Kondisi Iran Pra Revolusi Sebelum tercetus revolusi tahun 1979, Iran berada di bawah kekuasaan Shah Muhammad

Reza Pahlevi yang diktator dan tiran. Meski Iran merupakan negara penghasil minyak terbesar nomor tiga di dunia, yang meraup keuntungan 40 miliar dollar lebih tiap tahun dari penjualan minyaknya, akan tetapi rakyatnya hidup sangat menderita di bawah pemimpin yang diktator dan negara yang disetir sepenuhnya oleh Amerika Serikat ini. Pemerintah Iran bahkan mempekerjakan 50 ribu orang AS sebagai penasehat, dengan gaji total 4 miliar dollar tiap tahunnya. Namun di saat yang sama, rakyatnya hidup dalam keterpurukan sebagaimana yang digambarkan oleh Dr. Musa Al Musawi sbb: 70 % rakyat Iran tidak bisa baca-tulis, dan tidak memiliki sarana belajar-mengajar. 80 % rakyat Iran masih kekurangan pelayanan medis. 85 % kota dan desa kecil di Iran masih memerlukan jalur transportasi yang layak serta pengadaan air, listrik, dan perumahan modern. Jumlah pengangguran mencapai 1,5 juta orang dan mereka berkeliaran di jalan-jalan atau hijrah ke negara-negara teluk demi mencari sesuap nasi. Mohammad Reza Pahlevi (lahir di Tehran, Iran, 26 Oktober 1919 – meninggal di Kairo, Mesir, 27 Juli 1980 pada umur 60 tahun), yang menyebut dirinya Yang Mulia Baginda, dan memegang gelar kerajaan Shahanshah (Raja segala raja), dan Aryamehr (Terang bangsa Arya), adalah kaisar Iran dari 16 September 1941 hingga Revolusi Iran pada 11 Februari 1979. Ia adalah kaisar kedua dari Dinasti Pahlavi and Shah terakhir dari monarki Iran. Shah naik takhta pada Perang Dunia II, setelah invasi Anglo-Soviet yang memaksa ayahnya, Reza Shah turun takhta. Pada masa pemerintahan Mohammad Reza Shah terjadi nasionalisasi industri minyak Iran di bawah Perdana Menteri Mohammad Mossadegh. Pada masa pemerintahan Shah, Iran merayakan kesinambungan monarki selama 2.500 tahun sejak didirikannya Kekaisaran Persia oleh Koresy Agung. Revolusi Putihnya, serangkaian pembaruan ekonomi dan sosial yang dimaksudkan untuk mentransformasikan Iran menjadi suatu kekuatan global, berhasil antara lain memodernisasi negara itu, menasionalisasikan banyak sumber alam, dan memperluas hak pilih kepada kaum perempuan. Namun demikian, kegagalan sepihak dari reformasi tanah, tidak adanya demokratisasi seperti yang dikritik oleh sebagian lawannya, serta kemerosotan kekuatan tradisional dari para rohaniwan Syi’ah yang sebagian disebabkan oleh pembaruan-pembaruan itu, meningkatkan oposisi terhadap kekuasaannya. Meskipun ia sendiri adalah seorang Muslim, Shah perlahan-lahan kehilangan dukungan dari para rohaniwan Syi’ah di Iran, khususnya karena kebijakan Westernisasinya yang kuat dan pengakuannya terhadap Israel. Bentrokan-bentrokan dengan pihak kanan keagamaan, meningkatkan aktivitas pihak komunis, Campur tangan pihak Barat dalam ekonomi Iran, dan perbedaan pandangan politiknya pada 1953 dengan Mohammad Mossadegh (kedua belah pihak saling menuduh pihak lainnya berusaha melakukan kudeta, akhirnya menyebabkan kejatuhan Mossadegh) kelak menghasilkan pemerintahan yang kian otokratis. Berbagai kebijakan yang kontroversial diberlakukan, termasuk larangan terhadap Partai Tudeh dan penindasan terhadap kaum pembangkang oleh dinas rahasia Iran, SAVAK; Amnesty International melaporkan bahwa Iran mempunyai hingga 2.200 tahanan politik pada 1978. Pada 1979, gejolak politik telah berubah menjadi revolusi yang, pada 16 Januari, memaksa Shah untuk meninggalkan Iran setelah berkuasa selama 37 tahun. Tak lama setelah itu, kekuatan-kekuatan revolusioner mengubah pemerintahnya menjadi suatu Republik Islam.

