok Pengajar dalam perancangan, pembelajaran dan evaluasi Matakuliah Kompetensi (MKK) tertentu.

b. Dalam mengelola MKK dibawah koordinasinya, PJMK bertugas:

1) Mengkoordinasikan jadwal, pembelajaran, dan ujian MKK 2) Mengkoordinasikan tugas mengajar dosen dalam kelompok 3) Menetapkan model pembelajaran yang digunakan 4) Menyampaikan hasil belajar mahasiswa kepada Jurusan

c. Penanggungjawab Matakuliah bertanggung-jawab dan berada dibawah koordinasi Jurusan.

3.1.10 Kelompok Pengajar

a. Kelompok Pengajar dalam Pedoman Akademik ini adalah sekelompok dosen yang ditunjuk Jurusan dan mewakili Laboratorium dalam mengampu matakuliah Kurikulum Berbasis Kompetensi terkait disiplin ilmu masing-masing.

b. Kelompok pengajar bertanggungjawab secara fungsional kepada Jurusan dan secara struktural kepada Laboratorium.

d.

Kelompok Pengajar merupakan kelompok dosen dari berbagai disiplin ilmu yang diintegrasikan baik secara vertikal maupun horizontal.

3.1.11 Mahasiswa

a. Mahasiswa dalam Pedoman Akademik ini adalah mahasiswa yang berhak mengikuti

memenuhi kriteria

pendidikan di Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya apabila berikut:

1) Masuk Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya melalui berbagai seleksi resmi

2)

penerimaan mahasiswa baru Terdaftar pada tahun akademik bersangkutan

3)

Memiliki Nomor Induk Mahasiswa (NIM)

4)

Memenuhi dan atau tidak melakukan pelanggaran terhadap persyaratan

5)

administratif yang ditentukan Universitas/Fakultas/Jurusan untuk mengikuti pendidikan Mengisi dan memiliki Kartu Rencana Studi (KRS)

6)

Bersedia mematuhi peraturan dan ketentuan yang berlaku di Universitas/Fakultas/ Jurusan.

b. Mahasiswa berhak:

1) Memperoleh pendidikan yang sebaik-baiknya 2) Memperoleh informasi dan sosialisasi yang memadai atas segala sesuatu terkait dengan program pembelajaran Kurikulum Berbasis Kompetensi yang diikutinya 3) Ikut dan menyampaikan pendapat dan aspirasinya dalam perencanaan, pemantauan dan evaluasi institusional program pendidikan yang diikuti 4) Memperoleh bantuan bimbingan,dan konseling, serta kepenasehatan akademik.

c. Mahasiswa berkewajiban:

Mematuhi seluruh ketentuan dan peraturan akademik dan administratif Fakultas, Jurusan, maupun Laboratorium yang berlaku.

d. Proses penyampaian pendapat/aspirasi dilakukan secara santun dan ber-etika melalui Pembantu Dekan I Bidang Akademik dan Jurusan dalam segala permasalahan menyangkut perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran, serta kepenasehatan akademik.

e. Proses penyampaian pendapat/aspirasi dilakukan secara santun dan ber-etika melalui Pembantu Dekan III Bidang Kemahasiswaan dan Jurusan dalam segala permasalahan menyangkut kemahasiswaan, minat, bakat, kesejahteraan, serta pembinaan ekstrakurikuler, bimbingan dan konseling.

3.2 Prosedur dan Koordinasi Proses Pembelajaran

Prosedur dan Koordinasi Proses Pembelajaran dalam pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi dapat dilihat pada Gambar 3.1 berikut ini.

Dekan PD I,II,III GJM o Ketua PS o Sekretaris PS Medical Education Unit Koordinator: -
Dekan
PD I,II,III
GJM
o Ketua PS
o Sekretaris PS
Medical
Education Unit
Koordinator:
- Dasar Kedok.
UJM
- Kompetensi
Sekretariat
Klinik
PSPD
- Pend. Profesi
PJMK:
PJMK
PJMK PJMK
Keterampilan Keterampilan Keterampilan Klinik
Klinik Klinik
Tim PBL
MKK dalam
Tim TA
MK Non-Blok
Tim
Kepala UPT
Kepala
Labskill
Laboratorium
Subag Akademik
Ka Ur Adm Akad
Jur Kedokteran
Kepala Lab
Sentral Biomedik
PJP
Urusan
Urusan
Urusan
Sarana/Prasarana
Pengelolaan
Evaluasi
Akademik
PBM
Hasil Belajar

Gambar 3.1 Bagan Pembelajaran KBK PS Pendidikan Dokter FKUB

Keterangan:

1) Dekan, dalam Pedoman Akademik ini, memimpin dan mengkoordinasikan Jurusan, MEU, UJM, Laboratorium Mata Kuliah Dasar Ilmu (MKDI), UPT Labskill, Lab Sentral Biomedik untuk keharmonisan.

2) Medical Education Unit menyusun rancangan kurikulum, silabus, model pembelajaran, model evaluasi, bersama-sama Jurusan. Draft rancangan diserahkan kepada Dekan sebagai pertimbangan pelaksanaan kurikulum setiap tahun ajar.

3) Melalui rapat koordinasi dengan Jurusan, MEU, dan GJM, Dekan memutuskan menetapkan Kurikulum dan Pelaksanaannya untuk satu tahun ajar.

4) Jurusan selaku pimpinan Program Studi Pendidikan Dokter memiliki sebuah sekretariat dipimpin Sekretaris Jurusan dan mempunyai sekurang-kurangnya seorang staf sekretariat. 5) Dalam melaksanakan tugasnya, Jurusan dibantu oleh:

Koordinator Pendidikan Dasar Kedokteran, untuk Semester I & II5) Dalam melaksanakan tugasnya, Jurusan dibantu oleh: Koordinator Pendidikan Kompetensi Kinik, untuk Semester III,

Koordinator Pendidikan Kompetensi Kinik, untuk Semester III, IV, V, VI, dan VIIPendidikan Dasar Kedokteran, untuk Semester I & II Koordinator Pendidikan Profesi, untuk Clerkship. 6)

Koordinator Pendidikan Profesi, untuk Clerkship. Clerkship.

6) Sekretariat Jurusan mengadministrasikan database Jurusan, pengarsipan surat keluar masuk Jurusan, dan berkoordinasi dengan Bagian Tata Usaha Fakultas terkait dengan tugas Jurusan.

7) Dalam mengkoordinasikan pembelajaran, Jurusan membawahi PJMK dari masing-masing Matakuliah Kompetensi, serta pejabat setara dengan PJMK untuk pembelajaran Pengembangan Keterampilan.

8) Dalam proses pembelajaran dan evaluasi hasil belajar, PJMK melalui sekretaris Jurusan berkoordinasi dengan staf Bagian Tata Usaha Subag Akademik Urusan Administrasi Akademik Jurusan Kedokteran terkait urusan yang diperlukannya.

Administrasi

9) Dalam melaksanakan dukungan penunjang pembelajaran Jurusan, Urusan

Jurusan Kedokteran terdiri dari sekurang-kurangnya seorang staf, masing-masing untuk:

urusan Sarana/Prasarana Akademikdari sekurang-kurangnya seorang staf, masing-masing untuk: urusan Pelaksanaan Pembelajaran urusan Evaluasi Hasil

urusan Pelaksanaan Pembelajaranstaf, masing-masing untuk: urusan Sarana/Prasarana Akademik urusan Evaluasi Hasil Belajar Pendidikan Dokter. 10) Staf

urusan Evaluasi Hasil Belajar Pendidikan Dokter.Sarana/Prasarana Akademik urusan Pelaksanaan Pembelajaran 10) Staf Urusan Sarana/Prasarana Akademik ditunjuk diantara

10) Staf Urusan Sarana/Prasarana Akademik ditunjuk diantara staf Subag Umum Tata Usaha berkoordinasi dengan Kepala Urusan Administrasi Akademik Jurusan bertugas:

menyediakan ruangan dan sarana pembelajaran serta fasilitas sumber belajar yang diperlukan Jurusandengan Kepala Urusan Administrasi Akademik Jurusan bertugas: merawat serta menjaga sustainabilitas prasarana termasuk

merawat serta menjaga sustainabilitas prasarana termasuk listrik agar pembelajaran terlaksana tanpa gangguan.serta fasilitas sumber belajar yang diperlukan Jurusan 11) Staf Urusan Pelaksanaan Pembelajaran bertugas:

11)

Staf Urusan Pelaksanaan Pembelajaran bertugas:

mengadakan/ menggandakan modul, lembar-lembar observasi dan perangkat lunak pembelajaran lainnya

mengadakan/ menggandakan modul, lembar-lembar observasi dan perangkat lunak pembelajaran lainnya

bersama Kasubag Akademik mengatur pelaksanaan, tempat dan waktu ujian.

bersama Kasubag Akademik mengatur pelaksanaan, tempat dan waktu ujian.

12)

Staf Urusan Evaluasi Hasil Belajar bertugas:

membuat form ujian MKK, Pengembangan Keterampilan, dan perangkat lunak evaluasi lainnya

membuat form ujian MKK, Pengembangan Keterampilan, dan perangkat lunak evaluasi lainnya

mengolah nilai bekerja sama dengan TIK Fakultas dan Sekretariat JurusanKeterampilan, dan perangkat lunak evaluasi lainnya melaksanakan administrasi KRS, KHS, KHKB mengolah dan

melaksanakan administrasi KRS, KHS, KHKBbekerja sama dengan TIK Fakultas dan Sekretariat Jurusan mengolah dan menyimpan data nilai untuk Transkrip Akademik,

mengolah dan menyimpan data nilai untuk Transkrip Akademik, Transkrip Kompetensi, dan Sertifikat Kompetensi.

mengolah dan menyimpan data nilai untuk Transkrip Akademik, Transkrip Kompetensi, dan Sertifikat Kompetensi.

13)

Staf sekretariat MEU dan UJM dapat ditunjuk diantara Staf Urusan Akademik Jurusan Kedokteran.

14)

Nama-nama staf Urusan Akademik diatas diumumkan terutama kepada para

PJMK.

15) Jurusan membawahi dan mengkoordinasikan semua PJMK dalam menjadwal pembelajaran dan evaluasi MKK dan Pengembangan Keterampilan dengan menugaskan Urusan Administrasi Akademik Jurusan Kedokteran untuk secara langsung membantu kelancaran administrasi penyelenggaraan pembelajaran dan evaluasi.

16)

Kepala Laboratorium berkoordinasi dengan Jurusan dalam hal:

penunjukan dosen PJMKKepala Laboratorium berkoordinasi dengan Jurusan dalam hal: penunjukan dosen anggota kelompok pengajar MKK terkait

penunjukan dosen anggota kelompok pengajar MKK terkaitdengan Jurusan dalam hal: penunjukan dosen PJMK penggunaan prasarana/sarana laboratorium untuk pembelajaran

penggunaan prasarana/sarana laboratorium untuk pembelajaran MKK dan pengembangan keterampilan

penggunaan prasarana/sarana laboratorium untuk pembelajaran MKK dan pengembangan keterampilan

penetapan bahan ajar kompetensi terkait Matakuliah Disiplin Ilmu (MKDI)untuk pembelajaran MKK dan pengembangan keterampilan pembuatan soal ujian. 17) Kepala Laboratorium

pembuatan soal ujian.ajar kompetensi terkait Matakuliah Disiplin Ilmu (MKDI) 17) Kepala Laboratorium berkoordinasi dengan

17)

Kepala Laboratorium berkoordinasi dengan Jurusan/Program Studi dilingkungan FKUB melalui Penanggungjawab Pembelajaran (PJP) di Laboratoriumnya.

18) Jurusan bersama PJMK Pengembangan Keterampilan terkait berkoordinasi dengan Kepala UPT Labskill dan Kepala Laboratorium Sentral Biomedik untuk pembelajaran keterampilan, dan penelitian/ pengembangan pembelajaran Biomedik.

Jurusan, Medical Education Unit, Gugus Jaminan Mutu (GJM), Unit Jaminan Mutu (UJM), Kepala UPT

Labskill, Kepala Laboratorium Sentral Biomedik membuat laporan berkala kepada Dekan.

