Anda di halaman 1dari 7

-

Sebuah Rahasia
Perasaan itu nyata ketika dia diungkapkan
Niee
Januari, 2011

Memulai sesuatu yang baru untuk menggantikan sesuatu yang lama dan sudah menjadi
kebiasaan itu memang sulit. Tapi efeknya akan terasa baik jika kita berani buat ngelakuinnya
Sebuah Rahasia
Oleh: Niee
Web: http://justniee.wordpress.com
Email: d2_dbez@yahoo.com

Lampu-lampu itu telah menyala. Ratusan penonton telah duduk di bangkunya masing-
masing sambil sesekali mengobrol ringan dengan teman yang ada disampingnya. Aku sendiri
sudah siap dibelakang state. Sudah dari beberapa jam yang lalu aku menyiapkan diri untuk
acara ini, bahkan kalau diurut lagi perjalanan aku sangat panjang hingga bisa berada di sini.
Karena itu aku ingin semua ini berjalan dengan sempurna.
Hari ini aku mengenakan gaun pesta berwarna hitam. Rambutku yang pendek telah
disasak sedemikian rupa hingga terlihat lebih indah. Aku juga mengenakan highheels 12
centimeter hingga badanku yang telah tinggi ini melonjak semakin tinggi saja.
Dari kejauhan aku melihat kedua orangtuaku, ayah dan ibuku yang duduk di kursi
VIP. Ibuku tampak menahan haru dan sesekali meneteskan air mata, ayahku terlihat lebih
cuek namun tidak bisa menutupi perasaannya yang kacau, namun tetap tampak ingin
mensupportku dari dekat malam ini. Aku tahu bagaimana sulitnya mereka berdua menerima
keputusanku ini tapi akhirnya mendukungku hingga hari ini.
Di sudut jauh ruangan aku melihat Reza, laki-laki yang selama ini sangat aku kagumi.
Kedatangannya malam ini membuat kepercayaan diriku makin tingi dan tinggi. Walaupun dia
telah menolakku secara halus tapi tidak membuatku kecewa karenanya. Keterbukaannya
untuk tetap mau berteman denganku lebih dari apapun yang aku harapkan darinya.
Ini adalah malamku, ini adalah hariku, ini adalah momen kebangkitanku menjadi
diriku sendiri.
“Siap-siap Din, bentar lagi giliran kita keluar,” ucap temanku mengingatkan.
“Sekarang!”
Aku berjalan keluar, sinar lampu sorot dan beberapa blitz kamera langsung saja
menghujaniku tiada hentinya. Ratusan pasang mata tak lepas-lepas memperhatikanku dari
ujung rambut hingga ujung kakiku. Mimpiku telah menjadi kenyataan. Namun perjalanan
hidupku tidak sampai di sini, karena ini adalah awal. Perjalanan hidupku masih panjang, dan
mungkin lebih berat dari yang aku jalani selama ini. Tapi paling tidak, aku telah menjadi
diriku sendiri. Sampai saat ini, itu sudah lebih dari cukup.