pertanian. urbanisasi/ledakan populasi kota. telekomunikasi. pembangunan besar-besaran tersebut ternyata melahirkan persoalan-persoalan sosial yang serius terutama di kota-kota besar: kesenjangan sosial yang sangat tinggi. Beliau adalah sosok ulama yang sederhana. kekuatan udara termodern di Timur Tengah. Ayatollah Ruhollah Khomeini. Khomeini sangat mendambakan pemerintahan Islam yang berlandaskan al Quran dan sejalan dengan konsep masyarakat madani era Nabi Muhammad SAW. 460 M60 tanks. 28 hovercraft. Iran tetap bergeming. Iran menjadi sekutu strategis Barat dan AS di Timur Tengah. kemiskinan.8 miliar pada 1973. Tidak hanya itu. Sehingga pada tahun 1977 Iran telah memiliki angkatan laut terbesar di Teluk Persia. pendidikan dan persenjataan. 800 helikopter. Bahkan semakin kukuh dan berani menentang sang Adikuasa. dan 1 kapal perusak laut Spruance. Selain konflik Israel-Plestina yang tak kunjung selesai. Khomaini mulai menebarkan benih-benih perlawanan terhadap dinasti Syah sejak 1920. kini keadaan semakin memanas di belahan lain kawasan ini. menggulung rezim otoriter Syah (1935-1979). Yang tentunya dengan modal besar dari hasil eksploitasi minyaknya. Alhasil.Timur Tengah adalah wilayah konflik terpanas di dunia. Di era Syah Reza Pahlevi. Negeri yang berada di persimpangan Timur Tengah. Namun begitu. bersahaja dan merakyat. Namun. indurstri. . di bawah Syah Pahlevi Iran juga meningkatkan belanja militernya dari US$ 293 juta pada 1963 menjadi US$ 1. berbagai aksi boikot oleh AS serta sanksi dari DK PBB pun terus dihujamkan atas Iran. Iran. 10 Beoing 707 transport planes. 190 F4 pesawat tempur Phantom. Demi memuluskan kepentingan-kepentingannya di kawasan itu. bahkan degradasi moral masyarakat sebagai dampak westernisasi yang liar. Ia membeli US$12 miliar senjata modern dari Barat kurun 1970-1977. birokrasi yang bobrok. karena fakta menunjukkan ternyata agama menjadi perekat antarindividu dan pembangkit solidaritas sosial di tengahtengah pemukiman kumuh di kota-kota besar seperti Teheran. utama sekali dari kalangan agamawan yang dimotori oleh Ayatulloh Khomaini. 250 Scorpion. Modernisasi yang dilakukan oleh Syah Pahlevi pun selama berkuasa menduplikasi kemajuan Barat. perlawanan yang selalu bertolak dari landasan Islam dan ditebarkan melalui forum seminar. Asia Barat dan Kaukakus ini tengah menghadapi ancaman serius dari negara adidaya Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya. termasuk 20 F14 Tomcat dengan misil jarak jauh Phonix. Bahkan akhir-akhir ini.760 Chieftain tank. 400 M47 tank. Khomeini menandaskan kemestian Islam dan Iran terbebas dari kolonialisme Timur dan Barat dan perlunya kalangan ruhaniawan keluar dari jubah akademis. proyek modernisasi-westernisasi dan pembangunan Syah Pahlevi berjalan mulus – transportasi. Kondisi semacam ini kemudian semakin membuncahkan semangat perlawanan pihak-pihak oposisi. AS meningkatkan kehadiran militernya di kawasan tersebut dan meningkatkan frekuensi latihan militernya. serta angkatan bersenjata terbesar kelima di dunia. tapi di mana pun tempat yang di situ masih ada manusia yang kelaparan dan tertindas. Amerika Serikat menempuh berbagai cara untuk memberangus signifikansi Iran yang semakin kuat di kawasan kaya minyak itu. pengangguran. 166 F4 fighter aircraft. atau perngajian di masjid di desa dan di kota. Tanggung jawab ulama pada kemanusiaan tak sebatas hanya di Iran. sehingga rakyat Iran sangat bersimpati kepadanya. Isu senjata nuklir terus didengungkan. Keberanian Iran semacam ini telah tumbuh sejak 28 tahun yang lalu ketika gelombang revolusi yang dipimpin seorang ulama paling kharismatik Iran. Iran di zaman Syah Pahlevi tumbuh pesat menjadi negara industri baru di dunia.