Bab IV PEMBELAJARAN BLOK

Proses Belajar Mengajar terdiri dari:

Strategi PembelajaranIV PEMBELAJARAN BLOK Proses Belajar Mengajar terdiri dari: Struktur Materi Organisasi dan Prosedur Pembelajaran Blok

Struktur MateriProses Belajar Mengajar terdiri dari: Strategi Pembelajaran Organisasi dan Prosedur Pembelajaran Blok Rancangan

Organisasi dan Prosedur Pembelajaran BlokMengajar terdiri dari: Strategi Pembelajaran Struktur Materi Rancangan Pembelajaran Implementasi Pembelajaran 4.1

Rancangan PembelajaranStruktur Materi Organisasi dan Prosedur Pembelajaran Blok Implementasi Pembelajaran 4.1 Strategi Pembelajaran

Implementasi Pembelajarandan Prosedur Pembelajaran Blok Rancangan Pembelajaran 4.1 Strategi Pembelajaran 4.1.1 Pembelajaran

4.1

Strategi Pembelajaran

4.1.1

Pembelajaran dilaksanakan dengan pendekatan/strategi SPICES (Student-centered, Problem-

based, Integrated, Community-based, Elective/Early Cinical Exposure, Systematic).

4.1.2

Program pembelajaran harus diupayakan terpusat pada aktivitas mahasiswa misalnya diskusi, belajar mandiri, self inquiry, seminar,dan cara belajar aktif lainnya sepanjang dimungkinkan.

4.1.3

Program pembelajaran diupayakan menggunakan atau mengetengahkan „Masalah‟ sebagai titik masuk penguasaan ilmu, keterampilan, dan perilaku, serta pemicu (trigger) pembelajaran aktif oleh mahasiswa. „Masalah‟ merujuk pada identifikasi yang ditetapkan Konsil Kedokteran

Indonesia dan berdasarkan Index Clinical Situation.

4.1.4

Untuk mendapatkan penguasaan holistik dan komprehensif, pembelajaran dilakukan dengan mengintegrasikan matakuliah-matakuliah terkait baik vertikal maupun horizontal.

4.2 Struktur Materi

4.2.1 Tiap semester terdiri dari 1 atau lebih Blok. Blok merupakan unit terkecil dari pembelajaran KBK untuk menghasilkan kompetensi tertentu. Pembelajaran akan dilanjutkan untuk Blok berikutnya tanpa kembali lagi kepada Blok sebelumnya.

4.2.2 Tiap Blok mempunyai tema sendiri sebagai landasan berintegrasinya beberapa Matakuliah Disiplin Ilmu kedalam Blok sesuai dengan tema tersebut. Seluruh matakuliah, praktikum, dan keterampilan klinik dalam 1 Blok bersama-sama membentuk Matakuliah Kompetensi (MKK), sehingga penamaan Blok identik dengan nama MKK yang bersangkutan.

4.2.3 Sehubungan dengan itu, pada setiap Blok terdapat 4 komponen pembelajaran yaitu:

a. Materi MKDI yang sesuai dengan tema Blok tetapi tidak ikut berintegrasi dalam Modul Blok. Pemberian materi ini adalah dalam rangka memperoleh penguasaan disiplin imu yang

nantinya menjadi bagian dari transkrip akademik matakuliah tersebut di akhir pendidikan. Meskipun demikian, sebagian materi MKDI ini akan ikut berintegrasi ke dalam Modul MKK dan menjadi bagian pembentukan kompetensi sesuai tema Blok.

b. Komponen Praktikum MKDI (kalau ada) diadakan dengan maksud memperkaya (enrichment) materi MKDI, sehingga praktikum tersebut tidak perlu dilaksanakan sebagaimana praktikum konvensional karena tidak mengandung kegiatan psikomotorik. Apabila praktikum MKDI terkait dengan hal-hal yang memang dilakukan oleh seorang dokter dalam praktik, maka materi praktikum itu dinyatakan sebagai materi keterampilan (skill) dan dibelajarkan dalam konteks pembelajaran keterampilan klinik.

c. Komponen Modul MKK, disusun dengan mengintegrasikan beberapa MKDI yang relevan dengan tujuan modul. Oleh karena penguasaan modul MKK mengindikasikan penguasaan kompetensi Blok terkait, maka modul MKK merupakan materi utama dalam Blok yang membutuhkan alokasi waktu yang lebih banyak. d. Komponen Skill (Keterampilan Klinik) merupakan materi pembelajaran keterampilan terkait dengan tema Blok.

Keempat komponen dibelajarkan dan diujikan/dievaluasi sebagai suatu kesatuan pencapaian kompetensi Blok/Matakuliah Kompetensi (MKK).

4.2.4 Diluar Blok pada semester tertentu terdapat rangkaian pembelajaran matakuliah Kompetensi Spesifik, Metodologi, Tugas Akhir, PBL, dan PKNM, serta matakuliah lain yang tidak terkait dengan tema Blok.

4.3 Organisasi dan Prosedur Pembelajaran Blok

KETUA PROGRAM STUDI SEKRETARIS PROGRAM STUDI KEPALA TIM LABORATORIUM SKILL KOORDINATOR BLOK SEKRETARIS
KETUA
PROGRAM STUDI
SEKRETARIS
PROGRAM STUDI
KEPALA
TIM
LABORATORIUM
SKILL
KOORDINATOR
BLOK
SEKRETARIS
KONTRIBUTOR
BLOK
BLOK
FASILITATOR
BLOK
MKK
MKDI
NON BLOK
MetodoLogi, Tugas
Akhir, PBL,
PKNM, Lain-Lain
PRAKTIKUM
KULIAH
MODUL MKK
SKILL

Gambar 4.1 Bagan Organisasi dan Prosedur Pembelajaran Blok

4.3.1 Ketua Jurusan Dalam konteks pembelajaran KBK, Ketua Jurusan merupakan koordinator dan penanggungjawab pengelolaan proses belajar mengajar di Jurusan Kedokteran

4.3.2 Sekretaris Jurusan Sekretaris Jurusan merupakan pimpinan kesekretariatan Jurusan. Sekretaris Jurusan dapat mewakili Ketua Jurusan dalam hal Ketua Jurusan berhalangan hadir atau mendelegasikan wewenang kepadanya dalam berbagai kegiatan.

4.3.3 Kepala Laboratorium Pimpinan struktural Laboratorium yang bertugas memimpin dan mengkoordinasikan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat di Laboratorium masing-masing. Dalam konteks pembelajaran Blok, Kepala Laboratorium menetapkan materi ajar Laboratorium, dosen pengampu, dan beban studi yang akan diintegrasikan kedalam pembelajaran Blok.

4.3.4 Blok dan Tim Blok

a. Blok merupakan unit pembelajaran terkecil dalam implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi. Dalam 1 semester terdapat sekurang-kurangnya 2 Blok.

b. Untuk kepentingan perancangan, pembelajaran, dan evaluasi hasil belajar setiap Blok, Jurusan menetapkan: tema Blok sesuai dengan kurikulum, Penanggung Jawab Matakuliah Kompetensi (PJMK) yang akan menjadi Koordinator Blok, Sekretaris Blok, MKDI yang terkait dengan pembelajaran Blok, Tim Skill terkait dengan pembelajaran keterampilan klinik sesuai tema Blok, menetapkan jadwal dan alokasi waktu pembelajaran dan evaluasi satu Blok, serta mengumumkan hasil belajar Blok termasuk hasil belajar MKDI yang berintegrasi dalam Blok.

c. Diluar Blok, Jurusan menetapkan pembelajaran dalam semester terkait yaitu MetodoLogi dan Tugas Akhir, serta mengkoordinasikan langsung penyelenggaraan Problem Based Learning pada 1 minggu terakhir Semester III sampai dengan VII sebagai bagian Pencapaian Kompetensi Belajar Sepanjang Hayat, serta PKNM untuk memberikan pengalaman belajar kepada mahasiswa dalam berinteraksi langsung dengan kelompok masyarakat (masyarakat kampus atau di luar kampus).

d. Tim Blok adalah kelompok dosen yang bertugas merencanakan, membelajarkan, dan mengevaluasi proses dan hasil belajar suatu Blok, terdiri dari :

1) Koordinator Blok Juga menjadi Penanggungjawab Matakuliah Kompetensi (PJMK) Mengkoordinasikan Perancangan, Pembelajaran, dan Evaluasi Hasil Belajar Blok Mengkoordinasikan penyusunan Buku Blok (termasuk Modul MKK untuk mahasiswa) dan Buku Pedoman Tutor dalam memfasilitasi tutorial dalam diskusi kelompok kecil menggunakan Modul MKK Menyelenggarakan training of trainer bagi fasilitator Blok untuk melaksanakan tugas tutorial dalam Blok Mengkoordinasikan evaluasi hasil belajar Blok

trainer bagi fasilitator Blok untuk melaksanakan tugas tutorial dalam Blok Mengkoordinasikan evaluasi hasil belajar Blok

Bertanggung jawab kepada JurusanPJMK merekomendasikan susunan nama dosen anggota Tim Blok kepada Jurusan agar diusulkan kepada Dekan untuk

PJMK merekomendasikan susunan nama dosen anggota Tim Blok kepada Jurusan agar diusulkan kepada Dekan untuk penetapannya.Bertanggung jawab kepada Jurusan 2) Sekretaris Tim Blok Mendokumentasikan seluruh dokumen Blok, serta mewakili Koordinator

2) Sekretaris Tim Blok

Mendokumentasikan seluruh dokumen Blok, serta mewakili Koordinator Blok dalam hal berhalangan hadir dalam suatu kegiatan Blok.kepada Dekan untuk penetapannya. 2) Sekretaris Tim Blok 3) Kontributor Blok adalah dosen yang ditunjuk oleh

3) Kontributor Blok

adalah dosen yang ditunjuk oleh Kepala Laboratorium masing-masing dan ditetapkan oleh Jurusan untuk menyusun Buku Blok dan Modul pembelajaran Blok. Secara struktural, bertanggungjawab kepada Kepala Laboratorium masing-masing dalam halhadir dalam suatu kegiatan Blok. 3) Kontributor Blok kesesuaian dan kedalaman materi yang dibutuhkan untuk Blok

kesesuaian dan kedalaman materi yang dibutuhkan untuk Blok terkait serta hasil evaluasinya.

4) Fasilitator Blok

adalah dosen yang ditunjuk oleh Kepala Laboratorium untuk ikut dalam suatu Blok untuk membelajarkan MKDI terkait, baik dalam modul terintegrasi (Modul MKK) dan modul yang tidak terintegrasi (Modul MKDI) dalam Blok terkait, maupun yang dikuliahkan/ dipraktikumkan.Blok terkait serta hasil evaluasinya. 4) Fasilitator Blok Secara struktural, fasilitator Blok bertanggungjawab kepada

Secara struktural, fasilitator Blok bertanggungjawab kepada Kepala Laboratorium masing-masing, terkait isi dan kedalaman MKDI.dalam Blok terkait, maupun yang dikuliahkan/ dipraktikumkan. Secara fungsional sebagai anggota Tim Blok, fasilitator

Secara fungsional sebagai anggota Tim Blok, fasilitator berada dibawah koordinasi PJMK.Laboratorium masing-masing, terkait isi dan kedalaman MKDI. Jurusan dapat menginstruksikan kepada Kepala Laboratorium

Jurusan dapat menginstruksikan kepada Kepala Laboratorium untuk menunjuk staf dosennya menjadi fasilitator dari suatu Blok sekalipun Laboratorium tersebut tidak ikut berintegrasi didalamnya, misalnya dalam pembelajaran skill tertentu atau dimana jumlah fasilitator Blok kurang memadai. skill tertentu atau dimana jumlah fasilitator Blok kurang memadai.

