P. 1
PDF Ami Mag26juli 0430 Am

PDF Ami Mag26juli 0430 Am

|Views: 1,699|Likes:
Dipublikasikan oleh dwimidwifery

More info:

Published by: dwimidwifery on Dec 30, 2010
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/31/2013

pdf

text

original

KESEHATAN

THE HEALTH MAGAZINE FOR INDONESIAN HEALTH WORKERS PUBLISHED BY AIDE MÉDICALE INTERNATIONALE MAJALAH KESEHATAN UNTUK PEKERJA KESEHATAN INDONESIA DIPUBLIKASIKAN OLEH AIDE MÉDICALE INTERNATIONALE

ISSUE 3 / JULY 2006 EDISI 3 / JULI 2006

MATERNAL HEALTH:

KESEHATAN IBU:

For a safe motherhood

Untuk Keselamatan Ibu
NOT FOR SALE / TIDAK DIPERJUALBELIKAN

CONTENTS AND EDITORIAL

EDITORIAL
The first issue of Health Messenger was dedicated to “Mental Health”. The second one to “Communicable diseases”. The third one is focusing on “Maternal health”: we do not pretend to cover this very important theme in just one issue, but it should enable you to rely on basic elements of mother and child health. You will be able to refer to it for your consultations, but also in trainings, as well as during information and prevention campaigns. As for the previous issues of Health Messenger, this choice is a feedback from the field: problems that have been identified by Acehnese health workers, by AMI’s medical staff, and by different actors of the public health system of NAD. If primary health care is starting to be operational, maternal health seems to be slower to be put into place, despite a growing number of trained midwives. With regards to maternal health, the Indonesian health system is very sophisticated: through Polindes and Posyandu, health workers are present in the most remote areas, whether it is for prevention or for healing. Thus, for the Puskesmas, the link between the villages is performed through the Polindes and the management of these proximity structures and their teams is a major part of the work of the Puskesmas. The challenge is now to totally rebuild this system, integrating former conflict-affected areas. Several partners joined us for this third edition: International Rescue Committee (IRC), UNFPA, Enfants réfugiés du monde (ERM), JHPIEGO, Handicap International (HI), UNICEF, Aceh Partnerships In Health (APIH), BRR Aceh and Nias, Ikatan Bidan Indonesia (IBI), Pharmaciens sans frontières – Comité international (PSF-CI), and as usual, the WHO office-Banda Aceh and the PHO who proofread the articles. We thank them all for making this HM n°3 a really pluralist issue. While distributing Health Messenger n°2, we did a first evaluation of the efficiency of the distribution system, which enabled us to know who reads our magazine and where. We would like here to thank all the health workers who took the time to answer our questions, as well as those who, using the Questionnaire enclosed in the magazine, sent us their remarks and suggestions. What is significant for us is that the magazine definitely corresponds to a need here in NAD, and is really appreciated by its readers and users: 82% of the interrogated persons (75% of them are working in Puskesmas) knew HM n°1. And 95% of those had read it, 65,67% had shared it with their colleagues ; 50% of our readers have received HM by AMI’s distribution teams. The evaluation also shows that if HM does fulfill its role as a health information vector, it is still not used as we wish it would be for trainings. Many of you asked for Health Messenger to be published monthly. As regards to the time needed for the production of one magazine, it is so far impossible. Your suggestions for more illustrations, and concrete cases, will be taken into account. Many of you also mentioned that there is a need for information and training material on nutrition, HIV/AIDS, Bird Flue, which hopefully we will tackle in our next issues. Enjoy your reading and we will meet again in November 2006 with Health Messenger n°4. Philippe Léger, Head of Mission AMI Indonesia and Julie Chansel, Publication manager HEALTH MESSENGER N° 03

Contents
NEwS 02 IN OUR COUNTRY 04 Guidelines on drug donations PUBLIC HEALTH 06 Maternal health policy Family planning GENERAL HEALTH 14 How to do ANC and PNC Danger signs during pregnancy Instrument processing Management of normal delivery Danger signs during delivery Newborn assessment Newborn resuscitation Orthopaedic problems MEDICINE 34 Drugs to avoid during pregnancy REPRODUCTIVE HEALTH 36 what is reproductive health? Female genital cutting HEALTH EDUCATION 40 Good hygiene principle Tetanus immunization NUTRITION 44 Iron and folic acid during pregnancy MOTHER AND CHILD 46 The arousal of the newborn Breastfeeding TO GO DEEPER 50 Pregnancy and Malaria Pregnancy and AIDS SOCIETY 56 TBAs and the community A delivery kit for TBAs VIEwPOINT 62 Improving maternal health qUESTIONNAIRE 64

Photo AMI 2006

MATERNAL HEALTH: FOR A SAFE MOTHERHOOD

DAFTAR ISI DAN EDITORIAL

Daftar isi
03 BERITA 05 DI NEGARA KITA Ketentuan Donasi Obat 07 KESEHATAN PUBLIK Kebijakan Kesehatan Ibu Keluarga Berencana 15 KESEHATAN UMUM Bagaimana Melakukan ANC dan PNC Tanda Bahaya Selama Kehamilan Pemrosesan Alat Manajemen Partus Normal Tanda Bahaya Saat Melahirkan Pemeriksaan Bayi Baru Lahir Resusitasi Bayi Baru Lahir Masalah Ortopedis 35 OBAT Obat yang Harus Dihindari Selama Hamil 37 KESEHATAN REPRODUKSI Apakah Kesehatan Reproduksi Itu? Sunat Perempuan 41 PENDIDIKAN KESEHATAN Prinsip Higienitas yang Bagus Imunisasi Tetanus 45 GIZI Zat Besi dan Asam Folat Selama Hamil 47 IBU DAN ANAK Mendampingi Bayi Baru Lahir Menyusui Bayi 51 LEBIH DALAM LAGI Kehamilan dan Malaria Kehamilan dan AIDS 57 MASYARAKAT Dukun Bersalin dan Masyarakat Paket Alat Kelahiran Untuk Dukun Bersalin 63 SUDUT PANDANG Meningkatkan Kesehatan Ibu 64 KUESIONER

EDITORIAL
Dedikasi edisi pertama Pembawa Pesan Kesehatan adalah pada “Kesehatan Mental”. Yang kedua pada “Penyakit Menular”. Yang ketiga berfokus pada “Kesehatan Ibu”: kami tidak menutupi pentingnya tema ini hanya dalam satu edisi, tapi akan sangat membantu Anda untuk mengetahui elemen dasar kesehatan ibu dan anak. Anda dapat menggunakannya pada suatu konsultasi, training atau pelatihan pada kampanye informasi. Seperti pada edisi Pembawa Pesan Kesehatan sebelumnya, pilihan itu merupakan tanggapan dari lapangan: berdasarkan masalah yang ditemukan oleh petugas kesehatan Aceh, staf medis AMI dan berbagai pelaku yang terlibat dalam sistem kesehatan di NAD. Jika kesehatan primer sudah dilaksanakan, kesehatan ibu sepertinya merupakan hal yang lambat penerapannya padahal jumlah bidan yang terampil terus bertambah. Terhadap kepentingan kesehatan ibu, sistem kesehatan di Indonesia sangatlah rumit: melalui Polindes dan Posyandu, petugas kesehatan hadir di pedalaman untuk mencegah dan mengobati penyakit. Jadi, untuk Puskesmas, hubungan antar desa dilakukan lewat Polindes dan manajemen dari struktur yang terdekat dan tim ini adalah bagian terbesar dari pekerjaan Puskesmas. Tantangan yang harus dihadapi adalah pembangunan kembali sistem ini secara menyeluruh, menyatukan semua area yang sebelumnya merupakan daerah konflik. Beberapa rekan bergabung dalam edisi ketiga ini: International Rescue Committee (IRC), UNFPA, Anak-anak pengungsi dunia (ERM), JHPIEGO, Handicap International (HI), UNICEF, Aceh Partnerships In Health (APIH) , BRR NAD-Nias, Ikatan Bidan Indonesia (IBI), Pharmaciens sans frontières – Comité international (PSF-CI), dan seperti biasa, WHO Banda Aceh dan Dinas Kesehatan Propinsi yang telah membaca ulang semua artikel. Kami berterima kasih pada mereka semua karena telah membuat P2K no. 3 menjadi majalah dengan beragam topik. Selama pembagian Pembawa Pesan Kesehatan no. 2, kami melakukan evaluasi terhadap efisiensi sistem distribusi kami untuk mengetahui siapa dan dimana pembaca majalah ini. Pada kesempatan ini, kami juga ingin berterima kasih pada semua pekerja kesehatan yang telah meluangkan waktunya untuk menjawab semua pertanyaan kami, dan juga mereka yang telah mengirimkan pendapat dan saran melalui Kuesioner dalam majalah ini. Yang penting bagi kami adalah kenyataan bahwa majalah ini sangat sesuai dengan kebutuhan masyarakat NAD dan sangat dihargai oleh pembacanya: 82% dari semua orang yang kami wawancara (75% diantaranya bekerja di Puskesmas) mengetahui P2K no. 1. Dan 95% dari semua yang membaca, sebesar 65,67% membaginya dengan rekan sekerja ; 50% dari pembaca menerima P2K dari tim distribusi AMI. Hasil evaluasi juga mengatakan bahwa meskipun P2K telah menjalankan tugasnya sebagai sumber informasi kesehatan, tapi P2K belum digunakan untuk training seperti yang diharapkan. Banyak pihak meminta agar Pembawa Pesan Kesehatan dipublikasikan setiap bulan. Sejauh ini, hal itu sangatlah tidak mungkin mengingat waktu produksi yang dibutuhkan. Saran Anda untuk menambah ilustrasi dan contoh kasus akan dipertimbangkan. Banyak dari Anda juga mengharapkan adanya informasi dan pelatihan materi mengenai gizi, HIV/AIDS dan flu burung yang semoga bisa direalisasikan pada edisi selanjutnya. Selamat membaca dan sampai jumpa pada November 2006 di P2K no. 4. Philippe Léger, Kepala Misi AMI Indonesia dan Julie Chansel, Manajer Publikasi

KESEHATAN IBU: UNTUK KESELAMATAN IBU

PEMBAWA PESAN KESEHATAN N° 03 1

NEwS

A world strategy for reproductive and sexual health
EACH YEAR, COMPLICATIONS DUE TO SExUALLY TRANSMITTED INFECTIONS (STI) AND TO A DECLINING SExUAL HEALTH, ENDANGER THE LIFE OF ALMOST 8 MILLION PREGNANT wOMEN. EVERY YEAR, AROUND 529,000 wOMEN, MAINLY IN DEVELOPING COUNTRIES, LOOSE THEIR LIFE DURING PREGNANCY OR DELIVERY FOR REASONS THAT ARE MAINLY AVOIDABLE.

NEWS

T

he World Health Organization (WHO) and the United Nations Population Fund (UNFPA) have announced Friday 23rd of May that they would now coordinate their efforts to struggle against the deterioration of sexual and reproductive health in the world. Data show, due to inadequate sexual and reproductive health services, an increase of maternal mortality and sexually transmitted infections, especially in developing countries. The main population groups affected is mothers, babies and youngsters. According to the WHO, there are each year 340 million new cases of sexually transmitted bacterial infections, such as chlamydia and gonorrhoea, concerning people aged between 15 and 49 years. The sexually transmitted Human Papillomavirus (HPV) infection is associated to uterus cervix cancer, and diagnosed for more than 490 000 women, causing the death of 240 000 yearly. Furthermore, several million of infection cases, mainly due to the HIV, occur each year. More than 100 million curable sexually transmitted infections happen each year, and a large part of the 4,1 million new infections with the HIV

concern young people aged between 15 and 24 years old. For sexually active youth (between 10 and 19 years old), the main sexual and reproductive health related problems are, precocious pregnancies, abortion in insalubrious conditions, STI including HIV, as well as sexual constraint and violence. According to Dr Nordström, temporary Director of the WHO and Thoraya Ahmed Obaid, Head of the UNFPA, there is a need to invest in “sexual and reproductive health”, if the objectives 4 and 5 of the Millenium are to be reached: reducing by 2015 maternal and infant mortality. “Prevention of non-wanted pregnancies and reduction of non satisfied needs as regards of family planning are major intervention to better maternal health and reduce perinatal mortality”, declared Mrs Obaid. In developing countries, 200 million is the estimated figure of women who do not have access to family planning. Also, in certain cultures, 3 million little girls and young women undergo each year genital mutilations, according to recent WHO surveys. These mutilations are an accentuated risk of death and traumatism for the new born and their mothers before, during and after the delivery.

WHO and UNFPA have identified several priority fields, among which: • a coordinated action plan to implement the World strategy of prevention and struggle against sexually transmitted infections; • support poor countries to increase the number of qualified birth attendants in target countries; • coordinated work plans as regards of improvement of reproductive health for mothers, new born and youngsters; • promotion and defense of the inclusion of sexual health in the planning of national economies, such as the strategies for poverty reduction (SPR); • Strengthening of the links between HIV and sexual and reproductive health by a coordinated action in terms of cure, care and treatment. Dr Nordström underlined that it is essential, “in order to break the poverty cycle, to invest in sexual and reproductive health, as well as having access to it, specially to family planning. This allows to disengage resources, on a national level and for families, hence enabling to invest in health, nutrition and education, promoting therefore economic growth with tangible results”. l

2 HEALTH MESSENGER N° 03

MATERNAL HEALTH: FOR A SAFE MOTHERHOOD

BERITA

Strategi Dunia untuk Masalah Reproduksi dan Kesehatan Seksual
TIAP TAHUNNYA, KOMPLIKASI AKIBAT PENYAKIT MENULAR SEKSUAL (PMS) DAN KESEHATAN REPRODUKSI MENGANCAM KEHIDUPAN HAMPIR 8 JUTA wANITA HAMIL. SEKITAR 529.000 wANITA TIAP TAHUNNYA, TERUTAMA DI NEGARA BERKEMBANG, MENINGGAL KETIKA SEDANG MENGANDUNG ATAU SAAT MELAHIRKAN KARENA ALASAN YANG SEBENARNYA BISA DIHINDARI.
Orld Health Organization (WHO) dan the United Nations Population Fund (UNFPA) mengumumkan pada hari Jumat 23 Mei, bahwa mereka pada saat ini mengkoordinasilan aksi baru untuk melawan buruknya masalah kesehatan reproduksi dan seksual di dunia. Data menunjukkan, bahwa tidak memadainya pelayanan terhadap masalah seksual dan kesehatan reproduksi mengakibatkan peningkatan angka kematian ibu dan jumlah pasien terinfeksi PMS di negara berkembang. Kelompok yang paling banyak terserang adalah ibu, bayi dan kaum muda. Menurut WHO, tiap tahunnya ada 340 juta kasus baru infeksi bakteri lewat hubungan seksual, seperti chlamydia dan gonorrhea (penyakit kencing nanah) terutama pada kelompok umur 15–49 tahun. Infeksi Human Papilloma virus (HPV) yang terjangkit lewat hubungan seksual berhubungan dengan kanker leher rahim, dan sudah menyerang 490.000 wanita, dengan angka kematian per tahunnya sebesar 240.000. Lebih jauh lagi, ada berjuta kasus infeksi sehubungan dengan HIV, terjadi setiap tahunnya. Lebih dari 100 juta infeksi yang dapat disembuhkan karena hubungan seksual terjadi setiap tahun, dan sebagian besar dari 4,1 juta infeksi

BERITA

W

baru HIV menyerang kaum muda berusia 15–24 tahun. Bagi mereka yang sering melakukan hubungan seksual (usia 10–19 tahun), masalah utama pada kesehatan reproduksi adalah kehamilan yang tidak diinginkan, aborsi yang tidak aman secara medis. PMS termasuk HIV, juga pemaksaan dan kekerasan seksual. Menurut Dr Nordström, direktur sementara WHO dan Thoraya Ahmed Obaid, Direktur UNFPA, ada kecenderungan untuk berinvestasi dalam “kesehatan seksual dan reproduksi”, jika tujuan Millenium ke 4 dan 5 tercapai: mengurangi angka kematian ibu dan anak pada tahun 2015. “Pencegahan terhadap kehamilan yang tidak diinginkan dan pemenuhan kebutuhan melalui KB adalah langkah besar menuju perbaikan kesehatan ibu dan pengurangan angka kematian bayi sebelum lahir” ujar Mrs. Obaid. Pada negara berkembang, diperkirakan ada 200 juta wanita yang tidak memiliki akses untuk mengikuti program KB. Disamping itu, menurut survei WHO, dengan alasan budaya, tiap tahunnya ada 3 juta gadis kecil dan wanita muda yang melakukan pemotongan alat kelamin. Tindakan ini beresiko kematian dan trauma terhadap bayi baru lahir dan ibu sebelum, selama hamil dan setelah melahirkan.

WHO dan UNFPA mengidentifikasikan langkah-langkah prioritas, yaitu: • pengaturan aksi untuk mengimplementasikan strategi pencegahan dan pengobatan kasus infeksi hubungan seksual. • mendukung negara miskin untuk meningkatkan jumlah dukun bersalin yang berkualitas. • mengkoordinasikan rencana kerja untuk memperbaiki tingkat kesehatan reproduksi ibu, bayi yang baru lahir dan kaum muda. • promosi dan pertahanan termasuk didalamnya kesehatan seksual sesuai dengan perencanaan ekonomi nasional, misalnya melalui strategi pengurangan kemiskinan. Memperjelas hubungan antara HIV dan kesehatan reproduksi melalui aksi yang terkoordinir untuk tahap penyembuhan, pengobatan dan perawatan. Dr Nordström menekankan pentingnya, ”memutuskan siklus kemiskinan, tingginya masalah seksual dan kesehatan reproduksi, dan juga akses untuk melakukan hal itu, terutama berhubungan dengan keluarga berencana. Hal itu memerlukan sumber yang tidak terbatas pada level nasional dan keluarga, karena itu harus ada investasi pada bidang kesehatan, gizi dan pendidikan dengan promosi sesuai pertumbuhan ekonomi untuk hasil yang nyata”. l
PEMBAWA PESAN KESEHATAN N° 03 3

KESEHATAN IBU: UNTUK KESELAMATAN IBU

IN OUR COUNTRY / GUIDELINES ON DRUG DONATIONS

importing special access drugs: requirement for medicine donations
GeneRAl pRincipleS 1. The requirements to accept of Medicines donations are described in article 2 of the Decree of the Head of the National Agency of Drug and Food Control (BPOM) Number HK.00.05.3.00914 regarding the Importation of Special Access Drugs and following the WHO (World Health Organization) Guidelines on Medicines donations. It is meant to maintain the quality of medicines donations. 2. Donations must provide the maximum benefit to the recipient country and the use of medicines donations must be in accordance with real needs and the rational use of drugs. 3. The importation of Medicines donations are subjected to approval. A demand for an official authorization needs to be submitted to get an import approval from the Head of the BPOM. 4. The imported medicines donations must be in complete and informative packaging (packaging must include: International Nonproprietary Name (INN) or generic name, active ingredients, strength, batch number, expiry date, storage instructions and the drug’s manufacturer). 5. The imported medicines donations need to fulfill the Indonesian quality requirements and can not use lower quality standards of medicines. 6. In order to get the agreement for vaccine importation, the recipient must do some preparation and planning, such as getting a recommendation, e.g. from IDAI’s (Indonesian Society for Pediatricians) or the Task Unit of Immunization and management of vaccine. In addition, the donation recipient must have facilities to store and distribute the vaccines according to standard operating procedures. pRoceDuReS 1. Early Notification An early notification needs to be submitted by the recipient body to the BPOM regarding the plan to receive donations and the on-going preparation. 2. Completeness of Documentation The recipient body submits an application to import medicines donations to the BPOM together with the plan/ schedule of arrival and completed with the following documents: - Invoice - Air Waybill (by air) or Bill of Loading (by sea) Information on medicines donations (quantity, name of
4 HEALTH MESSENGER N° 03 the product/drug, active ingredient, strength, dosage form, packaging, batch number and expiry date (at least 1 year after arrival date), manufacturer and country of origin of the donation). 3. Labeling of Medicines donations The information regarding the quantity, name and concentration of the active ingredients, dosage form, manufacturer, batch number, expiry date must be incorporated in the label. The incorporation of those items should be in a language that could be understood such as Indonesian or English. Label claiming “Medicines Donation” incorporated in the container or the drug packaging. 4. Import Approval BPOM will issue an approval/recommendation required for the importation of the medicines donation. 5. Application for Duty Free Application for duty free can be submitted to the Ministry of Finance in accordance with the applicable regulation. 6. Quality Assessment Sampling and assessment could be performed by the BPOM on any medicines donation. Laboratory assessment will be performed by the National Laboratory of Drug and Food Control (PPOM: http://www.pom.go.id/profile/e_struktur_organisasi.asp). 7. Distribution and usage The recipient of the medicines donations is responsible for its quality and distribution and for its usage which is within the therapeutic indication(s). The recipient of medicines donations must be under coordination and responsibility of a doctor or an organization of medical doctors who will be responsible for the rational use of the donated medicines, including for not being contra-indicated in the government program and to avoid the risk of drug resistance in its administration. Medicines donations that are expired or are later found inconsistent with the quality requirements can not be used any more and must be destroyed in a standard procedure. l For further information, you may contact: Directorate of Drug and Biological Production Evaluation The National Agency of Drug and Food Control of RI Jl. Percetakan Negara No. 23 Jakarta Pusat 10560, Indonesia Phone : 021 – 4245459 ext. 115/116/Fax : 021 – 42885404 E-mail : penilaian_obat@pom.go.id

IN OUR COUNTRY

MATERNAL HEALTH: FOR A SAFE MOTHERHOOD

DI TANAH AIR KITA / KETENTUAN DONASI OBAT

Akses Khusus untuk impor obat-obatan: Ketentuan Donasi obat
KETENTUAN UMUM 1. Peraturan penerimaan bantuan obat-obatan dideskripsikan dalam artikel 2 Anggaran Dasar Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Nomor HK.00.05.3.00914 mengenai akses khusus untuk importasi obat-obatan dan dalam buku pedoman tentang donasi obat dari WHO (World Health Organization). Hal itu bertujuan untuk menjaga kualitas obat yang disumbangkan. 2. Sumbangan obat harus memberikan manfaat maksimal bagi negara penerima dan penggunaannya harus sesuai dengan kebutuhan dan aturan pemakaiannya. 3. Importasi suatu sumbangan obat harus mendapatkan izin dari pejabat yang berwenang. Persetujuan dan otorisasi resmi dari Kepala BPOM adalah hal yang mutlak. 4. Obat yang disumbangkan harus dalam paket yang lengkap dengan informasi yang cukup (paket harus mencakup: Nama Nonkepemilikan Internasional atau nama generiknya, komposisi obat, khasiatnya, nomor pendaftaran, tanggal kadaluarsa, instruksi penyimpanan dan pabrik pembuatannya). 5. Sumbangan obat yang sudah diimpor harus memenuhi standar kualitas obat di Indonesia dan tidak boleh memakai standar kualitas obat yang rendah. 6. Untuk mendapatkan persetujuan bantuan vaksin, negara penerima harus melakukan beberapa persiapan dan perencanaan, seperti memiliki surat rekomendasi dari Ikatan Dokter Anak Indonesia atau Unit Imunisasi dan manajemen vaksinasi. Tambahan lagi, negara penerima bantuan harus mempunyai fasilitas memadai untuk menyimpan dan mendistribusikan vaksin itu sesuai dengan prosedur operasi standar. PROSEDUR 1. Pemeriksaan Awal Notifikasi awal dari negara penerima diperlukan sebelum diajukan pada BPOM sesuai dengan rencana penerimaan sumbangan dan persiapan dalam pelaksanaannya. 2. Kelengkapan Dokumentasi Penerima bantuan harus mengajukan aplikasi tentang donasi obat yang akan diimpor kepada BPOM dan juga rencana/jadwal kedatangannya dengan disertai dokumen berikut: - Invoice (daftar barang) - Air Waybill (lewat udara) or Bill of Loading (lewat laut) (label pengiriman) - Informasi tentang obat yang akan disumbangkan (jum lah, nama produk/obat, bahan aktif, khasiat, dosis, nomor pendaftaran dan tanggal kadaluarsa (setidaknya 1 tahun sejak tanggal kedatangan), pabrik dan negara asal donatur). 3. Label pada Obat Sumbangan Informasi mengenai kuantitas, nama, komposisi obat, dosis, pabriknya, nomor pendaftaran, dan tanggal kadaluarsa harus tertera pada label depannya. Keterangan pada label itu harus dituliskan dalam bahasa yang pasti dimengerti seperti bahasa Indonesia atau Inggris. Klaim label “Obat Sumbangan” harus tertera pada kotak atau paket obat yang bersangkutan. 4. Izin Impor BPOM akan mengeluarkan surat izin/rekomendasi yang dibutuhkan untuk importasi sumbangan obat. 5. Aplikasi Bebas Pajak Aplikasi Bebas Pajak dapat diajukan pada Departemen Keuangan untuk mendapatkan formulir regulasi yang dibutuhkan. 6. Pemeriksaan Kualitas Contoh barang dan pemeriksaan biasanya dilakukan oleh BPOM terhadap semua sumbangan obat. Pemeriksaan laboratorium akan dilakukan oleh PPOM: http://www. pom.go.id/profile/e_struktur_organisasi.asp). 7. Distribusi dan penggunaan Penerima sumbangan obat bertanggung jawab atas kualitas dan distribusi serta penggunaannya terutama pada indikasi terapeutik Penerima obat-obatan bantuan harus berada di bawah koordinasi dan tanggung jawab seorang dokter atau dokter pada suatu organisasi kesehatan yang dapat bertanggung jawab atas penggunaan obat yang datang, termasuk tidak bertentangan terhadap program pemerintah dan untuk menghindari resiko resisten terhadap suatu obat. Bantuan obat-obatan yang sudah kadaluarsa atau yang ditemukan tidak konsisten dengan persyaratan kualitas tidak dapat dipergunakan lebih lanjut dan harus segera dimusnahkan sesuai prosedur standar. l Untuk informasi lebih lanjut, dapat menghubungi: Directorate of Drug and Biological Production Evaluation The National Agency of Drug and Food Control of RI Jl. Percetakan Negara No. 23 Jakarta Pusat 10560, Indonesia Phone : 021 – 4245459 ext. 115/116/Fax : 021 – 42885404 E-mail : penilaian_obat@pom.go.id
PEMBAWA PESAN KESEHATAN N° 03 5

DI TANAH AIR KITA

KESEHATAN IBU: UNTUK KESELAMATAN IBU

PUBLIC HEALTH / MATERNAL HEALTH POLICY

Development strategy for Mother and child Health in nAD

T
PUBLIC HEALTH

MATERNAL HEALTH POLICY here are some sensitive health indicators to decide the high level of health community, such as Maternal Death Rate (MDR), Baby’s Death Rate (BDR), and the national status of community nutrition. MDR 304/100.000 Born Alive (BA), BDR 35/1000 Born Alive, lack of nutrition is 27,5% and bad nutrition is 8,5%. In the province of NAD, the indicator shows 373/100.000 for MDR Born Alive, for BDR id 42/1000 Born Alive and the status for lack of nutrition are 34,3% and bad nutrition is 9,4%. National target until the year of 2009 is to reduce MDR to 226/100.000 Born Alive, 26/1000 BA, lack of nutrition becomes < 20%.

