Anda di halaman 1dari 43

BAB 6 RANGKAIAN KUTUB EMPAT

6.1 Pendahuluan

Sepasang terminal yang dilalui oleh arus (menuju atau meninggalkan terminal disebut sebagai rangkaian kutub dua (misalnya pada resistor, induktor dan kapasitor).

kutub dua (misalnya pada resistor, induktor dan kapasitor). Gambar 6.1 Rangkaian kutub dua Rangakaian kutub empat

Gambar 6.1 Rangkaian kutub dua

Rangakaian kutub empat (K-4) adalah suatu rangkaian yang memiliki sepasang terminal pada sisi input dan sepasang terminal pada sisi output (transistor, op amp, transformator dan lainnya)

sisi output (transistor, op amp, transformator dan lainnya) Gambar 6.2 Rangkaian kutub empat Adapun teori rangkaian

Gambar 6.2 Rangkaian kutub empat

Adapun teori rangkaian kutub empat (K-4) ini banyak dipergunakan pada jaringan (network) yang dipergunakan dalam sistem komunikasi, sistem kontrol, sistem daya (power system) dan rangkaian elektronik ( model-model transistor). Pada rangkaian kutub empat ini diperlukan hubungan antara V 1 , V 2 , I 1 dan I 2 yang saling independent, dimana berbagai macam hubungan antara tegangan dan arus disebut sebagai parameter. Selanjutnya juga akan diperlihatkan hubungan antara parameter-parameter dan bagaimana pula hubungan antara kutub empat (seri, parallel dan kaskade).

123

6.2 Parameter Impedansi “z”

Parameter impedansi “z” ini pada umumnya banyak dipergunakan dalam sintesa

filter, dan juga dalam penganalisaan jaringan impedance matching dan juga pada

distribusi sistem tenaga.

Rangkaian kutub empat ada dengan sumber-sumber tegangan ataupun sumber-

sumber arus.

(a) (b)
(a)
(b)

Gambar 6.3 (a) Rangkaian kutub empat dengan sumber tegangan ; (b) Rangkaian kutub empat dengan sumber arus

Adapun bentuk hubungan tegangan dalam parameter impedansi ‘z’ ini adalah :

dalam bentuk matrik :

dengan :

 

z

V

V

1

2

z

11

I

1

z

21

I

1

V

1

V

2

z

z

11

21

z

z

11

21

z

z

12

22

z

12

I

z

22

2

I

2

z

z

12

22

  I

I

 

 

1

2

z

11

.z

22

z

12

.z

21

(6.1)

(6.2)

dimana z ini disebut sebagai determinan impedansi dari parameter “z”.

Adapun “z” disebut sebagai parameter impedansi atau sering juga disebut dengan

parameter “z” yang satuannya dalam ohm.

Untuk menentukan harga-harga dari parameter “z” ini dapat dilakukan dengan

membuat / mengatur besaran I 1 = 0 ataupun I 2 = 0.

124

Untuk mendapatkan z 12 dan z 22 hubungkan tegangan V 2 (ataupun sumber arus I 2 )

pada terminal 2 dengan terminal 1 terbuka (atau I 1 = 0), maka diperoleh :

v 1 z  12 I 2 I 1  0 v 2 z 
v
1
z
12
I
2
I
1  0
v
2
z
22
I
2
I
1  0

Gambar 6.4 Rangkaian untuk menentukan parameter-parameter z 12 dan z 22

Sehingga :

z

z

12

22

v  1   I 2  I  0 1  v 
v
1
 
I
2
I
0
1
v
2
 
I
2
I
0
1

(6.3)

Untuk mendapatkan z 11 dan z 21 , pasangkan tegangan V 1 (ataupun sumber arus I 1 )

pada terminal 1 dengan terminal 2 dibuka (atau I 2 = 0) maka diperoleh :

v 1 z  11 I 1 I  0 2 v 2 z 
v
1
z
11
I 1 I
0
2
v
2
z
21
I 1 I
0
2

Gambar 6.5 Rangkaian untuk menentukan parameter-parameter z 11 dan z 21

Sehingga :

z

z

11

21

v 1 I 1 I  0 2 v 2 I 1 I  0
v
1
I 1 I
 0
2
v
2
I 1 I
 0
2



(6.4)

Karena parameter “z” diperoleh dengan membuka (open) terminal input ataupun

output maka parameter ini sering juga disebut dengan parameter-parameter impedansi

rangkaian terbuka (open circuit impedance parameters), dan selanjutnya :

125

z

z

z

z

11

12

21

22

=

=

=

=

disebut impedansi input rangkaian terbuka (open circuit input impedance) disebut transfer impedansi rangkaian terbuka dari terminal 1 ke terminal 2. (open circuit transfer impedance from port 1 to port 2) disebut transfer impedansi rangkaian terbuka dari terminal 2 ke terminal 1. (open circuit transfer impedance from port 2 to port 1) disebut impedansi output rangkaian terbuka (open circuit output impedance)

transfer impedance from port 2 to port 1 ) disebut impedansi output rangkaian terbuka ( open
transfer impedance from port 2 to port 1 ) disebut impedansi output rangkaian terbuka ( open
transfer impedance from port 2 to port 1 ) disebut impedansi output rangkaian terbuka ( open