4.4 Rancangan Pembelajaran

Rancangan Pembelajaran dilaksanakan sesuai prosedur berikut:

a. Pada awal semester yang berjalan, Jurusan mengumumkan kepada seluruh laboratorium tentang tema Blok yang akan dibelajarkan pada semester berikutnya serta meminta Kepala Laboratorium untuk mengirimkan nama dosen pengampu, materi/topik MKDI, dan beban serta alokasi waktu untuk membelajarkannya.

b. Sebagai respon terhadap pengumuman Jurusan, setiap Kepala Laboratorium mengirimkan hal-hal diatas kepada Jurusan.

c. Jurusan menetapkan Ketua dan Sekretaris Blok sebagai Penanggung Jawab Matakuliah Kompetensi (PJMK) dengan memperhatikan Matakuliah Disiplin Ilmu utama yang berkontribusi dalam pembelajaran Blok terkait.

d. Ketua dan Sekretaris Tim Blok membentuk rancangan Tim Blok dari nama-nama dosen yang diajukan laboratorium untuk berintegrasi dalam Blok. Rancangan Tim Blok disampaikan kepada Jurusan untuk nantinya ditetapkan oleh Dekan.

e. Jurusan menetapkan besaran beban studi, jumlah jam dan alokasi waktu, serta rencana ruang pembelajaran Blok dalam semester yang akan datang.

f. Tim Blok dipimpin koordinatornya mengadakan rangkaian pertemuan untuk menyusun Buku

yang berisi: rancangan pembelajaran dan evaluasi proses serta evaluasi hasil belajar,

Blok

rincian rencana/jadwal pembelajaran Blok, susunan dosen kontributor pengampuan kuliah, kontributor penyusun dan pengampuan modul, kontributor pengampuan praktikum, kontributor pengampu pembelajaran keterampilan klinik, dan mengajukannya kepada Jurusan.

g. Jurusan kemudian:

1) Mengusulkan Tim Blok kepada Dekan untuk penetapannya 2) Menyiapkan dukungan Logistik untuk pembelajaran Blok 3) Mengkoordinasikan Tim Blok, Tim MetodoLogi, Tim Pengelola Tugas Akhir, Tim PBL, serta PKNM untuk penetapan jadwal dan alokasi waktu pembelajaran dalam semester terkait 4) Meminta Koordinator Dasar Kedokteran (Semester I dan II), Pendidikan Keterampilan Klinik (Semester III sampai dengan VII), dan Pendidikan Profesi (Clekship) untuk mengkoordinasikan rancangan pembelajaran kepada Tim Blok, Staf Administrasi Akademik,

unit TIK dalam hal memperoleh dukungan logistik pembelajaran Blok antara lain:

uploading Buku Blok, penggandaan Buku Blok, lembar observasi kinerja dosen oleh mahasiswa, lembar observasi keterampilan belajar dan berkomunikasi dalam tutorial 5) Berkoordinasi dengan MEU dan laboratorium terkait untuk menyusun rancangan monitoring dan umpan balik.

4.5 Implementasi Pembelajaran

4.5.1 Sesuai strategi SPICES, proses belajar mengajar dilaksanakan secara integratif (horizontal dan atau vertikal) baik integrasi tematis sesuai Tema Blok ataupun secara fungsional dalam modul-modul yang disusun dalam Buku Blok.

4.5.2 Pembelajaran dalam satu Blok terdiri dari pembelajaran: Matakuliah Disiplin Ilmu (termasuk tatap muka, diskusi kelompok kecil MKDI, serta praktikum MKDI), diskusi kelompok kecil menggunakan Modul MKK, dan Pembelajaran Keterampilan Klinik (skill).

TEMA BLOK

KULIAH

(MKDI)

PRAKTIKUMKeterampilan Klinik ( skill ). TEMA BLOK KULIAH (MKDI) (MKDI) MODUL MKK SKILL (Keterampilan Klinik) Gambar

(MKDI)

MODUL MKK

SKILLskill ). TEMA BLOK KULIAH (MKDI) PRAKTIKUM (MKDI) MODUL MKK (Keterampilan Klinik) Gambar 4.2 Komponen Pembelajaran

(Keterampilan Klinik)

Gambar 4.2 Komponen Pembelajaran Blok

a. Kuliah 1) Kuliah diselenggarakan dalam rangka integrasi tematis, untuk memberi kesempatan semua laboratorium yang berintegrasi dalam suatu Blok membelajarkan Matakuliah Disiplin Ilmu (MKDI) masing-masing secara utuh sesuai Tema Blok. Dalam hal ini, laboratorium dapat menggunakan modul MKDI (tidak terintegrasi) yang didiskusikan dalam kelompok-kelompok kecil.

2) Materi MKDI yang terkait dengan pembelajaran modul MKK yang tidak dikuliahkan, melainkan dibelajarkan secara terpadu dalam diskusi kelompok kecil dibawah koordinasi PJMK. 3) Alokasi waktu dan tempat diusulkan oleh Tim Blok dan diatur oleh Jurusan, dan dilaksanakan oleh Laboratorium masing-masing.

b. Praktikum 1) Praktikum diselenggarakan oleh masing-masing Laboratorium dengan alokasi waktu dan tempat ditentukan diusulkan oleh Tim Blok dan diatur oleh Jurusan, dan dilaksanakan oleh Laboratorium masing-masing 2) Praktikum dimaksudkan untuk memberikan‟enrichment‟ atau pengayaan bagi materi-materi dalam perkuliahan MKDI 3) Praktikum dari suatu Laboratorium yang merupakan pembelajaran untuk memperoleh keterampilan klinik dalam praktek sehari-hari seorang dokter umum, diulang dan dinilai dalam pembelajaran Keterampilan Klinik (skill).

c. Tutorial menggunakan Modul MKK 1) Modul MKK merupakan kumpulan materi MKDI yang secara fungsional saling berintegrasi untuk memperoleh pemahaman holistik dan komprehensif atas satu atau lebih topik klinis terhadap penyakit tertentu, sindroma/simptoma tertentu, maupun kasus-kasus klinik terkait dengan tema 2) Karena integrasinya bersifat fungsional, maka pada prinsipnya, inti materi modul MKK adalah terutama menyangkut penyakit, simptoma/sindroma klinik, dan kasus klinik sesuai tema Blok dan terkait dengan penyakit, sindroma/simptoma klinis yang ditentukan dalam Standar Kompetensi Dokter oleh Konsil Kedokteran Indonesia 3) Dosen dari MKDI/ Laboratorium yang terkait langsung dengan topik modul merupakan Kontributor Utama yang memfasilitasi penyusunan modul MKK. Dosen MKDI lain yang berintegrasi dalam penyusunan suatu Modul MKK merupakan Tutor dalam diskusi kelompok pembelajaran modul MKK. Dalam hal jumlah tutor tidak mencukupi, PJMK dapat meminta kepada Jurusan untuk menugaskan standby tutor (sby tutor) dalam kegiatan diskusi kelompok 4) Modul MKK disusun oleh para Kontributor Modul dibawah koordinasi PJMK/ Koordinator Blok. 5) Buku Blok disampaikan kepada mahasiswa secara soft-copy uploading 6) Secara mandiri dirumah maupun terjadwal dalam silabus Blok, mahasiswa mengerjakan Tugas Modul yang ada dalam Buku Blok, sebelum pembelajaran Blok dimulai. Kegiatan mandiri ini merupakan upaya penyiapan prior knowledge mahasiswa terutama sebelum mengikuti tutorial. 7) Pembelajaran modul MKK diselenggarakan dalam bentuk tutorial dalam diskusi kelompok. Mahasiswa disarankan membawa buku teks, diktat, laptop sebagai sumber belajar atau referensi selama ber-argumentasi dalam diskusi kelompok. 8) Proses tutorial dilaksanakan menggunakan Pedoman Tutorial yang terlampir dalam Buku Pedoman ini.

Ruang kuliah, ruang praktikum, ruang diskusi, beserta perangkat alat bantu belajar dipersiapkan Sub Bagian Akademik Fakultas atas instruksi Jurusan dan di koordinasikan dengan Koordinator Blok/PJMK.

4.5.3 Instrumen Pembelajaran

Buku Blok adalah Buku yang menjadi pedoman penyelenggaraan suatu Blok (format

acuan Buku Blok terlampir). Buku Blok berisi:

a. Umum: Nama/tema Blok, Semester/beban studi, Tim Blok, Laboratorium yang berintegrasi, dan Daftar Fasilitator/Tutor

b. Pendahuluan:

1) Overview: penjelasan ringkas tentang bagaimana Blok akan dibelajarkan dan dievaluasi, MKDI apa saja yang akan dikuliahkan, praktikum apa yang akan diadakan, berapa modul dan apa judul/tema modul, keterampilan klinik apa yang akan dibelajarkan. 2) Hasil Pembelajaran (learning outcomes): sesuai dengan area kompetensi MKK yang ingin dicapai 3) Tujuan Pembelajaran (learning objectives): merupakan kompetensi Laboratorium yang terkait

c. Materi Blok: Matakuliah Disiplin Ilmu (non-modul), praktikum MKDI (jika ada),

Modul MKK d. Skill Station, berisi jenis skill (keterampilan klinik) yang dibelajarkan oleh masing-

masing Laboratorium yang berintegrasi

e. Hubungan dengan Blok Lain

f. Jadwal Pembelajaran Blok

g. Asesmen Blok: pedoman singkat penilaian, pembobotan masing-masing komponen Blok yang dibelajarkan

4.5.3.2 Modul MKK

Modul MKK diberi nama sesuai Sistem yang dibelajarkan dan nama tersebut menggambarkan suatu pembelajaran yang terintegrasi. Modul MKK berisi:

A. Tujuan Pembelajaran Modul

B. „Topic and Topic Tree‟

C. „Module Overview‟

D. Tugas Modul Penugasan kepada mahasiswa sebelum memasuki tutorial, dimaksudkan untuk menyiapkan prior knowledge mahasiswa sebelum kegiatan belajar mengajar Blok.

Misalnya: Modul tentang „Icterus‟, maka tugas modul antara lain adalah tentang

struktur normal sistim hepatobilier, mekanisme bilirubin dsb. Mahasiswa akan mengerjakan tugas ini dalam Buku Log mahasiswa. Pada saat dosen membelajarkan kuliah pakar tentang modul ini, asumsinya adalah mahasiswa sudah mengetahui lebih dahulu tentang struktur normal, mekanisme bilirubin dan sebagainya.

E. Referensi, berisi daftar buku teks/bahan bacaan wajib yang diacu mahasiswa untuk mengerjakan tugas modul diatas.

Contoh „Topic & Topic Tree‟ dalam menyusun Modul MKK

Topic and Topic Tree

The Prevention

The Management of

Disease

Rehabilitation

Diagnosis of Certain

Reproductive System Diseases

Technical Skills supporting the

diagnosis of Reproductive System

Diseases

The Pathophysiology of

Certain Reproductive System

Diseases

The Physiology of Woman

Reproductive System

ThThe Pattern of Endocrinologic

Changes in Certain Reproductive

System Diseases

Endocrinologic Aspect of

Reproductive System

The Anatomy of Woman

Reproductive System

Gambar 4.3 Contoh „Topic & Topic Tree‟ Sistem Reproduksi

4.5.3.3 Buku Pedoman Tutorial (Teacher Guidance Book ) Buku Pedoman Tutorial adalah buku pegangan tutor ketika memfasilitasi kegiatan tutorial/diskusi kelompok. Buku ini menjadi penting mengingat pembelajaran modul adalah multidisipliner tergantung Matakuliah Disiplin Ilmu yang berintegrasi dalam

pembelajaran modul tersebut. Pada sisi lain, para tutor memiliki latar belakang satu Disiplin Ilmu saja. Oleh karena itu, buku ini dapat digunakan untuk menyamakan „jawaban‟ atau „penjelasan‟ yang diperlukan baik menyangkut fungsi- fungsi tutor maupun isi diskusi agar isi diskusi tidak melenceng jauh dari Tujuan Belajar yang ditentukan. Buku ini memuat :

A. Tugas Modul yang sama dengan buku Log mahasiswa, hanya dalam buku pedoman ini, jawaban atas Tugas Modul sudah ada dengan kata-kata kunci yang dicetak miring untuk memudahkan tutor mengenal dengan cepat inti jawaban yang didiskusikan mahasiswa. Jika setiap kata miring itu terucapkan dengan jelas saat diskusi mahasiswa maka diskusi dipandang telah mencapai tujuan belajar yang ditentukan. Jika ada kata kunci yang tidak didiskusikan, maka tutor mengetahui hal apa yang menjadi tujuan belajar tetapi tidak dicapai dari diskusi tersebut. Pada akhir pertemuan, dosen akan mengklarifikasi hasil diskusi. Pada saat inilah dosen boleh memberi komentar atas isi diskusi baik menyangkut tugas modul yang sudah dirumuskan dengan benar maupun hal-hal yang perlu dipelajari kembali oleh amahsiswa atau untuk diusulkan kepada Koordinator Tim Blok agar di „Kuliah Pakar‟ kan secara khusus.

