Anda di halaman 1dari 11

Laporan

Kunjungan Delegasi Komisi I DPR RI


Ke Negara Malaysia
Tanggal 9–12 Juni 2009

A. Dasar Kunjungan

Kunjungan Delegasi Komisi I DPR RI ke Negara Malaysia


dilaksanakan atas dasar Surat Pimpinan DPR RI Nomor
65/PIMP/IV/2008-2009 tanggal 1 Juni 2009 tentang Penugasan
Delegasi Anggota Komisi I DPR RI untuk melakukan Kunjungan
Kerja ke Luar Negeri (Malaysia) dari tanggal 9 Juni 2009 sampai
dengan tanggal 12 Juni 2009 dengan susunan keanggotaan
sebagai berikut :

1. DR.Yusron Ihza,LLM (F-BPD) Ketua Delegasi


2. DR.Happy Bone Zulkarnain (F-PG) Anggota Delegasi
3. DR.Andreas H. Pareira (F-PDIP) Anggota Delegasi
4. Shidki Wahab (F-D) Anggota Delegasi
5. Drs.Djoko Susilo,MA (F-PAN) Anggota Delegasi
6. Pesta Evaria Simbolon,SE,MSi Sekretariat Delegasi

B. Tempat dan Waktu Pelaksanaan

Tanggal 9-12 Juni 2009 Komisi I DPR RI telah melaksanakan


kunjungan ke Malaysia dalam rangka pertemuan dengan
Parlemen dan Pemerintah Malaysia untuk membicarakan
Permasalahan Wilayah Ambalat (Perairan Sulawesi) yang
berbatasan dengan Malaysia.

1
C. Maksud dan Tujuan

Maksud dan tujuan kunjungan Delegasi Komisi I DPR RI :


1. Meyakinkan Parlemen Malaysia agar mendorong Pemerintah
mereka mempercepat pembicaraan Indonesia-Malaysia
mengenai Wilayah Ambalat di Perairan Sulawesi, dengan hasil
akhir berupa pengakuan Malaysia bahwa Ambalat merupakan
Wilayah Yurisdiksi Perairan/Hak Berdaulat Indonesia.

2. Meyakinkan Parlemen Malaysia agar meminta Pemerintah


mereka untuk tidak melakukan manuver-manuver (kapal,
pesawat militer ataupun kepolisian mereka) Wilayah Ambalat
dan tidak memasuki Wilayah Perairan Indonesia.

D. Persiapan Kunjungan
Dalam rangka mendapatkan informasi yang lebih mendalam
berkaitan dengan permasalahan di Wilayah Ambalat, sebelum
keberangkatannya, Delegasi Komisi I DPR RI telah mengadakan
pertemuan dengan :

1. Presiden Republik Indonesia, DR.Susilo Bambang Yudhoyono


2. Sekretaris Jenderal Departemen Luar Negeri, Drs.Imron Cotan
3. Kepala Staf TNI Angkatan Laut, Laksamana TNI Tedjo Edhy
Purdijatno.

F. Pelaksanaan Kunjungan
1. Pertemuan dengan Duta Besar RI di Malaysia
Dalam pertemuan tersebut Duta Besar Republik Indonesia
untuk Malaysia menyampaikan hal-hal sebagai berikut :
- Malaysia cenderung tidak ingin menyelesaikan sengketa
perbatasan Indonesia-Malaysia di Wilayah Ambalat dengan
mengacu pada Unclos 1982. Malaysia memandang, posisi
Wilayah Ambalat berdasarkan Peta yang dibuat Malaysia
tahun 1979.
- Malaysia berusaha mendapatkan pengakuan internasional
tentang haknya di Wilayah Ambalat. Antara lain dengan
mengadakan Workshop tentang hal tersebut dengan
mengundang para ahli hukum laut Malaysia dan luar negeri.

2
Namun para ahli kelautan tidak mendukung dan tidak
memberi pembenaran terhadap hal tersebut seperti yang
diharapkan. Para ahli hukum laut tetap mengacu pada
Unclos 1982.
- Hal lain yang dibicarakan Duta Besar adalah mengenai
tentang penganiayaan Siti Hajar, Tenaga Kerja Indonesia
yang disiksa oleh majikannya dan proses pelepasan
Manohara Odelia Pinot yang difasilitasi oleh KBRI Kuala
Lumpur.