The prevalence of bad nutrition for children under five is at the age 6-59 months, generally around 10-15% and it is found >15% in Simeulue island. The lowest prevalence is in Gayo Luwes and Bener Meriah. Meanwhile, for the highest number for lack of nutrition is found in Pidie and Aceh Tenggara. Due to problems in health community especially for Mother and Child’s health, the local government through the PHO and DHO has done some efforts to improve the quality services, such as developing the health workers’ ability, providing medical equipments, transportation, program managements supports, and medical technique management in the health care service (Puskesmas, public hospitals, and provincial).

services level. Some Puskesmas are prepared to be the reference place for midwifery emergency cases and basic neonatal minimal 1 district 1 Puskesmas. The hospitals as the reference center have also been given tmidwifery services and neonatal comprehensive (PONEK) especially in the reference hospital in the province and general hospitals in A.Barat, A.Selatan, Pidie A.Tengah, Bireun, Lhoksemawe and Langsa. NATIONAL STRATEGY MPS IN THE PROVINCE LEVEL: 1. The practice of Mother and Child’s management is through the approach planning to solve problems in the district areas which is called as “District Team Problem Solving for Making Pregnancy Safer (DTPS for MPS). See diagram below: 2. The strategy planning is made with regards to 3 elements: supply, demand and management. • Supply: always refer to the improvement of quality service in health and how to make a good access for the targeted community to get the facilities health services. The enhancement of health workers especially in technical field services is given through a training, technical counseling and on the job training. Technical trainings are adapted to the needs of local community using the standards that had been agreed before. The competency test for technical knowledge is one of indicators to decide the needs of human resources competency level. • Demand: the concept of ready-village program has already started to develop the community’s awareness for danger conditions in the environment. Especially to reduce the maternal death and sick rate in =>

Source: Ministry of Health, 2005

In the year of 2015, MDR is targeted until 125/100.000 BA the same with the target of Millennium Development Goal (MDG). The national strategy agreed to reduce MDR called Making Pregnancy Safer (MPS). The following information is about the nutrition condition of community in NAD.Source 6 HEALTH MESSENGER N° 03

At the moment, most of the health workers (Doctors, Midwives, and Village Midwives) have been trained to do the normal delivery, infection prevention, management for the sick children, breastfeeding guidelines / counseling ASI Exclusive and management for bad nutrition cases in every

MATERNAL HEALTH: FOR A SAFE MOTHERHOOD

KESEHATAN PUBLIK / KEBIJAKAN KESEHATAN IBU

Strategi pembangunan Kesehatan ibu dan Anak di propinsi nanggroe Aceh Darussalam

B

Kebijakan Kesehatan Ibu eberapa indikator kesehatan yang paling sensitif untuk menentukan derajat kesehatan masyarakat di suatu negara adalah Angka Kematian Ibu (AKI), Angka Kematian Bayi (AKB) dan Status Gizi Masyarakat. Secara Nasional AKI 304/100.000 Lahir Hidup, LH AKB sebesar 35/1000 Lahir Hidup dan Gizi Kurang sebesar 27,5% dan Gizi Buruk 8,5%. Di Provinsi NAD indikator tersebut menunjukkan AKI sebesar 373/100.000 LH, AKB 42/1000 LH dan status Gizi Kurang 34,3% dan Gizi Buruk sebesar 9,4%.

uai dengan target Millenium Development Goal (MDG). Strategi yang disepakati untuk menurunkan AKI secara Nasional dan dijabarkan pelaksanaannya di Provinsi adalah strategi Making Pregnancy Safer (MPS). Berikut informasi kondisi status gizi masyarakat di Provinsi NAD. Prevalensi gizi buruk pada anak balita umur 6-59 bulan, secara umum berkisar pada angka 10-15% dan terlihat kabupaten Simeulue >15%. Prevalensi terendah terdapat di Gayo Luwes dan Bener Meriah. Sementara untuk gizi kurang tertinggi di kabupaten Pidie dan Aceh

petugas, penyediaan peralatan medis, sarana transportasi, dukungan manajemen program dan manajemen teknis medis di fasilitas pelayanan (puskesmas, RSU Kab/kota dan Provinsi). Pada saat ini sebagian besar tenaga kesehatan (dokter, bidan Puskesmas, bidan desa) telah terlatih Asuhan Persalinan Normal (APN), pencegahan infeksi, Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS), Manajemen Laktasi/konseling ASI Eksklusif dan manajemen kasus gizi buruk di setiap level pelayanan. Beberapa puskesmas sudah dipersiapkan sebagai rujukan pelayanan kasus emergensi kebidanan dan neonatal dasar (PONED) minimal 1 kabupaten 1 puskesmas. Kemudian RS sebagai pusat rujukan juga telah mampu melakukan pelayanan kebidanan dan neonatal komprehensif (PONEK) terutama di RS Rujukan Provinsi dan RSUD Kabupaten Aceh Barat, Aceh Selatan, Pidie Aceh Tengah, Bireuen, Lhokseumawe dan Langsa. STRATEGI NASIONAL MPS DI LEVEL PROVINSI: 1. Penerapan manajemen KIA melalui pendekatan perencanaan terpadu pemecahan masalah yaitu pendekatan pemecahan masalah kesehatan di tingkat kabupaten “District Team Problem Solving for Making Pregnancy Safer (DTPS for MPS). 2. Strategi perencanaan mempertimbangkan 3 hal: supply, demand dan manajemen. • Supply: tetap mengacu pada peningkatan mutu pelayanan kesehatan dan caranya supaya =>
PEMBAWA PESAN KESEHATAN N° 03 7

KESEHATAN PUBLIK

Sumber: DepKes tahun 2005

Target yang ditetapkan sampai tahun 2009 secara Nasional menurunkan AKI menjadi 226/100.000 LH, 26/1000 LH, gizi kurang menjadi < 20%. Kondisi tahun 2015 ditargetkan AKI sebesar 125/ 100.000 LH ses-

Tenggara. Melihat besarnya permasalahan kesehatan masyarakat khususnya Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), Pemerintah Daerah melalui Dinas Kesehatan telah melakukan upayaupaya peningkatan kualitas pelayanan melalui peningkatan kemampuan

KESEHATAN IBU: UNTUK KESELAMATAN IBU

PUBLIC HEALTH / MATERNAL HEALTH POLICY

=> the community: it has to make every single person in the community aware of the health of pregnant women and support them to have a safe delivery through collecting some funds, village ambulance, blood transfer if it is necessary and of course the family or ready-husband. The health campaign information for Mother and Child, given by the health workers or those who are concerned with MCH and also the Posyandu revitalization are one of the strategies to improve the community actions in the health field. • Management of maternal health program: the purpose of this activity is to improve the managerial ability for MCH at both provincial and district level. That improvement is given through managerial trainings such as: DTPS, management of family planning, management of data, assistances or technical trainings from central office, workshop and program evaluations to get an accurate yearly mother and child’s health profile in the province of NAD. 3. The strategy of those program activities are done according to national policy and MSS (minimal standard services). 4. The strategy for MCH programs in NAD are coordinated by the Health Strategy Building Planning of the province. The aim is to support people’s need through quick and relevant actions, with high integrity, team cooperation, accountability and transparency. l

PUBLIC HEALTH

8 HEALTH MESSENGER N° 03

Photos AMI 2006

MATERNAL HEALTH: FOR A SAFE MOTHERHOOD

KESEHATAN PUBLIK / KEBIJAKAN DINKES

peningkatan kapasitas manajerial pengelola KIA di level propinsi dan kabupaten. Peningkatan itu dilaksanakan melalui pelatihan manajemen seperti: DTPS, manajemen pengelolaan KB, manajemen data, asistensi atau bimbingan teknis dari pusat, workshop dan evaluasi program untuk mendapatkan profil tahunan yang akurat tentang pelayanan KIA di NAD. 3. Strategi pelaksanaan kegiatan program tersebut berdasarkan pada kebijakan nasional dan SPM (Standar Pelayanan Minimal).

KESEHATAN PUBLIK

Sumber: DepKes tahun 2005

=> fasilitas pelayanan bisa diakses oleh kelompok sasaran. Peningkatan kapasitas tenaga kesehatan dilakukan melalui pelatihan, bimbingan teknis dan on the job training. Pelatihan teknis dilakukan sesuai dengan kebutuhan setempat dan menggunakan standar yang disepakati. Uji kompetensi terhadap ketrampilan teknis juga merupakan salah satu indikator untuk menentukan tingkat kompetensi tenaga yang tetap terus diupayakan. • Demand: konsep desa siaga sudah mulai diterapkan untuk mempersiapkan masyarakat tanggap terhadap kondisi yang membahayakan lingkungannya. Khusus untuk siaga terhadap upaya penurunan angka kesakitan dan kematian ibu: setiap individu dilatih untuk menolong anggotanya (khususnya ibu hamil) mendapat proses persalinan yang aman melalui pengumpulan dana tabulin, ambulans desa, donor darah bila diperlukan dan tentunya keluarga/suami siaga. Penyuluhan KIA, baik yang dilakukan oleh tenaga kesehatan maupun melalui kelompok KP KIA (Kelompok Peminat Kesehatan Ibu dan Anak) yang terdiri dari kader kesehatan terlatih/kader PKK serta revitalisasi

posyandu telah mulai dilaksanakan sebagai salah satu strategi untuk meningkatkan peran serta masyarakat dalam bidang kesehatan. • Manajemen program kesehatan ibu: kegiatannya diarahkan pada

4. Strategi kegiatan program KIA di NAD telah terakomodir dalam Rencana Strategi Pembangunan Kesehatan Provinsi NAD. Tujuannya pada misi Departemen adalah untuk berpihak pada rakyat melalui tindakan cepat dan tepat dengan integritas tinggi, kerja sama tim secara sinergis, akuntabilitas serta transparan. l

Beberapa ukuran standar yang digunakan untuk pelayanan KIA dan analisis situasi kesehatan ibu di NAD dapat dilihat pada tabel berikut: No I
Indikator
Indikator Kesehatan: • AKI • AKB • Anemia • Bumil Kek Indikator Yan Kes: • K1 • K4 • Penangan Kompl Hamil • Persalinan Nakes • ASI Eksklusif • Kunjungan Neonatal 2 • Jlh Akseptor KB Indikator Input: • Kehamilan Risti • Puskesmas PONED • RSU PONEK • Bidan APN • Bidan tinggal di desa • Bidan punya KIT • Jumlah Bidan

Baseline tahun 2005 Absit
92 384 373/100.000 42 / 1000 65,4 37,5 92.434 80.087 68.115 75.762 84.3% 73.04% 64.7% 74.6%

Target 2005
307 35 / 1000 25% 24% 90% 85% 80% 80%

2010
225/100.00 15 / 1000 20% 12% 95% 90% 90% 90% 90% 90% 90%

II

?

III

11.542 8 13 700 2400 4800 6.425

20% 21% % 40% 70%

18% 1 Pusk/Kab 15 RSU % 50% 70%

6% 4 Pusk/Kab 21 RSU 50% 80% 100%

Sumber: Data Kesehatan Ibu dan Anak Dinkes Provinsi NAD

KESEHATAN IBU: UNTUK KESELAMATAN IBU

PEMBAWA PESAN KESEHATAN N° 03 9

PUBLIC HEALTH / FAMILY PLANNING

locally available contraceptive methods
METHOD DESCRIPTION SPECIAL PRECAUTION To woman who: • May be pregnant • Gave birth recently (more than 2 days ago) • Is at high risk for STIs • Had unusual vaginal bleeding recently • Has infection or problem in female organs To woman who: • Smokes cigarettes and is 35 or older • Has high blood pressure • Gave birth in the last 3 weeks • Is breastfeeding 6 months or less • May be pregnant • Has some other serious health conditions To woman who: • Has very high blood pressure • Is breastfeeding 6 weeks or less • May be pregnant • Has some other serious health problems POSSIBLE SIDE EFFECT

IUD

PUBLIC HEALTH

• Small device that fits inside the womb • Very effective • Keeps working up to 10 years, depending on type • We can remove it for you whenever you want • Very safe • No protection against sexually transmitted infections (STIs) or HIV/AIDS

After insertion: • Some cramps for several days • Some spotting for a few weeks Others: • Longer and heavier periods • Bleeding or spotting between periods • More cramps or pain during periods

Pill

• Very effective if taken every day • Easy to stop • Very safe • Helps reduce menstrual bleeding and cramps • No protection against STIs or HIV/AIDS

• Nausea • Spotting or bleeding between periods • Mild headaches • Tender breast • Dizziness • Slight weight gain or loss

Injection

• Works mainly by stopping ovulation • Very effective • Often takes longer to get pregnant after stopping • Very safe • No protection against STIs or HIV/AIDS • 6 small plastic tubes placed under skin of upper skin to upper arm • Very effective • Last up to 7 years, depending on your weight • Very safe • No protection against STIs or HIV/AIDS

• May experience monthly bleeding • Weight gain

Implant

To woman who: • Breast feeding 6 weeks or less • May be pregnant • Have some other serious health conditions

• Light spotting or bleeding • Irregular bleeding • No monthly bleeding

10 HEALTH MESSENGER N° 03

MATERNAL HEALTH: FOR A SAFE MOTHERHOOD

KESEHATAN PUBLIK / KELUARGA BERENCANA

Metode Kontrasepsi lokal yang Tersedia
METODE DESKRIPSI PENCEGAHAN KHUSUS EFEK SAMPING Sesudah penempatan: • Kejang selama beberapa hari • Timbul bintik-bintik selama beberapa minggu Gejala lainnya: • Masa menstruasi lebih lama • Berdarah atau timbul bintik selama menstruasi • Kejang lebih sering dan nyeri • Mual • Timbul bintik-bintik atau pendarahan selama menstruasi • Sakit kepala berat • Payudara terasa keras • Pusing • Kehilangan berat badan

IUD

• Alat kecil yang muat dalam rahim • Sangat efektif • Bisa bertahan lebih dari 10 tahun, tergantung tipenya • Dapat disingkirkan kapan saja • Sangat aman • Tidak kebal terhadap STIs dan HIV/AIDS

Bagi wanita yang: • Mungkin sedang hamil • Baru saja melahirkan (lebih dari dua hari yang lalu) • Memiliki resiko tinggi terhadap STIs • Baru saja mengalami pendarahan vagina • Mengalami infeksi atau ada masalah pada organ kewanitaannya Bagi wanita yang: • Merokok dan berusia lebih dari 35 tahun • Tekanan darah tinggi • Baru saja melahirkan 3 minggu yang lalu • Menyusui selama 6 bulan atau kurang • Mungkin sedang hamil • Mengalami kondisi kesehatan yang serius Bagi wanita yang: • Tekanan darahnya sangat tinggi • Menyusui selama 6 minggu atau kurang • Mungkin sedang hamil • Mengalami kondisi kesehatan yang serius

KESEHATAN PUBLIK

Pil

• Sangat efektif jika diminum setiap hari • Mudah dihentikan • Sangat aman • Sangat bermanfaat untuk mengurangi pendarahan saat menstruasi dan kejang • Tidak kebal terhadap STIs dan HIV/AIDS • Terutama bermanfaat untuk menyumbat ovulasi • Sangat efektif • Seringkali membutuhkan waktu lebih lama supaya bisa hamil setelah penyumbatan • Sangat aman • Tidak kebal terhadap STIs dan HIV/AIDS • 6 tube plastik kecil yang ditanam di bawah kulit pada lengan bagian atas • Sangat efektif • Berlangsung lebih dari 7 tahun, tergantung berat badan • Sangat aman • Tidak kebal terhadap STIs dan HIV/AIDS

• Terjadi pendarahan setiap bulan • Berat badan bertambah

Injeksi

Implantasi

Bagi wanita yang: • Menyusui selama 6 minggu atau kurang • Mungkin sedang hamil • Mengalami kondisi kesehatan yang serius

• Bintik-bintik kecil atau pendarahan • Pendarahan yang tidak teratur • Tidak ada pendarahan bulanan

KESEHATAN IBU: UNTUK KESELAMATAN IBU

PEMBAWA PESAN KESEHATAN N° 03 11

PUBLIC HEALTH / FAMILY PLANNING

METHOD

DESCRIPTION

SPECIAL PRECAUTION

POSSIBLE SIDE EFFECT

Lactational Amenorrhea Method

• Contraceptive method based on breastfeeding • Means breastfeeding often, day, night, and giving baby little or no other food • Effective for 6 months after giving birth • No protection against STIs or HIV/AIDS

To woman who: • Has AIDS, or infected with HIV

PUBLIC HEALTH

Female Sterilization

• A surgical procedure • Womb is not removed, will still have menstrual periods • Permanent, for women who will not want more children • Very effective • Very safe • No long term side effect • No protection against STIs or HIV/AIDS

To woman who: • Gave birth between 1 and 6 weeks ago • May be pregnant • Has infection or other problem in female organs To man who has: • Any problems with genitals such as infection, swelling, injuries, lumps in penis or scrotum • Some other serious conditions or infections

Vasectomy

• Simple surgical procedure • Permanent, for men who will not want more children • Very effective • Very safe • No effect on sexual ability • No protection against STIs or HIV/AIDS

Condom

• Protect against both pregnancy and STIs including HIV/AIDS • Very effective when used every time you have sex • Can be used alone or with another family planning method • Easy to get, easy to use • Usually partners need to discuss

12 HEALTH MESSENGER N° 03

MATERNAL HEALTH: FOR A SAFE MOTHERHOOD

KESEHATAN PUBLIK / KELUARGA BERENCANA

METODE

DESKRIPSI • Metode kontraseptif berdasarkan kebiasaan menyusui • Artinya sering menyusui: siang, malam dan tidak memberi bayi makanan lainnya • Efektif untuk 6 bulan setelah melahirkan • Tidak kebal terhadap STIs or HIV/ AIDS • Suatu prosedur pembedahan • Rahim tidak dipindahkan, dan masih akan tetap mengalami periode menstruasi • Permanen, bagi wanita yang tidak lagi menginginkan anak • Sangat efektif • Sangat aman • Tidak ada efek samping yang berkepanjangan • Tidak kebal terhadap STIs dan HIV/AIDS • Suatu prosedur pembedahan yang sederhana • Permanen, bagi pria yang tidak lagi menginginkan anak • Sangat efektif • Sangat aman • Tidak mempengaruhi kemampuan dalam berhubungan seksual • Tidak kebal terhadap STIs dan HIV/AIDS • Perlindungan terhadap kehamilan dan STIs termasuk juga HIV/AIDS • Sangat efektif bila digunakan setiap hendak melakukan hubungan seksual • Dapat digunakan bersama metode keluarga berencana lainnya atau digunakan sendirian • Mudah didapatkan, mudah digunakan • Biasanya diskusi dengan pasangan dibutuhkan sebelum pemakaian

PENCEGAHAN KHUSUS

EFEK SAMPING

Metode Amenore Laktasi

Bagi wanita yang: • Menderita AIDS atau terinfeksi HIV

KESEHATAN PUBLIK

Sterilisasi Alat Kewanitaan

Bagi wanita yang: • Melahirkan antara 1 dan 6 minggu yang lalu • Mungkin sedang hamil • Mengalami infeksi atau masalah lainnya pada organ kewanitaan

Vasektomi

Bagi wanita yang: • Memiliki masalah dengan alat kelaminnya seperti infeksi, bengkak, luka-luka, gumpalan pada penis atau skrotum • Beberapa kondisi kesehatan serius lainnya atau infeksi

Kondom

KESEHATAN IBU: UNTUK KESELAMATAN IBU

PEMBAWA PESAN KESEHATAN N° 03 13

GENERAL HEALTH / HOw TO DO ANC AND PNC

Anc and pnc: main things to do
Pregnancy examination (Antenatal Care)
Visit Time Examination service for patient • • • • • • • • • • • • General health check up and risks factors measurement Pregnancy examination: gland size and pregnancy stage Gynecologic assessment Blood pressure examination Weight, height Do the HB test, if the patient had anemia Give additional FE supplement Urine test, blood type test, syphilis test Tetanus toxoid immunization Explain about the danger signs and the place to go to get first aid help Remind her the next visit Complete the ANC card with all data about pregnant woman Examine: pregnancy stage, gland size, fetal heart beat Anemia examination Blood pressure Weight especially for mothers who has lower weight than normal on the first visit Urine protein for nullipara or mothers who have eclampsia history Give additional FE supplement Inform any danger signs and tell the right place to go for help Remind her the next visit Complete the ANC card with all data about pregnant woman Give the same service as the previous visits Do the HB tests Examine: pregnancy stage, gland size, DJJ, and palpation abdominal (leopold I-IV) also to find out if there is the possibility to be twins TT immunization for the second time Explain and suggest her to make plan about the delivery Start to teach her how to nurse a baby, preparation for breast feeding, and inform her about family planning program Give the same service as the previous visits Check the fetal position: upside down, normal, against the grain or any other position that need to be referred to hospital Complete the ANC card

IMPLEMENTATION OF GOOD ANTENATAL CARE (ANC) AND POSTNATAL CARE (PNC) BY HEALTH wORKERS, wILL HELP DECREASING MATERNAL DEATH RATE.
ANC SERVICE IN A BASIC HEALTH FACILITY Suggestions that need to be given to the pregnant woman to avoid the complication: stop smoking and consume medicines without any consultation because it can disturb fetal growth. Avoid hard works because it can kill the fetal and in the advanced stage of pregnancy, it may cause preterm birth (premature). Advise pregnant woman to eat nutritious and healthy food, to take care of her hygiene, and do some light exercise such as walking, sewing, etc. Handling patients complaints. Note them attentively and handle it patiently. Lessen the worries with good and clear explanations: • Feeling nauseous, heat in the chest at an early and advanced stage of pregnancy. It may be caused by a gastro intestinal reflection, influenced by the abdomen pressure increasing. This case can be handled by postural therapist or antacid consumption and B6 vitamin. • Varicose veins and legs oedema: it usually happens because of the vena-cava inferior pressure. It can be solved with finding a proper sleeping position, putting the legs higher than the body and give B6 vitamin as a natural diuretic. • Pain around the waist and joints. It is normal and usually caused by ligament attraction that binds the uterus and relaxin hormon. Suggest the patient to take paracetamol, it is enough to • reduce the pain. 14 HEALTH MESSENGER N° 03

ANC I

Before the 14th week

• • • • ANC II Between 14th-28th week • • • • • • • • Between 28th-36th week

GENERAL HEALTH

ANC III

• • •

• • ANC IV After 36th week •

MATERNAL HEALTH: FOR A SAFE MOTHERHOOD

KESEHATAN UMUM / BAGAIMANA MELAKUKAN ANC DAN PNC

Pemeriksaan kehamilan (Ante-Natal Care)
Kunjungan Waktu

Hal penting untuk Dilaksanakan: Anc dan pnc
Pelayanan Pemeriksaan yang Diberikan • • • • • • • • • • • • Pemeriksaan kesehatan umum dan faktor resiko Pemeriksaan kehamilan: tinggi fundus dan usia kehamilan Pemeriksaan ginekologis Pemeriksaan tekanan darah Berat badan, tinggi badan Bila anemia lakukan tes-HB Pemberian suplemen Fe Tes urin, test golongan darah, test syphilis Imunisasi tetanus toxoid Beritahukan tanda bahaya dan kemana harus mencari pertolongan Ingatkan kunjungan berikutnya Lengkapi seluruh data pada kartu ANC

PELAKSANAAN ANC DAN PNC YANG BAIK OLEH PETUGAS KESEHATAN AKAN MENURUNKAN ANGKA KEMATIAN IBU.
PELAYANAN ANC PADA FASILITAS KESEHATAN DASAR. Pemberian saran penting untuk mencegah komplikasi kehamilan: seperti menghilangkan kebiasaan merokok atau mengkonsumsi obat tanpa konsultasi karena dapat menyebabkan kelainan pertumbuhan janin. Hindari pekerjaan berat karena pada kehamilan muda karena dapat memicu abortus dan pada kehamilan tua dapat menyebabkan prematur. Selalu anjurkan untuk makan makanan bergizi, menjaga higienitas diri dan lakukan olahraga ringan seperti berjalan kaki, menjahit, dan sebagainya.

ANC I

Sebelum Minggu Ke 14

• • • • ANC II Antara Minggu 14-28 • • • • •

Pemeriksaan: usia kehamilan, tinggi fundus, denyut jantung janin Pemeriksaan anemia Tekanan darah Berat badan bagi ibu yang berat badannya kurang pada kunjungan awal Protein urin bagi nullipara atau bagi ibu yang memiliki riwayat eklampsi Berikan suplemen Fe Beritahukan tanda bahaya dan kemana harus mencari pertolongan Ingatkan kunjungan berikutnya Lengkapi seluruh data pada kartu ANC

KESEHATAN UMUM

• • • ANC III Antara Minggu 28-36

• • •

Berikan pelayanan yang sama seperti kunjungan lalu. Lakukan tes-HB. Periksa: usia kehamilan, tinggi fundus, DJJ dan palpasi abdominal (leopold I-IV) juga dapat untuk mengetahui bila ada kehamilan ganda. Berikan imunisasi TT untuk kedua kalinya. Berikan penjelasan dan rencanakan tentang kelahiran. Ajarkan perawatan anak dan persiapan pemberian ASI, informasikan program KB. Berikan pelayanan yang sama Deteksi letak bayi yang tidak normal: sungsang atau kondisi lain yang perlu dirujuk ke rumah sakit Lengkapi kartu ANC

ANC IV

Setelah Minggu Ke 36

• • •

Tanggapi keluhan pasien dengan baik dan atasi kekhawatiran mereka dengan menjelaskan hal berikut: • Perasaan mual, muntah dan panas di dada karena adanya refluks gastro intestinal yang dipengaruhi oleh peningkatan tekanan abdomen. Dapat diatasi dengan terapi postural atau pemberian antasida dan Vitamin B6. • Odema tungkai dan varises, odem bila tidak bersamaan dengan proteinuria dan peningkatan tekanan darah bukanlah preeklampsi. Biasanya odema dan varises terjadi karena penekanan vena-cava inferior. Dapat diatasi dengan posisi tidur meninggikan kaki dan diberikan vit B6 sebagai natural diuretic. • Nyeri pinggang dan sendi disebabkan pengaruh tarikan ligament yang mengikat rahim dan reaksi kerja hormon relaxin. Pemberian paracetamol dianggap aman untuk ibu hamil sebagai anti nyeri.
PEMBAWA PESAN KESEHATAN N° 03 15

KESEHATAN IBU: UNTUK KESELAMATAN IBU

GENERAL HEALTH / HOw TO DO ANC AND PNC

POST-NATAL CARE PNC starts when the placenta comes out and will end after the uterus is back to normal size. It will take about 6 weeks from the baby’s birth. The main purpose of PNC is to observe mother and baby conditions: preventing, detecting, and handling all problems. Health workers should at least do 4 PNC examination to make sure that mother and baby are in a good and safe condition. PNC will be considered as a normal one if the uterus involution, lochia removal, breast milk production, physical body alteration and psychological state are in normal condition. If during PNC there are some dangers signs for mother or baby, refer the patient as soon as possible to the adequate and neareast health service. Emergency situation or danger signs might be: vagina bleeding from the passage way, placenta residue and uteri atony. Any infection because of untreated wounds, stiffness, eclampsia, and puerperalis can happen to new mothers. Other problems that could come are asphyxia, birth way wounds, infections, sepsis and neonatorum tetanus. Ideally, at least two hours after the delivery, the health worker should stay with the new mother to observe the condition and make sure that the mother and her baby are in a stable condition. l HEALTH EDUCATION Good suggestions and health education about the danger signs during delivery are very important for mothers because it is often that the delivery takes place at home or that the patient goes home right after the delivery. To avoid any infection, if there is delivery or operation scar, health workers must tell mothers to watch over their hygiene, especially the genital area. 16 HEALTH MESSENGER N° 03

The examination and decision of risks factors Starting from the first visit and in every visits, ideally, as a health worker, we have to make a very good and detail diagnose concerning those pregnancy risks factors that might come to a pregnant woman, so that we will not be late in detecting and handling the emergency situation.

Time

PNC service and actions • • Prevent and detect any bleedings, and refer if there is one. Teach the mother and all family members to handle the bleeding because of atonia uteri, and tell them where to go to get the right help. Examine the baby thoroughly: do APGAR score, weight, length, congenital upnormal. Keep the baby away from hypothermia, keep the baby warm, and check the respiratory organs and the ability to suckle. Make sure that mother and her baby are in the stable condition. Examine the uterus organs: make sure that the uterus involution runs well, uterus contraction become smaller, no smell on the lochia and gland size is normal. Assess if there is any fever, infection and abnormal bleedings. Give counseling for new mothers on how to nurse the baby, take a good care of it, umbilical cord and hypothermia prevention. Give the same service as the previous visits Give suggestions and advice to every new mother’s problems. Give counseling about family planning.

PNC I

2-8 hours

• • • •

GENERAL HEALTH

PNC II

6th day

• •

PNC III

2nd week 6th week

• • •

PNC IV

GLOSSARY
Nullipara: a woman who has never given birth before Preterm: before time delivery; see Premature Reflux gastro intestinal: a backward or return flow of the stomach and duodenal content into the intestine Uterus involution: retrograde changes of the uterus that result in normal size after delivery Uteri atony: uterus without contraction (faint) Mastitis: inflammation of mammary gland or breast Congenital: conditions that are present at birth regardless the causation Lochia: blood after delivery

MATERNAL HEALTH: FOR A SAFE MOTHERHOOD

KESEHATAN UMUM / BAGAIMANA MELAKUKAN ANC DAN PNC

Pemeriksaan dan penentuan faktor resiko Sejak kunjungan pertama dan di setiap kunjungan, idealnya kita sebagai staf kesehatan melakukan anamnesa yang detail dan pemeriksaan yang ketat terhadap faktor resiko yang mungkin dialami ibu hamil agar tidak terlambat dalam mendeteksi dan mengatasi keadaan gawat dalam kehamilan tersebut.

waktu

Pelayanan dan Tindakan PNC • • • • • • Mencegah dan mendeteksi perdarahan, merujuk bila ada perdarahan Mengajari ibu dan keluarga mencegah perdarahan akibat atonia uteri, dan memberi tahu kemana mencari bantuan Melakukan pemeriksaan menyeluruh pada bayi: APGAR score, berat badan, panjang badan, kelainan kongenital Menjaga bayi dari hipotermi, jaga bayi tetap hangat, pernafasan bayi, kemampuan menghisap/menyusu Memastikan keadaan ibu dan bayi stabil Pemeriksaan organ kandungan: memastikan involusi uterus berjalan baik, uterus berkontraksi, mengecil, lokhia tak berbau, fundus di bawah pusat Menilai tanda demam, infeksi atau perdarahan abnormal Memberi konseling pada ibu tentang cara perawatan bayi, menyusui, perawatan tali pusat, pencegahan hipotermi Melaksanakan hal seperti kunjungan ke 2

PNC I

2-8 jam

PERAwATAN MASA NIFAS (PNC) Masa nifas berlangsung sejak dilahirkannya plasenta dan berakhir setelah rahim kembali normal kirakira 6 minggu sejak kelahiran. Tujuan melakukan perawatan nifas ini adalah untuk menilai keadaan ibu dan bayi yang baru lahir: mencegah, mendeteksi dan menangani masalah-masalah yang terjadi. Petugas setidaknya melakukan 4 kali pemeriksaan PNC untuk memastikan keadaan ibu dan bayi. Masa nifas dinilai normal jika involusi uterus, pengeluaran lokhia, pengeluaran ASI dan perubahan sistem tubuh termasuk keadaan psikologis berjalan normal. Bila selama masa nifas ditemukan tanda gawat atau keadaan buruk baik pada ibu maupun bayi maka segera atasi atau rujuk ke pusat pelayanan yang sesuai. Keadaan bahaya dapat berupa: perdarahan vagina baik dari robekan jalan lahir, sisa plasenta dan atonia uteri. Infeksi akibat perlukaan yang tidak terawat baik, kejang karena eklampsi atau penyulit lainnya seperti mastitis.Beberapa permasalahan pada bayi adalah asfiksia, luka saat lahir, berat lahir rendah dan infeksi, sepsis atau tetanus neonatorum. Idealnya paling tidak dua jam setelah kelahiran petugas yang menolong kelahiran berada bersama ibu dan bayi untuk memantau keadaan ini, hingga dipastikan ibu dan bayi berada dalam kondisi yang stabil. l PENDIDIKAN KESEHATAN Saran untuk memperhatikan tanda bahaya pada ibu dan anak penting untuk disampaikan supaya mereka mendapat penanganan yang cepat karena persalinan sering berlangsung di rumah atau setelah bersalin pasien langsung pulang dari pusat layanan kesehatan. Sarankan pula untuk menjaga kebersihan diri, merawat area genital terutama bila ada luka bekas persalinan agar tidak terjadi infeksi.
PEMBAWA PESAN KESEHATAN N° 03 17

PNC II

Hari ke 6

• •

KESEHATAN UMUM

PNC III PNC IV

Minggu ke 2 Minggu ke 6

Memberikan saran dan tanggapan tentang penyulit yang dialami ibu Memberikan konseling tentang KB

KOSAKATA
Nullipara: perempuan yang belum pernah melahirkan anak Preterm: persalinan yang belum cukup bulan; lihat Prematur Refluks gastro intestinal: naiknya isi atau asam lambung ke arah distal saluran cerna. Involusi uterus: pengecilan uterus menuju bentuk normal seperti semula sebelum melahirkan Atonia uteri: uterus tanpa kontraksi (lemas) Mastitis: infeksi kelenjar payudara Kongenital: kelainan bawaan dari lahir Lokhia: darah nifas.

