Anda di halaman 1dari 13

222

MAKALAH

MENATA ULANG PEMIKIRAN SISTEM PANDIDIKAN NASIONAL


DALAM ABAD MENDATANG

Oleh :

HESTI RAHMAH FAUZIAH


NIM : 2007 - 87668
Jurusan Teknik Elektronika
Program Studi S1 Pendidikan Teknik Elektronika

FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2010
223

BAB I
PENDAHULUAN

A. Pengantar
Kualitas sumber daya manusia bangsa Indonesia saat ini masih sangat
rendah jika dibandingkan dengan negara lain bahkan dengan sesama anggota
ASEAN. Pendidikan adalah kata kunci untuk meningkatkan kesejahteraan dan
martabat bangsa. Tak salah jika kita sebut pendidikan sebagai pilar pokok dalam
pembangunan bangsa. Tinggi-rendah derajat suatu bangsa bisa dilihat dari mutu
pendidikan yang diterapkannya.
Pendidikan yang tepat dan efektif akan melahirkan anak-anak bangsa yang
cerdas, bermoral, memiliki etos kerja dan inovasi yang tinggi. Negara-negara yang
telah berhasil mencapai kemajuan dan menguasai teknologi-peradaban mengawali
kesuksesannya dengan memberi perhatian yang besar terhadap sektor pendidikan
nasionalnya. Sektor pendidikan mendapat dukungan penuh dan secara terus menerus
sistemnya diperbaiki agar sesuai dengan kondisi, kebutuhan, dan daya akses seluruh
lapis masyarakat mereka.
Sistem Pendidikan Nasional di Indonesia diatur dalam Undang-Undang
Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Sebagaimana diketahui, Undang-Undang adalah wujud dari harapan rakyat yang
dimanifestasikan oleh DPR. Dalam hal ini harapan dan tantangan di masa depan,
pendidikan merupakan sesuatu yang sangat berharga dan dibutuhkan. Pendidikan di
masa depan diharapkan memainkan peranan yang sangat fundamental dimana cita-
cita suatu bangsa dan negara dapat diraih. Bagi masyarakat suatu bangsa, pendidikan
merupakan suatu kebutuhan yang akan menentukan masa depannya.
Menghadapi masa depan yang sudah pasti diisi dengan arus globalisasi dan
keterbukaan serta kemajuan dunia informasi dan komunikasi, pendidikan akan
semakin dihadapkan terhadap berbagai tantangan dan permasalahan yang lebih rumit
dari pada masa sekarang atau sebelumnya. Untuk itu, pembangunan di sektor
224

pendidikan di masa depan perlu dirancang sedini mungkin agar berbagai tantangan
dan permasalahan tersebut dapat diatasi. Dunia pendidikan nasional perlu dirancang
agar mampu melahirkan generasi atau sumber daya manusia yang memiliki
keunggulan pada era globalisasi dan keterbukaan arus informasi dan kemajuan alat
komunikasi yang luar biasa.
Harus kita diakui, pelaksanaan pendidikan di Indoensia masih jauh dari
yang diharapankan. Begitu juga dengan mutu yang dihasilkannya. Padahal, amanat
Undang-Undang Dasar 1945 mematok tujuan pendidikan nasional begitu tinggi: bisa
mencerdaskan bangsa Indonesia. Cerdas dalam artian mayoritas rakyat Indonesia
memiliki budaya belajar dan mengajar dalam aktivitas kesehariannya Program
pendidikan nasional yang dirancang diyakini belum berhasil menjawab harapan dan
tantangan masa kini maupun di masa depan. Globalisasi seharusnya menghadirkan
peluang ‘positif’ untuk hidup nyaman, murah, indah dan maju, bukan menghadirkan
peluang ‘negatif’ yang menimbulkan keresahan, penderitaan dan penyesatan. Dalam
situasi ini, tugas sivitas akademika mengembangkan dan menciptakan sistem
pendidikan untuk menghasilkan lulusan yang ‘mampu memilih’ tanpa kehilangan
peluang serta jati diri.
Dalam membangun pendidikan di masa depan perlu dirancang sistem
pendidikan yang dapat menjawab harapan dan tantangan terhadap perubahan-
perubahan yang terjadi. Sistem pendidikan yang dibangun tersebut perlu
berkesinambungan dari pendidikan prasekolah, pendidikan dasar, pendidikan
menengah, dan pendidikan tinggi.

