Anda di halaman 1dari 10

BUDAYA DEMOKRASI

BAB I
Pendahuluan

Latar Belakang
Pada masa sekarang ini, banyak negara mulai menerapakan budaya demokrasi di
kehidupan bernegara Negara tersebut. Dan dalam penerapannya budaya demokrasi
berkembang menjadi sistem demokrasi. Sistem demokrasi banyak diterapkan di berbagai
Negara karena negara-negara tersebut ingin mewujudkan kesejahteraan dan kemakmuran
rakyatnya. Dengan adanya pelaksanaan sistem ini berarti penyelenggaraan pemerintahan
disesuaikan dengan kehendak rakyat. Dan rakyat diperbolehkan untuk ikut terlibat dalam
proses penyelenggaraan pemerintahaan. Keterlibatan rakyat bisa direalisasikan dengan cara
aktif terjun ke dunia politik, orgnisasi masyarakat, mengikuti pemilu, menyampaikan
pendapat maupun kritik yang bersifat membangun. Dengan kata lain, dalam sistem
demokarasi rakyatlah yang berkuasa dan menentukan tujuan negara.
Dari wacana tersebut memunculkan beberapa pertanyaan yang telah saya golongkan
kedalam rumusan masalah. Dan menjawab pertanyaan tersebut adalah tujuan dari laporan ini.
BAB II
Isi
2.1 Rumusan Masalah
1. Apakah peranan budaya demokrasi dalam mewujudkan masyarakat
madani ?
2. Mengapa pemilu menjadi sarana pelaksanaan budaya demokrasi ?
3. Apa hambatan/tantangan suatu negara dalam pelaksanaan
demokrasi ?
2.2 Pembahasan
1. Peranan Budaya Demokrasi dalam Mewujudkan Masyarakat
Madani
Sebelum mengetahui apa peranan budaya demokrasi dalam mewujudkan
masyarakat madani. Terlebih dahulu harus diketahui apa itu budaya demokrasi dan
masyarakat madani beserta hubungan antara keduanya.
a. Pengertian Budaya Demokrasi
Kata budaya demokrasi berasal dari 2 kata, yakni Budaya dan Demokrasi. Kata
budaya berasal dari bahasa Sanskerta, yaitu budi (akal) dan daya (kemampuan) yang
berarti kemampuan akal manusia. Sedangkan kata demokrasi berasal dari bahasa
Yunani, yaitu demos yang artinya rakyat dan kratos atau cratein yang artinya
pemerintahan. Dengan demikian, secara bahasa demokrasi adalah keadaan negara di
mana kedaulatan atau kekuasaan tertingginya berada di tangan rakyat. Jadi, budaya
demokrasi adalah hasil dari suatu proses dimana setiap manusia memiliki pemikiran
dan kemampuan melakukan tindakan politik yang didasarkan pada penghargaan
terhadap persamaan hak, kebebasan, keteraturan bersama dan keragaman.
b. Pengertian Masyarakat Madani
Istilah masyarakat madani dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah civil
society pertama kali dikemukan oleh Cicero dalam filsafat politiknya dengan istilah
societies civilis yang identik dengan negara. Dalam perkembangannya istilah civil
society dipahami sebagai organisasi-organisasi masyarakat yang terutama bercirikan
kesukarelaan dan kemandirian yang tinggi berhadapan dengan negara serta keterikatan
dengan nilai-nilai atau norma hukum yang dipatuhi masyarakat. Atau dengan kata lain
masyarakat madani adalah sebuah kelompok atau tatanan masyarakat yang berdiri
secara mandiri di hadapan penguasa dan negara, memiliki ruang publik (public sphere)
dalam mengemukakan pendapat, dan memiliki lembaga-lembaga yang mandiri yang
dapat menyalurkan aspirasi dan kepentingan publik.
Karakteristik masyarakat madani adalah sebagai berikut :
1. Free public sphere (ruang publik yang bebas), yaitu masyarakat memiliki
akses penuh terhadap setiap kegiatan publik, mereka berhak melakukan
kegiatan secara merdeka dalam menyampaikan pendapat, berserikat,
berkumpul, serta mempublikasikan informasikan kepada publik.