KESEHATAN IBU: UNTUK KESELAMATAN IBU

GENERAL HEALTH / DANGER SIGNS DURING PREGNANCY

Danger signs during pregnancy
1. Mother does not want to eat and vomits often During pregnancy, the need for nutrient is increased, as not only the mother’s demand but also the one of the fetus has to be fulfilled. If the need of mother is unmeet, not only will she suffer from malnutrition, but the fetal growth will be disturbed. During labor, mother needs food to produce energy that will be used during the delivery. (Malnutrition can be an obstacle in delivery because lack of energy). During childbirth, a mother who suffers from malnutrition can have a problem in post delivery wound healing. Anemia is also possible, because there is an obstacle in replacing red blood cell lost during delivery and childbirth. Pregnant women with severe vomiting, known as hyperemesis gravidarum - is caused by mal adaptation of the hormonal change during pregnancy. Pregnant women can suffer from dehydration and shock due to loss of fluid from the body. 2. Anemia Shown by the palor, weakness, dizziness, headaches and frequent illnesses. Anemia is one of the major indirect causes of maternal death. A pregnant woman with anemia cannot fulfill mothers and fetal supply need of nutrient and oxygen, which then leads to a fetal growth problem. Anemic woman having delivery or childbirth can suffer from shock because of loss of blood supply and can lead to death. 3. Body weight not increasing During pregnancy, a pregnant woman is expected to gain weight, at least 6 kilos. This can be an indicator of fetal growth. No increase of body weight shows the malnutrition condition and can cause a problem in fetal growth. 18 HEALTH MESSENGER N° 03 4. Swelling of hands/face, dizziness, seizure Can be a sign of preeclampsia, the pregnancy induces hypertension. Typically, preeclampsia occurs after 20 weeks gestation (in the late 2nd or 3rd trimesters), though it can occur earlier. Preeclampsia and other hypertensive disorders of pregnancy are a leading global cause of maternal and infant illness and death. It is estimated that these disorders are responsible for 76,000 deaths each year in the world. If preeclampsia is not detected and treated, it can result in seizures or convulsions, at which point it is defined as eclampsia. 1 of 50 women and 1 of 14 baby die because of eclampsia. 5. Loss of fetal movement At 5 months gestation, pregnant women should examine the fetal movement. The movement is expected to occur at least 3 times per hour. If a pregnant woman feels less movement – an indication of an inactive fetus -,she should immediately consult a midwife or a doctor. 6. Other diseases affecting pregnancy Before pregnancy, all patients with cardiac problems are encouraged to have a full check-up, which includes a medical history, physical examination, echocardiogram and electrocardiogram. A pregnant woman with a heart disease risks to suffer more, because the heart needs to perform more effort to meet the blood demand during pregnancy. It has also been shown that a heart disease increases the risk for delivering a low birth weight baby. Malaria can cause anemia (see n°2) to a pregnant woman. Pregnant woman with diabetes mellitus has an elevated sugar rate in her blood that can disrupt fetal metabolic function, give birth to a big baby, but not necessarily a healthy one: a big baby is more likely to have birth complications and need to be delivered by forceps, vacuum or Cesarean section. Very big newborns may have low blood sugar rate, develop jaundice or breathing problems and need to be observed in the high-risk nursery. 7. Pre-labor rupture of membranes Will make infection easier to occur, lead to sepsis, and threat the pregnancy and the mother. 8. Prolonged/obstructed labor Can occur due to inadequate contraction, mal position, cephalo pelvic disproportion. Obstructed or prolonged labor can also lead to severe postpartum infections and increased risk of Pelvic Inflammatory Disease (PID), infertility, and neurological injuries. Woman with prolonged/obstructed labor should be referred to hospital immediately. 9. Vaginal Bleeding Early in pregnancy, bleeding could be a sign of miscarriage or tubal pregnancy. From the 4th to the 9th month, bleeding might mean that the placenta is low in the uterus and may block the birth canal. Late in pregnancy, bleeding may be a sign that the placenta has separated from the uterus. If there is severe bleeding after delivery, mother can die in a matter of hours: postpartum hemorrhage is the leading cause of maternal death 10. High Fever Can be due to infection or other diseases, can lead to premature delivery. High fever after labor can indicate postpartum infection that can lead to sepsis and death. l

GENERAL HEALTH

MATERNAL HEALTH: FOR A SAFE MOTHERHOOD

KESEHATAN UMUM / TANDA BAHAYA PADA KEHAMILAN

Tanda Bahaya pada Kehamilan
1. Ibu tidak mau makan dan muntah terus Pada masa kehamilan, kebutuhan nutrisi meningkat karena kebutuhan gizi ibu dan janin harus dipenuhi. Bila kebutuhan nutrisi ibu selama kehamilan tidak tercukupi, tidak hanya ibu hamil yang kekurangan gizi, tapi pertumbuhan janin juga dapat terhambat. Selama hamil, ibu membutuhkan makanan yang bergizi (kekurangan gizi dapat berbahaya saat kelahiran, karena tidak cukup tenaga). Selama proses melahirkan, ibu yang kekurangan gizi dapat mengalami luka atau kelahiran prematur. Anemia juga dapat terjadi karena tubuh kekurangan bahan penyusun darah guna mengganti darah yang hilang selama persalinan dan masa nifas. Ibu hamil yang mengalami muntah-muntah hebat (hiperemesis gravidarum), keadaan yang disebabkan oleh kurang mampunya tubuh beradaptasi akan kadar hormon yang meningkat karena adanya janin dalam kandungan. Muntah yang terus menerus dapat menyebabkan dehidrasi dan syok karena kurangnya cairan dalam tubuh ibu. 2. Kurang darah (anemia) Ditandai dengan pucat, lesu, lemah, pusing dan sering sakit. Anemia atau kurang darah merupakan salah satu penyebab utama kematian ibu. Ibu hamil yang anemia tidak dapat memenuhi kebutuhan tubuh ibu dan janin akan nutrisi dan oksigen yang dibawa dalam darah, sehingga pertumbuhan janin terganggu. Wanita yang mengidap anemia saat melahirkan dapat mengalami syok karena kehilangan banyak darah dan dapat mengakibatkan kematian. 3. Berat badan ibu hamil tidak naik. Selama kehamilan, ibu hamil diharapkan mengalami penambahan berat badan sedikitnya 6 kg. Ini sebagai petunjuk adanya pertumbuhan janin. Tidak adanya kenaikan berat badan yang diharapkan menunjukkan kondisi malnutrisi ibu dan mengindikasikan pertumbuhan janin yang terhambat. 4. Bengkak tangan/wajah, pusing dan kejang Dapat merupakan tanda adanya preeklamsi, yaitu meningkatnya tekanan darah pada kehamilan. Biasanya terjadi pada usia kehamilan 20 minggu (akhir trimester 2 atau pada trimester 3) walau juga dapat dijumpai lebih awal. Preeklamsi merupakan penyumbang angka kematian ibu dan bayi yang tinggi. Sekitar 76.000 kematian ibu dan bayi pertahun di dunia disebabkan oleh preeklamsi. Preeklamsi dapat diikuti terjadinya eklamsi yaitu kejang dengan disertai peningkatan tekanan darah. Satu dari 50 wanita dan satu dari 14 bayi meninggal dunia yang disebabkan oleh eklamsi. 5. Gerakan janin berkurang atau tidak ada Sejak usia kehamilan 5 bulan, ibu sebaiknya memantau gerakan janin. Gerakan janin diharapkan dirasakan oleh ibu 3 kali setiap jam. Jika ibu merasakan kurang dari itu, menunjukkan bayi tidak aktif, harus berkonsultasi dengan bidan atau dokter. 6. Penyakit Ibu yang berpengaruh terhadap kehamilan Sebelum merencanakan kehamilan, seorang ibu berpenyakit jantung harus mempersiapkan diri dengan memeriksakan diri dan keadaan penyakit jantungnya pada dokter ahli jantung untuk mendapatkan pemeriksaan fisik, rekam jantung, dan penatalaksanaan lengkap. Ibu hamil dengan sakit jantung beresiko meningkat derajat penyakitnya karena pada keadaan kehamilan jantung dituntut bekerja lebih keras untuk memompa darah. Ibu hamil dengan penyakit jantung juga beresiko melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah. Malaria dapat mengakibatkan anemia (lihat no. 2) pada wanita hamil. Ibu hamil dengan kencing manis mempunyai kadar gula darah yang tinggi dan beresiko mengganggu fungsi metabolisme janin. Janin berkembang besar namun tidak sehat: janin yang besar beresiko mengalami komplikasi saat persalinan, dan biasanya memerlukan bantuan forsep, vakum, atau operasi caesar. Bayi yang dilahirkan sangat besar juga mempunyai kadar gula darah yang rendah, ikterik, gangguan pernafasan dan membutuhkan perawatan intensif. 7.Ketuban pecah dini Ketuban pecah dini mempermudah terjadinya infeksi pada kandungan yang membahayakan jiwa ibu. 8. Kehamilan tidak maju Dapat terjadi karena kontraksi yang tidak tepat, malposisi, cephalo pelvic disproportion. Kehamilan yang terhambat ini dapat mengakibatkan infeksi postpartum yang berat dan meningkatkan resiko penyakit radang panggul, kemandulan dan luka neurologis. Wanita dengan kehamilan tidak maju harus segera dirujuk ke rumah sakit. 9. Perdarahan Perdarahan pada awal kehamilan dapat merupakan tanda keguguran. Perdarahan pada usia kehamilan 49 bulan dapat menunjukkan plasenta letak rendah dalam rahim dan dapat menutup jalan lahir. Perdarahan pada akhir kehamilan dapat merupakan tanda plasenta terlepas dari rahim. Perdarahan yang hebat dan terus menerus setelah melahirkan dapat menyebabkan ibu kekurangan darah dan merupakan tanda bahaya dimana ibu bersalin harus segera mendapat pertolongan yang tepat dari bidan atau dokter. 10. Demam tinggi Dapat disebabkan karena infeksi atau penyakit lain penyebab terjadinya persalinan prematur. l
PEMBAWA PESAN KESEHATAN N° 03 19

KESEHATAN UMUM

KESEHATAN IBU: UNTUK KESELAMATAN IBU

GENERAL HEALTH / INSTRUMENTS PROCESSING

instruments processing

W

hy the instrument after being used needs to be processed? Healthcare workers are increasingly at risk of becoming infected with serious blood borne viruses such as HBV, HCV and HIV. The biggest risk is for staff who: • Perform workers with surgical procedures (physicians, nurses, and midwives). • Process surgical instruments and equipment (staff); and • Perform housekeeping and waste managements tasks, including disposal of infectious waste items. (nurses, midwives and cleaning services staffs) We never know our clients who came to us, may be they have serious problem with her health. May be they have virus in their blood , that way all of health workers must protect their self from contaminate by virus, and health workers must protect their client also. One way of protection with recommended instruments processing. why decontamination and cleaning are important step for contaminated instruments processing? Decontamination and cleaning are two highly effective infection prevention measures that can minimize the risk of transmission of these viruses to healthcare workers, especially cleaning and housekeeping staff, when they handle soiled medical instruments, surgical , gloves that used for cleaning injure and other items. These measures are also important steps in breaking the infections transmission cycle for patients. Both processes are easy to do and are inexpensive ways of ensuring staff and patients at a lower risk of becoming infected from contaminated instruments and others.

GENERAL HEALTH

How decontamination and cleaning are effective? Decontamination is the first step in processing soiled instruments, gloves and other items. More than 20 years ago it was shown that decontamination markedly reduces the level of microbial contaminated of surgical instrument. For example, in the study of Nystrom (1981), 75 % of previously soiled instruments had fewer than 10 microorganisms and 98% had fewer than 100 after being decontaminated prior to cleaning. Because of this findings, it was strongly recommended that if instruments are to be cleaned by hand, they first should be decontaminate these items by placing them in a 0,5 % chlorine solution for 10 minutes. This step rapidly inactivates HBV, HCV and HIV and makes the items safer to handle by personnel who clean them (AORN 1990; ASHCSP 1986)

How to prepare chlorine solution for decontamination? In Indonesia, chlorine is available in a dilute solution and dry powders. Cleaning and rinsing are recommended! Cleaning is an effective way to reduce the number of microorganisms from soiled instruments and equipments or after uses. Neither sterilization nor high –level disinfection is effective without prior cleaning. After decontamination, instruments should be rinsed immediately with cool water to remove visible organic material before being thoroughly cleaned. For example, some healthcare facilities now keep two buckets in delivery rooms, one filled with 0,5% chlorine solution and one bucket with water, so that the instruments can be placed in the water after soaking in the chlorine solution for 10 minutes. Although this =>

Formula for making a Dilute solution from a concentrated solution:
Source: Pocket Guide for Family Planning Service Providers, JHPIEGO, 1995

Check concentration (% concentrate) of the chlorine product you are using • Determine total parts water needed using the formula below. % Concentrate Total parts (Tp) of water = –––––––––––––––––––– – 1 % dilute Mix 1 part concentrate bleach with the total parts water required. Example; Make a dilute solution ( 0,5% ) from concentrated solution5.25% (such as BAYCLIN®): 5.25% 1.Calculate Tp water = ––––––– – 1 = 10 – 1 = 9,5 0.5% 2.Take 1 part of concentrated solution and add to 9 part of water.

20 HEALTH MESSENGER N° 03

MATERNAL HEALTH: FOR A SAFE MOTHERHOOD

KESEHATAN UMUM / PEMROSESAN ALAT

pemrosesan Alat

M

engapa peralatan kesehat- Bagaimana efektifitas dekontami- Bagaimana menyiapkan larutan klorin untuk dekontaminasi? an setelah dipakai perlu nasi dan pembersihan! Di Indonesia klorin tersedia dalam diproses? Dekontaminasi merupakan langSebagai petugas kes- kah pertama dalam menangani instru- bentuk cair dan dalam bentuk bubuk ehatan, kita menghadapi resiko terkena men bekas pakai, sarung tangan dan kering. infeksi serius yang meningkat karena benda lainnya yang telah digunakan. Pencucian dan pembilasan yang dipenularan virus lewat darah dan cairan Sudah lebih dari 20 tahun, dekontami- rekomendasi Pencucian adalah cara paling tubuh lainnya seperti HBV, HCV dan nasi terbukti dapat mengurangi tingkat HIV. Resiko terbesar bagi petugas terjadi kontaminasi mikrobial pada instrumen efektif untuk menghilangkan sejumpada saat melakukan atau membantu bedah. Misalnya, studi yang dilaku- lah mikro-organisme pada peralatan/ prosedur bedah (dokter, perawat dan kan oleh Nyström (1981) menemukan perlengkapan yang kotor atau yang bidan); saat menangani instrumen op- kurang dari 10 mikroorganisme pada sudah digunakan. Sterilisasi maupun erasi dan peralatan (petugas); dan saat 75% dari alat yang tadinya tercemar disinfeksi tingkat tinggi tidaklah efektif membersihkan ruangan dan sampah, dan dari 100 mikroorganisme pada tanpa pencucian sebelumnya. Setelah dekontaminasi, instrumen termasuk pembuangan sampah yang 98% alat yang telah dibersihkan dan terinfeksi (perawat, bidan dan petugas didekontaminasi. Berdasarkan pen- harus segera dicuci dengan air dingin kebersihan). emuan ini, hal penting sebelum mem- untuk menghilangkan bahan organik Kita tidak pernah tahu bahwa pasien bersihkan adalah mendekontaminasi sebelum dibersihkan secara menyyang terlihat sehat yang kita layani me- alat tersebut dengan merendamnya eluruh. Misalnya, beberapa fasilitas miliki masalah serius dengan virus yang di larutan klorin 0,5% selama 10 me- pelayanan kesehatan menaruh 2 emada dalam tubuh atau darahnya. Oleh nit, segera setelah selesai digunakan. ber di ruang bersalin: satu ember diisi karena itu semua petugas kesehatan Langkah ini dapat menon-aktifkan dengan larutan klorin 0,5% dan ember perlu melindungi dirinya dari kemungkin- HBV, HCV, dan HIV serta dapat men- yang satu lagi diisi dengan air sehingan tertular, serta melindungi klien lainnya gamankan petugas yang membersih- ga instrumen tersebut dapat ditempatyang menggunakan alat yang sama. kan alat tersebut (AORN 1990; ASHC- kan dalam air setelah direndam dalam klorin selama 10 menit. Meski hal ini Salah satunya adalah dengan pemros- SP 1986). esan alat yang direkomendasikan. Mengapa dekontaminasi dan pemRumus untuk membuat Larutan Klorin 0,5% dari Larutan Konsentrat bersihan merupakan langkah awal Berbentuk Cair yang penting pada penanganan alat yang terkontaminasi? Perhatikan konsentratnya untuk pembuatan larutan klorin 0,5 %. Dekontaminasi dan pembersihan merupakan dua tindakan pencegahan % larutan konsentrat yang sangat efektif meminimalkan reJumlah bagian air = ––––––––––––––––––––––––– – 1 siko penularan virus kepada petugas % larutan yang diinginkan pelayanan kesehatan, khususnya pada petugas kebersihan dan rumah tangga, Contoh: Untuk membuat larutan klorin 0,5% dari larutan klorin 5.25% (misalkan BAYCLIN®): ketika menangani alat, sarung tangan operasi, sarung tangan yang digunakan 5.25% ketika membersihkan luka dan benda 1. Jumlah bagian air = ––––––– – 1 = 10 – 1 = 9,5 lainnya yang tercemar. Tindakan itu 0.5% merupakan langkah penting untuk me2. Tambahkan 9 bagian (pembulatan ke bawah dari 9,5) air mutuskan rantai penularan infeksi pada ke dalam 1 bagian larutan klorin konsentrat (5.25%). pasien. Kedua proses tersebut sangat mudah dilakukan dan murah untuk meCatatan: air tidak perlu dimasak. mastikan penurunan resiko infeksi dari peralatan dan alat yang terkontaminasi. Sumber: Pocket Guide for Family Planning Service Providers, JHPIEGO, 1995
KESEHATAN IBU: UNTUK KESELAMATAN IBU PEMBAWA PESAN KESEHATAN N° 03 21

KESEHATAN UMUM

GENERAL HEALTH / INSTRUMENT PROSESSING

=> will help to prevent corrosion, even leaving the instruments in plain water for more than 1 hour can lead to rusting. Rinsing is important because it is the effective way to reduce microorganism from soiled equipments and instrument, especially endhospore caused tetanus. A thorough washing with soap and clean water also physically removes organic material such as blood and bloody fluids. This is important because dried organic material can entrap microorganism, including endospores, in a residue that protects them against sterilizations or disinfection. Organic matter also can partially inactivate some high-level disinfectants, rendering them less effective (AORN 1992; Rutala dkk 1998). Use of soap is important for effective cleaning because water alone will not remove proten, oils and grease (Nyström 1981). The use of hand (bar) or powdered soap is discouraged because the fatty acids is bar soap react with the minerals in hard water leaving a residue or scum (insoluble calcium salt), which is difficult to remove. Using liquid soap, if available, is preferable because it mixes more easily with water than bar or powdered soaps. In addition, liquid soap breaks up and dissolves or suspends grease, oil and other foreign matter in solution so that they can be removed more easily by the cleaning process. Do not use abrasive cleaners (e.g. Vim® or Comet®) or steel wool because these products can scratch or pit metal or stainless steel. These scratches then become a nesting place for microorganism, making cleaning more difficult, as well as increasing the chance of corrosion (rusting) (Tietjen 2003). l

Formula to make Chlorine solution 0,5% from dry powders:

% dilute Total part (Tp) of water = –––––––––––––––––– x 1000 % concentrate Example: To make chlorine solution 0,5% from dry powders available in Indonesia ( 35% chlorine): 0.5% 1. Gram/liter = ––––––– X 1000 = 14,3 gram/liter 35% 2. Add 14 grams dry powders in to 1 liter of clean water .

Processing instruments.
DECONTAMINATION DEcONTAMINATION Soak in 0,5% chlorine solution 10 minutes

GENERAL HEALTH

Thoroughly Wash and Rinse Wear gloves and other protective barriers (glasses, visors, or google)

Acceptable Methods

STERILIZATION

Chemical Soak 10-24 hours
Autoclave 106 k/pa tpressure (15 lbs/in²) 121ºC (250ºF) 20 min unwrapped 30 min wrapped

Boil or Steam Dry Heat 170ºC 60 min Lid on 20 min

Chemical Soak 20 min

COOL (Use immediatlely or Store)

22 HEALTH MESSENGER N° 03

MATERNAL HEALTH: FOR A SAFE MOTHERHOOD

KESEHATAN UMUM / PEMROSESAN ALAT

membantu pencegahan korosi, instrumen akan tetap berkarat bila direndam selama 1 jam dalam air biasa. Tidak ada prosedur sterilisasi atau disinfeksi tingkat tinggi (DTT) yang efektif tanpa melakukan pencucian terlebih dahulu (Porter 1987). Pencucian yang benar dengan menggunakan sabun dan air juga dapat menghilangkan bahan organik seperti darah dan cairan tubuh. Hal ini penting mengingat bahan organik kering dapat menjebak mikroorganisme, termasuk endospora, yang sisanya bisa menghalangi proses sterilisasi atau disinfektan. Bahan organik juga bisa menginaktivasi beberapa macam disinfektan tingkat tinggi, sehingga menjadi tidak efektif (AORN 1992; Rutala dkk 1998). Penggunaan sabun penting untuk pembersihan yang efektif karena air saja tidak dapat menghilangkan protein, minyak, dan lemak (Nyström 1981). Penggunaan sabun (batangan) tidaklah berguna karena asam lemak dalam sabun bereaksi dengan mineral dalam air meninggalkan sisa atau buih (garam kalsium yang tidak larut) yang sangat sukar untuk dihilangkan. Gunakan sabun cair karena sabun ini dapat dengan mudah bercampur dengan air daripada sabun bubuk. Sebagai tambahan, sabun cair bisa memecahkan dan menghilangkan atau menyingkirkan lemak, minyak, dan benda asing lainnya dalam larutan sehingga dengan mudah dapat dimusnahkan dalam proses pencucian. Hindari menggunakan pembersih yang bersifat mengikis (misalnya Vim® atau Comet®), serat baja atau baja berlubang, dan baja stainless karena produk-produk ini bisa menyebabkan goresan. Goresan ini kemudian menjadi sarang bagi mikro-organisme yang membuat proses pembersihan kian sulit dan juga meningkatkan timbulnya korosi (karat). l

Rumus untuk Membuat Larutan Klorin 0,5% dari Serbuk Kering
% larutan yang diinginkan ––––––––––––––––––––––––––– X 1000

Jumlah bagian air =

% konsentrat Contoh: Untuk membuat larutan klorin 0,5% dari serbuk yang bisa melepaskan klorin (seperti kalsium hipoklorida) yang mengandung 35% klorin: 0.5% 1. Gram/liter = ––––––– X 1000 = 14,3 gram/liter 35% 2. Tambahkan 14 gram (pembulatan kebawah dari 14,3) serbuk kedalam 1 liter air mentah yang bersih.

Skema pemrosesan peralatan
DEKONTAMINASI Rendam dalam larutan klorin 0,5% selama 10 menit

KESEHATAN UMUM

KESELURUHAN DICUCI DAN DIBILAS Pakai sarung tangan dan pelindung lain (kacamata, visors, atau google)

Cara yang bisa diterima

STERILISASI

DISINFEKSI TINGKAT TINGGI (DTT)

Kimiawi Rendam 10-24 Jam
Otoklaf 106 k/pa tekanan (15 lbs/in²) 121ºC (250ºF) 20 menit tdk dibungkus

Panas kering 170ºC 60 menit

Didihkan/ Uap tinggi Tutup 20 menit

Kimiawi Rendam 20 menit

DINGINKAN (pakai segera/simpan)

KESEHATAN IBU: UNTUK KESELAMATAN IBU

PEMBAWA PESAN KESEHATAN N° 03 23

GENERAL HEALTH / MANAGEMENT OF NORMAL DELIVERY

N

Management of normal delivery
ormal delivery is a spontaneous baby delivery with the back head presentation without any help from special equipment that can hurt the mother and the fetus. It is normal to have the delivery when the stage of pregnancy already passes 22 weeks. Even though the delivery time is still immature or premature, usually the delivery will take place between the 37th – 40th weeks. DIAGNOSIS TO START A DELIVERY If a pregnant woman complains about an intermittent stomach painful together with mucus and blood and also from early breaking waters, it can be a serious sign that the delivery time is coming. But, those are also not a predetermined signs that the delivery will take place (inpartu). To make sure that a pregnant woman is in inpartu situation, we can see through the condition of her cervix: if it is getting softer or not and if there is dilatation (cervix opening). If the cervix has not experienced dilatation yet, it means that it is not the inpartu time. An incorrect diagnosis of the inpartu condition will cause nervousness and unnecessary health care. DELIVERY TIME DIVIDED INTO 4 TERMS: Care in the term I (Opening term) Term I starts when the cervix has been opened for + 14 hours, 8 hours in the latent term and 6 hours in the active term. It can only happen on the first pregnancy. The next pregnancy could be shorter. At this moment, there are good things to do: • Do the regular check up and fill in the partograf to watch over mother and fetus. • Give support and information about the pregnancy, to reduce the nervousness. • Explain the procedure that the mother will experience and respect her privacy. • Suggest the mother to choose a good position, take enough food and drink and take care of personal hygiene. Care in the term II (the expulsion of the baby) This term starts when the cervix is completely open and we can see the baby’s head. At this time, we can tell the mother to strain abdominal muscles. Tell her to take the correct position and be ready to welcome the baby: • To bear the head: Ask the mother to strain abdominal muscles as strongly as she can, in concurrence with the contractions. Put one hand to hold the baby’s head and to keep it flexible. Your other hand is to hold the perineum (prepare to do episiotomy when there is some worries about the perineum rupture grade III). Pull the baby’s head gently and clean the baby’s face from mucus or blood. Check thoroughly if there is any twisted umbilical cord. If you find one and it tightens the baby, liberate the baby by cutting it after a stitch on the both side. • To bear the shoulder and the other organs: Let the head do some paksi circle, and put two hands on the both sides of the head and neck. Pull it gently to the down side to bear the front shoulder and another gently pulls upside to bear the back shoulder. Always slip one of your hand between the shoulder and arm back and the other hand on the back of the baby to bear the baby’s whole body. Put the baby on top of mother’s stomach, dry the baby and check carefully the respiratory systems. Almost every baby cries and breathes spontaneously 30 seconds after birth. Stitch and cut the umbilical cord. Make sure that the baby had contact with the mother’s skin and then wrap the baby to keep warm. Care in the term III (to pull out the placenta) Normally, 6 minutes after the baby is completely delivered, the placenta will also come out. Placenta is coming out because of the existence of uterus contraction. The use of Oxytocine 2 minutes after the delivery will help to bear the placenta. This step is often taken because there are some worries that the uterus contraction is not strong enough. • To bear the placenta by doing the tightening of umbilical cord: Put one hand on top of the simphisis pubis right on the corpus uteri, when there is contraction. Move the hand and do some dorso cranial push. The other hand holds the umbilical cord with a clamp about 5 cm in front of the vulva. Keep the light on the umbilical cord. When the contraction comes, pull the umbilical cord gently and regularly with the same tension on the uterus. Do these steps every time the contraction comes until the placenta comes out. After it comes out, according to the way of delivery, turn the placenta to the right to take the membrane fetal. Then do a little massage on the mother’s stomach / fundus to make some contraction and stop the bleeding. Care in the term IV (PNC) Two hours after delivery is a critical time for the mother and also the baby. At this moment, the midwives or doctors should stay with the mother to make sure that they both are in a good and stable condition. Do the fundus examination as often as possible. Massage the mother’s uterus to create some contractions to avoid the post partum hemorrhage. Do the general check up and make sure that everything is in normal condition. Clean and change the mother’s dress. Give the baby to the mother, so she can start the breast feeding. Tell the mother to practice a healthy diet. Teach her also the uterus massage, explain to her the dangers signs after delivery and inform her of the right place to get the right help should there be any problems (especially if the mother gave birth at home). Every health worker has to be able to perform a normal, clean and safe delivery for the mother and also for the baby. l

