Anda di halaman 1dari 8

c   

   

Tazkiyatun Nufus

4/2/2010 | 18 Shafar 1431 H | Hits: 8.688

Oleh: Dr. Setiawan Budi Utomo

Kirim Print

371Share

0diggsdigg

dakwatuna.com ʹ Fenomena keterhanyutan dan kelarutan generasi muda ke dalam jebakan kampanye
cinta palsu yang menyesatkan dalam bungkus life͛s style bergaya Valentine͛s Day beberapa tahun
belakangan ini lebih merefleksikan gejala umum degub jiwa kepenasaranan, kehausan dan sekaligus
kebingungan akan makna cinta dari kalangan generasi muda di samping ekspresi dari absurditas dan
ketidakarifan memahami makna cinta dari kalangan industri momentum kasih sayang dan cinta. Budaya
ber-valentine͛s-ria di kalangan remaja memang fenomenanya telah menjadi gejala yang
memprihatinkan seperti pengalaman saya pada suatu kali di pusat perbelanjaan bersama istri berbelanja
tiba-tiba terhenyak dengan ucapan spontan mereka ketika bertemu sesamanya dengan ucapan ͚happy
valentine͛.Kaget karena menjadi tradisi yang tidak pantas dalam tradisi ketimuran apalagi keislaman.

Cinta sebagaimana fitrahnya merupakan anugerah dan cinta juga musibah. Cinta menjadi kenikmatan
bila karena Allah dan dijalan-Nya (Al-Hubb Fillah wa Lillah). Cinta islami demikian tidaklah mengenal
batas ruang dan waktu serta melampaui batas fisik materi.Cinta yang fitri kata orang bijak adalah buah
yang tak mengenal musim dan dapat dipetik oleh siapa pun.Cinta yang demikian tak jadi masalah
kepada siapa dan seberapa besar asalkan karena Allah dan dijalan-Nya.Inilah rumus cinta suci segitiga
dalam Islam; cinta proporsional (equilibrium love) antara cinta kepada Allah yang tidak menelantarkan
cinta kepada makhluk, dan cinta kepada makhluk yang tidak melalaikan bahkan senantiasa dalam cinta
kepada Allah Sang Khalik.

Perasaan cinta pada dasarnya sebuah kenikmatan.Betapa indahnya hidup yang dipenuhi cinta sejati dan
betapa sengsaranya hidup yang dipenuhi kebencian. Orang yang dipenuhi semangat cinta yang suci
mulia akan selalu merasa bahagia sebelum orang lain bahagia sehingga mendorongnya untuk memiliki
sikap tenang, damai, puas dan ridha. Bahkan cinta merupakan energi dahsyat kehidupan yang
mengilhami Lao Tzu, filsuf Cina yang hidup sekitar abad ke-6 SM untuk merangkai kata mutiara bahwa
dicintai secara mendalam oleh seseorang akan memberimu kekuatan, dan mencintai seseorang secara
mendalam akan memberimu keberanian. Demikian Plato filsuf Yunani kuno juga berkesimpulan bahwa
cinta adalah sumber keindahan sehingga dengan sentuhan cinta setiap orang dapat menjadi pujangga.

Perasaan cinta yang dialami setiap jiwa manusia memang sebuah misteri sebagaimana fenomena ruh
(jiwa). Nabi saw. bersabda: ͞Ruh itu laksana pasukan yang dikerahkan, maka seberapa jauh mereka
saling mengenal maka sejauh itu pula mereka saling menyatu, dan seberapa jauh mereka tidak saling
mengenal maka sejauh itu pula mereka akan berselisih.͟ (HR. Bukhari, Muslim dan Abu Dawud).
Menyatunya jiwa sesama mukmin dalam cinta begitu kuat dan tetap hidup seperti satu tubuh
sebagaimana diumpamakan Nabi saw. dalam hadits riwayat Imam Muslim. Begitu kuatnya pengaruh
cinta sehingga kadang dapat menghilangkan kontrol emosi dan keseimbangan rasio sehingga tidak
mampu bersikap objektif.