B. Pedoman penilaian atas observasi diskusi kelompok berisikan sejumlah parameter penilaian, agar didapatkan penilaian yang relatif lebih objektif. Variabel dalam lembar observasi tutorial menyangkut: keterampilan belajar, memimpin,

berkolaborasi, perbedaan pendapat, hadir tepat waktu, berpartisipasi dalam diskusi, dan sebagainya.

Pada dasarnya Buku Pedoman Tutorial tidak lain adalah Buku Blok dimana Tugas Modul ditulis dan disediakan kotak jawaban yang sudah terisi.

4.5.3.4 Buku Log Mahasiswa Buku Log mahasiswa adalah buku kerja mahasiswa dalam menjawab Tugas Modul yang disampaikan dalam buku Blok. Buku ini seperti halnya Buku Pedoman Tutorial, tetapi berisikan Tugas Modul dengan halaman jawaban yang dikosongkan. Kumpulan dari buku Log setiap mahasiswa mencerminkan portofolio kegiatan belajar mahasiswa. Pada dasarnya buku Log ini bisa berupa buku Blok yang pada halaman jawaban tugas modul dikosongkan untuk diisi mahasiswa.

4.5.3.5 Lembar Observasi Tutorial Mahasiswa Lembar Observasi mahasiswa adalah perangkat alat ukur untuk menilai aktivitas tutorial mahasiswa yang diukur berdasarkan variabel parameter yang telah disebutkan diatas.

4.5.3.6 Lembar Observasi Kinerja Dosen

Untuk mengamati kinerja dosen dalam proses belajar mengajar, perlu dibuat beberapa instrumen.

Salah satunya adalah penilaian berdasarkan hasil asesmen mahasiswa sebagai stakeholder

utama. Pada lembar ini mahasiswa per individu menilai dosennya dengan parameter yang

sama, antara lain sikap dan perilaku dosen, kejelasan penjelasan/kuliah dosen, sistimatika

pembelajaran yang runtut, waktu yang disediakan dosen untuk beinteraksi dan

mendengarkan pendapat mahasiswanya, objektivitas dosen dalam menilai mahasiswa.

Bab V PEMBELAJARAN NON BLOK

Pembelajaran Non Blok adalah Proses Belajar Mengajar materi kurikulum yang tidak mengikuti Blok. Matakuliah yang termasuk dalam pembelajaran Non Blok adalah: a) materi kurikulum yang dibelajarkan dengan tujuan untuk mencapai kompetensi tertentu, yaitu Problem Based Learning (PBL), Metodologi, Tugas Akhir, Kewirausahaan, bahasa Inggris, dan Program Kerja Nyata Mahasiswa (PKNM), b) topik2 spesifik dalam pengembangan ilmu kedokteran atau pemutakhiran praktek kedokteran, meliputi Imunologi dan Kedokteran Tropik, c) kompetensi penunjang kompetensi klinik, meliputi Keselamatan Pasien, Kedokteran Forensik, Bioetika & Hukum Kedokteran. Sebagaimana disebutkan dalam Bab IV, Proses Belajar Mengajar dalam implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi di PSPD FKUB menggunakan pendekatan pembelajaran SPICES (Haarden, 2000). Metodologi (termasuk Tugas Akhir), dan PBL merupakan materi kurikulum yang akan mendasari serta mewarnai proses belajar mengajar seluruh pembelajaran Blok yang diuraikan pada Bab IV. Kedua materi ini memberikan ekspos pembelajaran melatih keterampilan belajar dan keterampilan mengembangkan ilmu sebagai dua sisi ilmu pengetahuan yakni pembelajaran dan pengembangannya, sedangkan PKNM dimaksudkan untuk memberikan pengalaman belajar kepada mahasiswa dalam berinteraksi langsung dengan masyarakat.

5.1 Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem-Based Learning / PBL)

5.1.1 Batasan Problem-Based Learning (PBL) adalah suatu pendekatan proses belajar mengajar yang terpusat pada kegiatan diskusi dalam kelompok kecil dalam konteks Masalah dalam praktek Klinis. Mahasiswa menggunakan “trigger” atau pemicu belajar dari kasus-kasus atau skenario klinik untuk mereka kembangkan menjadi tujuan belajar masing-masing. Mahasiswa melakukannya secara independen dan mendiskusikan hasil belajar masing-masing diantara mereka. Dengan demikian, maka PBL pada dasarnya bukan dan tidak berorientasi kepada Pemecahan Masalah (Problem-Solving). Maka dalam PBL, output belajar tidak merupakan tujuan. Oleh karena bukan mengutamakan output , maka PBL lebih mengedepankan proses belajar mahasiswa aktif, menggunakan “problem” sebagai pemicu belajar, mengintegrasikan beberapa disiplin ilmu terkait baik horisontal maupun vertikal, dengan “problem” klinik dan masyarakat senyatanya yang mereka identifikasi sendiri. Diskusi dalam Kelompok Kecil dalam PBL akan mengembangkan kemampuan mahasiswa melihat berbagai konsep dan prinsip ilmu kedokteran dibelakang “masalah” yang didiskusikan. Waktu yang digunakan diluar diskusi memfasilitasi pengembangan keterampilan belajar seperti literature retrieval, critical appraisal terhadap informasi yang tersedia, mencari informasi diluar informasi dosen, menggunakan teknologi informasi, yang pada akhirnya mengembangkan kemampuan belajar mandiri sebagai sendi dari Kompetensi Belajar Sepanjang Hayat yang merupakan salah satu Kompetensi Dokter yang ditetapkan oleh Konsil Kedokteran Indonesia. Setiap “masalah“ yang disampaikan sebagai “trigger” disusun sedemikian rupa dengan mengintegrasikan mekanisme fisik, biologis, dan perilaku dalam setiap masalah kesehatan. Dengan cara ini, mahasiswa akan membiasakan diri dalam proses analisis masalah, membangun hipotesis, dan menyusun tujuan belajar, serta melakukan “self inquiry“ dalam menggali informasi sesuai tujuan belajar masing-masing.

5.1.2 Kompetensi yang ingin dicapai melalui PBL Kompetensi yang ingin dicapai melalui serangkaian pembelajaran PBL selama Semester III sampai dengan VII adalah:

a. Mengembangkan kemampuan mengidentifikasi masalah-masalah klinis dan kesehatan melalui diskusi dan belajar mandiri dalam konteks skenario klinis yang diberikan kepadanya sebagai “Masalah Pasien“.

b. Mengembangkan kemampuan mengintegrasikan ilmu pengetahuan kedokteran dasar maupun klinik secara holistik dan komprehensif

c. Mengembangkan kemampuan memahami dan mengatasi berbagai masalah kesehatan baik di klinik maupun di masyarakat, berdasarkan kelimuan kedokteran.

d. Melatih mengembangkan proses “clinical reasoning” termasuk keterampilan: sintesis masalah, menyusun hipotesis, berfikir kritis terhadap setiap informasi, analisis data, dan pengambilan keputusan.

e. Mengembangkan keterampilan untuk menjadikan diri sebagai pembelajar mandiri, mencari hal-hal yang belum diketahui, serta menggunakan secara efektif sumber-sumber belajar.

f. Melalui diskusi berulang-ulang, melatih kemampuan: memimpin, bekerjasama dalam tim , berkolaborasi, menerima pendapat orang lain, dan memahami keterbatasan diri.

5.1.3 Proses Pembelajaran

a. Pembelajaran PBL dimulai setelah menyelesaikan pendidikan Semester I dan II karena dipandang telah memahami dasar dari Ilmu Kedokteran, dasar berkomunikasi, dan keterampilan dasar klinik.

b. Memperhatikan keterbatasan sumberdaya, khususnya tenaga khusus untuk menyiapkan skenario dan memfasilitasi tutorial dalam jumlah mahasiswa yang cukup besar, PSPD FKUB menggunakan PBL-hybrid sehingga pembelajaran PBL dilaksanakan pada Semester III sampai dengan Semester VII, masing-masing hanya 1 minggu setiap akhir semester.

c. Manajemen PBL dikoordinasikan langsung oleh Jurusan.

d. Sebelum dipunyai “Bank Masalah“, maka setiap “Masalah/Skenario” disusun oleh tim penyusun yang terdiri dari tim blok semester terkait.

e. Mahasiswa dikelompokkan dalam kelompok yang terdiri dari 10-15 orang.

f. Jurusan memberikan Pedoman Tutorial beserta lembar observasi yang ditentukan kepada tutor yang ditunjuk.

g. Proses Pembelajaran PBL mengikuti “The Seven Jumps“ (“7 Langkah PBL”) yang diadopsi dari Model yang dikembangkan Maastricht Universiteit (Henk Schmidt, 1989), berturut- turut :

1) Pemberian “Skenario” kepada setiap mahasiswa sebagai suatu “ill-structured problem“

2) Term Clarificationatau Que Recognition: setiap mahasiswa diminta secara mandiri mencari kata-kata kunci dibalik skenario yang diberikan 3) “Problem Identification: dari setiap kata kunci, mahasiswa secara mandiri menggali “Masalah“ dibalik kata/terminologi tersebut 4) Hypothesis Generation: setiap “masalah” yang diidentifikasi, secara mandiri, mahasiswa menyusun hipotesis tentang sebab atau dampak dari suatu masalah klinis/komunitas tersebut 5) Developing Learning-Objectives” : setiap mahasiswa menetapkan “Tujuan Belajar” masing-masing. Tujuan Belajar yang dimaksud adalah mencari informasi tentang sebab dan atau akibat dari “masalah “ yang disusunnya sebagai hipotesis pada langkah sebelumnya

6) Self Inquiry” : Mahasiswa mencari informasi terhadap langkah kelima diatas secara mandiri, baik dengan mencarinya melalui internet, perpustakaan, nara sumber, dosen yang dipandangnya relevan untuk dimintai informasi, dan sebagainya 7) Sharing the Result” : mahasiswa berdiskusi untuk saling memberi informasi terhadap hasil pencariannya masing-masing.

h. Dari proses belajar pada butir f diatas, sangat jelas bahwa proses PBL yang diselenggarakan PSPD FKUB sangat mengutamakan proses mencari, mengumpulkan, menganalisis, mengintegrasikan, mengkomunikasikan informasi ilmu, sebagai proses mengembangkan kompetensi kemandirian belajar sesuai paradigma “Learning How to Learn“ yang menjadi proses dasar Belajar Sepanjang Hayat.

i. Selama 1 minggu PBL pada setiap semester itu, mahasiswa melakukan 2 proses: proses mandiri dan proses berkelompok. Mandiri dalam mengerjakan Langkah 1 sampai dengan 5, kemudian berdiskusi kelompok untuk menyampaikan, mempertahankan, untuk akhirnya menetapkan Tujuan Belajar bersama untuk mencari informasi atas permasalahan baik masalah klinik atau masalah komunitas yang sesungguhnya dari skenario yang diberikan. Selanjutnya, mahasiswa melakukan langkah 6 secara mandiri untuk masuk kedalam langkah 7 bersama-sama.

5.1.4 Peran dan Fungsi Tutor Tutor ditunjuk oleh Jurusan dari dosen-dosen dari Laboratorium yang terkait dengan penyusunan Skenario PBL. Tutor dapat pula direkrut dari dosen Laboratorium lain atau

“stand by tutor” mengingat jumlah tutor harus mencukupi untuk memfasilitasi sesuai jumlah kelompok diskusi. Dalam diskusi kelompok, tutor berperan sebagai:

a. Membangkitkan partisipasi aktif seluruh peserta diskusi kelompok.

b. Membantu Ketua Kelompok menjaga waktu diskusi dan memelihara dinamika kelompok.

c. Memandu agar sekretaris kelompok mencatat hasil diskusi dengan tepat untuk menghindarkan deviasi pencatatan hasil kelompok kepada kesimpulan sekretaris sendiri.

a. Mencegah terjadinya side tracking yaitu penyimpangan konteks diskusi keluar dari tujuan belajar.

b. Menjaga agar Tujuan Belajar Kelompok dapat dicapai.

c. Memandu pemahaman dan pengertian yang benar atas materi diskusi, dan menyerahkan hasil tutorial serta catatan tentang hal-hal yang kurang benar, kurang dipahami, kepada koordinator PBL untuk bila perlu diberikan kuliah klarifikasi.