Terkadang z 11 dan z 22 disebut juga sebagai driving point impedances, sedangkan z 21 dan z 12 disebut juga transfer impedances. Suatu driving point impedance adalah impedansi input dari suatu terminal peralatan, sehingga z 11 adalah input driving point impedance dengan terminal output terbuka, sedangakan z 22 adalah output driving point impedance dengan terminal input terbuka. Bilamana z 11 = z 22 , maka rangkaian kutub empat (K-4) disebut simetris, selanjutnya bilamana rangkaian kutub empat adalah linier dan tidak memiliki sumber dependent maka impedansi transfer adalah sama (z 12 = z 21 ), maka rangkaian kutub empat disebut resiprokal (reciprocal) dan ini berarti bilamana titik (terminal) eksitas dan respons saling dipertukarkan maka transfer impedansi akan tetap sama. Sebagai ilustrasi dapat dilihat pada gambar berikut ini :

(a)
(a)

(b)

Gambar 6.6 Rangkaian resiprokal (a) ammeter di terminal kiri ; (b) ammeter di terminal kanan

126

Rangkaian kutub empat di atas (Gambar 6.6.a) dengan sumber tegangan ideal V dan sebuah ammeter ideal A dengan membaca arus I, maka besar V adalah V = z 12 .I, kemudian sumber V dan ammeter A dipertukarkan posisinya (Gambar 6.6.b), maka besar V = z 21 .I, hal ini hanya bisa terjadi bilamana z 12 = z 21 . Selanjutnya suatu rangkaian kutub empat yang bersifat resiprokal dapat digantikan dengan rangkaian ekivalen dengan hubungan T.

digantikan dengan rangkaian ekivalen dengan hubungan T. Gambar 6.7 Rangkaian ekivalen parameter “z” yang

Gambar 6.7 Rangkaian ekivalen parameter “z” yang bersifat resiprokal

Untuk rangkaian kutub empat dengan parameter “z” secara umum rangkaian ekivalennya adalah sebagai berikut :

secara umum rangkaian ekivalennya adalah sebagai berikut : Gambar 6.8 Bentuk umum rangkaian ekivalen parameter “z”

Gambar 6.8 Bentuk umum rangkaian ekivalen parameter “z”

Pada beberapa rangkaian terkadang tidak dapat dicari parameter “z” dari rangkaian kutub empat-nya, hal ini disebabkan tidak dapat dibuat persamaan rangkaian kutub empat-nya sebagaimana seperti Persamaan (6.1), misalnya seperti pada transformator ideal yang rangkiannya seperti berikut :

pada transformator ideal yang rangkiannya seperti berikut : Gambar 6.9 Transformator ideal tidak memiliki parameter

Gambar 6.9 Transformator ideal tidak memiliki parameter “z”

127

Adapun persamaan kutub empat untuk rangkaian transformator ideal Gambar 6.9,

adalah :

V

I

1

1

1

.V

2

2

n



n.I

(5)

maka terlihat tidak mungkin mengekspresikan tegangan bila ditinjau dari arus dan

demikian pula sebaliknya, sehingga untuk kutub empat transformator ideal parameter “z”

tidak ada.

Contoh :

Carilah parameter “z” dari rangkaian di bawah ini :

: Carilah parameter “z” dari rangkaian di bawah ini : Jawab : Untuk mendapatkan z 1

Jawab :

Untuk mendapatkan z 11 dan z 21 , maka pasangkan sumber tegangan V 1 pada

terminal input dan terminal output terbuka.

V 1 pada terminal input dan terminal output terbuka. z z 11 21   v

z

z

11

21

v 1 I 1 I  0 2 v 2 I 1 I  0
v
1
I
1
I
0
2
v
2
I
1
I
0
2

(R 1

R

3

).I

1

I

1

(R

1

R

3

.I

1

40.I

1

I

1 I

1

40

R

3

)

20

40

60

Untuk mencari z 12 dan z 22 , maka V 1 dibuka dan sumber tegangan V 2 dipasangkan

pada terminal output, sehingga rangkaian menjadi :

128

z z 12 22   I 2 I 1 v 2 I 2 I

z

z

12

22

I 2 I 1 v 2 I 2 I 1
I 2 I
1
v 2
I 2
I
1

0

0

v 1 R

3

.I

2

I

2

R

3

40

(R

2

R

3

).I

2

I 2

2

(R

R

3

)

30

40

70

Catatan

:

Terlihat hasil perhitungan z 12 = z 21 , maka kutub empat di atas adalah

simetris.

6.3 Parameter Admitansi “y”

Parameter admitansi “y” juga pada umumnya banyak dipergunakan dalam sitesa

filter, perencanaan penganalisaan matching network dan distrubusi sitem tenaga.

Parameter “y”, memperlihatkan arus-arus yang dinyatakan oleh tegangan terminal

dengan persamaan sebagai berikut :

I

I

1

2

y

11

V

1

y

21

V

1

y

12

V

2

y

22

V

2

(6.6)

maka y 11 ; y 12 ; y 21 ; y 22 inilah yang disebut sebagai parameter-parameter admitansi “y”

dari kutub empat suatu rangkaian yang satuannya siemen [S], dan kalau disusun dalam

bentuk matrik adalah :

dimana dalam hal ini :

 

y

I

2

1

I

y

y

11

21

y

y

11

21

12

22

y

y

y   V

2

y

 

 

12

22

1

V

y

11

.y

22

y

12

.y

21

(6.7)

yang mana y disebut sebagai determinan admitansi dari parameter “y”.