B. Kajian Yang Akan Dibahas


1. Latarbelakang Reformasi Sistem Pendidikan Nasional
2. Undang-Undang Sisdiknas Nomor 20 Tahun 2003
3. Evaluasi Sistem Pendidikan Nasional Dalam Abad Mendatang
4. Agenda Reformasi Sistem Pendidikan Nasional Dalam Abad Mendatang
225

BAB II
PEMBAHASAN

A. Latarbelakang Reformasi Sistem Pendidikan Nasional


Dalam upaya meningkatkan mutu sumber daya manusia, mengejar
ketertinggalan disegala aspek kehidupan dan menyesuaikan dengan perubahan global
serta perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, bangsa Indonesia melalui DPR
dan Presiden pada tanggal 11 Juni 2003 telah mensahkan Undang-undang Sistem
Pendidikan Nasional yang baru yaitu Undang- Undang Sisdiknas Nomor 20 Tahun
2003, sebagai pengganti Undang-undang Sisdiknas Nomor 2 Tahun 1989.
Adapun perbedaan dan Persamaan dari Sisdiknas Nomor 2 Tahun 1989
dengan Undang- Undang Sisdiknas Nomor 20 Tahun 2003, antara lain:
1. Persamaan
Keduanya masih menempatkan Pendidikan sebagai kerja “non akademik”,dan
pendidikan diselenggarakan dibawah otorita kekuasaan administratif-birokratis,
dan belum menempatkan pendidikan sebagai kerja “akademik”, dan
penyelenggaraannya dibawah otorita keilmuan Kerja Non Akademik: Loyalitas,
“Yudical Hierarchy”, Esselonisasi, dan Senioritas didasarkan masa kerja dan
kepatuhan. Kerja Akademik: Reputasi Akademik, bersaing dalam Kreativitas &
Inovasi, tidak mengenal “Yudical Hierarchy”, hanya mengenal perbedaan bobot
Mutu Akademik, dan tidak mengenal esselonisasi.
2. Perbedaan
a. Sentralisasi – Desentralisasi
b. Pemerintah Pusat / Daerah: BertanggungJawab pada pelayanan, Dana,
Rambu-rambu Nasional dan Standard Mutu Nasional.
c. Masyarakat: Bertanggungjawab pada Unit Pendidikan [Sekolah-Madrasah]
dan Mutu Pendidikan.
d. Sisiknas (No.20/2003) lebih demokratis, terbuka, memberikan otonomitas
& tanggungjawab pada masyarakat dalam menyelenggarakan pendidikan
bermutu.
226

Paradigma Keberagaman Pendidikan memiliki banyak wajah, sifat, jenis dan


jenjang (pendidikan keluarga, sekolah, masyarakat, pondok pesantren, madrasah,
program diploma, sekolah tinggi, institusi, universitas, dsb). Namun hakikatnya satu,
yaitu memanusiakan manusia. Hakikatnya pendidikan mengembangkan :
1. Human Dignity = harkat dan martabat manusia
2. Manizing Human = memanusiakan manusia benar-benar mampu menjadi
khalifah.
Manusia mampu memilih, menetapkan dan membangun model kehidupannya dalam
hidup bersama; bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Dalam hal ini ada 3 jenis
manusia:
1. Sepenuhnya pasrah apa kata Hukum Alam dan Sosial.
2. Sepenuhnya berontak mematahkan belenggu Hukum Alam dan Sosial.
3. Kombinasi keduanya, memiliki kecerdasan, kata hati dan keahlian serta
kesadaran bahwa tidak akan mampu melampaui Hukum Alam.
Paradigma Pemikiran Keilmuan Ilmu merupakan bagian essensial isi ajaran
agama (Islam). Ilmu terus mengalir & bergulir tanpa dapat dicegah. Tidak ada
monopoli dalm mengasuh dan mengklaim kebenaran ilmu.Tidak ada lagi pohon ilmu,
telah berubah menjadi jaringan ilmu. Hubungan antara agama dan ilmu adalah
sebagai berikut:
1. Agama adalah Puncak Pencapaian, sedangkan Ilmu adalah Alat Pencapaian.
2. Agama adalah Kebenarannya Mutlak, sedangkan Ilmu Kebenarannya Relatif.
3. Ketika agama bertemu ilmu terjadi 4 model: Konflik, Inter Independensi,
Dialog, Integrasi.
Paradigma Baru Pendidikan Nasional dapat dilihat dari visi, misi, tujuan,
orientasi dan strategi sistem pendidikan. Visi : Menjadi Sistem Pendidikan yang
unik/khas Indonesia dalam rangka mengembangkan kecerdasan kehidupan nasional
berdasarkan nilai-nilai Pancasila sebagai satu kesatuan yang utuh, agar bangsa ini
menjadi bangsa yang bermartabat dan terhormat dalam tata kehidupan internal
modern “ Menjadi modern dengan tetap pada jati dirinya”. Misi; 1). Menemukan,
Mengamalkan dan Mengembangkan IPTEK dalam bingkai nilai-nilai / ajaran agama.
227

2). Menjadi IPTEK sebagai alat untuk mencapai puncak kebenaran agama, 3).
Memberantas “kebodohan bangsa”. 4). Kebodohan : Sumber Segala Malapetaka,
meskipun Kebodohan bukan Dosa, 5). Mengembangkan Pendidikan Multikultural.
Serta tujuan; Mengembangkan Potensi kemampuan peserta didik dalam menguasai
IPTEK untuk kemaslahatan kehidupan bersama dan memelihara lingkungan
kehidupan dan Mengembangkan budaya belajar: “Sekolah boleh selesai, belajar tidak
kenal berhenti”
Adapun Orientasi Pendidikan sebagai berikut :
1. Pendidikan untuk semua, secara merata dan adil
2. Kebutuhan, kenyataan dan “life skill” dalam tata kehidupan bersama.
3. Kebutuhan “duniawiyah” tanpa melepaskan diri dari bayang-bayang
kehidupan surgawi-ukrowiyah.
Strategi penyelenggaraan pendidikan nasional (sekolah) berfokus pada mutu, untuk
itu diperlukan : otonomi, akreditasi, evaluasi dan akuntabilitas. Bersaing mutu,
kemandirian, keterbukaan, disiplin dan profesional, serta dalam meningkatkan
pelayanan terhadap peserta didik melalui peningkatan SDM dan Manajemen atau
Pengelolaan Sekolah Pendidikan adalah kerja akademik Dosen, Guru, Pustakawan,
Laboran, Peneliti, adalah Tenaga Akademik, & bukan Tenaga Administrasi Birokrasi.
Para pakar akademisi berdiri paling depan dalam pemberdayaan mutu akademik unit
pendidikan (sekolah); Tenaga Non Akademik “mem-Back Up” & menfasilitasi kerja
akademik. Diperlukan “Academic Bill of Right” dalam dunia pendidikan. Materi Ajar
atau Kurikulum bertolak dari kebutuhan, IPTEK, pasar, nilai luhut
budaya/tradisi/agama.
Metodologi Pembelajaran yang diharapkan diantaranya :
1. Learning to Know
2. Learning to Do
3. Learning to Be
4. Learning to Live Together
5. Learning throughout Life
6. Learn How to Learn
228

Belajar “Menjadi” bukan sekedar “Memiliki”. Menguasai “Metodologi” bukan


sekedar “Materi”. Tidak ada “Keterpisahan” antara ilmuan dan ilmunya atau
keahliannya.