***

Gerombolan remaja cewek itu memasuki salah satu toko pernak-pernik di sebuah mall
di pusat kota Pontianak dan mulai memilih-milih barang-barang yang disediakan di sana.
Perempuan yang lebih tinggi sedang memilih beberapa gelang dan kalung di salah satu sudut
toko, sedangkan sisanya lebih memilih untuk melihat-lihat peralatan kosmetik keluaran
terbaru tahun ini sambil sesekali tertawa entah apa yang sedang diperbincangkannya.
Aku selalu iri dengan pemandangan seperti ini, pemandangan yang melihatkan
segerombol cewek yang bersenang-senang dengan temannya untuk membeli sesuatu atau
hanya sedekar ngobrol menggosipkan orang-orang di kafe sambil minum kopi dan browsing
internet.
“Hey Dian! Lo ngapain termenung sendiri,” ucap Reza mengagetkanku.
Aku menoleh sedikit kearah Reza dan tersenyum. Walaupun aku tidak mempunyai
teman-teman cewek untuk diajak belanja atau sedekar mengobrol, tapi aku mempunyai Reza,
cowok yang selama ini aku sukai, tapi tak pernah berani untuk aku mengakuinya, karena satu
alasan. Satu alasan yang menggangguku selama ini, yang membuatku seperti bukan menjadi
diriku sendiri.
“Gue lagi mandangin cewek-cewek itu,” ucapku jujur.
“Hahahaha, lo emang gak pernah berubah Yan, selalu aja suka meratiin gerombolan
cewek.”
Saat-saat inilah yang paling indah dalam hidupku. Berjalan berdua dengan Reza dan
memandangnya tertawa lepas. Reza Saputra, cowok dingin yang selalu menghindari cewek-
cewek cantik yang banyak mengejarnya, cowok pintar tapi tidak pernah menggunakan
kepintarannya, dan cowok yang cuek dengan penampilannya dan membiarkan rambutnya
memanjang tak tertata tapi tak menutupi wajah aslinya yang luar biasa tampan. Dan aku,
masuk kedalam sedikit orang yang bisa dekat dengan dia, aku sedikit beruntung.

***

“Lo belum jujur ke Reza bahwa lo suka sama dia?” Tanya Ditto ketika aku berjalan
berdua dengannya.
Ditto adalah satu-satunya orang yang tahu segalanya tentangku. Tentang rahasia
terdalamku yang sangat kelam, yang membuat aku malu kepada diriku sendiri, yang mebuat
aku benci kepada diriku sendiri. Tapi jauh dari itu, aku tetap tidak bisa menghilangkannya,
aku ingin menjadi diriku ini apa adanya.
“Lo fikir itu semudah nembak anak SMP,” ucapku dingin.
Walaupun aku sudah jujur kepada Ditto, tapi masalah ini bukanlah sesuatu yang suka
untuk aku bahas. Ini terlalu sensitif untukku.
“Gue cuma mikir aja, selama ini dia selalu mau jalan berdua sama lo. Dia yang dingin
dengan cewek-cewek tapi baik banget sama lo. Apa lo gak penasaran kalau-kalau dia juga
suka sama lo Yan?”
Aku tak menjawab. Jauh di dalam lubuk hatiku juga pernah berfikir seperti yang
diucapkan Ditto tadi, bahkan aku pernah sangat berharap bahwa Reza juga menyukaiku, juga
memendam suatu perasaan untukku seperti aku yang menyukainya. Tapi..
“Gak mungkin! Gue merasa Reza itu cuma nganggap gue sebagai temannya, gak
lebih. Dan gue gak mau merusak ini hanya karena perasaan gue sama dia,” ucapku, lebih
kepada diriku sendiri.
“Ya udah, kalau gitu, cepatan tuh pilih kosmetiknya, gue udah gak betah lama-lama
ditoko beginian.”
Setengah jam kemudian aku sudah membeli seperangkat makeup lengkap, mulai dari
bedak, alas bedak, lipstick, blush on, eyes shadow, eyes liner, mascara dan parfum Victoria
kesukaanku. Memasukkan semuanya kedalam tas ransel dan menutupnya rapat-rapat,
kemudian berjalan mengikuti Ditto yang sedari tadi sudah menunggu diluar.
“Yuk, kita pulang.”
“Sesuai perintah putri,” ucapnya dengan suara yang khas Ditto yang sangat aku sukai.