GENERAL HEALTH

24 HEALTH MESSENGER N° 03

MATERNAL HEALTH: FOR A SAFE MOTHERHOOD

KESEHATAN UMUM / MANAJEMEN PARTUS NORMAL

P

Manajemen partus normal
artus normal adalah kelahiran bayi spontan dengan presentasi belakang kepala tanpa bantuan istimewa atau alat tertentu yang bisa melukai ibu dan janin. Persalinan sudah dapat terjadi sejak kehamilan berusia diatas 22 minggu. Walaupun persalinan itu berada dalam kondisi immatur atau prematur, normalnya persalinan akan berlangsung antara minggu ke 37-40. DIAGNOSA MEMULAI PERSALINAN Bila wanita hamil mengeluhkan nyeri perut yang intermiten disertai pengeluaran lendir bercampur darah dan pengeluaran air ketuban dapat dicurigai persalinan akan dimulai. Namun hal ini bukanlah tanda mutlak bahwa kelahiran akan segera dimulai (inpartu). Pemastian wanita hamil dalam keadaan inpartu bila servik terasa melunak dan ada dilatasi (pembukaan servik). Apabila servik belum berdilatasi berarti belum inpartu. Maka itu hanya sebuah persalinan semu maka tunggulah hingga servik berdilatasi. Kesalahan mendiagnosis keadaan inpartu akan menyebabkan timbulnya kegelisahan dan penanganan yang tidak perlu. EMPAT TAHAP PERSALINAN Penanganan I (Kala Pembukaan) Kala I dimulai bila servik telah membuka dan dapat berlangsung selama + 14 jam, 8 jam pada fase laten dan 6 jam fase aktif. Hal ini terjadi pada kehamilan pertama saja. Kehamilan selanjutnya dapat lebih singkat. Pada saat ini ada beberapa hal yang dapat dilakukan: • Periksa secara berkala dan isi partograf untuk memantau kondisi ibu dan janin. • Berikan dukungan dan informasi tentang kemajuan persalinan agar ibu tidak gelisah. • Jelaskan prosedur yang akan dijalani ibu dan jaga privasinya. • Anjurkan ibu memilih posisi yang baik, cukup makan minum dan membersihkan tubuh. Penanganan II (Pengeluaran Bayi) Dimulai saat servik membuka lengkap dan kepala telah tampak. Pada saat ini ibu baru diperbolehkan mengejan. Ajarkan posisi melahirkan yang benar, bersiaplah untuk menyambut kelahiran bayi: • Melahirkan kepala: Anjurkan ibu mengejan dengan tenaga penuh sesuai kontraksi. Letakkan satu tangan untuk menjaga kepala bayi agar fleksi. Tangan lainnya menahan perinium (episiotomi dilakukan bila ada kekhawatiran terjadi ruptur perineum grade III). Lahirkan kepala dan segera usap muka bayi dari lendir/darah, perhatikan apakah ada lilitan tali pusat. Bila terdapat lilitan dan terlalu ketat, bebaskan dengan mengguntingnya setelah diklem di kedua sisinya. • Melahirkan bahu dan anggota badan lainnya: Biarkan kepala melakukan putaran paksi. Setelah itu tempatkan kedua tangan pada kedua sisi kepala dan leher. Lakukan tarikan lembut ke bawah untuk melahirkan bahu depan, dan lalu tarikan lembut ke atas untuk melahirkan bahu belakang. Selalu selipkan satu tangan di antara bahu dan lengan belakang, dan satu tangan lagi menyusuri punggung bayi untuk melahirkan keseluruhan anggota badan. Letakkan bayi di atas perut ibu, keringkan bayi, bersihkan dan nilai pernafasannya. Sebagian besar bayi menangis dan bernafas spontan 30 detik setelah lahir. Klem dan potong tali pusat. Pastikan bayi berkontak dengan kulit ibu lalu bungkus bayi untuk menjaga supaya tetap hangat. Penanganan III (Pengeluaran Plasenta) Normalnya sekitar 6 menit setelah bayi dilahirkan lengkap, plasenta akan lahir pula. Plasenta lahir karena kontraksi uterus masih ada. Penggunaan oksitosin 2 menit setelah bayi lahir bayi akan membantu melahirkan plasenta. Ini sering dilakukan karena kekhawatiran akan uterus yang tidak baik kontraksinya. • Melahirkan plasenta dengan melakukan penegangan tali pusat terkendali (PTT): Letakan satu tangan diatas simphisis pubis tepat pada korpus uteri saat ada kontraksi. Tangan digerakkan dan lakukan dorongan dorso kranial. Tangan satu lagi memegang tali pusat dengan kelm kira-kira 5 cm di depan vulva. Jaga tahanan ringan pada tali pusat. Saat kontraksi, lakukan tarikan terkendali pada tali pusat terus menerus dengan tegangan yang sama dengan tegangan uterus. Lakukan langkah-langkah PTT ini setiap ada kontraksi sampai plasenta terlepas. Setelah plasenta terlepas keluarkan plasenta sesuai jalan lahir, putar plasenta searah jarum jam untuk mengeluarkan selaput ketuban, setelah itu masase perut ibu di bagian fundus untuk menimbulkan kontraksi dan menghentikan perdarahan. Penanganan IV (Pengawasan Pascamelahirkan) Dua jam setelah melahirkan adalah masa kritis bagi ibu dan bayi. Dalam masa ini, dianjurkan penolong (bidan) tinggal bersama ibu untuk memastikan ibu dan bayi dalam kondisi stabil. Lakukan pemeriksaan fundus sesering mungkin. Timbulkan kontraksi dengan memasase uterus agar terhindar dari perdarahan post partum. Periksa keadaan umum ibu dan bayi dan pastikan semua dalam keadaan normal dan baik. Bersihkan dan ganti pakaian ibu. Berikan bayi pada ibu supaya pemberian ASI dapat dimulai. Anjurkan ibu untuk makan dan minum yang cukup. Ajarkan cara masase uterus. Jelaskan tanda-tanda bahaya paska persalinan dan informasikan tempat yang tepat untuk mendapatkan pertolongan (terutama bila melahirkan di rumah). Setiap penolong kelahiran profesional (bidan/dokter) harus mampu memberikan pelayanan persalinan normal yang bersih dan aman bagi ibu dan anak. l
PEMBAWA PESAN KESEHATAN N° 03 25

KESEHATAN UMUM

KESEHATAN IBU: UNTUK KESELAMATAN IBU

GENERAL HEALTH / DANGER SIGNS DURING DELIVERY

The importance of detecting danger signs during delivery
Dangers signs during delivery Bleeding on delivery Headache, stiff, comma and high blood pressure Too long delivery Bad positioning and deformities Bigger uterus delivery (distention) Uterus scar history (operation scar) Bad fetal condition on delivery Identification method Through a good diagnose and there are blood from vagina Through a diagnose and vital signs assessment. Patient must be observed Solutions Handle the patient’s shock first, assess the vital signs, and refer the patient to a higher level health service Take care of the patient like in the other emergency cases. Observe the respiratory organs, vital signs, and refer the patient to hospital Watch the mother and fetal vital signs, check carefully the partograf, check general health, and refer the patient Observe fetal and mothers’ vital signs check any bad possibility from the fetal condition, uterical rupture and refer the patient to hospital Upright mother, check the stage of pregnancy, and if the baby is big be ready for distosia risk on shoulder, refer the patient if there is no adequate facilities Give an infusion or intravenous feeding, check any bad possibility of uterical rupture, and refer the patient Tilted the patient’s body to the left, give oxygen, stop the oxytocine infusion (if it was given before), refer the patient Give the mother 4-6 liter oxygen, manage the position, do manipulation by pushing the fetal to uterus and not pressing the umbilical cord until there is a reposition for the umbilical cord. Or refer the patient and give tocolithic, get ready for caesarian if it is necessary Good enough rest, take plenty of water, and applied a compress to her head, and, look for the cause of the fever Prevent and handle the shock, give some infusion, observe the vital signs, and refer the patient Observe for vital signs, give 4-6 liter oxygen, check Hb ,and refer the patient Make sure that the mother doesn’t use sedative, recheck baby’s heart rate with Doppler Confirm the stage of pregnancy (with the USG if it is possible), the fetal membrane liquid. If there is a bleeding history, never do vagina examination. Make sure if there is an infection history or not, observe the vital signs, decide inpartu or not, or refer the patient

Through a diagnose and obstetrical assessment

During obstetrical assessment

Through a diagnose and obstetrical assessment

GENERAL HEALTH

Through a diagnose and physical examination

Obstetrical assessment

Umbilical cord prolapsed

Obstetrical assessment

Fever on delivery time Stomach painful Difficulty in breathing Cannot feel the fetal movement

Vital signs assessment and observation Complain diagnoses and physical examination Through a diagnose and physical examination

Through a diagnose and obstetrical assessment

Early break fetal membrane

Through a diagnose and obstetrical assessment

26 HEALTH MESSENGER N° 03

MATERNAL HEALTH: FOR A SAFE MOTHERHOOD

KESEHATAN UMUM / TANDA BAHAYA SAAT PERSALINAN

pentingnya Mendeteksi Tanda Bahaya Saat persalinan
Tanda bahaya dalam persalinan Perdarahan saat persalinan Nyeri kepala, kejang, koma dan darah tinggi Persalinan terlantar Malpresentasi dan malposisi Persalinan dengan uterus yang lebih besar (distensi) Riwayat parut uterus (bekas operasi) Gawat janin dalam persalinan Metode pemeriksaan Penatalaksanaan Cegah dan atasi bila terjadi syok, berikan cairan, awasi tanda vital, rujuk pasien ke pelayanan lebih tinggi Berikan perawatan seperti kasus darurat pada umumnya, awasi jalan nafas dan pernafasan, awasi tanda vital, rujuk pasien segera Awasi tanda vital ibu dan janin, kaji ulang partograf, perbaiki keadaan umum, rujuk pasien Awasi tanda vital ibu dan janin, periksa kemungkinan gawat janin dan ruptur uteri, rujuk pasien Tegakkan ibu, pastikan umur kehamilan, bila bayi besar bersiaplah untuk resiko distosia bahu, rujuk pasien bila fasilitas yang ada tidak mendukung Melalui anamnesa dan ada darah segar keluar dari vagina

Anamnesa dan pemeriksaan tanda vital. Pengawasan pasien

Anamnesa dan pemeriksaan obstetrik

Pemeriksaan obstetrik

Anamnesa dan pemeriksaan obsterik

KESEHATAN UMUM

Anamnesa, pemeriksaan fisik

Berikan infus, awasi kemungkinan ruptur uteri, rujuk pasien Pasien dimiringkan ke kiri, berikan oksigen, hentikan infus oksitosin (bila diberi), rujuk pasien Berikan oksigen 4-6 liter pada ibu.Atur posisi ibu, lakukan manipulasi dengan mendorong bagian janin ke arah rahim atas agar tidak menekan tali pusat sampai terjadi reposisi tali pusat atau seksio dilakukan. Rujuk, beri tokolitik, siapkan seksio sesarea bila prolapsus tetap terjadi Istirahat, minum yang banyak, dan kompres, lalu cari penyebab demam Cegah dan atasi bila terjadi syok, berikan cairan, awasi tanda vital, rujuk pasien Awasi tanda vital, berikan oksigen 4-6 liter, cek Hb, rujuk pasien Pastikan ibu tidak dalam penggunaan sedatif, nilai ulang Djj dengan doppler Konfirmasi usia kehamilan (kalau dapat dgn USG), nilai cairan ketuban. Bila pernah perdarahan jangan lakukan Vagina Toucher. Tentukan ada tidaknya infeksi, awasi tanda vital, tentukan inpartu atau tidak, rujuk pasien

Pemeriksaan obstetrik

Prolapsus tali pusat

Pemeriksaan obstetrik

Demam dalam persalinan Nyeri perut

Pemeriksaan tanda vital dan pengawasan Anamnesa keluhan dan pemereksaan fisik

Sukar bernafas Gerak janin tidak dirasakan

Anamnesa dan pemeriksaan fisik Anamnesa dan pemeriksaan obstetrik

Ketuban pecah dini

Anamnesa dan pemeriksaan obstetrik

KESEHATAN IBU: UNTUK KESELAMATAN IBU

PEMBAWA PESAN KESEHATAN N° 03 27

GENERAL HEALTH / NEwBORN ASSESSMENT

T

GENERAL HEALTH

he first part is the immediate assessment of the newborn’s ability to adapt to extrauterine life while simultaneously assessing for gross abnormalities. The second and equally important assessment is a thorough physical examination. Although this physical examination is usually carried out within the first hour of the birth it is delayed if the newborn is cold or in poor condition. This purpose of this physical examination is to rule out obvious abnormalities. It is important to keep the newborn warm at all times as many of the newborn’s systems of adapting to extrauterine life are negatively impacted by hypothermia.. Keep in mind that it is the healthcare provider’s responsibility to facilitate the attachment process between infant, mother and family. The physical examination is conducted in the presence of the parents. It is a good opportunity for the midwife to explain her finding to the parents, reassure them, and respond to their questions. Within 3648 hours another thorough examination is conducted to assess the heart, lungs and hips. IMMEDIATE ASSESSMENT Using the mnemonic APGAR score the five variables as a means of assessing extrauterine adaptability. See box below. While the Apgar method is subjective and influenced by practitioner bias it is widely used and accepted. A score is assigned at 1 minute of delivery and again at 5 minutes. Additional assessment can be made at 10 minutes to assess improvement in infants with previously low scores. However, noted that low scores at one minute require immediate intervention.
Sign Appearance (color) Pulse (heart rate) Grimace (response to stimuli) Activity (muscle tone) Respiratory effort 0 Blue, pale Absent No response Limp None 1 Body pink, limbs blue <100 Grimace Some flexion of limbs Slow irregular 2 Completely pink >100 Cry, cough, sneeze Active, well flexed Good or crying

A score of 4-6 at one minute is suggests moderate depression requiring some degree of resuscitation. A score of 0-3 at one minute suggests severe respiratory depression requiring immediate resuscitative efforts. PROCEDURE: • Prior to delivery assure that there is an appropriate, warm surface and adequate light with which to carry out the newborn assessment and possible resuscitative efforts. • Check the resuscitation equipment prior to each delivery and set it up for immediate use. • Conduct a newborn rapid assessment • Commence with immediately with necessary interventions for compromised births • Note time of delivery. • Proceeding quickly and efficiently carry out an assessment at 1 minute totaling as you assess each variable. • Repeat APGAR score at 5 minutes. • Repeat APGAR as required by local protocol PHYSICAL ExAMINATION Instead key points are presented to remind the healthcare provider of the components of a physical assessment. Assure that a draft-free, well lighted and warm surface is available. Explain the procedure to the parents and allow them to observe and ask questions. Begin by allowing the parents to see you wash your hands and donning gloves. Uncover only those parts of the infant that are being examined to assure that the infant remains warm. Systematically examine the infant head-to-toe. During the examination consider the rationale for checking each part of the body. Always check for symmetry! l
Head – Measure the Occipital-frontal circumference Trauma-Moulding-Caput succedaneum-Sutures-Fontanelles Face – check the size and position-Eyes-Ears -Nose-Mouth-Chin Neck – check for webbing, redundant folds Clavicles – intact or fractured Arms-Movement-Digits - webbing-Palm-how many creases-Nails Chest – symmetry with respirations-Respiratory rate-Respiratory distress-Sterna;-Intercostal-Nipples and areola – symmetry. Accessory structures Abdomen – synchronous movement with breathing chest Umbilical stump Genitalia Male-Size of penis-Location of urethral meatus-Scrotum Female-Vulva-Clitoris-Urethral orifice-Vaginal orifice Legs- symmetry, size, shape, posture Toes – webbing, polydactyli, syndactyli Spine-Swelling-Dimpling-Hairy patches Curvature-Anal sphincter-Rectal patency Skin-color, rashes, marks Mongolian spot-Elimination-Urine-Meconium weight and Length

Adapted from Taber’s Cyclopedic Medical Dictionary 17th Edition

The variables are assigned a score. The total score indicates the baby’s status and need for additional attention. Ten (10) is the maximum score. An infant with a score below 7 requires resuscitative efforts. A score of 7-10 at one minute suggests that the baby is in not in need of respiratory support and is in good condition.

28 HEALTH MESSENGER N° 03

MATERNAL HEALTH: FOR A SAFE MOTHERHOOD

KESEHATAN UMUM / PEMERIKSAAN BAYI BARU LAHIR

B

agian pertama adalah penilaian dalam waktu singkat terhadap kemampuan bayi yang baru lahir untuk beradaptasi dengan kehidupan di luar kandungan ibu dan pada saat yang sama juga mengecek bila ada sesuatu yang tidak normal. Bagian kedua yang sama pentingnya adalah pemeriksaan secara fisik. Pemeriksaan fisik ini biasanya dilakukan satu jam setelah kelahiran, tapi dapat ditunda apabila kondisi bayi tidak memungkinkan. Tujuan dari pemeriksaan fisik ini adalah untuk mengatasi sesegera mungkin apabila ditemukan suatu kecacatan. Sangatlah penting untuk menjaga kehangatan tubuh bayi yang baru lahir karena sistem tubuh bayi menyesuaikan dengan kondisi baru di luar kandungan yang dapat dipengaruhi hipotermia. Ingatlah selalu bahwa pekerja kesehatan bertanggung jawab untuk memfasilitasi proses pendampingan bayi, ibu dan keluarganya. Pemeriksaan fisik dilakukan bersama dengan kedua orang tuanya. Itu merupakan suatu kesempatan bagus bagi para bidan untuk menjelaskan penemuannya kepada orang tua dan menjawab semua pertanyaan mereka. Dalam 36-48 jam, pemeriksaan yang lebih cermat harus dilakukan untuk mengetahui kondisi jantung, paru-paru, dan pinggul. PEMERIKSAAN SEGERA Dengan menggunakan sistem APGAR yang mudah diingat untuk memeriksa kemampuan penyesuaian diri dengan situasi di luar kandungan. Lihat kotak di bawah ini. Walaupun metode APGAR subyektif sifatnya dan banyak dipengaruhi prasangka pekerja medis, metode ini seringkali digunakan dan bisa diterima secara luas. Penilaian dimulai 1 menit setelah kelahiran dan 5 menit setelahnya. Pemeriksaan tambahan dapat dilakukan pada menit ke 10 untuk anak yang skor nilainya rendah. Bagaimana pun, ingatlah bahwa skor yang rendah pada menit pertama membutuhkan penanganan segera.
Tanda Appearance (warna kulit) Pulse Denyut (detak jantung) Grimace – Seringai (respon terhadap rangsangan) Activity – Aktifitas (gerakan otot) Respiratory effort – Usaha pernafasan 0 Biru, pucat 1 Badan merah muda, tungkai/ lengan biru <100 2 Semuanya merah muda

Variabel menentukan skornya. Jumlah total skor mengindikasikan status dan kebutuhan bayi terhadap suatu perawatan khusus. Sepuluh (10) adalah skor maksimum. Bayi yang baru lahir dengan skor dibawah 7 membutuhkan bantuan pernafasan. Skor 7-10 pada menit pertama berarti bayi tidak membutuhkan bantuan pernafasan dan berada dalam kondisi yang bagus. Skor 4-6 pada menit pertama berarti ada gangguan moderat dan disarankan perawatan khusus. Skor 0-3 pada menit pertama berarti adanya gangguan pernafasan yang parah dan membutuhkan bantuan pernafasan sesegera mungkin. PROSEDUR: • Yang harus diprioritaskan saat kelahiran adalah memastikan ada tempat yang memadai, hangat dan cukup cahaya untuk menyambut kedatangan bayi dan jika diperlukan memberikan bantuan pernafasan. • Periksa peralatan pernafasan sebelumnya untuk setiap kelahiran dan susun penempatannya untuk penggunaan saat darurat. • Lakukan pemeriksaan cermat dan menyeluruh pada bayi. • Sesegera mungkin berikan perawatan tambahan jika diperlukan pada kelahiran yang sudah disepakati sebelumnya. • Catat waktu kelahiran. • Lakukan pemeriksaan secara cepat dan efisien terhadap setiap kelahiran pada menit 1 pada setiap variabel. • Ulangi penilaian APGAR pada menit ke 5. • Ulangi APGAR jika dibutuhkan dalam protokol setempat. PEMERIKSAAN FISIK Pastikan kain bersih, cahaya cukup dan permukaan yang hangat tersedia. Mulailah dengan membiarkan orang tua melihat Anda mencuci tangan dan memakai sarung tangan. Lepaskan sarung tangan hanya untuk memastikan bahwa badan bayi tetap hangat. Periksa bayi secara sistematis dari kepala sampai ujung kaki. Selama pemeriksaan gunakan pemikiran rasional untuk melihat setiap anggota tubuh. Cek simetrisitasnya! l
Kepala – Ukur lingkar kepala bagian depan dan belakang Trauma-Bentuk-Caput suksedaneum-Sutura-Fontanela Muka –cek ukuran dan posisi-Mata-Telinga -Hidung-Mulut-Dagu Leher Klavikula – utuh atau retak Lengan- Gerakan-Digit –selaput -Telapak- periksa jari yang menyatu(jari bebek)- jari berlebih-Kuku Dada – simetri dengan respirasi-Pernafasan rata-rata-Tekanan pernafasan-Sternum-Interkostal-Puting dan areola – simetris. Struktur tambahan Perut – gerakan sinkron dengan pernafasan dada-Ujung tali pusar Alat Kelamin Laki-laki-Ukuran penis-Lokasi lubang saluran kencing-Kantung kemaluan Perempuan-Vulva-Klitoris-Lubang saluran kencing-Lubang vagina Kaki-simetri, ukuran, bentuk, postur Telapak kaki – selaput, polidaktili (adanya jari yang berlebih), sindaktili Tulang belakang-Bengkak-Lesung-Tambahan rambut-Lekukan-Anal sphincter-Rectal patency Kulit - warna, ras, tanda lahir Mongolian spot-Eliminasi-Urin-Mekonium Berat dan Panjang

KESEHATAN UMUM

Absen Tidak ada respon

>100 Menangis, batuk, bersin Aktif, geraknya bagus Bagus atau menangis

Menyeringai Beberapa gerakannya timpang Lambat dan tidak teratur

Timpang

Tidak ada

Diadaptasi dari Kamus Kedokteran Taber’s Cyclopedic Edisi ke 17

KESEHATAN IBU: UNTUK KESELAMATAN IBU

PEMBAWA PESAN KESEHATAN N° 03 29

GENERAL HEALTH / NEwBORN RESUSCITATION

T

newborn Resuscitation
here is a plethora of textbooks and manuals that focus on maternal and newborn health. Yet we know that greater than 500,000 women die each year from complications of pregnancy and childbearing. Many more babies die in their first week of life. As skilled providers it is our goal to safeguard the lives of our patients by providing quality care. A vital aspect of providing quality health care is anticipating and recognizing problems. Birth preparedness and complication readiness is a responsibility shared with women, families, communities, policymakers and healthcare facility staff. Working together much can be achieved to provide evidence-based care and insure that life-saving measures are available in a timely manner. One area that requires skills, knowledge of risk factors and early detection of complications is newborn resuscitation. The ultimate goal of resuscitation in the newborn is to help initiate or sustain the breathing efforts for extrauterine life. It is an emergency situation. The risk factors for newborn resuscitation are many. However, the need for resuscitation can occur without warning. For this reason a skilled provider is always prepared and able to administer these life saving skills. In the presence of an anoxic newborn resuscitative effort must be taken within 1 minute. To avoid delays the equipment used for resuscitation • must be maintained in working order • always available for immediate use • must be checked prior to each delivery Routine in-service training programs should maintain personnel that are well-practiced in the use of the equipment and resuscitative techniques. The healthcare provider is aware of the potential for delivery of a compromised newborn. There are many common maternal and fetal risk factors such as: • fetal distress as indicated by abnormal fetal heart tones • obstetric complications e.g. eclampsia, prolapsed cord, dystocia, hemorrhage • prematurity, • malpresentation, • meconium Minimal equipment is needed to successfully resuscitate the newborn. In either the hospital or clinic setting the equipment can easily be stored and kept accessible for use. A flat surface is of prime importance. In the hospital or clinic setting a resuscitation table should be available at point of use. This table can contain all the necessary equipment needed. In the homebirth setting any strong flat surface can be used e.g. a table, or chest of drawers. A basic portable kit can be adapted for home deliveries. Checking the equipment when the mother is at 5-7 centimeters of dilatation should be part of the hospital routine. The necessary equipment should include but not be limited to: • flat surface (resucitation bed) • radiant heat source/lamp • towels • self-inflating resuscitation bag • clear, soft masks in sizes for newborn and premie (00 or 0/1) • suction apparatus with catheters in appropriate sizes • stethoscope • gloves • cord clamps Note that this equipment list is limited to items used for ventilation. Items for intubations should also be available at the resuscitation table or portable home delivery kit. Breathing can often be initiated by gentle stimulation and clearing of the airway. Sometimes directing a flow of oxygen over the baby’s face is all that is needed to stimulate breathing. However, these efforts should not used as a means to resuscitate the newborn. Instead they are the first steps taken to ventilate the newborn. Remember that keeping the newborn warm is important. Hypothermia can exacerbate the effects of hypoxia and has a negative impact on many of the infant’s systems. Sufficient number of towels should be stacked (2-3) on the resuscitation table prior to delivery to assure that the infant can be dried and the wet towels easily removed. Ideally the infant is wrapped and dried in pre-warmed towels that cover the head but leave the chest exposed for visibility during ventilation Ventilating by using a face mask is the most effective means of inflating the lungs. In the hands of an experienced and well-practiced provider ventilating is relatively risk free and effective. Important points to remember: • keep the newborn in warm towels leaving only the chest exposed • proper positioning of the head in what is termed the “sniff” position • placement of small towel under the shoulders to assure proper head position • correct placement of mask over nose and mouth creating a good seal • ventilate at a rate of 40 respirations per minute • avoid applying pressure to the soft tissue under the chin or the eyes These recommendations are made to help you make timely responses which will improve the delivery of care and the adequacy of your responses. l

GENERAL HEALTH

30 HEALTH MESSENGER N° 03

MATERNAL HEALTH: FOR A SAFE MOTHERHOOD

KESEHATAN UMUM / RESUSITASI BAYI BARU LAHIR

U

Resusitasi Bayi Baru lahir
mumnya buku pelajaran dan buku acuan terfokus pada kesehatan ibu dan bayi yang baru lahir. Padahal kita tahu bahwa lebih dari 500.000 ibu meninggal tiap tahunnya akibat komplikasi saat hamil dan melahirkan. Tidak sedikit pula bayi yang meninggal dalam minggu pertama kehidupannya. Sebagai pekerja kesehatan yang profesional, adalah tugas kita untuk menjamin kehidupan pasien dengan memberikan pelayanan yang berkualitas. Aspek vital pemberian pelayanan yang berkualitas adalah dengan mengantisipasi dan mengenali segala permasalahan. Persiapan menghadapi kelahiran dengan berbagai resikonya adalah tanggung jawab bersama antara sang ibu, keluarganya, masyarakat dan petugas kesehatan. Adanya kerja sama untuk memberikan pelayanan dasar yang dalam waktu singkat sangatlah penting. Salah satu hal yang membutuhkan ketrampilan, pengetahuan akan resiko dan deteksi dini terhadap komplikasi adalah resusitasi pada bayi yang baru lahir. Tujuannya adalah untuk mendukung usaha bayi yang baru lahir terhadap dunia barunya setelah keluar dari rahim. Itu adalah situasi darurat. Bayi yang baru lahir rentan terhadap banyak resiko. Bagaimanapun, berbagai hal dapat terjadi tanpa ada peringatan sebelumnya. Untuk alasan inilah, pekerja kesehatan yang profesional harus selalu waspada dan siap melakukan tindakan penyelamatan darurat. Jika terjadi anoksia, tindakan penyelamatan harus dilakukan dalam waktu 1 menit. Beberapa saran untuk menghemat waktu yang sangat berharga saat resusitasi: • harus menguasai urutan kerja. • siap untuk segala situasi. • selalu cek prioritas yang dibutuhkan untuk setiap kelahiran. Program training petugas kesehatan harus diberikan secara rutin dan personal, dan dilatih sampai mahir cara penggunaan dan teknik penyelamatannya. Petugas kesehatan harus selalu waspada dengan kelahiran bayi yang bermasalah. Ada banyak faktor resiko yang biasa terdapat dalam kandungan ibu seperti: • Gawat janin, terindikasi melalui detak jantung bayi yang abnormal. • Komplikasi obstetrik, contoh eklampsi, tali pusat membumbung, distosia, pendarahan. • Prematur. • Malpresentasi. • Mekonium. Kelengkapan peralatan sangatlah diperlukan untuk tindakan penyelamatan. Baik di rumah sakit maupun klinik, pengaturan peralatan sangatlah penting supaya selalu siap digunakan. Di rumah sakit atau klinik, meja resusitasi harus tersedia sebagai peralatan utama. Meja ini dapat digunakan untuk menyimpan semua peralatan yang dibutuhkan. Untuk rumah yang dipakai sebagai tempat bersalin, semua bidang datar dapat digunakan seperti meja, laci, dst. Perlengkapan dasar dapat digunakan untuk suatu kelahiran di rumah. Memeriksa peralatan saat ibu mengalami pembukaan 5-7 cm merupakan suatu keharusan rutin. Peralatan yang wajib ada tidak hanya terbatas pada: • Tempat berbaring yang datar • sumber cahaya/lampu • handuk • alat resusitasi dengan kantung sendiri • masker yang bersih, lembut untuk bayi yang baru lahir dan bayi prematur (00 atau 0/1) • selang penghisap dengan kateter yang sesuai ukurannya • stetoskop • sarung tangan • klem (pengikat) tali pusat Selalu ingat bahwa peralatan tersebut terbatas sebagai item untuk ventilasi saja. Item untuk intubasi juga harus disiapkan di meja resusitasi atau peralatan di rumah. Pernafasan seringkali dimulai dengan perangsangan lembut dan pembersihan saluran nafas. Terkadang, hanya dibutuhkan pemberian oksigen langsung pada bayi untuk menstimulasi pernafasan. Akan tetapi, tindakan ini tidak boleh dianggap sebagai tindakan penyelamatan. Itu hanyalah suatu cara untuk merangsang bayi untuk bernafas. Ingatlah bahwa menjaga bayi tetap hangat sangat penting. Hipotermia bisa mengakibatkan hipoksia dan berefek negatif pada sistem pernafasan bayi. Jumlah handuk yang tersedia juga harus selalu dijaga (2-3) di meja resusitasi untuk memastikan bahwa bayi bisa langsung dikeringkan dan handuk yang basah bisa langsung disingkirkan. Bila memungkinkan, bayi yang baru lahir dikeringkan dan dibungkus sampai ke kepala dengan handuk yang sudah dihangatkan sebelumnya tapi dada jangan dibungkus untuk menolong kemampuan ventilasinya. Ventilasi menggunakan masker wajah adalah cara paling efektif untuk menginflasi paru-paru. Bagi petugas kesehatan yang sudah berpengalaman, ventilasi tidak beresiko dan sangat efektif. Beberapa poin untuk diingat: • bungkus bayi yang baru lahir dengan handuk hangat, tapi biarkan dada terbuka. • letakkan kepala bayi pada posisi ekstensi. • tempatkan handuk kecil di bawah bahu untuk menjaga tepatnya posisi kepala. • pasang masker di hidung dan mulut dengan tepat. • untuk ventilasi normalnya adalah 40 respirasi per menit. • hindari adanya tekanan pada jaringan lunak di bawah pipi atau di mata. Rekomendasi ini dapat membuat Anda memberikan respon yang tepat dan cepat saat menolong suatu kelahiran. l
PEMBAWA PESAN KESEHATAN N° 03 31

KESEHATAN UMUM

KESEHATAN IBU: UNTUK KESELAMATAN IBU

GENERAL HEALTH / ORTHOPAEDIC PROBLEMS

Examination of the feet is an essential part of the newborn screening. A thorough examination can be performed quickly, by nurses or midwives, at least to properly identify the gravity of the condition and be able to give proper advices to the mother. Examination plan: • General aspect comparing both of the feet • Skin – Aspect and colour, unusual creases or folds, tautness or loss • Range of motion – forefoot, hind foot. Normally, the newborn foot is hyper flexible, especially in dorsal flexion
Type Problem Metatarsus adductus (MTA) Mild congenital Bad position Frequent: 1-2 / 1000 births Medial deviation of Bad positioning the forefoot Because of It’s a wrong the foot position during pregnancy position of the bones within the Calcaneo-talus foot. Calcaneo-valgus Mild congenital Bad position Due to the foot position during pregnancy what are the Signs? Hindfoot normal, forefoot in Adduction C-shaped lateral foot border Prominent styloid process of fifth metatarsal Splay between the great and 2nd toes “Up”, or “Up & Out” foot Extreme dorsal flexion Heel bone (Calcaneum) in correct position Difficulties to put the foot in plantar flexion Skin tensed on the front of the foot Reversed arch. The foot looks “broken”, between hind foot and forefoot Difficult to feel the Heel bone (calcaneum) The foot looks bench on the side Forefoot blocked in Adduction (1) Hind foot blocked in plantar flexion (2) and inversion (3) 2 to 3 visible folds, in the internal side the foot, where it is the most stiff Polydactyly can give functional problems Synactyly gives no functional problem, only cosmetic problem How to treat?

orthopaedic problems of the newborn

Simple observation In more severe cases, stretching exercises, casting Usually resolved by itself within few months

GENERAL HEALTH

Stretching exercises by the Physiotherapist and the mother If severe, Splinting or serial casting Usually resolved by itself within few months Orthopaedic specialist Referral +++ Physiotherapy to stretch soft tissues Surgical correction later

Congenital vertical talus Rare, but severe congenital deformity Can give permanent disability Deformities It’s a deformity of Club Foot the bones within the Severe congenital foot deformity More Frequent: 1/1000 births Can give permanent disability

2 3 1

Polydactyly Digital Supernumerary digits deformities Synactyly Webbed toes

Surgery only

32 HEALTH MESSENGER N° 03

MATERNAL HEALTH: FOR A SAFE MOTHERHOOD

KESEHATAN UMUM / MASALAH ORTOPEDIS

Masalah ortopedis pada Bayi yang Baru lahir

Pemeriksaan kaki merupakan bagian penting saat pengecekan fisik bayi yang baru lahir. Pemeriksaan yang cermat dapat dilakukan dalam waktu singkat oleh perawat atau bidan, setidaknya mereka yang mampu mengidentifikasi kondisi ibu dan bisa memberi saran yang tepat. Tahap pemeriksaan: • Aspek umum membandingkan kedua kaki. • Kulit – aspek dan warnanya, lipatan atau bentuk yang tidak biasa, kerapian dan kelengkapannya. • Jarak gerakan – kaki bagian depan dan belakang. Biasanya, bayi yang baru lahir sangat fleksibel, terutama kelenturan pada bagian belakang.
Tipe Kelainan Metatarsus adductus (MTA) Kelainan kaki bawaan ringan Frekuensi: 1-2 / 1000 angka kelahiran Telapak kaki deviasi (melengkung) ke arah medial karena posisi buruk selama dalam kandungan Apa tanda-tandanya? Penatalaksanaan Observasi ringan Pada kasus berat, dibutuhkan latihan peregangan Biasanya sembuh sendiri dalam beberapa bulan

Malposisi Adalah suatu posisi tulang yang salah pada kaki. Calcaneo-talus Calcaneo-valgus

Telapak kaki normal, punggung kaki aduksi Bentuk C-tampak dari samping kaki Prosesus stytloideus dari metatarsal ke 5 Splay antara ibu jari dan jari telunjuk kaki

KESEHATAN UMUM

Kelainan kaki bawaan ringan karena posisi buruk selama dalam rahim Congenital vertical talus Kasus jarang, tetapi merupakan kelainan bawaan yang berat Dapat mengakibatkan kecacatan permanen

Latihan peregangan “atas”, atau “atas dan arah luar” kaki oleh fisioterapi dan Dorsum fleksi yang berat ibunya. Pada kasus berat, Spalk atau Mata kaki (Calcaneum) pada posisi bidai serial normal Kesulitan membengkokkan kaki Sering sembuh pada posisi telapak kaki. Kulit sendiri dalam tertarik ke punggung kaki beberapa bulan Rujuk ke ahli bedah tulang +++ Fisioterapi untuk peregangan jaringan lunak. Terapi pembedahan pengobatan definitif

Deformities Merupakan kecacatan Club Foot tulang pada kaki Kelainan bawaan yang berat Lebih sering: 1/1000 angka kelahiran Dapat mengakibatkan kecacatan permanen Polidaktili Jumlah jari yang berlebih Sinaktili Kaki bebek (menyatu)

Reversed arch Kaki seperti “patah”, antara telapak kaki dan punggung kaki Sulit menemukan mata kaki (calcaneum)

2 3 1

Kaki terlihat bengkok dari samping. Punggung kaki kaku dan adduksi (1) Telapak kaki kaku dan fleksi (2) dan inversi (3) 2 hingga 3 terlihat, pada sisi dalam kaki yang paling kaku Polidaktili dapat menyebabkan masalah fungsi Sinaktili tidak menyebabkan masalah fungsi, hanya masalah kosmetik

Rujuk ke ahli bedah tulang +++

Kecacatan jari-jari

Dengan pembedahan.

