Anda di halaman 1dari 100

x

Surah ar-Ra d

Surah ar-Ra'd terdiri dari 43 ayat.


Surah ini dinamakan AR-RA'D
yang berarti "Guruh"
diambil dari ayat 13
x
Surah ar-Ra d

Surak ini bernama surah ar-Ra'd (Guruh). N a m a itu telah dikenal sejak awal
masa Islam, bahkan pada sejak masa Nabi saw. Penamaannya dengan ar-Ra'd
disebabkan salah satu ayatnya berbicara tentang guruh. Memang, dalam surah
al-Baqarah [ 2 ] : 19 ada j u g a disebut kata Ra'd, tetapi uraian di sana b u k a n
m e n y a n g k u t guruh, tetapi m e n y a n g k u t orang-orang munafik. Sedang, di
sini ayatnya secara tegas berbicara tentang guruh sebagai pelaku yang bertasbih
bersama malaikat. Tidak diketahui adanya nama lain u n t u k surah ini, selain
a r - R a ' d . U l a m a berbeda p e n d a p a t t e n t a n g m a s a t u r u n n y a . A d a y a n g
berpendapat setelah Nabi saw. berhijrah atau dengan kata lain M a d a n i y y a h .
D a n ada pula yang berpendapat bahwa seluruh ayat surah ini turun sebelum
beliau berhijrah, atau paling tidak sebagian besar ayat-ayatnya M a k k i y y a h .
Ini setelah memerhatikan k a n d u n g a n uraian surah y a n g t e m a n y a serupa
dengan tema ayat-ayat yang turun sebelum hijrah. Salah satu ayat y a n g dinilai
oleh sementara ulama bahwa surah ini turun ketika Nabi saw. telah bermukim
di M a d i n a h a d a l a h a k h i r ayat surah i n i . Tetapi, j i k a m e m e r h a t i k a n
kandungannya y a n g sejalan dengan kandungan ayat pertama, sungguh wajar
ia j u g a merupakan bagian dari surah M a k k i y y a h . A d a j u g a yang menilai ayat
y a n g berbicara tentang guruh (ayat 13) turun di M a d i n a h , dan juga beberapa
ayat lainnya. N a m u n , pendapat-pendapat itu h a n y a sekadar dugaan, bahkan
tidak berdasarkan riwayat y a n g shahih.

197
198 Surah ar-Ra'd [13]

Tema u rama surah ini adalah uraian tentang kebenaran al-Qur'an dan
bahwa ia adalah bukti kebenaran dan risalah Nabi M u h a m m a d saw. Tuduhan
y a n g t i d a k beralasan dari k a u m m u s y r i k i n t i d a k l a h pada t e m p a t n y a
dihiraukan, balikan tidak pada tempatnya diucapkan. Betapa ajakan al-Qu r'an
y a n g d i s a m p a i k a n Nabi M u h a m m a d saw. b u k a n ajakan y a n g haq, padahal
intinya adalah keesaan Allah sedang keesaan-Nya terbukti amat jelas pada
avat-ayat kattniyah vang terhampar di langit dan di bumi. D e m i k i a n lebih
kurangThabathaba i. Pakar keserasian al-Qur'an, Ibrahim Ibn Umar al-Biqa i,
berpendapat serupa. Bertitik tolak dari n a m a surah i n i — " a r - R a ' d " — d i a
menegaskan bahwa tujuan u t a m a surah ini adalah uraian tentang sifat al-
Q u r ' a n vang penuh dengan kebenaran dan y a n g dapat memberi pengaruh
positif y a n g lahir dari k a l i m a t - k a l i m a t n y a y a n g sangat jelas dan, dengan
"suaranya" y a n g gamblang, ia dapat melahirkan rasa takut dan gentar bagi
siapa yang mau melihat, walau terkadang juga tidak memberi pengaruh bahkan
menjadi sebab kesesatan dan kebutaan—bagi yang enggan. N a m a yang paling
tepat untuk tujuan itu adalah Guruh karena guruh merupakan suatu kenyataan
dan hak y a n g didengar oleh y a n g buta dan y a n g melek serta oleh siapa pun
y a n g m e n a m p a k k a n diri atau y a n g bersembunyi. Ia j u g a dapat disertai oleh
kilat dan hujan dan dapat j u g a tidak. H u j a n pun kalau turun dapat memberi
manfaat jika tanah y a n g dihujamnya subur dan bisa j u g a tidak bermanfaat
j i k a y a n g d isi r a m i n y a adalah tanah y a n g gersang. D e m i k i a n a l - B i q a ' i
m e n g e m u k a k a n tema surah dari kata guruh y a n g merupakan satu-satunya
n a m a yang disandangnya.

Dari segi hubungan surah ini dengan surah sebelumnya, kita dapat berkata
bahwa surah ini merupakan perincian dari ayat-ayat y a n g menjadi penutup
surah yang lalu, yang antara lain berbicara tentang b a n y a k n y a ayat htUiniyah
y a n g terhampar di alam raya, tetapi diabaikan oleh k a u m m u s y r i k i n (ayat-
ayat 105-108). Sekian banyak ayat yang terlihat di langit dan di bumi diuraikan
dalam surah ini, seperti ayat 2, 3, dan 4. U r a i a n n y a tentang bagian-bagian
yang berdampingan di bumi dan kebun-kebun serta aneka tanaman yang
disirami dengan air yang sama mengantar kepada uraian tentang pembuktian
keniscayaan hari Kemudian karena terdapat kemiripan antara kehidupan tanah
5urah ar-Ra'd [13] 199

yang tadinya gersang (mati) dengan kebangkitan manusia dan hidup kembali
di hari Kemudian setelah m e n g a l a m i kematian.
Di sisi lain, s u n g g u h serasi awal ayat pada surah ini dengan p e n u t u p
surah sebelumnya. A k h i r uraian pada surah Yusuf adalah tentang ayat-ayat
3
al-Qur an. Ia bukan cerita yang dibuat-buat, tetapi membenarkan kitab-kitab
suci sebelumnya, menjelaskan segala sesuatu yang berhubungan dengan ajaran
agama, serta petunjuk dan rahmat bagi k a u m y a n g beriman. Sedang, awal
surah ar-Ra'd j u g a berbicara t e n t a n g ayat-ayat al-Kitdb, baik a y a t - a y a t
Qur'aniyah m a u p u n kauniyah, sebagaimana akan terbaca nanti pada ayat
pertama surah ini.
Ada hal lain y a n g m e n a r i k dari surah ini, y a i t u i r a m a musikal y a n g
dilahirkan kata-kata, penggalan kalimat, dan fdshilahf penutup ayat-ayatnya.
Lima ayat pertama ditutup dengan irama y a n g sama: yuminun, tuqinun,
yatafakkarun,yaqilun, dan khdlidun. Selanjutnya, dari ayat e n a m sampai
dengan 2 7 , h u r u f sebelum a k h i r n y a adalah ^///"sehingga bernada panjang
seperti al-'iqdb, had, miqddr, al-mutadl, an-nahar, w di, ats-tsiqdl, dan
seterusnya hingga ayat 2 7 . Setelah pembaca terbiasa dengan nada itu tiba-
tiba akhir ayat 2 8 diubah dengan m e n g a k h i r i n y a dengan huruf bd ' y a i t u al-
qulub lalu melanjutkan kembali sebagaimana sebelumnya menggunakan nada
panjang mddb, matdb, mi'dd, dan seterusnya hingga akhir surah.
KELOMPOK 1

AYAT 1-4

201
202 Surah ar-Ra'd [13]
Kelompok i Ayat 1 Surah ar-Ra'd [13] 203

AYAT 1

"Alif, Ldm, Mim, Rd'. Itu ayat-ayat al-Kitdb dan yang diturunkan kepadamu
dari Tubanmu adalah al-bacj; akan tetapi kebanyakan manusia tidak beriman. "

Alif, Ldm, Mim, Rd'. D e m i k i a n l a h huruf-huruf y a n g d i g a b u n g satu


dengan l a i n n y a sehingga melahirkan ayat-ayat al-Qur'an y a n g fungsinya
"menjelaskan segala sesuatu serta petunjuk dan rahmat bagi kaum yang
beriman", sebagaimana bunyi akhir ayat surah Yusuf. Itu y a n g amat tinggi
kedudukannya, yakni ayat-ayat kauniyah yang terhampar di alam raya, adalah
ayat-ayat al-Kitdb, yakni kitab kauniyah y a n g diciptakan dan dikendalikan
oleh Allah, dan demikian juga ayat-ayat al-Qur'an yang diturunkan kepadamu
m a k n a dan lafaznya dari Tuhan Pemelihara-/MZ/, wahai M u h a m m a d , adalah
al-haq, y a k n i k e b e n a r a n m u t l a k y a n g a m a t s e m p u r n a . A y a t - a y a t itu
m e n u n j u k k a n keesaan dan kebesaran Allah swt., akan tetapi kebanyakan
manusia tidak beriman dan enggan mengakui keesaan Allah dan enggan pula
m e n e r i m a ayat-ayat itu sebagai bukti kebenaran.

Salah satu pendapat tentang ( J.\) Alif ldm, Mim, Rd', dan ayat-ayat
y a n g m e n g g u n a k a n huruf-huruf fonetis y a n g mengawali beberapa surah al-
Q u r ' a n adalah b a h w a huruf-huruf itu bertujuan m e n a r i k perhatian k a u m
musyrikin. Seakan-akan ia berkata: "al-Qur'an tersusun dari huruf-huruf yang
biasa kalian g u n a k a n dalam bahasa Arab seperti ( J.\) Alif Ldm, Mim, Rd'.
Cobalah buat semacam al-Qur'an dengan m e n g g u n a k a n kata-kata y a n g
tersusun dari huruf-huruf y a n g kalian ketahui itu! Pasti kalian tak m a m p u . "
Masalah huruf-huruf itu telah penulis jelaskan secara luas pada awal surah-
surah al-Baqarali, Ali 'Imran, dan surah-surah lain yang dimulai dengan huruf-
huruf. Rujuklah ke sana! Di sini, penulis ingin menambahkan pendapat lain.
Sementara orientalis berpendapat bahwa huruf-huruf itu merupakan semacam
isyarat-isyarat d a l a m musik u n t u k kesatuan nada. Yusuf al-Qardhawi dalam
tafsirnya atas surah ar-Ra'd menulis bahwa m e m a n g bacaan huruf-huruf
tersebut m e m p u n y a i l a n g g a m tersendiri y a n g dapat berpengaruh, bahkan
menurut al-Qardhawi beberapa orang temannya m e n y a m p a i k a n kepadanya
204 Surah ar-Ra'd [13] Kelompok I Ayat 1

bahwa sementara pakar dari Barat dalam bidang musik memeluk Islam setelah
m e n d e n g a r huruf-huruf tersebut dan b a h w a sebagian di antara mereka
m e n e m u k a n sesuatu y a n g janggal pada beberapa surah y a n g dimulai dengan
h u r u f fonetis itu, tetapi k e m u d i a n mengetahui b a h w a kejanggalan tersebut
lahir dari cara m e m b a c a y a n g keliru. D i a tidak membacanya secara terputus-
putus tetapi m e m b a c a n y a secara terpadu. A l - Q a r d h a w i j u g a m e n y e b u t k a n
b a h w a dia memeroleh informasi dari beberapa t e m a n n y a y a n g mengelola
R u m a h S a k i t "Akbar" di P a n a m a City, A m e r i k a , b a h w a m e r e k a telah
m e l a k u k a n percobaan-percobaan y a n g m e m b u k t i k a n b a h w a a l - Q u r ' a n
m e m p u n y a i pengaruh positif terhadap orang-orang sakit, b a i k m u s l i m
m a u p u n n o n - m u s l i m , baik y a n g mengerti bahasa Arab m a u p u n tidak.
Demikian al-Qardhawi. Secara panjang lebar, pengaruh ayat-ayat al-Qur'an
terhadap jiwa manusia, penulis uraikan d a l a m b u k u Mukjizat al-Qur'an.
Rujuklah ke sana jika A n d a berminat.

Kata ( obT ) aydt adalah j a m a k dari ( l , J ) dyah y a n g dari segi bahasa


berarti tanda. (>\&\ obT cJl>) tilka ayat al-Kitdb d i p a h a m i oleh b a n y a k
ulama dalam arti ayat-ayat al-Qur'an. H a n y a saja, pendapat ini menjadikannya
sama dengan penggalan selanjutnya, yakni ( ^ L J \ J jj\ ^ i J l j ) wa albzdzi unzila
ilaika/dan yang diturunkan kepadamu. Ini menjadikan u l a m a - u l a m a itu
m e m a h a m i apa yang diturunkan itu berfungsi m e n e r a n g k a n apa y a n g
d i m a k s u d dengan kata ayat-ayat al-Kitdb y a n g disebut p a d a penggalan
sebelumnya. P e n u l i s — m e n d u k u n g pendapat u l a m a lain y a n g m e m a h a m i
ayat al-Kitdb d a l a m arti tanda-tanda y a n g terbentang di a l a m raya. Ini lebih
tepat karena pada dasarnya kata ( j ) waldan y a n g disebut sesudahnya
berfungsi menggabung dua hal yang berbeda. Dengan memahami kata tersebut
d a l a m arti ayat-ayat kauniyah dan m e m a h a m i y a n g diturunkan kepadamu
dari Tuhanmu d a l a m arti a l - Q u r ' a n , j e l a s p e r b e d a a n n y a , w a l a u p u n
persamaannya disebutkan oleh lanjutan penggalan itu, y a k n i k e d u a - d u a n y a
adalah al-haq. Dengan d e m i k i a n , kita dapat berkata bahwa tidak m u n g k i n
terjadi perbedaan antara hakikat i l m i a h y a n g terbentang di alam raya dan
kandungan ayat-ayat al-Qur'an. Keduanya adalah hak dan keduanya
bersumber dari Allah swt. A l a m raya adalah c i p t a a n - N y a sedang al-Qur'an
adalah firrnan-firrnan-Nya. Dari sini j u g a kita dapat menegaskan berdasar
Kelompok I Ayat 2 Surah ar-Ra'd [13] 205

ayat ini bahwa, d a l a m pandangan al-Qur'an, tidak ada pertentangan antara


i l m u d a n Islam. T i d a k ada uraian al-Qur'an y a n g bertentangan dengan
hakikat-hakikat ilmiah. Kalau seandainya ditemukan pertentangan itu, y a n g
keliru adalah penafsiran al-Qur'an atau penelitian ilmiah.
Dalam konteks ini, Ibn Rusyd berpendapat bahwa hakikat-hakikat ilmiah
y a n g d i t e m u k a n tidak keluar dari tiga k e m u n g k i n a n j i k a dikaitkan dengan
ayat-ayat ai-Qur'an. Pertama, h a k i k a t ilmiah tersebut sejalan dengan teks
dan k a n d u n g a n ayat-ayat. Kedua, hakikat itu tidak d i s i n g g u n g oleh ayat-
ayat al-Qur'an. Dan ketiga, secara lahiriah hakikat i l m i a h y a n g d i t e m u k a n
itu bertentangan dengan teks ayat-ayat.
Yang pertama dan y a n g k e d u a tidak m e n i m b u l k a n problem. A d a p u n
k e m u n g k i n a n ketiga m a k a jalan keluarnya, m e n u r u t Ibn Rusyd, adalah
m e n a k w i l k a n ayat-ayat tersebut sehingga sejalan dengan hakikat ilmiah.
Pendapat ini s u n g g u h tepat, w a l a u p u n harus dicatat bahwa penakwilan itu
baru dapat dilakukan jika penemuan y a n g dimaksud benar-benar merupakan
hakikat ilmiah yang tidak terbantahkan. Sekian banyak penemuan yang telah
dinyatakan sebagai penemuan ilmiah, ternyata terbukti kekeliruannya sehingga
sedikitpun tidak wajar d i n a m a i hakikat ilmiah.

AYAT 2

"Allah Yang meninggikan langit tanpa tiang yang kamu lihat, kemudian Dia
bersemayam di atas Arsy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-
masing beredar untuk waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan
menjelaskan ayat-ayat supaya kamu meyakini pertemuan dengan Tuhan
kamu."

Allah swt. y a n g m e n u r u n k a n al-Qur'an. Allah j u g a Yang meninggikan


langit, yakni menjadikannya tinggi sejak penciptaannya dalam keadaan tanpa
riang p e n y a n g g a h yang dapat kamu lihat dengan m a t a kepala k a m u semua,
atau y a n g k a m u lihat ketiadaannya dengan m a t a kepala k a m u , kemudian
Dia bersemayam di atas 'Arsy, dan menundukkan matahari dan bulan antara
206 Surah ar-Ra'd [13] Kelompok I Ayat 2

lain guna kemaslahatan m a k h l u k . Masing-masing dari matahari dan bulan


itu beredar secara teratur untuk waktu yang ditentukan oleh-Nya. Ini setahun
dan itu sebulan atau hingga waktu yang ditentukan bagi kepunahan matahari
dan bulan serta kehancuran alam raya. Adab mengatur urusan makhluk-Nya,
baik yang di langit m a u p u n di bumi. Allah menyiapkan bagi mereka sarana
kehidupan ruhani dan jasmani, menjelaskan ayat-ayat, yakni tanda-tanda
keesaan dan kebesaran-Nya, supaya kamu meyakini pertemuan kamu dengan
Tuban kamu.

Firman-Nya: ( j*-lJi ) rafa'a as-samawati/meninggikan langit antara.


lain m e n g a n d u n g m a k n a m e m i s a h k a n n y a dari bumi sehingga matahari dan
bintang-bintang dapat m e m a n c a r k a n cahayanya ke bumi dan hujan y a n g
d i t a m p u n g oleh awan dapat tercurah. Itu semua telah terjadi, dan tidak
m u n g k i n akan terjadi tanpa ada yang mengatur dan m e n g e n d a l i k a n n y a .

Firman-Nya; ( U j y .WP jju ) bighairi amadin taraunahal'tanpa tiang


yang kamu libat'dalam arti sebenarnya ada tiangnya, tetapi k a m u tidak lihat
dengan mata kepala. Tiang tersebut adalah daya-daya yang diciptakan Allah
swt. sehingga tiang ini dapat m e n i n g g i dan tidak jatuh ke bumi, tidak j u g a
planet-planet yang ada di alam raya ini saling bertabrakan.

Firman-Nya: f-^ f ) tsumma istawa 'ala al- 'arsyf kemudian


Dia bersemayam di atas Arsy telah dijelaskan m a k n a n y a ketika menafsirkan
QS. al-A'raf [ 7 ] : 54. Di sana, antara lain penulis k e m u k a k a n bahwa ada
u l a m a y a n g enggan menafsirkannya: " H a n y a AJlah y a n g tahu maknanya",
demikian u n g k a p a n u l a m a - u l a m a salaf (abad I-III H ) . Kata (<s ) istawa
d i k e n a l o l e h b a h a s a . N a m u n , kaifiyahlcaranya tidak diketahui.
M e m e r c a y a i n y a adalah wajib dan m e n a n y a k a n n y a adalah b i d a h , demikian
ucap Imam M a l i k ketika makna kata tersebut ditanyakan kepadanya.

U l a m a - u l a m a sesudah abad UI H berupaya menjelaskan m a k n a n y a


d e n g a n m e n g a l i h k a n m a k n a k a t a istawa dari m a k n a d a s a r n y a , y a i t u
bersemayam ke m a k n a majazi y a i t u "berkuasa" dan, dengan d e m i k i a n ,
penggalan ayat ini bagai menegaskan tentang kekuasaan Allah swt. dalam
mengatur dan mengendalikan alam raya. Tetapi, tentu saja hal tersebut sesuai
dengan kebesaran dan k e s u c i a n - N y a dari segala sifat k e k u r a n g a n atau
Kelompok I Ayat 2 Surah ar-Ra'd [13] 207

k e m a k h l u k a n . R u j u k l a h ke tafsir surah al-A'raf itu u n t u k m e m a h a m i lebih


j a u h m a k n a penggalan ayat ini!"*
Ayat ini dan banyak ayat a k Q u r ' a n yang lain hanya menyebut matahari
dan bulan. Padahal, ada b a n y a k benda langit y a n g lain dan y a n g j a u h lebih
besar dari keduanya. Agaknya, penyebutan keduanya secara khusus disebabkan
keduanya m e m p u n y a i pengaruh yang besar terhadap kehidupan m a k h l u k di
b u m i . Para i l m u w a n tidak dapat m e m b a y a n g k a n b a g a i m a n a k e h i d u p a n di
bumi tanpa matahari. Bulan j u g a m e m p u n y a i pengaruh y a n g tidak kecil.
Pasang naik dan pasang turun, misalnya, adalah pengaruh cahaya bulan.

Kata yajri memberi kesan peredaran pada suatu tempat y a n g


sangat luas. Ini serupa j u g a dengan kata ( ) yasbah yang antara lain berarti
berenang y a n g memberi kesan a d a n y a suatu tempat y a n g sangat l u a s —
katakanlah samudra di m a n a ada salah satu kapal sedang m e n g a r u n g i n y a .
Bayangkanlah betapa besar samudra itu! A P Q u r ' a n melukiskan bahwa:

^>=^-^_^ciJp J^i? f Zj^\j


l y j\^>\j J^e>^-<-^ _>*J

"Dan Dia-lahyang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan.
Masing-masing dari keduanya itu (yasbah) beredar di dalam garis edarnya"
(QS. al-Anbiya [ 2 1 ] : 3 3 ) .

Kata ( f ) tsummalkemudian pada ayat ini bukan d i m a k s u d k a n u n t u k


menunjukkan jarak waktu, tetapi untuk menggambarkan betapa jauh berbeda
dan besar tingkat penguasaan 'Arsy dibanding dengan penciptaan langit dan
bumi.
A y a t di atas m e n g g u n a k a n b e n t u k kata kerja masa l a m p a u k e t i k a
b e r b i c a r a t e n t a n g p e n i n g g i a n l a n g i t ( £Jj ) rafa a/telah meninggikan.
Sedangkan, ketika berbicara tentang pengaturan-Nya, digunakan bentuk kata
kerja mudhanimasa kini dan datang ( jj*u ) yudabbir. Ini karena peninggian
langit itu telah rampung dengan selesainya penciptaan langit dan bumi, sedang
pengaturan dan p e m e l i h a r a a n - N y a berlanjut terus-menerus sejak dahulu,
sekarang, hingga masa mendatang.

" Lihat tafsir Q S . a!-A'raf [7]: 54 pada volume 4 halaman 54.


208 Surah ar-Ra'd [13] Kelompok I Ayat 2

Di sisi lain, hai ini j u g a dapat merupakan bantahan kepada orang-orang


Yahudi yang menyatakan bahwa setelah Allah menciptakan langit dan bumi
d a l a m enam hari, D i a beristirahat pada hari ketujuh. Mahasuci Allah atas
kepercayaan sesat itu.

Kata ( ^ J J ) yudabbir terambil dari kata ( ^ J S J dabbara y a n g berarti di


belakang/di akhir sesuatu. Dari sini, lahir kata ( y* ) duburlbelakang-bokong.
O r a n g y a n g yudabbir atau m e l a k u k a n penadbiran, bukan saja m e n g a d a k a n
sesuatti, tetapi juga m e m e r h a t i k a n apa y a n g akan terjadi sesudah dan di
belakang p e n g a d a a n n y a itu. Dia harus m e m p e r h i t u n g k a n b a g a i m a n a akhir
dan kesudahan serta d a m p a k y a n g akan datang dari apa y a n g d i a d a k a n n y a
itu. Penadbiran menuntut agar mewujudkan dengan baik dan benar apa yang
diadakan itu sehingga ia dapat berfungsi untuk masa kini dan masa mendatang
serta tidak melahirkan d a m p a k - d a m p a k negatif. Allah swt. menciptakan dan
m e n i n g g i k a n langit, m e n u n d u k k a n matahari dan bulan, serta mengatur
perjalanannya, dan itu semua dilakukan-SNya dengan m e m e r h a t i k a n segala
sesuatu serta mengaturnya sehingga tidak ada dampak negatif yang akan terjadi
pada segala sesuatu akibat penciptaan dan pengaturan itu. M a n u s i a sering
kali ketika membuat atau menciptakan sesuatu telah mengaturnya sedemikian
rupa. Telah terlihat dan terasa olehnya bahwa segala sesuatu sudah demikian
sempurna, tetapi tak lama k e m u d i a n , lahir d a m p a k - d a m p a k negatif dari
penciptaan dan pengadaannya. Ini karena penadbiran yang dilakukan manusia
tidak pernah sempurna.

Kata ( y>^\) al-amr/urusan m e n c a k u p segala sesuatu sehingga tidak ada


satu urusan atau persoalan pun y a n g tidak berada di bawah kendali Allah.
Bukan hanya matahari dan bulan atau benda-benda langit di angkasa, tetapi
segala sesuatu hingga yang sekecil-kecilnya. Dia yang menumbuhkan rumput-
rumputan, lalu dijadikan-Nya rumput-rumput itu kering kehitam-hitaman,
atau subur kehijau-hijauan ( Q S . al-A'Ia L87]: 4 - 5 ) .

Salah satu aspek dari tadbir (yudabbiru al-amr) adalah yufashshilu al-
dydt (menjelaskan ayat-ayat), baik ayat-ayat al-Qur'an m a u p u n ayat-ayat
kauniyah, yang kesemuanya merupakan tanda-tanda keesaan dan kebesaran-
N y a . Penjelasan y a n g beraneka ragam, sekali m e n y e n t u h akal, di kali lain
Kelompok I Ayat 2 Surah ar-Ra'd [13] 209

emosi, di kali ketiga mengajak dengan lemah lembut atau mengancam dengan
perintah atau dengan kisah. Pemaparan tanda-tanda di alam raya pun silih
berganti. Sekali dengan m e n g u n d a n g melihat keserasiannya, di kali lain
manfaat yang dapat diraih, di kali ketiga dengan bencana-bencana yang terjadi.
S e m u a Allah swt. adakan pada w a k t u n y a dan dengan sebab y a n g hak serta
dengan tujuan y a n g sesuai dan serasi. Itulah sebagian k a n d u n g a n m a k n a
menjelaskan ayat-ayat. Itu semua Allah swt. l a k u k a n agar manusia sampai
kepada keyakinan tentang keniscayaan hari Kemudian.

Kata ( O J J J J ) tuqinun atau yaqin adalah pengetahuan y a n g m a n t a p


tentang sesuatu disertai d e n g a n t e r s i n g k i r n y a a p a y a n g m e n g e r u h k a n
pengetahuan itu, baik berupa keraguan m a u p u n dalih-dalih y a n g
d i k e m u k a k a n lawan. Itu sebabnya pengetahuan Allah swt. tidak d i n a m a i
mencapai tingkat y a k i n karena pengetahuan Yang M a h a M e n g e t a h u i itu
sedemikian jelas sehingga tidak pernah sesaat atau sedikit pun disentuh oleh
keraguan. Berbeda dengan manusia yangyakin. Sebelum tiba keyakinannya,
ia terlebih d a h u l u disentuh oleh keraguan. N a m u n , ketika ia sampai pada
tahap yakin, keraguan y a n g t a d i n y a ada menjadi sirna. Itu disebabkan Allah
menjelaskan ayat-ayatnya d a l a m b e n t u k beragam dan silih berganti, seperti
penulis k e m u k a k a n di atas, sehingga keraguan terkikis sedikit demi sedikit
dan yang bersangkutan mencapai tahapyaqin.

D e n g a n m e m e r h a t i k a n a l a m r a y a serta k e h e b a t a n d a n k e t e l i t i a n
perjalanannya serta dengan mempelajari ayat-ayat al-Qur'an seseorang akan
sampai pada k e y a k i n a n b a h w a pasti ada Penciptanya, dan b a h w a m a k h l u k
tidak diciptakan secara sia-sia. Ada tujuan dari kehadiran manusia di pentas
bumi ini. M a n u s i a adalah m a k h l u k bertanggung j a w a b sehingga pasti dia
akan d i t u n t u t p e r t a n g g u n g j a w a b a n n y a dan diberi ganjaran dan sanksi
sempurna. Ganjaran dan sanksi d a r i - N y a tidak terjadi seluruhnya d a l a m
kehidupan dunia. Karena itu, pasti sang Pencipta (Allah swt.)—menyediakan
v.aktu tertentu u n t u k memberi balasan sempurna bagi amal baik dan amal
:r_ruk seseorang.
210 Surah ar-Ra'd [13] Kelompok I Ayat 3

AYAT 3

"Dan Dia yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan


sungai-sungai padanya. Dan menjadikan padanya semua buah-buahan
berpasang-pasangan, Allah menutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya
pada yang demikian itu terdapat ayat-ayat bagi kaum yang memikirkan. "

Dan b u k a n h a n y a benda-benda langit y a n g Allah ciptakan dan atur


peredarannya. Dia j u g a yang membentangkan bumi, sebagaimana k a m u lihat
dengan p a n d a n g a n mata. D i a yang m e n u n d u k k a n n y a hingga k a m u dapat
berjalan di seluruh persada b u m i dengan n y a m a n dan menjadikan gunung-
gunung—betapapun tingginya dan tertancap ke bumi, dan menjadikan sungai-
sungai mengalirkan air tawar padanya. Dan, dari air tawar itu, Dia menjadikan
padanya, yakni di b u m i itu, semua buah-buahan dari berbagai m a c a m dan
jenis berpasang-pasangan dan beranak pinak. A d a y a n g putih dan ada yang
merah. A d a y a n g manis dan ada y a n g m a s a m . Allah menutupkan malam
kepada siang sehingga antara lain m e n g a k i b a t k a n m a t a n g n y a buah-buahan.
Sesungguhnya pada yang demikian itu, y a k n i semua y a n g disebut di atas,
terdapat ayat-ayat, yakni tanda-tanda y a n g sangat jelas bagi keesaan dan
kebesaran Allah, bagi kaum yang b e r s u n g g u h - s u n g g u h m e r e n u n g dan
mem ikirkan -nya.