***

Pagi itu secerah pagi-pagi sebelumnya. Matahari bagaikan sedang berlomba dengan
manusia untuk bangun pagi dan memancarkan cahayanya. Pukul setengah 6 pagi langit sudah
terang benderang bagai ingin menyindir manusia yang masih betah di balik selimutnya.
Aku seperti biasa melakukan rutinitas pagiku, mengecek twitter dengan cepat
kemudian mandi dengan busa melimpah sabun kesukaanku. Kupastikan tak satu millimeter
bagianpun di tubuhku yang terlewatkan untuk kubersihkan. Rambut, kuku dan wajahku juga
tidak luput dari perhatianku. Yang aku mau adalah kesempurnaan. Kesempurnaan yang
seketika hilang ketika pagi itu ayahku masuk kedalam kamarku.
“Apa-apaan ini Dian?”
Ayah memegang peralatan makeupku, disampingnya tergeletak tas ranselku yang
isinya sudah acak-acakan. Bibirnya bergetar, bagai ingin bicara banyak namun berusaha
ditahannya. Hanya tatapan matanya yang lurus mengarah kedalam mataku yang membuat
lututku lemas hingga terjatuh kelantai kamar.
Beberapa menit kemudian aku melihat ibu memasuki kamarku, memandangi aku,
ayah dan ranselku bergantian sambil menutup mulutnya. Matanya yang indah seketika
memerah dan air menggenang di dalamnya.
“D-dian, k-kamu?” Tanya ibuku terbata-bata dan tak bisa menyelesaikan kalimatnya.
Aku tak bisa melihat semua ini, aku tidak tahan. Dua orang yang ada dihadapanku
adalah orang yang paling aku sayangi. Dua orang yang paling aku jaga perasaannya, dan dua
orang yang karena mereka aku menahan diri sampai sekarang untuk tidak membongkar sisi
burukku yang paling kelam.

***

Langit kampus bulan Januari secerah biasanya, namun kecerahan itu bagai
menertawakan aku tentang betapa bodohnya aku selama ini. Menutupi diri karena malu
dengan diri sendiri. Tidak melakukan sesuatu karena ketakutan atas kegagalan. Bahkan orang
yang gagal rasanya lebih baik dibanding orang yang tidak mau mencoba seperti aku.
“Sekarang waktu yang tepat buat jujur sama Reza tentang perasaan lo. Sebelum dia
tahu dari orang lain,” ucap Ditto yang sedari tadi menemaniku.
Dia benar, tidak ada waktu yang lebih baik lagi dari sekarang. Jika aku menunda-
nundanya lagi malah akan menjadi kebusukan dalam hubunganku ke Reza. Tapi, tentu ini
bukan sekedar mengungkapkan perasaan seperti layaknya anak SMA yang sedang jatuh cinta.
Ini lebih mengungkapkan perasaan dan jati diri.
“Gue tahu ini pasti sulit buat lo, memulai sesuatu yang baru untuk menggantikan
sesuatu yang lama dan sudah menjadi kebiasaan itu memang sulit. Tapi efeknya akan terasa
baik jika lo berani buat ngelakuinnya,” ucap Ditto yang dapat membaca ekspresi ketakutan
dan kegelisahan dari mimic wajahku.
“Gue ragu.”
“Itu pasti, tapi lo harus ngelakuinnya. Itu Reza, REZA!”
Reza tepat berjalan melintas di depan tempatku duduk bersama Ditto. Tampilannya
masih seperti biasa, dengan rambut acak-acakan dan setelan kaos dan celana jins yang sedikit
sobek dibagian lutut. Tampak dia berusaha menjahit sendiri sobekan tersebut yang membuat
bukannya bertambah rapi tapi malah terlihat aneh.
Melihat Ditto dan aku senyumnya mengembang seperti biasa, manis dan membuat
hatiku berdetak kencang tak karuan. Senyumnya yang membutakan hatiku, yang bisa
membuat aku melakukan segala sesuatu asal dapat melihat senyum itu berkembang untukku,
dan hanya untukku.
“Lo gila manggil dia kesini!” ucapku kesal pada Ditto.
Ditto hanya tersenyum dan kemudian berdiri berjalan kearah Reza. Sebelum pergi dia
membisikkan sesuatu yang membuat Reza terkejut dan berbalik menatapku dengan
pandangan curiga.
Ditto bangsat! Ucapku dalam hati.
“Lo jangan percaya sama Ditto, dia itu pembohong!” ucapku ketika Reza sudah dalam
radius untuk mendengar ucapanku.
“Memangnya Ditto bilang apa?” tanya Reza sambil memandangku dengan penuh
makna. Aku sendiri tidak bisa menebak apa maksud dari pandangan itu.
“Memangnya Ditto bilang apa?” aku balik bertanya.
Reza tersenyum. Dia tidak langsung menjawab. Matanya menjelajahi setiap sudut
bagian wajahku yang membuat aku salah tingkah. Apa yang dia cari dalam wajahku?
“Ditto bilang, lo mau ngomong sesuatu yang penting ke gue,” ucap Reza kemudian.
Aku tertegun. Mulutku terasa terunci. Kepalaku berasa di bebani berton-ton besi yang
membuat pandanganku sedikit kabur dan terasa pusing. Ditto memang brengsek, ngapain
juga dia bilang seperti itu ke Reza.
“G-gue, s-sebenarnya gue.”
Reza menunggu. Seperti biasa ketika aku tidak bisa mengungkapkan fikiranku dengan
kalimat yang tepat, dia selalu menunggu. Menungguku siap dengan apa yang ingin aku
ucapkan, tanpa pernah ada paksaan agar aku cepat melakukannya. Reza yang seperti biasa
selalu baik terhadapku, dan aku tahu aku tidak bisa membohonginya terus menerus seperti
ini.
“Kalau lo belum siap buat ngomong jangan dipaksain,” ucap Reza sambil menepuk
pundakku. “Gue ada kelas sebentar lagi. Gue cabut dulu ya.”
“Reza tunggu!”
Tubuh itu berbalik, mata itu menatap tepat kedalam mataku, bibir itu terkatup rapat
yang menandakan dia sedang menunggu, sedang menunggu lawan bicaranya untuk bersuara,
dan aku tidak boleh membuat dia menunggu terlalu lama.
“G-gue. Gue suka sama lo.”
Aku menelan ludah yang rasanya sudah banyak tertampung di dalam rongga mulut
ini. Akhirnya, akhirnya aku mengatakannya. Rahasia yang selama ini aku pendam lama
akhirnya tersampaikan.
Kepalaku tertunduk, bukan, bukan karena lemas. Tapi jauh karena aku tidak sanggup
untuk melihat wajah Reza yang entah sekarang bagaimana dia memandang aku. Apakah dia
menjadi benci kepadaku?
Namun tak apalah, yang penting aku tidak lagi membohonginya terus menerus.
Walaupun konsekuensinya adalah aku tidak bisa lagi dekat atau bahkan melihatnya.