KESEHATAN IBU: UNTUK KESELAMATAN IBU

PEMBAWA PESAN KESEHATAN N° 03 33

MEDICINE / DRUGS TO AVOID DURING PREGNANCY

Drugs to avoid during pregnancy

Some drugs can harm your baby during different stages of your pregnancy. At these times, your doctor might tell you to stop taking your regular medicine and put you on a different medicine that is safer for your baby.

S
MEDICINE

ome drugs are known to induce malformations in newborn. They should be avoided in any time of the pregnancy: Vitamine A, anti-coagulants (warfarin, coumadin), lithium and some anti-convulsivants (carbamazepin, phenytoin). Other medicines can be harmful to the baby depending on the dosage, the time of pregnancy they are taken at, or because there is only a limited knowledge on their consequences on pregnant women. This includes anti-inflammatories (aspirin, ibuprofen, naproxen), anti-depressants, anti-nausea medicines, many anti-hypertensive medicines (propranolol), many mental health medicines (diazepam, chlorpromazine, haloperidol…) and also many anti-allergic medicines. Some other medicines have been used a lot during pregnancy and do not appear to cause major birth defects. This includes drugs such as some antibiotics, acetaminophen/paracetamol,

aspartame (artificial sweetener), famotidine, prednisone (cortisone), insulin. Women wanting to give birth or pregnant women with a preexisting condition such as HIV/AIDS, diabetes, asthma, high blood pressure should seek medical advice on the appropriate way to continue their treatment as these conditions if untreated could be harmful for the baby. Safe medicines to use during pregnancy Pain/fever/cold/flu - paracetamol (acetaminophen) is thought to be safe for short-term use for pain and fever in pregnancy and breast feeding. Avoid anti-inflammatories such as ibuprofen, ketoprofen, diclofenac and aspirin, especially in the third trimester. Allergies: dexchlorpheniramine is now considered to be safe. Vaginal Thrush: clotrimazole do not seem to cause any problems in pregnancy, using an applicator

may not be recommended, vaginal douches may also increase the risk of vaginal infections. Infections: Many antibiotics (Amoxycillin, Ampicillin, Cephalosporins) have been widely and safely used in pregnancy without been associated to any malformations. Tetracyclines (vibramycin, doxycycline) are not recommended during pregnancy. Herbal remedies, Vitamins and Minerals: do not assume that these are safe just because they are natural. Natural product may contain chemical components close to those found in medicines (Vit A for example). A vitamin or mineral complement should be taken with physician/midwife advice. In a general way, only very few drugs can be taken without a medical advice. Physicians and midwifes are the most appropriate person to provide a clear and appropriate information to their patients. l

34 HEALTH MESSENGER N° 03

MATERNAL HEALTH: FOR A SAFE MOTHERHOOD

OBAT / OBAT YANG HARUS DIHINDARI SELAMA HAMIL

obat yang Harus Dihindari Selama Kehamilan
Plasenta tidak berfungsi sebagai “perisai” terhadap bahaya karena tidak bisa melindungi janin dari zat-zat yang dikonsumsi ibu. Kebanyakan obat dapat dengan mudah menembus plasenta dan mencapai janin. Semua obat yang diminum ibu juga diminum oleh bayi lewat peredaran darah.

B

eberapa obat dapat membahayakan janin tergantung usia kehamilannya. Itulah sebabnya, dokter memerintahkan pemberhentian minum beberapa obat dan memberikan resep obat lain yang lebih aman untuk bayi. Beberapa obat dikenal dapat menyebabkan malformasi pada bayi yang baru lahir. Obat yang harus dihindari selama kehamilan: vitamin A, anti-koagulan (warfarin, coumadin), litium dan beberapa anti-konvulsan/anti kejang (carbamazepin, phenytoin). Beberapa obat lainnya dapat berbahaya bagi bayi tergantung dosisnya, usia kehamilan, dan karena terbatasnya pengetahuan akan konsekuensi obat terhadap wanita hamil. Sebagai contoh adalah antiradang (aspirin, ibuprofen, naproxen), anti-depresi, obat anti-mual, obat anti-hipertensi (propranolol), obat kesehatan mental (diazepam, klorpromazine, haloperidol) dan beberapa obat anti-alergi. Ada beberapa obat lain yang biasa diminum selama hamil dan

tidak berefek negatif saat kelahiran. Misalnya beberapa antibiotik, acetaminophen/paracetamol, aspartame (pemanis artifisial), famotidine, prednisone (cortisone), insulin. Wanita yang hendak melahirkan atau wanita hamil dengan kondisi tertentu seperti HIV/AIDS, diabetes, asma, dan tekanan darah tinggi harus mencari saran medis untuk mendapatkan perawatan yang tepat dan melindungi janin. Obat yang aman selama hamil Nyeri/demam/pilek/flu-paracetamol (acetaminophen) dinilai aman untuk mengobati nyeri dan demam saat kehamilan dan menyusui. Hindari anti-inflamatori (anti radang) seperti ibuprofen, ketoprofen, diklofenak dan aspirin terutama pada trimester ketiga. Alergi: dechlorpheniramine sekarang sudah dinyatakan aman. Luka pada vagina: clotrimazole tidak menimbulkan efek negatif pada kehamilan. Penggunaan

aplikator lebih tidak disarankan karena pemakaian obat semprot di vagina beresiko timbulnya infeksi pada vagina. Infeksi: beberapa antibiotik (Amoxycillin, Ampicillin, Cephalosporins) telah digunakan oleh masyarakat umum dan dinyatakan aman untuk ibu hamil tanpa ada kekhawatiran terhadap malformasi saat kelahiran. Tetracyclines (vibramycin, doxycycline) tidak dianjurkan selama masa hamil. Obat Herbal, vitamin dan mineral: jangan langsung berasumsi bahwa produk ini aman hanya karena natural. Produk natural dapat mengandung beberapa komponen kimia yang serupa dengan obat (contohnya Vit A). Suatu vitamin atau komplemen mineral harus diminum sesuai dengan resep dokter/bidan. Secara umum, hanya sedikit saja obat yang dapat dikonsumsi tanpa resep dokter. Para dokter dan bidan adalah orang-orang paling tepat yang dapat menyediakan informasi jelas bagi para pasien. l
PEMBAWA PESAN KESEHATAN N° 03 35

OBAT

KESEHATAN IBU: UNTUK KESELAMATAN IBU

REPRODUCTIVE HEALTH / wHAT IS REPRODUCTIVE HEALTH?

What is reproductive health?
Reproductive health is defined as a complete physical, mental and social well being and not merely absence of reproductive disease or infirmity.­ Reproductive health deals with the reproductive processes, functions and systems at all stages of life.
LIFE CYCLE APPROACH Reproductive health (RH) service is using life cycle approach. This means consider the reproductive health needs specifically for every stages of life cycle and the continuation between the stages. By that, the reproductive health problem in every life cycle can be identified and managed according to the needs. There are five life cycle and the problems may face in every stages, which is: 1. Conception: the same way of treating male/female infant, antenatal care, safe delivery and postnatal care also neonatal care 2. Baby and child: exclusive breast feeding, proper and comfort weaning, child growth and development, nutrition, immunization, integrated management of child illnesses, prevention and response to child violence 3. Adolescent: nutrition, information and education regarding adolescent reproductive health, prevention and response of sexual violence, prevention of drug abuse and addiction, marriage in a proper age 4. Reproductive age: safe pregnancy and delivery, prevention of pregnancy and delivery related morbidity and mortality, birth spacing by using contraceptive methods (family planning), prevention of sexual transmission disease/HIV/ AIDS, quality reproductive health services, prevention and management of unsafe abortion, early detection of breast cancer and cervix cancer, prevention and management of infertility 5. Elderly: focus on the problem of menopose/andropose, degenerative diseases including osteoporosis, early detection of cervix cancer and prostate cancer. SCOPE OF REPRODUCTIVE HEALTH 1. Essential Reproductive Health (ERH), the priorities of RH services in Indonesia, including: • Maternal and neonatal health care: antenatal care, delivery assisted by trained staff, postnatal care, emergency obstetric care, exclusive breast feeding, treatment of diseases that can influence pregnancy like anemia, Malaria, TB, etc • Family Planning: prior to couple in reproductive age, information about the contraceptive methods, emphasize that family planning is a responsibility of both husband and wife • Adolescent sexual and RH: information and knowledge concerning healthy life style including prevention of drug abuse, unsafe sexual behavior, and adolescent pregnancy • Prevention and control of sexually transmitted infections including HIV/ AIDS: universal precaution, prevention of unsafe sexual behavior • Prevention, detection and early management of cervical cancer • Reduction of female genital mutilation, domestic and sexual violence 2. Comprehensive RH, consists of ERH plus RH in elderly • • • • 3. Other concerns in RH: Prevention and management of abortion complication Prevention and management of infertility Early detection and management of breast cancer and cervix cancer Cancer in elderly and osteoporosis

NATIONAL TARGET ON REPRODUCTIVE HEALTH 2010 1. Maternal and neonatal health care • Decrease of maternal mortality rate to 125/100.000 life birth • Decrease of infant mortality rate to 35/1000 life birth • Increase coverage of 1st antenatal care to 95% • Coverage of assisted delivery to 90% • Proportion of obstetric complication management 80% minimum out of estimated cases • Coverage of post natal care 90% • Decrease of anemia prevalence in pregnant women to 35% • Decrease prevalence of low birth weight to 5% 2. Family Planning • Contraceptive prevalence rate among reproductive age couple 70% • Decrease of “4 too” pregnancy to 50% 3. Adolescent RH Decrease of anemia prevalence among adolescent to <20% • Coverage of adolescent reproductive health services through school 85%, and through non school minimum 20% 4. Management of sexually transmitted diseases including HIV/ AIDS • Gonorrhoea prevalence among the high risk population <10% and for Syphilis <1% • HIV infection prevalence among the high risk population <1% 5. Reproductive health in elderly • Coverage of reproductive health in elderly services minimum 60%. l

REPRODUCTIVE HEALTH

36 HEALTH MESSENGER N° 03

MATERNAL HEALTH: FOR A SAFE MOTHERHOOD

KESEHATAN REPRODUKSI / APAKAH KESEHATAN REPRODUKSI ITU?

Apakah Kesehatan Reproduksi itu?
Kesehatan reproduksi didefinisikan sebagai suatu keadaan sejahtera fisik, mental dan sosial secara utuh; bebas dari segala penyakit dan kecacatan termasuk juga sistem reproduksi, fungsi dan prosesnya.
PENDEKATAN SIKLUS HIDUP Pelaksanaan kesehatan reproduksi (KR) menggunakan pendekatan siklus hidup. Itu berarti memperhatikan kebutuhan khas penanganan sistem reproduksi pada setiap tahap siklus hidup dan kesinambungan antar tahap siklus hidup tersebut. Dengan begitu masalah KR pada setiap siklus hidup dapat diperkirakan dan ditangani dengan baik sesuai kebutuhan tahap tersebut. Ada 5 tahap siklus hidup dan masalah kesehatan reproduksi, yaitu: 1. Konsepsi: perlakuan sama terhadap janin laki-laki/perempuan, pelayanan ANC, persalinan aman dan nifas serta pelayanan bayi baru lahir 2. Bayi dan anak: ASI eksklusif dan penyapihan yang layak, tumbuh kembang anak, pemberian makanan dengan gizi seimbang, imunisasi dan manajemen terpadu balita sakit, pencegahan dan penanggulangan kekerasan terhadap anak 3. Remaja: gizi seimbang, informasi tentang kesehatan reproduksi, pencegahan kekerasan seksual, pencegahan ketergantungan NAPZA, perkawinan pada usia matang 4. Usia subur: kehamilan dan persalinan yang aman, pencegahan kecacatan dan kematian akibat kehamilan pada ibu dan bayi, menjaga jarak kelahiran dan jumlah kehamilan dengan penggunaan alat kontrasepsi (KB), pencegahan terhadap PMS/HIV/AIDS, pelayanan kesehatan reproduksi berkualitas, pencegahan dan penanggulangan masalah aborsi secara rasional, deteksi dini kanker payudara dan leher rahim, pencegahan dan manajemen infertilitas 5. Usia lanjut: perhatian pada problem menopouse/andropouse, perhatian pada penyakit degeneratif termasuk osteoporosis, deteksi dini kanker rahim dan kanker prostat. RUANG LINGKUP KESEHATAN REPRODUKSI 1. Paket Pelayanan Kesehatan Reproduksi Esensial (PKRE) merupakan prioritas pelayanan KR di Indonesia, meliputi: • Kesehatan ibu dan bayi baru lahir: pemeriksaan kehamilan, persalinan oleh tenaga kesehatan, pelayanan nifas, pertolongan kegawat-daruratan kebidanan dan bayi baru lahir, pemberian ASI eksklusif, pengobatan penyakit seperti anemia, TB, Malaria dan lain-lain. • Keluarga Berencana: prioritas pelayanan terutama pada pasangan usia subur, pemberian informasi lengkap mengenai metode kontrasepsi, menekankan bahwa KB merupakan tanggung jawab bersama antara suami dan istri. • KR remaja: pemberian informasi dan pengetahuan yang berhubungan dengan perilaku hidup sehat remaja termasuk pencegahan penggunaan NAPZA, perilaku seksual yang tidak sehat, dan kehamilan remaja. • Pencegahan dan penanggulangan penyakit menular seksual termasuk HIV/AIDS: upaya kewaspadaan umum, promosi pencegahan perilaku seksual yang tidak sehat. • • • • 2. Paket Pelayanan KR Komprehensif (PKRK), terdiri dari: PKRE ditambah KR usia lanjut. 3. Masalah lain kesehatan reproduksi Pencegahan dan penanggulangan komplikasi aborsi Pencegahan dan penanganan infertilitas Kanker payudara dan leher rahim Kanker pada usia lanjut dan osteoporosis

TARGET NASIONAL PROGRAM KESEHATAN REPRODUKSI 2010 1. Kesehatan ibu dan bayi baru lahir • Penurunan angka kematian ibu menjadi 125/100.000 kelahiran hidup. • Penurunan angka kematian bayi menjadi 35/1000 kelahiran hidup. • Peningkatan cakupan antenatal K1 menjadi 95%. • Cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan menjadi 90%. • Proporsi penanganan komplikasi/ kasus obstetri minimal 80% dari perkiraan kasus komplikasi. • Cakupan pelayanan nifas 90%. • Penurunan prevalensi anemia pada ibu hamil menjadi 35%. • Penurunan prevalensi BBLR 5%. 2. Keluarga Berencana • Cakupan pelayanan KB pada pasangan usia subur 70%. • Penurunan prevalensi kehamilan ”lebih dari 4” menjadi 50%. 3. Kesehatan Reproduksi Remaja • Penurunan prevalensi anemia pada remaja menjadi <20%. • Cakupan pelayanan kesehatan remaja melalui jalur sekolah 85%, dan luar sekolah minimal 20%. 4. Penanggulangan penyakit menular seksual termasuk HIV/AIDS • Prevalensi Gonore di kalangan kelompok berresiko tinggi menjadi <10% dan untuk Sifilis <1%. • Prevalensi infeksi HIV di kalangan kelompok beresiko tinggi <1%. 5. Kesehatan Reproduksi usia lanjut • Cakupan pelayanan usia lanjut < 60%. l
PEMBAWA PESAN KESEHATAN N° 03 37

KESEHATAN REPRODUKSI

KESEHATAN IBU: UNTUK KESELAMATAN IBU

REPRODUCTIVE HEALTH / FEMALE GENITAL CUTTING

C

Female genital cutting according to medical viewpoint
ircumcision (medical term) is a general and normal action that is often done in Indonesia. Typically, circumcision procedure is taken when a boy experienced his puberty period. Although the normal thing is to do the circumcisions to a boy, but on a certain region in Indonesia, such as Madura, Java, Sumatera include Aceh and some other areas, circumcision also done to women. CIrcumcision, according to the etiology, means a cutting procedure and form a circle. Generally, it is experienced to men by cutting a prepuce or the penis epidermis in circle according to the anatomic shape. Internationally, feminal cutting is known as Female genital cutting (FGM)/Genital mutilation. According to the etiology, genital cutting is the cutting of sexual organs; while genital mutilation is more identical to the manually damaging of sexual organs. DEFINITION OF FGM: FGM is any procedure to lose half or the whole part of the female external sexual organs or any other injury act to female genital organs because of cultural reasons or non-medical reasons (source: FGM - joint statement WHO/UNICEF/UNFPA) TYPE AND CLASSIFICATION OF FGM According to WHO, there are 4 types of FGM: 1. Type I is the excision from prepuce with or without excision on half or all part of clitoris. 2. Type II is the excision from clitoris with the excision on half or all part of minor labium. 3. Type III is the excision from half or all part of the external genital and sewing or constriction of the vagina (infibulations). 4. Type IV: declassified. Such as stab, pierce, scratch, slice the clitoris and/or labia, cauterization or burning the clitoris and its surroundings, put in some corrosive components or any plants and cause bleedings in order to tighten or reduce the size of vagina hole and any other procedure that doesn’t include to any type mentioned above. Type I and Type III is the most common type in every country. While in Indonesia, according to a research by Citizen’s Study Centre and Policy from the University of Gajah Mada in Madura and Yogyakarta 2002, the most familiar procedure is Type II which is the excision from clitoris as well as the symbolic cutting without leaving any wounds. Some regular actions from the medical staffs to fulfill the parents requests are comprise in the Type IV such as scratching or stabbing on the external genital organs. THE BENEFIT OF FGM ACCORDING TO MEDICAL VIEwPOINT According to the medical and health viewpoint, there is no use or any benefits from FGM to one’s health. The thing will be different if it is compared to the use or benefit from Men Genital Cutting, which is to keep the hygiene of the external sexual organs. COMPLICATIONS OF FGM a. Direct complication It is possible to experience a sharp pain, shock, bleeding, urine retention, ulcus on genital area and wounded, infection, infection of urethra, fever and sepsis. Severe hemorrhage and infection can cause death. b. Long term complication Marked with a scar/wound, abscess, damage on urethra that can cause incontinence (disability to control urine), dispareunia (painful when having sex), and also sexual problems. The act of infibulations can also cause problems when urinate, menstruation problems, urethra repeated infections, and also sterility. MEDICALIZATION OF FGM Although not justified by any medical reason, there is nowadays a medicalization of FGM. It means that FGM has been done by health workers in health facilities, with the aim of reducing the health risk that occurs when done by the traditional or indigenous medical practitioners. The medicalization of FGM becomes a danger as, according to the research done by the Population council in cooperation with the Parliament (2001-2003), it takes equipment such as hypodermic needle, knife and scissor to do 22% of incision and 72% of scratch . The Minister of Woman Welfare, Dr Meutia Hatta, said on May 31, 2005, in a seminar on “Prevention and surveillance of violence against women”, that the Ministry of Health has to forbid medical staffs and paramedics, including government health workers, to practice medicalized FGM. The Minister of Health itself officially stated that FGM, according to national standards of Health services, is not allowed. l

REPRODUCTIVE HEALTH

38 HEALTH MESSENGER N° 03

MATERNAL HEALTH: FOR A SAFE MOTHERHOOD

KESEHATAN REPRODUKSI / SUNAT PEREMPUAN

Sunat perempuan dari Sudut pandang Medis dan Kesehatan

S

unat atau sirkumsisi (istilah yang dikenal di kalangan medis) adalah suatu tindakan yang umum dilakukan oleh tenaga medis di Indonesia. Prosedur sirkumsisi biasanya dilakukan sebagai suatu tindakan saat anak lelaki menjelang umur pubertas. Meski pada umumnya sunat dilakukan pada anak laki, tapi pada beberapa daerah di Indonesia seperti Madura, Jawa, Sumatera termasuk Aceh dan daerah lainnya, sunat juga dilakukan pada kaum wanita. Sirkumsisi apabila dilihat dari arti katanya adalah prosedur pemotongan yang dilakukan secara melingkar. Umumnya prosedur sunat berlaku pada lelaki yaitu dengan memotong preputium atau kulit luar dari penis secara melingkar sesuai bentuk anatomisnya. Secara international sunat perempuan lebih dikenal dengan istilah Female Genital cutting/Genital mutilation. Menurut arti katanya: genital cutting adalah pemotongan dari alat kelamin sedangkan genital mutilation lebih diidentikkan dengan perusakan dari alat kelamin. DEFINISI FGM: Segala prosedur menghilangkan sebagian atau seluruh bagian dari alat kelamin luar perempuan atau tindakan perlukaan organ genital perempuan baik karena didasari oleh alasan kebudayaan atau alasan non medis lainnya (sumber: FGM - joint statement WHO/UNICEF/UNFPA) TIPE DAN JENIS FGM Menurut WHO, ada 4 jenis FGM yaitu: 1. Tipe I yaitu eksisi dari prepusium dengan atau tanpa eksisi sebagian atau seluruh bagian dari clitoris. 2. Tipe II yaitu eksisi dari clitoris dengan eksisi sebagian atau seluruh bagian dari labium minora. 3. Tipe III yaitu eksisi dari sebagian atau seluruh bagian dari genital luar dan menjahit atau mempersempit lubang vagina (infibulasi). 4. Tipe IV: tidak diklasifikasikan. Seperti menusuk, menembus, menggores klitoris dan labia, kauterisasi atau membakar klitoris dan sekitarnya, memotong vagina, memasukkan bahan korosif atau tumbuhan untuk menimbulkan perdarahan atau untuk mempersempit lubang vagina dan prosedur lainnya yang tidak termasuk klasifikasi yang tersebut di atas. Tipe I dan tipe III adalah tipe yang paling sering dilakukan di berbagai negara. Di Indonesia, berdasarkan penelitian Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan UGM di Madura dan Yogyakarta 2002, prosedur yang paling sering dilakukan adalah tipe II. Namun pemotongan secara

simbolis tanpa adanya perlukaan juga ditemukan. Tindakan yang sering dilakukan oleh tenaga medis untuk memenuhi permintaan dari orang tua adalah tipe IV. MANFAAT FGM DARI SEGI MEDIS DAN KESEHATAN Apabila ditinjau dari segi medis dan kesehatan, sunat perempuan tidak ada manfaat atau kegunaannya. Hal ini berbeda bila dibandingkan dengan manfaat sunat pada lelaki yaitu berguna untuk menjaga kebersihan dari alat kelamin luar. KOMPLIKASI DARI FGM a. Komplikasi segera Dapat terjadi nyeri hebat, shock, perdarahan, retensi urin, ulcus pada area genital dan perlukaan jaringan sekitar, luka infeksi, infeksi saluran kencing, demam dan sepsis. Perdarahan hebat dan infeksi dapat mengakibatkan kematian. b. Komplikasi jangka panjang Terjadi bekas luka, abses, kerusakan pada urethra yang dapat menyebabkan inkontinesia (tidak bisa mengendalikan kencing), dispareunia (nyeri saat berhubungan seksual) dan gangguan seksual. Tindakan infibulasi dapat juga menyebabkan kesulitan saat kencing, kesulitan saat menstruasi dan dapat menyebabkan infeksi saluran kencing berulang dan kemandulan. MEDIKALISASI SUNAT PEREMPUAN Terlepas dari berbagai alasan, latar belakang dan kontroversi pelaksanaan sunat perempuan, belakangan ini sudah terjadi medikalisasi sunat perempuan. Hal itu berarti bahwa prosedur sunat perempuan sudah dilaksanakan oleh tenaga kesehatan di berbagai fasilitas kesehatan meskipun hal itu dilakukan untuk mengurangi resiko kesehatan jika dilakukan oleh dukun bayi atau tukang sunat. Medikalisasi sunat perempuan menjadi berbahaya karena menurut penelitian yang dilakukan oleh Population Counsil bekerja sama dengan Meneg PP (tahun 20012003) dipergunakan bebagai jenis peralatan seperti jarum, pisau dan gunting untuk melakukan irisan sebanyak 22% dan pengupasan sebanyak 72%. Berdasarkan hasil berbagai penelitian tentang sunat perempuan yang dilakukan di Indonesia, Meneg PP Dr. Meutia Hatta dalam lokakarya “Pencegahan dan Penanggulangan Kekerasan terhadap Perempuan” tanggal 31 Mei 2005 mengharapkan Depkes melarang tenaga medis dan fasilitas kesehatan pemerintah maupun swasta untuk melakukan medikalisasi sunat pada perempuan. Menkes dalam sambutan tertulisnya menyatakan bahwa sunat perempuan tidak pernah ada dalam standar pelayanan kesehatan. l
PEMBAWA PESAN KESEHATAN N° 03 39

KESEHATAN REPRODUKSI

KESEHATAN IBU: UNTUK KESELAMATAN IBU

HEALTH EDUCATION / GOOD HYGIENE PRINCIPLES

Health Education

Good hygiene principles
Housekeeping or environmental hygiene in healthcare settings has at least two main purposes. First, it serves to reduce the number of microorganisms that may in contact in with patients, visitors, staff and the community. Secondly, it serves to provide pleasant atmosphere for the patients and staff.