2. Demokratisasi, yaitu proses untuk menerapkan prinsip-prinsip demokrasi
sehingga muwujudkan masyarakat yang demokratis. Untuk menumbuhkan
demokratisasi dibutuhkan kesiapan anggota masyarakat berupa kesadaran
pribadi, kesetaraan, dan kemandirian serta kemampuan untuk berperilaku
demokratis kepada orang lain dan menerima perlakuan demokratis dari orang
lain. Demokratisasi dapat terwujud melalui penegakkan pilar-pilar demokrasi
yang meliputi :
(1) Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM)
(2) Pers yang bebas
(3) Supremasi hukum
(4) Perguruan Tinggi
(5) Partai politik
3. Toleransi, yaitu kesediaan individu untuk menerima pandangan-pandangan
politik dan sikap sosial yang berbeda dalam masyarakat, sikap saling
menghargai dan menghormati pendapat serta aktivitas yang dilakukan oleh
orang/kelompok lain.
4. Pluralisme, yaitu sikap mengakui dan menerima kenyataan mayarakat yang
majemuk disertai dengan sikap tulus, bahwa kemajemukan sebagai nilai positif
dan merupakan rahmat dari Tuhan Yang Maha Kuasa.
5. Keadilan sosial (social justice), yaitu keseimbangan dan pembagian yang
proporsiaonal antara hak dan kewajiban, serta tanggung jawab individu
terhadap lingkungannya.
6. Partisipasi sosial, yaitu partisipasi masyarakat yang benar-benar bersih dari
rekayasa, intimidasi, ataupun intervensi penguasa/pihak lain, sehingga
masyarakat memiliki kedewasaan dan kemandirian berpolitik yang
bertanggungjawab.
7. Supremasi hukum, yaitu upaya untuk memberikan jaminan terciptanya
keadilan. Keadilan harus diposisikan secara netral, artinya setiap orang
memiliki kedudukan dan perlakuan hukum yang sama tanpa kecuali.

Substansi civil society mencangkup lembaga-lembaga atau kelompok-


kelompok yang sangat luas baik formal maupun non formal yang meliputi bidang
ekonomi, kebudayaan, keagamaan, pendidikan dan informasi, kelompok
kepentingan (interest group), kelompok penekan (pressure group), pembangunan
atau organisasi kemasyarakatan lainnya. Menurut Hikam ada empat ciri utama
masyarakat madani, yaitu sebagai berikut :

1. Kesukarelaan, artinya tidak ada paksaan, namun mempunyai komitmen


bersama untuk mewujudkan cita-cita bersama.
2. Keswasembadaan, artinya setiap anggota mempunyai harga diri yang tinggi,
kemandirian yang kuat tanpa menggantungkan pada negara, atau lembaga atau
organisasi lain.
3. Kemandirian tinggi terhadap negara, artinya masyarakat madani tidak
tergantung pada perintah orang lain termasuk negara.
4. Keterkaitan pada nilai-nilai hukum, artinya terkait pada nilai-nilai hukum yang
disepakati bersama.

Di indonesia sendiri masyarakat madani sudah ada, ciri khas masyarakat


madani Indonesia adalah sebagai berikut :

1. Kenyataan adanya keragaman budaya Indonesia yang merupakan dasar


pengembangan identitas bangsa Indonesia dan kebudayaan nasional.
2. Pentingnya saling pengertian di antara sesama anggota masyarakat.
3. Ada toleransi yang tinggi.
4. Adanya kepastian hukum.
c. Hubungan antara Masyarakat Madani dengan Budaya Demokrasi
Hubungan antara masyarakat madani dengan demokrasi (demokratisasi)
menurut M. Dawam Rahadjo, bagaikan dua sisi mata uang. Keduanya bersifat ko-
eksistensi atau saling mendukung. Hanya dalam masyarakat madani yang kuatlah
demokrasi dapat ditegakkan dengan baik dan hanya dalam suasana demokratislah
masyarakat madani dapat berkembang secara wajar. Nurcholish Madjid memberikan
penjelasan mengenai keterkaitan antara masyarakat madani dengan demokratisasi.