5.2 Metodologi

5.2.1 Batasan

Matakuliah Metodologi termasuk dalam kelompok pengembangan keterampilan non- klinik sehingga pada struktur kurikulum ditempatkan diluar pembelajaran blok. Pembelajaran MK Metodologi dibagi dalam tiga tahap, yaitu Metodologi 1 yang dibelajarkan pada Semester I, Metodologi-2 dibelajarkan pada Semester IV, dan Metodologi 3 pada Semester V.

Metodologi 1 menggunakan tema “Metode Ilmiah & Keterampilan Belajar”, merupakan rangkai pertama dari mata kuliah Metodologi secara keseluruhan. Dalam topik Metode Ilmiah, dibahas dasar-dasar filosofis ilmu pengetahuan kedokteran, konsep berpikir logis, kritis dan etis dalam memahami fakta, fenomena ilmu dan teknologi kedokteran serta menerapkan Ilmu Kedokteran sebagai proses pembelajaran berkelanjutan. Keterampilan Belajar dimaksudkan dapat membantu mahasiswa dalam hal memahami cara belajar efektif masing-masing individu dan cara efektif mengakses informasi secara umum termasuk melalui situs internet.

Metodologi 2 merupakan proses pembelajaran teori dan praktikum tentang kritisi artikel ilmiah bidang kesehatan. Pembahasan difokuskan pada praktek kritisi konsep kausalitas dalam artikel ilmiah yang banyak mendasari penemuan baru dalam keilmuan dan teknologi kedokteran (”Evidence-Based Medicine).

Metodologi 3 atau Metodologi Riset, memberikan dasar kemampuan intelektual yang terbentuk dari kemampuan berkomunikasi dan berpikir ilmiah sehingga mampu berpikir kritis dan menemukan pemecahan permasalahan secara ilmiah. Fokus bahasan dari mata kuliah ini meliputi dasar ilmiah melakukan penelitian, penulisan perumusan masalah, pengembangan kerangka konsep termasuk hipotesis penelitian, dan perancangan desain penelitian guna menjawab permasalahan penelitian. Luaran MK Metodologi-3 adalah proposal penelitian yang diharapkan menjadi dasar penyusunan Tugas Akhir mahasiswa.

5.2.2 Tujuan Kompetensi

Setelah pembelajaran Metodologi 1 diharapkan mahasiswa mampu:

1) menjelaskan konsep dan ruang lingkup ilmu pengetahuan dan penelitian kedokteran 2) memahami etika dalam penelitian kedokteran 3) mengidentifikasi dan mengelaborasi sumber ilmu dan pengetahuan dalam praktek kedokteran 4) memberikan analisis kritis, logis dan etis terhadap ilmu pengetahuan, permasalahan kesehatan dan praktek profesi kedokteran 5) mengidentifikasi sumber-sumber pengetahuan dan informasi ilmiah 6) menjelaskan peran perpustakaan dan internet sebagai sumber informasi & permasa-lahan ilmiah 7) menjelaskan strategi pencarian artikel ilmiah di perpustakaan dan internet, membaca artikel secara kritis dan efektif 8) membuat tulisan dan presentasi yang baik dan benar.

Setelah pembelajaran Metodologi 2 diharapkan mahasiswa mampu:

Melakukan kritisi dan mengevaluasi hubungan kausalitas terhadap artikel ilmiah dalam bidang medis (informasi medis berdasarkan bukti) serta penggunaannya dalam membantu pengambilan keputusan klinik.

Setelah pembelajaran Metodologi 3/Metodologi Riset diharapkan mahasiswa mampu:

1) mengidentifikasi permasalahan kesehatan dan mampu merancang upaya pemecahan permasalahan kesehatan tersebut ke dalam bentuk penulisan proposal penelitian dengan menggunakan kaidah penulisan ilmiah yang benar. 2) melakukan publikasi ilmiah.

5.2.3 Proses Pembelajaran

Metodologi 1 dibelajarkan dalam bentuk tatap muka dan secara berkelompok mahasiswa diberi tugas menyusun karya ilmiah sederhana menggunakan metode ilmiah yang berisi kritik etik terhadap masalah kesehatan di masyarakat. Tugas kelompok diseminarkan pada akhir pembelajaran. Evaluasi hasil belajar adalah gabungan antara nilai ujian, karya ilmiah dan seminar.

Metodologi 2 dibelajarkan dalam bentuk tatap muka dan diskusi kelompok kecil dalam menyelesaikan tugas-tugas modul. Mahasiswa secara individu membuat laporan tugas kritisi

ilmiah terhadap laporan penelitian tentang bidang kesehatan klinik dan masyarakat (agen etiologik/patomekanisme/diagnosis/terapi/prognosis). Evaluasi hasil belajar adalah gabungan antara nilai ujian, tugas dan diskusi.

Metodologi 3 difokuskan pada pengembangan proses berpikir ilmiah melalui proses penelitian yang dituangkan dalam bentuk penulisan perencanaan kajian suatu permasalahan atau proposal. Metodologi 3 dibelajarkan dalam bentuk kuliah dan bimbingan dalam penyusunan serta presentasi proposal penelitian. Evaluasi hasil belajar adalah gabungan antara nilai ujian teori dan nilai proposal.

5.3 Tugas Akhir

5.3.1 Batasan Tugas Akhir merupakan karya ilmiah dalam bidang/cabang ilmu tertentu yang ditulis berdasarkan hasil penelitian laboratorik maupun lapangan, studi kepustakaan, atau tugas lain yang telah ditentukan oleh Fakultas. Pelaksanaan Tugas Akhir adalah wajib ditempuh mahasiswa PSPD FKUB sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan gelar kesarjanaan.

5.3.2 Syarat-syarat melaksanakan Tugas Akhir

a. Terdaftar sebagai mahasiswa pada tahun akademik yang bersangkutan

b. IP Kumulatif sekurang-kurangnya 2,00

c. Telah lulus matakuliah Metodologi Riset dengan nilai sekurang-kurangnya C.

5.3.3 Waktu penyelesaian Tugas Akhir

a. Tugas Akhir dilaksanakan pada Semester VI dan atau selambat-lambatnya selesai pada akhir Semester VII.

b. Perpanjangan waktu harus mendapatkan persetujuan Dekan / Ketua Jurusan dengan tata

cara yang ditentukan oleh Fakultas.

5.3.4 Bimbingan Tugas Akhir

a. Jumlah Pembimbing Seorang mahasiswa yang melaksanakan Tugas Akhir, dibimbing oleh dua orang yang terdiri dari 1 (satu) orang Pembimbing I dan 1 (satu) orang Pembimbing II. Penyimpangan persyaratan di atas ditentukan oleh Dekan atas usul Tim Tugas Akhir.

b. Penentuan Pembimbing 1) Dekan menentukan Pembimbing I dan Pembimbing II atas usul Tim Tugas Akhir. 2) Pembimbing II dapat berasal dari luar Fakultas selama diperlukan 3) Dosen luar biasa atau dosen tamu dapat diusulkan menjadi Pembimbing I atau Pembimbing II.

c. Syarat Pembimbing 1) Pembimbing I adalah dosen yang memiliki kepangkatan serendah-rendahnya Lektor bagi pemegang ijazah minimal S2 (Magister); atau Asisten Ahli bagi pemegang ijazah S3 (Doktor); atau Spesialis; atau Spesialis Konsultan. 2) Pembimbing II adalah dosen dengan kepangkatan serendah-rendahnya Lektor bagi pemegang ijazah minimal S2 (Magister); atau Asisten Ahli bagi pemegang ijazah S3 (Doktor); atau Spesialis; atau Spesialis Konsultan .

d. Tugas dan Kewajiban Pembimbing 1) Tugas dan kewajiban Pembimbing I adalah:

Membantu mahasiswa dalam mencari permasalahan yang dijadikan dasar penyusunan Tugas AkhirPembimbing 1) Tugas dan kewajiban Pembimbing I adalah: Membimbing mahasiswa dalam menyelesaikan Tugas Akhir

Membimbing mahasiswa dalam menyelesaikan Tugas Akhir Membimbing mahasiswa dalam penulisan Tugas Akhir.kewajiban Pembimbing I adalah: Membantu mahasiswa dalam mencari permasalahan yang dijadikan dasar penyusunan Tugas Akhir

2) Tugas dan kewajiban Pembimbing II adalah membantu Pembimbing I dan melengkapi pembimbingan Tugas Akhir mahasiswa.

5.3.5 Proses penyusunan Tugas Akhir

a. Mahasiswa mengajukan judul penelitian pada saat pembelajaran Metodologi Riset, kemudian melalui pembimbingan oleh 1 (satu) orang fasilitator akan disusun proposal

Tugas Akhir.

b. Fasilitator pada matakuliah Metodologi Riset tersebut selanjutnya akan bertindak sebagai Pembimbing I dalam pelaksanaan Tugas Akhir.

c.Di dalam proses pelaksanaan Tugas Akhir, mahasiswa akan mendapatkan Pembimbing II

yang distribusinya diatur oleh Tim Pengelola Tugas Akhir.

d. Mahasiswa harus mendapatkan pernyataan layak etik dari Tim Kelayakan Etik Penelitian apabila penelitian Tugas Akhir menyangkut manusia dan hewan coba.

e. Setelah selesai melaksanakan penelitian /penelusuran studi pustaka yang ditulis dalam bentuk naskah Tugas Akhir, hasilnya akan diuji oleh Tim Penguji.

5.3.6 Ujian Tugas Akhir

a. Ujian Tugas Akhir program Sarjana bersifat komprehensif. Yang dimaksud komprehensif adalah penguji boleh mengajukan pertanyaan yang sifatnya mengingatkan kembali materi

pembelajaran Dasar Kedokteran.

b. Ujian Tugas Akhir dilaksanakan secara lisan dan bertujuan untuk mengevalasi mahasiswa dalam penguasaan ilmu dan penerapan teknologi sesuai dengan bidang yang dikaji.

c.Majelis Penguji ditetapkan oleh Dekan atas usul Tim Pengelola Tugas Akhir.

d. Susunan Majelis Penguji terdiri dari Pembimbing I & II sebagai anggota, dan seorang penguji di luar pembimbing merangkap sebagai Ketua.

e. Ketua Penguji adalah dosen / tenaga lain yang berkompeten dibidangnya yang ditentukan oleh Dekan atas usul Tim Pengelola Tugas Akhir.

f. Tugas Majelis Penguji:

1) Ketua Penguji bertugas memimpin dan mengatur kelancaran pelaksanaan ujian 2) Majelis Penguji bertugas menguji dan memberikan penilaian pada kandidat Sarjana Kedokteran 3) Menentukan kelulusan kandidat Sarjana Kedokteran dan menyampaikan hal-hal yang terkait dengan penyelesaian pelaksanaan Tugas Akhir 4) Menentukan tugas-tugas/ ketentuan lain yang harus dipenuhi oleh kandidat yang dinyatakan tidak lulus.

5.3.7 Waktu Ujian Tugas Akhir

a. Waktu yang disediakan untuk ujian Tugas Akhir Sarjana Kedokteran sebanyak-banyaknya adalah 2 (dua) jam.

b. Mahasiswa yang telah dinyatakan lulus dalam Berita Acara Ujian Tugas Akhir diperbolehkan mendaftar yudisium Sarjana.

5.3.8 Penyusunan Tugas Akhir berbahasa Inggris

a. Bagi mahasiswa yang menyusun Tugas Akhir menggunakan bahasa Inggris, diberikan satu pembimbing tambahan (Pembimbing III) dari Laboratoriunm Bahasa Inggris.

b. Pembimbing III bertugas memberikan bimbingan dalam hal penyusunan kalimat meng- gunakan kaidah bahasa Inggris yang baik dan benar

c. Pembimbing III tidak menjadi penguji pada ujian Tugas Akhir.