Firman-Nya: ( Jp1« ^ J J ^ yt>j ) wa huwa alladzi madda al-ardhal


Dia yang membentangkan bumi sama sekali tidak bertentangan dengan bulat
atau lonjongnya b u m i . Karena, Allah swt. menciptakan bumi bulat, tetapi
d a l a m saat y a n g sama Dia menjadikannya sedemikian besar d a l a m ukuran
manusia sehingga ia menjadi datar dan dapat dihuni dengan n y a m a n . Ke
m a n a pun A n d a m e m a n d a n g atau menuju, selama A n d a berada di pentas
bumi ini Anda pasti akan melihat dan mendapatkan bumi ini datar. Persoalan
bulatnya b u m i telah menjadi hakikat ilmiah y a n g diuraikan al-Qur'an dalam
banyak ayat dan ini telah d i u n g k a p oleh u l a m a - u l a m a Islam j a u h sebelum
Galileo ( 1 5 6 4 - 1 6 4 2 M ) . A l - B i q a i ( 1 4 0 6 - 1 4 8 0 M . ) , misalnya, berulang-
ulang m e n y e b u t hakikat ini dalam tafsirnya, antara lain ketika menafsirkan
Kelompok I Ayat 4 Surah ar-Ra'd [13] 211

ayat ini. Bahkan, Ibn H a z m ( 9 9 4 - 1 0 6 4 M . ) d a l a m b u k u n y a , al-Ftishilft al-


Milal wa an-Nihal, m e m b u k t i k a n hal tersebut sambil m e m b a n t a h orang-
orang y a n g menolaknya. Dan masih b a n y a k u l a m a Islam lainnya.
Ayat ini mengisyaratkan bahwa segala macam jenis b u n g a yang
menghasilkan buah hanya dapat berproduksi bila terjadi perkawinan antara
unsur jantan dan betinanya, baik yang berasal dari bunga itu sendiri m a u p u n
dari dua jenis b u n g a yang berbeda. M e m a n g , m e n u r u t para pakar, banyak
pohon y a n g terdapat pada dirinya d u a jenis "alat kelamin". D a l a m hal ini
bisa jadi k e d u a n y a d i t e m u k a n pada satu bunga, seperti h a l n y a kapas, dan
bisa pada pohon y a n g sama tetapi d a l a m k e m b a n g y a n g berbeda. A d a j u g a
yang hanya berupa pohon jantan atau pohon betina sehingga perlu dilakukan
perkawinan antar-keduanya, seperti halnya pohon k u r m a .

Sementara orang mempertanyakan mengapa soal malam dan siang disebut


pada ayat ini, padahal k e d u a n y a berkaitan dengan matahari dan bulan y a n g
dibicarakan oleh ayat yang lalu. Ada yang menjawab bahwa m a l a m dan siang
disebut pada ayat ini y a n g berbicara tentang b u m i — b u k a n pada ayat y a n g
berbicara tentang matahari dan bulan karena terjadinya m a l a m dan siang
adalah akibat perputaran bumi, bukan akibat peredaran matahari dan bulan.

Ayat di atas—sebagaimana ayat-ayat y a n g lain—tersusun dengan sangat


serasi. Yang disebut pertama adalah bumi, lalu gunung-gunung y a n g menjadi
penyanggah bagi tegaknya bumi. G u n u n g berfungsi sebagai cagak-cagak bagi
kemah. Seterusnya adalah sungai-sungai yang banyak terdapat di lereng-lereng
gunung. Dari sungai, air menguap ke udara untuk kemudian turun lagi dalam
bentuk hujan dan ini mengairi tanah y a n g menghasilkan aneka buah y a n g
berpasang-pasangan. D e m i k i a n , satu demi satu disebutkan secara berurut
sesuai dengan fungsi dan d a m p a k y a n g dihasilkannya.

AYAT 4

"Dan di bumi ada kepingan-kepingan yang berdampingan, dan kebun-kebun


• "'i9gur, tanaman-tanaman dan pohon kurma yang bercabang dan yang tidak
'.-{•'•cabang, disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan sebagian atas
212 Surah ar-Ra'd [13] Kelompok I Ayat 4

sebagian yang lain dalam rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu
terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. "

U n t u k lebih menjelaskan apa y a n g diuraikan pada ayat yang lalu tentang


kebesaran dan kekuasaan Allah, ayat ini melanjutkan bahwa dan di bumi
tempat k a m u semua m e m i j a k k a n kaki dan m e n g h i r u p udara, k a m u semua
melihat d e n g a n sangat nyata ada kepingan-kepingan tanah yang saling
berdekatan dan berdampingan n a m u n d e m i k i a n kualitasnya berbeda-beda.
A d a y a n g tandus ada pula y a n g subur dan ada j u g a y a n g jenisnya sama yang
d i t u m b u h i oleh t u m b u h a n y a n g berbeda. Ada y a n g menjadi lahan kebun-
kebun anggur dan tanaman-tanaman persawahan dan ada juga yang menjadi
lahan bagi perkebunan pohon kurma yang bercabang dan yang tidak bercabang.
S e m u a kebun dan t u m b u h a n itu disirami dengan airyangsama lalu t u m b u h
berkembang dan berbuah pada w a k t u tertentu. N a m u n d e m i k i a n , Kami
melebihkan sebagian tanam-tanaman itu atas sebagian yang lain dalam rasanya
d e m i k i a n j u g a d a l a m besar d a n k e c i l n y a , w a r n a dan b e n t u k n y a , serta
perbedaan-perbedaan y a n g lain. Sesungguhnya pada yang demikian itu
terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi kaum yang berpikir.

D a l a m tafsir al-Muntakhab y a n g d i s u s u n oleh sekian p a k a r y a n g


dikoordinasi oleh Kementerian W a k a f Mesir, ayat ini mereka pahami sebagai
pengisyaratan a d a n y a i l m u tentang tanah (geologi dan geofisika) dan i l m u
l i n g k u n g a n h i d u p (ekologi) serta p e n g a r u h n y a terhadap sifat t u m b u h -
t u m b u h a n . Secara i l m i a h — m e n u r u t mereka—telah diketahui bahwa tanah
pesawahan terdiri atas butir-butir mineral y a n g beraneka ragam sumber,
ukuran dan susunannya; air y a n g bersumber dari hujan; udara; zat organik
yang berasal dari limbah t u m b u h - t u m b u h a n dan m a k h l u k h i d u p l a i n n y a
yang ada di atas m a u p u n di dalam lapisan tanah. Lebih dari itu, terdapat pula
berjuta-juta m a k h l u k hidup yang amat halus y a n g tidak dapat dilihat dengan
m a t a telanjang karena u k u r a n n y a y a n g sangat kecil. J u m l a h n y a p u n sangat
bervariasi, berkisar antara p u l u h a n j u t a sampai ratusan juta pada setiap satu
gram tanah pertanian. Sifat-sifat tanah yang bermacam-macam itu, baik secara
kimia, fisika, m a u p u n secara biologi, m e n u n j u k k a n kemahakuasaan Allah,
Sang Pencipta dan kehebatan penciptaan-Nya. Tanah, seperti y a n g diakui
Kelompok I Ayat 4 Surah ar-Ra'd [13] 213

oleh para petani sendiri, benar-benar berbeda dari satu jengkal ke satu jengkal
lainnya.
Perbedaan tanah dan lain-lain yang disebutkan di atas, dan yang dilakukan
oleh Allah swt., sama sekali tidak m e m b a t a l k a n h u k u m - h u k u m alam y a n g
juga ditetapkan Allah swt. Itu sebabnya campur tangan petani, misalnya
dengan m e n a m b a h k a n salah satu zat u t a m a yang diperlukan sebagai bahan
m a k a n a n , misalnya dengan m e n g g u n a k a n p u p u k y a n g sesuai dengan jenis
tanah, akan m e n g a k i b a t k a n perubahan y a n g berpengaruh pada t u m b u h -
t u m b u h a n . Ini pun diisyaratkan oleh kata "Kami" d a l a m fitman-Nya:

"Kami melebihkan sebagian atas sebagian yang lain dalam rasanya. " Seperti
telah sering kali d i k e m u k a k a n dalam tafsir ini bahwa bentuk j a m a k yang
menunjuk kepada Allah swt. m e n g a n d u n g makna keterlibatan pihak lain
bersama-Nya, dalam hai ini adalah kelebihan rasa sebagian atas sebagian yang
lain.
KELOMPOK 2

AYAT 5-7

215
216 Surah ar-Ra'd [13] Kelompok II Ayat 5

AYAT 5

"Dan jika engkau heran, maka yang mengherankan adalah ucapan mereka:
"Apakah bila kami telah menjadi tanah, apakah kami akan menjadi makhluk
yang baru?" Mereka itulah yang kafir kepada Tuhan mereka; dan itulah,
belenggu-belenggu di leher mereka; dan itulah penghuni-penghuni neraka,
mereka kekal di dalamnya. "

B u k t i - b u k t i y a n g d e m i k i a n jelas t e n t a n g keesaan Allah swt. serta


kekuasaan-Nva d a l a m mencipta, m e n g h i d u p k a n , dan m e m a t i k a n sungguh
sangat jelas sehingga dinyatakannya di sini bahwa Dan jika ada sesuatu pada
satu saat atau hari yang engkau ketika itu wajar heran, maka yang patut
mengherankan engkau dan siapa pun dengan keheranan yang amat besar
adalah ucapan mereka: "Apakah bila kami telah menjadi tanah, apakah kami
akan d i k e m b a l i k a n h i d u p lagi dan menjadi makhluk yang barur" Mereka
itulah vang mengingkari keesaan Allah dan keniscayaan Kiamat yaitu orang-
orang y a n g kafir kepada Tuhan. M e r e k a y a n g menutupi hakikat kebenaran;
dan orang-orang itulah y a n g sangat jauh dari rahmat Ilahi serta dilekatkan
belenggu-belenggu di tangan mereka lalu diikat belenggu itu di leher mereka
dan orang-orang itulah yang sungguh sangat merugi dan yang akan menjadi
penghuni-penghuni neraka. Mereka menghuninya bukan untuk waktu singkat
tetapi mereka kekal di dalamnya, yakni w a k t u y a n g sangat lama.

Firman-Nya:

"Jika engkau heran, makayang mengherankan"'dipahami oleh sementara ulama


antara lain al-Qurthubi dalam arti: "Jika engkau wahai M u h a m m a d heran
dengan pendustaan mereka kepadamu padahal mereka dahulu mengakuimu
sebagai seorang yang sangat j uj ur, yang lebih mengherankan lagi adalah ucapan
mereka y a n g mengingkari keniscayaan Kiamat."
Dapat juga penggalan ayat tersebut dipahami secara u m u m dan ditujukan
bukan saja kepada Nabi M u h a m m a d saw., seperti pendapat al-Qurthubi itu.
Kelompok 11 Ayat 5 Surah ar-Ra'd [13] 217

tetapi ditujukan kepada siapa pun y a n g berakal. M e m a n g , siapa pun y a n g


berakal sehat akan heran bila masih ada y a n g m e r a g u k a n akan a d a n y a
kebangkitan manusia di H a r i Kiamat setelah sekian b a n y a k bukti-bukti
keniscayaannya.
Kata ( u ^ i P ) 'ajabun d a l a m b e n t u k nakirah/indifinite mengandung
m a k n a besar/agung. Sedang, kata ( J ^ p ^ ! ) al-aghldllbelenggu-belenggu adalah
b e n t u k j a m a k ( JA!1 ) al-ghul y a i t u kalung besi y a n g salah satu u j u n g n y a
m e n g i k a t tangan dan ujung lainnya digantungkan di leher sehingga gerak
yang dibelenggu menjadi sangat terbatas.

Firman-Nya:

"Belenggu-belenggu di leher mereka," ada y a n g m e m a h a m i n y a sebagai


gambaran siksa y a n g mereka alami di akhirat nanti sejalan dengan firman-
Nya:

"Ketika belenggu dan rantai dipasang di leher mereka, seraya mereka diseret"
(QS. al-Mu'min [ 4 0 ] : 7 1 ) , dan ada juga yang m e m a h a m i n y a sebagai ilustrasi
tentang keadaan mereka dalam k e h i d u p a n dunia ini. Keengganan mereka
yang tidak beriman diserupakan dengan keadaan seseorang yang terikat tangan
ke lehernya sehingga tidak dapat mengambil sesuatu, tidak juga dengan leluasa
dapat menoleh ke kiri dan ke kanan. Kedua m a k n a ini—-hakiki dan majazi,
dunia dan akhirat—dapat digabung dalam m e m a h a m i ayat tersebut. Karena
siapa yang enggan menerima kebenaran yang disampaikan oleh para rasul, di
hari Kemudian nanti, dia akan dibelenggu dan diseret ke neraka.
S u n g g u h orang-orang kafir itu m e m u t a r b a l i k k a n keadaan. M e r e k a
mestinya pada m u l a n y a heran dan takjub melihat fenomena alam raya, tetapi
dalam kenyataan mereka menganggapnya biasa. Di sisi lain, mereka mestinya
tidak heran apalagi menolak keniscayaan Kiamat setelah begitu banyak bukti-
bukti y a n g terhampar, tetapi k e n y a t a a n n y a mereka heran dan m e n o l a k n y a .
S u n g g u h tidaklah wajar seseorang tidak metasa heran atau tidak k a g u m
218 Surah ar-Ra'd [13] Kelompok II Ayat 6

melihat suatu keajaiban dan sungguh lebih tidak wajar j i k a ia heran dan
m e n o l a k sesuatu y a n g tidak m e n g h e r a n k a n dan tidak pula wajar ditolak.

AYAT 6

"Mereka meminta kepadamu supaya disegerakan siksa, sebelum kebaikan,


padahal telah terjadi bermacam-macam contoh siksa sebelum mereka.
Sesungguhnya, Tuhanmu benar-benar mempunyai ampunan bagi manusia
sekalipun mereka zalim, dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar sangat keras
siksa-Nya. "

B u k a n hanya pengingkaran mereka terhadap keniscayaan Hari Kiamat


yang mengherankan dari ulah orang-orang kafir itu, tetapi j u g a ulah mereka
y a n g lain, y a i t u mereka meminta kepadamu supaya disegerakan datangnya
siksa yang d i a n c a m k a n atas mereka. S u n g g u h aneh dan begitu berani lagi
ceroboh mereka itu. M e r e k a m e m i n t a d a t a n g n y a siksa, padahal tidakkah
lebih baik dan logis jika sebelum m e m i n t a siksa mereka m e m i n t a kebaikan
yang dijanjikan yaitu dengan mengindahkan tuntunan Rasul? S u n g g u h aneh
mereka yang m e m i n t a siksa itu padahaltelah terjadi bermacam-macam contoh
siksa sebelum mereka. Seperti y a n g dialami oleh k a u m N u h , 'Ad, Tsamud,
Luth, dan lain-lain. B u k a n k a h apa y a n g mereka alami itu m e m b u k t i k a n
kebenatan ancaman Allah? N a m u n demikian, Allah swt. menangguhkan siksa
atas mereka untuk memberi mereka kesempatan berintrospeksi, menyesal,
dan bertaubat. Sesungguhnya Tuhanmu y a n g selalu berbuat baik itu benar-
benar mempunyai ampunan y a n g luas bagi manusia sekalipun mereka zalim
dan mcngkufuri-Nya, dan sesungguhnya Tuhanmu juga, wahai M u h a m m a d ,
benar-benar sangat keras siksa-Nya bagi y a n g terus-menerus durhaka dan
enggan bertaubat, baik siksa itu duniawi lebih-lebih ukhrawi.

Kata { oViiU ) al-rnatsuldt adalah bentuk j a m a k dari ( i k a ) matsulah. la


tetambil dari kata ( Jiw ) m/W yang berarti sama. Siksa yang dijatuhkan Allah
dinamai d e m i k i a n karena siksa tersebut seimbang dan sama dengan dosa
vang mereka lakukan.
Kelompok II Ayat 7 Surah ar-Ra'd [13] 219

Thabathaba'i m e m a h a m i firman-Nya:

"Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mempunyai ampunan"sebagai penjelas


mengapa ulah k a u m kafirin itu sangat mengherankan. Yakni, Allah swt. sangat
luas r a h m a t - N y a sehingga m e n c a k u p semua m a n u s i a w a l a u p u n mereka
berbuat kezaliman. R a h m a t - N y a mengalahkan amarah-Nya, tetapi anehnya
mereka tidak memanfaatkan rahmat y a n g d e m i k i a n luas bahkan mereka
m e m o h o n siksa-Nya.
Ayat di atas m e n g g u n a k a n kata ( ) an-nds/semua manusia untuk
mengisyaratkan bahwa ra^^r^/pengampunan Allah dapat menyentuh
semua manusia termasuk y a n g kafir selama mereka m e n e m p u h jalan y a n g
benar u n t u k meraihnya. Karena itu pula ayat ini m e n y a t a k a n Allah Pemilik
maghfirabimempunyai a m p u n a n . Kata itu juga memberi kesan bahwa AJlah
memiliki a m p u n a n yang dapat Dia bagi-bagikan kepada siapa saja, baik yang
m e m i n t a m a u p u n y a n g tidak m e m i n t a . M e m a n g , b a n y a k pelanggaran dan
dosa yang Allah ampuni sebelum pelakunya bermohon {baca antara lain Q S .
asy-Syura [ 4 2 ] : 2 5 , 3 0 dan 3 4 ) .

AYAT 7

Orang-orang kafir berkata: "Mengapa tidak diturunkan kepadanya suatu ayat


(bukti) dari Tuhannya? Sesungguhnya engkau hanyalah seorang pemberi
peringatan; dan bagi setiap kaum ada pemberi petunjuk (buat mereka). "

Ada hal lain yang juga mengherankan akibat kesesatan mereka yang telah
m e l a m p a u i batas itu. Orang-orang kafir selalu berkata dengan tujuan
m e n g e j e k : Mengapa tidak diturunkan kepadanya, yakni kepada Nabi
M u h a m m a d saw., suatu ayat yaitu bukti berupa mukjizat tanda kebenaran
dari Tubannya?Mereka berkata: "Alangkah baik dan tepatnya jika bukti yang
d i t a m p i l k a n oleh M u h a m m a d a d a l a h m u k j i z a t i n d r i a w i seperti v a n g
ditampilkan oleh M u s a , 'Isa, dan nabi-nabi sebelumnya." Usul mereka itu
220 Surah ar-Ra'd [13] Kelompok II Ayat .

ditanggapi bahwa: Sungguh aneh permintaan mereka. AJ-Qur'an sedemikian


jelas menjadi bukti. Apakah itu belum cukup? Di sisi lain, bukti-bukti hanya
ada dan bersumber dari Allah swr. Engkau, w a h a i M u h a m m a d , tidak
memiliki sedikit campur tangan pun dalam hal menghadirkan mukjizat karena
sesungguhnya engkau hanyalah seorang pemberi peringatan serta pemberi
petunjuk dan b i m b i n g a n ; dan bagi setiap kaum ada pemberi petunjuk buat
mereka, baik sebagai nabi vang diutus Allah m a u p u n sebagai pewaris-pewaris
nabi yang bertugas m e n y a m p a i k a n dan melanjutkan ajarannya.
Apa yang diusulkan oleh k a u m kafirin itu m e m a n g sangat aneh. Jika
ada seseorang yang mengaku sebagai insinyur atau dokter, kemudian diragukan
oleh orang lain, sangat aneh jika dia m e n a m p i l k a n hal-hal luar biasa yang
tidak berkaitan dengan profesinya. Sebaliknya, bila dia m e m a p a r k a n bukti
k e b e n a r a n n y a dengan sesuatu y a n g berkaitan dengan pengakuannya-—
katakanlah kesembuhan pasien bagi dokter—-tentu saja pembuktian itu lebih
k u k u h daripada m e l a k u k a n hal-hal indriawi y a n g luar biasa karena bukti-
bukti indriawi yang diajukan bisa saja dinilai sebagai salah satu pengelabuan
mata atau hipnotisme.

K e t i k a m e n a f s i r k a n Q S . a l - A n ' a m [ 6 ] : 3 7 , p e n u l i s a n t a r a lain
mengemukakan bahwa sungguh aneh logika mereka itu. Dari m a n a gerangan
mereka mengetahui bahwa Allah akan rela melayani permintaan mereka,
sedang selama ini sudah sekian banyak bukti yang dipaparkan-Nya? Bukankah
alam raya dengan segala isinya adalah bukti-bukti yang nyata dan oleh al-
Q u r ' a n d i n a m a i ayat-ayat? H a n y a karena terulangnya serta keterbiasaan kita
melihat atau mendengarnya, ia tidak dianggap lagi suatu peristiwa luar biasa
y a n g dapat menjadi ayat/bukti. J a t u h n y a sesuatu karena daya tarik bumi
tidak kurang m e n g a g u m k a n daripada jika sesuatu itu tertarik ke atas. Hanya
saja, karena yang itu sudah sering kali terjadi, ia tidak lagi dianggap bukti
oleh mereka yang lengah. Sungguh, tata kerja alam raya yang berjalan konsisten
sesuai dengan h u k u m - h u k u m yang ditetapkan AJlah, pada hakikatnya, adalah
peristiwa-peristiwa luar biasa, kendati ia sudah sering dilihat. Di sisi lain,
tidak tertutup kemungkinan terjadinya peristiwa-peristiwa berbeda yang tidak
biasa karena, b a i k y a n g telah terlihat sehari-hari m a u p u n y a n g tidak,
kesemuanya tidak keluar dari kekuasaan dan kodrat Allah, dan ketika itu
Kelompok il Ayat 7 Surah ar-Ra'd [13] 221

vang terlihat sehari-hari m a u p u n tidak, k e d u a n y a sangat mengagumkan dan


dapat menjadi bukti kebenaran.
Di sisi lain, Allah menolak pengabulan permintaan orang-orang kafir
karena Yang Mahakuasa itu telah berkali-kali mengabulkan permintaan orang-
orang kafir terdahulu tetapi mereka vang sifatnya mirip dengan sifat orang-
orang kafir M e k k a h itu tetap saja mengingkari dan mendustakan kebenaran
vang dibawa para rasul.

Dan sekali-kali tidak ada yang menghalangi Kami ttutak mengirhnkan ayat-
.v;at (tanda-tanda kekuasaan Kami), melainkan karena ia telah didustakan
deh orang-orang dahulu. Dan telah Kami berikan kepada Tsamudunta betina
::u (sebagai mukjizat) yang dapat dilihat, tetapi mereka menganiayanya. Dan
Kami tidak memberi tanda-tanda melainkan untuk menakuti" ( Q S . al-lsra'
7
. l * ] : 5 9 ) . J i k a d e m i k i a n , apa g u n a n y a permintaan mereka dikabulkan?

Ucapan atau usul mereka dengan m e n g g u n a k a n redaksi seperti dikutip


i y a t ini "Mengapa tidak diturunkan kepadanya suatu ayat (bukti) dari
- .v/vmw)'/??'"menunjukkan betapa j a u h n y a mereka dari sopan santun kepada
Allah swt. Ini dipahami dari ucapan mereka "dari Tuhannya", yakni dari Tuhan
Nabi M u h a m m a d saw. Seharusnya mereka berkata "dari Allah", atau "dari
-Lihan", atau "Yang Mahakuasa", dan s e m a c a m n y a . Dengan berkata "dari
-uhannya", seakan-akan mereka ingin m e n u n j u k k a n b a h w a Tuhan Nabi
. M u h a m m a d saw. tidak m a m p u . " K a l a u T u h a n n y a m a m p u pasti Dia
membantunya dan m e n u r u n k a n bukti yang k a m i minta," begitu maksud
-Japan mereka.

Ayat di atas tidak memerintahkan Nabi saw. menjawab usul mereka itu.
. ~: dipahami bukan dari tiadanya kata quh'katakanlah sebagaimana beberapa
i" .i: lainnya. A g a k n y a , hal tersebut demikian u n t u k mengisyaratkan bahwa
_:^pan mereka itu tidak perlu dilayani atau digubris.
KELOMPOK 3

AYAT 8-16

f 'O^-^ W J^^* ^

223
Surah ar-Ra'd [13]

^l^j^oj^^y^^^y'JiCiJib *****
Kelompok III Ayat 8-9 Surah ar-Ra'd [13] 225

AYAT 8-9

"Allah mengetahui apa yang dikandung oleh setiap perempuan, dan apa yang
berkurang di dalam rahim dan yang bertambah. Dan segala sesuatu pada sisi-
Nya ada ukuran(nya). (Allah) Yang mengetahui semua yang gaib dan yang
tampak; Yang Mahabesar lagi Mahatinggi."

Setelah avat-ayat y a n g lalu m e m b u k t i k a n kekuasaan AJlah swt., kini


diuraikan i l m u - N y a yang sangat luas lagi mencakup segala y a n g kecil dan
y a n g besar. Tuhan Yang M a h a Mengetahui-lah y a n g m e n e n t u k a n j u g a jenis
ayat atau mukjizat y a n g d i t u r u n k a n n y a kepada setiap rasul.
Salah satu objek pengetahuan-Nya adalah tentang k a n d u n g a n . Allah,
sejak d a h u l u , sekarang, dan terus-menerus, mengetahui keadaan janin sejak
masih berbentuk sperma. Calon bapak lalu m e m b u a h i ovum y a n g berada
dalam diri seorang calon ibu. Allah mengetahui j u g a apa yang dikandung
oleh setiap perempuan atau betina setelah pertemuan sperma dan ovum y a n g
k e m u d i a n menempel di d i n d i n g rahim. Allah mengetahui, bukan saja jenis
kelaminnya, tetapi berat badan dan bentuknya, keindahan dan keburukannya,
usia dan rezekinya, masa kini dan masa depannya, dan lain lain. Dan .Allah
mengetahui j u g a apa, y a k n i sperma serta ovum, yang berkurang di dalam.
rahim yang dapat mengakibatkan janin lahir cacat atau keguguran dan Allah
mengetahui juga yang bertambah, yakni t u m b u h atau yang d a l a m keadaan
kembar. Dan segala sesuatu, baik m e n y a n g k u t kandungan m a u p u n selain
kandungan, pada sisi-Nya ada ukuran-nyz. y a n g sangat teliti, baik dalam
kualitas, kuantitas, m a u p u n kadar, w a k t u dan tempatnya, j a n g a n heran
m e n y a n g k u t pengetahuan itu karena Allah adalah Yang mengetahui semua
yang gaib dan yang tampak; Yang Mahabesar lagi Mahatinggi sehingga pada
akhirnya tidak ada sesuatu pun y a n g gaib bagi-Nya.

Kata ( jaJu ) taghidh d i p a h a m i oleh al-Biqa'i dalam arti berkurangnya


sesuatu yang cair yang terdapat di suatu tempat yang sangat dalam. Dari sini,
ulama tersebut m e m a h a m i penggalan ayat tersebut d a l a m arti b a h w a Allah
i\vt. mengetahui penambahan cairan y a n g terdapat dalam rahim atas cairan
226 Surah ar-Ra'd [13] Kelompok III Ayat 8-9

y a n g ada sebelumnya y a n g m e r u p a k a n unsur kelahiran dan yang k e m u d i a n


dapat berakibat lahirnya a n a k kembar.
Thabarhaba'i lain lagi p e m a h a m a n n y a . U l a m a ini m e m a h a m i kata
taghidh d a l a m arti apa yang dijadikan oleh rahim seperti air yang ditelan
bumi. ( A.}S,P ) ghidhah m e n u r u t n y a adalah tempat perhentian air sehingga
semua bagaikan ditelannya. Atas dasar itu, ulama ini m e m a h a m i penggalan
ayat di atas sebagai berbicara tentang hal yang berkaitan dengan rahim pada
saat k e h a m i l a n . Pertama apa yang dikandung oleh rahim y a i t u janin, d a l a m
hal ini rahim m e m e l i h a r a n y a . Kedua, apa yang berkurang di dalam rahim
yaitu darah haid y a n g diolah oleh rahim menjadi m a k a n a n janin. Dan yang
ketiga adalah yang bertambah y a i t u darah nifas y a n g dikeluarkan oleh rahim
setelah melahirkan.

Ada juga yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan


( f l ? - y ^ Jo-Jii l a ) ma taghidhu al-arhamlapa yang berkurang di dalam rahim
d a l a m arti w a k t u yang berkurang dari masa kehamilan normal (kurang dari
sembilan bulan) dengan yang berlebih adalah kelebihan dari masa normal
itu.

Sifat Allah ( ) abKabir d i p a h a m i oleh sementara u l a m a dalam arti


kebesaran dalam hal keagungan dan kekuasaan. Imam al-Ghazaii m e m a h a m i
"kebesaran" itu d a l a m arti kesempurnaan Zat-Nya atau dengan kata lain
kesempurnaan wujud-Nya. Selanjutnya, kesempurnaan w u j u d ditandai oleh
dua hal yaitu keabadian dan sumber wujud.