Mabuk asmara sebagaimana dikatakan filosof Plato merupakan cinta buta yang bergelora dalam jiwa
yang kosong. Aristoteles juga berujar: ͞Cinta buta adalah cinta yang buta untuk melihat kesalahan orang
yang dicintai. Cinta buta adalah kebodohan yang membalikkan hati yang hampa, sehingga ia tidak lagi
mau memikirkan yang lain.͟ Oleh karena itu perlu manajemen cinta untuk menghindarkan ekses negatif
dan efek kegilaan cinta yang menjurus kepada cinta buta yang sangat berbahaya sebagaimana dilukiskan
penyair Qais: ͞Kau gila karena orang yang kau cinta. Memang cinta buta itu lebih parah dari gila.Orang
tidak bisa sadar karena cinta buta, sedang orang gila bisa terkapar tak berdaya͟.Bahkan yang lebih parah
lagi bila cinta menghanyutkan seseorang sehingga melupakannya dari prioritas cinta lainnya seperti
melupakan ataupun menduakan cinta kepada Allah yang dapat berakibat syirik.

Cinta memang persoalan hati (qalbu) dan hati seperti namanya adalah bersifat labil (yataqallabu)
sehingga yang diperlukan adalah upaya maksimal lahir batin dalam pengendaliannya secara adil untuk
setiap yang berhak atasnya. Nabi saw memaklumi fenomena batin ini dalam pengakuannya:

͞Ya Allah, inilah usahaku sebatas kuasaku, maka janganlah Engkau cela diriku tentang apa yang Engkau
kuasai dan aku tidak kuasai (hati).͟(HR. Abu Dawud).

Melalui proses manajemen dan pengendalian cinta, seseorang dapat menjadikan perasaan cinta sebagai
motivasi kontrol dalam kerangka kebajikan dan kemuliaan. Inilah esensi pesan Risalah Islam mengenai
Alhubb wal Bughdhu fillah (Cinta dan benci karena Allah) sehingga kita tidak akan termakan oleh doktrin
sinetron yang menyesatkan seperti sinetron ͞Kalau cinta jangan marah͟. Hal itu karena kemarahan
dalam perspektif manajemen cinta merupakan kelaziman cinta sejati yang diekspresikan dalam bentuk
yang arif bijaksana tanpa keluar jalur syariat sebagaimana kemarahan Nabi saw diungkapkan dalam
bentuk ekspresi perubahan mimik muka, diam, atau isyarat lainnya sebagai peringatan yang selanjutnya
diberikan penjelasan dan dialog dari hati ke hati. Karenanya, beliau tidak menyukai lelaki yang suka
memukul wanita bila marah apalagi sampai menampar wajah.Sebaliknya beliau juga tidak menyukai
wanita yang meninggalkan atau mengkhianati suaminya bila sedang marah.

Manajemen cinta akan menumbuhkan sikap adil dalam cinta yang membawa hidup sehat dan seimbang
(tawazun) dan bukan menjadi sumber penyakit sebagaimana Ibnul Qayyim sampaikan bahwa cinta bagi
ruh sama dengan fungsi makanan bagi tubuh. Jika engkau meninggalkannya tentu akan membahayakan
dirimu dan jika engkau terlalu banyak menyantapnya serta tidak seimbang tentu akan
membinasakanmu. Kelezatan hidup inilah yang dilukiskan dalam hadits tentang kelezatan iman:

͞Ada tiga perkara yang siapa pun memilikinya niscaya akan merasakan kelezatan iman; barang siapa
yang Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari lainnya, barang siapa yang mencintai seseorang hanya
karena Allah, dan siapa yang benci kembali kepada kekafiran sebagaimana ia benci dicampakkan ke
dalam neraka.͟ (HR. Bukhari dan Muslim)

Proses menuju cinta suci yang diberkati Allah tidaklah mudah sehingga memerlukan upaya manajemen
diri termasuk pengendalian ego dan penumbuhan rasa empati serta solidaritas sebagai persyaratan
iman. Sabda Nabi saw:

͞Tidaklah beriman seseorang di antara kalian sampai ia mencintai saudaranya (seiman) sebagaimana ia
mencintai dirinya sendiri͟ Bahkan cinta sesama mukmin merupakan syarat masuk surga ͞Tidaklah kalian
akan masuk surga sampai kalian beriman dan kalian tidak akan beriman sehingga kalian saling
mencintai.͟ (HR. Muslim)

Cinta yang dikehendaki Islam adalah cinta sejati dan arif bukan cinta buta yang bodoh.Manajemen cinta
mengajarkan agar perasaan cinta kepada seseorang tidak menghalangi kita untuk tetap melakukan
segala hal yang semestinya kita kerjakan. Sehingga kita tidak akan melakukan ataupun meninggalkan
segala hal demi rasa cinta ataupun mendapatkan cinta dari orang yang kita cintai meskipun hal itu
bertentangan dengan kemaslahatan (kebaikan) dirinya, membahayakan orang lain dan menimbulkan
kerusakan di muka bumi atau memancing kemarahan Allah. Karena sikap demikian merupakan cinta
buta yang bodoh. Sebagai contoh seorang ibu yang begitu memanjakan anaknya karena cintanya yang
mendalam sampai melupakan pendidikan dan pengajarannya yang pada gilirannya justru akan menjadi
bumerang bagi orang tuanya karena menjadi anak durhaka.
Adapun cinta yang arif sejati adalah sebagaimana cinta Allah kepada hamba-Nya dan cinta Rasulullah
kepada umatnya sehingga yang diinginkan Allah dari hamba-hamba-Nya hanyalah kebaikan,
kesempurnaan dan kemuliaan dengan membenci segala kemungkaran dan kejahatan. (QS. Fathir: 35, Al-
Kahfi: 18).

Seorang muslim tidak mengenal cinta monyet, cinta buta, cinta dusta, cinta palsu dan cinta bodoh. Ia
hanya mengenal cinta suci mulia yang penuh kearifan dan kesadaran yang melahirkan cinta kepada Allah
dan Rasul-Nya dan meletakkan cinta tersebut di atas segala-galanya sebagai tolok ukur cinta lainnya.
Suatu ketika seorang Arab badui menghadap Nabi saw dan menanyakan perihal datangnya kiamat, lalu
beliau balik bertanya: ͞Apa yang telah kau persiapkan?͟ Ia menjawab: ͞Cinta kepada Allah dan Rasul-
Nya͟ Beliau menyahut: ͞Engkau bersama siapa yang kau cintai͟ (HR. Bukhari dan Muslim)

Cinta karena Allah dan benci karena Allah akan menjadi filter, kontrol sekaligus tolok ukur dalam
mencintai segala hal. Dengan demikian cinta yang tulus karena Allah Dzat Maha Abadi inilah yang akan
bertahan abadi sementara cinta yang dilandasi motif lainnya justru yang akan cepat berubah, bersifat
temporer dan akan membuahkan penyesalan. (QS. Az-Zukhruf: 43, Al-Furqan: 25)

c   
   

Tazkiyatun Nufus

9/2/2010 | 23 Shafar 1431 H | Hits: 6.170

Oleh: Dr. Setiawan Budi Utomo

Kirim Print

280Share

0diggsdigg

dakwatuna.com ʹ Cinta karena Allah dan benci karena Allah akan menjadi filter, kontrol sekaligus tolok
ukur dalam mencintai segala hal. Dengan demikian cinta yang tulus karena Allah Dzat Maha Abadi inilah
yang akan bertahan abadi sementara cinta yang dilandasi motif lainnya justru yang akan cepat berubah,
bersifat temporer dan akan membuahkan penyesalan. (QS. Az-Zukhruf: 43, Al-Furqan: 25)
Manajemen cinta mendidik sikap selektif dalam menambatkan dan melabuhkan cinta serta memilih
orang-orang yang masuk dalam kehidupan dirinya. Nabi berpesan: ͞Seseorang akan mengikuti pola
hidup orang dekatnya maka hendaklah kalian mencermati siapa yang ia pergauli.͟ (HR. Ahmad, At-
Turmudzzi dan Baihaqi).

Sabdanya pula: ͞Janganlah engkau berakraban kecuali kepada seorang mukmin dan janganlah
menyantap makananmu kecuali orang yang taqwa.͟ (HR. At-Turmudzi dan Abu Dawud).

Di antara konsekuensi sikap selektif dalam cinta ini adalah sikap arif dalam memilih pasangan hidup.
Nabi saw. bersabda: ͞Seorang wanita dinikahi karena empat hal; hartanya, status sosialnya,
kecantikannya dan agamanya, maka pilihlah yang kuat agamanya niscaya kamu diberkati͟ (HR. Bukhari
dan Muslim).

Sabdanya yang lain: ͞Jika seseorang yang engkau puas dengan kondisi agama dan akhlaqnya melamar
kepadamu maka nikahkanlah ia. Sebab jika tidak kau lakukan maka akan timbul fitnah di muka bumi dan
kerusakan yang dahsyat.͟ (HR. At-Turmudzi)

Demikian pula larangan tegas al-Qur͛an untuk mengambil pasangan hidup dari yang berlainan aqidah
karena ikatan Allah adalah yang paling kuat sementara lainnya adalah rapuh. (QS. Al-Baqarah: 32)

Tatkala pilihan cinta kita sudah tepat maka masih diperlukan pemeliharaan secara proporsional, karena
cinta adalah buah iman dan iman seseorang selalu mengalami fluktuasi dan dinamika seiring dengan
baik buruknya perlakuan dan sikap hidup. Kalau cinta diibaratkan tanaman maka ia memerlukan
siraman, pemupukan, perawatan dan penjagaan secara kontinyu. Cinta yang sudah tepat labuhnya
sekalipun (sefikrah dan sekufu misalnya) dapat redup ataupun mati bila tidak dipelihara.Dalam
pengalaman keseharian seseorang sering mengalami problem cinta dengan pasangan hidupnya dari
merasa tidak dicintai lagi, sudah hambar atau merasa sudah memberikan segalanya namun tidak ada
timbal balik cinta yang pantas dan sebagainya.

John Gray, PhD dalam ͞Men, Women and Relationships͟ memberikan resep manjur agar pasangan
merasa dicintai adalah dengan cara berfikir berlawanan pola dengan apa yang paling ia inginkan sendiri.
Artinya harus berani mengenyampingkan perspektif dan keinginan serta ego diri sendiri namun
sebaliknya mengedepankan apa yang diinginkan pasangan menurut perspektifnya yang tentunya dalam
Islam tanpa melanggar kaidah syariat.

Sementara menurut prinsip membangun rekening emosinya Stephen R. Covey dalam ͞The 7 Habits of
Highly Effective Families͟ Cinta diibaratkan rekening bank emosi yang tentunya memerlukan saldo
minimum agar tidak ditutup yang berarti permusuhan, perceraian, perpisahan dan perpecahan. Dengan
demikian manajemen cinta dalam hal ini mengajarkan prinsip melakukan penyetoran lebih didahulukan
daripada penarikan dan tidak peduli apapun situasinya, karena selalu ada hal-hal yang dapat kita
lakukan yang akan membuat hubungan cinta menjadi lebih baik. Bukankah Nabi saw juga berpesan:
͞Janganlah engkau remehkan suatu kebaikan pun meskipun hanya memberikan senyuman kepada
saudaramu.͟ Sikap mengesalkan dan menyebalkan bagi orang-orang sekeliling kita janganlah dipelihara
dan dibiasakan sebab itu berarti penarikan beruntun rekening emosi yang dengan semakin menipisnya
emosi simpati sebagai salah satu modal saling mencintai akan berakibat fatal. Namun sayang hal ini
justru sering diremehkan.

Sebaliknya kita perlu banyak dan sesering mungkin menaburkan rabuk tanaman cinta dan mengisi bank
emosi cinta di antaranya dengan beberapa hal-hal positif berikut sebagaimana dikemukakan oleh Imam
Ibnu Qayyim Al-Jauzziyah dalam ͞Raudhah Al-Muhibbin͟ sebagai bukti cinta kepada siapa pun yang kita
cintai:

1. Sesering mungkin kontak mata yang penuh keteduhan dan kedamaian sebagai magnet cinta antar
orang-orang yang kita kasihi.