5.3.9

Karya Tulis Ilmiah pengganti Tugas Akhir

a. Karya tulis ilmiah yang berupa penelusuran studi pustaka yang dinyatakan menang di tingkat Universitas Brawijaya dalam rangka mengikuti lomba karya tulis ilmiah dapat diterima sebagai pengganti Tugas Akhir tanpa melalui ujian Tugas Akhir.

b. Karya ilmiah kreatif tertulis dalam bidang ilmu yang sesuai, yang disusun mahasiswa

dibawah pengawasan dan arahan dosen yang berkompeten, yang disajikan dalam suatu seminar nasional/internasional dapat diakui setara dengan Tugas Akhir. c. Karya tulis ilmiah berupa penelitian yang didanai dan dinyatakan layak mengikuti PIMNAS yang diadakan oleh Kementerian Pendidikan Nasional dapat menggantikan karya tulis ilmiah Tugas Akhir tanpa melalui ujian Tugas Akhir.

d. Karya tulis ilmiah pada butir a s/d c diatas diserahkan kepada Tim Pengelola Tugas Akhir dalam bentuk format Tugas Akhir yang telah ditetapkan, dengan menyertakan SK Dekan.

5.4 Program Kerja Nyata Mahasiswa(PKNM)

5.4.1 Batasan PKNM merupakan bentuk pendidikan dengan cara memberikan pengalaman belajar kepada mahasiswa untuk berinteraksi langsung dengan Pokmas (Kelompok Masyarakat) atau Masyarakat Mitra Kegiatan (Masyarakat Kampus atau di luar kampus), dan secara langsung mengidentifikasi serta berupaya ikut menangani masalah-masalah yang dihadapi pokmas tersebut. Kegiatan PKNM merupakan kegiatan intrakurikuler. PKNM merupakan bentuk KKN (Kuliah Kerja Nyata) di Fakultas Kedokteran UB yang dimaksudkan untuk memberikan pengalaman belajar dan pengalaman kerja nyata, serta mendewasakan kepribadian dan memperluas wawasan mahasiswa.

5.4.2 Tujuan Kompetensi Melalui kegiatan PKNM mahasiswa diharapkan mampu menguasai:

Pemahaman pendekatan interdisiplin Pemahaman manfaat IPTEK tepat guna dan keterampilan penerapannya Pemahaman kehidupan masyarakat dan permasalahannya Pemberdayaan cara berpikir profesional dan kepedulian sosial

5.4.3 Pelaksanaan Pembelajaran Pada prinsipnya PKNM merupakan program yang banyak terkait dengan kegiatan pengabdian masyarakat namun termasuk dalam kegiatan akademis. Kegiatan pengabdian masyarakat sendiri adalah semua kegiatan di luar kegiatan penelitian dan kegiatan penelitian. Kegiatan pengabdian masyarakat merupakan bagian dari program Pengembangan Masyarakat (community development). Kegiatan-kegiatan pengembangan masyarakat dimaksudkan untuk tercapainya perilaku sehat yang berkelanjutan. Oleh karena itu, dari PKNM yang berkesinambungan diharapkan dapat mengubah pengetahuan, sikap, dan perilaku masyarakat secara sustainable.

5.4.3.1 Unsur PKNM Kegiatan-kegiatan dalam PKNM hendaknya mengandung unsur kegiatan berikut:

a. Pelayanan Masyarakat (community services)

Pelayanan kepada masyarakat dimaksudkan sebagai kegiatan public outreach untuk lebih memperkenalkan keberadaan PKNM kepada masyarakat luas baik yang menjadi sasaran langsung maupun bukan sasaran langsung dari kegiatan. Pelayanan masyarakat ini dapat berupa: pencegahan primer, pencegahan sekunder (tindakan kuratif), pencegahan tersier (rehabilitatif).

b. Pemberdayaan Masyarakat (community empowering) Pemberdayaan masyarakat dilakukan melalui kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan memberikan akses yang lebih luas kepada masyarakat untuk menunjang kemandiriannya. Kegiatan ini meliputi: pelatihan untuk meningkatkan skill, wawasan, mengubah mindset, atau untuk meningkatkan penghasilan, pendampingan masyarakat secara berkala bagi

keluarga rawan gizi, pembentukan kader dari kalangan masyarakat setempat, kunjungan lapangan bagi masyarakat, studi banding bagi masyarakat.

c. Hubungan Masyarakat (community relation)

Kegiatan ini berkaitan dengan pengembangan kesepahaman yang dilakukan melalui komunikasi dan informasi kepada pihak-pihak terkait. Kegiatan ini meliputi: penyuluhan kesehatan secara langsung kepada masyarakat, dan penyelenggaraan konsultasi kesehatan di sekolah.

5.4.3.2 Bentuk Kegiatan PKNM

Kegiatan PKNM meliputi 2 kegiatan yaitu ”Pembekalan” dan ”Kegiatan Lapangan”.

a. Pembekalan, terdiri dari:

Latihan pembekalan yang diberi beban 1 sks Evaluasi pembekalan berupa ujian pembekalan yang akan diperhitungkan dalam nilai akhir pembekalan Mahasiswa dengan SKK (satuan kredit kegiatan) lebih dari 3 tetap wajib mengikuti pembekalan dan ujian pembekalan.

b. Kegiatan Lapangan:

Beban kegiatan lapangan adalah 2 sks yang diselesaikan dalam 1 (satu) semester, dihitung 8 jam per hari yang setara dengan 10 hari per 1 sks. Bagi mahasiswa yang mengumpulkan SKK ≥ 3 dapat menggantikan 1 sks kegiatan lapangan. SKK sama dengan 3 adalah apabila mengikuti PK2Maba dan Krida Mahasiswa (wajib hadir 80%), serta mengikuti 3 dari kegiatan kemahasiswaan sebagai berikut: penalaran, bakat-minat, organisasi, olahraga, seni, bakti sosial/pengabdian masyarakat. Kegiatan lapangan PKNM terdiri dari:

1) Diagnosis awal di komunitas 2) Pembuatan proposal 3) Kegiatan intervensi di komunitas 4) Pembuatan laporan 5) Presentasi di kampus.

Bab VI

KETERAMPILAN (SKILL) DAN KETERAMPILAN KLINIK (CLINICAL SKILL)

6.1 Keterampilan & Keterampilan Klinik

6.1.1 Batasan

a. Keterampilan Klinik, menurut Konsil Kedokteran Indonesia, adalah kegiatan mental dan atau fisik yang terorganisasi serta memiliki bagian-bagian kegiatan yang saling bergantung dari awal hingga akhir. Dalam melaksanakan praktik dokter, lulusan dokter perlu menguasai keterampilan klinik yang akan digunakan dalam membangun diagnosis maupun menyelesaikan suatu masalah kesehatan. Keterampilan klinik ini perlu dilatihkan sejak awal pendidikan dokter secara berkesinambungan hingga akhir pendidikan dokter. Keterampilan Klinik (clinical skill) merupakan bagian dari kompetensi dokter dalam hal keterampilan mengaplikasikan Ilmu Kedokteran terhadap seorang pasien berdasarkan prosedur kedokteran dalam setting praktik klinik (clinical procedure).

b. Profesionalisme Dokter ditentukan dari kemampuannya mengintegrasikan ketiga keterampilan tersebut bersama-sama dalam menjalankan tugas profesionalnya sebagai dokter.

c.Kompetensi Dokter menyiratkan integrasi 3 jenis keterampilan: 1) keterampilan menguasai ilmu kedokteran, 2) keterampilan pelayanan untuk melakukan tindakan kedokteran sesuai dengan ilmu kedokteran berdasarkan prosedur kedokteran terhadap pasien dalam praktik klinik maupun terhadap komunitas dan keluarga dalam praktik di masyarakat, dan 3) keterampilan bersikap serta beperilaku sebagai dokter dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya dibidang kedokteran dan kesehatan.

1)

Keterampilan

menguasai

Ilmu

Kedokteran,

disebut

pula

sebagai Keterampilan

Intelektual, adalah keterampilan mengakses, mengumpulkan, menganalisis, mensintesis, menyimpulkan, menyampaikan kesimpulan mengenai Ilmu Kedokteran untuk

dimanfaatkan dalam praktik di klinik, praktik di masyarakat, maupun dalam konteks pengembangan ilmu.

2)

Keterampilan

Pelayanan

kepada

Masyarakat

dalam konteks individu, keluarga,

masyarakat tertentu, dan bangsa merupakan bagian dari kompetensi dokter dalam

mengaplikasikan ilmu kedokteran berdasarkan prosedur kedokteran dalam setting

kesehatan masyarakat (community health services).

3) Keterampilan Bersikap dan Berperilaku merupakan bagian dari profesionalisme dokter dalam berkomunikasi dengan pasien dan komunitas dalam berbagai setting (anak, dewasa, orangtua, situasi pasien/komunitas yang spesifik) dalam praktik klinik dan pelayanan komunitas.

6.1.2 Tujuan Pembelajaran (Learning Objectives)

Pengembangan Keterampilan Klinik bertujuan mencapai kompetensi:

a. Belajar sepanjang hayat khususnya mampu belajar cara belajar

b. Berkomunikasi secara ilmiah khususnya berfikir kritis dan analitis

c.

Berkolaborasi, menyatakan pendapat, menghargai perbedaan pendapat, dan bekerja dalam satu tim

d. Melakukan penelitian dan menyusun karya ilmiah berdasarkan kaidah-kaidah keilmuan biomedik, kedokteran dan kesehatan

e. Berkomunikasi dengan efektif kepada pasien dan keluarganya, serta dengan sejawatnya dalam mengidentifikasi permasalahan dan memberikan pelayanan yang efektif

f. Berperilaku dan bertindak profesional kepada pasien dan kepada sejawatrnya

g. Melakukan interview medis untuk mengumpulkan informasi/temuan klinis yang relevan dan mengidentifikasi perspektif pasien

h. Melakukan pemeriksaan fisik untuk mengidentifikasi penemuan-penemuan penting sambil tetap memelihara dan menjaga harga diri (patient‟s dignity) pasien

i. Menganalisis informasi klinis menuju diagnosis dan rancangan terapi

j. Menyampaikan informasi klinis dan kesimpulan-kesimpulannya dengan tepat dalam laporan lisan maupun tertulis

k. Mengembangkan „self-awarenessterkait sikap, kepercayaan, keyakinan, dan perilaku seseorang yang dapat mempengaruhi prakteknya sebagai dokter.

6.1.3 Macam Keterampilan dan Pembelajarannya

6.1.3.1 Keterampilan menguasai Ilmu Kedokteran Keterampilan ini merupakan akumulasi keterampilan: penguasaan teknologi informatika, berfikir kritis, berfikir analitis, berfikir skeptis yang teratur, berfikir sistimatis, mengidentifikasi dan memecahkan masalah. Dalam konteks implementasi KBK di Program Studi Pendidikan Dokter FKUB, keterampilan ini dibelajarkan melalui:

a. Modul Blok. Modul dalam sebuah blok disampaikan dan atau diakses mahasiswa sebelum pembelajaran blok yang bersangkutan dimulai. Di dalam modul disampaikan sejumlah tugas modul (modul task) yang harus dikerjakan mahasiswa sebelum pembelajaran blok itu dimulai. Pemberian tugas modul ini merupakan bentuk pembelajaran “student active learning” yang sekaligus bertujuan menyiapkan mahasiswa sebelum pembelajaran melalui diskusi maupun kuliah (menyiapkan prior

knowledge).

b. Problem-based Learning (PBL). PBL-hybrid diberikan kepada mahasiswa untuk berlatih keterampilan belajar (learning how to learn), belajar sistimatis, mengidentifikasi masalah kedokteran dibalik fenomena yang timbul di lapangan, menyusun hipotesis terhadap sebab maupun dampak suatu masalah kedokteran, menetapkan tujuan belajar, merancang dan melakukan “self-inquiryuntuk membuktikan hipotesis yang dibangun, mendiskusikan hasil pencarian sendiri (inquiry) dengan sesama mahasiswa.

