Anda di halaman 1dari 29

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pembangunan sektor perikanan pada umumnya ditujukan untuk

pengembangan dan peningkatan sumber bahan pangan hewani. Dengan luas wilayah

Negara Kesatuan Republik Indonesia yang sebagian besar perairan, maka

sumberdaya perikanan sangatlah besar, baik perikanan darat maupun perikanan laut.

Untuk dapat memenuhi kebutuhan sumber bahan pangan hewani tersebut, tentunya

tidak hanya bergantung pada hasil usaha penangkapan semata, namun juga

memerlukan adanya tindakan pembudidayaan ikan.

Bagaimanapun juga tujuan pembangunan perikanan untuk meningkatkan

sumber bahan pangan hewani dimaksud, pada hakekatnya adalah untuk dapat

meningkatkan taraf hidup masyarakat perikanan yang lebih baik. Untuk dapat

meningkatkan taraf hidup tersebut, salah satunya adalah dengan mengembangkan

kegiatan ekonomi dimana sebagian besar masyarakat menggantungkan kehidupan

ekonominya. Dalam hal ini, kehidupan ekonomi masyarakat perikanan yang

sebagian besar hidup di pedesaan tentunya bergantung pada sektor usaha perikanan,

baik usaha penangkapan, budidaya, pengolahan hasil maupun pemasarannya.

Dalam upaya meningkatkan pendapatan, terutama pendapatan masyarakat di

pedesaan di mana sebagian besar insan perikanan berada didalamnya, peran

pembangunan pertanian termasuk sektor pertanian, perikanan dan kehutanan

memegang peranan penting. Oleh karenanya, pembangunan ekonomi nasional tetap


2

berbasis pada pertanian secara luas, yang mana ini diwujudkan dengan satu bentuk

perhatian pemerintah, yakni dengan dilaksanakannya revitalisasi pembangunan

pertanian secara luas, mencakup ketiga sektor tersebut. Terkait dengan sektor

perikanan, tujuan pokok dari revitalisasi tersebut adalah untuk meningkatkan nilai

tambah hasil perikanan, serta pendapatan nelayan, pembudidaya ikan dan masyarakat

pesisir lainnya (Departemen Kelautan dan Perikanan, 2005).

Kalimantan Selatan merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang

memiliki potensi sumberdaya perairan yang dapat dimanfaatkan untuk usaha

perikanan, berupa usaha penangkapan dan budidaya, baik di laut maupun perairan

umum/air tawar. Untuk usaha budidaya laut saat ini tengah berkembang usaha

pembesaran ikan kerapu di karamba jaring apung, disamping budidaya rumput laut

yang sudah berlangsung cukup lama. Ikan kerapu adalah salah satu jenis ikan laut

ekonomis penting yang bernilai tinggi, baik di pasar lokal maupun pasar

internasional (Direktorat Pembudidayaan, 2003). Terdapat beberapa spesies ikan

kerapu yang telah dibudidayakan, untuk Kalimantan Selatan diantaranya adalah ikan

kerapu macan (Epinephelus fuscogutattus) dan kerapu bebek atau tikus (Cromileptis

altivelis), yang berlokasi di wilayah perairan laut Kabupaten Kotabaru.

Berdasarkan laporan dari Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Kalimantan

Selatan (2010), produksi ikan kerapu hasil budidaya pada tahun 2008 mencapai

sekitar 11 ton, meningkat lebih dari 50% dari produksi tahun sebelumnya yang

sekitar 7 ton. Namun pada tahun 2009, produksi mengalami penurunan menjadi

kurang dari dua ton. Usaha pembesaran ikan kerapu ini berkembang di sebagian
3

kawasan perairan laut Kabupaten Kotabaru, dengan distribusi luas areal dan jumlah

petak seperti pada Tabel 1.

Tabel 1. Luas areal dan jumlah petak usaha pembesaran ikan kerapu dalam karamba
jaring apung

Luas Areal Jumlah


Lokasi
(m2) Petak
Desa Gosong Panjang, Kec. Pulau Laut Barat 96 8

Desa Sungai Bulan, Kec. Pulau Laut Selatan 48 3

Jumlah 144 11
Sumber: Dinas Perikanan dan Kelautan Kalimantan Selatan (2010)

Tabel 1 memperlihatkan bahwa usaha pembesaran ikan kerapu di Kalimantan

Selatan masih sangat minim sekali, ini terlihat dari luas areal yang hanya 144 m2

dengan jumlah petakan karamba jaring apung sebanyak 11 petak (unit jaring), atau

dengan ukuran antara 12 m2 (3 x 4 m) dan 16 m2 (4 x 4 m) per unit jaring. Padahal

dari segi pemasaran, ikan kerapu setelah mencapai ukuran konsumsi antara 400 - 600

g/ekor dapat dijual dengan harga jual mencapai sekitar 100 ribu rupiah/kg untuk

kerapu macan dan sekitar 300 ribu rupiah/kg untuk kerapu bebek/tikus. Sedangkan

untuk ikan kerapu yang berukuran kecil (4 - 5 cm), yang biasanya digunakan sebagai

ikan hias atau yang dikenal dengan sebutan Fanther Fish, dijual dengan harga

Rp.7.000,-/ekor. Ikan ini juga diekspor ke negara-negara seperti Hongkong, Taiwan,

China dan Jepang, dengan harga yang mencapai USD.33,35/kg.

Dari uraian diatas, diketahui bahwa budidaya perikanan laut khususnya ikan

kerapu merupakan salah satu sumberdaya ikan yang memiliki nilai ekonomi tinggi.

Kualitas nilai ekonomi ikan kerapu memberikan peluang dalam pengembangan dan
4

pemasarannya. Ikan kerapu mempunyai kualitas gizi dan protein dan nilai ekonomi

tinggi pada aspek manfaatnya sangat memberi arti bagi kehidupan masyarakat dunia.