Menurutnya, masyarakat madani merupakan tempat tumbuhnya demokrasi. Pemilu
merupakan simbol bagi pelaksanaan demokrasi. Masyarakat madani merupakan
elemen yang signifikan dalam membangun demokrasi. Salah satu syarat penting bagi
demokrasi adalah terciptanya partisipasi masyarakat dalam proses-proses pengambilan
keputusan yang dilakukan oleh negara atau pemerintahan. Masyarakat madani
mensyaratkan adanya civic engagement yaitu keterlibatan warga negara dalam
asosiasi-asosiasi sosial. Civic engagement ini memungkinkan tumbuhnya sikap
terbuka, percaya, dan toleran antara satu dengan lainnya. Masyarakat madani dan
demokrasi menurut Ernest Gellner merupakan dua kata kunci yang tidak dapat
dipisahkan. Demokrasi dapat dianggap sebagai hasil dinamika masyarakat yang
menghendaki adanya partisipasi.
Dengan demikian peranan budaya demokrasi dalam mewujudkan masyarakat
madani adalah dengan adanya budaya demokrasi dalam suatu negara berarti dalam
negara tersebut setidaknya sudah ada penerapan beberapa prinsip demokrasi karena
masyarakat madani akan terwujud apabila suatu masyarakat telah menerapkan prinsip-
prinsip demokrasi dengan baik.
Adapun prinsip-prinsip demokrasi adalah sebagai berikut.
a. Pembagian kekuasaan
b. Pemerintahan konstitusional
c. Prinsip negara hukum (rule of law)
d. Prinsip mayoritas
e. Pemerintah dengan diskusi
f. Pemilu yang demokratis
g. Sistem dwipartai/multipartai
h. Manajemen terbuka
i. Pers yang bebas
j. Pengkuan terhadap hak-hak minoritas
k. Jaminan akan hak-hak asasi manusia
l. Peradilan yang bebas dan tidak memihak
m. Pengwasan terhadap administrasi negara
n. Mekanisme politik yang berubah antara kehidupan politik masyarakat
dan kehidupan politik pemerintah
o. Kebijakan negara dibuat oleh badan perwakilan politik tanpa adanya
paksaan dari badan lain
p. Penempatan pejabat-pejabat dalam pemerintahan dengan merit system
bukan spoil system
q. Penyelesaian permasalahan secara damai atau secara kompromi
r. Jaminan terhadap kebebasan indovidu dalam batas-batas tertentu
s. Konstitusi/Undang-Undang/Undang-Undang Dasar yang demokratis
t. Persetujuan (konsensus)
Untuk mewujudkan suatu budaya demokrasi yang baik, suatu negara harus
mengatasi berbagai tantangan. Tantangan tersebut, yaitu :
a. Politik uang sebagai tantangan utama dalam membangun budaya
demokrasi. Politik uang merusak budaya demokrasi dan menggerus kultur
organisasi. Bahkan, politik uang akan menjerumuskan ke dalam pragmatisme
negatif dalam bentuknya yang paling telanjang. Politik uang, yang menihilkan
meritokrasi, akan mengubur semangat berprestasi.
b. Patronase merupakan bom waktu karena kepentingan dan
kelangsungan hidup orang banyak ditumpukan semata kepada figur yang kuat.