6.1.3.2 Keterampilan Klinis (Clinical Skill)

Dalam praktik klinik sehari-hari, seorang dokter mengaplikasikan macam keterampilan klinik secara sistimatik, yaitu:

a. History Taking “ dan Keterampilan Berkomunikasi

b. Pemeriksaan Fisik

c. Pemeriksaan Penunjang

d. Membuat Diagnosis

e. Merancang Terapi dan atau Tindakan Medis

f. Membuat Laporan Medik

Pembelajaran Keterampilan Klinik dilakukan bersamaan dan menjadi bagian dari pembelajaran Blok yang relevan. Pembelajaran berlangsung dalam “Skill Laboratory System. Yang dimaksud dengan “Skill Laboratory Systemadalah bahwa pembelajaran keterampilan klinis dilakukan secara terintegrasi baik di gedung Labskill, di ruang-ruang praktikum Laboratorium terkait dengan proses pengayaan (enrichment) penguasaan Blok, di Laboratorium Sentral Biomedik FKUB, di Klinik dan Ruang Rawat Inap RS Pendidikan dan RS afiliasi/satelit Lahan Pendidikan, dan di Masyarakat.

6.1.3.3 Keterampilan Pelayanan Kepada Masyarakat Terdiri dari keterampilan memberikan informasi dan pelayanan kesehatan preventif, kuratif, rehabilitatif, dan promotif kepada msyarakat dalam konteks individu, keluarga, dan komunitas tertentu. Pembelajaran Keterampilan Pelayanan Masyarakat dilaksanakan sesuai dengan blok-blok yang terkait. Dapat pula dilaksanakan dalam kaitan dengan Program Elektif dan atau Program “Community Placement(termasuk Program Kerja Nyata Mahasiswa) oleh Laboratorium Ilmu Kesehatan Masyarakat dan Kesehatan Pencegahan (IKM-KP). Dalam konteks Pencapaian “The Five Star Doctor” (WHO, 2000), pembelajaran ini dimaksudkan juga sebagai pembelajaran untuk mencapai kompetensi: “Care Provider”, “Decision Maker”, “Communicator”, “Community Leader”, dan “Manager”.

6.1.3.4 Keterampilan Bersikap dan Berperilaku Terdiri dari keterampilan bersapa salam, berbicara sopan, berlaku santun, ber-etika, memimpin, dipimpin, berkolaborasi, dalam ikatan sebagai sesama manusia, sesama warga, dalam kehidupan beragama, berbangsa, dan bernegara. Keterampilan ini dibelajarkan dalam konteks pembelajaran Humaniora, Bioetik, dan Kode Etik Kedokteran, Komunikasi efektif, dan eksplisit dalam pembelajaran Keterampilan Klinik.

6.2 Keterampilan Klinik (Clinical Skill)

6.2.1 Jenis Pembelajaran Keterampilan Klinik

Pembelajaran Keterampilan Klinik KBK PS Pendidikan Dokter FKUB meliputi:

a. Pada Semester I-II 1) Dasar-dasar Keterampilkan Berkomunikasi 2) Dasar-dasar Anamenesis (“General History Taking) 3) Dasar-dasar Pemeriksaan Fisik 4) Pemeriksaan Fisik Dasar: “General Survey” dan Vital Sign” 5) Ketrampilan Basic Life Support”

b. Pada Semester III VII 1) “History Taking” khusus pada setiap Sistim 2) Pemeriksaan Fisik khusus setiap Sistim 3) Pemeriksaan Penunjang / Prosedur Diagnostik pada setiap Sistim, meliputi:

/ Prosedur Diagnostik pada setiap Sistim, meliputi: Prosedur Teknis Prosedur Laboratorik 4) Pelaporan (

Prosedur Teknis

Prosedur Laboratorik 4) Pelaporan (Reporting ): Reporting):

Diagnostik pada setiap Sistim, meliputi: Prosedur Teknis Prosedur Laboratorik 4) Pelaporan ( Reporting ): Oral Tertulis

Oral

Tertulis/ Prosedur Diagnostik pada setiap Sistim, meliputi: Prosedur Teknis Prosedur Laboratorik 4) Pelaporan ( Reporting ):

6.2.2 Organisasi Pembelajaran Keterampilan Pembelajaran keterampilan dilakukan dalam suatu “Skill Laboratory Systemyaitu sistim terpadu pemanfaatan seluruh sarana/prasarana pembelajaran untuk pembelajaran keterampil- an klinik. “Skill Laboratory Systemterdiri dari:

1) Gedung Laboratorium Keterampilan (Labskill) beserta seluruh fasilitas pembelajaran didalamnya 2) Laboratorium untuk kegiatan praktikum 3) Laboratorium untuk kegiatan pelayanan publik 4) Rumahsakit Pendidikan dan atau RS afiliasi/satelit 5) Laboratorium Sentral Biomedik.

Organisasi pembelajaran keterampilan dapat dilihat pada Gambar 6.1 berikut.

Kepala JURUSAN Laboratorium Skill-Laboratory Tim Blok Tim Skill System Koordinasi Kontributor Anggota Koordinasi
Kepala
JURUSAN
Laboratorium
Skill-Laboratory
Tim Blok
Tim Skill
System
Koordinasi
Kontributor
Anggota
Koordinasi
SDM
Skill Blok
Tim Skill
Pra/Sarana
Trainer
RANCANGAN
Materi - Tim Trainer – Jadwal
Sarana/prasarana – Instrumen PBM
PROSES PEMBELAJARAN
Organisasi
Overview - Training
Pembelajaran
SKILL
EVALUASI HASIL TRAINING
Gambar 6.1 Organisasi Pembelajaran Keterampilan
a.
b.

Dalam konteks Pembelajaran Ketrerampilan Klinik, Jurusan mmembawahi dan mengkoordinasikan kinerja 2 tim, masing-masing Tim Blok dan Tim Skill.

Tim Blok adalah tim yang berfungsi merancang, menyusun, dan mengimplemen- tasikan pembelajaran dan evaluasi hasil belajar pada setiap Blok. Dalam konteks pembelajaran Keterampilan Klinik, tim Blok harus: 1) menyusun rancangan pembelajaran keterampilan klinik menyangkut tema Blok, 2) melaksanakan, menjelaskan, mendemonstrasikan dan mengevaluasi Keterampilan Klinik pada

tingkat kemampuan Miller 1, 2, 3, 4; dan 3) bekerjasama dengan Tim Skill dan Laboratorium Klinik dalam pembelajaran di Labskill maupun saat rotasi klinik.

c. Organisasi Tim Blok terdiri dari: seorang Ketua yang menjadi Koordinator Blok/ Penanggungjawab MKK (PJMK) yang bertanggung jawab kepada Jurusan; seorang sekretaris Tim Blok, beberapa orang anggota Tim Kontributor Blok yang bertugas menyusun dan mengembangkan buku Blok dan modul pembelajaran Blok termasuk Modul Pembelajaran Keterampilan Klinik yang akan dibelajarkan dibawah koordinasi Tim Skill (bila pembelajarannya di Labskill) atau dibawah Kepala Laboratorium (bila dibelajarkan dalam konteks rotasi klinik).

d. Tim Skill adalah tim yang berfungsi: 1) merancang, mengalokasikan tempat dan waktu, mengkoordinasikan pembelajaran keterampilan klinik di Labskill. Pembelajaran keterampilan klinik dalam kerangka rotasi klinik tidak menjadi tanggungjawab tim ini melainkan oleh Laboratorium Klinik yang bersangkutan, 2) mengeluarkan Surat Keterangan tercapai atau belum tercapai nya kompetensi keterampilan klinik mahasiswa saat belajar di Labskill.

e. Tim Blok dan Tim Skill menunjuk staf dosen sebagai Tim Pelatih (trainer) yang akan membelajarkan dan mengevaluasi keterampilan klinik di Labskill. Kepala Laboratorium Klinik menugaskan staf dosen di Laboratoriumnya untuk membelajarkan keterampilan klinik dalam rangka rotasi di Laboratorium terkait.

f. Dalam konteks pembelajaran Keterampilan Klinik, Kepala laboratorium menugaskan Penanggung Jawab Pembelajaran (PJP) untuk bergabung dengan Tim Skill dalam hal merancang, melaksanakan, mengevaluasi keterampilan klinik dibawah koordinasi Tim Blok.

g. Koordinator Labskill menyediakan pra/sarana pembelajaran sesuai dengan keperluan Tim Skill. Sarana dimaksud adalah sarana pembelajaran yang dimiliki Labskill termasuk instrumen observasi keterampilan.

h. Jika disimpulkan, koordinasi pembelajaran Keterampilan Klinik adalah sbb.:

1) Jurusan mengkoordinasikan Tim Blok dan Tim Skill 2) Kepala Laboratorium menyediakan staf dosen di Laboratoriumnya untuk diusulkan/ditetapkan menjadi anggota tim pembelajaran keterampilan klinik di Labskill melalui Surat Tugas Jurusan. Kepala Laboratorium menetapkan staf dosen di laboratoriumnya untuk membelajarkan dan mengevaluasi keterampilan klinik dalam rotasi klinik dibagiannya. Hasil evaluasi keterampilan klinik di laboratorium/bagian bersama hasil evaluasi pembelajaran dalam rangka rotasi, ditentukan oleh Kepala Laboratorium dan dinyatakan sebagai lulus atau tidak lulus dalam rotasi dibagiannya. 3) Tim Blok bertanggungjawab akan isi materi pembelajaran keterampilan klinik termasuk menyusun instrumen evaluasi proses dan luaran (output) pembelajaran keterampilan klinik untuk disimpan dan digandakan oleh Koordinator Labskill. 4) Tim Skill bertanggungjawab atas koordinasi penyelenggaraan pembelajaran Keterampilan klinik di Labskill. 5) Koordinator Labskill bertanggungjawab untuk memenuhi kebutuhan pembelajaran keterampilan klinik yang dijadwalkan Tim Skill termasuk sarana/prasarana dan instrumen observasi dan evaluasi keterampilan klinik terkait. 6) Rancangan, pembelajaran, dan evaluasi keterampilan dilakukan oleh Tim Blok dan anggota Tim Skill.

7) Hasil evaluasi keterampilan klinik dalam bentuk skor disampaikan kepada Ketua Tim Blok untuk bersama-sama dengan hasil pembelajaran Blok lainnya diukur dan dikonservasikan kedalam Nilai Kompetensi Blok terkait.

8)

Tim Skill mengevaluasi dan mengeluarkan Surat Keterangan tercapai atau tidak tercapainya kompetensi keterampilan klinik.

6.2.3 Tingkat Kemampuan Keterampilan Klinik Daftar keterampilan klinis dikelompokkan menurut bagian atau departemen terkait. Pada setiap keterampilan klinik ditetapkan tingkat kemampuan menggunakan Piramid Miller (knows, knows how, shows, does) yang diharapkan dicapai oleh mahasiswa di akhir pendidikan. Pembelajaran keterampilan klinik disesuaikan dengan tingkat kemampuan yang harus dimiliki seorang dokter umum dalam praktik klinik. Tingkat kemampuan keterampilan klinik didasarkan pada konsep Piramida Miller, sebagai berikut :

a. Tingkat Kemampuan 1: Mengetahui dan Menjelaskan Lulusan dokter memiliki pengetahuan teoritis mengenai keterampilan ini, sehingga dapat menjelaskan kepada teman sejawat, pasien maupun klien tentang konsep, teori, prinsip maupun indikasi, serta cara melakukan, komplikasi yang timbul, dan sebagainya.

Tingkat kemampuan ini dibelajarkan dalam 1 paket pembelajaran blok MKK dibawah tanggungjawab tim blok. Modul pembelajarannya terintegrasi dalam modul-modul blok. Evaluasinya merupakan bagian dari evaluasi MKK (blok).

b. Tingkat Kemampuan 2: Pernah Melihat atau pernah didemonstrasikan Lulusan dokter memiliki pengetahuan teoritis mengenai keterampilan ini (baik konsep, teori, prinsip maupun indikasi, cara melakukan, komplikasi, dan sebagainya). Selain itu, selama pendidikan pernah melihat atau pernah didemonstrasikan keterampilan ini.

