Anda di halaman 1dari 2

JUDUL

Aditya Asmaranala 1), Yogi Karsono 1), Ovi Saraswati 1), Bintang Endah L. 1), dan Risma Sholeh H. 1)
1)
Mahasiswa Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan, Fakultas Teknologi Pertanian, IPB Bogor

ABSTRAK

PENDAHULUAN
Radikal bebas adalah zat dengan molekul yang mengandung elektron yang tidak berpasangan
(Koeman, 1987). Di luar tubuh dan lingkungannya, radikal bebas dapat dibentuk dari radikal bebas lainnya
sebagai akibat reaksi berantai yang tidak terkendali. Untuk kembali menstabilkan elektronnya, radikal bebas
bereaksi dengan molekul yang terdekat dengannya di dalam tubuh. Setelah reaksi ini, kedua molekul tersebut
menjadi tidak seimbang. Karena salah satu elektronnya telah diambil, maka terbentuklah radikal bebas yang
baru, dan akan berinteraksi dengan molekul lainnya agar muatannya stabil, begitu seterusnya. Reaksi berantai
radikal bebas ini berlangsung sangat cepat dalam hitungan detik. Bila hal ini terus berlanjut tanpa ada upaya
untuk mengendalikannya, maka kerusakan molekul sel tubuh menjadi sulit terhindarkan.
Radikal bebas akan merusak tubuh yang mengarah pada berbagai penyakit dan proses penuaan dini.
Kasus yang umum terjadi, radikal bebas akan membentuk LDL kolesterol sebagai tahapan awal pada penyakit
jantung. Perusakan DNA yang disebabkan oleh radikal bebas dapat mendorong terjadinya kanker. Protein pada
kulit yang rusak oleh radikal bebas akan terlihat berkerut atau keriput. Radikal bebas yang paling berbahaya
adalah ion superoksida yang terbentuk dari oksigen dan radikal ion hidroksil yang terbentuk dari hidrogen
peroksida. Selain superoksida dan hidroksil, oksigen tunggal atau atom oksigen yang tidak berikatan dengan
molekul oksigen diatomik merupakan radikal bebas perusak yang tidak boleh dipandang lemah.
Sejumlah penelitian baik secara epidemiologi maupun farmakologi menyatakan bahwa teh mempunyai
aktivitas antioksidan dalam melawan radikal bebas sehingga dapat menurunkan resiko terkena kanker dan
penyakit jantung koroner. (An et al., 2004; Ikeda et al., 2003; Yanagimoto et al. 2003; Su et al., 2003;
Yokozawa et al, 2003). Faktor-faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya aktivitas antioksidan teh sangat
dipengaruhi oleh kandungan senyawa kimia dalam teh tersebut ( Chen et al., 2005; Suzuki et al., 2003; Xu et
al., 2003; Williams et al., 2003).
Teh juga mengandung senyawa polifenol, yaitu komponen bioaktif yang mempunyai aktivitas
antioksidan dengan cara mendonorkan atom hidrogen dari gugus hidroksilnya kepada senyawa radikal.
Polifenol dalam teh diketahui dapat memberi efek positif berupa pencegahan penyakit jantung dan stroke.
Senyawa polifenol tersebut dapat pula memperlancar sistem sirkulasi, menguatkan pembuluh darah, dan
menurunkan kadar kolesterol dalam darah. Teh dengan kandungan polifenol membantu dalam penambahan
jumlah sel darah putih yang bertanggung jawab melawan infeksi. Polifenol juga mengurangi pembentukan plak
dengan mempengaruhi kerja bakteri mulut (Hartoyo, 2003).
Senyawa fenol merupakan senyawa aromatik sehingga semuanya menunjukkan serapan kuat di daerah
spektrum UV. Selain itu, secara khusus senyawa fenol menunjukkan geseran batokrom pada spektrumnya bila
ditambahkan basa. Berdasarkan sifat-sifat itu, metode spektrofotometri dapat digunakan untuk identifikasi dan
analisis kuantitatif senyawa fenol (Harborne, 1984). Pengukuran kadar total fenolik suatu bahan, terutama yang
berasal dari tanaman, merupakan salah satu parameter untuk mendapatkan perkiraan besarnya kapasitas
antioksidan pada bahan tersebut.

METODOLOGI
Bahan dan Alat

Metode
Pembuatan larutan sampel untuk pengukuran antioksidan menggunakan DPPH
Larutan sampel dibuat dengan menyeduh 0,5 gram sampel teh kering ke dalam 50 ml akuades
mendidih selama 2 menit. Larutan sampel disaring dan ditepatkan hingga 50 ml. Kemudian dibuat 1 seri
pengenceran larutan sampel yaitu 5, 10, 15, dan 20 kali pengenceran dengan akuades.

Pengukuran kapasitas antioksidan pada larutan teh

HASIL

Berdasarkan tabel diatas, diperoleh kurva standar dan persamaan regresi linear untuk masing-masing larutan
sampel.
PEMBAHASAN
Antioksidan adalah senyawa yang mempunyai struktur molekul yang dapat memberikan elektronnya
pada molekul radikal bebas tanpa terganggu serta dapat memutus reaksi berantai dari radikal bebas
(Kumalaningsih, 2006). Antioksidan yang potensial dapat beraktivitas seperti prooksidan tergantung dari sistem
oksidasi yang terjadi, meskipun antioksidan tersebut dapat mengautooksidasi dan menetralisasi substansi reaktif
(Santoso,2003). Keberadaan senyawa antioksidan dalam suatu bahan dapat diketahui melalui uji aktivitas
antioksidan (Adyani, 1996).
Teh mengandung senyawa polifenol, yaitu komponen bioaktif yang mempunyai aktivitas antioksidan
dengan cara mendonorkan atom hidrogen dari gugus hidroksilnya kepada senyawa radikal. Aktivitas senyawa
fenol sebagai antioksidan atau prooksidan memang masih belum dapat dijelaskan, namun aktivitas
antioksidannya akan terlihat jelas jika sering dilakukan konsumsi makanan yang kaya senyawa tersebut seperti
teh, buah-buahan, dan sayur-sayuran.

KESIMPULAN

DAFTAR PUSTAKA

Aktivitas antioksidan sampel diukur melalui analisis kadar malonaldehida (MDA). Semakin besar absorbansi
malonaldehida yang dihasilkan, aktivitas antioksidan pada sampel juga semakin kecil.

Antioksidan dapat menangkap radikal bebas sehingga dapat mencegah terjadinya reaksi oksidasi lebih lanjut.
Antioksidan bekerja dengan cara mendonasikan atom hidrogennya pada radikal bebas atau radikal asam lemak
sehingga radikal tersebut menjadi stabil. Kestabilan ini memperkecil risiko terjadinya reaksi oksidasi.
Kemampuan antioksidan dalam mendonasikan hidrogen mempengaruhi aktivitasnya (Hudson, 1990).

Antioksidan merupakan senyawa berberat molekul kecil yang dapat bereaksi dengan oksigen sehingga reaksi
oksidasi yang merusak biomolekul dapat dihambat (Langseth, 1995).

Langseth, L. 1995. Oxidants, Antioxidants, and Disease Prevention. ILSI Europe.


Belgium.