B. Undang-Undang Sisdiknas Nomor 20 Tahun 2003


Undang-undang Sisdiknas Nomor 20 Tahun 2003 yang terdiri dari 22 Bab
dan 77 pasal tersebut juga merupakan pengejawantahan dari salah satu tuntutan
reformasi yang marak sejak tahun 1998. Perubahan mendasar yang dicanangkan
dalam Undang-undang Sisdiknas yang baru tersebut antara lain adalah demokratisasi
dan desentralisasi pendidikan, peran serta masyarakat, tantangan globalisasi,
kesetaraan dan keseimbangan, jalur pendidikan, dan peserta didik.
Tuntutan reformasi yang sangat penting adalah demokratisasi, yang
mengarah pada dua hal yakni pemberdayaan masyarakat dan pemberdayaan
pemerintah daerah (otda). Hal ini berarti peranan pemerintah akan dikurangi dan
memperbesar partisipasi masyarakat. Demikian juga perana pemerintah pusat yang
bersifat sentralistis dan yang telah berlangsung selama 50 tahun lebih, akan diperkecil
dengan memberikan peranan yang lebih besar kepada pemerintah daerah yang
dikenal dengan sistem desentralisasi. Kedua hal ini harus berjalan secara simultan;
inilah yang merupakan paradigma baru, yang menggantikan paradigma lama yang
sentralistis.
Konsep demokratisasi dalam pengelolaan pendidikan yang dituangkan dalam
UU Sisdiknas 2003 bab III tentang prinsip penyelenggaraan pendidikan (pasal 4)
disebutkan bahwa pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan,
serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai
keagamaan , nilai kultural, dan kemajemukan bangsa (ayat 1). Karena pendidikan
diselenggarakan sebagai suatu proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik
yang berlangsung sepanjang hayat (ayat 3), serta dengan memberdayakan semua
komponen masyarakat, melalui peran serta dalam penyelenggaraan dan pengendalian
mutu layanan pendidikan.
229

C. Evaluasi Pemikiran Sistem Pendidikan Nasional Dalam Abad Mendatang


Jika kita sering mendengar sesama kita memperolok-olok manusia Indonesia,
sesungguhnya kualitas manusia ditentukan oleh dua hal:
1. Faktor hereditas, faktor keturunan.
Manusia Indonesia dewasa ini adalah keturunan langsung manusia
Indonesia generasi 45 dan cucu dari generasi 1928, cicit dari generasi 1912.
Menurut bapak sosiologi Ibnu Khaldun, jatuh bangunnya suatu bangsa
ditandai oleh lahirnya tiga generasi. Pertama generasi Pendobrak,kedua
generasi Pembangun dan ketiga generasi penikmat. Jika pada bangsa itu sudah
banyak kelompok generasi penikmat, yakni generasi yang hanya asyik
menikmati hasil pembangunan tanpa berfikir harus membangun, maka itu satu
tanda bahwa bangsa itu akan mengalami kemunduran.
Proses datang perginya tiga generasi itu menurut Ibnu Khaldun
berlangsung dalam kurun satu abad. Yang menyedihkan pada bangsa kita
dewasa ini ialah bahwa baru setengah abad lebih, ketika generasi pendobrak
masih ada satu dua yang hidup, ketika generasi pembangun masih belum
selesai bongkar pasang dalam membangun, sudah muncul sangat banyak
generasi penikmat, dan mereka bukan hanya kelompok yang kurang
terpelajar, tetapi justru kebanyakan dari kelompok yang terpelajar.
2. Faktor pendidikan. Pendidikanlah yang bisa membangun jiwa bangsa
Indonesia. Sekurang-kurangnya ada sembilan point kekeliruan pendidikan
nasional kita selama ini, meliputi:
a. Pengelolaan pendidikan di masa lampau terlalu berlebihan penekanannya
pada aspek kognitip, mengabaikan dimensi-dimensi lainnya sehingga
buahnya melahirkan generasi yang mengidap split personality,
kepribadian yang pecah.
b. Pendidikan terlalu sentralistik sehingga melahirkan generasi yang hanya
bisa memandang Jakarta (ibu kota) sebagai satu-satunya tumpuan harapan
tanpa mampu melihat peluang dan potensi besar yang tersedia di daerah
masing-masing.
2210