Tingkat kemampuan ini dibelajarkan dalam 1 paket pembelajaran blok MKK dibawah tanggungjawab Tim Blok. Modul pembelajarannya terintegrasi dalam modul-modul blok. Demonstrasi dapat dilakukan oleh tim Blok di ruang kelas atau ruang Labskill (per Sistim). Evaluasinya merupakan bagian dari evaluasi MKK (blok).

c. Tingkat kemampuan 3: Pernah melakukan atau pernah menerapkan di bawah supervisi Lulusan dokter memiliki pengetahuan teoritis mengenai keterampilan ini (baik konsep, teori, prinsip maupun indikasi, cara melakukan, komplikasi, dan sebagainya). Selama pendidikan pernah melihat atau pernah didemonstrasikan keterampilan ini, dan pernah menerapkan keterampilan ini beberapa kali di bawah supervisi.

Tingkat kemampuan ini dibelajarkan dalam 1 paket pembelajaran blok MKK dibawah tanggungjawab Tim Blok. Modul pembelajarannya terintegrasi dalam modul-modul blok. Demonstrasi baik dalam bentuk simulasi manekin maupun simulasi pasien dilakukan oleh tim Blok di ruang kelas atau ruang Labskill (per Sistim) dibawah koordinasi Tim Blok. Evaluasinya merupakan bagian dari evaluasi MKK (blok).

d. Tingkat kemampuan 4: Mampu melakukan secara mandiri Lulusan dokter memiliki pengetahuan teoritis mengenai keterampilan ini (baik konsep, teori, prinsip maupun indikasi, cara melakukan, komplikasi, dan sebagainya). Selama pendidikan pernah melihat atau pernah didemonstrasikan keterampilan ini, dan pernah menerapkan keterampilan ini beberapa kali di bawah supervisi serta memiliki pengalaman untuk menggunakan dan menerapkan keterampilan ini dalam konteks praktik dokter secara mandiri.

Tingkat kemampuan ini dibelajarkan dalam 1 paket pembelajaran blok MKK dibawah tanggungjawab Tim Blok. Modul pembelajarannya terintegrasi dalam modul-modul blok. Demonstrasi baik dalam bentuk simulasi manekin maupun pasien “volunteer” atau

“standardized“ dilakukan oleh Tim Blok di ruang kelas, ruang Labskill (per Sistim) dibawah koordinasi Tim Blok, dan dibawah koordinasi Kepala Laboratorium Klinik yang bersangkutan apabila dalam rotasi klinik. Evaluasinya merupakan bagian dari evaluasi MKK (Blok). Skor skill digabungkan kedalam Nilai MKK dengan pembobotan tertentu untuk menjadi bagian dari Nilai Kompetensi, sedang Tim Skill memberikan keterangan tercapai atau tidak tercapainya kompetensi keterampilan klinik Miller 4 ini (lihat Bab Evaluasi).

6.2.4 Keterampilan Berkomunikasi Keterampilan berkomunikasi dibelajarkan dalam 2 fase pendidikan. Fase pertama, yaitu pada paruh pertama Semester I diberikan Dasar Komunikasi. Materi ini disampaikan dalam bentuk kuliah/tatap muka tentang Konsep & Prinsip Komunikasi, dan praktik keterampilan di Labskill tentang komunikasi dokter-pasien. Pembelajaran keterampilan ini dilakukan dalam kelompok-kelompok didampingi Tutor Komunikasi bertempat di Labskill atau tempat lain yang disediakan oleh Koordinator Labskill. Selama proses pembelajaran, dilakukan observasi menggunakan instrumen observasi Praktik Keterampilan Komunikasi. Setiap kali pembelajaran diakhiri dengan pemberian umpan-balik (feedback). Tutor menuliskan skor dalam lembar obervasi, menandatangani dan menyerahkannya kepada PJMK Komunikasi. Fase kedua, keterampilan komunikasi diintegrasikan kedalam pembelajaran “History Taking”. Pengintegrasian ini dilakukan berdasarkan sudut pandang, bahwa pada dasarnya “History Taking” menyangkut anamnesis tentang apa yang akan ditanyakan/ informasi yang akan dicari, sedangkan “Communication Skill” menyangkut bagaimana menanyakan/mencari informasinya. Keduanya akan bersinergi dalam membentuk kompetensi keterampilan bertanya/menggali informasi. “History Taking” akan menjadi optimal bila dilakukan dengan cara berkomunikasi yang efektif. Sebaliknya sangat sukar menggali informasi apabila cara berkomunikasi tidak efektif apalagi sampai menimbulkan penolakan (rejection) pasien untuk memberi informasi. Informasi yang disampaikan pasien umumnya dalam bentuk/istilah keseharian, sepenggal-sepenggal, dan karena kultur kadang-kadang bahkan tidak disampaikan meskipun sesungguhnya merupakan informasi vital yang ingin diperoleh dokter. Sementara itu, dokter tentu tidak dapat menggunakan terlampau banyak istilah medis yang tidak diketahui oleh pasien, sehingga “History Taking” tidak akan maksimal. Pada Semester III dan selanjutnya, “History Taking” dan Komunikasi dibelajarkan sesuai dengan sistim terkait.

6.2.5 Dasar-Dasar Anamnesis (“General History Taking) Materi integrasi antara “Communication Skilldan “History Takingharus merupakan milestonedalam melakukan anamnesis, terdiri dari:

a. Aspek Komunikasi 1) Persiapan Anamnesis Relaksasi diri, mereview catatan medik sebelumnya, menyiapkan catatan 2) Menetapkan urutan anamnesis: dimulai dari membuka interview, bertutur dan bersikap selama interview, menutup interview, dan mengkomunikasikan hasil interview dan rancangan tindakan yang akan diambil kepada pasien 3) Membangun hubungan dengan pasien Teknik anamnesis meliputi: menjadi pendengar aktif, pertanyaan terarah, komunikasi non verbal, respons empati, validasi informasi, menyimpulkan, menguatkan hati pasien. 4) Menyesuaikan interview pada kondisi spesifik

Keterampilan menghadapi pasien: diam tak mau berkomunikasi, bingung, kapasitas berbicara terbatas, banyak bicara, marah, tersinggung, berbeda bahasa dasar, kurang

cerdas, agak tuli, buta, intelegensi terbatas, atau membutuhkan nasihat pribadi 5) Mengkomunikasikan topik sensitif Berkomunikasi tentang hal-hal sensitif seperti riwayat seksual, kesehatan mental, pengguna alkohol dan narkoba, kekerasan dalam keluarga, kasus kritis menuju kematian.

b. Aspek sosial dalam interview Kemampuan menyikapi perbedaan budaya,gender, pasien baru/lama.

c. Tujuh (7) Aspek “History Taking” 1) Identifikasi data dan sumber anamnesis: usia, gender, pekerjaan, status perkawinan, otoanamnesis / heteroanamnesis 2) Keluhan Utama 3) Present Illness4) Riwayat Penyakit 5) Riwayat Keluarga 6) Riwayat Diri dan Sosial 7) Review Sistem

6.2.6 Pemeriksaan Fisik Dasar (Basic Physical Examination)

Pemeriksaan Fisik Dasar teridiri dari 3 kegiatan pembelajaran yaitu: “General Survey”, Tanda-Tanda Vital, dan Pemeriksaan Fisik Dasar per Regional

a. General SurveyPemeriksaan fisik dasar meliputi Pemeriksaan Dasar Neonatus, Anak, Remaja, Dewasa, Wanita Hamil, dan Orangtua menyangkut penampilan umum pasien :

1) Status Mental: kesadaran, cara berjalan dan gerakan motorik, cara berpakaian, kebersihan pribadi (bau badan dan mulut), ekspresi wajah, fungsi-fungsi kognitif 2) Tanda-tanda distress : cardiac - respiratory distress, nyeri, cemas, depresi 3) Warna dan Lesi pada kulit, rambut, dan kuku 4) Berat dan tinggi badan 5) Obese, cachexia 6) Pemeriksaan “Body Mass Index (BMI)”

Agar supaya keterampilan psikomotorik dapat dikembangkan menjadi kompetensi yang komprehensif, maka interpretasi lebih lanjut dari “General Surveyyang diperoleh akan dibelajarkan pada Sistim-Sistim yang terkait misalnya:

1) Status mental di belajarkan lebih lanjut pada Sistim Saraf dan Jiwa 2) Obese, cachexia, berat dan tinggi badan, pemeriksaan BMI dibelajarkan lebih lanjut pada topik Nutrisi 3) Tanda-tanda distress dibelajarkan lebih lanjut pada Sistim Kardiovaskuler, Sistim Respirasi, dan Psikiatri.

b. Tanda-Tanda Vital 1) Tekanan darah 2) Irama dan frekuensi denyut jantung 3) Irama dan frekuensi pernapasan 4) Suhu badan

5) Situasi

khusus:

melemah

atau

tidak

terdengarnya

suara

“white coat hypertension “, obese, cachexia

Korotkoff,

arrythmia,

c. Pemeriksaan fisik dasar per regional Melalui teknik pemeriksaan kardinal (inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi) terhadap:

1) Kepala dan leher termasuk tiroid 2) Thorax, termasuk: jugular venous pressure, carotid upstrokes and bruits, PMI, suara jantung ke tiga, murmur, mitral stenosis 3) Paru, payudara, axilla 4) Abdomen 5) Muskuloskeletal: extremitas superior dan inferior

6.2.7 Clinical Judgement

Dalam

konteks

membelajarkan

keterampilan

mengidentifikasi

masalah

dan

menyusun

diagnosis setelah pembelajaran keterampilan klinis dasar diatas, perlu dibelajarkan langkah- langkah keterampilan secara berurutan sebagai berikut:

a. Mengidentifikasi temuan abnormal

b. Melokalisasi temuan secara anatomis

c. Menginterpretasi temuan dalam kaitan mempelajari kemungkinan-kemungkinan proses penyakit (masalah), dan menyusun daftar masalah

d. Menyusun hipotesis terhadap setiap masalah diatas

e. Menguji hipotesis dalam rangka menegakkan diagnosis kerja

f. Mengembangkan rencana tindakan yang disetujui pasien

Pembelajaran keterampilan “Clinical Judgementdilakukan seusai pembelajaran keterampilan “History Taking” dan Pemeriksaan Fisik, bersama-sama dengan pembobotan tertentu menentukan Nilai Keterampilan Klinik Blok terkait (lihat Bab Evaluasi).

6.2.8 Prosedur Diagnostik Prosedur Diagnostik adalah keterampilan klinis melakukan pemeriksaan penunjang untuk mendukung penegakan diagnosis. Pembelajaran keterampilan Prosedur Diagnostik meliputi Keterampilan Prosedural dan Keterampilan Laboratoris. Daftar Prosedur Diagnostik yang dibelajarkan/dilatihkan sesuai dengan Daftar Prosedur Diagnostik Konsil Kedokteran Indonesia.

Keterampilan Prosedural adalah keterampilan memahami, menjelaskan, mengamati, melakukan sendiri atau dibawah supervisi (tergantung tingkat kemampuan Miller yang ditetapkan) mengenai pemeriksaan prosedural untuk mendukung diagnosis.

Keterampilan Laboratoris adalah keterampilan melakukan pemeriksaan laboratoris sederhana untuk mendukung penegakan diagnosis. Pada Semester I dan II, keterampilan Prosedur Diagnostik dikaitkan dengan pembelajaran Pemeriksaan Fisik Dasar; sedangkan pada Semester III dan seterusnya, dikaitkan sesuai dengan keperluan menunjang penegakan diagnostik penyakit-penyakit yang terkait Sistim yang dibelajarkan.

a. Laporan Medik Tertulis: menyusun dokumen Medico-legal yang digunakan dokter sehari- hari dalam follow-up pasien dan rekam medik rumah sakit, maupun dalam praktik klinik. Laporan ini memuat anamnesis, pemeriksaan fisik, garis besar differential diagnosis dan rancangan pemeriksaan lanjutan serta pengobatan. Keterampilan ini dibelajarkan dalam rotasi departemental di ruangan perawatan pasien. b. Laporan Oral: Dibelajarkan melalui kegiatan rotasi departemental, misalnya dalam “Morning Report, dan “Case Presentation.

6.2.10 “Basic Life SupportDisebut juga sebagai “Cardio-Pulmonary Rescuscitation (CP