***

Malam itu guntur petir menyambar diseluruh penjuru kota Pontianak. Jalanan tampak
sepi, hanya sebuah mobil kijang tua melaju dengan kecepatan tinggi bagai ingin mengejar
kecepatan kilat.
Di depan sebuah klinik bersalin mobil itupun berenti. Tergopoh-gopoh seorang lelaki
paroh baya membuka pintu belakang mobilnya dan membantu istrinya yang tengah hamil tua
keluar dari mobil.
Melihat suami-istri tersebut seorang suster langsung membantu sang suami
membopong istrinya untuk masuk kedalam kamar bersalin. Tak lama kemudian sang
dokterpun masuk kedalam ruangan. Rambutnya yang putih dan wajahnya yang penuh dengan
keriput menandakan bahwa dia sudah berpengalaman menghadapi kondisi seperti ini.
“Bapak silahkan tunggu diluar,” ucapnya dengan tenang kepada sang suami.
Dengan langkah gontai sang suami itupun keluar dari ruangan. Bermenit-menit
berlalu tanpa matanya yang lepas dari pintu kamar bersalin. Perasaannya bercampur aduk
antara cemas dan penasaran.
Tak lama kemudian suara tangisan bayipun terdengar dari balik dinding ruangan.
Seorang suster keluar dari balik pintu dengan wajah tersenyum puas. Sebuah senyuman yang
mengartikan banyak hal, yang membuat lega bagi sang suami.
“Selamat Pak, anak anda laki-laki,” ucap sang suster.
“Dian, nama anakku adalah Dian Perdana.”