c. Pendidikan gagal meletakkan sendi-sendi dasar pembangunan masyarakat


yang berdisiplin.
d. Gagal melahirkan lulusan (SDM) yang siap berkompetisi di dunia global
e. Pengelolaan pendidikan selama ini mengabaikan demokratisasi dan hak-
hak azasi manusia. Sebagai contoh, pada masa orde Baru, Guru negeri di
sekolah lingkungan Dikbud mencapai 1 guru untuk 14 siswa, tetapi di
madrasah (Depag) hanya 1 guru negeri untuk 2000 siswa. Anggaran
pendidikan dari Pemerintah misalnya di SMU Negeri mencapai
Rp.400.000,-/siswa/tahun, sementara untuk Madrasah Aliah hanya
Rp.4.000,-/anak/tahun
f. Pemberdayaan masyarakat dalam pengembangan pendidikan dan SDM
dikalahkan oleh uniformitas yang sangat sentralistik. Kreatifitas
masyarakat dalam pengembangan pendidikan menjadi tidak tumbuh.
g. Sentralisasi pendidikan nasional mengakibatkan tumpulnya gagasan-
gagasan otonomi daerah.
h. Pendidikan nasional kurang menghargai kemajemukan budaya,
bertentangan dengan semangat bhinneka Tunggal Ika.
i. Muatan indoktrinasi nasionalisme dan patriotisme yang dipaksakan –yakni
melalui P4 dan PMP, terlalu kering sehingga kontraproduktif.
Sembilan kesalahan dalam pengelolaan pendidikan nasional ini sekarang
telah mengakibatkan: Generasi muda yang tidak memiliki kemampuan imajinasi
idealistic, Angkatan kerja yang tidak bisa berkompetisi dalam lapangan kerja pasar
global, Birokrasi yang lamban, korup dan tidak kreatif, Pelaku ekonomi yang tidak
siap bermain fair, Masyarakat luas yang mudah bertindak anarkis, Sumberdaya alam
(terutama hutan) yang rusak parah, Cendekiawan yang hipokrit, Hutang Luar Negeri
yang tak tertanggungkan, Merajalelanya tokoh-tokoh pemimpin yang rendah
moralnya, Pemimpin-pemimpin daerah yang kurang bijak dalam peggunaan dana
daerah.
2211

D. Agenda Reformasi Sistem Pendidikan Nasional Dalam Abad Mendatang


1. Melakukan pembangunan Sistem Pendidikan Nasional yang konprehensif,
integratif, dan aplikatif. Makna konprehensif adalah menjamin perbaikan yang
berkelanjutan, integratif tak memisahkan aspek moral dan nilai-nilai luhur
dari pembelajaran dan pengajaran, dan aplikatif menunjuk pada mutu dan
meningkatnya daya saing bangsa.
2. Meningkatkan wajib belajar dari Sembilan tahun menjadi dua belas tahun.
3. Meningkatkan kopetensi, kesejahteraan, penghargaan, dan perlindungan
terhadap profesi guru tanpa membeda-bedakan status kepegawaian, PNS atau
swasta.
4. Mengawal realisasi anggaran pendidikan yang besarnya 20% dari total APBN
(Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) sebagaimana amanah Pasal 31
ayat 4 Amandemen IV UUD 1945.
5. Melakukan monitoring dan evaluasi sistematis terhadap berbagai aspek
konsep dan operasional Sistem Pendidikan Nasional di semua jenis, jenjang,
dan jalur pendidikan.
6. Memastikan terlaksananya proses pendidikan yang menanamkan jiwa
kebebasan, kemandirian, kewirausahaan, dan meningkatkan keterampilan
hidup dan daya juang kepada anak-anak bangsa yang menjadi peserta didik.
7. Menerapkan desentralisasi penyelenggaraan pendidikan dan meningkatkan
partisipasi masyarakat baik dalam penyelenggaraan pendidikan formal,
nonformal, dan informal.
8. Meningkatkan kualitas pengelolaan manajemen sekolah dan metode
pembelajaran serta menjadikan sekolah tidak lagi sebagai menara gading yang
steril dari analisis kebutuhan lingkungan sekitarnya. Sekolah bukan hanya
tempat penyelenggaraan pendidikan, tapi juga bisa menjadi pusat latihan,
seminar, workshop, dan studi banding. Sekolah adalah pusat belajar
masyarakat di wilayahnya berada.
9. Terselenggaranya pendidikan yang murah, bermutu, dan berwawasan global
yang memiliki daya saing nasional di percaturan global.
2212