Tidak perlu diingkari adanya kelompok yang meraup keuntungan dari situasi
paternalistik di dalam suatu kelompok atau organisasi. Masyarakat perlu diajak
dan dididik untuk percaya pada sistem dan cita-cita, bukan semata-semata pada
orang. Figur yang kuat harus secara sadar dilembagakan menjadi kekuatan
sistem. Pada saat yang sama, figur yang besar dan kuat mesti didorong untuk
membangun sistem yang mapan.
c. Adanya semangat sub-nasionalisme yang begitu kuat. dinamai “sub-
nasionalisme” karena masalahnya bukan semata semangat kedaerahan sempit,
fanatisme beragama, atau identitas kelompok kepentingan yang begitu kuat,
namun kecenderungan untuk mengaktualkan identitas dan kepentingan entitas
yang lebih kecil atas ongkos identitas dan kepentingan bangsa. Sejalan dengan
perlunya membangun sistem dan meritokrasi, ke depan sudah tidak perlu lagi
ada prasangka primordialitas dalam pengelolaan kehidupan politik. Siapa saja
bisa jadi gubernur Jakarta, dan bukan tidak mungkin orang dari Papua akan
menjadi presiden Indonesia. Dalam sosiologi dikenal berbagai jenis status
yang menentukan posisi seseorang dalam suatu bagunan struktur dan interaksi
sosial. Dua di antaranya adalah“ascribed status” dan “achieved status.”
Ascribed status adalah status sosial yang melekat pada seseorang karena
kelahiran atau afiliasi keturunan. Status ini tidak dapat dipilih atau diraih oleh
seseorang namun “terberi” oleh keadaan. Sebaliknya, achieved status adalah
posisi sosial yang diperoleh melalui usaha dan kemampuan seseorang (merit).
Kedua kategori status tersebut akan terus hadir dalam masyarakat. Yang
menjadi tantangan bagi budaya demokrasi adalah ketika ascribed status
menjadi lebih penting dan determinan dibanding achieved status dalam
masalah-masalah yang membutuhkan akuntabilitas. Lagi-lagi, ini masalah
yang akan mengerdilkan meritokrasi dan kompetisi.
d. Faktor-faktor di atas menciptakan sistem dan budaya meritokrasi yang
lemah. Bukan tidak mungkin orang akan mengalami disinsentif mewujudkan
kemampuannya (merit) ketika yang dihargai dalam suatu kelompok adalah
faktor-faktor non-meritokratis, seperti uang dan ascribed status. Masalah yang
berkaitan dengan lemahnya meritokrasi.
e. Tantangan terhadap budaya demokrasi yang tidak kalah pentingnya
adalah adanya kecenderungan “zero sum game” di dalam persaingan politik.
Dalam pemikiran kalah-menang dan “winner takes all” yang hitam putih
seperti itu, yang menang tidak bisa atau tidak mau menerima yang kalah; dan
yang kalah tidak mampu menghormati yang menang. Yang dirugikan dari
situasi ini adalah hilangnya potensi sinergi dari dua pihak yang tentu memiliki
kemampuan dan sumber daya yang patut diperhitungkan.
2. Pemilu Sebagai Sarana Pelaksanaan Budaya Demokrasi
Pemilu menjadi sarana pelaksanaan budaya demokrasi karena pemilu
(pemilihan umum) termasuk dalam prinsip-prinsip demokrasi secara universal dimana
pemilu disini harus dilaksanakan secara demokratis. Disamping itu, pemilu juga
sebagai wujud adanya kedaulatan rakyat dan dengan demikian berarti ada pengkuan
terhadap HAM. Pemilihan umum merupakan sarana politik untuk mewujudkan
kehendak rakyat dalam hal memilih wakil-wakil mereka di lembaga legislatif serta
memilih pemegang kekuasaan eksekutif baik itu presiden/wakil presiden maupun
kepala daerah. Budaya demokrasi pada dasarnya diterapkan dan dikembangkan untuk
mewujudkan sutau negara yang demokratis. Dan salah satu ciri negara demokratis
adalah terselenggaranya kegiatan pemilihan umum yang bebas.
