Anda di halaman 1dari 9

SAMBUTAN DIREKTUR JENDERAL OTONOMI DAERAH

PADA ACARA SOSIALISASI PILKADA


Jakarta, tanggal 5 September 2005

Yth. Para peserta sosialisasi Pilkada dan hadirin yang berbahagia

Assalamu’alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh;

Marilah kita tak henti-hentinya memanjatkan puja dan puji syukur kehadirat
Tuhan YME, sehingga pada hari ini dapat hadir untuk mengikuti acara
sosialisasi Pilkada dalam keadaan sehat wal afiat.

Saudara-saudara yang saya hormati

Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah


sebagai pengganti Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999, menyatakan
bahwa Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah dipilih dalam suatu pasangan
calon yang dilaksanakan secara demokratis berdasarkan asas langsung,
umum, bebas, rahasia, jujur dan adil.
Pengaturan Pilkada dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004
tersebut berbeda dengan pemilihan umum karena tidak dilaksanakan secara
nasional tetapi di tingkat daerah, dengan alasan :
a. Pilkada adalah bagian dari penyelenggaraan pemerintahan daerah.
b. Pilkada merupakan hak otonomi daerah.
c. Dalam rangka memberikan tanggungjawab kepada daerah untuk
menyelenggarakan proses demokratisasi di tingkat local, sebagaimana
dalam pemilihan kepala desa.
d. Memberdayakan daerah dalam rangka memperkuat struktur system
ketatanegaraan dengan bangun piramida, dimana nasional ditopang
system pemerintahan daerah yang kuat.

1
Dengan telah ditetapkannya Undang-Undang No. 32 Tahun 2004
tentang Pemerintahan Daerah, merupakan langkah maju dalam
penyelenggaraan sistem demokrasi di Indonesia. Sistem demokrasi dalam
Undang-Undang ini diukur dari dua faktor penting yakni unsur keterlibatan
masyarakat dalam menentukan pejabat publik di daerah (Kepala Daerah) dan
keterlibatan masyarakat dalam proses pembuatan kebijakan publik yang
terkait dengan kepentingan masyarakat secara luas. Salah satu ciri efektifitas
demokrasi adalah adanya kesempatan bagi masyarakat atau publik untuk
menentukan pejabat publik termasuk pada tingkat lokal melalui pemilihan
umum yang dilaksanakan secara periodik. Berdasarkan konsep ini dapat
diambil kesimpulan bahwa sebuah pemerintahan dapat demokratis apabila
para pejabat yang memimpin pemerintahan itu dipilih secara langsung dan
bebas oleh masyarakat atau publik dengan cara yang terbuka dan jujur.
Landasan ideal inilah yang menjadi landasan diselenggarakan pemilihan
Kepala Daerah secara langsung oleh masyarakat sebagaimana diatur dalam
pasal 24 ayat (5) UU No. 32 Tahun 2004.

Penyelenggara pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah,


melalui Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 ini Komisi Pemilihan Umum
Daerah (KPUD) Provinsi, Kabupaten dan Kota telah diberikan kewenangan
sebagai penyelenggara pemilihan kepala Daerah. KPUD yang dimaksud dalam
Undang-undang ini adalah KPUD sebagaimana dimaksud Undang-undang
Nomor 12 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum Anggota DPR, DPD dan
DPRD. Hal ini dengan pertimbangan bahwa KPUD adalah lembaga
independen yang ada didaerah yang telah mempunyai pengalaman dalam
pelaksanaan pemilihan secara langsung (DPR, DPD, DPRD dan Pilpres),
sehingga tidak perlu dibentuk lagi lembaga baru sebagai pelaksana pemilihan
Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah. Selain itu dengan pertimbangan
efisiensi, sarana dan prasarana Pemilu yang ada masih dapat dipergunakan
lagi. Kewenangan KPUD Provinsi, Kabupaten dan Kota dibatasi sampai dengan
penetapan calon terpilih dengan Berita Acara yang selanjutnya KPUD
menyerahkan kepada DPRD untuk diproses pengusulannya kepada
Pemerintah guna mendapat pengesahan.
Untuk lebih memahami proses pelaksanaan Pilkada pada kesempatan ini
kami sampaikan beberapa hal mengenai substansi pokok Undang-Undang
Nomor 32 Tahun 2004, dan Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2005
sebagai berikut :

 Tahapan Pilkada
Tahapan Pilkada secara langsung dibagi menjadi 2 (dua) tahap yaitu tahap
persiapan dan tahap pelaksanaan.
Tahap Persiapan meliputi :
1. Dalam tahap persiapan DPRD memberitahukan kepada KDH maupun
KPUD mengenai berakhirnya masa jabatan Kepala Daerah.