Allah kekal abadi. Dia awal y a n g tanpa permulaan dan akhir y a n g ranpa
pengakhiran. T i d a k dapat tergambar d a l a m benak, apalagi dalam kenyataan
bahwa Dia pernah tiada dan satu ketika akan tiada. Allah adalah Dzat y a n g
wajib w u j u d - N y a . Berbeda dengan makhluk y a n g w u j u d n y a didahului oleh
ketiadaan dan diakhiri pula oleh ketiadaan. Dari segi sumber wujud, Dia
adalah sumbernya karena setiap yang t na ujud pasti ada yang mewujudkannya.
Mustahil sesuatu dapat mewujudkan dirinya sebagaimana mustahil pula
ketiadaan y a n g m e w u j u d k a n n y a . J i k a d e m i k i a n , benak kita pasti berhenti
pada wujud yang wajib dan vang merupakan sumber dari segala y a n g wujud.
Dialah Allah yang Mahabesar itu.
Kelompok III Ayat 10-11 Surah ar-Ra'd [13] 227

Kata ( ) al-Muta'dl, di samping m e n u n j u k k a n ketinggian Allah


swt., juga mengandung makna ketidakmampuan selain-Nya untuk mencapai-
Nya, yang dibuktikan oleh kuatnya hujjahl dalil. M e m a n g , ada saja makhluk
yang merasa dirinya m e n y a n d a n g kebesaran atau ketinggian k e d u d u k a n
dengan berbagai dalih atau w a h a m . Tetapi, itu semua adalah palsu dan tidak
lama bertahan.
Sayyid Q u t h u b , ketika sampai pada penafsiran kedua sifat Ilahi ini,
menulis: "Kedua kata yang m e n g g a m b a r k a n sifat Allah itu memberi kesan,
tetapi kesan itu sangat sulit d i g a m b a r k a n d e n g a n k a t a - k a t a y a n g lain.
Sesungguhnya, Dia tidak menciptakan suatu ciptaan kecuali ada kekurangan
yang m e n j a d i k a n n y a k e c i l — d i sisi-Nya. T i d a k satu pun dari semua ciptaan
Allah y a n g d i n a m a i besar, tidak j u g a satu peristiwa dari peristiwa-peristiwa
apa pun atau karya dari karya-karya apa pun yang dinamai besar, kecuali dia
langsung mengecil begitu disebut n a m a Allah. Demikian juga dengan "al-
Muta'dllYangMahatinggi."

Setelah menguraikan hal di atas, Sayyid Q u t h u b menulis: "Apakah A n d a


duga aku telah menjelaskan sesuatu? Tidak! Tidak satu penafsir al-Qur'an
pun yang m a m p u berdiri di hadapan al-Kabir al-Muta'dl. "
Ayat 9 di atas, yang d i m u l a i dengan pernyataan bahwa Allah Yang
Mengetahui semua gaib dan yang tampak, diakhiri dengan dua sifat-Nya al-
Kabir al-Muta'dlsehingga pada a k h i r n y a ayat ini menjelaskan bahwa ilmu
Allah swt. mencakup segala sesuatu lagi menguasai dan mengatasinya, tidak
ada sesuatu pun y a n g dapat mengatasi-Nya. Dia tidak dikalahkan oleh y a n g
gaib, tidak juga oleh yang nvata karena Dia adalah al-Kabir al-Muta'dl, yakni
Dia y a n g abadi dan Dia juga sumber w u j u d lagi Kuasa m e n g a l a h k a n segala
sesuatu.

AYAT 10-11

"Sa/na saja siapa di antara kamu yang merahasiakan ucapan, dan siapa yang
berterus-terang dengannya, dan siapa yang bersembunyi di malam hari dan
\ang berjalan di siang hari. Ada baginyapengikuti-pengikutyang bergiliran,
228 Surah ar-Ra'd [13] Kelompok III Ayat 10-11

di hadapannya dan di belakangnya; mereka menjaganya atas perintah Allah.


Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka
mengubah apa yang ada pada diri mereka Dan apabila Allah menghendaki
keburukan terhadap sesuatu katun, maka tak ada yang dapat menolaknya;
dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia. "

Karena Allah mengetahui yang gaib dan tampak, bahkan mengetahui


segala sesuatu sebelum, pada saat, dan sesudah w u j u d n y a , m a k a sama saja
bagi Allah siapa di antara kamu yang merahasiakan ucapan-nya agar tidak
ada y a n g mengetahui kecuali dirinya sendiri dan siapa yang berterus-terang
dengannya, y a k n i dengan ucapan itu sehingga diketahui y a n g lain dan

sungguh di malam hari y a n g gelap gulita dan yang berjalan menampakkan


diri t e r a n g - t e r a n g a n di siang hari bolong. T i d a k berbeda s e d i k i t p u n
p e n g e t a h u a n - N y a m e n y a n g k u t vang jelas dan vang tersembunyi, w a l a u
terdapat perbedaan dalam nyata dan tersembunyinya sesuatu.
Siapa pun, baik yang bersembunyi di m a l a m hari atau berjalan terang-
terangan di siang hari, masing-masing ada baginya pengikut-pengikut, yakni
malaikat-malaikat atau m a k h l u k jv^zg-selalu m e n g i k u t i n y a secara bergiliran,
di hadapannya dan juga di belakangnya, mereka, vakni para malaikat itu,
menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan
suatu kaum dari positif ke negatif atau sebaliknya dari negatif ke positif
sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka, yakni sikap mental
dan pikiran mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan
terhadap suatu kaum, tetapi ingat bahwa Dia tidak m e n g h e n d a k i n y a kecuali
j i k a manusia mengubah sikapnya terlebih d a h u l u . J i k a Allah menghendaki
keburukan terhadap suatu k a u m , ketika itu berlakulah ketentuan-Nva yang
berdasar sunnatullah atau h u k u m - h u k u m kemasyarakatan yang ditetapkan-
Nya. Bila itu terjadi, maka tak ada yang dapat menolaknya dan pastilah
sunnatullah menimpanya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka, yang
jatuh atasnya ketentuan tersebut selain Dia.

Kata ( o L i * l i ) al-mu 'aqqibat adalah bentuk j a m a k dari kata ( dJUii} al-


rnu'aqqibah. Kata tersebut terambil dari kata ( ^ J i p ) 'aqibyaitu tumit. Dari
Kelompok III Ayat 10-11 Surah ar-Ra'd [13] 229

sini kata tersebut dipahami dalam arti /;/fw^/£«ft seakan-akan yang mengikuti
itu meletakkan t u m i t n y a di tempat tumit y a n g diikutinya. Patron kata yang
d i g u n a k a n di sini m e n g a n d u n g m a k n a penekanan. Yang d i m a k s u d adalah
m a l a i k a t - m a l a i k a t yang ditugaskan .Allah m e n g i k u t i setiap orang secara
sungguh-sungguh.
k a t a ( AJ£ist£;) yahfazhunahttJmemeliharanya dapat dipahami dalam arti
mengawasi manusia d a l a m setiap g e t a k langkahnya, baik ketika dia tidak
b e r s e m b u n y i m a u p u n saat p e r s e m b u n y i a n n y a . D a p a t j u g a d a l a m arti
memeliharanya, dari g a n g g u a n apa pun y a n g dapat menghalangi tujuan
penciptaan nya.
Ketika menafsirkan surah ath-Thariq pada firman-Nya:

"Setiap jiwa pasti ada pemeliharanya" ( Q S . ath-Thariq [ 8 6 ] : 4), p e n u l i s —


pada b u k u Tafsir ai-Qur'an al-Karim—-mengemukakan bahwa "Manusia
bergerak dengan bebas di siang hari, matahari dan k e h a n g a t a n n y a sangat
m e m b a n t u manusia dalam segala aktivitasnya. Tetapi, bila m a l a m tiba dan
kegelapan menyelimuti lingkungan, apakah Allah membiarkan manusia tanpa
pemeliharaan dan perlindungan? Tidak! Salah satu bentuk pemeliharaan-Nya
adalah melalui bintang-bintang yang darinya manusia dapat mengetahui arah.
Pemeliharaan Allah terhadap setiap jiwa bukan hanya terbatas pada tersedianya
sarana dan prasarana kehidupan, seperti udara, air, matahari, dan sebagainya,
terapi lebih dari itu. Dalam kehidupan kita ada yang dikenal dengan istilah
'indyatullah, di samping sunnatullah. J i k a ada kecelakaan fatal dan seluruh
p e n u m p a n g tewas, y a n g d e m i k i a n adalah sunnatullah, yakni sesuai dengan
h u k u m - h u k u m alam vang biasa kita lihat, tetapi bila kecelakaan sedemikian
hebat, yang biasanya menjadikan semua p e n u m p a n g tewas, tetapi ketika itu
ada y a n g selamat, ini adalah 'indyatulldh y a n g merupakan salah satu bentuk
pemeiiharaan-Nya. Nah, ada m ala ikat-malaikat yang ditugaskan Allah untuk
menangani pemeliharaan itu."

Kata ( &\ y[>) bi umr Allah dipahami oleh banyak ulama dalam arti atas
perintah Allah. Thabathaba'i m e m a h a m i n y a d a l a m arti lebih luas. U l a m a
ini terlebih dahulu menggarisbawahi bahwa manusia bukan sekadar jasmani,
230 Surah ar-Ra'd [13] Kelompok III Ayat 10-11

tetapi dia adalah m a k h l u k ruhani dan jasmani dan y a n g terpokok d a l a m


segala p e r s o a l a n n y a adalah sisi dalamnya y a n g m e m u a t perasaan dan
kehendaknya. Inilah yang terarah kepadanya perintah dan larangan, dan atas
dasarnya sanksi dan ganjaran dijatuhkan, d e m i k i a n juga k e n y a m a n a n dan
kepedihan serta kebahagiaan dan kesengsaraan. Dari sanalah lahir amal baik
atau b u r u k dan kepadanya ditujukan sifat i m a n dan kufur, w a l a u p u n harus
diakui bahwa badan adalah alat y a n g d i g u n a k a n n y a u n t u k meraih tujuan
dan maksud-maksudnya.
Atas dasar itu, T b a b a t h a b a i m e m a h a m i kata ( 4il> JAJ AJJU JU y>} min
bayniyadaihi wa min khalfihi/di hadapannya dan juga di belakangnya pada
ayat ini d a l a m arti seluruh totalitas m a n u s i a , y a k n i seluruh arah y a n g
mengelilingi jasmaninya sepanjang hayatnya, dan tercakup j u g a semua fase
k e h i d u p a n kejiwaan y a n g d i a l a m i n v a , d e m i k i a n juga kebahagiaan dan
kesengsaraannya, a m a l - a m a l n y a yang baik dan y a n g buruk, serta apa y a n g
disiapkan baginya dari sanksi atau ganjaran. S e m u a itu, baik y a n g terjadi di
masa lalu m a u p u n masa datang. Selanjutnya, T h a b a t h a b a ' i m e n g i n g a t k a n
b a h w a manusia adalah m a k h l u k lemah. Allah swt. menyifatinya dengan
m a k h l u k yang tidak memiliki k e m a m p u a n u n t u k m e n a m p i k mudharat,
tidak juga m e n d a t a n g k a n manfaat, tidak kematlan, tidak j u g a kehidupan
atau kebangkitan. Dia tidak memiliki k e m a m p u a n memelihara apa y a n g
berkaitan dengan dirinya atau dampak-dampaknya, baik yang hadir bersama
dia sekarang m a u p u n yang telah lalu. S e m u a itu h a n y a dapat dipelihara oleh
Allah swt. karena Allah adalah Hafidzliviaiia Pemelihara ( Q S . asy-Syt'ira [ 4 2 ] :
6) dan j u g a ada petugas-petugas yang ditugaskan-Nya sebagaimana firman-
N y a : "Dan sesungguhnya atas kamu ada pengawas-pengawas/pemelihara-
pemelihara"(QS. al-lnfithar [82]: 10). Seandainya tidak ada apa yang dinamai
Allah "muaqqibdt", pastilah manusia segera mengalami kebinasaan pada dirinya
sendiri, baik dalam hal-hal y a n g berkaitan dengan vang di hadapannya atau
yang sedang terjadi maupun di belakangnya. 'Ietapi, karena amr Allah/perintah
Allah, vakni karena adanya pemeliharaan atas dasar perintah-Nya u n t u k
m e m e l i h a r a m a n u s i a , dia t i d a k p u n a h . P e m e l i h a r a a n itu j u g a a d a l a h
pemeliharaan dari amr Allah, yakni dari terjadinya kehancuran dan kebinasaan.
Karena keduanya, yakni kebinasaan dan kehancuran juga merupakan perintah
Kelompok III Ayat 10-11 Surah ar-Ra'd [13] 231

dan urusan Allah, sebagaimana halnya kelangsungan hidup, kesehatan, dan


lain-lain. Alhasil, tidak terjadi kelangsungan satu jasad kecuali atas amr Allah,
yakni perintah dan kehendak Allah, sebaliknya pun d e m i k i a n , tidak terjadi
k e p u n a h a n dan kebinasaan kecuali atas amr/perintah dan k e h e n d a k - N y a
semata. T i d a k langgeng kondisi kejiwaan/keruhanian seseorang, amal, atau
dampak amalnya kecuali karena amr Allah, tidak juga batal dan punah sesuatu
kecuali atas amr Allah. Dengan demikian, para malaikat pemelihara itu
melaksanakan tugasnya atas amr Allah sekaligus mereka memelihara manusia
dari kepunahan dan kebinasaan y a n g juga merupakan bagian dari amr Allah.
Dari sini, Thabathaba'i melihat kaitan yang sangat erat antara penggalan ayat
di atas "mereka menjaganya atas perintah Allah" dan penggalan berikutnya
yang menyatakan "Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum
sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka. " D a l a m arti, Allah
menjadikan para muaqqibat\xt\ melakukan apa yang ditugaskan kepadanya
yaitti memelihara manusia, sebagaimana dijelaskan di atas karena Allah telah
menetapkan bahwa Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga
mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka, yakni kondisi kejiwaan/WV/
dalam mereka, seperti m e n g u b a h kesyukuran menjadi kekufuran, ketaatan
menjadi kedurhakaan, iman menjadi penyekutuan Allah, dan ketika itu Allah
akan mengubah ni'mat (nikmat) menjadi niqmat (bencana), hidayah menjadi
kesesatan, kebahagiaan menjadi kesengsaraan, dan seterusnya. Ini adalah satu
ketetapan pasti y a n g kait-mengait. Demikian lebih k u r a n g T h a b a t h a b a i.
Firman-Nya:

"Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum, "secara panjang


lebar penulis uraikan d a l a m b u k u Secercah Cahaya Ilahi. Di sana antara lain
penulis k e m u k a k a n bahwa paling tidak ada d u a ayat dalam al-Qur'an y a n g
sering d i u n g k a p dalam konteks perubahan sosial, yaitu firman-Nya dalam
Q S . al-Anfal [ 8 ] : 5 3 :
232 Surah ar-Ra'd [13] Kelompok III Ayat 10-11

"Yang demikian itu (siksaan y a n g terjadi terhadap Fir'aun dan rezimnya)


disebabkan karena Allah tidak akan mengubah nikmat yang telah
dianugerahkannya kepada satu kaum, sampai mereka sendiri mengubah apa
yang terdapat dalam diri mereka" dan ayat yang kedua adalah ayat yang sedang
ditafsirkan ini.
Kedua ayat di atas berbicara tentang perubahan, tetapi ayat pertama
berbicara tentang perubahan nikmat, sedang ayat kedua y a n g menggunakan
kata ( U ) mal apa berbicara tentang perubahan apa pun, yakni baik dari ni 'mat
atau sesuatu y a n g positif menuju ke niqmatl murka Ilahi atau sesuatu y a n g
negatif m a u p u n sebaliknya dari negatif ke positif.

Ada beberapa hal vang perlu digarisbawahi m e n y a n g k u t kedua ayat di


atas.
Pertama, ayat-ayat tersebut berbicara tentang perubahan sosial, bukan
perubahan individu. Ini d i p a h a m i dari p e n g g u n a a n kata ( f jfl) qauml
masyarakat pada kedua ayat tersebut. Selanjutnya, dari sana dapat ditarik
kesimpulan bahwa perubahan sosial tidak dapat d i l a k u k a n oleh seorang
manusia saja. M e m a n g , boleh saja perubahan bermula dari seseorang yang,
ketika ia m e l o n t a r k a n dan m e n y e b a r l u a s k a n i d e - i d e n y a , d i t e r i m a dan
menggelinding dalam masyarakat. Di sini, ia bermula dari pribadi dan berakhir
pada masyarakat. Pola pikir dan sikap perorangan itu "menular" kepada
masyarakat luas, lalu sedikit demi sedikit "mewabah" kepada masyarakat luas.

Kedua, p e n g g u n a a n kata "qaum" juga m e n u n j u k k a n bahwa h u k u m


kemasyarakatan ini tidak hanya berlaku bagi k a u m muslimin atau satu suku,
ras dan a g a m a tertentu, tetapi ia berlaku u m u m , kapan dan di m a n a pun
mereka berada. Selanjutnya, karena ayat tersebut berbicara tentang kaum, ini
berarti sunnatullah yang dibicarakan ini berkaitan dengan kehidupan duniawi,
b u k a n ukhrawi. Pertanggungjawaban pribadi baru akan terjadi di akhirat
kelak, berdasarkan firman-Nya:

"Setiap mereka akan datang menghadap kepada-Nya sendiri-sendiri" (QS.


Maryam [19]: 95).
Kelompok III Ayat 10-11 Surah ar-Ra'd [13] 233

Ketiga, kedua ayat tersebut juga berbicara tentang dua pelaku perubahan.
Pelaku y a n g p e r t a m a a d a l a h Allah swt. y a n g m e n g u b a h n i k m a t y a n g
dianugerahkan-Nya kepada suatu masyarakat atau apa saja yang dialami oleh
suatu masyarakat atau, katakanlah, sisi luar/lahiriah masyarakat. Sedang,
pelaku kedua adalah manusia, d a l a m hal ini masyarakat yang m e l a k u k a n
perubahan pada sisi dalam mereka atau dalam istilah kedua avat di atas
( ^ „ . j j i b l a ) ma bi anfusihiml'apayang terdapat dalam diri mereka. Perubahan
yang terjadi akibat c a m p u r tangan Allah atau y a n g diistilahkan oleh ayat di
atas dengan ( l a ) mdbi qaurnin menyangkut banyak hal, seperti kekayaan
dan kemiskinan, kesehatan dan penyakit, kemuliaan atau kehinaan, persatuan
atau perpecahan, dan lain-lain yang berkaitan dengan masyarakat secara u m u m ,
bukan secara individu. Sehingga, bisa saja ada di antara anggotanya yang kaya.
tetapi jika mayoritasnya miskin, masvarakar tersebut dinamai masyarakat
miskin, d e m i k i a n seterusnya.

Keempat, k e d u a ayat itu j u g a m e n e k a n k a n bahwa perubahan y a n g


dilakukan oleh Allah haruslah didahului oleh perubahan yang dilakukan oleh
masyarakat m e n y a n g k u t sisi dalam mereka. Tanpa perubahan ini, musrahil
akan terjadi perubahan sosial. Karena itu, boleh saja terjadi perubahan
penguasa atau bahkan sistem, tetapi jika sisi dalam masyarakat tidak berubah,
keadaan akan tetap bertahan sebagaimana sediakala. J i k a demikian, sekali
lagi perlu ditegaskan bahwa dalam pandangan al-Qur'an yang paling pokok
guna keberhasilan perubahan sosial adalah perubahan sisi dalam manusia
karena sisi dalam manusialah yang melahirkan aktivitas, baik positif maupun
negatif, dan bentuk, sifat, serta corak aktivitas itulah yang mewarnai keadaan
masyarakat apakah positif atau negatif

Sisi dalam manusia dinamai ( ^ J * ) naf s, bentuk j a m a k n y a ( JJL>\)


I anfus
dan sisi luar yang d i n a m a i n y a antara lain ( ) jisrn yang dijamak ( )
ajsdrn. Sisi dalam tidak selalu sama dengan sisi luar. Ini diketahui dan terlihat
dengan jelas pada orang-orang munafik (baca Q S . a l - M u n a l i q u n [ 6 3 ] : 4 ) .
J i k a kita ibaratkan nafs dengan sebuah wadah, nafs adalah wadah besar
vang di d a l a m n y a ada kotak/wadah berisikan segala sesuatu y a n g disadari
oleh manusia. Al-Qur'an m e n a m a i "kotak" itu f y > ) qalbu.
Vv Apa-apa y a n g
telah dilupakan manusia n a m u n sesekali dapat muncul dan y a n g d i n a m a i
234 Surah ar-Ra'd [13] Kelompok III Ayat 10-11

oleh i l m u w a n "bawah sadar"juga berada di dalam wadah nafs, tetapi di luar


wilayah "kalbu".
Banyak hal yang dapat d i t a m p u n g oleh naf, n a m u n d a l a m konteks
perubahan (pada nafs) penulis menggarisbawahi tiga hal pokok.
Pertama, nilai-nilai y a n g dianut dan dihayati oleh masyarakat. Setiap
nafs m e n g a n d u n g nilai-nilai, baik positif m a u p u n negatif paling tidak nafi
mengandung hawa nafsu yang mendorong manusia kepada kebinasaan. Nilai-
nilai yang m a m p u mengubah masyarakat harus sedemikian jelas dan mantap.
Tanpa kejelasan dan kemantapan, ia tidak akan menghasilkan sesuatu pada
sisi luar manusia karena yang mengarahkan dan melahirkan aktivitas manusia
adalah nilai-nilai yang dianutnya. Dan nilai-nilai itulah yang memotivasi gerak
l a n g k a h n y a dan vang melahirkan a k h l a k baik atau pun buruk.
A p a b i l a suatu m a s y a r a k a t m a s i h m e m p e r t a h a n k a n n i l a i - n i l a i n y a ,
perubahan sistem, apalagi sekadar perubahan penguasa tidak akan
menghasilkan perubahan masyarakat. Di sisi lain, semakin luhur dan tinggi
suatu nilai, semakin luhur dan tinggi pula y a n g dapat dicapai, sebaliknya
semakin terbatas ia, semakin terbatas pula pencapaiannya. Sekularisme atau
pandangan kekinian dan kcdisinian, pencapaiannya sangat terbatas, sampai
di sini dan kini saja, sehingga menjadikan p e n g a n u t n y a h a n y a m e m a n d a n g
masa kini, dan pada gilirannya melahirkan budaya m u m p u n g . Kekinian dan
kedisinian j u g a menghasilkan k e m a n d e k a n di samping menjadikan orang-
orang y a n g memiliki pengaruh dan kekuasaan dapat bertindak sewenang-
wenang. Nilai yang diajarkan Islam adalah Nilai Ketuhanan Yang M a h a Esa.
Dia sangat luhur lagi langgeng sehingga perjuangan mencapai keluhuran tidak
pernah akan mandek, apalagi Allah menjanjikan untuk menambah anugerah-
N y a u n t u k mereka y a n g telah mendapat anugerah.

"Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat


petunjuk. Dan amal-amal saleh yang kekal lebih baik di sisi Tuhanmu dan
lebih baik kesudahannya" {QS. M a r y a m [ 1 9 ] : 7 6 ) , dan:
Kelompok III Ayat 10-11 Surah ar-Ra'd [13] 235

Y^tf ^ r a w bersyukur pasti Kutambak (anugerah-Ku) untuk kamu" (QS.


Ibrahim [ 1 4 ] : 7 ) .
Kedua, m e n y a n g k u t sisi dalam manusia, y a i t u iradth, yakni tekad dan
kemauan-keras.
Ibn T a i m i y a h , ketika menjawab pertanyaan tentang hakikat azarn dan
irddah, menjawab lebih kurang sebagai berikut: " / r a d a / d t e k a d y a n g kuat
itulah yang menghasilkan aktivitas bila disertai dengan k e m a m p u a n . Karena
itu, a p a b i l a irddah y a n g m a n t a p telah d i m i l i k i dan d i s e r t a i d e n g a n
k e m a m p u a n sempurna pasti wujud pula aktivitas y a n g dikehendaki karena
ketika itu telah terpenuhi secara sempurna syarat dan tersingkirkan pula
penghalangnya."
Apabila ada irddah dan k e m a m p u a n j u g a telah sempurna, sedang apa
y a n g diharapkan tidak terpenuhi, y a k i n l a h b a h w a ketika itu irddah belum
sempurna.
Irddah lahir dari nilai-nilai atau ide-ide y a n g ditawarkan dan diseleksi
oleh akal. J i k a akal sehat, ia akan memilih dan melahirkan irddah yang baik,
demikian p u l a sebaliknya. S e m a k i n jelas nilai-nilai y a n g ditawarkan serta
semakin cerah akal vang m e n y e l e k s i n y a semakin kuat p u l a irddah-nya.
Irddah vang d i t u n t u t oleh Islam adalah y a n g m e n g a n t a r m a n u s i a
berhubungan serasi dengan Tuhan, alam, sesamanya dan dirinva sendiri.
Dengan kata lain yaitu k e h e n d a k y a n g kuat u n t u k m e w u j u d k a n nilai-nilai
tauhid dengan segala tuntunannya. Semakin kukuh irddah, semakin bersedia
seseorang u n t u k berkorban dengan jiwa dan hartanya. Karena itu, ketakutan
dan kekikiran bertentangan dengan irddah, sebaliknya keberanian dan
kedermawanan adalah bukti irddah y a n g kuat.
Ketiga, menvangkut k e m a m p u a n . Kemampuan terdiri dari kemampuan
fisik dan k e m a m p u a n non-fisik, yang dalam konteks perubahan sosial dapat
dinamai kemampuan pemahaman. Suatu masyarakat yang wilayahnya
memiliki kekayaan materi, tidak dapat bangkit mencapai kesejahteraan lahir
dan batin, tanpa m e m i l i k i k e m a m p u a n d a l a m b i d a n g p e m a h a m a n ini.
Kemampuan p e m a h a m a n ini d i n a m a i oleh filosof m u s l i m kontemporer,
236 Surah ar-Ra'd [13] Kelompok III Ayat 10-11

M a l i k Ibn Nabi, sebagai abManthiq al-Amalyl Logika Praktis. Kemampuan


pemahaman mengantar seseorang/masyarakat mengelola sesuatu dengan baik
dan benar dan m e n u n t u n n y a agar m e n g g u n a k a n k e m a m p u a n materialnya
secara baik dan benar pula. Sebaliknya, hilangnya k e m a m p u a n p e m a h a m a n
akan mengakibatkan hilangnya kemampuan material. Bahkan, jika
k e m a m p u a n p e m a h a m a n tidak d i m i l i k i , lambat laun irddah akan terkikis
dan ketika itu yang terjadi adalah kepasrahan kepada nasib, atau irddah, beralih
kepada bal lain yang m u t u n y a lebih rendah. K e m a m p u a n p e m a h a m a n y a n g
dibicarakan di atas tempatnya juga pada sisi dalam manusia.
Firman-Nya:

Apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada
yang dapat menolaknya" adalah penegasan tentang k a n d u n g a n penggalan
sebelumnya tentang sunnatullah bagi terjadinya perubahan, khususnya dari
positif menjadi negatif. Yakni tidak ada satu kekuatan pun y a n g dapat
menghalangi berlakunya ketentuan sunnatullah itu. Penggalan ini menguatkan
sekali hakikat yang berulang-ulang ditegaskan oleh a h Q u r ' a n bahwa segala
sesuatu kembali kepada pengaturan Allah dan k e h e n d a k - N y a .
Sementara ulama menjadikan penggalan terakhir ayat ini sebagai alasan
untuk menyatakan bahwa perubahan yang d i m a k s u d oleh ayat ini adalah
perubahan dari positif ke negatif saja. Bukan perubahan dari negatif ke positif.
Pendapat ini kurang tepat, sebagaimana telah dijelaskan di atas ketika
m e n g u r a i k a n arti ( ?j*>M ) md bi qaumin. Bahwa penutup ayat ini hanya
berbicara tentang keburukan yang m e n i m p a k a u m karena konteks ayat
berbicara tentang orang-orang kafir yang meminta agar siksa disegerakan (baca
ayat 6 ) .
Ayat di atas, di samping meletakkan tanggung jawab yang besar terhadap
manusia karena darinya dipahami bahwa kehendak Allah atas manusia yang
telah Dia tetapkan melalui s u n n a h - s u n n a h - N y a berkaitan erat d e n g a n
kehendak dan sikap manusia. Di samping t a n g g u n g jawab itu, ayat ini juga
m e n g a n u g e r a h k a n kepada m a n u s i a penghormatan vang demikian besar.
Betapa tidak? Bukankah ayat ini menegaskan bahwa perubahan yang dilakukan
Kelompok III Ayat 12-13 Surah ar-Ra'd [13] 237

.Allah atas manusia tidak akan terjadi sebelum manusia terlebih d a h u l u


melangkah. D e m i k i a n sikap dan kehendak m a n u s i a menjadi "syarat" y a n g
m e n d a h u l u i perbuatan Allah swt. S u n g g u h ini merupakan penghormatan
yang luas biasa!

AYAT 12-13

"Dia-lah yang memperlihatkan kepada kamu kilat untuk menimbulkan


ketakutan dan harapan, dan Dia mengadakan aivan berat, (mendung). Dan
guruh bertasbih dengan memuji-Nya: (demikian pula) para malaikat karena
takut kepada-Nya, dan Allah melepaskan halilintar, lalu menimpakannya
kepada siapa yang Dia kehendaki; dan mereka membantah tentang Allah,
padahal Dia-lah Yang Maha ku k uh tipu daya-Nya."

