Anda di halaman 1dari 4

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al Maidah ayat 5

Dari Super Pedia Rumah Ilmu Indonesia

Al Maidah ayat 5

ْ‫ن ُأوُتوا‬
َ ‫ن اّلِذي‬َ ‫صَناتُ ِم‬
َ ‫ح‬
ْ ‫ت َواْلُم‬
ِ ‫ن اْلُمْؤِمَنا‬
َ ‫ت ِم‬ُ ‫صَنا‬
َ ‫ح‬ ْ ‫ل ّلُهْم َواْلُم‬
ّ‫ح‬ِ ‫طَعاُمُكْم‬
َ ‫ل ّلُكْم َو‬ّ‫ح‬ِ ‫ب‬ َ ‫ن ُأوُتوْا اْلِكَتا‬
َ ‫طَعاُم اّلِذي‬
َ ‫ت َو‬ُ ‫طّيَبا‬ّ ‫ل َلُكُم ال‬ ّ‫ح‬
ِ ‫اْلَيْوَم ُأ‬
‫خَرِة‬
ِ ‫عَمُلُه َوُهَو ِفي ال‬ َ ‫ط‬
َ ‫حِب‬
َ ‫ن َفَقْد‬
ِ ‫ليَما‬ِ ‫ن َوَمن َيْكُفْر ِبا‬ٍ ‫خَدا‬ ْ ‫خِذي َأ‬ِ ‫ل ُمّت‬
َ ‫ن َو‬
َ ‫حي‬ِ ‫ساِف‬
َ ‫غْيَر ُم‬
َ ‫ن‬َ ‫صِني‬ِ ‫ح‬ ْ ‫ن ُم‬
ّ ‫جوَرُه‬ ُ ‫ن ُأ‬
ّ ‫ب ِمن َقْبِلُكْم ِإَذا آَتْيُتُموُه‬َ ‫اْلِكَتا‬
َ ‫سِري‬
‫ن‬ ِ ‫خا‬
َ ‫ن اْل‬َ ‫ِم‬

Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. Makanan (sembelihan) orang-orang
yang diberi Al Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal (pula) bagi mereka.
(Dan dihalalkan mangawini) wanita yang menjaga kehormatan diantara wanita-
wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-
orang yang diberi Al Kitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar mas kawin
mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak
(pula) menjadikannya gundik-gundik. Barangsiapa yang kafir sesudah beriman
(tidak menerima hukum-hukum Islam) maka hapuslah amalannya dan ia di hari
kiamat termasuk orang-orang merugi.