I

t should be mentioned that hospital, clinics and other health service centers must serve as the role models to the community. An observant patient should have the desire to mimic behaviors and practices in their own home environment. Health service centers can be divided into low risk and high risk areas. Most of the areas fall into the low risk area. These areas are waiting rooms, administrative rooms, and reception areas and nurses stations. High risk areas are those where heavy contamination can and occurs often e.g. bathrooms, surgical areas, and delivery rooms. Another area subject to heavy contamination is patient rooms which contain the items that are used by both patient and staff. Low risk areas can be effectively cleaned with soap or detergent and water. High risk areas, however, must be cleaned with a disinfectant solution. Because of availability, ease of use and economy chlorine is commonly used as the disinfectant of choice in many institutions. Unfortunately, it is a common belief that cleaning or janitorial staff do not require training. Nothing could be more wrong! To achieve the goals of housekeeping clean staff must be trained in proper cleaning methods, use of cleaning materials and cleaning equipment. Cleaning staff must be instructed in the dangers of exposure to contaminated items or surfaces when carrying out their cleaning responsibility. It is also important for all institutions to have in place guidelines or protocols regarding the use of personal protective equipment (PPE). According to JHPIEGO’s well known manual, Infection Prevention: Guidelines for Healthcare Practices with Limited Resources, written by Linda Tietjen Etal, there are ideas to keep in mind: • Although environmental surfaces are rarely

associated with disease transmission their appearance impacts on the esthetics of the environment. • Never mix chlorine containing solutions with other disinfectant or cleaning solutions containing an acid such as phosphoric acid or ammonia or ammonium chloride as the resultant solution is toxic to the cleaning staff. • When cleaning any area work from top (ceiling) to bottom (floor). • Include all surfaces when thoroughly cleaning a room. This means windows, wall, fans, wall clocks and light fixtures etc. • Remember that disinfectants can be inactivated by exposure to organic contaminants. Keep solutions clean and fresh. • To keep cleaning and disinfectant solutions fresh when doing large jobs change rinse water often and prepare new solution as needed. • Adding too much or too little water to a disinfectant can cause it to become inactivate Proper use of PPE is important. Misuse can result in waste. Lack of use can endanger the health of cleaning/janitorial staff by unnecessary exposure to contaminants. Chlorine is available in many concentrations. Reading the label is vital to knowing how to use the chlorine solution available in your region. Then it is important to know how to prepare a chlorine solution. “Accumulation of dust, soil and microbial contaminants on environmental surfaces is both aesthetically displeasing and a potential source of nosocomial infections. Effective and efficient cleaning methods and schedules are, therefore, necessary to maintain a clean and healthy environment in healthcare settings.” (Chou 2002). l

40 HEALTH MESSENGER N° 03

MATERNAL HEALTH: FOR A SAFE MOTHERHOOD

PENDIDIKAN KESEHATAN / PRINSIP HIGIENITAS YANG BAGUS
Pendidikan Kesehatan

prinsip Higienitas yang Bagus
Pemeliharaan kesehatan lingkungan dalam pusat pelayanan kesehatan memiliki dua tujuan utama. Pertama, untuk mengurangi jumlah mikroorganisme yang bisa menyerang pasien, pengunjung, staf dan masyarakat. Kedua, untuk menciptakan suasana yang menyenangkan bagi pasien dan staf.

R

umah sakit, klinik dan semua pusat pelayanan kesehatan harus dapat menjadi panutan bagi masyarakat. Pasien yang suka memperhatikan memiliki keinginan meniru perilaku petugas kesehatan dan menerapkannya di lingkungan tempat tinggalnya. Pusat pelayanan kesehatan terbagi menjadi area beresiko tinggi dan area beresiko rendah. Sebagian besar area merupakan area beresiko rendah. Misalnya ruang tunggu, tata usaha, area registrasi dan perawatan. Beberapa area beresiko tinggi dimana kontaminasi biasa terjadi adalah kamar mandi, ruang operasi dan kamar bersalin. Area lain yang juga memiliki kontaminasi tinggi adalah ruang pasien yang terdiri dari berbagai item yang digunakan oleh pasien dan staf. Area beresiko rendah dapat secara efektif dibersihkan dengan air dan sabun atau deterjen. Sementara untuk area beresiko tinggi harus dibersihkan dengan disinfektan (obat pembasmi kuman) khusus. Klorin adalah salah satu disinfektan yang biasa digunakan banyak institusi karena gampang ditemukan, mudah penggunaannya dan harganya terjangkau. Sangatlah disayangkan, ada banyak anggapan bahwa petugas kebersihan atau janitor tidak membutuhkan training. Itu salah! Untuk mencapai tujuan kesehatan dalam rumah tangga, staf kebersihan haruslah mendapat pelatihan mengenai metode pembersihan yang baik, penggunaan secara tepat materi dan alat-alat kebersihan. Staf kebersihan harus diinstruksikan akan adanya kemungkinan kontaminasi terhadap peralatan yang dipakai untuk membersihkan. Hal lain yang tidak kalah penting adalah adanya buku pegangan dan protokol pada semua institusi tentang perlindungan peralatan pribadi (PPP). Menurut buku pegangan JHPIEGO, Infection Prevention: Guidelines for Healthcare Practices with Limited Resources ditulis oleh Linda Tietjen dkk. Beberapa hal yang penting untuk diingat: • Meskipun hal-hal di permukaan lingkungan sangat jarang dihubungkan dengan penularan penyakit, kehadiran mereka mempengaruhi keindahan lingkungan.

Jangan pernah mencampur klorin dengan disinfektan atau cairan pembersih lainnya yang mengandung asam seperti asam fosfor atau amonium klorida yang dapat membahayakan jiwa. • Selalu mulai dari atas (langit-langit) baru ke bawah (lantai) saat membersihkan suatu area. • Jangan lupa bersihkan semua permukaan dengan cermat saat membersihkan suatu ruangan. Termasuk di dalamnya adalah jendela, tembok, kipas angin, jam dinding dan lampu-lampu. • Ingatlah bahwa disinfektan dapat menjadi non-aktif karena terkontaminasi berbagai organik jika dibiarkan terbuka. Oleh karena itu, jaga larutan tetap tertutup dan bersih. • Untuk menjaga supaya larutan pembersih dan disinfektan tetap segar saat melakukan pekerjaan berat, sering bilas dengan air dan siapkan cairan baru yang diperlukan. • Menambahkan terlalu banyak air pada suatu larutan disinfektan atau terlalu sedikit air dapat menyebabkan larutan kehilangan fungsinya. Penggunaan PPP yang tepat sangatlah penting. Kesalahan dalam penerapannya dapat menyebabkan sampah. Kekurangan pengetahuan untuk penggunaannya dapat membahayakan petugas kebersihan karena kontaminasi dari kuman terhadap alat yang terbuka. Klorin tersedia dalam beberapa bentuk. Membaca label keterangannya sangatlah penting untuk mengetahui cara penggunaan klorin yang cocok untuk daerah Anda. Langkah-langkah persiapan pemakaian suatu klorin juga tidak kalah pentingnya. “Akumulasi debu, tanah dan kontaminasi berbagai kuman di lingkungan secara estetika tidaklah indah dan merupakan sumber potensial dari infeksi nosokomial. Metode dan jadwal pembersihan yang efektif dan efisien sangatlah diperlukan untuk menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan pusat pelayanan kesehatan.” (Chou 2002). l
PEMBAWA PESAN KESEHATAN N° 03 41

KESEHATAN IBU: UNTUK KESELAMATAN IBU

HEALTH EDUCATION / TETANUS IMMUNIZATION

immunization for pregnant women against Tetanus
In 1999, the world Health Organization (wHO) estimated that 4,100 new born babies die each year in Indonesia, because of neonatal Tetanus. These deaths can be prevented by improvements in delivery techniques and immunizing the mothers against Tetanus.

Health Education

T

etanus is a disease caused by an exotoxin produced by the bacterium Clostridium tetani. The symptoms of Tetanus are rigidity and convulsive spasm of the skeletal muscles. This begins with the muscle stiffness of the jaw and neck and gives rise to the common name lockjaw. The first signs of problems are when children stop sucking properly during breastfeeding and become irritable. During the later stages the spasms become more generalized and convulsions begin with increasing frequency and intensity. Even with proper treatment the case fatality rates are high and without treatment 95% of the babies will die. The bacterium is sensitive to heat and will not survive in the presence of oxygen. However, spores form and are able to remain in the soil and intestines of animals and humans. Anyone who has an untreated wound is at risk of Tetanus if not vaccinated. Newborn babies are especially at risk as the Tetanus can infect them through the cutting of the umbilical cord. The risk of Tetanus is heightened if deliveries are carried out in unhygienic locations or with unclean practices causing improper care of the umbilical cord. To prevent Tetanus we need to ensure all deliveries are carried out in a clean environment, sterile equipment is used in cutting the cord, and that the cord stump is kept clean and dry following delivery. Tetanus is a vaccine-preventable disease. The vaccine, called Tetanus Toxoid (TT), is safe for pregnant mothers. Once given to the mothers, the antibodies pass to the fetus across the placenta and protects against neonatal Tetanus. To be fully protected, women should receive 5 doses as scheduled:

First dose Second dose Third dose Fourth dose Fifth dose

As early as possible in pregnancy 4 weeks after the 1st dose, no later than 2 weeks before delivery 6-12 months after the 2nd dose, or during the next pregnancy 1 year after the 3rd dose, or during a subsequent pregnancy 1 year after the 4th dose, or during a subsequent pregnancy

If the woman is vaccinated properly as advised, she is protected for her lifetime. Her newborn baby will also be protected against neonatal Tetanus. l

GOOD TO REMEMBER: Tetanus is a vaccine-preventable disease. The vaccine, called Tetanus Toxoid (TT), is safe for pregnant mothers. Once given to the mothers, the antibodies pass to the fetus across the placenta and protects against neonatal tetanus.

42 HEALTH MESSENGER N° 03

MATERNAL HEALTH: FOR A SAFE MOTHERHOOD

PENDIDIKAN KESEHATAN / IMUNISASI TETANUS
Pendidikan Kesehatan

imunisasi Tetanus pada ibu Hamil
Tahun 1999 wHO memperkirakan 4.100 bayi baru lahir di Indonesia meninggal karena tetanus. Kematian ini dapat dihindari dengan meningkatkan teknik persalinan dan memberikan imunisasi pencegah tetanus pada ibu hamil.

T

etanus adalah penyakit yang disebabkan oleh eksotoksin yang dihasilkan oleh bakteri Clostridium tetani. Gejala yang tampak adalah kekakuan dan kejang pada otot-otot rangka. Gejala awal tampak adanya kekakuan otot daerah rahang dan leher yang biasanya disebut lockjaw atau “rahang terkunci”. Tanda awal adanya suatu masalah terlihat ketika pada saat menyusu, bayi tidak dapat menghisap dengan baik dan menjadi rewel. Pada tahap lebih lanjut kekakuan menjadi lebih menyeluruh dan mulai terjadi kejang. Walaupun mendapatkan perawatan yang baik, angka kematiannya tetap tinggi dan tanpa penanganan 95% diantaranya bisa meninggal. Bakteri tetanus sensitif terhadap panas dan tidak akan bertahan dengan adanya oksigen. Bagaimana pun, bakteri ini dapat membentuk spora dan spora dapat bertahan di dalam tanah dan usus binatang dan manusia. Setiap orang yang tidak terlindungi dengan vaksinasi tetanus akan berisiko jika mendapatkan luka yang kotor. Khususnya pada bayi baru lahir, mereka dapat terkena tetanus melalui pemotongan tali pusat. Bahaya ini ada jika persalinan dilakukan dengan cara-cara yang tidak bersih dan perawatan pusar dan tali pusat tidak optimal. Untuk mencegah tetanus, harus dipastikan bahwa semua persalinan dilakukan dalam keadaan dan lingkungan yang bersih, penggunaan alat yang steril saat memotong tali pusat dan penjagaan pusat bayi tetap kering dan bersih sampai luka benar-benar sembuh. Tetanus adalah penyakit yang dapat dicegah melalui imunisasi. Vaksin yang digunakan adalah Tetanus Toxoid (TT) dan vaksin ini aman untuk wanita hamil. Jika diberikan pada ibu hamil, antibody yang dihasilkan oleh ibu akan masuk ke dalam tubuh janin dengan melintasi plasenta dan melindungi janin dari tetanus. Untuk mendapatkan perlindungan penuh, wanita harus mendapatkan 5 dosis vaksin dengan jadwal sebagai berikut:

TT 1

Sesegera mungkin pada awal kehamilan. 4 minggu setelah TT 1, tidak lebih dari 2 minggu sebelum persalinan. 6-12 bulan setelah TT 2, atau pada saat kehamilan berikutnya. 1 tahun setelah TT 3, atau pada saat kehamilan berikutnya. 1 tahun setelah TT 4, atau pada saat kehamilan berikutnya.

TT 2

TT 3

TT 4 TT 5

Jika wanita mendapatkan imunisasi tetanus sesuai anjuran, dia akan mendapatkan perlindungan terhadap tetanus untuk seumur hidup. Bayi yang dilahirkannya juga akan kebal terhadap tetanus. l

PENTING UNTUK DIINGAT: Tetanus adalah penyakit yang dapat dicegah melalui imunisasi. Vaksin yang digunakan adalah Tetanus Toxoid (TT) dan vaksin ini aman untuk wanita hamil. Jika diberikan pada ibu hamil, antibody yang dihasilkan oleh ibu akan masuk ke dalam tubuh janin dengan melintasi plasenta dan melindungi janin dari tetanus.
PEMBAWA PESAN KESEHATAN N° 03 43

KESEHATAN IBU: UNTUK KESELAMATAN IBU

NUTRITION / IRON AND FOLIC ACID DURING PREGNANCY

iron and Folic Acid during pregnancy
NUTRITION

I

ron and folic acid are important vitamin and mineral for pregnant women to help prevent severe malformations in the development of the newborn fetus and maternal death from severe anaemia. Iron and folic acid is found in high concentrations in the dark green leaves vegetables, dark yellow fruits and vegetables, beans peas and nuts. Iron is also found in red meats. The requirement for iron and folic acid increases in pregnancy. Folic acid is needed to ensure the central nervous system develops in the fetus during the first weeks of gestation. The neural tube becomes the spinal cord should close by day 23 of this does not happen children will be born with spina bifida or anaecepahly both serious malformations. A lack of folate can keep the neural tube from closing properly, resulting in neural tube defects. Since neural tube development is complete before most women are aware that they are pregnant. To prevent neural tube defects women should begin taking 0.4 milligrams of folic acid daily. Ideally this should be taken at least one month before pregnancy and then during the first three months of pregnancy. However if the women has had a child with a spine of skull defect they need to be given a higher dose of 4 milligrams daily, as they are more likely to have another child with neural tube defects. Iron is needed to reduce the perinatal and maternal mortality. In Indonesia 2,700 maternal deaths are caused by severe aneamia, the primary cause is iron deficiency. A child who has an iron deficiency will not

Photo AMI 2006

reach there full potential in terms of physical and mental development and will have low immunity so will be sick more often. To prevent iron deficiency anaemia in mothers and newborn babies, mothers should be encouraged to take iron tablets in the pre-pregnancy period and through out pregnancy. The recommended dose is1 tablet (60mg iron + 0.25mg folic acid) per day. If a woman comes to the clinic

who is newly married or in early pregnancy the health services staff should recommend that the mother begins taking iron and folic acid and be given education on eating foods high in folic acid. This will assist in reducing the risk of neural tube defects. Iron and folic acid should be continued throughout pregnancy to prevent perinatal and maternal mortality and morbidity and also recommended for at least 6 weeks postpartum. l

GOOD TO REMEMBER: To prevent iron deficiency anaemia in mothers and new born babies, mothers should be encouraged to take iron tablets in the pre-pregnancy period and through out pregnancy. The recommended dose is 1 tablet (60 mg iron + 0.25 mg folic acid) per day.
MATERNAL HEALTH: FOR A SAFE MOTHERHOOD

44 HEALTH MESSENGER N° 03

GIZI / ZAT BESI DAN ASAM FOLAT DALAM KEHAMILAN

Zat Besi dan Asam Folat dalam Kehamilan
Zat Besi dan Asam folat merupakan vitamin dan mineral penting bagi wanita hamil untuk mencegah kecacatan pada perkembangan bayi baru lahir dan kematian ibu yang disebabkan oleh anemia berat gravis.
GIZI

Z

at besi dan asam folat dite- jumlah asam folat tersebut dikonsumsi Untuk mencegah kekurangan zat mukan dalam jumlah besar minimal selama satu bulan sebelum besi pada ibu dan bayi baru lahir, dalam sayuran berdaun hijau kehamilan dan selama tiga bulan per- seorang wanita harus mengkomsumtua, buah dan sayur berwar- tama kehamilan. Bagaimana pun, jika si tablet zat besi sebelum hamil, selana kuning tua, buncis, dan kacang-ka- seorang wanita telah memiliki anak ma dan sesudah melahirkan. Dengan cangan. Zat besi juga dapat ditemu- dengan cacat tulang belakang atau ca- menganjurkan dosis 1 tablet (60 mg kan dalam daging merah. Kebutuhan cat tulang tengkorak akan menyebab- zat besi + 0,25 mg asam folat) setiap zat besi dan asam folat meningkat se- kan mereka memerlukan dosis asam hari. lama masa kehamilan. folat yang lebih tinggi – 4 milligram per Jika seorang wanita yang baru Asam folat sangat dibutuhkan janin hari karena mereka cenderung memi- menikah atau wanita yang hamil untuk perkembangan sistem saraf pu- liki anak dengan cacat yang sama. muda datang ke tempat pelayanan sat selama minkesehatan maka ggu pertama kepekerja kesehathamilan. Tabung an harus merPENTING UNTUK DIINGAT: neural yang akan ekomendasikan menjadi urat saraf wanita tersebut Untuk mencegah anemia pada ibu dan bayi tulang belakang untuk mengkonyang baru lahir, para ibu harus didukung untuk akan menutup di sumsi zat besi minum zat besi pada periode pra-kehamilan dan hari ke 23 gestasi. dan asam folat selama kehamilan. Dosis yang dianjurkan adalah Kekurangan folat serta memberidapat menyebabkan penyuluhan 1 tablet (60 mg iron + 0.25 mg zat besi) per hari. kan penutupan supaya mereka tidak sempurna makan makanan Zat besi sangat dibutuhkan untuk yang banyak mengandung asam pada sumsum tulang belakang dan mengakibatkan cacat sumsum tulang mengurangi angka kematian ibu dan folat. Hal ini akan membantu penbelakang atau spina bifida dan anen- anak. Di Indonesia 2700 kematian ibu gurangan resiko kecacatan pada tucepalus karena perkembangan urat disebabkan oleh anemia berat dengan lang belakang. saraf tulang belakang telah lengkap penyebab utama adalah kekurangan Zat besi dan asam folat harus sebelum kebanyakan wanita me- zat besi. Seorang anak yang kekuran- selalu dikonsumsi selama masa gan zat besi tidak mampu mencapai kehamilan untuk mencegah kesakinyadari bahwa mereka hamil. Untuk mencegah terjadinya ca- perkembangan fisik dan mental se- tan dan kematian pada ibu dan bayi cat tulang belakang, seorang wanita cara optimal dan mempunyai daya baru lahir, serta selama masa nifas harus mengkonsumsi 0,4 milligram tahan tubuh yang lemah sehingga atau setidaknya 6 minggu sesudah asam folat setiap harinya. Idealnya sering mengalami sakit. melahirkan. l

KESEHATAN IBU: UNTUK KESELAMATAN IBU

PEMBAWA PESAN KESEHATAN N° 03 45

MOTHER AND CHILD / THE AROUSAL OF THE NEwBORN

How to facilitate the arousal of the infant in Aceh?
Acehnese mothers are particularly attentive and adaptive to their baby, especially in their holding.They have developed a traditional know-how that is an inheritance from their mothers, and the utensils they use, such as the traditional cloth to carry their babies and the hammock, are full of qualities.

MOTHER AND CHILD

R

ecognising and encouraging this traditional “know-how” is essential, since it is a basic support of the “couple mother-baby”. This strengthens the mother’s self-esteem and gives value to her intuitive skills. This also raises an opportunity to sensitize them about the fundamental needs of their babies, and create a meeting point. Indeed, the infant skills are often under identified and therefore not enough used. Let’s remember that an infant can: • See, and would particularly be interested in human faces, attracted by the sight and mouth expression • Smell and distinguish its mother’s breast milk • Taste and recognise the 4 basic flavours (sweet, salty, sour and bitter) • Hear and identify the intimate voices, that he was already perceiving during its life “in utero” • Feel and often seek for all the tactile and moving feeling on its body Its field of abilities is mainly within a sensory domain. However, since its neurological equipment is not yet mature, it cannot develop its own skills if the environment is not adapted That is why it is important to sensitize the mothers to their baby’s abilities. Being aware of these abilities, we can: • Identify the attractive qualities of a toy, observing the situation • Introduce a toy within the visual field of the baby, but not too close to its eyes. The baby will see it, be interested and will be stimulated to grab and manipulate it • Recognize and accept the baby’s habit to bring things to its mouth, as a natural satisfaction of its suction need, and its inclination for exploration (the mouth remains an archaic organ of feeling). This

requires from health professionals to sensitize the mothers to the specific hygiene of infant’s toys, that often need to be cleaned, and shall no be used by others nor lay on the ground. Propose to let the baby lie on the floor, in front or back position. This will open new experience fields, which are impossible when the infant is held by the mother. In such a position, the baby can play at distance from the mother, but physically and emotionally secured, and fulfil its fundamental inclination to explore. This more comfortable and suitable position is an alternative to upright position, and actively participates to a proper psycho motor development of the infant.

Mothers shall be encouraged to bear with this distance and propose properly chosen and positioned games, avoiding putting the toys directly in the hands of the child. This fulfils his fundamental pleasure to try and succeed by himself. This also facilitates the infant’s good arousal, in its body control as well as in its psychological construction and reasoning. That is what we call “arousal of the infant”. In short, let’s encourage the mother to realize that: • Her baby not only needs to be fed, but also needs contact and fulfilment of its natural curiosity regarding its environment. • The baby becomes a developing person, with its own needs.­ The fulfilment of these needs do not only occurs through external stimulation by others To encourage the mother in her traditional know-how is essential. We also need to stimulate her to recognize her baby’s abilities. The baby will hence be able to fully reveal and express them. l

46 HEALTH MESSENGER N° 03

MATERNAL HEALTH: FOR A SAFE MOTHERHOOD

IBU DAN ANAK / MENDAMPINGI BAYI BARU LAHIR

Bagaimana Mendampingi Bayi Baru lahir di Aceh?
Para ibu di Aceh sangat perhatian dan mudah menyesuaikan diri dengan bayinya, terutama saat menggendongnya. Para ibu menerapkan kebiasaan/ tradisi lama. Hal ini merupakan warisan dari ibu mereka seperti juga peralatan yang digunakan, misalnya selendang tradisional untuk menggendong bayi dan tempat tidur bayi yang bagus.

M

engetahui dan menerapkan “keterampilan” lama itu sangatlah penting, karena merupakan dasar dari hubungan “ibu dan bayi”. Hal itu akan memberikan rasa percaya diri ibu, meningkatkan kemampuan intuitifnya terhadap sang bayi, memperbesar sensitifitas ibu terhadap keperluan bayinya dan memberikan pertemuan yang bermutu. Sebenarnya, bayi memiliki kemampuan yang seringkali tidak disadari, sehingga jarang dimanfaatkan. Harap diingat bahwa bayi bisa: • Melihat, dan akan selalu tertarik pada wajah manusia melalui pengamatan dan ekspresi suara. • Mencium dan membedakan air susu ibunya. • Merasakan dan mengenali 4 rasa dasar (manis, asin, asam dan pahit). • Mendengar dan mengidentifikasi suara yang sudah intim dengannya sejak dia masih di “dalam kandungan”. • Merasakan dan mengingat semua sentuhan pada tubuhnya. Ruang kompetensi bayi terbatas pada kemampuan panca indranya. Bagaimana pun, karena sistem syarafnya belum sempurna, bayi tidak bisa membangun keterampilannya jika lingkungannya tidak beradaptasi. Itulah sebabnya mengapa kompetensi rasa sensitifitas ibu terhadap bayinya sangat penting. Untuk meningkatkan kompetensi, kita bisa: • Memilih mainan dengan kualitas yang bermutu, mengamati situasi. • Mengenalkan mainan dalam jarak pandang bayi, tapi jangan terlalu dekat dengan matanya. Bayi akan melihatnya, merasa tertarik dan tergerak untuk menjamahnya. • Menyadari dan menerima kebiasaan bayi yang suka memasukkan barang-barang ke mulutnya sebagai kepuasan alami dari kebutuhan dan rasa ingin tahunya (mulut selalu merupakan alat perasa walaupun sudah

kuno). Oleh para ahli kesehatan, hal itu berguna untuk meningkatkan sensitifitas ibu akan kebersihan mainan bayinya, sehingga tidak sembarangan diberikan ke orang atau diletakkan begitu saja. Membaringkan bayi di lantai, posisi tidur atau tengkurap. Ini akan membuka wawasan baru bagi bayi, yang tidak mungkin didapat saat digendong. Pada posisi itu, bayi dapat bermain sendiri mengikuti dorongan hatinya menjelajah segala sesuatu, tapi tetap aman secara fisik dan emosi. Posisi yang nyaman dan mudah ini sebaiknya memang dilatih sebelum belajar berdiri, karena dapat mengaktifkan pertumbuhan saraf motorik bayi.

IBU DAN ANAK

Para ibu harus didukung untuk juga menjaga jarak dan melakukan permainan yang aman dengan bayinya, hindari menaruh langsung mainan ke tangan si bayi. Hal itu akan memberikan rasa senang dan kepuasan sendiri pada bayi atas usaha yang dilakukan untuk mendapatkannya. Lebih jauh lagi, hal itu merupakan didikan awal yang baik pada pengendalian gerak tubuh bayi dan juga perkembangan psikososialnya. Itulah yang disebut “pendidikan awal bayi” Kesimpulannya, mari mendukung ibu untuk menyadari bahwa: • Bayi tidak hanya butuh makan, tapi juga kontak dan pemenuhan kebutuhan akan rasa ingin tahunya terhadap lingkungan. • Bayi akan bertumbuh besar dengan kebutuhan pribadinya. Pemenuhan kebutuhan itu tidak hanya terjadi melalui stimulasi eksternal saja. Adalah penting untuk mendukung ibu menguasai keterampilan mengasuh anak. Kita juga harus mendorong para ibu untuk lebih jauh lagi mengenali kompetensi bayinya. Dengan demikian, bayi akan mampu mengungkapkan dan mengekspresikan dirinya. l
PEMBAWA PESAN KESEHATAN N° 03 47

KESEHATAN IBU: UNTUK KESELAMATAN IBU

MOTHER AND CHILD / BREASTFEEDING

Breastfeeding
Every inexperienced breastfeeding mother needs some basic information and support. Listed below are three of the questions patients are most likely to ask.
How do I know that my baby is getting enough milk? We can not see or measure the amount of milk the baby is getting. For the first 2-3 days the baby receives the immune booster, colostrums, which is thick. During this time the infant will probably only wet 1 or 2 diapers per day. Mother’s milk usually comes in on the 3rd or 4th day. At this time the baby will begin to wet 6-8 cloth diapers per day. Tell your patients to remember 7-7-7. That means that from 7AM to 7AM the baby will wet 7 diapers. Patients should mark a piece of paper or the calendar each time the baby wets a diaper. When the baby reaches 7 wet diapers stop counting. Start counting again the next morning. Babies often wet more than 7 diapers but you don’t have to count after 7! Positioning is important to assure proper milk intake. Baby’s can not conduct food to the back of their throats thus, the baby must latch on by taking in the breast and placing his lips as far back as the areola, the dark skin behind the nipple. To be assured that her baby is getting enough milk, the mother can ask herself the following questions: 1. Is the baby nursing every 2-3 hours around the clock? Is the baby nursing 8-12 times every 24 hrs? 2. Can you hear the baby swallowing while he nurses? 3. Is the baby nursing at least 10 minutes on each breast at each feeding? 4. Is the baby active? Does he appear to be healthy? Patients should be advised to allow the baby to nurse for ten minutes on the first breast and for as long as they want on the second breast. Also start with the second breast from the previous nursing session. This insures that both breasts are being stimulated sufficiently. If it is hard to remember advise the patients to use a safety pins attached to the brassiere to indicate which breast will be used first in the next nursing session. Is there a way to increase my milk supply? If there is a concern regarding the milk supply the mother should refer to the question above. How do I know that my baby is getting enough milk? However, there are times when a mother feels that she wants to boost her milk supply. This is actually easy if you remember the following. The more you breastfeed the baby the more milk you will produce. Remind mothers that their bodies make milk in response to baby’s nursing demand. One way that mothers know they are producing milk is that they can feel their breasts are “full”. When this feeling of ‘fullness’ subsides mothbaby to nurse as often and for as long as he wants. This will increase the milk supply to accommodate the growth. To insure that the milk supply will increase maximally offer the baby both breasts at each feeding. Drain the first breast by allowing the baby to nurse for at least 10 minutes before offering the second. Allow the baby to decide when it is time to stop nursing. The infant should only suckle the breast. Pacifiers decrease the amount of time the infant suckles at the breast and therefore can impact on milk production. The more the baby suckles the more milk the breast will produce. Advise patients that when in doubt they can do the following: • Take a couple of days off from normal activities. • Increase the frequency and length of nursing sessions. • Rest when the baby rests. • Nap in the afternoon. • Drink plenty of water. • Eat a balanced diet. Should I breastfeed according to a schedule? Babies are unpredictable. They should be allowed to follow their own schedules and rhythm. That means that initially one baby might nurse every hour while others babies will thrive on every three or even four hours. (Remember that every three hours is considered the longest time that optimal hydration and adequate breast stimulation can be maintained.) Mother’s milk is ideal for the baby. It is easily and quickly digestible. Frequency is the only way to supply the needs of the newborn and to assure the quality of the milk. Babies should neither have the frequency of nursing sessions limited nor their time at the breast restricted. Initially the mother might feel she is always nursing but soon the frequency spaces out as the baby’s stomach grows and the amount of milk taken at each session increases. l

MOTHER AND CHILD

Breastfeeding positively impacts the baby, the mother, the family and the community.
ers often worry. Remind mothers that the body knows how much milk to produce. The lack of “fullness” only means the body knows how much and when to produce the milk. Growth spurts are other times when mothers are concerned with their milk supply. While a growth spurt can occur at any time they typically occur at 2-3 weeks, 6-8 weeks and at 3 months. During these times the infant will begin to breastfeed more frequently. It is natural to imagine that insufficient milk is the cause of the increased nursing. Allow the

48 HEALTH MESSENGER N° 03

MATERNAL HEALTH: FOR A SAFE MOTHERHOOD

IBU DAN ANAK / MENYUSUI BAYI

Menyusui Bayi
Ibu yang belum terbiasa menyusui bayinya memerlukan informasi dan dukungan. Berikut ini adalah tiga pertanyaan yang paling sering ditanyakan. Bagaimana saya tahu bayi saya mendapatkan cukup susu? Memang kita tidak bisa mengukur jumlah susu yang diperoleh bayi. Pada 2-3 hari pertama bayi menerima penyokong daya tahan tubuh dan kolostrum yang tebal. Selama masa ini bayi biasanya hanya memerlukan 1-2 popok setiap harinya. Susu ibu biasanya datang pada hari ke 3 atau ke 4. Pada saat ini, bayi mulai memerlukan 6-8 popok per harinya. Katakan pada pasien untuk selalu mengingat 7-7-7. Artinya, dari jam 7 pagi sampai jam 7 pagi lagi, bayi biasanya berganti popok 7 kali. Pasien sebaiknya menandai sebuah kertas atau kalender setiap kali bayi ganti popok. Pada saat bayi sudah 7 kali berganti popok berhentilah menghitung. Mulai hitung kembali pagi hari berikutnya. Seringkali terjadi bayi ganti popok lebih dari 7 kali dalam sehari tapi Anda tidak perlu menghitung kelebihannya! Posisi sangatlah penting untuk mendapatkan susu yang dibutuhkan. Bayi tidak bisa mengatur makanannya untuk sampai ke bagian belakang tenggorokannya; bayi harus sejauh mungkin memasukkan payudara ibu dan menempatkan bibirnya sampai jauh ke areola ibu, daerah gelap di sekitar puting. Ada jalan lain untuk meyakinkan ibu bahwa bayi mereka mendapatkan cukup susu. Tanyakan pada mereka pertanyaan berikut ini: 1. Apakah bayi menyusu setiap 2-3 jam? Apakah bayi menyusu 8-12 kali dalam 24 jam? 2. DapatkahAnda mendengar bayi menelan susu saat Anda menyusuinya? 3. Apakah bayi menyusu setidaknya 10 menit pada tiap payudara ibu? 4. Apakah bayi bergerak aktif? Apakah ia terlihat sehat? Nasehati para ibu untuk menyusui bayinya selama 10 menit pada payudara pertama dan selama yang diperlukan bayi pada payudara kedua. Saat menyusui berikutnya, lakukan sebaliknya. Lakukan itu untuk menjaga cukup stimulasi pada payudara ibu. Jika mereka sulit untuk mengingatnya, nasehati para ibu untuk menggunakan pin/sesuatu yang bisa disematkan di BH untuk bisa tahu payudara mana yang akan digunakan untuk menyusui pada sesi berikutnya. Apakah ada jalan untuk menambah persediaan ASI? Jika ada kekhawatiran seputar persediaan ASI, maka pertanyaan pertama di atas akan muncul kembali. Bagaimana saya tahu bayi saya mendapat cukup susu? Bagaimana pun, ada saat-saat dimana ibu merasa ingin menambah persediaan air susunya. Hal ini sebetulnya mudah jika diingat bahwa. Semakin banyak ibu menyusui bayinya maka semakin banyak juga susu yang dihasilkan. Ingatkan ibu bahwa tubuh mereka memproduksi susu sesuai kebutuhan bayi. Satu cara bagi para ibu untuk mengetahui bahwa mereka menghasilkan air susu adalah dengan merasakan bahwa dada mereka menjadi “penuh”. Ketika perasaan ‘penuh’ ini mereda, seringkali para ibu merasa khawatir. Ingatkan lagi para ibu bahwa tubuh mereka mengetahui caranya memproduksi yang mereka butuhkan. Ini akan meningkatkan persediaan susu yang bagus untuk pertumbuhan. Untuk memastikan bahwa persediaan susu akan bertambah secara maksimal, berikan ASI dari kedua payudara setiap kali menyusui. Kosongkan payudara pertama dengan membiarkan bayi menyusu sedikitnya selama 10 menit sebelum pindah ke payudara kedua. Biarkan bayi yang memutuskan kapan saatnya berhenti menyusu. Bayi baru lahir sebaiknya hanya menyusu dari payudara ibu. Dot hanya akan mengurangi kebersamaan antara ibu dengan bayinya dan juga mempengaruhi produksi susu. Kalau masih ada keraguan, katakan pada pasien hal berikut ini:

IBU DAN ANAK

• • • • • •

Ambil beberapa hari libur dari aktifitas normal.­ Tingkatkan frekuensi dan lama waktu untuk menyusui. Istirahatlah saat bayi beristirahat. Tidur siang. Banyak minum air putih. Lakukan diet sehat dan seimbang.

Pemberian ASI ibu secara benar akan mempengaruhi bayi, ibu, keluarga dan masyarakat sekitar.
susu. Berkurangnya perasaan “penuh” itu hanya berarti bahwa tubuh tahu seberapa banyak dan kapan susu harus diproduksi. Dorongan pertumbuhan adalah saat dimana ibu mengkhawatirkan persediaan susunya. Saat ini bisa terjadi kapan saja biasanya pada minggu ke 2-3, minggu ke 6-8 dan pada bulan ke 3. Selama masa ini, bayi akan mulai menyusu lebih sering. Adalah suatu hal yang wajar untuk membayangkan bahwa susu yang tidak cukup merupakan penyebab bayi ingin menyusu lebih sering. Izinkan bayi untuk menyusu sesering dan selama

Haruskah saya menyusui sesuai jadwal? Para bayi tidak bisa diduga. Mereka memiliki jadwal dan ritme sendiri. Artinya bahwa beberapa bayi perlu menyusu setiap jam sementara pada bayi lain setiap tiga atau empat jam. (Ingatlah bahwa setiap tiga jam adalah waktu terlama yang bisa diterima untuk menghindari terjadinya dehidrasi dan stimulasi air susu ibu yang memadai). Air susu ibu adalah yang terbaik untuk bayi karena mudah dan bisa dengan cepat dicerna oleh bayi. Frekuensi adalah satu-satunya cara untuk menambah persediaan dan menjamin kualitas susu. Oleh karena itu, sesi menyusui bayi tidak boleh dibatasi atau ditentukan lama waktunya. Secara otomatis, ibu akan merasa bahwa dia selalu menyusui tapi seiring dengan frekuensi pemberian susu dan ukuran perut bayi yang semakin membesar maka wajarlah jika kebutuhan bayi akan susu semakin meningkat. l PEMBAWA PESAN KESEHATAN N° 03 49

KESEHATAN IBU: UNTUK KESELAMATAN IBU

TO GO DEEPER / PREGNANCY AND MALARIA

The importance of insecticide Treated nets during pregnancy
The distribution of insecticide treated nets (ITNs) targets pregnant woman as they are 3 times more likely to die than non pregnant women. There is also increased risk of miscarriage, still birth and neonatal death.
he Malaria campaign on-going at present in many districts also target under five year old children as they are the other group with high mortality to Malaria. In recent years, ITNs have been shown to be very effective in reducing Malaria mortality and morbidity in endemic areas but are not an appropriate response during an outbreak. ITN are most effective when net coverage is high. In Aceh the transmission of Malaria is thought to be low or unstable. This means that women either have no immunity or are semi immune to Malaria, depending on how often they have had Malaria. In women who are semi-immune, the women often have asymptomatic with no fever and negative blood slides. The main maternal effect will be severe anaemia. In these areas prompt diagnosis and treatment of Malaria and prevention is the main strategies to reduce mortality. ITNs should be provided to pregnant women as early in pregnancy as possible. Their use should be encouraged for women throughout pregnancy and during the post partum period.

T

In areas of low transmission, single Malaria infection may have serious consequences to both mother and fetus. It is therefore important to use the ITN every night to reduce the risk of infection. An untreated net will provide a physical barrier but an ITN is more effective as they repel mosquitoes and kill them so the person is less likely to be bitten. The long lasting nets as they now remain effective for many years that are being distributed are an advance on the traditional ITN’s that needed to be frequently retreated to remain effective. All routine antenatal care should provide care for women at risk of Malaria. Mothers should be provided with ITNs or at least health education on the importance of using them. Malaria disease identified should be treated according to national protocols. Iron supplementation for prevention of anaemia should be given. Any moderate or severe Malaria should be managed according to national reproductive health guidelines. l

TO GO DEEPER

GOOD TO REMEMBER: Community education is essential to ensure that ITNs are used correctly. The important messages that should be given are: • Pregnant women and young children should use the nets • Nets should be used all the time • Nets should be suspended and supported well • Do not wash nets frequently • Keep them out of the sunlight and rain
50 HEALTH MESSENGER N° 03
MATERNAL HEALTH: FOR A SAFE MOTHERHOOD

LEBIH DALAM LAGI / KEHAMILAN DAN MALARIA

pentingnya penggunaan Kelambu Berinsektisida untuk Wanita Hamil
Pembagian kelambu berinsektisida ditargetkan pada wanita hamil karena mereka mempunyai kemungkinan meninggal 3 kali lebih besar dibanding yang tidak hamil. Selain itu mereka juga beresiko tinggi terhadap keguguran, kematian bayi dalam kandungan dan kematian bayi baru lahir.

K

ampanye malaria yang dewasa ini dilakukan juga ditargetkan untuk anak balita sebab kelompok ini juga mempunyai risiko tinggi mengalami kematian akibat malaria. Beberapa tahun terakhir, kelambu berinsektisida telah terbukti sangat efektif menurunkan angka kematian dan kesakitan akibat malaria di daerah endemis walaupun bukan merupakan respon yang dianjurkan untuk kejadian luar biasa. Penggunaannya sangat efektif jika daerah penyebarannya luas. Di Aceh, penularan malaria dianggap rendah atau tidak stabil. Artinya, wanita tidak mempunyai kekebalan atau setengah kebal terhadap malaria, tergantung seberapa sering mereka terkena malaria. Pada wanita yang mempunyai setengah kekebalan sering tidak ada gejala, tidak ada demam dan pemeriksaan darah negatif. Efek maternal utama adalah anemia berat. Dalam hal ini, diagnosis dan penanganan yang cepat adalah strategi utama untuk menurunkan angka kematian. Kelambu berinsektisida harus tersedia untuk wanita hamil sesegera mungkin. Wanita hamil dianjurkan untuk terus menggunakannya selama kehamilan bahkan sampai setelah melahirkan.

Di daerah yang penyebarannya rendah, infeksi malaria tunggal dapat mengakibatkan konsekuensi yang serius terhadap ibu dan janin. Oleh karena itu penggunaannya tiap malam sangat penting untuk mengurangi risiko infeksi. Kelambu yang tidak berinsektisida akan memberikan perlindungan fisik namun yang berinsektisida akan lebih efektif karena dapat menolak nyamuk dan membunuhnya sehingga mengurangi kemungkinan untuk digigit. Kelambu berinsektisida jangka panjang yang sekarang ini didistribusikan tetap efektif selama bertahuntahun. Ini merupakan kemajuan dari ITNs tradisional yang perlu diberi obat ulang agar tetap efektif. Setiap pemeriksaan kehamilan sebaiknya menyediakan penanganan untuk wanita beresiko terhadap malaria. Semua ibu hamil sebaiknya diberikan kelambu berinsektisida atau paling sedikit pengetahuan kesehatan mengenai pentingnya penggunaan kelambu. Penyakit malaria yang telah teridentifikasi harus diterapi sesuai dengan protokol standar nasional. Suplemen zat besi untuk mencegah anemia sebaiknya diberikan dan semua malaria harus diterapi sesuai dengan pedoman nasional kesehatan reproduksi. l

LEBIH DALAM LAGI

PENTING UNTUK DIINGAT:
Penyuluhan kepada masyarakat penting untuk memastikan kelambu berinsektida dipergunakan dengan tepat. Pesan-pesan penting yang harus diberikan: • wanita hamil dan anak-anak harus tidur di bawah kelambu. • Kelambu harus digunakan setiap saat. • Kelambu harus digantung dan ditopang secara baik. • Kelambu jangan dicuci terlalu sering. • Jauhkan dari sinar matahari langsung dan hujan
KESEHATAN IBU: UNTUK KESELAMATAN IBU PEMBAWA PESAN KESEHATAN N° 03 51

TO GO DEEPER / PREGNANCY AND AIDS

What can women do to reduce the risk of HiV infection for their baby?
It is important for you to know that there is a new disease spreading in Indonesia. The disease is AIDS, it causes chronic illness and death, and there is no cure.

T

he AIDS virus, HIV, spreads through sex, and when people inject drugs together and share the needle or syringe. It can also pass from a mother to her baby during pregnancy or afterwards through breastfeeding. But it is easy to protect your baby, and yourselves, from this disease. It does not spread between people through touching or kissing, or coughing, or sharing cups and bowls. It spreads through sex, and if you use a condom, you will be protected. Perhaps you know that you have HIV, or perhaps you don’t want to be tested. You might have tested negative for HIV but still be at risk of infection. Whether you have HIV or not, you need to know how you can help to protect your baby from HIV. wHAT IS THE RISK TO THE BABY? Not all babies born to HIV-infected women become infected with HIV. When the baby is growing in the womb the blood of the mother and baby come close - but they do not usually mix. If 100 HIV-infected women each have a baby, on average about 35 of the babies will become infected with HIV. Some of these babies will become infected during the pregnancy, but most will become infected during the delivery, or afterwards through breastfeeding.

wHAT AFFECTS THIS RISK? The chance that HIV will pass to the baby depends most on how much HIV is in the mother’s blood. The level of HIV is high a few weeks after infection with the virus. After this the body starts to fight the virus and the level in the blood becomes very low. It usually stays very low for several years, although the virus is slowly damaging the defense system of the body. Then the amount of HIV in the blood begins to rise again, and the person develops symptoms and signs of AIDS. This means: • The virus is much more likely to pass to the baby if the woman becomes infected with HIV during the pregnancy, or while she is breastfeeding.

There is only a small risk that the virus will pass to the baby from an HIV infected woman who is well, has no other infections, especially no sexually transmitted infections, and eats well, including fruits and vegetables.

Even if a woman is already infected with HIV, she can become infected again with a different strain of HIV. This will increase the level of HIV in the blood and the risk to the baby. So it is important to have only safe sex during pregnancy and when breastfeeding. Safe sex means sex with a condom, or sex without penetration. Antenatal care can help you to have a healthy pregnancy. All pregnant women and their babies benefit from having good food and the chance to rest. Husbands can help to make this possible. At the time of delivery midwives can help to lower the risk by not breaking the bag of waters around the baby. The risk that HIV will pass to the baby through breastfeeding is higher if the baby receives any fluid or food other than breastmilk. Babies do not need water or any other milk or food until they are six months old. Exclusive breastfeeding protects all babies against diarrhoea and other infections.=>

Pregnancy doubles the risk that a woman will become infected with HIV. It is important for men to know that they put their baby, their wife, and themselves at high risk of AIDS if they have unprotected sex with someone else. • The virus is much more likely to pass to the baby if the woman has HIV-related illness (for example, a chronic cough, loss of weight, repeated diarrhea).

TO GO DEEPER

If you have a chronic illness seek medical help and try to avoid becoming pregnant until you have been well for six months.

52 HEALTH MESSENGER N° 03

MATERNAL HEALTH: FOR A SAFE MOTHERHOOD

LEBIH DALAM LAGI / KEHAMILAN DAN AIDS

Apa yang Dapat Dilakukan Wanita untuk Mengurangi Resiko infeksi HiV pada Bayi?
Sangatlah penting untuk disadari bahwa pada saat ini ada penyakit baru yang menyebar di Indonesia. AIDS, penyebab sakit kronis dan kematian, dan tidak ada obatnya.

V

irus AIDS, HIV menyebar lewat hubungan seksual dan pemakaian jarum suntik atau alat semprot yang sama. Juga dapat ditularkan dari ibu pada bayinya di dalam kandungan atau saat menyusui. Akan tetapi sangatlah mudah untuk melindungi bayi Anda dan juga diri Anda sendiri dari penyakit ini. AIDS tidak menular lewat sentuhan, ciuman, batuk atau memakai piring dan gelas yang sama. Penyakit ini menular lewat hubungan seksual tapi Anda akan terlindungi jika menggunakan kondom. Mungkin Anda menyadari bahwa Anda terkena HIV atau Anda tidak mau dites. Anda mungkin mendapatkan hasil negatif untuk HIV tapi masih ada kemungkinan terinfeksi. Jadi, baik Anda mengidap virus HIV atau tidak., Anda harus mengetahui caranya melindungi bayi Anda dari HIV. APA RESIKONYA TERHADAP BAYI? Tidak semua bayi yang lahir dari wanita dengan HIV positif menderita HIV. Ketika bayi masih di dalam rahim, darah ibu dan bayi memang berdekatan – tapi biasanya tidak tercampur. Dari 100 wanita hamil dengan HIV positif, umumnya hanya 35 bayi saja yang terinfeksi HIV. Beberapa diantaranya terinfeksi sejak dalam kandungan, tapi biasanya mereka terinfeksi pada saat kelahiran atau saat menyusui.

FAKTOR APA YANG MEMPENGARUHI RESIKO ITU? Kemungkinan bahwa HIV akan menulari bayi bergantung pada berapa banyak virus HIV dalam darah ibu. Beberapa minggu setelah terinfeksi, level virus HIV biasanya tinggi. Pada saat itu, tubuh mulai melawan virus dan jumlahnya dalam darah menurun, meskipun virus secara perlahan mulai merusak sistem pertahanan tubuh. Lalu jumlah virus HIV dalam darah mulai meningkat lagi dan orang itu akan menunjukkan gejalagejala AIDS. Hal itu berarti: • Virus sangat mungkin menulari bayi melalui wanita yang positif HIV selama dalam kandungan, atau saat ia menyusu.

Bayi dari ibu yang terinfeksi HIV sangat kecil resikonya akan tertular jika ibunya tidak menderita infeksi lain, terutama infeksi lewat hubungan seksual dan selalu makan teratur termasuk buah dan sayuran. Seorang wanita yang sudah terinfeksi HIV, masih bisa terinfeksi lagi oleh virus HIV lainnya. Hal itu akan meningkatkankan virulensi HIV dalam darah dan resiko penularan terhadap bayi. Jadi, sangatlah penting untuk hanya melakukan seks yang aman selama kehamilan dan saat menyusui. Seks yang aman berarti seks dengan menggunakan kondom atau seks tanpa penetrasi. ANC sangat bermanfaat untuk menjaga kehamilan tetap sehat. Semua wanita hamil dan bayinya harus mendapat makanan yang bergizi dan cukup istirahat. Untuk terwujudnya hal ini, para suami dapat menolong. Pada saat kelahiran, bidan dapat menolong mengurangi resiko bahaya dengan tidak memecahkan ketuban sebelum waktunya. Resiko bahwa HIV akan tertular pada bayi pada saat menyusui lebih besar jika bayi menerima cairan atau makanan selain ASI. Bayi tidak membutuhkan air atau susu lain atau makanan lainnya sampai mereka setidaknya berusia enam bulan. ASI ekslusif melindungi bayi dari diare dan infeksi lainnya. =>

Kehamilan meningkatkan resiko pada wanita terhadap infeksi HIV. Sangatlah penting bagi para pria untuk mengetahui bahwa mereka menempatkan bayi, istrinya dan dirinya sendiri dalam bahaya apabila mereka melakukan hubungan seksual yang tidak aman dengan wanita lain. • Virus dapat menulari bayi jika ibunya menderita penyakit yang berhubungan dengan HIV (batuk kronis, penurunan berat badan, diare yang berulang).

LEBIH DALAM LAGI

Jika Anda menderita sakit kronis, segera cari pertolongan medis dan hindari kehamilan sampai Anda sehat total selama enam bulan.

KESEHATAN IBU: UNTUK KESELAMATAN IBU

PEMBAWA PESAN KESEHATAN N° 03 53

TO GO DEEPER / PREGNANCY AND AIDS

=> Mastitis and cracked nipples also increase the risk. Avoid these by breastfeeding the baby soon after delivery, make sure that the baby is well attached to the breast, and feed the baby frequently. IF YOU KNOw THAT YOU HAVE HIV Follow the advice above – in addition ask your nurse or doctor about: • the availability of anti-retroviral drugs which reduce the risk to the baby • the possibility of having the baby delivered by Caesarean section before you go into labour • infant feeding choices that will be safe for your baby. If you already have HIV-related illness think carefully before becoming pregnant. The risk that the baby will become infected is high. You may become more ill and find it hard to care for a baby who may also often be ill. You need support and good advice about contraception. It may be helpful if your husband attends for counselling too so that he is able to understand the situation and help you. PLANNING FOR PREGNANCY It is a good idea to think about and plan for pregnancy. If you don’t want to get pregnant yet, make sure you use an effective form of contraception. Always have safe sex. If you want to become pregnant make sure that you are wellnourished and healthy. It is a good idea for both partners to have screening and treatment for any sexually transmitted infections. Consider having counseling about whether to have an HIV test, together with your partner. Sometimes a man is infected with HIV and his wife is uninfected. Of course, to protect the woman they should always use a condom when they have sex. But if they are very keen to have a baby the woman can learn how to tell the days in the month when she is most likely to become pregnant. Then it is possible to minimize the risk that HIV will pass to the woman by having sex without a condom only once each month. It is important to be sure that both partners are well and have no sexually transmitted infections. 54 HEALTH MESSENGER N° 03

IF YOU ARE ALREADY PREGNANT Consider having an HIV test. Counseling can help you to decide whether this is the right thing to do. If possible, ask your partner to attend for counseling with you. An advantage of knowing your HIV status is that you can make decisions about how you will feed your baby, and you can seek medical advice about the ways to reduce the risk of HIV for the baby that we have mentioned. SEx DURING PREGNANCY When a woman is pregnant she may feel anxious. She needs her husband to be especially loving. Sex during pregnancy will not harm the baby. When a woman is getting big because the baby is growing, sex will be different. You will both feel less shy if you can laugh about this. Try to find a position for sex that is comfortable for both of you. Sexual intercourse is safe right up until the baby is born. Pregnancy affects a woman’s feelings. Some women enjoy sex more during pregnancy. Some women enjoy sex less during pregnancy. Some men find their wife more beautiful during pregnancy. Some men find their wife less beautiful during pregnancy. Remember that pregnancy is a short time in your lives together. Men should respect the feelings of their wife during pregnancy. After a baby is born it takes a few weeks for the body of a woman to return to normal, and she will have some bleeding. It is safe to have sex after the bleeding stops. This might take between two to six weeks. During this time, when you are not having sexual intercourse, you can get sexual pleasure in different ways. Some men have sex with someone else when their wife is pregnant or in the weeks after the baby is born. If the man has sex with someone else at this time there is a risk that he will become infected with the AIDS virus. Then, when he has sex with his wife again, there is a high risk that he will pass the virus to her. There is then a high risk that the virus will pass to the baby during pregnancy, childbirth, or through breastfeeding. l

TO GO DEEPER

MATERNAL HEALTH: FOR A SAFE MOTHERHOOD

LEBIH DALAM LAGI / KEHAMILAN DAN AIDS

Mastitis dan puting ibu yang luka juga menambah resiko. Hindari dengan memberi ASI pada bayi segera setelah kelahiran; pastikan bayi ada di posisi yang tepat dan lakukan secara teratur. JIKA ANDA TAHU ANDA TERINFEKSI HIV Lakukan saran berikut – sebagai tambahan, konsultasi dengan perawat/atau dokter tentang: • Kemungkinan obat anti-retroviral yang dapat mengurangi resiko penularan pada bayi • Kemungkinan untuk melahirkan secara Caesar • Pilihan makanan khusus untuk bayi baru lahir yang akan bermanfaat untuk bayi Anda Jika Anda sudah menderita penyakit yang berhubungan dengan HIV, pikir masak-masak sebelum mengandung. Resiko bayi akan terinfeksi sangatlah tinggi. Penyakit Anda dapat menjadi semakin parah dan akan sulit untuk merawat bayi yang sakit-sakitan. Anda membutuhkan dukungan dan saran yang tepat mengenai kontrasepsi. Akan sangat menolong jika suami Anda juga mengikuti konseling sehingga ia mengerti situasinya dan menolong Anda. RENCANA KEHAMILAN Adalah ide yang bagus untuk berpikir masak-masak dan merencanakan kehamilan. Jika Anda belum mau hamil, pastikan Anda memakai alat kontrasepsi yang efektif. Lakukan hubungan seksual yang aman. Jika Anda ingin hamil, pastikan Anda dalam keadaan cukup gizi dan sehat. Melakukan pengecekan dan perawatan terhadap semua kemungkinan infeksi penyakit seksual adalah ide yang baik. Ingatlah, lebih baik untuk melakukan konseling dan tes HIV bersama dengan pasangan Anda. Terkadang dapat terjadi, pihak prialah yang terinfeksi HIV dan istrinya tidak. Sudah jelas, mereka harus selalu menggunakan kondom saat melakukan hubungan seksual untuk melindungi pihak wanita. Akan tetapi, jika mereka sangat menginginkan kehadiran seorang bayi, pihak wanita harus mengetahui masa suburnya yaitu saat dia memiliki kemungkinan paling besar untuk bisa hamil. Dengan demikian resiko terhadap infeksi HIV dapat diminimalisasi karena melakukan hubungan seksual tanpa kondom hanya sekali dalam sebulan. Sangatlah penting untuk memastikan bahwa kedua pihak dalam keadaan prima dan tidak menderita infeksi apa pun.

JIKA ANDA SUDAH TERLANJUR HAMIL Lakukan tes HIV. Konseling dapat menolong Anda untuk memilih yang benar. Jika memungkinkan, mintalah pasangan Anda untuk melakukan konseling bersama. Dengan memastikan status HIV Anda, Anda lebih dapat memutuskan dengan benar bagaimana cara menyusui bayi Anda dan Anda dapat mencari saran/pendapat medis tentang cara memperkecil resiko infeksi HIV terhadap bayi, seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya. SEKS SELAMA KEHAMILAN Ketika seorang wanita hamil, dia mungkin merasa gelisah. Dia membutuhkan suaminya untuk menunjukkan cintanya. Seks selama kehamilan tidak akan melukai bayi. Saat perut seorang wanita membesar karena bayi di dalamnya tumbuh, seks akan berbeda. Rasa malu Anda berdua akan berkurang jika bisa melihat sisi lucunya dan tertawa bersama. Cobalah menemukan posisi seks yang nyaman untuk Anda berdua. Seks bisa dilakukan sampai bayinya lahir. Kehamilan mempengaruhi perasaan wanita. Beberapa wanita lebih menikmati seks selama hamil. Beberapa lainnya kurang menikmati seks saat hamil. Beberapa lelaki berpendapat istri mereka lebih cantik saat hamil. Beberapa lainnya berpikir istri mereka berkurang kecantikannya ketika hamil. Ingatlah, kehamilan hanyalah suatu masa yang singkat. Para suami harus menghargai perasaan istrinya selama masa hamil. Setelah kelahiran bayi, diperlukan waktu beberapa minggu bagi wanita untuk mendapatkan kembali bentuk normal tubuhnya, dan akan ada pendarahan (masa nifas). Lebih baik melakukan hubungan seksual setelah masa nifas berhenti. Hal itu mungkin butuh waktu dua sampai enam minggu. Selama masa itu, saat Anda tidak bersetubuh, Anda bisa mendapatkan kesenangan seksual lainnya dengan cara yang berbeda. Ada beberapa suami yang melakukan hubungan seksual dengan wanita lain pada saat istrinya sedang hamil atau pada minggu setelah kelahiran sang bayi. Jika seorang pria bersetubuh dengan wanita lain pada periode itu, ada resiko dia akan terinfeksi virus AIDS. Dengan demikian, saat dia bersetubuh kembali dengan istrinya, ada resiko besar dia akan menulari virus itu pada istrinya. Hal itu akan meningkatkan resiko infeksi pada bayi selama dalam kandungan, saat kelahiran dan menyusui. l

LEBIH DALAM LAGI

KESEHATAN IBU: UNTUK KESELAMATAN IBU

PEMBAWA PESAN KESEHATAN N° 03 55

SOCIETY / TBAs AND THE COMMUNITY

Role of TBAs in the community
The Traditional Birth Attendant (TBA) is a public figure who is trusted capable enough to help a delivery or to cure any kind of diseases in the community, such as diarrhea or high fever.

T

BAs have a big role in the community’s social life, especially for things related to pregnant women during the pregnancy, on the delivery time and for the newborn. Almost every words, advices or even commands from the TBAs are obeyed by the new mothers and the community. In the delivery process, a TBA can accompany the patient at home and they often live together for several days until everything is over and the mother is feeling better. The TBA takes care of the new mother by giving her massages and also doing all the housekeeping tasks such as cooking for for her and washing her clothes. Such services provided by a TBA are very good, but she does not have the knowledge or the medical qualifications that are required to facilitate the pregnancy and to make it safe, and to pay attention to the needs of a pregnant woman. If a TBA is able to have such a place in the community, it is because she obtained her knowledge from a previous TBA. Sometimes there are many actions or suggestions from the TBA that are contrary to elementary and necessary medical principles. For example, the diet that is in general recommended by TBAs to a pregnant woman or a new mother is not healthy at all: they are forbidden to eat vegetables, fish, eggs and they are not allowed to drink too much

Opening of the Polindes of Tuwi Peuriya, Aceh Jaya.
water. A pregnant woman and a new mother should eat healthy foods and drink lots of water, at least 8 glasses or 2 liters of water every day, so she can have enough milk when she breastfeed their baby. A TBA doesn’t have any legacy or any license to practice a profession. So, if there is any wrong deed (malpractice), she is not responsible of the consequences. A midwife is a well educated health worker who is competent to help and look after a pregnant woman and a new mother. Especially for the education about infection prevention, so that a new mother and a pregnant woman can be safely and medically looked after. A midwife will also prevent the pregnant woman from

Photo AMI 2006

having any infection, as she always uses a sterile equipment with clean hands according to the standards of the Department of Health. It is much better if a pregnant woman who will soon give birth is treated by a midwife or a professional health worker, to ensure a safe and sterile delivery. During the delivery process, the patient should be taken to the nearest Polindes (Pondok Bersalin Desa) or Puskesmas. It is acceptable if a TBA wants to accompany the midwife during the delivery process. Health professionals will regularly check up the pregnancy, from the very beginning to the delivery process, to make sure that both the mother and the baby are safe and they are in a good condition. l

SOCIETY

56 HEALTH MESSENGER N° 03

MATERNAL HEALTH: FOR A SAFE MOTHERHOOD

MASYARAKAT / DUKUN BERSALIN DAN MASYARAKAT

peran Dukun Bersalin di Masyarakat
Dukun bersalin adalah seorang figur masyarakat, seseorang yang dianggap dapat menolong persalinan bahkan mungkin mengobati semua penyakit di masyarakat, seperti diare atau demam.