2
2. Dengan adanya pemberitahuan dimaksud KDH berkewajiban untuk
menyampaikan laporan penyelenggaraan pemerintahan daerah kepada
pemerintah dan laporan keterangan pertanggungjawaban kepada
DPRD.
3. KPUD dengan pemberitahuan dimaksud menetapkan rencana
penyelenggaraan Pemilihan KDH dan WKDH yang meliputi penetapan
tatacara dan jadwal tahapan PILKADA, membentuk Panitia Pemilihan
Kecamatan (PPK), Panitia Pemungutan Suara (PPS), dan Kelompok
Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) serta pemberitahuan dan
pendaftaran pemantau.
4. DPRD membentuk Panitia Pengawas Pemilihan yang unsurnya terdiri
dari Kepolisian, Kejaksaan, Perguruan Tinggi, Pers dan Tokoh
masyarakat.
Tahap Pelaksanaan.
Tahap pelaksanaan meliputi penetapan daftar pemilih, pengumuman
pendaftaran dan penetapan pasangan calon, kampanye, masa tenang,
pemungutan suara, penghitungan suara, penetapan pasangan calon
terpilih serta pengusulan pasangan calon terpilih.

 Penetapan Daftar Pemilih


Penetapan daftar pemilih menggunakan data pemilu terakhir dan
berdasarkan data P4D yang telah dimutakhirkan.
Untuk dapat menggunakan hak memilih dalam pemilihan, WNRI harus
terdaftar sebagai pemilih dengan persyaratan tidak sedang terganggu
jiwa/ingatannya dan tidak sedang dicabut hak pilihnya berdasarkan
putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap serta
bukan anggota TNI/POLRI dan bertempat tinggal minimal 6 bulan sebelum
disahkannya daftar pemilih. Setiap pemilih yang telah terdaftar sebagai
pemilih diberi tanda bukti pendaftaran untuk ditukarkan dengan kartu
pemilih yang digunakan setiap pemungutan suara.
Pada evaluasi terhadap pelaksanaan Pilkada, permasalahan yang sering
muncul adalah berkaitan dengan Daftar Pemilih Tetap, karena : banyaknya
pemilih yang tidak terdaftar dan adanya pemilih yang tidak memenuhi
persyaratan. Untuk menghindari agar tidak terjadinya permasalahan dalam
penetapan daftar pemilih perlu dilakukan langkah-langkah :
a) Koordinasi antara Dinas Kependudukan dan PPS (KPUD) untuk
mensinkronkan DP4 dengan daftar pemilih pada waktu Pilpres putaran
ke 2 kurang optimal;
b) Penetapan DPS dan DPT agar meminta tanggapan dari RT/RW;
c) Mensosialisasikan tata cara penetapan pemilih kepada masyarakat
melalui RT/RW.

3
 Pendaftaran, Penelitian Persyaratan dan Penetapan Pasangan
Calon.
Berdasarkan UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah,
pengusulan pasangan calon Kepala Daerah dan Wakil Kepala daerah
melalui partai politik atau gabungan partai politik yang memperoleh
sekurang-kurangnya 15% kursi di DPRD atau 15% akumulasi perolehan
suara sah pada Pemilu DPRD di daerah yang bersangkutan.
Mekanisme pengusulan pasangan calon Kepala Daerah dan Wakil Kepala
daerah melalui partai politik atau gabungan partai politik didasarkan pada
pemikiran bahwa mekanisme demokrasi yang dibangun di Indonesia
adalah mekanisme demokrasi partai bukan perorangan, sebagaimana juga
telah dilaksanakan dalam UU Nomor 23 Tahun 2003 tentang Pemilihan
Presiden dan Wakil Presiden. Selain dari pada itu dengan persyaratan yang
cukup berat ini, pasangan calon yang ditetapkan diharapkan tidak terlalu
banyak sehingga memungkinkan pemilihan Kepala Daerah dan Wakil
Kepala Daerah dapat dilaksanakan satu putaran dengan sistim mayoritas
sederhana.
Partai politik atau gabungan partai politik dalam mendaftarkan, wajib
menyerahkan surat pencalonan yang ditandatangani oleh Pimpinan Partai
Politik atau Pimpinan Partai Politik yang bergabung.
Dalam penjelasan Pasal 42 Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2005,
yang dimaksud dengan ditandatangani Pimpinan adalah Ketua dan
Sekretaris Partai Politik, sesuai kewenangan berdasarkan AD/ART Partai
Politik yang bersangkutan.
Permasalahan pencalonan oleh Partai Politik dan penandatangan surat
pencalonan sering menimbulkan permasalahan yang mengakibatkan
penolakan pasangan calon oleh KPUD. Hal ini yang selalu menimbulkan
keributan dan digugatnya KPUD ke pengadilan oleh pasangan calon. Oleh
karena itu KPUD harus selalu berkoordinasi dengan partai politik, instansi
terkait dan bersikap netral, transparan serta selalu mengacu kepada
ketentuan paraturan perundang-undangan.
Begitu pula dalam penelitian persyaratan pasangan calon kepala daerah
dan wakil kepala daerah agar dilakukan secara transparan dan
memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk memberikan masukan
kepada KPUD atas kelengkapan dan keabsahan administrasi pencalonan
seperti :
a. Ijasah Pendidikan pasangan calon.
b. Keterangan sehat jasmani dan rohani berdasarkan hasil pemeriksaan
kesehatan menyeluruh dari tim dokter;
c. Keterangan tidak pernah dijatuhi pidana penjara berdasarkan putusan
pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap karena
melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara paling
lama 5 (lima) tahun atau lebih;

4
d. Keterangan tidak sedang dicabut hak pilihnya berdasarkan putusan
pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap;
e. Keterangan tidak sedang memiliki tanggungan utang secara
perseorangan dan/atau secara badan hukum yang menjadi
tanggungjawabnya yang merugikan keuangan negara;
f. Keterangan tidak sedang dinyatakan pailit berdasarkan putusan
pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap;
Dapat kami sampaikan bahwa berdasarkan evaluasi permasalahan yang
sering muncul dalam proses penelitian pesyaratan calon adalah hal-hal
sebagaimana tersebut di atas seperti ijazah palsu, pasangan calon
mempunyai hutang yang berakibat banyaknya protes dari masyarakat
karena pasangan calon yang bermasalah tersebut ditetapkan menjadi
pasangan calon.
Apabila dalam penelitian persyaratan pasangan calon telah dilakukan
secara transparan, klarifikasi kepada instansi terkait, koordinasi dengan
parpol yang mengusulkan dan menindak lanjuti saran dan pendapat
masyarakat permasalahan tersebut dapat diminimalisir.

 Kampanye
Kampanye dilaksanakan antara lain melalui pertemuan terbatas, tatap
muka, penyebaran melalui media cetak/elektronik, pemasangan alat
peraga dan debat publik yang dilaksanakan selama 14 (empat belas) hari
dan berakhir 3 (tiga) hari sebelum pemungutan suara yang disebut masa
tenang. Terkait dengan kampanye melalui media cetak/elektronik,
Undang-undang menegaskan agar media cetak/elektronik memberi
kesempatan yang sama pada setiap pasangan calon untuk menyampaikan
tema dan materi kampanye. Selain daripada itu pemerintah daerah juga
diwajibkan memberi kesempatan yang sama pada setiap pasangan calon
untuk menggunakan fasilitas umum.
Pengaturan lainnya tentang kampanye adalah :
1. pasangan calon wajib menyampaikan visi misi dan program secara
lisan maupun kepada masyarakat.
2. penyampaian materi kampanye dilakukan dengan cara sopan, tertib
dan bersifat edukatif.
3. larangan kampanye antara lain menghasut atau mengadu domba
partai politik atau kelompok masyarakat dan menggunakan fasilitas
dan anggaran pemerintah dan pemerintah daerah serta melakukan
pawai arak-arakan yang dilakukan dengan berjalan kaki atau dengan
kendaraan di jalan raya.
4. Dalam kampanye pasangan calon atau tim kampanye dilarang
melibatkan PNS, TNI/Polri sebagai peserta kampanye dan juru
kampanye dalam pemilihan.