2. Melakukan seni mengingat kekasih, menghargai dan menyebutnya sesuai kesukaannya secara baik.

3. Mengikuti keinginan orang yang kita kasihi tanpa melanggar kaidah syariat

4. Bersabar menghadapi sikap dan perlakuan orang yang dicintai.

5. Menunjukkan perhatian dan bersedia menyimak curahan hati kekasih.


6. Berusaha mencintai dan menyenangi apapun yang dicintai dan disenangi kekasih

7. Merasakan ringan resiko perjalanan menuju dan bersama kekasih tanpa keluh kesah

8. memberikan kepedulian dan kecemburuan yang wajar dan proporsional kepada kekasih

9. Rela berkorban demi kekasih dan menjadikan pengorbanannya sebagai pemikat hati

10. Membenci dan memusuhi apa yang tidak disukai kekasih sebagai bentuk konsekuensi wala͛ dan
bara͛ dalam cinta.

Skala prioritas cinta adalah hal yang niscaya dan semestinya diimplementasikan dalam manajemen cinta
agar tidak bertabrakan dan memberantakkan hubungan, karena dalam hidup banyak hal yang harus dan
secara fitrah kita cintai (QS. Ali Imran: 14). Hal itu tentunya akan berjalan baik dengan saling
memberikan pengertian secara bersama dan arif bijaksana sehingga tidak terjadi salah paham dan
kecemburuan yang tidak pada tempatnya. Sebagai ilustrasi ada baiknya kita sebutkan model prioritas
cinta yang pertama adalah cinta Allah dan Rasul-Nya yang berarti cinta Islam, aqidah, syariat dan jihad fi
sabilillah di atas segala-galanya.Kemudian cinta kepada orang tua bagi anak lelaki dan bagi wanita yang
belum menikah adapun wanita yang sudah menikah kepada suami baru kepada orang tua.Lalu kepada
istri dan anak bagi lelaki dan seterusnya yang lebih bersifat materi, fasilitas fisik dan civil efek serta
pengakuan ataupun aktualisasi diri dalam konteks hubungan sosial.

Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Allah memberikan rahmat dengan membukakan pintu goa yang
tertutup bagi seorang suami yang biasa menyimpan susu untuk diminumkan kepada orang tuanya
sebelum anak dan istrinya dan rela menahan diri dan keluarganya untuk meminumnya sebelum orang
tuanya. Sebaliknya Allah mengampuni dosa orang tua yang meninggal dunia karena ketaatan istri
kepada suami untuk tidak keluar rumah selama kepergiannya tanpa seizinnya sampai akhirnya orang
tuanya meninggal dunia dan ia tidak sempat menjenguk. Dengan keikhlasan masing-masing pihak untuk
menerima jatah cinta dan kasih sayang untuknya sebagaimana mestinya yang Allah dan Rasul-Nya
tetapkan akan membawa keberkatan cinta itu sendiri.

Hal lain yang tidak boleh dilupakan dalam manajemen cinta yang terkait dengan skala prioritas
perhatian adalah situasi, kondisi dan peran yang diamanahkan Allah dalam hidupnya dapat menjadi
pertimbangan sendiri. Sebagai contoh seseorang yang seharusnya pergi berjihad namun memiliki orang
tua yang tidak ada yang merawatnya kecuali dirinya atau seorang ibu yang harus merawat anaknya dan
tidak ada orang lain yang menggantikannya maka Rasulullah saw justru mewajibkan padanya untuk
merawat keluarganya dan melarangnya untuk ikut berjihad. Namun sebaliknya jika potensi dan
perannya dibutuhkan dalam dakwah dan jihad sementara ada elemen pendukung lain yang
menggantikan peran cintanya untuk selain jihad dan ia enggan memberikan bukti cintanya kepada Allah
dan rasul-Nya serta jihad di jalan-Nya maka Allah mengancamnya dengan kemurkaan-Nya. (QS. At-
Taubah: 9).

Wallahu A͛lam Wa Billahit Taufiq wal Hidayah