Anda di halaman 1dari 2

Beberapa dalil tentang mencium tangan, kaki dan perut Nabi; juga mencium tangan “Dari Ibn Jud’an,

’an, Tsabit berkata kepada Anas: Apakah anda memegang Nabi


Ahlul Bait dan Ulama pewaris Nabi saw. Dari sini bahwasanya BOLEH mencium dengan tangan anda? Anas berkata: Iya! Maka Tsabit mencium tangan Anas” (HR
tangan seseorang yang mempunyai kelebihan dalam agama baik karena ilmunya, Bukhori)
zuhudnya, wara’nya, keshalehannya, keturunannya.
“Dari asy-Sya’bi: Bahwasanya Zaid bin Tsabit radliyallahu ‘anhu menyalatkan
Beberapa Hadits Nabi : jenazah, lalu mendekatlah kepada Zaid keledai miliknya untuk dinaikinya. Kemudian
datanglah ‘Abdullah bin ‘Abbas radliyallahu ‘anhu sambil menuntun keledai Zaid.
“Dari Ummu Aban binti al-Warra’ bin Zarra’ dari kakeknya radliyallahu ‘anhum; dan Berkatalah Zaid kepadanya: Lepaskanlah wahai sepupu Rasulullah shallallahu ‘alaihi
kakeknya merupakan salah satu delegasi Abdul Qais (yang mendatangi Nabi). wasallam! Ibn ‘Abbas malah menjawab: Beginilah kami diperintahkan untuk berbuat
Kakeknya Ummu Aban berkata: Saat kita sampai di Madinah, kami berlarian dari baik kepada para Ulama dan Pembesar (agama). Lalu tiba-tiba Zaid mencium tangan
kendaraan kita untuk mencium kedua tangan dan kaki Nabi shallallahu ‘alaihi Ibn ‘Abbas dan berkilah: Beginilah kami diperintah untuk berbuat baik kepada Ahlul
wasallam” (HR Bukhori). Bait Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam” (HR Hakim).

“Dari Sayyidina Jabir radliyallahu ‘anhu bahwasanya Umar radliyallahu ‘anhu “Dari Shuhaib berkata: Saya melihat Ali mencium tangan dan kedua kaki al-’Abbas”
mencium tangan Nabi” (HR al-Hafizh Ibn al-Muqri) (HR Bukhori).

“Dari Sayyidina al-Wazza’ bin ‘Amir radliyallahu ‘anhu berkata: sewaktu kita tiba Dalil Amalan para Salafus Salih :
(ke Madinah), maka dikatakan kepada kami bahwa dia adalah Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam, maka kami mengambil kedua tangan dan kakinya lalu “Al-’Asqalani berkata: Imam Nawawi berkata: Mencium tangan seseorang karena
kami menciumnya” (HR. Bukhori). zuhudnya, keshalehannya, ilmunya, kemuliaannya, ataupun semacamnya yang
berhubungan dengan urusan agama; tidak dimakruhkan malah disunatkan. Tetapi
“Dari Sayyidina Hibban bin Wasi’ dari pembesar-pembesar kaumnya radliyallahu apabila mencium tangan karena kekayaannya, kekuasaannya, pengaruhnya diantara
‘anhum, bahwasanya sewaktu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meluruskan ahli Dunia maka itu adalah makruh yang sangat-sangat makruh!” (Fathul Bari
barisan pada waktu perang Badar dan pada tangan beliau sebuah kendi, lalu beliau 48/11).
melewati Sawwad bin Ghuzayyah dan melukai perut Sawwad (tidak sengaja -red.-).
Maka Sawwad berkata: Anda telah melukai saya maka berilah saya balasan! “Al-Safarini al-Hanbali berkata: Abul Ma’ali berkata di Syarhu Hidayah: Mencium
Kemudian Nabi membuka bajunya, lalu Sawwad memeluk Nabi dan mencium tangan seorang ulama, yang mempunyai kemuliaan karena agamanya maka itu
perutnya, lalu Nabi mendoakan bagi Sawwad agar mendapat kebaikan” (HR adalah boleh. Dan aku telah mengetahu bahwasanya para shahabat selalu mencium
Ahmad). tangan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seperti yang telah disebutkan dalam Hadits
Ibn Umar radliyallahu ‘anhum ketika beliau pulang dari perang Mu`tah” (Gidzaul
“Dari Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari; bahwasanya Abi Lubabah dan Ka’b Albab 287/1).
bin Malik dan kedua temannya radliyallahu ‘anhum mencium tangan Nabi
shallallahu ‘alaihi wasallam ketika Allah memberikan taubat kepada mereka” “Imam Malik Berkata: Apabila mencium tangan seseorang karena membesarkan dan
(Fathul Bari 48/11). mengagungkan maka itu adalah makruh. Tetapi apabila karena untuk mendekatkan
diri kepada Allah untuk agamanya, ilmunya, kemuliaannya maka itu adalah boleh”
(Fathul Bari 84/11).

“Ibn ‘Abidin al-Hanafi berkata: Tidak apa-apa mencium tangan seseorang yang
berilmu dan wara’ karena untuk mencari berkah, malahan itu adalah sunat”
(Hasyiyah Ibn ‘Abidin 254/5).

Wallahu a’lam.

Sumber http://www.facebook.com/note.php?note_id=280590015360&comments