2. Pertemuan dengan Wakil Ketua Parlemen Malaysia, Yang


Berhormat Datuk Dr. Wan Junaedi bin Tuanku Jaafar.
a. Pada kesempatan tersebut, Komisi I DPR RI menyampaikan
pokok-pokok pembicaraan sebagai berikut :
- Delegasi Komisi I DPR RI, dan Pemerintah Republik
Indonesia mempunyai kesamaan pandangan bahwa
Wilayah Ambalat adalah milik/hak berdaulat Indonesia.

- Masalah Ambalat timbul sebagai akibat dari Pemerintah


Malaysia mengeluarkan peta pada tahun 1979 yang
bertentangan dengan hukum internsional dan telah diprotes
oleh banyak negara. Dengan diratifikasinya Unclos 1982
oleh Pemerintah Malaysia dan juga Pemerintah Indonesia,
maka Delegasi Komisi I DPR RI menegaskan bahwa peta
Malaysia tahun 1979 itu seharusnya batal.

- Meminta agar Indonesia dan Malaysia dapat menjalin


komunikasi yang lebih intensif. Dalam kaitan ini,
mengusulkan agar parlemen Indonesia dan Parlemen
Malaysia dapat menjalin komunikasi antara lain melalui
pertukaran kunjungan.

- Meminta Malaysia dapat menahan diri untuk tidak melakukan


tindakan provokatif, guna menghindari reaksi-reaksi yang
tidak perlu di kalangan masyarakat di Indonesia (terlebih
menjelang dilaksanakannya Pemilu Presiden) serta
kemungkinan adanya clash yang hanya akan merugikan
hubungan bilateral ke dua negara.

3
b. Sebagai tanggapan Wakil Ketua Parlemen Malaysia
menyampaikan sebagai berikut :
- Parlemen Malaysia tidak dapat menyatakan pihak mana
yang benar atau salah dalam masalah Wilayah Ambalat.
Malaysia masih berpegang pada Peta tahun 1979. Menurut
Parlemen Malaysia, keberadaan kapal Indonesia di
Wilayah Ambalat juga dapat dikatakan sebagai
pelanggaran.
- Masalah Wilayah Ambalat sepenuhnya ditangani oleh
Pemerintah/Kabinet, tetapi pihak Parlemen akan
menyampaikan pandangan Delegasi Komisi I DPR RI ke
Anggota Parlemen dan Pemerintah Malaysia.
- Agar keadaan dan situasi di Wilayah Ambalat dapat
diredakan, Indonesia dan Malaysia perlu bersama-sama
menahan diri.
- Parlemen Malaysia setuju untuk mendorong Pemerintah
kedua negara mempercepat pelaksanaan pembicaraan
tentang Wilayah Ambalat dan Parlemen Malaysia akan
menerima apapun hasil perundingan penetapan batas
wilayah yang dilaksanakan oleh eksekutif kedua negara.
- Mendukung adanya peningkatan saling berkunjung antara
anggota Parlemen Malaysia dan Indonesia. Wakil Ketua
Parlemen Malaysia menegaskan akan meneruskan sikap,
posisi dan pandangan Parlemen RI kepada Pemerintah
Malaysia dan anggota parlemen lainnya.

3. Pertemuan dengan Menteri Pertahanan, Yang Berhormat Dato


Zahid Hamidi.
a. Hal-hal pokok yang disampaikan Delegasi Komisi I DPR RI
sebagai berikut :
- Meminta Malaysia dapat menahan diri untuk tidak melakukan
tindakan provokatif, guna menghindari reaksi-reaksi yang
tidak perlu di kalangan masyarakat di Indonesia serta
kemungkinan adanya clash yang hanya akan membawa
akibat yang merugikan hubungan bilateral kedua negara.