Ayat ini masih merupakan lanjutan uraian tentang bukti-bukti kekuasaan


Allah swt. K a n d u n g a n n y a m e m b u k t i k a n betapa luas Ilmu dan Kuasa .Allah
dan betapa mudah Dia melaksanakan ancaman-Nya bila Dia telah menetapkan
kebinasaan suatu k a u m . Dia-lah yang M a h a Mengetahui dan Kuasa itu yang
dari saat ke saat memperlihatkan kepada kamu kilat, yakni cahaya yang
berkelebat dengan cepat di langit untuk menimbulkan ketakutan dalam benak
k a m u — a p a l a g i para pelaut—jangan sampai ia m e n y a m b a r dan juga u n t u k
menimbulkan harapan bagi turunnya hujan, lebih-lebih bagi yang bermukim,
dan Dia mengadakan awan berat, y a k n i m e n d u n g y a n g m e n g a n d u n g butir-
butir air y a n g m e n g u a p dari laut dan sungai k e m u d i a n menvatu dan berat
sehingga akhirnya turun tercurah ke bawah. Dan guruh senantiasa bertasbih
m e n y u c i k a n n a m a Allah disertai dengan memuji-Nya d e m i k i a n pula para
malaikat karena takut kepada-Nya, dan Allah melepaskan halilintar yang
oerpotensi membakar, lalu menimpakannya kepada siapa yang Dia kehendaki
sehingga halilintar itu mernbakarnya. Tetapi, betapapun sudah demikian jelas
Aiasnya Ilmu dan Kuasa Allah, sikap orang-orang kafir itu tidak berubah.
Betapapun semua sudah mengakui, menyucikan, dan memuji-Nya termasuk
^uruh yang "tidak berakal" itu telah meraung sedemikian keras sebagai bukti
238 Surah ar-Ra'd [13] Kelompok III Ayat 12-13

keesaan dan kesucian Allah serta ketundukan dan kepatuhannya kepada Yang
M a h a k u a s a itu, orang-orang kafir masih tetap ingkar dan mereka terus
membantah kamu, wahai M u h a m m a d dan k a u m muslimin, tentang keesaan
dan kekuasaan Allah, padahal Dia-lah Tuhan Yang Mahakukuh tipu daya-
Nya atau Mahakeras siksa-Nya.
Ada u l a m a y a n g m e m a h a m i kataguruh pada firman-Nya: ( J ^ j i l )
yusabbihu ar-Ra 'd/guruh bertasbih dalam arti malaikat yang bertugas mengatur
guruh. Ada lagi y a n g m e m a h a m i n y a d a l a m arti kiasan. Yakni, suara guntur
y a n g m e n g g e l e g a r itu m e n g u n d a n g siapa y a n g m e n d e n g a r n y a u n t u k
mengingat Allah swt. dan m e n y u c i k a n - N y a . Ada lagi yang m e m a h a m i n y a
sebagai satu ilustrasi. G u n t u r diilustrasikan sebagai m a k h l u k berakal dan
bertasbih y a n g m e n y u c i k a n Allah swt. Penulis c e n d e r u n g menguatkan
pendapat y a n g menyatakan bahwa m e m a n g guruh bahkan segala sesuatu
bertasbih memuji Allah. Kita tidak perlu m e m b a h a s bagaimana cara guruh
bertasbih karena Allah telah menegaskan:

"Bertasbih untuk-Nya langit yang tujuh dan bumi serta semua yang ada di
dalamnya. Dan tak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-
Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah
Maha Penyantun lagi Maha Pengampun"'(QS. al-lsra' [ 1 7 ] : 4 4 ) .
Dengan d e m i k i a n , semua upaya u n t u k mengetahui b a g a i m a n a cara
bertasbih mereka, atau apa yang mereka tasbihkan, semuanya akan gagal dan
jawaban yang dibelikan tidak benar karena, seandainya hal tersebut diketahui,
itu menggugurkan pernyataan Allah di atas, yakni kamu sekalian tidak mengerti
tasbih mereka.
Asy-Sya'rawi b a h k a n lebih j a u h lagi. M e n u r u t n y a , ilmu pengetahuan
modern telah berhasil mempelajari bahasa m a k h l u k dan m e m b u k t i k a n n y a
bahkan telah m e m b u k t i k a n bahwa t u m b u h - t u m b u h a n pun m e m p u n y a i
emosi. Para pakar dewasa i n i — m e n u r u t n y a — m e m p e l a j a r i perasaan pohon
terhadap manusia yang menyiraminya. Suatu percobaan yang dilakukan oleh
Kelompok III Ayat 12-13 Surah ar-Ra'd [13] 239

para pakar m e n y a n g k u t getaran-getaran y a n g terjadi pada .saat pohon itu


disiram oleh seorang petani; tetapi setelah petani itu meninggal dunia, dan
d i u k u r lagi getaran-getaran y a n g terjadi pada pohon itu, kali ini d i t e m u k a n
getaran tersebut kacau seakan-akan pohon tersebut bersedih atas kepergian
p e t a n i y a n g s e l a m a ini m e n y i r a m i n y a . D e m i k i a n a s y - S y a ' r a w i , y a n g
s e l a n j u t n y a m e n g u k u h k a n uraian di atas dengan ayat a l - Q u f an y a n g
melukiskan sikap langit dan bumi terhadap para pembangkang, yakni bahwa:

"Langit dan bumi tidak menangisi mereka" (QS. ad-Dukhan [44]: 29).
Tasbih yang dilakukan oleh guruh, malaikat, bahkan segala sesuatu, selalu
disertai pujian. Ini karena memuji sesuatu hendaknya benar dan tepat. Sedang,
tidak satu m a k h l u k pun mengenal Allah dengan pengenalan sempurna.
"Mahasuci Engkau kami tidak mampu memuji-Mu, Engkau adalah
sebagaimana pujian-Mu atas diri-Mu," demikian ucapan hamba-bamba-Nya
y a n g m e n y a d a r i k e l e m a h a n n y a . Di sini, para m a l a i k a t d a n j u g a guruh
m e n y u c i k a n Allah terlebih d a h u l u baru menetapkan pujian kepada-Nya.
Agaknya, hal itu disebabkan mereka khawatir jangan sampai pujian yang
mereka maksud tidak sesuai dengan kebesaran dan keagungan Allah swt. Itu
sebabnya i m a m Ghazali menggarisbawahi bahwa Allah swt. Mahasuci dari
segala sifat yang dapat dijangkau oleh ind ra, dikhayalkan oleh imajinasi, diduga
oleh w a h a m , atau yang terlintas dalam nurani dan pikiran. "Aku tidak sekadar
berkata-—tulis a l - G h a z a l i — b a h w a Dia M a h a Suci dari segala m a c a m
kekurangan karena ucapan semacam ini h a m p i r mendekati ketidaksopanan.
Bukanlah kesopanan bila seseorang berkata bahwa Raja/Penguasa suatu negeri
bukan penjahit atau pembekam karena menafikan sesuatu h a m p i r dapat
m e n i m b u l k a n waham! dugaan k e m u n g k i n a n k e b e r a d a a n n y a dan y a n g
demikian m e n i m b u l k a n w a h a m kekurangan baginya."

Allah swt. M a h a s u c i dari segala sifat kesempurnaan y a n g diduga oleh


banyak m a k h l u k karena, pertama, mereka m e m a n d a n g kepada diri mereka
dan m e n g e t a h u i silat-silat mereka serta menyadari a d a n y a sifat sempurna
pada diri mereka seperti pengetahuan, kekuasaan, pendengaran, penglihatan,
kehendak, dan kebebasan. M a n u s i a meletakkan sifat-sifat tersebut u n t u k
240 Surah ar-Ra'd [13] Kelompok III Ayat 12-13

makna-makna tertentu dan menyatakan bahwa itu adalah sifat-sifat sempurna.


Selanjutnya, manusia juga menempatkan sifat-sifat yang berlawanan dengan
sifat-sifat di atas sebagai sifat kekurangan. Perlu d isadari bahwa manusia paling
tinggi hanya dapat memberikan kepada Allah sifat-sifat kesempurnaan seperti
vang mereka nilai sebagai kesempurnaan serta m e n y u c i k a n Allah dari sifat
kekurangan—seperti lawan dari sifat-sifat kesempurnaan di atas. Padahal
sebenarnya, Allah M a h a s u c i dari sifat-sifat kesempurnaan y a n g diduga oleh
manusia, sebagaimana Dia Mahasuci dari sifat-sifat kekurangan yang dinafikan
manusia. Ini disebabkan kedua sifat tersebut lahir dari pemahaman manusia,
padahal D i a Mahasuci dari sifat y a n g terlintas d a l a m benak dan khayalan
manusia atau vang serupa dengan apa yang terlintas itu. Seandainya tidak ada
izin dari-Nya untuk menamai-Nya dengan nama/sirat-sifat tersebut—karena
hanya dengan demikian manusia mampu mendekatkan pemahaman
terhadap-Nya—dan s e a n d a i n y a t i d a k a d a izin t e r s e b u t , sifat-sifat
kesempurnaan yang demikian itu pun tidak wajar disandangkan kepada-Nya.

Kata ( J u h i ) a l-m i ha l ada y a n g m e m a h a m i n y a t e r a m b i l dari kata


( 51>-UP _ Jj-la) mdhala - mumahalah, yakni melakukan tipu daya. Ini berarti
bantahan dan penolakan mereka terhadap keesaan Allah dinilai sebagai salah
satu bentuk tipu daya. Boleh jadi hal tersebut demikian karena bantahan dan
penolakan itu mereka sampaikan dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan yang
m e n g a n d u n g ejekan dan cemoohan, bukan bermaksud mencari kebenaran.
Nah, untuk m e n g h a d a p i tipu dava mereka itulah Allah m e n u n j u k diri-Nva
sebagai M a h a k u k u h tipu d a y a - N y a serupa dengan firman-Nya:

"Orang-orang kafir itu membuat tipu daya dan Allah membalas tipu daya
mereka Dan Allah sebaik-baikpembalas tipu daya" {QS. Ali 'Imran [ 3 ] : 5 4 ) .
Ada juga y a n g m e m a h a m i kata di atas berasal dari kata ( J^-U ) mdhala yang
memiliki arti perbantahan. Dengan demikian, penggalan akhir ayat ini berarti
mereka sangat kuat dan keras kepala dalam perbantahan. Pendapat ketiga
menyatakan bahwa kata itu terambil dari kata { J ) haul/kekuatan. Penganut
pendapat ini menilai huruf mim pada awal kata mihdl adalah tambahan dan,
Kelompok ill Ayat 14 Surah ar-Ra'd [13] 241

dengan d e m i k i a n , p e n u t u p ayat 13 di atas berarti Allah Mahakuat, yakni


keras siksa-Nya.

AYAT 14

"Hanya bagi Allah-lab dakwah yang benar. Dan berhala-berhala yang mereka
sembah selain Allah tidak dapat memperkenankan sesuatu pun bagi mereka,
melainkan seperti orangyang membuka kedua telapak tangannya ke air supaya
mencapai mulutnya, padahal ia tidak dapat sampai ke mulutnya. Dan tidaklah
doa orang-orang kafir, kecuali dalam kesia-siaan. "

Setelah ayat-ayat y a n g lalu m e m b u k t i k a n kemahakuasaan Allah swt.


d a l a m penciptaan dan p e n g a t u r a n a l a m raya, keluasan i l m u - N y a , d a n
ketiadaan sedikit dalih pembenaran pun bagi y a n g mempersekutukan-Nya,
tidak diragukan lagi bahwa hanya bagi Allah-lah dakwah yang benar. Apabila
seseorang bermohon kepada-Nya secara tulus, Dia m e n g a b u l k a n n y a , dan
apabila yang Mahakuasa itu menyeru seseorang dengan seruan yang berbentuk
ajakan, ajakannya sangat jelas lagi penuh kebenaran, dan jika Dia menyerunya
d a l a m bentuk ketetapan, tidak satu p u n dapat mengelak. S e m u a datang
dengan penuh kerendahan diri. Dan ada pun berhala-berhala yang mereka
sembah selain Allah k e s e m u a n y a tidak dapat memperkenankan sesuatu pun
walau sedikit apa pun bagi mereka yang mengakui keesaan AJlah itu. Berhala-
berhala itu tidak dapat mengabulkan sesuatu buat mereka, melainkan seperti
pengabulan orangyang membuka kedua telapak tangannya ke d a l a m s u m u r
vang m e n g a n d u n g air supaya air itu d i c i d u k n y a lalu m e n d e k a t k a n n y a g u n a
mencapai mulutnya u n t u k dia m i n u m . Padahal, telapak t a n g a n n y a y a n g
terbuka itu tidak sampai ke kedalaman s u m u r dan, dengan demikian, ia
vakni air itu sedikit pun tidak dapat sampai pula ke mulutnya. Dan tidaklah
doa dan ibadah orang-orang kafir, kecuali dalam kesia-siaan belaka.
Kata ( o_jPi ) da 'wah/dakwah dalam ayat ini dapat bermakna ibadah dan
dapat juga berarti doa dan permohonan. Kata ini pada mulanya berarti ajakan
242 Surah ar-Ra'd [13] Kelompok III Ayat 15

untuk datang membantu atau memberi. Dari sini, lahir m a k n a permohonan.


Di sisi lain, agar p e r m o h o n a n d i k a b u l k a n Allah, tentu saja y a n g bermohon
harus memenuhi syarat-syarat, yang disimpulkan dalam ketulusan beribadah.
Dari sini da'wahjiiga. berarti ibadah.
Al-Biqa'i m e m a h a m i kata ( J ) ) il/i pada firman-Nya: ( J ) ) ila ai-
ma 'sebagai isyarat bahwa kedua telapak tangannya tidak sampai ke arah yang
dia harapkan. Pengarang tafsir al-Jalalain, misalnya, menjelaskan m a k n a
(s\i £ l J s.ti* J,] Ja^\-r ) kabdsithi kaffaihi ild al-ma' iiyablugha fahul
seperti orangyang membuka kedua telapak tangannya ke air supaya mencapai
midutnya dengan menyatakan, "Seperti pengabulan seseorang yang membuka
kedua telapak tangannya guna mendapat air di mulut sumur dan memintanya
agat air dalam s u m u r itu naik menuju kepadanya, tetapi sekali-kali air itu
tidak dapat mencapai mulutnya."
Ini adalah p e r u m p a m a a n tentang orang-orang kafir y a n g m e n y e m b a h
dan berdoa kepada berhala-berhala. Berhala, sebagaimana air, adalah sesuatu
y a n g tidak berakal. Keduanya tidak mengetahui atau merasakan kebutuhan
y a n g m e m i n t a . Air tidak mengetahui kebutuhan si haus, tidak j u g a berhala
d a p a t m e n a n g k a p k e i n g i n a n p e n y e m b a h n y a , p a d a h a l si h a u s d a n si
penyembah sangat m e m b u t u h k a n n y a . Keadaan mereka ketika itu seperti
seseorang vang sedang d u d u k di m u l u t sumur, yaitu tidak dapat mencapai
air yang berada dalam sumur itu dan tidak juga air itu dapat naik kepadanya,
w a l a u p u n ia m e m i n t a n y a atau m e n g u l u r k a n kedua rangannva. Bahkan,
seandainya kedua telapak tangannya dapat mencapai air, ia tetap tidak dapat
memperolehnya karena telapak rangannva terbuka sehingga sebelum sampai
ke m u l u t n y a air telah jatuh berceceran.

AYAT 15

"Hanya kepada Allah-—sujud segala apa yang di langit dan di bumi, baik
dengan sukarela ataupun terpaksa dan bayang-bayangnya di waktu pagi dan
petang hari. "
Kelompok lli Ayat 15 Surah ar-Ra'd [13] 243

J i k a hanya bagi Allah-lah dakwah yang benar—-seperti bunyi ayat y a n g


lalu—sangat wajar jika hanya kepada Allah saja, tidak kepada selain-Nya,
sujud dan patuh m e m e n u h i kehendak dan perintah-Nya segala apayangdi
langit dan di bumi, seperti malaikat, jin, manusia, binatang, t u m b u h a n , dan
benda-benda tak bernyawa, baik dengan sukarela, yakni dengan sadar dan
kemauan sendiri, ataupun terpaksa seperti halnya orang-orang kafir pada saat
mereka merasa sangat butuh dan seperti h a l n y a m a k h l u k tak berakal y a n g
tunduk tanpa sadar dan bahkan lebih dari itu bayang-bayangnya, yakni semua
yang ada di langit dan di b u m i i t u — j i k a memiliki bayangan—-semua t u n d u k
kepada-Nya antara lain d a l a m panjang dan pendeknya, baik di waktu pagi
dan m a u p u n petang hari.
Sujudnya langit dan bumi berarti k e p a t u h a n n y a m e m e n u h i ketetapan-
ketetapan Allah swt. y a n g berkaitan dengan alam raya. A i r — m i s a l n y a —
ditetapkan Allah untuk selalu mengalir ketempat yang rendah. Ia menjadi
ll
beku pada suhu 0°C dan mendidih jika mencapai suhu 1 0 0 C . Ini terjadi
kapan dan di m a n a pun karena itulah ketentuan Allah y a n g berlaku di bumi
ini. Ia pun p a t u h — s e a n d a i n y a Allah menghendaki y a n g lain, seperti halnya
api y a n g m e n g h a n g a t k a n a t a u m e m b a k a t d a n m e m b i n a s a k a n y a n g
dibakarnya—jika Allah menghendaki ia dingin dan menyelamatkan, api akan
patuh seperti ketika Allah m e m e r i n t a h k a n n y a dingin dan m e n y e l a m a t k a n
Nabi Ibrahim as. (baca Q S . al-Anbiya [ 2 1 ] : 6 9 ) .
Firman-Nya yang menegaskan bahwa bayang-bayang pun sujud kepada
Allah m e r u p a k a n l a m b a n g betapa kuasa Allah dan betapa besar kepatuhan
m a k h l u k - m a k h l u k - N y a . Seandainya Allah menjadikan bumi ini transparan
itau mengkilat seperti air ketika terkena sinar marahari, bayangan tidak akan
: i m p a k . Ini m e n u n j u k k a n betapa kuasanya Allah swt. dan m e n u n j u k k a n
? a l a bahwa, kendati ada manusia yang enggan sujud, bayangannya tetap sujud
_j.n patuh kepada-Nya. Bahkan, berhala-berhala yang disembah pun sujud
. ^ a d a Allah swt.
Sebenarnya, m a n u s i a - m a n u s i a y a n g kafir itu p u n sujud kepada Allah
zjjam sekian bagian dari anggota badannya. Dia hanya membangkang melalui
ir.egota badan yang dapat dikendalikannya. Adapun yang di luar kendalinya,
244 Surah ar-Ra'd [13] Kelompok III Ayat 16

semua t u n d u k kepada Allah swt., seperti denyut j a n t u n g atau peredaran


darahnya.
Kata ( j j j t i l ) al-ghuduww terambil dari kata ( \JL& ) ghadd y a n g berarti
keluar. Yang d i m a k s u d di sini adalah w a k t u yang biasanya manusia saat itu
keluar dari r u m a h n y a guna memenuhi aneka kebutuhannya. Waktu tersebut
adalah pagi hari setelah matahari terbit sampai tengah hati. Sedang, kata
( JW>*^ ) abashdl a d a l a h j a m a k ( J__^t ) ashil/sore hari, y a i t u sejak
m e n g u n i n g n y a sinar matahari sampai terbenamnya. Pada kedua w a k t u itu
tampak secara jelas bayang-bayang sesuatu.
Ayat ini menegaskan b a h w a Allah swt. yang menguasai segala sesuatu
dan m e n u n d u k k a n n y a sesuai kehendak-Nya. Ayat ini m e m b u k t i k a n bahwa
Allah adalah Mahaperkasa sehingga semua t u n d u k m e m e n u h i kehendak-
Nya, suka atau tidak suka.

AYAT 16

Katakanlah: "Siapakah Tuhan langit dan bumi?" katakanlah: "Allah. "


Katakanlah: "Maka patutkah kamu mengambil selaiu-Nya menjadi
pelindung-pelindung (padahal) mereka tidak menguasai bagi diri mereka
sendiri sedikit kemanfaatan dan tidak (pula) kemudharatan?" Katakanlah:
"Adakah sama yang buta dan yang dapat melihat atau samakah gelap gulita
dan terang benderang?; ataukah mereka menjadikan bagi Allah sekutu-sekutu
yang telah mencipta seperti ciptaan-Nya sehingga kedua ciptaan itu serupa
menurut mereka?" Katakanlah: "Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan
Dia-lah Tuhan Yang Maha Esa lagi Mahaperkasa. "

J i k a telah terbukti dari uraian-uraian y a n g lalu dan d a l a m bentuk yang


sangat jelas bahwa Allah M a h a Perkasa, kini Dia memerintahkan Rasul-Nya
u n t u k m e n g a r a h k a n pertanyaan y a n g m e n g a n d u n g k e c a m a n sekaligus
b i m b i n g a n . Katakanlah, wahai M u h a m m a d , kepada mereka yang enggan
m e n e r i m a kebenaran Ilahi; "Siapakah Tuhan Pencipta dan Pengatur langit
dan bumi dan segala isinya?" T i d a k ada j a w a b a n lain, dan mereka pun
Kelompok III Ayat 16 Surah ar-Ra'd [13] 245

m e n g a k u i n y a . M a k a , karena itu, tidak perlu m e n u n g g u j a w a b a n mereka,


langsung saja katakanlah: bahwa Tuhan Pencipta alam raya adalah "Allah".
Jika demikian, kecamlah mereka dan katakanlah: "Jika kalian telah mengakui
atau jika telah terbukti dengan sangat jelas b a h w a h a n y a Allah Pencipta dan
Pengatur seluruh a l a m raya serta y a n g t u n d u k k e p a d a n y a — w a l a u bayang-
b a y a n g k a m u — m a k a patutkah kamu mengambil selain-Nya menjadi
pelindung-pelindung dan mengabaikan Allah swt., padahal yang kamu
jadikan p e l i n d u n g itu tidak menguasai w a l a u bagi diri mereka sendiri sedikit
kemanfaatan u n t u k dapat mereka raih dan tidak pula kemudharatan untuk
dapat mereka tampik? Bukankah manusia seharusnya menjadikan pelindung
siapa yang dapat memberinya manfaat atau paling tidak menampik mudharat
vang m e n i m p a n y a ? S u n g g u h aneh sikap k a m u ! j i k a d e m i k i a n , k a m u
m e m p e r s a m a k a n d u a hal y a n g bertolak belakang." Katakanlah, wahai
M u h a m m a d : "Adakah sama siapa yang buta m a t a dan hatinya dengan siapa
yang dapat melihat atau samakah aneka gelap gulita dan terang benderang?"
Jelas sekali tidak sama! Yang m e m p e t s a m a k a n n y a pastilah t i d a k sehat
pikirannya.

Ayat di atas menggunakan bentuk j a m a k u n t u k kata ( o U J ? ) zhulumdtl


aneka gelap gulita sedang pada kata ( ) nur/terang benderang menggunakan
bentuk tunggal, yang k e d u a n y a metupakan bentuk mashdarikatajadian. Ini
karena k e g e l a p a n serta kesesatan b e r m a c a m - m a c a m , s u m b e r n y a pun
demikian. Berbeda dengan cahaya y a n g h a n y a bersumber dari Allah semata.
""Siapa yang tidak dianugerahi Allah nur, dia tidak lagi dapat memperolehnya
dari siapa pun."
Ataukah mereka yang mempersekutukan A l l a h itu t e r b a w a oleh
^ e s e s a t a n n y a s e h i n g g a menjadikan bagi Allah sekutu-sekutu yang telah
'pencipta, yakni memercayai bahwa sembahan-sembahan m e r e k a telah
mencipta seperti ciptaan-Nya sehingga kedua ciptaan itu serupa menurut
s a n d a n g a n mereka dan, dengan demikian, berhala-berhala itu pun wajar
disembah sebagaimana Allah disembah? Katakanlah, wahai M u h a m m a d : "Apa
? u n y a n g m e r e k a p e r s e k u t u k a n d e n g a n A l l a h , berhala atau selainnya,
Kesemuanya t i d a k d a p a t m e n c i p t a s e s u a t u , b a h k a n m e r e k a l a h y a n g
liciptakan. Allah adalah Pencipta segala sesuatu, tidak ada yang w u j u d kecuali
246 Surah ar-Ra'd [13] Kelompok III Ayat 16

Dia Penciptanya dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Esa sehingga tidak ada yang
wajar disembah kecuali Allah lagi Dia juga Mahaperkasa sehingga tidak sesuatu
1
pun yang tidak dikendalikan-Nya.'
Kaum musyrikin m e n g a k u i bahwa Allah adalah Pencipta alam raya.
Kepercayaan itu menjadi titik tolak untuk mengantar mereka mengesakan
Allah dalam beribadah kepada-Nya. Karena itu, pertanyaan pertama langsung
dijawab oleh ayat di atas, tetapi pertanyaan sesudahnya tidak dijawab karena
jawaban mereka tidak sejalan dengan hakikat y a n g diajarkan al-Qur'an. Dan
hakikar itulah yang akan d i b u k t i k a n melalui pertanyaan-pertanyaan yang
belum terjawab itu.
Setelah mereka m e n g a k u i b a h w a A l l a h adalah Pencipta alam raya,
tentulah mereka j u g a harus m e n g a k u i bahwa Dia adalah Pemiliknya y a n g
kuasa lagi berwenang penuh memberi manfaat dan mudharat, sedang apa
y a n g diciptakan-Nya itu tidak memiliki sedikit kemampuan pun, jangankan
m e m b e r i n y a kepada y a n g lain, terhadap dirinya pun mereka tidak m a m p u .
Bukankah mereka dimiliki oleh Allah? J i k a demikian, kepercayaan dan sikap
mereka dengan menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah y a n g dapat memberi
manfaat atau m e n a m p i k mudharat adalah sesuatu yang bertentangan dengan
kepercayaan mereka sendiri bahwa Allah adalah Pencipta.

Firman-Nya:

"Ataukah mereka menjadikan bagi Allah sekutu-sekutu yang telah mencipta


seperti ciptaan-Nya"dan setetusnya, bukanlah redaksi yang ditujukan secara
langsung kepada para penyembah selain Allah. Ini terlihat dengan jelas dari
redaksinya y a i t u kata "mereka", dan a g a k n y a ditujukan kepada Nabi saw.
Bukti-bukti tentang kekeliruan kepercayaan mereka telah dibentang oleh
penggalan y a n g lalu dari ayat ini. Tidak ada lagi k e m u n g k i n a n lain y a n g
m e n j a d i k a n mereka m e m p e r s e k u t u k a n Allah kecuali jika mereka percaya
bahwa ada pencipta selain Allah. Suatu hal y a n g sebenarnya mereka sendiri
tidak m e n g a k u i n y a . N a m u n , karena mereka masih juga mempersekutukan-
Nya, k e m u n g k i n a n itu d i m u n c u l k a n di s i n i — d i depan Nabi M u h a m m a d
saw,-—bukan u n t u k d i t a n y a k a n k e p a d a m e r e k a . N a h , j i k a d a l i h i t u
Kelompok III Ayat 16 Surah ar-Ra'd [131 247

d i m u n c u l k a n oleh siapa pun, j a w a b a n n y a pun jelas. J a w a b a n itulah y a n g


d i s a m p a i k a n k e p a d a m a n u s i a , m e l a l u i N a b i M u h a m m a d saw., b a h w a
kemungkinan semacam itu tidak pada tempatnya karena Allah adalah Pencipta
segala sesuatu. T i d a k ada satu p u n yang mengaku bahwa dia pencipta alam
raya. Kalau seandainya ada pencipta selain Allah, tentulah dia pun akan
memperkenalkan dirinya kepada manusia, misalnya dengan m e n g u t u s p u l a
Dara nabi. N a m u n , sepanjang sejarah manusia, tidak ada satu pun y a n g
melakukan hal tersebut. Bahkan, mereka yang mempersekutukan Allah dengan
sesuatu m e n g a k u i bahwa Pencipta h a n y a Allah semata.
Kata ( J i ) quh'katakanlah, di s a m p i n g u n t u k menegaskan bahwa apa
vang disampaikan Rasul saw. ini b u k a n bersumber dari diri pribadi beliau
-endiri tetapi dari Allah swt. Dan juga memberi kesan bahwa orang-orang
Kafir yang mempersekutukan Allah itu tidak wajar mendapat penghormatan
dari Allah. Allah tidak berdialog langsung dengan mereka.
Kata ( j l g i J l ) al-qahhdr terambil dari akar kata { ^ ) qahara y a n g dari
>egi bahasa berarti menjinakkan, menundukkan untuk mencapai tujuannya,
n a u mencegah lawan mencapai tujuannya serta merendahkannya. Allah swt.
menjinakkan mereka yang menentang-Nya dengan jalan memaparkan bukti-
?ukti keesaan-Nya dan menundukkan para pembangkang dengan kekuasaan-
Xva serta m e n g a l a h k a n m a k h l u k seluruhnya dengan mencabut n y a w a n y a .
Demikian az-Zajjaj pakar bahasa dalam k a r y a n y a , Tafsir Asma al-Husnd.
Dalam buku Menyingkap Tabir Ilahi, penulis antara lain menyatakan bahwa
Allah sebagai al-Qahhdr adalah Dia yang m e m b u n g k a m orang-orang kafir
lengan kejelasan tanda-tanda kebesaran-Nya, menekuk lutut para
r rmbangkang dengan kekuasaan-Nya, menjinakkan hati para pencinta-Nya
^ - l i n g g a bergembira menanti di depan pintu rahmat-Nya, m e n u n d u k k a n
: i : i a s dan dingin, m e n g g a b u n g k a n kering dan basah, mengalahkan besi
-rr.gan api, memadamkan api dengan air, menghilangkan gelap dengan terang,
~ cnjeritkan manusia dengan kelaparan, tidak m e m b e r d a y a k a n n y a dengan
" i u r dan kantuk, memberinya yang dia tidak inginkan dan menghalanginya
: • ri apa yang dia d a m b a k a n . D e m i k i a n al-Qabbdr, vang menegaskan pada
'iz vang lalu bahwa; "Hanya kepada Allah—sujud segala apa yang di langit
".v; di bumi, dengan sukarela ataupun terpaksa dan bayang-bayangnya di
r
.'- :u pagi dan petang hari. "
KELOMPOK 4

AYAT 17-26

249
250 Surah ar-Ra'd [13]
Kelompok IV Ayat 17 Surah ar-Ra'd [13] 251

AYAT 17

"Allah telah menurunkan air dari langit, maka mengalirlah ia di lembah-


lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengembang.
Dan dari apa yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau
barang-barang, buih seperti itu juga. Demikianlah Allah membuat
perumpamaan tentang yang haq dan yang batil. Adapun buih, maka ia akan
pergi tanpa bekas dan adapun yang bermanfaat bagi manusia, maka ia tetap
di bumi. Demikianlah Allah membuatperumpamaan-perumpamaan. "

Ayat yang lalu menegaskan bahwa Allah adalah al-QahhdrlMahaperkasa.


Ayat ini membuktikan salah satu keperkasaan-Nya. Air yang terdapat di sungai
dan di laut, j a u h dari langit, d i a n g k a t n y a ke atas, yakni ke langit, padahal
sifat air selalu mencari tempat yang rendah. Demikian lebih kurang al-Biqa'i
m e n g h u b u n g k a n ayat ini dengan ayat yang lalu.
A n d a juga dapat menghubungkannya seperti Thabathaba i, yaitu setelah
ayat-ayat y a n g l a l u m e n e g a s k a n b u k t i kesesatan k a u m m u s y r i k i n d a n
m e n g u r a i k a n perbedaan y a n g jelas antara kebenaran dan kesesatan serta
perbedaan antara yang m e n e m p u h jalan kebenaran dan keburukan, ayat ini
dan ayat-ayat berikut menjelaskan perbedaan itu dengan terperinci. U n t u k
maksud tersebut, ayat ini m e n y a t a k a n bahwa Allah telah menurunkan air
yang tercurah dari langit, yakni hujan, maka mengalirlah ia, yakni air, dengan
arus yang sangat deras di lembah-lembah menurut ukurannya masing-masing,
maka arus itu membawa di atasnya buih yang mengembang.

Dan d e m i k i a n j u g a keadaan y a n g terjadi dari apa, y a k n i logam, yang


mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau barang-barang, seperti
alat-alat, m a t a uang, pedang, dan sebagainya, ada j u g a buih-nyu seperti buih
i arus itu juga. Demikianlah Allah membuat perumpamaan tentang yang h aq
dan yang batil. Adapun buih itu, maka ia akan pergi hilang tanpa bekas,
j binasa, dan tanpa manfaat dan harga; dan adapun yang bermanfaat bagi
manusia, maka ia tetap di bumi untuk dimanfaatkan oleh m a l d i l u k - m a k h l u k
Ilahi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan.
252 Surah ar-Ra'd [13] Kelompok IV Ayat 17

Penyebutan kata / ^ g i r setelah sebelumnya telah dinyatakan menurunkan


air agaknya bertujuan u n t u k menegaskan bahwa ia tercurah. Karena kata
turun d i g u n a k a n j u g a oleh a b Q u r a n d a l a m arti menciptakan seperti ketika
menjelaskan tentang besi (baca Q S . a l - H a d i d [ 5 7 ] : 2 5 ) .
Kata ( J ? - ) haqq dan f J i » U ) bdthil/batil adalah dua substansi yang
berlawanan. Haq adalah sesuatu yang mantap lagi tidak berubah, sedang bathil
adalah sesuatu y a n g wujud tetapi sifatnya sementara lalu menghilang dan
punah, ^ / / / a d a l a h sesuatu y a n g pasti binasa dan lenyap.
Kata ( hij^i) al-awdiyah adalah bentuk j a m a k dari ( ^ \ A\) al-wddy
yakni tanah rendah di antara dua g u n u n g (lembah). Penggunaan bentuk
nakirahlindifinite u n t u k kata ini bertujuan u n t u k m e n g g a m b a r k a n aneka
lembah dari segi besar kecilnya, luas dan sempitnya, serta panjang dan
pendeknya. Ini untuk dikaitkan dengan kata sesudahnya yaitu ( USJJUJ )

biqadarihalsesuai ukurannya masing-masing. Ada juga yang memahami bentuk


indifinite itu untuk mengisyaratkan bahwa air y a n g tercurah dari langit tidak
menjangkau semua tempat, tidak juga mengalir di semua lembah; ada lembah
yang m e n a m p u n g air, dan ada j u g a yang tidak m e n a m p u n g n y a karena tidak
mendapat curah hujan.

Ayat ini menjelaskan b a h w a air y a n g d i t u r u n k a n Allah di lembah itu


sesuai dengan daya tampung lembah, atau dalam istilah ayat di atas ( Ufcjjij)
biqadiriha, karena kalau melebihinya maka akan terjadi banjir yang berpotensi
merusak. M e m a n g , sesekali bisa saja air yang tercurah (hujan) sangat lebat
sehingga m e n i m b u l k a n banjir, tetapi karena ayat ini bermaksud memberi
perum pamaan tentang yang /w^/kebenaran, digarisbawahi nya kata biqadarihd
itu. Di samping itu, karena pada u m u m n y a lembah m e n a m p u n g air sesuai
dengan kadar/kapasitas daya tampungnya.
Kata (_ujh ) az-zabadadalah buih, atau limbah banjir, atau gelembung
yang terlihat saat air mendidih.
Ayat ini agaknya bermaksud menyatakan bahwa kebatilan, walau tampak
dengan jelas ke p e r m u k a a n dan meninggi bagaikan menguasai air yang
mengalir, hal tersebut hanya sementara karena beberapa saat kemudian buih
itu luluh dan yang tetap tinggal adalah air yang bersih. Demikian juga dengan
logam y a n g diliputi oleh aneka kotoran. Dengan membakarnya, akan terlihat
Kelompok IV Ayat 17 Surah ar-Ra'd [13] 253

dengan jelas kualitas logam dan akan menyenangkan yang melihatnya, sedang
kotoran y a n g m e l i p u t i n y a hilang terbuang tanpa ada sedikit manfaat pun
serta hilang tanpa disesah.
Yang dimaksud dengan firman-Nya: ( ^JLI U l i l ) ammct mdyanfau
an-nasa/adapun yang bermanfaat bagi manusia adalah air bukan bui hnya dan
logam setelah dibakar dan hilang kotorannya. Ayat ini tidak m e n y e b u t air
dan logam itu secara langsung tetapi menegaskan manfaatnya. Hal tersebut
untuk mengisyaratkan bahwa y a n g penting bukan air atau logamnya, tetapi
manfaat y a n g harus dihasilkan oleh air dan logam itu. Demikian j u g a yang
hacj, yang penting bukanlah ide-ide yang benar, yang berada di menara gading
atau mengawang-awang di angkasa, tetapi yang lebih penting adalah manfaat
dan penerapan ide-ide yang benar itu dalam kehidupan d u n i a w i sehingga
dapat m e m b e r i manfaat. Karena a p a l a h arti ^ / - / w ^ / k e b e n a r a n j i k a ia
ditempatkan di m e n a r a gading? atau jika ia tidak m e m b u m i . Selanjutnya,
vang dimaksud bermanfaat di sini mencakup aneka manfaat, baik jasmani
m a u p u n tuhani, baik perorangan m a u p u n kolektif, baik d u n i a maupun
akhirat.

Banyak ulama m e m a h a m i bahwa ayat di atas menampilkan dua m a c a m


perumpamaan, m a s i n g - m a s i n g u n t u k kebenaran dan u n t u k kebatilan.
Contoh pertama bagi kebenaran adalah air yang mengalir dengan sangat deras
dan contoh kedua adalah logam dengan kualitasnya yang jernih. Sedang,
contoh pertama dari kebatilan adalah buih y a n g dihasilkan oleh derasnya
irus air dan contoh kedua adalah karat yang keluar akibat pembakaran logam.
Thahir Ibn 'Asyur berpendapat bahwa perumpamaan kedua ditampilkan
r>agi mereka yang tidak pernah/jarang melihat arus air yang terjadi di lembah-
.embah. Bagi mereka yaitu diberi perumpamaan logam dan pembakarannya.
Dari berbagai barang tambang y a n g dihasilkan manusia melalui proses
r e m b a k a r a n , seperti emas, perak, tembaga dan t i m a h , ada y a n g dapat
dijadikan perhiasan atau peralatan seperti bejana. Ada j tiga yang berupa sampah
•eperri sampah air y a n g m e n g a p u n g di atas permukaan air. Bagian barang
1
: i m b a n g yang mengalir itu disebut ( ) kbabits (limbah ). Dengan tamsil
i . : dan l i m b a h n y a serta tambang dan l i m b a h n y a itu, Allah menerangkan
•irbenaran dan kebatilan. Kebenaran diibaratkan sebagai air dan tambang
254 Surah ar-Ra'd [13] Kelompok IV Ayat 17

y a n g jernih, sedangkan kebatilan diibaratkan sebagai limbah air dan limbah


tambang y a n g tidak m u n g k i n dapat dimanfaatkan dan akan lenyap dan
terbuang. Sedangkan, air jernih dan tambang jernih yang dapat berguna untuk
kepentingan manusia akan bertahan di dalam tanah agar dapat dimanfaatkan.
D e n g a n tamsil y a n g sangat jelas seperti itulah Allah swt. memperlihatkan
kebaikan dan kejahatan kepada manusia.
Ada j u g a y a n g m e m a h a m i a y a t di atas h a n y a m e n a m p i l k a n satu
perumpamaan saja yang kemudian bercabang. Mereka memahami kata.za.bad
bukan saja dalam arti buih air, tetapi juga kotoran-kotoran yang melengket
pada logam, di m a n a kotoran Itu baru dapat hilang apabila logam tersebut
dibakar. M a k s u d n y a , arus air yang turun dari langit dan yang ditampung dan
m e n g a l i r dari aneka l e m b a h itu, m e n g h a s i l k a n di s a m p i n g b u i h , j u g a
m e n g a k i b a t k a n kotornya logam y a n g terendam di dasar paling dalam dari
lembah itu. Kedua perumpamaan itu tidak ada manfaatnya.

Thabathaba'i memeroleh beberapa kesan dari ayat ini.


Pertama, ayat ini mengisyaratkan bahwa anugerah rahmat Allah swt.
yang tercurah dari langit—vang diibaratkan oleh ayat ini dengan air—turun
sedemikian rupa dan masing-masing m e n a m p u n g n y a sesuai dengan kadar
kesediaannya m e n a m p u n g . Apabila wadah y a n g d i m i l i k i n y a besar, akan
banyak air/rahmat yang diperolehnya, demikian juga sebaliknya. Bukankah—
menurut ayat i n i — m a s i n g - m a s i n g m e n a m p u n g sesuai kadarnya?
Kedua, tercurahnya rahmat/air ke lembah-lembah dan terukurnya kadar
masing-masing tidak dapat dilepaskan dari limbah dan kekotoran y a n g
tampak, tetapi semua itu pasti tidak langgeng dan akan hilang. Berbeda
dengan rahmat/air yang akan tetap dan langgeng. Dengan demikian, apa yang
terdapat dalam wujud ini hanya ada dua macam. Pertama yang haq, mantap,
dan langgeng, dan kedua y a n g hilang dan lenyap.
Ketiga, haqlkebenaran tidak akan "menentang" atau mendesak haq y a n g
lain, tetapi ia mendukung dan memanfaatkannya serta mengantarnya kepada
kesempurnaan. Ini dipahami dari pernyataan ayat di atas bahwa ia tetap
dibumi dan memberi manfaat bagi manusia. Yang d i m a k s u d dengan tidak
menentang—-tulisnya—bukan berarti terjalinnya keharmonisan dan kasih
sayang secara terus-menerus. Betapa d e m i k i a n , padahal kita melihat api
Kelompok IV Ayat 1 7 Surah ar-Ra'd [13] 255

dipadamkan air dan air dihabiskan oleh api. Tanah dimakan oleh t u m b u h a n ,
t u m b u h a n d i m a k a n oleh b i n a t a n g d a n b i n a t a n g saling m e m a k a n dan
m e n e r k a m , dan pada akhirnya bumi menelan semuanya. Yang d i m a k s u d
tidak menentang itu adalah walaupun ia saling terkam menerkam, dalam
saat yang sama mereka bekerja sama u n t u k mencapai tujuan jenisnya. Ini
serupa dengan kayu dan kapak. W a l a u p u n keduanya saling bertentangan,
pada akhirnya k e d u a n y a m e w u j u d k a n apa y a n g dikehendaki oleh tukang/
p e n g a p a k — k a t a k a n l a h pintu. Serupa juga dengan timbangan, w a l a u p u n ia
saling mengalahkan, sekali sayap kiri y a n g berat di kali lain sayap kanan,
keduanya pada akhirnya bekerja sama mewujudkan tujuan si penimbang
untuk mengetahui kadar berat sesuatu. Demikian itu keharmonisan dan kerja
sama yang terjalin bagi yang d i n a m a i haq. Tetapi, tidak seperti itu pada
kebatilan. M i s a l n y a jika ada k e t u m p u l a n pada kapak atau kecurangan pada
timbangan. Ini bertentangan dengan / M ^ vang merupakan tujuan yang ingin
dicapai sehingga akibatnya merusak dan mengakibatkan mudharat.

Apa vang digambarkan ayat di atas terjadi juga pada bidang aqidah dan
kepercayaan. Kepercayaan y a n g / w ^ dalam jiwa seorang m u k m i n diibaratkan
dengan air y a n g tercurah dari langit, y a n g mengalir di aneka lembah y a n g
berbeda-beda kadarnya. Orang akan memeroleh manfaat dengan
kehadirannya, m e n g h i d u p k a n jiwa mereka dan melanggengkan kebajikan
dan keberkahan. Adapun batil vang dianut oleh seorang kafir, ia bagaikan
buih, ia hanya bertahan sebentar tetapi kemudian pergi lenyap, sia-sia. tanpa
bekas.

"AUah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ueapan yang


teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan
orang-orang yang zalim dan memperkuat apa yang Dia kehendaki" (QS.
Ibrahim [ 1 4 1 : 2 7 ) .
256 Surah ar-Ra'd [13] Kelompok IV Ayat 18

AYAT 18

"Bagi orang-orang yang menyambut seruan Tuhan mereka yang terbaik. Dan
orang-orang yang tidak menyambutnya, sekiranya mereka mempunyai semua
yang ada di bumi dan sebanyak isi bumi itu lagi bersamanya, niscaya mereka
akan menebus diri mereka dengannya. Itulah yang bagi mereka hisab yang
buruk dan tempat kediaman mereka ialah Jahanam dan itulah seburuk-buruk
tempat kediaman."

Setelah ayat y a n g lalu memberi p e r u m p a m a a n tentang haq dan batil,


kini dijelaskan anugerah atau dampak buruk yang diraih oleh masing-masing.
Bagi orang-orang yang menyambut seruan 'Tuhan, Allah swt. Pemelihara dan
Pembimbing mereka dengan mengikuti kebenaran yang ditawarkan-Nya dan
juga Rasul-Nya, disediakan bagi mereka kesudahan dan suasana serta kondisi
yang terbaik. Di d u n i a dan di akhitat kelak. Dan orang-orang yang tidak
menyambutnya, y a k n i e n g g a n m e n e r i m a t a w a r a n - N y a dan bersikeras
mengikuti kebatilan, mereka akan menghadapi kesulitan dan kesengsaraan
yang tidak terlukiskan dengan kata-kata. Sekiranya mereka mempunyai semua
kekayaan yang ada di bumi dan ditambah sebanyak isi bumi itu lagi bersamanya,
niscaya mereka akan menebus diri mereka dengannya, yakni dengan kekayaan
itu. Orang-orang itulah yang sangar jauh dari rahmat Ilahi dan^rr//g" disediakan
bagi mereka hisab, y a k n i perhitungan, yang hasilnya pasti buruk akibat
b u r u k n y a p i l i h a n m e r e k a dan tempat kediaman mereka k e l a k setelah
k e m a t i a n n y a ialah Jahanam dan itulah seburuk-buruk tempat kediaman.
Jika yang menyambut ajakan Ilahi akan memeroleh kesudahan yang baik,
tentulah y a n g tidak m e n y a m b u t n y a memeroleh kesudahan yang buruk. Jika
yang tidak m e n y a m b u t n y a bersedia m e n u k a r segala apa y a n g d i m i l i k i n y a di
dunia dengan kesudahan buruk itu, yang menyambutnya tidak akan bersedia
menukar kesudahan baik y a n g diraihnya itu dengan apa vang d i m i l i k i n y a di
dunia ini, betapapun banvaknya yang mereka m i l i k i — w a l a u sebanyak dunia
dan ditambah hm sebanyak itu.
Kelompok IV Ayat 19 Surah ar-Ra'd [13] 257

Agaknya, kata f \ ^ b % ^ t ) istajabulmenyambut, yang d i g u n a k a n oleh ayat


ini sebagai ganti dari kata yang mukmin, bertujuan menyerasikannya dengan
kata awdiyahllembah-lembah y a n g disebut oleh ayat y a n g lalu y a n g juga
menyambut dan m e n e r i m a hujan y a n g tercurah dari langit.
Kata ( i l ^ i l ) al-mihdd terambil dari kata ( J-^a) rnahd yang antara lain
berarti buaian. Penggunaan kata tersebut m e n g a n d u n g m a k n a ejekan. Kata
ini pada m u l a n y a d i g u n a k a n d a l a m arti sesuatu yang d i h a m p a r k a n untuk
menjadi rempat duduk. Jika Anda d u d u k atau berbaring di kasur, A n d a akan
merasa n y a m a n , berbeda jika A n d a d u d u k di tanah. D u d u k di tanah relatif
lebih n y a m a n daripada d u d u k di batu-batu karang. Ini p u n relatif lebih
nyaman daripada di atas batu yang panas. Tetapi, dapatkah Anda bayangkan
betapa ' n y a m a n n y a " d u d u k di atas api yang membakar? Lebih-lebih lagi jika
tempat d u d u k atau berbaring itu sempit dan tidak ada ruang gerak cukup,
serupa dengan a n a k yang diletakkan di atas buaian.

AYAT 19

"Adakah orang yang mengetahui bahwa apa yang diturunkan kepadamu dari
Tuhanmu adalah kebenaran, sama dengan orangyang buta? Hanyalah orang-
orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran.

D e m i k i a n l a h perbedaan antara kebenaran dan kebatilan. Karena itu,


adakah orangyang mengetahui bahwa apa yang diturunkan kepadamu dari
Tuhanmu, wahai M u h a m m a d , m e n g e t a h u i n y a bahwa ia adalah kebenaran
dan y a n g diibaratkan dengan air atau logam murni itu sama dengan orang
vang buta y a n g serupa dengan buih dan kotoran logam itu? Pastilah tidak
sama! Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat menyadari
perumpamaan dan mengambil pelajaran.
Ayat di atas m e n g g u n a k a n kata buta u n t u k mereka vang menolak apa
vangditurunkan Allah kepada Nabi M u h a m m a d saw., yakni al-Qur'an, karena
:irman-firman Allah itu sedemikian jelas bagaikan terlihat dengan mata kepala
sehingga dapat dijangkau oleh siapa p u n — w a l a u hanya m e m i l i k i m a t a saja.
258 5urah ar-Ra'd [13] Kelompok IV Ayat 20-22

N a m u n demikian, karena mereka menolaknya, mereka adalah orang yang


buta mata hatinya.
Sayyid Quthub menggarisbawahi penggalan ayat ini yang
m e m p e r h a d a p k a n orangyang mengetahui dengan orangyang buta bukan
memperhadapkannya dengan "orang y a n g tidak mengetahui". Ini,
m e n u r u t n y a mengisyaratkan bahwa h a n y a kebutaan hati y a n g menjadikan
seseorang menolak hakikat y a n g sangat jelas y a n g ditawarkan oleh ajaran
Islam. M a n u s i a kerika m e n g h a d a p i hakikat kebenaran terdiri dari dua
kelompok, "melihat sehingga mengetahui" dan "buta sehingga tidak
mengetahui". D e m i k i a n tulisnya.
Kata ( u L l ^ i ) ahalbdb adalah bentuk jamak dari ( c J ) lubb yaitu saripati
sesuatu. Kacang—misalnya—-memiliki kulit yang menutupi isinya. Isi kacang
dinamai lubb. UlulAlbab adalah orang-orang yang memiliki akal yang murni
yang tidak diselubungi oleh "kulit", y a k n i kabut ide yang dapat melahirkan
kerancuan dalam berpikir. Istilah yang digunakan al-Quf an ini mengisyaratkan
bahwa saripati serta hal y a n g terpenting pada manusia adalah akal-nya yang
m u r n i yang tidak diselubungi oleh nafsu. UlulAlbab bukan sekadar yang
memiliki k e m a m p u a n berpikir cemerlang, tetapi k e m a m p u a n berpikir yang
disertai dengan kesucian hati sehingga dapat mengantar p e m i l i k n y a meraih
kebenaran dan m e n g a m a l k a n n y a serta m e n g h i n d a r dari kesalahan dan
kemunkaran. Inilah saripati manusia. Adapun jasmaninya, ia tidak lain kecuali
kulit yang m e n u t u p i saripati itu. N a m u n demikian, tentu saja kulit pun
harus dipelihara agar saripati tersebut tidak terganggu.

AYAT 2 0 - 2 2

"Orang-orang yang memenuhi janji Allah dan tidak membatalkan perjanjian


dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya
dihubungkan, dan mereka takut kepada Tuhan mereka dan takut kepada
hisab yang buruk. Dan orang-orang yang bersabar demi wajah Tuhan mereka,
dan melaksanakan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan
kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan
Kelompok IV Ayat 20-22 Surah ar-Ra'd [13] 259

dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang

Ayat-ayat ini menjelaskan sebagian dari ciri-ciri dan sifat Ulul Albdb,
yaitu orang-orang yang selalu memenuhi janji yang diikatnya atau dikukuhkan
dengan n a m a Allah dan tidak membatalkan perjanjian, baik m e n y a n g k u t
w a k t u d a n t e m p a t n y a m a u p u n p e l a k s a n a a n n y a , dan orang-orang yang
s e n a n t i a s a menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya
dihubungkan seperti silaturahmi serta menjalin h u b u n g a n harmonis dengan
binatang dan l i n g k u n g a n , dan mereka selalu takut kepada Tuhan mereka dan
takut kepada hisab, yakni perhitungan hari Kemudian, yang berakibat buruk.
Dan orang-orang yang bersabar melaksanakan perintah, menjauhi larangan
serta menghadapi petaka demi wajah Tuhan mereka, yakni mencari keridhaan
Allah, dan melaksanakan shalat secara bersinambung dan m e m e n u h i syarat,
rukun, dan sunnahnya, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan
kepada mereka, ha\\< secara sembunyi-$tmh\\r\y\ sehingga tidak diketahui oleh
siapa p u n atau terang-terangan d a n d i k e t a h u i oleh o r a n g l a i n g u n a
m e n g h i n d a r k a n mereka dari sangka b u r u k atau memberi contoh y a n g baik
dan atau ketika m e n u n a i k a n zakat wajib serta menolak dengan s u n g g u h -
sungguh serta penuh h i k m a h kejahatan dengan kebaikan, baik penolakan
ttu dengan lisan m a u p u n perbuatan, dan orang-orang itulah yang mendapat
tempat kesudahan y a n g baik.

Firman-Nya: (disl J ^ J U 0J3JJ ) yufuna bi'ahdAlldh/memienuhi janji Allah


antara lain mengisyaratkan perjanjian antara manusia dan Allah swt. Memang,
ada perjanjian antara manusia dan Allah, y a k n i bahwa mereka mengakui
keesaan Allah serta tunduk dan patuh kepada-Nya. Perjanjian itu terlaksana
melalui nalar dan fitrah manusia sebelum dikotori oleh kerancuan. Ada j u g a
u l a m a y a n g berpendapat bahwa perjanjian itu telah terlaksana pada suatu
ketika di suatu alam sebelum masing-masing manusia hadir di pentas dunia.
Kata ( j^-ivj*: ) yakhsyauna dan ( 0 ) yakhdfuna vang k e d u a n y a
diterjemahkan dengan takutadalah berdasarkan pemahaman sementara ulama
y a n g menilai k e d u a kata itu sinonim tanpa perbedaan. Ayat ini, m e n u r u t
mereka, m e n g g u n a k a n k e d u a n y a u n t u k tujuan penganekaragaman redaksi.
260 Surah ar-Ra'd [131 Kelompok IV Ayat 20-22

Namun, ada juga ulama yang membedakannya. Yakni, kata yakhsyauna adalah
takut y a n g disertai dengan penghormatan dan p e n g a g u n g a n dan y a n g lahir
dari adanya pengetahuan tentang yang ditakuti itu, sedangyakhdfuna adalah
sekadar takut yang boleh jadi disertai dengan kebencian atau tanpa mengetahui
vang ditakuti itu. Selanjutnya, terbaca di atas bahwa objek kata yakhsyauna
adalah Allah yang ditunjuk dengan kata Ra b bahurn. Kata yang dipilih menjadi
objek tersebut mengesankan a d a n y a harapan dari vang takut karena y a n g
ditakutinya adalah Allah y a n g juga Rabb, vakni Pemelihara, Pendidik y a n g
selalu berbuat baik, bukan Allah vang dilukiskan dengan Perkasa, atau Yang
amat pedih siksa-Nya. Ini serupa juga dengan firman-Nya d a l a m Q S . Yassn
[36]: 11 ( 3 1
lt "*^ lT*^"J J wakhasyiya ar-Rahmdna bi al-ghaiblyang takut

kepada ar-Rahman (Allah yang mencurahkan Rahmat).


T h a b a t h a b a ' i m e m a h a m i kata.yakhsyauna sebagai m e n g a n d u n g m a k n a
t e r p e n g a r u h j i w a a k i b a t k e k h a w a t i r a n t e n t a n g akan d a t a n g n y a suatu
keburukan atau sesuatu y a n g negatif dan s e m a c a m n y a . Sedang, yakhdfitna
mengandung makna adanya upaya mempersiapkan sesuatu guna menghadapi
dan berlindung dari keburukan yang diduga akan menimpa, walaupun ketika
itu hati yang bersangkutan tidak tersentuh. Ini dikukuhkan oleh Thabathaba'i
dengan ayat-ayat yang berbicara tentang "ketakutan"para nabi. Dari satu sisi,
mereka dinyatakan sebagai ( 4ji ^1 j j - I Jy^i V ) ld yakhsyauna ahadan illa
Allah/mereka tidak takut kepada sesuatu pun kecuali kepada Allah (QS. al-
Ahzab [ 3 3 ] : 3 9 ) , dan di sisi lain mereka j u g a dilukiskan disentuh oleh khauf
dan, dengan demikian, tentulah mereka yakhdfun seperti keadaan Nabi Musa
as. y a n g dilukiskan dalam ( Q S . T h a h a [ 2 0 ] : 6 7 ) atau dugaan khauf yang
boleh jadi dialami oleh Nabi M u h a m m a d saw. karena pengkhianatan lawan-
lawan beliau (QS. al-Anfal [8J: 5 8 ) . Pakar tafsir, al-Alusi, berpendapat bahwa
pada u m u m n y a perbedaan-perbedaan m a k n a antara satu lafazh dan yang lain
adalah perbedaan y a n g bersifat u m u m , b u k a n perbedaan y a n g pasti dan
m e n y e l u r u h . Setiap perbedaan yang dijelaskan oleh u l a m a akan d i t e m u k a n
satu dua contoh y a n g mengecualikannya.

Kata ( ^ j w > ) shabaru tidak menyebut salah satu aspeknya. Ini berarti
kesabaran-kesabaran yang dimaksud mencakup segala aspek kesabaran, antara
Kelompok IV Ayat 20-22 Surah ar-Ra'd [13] 261

lain ketika menghadapi musibah, kesabaran dalam ketaatan dan pelaksanaan


tugas, kesabaran menghindari kedurhakaan, dan lain-lain.
Firman-Nya: ( j^ftUi jjCL*) mimma razaqnahumlsebagian rezeki yang
Kami berikan kepada mereka dapat d i p a h a m i sebagai isyarar b a h w a mereka
tidak dituntut untuk menafkahkan semua rezeki yang diperolehnya. Sebagian
rezeki yang tidak dinafkahkan itu agar mereka tabung. Pelaksanaan tuntunan
ini menuntut upaya dan kerja keras sehingga rezeki yang diperoleh melebihi
kebutuhan agar kelebihan itu dapat ditabung. Penggalan ayat ini dapat j u g a
bermakna bahwa, sebanyak apa pun yang dinafkahkan seseorang, hal tersebut
baru merupakan sebagian dari anugerah Allah. Bukankah wujud serta sarana
kehidupan, seperti bumi tempat berpijak dan udara yang dihirup, kesemuanya
adalah rezeki dari Allah swt.?
Kata ((JjijJj) yadra'un berarti menolak. D a l a m hal ini a d a l a h
m e n y i n g k i r k a n d a m p a k y a n g terjadi atau akan terjadi dari suatu keburukan
dengan cara y a n g baik. M e m a n g , salah satu cara terbaik u n t u k m e n a m p i k
keburukan serta perselisihan adalah dengan berbuat baik kepada lawan. Dalam
konteks ini, Allah berfirman: "Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan.
Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang
yang antara kamu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi
teman yang sangat setia"{QS. Fushshilat [41 ] : 3 4 ) . Di sisi lain, memberantas
k e b u r u k a n h a r u s p u l a d e n g a n cara y a n g b a i k . J a n g a n s a m p a i u p a y a
memberantasnya menimbulkan dampak yang lebih buruk daripada keburukan
yang ingin disingkirkan. Di sisi lain, Rasul saw. bersabda: "Bertakwalah kepada
Allah di m a n a dan kapan saja, dan susulkanlah keburukan dengan kebaikan,
niscaya kebaikan itu menghapus keburukan itu."

Perlu digarisbawahi b a h w a pemaafan dengan cata yang baik d a l a m


menghadapi keburukan, tentu saja bukan dengan mengorbankan kebaikan
atau prinsip-prinsip ajaran agama dan tidak j u g a y a n g akhirnya memberi
peluang bagi tersebarnya k e b u r u k a n itu secara lebih luas. Oleh sebab itu,
sekian banyak ulama menggarisbawahi bahwa ayat ini adalah tuntunan dalam
konteks h u b u n g a n pribadi dengan pribadi atau pribadi dengan Allah swt.
dalam rangka meraih p e n g a m p u n a n - N y a , b u k a n d a l a m persoalan ajaran
agama.
262 Surah ar-Ra'd [13] Kelompok IV Ayat 23-24

AYAT 2 3 - 2 4

"Surga-surga Adn, mereka masuk ke dalamnya bersama dengan orang-orang


yang saleh dari orang-orang tua mereka, pasangan-pasangan mereka dan anak
cucu mereka, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari
semua pintu; "Saldmun 'alaikum bimd shabartum. " Maka, alangkah baik
tempat kesudahan itu."

Tempat kesudahan y a n g baik yang dijanjikan u n t u k UlulAlbab adalah


Surga-surga Adn. Mereka masuk ke dalamnya bersama dengan orang-orang
yang saleh, y a k n i yang beriman kepada Allah dan taat dari orang-orang tua
mereka yakni ibu, bapak, pasangan-pasangan baik suami m a u p u n istri mereka,
dan anak cucu mereka. Bukan hanya itu y a n g m e t e k a peroleh. Di surga sana
mereka berbahagia memeroleh aneka nikmat sedang malaikat-malaikat masuk
ke tempat-tempat mereka dari semua pintu sambil mengucapkan: "Saldmun
alaikum bimd shabartum. Kedamaian dan kesejahteraan selalu bersama kalian
disebabkan dahulu, ketika h i d u p di dunia, kalian telah bersabar." Maka,
alangkah baik tempat kesudahan itu.
M a s u k n y a ke surga ibu, bapak, dan anak cucu itu bukan berarti bahwa
mereka m e m a s u k i n y a tanpa d u k u n g a n i m a n dan amal saleh. Kata ( £-L» )
shalaha, yang diterjemahkan taat, menunjukkan bahwa mereka pun beriman
dan beramal saleh. H a n y a saja, boleh jadi amal mereka belum sampai ke
tingkat yang sama dengan tingkat iman dan amal sang anak yang menyandang
sifat-sifat Ulul Albdb itu. N a h , g u n a m e l i m p a h k a n lebih b a n y a k lagi
kesenangan dan kebahagiaan kepada p e n y a n d a n g sifat itu, ibu, bapak,
pasangan, dan anak c u c u n y a ditingkatkan dari peringkat bawah surga y a n g
mestinya mereka raih ke peringkat y a n g lebih tinggi agar mereka semua
bergabung sebagai satu keluarga dan dapat h i d u p bersama.

Firman-Nya:
Kelompok IV Ayat 25 Surah ar-Ra'd [13] 263

"Malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu"


mengisyaratkan banyaknya pintu kesabaran, dan mengisyaratkan pula luasnya
tempat tinggal mereka sehingga amat banyak pintunya. Atau, itu
m e n g i s y a r a t k a n s e r i n g n y a para m a l a i k a t k e l u a r m a s u k m e n e m u i dan
m e m b a w a kebahagiaan dan kesenangan buat mereka.
1
Kata ( f%*>) salam telah dijelaskan pada ayat 10 surah Yunus ' dan ayat
J
4 8 surah Hud,' rujuklah ke sana!

AYAT 25

''Dan orang-orang yang mengurai perjanjian Allah sesudah diikat dengan teguh
dan memutuskan apa yang Allah perintahkan untuk dihubungkan dan
mengadakan kerusakan di bumi, itulah yang memeroleh kutukan dan bagi
mereka tempat kediaman yang buruk. "

Setelah menguraikan amal-amal kebajikan dan ganjaran orang-orang yang


m e n g i k u t i kebenaran, kini diuraikan keburukan y a n g mengikuti kebatilan
serta apa yang menanti pata pelaku keburukan.
Dan a d a p u n orang-orang yang mengurai, yakni membatalkan dan
melanggar perjanjian mereka dengan Allah sesudah perjanjian itu diikat dengan
teguh, dan selalu memutuskan apa yang Allah perintahkan kepada mereka
untuk dihubungkan antara lain silaturahmi. M e r e k a m e m u t u s k a n n y a antara
lain dengan memecah belah persatuan dan kesatuan, memutuskan hubungan
harmonis antara manusia dan Allah, dan lain-lain y a n g diperintahkan Allah
untuk selalu dihubungkan dan ditautkan, seperti m e n g h u b u n g k a n kata yang
b a i k d e n g a n p e n g a m a l a n y a n g baik p u l a , dan m e r e k a terus-menerus
mengadakan kerusakan di bumi apa pun bentuk kerusakan itu, baik terhadap
hak m a n u s i a m a u p u n l i n g k u n g a n , mereka itulah yang memeroleh kutukan,

1
Lihat tafsir QS. Yunus [10]: 10 pada volume S halaman 345.
I.ihar. rafsir QS. Hud [11]: 48 pada volume 5 halaman 642-
264 Surah ar-Ra'd [13] Kelompok IV Ayat 26

y a k n i dijauhkan dari rahmat Allah dan bagi mereka tempat kediaman yang
buruk sehingga tidak mendapatkan sesuatu kecuali keburukan.
Yang d i m a k s u d dengan sesudah diikat dengan teguh adalah sesudah
kehadiran para nabi dan rasul m e m b a w a bukti-bukti keesaan-Nya, baik
melalui ajakan memerhatikan kitab suci y a n g diturunkan bersama nabi dan
rasul-rasul itu m a u p u n yang terhampar dengan jelas di alam raya ini. Bacalah
kembali ayat 2 - 4 surah ini u n t u k m e m a h a m i m a k n a ayat ini!

AYAT 2 6

"Allah meluaskan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkan
(nya). Mereka bergembira dengan kehidupan di dunia, padahal kehidupan
dunia dibanding dengan kehidupan akhirat, hanyalah mata (kesenangan
sementara). "

Al-Biqa'i ketika menghubungkan a y a t ini d a n a y a t s e b e l u m n y a


berpendapat bahwa sebelum ayat ini telah ada anjuran agar menafkahkan
h a r t a y a n g m e r u p a k a n s a l a h s a t u cata y a n g p a l i n g a m p u h untuk
m e n g h u b u n g k a n apa y a n g diperintahkan Allah swt. u n t u k d i h u b u n g k a n ,
dan d i k e m u k a k a n pada ayat yang lalu bahwa rahmat Allah serta anugerah
kebajikan-Nya jauh dari orang-orang kafir. Di sini, seakan-akan orang-orang
kafir berkata: " M e n g a p a justru kami y a n g Anda katakan jauh dari rahmat
Allah padahal k a m i memeroleh rezeki y a n g banyak, sedangkan orang-orang
beriman y a n g Anda nyatakan dekat k e p a d a - N y a dan m e n g h u b u n g k a n apa
y a n g diperintahkan Allah u n t u k d i h u b u n g k a n , tidak memeroleh rezeki
sebanyak k a m i ? " U n t u k m e n a n g g a p i mereka, ayat ini m e n y a t a k a n : Allah
meluaskan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki, yakni bagi siapa pun, bukan
berdasar k e i m a n a n dan kekufuran seseorang, tetapi berdasarkan h u k u m -
h u k u m p e r o l e h a n rezeki y a n g d i t e t a p k a n - N y a — d a n i t u l a h c e r m i n a n
k e h e n d a k - N y a , dan menyempitkannya bagi y a n g tidak m e m e n u h i h u k u m -
h u k u m itu. Mereka, yakni orang-orang kafir, bergembira, berfoya-foya, dan
durhaka dengan kehidupan di dunia, yakni dengan kekayaan dan kesejahteraan
Kelompok IV Ayat 26 Surah ar-Ra'd [13] 265

y a n g mereka nikmati, padahal kehidupan dunia y a n g mereka peroleh itu


dibanding dengan kehidupan akhirat y a n g akan d i n i k m a t i oleh orang-orang
beriman, hanyalah mata', y a k n i kesenangan y a n g sedikit lagi sebentar.
Dapat juga dikatakan m e n y a n g k u t h u b u n g a n ayat ini dengan ayat
s e b e l u m n y a b a h w a d a l a m benak s e m e n t a r a k a u m m u s l i m i n terlintas
pertanyaan yang menyatakan bagaimana Allah swt. melapangkan rezeki bagi
orang-orang kafir sehingga mereka semakin d u r h a k a dan membangkang.
Tidakkah sewajarnya mereka disiksa saja atau paling tidak jangan dianugerahi
limpahan rezeki?

Ayat di atas menjelaskan bahwa perluasan rezeki adalah atas kehendak


Allah swt. N a m u n demikian, ayat ini tidak menyebut kehendak-Nya itu
ketika m e n g u r a i k a n penyempitan rezeki. Sebenarnya, p e n y e m p i t a n rezeki
p u n aras kehendak-Nya juga, retapi hal ini tidak disebut bukan saja karena
telah d a p a t d i p a h a m i d a r i p e n y e b u t a n y a n g l a l u , tetapi j u g a untuk
m e n g h i n d a r k a n dari Allah kesan negatif dengan melakukan p e n y e m p i t a n
rezeki.
Yang d i m a k s u d dengan kehendak Allah di sini adalah h u k u m dan
ketentuan-ketentuan yang ditetapkan-Nya m e n y a n g k u t perolehan rezeki,
antara lain kerja keras, pemanfaatan dan penciptaan peluang, dan sebagainya.
Siapa pun yang sungguh-sungguh berusaha, pintu rezeki dapat terbuka luas
baginya. Itulah h u k u m y a n g ditetapkan-Nya sekaligus kehendak-Nya. Di
tempat lain Allah berfirman:

Dan mereka berkata: "Kami lebih banyak mempunyai harta dan anak-anak
(daripada kamu) dan kami sekali-kali tidak akan diazab. " Katakanlah:
"Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-
Nya dan menyempitkan akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui"
(QS. Saba [ 3 4 ] : 3 5 - 3 6 ) . Yakni, tidak mengetahui bahwa perluasan dan
penyempitan rezeki bukan berdasar pada keimanan dan kekufuran.
KELOMPOK 5

AYAT 27-35

267
Surah ar-Ra'd [13]
Kelompok V Ayat 27 Surah ar-Ra'd [13| 269

AYAT 2 7

Orang-orang kafir berkata: "Mengapa tidak diturunkan kepadanya ayat f bukti)


dari Tubannya?" Katakanlah: "Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang
Dia kehendaki dan memberi hidayah ke arah-Nya siapa pun yang bertaubat. "

Setelah ayat y a n g lalu m e m b a n t a h apa y a n g boleh jadi diucapkan oleh


k a u m musyrikin, kini apa y a n g mereka ucapkan secara jelas dan mereka
usulkan sebelum ini d i k e m u k a k a n lagi guna m e n u n j u k k a n betapa anehnya
sikap mereka. Yaitu, orang-orang kafir senantiasa berkata sekadar u n t u k
mengejek dan berolok-olok: "Mengapa tidak diturunkan oleh A l l a h
kepadanya, yakni kepada M u h a m m a d , ayat, yakni bukti berupa mukjizat
indriawi dari Tuhannya vang dia nyatakan telah mengutusnya kepada k a m i ? "
Katakanlah, wahai Nabi mulia: A l a n g k a h besar sikap keras kepala kalian.
Telah berulang-ulang wahyu-wahyu Ilahi yang merupakan mukjizat dan bukti
k e b e n a r a n y a n g a k u t a m p i l k a n dan telah b e r u l a n g - u l a n g p u l a a k u
m e n y a m p a i k a n tantangan k e p a d a k a m u u n t u k m e m b u a t s e m a c a m n y a ,
n a m u n k a m u tidak melayani tantangan itu. Ini berarti kamu sebenarnya tidak
m e m i n t a bukti, tetapi m e m a n g k a m u enggan percaya sehingga kamu sesat
dan Allah pun menyesatkan k a m u "Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa
yanv Dia kehendaki u n t u k Dia sesatkan bila y a n g bersangkutan m e m i l i h
kesesatan dan ketika itu bukti apa p u n y a n g dipaparkan pasti ditolaknya
seperti keadaan kalian dan Allah j u g a memberi hidayah ke arah-Nya siapa
pun yang bertaubat dan menyesali kesalahannya w a l a u p u n sebelum itu dia
selalu ragu dan ragu.
Terkesan dari apa y a n g d i p e r i n t a h k a n k e p a d a R a s u l saw. u n t u k
disampaikan ini bahwa ia tidak s e p e n u h n y a sejalan dengan usul kaum
musyrikin itu. M e m a n g demikian, apa y a n g disampaikan Rasul itu pada
hakikatnya bukan jawaban tetapi mengandung makna kecaman dan keheranan
atas sikap mereka y a n g terus-menerus m e n y a m p a i k a n ucapan itu. Apa y a n g
dimaksud oleh ayat ini lebih kurang seperti y a n g tersurat dalam kalimat-
270 Surah ar-Ra'd [13] Kelompok V Ayat 27

kalimat panjang yang penulis k e m u k a k a n sesudah kata Katakanlah di atas.


Kalimat-kalimat serupa d i k e m u k a k a n j u g a oleh pakar tafsir az-Zamakhsyari
dan al-Biqa'i.
Firman-Nya: Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki
dan memberi hidayah ke arah-Nya siapa pun yang bertaubat j u g a dapat
dipahami d a l a m arti keimanan dan kesesatan, bukan berdasar ada tidaknya
bukti indriawi seperti yang mereka usulkan. Bisa saja seorang beriman tanpa
bukti seperti itu, d e m i k i a n j u g a sebaliknya, karena k e i m a n a n dan kesesatan
terpulang kepada ketentuan Allah swt. Ketentuan itu tidak ditetapkan-Nya
tanpa memerhatikan kehendak hati masing-masing. Allah swt. akan memberi
petunjuk siapa y a n g siap h a t i n y a u n t u k m e n e r i m a dan Allah menyesatkan
siapa yang sesat dan enggan menerima ajakan sesuai firman-Nya:

"Maka, tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati


mereka; dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang fasik" (QS.
ash-Shaff[6l]:5).
Kata ( ^ J U S ) andba mengandung m a k n a kembali ke tempat semula setelah
sebelumnya ragu. Yang dimaksud di sini adalah pengakuan tentang kebenaran
setelah jelas bukti-buktinya serta tampil m e n y a m b u t setelah sebelumnya
membelakangi.

Ayat ini mengesankan bahwa sebenarnya bukti-bukti yang dipaparkan


Nabi M u h a m m a d saw. apalagi ayat-ayat al-Qur'an sudah sangat cukup untuk
m e n y e n t u h hati siapa pun, n a m u n ada di antara m e r e k a y a n g b e l u m
mengambil sikap jelas, atau dengan kata lain masih ragu. Jika secara tegas
mereka menerimanya, ketika itulah yang bersangkutan telah kembali. Mereka
dinilai kembali karena tuntunan ayat-ayat al-Qur'an adalah sesuatu yang sangat
dekat kepada fitrah. M e r e k a y a n g m e n o l a k n y a dianggap menjauh darinya.
Tetapi, bila setelah menjauh itu ia m e n e r i m a n y a , ketika itulah ia dinamai
andba.
Kelompok V Ayat 28-29 Surah ar-Ra'd [13] 271

AYAT 2 8 - 2 9

"Orang-orangyang beriman dan hati mereka menjadi tenteram disebabkan


karena dzikrullah. Sungguh, hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi
tenteram. Orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka
kebahagiaan dan tempat kembali yang baik. "

Orang-orang yang mendapat petunjuk Ilahi dan kembali m e n e r i m a


t u n t u n a n - N y a , sebagaimana disebut pada ayat y a n g lalu itu, adalah orang-
orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram setelah sebelumnya
bimbang dan ragu. Ketenteraman itu yang bersemi di dada mereka disebabkan
karena dzikrullah, yakni mengingat Allah, atau karena ayat-ayat Allah, yakni
al-Qur'an, yang sangat memesona k a n d u n g a n dan redaksinya. Sungguhi
C a m k a n l a h bahwa hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tenteram.
Orang-orangyang beriman dan beramal saleh, seperti yang keadaannya seperti
itu, y a n g tidak akan m e m i n t a bukti-bukti tambahan dan bagi mereka itulah
kehidupan yang penuh dengan kebahagiaan di dunia dan di akhirat dan bagi
mereka j u g a tempat kembali yang baik, yaitu surga.

Kata ( f's ) dzikrlzikir pada m u l a n y a berarti mengucapkan dengan lidah.


W a l a u p u n m a k n a ini k e m u d i a n berkembang menjadi "mengingat". N a m u n
demikian, mengingat sesuatu sering kali mengantar lidah m e n y e b u t n y a .
D e m i k i a n j u g a m e n y e b u t d e n g a n l i d a h dapat m e n g a n t a r hati untuk
m e n g i n g a t l e b i h b a n y a k lagi a p a y a n g d i s e b u t - s e b u t iru. Kalau k a t a
"menyebut" dikaitkan dengan sesuatu, apa yang disebut itu adalah namanya.
Karena itu, ayat di atas dipahami dalam arti menyebut nama Allah. Selanjutnya,
nama sesuatu terucapkan apabila ia teringat disebut sifat, perbuatan, maupun
peristiwa y a n g berkaitan d e n g a n n y a . Dari sini dzikrullah dapat mencakup
makna menyebut keagungan Allah, surga atau neraka-Nya, rahmat dan siksa-
Nya, atau perintah dan l a r a n g a n - N y a dan j u g a w a h y u - w a h y u - N ya.

Berbeda pendapat u l a m a tentang apa y a n g d i m a k s u d dengan dzikrullah


dalam ayat ini. Ada yang m e m a h a m i n y a dalam arti al-Qur'an karena m e m a n g
salah satu n a m a a l - Q u r ' a n adalah adz-Dzikr (baca Q S . al-Anbiya' [ 2 1 ] : 50
272 Surah ar-Ra'd [13] Kelompok V Ayat 28-29

dan al-Hijr [15]: 9 ) . Pendapat ini lebih sesuai untuk menjadi jawaban terhadap
keraguan k a u m musyrikin serta permintaan mereka mendatangkan ayat/bukti
kebenaran Rasul saw.
Ada j u g a y a n g m e m a h a m i n y a dalam arti zikir secara u m u m , baik berupa
ayat-ayat a l - Q u r ' a n m a u p u n selainnya. B a h w a zikir m e n g a n t a r kepada
ketenteraman jiwa tentu saja apabila zikir itu dimaksudkan untuk mendorong
hati menuju kesadaran tentang kebesaran dan kekuasaan Allah swt. Bukan
sekadar ucapan dengan lidah.
Kata ( ) ala d i g u n a k a n u n t u k m e m i n t a p e r h a t i a n m i t r a bicara
menyangkut apa yang akan diucapkan. Dalam konteks ayat ini adalah tentang
dzikrullah yang melahirkan ketenteraman hati.
Thabathaba'i menggarisbawahi bahwa kata ( ) tathma'innu/menjadi
tenteram adalah penjelasan tentang kata sebelumnya y a k n i beriman. Iman
tentu saja bukan sekadar pengetahuan tentang objek iman karena pengetahuan
tentang sesuatu belum mengantar kepada keyakinan dan ketenteraman hati.
Ilmu tidak menciptakan iman. Bahkan, bisa saja pengetahuan itu melahirkan
kecemasan atau bahkan pengingkaran dari y a n g bersangkutan seperti yang
diisyaratkan oleh Q S . a n - N a m l [ 2 7 ] : 14:

j'- " a
^ 1^ .'.0.1. ^J^>,_>^5

"Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan (mereka)


padahal hati mereka meyakini (kebenaran) nya. "
M e m a n g , ada sejenis pengetahuan y a n g dapat melahirkan iman, y a i t u
pengetahuan y a n g disertai dengan kesadaran akan kebesaran Allah serta
kelemahan dan kebutuhan m a k h l u k k e p a d a - N y a . Ketika pengetahuan dan
kesadaran itu bergabung d a l a m jiwa seseorang, ketika itu lahir ketenangan
dan ketenteraman. Ketika seseorang menyadari bahwa Allah adalah Penguasa
tunggal dan Pengatur alam raya dan Yang d a l a m g e n g g a m a n tangan-Nya
segala sesuatu, menyebut-nyebut nama-Nya, mengingat kekuasaan-Nya, serta
s i f a t - s i f a t - N y a y a n g a g u n g , pasti a k a n m e l a h i r k a n k e t e n a n g a n dan
ketenteraman d a l a m jiwanya.
A b d u l l a h Ibn Abbas, k e t i k a b e r u m u r belasan tahun, menceritakan
pengalamannya sebagai berikut: "Suatu ketika, aku berjalan di belakang Nabi
Kelompok V Ayat 28-29 Surah ar-Ra'd [13] 273

saw., lalu beliau bersabda kepadaku; ' W a h a i anak muda! S u n g g u h aku akan
mengajarmu beberapa k a l i m a t (yaitu).' Peliharalah (ketetapan-ketetapan)
Allah, niscava Dia m e m e l i h a r a m u , Peliharalah (ketetapan-ketetapan) Allah,
niscaya e n g k a u m e n d a p a t i - N y a selalu di h a d a p a n m u . A p a b i l a e n g k a u
b e r m o h o n m a k a b e r m o h o n l a h k e p a d a A l l a h , apabila e n g k a u m e m i n t a
bantuan maka mintalah bantuan kepada Allah. Ketahuilah bahwa
sesungguhnya seandainya umat berhimpun untuk memberi sesuatu manfaat
k e p a d a m u , mereka tidak akan m a m p u m e m b e r i m u kecuali sesuatu y a n g
telah d i t e t a p k a n Allah u n t u k m u ; dan b i l a m e r e k a b e r h i m p u n untuk
menjatuhkan mudharat kepadamu, mereka tidak akan mampu
m e n j a t u h k a n n y a k e p a d a m u , kecuali sesuatu y a n g telah ditetapkan Allah
atasmu. Pena-pena telah diangkat dan lembaran telah ditutup" (HR. at-
Tirmidzi).

Imam Ghazali menulis: " M a n u s i a sebagai h a m b a Allah harus dapat


m e n g a m b i l dari lafazh Allah" kesadaran tentang ta-Allah. Allah, y a k n i
k e k u a s a a n - N y a y a n g m u t l a k d a l a m k e p e m i l i k a n dan pengaturan seluruh
m a k h l u k . Seluruh jiwa dan / w ^ m ^ / k e h e n d a k n y a harus ia kaitkan dengan
Allah, ia tidak m e m a n d a n g kecuali kepada-Nya, tidak menoleh ke selain-
Nya, tidak mengharap, tidak pula takut kecuali kepada-Nya. B a g a i m a n a
tidak d e m i k i a n , sedang ia seharusnya telah p a h a m dari n a m a ini b a h w a
sesungguhnya Dia adalah w u j u d y a n g hakiki dan / ^ s e d a n g selain Dia akan
lenyap binasa. Dengan demikian, dia akan memandang bahwa dirinya adalah
vang pertama akan binasa dan dia adalah sesuatu yang batil, sepetti pandangan
Rasul saw. dengan sabda beliau: 'Kalimat yang paling benar diucapkan seorang
penyair adalah kalimat Labid yaitu: Segala sesuatu selain Allah pasti disentuh
kebatilan (HR. Bukhari, M u s l i m dan Ibn M a j a h dari A b u H u r a i r a h ) . "

Kata ( j i J i J ) tathma'innu m e n g g u n a k a n bentuk kata kerja masa kini.


P e n g g u n a a n n y a di sini b u k a n b e r t u j u a n menggambarkan terjadinya
k e t e n t e r a m a n itu pada m a s a t e r t e n t u , tetapi y a n g d i m a k s u d a d a l a h
kesinambungan dan kemantapannya.
Ayat ini tidak bertentangan dengan firman-Nya:
274 Surah ar-Ra'd [13] Kelompok V Ayat 30

''Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah mereka yang apabila disebut nama


Allah gemetar hati mereka" (QS. al-Anfal [ 8 ] : 2) karena ayat pada surah al-
Anfal ini menggambarkan keadaan mereka ketika mendengar ayat-ayat yang
m e n g a n - d u n g a n c a m a n , sedang ayat ar-Ra'd ini a d a l a h k e t e n t e r a m a n
menyebut n a m a Allah yang rahmat-Nya m e n g a l a h k a n amarah-Nya, yang
r a h m a t - N y a m e n c a k u p segala sesuatu. Ada j a w a b a n lain u n t u k m e n a m p i k
dugaan pertentangan itu yang penulis k e m u k a k a n ketika menafsirkan Q S .
al-Anfal itu, y a k n i rasa takut dan gentar y a n g dirasakan oleh orang-orang
yang beriman adalah tahap pertama dari gejolak jiwa ketika itu merasa sangat
takut akibat m e m b a y a n g k a n a n c a m a n dan siksa Allah, sedang ayat Q S . ar-
Ra'd menggambarkan gejolak hati mereka setelah rasa gentar itu berlalu, yakni
ketika mereka mengingat rahmat dan kasih sayang Allah. Kedua kondisi
psikologis ini d i t a m p u n g oleh firman-Nya:

"Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) ahQur'an yang
serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang gemetar karenanya kulit orang-
orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati
mereka di waktu mengingat Allah" ( Q S . az-Zumar [ 3 9 ] : 2 3 ) .
Kata ( j& ) timba berasal dari kata ( ) ihaba, dalam arti yang baik,
menyenangkan, dan menggembirakan. Kata ini merupakan sifat (adjektiva)
dari suatu kata yang tidak disebut, misalnya kehidupan.
Kehidupan betapapun m e w a h n y a tidak akan baik jika tidak disertai
ketenteraman hati. sedang ketenteraman hati baru dapat dirasakan bila hati
yakin dan percava bahwa ada sumber y a n g tidak terkalahkan y a n g selalu
mendampingi dan memenuhi harapan.

AYAT 30

Seperti itulah, Kami telah mengutusmu pada suatu umat yang sungguh telah
berlalu beberapa umat sebelumnya supaya engkau membacakan kepada mereka
Kelompok V Ayat 30 Surah ar-Ra'd [13] 275

yang Kami wahyukan kepadamu, padahal mereka mengkufuri Tuhan Yang


Rahman. Katakanlah: "Dialah Tuhanku tidak ada tuhan selain Dia; hanya
kepada-Nya aku bertawakal dan hanya kepada-Nya tempat kembaliku. "

Thahir Ibn 'Asyur memahami ayat ini sebagai lanjutan jawaban terhadap
ucapan orang-orang kafir yang berkata: "Mengapa tidak diturunkan kepadanya
ayat (bukti) dari Tuhannya?"'Menurutnya, jawaban y a n g d i k e m u k a k a n pada
ayat 2 7 yang lalu, tidak lebih dari m e n g g a m b a r k a n keheranan atas sikap dan
kesesatan mereka, belum lagi j a w a b a n terhadap usul mereka. Demikian Ibn
'Asyur.
A l - B i q a i berpendapat bahwa ayat-ayat y a n g lalu m e n u n j u k k a n bahwa
pembangkangan kaum kafirin sudah sangat jauh dan berlangsung lama. Sudah
b a n y a k j u g a gangguan mereka serta telah berlarut kesabaran menghadapi
mereka. M a k a , ketika itu, boleh jadi orang kafir atau m u s l i m berkata:
"Bukankah engkau, wahai Nabi M u h a m m a d saw., adalah utusan Allah yang
diperkenankan permohonannya sebagaimana rasul-rasul yang lalu?
Bermohonlah kepada Allah! Kiranya kita tidak berlarut-larut menanti." Nah,
ayat ini menjawab ucapan itu. D e m i k i a n aI-Biqa'i.

Apa pun h u b u n g a n n y a , yang jelas ayat ini menegaskan bahwa seperti


itulah, yakni seperti pengutusan para rasul y a n g Kami uraikan k e p a d a m u
d a l a m sekian banyak ayat y a n g telah engkau terima dan y a n g m e n u n j u k k a n
k e p a d a m u kuasa Kami yang penuh, Kami juga. telah mengutusmu pada suatu
umat, yakni seluruh manusia sejak masamu hingga akhir zaman, yang sungguh
telah berlalu sebelum p e n g u t u s a n m u itu beberapa umat sebelumnya vang
j u g a m e m b a n g k a n g para rasul. Kami m e n g u t u s m u , wahai M u h a m m a d ,
supaya engkau membacakan kepada mereka ayat-ayat al Q u r ' a n yang Kami
wahyukan kepadamu, padahal mereka terus-menerus mengkufuri Tuhan Yang
Rahman, y a k n i Tuhan y a n g selalu mencurahkan rahmat. Hai M u h a m m a d ,
Kami mengutusmu hanya untuk itu, bukan untuk melayani usul-usul mereka
m e n y a n g k u t pembuktian kebenaranmu.