5
5. Pejabat negara yang menjadi calon kepala daerah dan wakil Kepala
daerah dalam melaksanakan kampanye tidak menggunakan fasilitas
yang terkait dengan jabatannya dan harus menjalankan cuti.
Di dalam pelaksanaan Pilkada pada yang waktu yang lalu permasalahan
yang timbul dan yang disengketakan adalah :
a) Adanya pasangan calon yang mencuri start kampanye;
b) Munculnya perbedaan penafsiran tentang pengertian “mencuri start
kampanye”, khususnya antara daerah yang satu dengan lainnya.
Sebagai contoh Panwaslih di Depok bertindak tegas dengan
menurunkan papan kampanye yang dipasang sebelum waktunya,
sebaliknya di Cilegon tidak dilakukan tindakan yang sama oleh
Panwaslih.
c) Kampanye dengan membagikan kitab suci yang ditulis nama dan
gambar pasangan calon menimbulkan protes dari masyarakat dan
pasangan calon lainnya.
d) Maraknya praktek “money politics” dalam bentuk pembagian uang
dan barang-barang yang bisa dikonversi ke uang, kepada para
peserta kampanye.
e) Masih dilakukannya arak-arakan, baik menuju atau sekembalinya dari
lokasi kampanye.
Oleh karena itu KPUD harus mengatur peraturan pelaksanaan kampanye
sesuai dengan kondisi daerah masing-masing agar tidak menjadi
permasalahan dalam pelaksanaannya dan juga perlu disepakati oleh
semua pasangan atau tim kampanye tata cara berkampanye yang
ditetapkan, hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi protes atau sengketa
dalam pelaksanaan kampanye, karena pengaturan mengenai kampanye
dalam Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 dan Peraturan Pemerintah
Nomor 6 Tahun 2005 berlaku secara umum

 Pemungutan dan Penghitungan Suara


Pemungutan suara pemilihan pasangan calon diselenggarakan paling
lambat 30 hari sebelum masa jabatan kepala daerah berakhir dan
dilakukan pada hari libur atau hari yang diliburkan. Untuk menentukan
hari yang diliburkan perlu mempertimbangkan kondisi daerah agar tidak
menghambat perekonomian dan pemilih dapat menggunakan hak pilihnya.
Begitu juga dalam menentukan hari pemungutan sauara agar
diperhitungkan pengadaan dan pendistribusian logistik agar betul-betul
siap, karena selambat-lambatnya 2 hari sebelum pemungutan suara sudah
sampai di PPS.
Penghitungan suara pemilih harus dilakukan dan selesai di TPS oleh KPPS,
dan dihadiri oleh saksi dari masing-masing pasangan calon, panitia
pengawas serta warga masyarakat. Pasangan calon dan warga
masyarakat melalui saksi pasangan calon dapat mengajukan keberatan
jalannya penghitungan suara KPPS apabila ternyata terdapat hal-hal yang

6
tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan, kemudian KPPS
seketika itu juga mengadakan pembetulan. Hasil penghitungan dari TPS
dalam Berita Acara dan Rekapitulasi Hasil Penghitungan Suara
disampaikan kepada PPS. Selanjutnya PPS selambat-lambatnya 3 hari
setelah menerima Berita Acara dan Rekapitulasi Hasil Penghitungan Suara,
menyerahkan kepada PPK. Begitu juga PPK setelah menerima Berita Acara
dan Rekapitulasi Penghitungan Suara selambat-lambatnya 3 hari
menyerahkan kepada KPUD, dan KPUD Kabupaten/Kota selambat-
lambatnya 3 hari setelah menerima berita acara dan rekapitulasi hasil
penghitungan suara dari PPK menetapkan hasil penghitungan suara dan
penetapan calon terpilih. Apabila pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur
KPUD Kabupaten/Kota menyampaikan kepada KPUD Provinsi berita acara
dan rekapitulasi hasil penghitungan suara.

 Penetapan Pasanagan Calon Terpilih dan Keberatan


Kepala daerah dan wakil kepala daerah yang memperoleh suara lebih dari
50% jumlah suara sah langsung ditetapkan sebagai pasangan terpilih.
Apabila perolehan suara itu tidak terpenuhi, pasangan calon yang
memperoleh suara terbesar lebih dari 25% dari suara sah dinyatakan
sebagai pasangan calon terpilih.
Dalam hal pasangan calon tidak ada yang memperoleh 25% dari jumlah
suara sah maka dilakukan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala
daerah putaran kedua. Pelaksanaan pemilihan putaran II dilaksanakan 60
hari setelah penetapan hasil penghitungan suara .
Pengajuan keberatan penetapan hasil penghitungan suara diajukan
kepada MA untuk pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur dan Pengadilan
Tinggi untuk pemilihan Bupati/Wakil Bupati dan Walikota/Wakil Walikota.
Mahkamah Agung atau Pengadilan Tinggi paling lambat 14 hari memutus
permohonan keberatan pada tingkat pertama dan terakhir, dan
putusannya bersifat final dan mengikat.
Keberatan terhadap hasil pemilihan hanya dapat diajukan oleh pasangan
calon berkenaan dengan hasil penghitungan suara yang mempengaruhi
terpilihnya pasangan calon dan diajukan paling lambat 3 (tiga) hari setelah
penetapan hasil akhir pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah.