4
Selain tindak pelanggaran wilayah, juga telah disinggung
sikap aparat Malaysia di lapangan yang menunjukkan
’gesture’ provokatif (mengacungkan isyarat tangan yang
memotong leher).
- Meminta agar proses pembicaraan tentang Wilayah Ambalat
segera dimulai kembali, dengan menghormati hukum
international yang terkait khususnya dengan UNCLOS 1982
dan pendudukan serta pemanfaatan effektif Indonesia
terhadap Wilayah Ambalat melalui penambangan minyak
sejak tahun 1960-an. Selama ini terkesan pihak Malaysia
ingin menunda-nunda pembicaraan tentang Wilayah
Ambalat.
- Sepakat mengenai perlunya pihak Indonesia dan Malaysia
mengambil langkah-langkah untuk mengurangi ketegangan
guna menciptakan suasana yang kondusif bagi terlaksananya
pembicaraan tentang Wilayah Ambalat.

b. Menteri Pertahanan menyampaikan tanggapan kepada


Delegasi Komisi I DPR RI sebagai berikut :
- Dalam rangka meredakan ketegangan, Menteri Pertahanan
Malaysia mengusulkan agar pihak Indonesia dan Malaysia
dapat secara bersamaan mengosongkan wilayah yang
”disengketakan” dan sama sekali tidak menggelar patroli di
wilayah tersebut.
Usulan ini didengarkan, tapi tidak ditanngapi Komisi I DPR
RI.
- Malaysia konsisten menjalankan falsafah “peaceful co-
existence” dan akan terus berupaya membantu menciptakan
stabilitas dan perdamaian di Wilayah Ambalat.
- Sepakat agar pembicaraan tentang Wilayah Ambalat
dilanjutkan, sementara pembahasan mengenai penanganan
masalah di lapangan dapat dilakukan melalui Forum General
Border Committee (GBC).

5
c. Lain-lain :
Selain pertemuan dengan Menteri Pertahanan, delegasi juga
mengadakan konferensi pers bersama yang menghasilkan
pernyataan bersama (joint statement) sebagai berikut :
Indonesia dan Malaysia mencapai kesepahaman untuk
bersama-sama menahan diri di Wilayah Ambalat, serta akan
berupaya kuat agar masalah Wilayah Ambalat diselesaikan
tidak melalui perang atau kekerasan fisik.

4. Pertemuan dengan Wakil Menteri Luar Negeri Malaysia,


Mr.Khohilin Polliay
a. Delegasi Komisi I DPR RI menyampaikan pernyataan sikap
sebagai berikut :

- Meminta agar proses penggantian tim perunding Malaysia


tidak menjadi faktor penghambat pembicaraan tentang
Wilayah Ambalat dan memperlambat terlaksananya
penyelesaian masalah Wilayah Ambalat.

- Selain menyampaikan tindak pelanggaran wilayah Indonesia


oleh Kapal Patroli Malaysia, Komisi I DPR RI juga
menyampaikan sikap aparat Malaysia di lapangan yang
menunjukkan ’gesture’ provokatif.

- Meminta agar Pemerintah Malaysia mempercepat proses


hukum kasus-kasus penganiayaan terhadap Tenaga Kerja
Indonesia dan kasus pemukulan terhadap wasit karate
Indonesia.

b. Wakil Menteri Luar Negeri menyampaikan tanggapannya


sebagai berikut :
- Menyetujui segera dilanjutkannya pembicaraan kembali agar
permasalahan Wilayah Ambalat tidak berlarut-larut dan
dapat diselesaikan secara damai.
- Menyelesaikan problem yang terjadi di lapangan antara
Indonesia dan Malaysia melalui dialog.

6
- Menyampaikan bahwa pernyataan sikap yang telah
disampaikan oleh Delegasi Komisi I DPR RI akan diteruskan
kepada Menteri Luar Negeri Malaysia.

5. Pertemuan dengan Tentera Laut Diraja Malaysia, Panglima


Admiral Dato’ Sri Abdul Aziz bin Hj Jaafar RMN.
a. Beberapa pokok pikiran yang disampaikan Delegasi Komisi I
DPR RI sebagai berikut :
- Menegaskan bahwa Wilayah Ambalat (perairan Sulawesi)
adalah milik/wilayah hak berdaulat Indonesia.
- Menanyakan kebenaran informasi bahwa Malaysia telah
memperkuat kekuatan armada Angkatan Lautnya termasuk
gelar kapal selam baru di sekitar Wilayah Ambalat.