Pemilu diselenggarakan untuk mewujudkan gagasan kedaulatan rakyat atau
sistem pemerintahan demokrasi. Karena rakyat tidak mungkin memerintah secara
langsung, maka diperlukan cara untuk memilih wakil yang akan mewakili rakyat
dalam memerintah suatu negara selama jangka waktu tertentu. Adapun dasar
pemilihan umum adalah :
1. Cara pengisian lembaga permusyawaratan/perwakilan yang sesuai dengan asas
demokrasi Pancasila ialah melalui pemilu
2. Pemilu merupakan sarana yang bersifat demokrasi untuk membentuk sistem
kekuasaan negara yang berkedaulatan rakyat
3. Kekuasaan negara yang lahir dengan pemilu adalah kekuasaan yang lahir
menurut kehendak rakyat dan dipergunakan sesuai dengan keinginan rakyat dan
oleh rakyat menurut sistem perwakilan
Dalam pelaksanaannya pemilu harus dilaksanakan secara langsung,
umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil sesuai dengan Pasal 22 E Ayat 1 UUD
1945. Berdasarkan hal tersebut, dapat disimpulkan bahwa makna pemilihan
umum dikaitkan dengan prinsip-prinsip demokrasi adalah :
1. pemilihan umum adalah pelaksanaan demokrasi pancasila secara konkret
2. pemilu merupakan suatu sarana untuk memilih wakil-wakil rakyat di lembaga
permusyawaratan/perwakilan yang harus membawa suara hati nurani rakyat
3. pemilu adalah salah satu aktivitas melakukan pemilihan anggota badan
perwakilan rakyat oleh seluruh rakyat pada waktu dan cara-cara tertentu, serta bagi
yang sudah memenuhi syarat
4. pemilihan umum merupakan suatu sarana yang penggunaanya tidak boleh
mengakibatkan rusaknya sendi-sendi demokratis, tetapi harus menjamin suksesnya
perjuangan reformasi dan suksesnya pembangunan nasional serta tetap lestarinya
Pancasila dan UUD 1945
5. pemilu adalah pelaksanaan kedaulatann rakyat
6. pemilu merupakan pelaksanaan hak politik warga negara berdasarkan asas
luber dan jurdil
Pada pemerintahan yang demokratis, pemilihan umum merupakan pesta
demokrasi. Secara umum tujuan pemilihan umum adalah :
1. Melaksanakan kedaulatan rakyat
2. Sebagai perwujudan hak asas politik rakyat
3. Untuk memilih wakil-wakil rakyat yang duduk di lembaga legislatif serta
memilih Presiden dan wakil Presiden.
4. Melaksanakan pergantian personel pemerintahan secara aman, damai, dan
tertib.
5. Menjamin kesinambungan pembangunan nasional
Pemilu mempunyai 3 fungsi utama, yaitu :
1. Pemilu sebagai sarana memilih pejabat publik (pembentukan pemerintahan)
2. Pemilu sebagai saran pertanggungjawaban pejabat publik
3. pemilu sebagai sarana pendidikan politik rakyat
Tidak semua penyelenggaraan pemilu dapat mewujudkan fungsi-fungsi
pokok tersebut sehingga layak disebut pemilu demokratis. Pemilu hanya dapat
disebut pemilu demokratis apabila memenuhi karakteristik tertentu. Menurut
Austin Ranney, ada 8 kriteria pokok bagi pemilu demokratis, yakni :
1. Hak pilih umum
2. Kesetaraan bobot suara
3. Tersedianya pilihan yang signifikan
4. Kebebasan nominasi
5. Persamaan hak kampanye
6. Kebebasan dalam memberikan suara
7. Kejujuran dalam penghitunga suara
8. Penyelenggaraan secara periodik
Berikut ini pelaksanaan pemilu di Indonesia berdasarkan urutan waktu :
1. Pemilihan Umum Pertama dilaksanakan tanggal 29 September 1955 untuk
memilih anggota parlemen (DPR), tanggal 15 Desember 1955 untuk memilih
anggota Dewan Konstituante. Diikuti 28 partai politik.
2. Pemilihan Umum Kedua dilaksanakan pada tanggal 3 Juli 1971 yang
diikuti sebanyak 10 partai politik.
3. Pemilihan Umum Ketiga dilaksanakan pada tanggal 4 Mei 1977 yang
diikuti oleh dua Parpol dan satu Golkar. Hal ini dikarenakan terjadi fusi parpol dari
10 parpol peserta pemilu 1971 disederhanakan menjadi 3 dengan ketentuan
sebagai berikut.
a. Partai yang berhaluan spiritual material fusi menjadi PPP (Partai Persatuan
Pembangunan)
b. Partai yang berhaluan material-spriritual fusi menjadi PDI (Partai
Demokrasi Indonesia)
c. Dan partai yang bukan keduanya menjadi Golkar (Golongan Karya).
4. Pemilihan Umum Keempat dilaksanakan pada tanggal 2 Mei 1982.
5. Pemilihan Umum Kelima dilaksanakan pada tanggal 23 April 1987.
6. Pemilihan Umum Keenam dilaksanakan pada tanggal 6 Juni 1992, peserta
pemilu masih dua parpol (PPP dan PDI) serta satu Golongan Karya.
7. Pemilihan Umum Ketujuh dilaksanakan pada tanggal 29 Mei 1997. Peserta
pemilu adalah PPP, Golkar, dan PDI. Jumlah anggota DPR 500 orang dan anggota
MPR 1.000 orang dengan rincian sebagai berikut.
a. Unsur ABRI 75 orang
b. Utusan Daerah 149 orang
c. Imbangan susunan : anggota MPR 251 orang
utusan golongan 100 orang
Jumlah 1.000 orang
8. Pemilihan Umum Kedelapan (Era Reformasi) dilaksanakan pada tanggal 7
Juni 1999 yang diikuti sebanyak 48 partai politik. Pada pemilu ini telah terpilih
jumlah anggota DPR sebanyak 500 orang dan jumlah anggota MPR sebanyak 700
orang dengan rincian DPR dipilih 462 orang, DPR unsur TNI/Polri 38 orang,
utusan daerah 135 orang, dan utusan golongan 65 orang.
9. Pemilihan Umum Kesembilan dilaksanakan tanggal 5 April 2004 yang
diikuti 24 partai politik. Ini telah terjadi penyempurnaan pemilu, yakni pemilu
dilaksanakan untuk memilih anggota DPR, DPD, DPRD Provinsi, DPRD
Kabupaten/Kota serta memilih presiden dan wakil presiden.

3. Hambatan/Tantangan Suatu Negara dalam Pelaksanaan


Demokrasi
Setiap negara pasti ingin menerapkan demokrasi di negaranya. Pada
hakikatnya demokrasi adalah kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan
dalam permusyawaratan/perwakilan. Kerakyatan adalah kekuasaan tertinggi yang
berada di tangan rakyat. Hikmah kebijaksanaan adalah penggunaan akal pikiran atau
rasio yang sehat dengan selalu mempertimbangkan persatuan dan kesatuan bangsa.
Permusyawaratan adalah tata cara khas kepribadian Indonesia dalam merumuskan dan
memutuskan sesuatu hal berdasarkan kehendak rakyat sehingga mencapai mufakat.
Banyak orang Indonesia menghendaki demokrasi sejak ada pergerakan
kebangsaan pada permulaan Abad ke 20. Makin banyak orang Indonesia mengalami
pendidikan formal, makin bertambah jumlah orang itu. Akan tetapi meskipun
demikian tumbuhnya demokrasi di Indonesia terus mengalami hambatan yang tidak
sedikit. Dalam zaman penjajahan hambatan itu datang dari pihak penjajah, hal mana
dapat dipahami. Sebab kalau ada demokrasi penjajah harus memberikan banyak
kebebasan kepada rakyat Indonesia. Akan tetapi setelah menjadi bangsa merdeka pun
hambatan itu tidak berkurang. Sekarang Indonesia sudah lebih dari 50 tahun merdeka
dan mempunyai Dasar Negara yang menetapkan adanya demokrasi di Indonesia,
tetapi dalam kenyataan demokrasi masih terus belum lancar pertumbuhannya.
Hambatan itu disebabkan oleh banyak hal. Sebab utama terletak pada manusia
Indonesia yang sifatnya dipengaruhi oleh berbagai faktor. Faktor tersebut antara lain :
1. Kurangnya pendidikan umum yang cukup bermutu yang dapat menimbulkan
pandangan yang lebih luas tentang kehidupan serta kesadaran tentang disiplin.
Karena pandangan kurang luas maka orang cenderung untuk memperhatikan
dirinya dan kepentingannya sendiri dan kelompoknya. Hal ini mempersulit
timbulnya sifat untuk menghargai perbedaan dan pendapat orang lain, terutama
dari kelompok lain.
2. Lemahnya disiplin menyebabkan hukum kurang berjalan dalam masyarakat.
Orang sadar akan keadilan, tetapi lebih diorientasikan kepada dirinya dan
kelompoknya dan kurang kepada kepentingan umum.
3. Pengaruh dari sisa-sisa feodalisme. Kuatnya feodalisme di masa lalu membuat
orang enggan untuk mengeluarkan pendapat atau pikiran yang mungkin berbeda,
apalagi bertentangan, dengan pikiran orang yang dianggap lebih tinggi
kedudukannya. Sebaliknya, orang mengabaikan pendapat dan pikiran orang lain
yang berada dalam posisi yang dinilai lebih rendah dari posisinya sendiri.
4. Faktor kultural. Ada orang berpendapat bahwa masyarakat Barat yang
melahirkan demokrasi mempunyai budaya yang berbeda dari budaya Indonesia.
Ini dipakai alasan oleh orang Indonesia yang tidak setuju dengan perkembangan
demokrasi di Indonesia. Bahwa budaya berpengaruh terhadap pelaksanaan
demokrasi adalah benar. Akan tetapi dalam setiap budaya dapat dikembangkan
demokrasi. Memang kemudian demokrasi tidak akan presis sama di lingkungan
budaya yang berbeda.. Demokrasi di Jepang tidak sepenuhnya sama dengan yang
ada di Amerika Serikat karena budaya Jepang dan Amerika berbeda. Jangankan
antara budaya Timur dan Barat seperti itu, demokrasi di Perancis dan Inggeris saja
berbeda padahal sama–sama bangsa Barat. Namun dalam semua perbedaan yang
ditimbulkan oleh perbedaan budaya tetap inti demokrasi selalu ada, yaitu bahwa
yang berdaulat di negara itu adalah rakyat.
5. Faktor agama, yaitu kalau ada pandangan atau interpretasi ajaran agama yang
membuat orang menyingkirkan keperluan demokrasi. Di samping itu ada pula
pihak-pihak yang sebenarnya tidak menghendaki demokrasi , tetapi memanfaatkan
demokrasi untuk memperoleh posisi yang kuat dan pada saat berkuasa justru
menyingkirkan demokrasi. Itu telah dilakukan Hitler di Jerman dan di masa lalu
merupakan taktik kaum komunis di Indonesia.
Kunci utama untuk mengurangi hambatan bagi demokrasi adalah perbaikan
pendidikan umum dalam kuantitas maupun kualitasnya. Dengan pendidikan yang baik
diharapkan manusia Indonesia berpandangan luas dan menyadari pentingnya disiplin.
Dengan begitu hukum dapat berjalan dan Indonesia menjadi negara hukum. Orang
akan mampu menghargai kebebasan berpendapat bagi semua pihak serta menyadari
pluralitas sebagai kenyataan dalam kehidupan bangsa dan umat manusia. Pendidikan
juga diharapkan dapat meningkatkan ekonomi rakyat. Dengan begitu rakyat akan lebih
percaya diri dan feodalisme makin dapat dihilangkan. Akan tetapi melihat kondisi
pemerintahan sekarang sukar diharapkan pendidikan umum mengalami perbaikan
dalam waktu dekat.
Dalam situasi begini perbaikan dalam kehidupan demokrasi sangat tergantung
dari perubahan sikap kepemimpinan nasional. Kita berkepentingan adanya
kepemimpinan nasional yang mampu menjalankan manajemen nasional yang
baik, sehingga kondisi obyektif dalam masyarakat dapat menjadi landasan perbaikan
demokrasi.