Setelah menjelaskan fungsi Nabi M u h a m m a d saw., sekali lagi beliau


diperintahkan: Katakanlah kepada mereka yang meragukan kebenaranmu:
"Dialah, yakni ar-Rahman itu, Tuhanku Pembimbing dan yang selalu berbuat
276 Surah ar-Rad [13] Kelompok V Ayat 30

baik kepadaku. Aku percaya penuh kepada-Nva dan tidak akan mcngkururi
anugerah-Nya. A k u y a k i n bahwa tidak ada tuhan, tidak ada penguasa langit
dan bumi, tidak ada j u g a y a n g berhak disembah selain Dia; hanya kepada-
Nya aku bertawakal, y a k n i berserah diri setelah u p a y a maksimal y a n g dapat
kulakukan, dan hanya kepada-Nya tidak kepada siapa pun selain-Nya tempat
kembaliku, yakni bertaubat dan j u g a kembali setelah ke matian nanti.
Firman-Nya m e n g u r a i k a n kedatangan Nabi M u h a m m a d saw. sebagai
telah berlalu beberapa umat sebelumnya bukan saja mengisyaratkan bahwa
beliau bukan orang pertama sebagai rasul, tetapi juga mengandung semacam
a n c a m a n , y a k n i u m a t - u m a t y a n g l a l u telah d i b i n a s a k a n A l l a h k e t i k a
m e m b a n g k a n g rasul-Nya. M a k a , kalian p u n — w a h a i masyarakat M e k k a h —
terancam hal serupa karena kerasulan Nabi M u h a m m a d saw. serupa dengan
kerasulan nabi-nabi yang lalu dan, dengan d e m i k i a n , perlakuan Allah pun
tidak akan j a u h berbeda.
Kata ar-Rahman telah dijelaskan m a k n a n y a secara panjang lebar dalam
penafsiran surah al-Fatihah. Di sana, antara lain penulis k e m u k a k a n bahwa
ban vak u l a m a berpendapat bahwa baik ar-Rahman maupun ar-Rahim
keduanya terambil dari akar kata ( A3-J ) rahmah. Rahman setimbang dengan
( J^Us ) falan dan ( ) Rahim dengan ( J_J*3) fa'U. T i m b a n g a n ( j*>U3)
fa'lan biasanya menunjukkan kepada kesempurnaan dan atau kesementaraan,
sedang t i m b a n g a n ( J-J^ ) fa 'U m e n u n j u k k e p a d a kesinambungan dan
kemantapan. Itu salah satu sebab sehingga tidak ada b e n t u k j a m a k dari kata
Rahman karena kesempurnaannya itu, dan tidak ada juga vang wajar dinamai
Rahman kecuali Allah swt. Berbeda dengan kata Rahim, yang dapat dijamak
dengan (sX3~) ) Ruharna', sebagaimana ia dapat menjadi sifat Allah dan juga
sifat m a k h l u k .

Kaum musyrikin m e n g a k u tidak mengenal a r - R a h m a n :

Apabila dikatakan kepada mereka: "Sujudlah kepada ar-Rahman", mereka


menjawab: "Siapakah ar-Rahman itu?" ( Q S . al-Furqan [251: 6 0 ) . M e r e k a

Bandingkan dengan volume 1 tentang tafsir ayat 3 surat al-Fatihah pada halaman 40.
Kelompok V Ayat 31 Surah ar-Ra'd [13] 277

enggan sujud kepada-Nya, padahal Dia-lah y a n g m e n g a n u g e r a h k a n aneka


rahmat kepada seluruh makhluk, baik yang kafir dan durhaka maupun yang
m u k m i n dan taat. Dengan d e m i k i a n , penyebutan kata tersebut di sini, di
samping m e m p e r k e n a l k a n sifat Allah y a n g R a h m a n itu, j u g a m e n g a n d u n g
kecaman bahwa orang-orang kafir m e n i k m a t i anugerah dan kasih sayang-
Nya, tetapi sungguh sangat buruk mereka karena terus-menerus mengkufuri-
Nya.

AYAT 31

"Dan sekiranya ada suatu bacaan yang dengannya gunung-gunung dapat


digeserkan atau dibelah dengannya bumi atau diajak berbicara dengannya
orang-orang mati, (tentu al-Qur'an inilah). Bahkan segala persoalan adalah
kepunyaan Allah. Maka, tidakkah orang-orang yang beriman mengetahui
bahwa seandainya Allah menghendaki tentu Allah memberi petunjuk kepada
manusia semuanya. Dan orang-orang yang kafir senantiasa ditimpa bencana
disebabkan perbuatan mereka sendiri atau bencana itu terjadi dekat tempat
kediaman mereka sehingga datanglah janji Allah. Sesungguhnya Allah tidak
menyalahi janji. "

Setelah mengecam kekufuran mereka terhadap Allah yang mewahyukan


al-Qur'an, kini dikecam sikap mereka terhadap al-Qur'an yang mereka tidak
m e n g a k u i n y a sebagai bukti kebenaran. Ayat ini menyatakan: Dan sekiranya
ada suatu bacaan yang dengannya, y a k n i dengan bacaan itu, gunung-gunung
dengan m u d a h dapat digeserkan oleh siapa pun dari tempatnya, atau dibelah
aengan membaca-T^w bumi, atau diajak berbicara dengan membaca-nya orang-
'•rangyang sudah mati lalu dia h i d u p dan berdialog, tentu al-Qur'an inilah
oacaan itu. S u n g g u h al-Qur'an adalah bukti y a n g sangat jelas. Karena itu,
sungguh mengherankan mengapa mereka masih m e m i n t a bukti yang lain.
Jar'kan sebenarnya segala, persoalan adalah kepunyaan Allah dan atas kehendak
^an wewenang-Nya, bukan milik dan wewenang para nabi dan utusan-utusan-
Xva sebagaimana kalian duga, wahai k a u m kafir.
278 Surah ar-Ra'd [13] Kelompok V Ayat 31

Maka, tidakkah orang-orang yang beriman mengetahui bahwa seandainya


Allah menghendaki agar s e m u a m a n u s i a beriman, tentu Allah memberi
petunjuk kepada manusia semuanya dan, dengan demikian, tentu semua akan
beriman dengan mudah. Tetapi, itu tidak dikehendaki-Nya karena Dia meng­
anugerahkan manusia kebebasan dan k e m a m p u a n m e m i l a h dan m e m i l i h
Dan orang-orang yang kafir yang mengingkari t u n t u n a n Allah y a n g engkau
s a m p a i k a n , w a h a i M u h a m m a d , senantiasa ditimpa bencana disebabkan
perbuatan y a n g telah terbiasa mereka lakukan sehingga menjadi sifat mereka
atau bencana itu terjadi dekat tempat kediaman mereka. Bencana-bencana
itu akan silih berganti sehingga pada akhirnya datanglah janji Allah menyangkut
kemenangan k a u m m u s l i m i n dan kehancuran mereka. Sesungguhnya Allah
tidak menyalahi janji.

Firman-Nya: ( 61 j J ) letu anna qurananlseandainya ada bacaan dan


seterusnya, tidak dilanjutkan dengan menyebut apa y a n g terjadi seandainya
ada bacaan y a n g m a m p u menggeser gunung, membelah bumi, dan berdialog
dengan orang mati. B a n y a k ulama yang berpendapat bahwa lanjutan redaksi
perandaian itu adalah "tentulah al-Quran yang diturunkan kepada Nabi
Muhammad saw. Ini. " Ada lagi y a n g m e n a m b a h k a n bahwa: "tentulah ini,
tetapi Allah tidak melakukannya karena Dia tidak menghendaki, sedang
seluruh persoalan kembali kepada-Nya. "

J i k a d e m i k i a n , ayat ini bermaksud menggarisbawahi bahw*a persoalan


k e i m a n a n dan kekufuran mereka bukanlah berkaitan dengan kehadiran atau
ketidakhadiran bukti indriawi, tetapi berdasar kehendak Allah dan ketentuan-
Nya. Tetapi, perlu diingat bahwa k e h e n d a k dan ketentuan-Nya itu Allah
sesuaikan dengan kecenderungan jiwa manusia sebagaimana ditegaskan oleh
ayat 5 surah ash-Shaff y a n g telah d i k u t i p sebelumnya.
T h a h i r Ibn ' A s y u r m e n j a d i k a n p e r a n d a i a n di atas s e a k a n - a k a n
menyatakan bahwa seandainya ada bacaan y a n g sifatnya seperti y a n g disebut
itu, tentulah kitab al-Qur'an ini yang dapat melakukannya, tetapi a h Q u r ' a n
tidak d i t u r u n k a n u n t u k itu. Yang perlu digarisbawahi dan d i k e m b a n g k a n
dari pandangan u l a m a ini adalah b a h w a al-Qur'an tidak diturunkan u n t u k
menjadi bukti indriawi yang dapat melahirkan hal yang bersifat suprarasional,
tetapi ia adalah bukti aqliyah (msional) sekaligus kitab hiddyah yang menerangi
Kelompok V Ayat 31 Surah ar-Ra'd [13] 279

akal dan pikiran serta obat bagi keresahan j i w a dan penyakit ruh ani y a n g
pada gilirannya mengantar kepada kebahagiaan duniawi dan ukhrawi.
Thabathaba'i berpendapat lain. M e n u r u t n y a , jawaban perandaian itu
adalah " S e a n d a i n y a ada bacaan seperti itu., mereka pun tidak akan percaya,
kecuali bila dikehendaki Allah karena seluruh persoalan h a n y a kembali
kepada-Nya, tidak satu p u n y a n g kembali kepada selain-Nya. Ini, menurut­
nya, lebih sesuai dengan lanjutan ayat y a n g menegaskan bahwa segala per­
soalan kembali kepada-Nya. Ayat i n i — j u g a menurut T h a b a t h a b a ' i — m i r i p
dengan firman-Nya:

"Seandainya Kami menurunkan malaikat kepada mereka, dan orang-orang


yang telah mati berbicara dengan mereka dan Kami kumpulkan (pula) segala
sesuatu ke hadapan mereka niscaya mereka tidak (juga) akan beriman, kecuali
jika Allah menghendaki, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui" (QS.
al-Anam [6]: 111).
D i s e b u t n y a ketiga p e r a n d a i a n di atas sejalan dengan riwayat y a n g
menyatakan b a h w a suatu ketika tokoh-tokoh k a u m musyrikin mengutus
seseorang u n t u k m e n y a m p a i k a n kepada Nabi M u h a m m a d saw. bahwa:
Seandainya e n g k a u — H a i M u h a m m a d — d a p a t memperlebar pegunungan di
M e k k a h dengan m e m i n d a h k a n n y a sehingga kami dapat m e n g g u n a k a n
bahannya u n t u k m e n a n a m , atau engkau dapat mendekatkan negeri S y a m
karena perdagangan kami ke sana, atau engkau membangkitkan nenek moyang
K a m i , yakni Qushai, sehingga kami dapat bercakap-cakap dengannya (maka
parulah kami akan percaya)." Demikian dalam beberapa riwayat.
Kata ( )yay'as, yang diterjemahkan di atas dengan mengetahui, pada
rv.ulanya berarti berputus asa. Ada u l a m a vang m e m a h a m i n y a dalam arti asal
~;akna kata tersebut. Yakni apakah orang-orang beriman belum berputus asa
.r.L-nvangkut keimanan semua manusia setelah jelas bagi mereka bahwa kalau
^-..ah menghendaki niscaya Dia memberi petunjuk semua manusia, sedang
mereka telah diberi tahu bahwa Allah tidak menghendaki? Allah tidak
280 Surah ar-Ra'd [13] Kelompok V Ayat 32

m e n g h e n d a k i k a r e n a s e s u n g g u h n y a t i d a k a d a lagi b u k t i y a n g dapat
m e y a k i n k a n akal pikiran dan j i w a manusia melebihi a l - Q u r ' a n . A d a juga
yang m e m a h a m i n y a d a l a m arti mengetahui karena seseorang yang berputus
asa m e n y a n g k u t sesuatu, ia telah mengetahui bahwa hal tersebut tidak akan
terjadi.
Banvak u l a m a berpendapat bahwa y a n g d i m a k s u d dengan orang-orang
yang kafir pada ayat ini adalah yang bertempat tinggal ketika itu di Mekkah,
sedang y a n g dimaksud dengan terjadi dekat tempat kediaman mereka adalah
di Hudaibiyah, pada tahun VI H. ketika disepakati perjanjian gencatan senjata
antara Nabi saw. dan k a u m musyrikin M e k k a h . Perjanjian itu k e m u d i a n
dilanggar oleh k a u m musyrikin sehingga Nabi saw. bersama kaum muslimin
menuju ke M e k a h dan pada tahun VIII H.
Kata ( ) qdri'ah terambil dari kata ( ) /jara'ayAng pada mulanya
berarti memukul sesuatu dengan sesuatu. Seperti misalnya m e n g e t u k pintu
dengan alat y a n g dipegang dengan m a k s u d agar y a n g berada di dalam
mendengar dan membukanya. Karena ketukan menimbulkan suara, dan suara
tersebut sering kali tidak terduga dan mengagetkan, kata qari'ah berkembang
m a k n a n y a sehingga d i p a h a m i dalam arti suara keras yang mengagetkan atau
segala sesuatu yang datangnya mendadak dan mengagetkan. Yang dimaksud
o l e h a y a t i n i a d a l a h bencana yang mengagetkan. Sementara ulama
m e m a h a m i n y a dalam arti pasukan-pasukan vang dikirim oleh Rasul saw.
menghadapi k a u m musyrikin di beberapa daerah di luar kota M e k a h . Ini
karena mereka menduga bahwa ayat ini turun setelah Nabi saw. berhijrah ke
Madinah.

Kata ( Jj£ ) tahidlu dapar berarti menimpa, dan dalam konteks ayat ini
adalah qanah, yaitu bencana vang menimpa. Dapat juga berarti menduduki—
ketika dipahami sebagai penggalan—yaitu bahwa engkau, wahai M u h a m m a d ,
akan datang bersama pasukan Islam menduduki dan menguasai kota Mekah.

AYAT 32

"Dan sesungguhnya telah diperolok-olokkan rasid-rasul sebelummu, maka Aku


Kelompok V Ayat 33-34 Surah ar-Ra'd [13] 281

beri tangguh bagi orang-orang kafir, kemudian Aku binasakan mereka. Maka,
alangkah hebatnya siksaan-Ku!"

Setelah ayat yang lalu menguraikan penolakan k a u m musyrikin terhadap


a l - Q u r ' a n , k i n i N a b i saw., y a n g d i p e r i n t a h k a n m e n y a m p a i k a n dan
menjelaskan ayat-ayat kitab suci itu, d i t e n a n g k a n h a t i n y a dan dihibur
menghadapi penolakan bahkan ejekan itu, sekaligus mengancam para pengejek
dan p e m b a n g k a n g . Kepada beliau d i i n g a t k a n bahwa sesungguhnya telah
diperohk-olokkan oleh o r a n g - o r a n g y a n g d u r h a k a b a n y a k rasul-rasul
sebelummu, seperti Nuh, S y u a i b , H u d , Shalihj dan lain-lain. U m a t mereka
juga m e m i n t a bukti-bukti sebagaimana permintaan u m a t m u itu, w a h a i
M u h a m m a d , padahal u m a t m u telah dianugerahi a I - Q u r \ m namun tetap s

m e n u n t u t bahkan mcmperolok-olok, maka Aku beri tangguh bagi orang-


orang kafir, y a k n i mereka y a n g durhaka itu beberapa lama, dan membiarkan
mereka hidup bersenang-senang tanpa gangguan; kemudian setelah tiba waktu
y a n g Aku tetapkan y a n g relatif m e m a n g agak lama—sebagaimana dipahami
dari kata tsumma (kemudian)—Aku binasakan mereka. Maka, alangkah
hebatnya siksaan-Ku itu!
Penggunaan kata orang-orang kafir sebagai ganti kitayang memperolok-
olokkan untuk menunjukkan bahwa kekufuran mereka itulah yang
mengundang olok-olok, dan olok-olok itu telah mencapai tingkat kekufuran.

AYAT 3 3 - 3 4

"Maka apakah Tuhan yang menjaga setiap diri terhadap apa yang diperbuatnya
(sama dengan yang tidak demikian sifatnya)? Mereka menjadikan beberapa
sekutu bagi Allah. Katakanlah: 'Namailah mereka'. Atau apakah kamu hendak
memberitakan kepada Allah apa yang tidak di ketahui-Ny a di bumi ataukah
sekadar perkataan pada lahirnya saja? Sebenarnya telah diperindah untuk
orang-orang kafir itu tipu daya mereka dan dihalangi dari jalan (yang benar).
Dan barang siapa disesatkan Allah, maka bagi mereka tak ada satu pun pemberi
petunjuk. Bagi mereka azab dalam kehidupan dunia dan sesungguhnya azab
akhirat lebih keras dan tak ada bagi mereka satu pelindung pun dan Allah. "
282 Surah ar-Ra'd [13] Kelompok V Ayat 33-34

Allah M a h a k u a s a menjatuhkan sanksi. Bukankah Dia Yang Mahakuasa


atas segala sesuatu? Bukankah Dia yang meninggikan langit tanpa penyanggah
serta menghamparkan bumi? Bukankah Dia yang menganekaragamkan bukti-
bukti kekuasaan-Nya sebagaimana telah diuraikan oleh ayat-ayat y a n g lalu?
J i k a demikian, maka apakah Tuhan yang menjaga, memelihara, menguasai,
dan mengetahui amal setiap diri dan jiwa baik yang taat maupun yang dtirhaka
serta akan m e m i n t a pertanggungjawaban terhadap apa yang diperbuatnya,
sama dengan selain-Nya yang tidak demikian sifatnya? Pasti tidak! Jangankan
sama atau serupa, y a n g serupa dengan serupanya p u n tidak!

M e m a n g , t i d a k a d a y a n g m e m p e r s a m a k a n Tuhan y a n g sifat-Nya
d e m i k i a n kecuali orang-orang y a n g musyrik y a n g tertutup mata hatinya.
Mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah, y a k n i m e m b u a t berhala dan
m e n y e m b a h n y a sebagai sekutu-sekutu Allah.
Hai M u h a m m a d , Katakanlah kepada mereka: "Namailah mereka dengan
namanya yang sebenarnya serta sebutlah sifat-sifatnya. Mereka adalah berhala-
berhala, m a k h l u k - m a k h l u k lemah, y a n g k a m u buat sendiri." Atau apakah
kamu dengan m e n j a d i k a n n y a sekutu-sekutu Allah hendak memberitakan
kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya di bumi, yakni y a n g tidak ada
wujudnya karena sesungguhnya Allah tidak tahu-menahu tentang hal tersebut.
Seandainya sekutu-sekutu itu ada wujudnya, pastilah Allah mengetahuinya,
ataukah p e n a m a a n b e r h a l a - b e r h a l a itu sebagai s e k u t u - s e k u t u sekadar
perkataan pada lahirnya saja y a n g tidak memiliki sedikit substansi pun?

Sebenarnya tidak ini dan tidak itu. Sebenarnya adalah telah diperindah
oleh setan untuk orang-orang kafir itu disebabkan karena kekufuran mereka—
tipu daya mereka dalam menyembah berhala-berhala dan upaya membendung
ajaran Islam dan mereka teperdaya oleh u p a y a setan ini sampai akhirnya
mereka dihalangi dan menghalangi orang lain dari jalan y a n g benar. Dan
barang siapa disesatkan Allah akibat kebejatan j i w a n y a maka bagi mereka tak
ada satu pun pemberi petunjiik.Yang ada bagi mereka adalah azab dalam
kehidupan dunia antara lain berupa penyakit, kehilangan harta, penawanan
atau p e m b u n u h a n dan keresahan hati, dan sesungguhnya azab akhirat'yang
akan mereka peroleh lebih keras dari siksa duniawi itu dan tak ada bagi mereka,
baik di dunia m a u p u n di akhirat, satu pelindung pun dari siksa Allah.
Kelompok V Ayat 33-34 Surah ar-Ra'd [13] 283

B e r m a c a m - m a c a m penafsiran u l a m a tentang m a k s u d l i r m a n - N y a :
-
( ^ j i ) sammuhumlnamailah. Di samping m a k n a vang diuraikan di atas,
ada juga yang memahaminya sebagai penghinaan, yakni apa yang kamu sembah
itu tidak ada namanya karena tidak ada w u j u d n y a dan tidak juga wajar diberi
nama. Ada juga yang m e m a h a m i n y a sebagai perintah kepada para penyembah
untuk menjelaskan sirat-sifat dan k e a d a a n n y a g u n a mereka lihat apakah ia
wajar disembah dan dipersekutukan dengan Allah M e n g e t a h u i sifat-sifat,
substansi, dan k e m a m p u a n n y a mengantar u n t u k menetapkan peranan yang
dapat d i l a k u k a n n y a . Ayat ini serupa dengan firman-Nya:

Katakanlah: "Perlihatkanlah kepadaku sembahansembahan yang kamu


hubungkan dengan Dia sebagal sekutu-sekutu (Nya). (Setelah diperlihatkan
dan diketahui hakikat berhala-berhala itu maka lahir kesimpulan) sekali-kali
tidak mungkin (untuk disembah dan dijadikan sekutu-sekutu Allah!)
Sebenarnya Dialah Allah Yang Maha perkasa lagi Mahabijaksana"(QS. Saba
[34]: 27).
Firman-Nya: ( J JA ysCaj) bizhdhirin min al-qaullsekadar perkataan
pada lahirnya serupa dengan firman-Nya: ( jda-L, JA U 4» i J^Ji u ) maanzala
Allhh biha min sulthan. R u j u k l a h ke Q S . Yusuf [ 12]: 4 0 pada h. 4 6 2 u n t u k
m e m a h a m i n y a lebih d a l a m . A d a j u g a y a n g m e m a h a m i kata ini dalam arti
kitab suci yang diturunkan Allah, yakni apakah penyembahan berhala-berhala
itu m e m p u n y a i dasar ajaran agama yang benar?
A y a t di atas m e n g e m u k a k a n tiga d a l i l y a n g s a n g a t k u k u h guna
membatalkan kepercayaan k a u m musyrikin yang mengira bahwa ada sekutu-
sekutu ba"i Allah.
Pertama, berhala-berhala itu tidak memiliki sifat-sifat yang menjadikan­
nya wajar menjadi sekutu Allah, bahkan n a m a pun tidak ia miliki.
Kedua, j i k a mereka m e n d u g a ada sifat-silat-Nya, hal tersebut tidak
diketahui Allah. Nah, apakah dengan demikian mereka lebih pandai dan
lebih mengetahui dari Allah? Pasti tidak!
284 Surah ar-Ra'd [13] Kelompok V Ayat 35

Ketiga, mereka hanya m e n a m a i n y a .sebagai sekutu-sekutu Allah, tanpa


saru h a k i k a t , dan p e n a m a a n d e m i k i a n t i d a k l a h benar s e h i n g g a harus
ditinggalkan.

AYAT 35

"Perumpamaan surga yang dijanjikan kepada al-muttaqun; Mengalir sungai-


sungai di dalamnya; buahnya bersinambung, juga naungannya. Itulah tempat
kesudahan bagi orang-orang yang bertakwa; sedang tempat kesudahan bagi
orang-orang kafir ialah neraka. "

Setelah menjelaskan perolehan orang-orang kafir, kini diuraikan perolehan


orang-orang beriman. Yakni mereka akan memeroleh surga. Perumpamaan
keadaan dan sifat y a n g sangat menakjubkan dari surga yang dijanjikan oleh
A l l a h kepada al-muttarjffu, yakni orang-orang yang berusaha sekuat
k e m a m p u a n n y a m e l a k s a n a k a n perintah Allah dan menjauhi larangannya,
adalah seperti taman yang sangat indah. Mengalir sungai-sungai di dalamnya,
y a k n i di s e k i t a r n y a ; T a m a n itu m e m i l i k i b a n y a k b u a h d a n buahnya
bersinambung, tak henti-henti dan tidak terbatas oleh m u s i m atau waktu.
juga naungannya demikian pula. Itulah anugerah yang sangat tinggi nilainya
y a n g merupakan tempat kesudahan bagi orang-orang yang bertakwa; sedang
tempat kesudahan bagi orang-orang kafir ialah neraka karena mereka menolak
ajaran Ilahi.

Kata ( J i « ) matsal digunakan dalam arti perumpamaan atau sifat dan


keadaan yang menakjubkan. Kata ini tidak digunakan untuk mempersamakan
antara dua hal yang disebutnya. M e m a n g , ada perbedaan antara matsal dan
mitsil. Yang kedua (mitsil) mengandung makna persamaan bahkan keserupaan
atau kemiripan, sedang matsal t e k a n a n n y a lebih banyak pada keadaan atau
sifat y a n g menakjubkan y a n g dilukiskan oleh kalimat matsal itu.
KELOMPOK 6

AYAT 36-43

285
286 Surah ar-Ra'd [13J
Kelompok VI Ayat 36 Surah ar-Ra'd [13] 287

AYAT 3 6

"Dan orang-orang yang telah Kami berikan kepada mereka al-Kitab bergembira
dengan apa yang diturunkan kepadamu, dan di antara golongan-golongan
yang bersekutu, ada yang mengingkari sebagiannya. Katakanlah: 'Sesungguhnya
aku hanya diperintah untuk menyembah Allah dan tidak mempersekutukan
sesuatu pun dengan-Nya. Hanya kepada-Nya aku berdakwah dan hanya
kepada-Nya aku kembali."'

Orang-orang kafir menolak ajakan Nabi M u h a m m a d saw. sehingga


mereka wajar mendapat siksa neraka, dan adapun orang-orang yang telah
Kami berikan kepada mereka al-Kitab, yang tidak mengingkari ar-Rahman
tidak juga mendustakan w a h y u - w a h y u - N y a atau utusan-Nya, mereka itu
bergembira dengan apa, yakni kitab suci yang diturunkan kepadamu, wahai
M u h a m m a d , dan di antara golongan-golongan musyrik, Yahudi, dan Nasrani
yang bersekutu dan bekerja sama d a l a m upaya m e m a d a m k a n ajaran Ilahi,
ada yang mengingkari sebagiannya, yakni sebagian dari k a n d u n g a n al-Qur'an
yaitu hal-hal y a n g tidak sejalan dengan keyakinan mereka, seperti keesaan
Allah atau kenabian M u h a m m a d saw. Mereka itu mengusulkan perubahan-
perubahan k a n d u n g a n al-Qur'an. Katakanlah: "Sesungguhnya aku hanya
diperintah secara tegas dan pasti untuk menyembah Allah Tuhan Yang M a h a
Esa dan tidak mempersekutukan sesuatu pun dengan-Nya. Hanya kepada-
Nya saja aku berdakwah m e n y e r u m a n u s i a kepada kebenaran dan hanya
kepada-Nya aku kembali, yakni bertaubat jika aku melakukan sesuatu yang
kurang tepat."

Kata al-Kitab pada firman-Nya: orang-orang yang telah Kami berikan


kepada mereka al-Kitab ada yang m e m a h a m i n y a dalam arti al-Quran sedang
yang diberi itu adalah k a u m m u s l i m i n , sahabat-sahabat Nabi M u h a m m a d
saw. Mereka bergembira dengan silih bergantinya turun w a h y u - w a h y u Allah
y a n g m e m b a w a aneka tuntunan.
Kata ( ulj^-S'O al-ahzab/kelompok~kelompok y a n g dimaksud ayat ini
terdiri dan tiga kelompok y a n g saling bertentangan, yaitu k a u m musyrikin,
288 Surah ar-Ra'd [13] Kelompok VI Ayat 36

Yahudi, dan Nasrani. Ada j u g a y a n g m e m a h a m i kata al-Kitab d a l a m arti


Taurat dan Injil, sedzngyang diberi kitab itu adalah orang Yahudi dan Nasrani
yang m e m e l u k agama Islam, dan yang m e n u r u t satu riwayat j u m l a h mereka
sebanyak delapan puluh orang.
Ada lagi y a n g m e n g a i t k a n ayat ini dengan nama Allah y a n g diingkari
oleh kaum musyrikin yaitu ar-Rahman. Konon, Abdullah Ibn Sallam, seorang
Yahudi yang memeluk agama Islam, mengetahui persis nama itu. Nah, ketika
turunnya ayat y a n g m e n y e b u t kata ar-Rahman, dia dan t e m a n - t e m a n n y a
bergembira. Sedang al-ahzab, yakni k a u m musyrikin, ada yang mengingkari
dan menolaknya. Seperti ketika terjadi Perjanjian Hudaibiyah, di m a n a Nabi
saw. m e m e r i n t a h k a n menulis Bismillah ar-Rahman ar-Rahim tetapi ditolak
oleh delegasi k a u m musyrikin dengan alasan mereka tidak mengenal kata ar-
Rahman.

Pendapat tetakhir ini sulit ditetima khususnya jika diakui bahwa ayat ini
t u r u n sebelum Nabi saw. berhijrah ke M a d i n a h , j a u h sebelum terjadinya
Perjanjian H u d a i b i y a h dan sebelum Islamnya A b d u l l a h Ibn Sallam.
Jika merujuk kepada kebiasaan al-Qur'an menggunakan istilah
( \yj\) (itu al-Kitab atau Ahl al-Kitab dan s e m a c a m n y a , a g a k n y a
pendapat yang menyatakan bahwa orang-orang yang telah Kami berikan kepada
mereka al-Kitab pada ayat ini adalah orang-orang Yahudi dan Nasrani. Tetapi,
mengingat masa turunnya yang disebut di atas, agaknya yang dimaksud adalah
orang-orang y a n g percaya kepada Taurat atau Injil yang ketika itu tinggal di
M e k a h dan sekitarnya, seperti Waraqah Ibn Naufai, atau orang-orang Yahudi
yang tinggal di Madinah vang bergembira dengan kehadiran Nabi M u h a m m a d
saw. ketika mereka belum mengetahui bahwa ajaran y a n g beliau sampaikan
m e m b a t a l k a n a g a m a Yahudi dan Nasrani.
Dalam tafsir al-Muntakhab vang disusun oleh T i m Departemen W a q a f
Mesir, ayat ini mereka pahami lebih kurang sebagai berikut: Orang-orang
yang diberi pengetahuan tentang kitab suci sewajarnya bergembira menyambut
kitab suci yang d i t u r u n k a n kepadamu. Sebab, kitab sucimu merupakan
kelanjutan dari pesan-pesan suci Ilahi yang lalu. Katakan, wahai N a b i mulia,
kepada y a n g mengingkari sebagian dari apa y a n g d i t u r u n k a n k e p a d a m u -
akibat sikap permusuhan dan fanatisme mereka: "Aku hanya diperintahkan
Kelompok VI Ayat 37 Surah ar-Ra'd [13] 289

m e n y e m b a h Allah dan tidak m e n y e k u t u k a n - N y a dengan apa pun. J u g a


diperintah u n t u k mengajak orang lain agar beribadah hanya kepada-Nya,
dan h a n y a kepada-Nyalah aku akan kembali." M e m a h a m i n y a d e m i k i a n
m e n g h i n d a r k a n kesulitan yang m u n c u l bila m e m a h a m i ayat ini turun di
M e k k a h . Karena pendapat ini tidak berbicara tentang kenyataan tetapi tentang
sikap yang wajar diambil, khususnya oleh mereka yang memiliki pengetahuan
tentang al-Kitab.