129

Untuk mendapatkan parameter-parameter “y” ini dapat dilakukan dengan

membuat

V 1 = 0 ataupun V 2 = 0.

Untuk mendapatkan y 11 dan y 21 pasang sumber arus I 1 pada terminal input

sedangkan terminal output dihubung singkat (V 2 = 0).

sedangkan terminal output dihubung singkat (V 2 = 0).       y 11   
 
 
 
   
y 11   
y 11   

y

11

 
 

V

2

0

  V 2  0
  V 2  0
 

 
 

y

21

 
 

V

2

0

    y 21     V 2  0 Gambar 6.10 Rangkaian untuk menentukan y

Gambar 6.10 Rangkaian untuk menentukan y 11 dan y 21

Secara matematis dituliskan dengan :

y

y

11

21

I 1 V 1 V 2 V 2
I
1
V
1
V
2
V
2

0

0

(6.8)

(6.9)

Untuk mendapatkan y 12 dan y 22 , terminal input dihubung singkat (V 1 = 0)

   
 
   
 
 

V

 
 

y

12

  y 12     
  y 12     
   
  1  0
  1  0
 

1

0

  1  0
 

     
 

y

22

V

2

V

1

0

 
  y 22 V 2 V 1  0   Gambar 6.11 Rangkaian untuk menentukan y

Gambar 6.11 Rangkaian untuk menentukan y 12 dan y 22

Maka secara matematis dapat dituliskan :

y

y

12

22

V

1

V

1

0

0

(6.10)

(6.11)

130

Karena parameter “y” ini diperoleh dengan melakukan hubung singkat pada terminal input maupun pada terminal output, maka parameter ini sering juga disebut dengan parameter-parameter admitansi rangkaian hubung singkat (short-circuit admitance parameters), dimana :

y 11

y 12

y 21

y 22

= disebut sebagai admitansi input rangkaian hubung singkat. (short circuit input admitance) = disebut sebagai transfer admitansi rangkaian hubung singkat dari terminal 2 ke terminal 1.(short circuit transfer admitance from port 2 to port 1) = disebut sebagai transfer admitansi rangkaian hubung singkat dari terminal 1 ke terminal 2.(short circuit transfer admitance from port 1 to port 2) = disebut sebagai admitansi output rangkaian hubung singkat (short circuit output admitance)

Selanjutnya y 11 dan y 22 sering juga disebut sebagai driving point admitance sedangkan y 12 dan y 21 disebut sebagai transfer admitance. Suatu driving point admitance adalah admitansi input suatu terminal peralatan, sehingga y 11 adalah admitansi input dengan terminal output terhubung singkat, dan y 22 adalah admitansi output dengan terminal input terhubung singkat. Untuk rangkaian kutub empat yang linier dan tidak mengandung sumber-sumber dependent didalamnya, maka transfer admitansi y 12 = y 21 , dan dalam kondisi ini disebut rangkaian adalah resiprokal (lihat parameter z). Untuk kutub empat parameter “y” yang resiprokal, maka rangkaian ekivalennya (khusus yang resiprokal) merupakan rangkaian П.

I 1

I 2

  -y 11  
 

-y 11

 
  -y 11  
       

+

     

+

V

1

y 11 + y 12

 

y 22 + y 12

V

2

-
-
   
-
-

Gambar 6.12 Bentuk Rangkaian П sebagai ekivalen untuk parameter “y” yang resiprokal

131

dan untuk kutub empat untuk parameter “y” pada umumnya rangkaian ekivalennya adalah sebagai berikut :

pada umumnya rangkaian ekivalennya adalah sebagai berikut : Gambar 6.13 Rangkaian ekivalen untuk parameter “y”

Gambar 6.13 Rangkaian ekivalen untuk parameter “y” secara umum

Contoh :

Hitunglah parameter-parameter “y” dari rangkaian di bawah ini :

parameter-parameter “y” dari rangkaian di bawah ini : Jawab : Untuk mencari y 1 1 dan

Jawab :

Untuk mencari y 11 dan y 21 maka hubung singkat terminal output dan pasangkan sumber arus I 1 pada terminal input.

dan pasangkan sumber arus I 1 pada terminal input. dari rangkaian terlihat bahwa R 1 paralel

dari rangkaian terlihat bahwa R 1 paralel dengan R 2 atau :

R

1

.R

2

4.2

4

R p1

  

R

V

1

1

R

2

I .R

1

p1

4

4

3

2

I

1

3

maka :

sehingga menurut Persamaan (6.8) :

132

y

11

y 11  V 2  0 dengan pembagian arus : R 1  I 2

V

2

0

dengan pembagian arus :

R

1

I

2

R

maka Persamaan (6.9) :

1

R

2

x I

1

4

4

2

I

1

I

1

3

V

1

4

3

I

1

4

x I

1

2

3

I atau

1

S

y

21

  V 1 4 3 I 1 4 x I 1  2 3 I

V

2

0

2

3

I

1

4

3

I

1



1

2

S

I

2



2

3

I

1

Untuk mendapatkan y 12 dan y 22 maka hubung singkat terminal input dan pasangkan

sumber arus I 2 pada terminal output.