Setelah Allah menuturkan diharamkannya perkara yang buruk-buruk dan


dihalalkannya perkara yang baik-baik kepada hamba-hamba-Nya yang beriman,
kemudian Dia berfirman, "Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik."
Kemudian Allah menuturkan sembelihan Ahli Kitab, yaitu kaum Yahudi dan Nasrani
dengan firman-Nya, "Makanan orang-orang yang telah diberi kitab adalah halal
bagimu." Ibnu Abbas dan ulama lainnya berkata, "Yakni ternak sembelihan
mereka." Masalah ini disepakati oleh para ulama, yaitu bahwa sem¬belihan mereka
adalah halal bagi kaum muslimin sebab mereka pun meyakini keharaman
sembelihan yang diperuntukkan bagi selain Allah dan dalam melaku-kan
penyembelihan mereka tidak menyebut kecuali nama Allah. Jika di dalam
penyembelihan itu mereka meyakini kesucian dan ketinggian Allah dari perkara
yang disucikan dari pada-Nya, maka Dia Mahatinggi dan Mahasuci. Dalam Shahih
ditegaskan dari Abdullah bin Mughaffal, dia berkata, "Pada perstiwa Khaibar saya
diberi sekantong lemak kemudian saya simpan dengan rapi. Saya berkata,
'Sekarang, saya takkan memberikan sebagian dari lemak ini kepada siapa pun.'
Kemudian saya berpaling dan ternyata Nabi saw. tengah tersenyum." Hadits ini
dijadikan dalil oleh para fuqaha bahwa dibolehkan mengambil makanan yang
dibutuhkan dan semacamnya dari ghanimah yangbelum dibagikan. Ini sudah jelas
demikian.
Hadits ini pun digunakan oleh tliqaha mazhab Hanafi, Syafi'i, dan Hambali sebagai
dalil untuk membantah mazhab Maliki yang menolak untuk memakan sembelihan
yang diyakini keharamannya oleh kaum Yahudi, seperti lemak dan semacamnya
yang diharamkan Allah kepada mereka. Keterangan yang lebih baik untuk dijadikan
dalil daripada hadits di atas ialah keterangan yang ditegaskan dalam Shahih,
"Sesungguhnya penduduk Khaibar menghadiahkan domba panggang kepada
Rasulullah saw. Mereka
telah meracuni paha depannya dan paha itulah yang menarik selera beliau.
Kemudian beliau mengambil dan menggigitnya. Maka paha depan itu
memberitahukan bahwa dirinya beracun. Lalu beliau memuntahkannya. Daging itu
bersisa di gigi dan sela-selanya. Basyar bin al-Barra' bin Marur ikut makan dengan
beliau maka dia pun mati. Kemudian orang Yahudi yang meracuninya dibunuh.
Orang itu bernama Zainab." Aspek yang dijadikan dalil dari hadits itu ialah bahwa
Nabi dengan sahabatnya memakan daging domba tanpa me-nanyakan apakah
penduduk Khaibar telah membuang lemak yang mereka yakini keharamannya atau
tidak. Tidak dibolehkan memakan sembelihan kecuali sembelihan orang Yahudi dan
Nasrani, seperti sembelihan orang musyrik dan sebangsanya sebab mereka tidak
menyebut nama Allah tatkala menyembelihnya, bahkan mereka memakan bangkai.
Hal itu berbeda dengan Ahli Kitab. Orang selain Ahli Kitab adalah orang-orang yang
diperlakukan sebagai Ahli Kitab lantaran membayar pajak. Walaupun demikian,
sembelihan mereka tidak halal dimakan dan wanitanya tidak boleh dikawini.
Sesungguhnya pengertian firman Allah, "Dan makanan orang-orang yang diberi
kitab adalah halal bagimu" menunjukkan kepada pengertian-nya yang berlawanan,
yaitu bahwa makanan para pemeluk agama selain mereka adalah tidak halal.
Firman Allah Ta'ala, "Dan makanan kamu pun halal bagj mereka." Yakni, dihalalkan
bagimu untuk memberi sembelihanmu kepada mereka, sebagaimana kamu boleh
memakan sembelihan mereka. Hal ini merupakan kesepadanan, pembalasan, dan
perimbangan. Adapun hadits yang mengatakan, "Jangan-lah kamu berteman
melainkan dengan orang mukmin dan janganlah kamu memberikan makananmu
kecuali kepada orang yang bertakwa", ditafsirkan sebagai perbuatan sunnah dan
anjuran. ‘’Wallahu a'lam.’’ Firman Allah Ta'ala, "

dan dihalalkan bagimu wanita-wanita yang menjaga kehormatannya dari kalangan


wanita mukmin", yakni dihalalkan bagimu me-nikahi wanita-wanita merdeka dan
yang menjaga kehormatannya dari kalangan wanita yang beriman.( wanita wanita
yang mengikuti agama nabi Isa as dan kitabnya yaitu injil [ yang sesuai dengan
syariat agama nashara (nashrani) yang diturunkan Allah SWT sebelum islam, yang
tetap menyembah kepada Allah SWT.], bukan agama nashrani (kristen)yang
menuhankan nabi Isa as. dan membuat buat kitab kitab suci menurut versi mereka
sendiri sendiri] {mungkin bisa diartikan untuk saat ini sudah tidak ada wanita
wanita ahli kitab dari kalangan nashara seperti yang dimaksud ayat diatas} wallahu
a'lam bisshawab