 Pengesahan dan Pelantikan


Usul pengesahan terhadap pasangan calon kepala daerah dan wakil kepala
daerah terpilih dilakukan oleh KPUD setelah menetapkan pasangan calon
terpilih Kepala daerah dan Wakil Kepala daerah kepada DPRD, selanjutnya
DPRD selambat-lambatnya 3 hari sejak berkas hasil pemilihan diterima
dari KPUD, harus sudah menyampaikan usul pengesahan kepada
Presiden melalui Menteri Dalam Negeri untuk calon Gubernur dan wakil
Gubernur atau kepada Menteri Dalam Negeri kepada Gubernur untuk
calon Bupati/Wakil Bupati atau Walikota/ Wakil walikota.

7
Apabila Ketua DPRD berhalangan, penyampaian hasil dari KPUD
disampaikan oleh salah satu Wakil Ketua DPRD. Penyampaian hasil
penghitungan suara dan Penetapan Pasangan Calon Terpilih tersebut tidak
perlu dibahas dalam Sidang Paripurna DPRD.
Selanjutnya Pelantikan kepala daerah dan wakil kepala daerah terpilih
dilaksanakan dalam Sidang Paripurna Istimewa DPRD, dan Sidang
dimaksud tidak harus qourum.

Saudara-saudara yang saya hormati,


Berkenaan dengan hal tersebut untuk dapat terselenggaranya pelaksanaan
pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah secara langsung secara
tertib, aman dan demokratis, saya menghimbau :
1. Kepada penyelenggara Pilkada
 KPUD agar selalu menjaga netralitasnya agar tidak berpihak pada
pasangan calon tertentu, karena hal ini akan mendulang protes dari
berbagai pihak termasuk pasangan calon lain sehingga akan
mengganggu jalannya proses pemilihan Kepala Daerah dan wakil
kepala Daerah.
 Perlunya mewaspadai kemungkinan adanya eksodus pemilih, walaupun
dalam peraturan pemerintah telah ada persyaratan paling tidak 6
(enam) bulan sebelum ditetapkannya daftar pemilih sementara, pemilih
harus sudah berdomisili di daerah pemilihan dengan menunjukkan
kartu tanda penduduk atau identitas kependudukan lainnya.
 Agar Panitia Pengawas Pemilihan secara tegas mengetrapkan sanksi-
sanksi bagi pelanggaran tanpa pandang bulu, termasuk kemungkinan
pemrosesan secara hukum terhadap pemilih yang mengganggu proses
pemilihan Kepala Daerah secara langsung.
2. Kepada Sekretaris Daerah
 Agar menertibkan kegiatan-kegiatan kampanye yang bisa dianggap
mencuri start kampanye, antara lain pemasangan poster, spanduk,
selebaran-selebaran dll, yang dilakukan tanpa ijin pemerintah daerah.
 Agar memfasilitasi setiap permasalahan/ gangguan dalam proses
distribusi logistik pemilihan Kepala Daerah secara langsung baik dalam
kontek gangguan keamanan maupun kesulitan transportasi akibat
kondisi geografis yang sulit, dan lain-lain.
 Perlu mengantisipasi kemungkinan terjadinya bentrokan antar
pendukung pasangan calon pada saat pelaksanaan kampanye. Dalam
hal ini pengaturan jadwal kampanye antara KPUD, Parpol yang
mengusung pasangan calon dan jajaran aparat keamanan perlu selalu
dilakukan langkah koordinasi.
 Agar selalu melakukan sosialisasi yang terarah kepada masyarakat
sesuai koridor hukum dan perundang-undangan, sehingga masyarakat
paham tentang hak politik dan realitas politik yang ada dalam

8
membangun kehidupan demokrasi di Indonesia yang salah satu
instrumennya melalui Pilkada.
3. Kepada Panitia Pengawas
 Agar selalu menjaga netralitas dan tidak memihak terhadap salah satu
pasangan calon serta menindaklanjuti semua laporan yang masuk.

Demikian yang dapat saya sampaikan, semoga bermanfaat untuk


menyukseskan pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah secara
langsung oleh rakyat.
Sekian dan Terima Kasih.
Wassalamu’alaikum Warrahmatullahi Wabarakaatuh.

DIREKTUR JENDERAL OTONOMI DAERAH

KAUSAR AS