Ikan kerapu diketahui merupakan salah satu komoditas yang penting karena bersifat

orientasi ekspor dan nilai penjualannya berdasarkan mata uang dolar Amerika

Serikat. Oleh karenanya, pengaruh nilai jual ikan kerapu pun bersifat fluktuatif dan

mengikuti harga dolar di valuta asing. Fluktuatifnya nilai jual ikan kerapu

memberikan dampak terhadap tingkat pendapatan yang diperoleh dari hasil usaha

budidaya. Namun, dampak dari nilai ekonomi yang dimiliki menuntut perlunya

kesinambungan ketersediaan ikan kerapu di pasar lokal maupun internasional.

Terkait dengan kesinambungan ketersediaan tersebut dan masih minimnya

perkembangan usaha budidaya ikan kerapu ini di Kalimantan Selatan, maka kegiatan

penelitian ini dimaksudkan untuk mengkaji kondisi ini dilihat dari sisi kelayakan dan

permasalahan usaha budidaya ikan kerapu di karamba jaring apung.

B. Perumusan Masalah

Gambaran tingginya nilai jual ikan kerapu di pasar mengilustrasikan suatu

prospek bahwa pada dasarnya usaha budidaya ikan kerapu sangat layak untuk

diusahakan. Akan tetapi, fenomena merosotnya angka produksi yang begitu tajam

pada tahun 2009 menimbulkan tanda tanya yang besar, apa yang sebenarnya telah

terjadi pada usaha budidaya ikan kerapu di provinsi ini?

Dinas Perikanan dan Kelautan Kalimantan Selatan (2010) menginformasikan

bahwa sejak tahun 2009 hingga saat ini hanya ada satu kelompok pembudidaya ikan

yang masih eksis membudidayakan ikan kerapu, yakni kelompok Kalimantan


5

Budidaya Marine yang ada di Desa Gosong Panjang, Kecamatan Pulau Laut Barat.

Ada indikasi bahwa merosotnya angka produksi ikan kerapu hasil budidaya di tahun

2009 dikarenakan jumlah pelaku usaha yang berkurang. Praktis, produksi ikan

kerapu hasil budidaya hanya disuplai dari hasil usaha budidaya oleh kelompok

Kalimantan Budidaya Marine di Desa Gosong Panjang.

Disinyalir bahwa berkurangnya jumlah pembudidaya ikan kerapu ini

dikarenakan pelaku usaha kesulitan dalam memasarkan ikan hasil produksi, yang

pada waktu itu mengusahakan ikan jenis kerapu macan (Epinephelus fuscogutattus).

Dugaan ini didasarkan pada peningkatan angka produksi yang terjadi pada tahun

2008, yang mengindikasikan bahwa sepertinya tidak ada kendala teknis yang berarti

dalam penyelenggaraan usaha budidaya ikan kerapu, dan juga didasarkan pada

pengalihan jenis ikan dari kerapu macan ke kerapu bebek/tikus (Cromileptis altivelis)

yang nilai jualnya lebih tinggi. Oleh karena itu, untuk mengkaji lebih dalam

mengenai permasalahan dan membuktikan dugaan ini maka kegiatan penelitian ini

dilakukan.

Berdasarkan atas uraian permasalahan budidaya ikan kerapu yang dipaparkan

diatas, dan untuk memudahkan dalam menentukan tujuan penelitian ini, maka

dirumuskan permasalahan penelitian sebagai berikut:

1. Permasalahan apa saja yang dihadapi oleh pembudidaya ikan kerapu di

karamba jaring apung?

2. Bagaimana kelayakan usaha budidaya ikan kerapu di karamba jaring apung

yang dilaksanakan oleh pembudidaya di Kabupaten Kotabaru?


6

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian

Tujuan dari kegiatan penelitian ini adalah untuk:

1. Mengidentifikasi permasalahan yang dihadapi oleh pembudidaya ikan kerapu

dalam karamba jaring apung di Kabupaten Kotabaru.

2. Menganalisis kelayakan usaha budidaya ikan kerapu dalam karamba jaring

apung di Kabupaten Kotabaru.

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi:

1. Masyarakat, sebagai informasi dasar dan gambaran mengenai usaha budidaya

ikan kerapu dalam karamba jaring apung.

2. Pembudidaya ikan kerapu di karamba jaring apung, sebagai bahan

pertimbangan untuk kelangsungan usaha ke depannya.

3. Pemerintah daerah dan instansi terkait, sebagai bahan pertimbangan dan

rujukan dalam menentukan kebijakan sektor perikanan dan kelautan di

Kabupaten Kotabaru, dan dalam upaya pemanfaatan sumberdaya alam yang

berorientasi kegiatan ekonomi kemasyarakatan.

4. Peneliti, sebagai informasi dan sumbangan pengetahuan bagi dunia ilmiah,

yang berhubungan analisa usaha karamba jaring apung ikan kerapu.

D. Hipotesis Penelitian

1. Diduga terdapat berbagai permasalahan yang dihadapi oleh pembudidaya

ikan kerapu dalam karamba jaring apung di Kabupaten Kotabaru, diantaranya

yang menjadi prioritas adalah:

a. Minimnya ketersediaan benih;


7

b. Tingginya mortalitas benih di fase awal pemeliharaan; dan

c. Minimnya informasi pasar.

2. Diduga usaha budidaya ikan kerapu dalam karamba jaring apung di

Kabupaten Kotabaru layak untuk diusahakan.


II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Budidaya Ikan

Undang-undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan mendefinisikan

budidaya ikan sebagai kegiatan untuk memelihara, membesarkan dan/atau

membiakkan ikan serta memanen hasilnya dalam lingkungan yang terkontrol.