AYAT 3 7

"Dan demikianlah, Kami telah menurunkannya sebagai penentu hukum


dalam bahasa Arab. Dan demi, seandainya engkau mengikuti hawa nafsu
mereka setelah datang pengetahuan kepadamu, niscaya sekali-kali engkau tidak
mempunyai satu pelindung pun dan tidak (juga) pemelihara dari Allah. "

Ayat ini masih lanjutan ayat y a n g lalu, yakni Dan sebagaimana Kami
telah m e n u r u n k a n kitab-kitab suci kepada ahl al-Kitab demikian jugalah,
Kami p u n telah menurunkannya, yakni al-Qur'an kepadamu, wahai
M u h a m m a d , sebagai penentu hukum y a n g benar dan dalam bahasa Arab.
Karena itu, j a n g a n engkau ikuti siapa pun y a n g mengajak kepada sesuatu
yang bertentangan dengan kitab suci y a n g t u r u n k e p a d a m u itu! Dan demi
kekuasaan-Ku, seandainya engkau mengikuti hawa nafsu mereka antara lain
mempersekutukan Allah setelah datang pengetahuan y a n g j elas, y a k n i w a h y u
d a n t u n t u n a n n a l a r kepadamu, m a k a niscaya sekali-kali engkau tidak
mempunyai satu pelindung pun dan tidak juga pemelihara dari siksa Allah.

D a r i k a t a ( j J J i T ) kadzalikaldemikianlah a t a u seperti itu, yang


m a k s u d n y a m e m p e r s a m a k a n al-Qur'an dari segi sumbernya dengan kirab-
kitab suci y a n g lain, tersirat juga bantahan kepada mereka y a n g menolak
kenabian M u h a m m a d saw. Seakan-akan ayat ini menyatakan bagaimana kalian
mengingkari kenabiannya dan menolak w a h y u - w a h y u yang disampaikannya,
padahal y a n g beliau alami dan terima serupa dengan apa yang dialami dan
disampaikan oleh manusia-manusia lain, seperti Ibrahim, D a u d , M u s a , dan
290 Surah ar-Ra'd [13] Kelompok VI Ayat 37

'Isa. J i k a kalian mengakui mereka sebagai manusia-manusia y a n g menerima


wahyu serta merupakan utusan-utusan Allah, mengapa manusia yang bernama
' ' M u h a m m a d " itu kalian tolak kenabiannya? M e n g a p a kalian menolak wahyu
y a n g diterimanya, sedang w a h y u y a n g diterima Daud, M u s a , dan 'Isa kalian
terima? vSungguh hal ini sama sekali tidak adil!
A y a t di a t a s m e n y i f a t i a l - Q u r ' a n d e n g a n d u a sifat. Pertama,
k a n d u n g a n n y a y a n g m a m p u memberi putusan bagi segala perselisihan dan
k e m u s y k i l a n y a n g dihadapi u m a t manusia. D a n kedua, keistimewaan pada
kata-kata dan susunan redaksinya y a n g m e n g g u n a k a n bahasa Arab. U n t u k
yang kedua ini rujuklah ke ayat kedua surah Yusuf untuk memahami mengapa
8
al-Qur'an berbahasa A r a b .
U m a t Islam, k h u s u s n y a para pakar, m e m p u n y a i t a n g g u n g j a w a b yang
sangat besar u n t u k m e n a m p i l k a n solusi a h Q u r ' a n tethadap problema-
problema kemanusiaan. Ini memerlukan upaya penafsiran yang sejalan dengan
p e r k e m b a n g a n m a s y a r a k a t agar terbukti d a l a m k e n y a t a a n h i d u p akan
kebenaran ayat ini y a n g m e n y a t a k a n bahwa a h Q u r ' a n m a m p u memberi
putusan atas perselisihan manusia. Kandungan ayat ini serupa dengan flrman-
Nya:

"Manusia itu adalah umat yang satu. (Setelah timbul perselisihan), maka
Allah mengutus para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi
peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab dengan benar untuk
memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang m.ereka
perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah
didatangkan kepada mereka Kitab, yaitu setelah datang kepada mereka

* Lihat tafsir QS. Yusuf [1 2]: 1 -2 pada halaman 9.


Kelompok VI Ayat 38-39 Surah ar-Ra'd [13] 291

keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka,


Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang
hal yang mereka perselisihkan itu dengan kehendak-Nya. Dan Allah selalu
memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus"(QS.
aI-Baqarah [ 2 ] : 2 1 3 ) .
Redaksi ayat ini ditujukan k e p a d a Rasul saw., tetapi ayat ini pada
h a k i k a t n y a ditujukan kepada selain beliau, k h u s u s n y a umat Islam. Bahwa
redaksinya ditujukan kepada Nabi saw., sebagai isyarat tentang perlunya
memerhatikan dan m e n g i n d a h k a n peringatan ini. Karena, jangankan orang
kebanyakan, Rasul saw. yang demikian tinggi detajatnya dan mantap imannya
masih diperingatkan oleh Allah swt.

AYAT 3 8 - 3 9

"Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul sebelummu dan Kami


menganugerahkan kepada mereka istri-istri dan keturunan. Dan tidak ada
wujudnya bagi seorang rasid mendatangkan suatu ayat melainkan dengan
izin Allah. Bagi setiap masa, ada ketentuannya. Allah menghapus apa yang
Dia kehendaki dan menetapkan dan disisi-Nyalah terdapat Ummu al-Kitab. "

Kaum musyrikin menolak kerasulan Nabi M u h a m m a d saw., antara lain


karena beliau m a k a n dan m i n u m serta berjalan di pasar. Mereka menolak
karena manusia tidak wajar menjadi rasul, y a n g wajar adalah maiaikac.
D e m i k i a n logika k a u m musyrik (baca Q S . al-Furqan [ 2 5 ] : 7 ) .
Kalaupun ia seorang manusia, ia harus sesuci malaikat dan tidak memiliki
naluri seksual sehingga, dengan d e m i k i a n , tentu tidak wajar pula ia kawin
dan m e m p u n y a i anak keturunan. Pandangan mereka itu diluruskan oleh ayat
ini dengan menegaskan bahwa. Dan sesungguhnya Kami telah mengutus
kepada masyarakat manusia banyak rasul-rasul sebelummu yang kesemuanya
adalah manusia, tidak seorang pun di antara nabi y a n g diutus itu kepada
mereka itu malaikat dan Kami menganugerahkan kepada mereka, yakni
sebagian besat dari para rasul itu, istri-istri dan anak ketumnan karena mereka
292 Surah ar-Ra'd [13] Kelompok Vt Ayat 38-39

adalah m a n u s i a y a n g m e m i l i k i naluri dan k e b u t u h a n s e k s u a l serta


mendambakan anak keturunan sebagaimana manusia normal yang lain. Dan
tidak ada wujudnya, yakni tidak bisa terjadi bagi seorang rasul siapa pun dia
u n t u k mendatangkan suatu ayat, yakni mukjizat sesuai usul masyarakatnya,
atau h u k u m guna mengganti atau membatalkan hukum yang lain, baik dalam
syariat rasul y a n g lalu m a u p u n d a l a m syariatnya sendiri melainkan dengan
izin Allah karena segala sesuatu kembali kepada-Nya semata. Bagi setiap masa
u n t u k sesuatu ada ketentuannya y a n g tertentu. Allah menghapus apa yang
Dia kehendaki untuk dihapus dan menetapkan apa yang Dia kehendaki untuk
ditetapkan. S e m u a berdasar h i k m a h kebijaksanaan-Nya, dan disisi-Nyalab
terdapat Ummu al-Kitab, yakni Lauh Mahfuzh.

Ayat ini m e n g g u g u r k a n sekian b a n y a k dalih k a u m m u s y r i k i n yang


menolak kerasulan Nabi M u h a m m a d saw. Mereka, misalnya, berkata bahwa
tidak wajar seorang Rasul memiliki anak dan istri. Ia seharusnya berkonsentrasi
dalam dakwah dan ibadah. Dalih ini ditolak dengan menunjuk kepada rasul-
rasul y a n g lalu, y a n g h a m p i r s e m u a n y a beristri dan m e m i l i k i anak, bahkan
h a m p i r semuanya berpoligami. Konon, Nabi D a u d as. memiliki seratus istri
dan N a b i Sulaiman as. lebih dari itu.

Ayat ini—seperti d i k e m u k a k a n s e b e l u m n y a — t u r u n sebelum Nabi saw.


berhijrah, j i k a d e m i k i a n , ketika itu Nabi saw. belum beristri lebih dari satu.
Atau paling tidak baru menikah dengan Saudah ra. dan 'Aisyah ra., yakni
beberapa bulan sebelum berhijrah ke M a d i n a h .
Poligami yang d i l a k u k a n oleh Nabi M u h a m m a d saw. pun tidak dapat
dijadikan dalih u n t u k menilai ketidakwajaran beliau menjadi N a b i atau
mengurangi nilai kemuliaan beliau. Ini karena beliau tidak berpoligami kecuali
setelah berusia lebih l i m a p u l u h t a h u n dan p e r k a w i n a n beliau sesudah
Khadijah ra. adalah untuk kepentingan dakwah atau u n t u k kepentingan
wanita yang beliau kawini itu. Bukankah yang beliau kawini semuanya adalah
janda, kecuali 'Aisyah ra.?
Anak-anak Nabi M u h a m m a d saw. sebanyak tujuh orang, empat wanita
dan tiga laki-laki, masing-masing secara berurut sesuai kelahirannya adalah
1) A l - Q a s i m , 2) Z a m a b , 3) R u q a y y a h , 4 ) Fathimah, 5) U m m u Kaltsum, 6)
'Abdullah y a n g diberi gelar dengan ath-Thayyib dan ath-Tbahir, 7) Ibrahim.
Kelompok Vf Ayat 38-39 Surah ar-Ra'd [13] 293

Kesemuanya lahir dari istri beliau y a n g pertama, yakni Khadijah ra. kecuali
yang terakhir yang lahir dari ibu yang bernama M a r i y a h al-Qibthiyyah. Semua
anak beliau meninggal pada masa hidup beliau, kecuali as-Sayyidab Fathimah
ra. y a n g meninggal e n a m bulan setelah Rasul saw. wafat.
Kata ummu al-kitab d i p a h a m i oleh b a n y a k u l a m a d a l a m arti al-Lauh
al-Mahfuzh atau ilmu Allah yang meliputi segala sesuatu. Banyak ulama
m e m a h a m i firman-Nya: ( L_JU53* ^ oJcs-j j s-Uola &\ y*£ )yamhuAlldh
mci yasyau iva yntshitu wa 'indahu ummu al-KitiiblAllah menghapus apa
yang Dia kehendaki dan menetapkan dan di sisi-Nyalah ada Ummu al-Kitab
dalam arti Allah menghapus kebaikan atau keburukan, kebahagiaan atau
kesengsataan, kesehatan atau penyakit, kekayaan atau kemiskinan, dan lain-
lain yang berkaitan dengan makhluk-makhluk-Nya. Ada juga yang membatasi
penetapan dan penghapusan itu hanya pada kebahagiaan dan kesengsaraan
ukhrawi. A d a juga yang m e m a h a m i n y a bukan dalam konteks nasib makhluk,
tetapi dalam konteks penetapan dan pembatalan h u k u m - h u k u m syariat. Jika
pendapat ini diterima, penggalan ayat ini dapat j u g a dianggap sebagai salah
satu sanggahan atas keberatan orang-orang kafir dengan adanya pembatalan
syariat N a b i M u s a as. atau Nabi 'Isa as. dengan syariat a g a m a Islam y a n g
diajarkan Nabi M u h a m m a d saw., atau a d a n y a h u k u m - h u k u m a g a m a y a n g
dibatalkan oleh Allah dan atau rasul, yakni apa yang diistilahkan dengan
naskh.

T h a h i r Jbn 'Asyur menggarisbawahi bahwa objek kata "menetapkan"


dan "menghapus" dijelaskan oleh a y a t ini d e n g a n k a t a "apa yang Dia
kehendaki". Ini mengisyaratkan banyak hal y a n g tidak dapat terhitung. Di
antaranya menghapus ancaman-Nya dengan m e n g i l h a m i penyesalan dan
taubat kepada y a n g berdosa; juga termasuk satu bentuk penghapusan adalah
mengubah ketetapan h u k u m terhadap perampok, yakni mereka yang tadinya
harus dijatuhi h u k u m a n dapat dimaafkan bila ia datang secara sukarela
menyerahkan diri dan membuktikan penyesalan dan kesalehannya. Termasuk
:
u g a d a l a m hal k e h e n d a k - N y a menetapkan atau m e n g u b a h , m e n g a l i h k a n
nati seseorang dari cinta menjadi benci atau sebaliknya. Tentu saja, masih
Danyak lainnya y a n g tidak dapat disebut bahkan tidak dapat diperinci oleh
penalaran manusia. Demikian Ibn 'A-syur.
294 Surah ar-Ra'd [13] Kelompok VI Ayat 40

AYAT 4 0

"Dan sungguh jika Kami perlihatkan kepadamu sebagian dari yang Kami
ancamkan kepada mereka atau Kami wafatkan engkau karena sesungguhnya
tugasmu hanya menyampaikan saja, sedang Kami-lah yang menghisab amalan
mereka. "

Setelah menegaskan bahwa Allah swt. melakukan apa yang dikehendald-


N y a sesuai h i k m a h kebijaksanaan-Nya m e n y a n g k u t segala sesuatu, sedang
sebelum ini (antara lain pada ayat e n a m surah i n i ) telah dinyatakan bahwa
k a u m musyrikin bermohon agar dipercepat siksa atas mereka, dalam konteks
p e r m o h o n a n yang bertujuan memperolok-olok itu, ayat ini menegaskan
bahwa dan sungguh pasti jika Kami perlihatkan kepadamu, hai M u h a m m a d ,
semasa h i d u p m u di d u n i a sebagian dari yang Kami ancamkan kepada
m e r e k a — s e b a g a i m a n a y a n g mereka usulkan atau d i i n g i n k a n oleh sahabat-
s a h a b a t m u — t e n t u l a h engkau akan m e l i h a t n y a atau jika Kami wafatkan
engkau sebelum terlaksananya ancaman itu maka akhirnya mereka p u n akan
disiksa karena kepada Kami j u g a l a h mereka kembali dan ketika itu mereka
akan m e m p e r t a n g g u n g j a w a b k a n semua amal mereka kepada Kami bukan
k e p a d a m u karena sesungguhnya tugasmu hanya menyampaikan saja, sedang
Kami-lah yang menghisab m e m p e r h i t u n g k a n amalan mereka, kemudian
memberi balasan setimpal dengan kedurhakaan mereka.
Ayat ini tidak menegaskan apakah mereka akan disiksa di d u n i a atau di
akhirat kelak. Ketiadaan penegasan itu bertujuan m e n g g a b u n g k a n antara
a n c a m a n dan harapan. Siapa tahu ada di antara mereka y a n g sadar, kalau
bukan karena harapan m a k a karena takut.
Siksa di d u n i a y a n g d i a n c a m k a n di sini pada akhirnya terjadi juga-—
paling tidak seperti bunyi ayat di atas adalah sebagian dari yang Kami ancamkan.
Siksa yang terjadi itu antara lain adalah kemarau yang berkepanjangan selama
tujuh t a h u n dan kekalahan total serta t e r b u n u h n y a tokoh-tokoh k a u m
musyrikin pada Perang Badar. Ini diisyaratkan oleh firman-Nya:
Kelompok VI Ayat 41 Surah ar-Ra'd [13] 295

Maka, tunggulah hari ketika langit membawa kabut yang nyata, yang meliputi
manusia. Inilah azab yang pedih. (Mereka berdoa): "Tuhan kami, lenyapkanLth
dari kami azab itu. Sesungguhnya kami akan menjadi orang-orang mukmin. "
Bagaimanakah mereka dapat menerima peringatan, padahal telah datang
kepada mereka seorang Rasul yang memberi penjelasan, kemudian mereka
berpaling darinya dan berkata: "Dia adalah seorangyang diajar (dari orang
lain) lagi pula gila. Sesungguhnya (kalau) Kami akan melenyapkan siksaan
itu agak sedikit sesungguhnya kamu akan kembali (ingkar). (Ingatlah) hari
(ketika) Kami menghantam mereka dengan hantaman yang keras.
Sesungguhnya Kami adalah Pemberi balasan''(QS. ad-Dukhan [44]: 10-16).

AYAT 41

"Dan apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya Kami mendatangi


bumi. Kami kurangi ia dari tepi-tepinya? Dan Allah menetapkan hukum tidak
ada yang dapat menolak ketetapan-Nya; dan Dia-lah Yang Mahaeepat hisab-
Nya. "

Ayat ini merupakan salah satu bukti kekuasaan Allah melaksanakan


ancaman-Nya. Para pembangkang itu diingatkan bahwa tanda-tanda jatuhnya
siksa dan kekalahan mereka cukup jelas apakah mereka buta dan tidak melihat
bahwa sesungguhnya Kami melalui h a m b a - h a m b a Kami mendatangi bumi,
yakni menguasai daerah-daerah y a n g tadinya dikuasai oleh orang-orang kafir,
dengan k e m a t i a n dan kekalahan mereka, lalu Kami kurangi penguasaan
mereka atas daerah-daerah ini sedikit d e m i sedikit dari tepi-tepinya? Dan
296 Surah ar-Ra'd [13] Kelompok VI Ayat 41

Allah menetapkan hukum. Dia m e n e n t u k a n k e m e n a n g a n dan kekalahan,


pahala atau siksa. Semua menurut kebendak-Nya sendiri tidak ada yang dapat
menolak ketetapan-Nya; dan Dia-lah Yang Mahaeepat hisab-Nya karena Allah
tidak m e m b u t u h k a n waktu untuk menyelesaikan sesuatu. Di sisi lain.
p e n g e t a h u a n - N y a m e n y e l u r u h dan b u k t i - b u k t i h u k u m pun terhampar
dengan sangat jelas.

Sementara u l a m a berpendapat bahwa ayat ini turun setelah Nabi saw.


berhijrah. Atas dasar itu, mereka m e m a h a m i kata {jp^) al-ardh/bumi
adalah daerah-daerah pinggiran yang pernah dikuasai oleh orang-orang kafir
M e k a h dan M a d i n a h dan yang ketika t u r u n n y a ayat ini mulai dikuasai oleh
k a u m m u s l i m i n . Kapan pun ayat ini turun, apakah sebelum atau sesudah
Nabi saw. berhijrah, dan siapa pun orang kafir yang dimaksud—apakah orang
kafir pada masa Nabi M u h a m m a d saw. atau yang h i d u p sebelum masa
b e l i a u — d a n di m a n a pun terjadi p e n g u r a n g a n itu, apakah di M e k a h dan
M a d i n a h atau di daerah lain, y a n g jelas ayat ini seakan-akan menyatakan
tidakkah orang-orang kafir itu m e m e r h a t i k a n b a g a i m a n a perubahan terjadi
silih berganti dalam kehidupan dunia ini, kematian sesudah kehidupan,
k e h a n c u r a n sesudah p e m b a n g u n a n , k e h i n a a n sesudah k e m u l i a a n , dan
sebagainya. Tidak ada satu pun yang langgeng karena semua di tangan Allah
swt., Dia vang menentukan. Jika demikian, j a n g a n l a h orang-orang kafir itu
berbangga atau merasa tenang dengan keadaan mereka.

Sementara ilmuwan memahami ayat ini sebagai menunjuk hakikat ilmiah


m e n y a n g k u t b u m i . Para pengarang tafsir al-Muntakhab m e n u n j u k dua hal
y a n g berkaitan dengan b u m i . Pertama, tentang kecepatan rotasi b u m i dan
resultannya yang menyebabkan dua k u t u b n y a bertambah datar sehingga
terjadi pengurangan pada dua tepian bumi. Kedua, tentang molekul-molekul
atmosfer yang meluncur sangat cepat apabila telah melampaui ruang gravitasi
b u m i dan akan terlempar jauh ke luar kawasannya. Karena hal itu terjadi
secara terus-menerus, terjadi pengurangan pada tepian-tepian b u m i secara
terus-menerus pula. Selanjutnya, mereka menyatakan bahwa p e n e m u a n ini
dapat dipakai sebagai tafsiran lain dari kata al-ardh pada ayat ini, y a n g oleh
mayoritas ulama diartikan dengan tanah kekuasaan orang-orang kafir.
Kelompok VI Ayat 42 Surah ar-Ra'd [13] 297

Sayyid Q u t h u b menolak dengan sangat keras penafsiran ilmiah ini dan


m e n i l a i n y a sebagai " o m o n g kosong". Konteks ayat tidak mendukung
p e m a h a m a n i l m u w a n itu. Konteks ayat sangat m e n e n t u k a n makna
redaksinya. D e m i k i a n lebih kurang Sayyid Q u t h u b .
Apa yang dikemukakan oleh Sayyid Q u t h u b di atas sungguh tepat, walau
ini bukan berarti menolak hakikat i l m i a h y a n g diuraikan itu tetapi konteks
ayat tidak m e n d u k u n g p e m a h a m a n n y a d e m i k i a n . Di sisi lain, d i t e m u k a n
ayat lain y a n g m e n d u k u n g p e m a h a m a n y a n g m e n y a t a k a n bahwa ayat ini
berbicara tentang pengurangan kekuasaan orang-orang kafir dan kekalahan
mereka menghadapi k a u m beriman. Ayat yang penulis maksud adalah firman-
Nya:

"Sebenarnya Kami telah memberi mereka dan nenek moyang mereka


kenikmatan (hidup di dunia) hingga panjanglah umur 'mereka. Maka, apakah
mereka tidak melihat bahwasanya Karni mendatangi negeri (orangkafir), lalu
Kami kurangi luasnya dari segala penjurunya. Maka, apakah mereka yang
menang?" (QS. al-Anbiya [ 2 1 ] : 4 4 ) .

AYAT 4 2

"Dan sungguh orang-orang kafir yang sebelum mereka telah mengadakan tipu
daya, tetapi semua tipu daya itu adalah dalam kekuasaan Allah. Dia
mengetahui apa yang diusahakan oleh setiap diri, dan orang-orang kafir akan
mengetahui milik siapa tmipat kesudahan yang baik. "

Orang-orang kafir yang diancam itu memang berupaya untuk melakukan


tipu daya, tetapi itu tidak akan berhasil. Mereka tidak lebih baik dari orang-
orang kafir y a n g lalu. Dan sungguh orang-orang kafir yang sebelum mereka,
y a k n i sebelum orang-orang kafir M e k k a h itu, telah mengadakan tipu daya
298 Surah ar-Ra'd [13] Kelompok VI Ayat 43

dan rencana jahat terhadap rasul-rasul utusan Allah, tetapi semua tipu daya
baik yang dilakukan dahulu maupun sekarang adalah dalam kekuasaan Allah.
Dia y a n g telah dan terus-menerus akan mengatur langkah-langkah u n t u k
menggagalkannya. Sangat m u d a h b a g i - N y a m e l a k u k a n hal itu karena Dia
mengetahui apa yang diusahakan oleh setiap diri, baik usaha itu berupa tipu
daya m a u p u n bukan, dan kalau dahulu mereka tidak mengetahui bahwa
kesudahan baik akan diraih para rasul dan pengikut-pengikutnya, m a k a kelak
orang-orang kafir akan mengetahui milik siapa tempat kesudahan yang baik,
yakni k e m e n a n g a n di d u n i a dan surga di akhirat kelak.

AYAT 4 3

Dan orang-orang kafir berkata: "Engkau bukan seorang utusan". Katakanlah:


"Cukuplah Allah menjadi saksi antara aku dan kamu dan siapa yang
mempunyai ilmu al-Kit&b. "

Pada akhirnya, tujuan akhir dari segala tipu daya orang-orang kafir adalah
penolakan terhadap ajaran Ilahi yang engkau sampaikan, wahai M u h a m m a d ,
dan karena, itu orang-orang kafir terus-menerus berkata "Engkau bukan seorang
utusan Allah", apalagi engkau tidak memenuhi usul-usul mereka
m e n d a t a n g k a n mukjizat indriawi. Katakanlah: "Cukuplah Allah menjadi
saksi antara aku dan kamu; D i a yang m e n y a k s i k a n kebenaran apa y a n g aku
s a m p a i k a n dan c u k u p j u g a y a n g m e n y a k s i k a n k e b e n a r a n k u siapa yang
mempunyai ilmu al-Kitab, "Yakni y a n g m e m a h a m i bukti kebenaran yang
d i h i d a n g k a n oleh kitab suci al-Qur'an dan kitab alam raya y a n g terhampar.
Kesaksian Allah'yang dimaksud di sini, antara lain pernyataan-pernyataan
Allah y a n g termaktub d a l a m al-Qur'an seperti:

"Sesungguhnya engkau salah seorang dari rasul-rasul" ( Q S . Yasin [ 3 6 ] : 3 ) ,


j u g a tantangan y a n g termuat d a l a m kitab suci a l - Q u r ' a n u n t u k m e m b u a t
Kelompok VI Ayat 43 Surah ar-Ra'd [13] 299

s e m a c a m n y a j i k a mereka m e r a g u k a n status Nabi M u h a m m a d saw. sebagai


penyampai risalah Allah.
Berbeda pendapat u l a m a tentang siapa yang d i m a k s u d dengan "siapa
yang mempunyai ilmu al-Kitab. "Ada vang m e m a h a m i n y a m e n u n j u k kepada
o r a n g t e r t e n t u , y a k n i W a r a q a h Ibn Naufal y a n g telah menyatakan
dukungannya kepada Nabi M u h a m m a d saw. ketika Nabi saw. datang bersama
Khadijah ra. dan m e n y a m p a i k a n p e n g a l a m a n beliau m e n e r i m a w a h y u
pertama. Ada juga yang menunjuk kepada Abdullah Ibn Sallam. Pakar-pakar
lain berpendapat bahwa yang dimaksud adalah ulama-ulama Bani Isra'il. Ayat
ini m e n u r u t mereka sejalan dengan firman-Nya:

"Dan apakah tidak cukup menjadi bukti bagi mereka bahwa para ulama Bani
Isrd'il tnengetahuinya?" (QS. asy-Syu'ara [ 2 6 ] : 1 9 7 ) . A g a k n y a pendapat ini
c u k u p beralasan dan dari sini pula dapat dimengerti mengapa kata yang
d i g u n a k a n di sini adalah yang mempunyai ilmu al-Kitab bukan ahl al-Kitab.

M e m a n g , j a u h sebelum kehadiran Nabi M u h a m m a d saw., orang-orang


Yahudi telah membicarakan tentang kehadiran seorang nabi yang sifat-sifatnya
mereka ketahui dari kitab Taurat dan Injil, dan yang tentu saja hal tersebut
diajarkan oleh para rabbi dan pendeta-pendeta mereka.

Sayyid Q u t h u b m e m a h a m i siapa yang memahami ilmu al-Kitdb adalah


L
Allah swt, 'Dia-lah yang di sisi-Nya ilmu y a n g mutlak dan menyeluruh
tentang Kitab (al-Qur'an) ini dan semua kitab," demikian tulisnya. Meskipun
dalam catatan kaki tafsirnya ia tidak m e n u t u p k e m u n g k i n a n m e m a h a m i n y a
d a l a m arti orang-orang yang telah diberi al-Kitab, sebagaimana disinggung
oleh ayat 3 6 y a n g lalu.

Bisa juga kesaksian tersebut dari siapa pun yang mendalami pengetahuan
tentang al-Kitab, yakni al-Qur'an. Siapa yang m e n d a l a m i n y a , akan
m e n e m u k a n keistimewaan dan m e n g a n t a r n y a berkesimpulan bahwa kitab
suci ini tidak m u n g k i n m e r u p a k a n karya manusia. Ia adalah w a h y u - w a h y u
Ilahi y a n g diterima oleh seorang m a n u s i a pilihan. M a n u s i a itulah utusan-
Nya yang Dia tugaskan m e n y a m p a i k a n n y a kepada masyarakat u m u m . Yang
300 Surah ar-Ra'd [13] Kelompok VI Ayat 43

m e n y a m p a i k a n n y a adalah Nabi M u h a m m a d saw., jika demikian beliau


adalah utusan-Nya.
D e m i k i a n akhir ayat ini berbicara tentang al-Qur'an dan demikianlah
ayat surah ini bertemu dengan awal ayatnya Alif, Lam, Mim, Ra. Itulah
ayat-ayat al-Kitab dan yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu adalah al-
haq; akan tetapi kebanyakan manusia tidak beriman' (QS. ar-Ra'd [ 1 3 ] : 1).
Mahabenar Allah dan Rasul-Nya.