- Meminta Malaysia dapat menahan diri untuk tidak


melakukan tindakan provokatif, guna menghindari reaksi
yang tidak perlu di kalangan masyarakat di Indonesia
(terlebih menjelang dilaksanakannya Pemilu Presiden). Juga
mencegah kemungkinan adanya clash yang hanya akan
membawa akibat yang sangat merugikan bagi hubungan
bilateral kedua negara.

- Menyampaikan adanya tindakan pelanggaran yang


ditunjukkan oleh tentara patroli Malaysia di Wilayah Ambalat
dengan sikap aparat Malaysia di lapangan yang
menunjukkan ’gesture’ provokatif.

b. Tanggapan Panglima Admiral Dato’ Sri Abdul Aziz sebagai


berikut :
- Malaysia telah melakukan patroli sesuai dengan standard
operation dan kode etik yang berlaku di Malaysia. Jalur patroli
yang dilakukan oleh Malaysia adalah berdasarkan peta 1979
yang dibuat Malaysia.
- Setuju agar kedua belah pihak melakukan tindakan untuk
meredakan ketegangan.

7
- Akan menarik mundur patroli Angkatan Laut Malaysia menjauhi
Wilayah Ambalat dan akan memberikan hukuman kepada
aparat di lapangan yang tidak mematuhi instruksi.
- Malaysia sama sekali tidak mempunyai rencana memperkuat
armada Angkatan Lautnya di sekitar Ambalat. Kapal selam
yang ada hanya dipangkalkan di Kota Kinabalu.
- Angkatan Laut Malaysia tidak akan melakukan hal-hal yang
dapat merusak hubungan bilateral kedua negara.
- Menyampaikan permintaan maaf, apabila memang benar
terdapat aparat di lapangan yang menunjukkan gerak tubuh
”isyarat tangan yang memotong leher” (threatening gesture)
yang bersifat provokatif dan “pencerobohan” di Wilayah
Ambalat.

6. Lain-lain
Selain melakukan pertemuan dan pembicaraan masalah Wilayah
Ambalat dengan Parlemen dan Pemerintah Malaysia, Delegasi
Komisi I DPR RI juga menyempatkan diri menjenguk Siti Hajar,
TKI asal Indonesia, korban penganiayaan majikan di Rumah
Sakit Pusat Perubatan Universitas Malaysia.

Dalam kesempatan tersebut Delegasi Komisi I DPR RI berdialog


dengan Siti Hajar dan berjanji akan menyampaikan kasus
tersebut kepada Pemerintah Indonesia melalui DPR RI agar
kasus Siti Hajar mendapatkan perhatian khususnya bantuan
hukum secara layak serta mencegah kasus serupa menimpa
kembali Tenaga Kerja Indonesia lainnya.

8
E. Penutup

1. Secara keseluruhan sambutan pihak Malaysia baik dari


Pemerintah maupun pihak Parlemen mengenai pembicaraan
masalah Wilayah Ambalat berjalan dengan baik dan terbuka.

2. Pihak Indonesia dan Malaysia setuju agar dilakukan tindakan


untuk meredakan ketegangan dengan cara mengedepankan
dialog dan mengharapkan agar penyelesaian permasalahan
Ambalat tidak berlarut-larut serta dapat diselesaikan dengan
cara damai.

3. Kunjungan Delegasi Komisi I DPR RI ke Malaysia diharapkan


dapat menjadi masukan kepada DPR RI terutama untuk
menentukan sikap Dewan kepada Pemerintah dalam
menghadapi permasalahan di Wilayah Ambalat dengan
Malaysia ini.

4. Delegasi Komisi I DPR RI berharap agar pemerintah


menindaklanjuti hasil-hasil yang dicapai dalam misi ke
Malaysia.

Demikian laporan Kunjungan Delegasi Komisi I DPR RI ke


Malaysia ini kami sampaikan.

Jakarta, 16 Juni 2009

KETUA DELEGASI

ttd

DR.YUSRON IHZA,LLM
A- 7

9
10
11