Sedangkan pembudidaya ikan didefinisikan sebagai orang yang mata pencahariannya

melakukan pembudidayaan ikan. Berdasarkan definisi tersebut, budidaya ikan

dibedakan atas dua kegiatan, yakni (1) pembenihan (hatchery), yaitu kegiatan yang

dilakukan untuk menghasilkan larva atau benih; dan (2) pemeliharaan/pembesaran

(rearing), yaitu kegiatan yang dilakukan untuk menghasilkan ikan konsumsi/dewasa.

Menurut Brotowidjoyo, dkk (1995), budidaya adalah istilah yang umum

digunakan untuk memelihara organisme air. Organisme air dimaksud adalah ikan

dan invertebrata air seperti kepiting (crabs), udang (prawn), tiram (oysters), kerang-

kerangan (clams/mussels), serta tanaman air seperti rumput laut (sea weeds).

Shokita, et al (1991) menyampaikan bahwa kegiatan budidaya di perairan

tawar umumnya adalah budidaya di kolam, karamba, jaring apung dan sawah

(minapadi). Kolam adalah suatu badan air yang dibuat secara sengaja atau tidak

sengaja dengan ada atau tidaknya konstruksi tertentu. Sumber air dapat berasal dari

sungai, mata air, irigasi maupun air hujan. Komoditas yang dibudidayakan di kolam

diantaranya adalah ikan mas (Cyprinus carpio), nila (Oreachromis niloticus), gurami
9

(Ospronemus gouramy), patin (Pangasius hypophthalmus) dan lele (Clarias

batrachus), serta udang galah (Macrobrachium rosenbergii).

Adapun karamba dan/atau jaring apung adalah suatu media pemeliharaan

ikan yang berupa kurungan terbuat dari kayu/bambu/kawat untuk karamba dan jaring

jaring (net) untuk jaring apung. Karamba biasanya diletakkan di suatu badan air,

seperti sungai, saluran irigasi atau badan air yang mengalir lainnya. Sedangkan

jaring apung diletakkan pada badan air yang lebih luas, seperti danau atau waduk.

Keduanya diletakkan atau diapungkan di permukaan air menggunakan rakit yang

disertai pelampung. Komoditas yang umumnya dibudidayakan dalam karamba atau

jaring apung diantaranya adalah ikan mas (Cyprinus carpio), nila (Oreachromis

niloticus), patin (Pangasius hypophthalmus), betutu (Oxyeleotris marmoratus) dan

gabus (Ophiocephalus striatus).

Untuk budidaya ikan di sawah atau istilah lainnya minapadi adalah suatu

kegiatan memelihara ikan di sawah bersama-sama padi di bagian kemalirnya.

Komoditas yang biasanya dipelihara tidak jauh berbeda dengan yang di kolam,

seperti ikan mas, nila, gurami dan tawes.

Pada umumnya input produksi yang dialokasikan untuk kegiatan pembesaran

ikan adalah benih, pakan dan curahan tenaga kerja, kecuali untuk kolam dialokasikan

pula input pupuk dan kapur guna meningkatkan kesuburan dan kualitas air kolam,

serta memberantas bibit hama/penyakit. Menurut Rahardi, dkk (2005), kebutuhan

benih tergantung pada luas atau volume media pemeliharaan, sedangkan pakan

mengikuti total bobot biomass ikan yang dipelihara. Begitu pula dengan pupuk,

kebutuhannya menyesuaikan luas kolam yang dipersiapan untuk kegiatan


10

pembesaran, sementara kebutuhan kapur yang dianjurkan adalah sekitar 10% dari

kebutuhan pupuk.

B. Aspek Teknik Budidaya Ikan Kerapu

1. Biologi Ikan Kerapu

Kerapu secara umum mempunyai bentuk badan yang gemuk pipih dengan

kulit bersisik, hidup di perairan karang yang bersih dan beruaya terbatas pada kisaran

lingkungan perairan dengan salinitas 20 - 32 ppt; pH 7,5 - 8,3; DO 4 - 8 ppm; dan

amoniak tidak lebih dari 0,02 ppm (Direktorat Pembudidayaan, 2003).

Ikan ini termasuk jenis ikan karnivora, dimana pada fase larva memerlukan

pakan berupa zooplankton, seperti Brachionus sp. Setelah berkembang menjadi

benih, pada awalnya dibutuhkan artemia yang kemudian udang-udangan atau ikan-

ikan kecil. Pada tingkat dewasa, ikan kerapu biasanya mengonsumsi ikan, cumi dan

lainnya.

Ikan kerapu memiliki 15 genus yang terdiri atas 159 spesies. Satu

diantaranya adalah Cromileoptes altivelis atau kerapu bebek/tikus, yang selain

sebagai ikan konsumsi juga juvenilnya juga sebagai ikan hias. Ikan kerapu termasuk

famili Serranidae, subfamili Epinephelinea, yang umumnya di kenal dengan nama

groupers, rockcods, hinds dan seabasses. Ikan kerapu ditemukan di perairan pantai

Indo-Pasifik sebanyak 110 spesies dan di perairan Filipina dan Indonesia sebanyak

46 spesies yang tercakup ke dalam tujuh genus, yaitu Aethaloperca, Anyperodon,

Cephalopholis, Cromileptes, Epinephelus, Plectropomus, dan Variola

(Marsambuana dan Utojo, 2001).


11

Gambar pakai pun ikam haja

Gambar 1. Ikan kerapu bebek/tikus (Cromileoptes altivelis)

Ciri-ciri umum ikan kerapu, selain yang disebutkan diatas, adalah sebagai

berikut (Wardana, 1994):

1. Bentuk tubuh pipih, yaitu lebar tubuh lebih kecil dari pada panjang dan tinggi

tubuh.

2. Rahang atas dan bawah dilengkapi dengan gigi yang lancip dan kuat.

3. Mulut lebar, serong ke atas dengan bibir bawah yang sedikit menonjol

melebihi bibir atas.