R 1 = 4 Ω R 3 = 8 Ω
R 1 = 4 Ω
R 3 = 8 Ω

Dari rangkaian terlihat bahwa R 2 paralel R 3 sehingga :

R p2

R

2

.R

3

R

2

R

3

2.8

8

2

8

5

sehingga :

maka menurut Persamaan (6.11) :

y

22

dengan pembagian arus :

V

2

I 2 V 2
I
2
V
2

I

2

.R

p2

8

5

I

2

I

2

I

2

5

V

V 1 I

8

0

2

5

2

8

I

1

R

3

R

2

R

3

x I

2

8 I

8

2

x

2

4

5

I

2

atau

maka menurut Persamaan (6.10) :

S

I

1



4

5

I

2

133

y

12

V V

1

0

4 I

5

2

8

5

I 2



1

2

S



1

S

2

, maka rangkaian merupakan rangkaian yang resiprokal,

y

12

y

21

ternyata

dimana kalau digambarkan rangkaian ekivelennya (khusus resiprokal) adalah :

3  S 4 3 1 1 5 1 1 y  y  
3
S
4
3
1
1
5
1 1
y
y
S
y
y
S
11
12
22
12
4
2
4
8
2 8

Rangkaian ekivalen secara umum :

12 22 12 4 2 4 8 2 8 Rangkaian ekivalen secara umum : 6.4 Parameter

6.4 Parameter “h”

Parameter “h” ini sering juga disebut dengan parameter Hibrid (Hybrid parameters), parameter ini mengandung sifat-sifat dari parameter “z” dan “y”. Pada sistem parameter “h” ini tegangan input dan arus output dinyatakan/ditinjau dari arus input dan tegangan output. Adapun bentuk persamaan dari parameter “h” ini adalah :

dalam bentuk matrik :

V

1

h

11

I

2 h

21

I

I

1

1

h

h

12

V

2

22

V

2

(6.12)

(6.13)

134

dengan :

 

h

V

1

I

2

h

h

11

21

h

h

11

21

h

h

12

22

h

h

h

11

12

22

.h

  I  

V

1

2

22

h

12

.h

21

(6.14)

(6.15)

dimana h ini disebut sebagai determinan dari parameter “h”.

Untuk mendapatkan h 11 dan h 21 hubungkan sumber arus/tegangan pada input

sedangkan terminal output dihubung singkat.

pada input sedangkan terminal output dihubung singkat. h   V 1   11     
h   V 1  

h

 

V

1

 
h   V 1  

11

 
    I 1  
   

I

1

 
  V 0
  V 0
 

V

0

  V 0
  V 0
I 2 I 1
I
2
I
1
 

2

h

21

 
   
 

V

2

0

         V 2  0 Gambar 6.14 Rangkaian untuk mencari h 1

Gambar 6.14 Rangkaian untuk mencari h 11 dan h 21

Secara matematis dituliskan dengan :

h

h

11

21

2 1 Secara matematis dituliskan dengan : h h 11 21   V 2 

2 1 Secara matematis dituliskan dengan : h h 11 21   V 2 

V

2

0

V

2

0

(6.16)

(6.17)

Selanjutnya untuk mendapatkan h 12 dan h 22 hubungkan sumber arus/tegangan pada

terminal output sedangkan terminal input dibuka.

  V    
  V    
 

V

   
  V    

h

 

1

 

12

 
   

V

 
    V  
  2 I 0
  2 I 0
 

2

I

0

  2 I 0
  2 I 0

1

I 2 V 2 I 1
I
2
V
2
I
1

h

22

   
 

0

 h 22         0 Gambar 6.15 Rangkaian untuk mencari h 1
 h 22         0 Gambar 6.15 Rangkaian untuk mencari h 1

Gambar 6.15 Rangkaian untuk mencari h 12 dan h 22

maka secara matematis dituliskan dengan :

135

h

h

h

h

11

12

21

22

h

h

12

22

V 1 V 2 I  0 1 I 2 V 2 I  0
V
1
V
2
I
 0
1
I
2
V
2
I
 0
1

=

=

=

=

disebut sebagai impedansi input hubung singkat. (short circuit input impedance) disebut sebagai penguat tegangan balik rangkaian terbuka. (open circuit reverse voltage gain) disebut penguat arus maju rangkaian hubung singkat (short circuit forward current gain) disebut sebagai admitansi output rangkaian terbuka (short circuit output admitance)

short circuit forward current gain ) disebut sebagai admitansi output rangkaian terbuka ( short circuit output
short circuit forward current gain ) disebut sebagai admitansi output rangkaian terbuka ( short circuit output
short circuit forward current gain ) disebut sebagai admitansi output rangkaian terbuka ( short circuit output

(6.18)