D

ukun bersalin berperan sangat besar terhadap tatanan kehidupan sosial terutama yang berhubungan dengan ibu hamil, saat melahirkan dan bayi baru lahir. Hampir semua kata-kata, petuah bahkan perintah dukun bersalin dituruti oleh ibu melahirkan dan masyarakat. Dalam suatu proses persalinan, seorang dukun bersalin dapat menunggui ibu di rumahnya berhari-hari sampai persalinan selesai dan ibu menjadi sehat. Dukun bersalin merawat ibu mulai dari mengelus dan memijit badan dan juga mengerjakan segala pekerjaan rumah tangga ibu misalnya memasak makanan dan mencuci pakaian si ibu. Itu semua adalah pelayanan yang bagus dari seorang dukun bersalin, tapi mereka tidak mempunyai pengetahuan atau kualifikasi medis yang diperlukan untuk menolong dan merawat ibu bersalin. Mereka menjalankan pekerjaannya karena pengalaman yang diperoleh dari dukun bersalin sebelumnya. Terkadang ada beberapa tindakan atau saran dari dukun bersalin yang bertentangan dengan prinsip medis. Misalnya dalam hal makanan bagi ibu hamil atau ibu baru melahirkan: dukun bersalin melarang mereka makan sayur, ikan, telur dan tidak boleh terlalu banyak minum. Padahal ibu hamil dan baru melahirkan, harus banyak makan

Pembukaan Polindes di Tuwi Peuriya, Aceh Jaya.
makanan bergizi dan minum sedikitnya 8 gelas atau 2 liter air sehari supaya Air Susu Ibu (ASI)nya banyak. Dukun bersalin tidak mempunyai legalitas hukum atau Surat Izin Praktek. Jadi kalau ada semacam kesalahan tindakan (malpraktek), tidak bisa dimintai pertanggungjawaban. Bidan adalah seorang tenaga kesehatan yang kompeten untuk menolong dan merawat wanita hamil dan ibu yang baru melahirkan. Terutama pendidikan tentang pencegahan infeksi agar ibu dan bayi baru lahir dapat ditolong dengan cara medis dan aman serta terhindar dari infeksi yang mungkin terjadi karena

Photo AMI 2006

alat-alat yang dipakai oleh bidan steril dan tangannya bersih sesuai dengan standar Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Ibu yang akan melahirkan sebaiknya ditolong oleh bidan atau petugas kesehatan yang profesional agar persalinannya aman dan steril. Selama proses persalinan, antarlah ibu ke Polindes (Pondok Bersalin Desa) yang terdekat dari rumah atau Puskesmas. Boleh juga didampingi oleh dukun bersalinnya. Petugas kesehatan profesional akan membantu ibu dengan senang hati untuk menjaga kehamilan ibu sejak dini sehingga kondisi ibu dan bayi dapat dipastikan keselamatannya. l
PEMBAWA PESAN KESEHATAN N° 03 57

MASYARAKAT

KESEHATAN IBU: UNTUK KESELAMATAN IBU

SOCIETY / DELIVERY KIT FOR TBAs

A delivery kit for traditional birth attendants
In Indonesia today many deliveries take place at home: women, feeling confident enough, rely upon traditional birth assistants (TBAs) to help them. But, the practices of the TBAs are sometimes contradictory with the health of mothers and newborn.

T

he UNFPA has been working for several years to better the health of the mother and child, and specifically of the pregnant woman. The UN agency is paying a great attention to the health system and habits of each country it is working in, by respecting, taking into account and relying on existing cultural practices. Throughout Indonesia nowadays, many deliveries still take place at the home of the pregnant woman and the TBA is a key figure in the community. In Aceh Jaya for example, in the subdistrict of Teunom where Aide Médicale Internationale (AMI) is working, over 80% of the deliveries are performed by TBAs. TBAs are acknowledged by communities and are able to deliver pregnant women. They live in the villages and follow cultural traditions, which can be sometimes harmful to the health of the young mother and the baby. Aware of this, UNFPA aims at strengthening the link between TBAs and midwives, using mediators, such as the delivery kit. Aimed at TBAs, it is distributed by the midwives. Its use is not so much in the training of TBAs or in the development of their medical skills, it is moreover to favor encounters between professional health workers, the midwives, and the TBAS, as well the integration of the latter at the right place in the health system.

Here is a presentation of the delivery kit. Midwives in Polindes and Puskesmas could use it when meeting with TBAs. The distribution of the kit should come with an explanation of what the kit is made of, its aims and its utilization. Contents of the kit 1. 1 soap 2. 1 plastic protection for the bed, for the mother during delivery 3. 1 unique use sterile razor 4. 1 string for the ombilic 5. 2 explanation leaflets: a. Prevention of complication for the mother and baby at birth b. First gestures at birth i. Care of the umbilical cord ii. Importance of the intimate relationship between mother and child iii. Breastfeeding Objectives of the kit This kit has several objectives, but they all converge to the improvement of the health of the mother and the new born. 1. Prevention of the infections a. For the mother b. For the baby, especially for the umbilical cord 2. Prevention of the baby’s hypothermia

3. Prevention of malnutrition, reminding of the importance of breastfeeding 4. Prevention of complications for the mother which demand a transfer to a Puskesmas or a hospital. The signs are: a. Blocked labor b. Fever, violent headaches c. Convulsions d. Heavy bleedings 5. Prevention of complications for the baby which demand a transfer to a Puskesmas or a hospital. The signs are: a. Fever b. Breathing difficulties c. Refusal of breastfeeding d. Cold, pale skin e. Convulsions, uncoordinated movements f. Little weight, premature Step by step, some keys of how to process. While distributing the kit, the midwife describes its utilization. 1. Washing of the TBA’s hands 2. Washing of the perineum by the TBA with soap, just before the expulsion 3. New washing of the TBA’s hands 4. Disposal of the plastic under the pregnant women’s bottom =>

SOCIETY

58 HEALTH MESSENGER N° 03

MATERNAL HEALTH: FOR A SAFE MOTHERHOOD

MASYARAKAT / PAKET ALAT KELAHIRAN UNTUK DUKUN BERSALIN

paket Alat Kelahiran bagi Dukun Bersalin
Dewasa ini di Indonesia banyak kelahiran dilakukan di rumah: wanita merasa nyaman dan mempercayakan kelahiran bayinya pada dukun bersalin. Akan tetapi, pada prakteknya aturan dukun bersalin kadang bertentangan dengan kesehatan bagi ibu dan bayi.

U

NFPA telah bekerja bertahun-tahun untuk meningkatkan kesehatan ibu dan anak, te r u t a m a w a n i t a hamil. Agen PBB memberi perhatian besar pada sistem kesehatan dan tradisi di setiap negara dengan cara menghormati, mengingatnya dan percaya pada kebiasaan/tradisi yang berlaku di masyarakat setempat. Dewasa ini di Indonesia, banyak kelahiran yang dilakukan di rumah dan dukun bersalin adalah tokoh yang dihormati di masyarakat. Misalnya di Aceh Jaya, kecamatan Teunom dimana Aide Médicale Internationale (AMI) bekerja, lebih dari 80% kelahiran didampingi oleh dukun bersalin. Keberadaan dukun bersalin diakui dalam masyarakat dan dinilai mampu membantu kelahiran. Mereka tinggal di desa dan mengikuti budaya setempat yang kadang-kadang dapat membahayakan kesehatan ibu muda dan bayi. Waspada dengan hal ini, UNFPA bermaksud menjalin hubungan antara dukun bersalin dan bidan dengan menggunakan perantara, seperti paket alat kelahiran. Diarahkan pada dukun bersalin, paket dibagikan oleh bidan. Penggunaannya tidak untuk melatih dukun bersalin atau untuk menambah ketrampilan medis mereka, tapi lebih

untuk mempertemukan pekerja kesehatan yang profesional, bidan dan dukun bersalin, juga pada integrasi yang tepat dalam sistem kesehatan. Berikut ini adalah presentasi alat kelahiran. Bidan di Polindes dan Puskesmas dapat menggunakannya saat bertemu dengan dukun bersalin. Sebaiknya saat distribusi, disertai dengan penjelasan akan bahan dasar pembuatan, tujuan dan cara pemakaiannya. ISI DARI PAKET 1. 1 sabun 2. 1 pelindung – tempat tidur plastik untuk ibu saat melahirkan 3. 1 silet atau pisau cukur yang steril untuk sekali pakai 4. 1 tali untuk umbilicus 5. 2 brosur penjelasan: a. Pencegahan komplikasi untuk ibu dan bayi saat kelahiran b. Langkah pertama saat kelahiran i. Perawatan tali pusat ii. Pentingnya hubungan intimasi antara ibu dan anak iii. Pemberian ASI TUJUAN DARI PAKET Paket ini memiliki beberapa tujuan, tapi semua tujuannya adalah untuk meningkatkan kesehatan ibu dan bayi yang baru lahir. 1. Pencegahan infeksi a. Untuk ibu

b. Untuk bayi terutama bagian tali pusat 2. Pencegahan hipotermia pada bayi 3. Pencegahan kekurangan gizi dengan mengingatkan pentingnya pemberian ASI 4. Pencegahan komplikasi pada ibu yang memerlukan rujukan ke Puskesmas atau rumah sakit. Tanda-tandanya adalah: a. Partus macet b. Demam, sakit kepala c. Kejang d. Pendarahan berat 5. Pencegahan komplikasi pada bayi yang memerlukan rujukan ke Puskesmas atau rumah sakit. Tanda-tandanya adalah: a. Demam b. Sesak nafas c. Tidak mau disusui d. Dingin, pucat e. Kejang, Gerakannya tidak teratur f. Berat badan kurang, prematur Selangkah demi selangkah, beberapa petunjuk cara prosesnya. Saat membagikan paket itu, bidan menjelaskan cara penggunaannya.

MASYARAKAT

1. Dukun bersalin harus cuci tangan terlebih dulu 2. Pencucian perineum dengan sabun sebelum bayi keluar 3. Dukun bersalin harus cuci tangan lagi 4. Pembuangan plastik yang ada di bawah wanita hamil =>
PEMBAWA PESAN KESEHATAN N° 03 59

KESEHATAN IBU: UNTUK KESELAMATAN IBU

SOCIETY / DELIVERY KIT FOR TBAs

5. Disposal of a clean field to welcome the baby on the mother’s stomach 6. Preparation of the string and the unique usage razor blade 7. After the birth, first gestures to the baby: a. Place the baby in the field on the stomach of the mother b. Ligature the umbilical cord c. Wipe the baby ( face, body) with the field d. Wrap up the baby carefully 8. Care of the mother a. Checking of the expulsion of the placenta , of all the blood clots, of eventual bleedings b. Give a massage to the uterus (this brings a contraction of the uterus, thus a vasoconstriction and avoids any bleeding) c. Remove the plastic sheet from underneath the mother, keep her dry 9. Care of the baby a. Clean and dress him/her b. Wipe the cordon. l

FOCUS ON AMI’S wORK IN ACEH JAYA
AMI works in the sub-district of Teunom, in Aceh Jaya. One of our objectives is the quality of the care before, during and after the delivery for the mother and the baby. In charge of 7 Polindes, AMI’s program concerns 37 villages. Three midwives work in these Polindes and there is at least 1 TBA per village. In this subdistrict, the population is of 15 234 inhabitants with 686 deliveries awaited in the year. In May 2006, 30 deliveries occured at home, and 7 at the Puskesmas of Padang Kleng. Child mortality (children below 5) is nil in May. No maternal death have been registered. These data show that deliveries are, for large majority taking place at home, with a TBA. We have no figure so far, showing the rate of postdelivery complications. AMI aims at promoting health structures and also to develop the interaction between midwives and TBAs, as these traditional healers are key figures in the community, culturally integrated in the health system. UNFPA’s delivery kit is distributed by the midwives of the Polindes and the Puskesmas to the TBAs. This distribution comes together with information campaigns on hygiene, and insisting on the necessity of referring the mothers and mothers to be to the Puskesmas should any danger signs appear. Our last information meeting was attended by 25 TBAs of the sub-district of Teunom and they appeared as very concerned and eager to collaborate with the midwives. The development of such a network TBA-Midwives-Polindes-Puskesmas - turns out to be essential to improve the health of the mother and the baby. l

SOCIETY UNFPA’s delivery kit
60 HEALTH MESSENGER N° 03
MATERNAL HEALTH: FOR A SAFE MOTHERHOOD

Photo AMI 2006

MASYARAKAT / PAKET ALAT KELAHIRAN UNTUK DUKUN BERSALIN

5. Pembersihan perut ibu untuk menaruh bayi di atasnya 6. Persiapan tali dan pisau sekali pakai 7. Setelah kelahiran, gerakan pertama pada bayi: a. Letakkan bayi pada daerah yang tepat di atas perut ibu b. Ikat tali pusarnya

c. Usap/bersihkan bayi (muka, badan) d. Bungkus bayi dengan cermat 8. Perawatan ibu a. Awasi pengeluaran plasenta; kelengkapannya, semua gum palan darah beku, dari penda rahan terakhir b. Lakukan pemijatan di sekitar uterus (untuk membuat

kontraksi pada uterus, men ciptakan vasokonstriksi dan menghindari pendarahan) c. Singkirkan sprei plastik dari bawah tubuh ibu, jaga supaya tetap kering 9. Perawatan bayi a. Bersihkan bayi dan pakaikan baju b. Potong tali pusatnya. l

Fokus kerja AMI di Aceh Jaya
AMI bekerja di kabupaten Teunom, Aceh Jaya.­ Salah satu obyektifitasnya adalah kualitas pelayanan pada ibu dan bayi sebelum, selama dan sesudah kelahiran. Bertanggungjawab atas 7 Polindes, program AMI mencakup 37 desa ; tiga bidan yang bekerja di Polindes dan di setiap desa setidaknya ada 1 dukun bersalin. Populasi di kecamatan ini adalah 15.234 penduduk dengan 686 kelahiran dinanti setiap tahunnya. Bulan Mei 2006, 30 kelahiran dilakukan di rumah, dan 7 di Puskesmas Padang Kleng. Tidak ada angka kematian anak (balita) di bulan Mei. Laporan kematian ibu juga tidak ada. Data itu menunjukkan bahwa sebagian besar kelahiran dilakukan di rumah, dengan dukun bersalin. Kami tidak mempunyai data untuk sementara ini, yang mengatakan adanya komplikasi setelah melahirkan. AMI bertujuan mempromosikan struktur kesehatan dan membangun interaksi antara bidan dan dukun bersalin, karena mereka adalah figur yang dihormati di masyarakat dan sudah menyatu dengan sistem kesehatan. Paket alat kelahiran UNFPA didistribusikan untuk dukun bersalin oleh bidan Polindes dan Puskesmas. Pembagian ini dilakukan bersamaan dengan kampanye informasi higienitas, dan pentingnya merujuk ibu ke Puskesmas jika ada tanda bahaya apa pun. Pertemuan informasi kami yang terakhir dihadiri oleh 25 dukun bersalin di kecamatan Teunom dan mereka sangat antusias untuk bekerjasama dengan bidan. Peningkatan kerjasama antara Dukun Bersalin-Bidan-Polindes-Puskesmas menjadi suatu hal yang sangat penting untuk kesehatan ibu dan bayi. l

MASYARAKAT

KESEHATAN IBU: UNTUK KESELAMATAN IBU

PEMBAWA PESAN KESEHATAN N° 03 61

VIEw POINT / IMPROVING MATERNAL HEALTH

improving maternal health in Aceh and nias
he fertility rate in Aceh-Nias is estimated at 6.8%, twice the rate in the Indonesia as a whole. Serious attention needs to be paid to ante and postnatal care if the maternal and infant death rates are to improve. Most maternal deaths are caused by haemorrhage, obstructed labour, infection and eclampsia (pregnancyinduced hypertension). Other contributing factors include Malaria, HIV and anaemia. Illness or injuries can also result from pregnancies. Complications cannot always be predicted, and may not be able to be prevented, but they can be treated. Few life-threatening complications can be prevented antenatally, most requiring interventions at the time of delivery and the immediate postpartum period. Safe motherhood programmes therefore stress ensuring access to emergency obstetric care and ensuring the care of a skilled health care professional during delivery and immediate neonatal care. Ante-care is beneficial even if it is not a good predictor of possible complications.. It provides opportunities for reaching pregnant women to inform them about danger signs, symptoms and risks of labour and delivery, for ensuring that delivery is with the assistance of a skilled health care provider, to provide information on birth spacing, and an understanding of foetal growth and development and its relationship to the mother’s health.

VIEW POINT

T

Through the world maternal mortality claims over 500,000 women’s lives each year and neonatal deaths account for some 38% of all deaths of children under 5 years. Simultaneous expansion of clinical and related care for babies and mothers is essential to achieve the significant reductions in the maternal and neonatal deaths required by the Millennium Development Goals (Lancet 2005; 365:997-988).
Antenatal care is an intervention to improve both maternal and neonate health. Other interventions may include Tetanus immunization, prevention and treatment of Malaria, management of anaemia and treatment of sexually transmitted infections which can significantly improve foetal outcomes and improve maternal health and advice on nutrition. Some 15% of all pregnancies result in complications at the tome of birthing, and referral facilities for high-risk pregnancies and obstetric emergencies are also required. BRR is supporting, with the Provincial Heath Office (PHO), the revitalization and reconstruction of Polindes as means to ensure increasing access to antenatal care and at the same time, promoting the development of effective basic emergency obstetric care at Puskesmas and comprehensive emergency care, including Caesarean sections, at Districts hospitals. With the support of donors and NGOs, BRR and the PHO will, as a pilot activity, facilitate development and strengthen the emergency care arrangements in Bireuen and Simuelue to improve maternal and neonate survival rates. The approach adopted, which will include provision of necessary equipment and capacity building, may serve as model which can be replicated elsewhere in Aceh. l

Mr Taqwallah is the Health Director of the BRR. Words expressed in Viewpoint reflect the personal ideas of the authors and not necessarily the opinion of their organization or the editors.

62 HEALTH MESSENGER N° 03

MATERNAL HEALTH: FOR A SAFE MOTHERHOOD

MASYARAKAT / MENINGKATKAN KESEHATAN IBU SUDUT PANDANG

Meningkatkan Kesehatan ibu di Aceh dan nias
Di seluruh dunia, angka kematian ibu mencapai 500.000 jiwa setiap tahunnya dan kematian bayi yang baru lahir sebesar 38% dari seluruh kematian balita. Perluasan secara serempak pelayanan klinis dan perawatan ibu dan bayinya sangatlah penting untuk memperkecil angka kematian ibu dan anak yang signifikan sesuai target Millenium Development Goals (Lancet 2005; 365:997-988).
ngka kelahiran di AcehNias diperkirakan sebesar 6,8%, dua kali total kelahiran di Indonesia. Perhatian yang serius harus diberikan pada perawatan sebelum dan sesudah kelahiran jika kematian ibu dan anak meningkat. Sebagian besar kematian disebabkan karena pandarahan, partus tidak maju, infeksi dan eklampsi (hipertensi dalam kehamilan). Faktor penyebab lainnya antara lain malaria, HIV dan anemia. Penyakit dan luka juga dapat terjadi akibat kehamilan. Komplikasi tidak selalu dapat diprediksi dan dicegah, tapi komplikasi dapat dirawat. Beberapa komplikasi yang membahayakan jiwa dapat dicegah sebelum kelahiran, kebanyakan memerlukan intervensi saat kelahiran dan periode postpartum. Oleh karena itu, program keselamatan ibu memerlukan pelayanan darurat obstetrik dan pelayanan profesional dari petugas kesehatan yang terlatih saat kelahiran dan segera setelah kelahiran. Perawatan sebelum kelahiran (ANC) sangat bermanfaat meski-

A

pun tidak bisa memberikan prediksi tentang komplikasi yang mungkin timbul. Akan tetapi, ANC merupakan sumber informasi bagi para wanita hamil mengenai tanda-tanda bahaya, gejala dan resiko kehamilan dan kelahiran, untuk menjamin bahwa kelahiran didampingi oleh petugas kesehatan yang terampil, untuk memberi informasi tentang kelahiran dan pertumbuhan janin dan hubungannya dengan kesehatan ibu. ANC adalah tindakan untuk meningkatkan kesehatan ibu dan bayi yang baru lahir. Tindakan lainnya antara lain imunisasi tetanus, pencegahan dan perawatan malaria, manajemen anemia dan perawatan PMS yang secara signifikan dapat mempengaruhi janin dan meningkatkan kesehatan dan gizi ibu. Sebesar 15% dari kehamilan mempunyai komplikasi saat kelahiran sehingga fasilitas rujukan untuk kehamilan beresiko tinggi dan pelayanan darurat obstetrik sangatlah dibutuhkan. BRR bersama Dinas Kesehatan Propinsi mendukung pembaharuan dan rekonstruksi Polindes dengan tujuan memastikan peningkatan akses untuk

ANC dan pada saat yang sama juga, mempromosikan pelayanan dasar obstetrik yang efektif di Puskesmas dan pelayanan darurat yang umum, termasuk operasi Caesar di rumah sakit tingkat kabupaten. Dengan bantuan para donatur dan NGO, BRR dan Dinkes, sebagai pengendali aktifitas, akan memfasilitasi pembangunan dan memperkuat pengaturan pelayanan darurat di Bireuen dan Simeulue untuk mengurangi angka kematian ibu dan bayi yang baru lahir. Pendekatannya, yang akan membutuhkan persedian peralatan yang dibutuhkan dan bangunan berkapasitas, dapat dijadikan contoh untuk seluruh Aceh. l

Taqwallah: Direktur Kesehatan Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) NAD-Nias. Kata-kata pada kolom Sudut Pandang adalah refleksi dan opini pribadi dari Penulis dan tidak berhubungan dengan organisasinya atau pun dengan editor. PEMBAWA PESAN KESEHATAN N° 03 63

KESEHATAN IBU: UNTUK KESELAMATAN IBU

qUESTIONNAIRE / KUESIONER

QUESTIONNAIRE Your answers will help us to make this magazine more useful and relevant: please try to rate every item and send it back to HM’s office (see address on the following page). Name: ................................................................ Age: ................................................................... Profession: ......................................................... Area: .................................................................. Email: ................................................................. 1. Do you work in ...? a. General hospital? b. Mental Health Hospital? c. Puskesmas? d. Pustu? e. Polindes? f. For an NGO (if YES, please specify which one): .................................................................? 2. Did you read HM n°1: qYes Did you read HM n°2: qYes 3. Comments/suggestions:

KUESIONER Jawaban Anda akan sangat menolong dalam pembuatan majalah yang lebih baik: silahkan beri tanda pada pilihan yang paling tepat dan kirimkan ke redaksi majalah P2K (lihat alamat di halaman berikutnya). Nama: ................................................................ Umur: ................................................................. Profesi: .............................................................. Daerah: .............................................................. Email: ................................................................. 1. Apakah Anda bekerja di ...? a. Rumah Sakit Umum? b. Rumah Sakit Jiwa? c. Puskesmas? d. Pustu? e. Polindes? f. Pada sebuah NGO (jika YA, tolong sebutkan nama NGO-nya): ............................................? 2. Apakah Anda membaca P2K no. 1: qYa Apakah Anda membaca P2K no. 2: qYa 3. Komentar/saran:

QUESTIONNAIRE KUESIONER

qNo qNo

qTidak qTidak

.................................................................................................................................................................................... .................................................................................................................................................................................... .................................................................................................................................................................................... .................................................................................................................................................................................... .................................................................................................................................................................................... .................................................................................................................................................................................... .................................................................................................................................................................................... .................................................................................................................................................................................... .................................................................................................................................................................................... ....................................................................................................................................................................................

64 HEALTH MESSENGER N° 03

MATERNAL HEALTH: FOR A SAFE MOTHERHOOD

Publication manager: Julie CHANSEL Phone: 0813 7033 5117 Email: indonesia.hm@amifrance.org

conTRiBuToRS

Contributors: In our country: Pharmaciens sans frontières – Comité International (PSF – CI). Public health: Dr. Efi SAFRIDA , Provincial Office (PHO) ; Dr Tira ASWITAMA, International Rescue Committee (IRC). General health : Dr. Irfan RISWAN, Aide Médicale Internationale (AMI) ; Asmuyeni MUCHTAR (JHPIEGO) ; Dr Tira ASWITAMA (IRC) ; Marisabel GOUVERNEUR (JHPIEGO) ; Thomas CALVOT, Handicap International (HI). Medicine: Adrien BÈGUE (PSF-CI). Reproductive health: Dr Tira ASWITAMA (IRC) ; Dr Rosilawati ANGGRAINI (UNFPA). Health education: Marisabel GOUVERNEUR (JHPIEGO) ; Dr. Yulia WIDIATI (UNICEF). Nutrition: Rufina PARDOSI (UNICEF). Mother and Child : Sylvane LÉVÊQUE, Enfants Réfugiés du Monde (ERM) ; Marisabel GOUVERNEUR (JHPIEGO). To go deeper: Dr Martha TAMBUNAN (UNICEF) ; Dr Wendy HOLMES, Aceh Partnerships In Health (APIH)/Burnet Institute. Society: Tuti Astiyah GUNADI, Ikatan Bidan Indonesia (IBI) ; Géraldine VENISSE and Jacqueline RICHARD (AMI). Viewpoint: Taqwallah, Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR). Thanks to AMI’s medical team and its former coordinator, Maria Isabel ORTIZ-SANCHEZ. Special thanks to Dr. Tomasz STAREGA and the World Health Organization - Banda Aceh Office, Dr Efi SAFRIDA, deputy-director of the Provincial Health Office and Head of Sub-Division General Health Family and Nutrition, for proofreading all the articles. Assistant and translator: Amy LUMBAN-GAOL Phone: 0812 900 7896 Email: amy2day@hotmail.com Illustrator: Mulyadi Phone: 0813 6017 5700 Email: mujadi2005@yahoo.com Lay out: Edi IP Phone: 0812 697 4450 Email: langit22@yahoo.com

Medical Editor: Dr. Sri MURDIATI Phone: 0813 600 38567 Email: srimurdiati_aceh@yahoo.com

Printed by: PT. HASLY JAYA Jln. Mesjid No. 125 & 133 Medan 20111 Phone: (061) 451 6050 / Fax: (061) 451 0225 Email: haslymdn@indosat.net.id

Distribution: AMI and ATLAS LOGISTIQUE

Donor: Humanitarian Aid Department of the European Commission (ECHO) Health Messenger is published by Aide Médicale Internationale, www.amifrance.org Jln Rukun Damai Utama No. 9, Kampung Pineung, Banda Aceh 23116 - NAD Phone: 0651 7410 229

pA R T i S i pA n

Manajer Publikasi: Julie CHANSEL Telp: 0813 7033 5117 Email: indonesia.hm@amifrance.org Partisipan: Di Negara Kami: Pharmaciens sans frontières – Comité International (PSF – CI). Kesehatan Publik: Drg. Efi SAFRIDA, Dinas Kesehatan Propinsi ; Dr. Tira ASWITAMA, International Rescue Committee (IRC). Kesehatan Umum: Dr. Irfan RISWAN, Aide Médicale Internationale (AMI); Asmuyeni MUCHTAR (JHPIEGO) ; Dr. Tira ASWITAMA (IRC) ; Marisabel GOUVERNEUR (JHPIEGO) ; Thomas CALVOT, Handicap International (HI). Obat: Adrien BÈGUE (PSF-CI). Kesehatan Reproduksi: Dr. Tira ASWITAMA (IRC) ; Dr. Rosilawati ANGGRAINI (UNFPA). Pendidikan Kesehatan: Marisabel GOUVERNEUR (JHPIEGO) ; Dr. Yulia WIDIATI (UNICEF). Gizi: Rufina PARDOSI (UNICEF). Ibu dan Anak: Sylvane LÉVÊQUE, Enfants Réfugiés du Monde (ERM) ; Marisabel GOUVERNEUR (JHPIEGO). Lebih Dalam Lagi: Dr. Martha TAMBUNAN (UNICEF) ; Dr. Wendy HOLMES, Aceh Partnerships In Health (APIH)/Burnet Institute. Masyarakat: Tuti Astiyah GUNADI, Ikatan Bidan Indonesia (IBI) ; Géraldine VENISSE and Jacqueline RICHARD (AMI). Sudut Pandang: Taqwallah, Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR). Terima kasih juga untuk tim medis AMI dan koordinator medis terdahulu: Maria Isabel ORTIZ-SANCHEZ. Terima kasih khusus kepada Dr. Tomasz STAREGA dan World Health Organization – Kantor Banda Aceh, Drg. Efi SAFRIDA M. Kes., deputi direktur Dinas Kesehatan Propinsi dan Kepala Sub-Dinas Kesehatan Keluarga dan Gizi, yang telah membaca ulang semua artikel.

Asisten dan Penerjemah: Amy LUMBAN-GAOL Telp: 0812 900 7896 Email: amy2day@hotmail.com Editor Medis: Dr. Sri MURDIATI HP: 0813 600 38567 Email: srimurdiati_aceh@yahoo.com

Juru Gambar: Mulyadi Phone: 0813 6017 5700 Email: mujadi2005@yahoo.com Percetakan: PT. HASLY JAYA Jln. Mesjid no. 125 & 133 Medan 20111 Telp: (061) 451 6050 / Fax: (061) 451 0225 Email: haslymdn@indosat.net.id

Tata Letak: Edi IP Phone: 0812 697 4450 Email: langit22@yahoo.com Distribusi: AMI dan ATLAS LOGISTIQUE

Donatur: Humanitarian Aid Department of the European Commission (ECHO) Pembawa Pesan Kesehatan dipublikasikan oleh Aide Médicale Internationale, www.amifrance.org Jln. Rukun Damai Utama no. 9, Kampung Pineung, Banda Aceh 23116 - NAD Telp: 0651 7410 229

Aide Médicale Internationale (AMI) is a French Non-Governmental Organization established in 1979. AMI intervenes in more than 8 countries to provide medical assistance to the most vulnerable populations in diversified environments (war and armed conflicts, bankruptcy of governments, natural disasters, epidemics, hungers etc.) without any political, ethnic, racial or religious discrimination. AMI also commits itself to adjust its operations to the needs identified in partnership with the civil population and to respect the local population’s dignity, their specific political, cultural and religious opinions, believes and practices. AMI operates as a neutral actor, with a spirit of solidarity, efficiency and quality (www.amifrance. org). AMI has been working in Indonesia since March 2005. In complement to its activities in the field, AMI launched Health Messenger in December 2005 to provide Indonesian health workers, in the province of Aceh, with a continuous training tool appropriate to improve their knowledge and skills.

Aide Médicale Internationale (AMI) adalah sebuah organisasi non-pemerintah dari Perancis yang berdiri pada tahun 1979. AMI bergerak dalam bidang kesehatan di lebih dari 8 negara dengan menyediakan peralatan kesehatan untuk mengatasi berbagai situasi lingkungan yang tidak stabil (karena perang dan konflik senjata, bangkrutnya pemerintah, bencana alam, epidemi, kelaparan, dsb) tanpa membedakan kepentingan politik, suku, ras dan agama. AMI berkomitmen untuk bekerjasama dengan penduduk lokal dan menghormati kebiasaan mereka, kepentingan politiknya, budaya, serta praktik kehidupan beragama masyarakat setempat. AMI bekerja secara netral dengan semangat solidaritas, efisiensi, dan kualitas tinggi (www.amifrance.org). AMI telah bekerja di Indonesia sejak Maret 2005. Untuk melengkapi aktifitasnya di lapangan, AMI menerbitkan majalah Pembawa Pesan Kesehatan bulan Desember 2005 untuk menolong para pekerja kesehatan Indonesia dan menambah pengetahuan serta keterampilan mereka.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->