4. Sirip ekor berbentuk bundar, sirip punggung tunggal dan memanjang dimana

bagian yang berjari-jari keras kurang lebih sama dengan yang berjari-jari lunak.

5. Posisi sirip perut berada dibawah sirip dada.

6. Badan ditutupi sirip kecil yang bersisik stenoid.

Ikan kerapu genus Aethaloperca merupakan monotipik, tediri atas satu

spesies, warna coklat gelap, tubuh melebar, sirip dada tidak simetris, sirip punggung

terdiri atas sembilan jari-jari keras, sirip ekor tegak. Sedangkan ikan kerapu genus

Anyperodon merupakan monotipik, warna abu-abu sampai abu-abu kecoklatan,


12

bintik coklat pada kepala, tidak ada gigi pada langit-langit, kepala dan tubuh panjang,

tebal badan 11 - 15% dari panjang standar, dan 3 - 4 kali dari panjang kepala, serta

sirip bundar.

Ikan kerapu genus Cephalopholis terdiri atas warna gelap, yaitu cokelat

kemerahan sampai cokelat tua; dan warna terang, yaitu merah kecokelatan sampai

merah atau kuning atau jingga; panjang standar 2,2 - 3,1 kali dari panjang kepala;

rahang pada ikan dewasa dilengkapi dengan bonggol, sirip ekor berbentuk bundar.

Adapun ikan kerapu genus Epinephelus tubuh ditutupi oleh bintik-bintik berwarna

cokelat atau kuning, merah atau putih, tinggi badan pada sirip punggung pertama

biasanya lebih tinggi dari pada sirip dubur, sirip ekor berbentuk bundar.

Ikan kerapu genus Plectropomus warna gelap bergaris (menyerupai pita) dan

yang tidak bergaris, warna tubuh agak putihan, sirip berwarna kuning, tulang sirip

dubur lemah, panjang standar 2,8 - 3,1 kali dari panjang kepala, sirip ekor umumnya

tegak; dan yang terakhir ikan kerapu dari genus Variola warna tubuh ditutupi oleh

bintik merah, sirip ekor berwarna putih tipis pada bagian pinggir, panjang standard

2,5 – 2,8 kali dari panjang kepala, sirip ekor berbentuk sabit.

Selanjutnya, Effendi (2002) menyatakan bahwa ikan kerapu merupakan jenis

ikan bertipe hermaprodit protogini, dimana proses diferensiasi gonadnya berjalan

dari fase betina ke fase jantan, atau ikan kerapu ini memulai siklus hidupnya sebagai

ikan betina kemudian berubah menjadi ikan jantan. Fenomena perubahan jenis

kelamin pada ikan kerapu sangat erat hubungannya dengan aktivitas pemijahan,

umur, indeks kelamin (Turangan, 2000). Ditambahkannya, pada ikan kerapu jenis

Epinephelus diacantus kecenderungan perubahan kelamin terjadi selama tidak


13

bereproduksi, yaitu antara umur 2 - 6 tahun, tetapi perubahan terbaik terjadi antara 2

- 3 tahun. Pada ikan kerapu merah Epinephelus akaara, untuk jenis ikan betina

ukuran berat 500 gram, panjang 26 cm dan jenis kerapu jantan ukuran berat 1000

gram dan ukuran panjang 34 cm. Sedangkan untuk ikan kerapu Lumpur

Epinephelus tauvina, jenis kelamin betina berat 3 - 4 kg panjang 45 cm dan jenis

kerapu jantan ukuran panjang 65 cm.

Sementara itu, Simatupang (2004) menyatakan bahwa pada ikan kerapu,

panjang minimum betina yang matang adalah 45 - 50 cm (sebagian besar 50 - 70 cm)

dan transisi gonadnya terjadi pada panjang total (TL) 66 - 72 cm, serta testis mulai

matang pada TL 74 cm atau bobot berat tubuh 10 - 11 kg.

2. Budidaya Karamba Jaring Apung

Untuk menunjang keberhasilan budidaya ikan dan meningkatkan

produksinya, tentu diperlukan pengelolaan yang baik selain pemilihan jenis-jenis

ikan yang dibudidayakan. Manajemen yang baik tersebut meliputi seluruh faktor

yang berperan pada budidaya ikan pada semua siklus pemeliharaan.

Menurut Taftajani (2006), ada lima faktor atau komponen utama yang

budidaya ikan, yakni ikan yang dibudidayakan, air sebagai media hidup ikan, wadah

pemeliharaan, pakan ikan dan manajemen. Setiap faktor utama terdiri dari beberapa

faktor yang jumlahnya tergantung pada derajat intensifikasi yang digunakan pada

pengelolaan budidaya ikan yang dilakukan. Faktor-faktor tersebut berinteraksi secara

langsung, sehingga dapat saling mempengaruhi yang pada akhirnya akan

mempengaruhi produksi sebagai tujuan utama.


14

Selama ini produksi ikan kerapu diperoleh oleh para nelayan dengan cara

penangkapan, baik dengan kail (hand line) atau dengan alat tradisional lainnya,

seperti bubu, sero, atau rawai dasar. Pada umumnya, hasil tangkapan nelayan

langsung dikonsumsi atau dijual segar dalam jumlah yang kecil karena penangkapan

dengan sistem ini memang sangat terbatas. Namun, akhir-akhir ini (sesuai

permintaan pasar yang menghendaki ikan kerapu hidup) para nelayan telah mencoba

membudidayakan secara tradisional, dimana benihnya berasal dari tangkapan di laut.

Budidaya kerapu di Indonesia dilakukan dengan pola pembenihan maupun

pembesaran dalam karamba jaring apung. Kegiatan pembenihan biasanya

menghasilkan benih ikan dengan ukuran antara 5 - 7 cm yang biasa disebut

fingerling dan kegiatan pembesaran merupakan kegiatan pemeliharaan fingerling

sampai dengan ikan kerapu mencapai ukuran konsumsi, yaitu antara 0,5 - 0,6 kg.

Umumnya pembesaran ikan kerapu dalam karamba berkisar antara 8 - 13 bulan

tergantung dari jenis ikan yang dibudidayakan dan kemampuan sumberdaya manusia

pelaksananya.

DKP (2003) didalam Simatupang (2004) menyampaikan bahwa

perkembangan budidaya ikan kerapu di berbagai wilayah nusantara terutama

didorong oleh permintaan pasar yang cukup tinggi dan nilai ekonomis ikan kerapu

yang baik memacu masyarakat melakukan perburuan ikan kerapu di laut yang

semakin meningkat. Mengingat jenis ikan kerapu adalah jenis ikan karang dan hidup

di sebagian besar wilayah perairan Indonesia sehingga perburuan terhadap spesies

ikan ini sering dilakukan. Kegiatan mencari ikan dengan berburu di laut bebas sangat
15

sulit untuk diprediksi tingkat kepastian produksinya. Di samping itu pencarian ikan

kerapu secara ilegal di laut mulai menunjukkan kerusakan terumbu karang.

Untuk mengantisipasi perusakan secara terus-menerus terhadap lingkungan

kelautan, alternatif produksi yang diusahakan melalui budidaya pola karamba jaring

apung. Alternatif budidaya sistem karamba jaring apung diharapkan mampu

memenuhi permintaan pasar konsumsi dengan kontinuitas produksi. Dukungan lahan

yang cukup luas dan tersedia diberbagai daerah khususnya di daerah pesisir pantai

memungkinkan dilakukan pengembangan secara massal.

Karamba jaring apung adalah wadah pembesaran ikan berupa jaring yang

diapungkan dengan sebuah rakit dan ditambatkan dengan menggunakan jangkar/

pemberat di setiap sudutnya (BSN, 2006). Rakit dapat terbuat dari bahan kayu ulin,

bambu, besi atau fiber glass dan dilengkapi dengan pelampung untuk

mengapungkannya. Sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI), jaring yang

digunakan berbahan dasar polyethylene dengan ukuran mata jaring (mesh size) dan

nomor benang (D), bervariasi mulai dari 0,5 inch D9 (ukuran mata jaring 0,5 inch dan

jumlah serabut sembilan buah per lilitan benang), 1 inch D15, 1,25 inch D18-21, dan 1,5

inch D21-24. Daya tahan jaring mencapai lima tahun. Tali ris juga berbahan dasar

polyethylene dengan ukuran menyesuaikan mesh size, yakni tali ris ukuran 4 mm

untuk mesh size 0,5 inch; 6 mm untuk mesh size 0,75 - 1 inch; 8 mm untuk mesh size

1,25 inch; dan 10 mm untuk mesh size 1,5 inch.


16

Gambar pakai pun ikam haja

Gambar 2. Karamba jaring apung (floating cage nets)

Kegiatan budidaya ikan merupakan salah satu upaya peningkatan produksi

untuk memenuhi kebutuhan sumber bahan pangan hewani dalam jangka pendek dan

jangka panjang. Peningkatan tersebut diharapkan dapat dicapai dengan menerapkan

konsep produksi budidaya ikan yang ekonomis (Taftajani, 2006), yakni:

1. Pemilihan lokasi budidaya yang tepat.

2. Kontruksi karamba dan fasilitas lain sesuai prinsip budidaya ikan.

3. Pengaturan usaha yang benar, pemilihan komoditi ikan budidaya yang cepat

tumbuh, ketersediaan benih, serta nilai ekonomisnya.

4. Padat penebaran yang optimal, tersedianya pakan yang seimbang nutrisinya,

serta frekuensi pemberian pakan yang optimal.

5. Pemeliharaan keramba dan kualitas air agar tetap baik.

6. Pencegahan penyakit dan kesiagaan tindakan pengobatan jika terjadi

serangan penyakit.

7. Metode panen dan pasca panen yang tepat.

8. Kebijakan tata ruang, kemudahan perijinan, kebijakan protektif, dan lain-lain.


17

Terkait dengan pemilihan lokasi budidaya karamba jaring apung yang tepat,

beberapa faktor yang harus diperhatikan dalam penentuan lokasi tersebut antara lain

(Direktorat Pembudidayaan, 2003):

1. Gangguan Alam

Lokasi harus terhindar dari badai dan gelombang besar, atau gelombang terus

menerus. Gangguan alam ini dapat menyebabkan konstruksi karamba jaring

apung mudah rusak, dan ikan menjadi stres yang akhirnya produksi menjadi

turun. Untuk mengatasi hal ini, dapat dipilih lokasi perairan yang terdiri dari

beberapa pulau-pulau kecil. Pulau-pulau kecil ini berguna untuk menghambat

gelombang dan badai.

2. Gangguan Pencemaran

Lokasi harus bebas dari bahan pencemaran yang mengganggu kehidupan ikan.

Pencemaran tersebut dapat berupa limbah industri, pertanian, dan rumahtangga.

3. Gangunan Predator

Predator yang harus dihindari adalah hewan laut buas, seperti ikan buntal (ikan

bola) dan ikan besar yang ganas yang dapat merusak karamba jaring apung.

Burung-burung laut pemangsa ikan juga harus diwaspadai.

4. Gangguan Lalu Lintas Kapal

Lokasi karamba jaring apung bukan merupakan jalur transportasi kapal umum,

kapal barang, atau kapal tanker.

5. Kondisi Hidrografi

Perairan di mana karamba jaring apung ditempatkan harus pula memenuhi

persyaratan sifat fisika dan kimia, yaitu:


18

a. Salinitas antara 33 - 35oC

b. Suhu berkisar pada 27 - 32oC

c. Kadar pH air laut antara 7,6 - 8,7

d. Kandungan oksigen terlarut dalam air laut 2 - 5 ppm

C. Landasan Teori

1. Pengertian Investasi

Bagi masyarakat modern, kata investasi tentu tidak asing lagi. Bahkan, bisa

jadi hampir setiap hari mendengar kata itu. Bagi sebagian masyarakat lainnya,

barangkali telah melakukan investasi tetapi tidak menyadarinya, seperti para petani,

peternak dan/atau pembudidaya ikan di perdesaan.

Investasi, menurut Sharpe, et al (1993), adalah mengorbankan aset yang

dimiliki saat ini guna mendapatkan aset yang lebih besar. Sedangkan Jones (2004)

mendefinisikan investasi sebagai komitmen menanamkan sejumlah dana pada satu

atau lebih aset selama beberapa periode pada masa mendatang.

Selain daripada itu, Reilly (1997) menyatakan bahwa investasi adalah

komitmen mengikatkan aset saat ini untuk beberapa periode waktu ke masa depan

guna mendapatkan penghasilan yang mampu mengkompensasi pengorbanan investor

berupa:

a. Keterikatan aset pada waktu tertentu

b. Tingkat inflasi

c. Ketidaktentuan penghasilan pada masa mendatang


19

Dari ketiga definisi yang disampaikan diatas, investasi dapat diartikan bahwa

untuk bisa melakukan suatu investasi harus ada unsur ketersediaan dana (aset) pada

saat ini, kemudian komitmen mengikatkan dana tersebut pada obyek investasi untuk

beberapa periode di masa mendatang. Selanjutnya, setelah periode yang diinginkan

tersebut tercapai (jatuh tempo) barulah investor bisa mendapatkan kembali asetnya,

tentu saja dalam jumlah yang lebih besar. Namun demikian, tidak ada jaminan pada

akhir periode yang ditentukan investor pasti mendapati asetnya lebih besar dari saat

memulai investasi. Ini terjadi karena selama periode waktu menunggu itu terdapat

kejadian yang menyimpang dari yang diharapkan. Inilah, yang disebut dengan

risiko. Dengan demikian, selain harus memiliki komitmen mengikatkan dananya,

investor juga harus bersedia menanggung risiko.

2. Kelayakan Investasi

Kriteria kelayakan investasi suatu proyek merupakan suatu ukuran untuk

menentukan apakah suatu proyek dapat dilanjutkan dalam implementasi karena

diprediksi akan menghasilkan keuntungan, atau tidak perlu diimplementasikan

karena sudah dapat dipastikan tidak akan menghasilkan keuntungan (Gittinger,

1982). Sejalan dengan pendapat tersebut, menurut Husnan dan Muhammad (1984),

yang dimaksud dengan kelayakan proyek adalah dapat tidaknya sebuah proyek

(sebuah proyek biasanya merupakan proyek investasi, sehingga dikatakan juga

sebagai kelayakan investasi) dilaksanakan dengan berhasil. Ditambahkan bahwa

umumnya kelayakan proyek menyangkut tiga aspek, yaitu:


20

1. Manfaat ekonomis bagi proyek itu sendiri, yang biasa disebut dengan manfaat

finansial.

2. Manfaat ekonomi bagi negara tempat berlangsungnya proyek, yang sering

disebut dengan manfaat ekonomi nasional.

3. Manfaat sosial bagi masyarakat sekitar proyek.

Idealnya secara finansial setiap aktivitas dapat berjalan secara berkelanjutan.

Suatu sistem usaha yang mandiri dan berkelanjutan harus menjadi usaha yang sehat,

menguntungkan dan mampu melakukan investasi-investasi secara jangka pendek dan

panjang. Aspek finansial pada dasarnya terutama menyangkut perbandingan antara

pengeluaran dengan pendapatan dari industri atau aktivitas usaha ekonomi, serta

waktu didapatkannya hasil (return). Suatu kegiatan proyek umumnya adalah

kegiatan yang memerlukan waktu lebih dari satu tahun menghasilkan manfaat. Oleh

sebab itu kegiatan sepert ini memerlukan biaya investasi. Untuk itu, menurut

Gittinger (1982), agar diketahui secara komprehensif tentang layak atau tidaknya

suatu aktivitas usaha atau proyek, maka dikembangkan berbagai kriteria yang pada

dasarnya membandingkan antara biaya dan manfaat atas dasar suatu tingkat harga

umum tetap yang diperoleh suatu industri yang menggunakan nilai sekarang (present

value) yang telah didiskonto selama umur usaha atau industri tersebut. Cara

penilaian industri jangka panjang yang paling banyak diterima dengan menggunakan

Discounted Cash Flow Analiysis (DCF) atau analisis aliran kas yang didiskonto.

Alasan penggunaan metode ini adalah adanya pengaruh waktu terhadap nilai

uang selama umur kegiatan usaha. Cash flow analysis dilakukan setelah komponen-

komponennya ditemukan dan diperoleh nilainya. Komponen-komponen tersebut


21

dikelompokkan dalam dua bagian, yaitu penerimaan atau manfaat (benefit) dan

pengeluaran atau biaya. Selisih antara keduanya disebut manfaat bersih (net benefit).

Nilai-nilai manfaat dan biaya tersebut dijadikan nilai sekarang (present value) dan

mengalikannya dengan tingkat diskonto (discount rate) yang berlaku.

Untuk mengetahui tingkat kelayakan finansial dan ekonomi, dapat digunakan

kriteria investasi, yaitu Payback Period, Net Present Value (NPV), Net Benefit Cost

Rasio (Net BCR) dan Internal Rate of Return (IRR). Tiga kriteria terakhir lebih

umum dipakai dan dipertanggungjawabkan untuk penggunaan-penggunaan tertentu.

Menurut Umar (1997), keempat kriteria investasi tersebut merupakan metode umum

yang biasa digunakan dalam penilaian aliran kas suatu investasi, sehingga akan

diketahui kelayakan dari aspek keuangan.

Net Present Value (NPV) merupakan nilai sekarang dari suatu usaha atau

industri dikurangi dengan biaya sekarang dari usaha industri pada tahun tertentu.

Apabila nilai NPV > nol (positif), maka usaha tersebut diprioritaskan

pelaksanaannya. Apabila besarnya NPV sama dengan nol berarti usaha tersebut

mengembalikan dananya sebesar tingkat suku bunganya (Social Opportunity Cost of

Capital). Sedangkan apabila besarnya NPV < nol (negatif), maka sebaiknya usaha

ditolak dan sekaligus mengindikasikan ada jenis penggunaan untuk usaha lain yang

lebih menguntungkan. NPV dihitung dengan persamaan:

n
( Bt − Ct )
NPV = ∑ (1 + i )
t =1
t ...................................................................................... (1)
22

dimana: NPV = Net Present Value


Bt = penerimaan (benefit) tahun ke-t
Ct = biaya (cost) tahun ke-t
i = tingkat suku bunga yang berlaku
t = lamanya waktu/umur investasi

Net Benefit Cost Ratio (Net BCR) merupakan cara evaluasi usaha atau

industri dengan membandingkan nilai sekarang seluruh hasil yang diperoleh suatu

usaha dengan nilai sekarang seluruh biaya usaha atau industri. Net BCR akan

menggambarkan keuntungan dan layak dilaksanakan jika mempunyai nilai lebih

besar dari satu atau Benefit Cost Ratio (BCR) lebih besar dari nol. Net BCR dihitung

dengan rumus:

∑ NPV +

NetBCR = t =1
n .................................................................................... (2)
∑ NPV
t =1

dimana: NPV + = Net Present Value Positif


NPV - = Net Present Value Negatif

Internal Rate of Return (IRR) tingkat suku bunga yang membuat usaha atau

industri akan mengembalikan semua investasi selama umur usaha atau industri.

Suatu usaha atau industri akan diterima jika IRR-nya lebih besar dari opportunity

cost of capital atau lebih besar dari suku bunga yang didiskonto yang telah

ditetapkan, dan jika sebaliknya usaha atau industri akan ditolak, dengan rumus:

NPV +
IRR = i1 + ( i2 − i1 ) ................................................................. (3)
NPV + − NPV −
23

dimana: IRR = Internal Rate of Return


NPV + = Net Present Value positif
NPV - = Net Present Value negatif
i1 = tingkat suku bunga saat NPV positif
i2 = tingkat suku bunga saat NPV negatif

Payback Period merupakan perhitungan seberapa cepat investasi yang

dilakukan dapat kembali dan hasil perhitungannya dinyatakan dalam satuan waktu,

yaitu tahun atau bulan. Perhitungan payback period dilakukan dengan mem-present

value-kan arus kas. Payback period ini digunakan untuk memperoleh gambaran

yang sederhana berkaitan dengan jangka waktu kembalinya modal. Oleh karena itu,

semakin pendek payback period maka semakin menarik investasi. Payback Period

dihitung dengan persamaan:

InCap
PBP = ........................................................................................ (4)
AnnualCF

dimana: PBP = Payback Period


InCap = nilai investasi
AnnualCF = aliran tunai (cash flow) per tahun
III. METODE PENELITIAN

A. Waktu dan Tempat Penelitian

Kegiatan penelitian rencananya akan dilaksanakan pada bulan Nopember

2010 sampai dengan Januari 2011, dari mulai pengajuan usulan penelitian tesis

hingga penyusunan laporan penelitian tesis. Kegiatan penelitian akan berlangsung di

Kabupaten Kotabaru pada kawasan yang terdapat usaha karamba jaring apung.

B. Metode Pengumpulan Data

Metode yang akan digunakan pada penelitian ini adalah metode survei, yakni

pengumpulan data yang didasarkan pada populasi atau sampel populasi. Data yang

akan dikumpulkan adalah data cross section atau data yang dikumpulkan pada waktu

tertentu untuk menggambarkan keadaan atau kegiatan pada waktu itu, yang

bersumber langsung dari pembudidaya ikan kerapu di karamba jaring apung (data

primer) yang tergabung dalam kelompok pembudidaya ikan Kalimantan Budidaya

Marine, melalui teknik wawancara terstruktur (menggunakan kuesioner).

Lokasi sampel ditentukan secara sengaja (purposive), yakni Desa Gosong

Panjang, Kecamatan Pulau Laut Barat, Kabupaten Kotabaru, sebagai desa tempat

berlangsungnya kegiatan usaha karamba jaring apung ikan kerapu sekaligus tempat

keberadaan kelompok pembudidaya ikan Kalimantan Budidaya Marine. Sampling

purposive disebut juga sampling pertimbangan karena pengambilan sampel

dilakukan atas dasar pertimbangan dari seseorang/peneliti (Sudjana, 1992). Dalam

hal ini, dipilihnya kelompok pembudidaya ini atas pertimbangan karena saat ini
25

hanya kelompok ini yang masih eksis membudidayakan ikan kerapu dalam karamba

jaring apung di Desa Gosong Panjang, dengan jumlah unit jaring atau petakan

sebanyak delapan unit.

C. Metode Analisis Data

Untuk menjawab tujuan pertama, yakni menganalisis kelayakan investasi

usaha karamba jaring apung ikan kerapu di Kabupaten Kotabaru, digunakan

perhitungan pada kriteria investasi yang meliputi Net Present Value (NPV), Net

Benefit Cost Rasio (Net BCR), Internal Rate of Return (IRR) dan Payback Period.

Perhitungan kriteria investasi mengacu rumus pada persamaan (1), (2), (3) dan (4),

dengan ketentuan seperti berikut ini.

1. Suku bunga (discount factor) sebesar 16%, sebagai tingkat suku efektif

maksimal untuk kredit usaha rakyat saat ini.

2. Periode pengusahaan dan umur proyek adalah selama lima tahun, sesuai

dengan jangka waktu/umur ekonomis karamba jaring apung yang digunakan.

3. Harga input adalah harga yang berlaku terhadap input produksi pada saat

penelitian berlangsung, meliputi nilai barang modal, harga benih, harga pakan,

harga obat-obatan dan upah harian tenaga kerja (HOK) setempat.

4. Harga output adalah nilai jual produk pada akhir periode produksi (nilai ikan

kerapu ukuran konsumsi yang diperhitungkan dalam satuan rupiah/kg) di tingkat

produsen.
26

Hipotesis pengujian:

H0 : jika NPV < 0; Net BCR < 1; IRR < 16%; dan payback period > 5 tahun, yang

berarti usaha karamba jaring apung ikan kerapu tidak layak untuk

dikembangkan.

H1 : jika NPV > 0; Net BCR > 1; IRR > 16%; dan payback period < 5 tahun, yang

berarti usaha karamba jaring apung ikan kerapu layak untuk dikembangkan.

Selanjutnya untuk menjawab tujuan kedua, yakni mengetahui permasalahan

yang dihadapi pelaku usaha karamba jaring apung ikan kerapu di Kabupaten

Kotabaru, digunakan analisis deskriptif dengan cara mengkaji data-data primer/

skunder dan selanjutnya memaparkannya secara tertulis dalam bentuk tabulasi.

D. Definisi Operasional dan Konsep Pengukuran Data

1. Investasi adalah besarnya modal usaha yang ditanamkan selama satu periode

usaha karamba jaring apung ikan kerapu, yang dinyatakan dalam satuan rupiah.

2. Biaya operasional adalah besarnya biaya yang dikeluarkan atas investasi yang

ditanamkan dalam menjalankan usaha karamba jaring apung ikan kerapu, yang

dinyatakan dalam satuan rupiah.

3. Manfaat (benefit) usaha adalah nilai penerimaan dari usaha karamba jaring apung

ikan kerapu, yang diperoleh dari hasil produksi di akhir periode, yang dinyatakan

dalam satuan rupiah.


27

4. Kelayakan investasi adalah layak tidaknya usaha karamba jaring apung ikan

kerapu dimana modal usaha ditanamkan untuk dijalankan, yang diukur

berdasarkan kriteria investasi meliputi Net Present Value (NPV), Net Benefit

Cost Rasio (Net BCR), Internal Rate of Return (IRR) dan Payback Period.

5. Permasalahan usaha karamba jaring apung ikan kerapu adalah hal-hal apa saja

yang terjadi yang sifatnya abnormal (tidak sesuai dengan yang semestinya

terjadi) pada kegiatan usaha.


DAFTAR PUSTAKA

BSN, 2006. Karamba Jaring Apung (KJA) untuk Pembesaran Ikan. SNI 01-7222-
2006. Badan Standarisasi Nasional, Jakarta.

Brotowidjoyo, M.D., D. Tribawono dan E. Mulbyantoro, 1995. Pengantar


Lingkungan Perairan dan Budidaya Air. Penerbit Liberty, Yogyakarta.

Departemen Kelautan dan Perikanan, 2005. Revitalisasi Perikanan. Departemen


Kelautan dan Perikanan RI, Jakarta.

Dinas Perikanan dan Kelautan Kalimantan Selatan, 2010. Laporan Dinas Perikanan
dan Kelautan Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2009. Pemerintah
Provinsi Kalimantan Selatan. Dinas Perikanan dan Kelautan, Banjarbaru.

Direktorat Pembudidayaan, 2003. Petunjuk Teknis Budidaya Ikan Kerapu.


Departemen Kelautan dan Perikanan. Direktorat Jenderal Perikanan
Budidaya. Direktorat Pembudidayaan, Jakarta.

Effendie, I.M., 2002. Biologi Perikanan. Yayasan Pustaka Nusantara.163 hal.

Gittinger, J.P., 1982. Economic Analysis of Agricultural Project. John Hopkins


University Press, Baltimore.

Husnan, S. dan S. Muhammad, 1984. Studi Kelayakan Proyek. UPP AMP YKPN,
Yogyakarta.

Jones, 2004. Investment: Analysis and Management. 9th Edition. John Wiley &
Sons Inc., USA.

Marsambuan, A.P. dan Utojo, 2001. Identifikasi Spesies Ikan Kerapu Hasil
Tangkapan yang Didaratkan di Perairan Laut Sekitar Sulawesi Selatan.
Teknologi budidaya laut dan pengembangan sea farming di Indonesia. DKP
kerjasama JICA.

Reilly, F.K., 1997. Investment. 5th Edition. The Dryden Press, Harcourt Brace
Jonavolick College Publisher, USA.

Sharpe, W.F., G.J. Alexander and J.V. Bailey, 1999. Fundamental of Investment.
Prentice Hall International Inc., New Jersey.

Shokita, S., K. Kakazu, A. Tomori and T. Toma, 1991. Aquaculture in Tropical


Areas. Midori Shobo Co. Ltd.
29

Simatupang, J.B., 2004. Prospek Pengembangan Budidaya Ikan Kerapu untuk


Meningkat Pendapatan Masyarakat Nelayan di Daerah Pantai Pacitan.
Tesis. Program Pascasarjana UGM, Yogyakarta.

Sudjana, 1992. Metoda Statistika. Penerbit Tarsito, Bandung.

Taftajani, U.S., 2006. Budidaya Ikan Nila. FK PSM, Sukabumi.

Turangan H.F., 2000. Manipulasi Reproduksi pada Ikan Kerapu Epinephelus sp.
dengan Hormonal. FPIK Unsrat Manado.

Wardana, I.P., 1994. Pembesaran Kerapu dengan Keramba Jaring Apung. Penebar
Swadaya, Jakarta.