" . yaitu Penuturan penggalan ini merupakan loncatan atas ayat sesudahnya yang
berbunyi, "dan wanita-wanita yang menjaga kehormatannya dari kalangan orang-
orang yang telah diberi kitab sebelum kamu", yakni wanita-wanita yang menjaga
diri dan kesuciannya dari perbuatan zina, sebagaimana Allah berfirman, "Wanita-
wanita yang bukan pelacur da"n bukan yang menjadi gundik." Dahulu, orang-orang
tidak mau kawin dengan wanita-wanita Ahli Kitab setelah diturunkan ayat yang
terdapat dalam surat al-Baqarah yang ber¬bunyi, "Dan janganlah kamu mengawini
wanita-wanita musyrik sebelum mereka beriman", hingga diturunkan ayat, "dan
wanita-wanita yang menjaga kehormat¬annya dari kalangan orang-orang yang
telah diberi kitab sebelum kamu". Kemu-dian mereka menjadikan ayat ini sebagai
pentakhshis terhadap surat d-Baqarah, "dan janganlah kamu menikahi wanita-
wanita musyrik...."

Firman Allah Ta'ala, "Jika kamu memberi mereka maharnya." Yakni, karena mereka
memelihara diri dari perbuatan zina dan menjaga kehormatannya maka berikanlah
kepada mereka maharnya dengan sukarela. Firman Allah Ta'ala, "Dan dengan
maksud menjaga kehormatan, bukan pezina, dan menjadikannya gundik-gundik."
Sebagaimana Allah mensyaratkan keterpeliharaan pada wanita, yaitu kesucian dari
perbuatan zina, maka Allah pun mensyaratkan keterpeliharaan dan kesucian dari
perzinaan kepada kaum laki-laki. Oleh karena itu, Allah Ta'ala berfirman, "bukan
sebagai pezina dan menjadikan gundik-gundik", yakni orang-orang yang memiliki
kekasih dan hanya bergaul dengan mereka. Oleh karena itu, Imam Ahmad
berpandangan bahwa tidak sah nikahnya wanita pelacur sebelum dia bertobat,
demikian pula tidak sah akad nikahnya laki-laki pezina dengan wanita yang saleh
hingga dia bertobat. Pendapat beliau itu didasarkan atas ayat di atas dan hadits
yang berbunyi,

"Pezina yang didera tidak boleh menikah kecuali dengan pezina lagi."

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Hasan, dia berkata, "Umar bin Khaththab berkata,
'Sungguh saya pernah berniat untuk tidak akan membiarkan sesorang yang berzina
dalam Islam untuk kawin dengan wanita saleh.' Kemudian Ubay bin Ka'ab berkata
kepadanya, 'Hai Amirul Mukminin, kemusyrikan itu lebh berat daripada berzina dan
dapat diterima dalam Islam jika dia bertobat.'" Pembicaraan lebih jauh mengenai
masalah ini akan dikemukakan dalam pe-nafsiran ayat,
"Laki-laki yang berzina tidak boleh mengawini melainkan perem-puan yang berzina,
atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak boleh
mengawini kecuali laki-laki pezina atau laki-laki yang musyrik, dan yang demikian
itu diharamkan atas orang-orang yang beriman". (an-Nur: 3) Oleh karena itu, Allah
Ta'ala berfirman, "Barangsiapa yang kafir setelah dia beriman, maka sesungguhnya
hapuslah amalnya, sedang di akhirat dia termasuk orang-orang yang merugi."

Al-Baqarah:221
Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman.
Sesungguhnya wanita budak yang mu`min lebih baik dari wanita musyrik, walaupun
dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik
(dengan wanita-wanita mu`min) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak
yang mu`min lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Mereka
mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-
Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada
manusia supaya mereka mengambil pelajaran.

1. Makanan yang dihalalkan dalam Kitab Taurat dan Injil, halal pula bagi Muslim
demikian pula sebaliknya.
2. Wanita yang menjaga kehormatan adalah wanita-wanita yang merdeka (buka
budak)
3. Wanita yang diberi Alkitab, artinya adalah ahli kitab, yaitu orang Yahudi (yang
percaya Taurat) dan Nasrani (yang percaya Injil) boleh kita kawini