Disamping hambatan dalam melaksanakan demokrasi, bangsa Indonesia juga
memiliki hambatan dalam mewujudkan masyarakat madani walaupun di Indonesia
sudah ada masyarakat madani, hambatan tersebut yakni :
1. Belum tertanamnya jiwa kemandirian bangsa Indonesia
2. Kurangnya kesadaran pada hukum yang berlaku.
3. Masih rendahnya tingkat kesukarelaan dan keswasembadaan pada setiap warga
negara.
4. Masih kurangnya perangkat hukum.
5. Masih rendahnya sumber daya manusia bila dibandingkan dengan negara lain.
Untuk itu diperlukan suatu upaya untuk mengatasi hal tersebut, upaya tersebut
dapat berupa :
1. Meningkatkan jiwa kemandirian melalui kegiatan perekonomian dengan
adanya bapak angkat perusahaan.
2. Meningkatkan kesadaran hukum melalui berbagai media sosialisasi politik.
3. Meningkatkan peran serta masyarakat dalam proses pengambilan kebijakan.
4. Menciptakan perangkat hukum yang memadai dan berkeadilan sosial.
5. Meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui berbagai kegiatan.
6. Mengembangkan media komunikasi politik di berbagai lingkungan kerja.
7. Menanamkan sikap positif pada proses demokratisasi di Indonesia pada setiap
warga negara.
BAB III
Penutup
Kesimpulan
Budaya demokrasi memiliki peranan yang besar dalam mewujudkan masyarakat
madani. Begitupun sebaliknya budaya demokrasi dapat terwujud dengan baik dengan adanya
masyarakat madani. Hal tersebut terjadi karena budaya demokrasi yang diterapkan di suatu
negara akan mewujudkan prinsip-prinsip demokrasi di negara tersebut. Berarti dengan adanya
penerapan prinsip-prinsip demokrasi secara tidak langsung akan terbentuk masyarakat
madani. Pemilu menjadi sarana pelaksanaan budaya demokrasi. termasuk dalam prinsip-
prinsip demokrasi secara universal dimana pemilu disini harus dilaksanakan secara
demokratis. Budaya demokrasi pada dasarnya diterapkan dan dikembangkan untuk
mewujudkan sutau negara yang demokratis. Dan salah satu ciri negara demokratis adalah
terselenggaranya kegiatan pemilihan umum yang bebas. Dalam pelaksanaannya pemilu harus
dilaksanakan secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil sesuai dengan Pasal 22
E Ayat 1 UUD 1945.
Dalam mengembangkan dan menerapkan/melaksanakan demokrasi bukan tidak
mungkin menemui suatu hambatan/tantangan. Yang walaupun terlihat sepele namun sangat
mempengaruhi pelaksanaan demokrasi. Hambatan yang paling umum terjadi adalah
minimnya pengetahuan rakyat tentang demokrasi. Yang kedua adalah lemahnya disiplin
dalam masyarakat dan penyelenggara demokrasi. Berikutnya adalah masih adanya pengaruh
feodalisme, khususnya bagi negara yang pernah terjajah dan negara yang mengalami masa
lalu yang suram. Keempat adalah faktor kultural. Faktor kultural dapat terjadi jika suatu
negara memegang teguh ideologi atau budayanya, maupun pengetahuan politik khususnya
demokrasi yang minim. Wujud terjadinya faktor kultural adalah masyarakat enggan untuk
menyerap budaya luar (asing) dalam hal ini demokrasi. Walaupun demikian, demokrasi masih
dapat dikembangkan meski wujudnya berbeda. Terakhir faktor agama. Di beberapa negara di
dunia tidak jarang masyarakat yang sangat kental dengan pengaruh agama yang dianutnya.
Dan sudah menjadi kewajibannya untuk mematuhi perintah dan larangan agama yang
dianutnya. Dengan demikian, interpretasi agama akan membuat orang secara tidak langsung
menyingkirkan keperluan demokrasi