10. Memberi perhatian serius pada pendidikan khusus bagi anak bangsa yang
disebabkan oleh cacat atau kecerdasan luar biasa peserta didik.
11. Menjadikan sekolah sebagai tempat kaderisasi kepemimpinan nasional dan
memasukkan program wajib militer untuk menumbuhkan rasa nasionalisme.
12. Menumbuhkan kepedulian masyarakat terhadap pendidikan. Kesadaran
masyarakat untuk ambil bagian dalam pendidikan adalah bentuk dari
ketahanan sosial atas perubahan tantangan lingkungan yang terjadi.
Pendidikan tidak lagi menjadi tanggung jawab orang tua secara individu per
individu, tetapi itu tanggung jawab komunitas secara bersama.
13. Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk meningkatkan
mutu pendidikan.
Itulah tiga belas agenda reformasi Pendidikan yang akan dilaksanakan untuk
mewujudkan kesejahteraan dan ketinggian martabat bangsa yang kita harapkan.
Pelaksanaan proses pendidikan harus efektif untuk menanamkan jiwa kebebasan,
kemandirian, dan kewirausahaan. Dengan begitu anak-anak bangsa yang menjadi
peserta didik bisa eksis dalam persaingan dimasa datang berbekal keterampilan hidup
(life skill) dan daya
2213

BAB III
KESIMPULAN

Upaya memperbaiki Pendidikan Nasional tidak hanya menyangkut masalah


fisik dan dana saja. Tapi, harus lebih mendasar dan strategis. Sistem Pendidikan
Nasional perlu direformasi dengan memadukan wahyu Tuhan dan ilmu pengetahuan
sebagai arena utama aktivitas pendidikan. Sekolah bukan hanya menjadi tempat
pembekalan pengetahuan kepada anak bangsa, tapi juga lembaga penanaman nilai
dan pembentuk sikap dan karakter. Anak-anak bangsa dikembangkan bakatnya,
dilatih kemampuan dan keterampilannya. Sekolah tempat menumbuhkembangkan
potensi akal, jasmani, dan rohani secara maksimal, seimbang, dan sesuai tuntutan
zaman. Output keseluruhan proses pendidikan adalah menyiapkan peserta didik untuk
bisa merealisasikan fungsi penciptaannya sebagai hamba Tuhan dan kemampuan
mengemban amanah mengelola bumi untuk dihuni secara aman, nyaman, damai, dan
sejahtera
2214

DAFTAR PUSTAKA

http:///erik12127.wordpress.com[12/12/2010]. PARADIGMA BARU PENDIDIKAN


NASIONAL DALAM UNDANG-UNDANG SISDIKNAS NO 20 TAHUN
2003.
http:///fkip-unpas.com [12/12/2010].Latar Belakang Terbitnya UU No. 20 Tahun
2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
http:///imamsamroni.wordpress.com[01/12/2010]. Bedah buku msi uii : Menata
Ulang Pemikiran Sisdiknas Abad XXI.
http:///pnfi.depdiknas.go.id/test/uu_20_2003[01/12/2010]. pdf UNDANG-UNDANG
REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2003 TENTANG SISTEM
PENDIDIKAN NASIONAL.
http:///sanaky.com. [12/12/2010] MENATA ULANG PEMIKIRAN SISTEM
PENDIDIKAN NASIONAL DALAM ABAD 21.
http://www.mirifica.net[16/12/2010]. MENYONGSONG HADIRNYA UNDANG-
UNDANG SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL 2003.
www.unindra.ac.id [16/12/2010]. Problem Pendidikan di Era Reformas.