(6.19)

dan apabila h 12 = -h 21 maka rangkaian kutub empat disebut sebagai rangkaian kutub empat yang resiprokal. Selanjutnya untuk parameter “h” ini rangkaian ekivalennya adalah :

untuk parameter “h” ini rangkaian ekivalennya adalah : Gambar 6.16 Bentuk ekivalen dari parameter ‘h” Contoh

Gambar 6.16 Bentuk ekivalen dari parameter ‘h”

Contoh :

Hitunglah parameter-parameter “h” dari rangkaian di bawah ini :

Bentuk ekivalen dari parameter ‘h” Contoh : Hitunglah parameter-parameter “h” dari rangkaian di bawah ini :

136

Jawab :

Untuk mencari h 11 dan h 21 , maka hubung singkat terminal output dan pasangkan sumber arus I 1 pada terminal input.

dan pasangkan sumber arus I 1 pada terminal input. dari rangkaian ini terlihat bahwa : 

dari rangkaian ini terlihat bahwa :

R p1

R 2 paralel dengan R 3

Rp 1 seri dengan R 1 R

s1

R

R

2

.R

3

6 x3

R

2

R

3

6

3

2

1

R

p1

2 2 4

Maka rangakain pengganti :

2  2  4  Maka rangakain pengganti : maka : dengan demikian : dengan
2  2  4  Maka rangakain pengganti : maka : dengan demikian : dengan
2  2  4  Maka rangakain pengganti : maka : dengan demikian : dengan
2  2  4  Maka rangakain pengganti : maka : dengan demikian : dengan

maka :

dengan demikian :

dengan pembagian arus :

h

11

V

1

R

s1

demikian : dengan pembagian arus : h 11  V 1  R s1 V 2

V

2

0

.I

1

4.I

4I

1

I

1

4

1

demikian : dengan pembagian arus : h 11  V 1  R s1 V 2

maka :

137

 

atau :

sehingga :

 

h

I

2

21

R

2

.I

1

R

2

R

3

I 

2

  h I 2 21   R 2 .I 1 R 2  R 3

V

2

0

6.I

1

2

2

3

6

3

3

I

1

2

.I

1

3



I

1

2

I 1 3

Selanjutnya untuk mencari h 12 dan h 22 , maka terminal input dibuka dan pasangkan sumber tegangan V 2 pada terminal output.

dan pasangkan sumber tegangan V 2 pada terminal output. maka menurut rangkaian pembagi tegangan : sehingga

maka menurut rangkaian pembagi tegangan :

sehingga :

sedangkan :

maka :

V

1

V 2

R

2

R

2

R

3

.V

2

6

6

3

.V

2

2 .V

3 2

h

12

2

3

.V

2

V 1 V 2 I 1
V
1
V
2
I
1

2

 

0

V

2

3

R

2

R

3

.I

2

6 3 .I

2

9.I

h

22

I 2 V 2
I
2
V
2

 

I

1

0

I

2

1

2 9

9.I

S

2

kalau digambarkan rangkaian ekivalennya :

138

6.5 Parameter “g” Parameter “g” sering juga disebut sebagai kebalikan / invers dari parameter “h”,

6.5 Parameter “g”

Parameter “g” sering juga disebut sebagai kebalikan / invers dari parameter “h”,

dimana dalam parameter “g” ini, arus input dan tegangan output dinyatakan /ditinjau dari

tegangan input dan arus output. Adapun bentuk persamaan parameter “g” ini adalah :

I

1

V

g

11

V

1

g

12

I

2

2

g

21

V

1

g

22

I

2

(6.20)

(6.21)

dalam bentuk matrik Persamaan (6.20) dan (6.21) adalah sebagai berikut :

dengan :

 

g

I

1

2

V

g

g

11

21

g

g

g

g

12

22

11

21

g

g   V

 

g

12

22

1

I

2

11

.g

22

g

12

.g

21

(6.22)

(6.23)

dimana g ini disebut sebagai determinan dari parameter “g”.

Untuk mendapatkan g 11 dan g 21 buka terminal output dan pasangkan sumber

tegangan V 1 pada terminal input, seperti terlihat pada gambar di bawah ini :

   I 1  
 

I

1

 
g 11 V 1 I 0  
g 11 V 1 I 0  

g

11

V 1 I

0

 
 

2

V 2 V 1 I
V
2
V
1
I

2

 

g

21

 
 

0

I 2    g 21      0 Gambar 6.17 Rangkaian untuk menentukan harga-harga
I 2    g 21      0 Gambar 6.17 Rangkaian untuk menentukan harga-harga
I 2    g 21      0 Gambar 6.17 Rangkaian untuk menentukan harga-harga
I 2    g 21      0 Gambar 6.17 Rangkaian untuk menentukan harga-harga

Gambar 6.17 Rangkaian untuk menentukan harga-harga g 11 dan g 21

139

Secara matematis dituliskan dengan :

g

g

11

21

dan

I 1 V 1 I  0 2 V 2 V 1 I  0
I
1
V
1
I
 0
2
V
2
V
1
I
 0
2
g 22 ,
hubung

(6.24)

(6.25)

Selanjutnya untuk mendapatkan

hubungkan sumber arus I 2 pada terminal output seperti terlihat pada gambar di bawah

ini :

terminal input dan

g 12

singkat

   I 1    
 

I

1

   
   I 1    
g 12 I 2 V 0    
g 12 I 2 V 0    

g

12

I

2

V

0

g 12 I 2 V 0    
g 12 I 2 V 0    
g 12 I 2 V 0    
   
 

1

V 2 I 2
V
2
I
2

  1 V 2 I 2 

g

22

   
   
 

V

1

0

           V 1  0 Gambar 6.18 Rangkaian untuk menentukan harga-harga

Gambar 6.18 Rangkaian untuk menentukan harga-harga g 12 dan g 22

sehingga secara matematis dituliskan dengan :

g

g

12

22

V  0 1 V 2 I 2 V 1 0 
V
 0
1
V
2
I
2
V 1 0

(6.26)

(6.27)

Pada parameter “g” ini selalu disebut :

=

=

=

g 22 =

g 21

g 12

g 11

admitansi input rangkaian terbuka (open-circuit input admitance)

penguat arus balik rangkaian hubung singkat (short-circuit reverse current gain)

penguat tegangan maju rangkaian terbuka (open-circuit forward voltage gain)

impedansi output rangkaian hubung singkat (short- circuit output impedance)

Adapun rangkaian ekivalen untuk parameter “g” ini diperlihatkan seperti pada Gambar 6.19, di bawah ini :

140

Gambar 6.19 Bentuk ekivalen dari parameter ‘g” Contoh : Carilah parameter “g” dari rangkaian berikut

Gambar 6.19 Bentuk ekivalen dari parameter ‘g”

Contoh :

Carilah parameter “g” dari rangkaian berikut ini :

: Carilah parameter “g” dari rangkaian berikut ini : Jawab : Untuk mencari g 1 1

Jawab :

Untuk mencari g 11 dan g 21 pasang pada sumber tegangan V 1 pada terminal input sedangkan terminal output terbuka.

R 1 = 0,5 Ω R 3 = 0,5 Ω
R 1 = 0,5 Ω
R 3 = 0,5 Ω

dari rangkaian terlihat bahwa :

R 2 seri R 3

R

s1

R R

2

3

10,5 1,5

141

142 maka : sehingga : Dari rangkaian terlihat :   R    R .R

142

maka :

sehingga :

Dari rangkaian terlihat :

 

R

 

R

.R

s1

1

0,5x1,5

0,75

R s1 paralel dengan R 1

maka :

p1

R

1

R

s1

0,5

 

1,5

 

2

I

1 V

V

1

 

R p1

1

2,667.V

0,375

1

sehingga :

 

g

11

  0 2 I

0

2

I

 

2,667.V

V

1

1

2,667 S

 

selanjutnya :

   

I

1

karena :

I

maka : V

2,667.V

1

1

1

 

2,667

0,375.I

 

I

R3

R

R

R

s1

1

1

I

1

1,5

0,5

0,5

I

1

0,25.I

1

     

maka :

 

V 2

I

R3

.R

3

0,25.I .0,5 0,125.I

1

1

sehingga :

 

0,125.I

1

0,333

 
 

21

g

 

 
 
I V V 1 2 2
I
V
V
1
2
2

0

 

0,375.I

1

R 1 = 0,5 Ω R 3 = 0,5 Ω
R 1 = 0,5 Ω
R 3 = 0,5 Ω

kemudian dari rangkaian juga terlihat bahwa R 2 paralel R 3 atau :

Selanjutnya untuk mendapatkan g 12 dan g 22 , maka hubung singkat terminal input, sedangkan pada terminal output dipasangkan sumber arus I 2.

0,375

1

2

2

R2

I

0,333.I

.I

I



1

 0,333

I

0.333.I

2

2

0

V

1

  1  0,333 I  0.333.I 2 2 0 V 1   g

g

12

2

R2

1

0.333.I

I I

2

3

2

3

0,5

1

0,5

.I

R

R

R

maka :

sehingga :

R .R 1x 0,5 2 3 R    0,333 p R  R
R
.R
1x 0,5
2
3
R
0,333
p R
 R
1  0,5
2
3
V
 R
I
 0.333.I
2
p.
2
2
V
0,333I
2
2
g
 
0,333
22
I
I
2
2
V
 0
1

Kalau digambarkan rangkaian ekivalennya :

 0 1   Kalau digambarkan rangkaian ekivalennya : 6.6 Parameter “ABCD” Parameter ini sering

6.6 Parameter “ABCD”

Parameter ini sering juga disebut sebagai parameter transmisi (transmission

parameters). Pada sistem parameter ini, tegangan dan arus input dinyatakan / ditinjau

dari arus dan tegangan output dengan bentuk persamaan :

V

1

I

1

AV

2

CV

2

BI

2

DI

2

(6.28)

(6.29)

bilamanana Persamaan (28) dan (29) disususun dalam bentuk matrik :

V

1

I

1

A

C

B   V

D

2

(6.30)

maka A ; B ; C inilah yang disebut parameter-parameter dari sistem parameter “ABCD”,

yang satuannya dalam sistem [S], dimana :

I

2

ABCD

 

T

A

C

B

D

(6.31)

yang disebut sebagai determinan dari parameter “ABCD”, dimana dalam keadaan

resiprokal berlaku :

AD – BC = 1

(6.32)

; (6.29) ; (6.30)

memberikan suatu ukuran bagaimana suatu rangkaian memberikan tegangan dan arus

Adapun

parameter-parameter

dalam

Persamaan

(6.28)

143

dari suatu sumber ke beban yang digunakan dalam analisa pada jaringan transmisi (kabel dan fiber) karena parameter-parameter ini mengekspresikan variable-variabel pada sisi pengirim (V 1 dan I 1 ) yang dipandang dari veriabel-variabel sisi penerima (V 2 dan -I 2 ). Oleh karena hal ini parameter “ABCD” sering juga disebut sebagai parameter transmisi yang banyak dipergunakan dalam perencanaan sistem telepon, microwave dan radar. Persamaan (6.28) dan (6.29) menyatakan hubungan antara variable-variabel input (V 1 dan I 1 ) dengan variable-variabel output (V 2 dan -I 2 ), maka sewaktu menghitung parameter-parameter “ABCD” lebih baik menggunakan tanda aljabar -I 2 daripada I 2 , hal ini disebabkan karena arus I 2 yang sebenarnya adalah meninggalkan rangkaian.

 

I

1

-I 2

  I 1 -I 2   +     + V 1 V 2 - -
  I 1 -I 2   +     + V 1 V 2 - -
 

+

   

+

V

1

V

2

-
-
- +
-
+
   

Gambar 6.20 Variabel terminal dalam parameter ABCD

Untuk menetukan A dan C, maka buka terminal output dan pasangkan sumber tegangan V 1 pada terminal input seperti tergambar pada Gambar 6.21. di bawah ini :

I 1 A  V 2 I  0 2 V 1 C  V
I
1
A
V
2
I
 0
2
V
1
C
V
2
I
 0
2

Gambar 6.21. Rangkaian untuk menentuka A dan C dari parameter “ABCD”

Sehingga :

A

I 1 V 2
I
1
V
2

I

2

0

C

V 1 V 2 I 2
V
1
V
2
I
2

0

(6.33)

(6.34)

Sedangkan untuk mendapatkan B dan D, hubung singkat terminal output dan pasangakan sumber tegangan V 1 pada terminal input seperti terlihat pada Gambar 6.22.

144

V 1 B  V 2 V  0 2 I 1 D  I
V
1
B

V
2
V
0
2
I
1
D

I
2
V
0
2

Gambar 6.22 Rangkaian untuk menentukan B dan D pada parameter “ABCD”

Secara matematis ditulis :

B



V 1 V 2
V
1
V
2

V

2

 
 

0

D



I 1 I 2
I
1
I
2

V

2

0

 

(6.35)

(6.36)

dimana parameter-parameter :

A sering disebut sebagai perbandingan tegangan rangkaian terbuka (open-circuit voltage ratio)

B sering disebut sebagai transfer impedansi negatif rangkaian hubung singkat.

C sering disebut sebagai transfer admitansi rangkaian terbuka (open-circuit transfer adimtance)

D sering disebut sebagai perbandingan arus negatif rangkaian hubung singkat (negative short-circuit ratio)

=

=

=

=

Contoh :

Carilah parameter “ABCD” dari rangkaian di bawah ini :

: Carilah parameter “ABCD” dari rangkaian di bawah ini : Jawab : Untuk menghitung A dan

Jawab :

Untuk menghitung A dan C, pasangkan sumber tegangan V 1 pada terminal input sedangkan terminal output dibuka seperti rangkaian di bawah ini :

145

R 1 = 0,5 Ω R 3 = 0,5 Ω
R 1 = 0,5 Ω
R 3 = 0,5 Ω

dari rangkaian di atas terlihat bahwa :

sehingga :

I

I

R

R

1

3

dengan demikian :

Dari (**) diperoleh :

sehingga :

R  R 1  0,5 2 3  .I  .I  1 R
R
R
1
0,5
2
3
.I
 .I
1
R
 R
R
1 1
0,5
0,5
1
2
3
R
0,5
1
.I
.I
1
1
R
 R
R
0,5
1
0,5
1
2
3
V
 R
.I
0,5x 0,75.I
0,375.I
1
1
R
1
1
1
V
 R
.I
0,5x 0,25.I
0,125.I
2
3
R
1
1
3
V
0,375.I
1
1
A 
 3
V
0,125.I
2
1
I
 0
2
V
2
I 1 
 8.V
2
0,125
I
8.V
1
2
C 
 8 S
V
V
2
2
I
 0
2

0,75.I

0,25.I

1

1

(*)

(**)

Amp

Amp

Untuk mencari B dan D, maka terminal output dihubung singkat, sedangkan V 1 dipasangkan pada terminal input.

R 1 = 0,5 Ω R 3 = 0,5 Ω
R 1 = 0,5 Ω
R 3 = 0,5 Ω

sehingga rangkaian ekivalennya menjadi :

146

maka :

maka :     V 1   R 2     V 1 R 1 sehingga
maka :     V 1   R 2     V 1 R 1 sehingga
maka :     V 1   R 2     V 1 R 1 sehingga
maka :     V 1   R 2     V 1 R 1 sehingga
   

V

1

    V 1
 
  R 2
  R 2

R

2

   
V 1 R 1
V 1 R 1
V
1
R
1
V 1 R 1
V 1   R 2     V 1 R 1 sehingga : selanjutnya terlihat :
V 1   R 2     V 1 R 1 sehingga : selanjutnya terlihat :

sehingga :

selanjutnya terlihat :

V

1

R

2

x (I ) 1.(I ) I

2

2

B 

V 1 I 2
V
1
I
2

V

2

0



I

2

I

2

 

1

2

I

1

V

1

V

1

V 1

R

1 R

2 0,5

V 1

1

dari (***) yang di dapat, maka :

3.V

1

sehingga :

6.7 Parameter “abcd”

I 1

3.V 3x(I ) 3.I

1

2

2

D 

I 1 I 2
I
1
I
2

V

2

0

3.I

2

I

2

3

(***)

Adapun parameter rangkaian kutub empat yang terakhir dikenal dengan

parameter “abcd”, yang mana parameter ini disebut sebagai inverse dari parameter

“ABCD”. Pada parameter “abcd” ini tegangan dan arus outputnya dinyatakan dalam

tegangan dan arus input yang persamaannya berbentuk sebagai berikut :

V

2

I

2

aV

cV

1

1

 

(6.37)

(6.38)

1

1

(6.39)

a.d

b.c

 

(6.40)

dI

1

1

b   V

d

 

 

I

a b

c d

bI

yang dalam bentuk matrik dituliskan dengan :

V

2

I

2

a

c

yang diterminan dinyatakan dengan :

abcd

 

t

147

dan bilamana kutub empat ini bersifat resiprokal, maka berlaku :

a.d – b.c = 1

(6.41)

Selanjutnya untuk menghitung a dan c, maka terminal input dibuka sedangkan pada terminal output dipasangkan sumber tegangan V 2 , yang rangkaiannya terlihat pada Gambar 6.23 di bawah ini :

V 2 a  V 1 I  0 1 I 2 c  V
V
2
a
V
1
I
0
1
I
2
c
V
1
I
0
1

Gambar 6.23 Rangkaian untuk menentuka a dan c dari parameter “abcd”

Secara matematis dituliskan dengan :

a

V 2 V 1
V
2
V
1

I

1

0

c

I 2 V 1 I 1
I
2
V
1
I
1

0

(6.42)

(6.43)

Selanjutnya untuk mencari b dan d, hubung singkat terminal input dan pasang sumber tegangan V 2 pada terminal output, yang rangkaiannya seperti Gambar 6.24 di bawah ini :

V 2 b  I 0 1 V  1 I 2 d  I
V
2
b

I 0
1 V
1
I
2
d

I
1
V
0
1

Gambar 6.24 Rangkaian untuk menentukan b dan d pada parameter “abcd”

Secara matematis dituliskan dengan :

b 

V 2 I 1
V
2
I
1

V

1

0

(6.44)

148

d 

d  V 1  0 (6.45) dimana parameter-parameter : a disebut sebagai penguat tegangan rangkaian

V

1

0

(6.45)

dimana parameter-parameter :

a disebut sebagai penguat tegangan rangkaian terbuka (open-circuit voltage gain)

b disebut sebagai negative impedansi transfer rangkaian hubung singkat. (negative short-circuit transfer impedance)

c transfer admitansi rangkaian terbuka (open-circuit transfer adimtance)

d penguat arus negatif rangkaian hubung singkat (negative short-circuit gain)

=

=

=

=

Contoh :

Carilah parameter “abcd” dari rangkaian di bawah ini :

: Carilah parameter “abcd” dari rangkaian di bawah ini : Jawab : Untuk mencari a dan

Jawab :

Untuk mencari a dan c, pasangkan sumber tegangan V 2 pada terminal output dan buka terminal input seperti rangkaian di bawah ini :

R 1 = 0,5 Ω R 3 = 0,5 Ω
R 1 = 0,5 Ω
R 3 = 0,5 Ω

dari rangkaian dapat dihitung :

maka :

sehingga :

I

4

V

1

V

2

V

2

2

R

1

R

2

0,5

1

3

I

4

x R

1

2.V

2

3

x0,5

V

2

Amp

V 2

3

149

maka :

dari rangkaian juga terlihat :

sehingga :

maka :

I

2

I

3

V 2 V 1  3 V V 2 2 a    3
V
2
V 1 
3
V
V
2
2
a 
 3
V
V
1
2
I
 0
1
3
V
2
V
2
2
2
I
V
V
4
2 
R
3
0,5
3
3
8V
2
I 2 
3
I
2
c 
 8 S
V
1
I
 0
1

2

8V

2

3

Selanjtunya untuk mencari b dan d, maka hubung singkat input, sedangkan output tetap dengan sumber tegangan V 2 seperti pada rangkaian di bawah ini :

tegangan V 2 seperti pada rangkaian di bawah ini : sehingga rangkaian ekivalen di atas berbentuk

sehingga rangkaian ekivalen di atas berbentuk :

seperti pada rangkaian di bawah ini : sehingga rangkaian ekivalen di atas berbentuk : dari rangkaian

dari rangkaian terlihat bahwa :

150

V 2 = R 2 .I 6 = 1.I 6 = I 6