tempat kaum ulama-penguasa memberangus hak-hak politik kalangan reformis. Itulah yang hari-hari ini terjadi di Iran. sentralisasi. dengan mencoret mereka dari daftar caleg.Setelah bertahun-tahun teguh dalam perlawanannya – mengalami berbagai intimidasi dan diasingkan. begitulah di antaranya slogan-slogan yang meraung di langit Teheran waktu itu. “Usir Amerika”. “Syah Bajingan”. Kasus Iran merupakan contoh kontemporer terbaik tentang buruknya sistem politik yang diringkus oleh agama. Kaum buruh dan rakyat Iran telah membayar dengan harga yang mahal atas penghianatan ini selama dua puluh tahun terakhir. birokrasi. Di bawah pemerintahan para pemimpin yang ada sekarang ini Indonesia benar-benar tidak berdaya. Pengarang juga memberikan pada kita latar belakang sejarah yang kaya. suatu klaim politik yang mustahil dicek lewat mekanisme politik. pemimpin mutlak yang kekuasaannya di atas presiden (bahkan di atas konstitusi) meski tak pernah dipilih rakyat – ia katanya dipilih oleh Tuhan. Dan diperparah lagi dengan krisis moral-spiritual generasi muda akibat kebebasan Gerakan pada tahun 1979 adalah sebuah revolusi proletar yang dikhianati oleh para pemimpinnya. Iran pra revolusi memiliki kondisi yang tidak jauh berbeda dari Indonesia ketika zaman Orde Baru dan zaman Reformasi yang nampak lebih parah dalam banyak halnya: kesenjangan sosial. Adalah suatu ketidakberuntungan yang besar bagi orang-orang di barat karena tidak mengenal pencapaian yang menakjubkan dari peradaban di timur. Kenyataan bahwa Asia dan Timur Tengah. “Allohu Akbar”. terakhir di Paris. karena terus dibendung oleh kaum konservatif yang mendominasi parlemen. tetapi. terperangkap dalam jaring kapitalisme. Mereka dilindungi. Kepala pemerintahan yang dipilih rakyat tidak memiliki kapabilitas. seperti halnya semua negara kolonial dan semi-kolonial. akhirnya dengung revolusi dari arah Perancis itu memuncak pada Desember 1979. Perancis selama 15 tahun –. seperti yang telah kita lihat. termasuk banyak material yang akan menjadi tidak familier bagi pembaca di barat. yang kehebatannya dikerdilkan atau tak berani dimanfaatkan maksimal oleh orang-orang yang berpretensi memuja pencipta akal itu sendiri. dan melindungi. Ali Khamenei. urbanisasi. membangkitkan dua juta lebih rakyat Iran untuk turun ke jalan menentang Syah Pahlevi. Sistem politik sekular adalah sistem yang dijalankan berdasar pertimbangan akal manusia. seni dan ilmu pengetahuan. sekarang telah terpulihkan semangat juangnya dan memulai perjuangan yang telah diinterupsi oleh kontra revolusi Khomeini. intimidasi oleh penguasa (pengekangan terhadap nilai-nilai demokrasi) hingga degradasi moral masyarakat dan generasi muda. dan karenanya makin mempertegas keperluan akan sistem politik sekular. Kasus Iran merupakan contoh kontemporer terbaik tentang buruknya sistem politik yang diringkus oleh agama. Kekayaan-kekayaan negara hanya dinikmati oleh sebagian kecil masyarakat saja dan dieksploitasi secara serampangan. Sebab sistem yang didominasi agama hanya melahirkan politik yang kedodoran (agama tak menyediakan manajemen politik lantaran ia hadir memang bukan untuk itu). dan karenanya makin mempertegas keperluan akan sistem politik sekular. Dalam dua periode kepresidenannya. membuat terjadinya sebuah kontrarevolusi dimana para mullah merampas kekuasaan dengan mengisi kekosongan kekuasaan. dimana Persia memiliki posisi yang istimewa. telah mendapatkan perkembangan sejarah mereka terhambat dan dikerdilkan oleh dominasi penjarah imperialis yang telah mengaburkan kontribusi yang mengagumkan dari negara-negara ini terhadap kebudayaan umat manusia. Mohammad Khatami tak kunjung sanggup meloloskan satu pun undang-undang yang aspiratif. . “Mampuslah Pahlevi”.

multiply.umm. sebab Tuhan dan Rasul akhirnya cuma diperalat untuk menopang tindakan-tindakan politik demi kepentingan rezim.id/2010/04/08/politik-luar-negeri-iran-akankah-berubah/ .ac.com/journal/item/28 http://id.sekaligus agama yang cemar. Referensi http://zakariaelbilad.wikipedia.student. tapi dengan sikap seolah mereka hanya menjalankan perintah agama demi kemaslahatan publik.org/wiki/Iran http://khunaipi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful