Anda di halaman 1dari 15

JUDUL PENELITIAN

ANALISIS PENERAPAN GOOD CORPORATE GOVERNANCE DAN NILAI


PERUSAHAAN

BIDANG ILMU: EKONOMI


PENDAHULUAN
Masalah corporate governence dapat ditelusuri dari pengembangan egency theory
yang menjelaskan bagaimana pihak-pihak yang terlibat dalam perusahaan (manager,
pemilik perusahaan dan kreditor) akan berperilaku, karena mereka pada dasarnya
mempunyai kepentingan yang berbeda masalah corporate governance terjadi karena
pemisahan antara kepemilikan dan pengendalian perusahaan.
Asian Development Bank (ADB) menjelaskan tentang masalah corporate
governance sebagai berikut: pertama, bahwa pemilik perusahaan dapat terbagi dalam
tiga kelompok, yaitu controling dan minority shareholder, yang dapat saja terjadi
ketidakselarasan kepentingan. Keputusan yang diambil dapat merugikan kepentingan
minority shareholder. Kedua, masalah keagenan antara manager dan shareholder
dapat terjadi. Tetapi masalah tersebut lebih banyak terjadi pada perusahaan yang
kepemilikannya sangat menyebar daripada yang kepemilikannya relatif
terkonsentrasi. Ketiga, sistem corporate governance yang baik seharusnya dapat
memberikan perlindungan kepada pemegang saham dan kreditor (Husnan, 2001)
Zuang et al. (2000) menjelaskan bahwa sistem corporate governance tersebut
terdiri dari: berbagai peraturan yang menjelaskan hubungan antara pemegang saham,
manajer, kreditor, pemerintah dan stakeholder yang lain (peraturan yang menjelaskan
kewajiban dan hak pihak-pihak tersebut), dan berbagai mekanisme yang secara
langsung menegakkan peraturan-peraturan tersebut.
Menurut Organisation for Economic Co-Operation and Development
(OECD) corporate governance merupakan interaksi antara pemilik dan manager
dalam pengawasan dan pengarahan perusahaan. Good governance secara tradisional
menunjukkan apakah sistem dan prosedur menjamin secara baik bahwa manager
bertanggungjawab terhadap aset yang mereka percayakan. Prinsip-prinsip dari good
corporate governance adalah: pemenuhan hak pemegang saham, perlakuan yang adil
terhadap pemegang saham, peran stakeholders, penjelasan dan transparansi, dan
pertanggungjawaban lembaga (OECD, 1992)
Literatur akademis dalam corporate governance menguji struktur
kepemilikan alternatif dan struktur akternatif untuk lembaga direktur. Ketika terdapat
bukti yang mengganjal dari kegagalan struktur, memotivasi manager untuk
meningkatkan kinerja. Terdapat bukti yang menyarankan bahwa lembaga direktur di
AS tidak efektif. Hasil penelitian Jensen (1993) menyatakan bahwa lembaga direktur
tidak efektif karena budaya konflik dalam lembaga direktur.
Klein (2000) menguji apakah audit committee dan board characteristic
berhubungan dengan earning management. Bukti empiris menunjukan bahwa
corporate governance berhubungan dengan earning management. Earning
manajemen behubungan positif dengan apakah CEO duduk dalam board
compensation committee. Selanjutnya earning management berhubungan negatif
dengan CEO apakah pemegang saham yang besar berada diluar audit committee.
Hasilnya menyarankan struktur lembaga supaya lebih independen dari CEO
memungkinkan lebih efektif memonitor proses akuntansi keuangan.
Harapan terhadap penerapan good corporate governance adalah tercapainya
nilai perusahaan. Core at al. (1999) yang melakukan penelitian tantang corporate
governance, kompensasi CEO dan kinerja perusahaan. Hasilnya menunjukkan bahwa
komponen yang dibangun dari karakteristik lembaga dan struktur kepemilikan
berhubungan negatif secara statistically significant dengan operasi perusahaan dan
kinerja return.
Penelitian ini akan menguji penerapan good corporate governance terhadap
nilai perusahaan. Nilai perusahaan dihitung menggunakan Tobin’s q sebagai proxy
dari rasio nilai pasar perusahaan terhadap nilai buku (Shin dan Stulz, 2000)

PERUMUSAN MASALAH
Good corporate governance dapat dilihat dalam dua dimensi sebagai proxynya, yaitu
terdapatnya board of directors, audit committee (Chtourrou, at al., 2001). Penelitinan
ini menguji penerapan good corporate governance terhadap nilai perusahaan, maka
rumusan masalah penelitian ini adalah bagaimanakah pengaruh board of director,
dan audit committee, terhadap nilai perusahaan.

TINJAUAN PUSTAKA
Tobin’s q
Tobin’s q adalah rasio nilai pasar perusahaan terhadap replacement cost dari aset,
yang diperkenalkan oleh Tobin (1969) dalam Badrinath dan Kini (1994). Shin (2000)
mengeksplorasi hubungan antara expected risk dan Tobin’s q sebagai proxy rasio
nilai pasar perusahaan terhadap nilai buku aset, yang mendapatkan peningkatan
systematic equity risk menyebabkan peningkatan q, dan peningkatan unsystematic
equity risk dan total equity risk penurunan q, kecuali untuk perusahaan besar.
Shin (2000) mendiskusikan q lebih lanjut. q adalah nilai pasar dari ekuitas (E)
ditambah hutang (D) dibagi dengan asset (A), atau (E + D)/A. dalam pengujian ini D
diukur menggunakan nilai buku ketika nilai pasar dari hutang tidak didapat dalam
sampel. Persamaan Tobin’s q adalah sebagai berikut:

q=
( E + D)
A

Notasi:
Q: Tobin’s q
E: nilai pasar dari equitas
D: hutang
A: asset

Bharadwaj, at al. (1999) menggunakan Tobin’s q sebagi pengukur kinerja


perusahaan untuk menguji hubungannya dengan investasi teknologi informasi (IT).
Hasilnya menunjukkan bahwa biaya untuk IT meningkatkan q secara signifikasn.
Hasilnya juga menunjukkan bahwa investasi IT berhubungan secara positif
signifikan.
Bharadwaj, at al. (1999) menggunakan metoda Chung dan Pruitt’s untuk
menghitung q. keuntungan dari metoda ini adalah penggunaan formula yang
sederhana yang diperlukan untuk keuangan dan informasi akuntansi yang tersedia di
database compusat dan berhubungan dengan perhitungan tradisional Lidenberg dan
Ross’s (1981). Lebih lanjut modelnya adalah sebagai berikut:

s q = ( M V E + PS + D EB T)
Tobin'
TA

Notasi:
MVE: (harga penutupan saham pada akhir tahun)*(jumlah saham
biasa yang beredar)
PS: nilai liquiditas dari saham preferen yang beredar
DEBT: (hutang jangka pendek – aktiva lancar) + (nilai buku
persediaan) + (hutang jangka panjang)
TA: nilai buku total aset

The Role of Audit committee


Audit committee Independence
Menurut Blue Ribbon Committee (1999, p. 22) beberapa studi baru menghasilkan
korelasi antara independensi audit committee dan dua hal yaitu, mengetahui dengan
tinggi kekeliruan dan mengurangi kejadian kecurangan dalam laporan keuangan.
National Commission on Fraudelent Financial Reporting (1987) dan Public
Oversight Board (1993) menyatakan bahwa Audit committee harus memasukkan
komposisi anggota non-executive supaya lebih efektif. BRC (1999)
merekomendasikan bahwa audit committee harus hanya terdiri dari direktur yang
tidak memiliki hubungan dengan perusahaan yang mungkin dapat menekan
independensi mereka. DeZoort dan Salterio’s (2001) dalam eksperimen mereka
mendapatkan bahwa anggota audit committee yang juga manajer lebih mendukung
manajemen dalam perselisihan antara manajemen perusahaan dan auditor. Oleh
sebab itu hippotesis peneliti adalah:
H1: Audit committee yang independen berhubungan positif dengan nilai
perusahaan.

Competence of Audit committee


Karena pertanggungjawaban mereka untuk mengawasi internal control dan laporan
keuangan, good corporate governance memerintahkan bahwa audit committee harus
memiliki tingkat kompetensi dalam keuangan. BRC (1999, p. 25) merekomendasikan
bahwa tiap anggota dari audit committee harus memiliki latar belakang keuangan dan
atau paling sedikit satu anggota memiliki latar belakang akuntansi atau memiliki
keahlian dalam manajemen keuangan. Kata “ahli” didefinisikan sebagai telah
memiliki pengalaman bekerja dalam keuangan atau akuntansi, diharuskan memiliki
sertifikat profesional dalam akuntansi, atau pengalaman yang sebanding atau latar
belakang yang menghasilkan individu yang bepengalaman, termasuk memiliki CEO
atau pegawai yang senior dengan kekeliruan keuangan yang dipertangungjawabkan.
DeZoort dan Salterio (2001) mendapatkan bahwa pengalaman akuntansi dari
anggota audit committee sebaik pengetahuan mereka tentang auditing berhubungan
positif dengan kemungkinan bahwa mereka akan mendukung auditor dalam
perselisihan antara auditor dan manajemen perusahaan. Oleh sebab itu hipotesis
peneliti adalah:
H2: Audit committee yang memiliki anggota dengan latar belakang kompetensi
keuangan berhubungan positif dengan nilai perusahaan.
Audit committee Activity
Dua hal penting tentang tingkat aktivitas committee adalah kinerja tugas dan
frekuensi pertemuan. Berbagai macam publikasi profesional melaporkan daftar
berbagai macam aktivitas yang membuat kinerja committee efektif (BRC, 1999;
NCFFR 1987; Cooper and Lybrand 1995). Pertanggungjawaban dapat
diklasifikasikan dalam tiga kategori: kekeliruan dalam laporan keuangan, kekeliruan
dalam eksternal audit, dan kekeliruan dalam sistem internal kontrol (termasuk dalam
internal audit) (Verschoor 1993; Wolnizer 1995).
BRC (1999) merekomendasikan pertanggungjawaban harus diijinkan secara
formal oleh board of directors. Diijinkan secara formal tidak hanya memberikan
petunjuk tentang tugas mereka tetapi juga merupakan sumber kekuatan kepada audit
committee. Hal ini didukung oleh penelitian Kalbers dan Fogarty (1993), mereka
mendapatkan bahwa ijin secara formal sangat penting dalam memberikan power
kepada audit committee dan persepsi efektif sangat singnifikan terhadap power audit
committee.
Pengukuran kedua terhadap aktivitas audit committee adalah jumlah
pertemuan. Termasuk dalam pertemuan audit committee adalah dilakukannya fungsi
pengawasan yang dilakukan secara konstan (NCFFR 1987). Praktik terbaik
menyarankan tiga atau empat pertemuan dalam setahun (Cadburry Committee 1992;
Price Waterhouse 1993; KPMG 1999). Oleh sebab itu hipotesis peneliti adalah:
H3: Audit committee yang melakukan frekuensi pertemuan yang cukup
berhubungan positif dengan nilai perusahaan.

The Role of Board Of Directors


Board Independence
Aspek penting dari keefektifan good corporate governance pengakuan kepentingan
khusus dari manajemen eksekutif dan bermacam kepentingan dari perusahaan adalah
berbeda (Cadbury Committee 1992) dan independensi dari board of directors adalah
penting dalam situasi ini (Cadbury Committee 1992, TSE 1994). Fokus dari board of
directors berdasar pada agency theory (Fama dan Jensen 1983; Shleifer dan Vishny
1997). Peneliti mempertimbangkan karakteristik independensi board of directors:
independensi directors kepada board of directors, pemisahan peran pimpinan dan
CEO, dan kehadiran dari committee yang independen.
Independensi directors umumnya mempertimbangkan pengawasan terbaik
dari pada direktur lain karena mereka memiliki “kemempuan aksi dengan
menunjukkan kepentingan terbaik bagi perusahaan (TSE 1994, p. 24). Laporan
corporate governance (Cadbury Committee 1992; Committee on Corporate
governance 1998; TSE 1994) dan peneliti (Fama dan Jensen, 1983; Jensen 1993)
merekomendasikan bahwa peran pimpinan board of directors dan CEO tidak satu
orang untuk menghindari konsentrasi power pada satu orang (Cadbury Committee
1992 p. 21). Sehingga direkomendasikan bahwa komposisi committee mayoritas
supaya non-executive directors (Committee on Corporate governance 1998).
Direktur dengan kepemilikan yang cukup besar dalam perusahaan lebih suka
bertanya dan menberikan teguran kepada manajemen sebab keputusan mereka
berakibat terhadap kesejahteraan pemilik (Mace 1986; Baker 1987). Beberapa studi
menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang positif antara pengawasan yang efektif
dan kepemilikan saham oleh outside directors. Gerety dan Lehn (1997) melaporkan
bahwa kecurangan akuntansi merupakan fungsi yang menurun terhadap anggota
board of directors pemilik saham.
Jensen’s (1993) mendapatkan bahwa outside directors memeberikan insentif
yang lebih baik untuk memonitor manajemen lebih dekat. Oleh sebab itu hipotesis
peneliti adalah:
H4: Board of directors yang independen (Outside director’s) berhubungan positif
dengan nilai perusahaan.

Competence of Board Directors


Cadbury (1992, p 22) menyatakan bahwa kompetensi anggota non-executuve board
sangat penting untuk keefektivan dari board of directors dan banyak studi
mendukung pernyataan ini (Beasley 1996; Gerety dan Lehn 1997). Diantara
keperluan kompetensi, pengetahuan terhadap perusahaan dan pengetahuan dari
governance process sangat esensial, khususnya untuk peran pengawasan.
Cadbury Committee (1992) dan TSE (1994) merekomendasikan bahwa
perusahaan harus memberikan orentasi program terhadap direktur baru dan
mendukung pengembangan untuk kursus eksternal pada corporate governance.
Latihan sangat penting, penelitian keahlian (Bedar dan Chi 1993) menunjukkan
bahwa pengalaman adalah penting untuk pengembangan kompetesi. Mereka lebih
kapabel untuk mengawasi proses pelaporan keuangan lebih efektif. Oleh sebab itu
hippotesis peneliti adalah:
H5: Anggota board of directors yang memiliki kompetensi keuangaan
berhubungan positif dengan nilai perusahaan.

TUJUAN PENELITIAN
Berkenaan dengan kemungkinan masih sedikitnya penelitian tentang pengujian
penerapan good corporate governance dan nilai perusahaanm, maka penelitian ini
bertujuan:
1. Melakukan pengujian pengaruh board of director terhadap nilai
perusahaan.sdgjakds a.sdgnakd
2. Melakukan pengujian pengaruh audit committee terhadap nilai perusahaan.

KONTRIBUSI PENELITIAN
Pelaksanaan good corporate governance di Indonesia masih relatif baru, sehingga
peneliti berkenan menguji implementasi lebih jauh terhadap pelaksanaa good
corporate governance. Penelitian sebelumnya tentang good corporate governance di
Indonesia diukur menggunakan kreteria majalah SWA dan Indonesian Institute of
Corporate Governance (Arifin, 2003). Peneliti memberikan kontribusi untuk menguji
lebih lanjut tentang variabel-variabel dalam good corporate governance.

METODA PENELITIAN
Sampel
Sampel dipilih dengan prosedur seleksi yaitu perusahaan yang terdaftar di Bursa
Efek Jakarta dan telah menerapkan good corporate governance pada tahun 1999
sampai 2001. Data tentang nilai pasar dan nilai buku didapat dari pengumuman
kwartalan tiap-tiap perusahaan pada tahun t.
Data good corporate governance didapatkan dengan proxy aktivtias dari
board director dan aktivitas dari audit committee, seperti penelitian yang dilakukan
oleh Xie (2001).
Pengukuran Variabel
Tobin’s q
Bharadwaj, at al. (1999) menggunakan metoda Chung dan Pruitt’s untuk menghitung
q,. keuntungan dari metoda ini adalah penggunaan formula yang sederhana yang
diperlukan untuk keuangan dan informasi akuntansi yang tersedia. perhitungan ini
berhubungan dengan perhitungan tradisional Lidenberg dan Ross’s (1981).
Persamaan Tobin’s q adalah sebagai berikut:

s q = ( M V E + PS + D EB T)
Tobin'
TA

Notasi:
MVE: (harga penutupan saham pada akhir tahun)*(jumlah saham
biasa yang beredar)
PS: nilai liquiditas dari saham preferen yang beredar
DEBT: (hutang jangka pendek – aktiva lancar) + (nilai buku
persediaan) + (hutang jangka panjang)
TA: nilai buku total aset

Audit committee
Peneliti mengukur jumlah rata-rata audit committee meeting sebagai proxy level
aktivitas. Untuk perusahaan individu, mereka melakukan pertemuan selama 58 kali
pertemuan.
Komposisi dari audit committee merupakan prosentase dari jumlah audit
committee yang tediri dari outside directors, Inside directors, dan affiliated
directors,. Selanjutnya jumlah prosentase dari latar belakang keahlian audit
committee yang peneliti kategorikan dalam corporate director, finance directors,
commercial banking director, invesment banking director, legal directors, dan
blockholder directors, seperti penelitian yang dilakukan oleh Xie (2001).
Board of directors
Peneliti mengkategorikan anggota board of directors sebagai insider sebagai proxy
bahwa dipekerjakan oleh perusahaan, sebagai affiliasi jika mereka memiliki
hubungan dengan executive atau perusahaan, atau sebagai oursider jika mereka
hanya berhubungan dengan perusahaan atau eksekutif sebagai board of directors.
Hal ini sesuai dengan penelitian Baysinger & Butler, 1985; Byrd & Hickman, 1992;
dan Lee, Rosenstein, Rangan & Davidson, 1992).
Selanjutnya jumlah prosentase dari latar belakang keahlian board director
yang peneliti kategorikan dalam corporate directors, finance directors, commercial
banking director, invesment banking director, legal directors, dan blockholder
directors, seperti penelitian yang dilakukan oleh Xie (2001).

Metoda Analisis
Peneliti menguji hubungan antara Tobin’s q dengan karakteristik good corporate
governance dengan estimasi dalam model regresi. (Chtourrou, at al., 2001; Xie,
2001) menggunakan model regresi untuk mengetahui hubungan antara corporate
governance dengan earnng management.

qA = α + β1 AIN + β 2 AAF + β 3 AOUT + β 4COR + β 5 FINANCE + β6 LEGAL + e

Notasi:
qA: Tobin’s q
α: intercept
AIN: percent of insider audit committee
AAF: percent of affiliated audit committee
AOUT: percent of outside audit committee
COR: percent of corporate audit committee
FINANCE: percent of finance audit committee
LEGAL: percent of legal audit committee
β 1……β 10: koeficient

q B = α + β 1BOARDIN + β 2BOARDAF + β 3BOARDOUT + β 4COR


+ β5 FINANCE + β6 BANK + β7 LEGAL + e

Notasi:
qB: Tobin’s q
α: intercept
BOARDIN: percent of insider directors
BOARDAF: percent of affiliated director
BOARDOUT: percent of outside directors
COR: percent of corporate directors
FINANCE: percent of finance director
BANK: percent of bank director
LEGAL: percent of legal director
β 1……β 9: koeficient

DAFTAR PUSTAKA

Arifin, Z., (2003), “pengaruh Corporate Governance terhadap Reaksi Harga dan
Volume Perdagangan pada Saat Pengumuman Earning” Makalah Simposium
Nasional Akuntansi VI, Oktober.

Badrinath, S. G., and Kini, O. (1994), “The Relationship Between Secururities Yield,
Firm Size, Earning/stock price and Tobin’s q,” Journal of Bussiness Finance
and Economic 21, January, pp. 109-131.

Baysinger, R., and H. Butler, (1985), “Corporate governance and The Board of
directors: Performance Effect of Change in Board Compisition,” Journal of
Low, Economics and Organisation 1, pp. 101-124.

Bedar, J. and M. T. H. Chi (1993), “Expertise in Auditing,” Auditing: A Journal of


Practice and Theory 12 (Suplement), pp. 21-45.

Bharadwaj, A. S., Bharadwaj, S. G., Konsynski, B. R. (1999), “Information


Technology Effect on Firm Performance as Measured by Tobin’s q.”
Management Science, Vol. 45, No. 6, Juni.
Blue Ribbon Committee (1999), “Report and Recommendation of Blue Ribbon
Committee on Improving the Efectiveness of Corporate Audit committee,”
Nerw York Stock Exchange and National Association of Security Dealer.
(www.nysc.com).

Byrd, J., and K. Hickman (1992), “Do Outsider Director Monitor Manager?
Evidence from Tender Offer Bids,” Journal of Financial Economics 32, pp.
195-221.

Cadbury Committee (1992), “Report of The Committee on The Financial Aspects of


Corporate Governanc,” London: Gee.

Chtourrou, S. M., Bedard, J., Courteau, L. (2001), “Corporate governance and


Earning Management.” Working Paper, University Laval, Canada, April.

Coopers and Lybrand (1995), “Audit committee Guide.” New York, NY: Coopers
and Lybrand.

DeZoort, F. T., and S. Salterio (2001), “The Effect of Corporate governance


Experience and Financial Reporting and Audit committee members’
Judgment.” Auditing: A journal of Practice and Theory 21 (fall):
Forthcomming.

Fama, E. F., and M. C. Jensen (1983), “The Separation of Ownership and Control.”
The journal of Law and Econimics 26 (June), pp. 301-325.
Gerety, M. and K. Lehn (1997), “The Causes and Consequences of Financial Fraud,”
Managerial and Decesion Economics 18, (Npvember/December), pp. 587-
599.

Husnan, (2001), “Corporate governance dan Keputusan Pendanaan: Perbandingan


Kinerja Perusahaan dengan Pemegang Saham Pengendali Perusahaan
Multinational dan Bukan Multinational,” Jurnal Riset Akuntansi,
Manajemen, Ekonomi, vol. 1, No. 1 februari 2001, hal. 1-12.

Jensen, M. C., (1993), “The Modern Industrial Revolution, Exit, and Failure of
Internal Control System,” Journal of Finance 48, pp. 831-880.

Klein, A., (2000), “Audit committee, Board of Director Characteristic, and Earning
Management,” Working Paper, Stern School of Business, New York
University.

KPMG (1999), Shaping the Audit committee Agenda, KPMG LLP.


Lee, C. I., S. Rosenstein, N. Rangan, and W. N. Davidson (1992), “Board
Composition and Shareholder Wealth: The Case of Management Boyouts.”
Finacial Management 21, pp. 58-72.

Lidenberg, E. B., and S. A. Ross’s (1981), “Tobin’s q Ratio and Indistrial


Organisation.” Journal Bussiness 54, January, pp. 1-32.

National Commission on Fraudelent Financial Reporting (NCFFR) (1987), “Repeort


of The Commission on Fraudelent Financial Reporting,”

OECD, (1992), “OECD Prinsiples of Corporate governance,” Meeting of The OECD


Council at Minesterial Level.

Price Waterhouse (1993), “Improving Audit committee Performance: What Work


Best, Altamonte Springs, FL: Institute of Internal Auditor Research
Foundation.

Public Oversight Board (POB) (1993), “In The Public Interest: A special Report by
The Public Oversight Board of the SEC Practice”, AICPA. Stanford, CT:
POB.

Shin, H., Stulz, R.M., (2000), “Firm Value, Risk and Growth Opportunities,”
Working Paper, State University, New York.

Shleifer, A. and R. W. Vishny (1997), “A Survey of Corporate governance.” Journal


of Finance 52 (June), pp. 737-783.

Tobin, J. (1969), “A General Equilibrium Approach to Monetary Theory,” Journal


of Money, Credit, and Banking, Vol. 1 (1969), pp. 15-29.

TSE Committee on Corporate governance in Canada (TSE) (1994), “Where Were


the Directors? Toronto.

Verschoor, C. C (1993), “Benckmarking the Audit committee.” Journal of


Accountancy 176, September, pp. 59-64.

Wolnizer, P. W. (1995), “Are Audit committee Red Herrings? Abacus 31, March, pp.
45-66.

Xie, B., Davidson, W.N., DaDalt, P.J., (2001), “Earning Management and Corporate
governance: The Rule of The Board and The Audit committee,” Working
Paper, Southhern Illinois University, July 5, 2001.
Zuang, J., D. Edward, D. Webb, dan V. Capulong, (2000), “Corporate governance
and Finance in East Asia: A Study Of Indonesia, Republic of Korea,
Malaysia, Philippines, and Thailand,” Asia Development Bank, Vol. 1.
1