Anda di halaman 1dari 167

DATA DIRI

Nama : NANA SUDIANA R


NIP. : 110 027 962
T / Tgl. Lahir : Cimahi, 14 Februari
1953
Jabatan : WIDYAISWARA
Alamat : Komplek Mampang Indah
Dua Blok O / 3
Pancoran Mas
Depok
Hobby : TENNIS
Status : MENIKAH - DUA ANAK
SAJA
PELATIHAN
PEJABAT INTI SATUAN KERJA
PISK - 91
Tahun 2009

PENGELOLAAN ASET
Permasalahan – Permasalahan
BMN
• Laporan Keuangan Pemerintah Pusat
( LKPP) Dep. Keuangan peringkat PU
adalah DISCLAIMER sampai sekarang…
• Sistem SIMAK BMN kurang tersosialisasi
• SDM/PETUGAS belum memahami sistem
• Petugas BMN malas ( kurang adanya
perhatian dr Pimpinannya.
• Pimpinan di tingkat Satker saling tidak
mau membuat berita acara penyerahan.
• dll
• Aset Jalan dan Jembatan belum
ada satupun yg disertifikatkan
• Banyak Kendaraan yang tidak jelas
keberadaannya
• Banyak BMN lainnya yg hilang,
rusak dan lainnya masih terdata
terus dalam data inventarisasi.
• Sistem BMN belum optimal mengakomodir
kegiatan ke-PU-an
• SDM Petugas BMN kurang kompeten
• Kodefikasi Barang banyak yg belum
mengokomodir kepntingan BM.
• Masih banyak Produk2 P2JJ yg masih KDP karena
belum ada penyerahan ke Satker lainnya.
DASAR HUKUM
PENGELOLAAN BARANG MILIK NEGARA
PRA PP PENGELOLAAN BARANG MILIK NEGARA

• Kepmenkeu No. 350/KMK.03/1994 tentang Tatacara Tukar Menukar


BM/KN
• Kepmenkeu No. 470/KMK.01/1994 tentang Tatacara Penghapusan dan
Pemanfaatan BM/KN
• Kepmenkeu No. 18/KMK.018/1999 tentang Klasifikasi dan Kodefikasi
BM/KN
• Kepmenkeu No. 01/KMK.01/2001 tentang Kapitalisasi BMN
• Surat Edaran Dirjen Anggaran No. SE-187/ MK.2/2003 hal Batasan umur
pemakaian kendaraan bermotor dinas operasional sebagai dasar
usulan penghapusan.
• Keputusan Menteri Keuangan Nomor 59/PMK.06/2005 tentang Sistem
Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Pemerintah Pusat
• Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntasi
Pemerintah
• Peraturan Dirjen Perbendaharaan No.24/ PB/2006 tentang Pelaksanaan
Penyusunan Laporan Keuangan K/L
DASAR HUKUM
PENGELOLAAN BARANG MILIK NEGARA
PASCA PP PENGELOLAAN BARANG MILIK NEGARA

• Undang-undang Nomor 17/2003 tentang Keuangan Negara


• Undang-undang Nomor 1/2004 tentang Perbendaharaan Negara
• Peraturan Pemerintah Nomor 6/2006 tentang Pengelolaan Barang
Milik Negara/Daerah
• Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntasi
Pemerintah
• Permenkeu Nomor 96/PMK.06/2007 tentang Tatacara Penggunaan,
Pemanfaatan, Penghapusan dan Pemindahtanganan BMN
• Permenkeu Nomor 97/PMK.06/2007 tentang Penggolongan dan
Kodefikasi BMN
• Permenkeu Nomor 120/PMK.06/2007 tentang Penatausahaan BMN
• Buletin Teknis Standar Akuntansi Pemerintah
• Permenkeu No.: 91/PMK.05/2007 tentang Bagan Akun Standar
DEFINISI
PENGELOLAAN BARANG MILIK NEGARA

PENGATURAN LAMA PENGATURAN BARU

BM/KN : adalah barang BMN : adalah semua barang yang


bergerak/tidak bergerak yang dibeli atau diperoleh atas beban
dimiliki/dikuasai oleh instansi APBN atau berasal dari perolehan
pemerintah, yang sebagian atau lainnya yang sah:
seluruhnya dibeli atas beban • Barang yang diperoleh dari
APBN serta dari perolehan lain hibah/sumbangan atau yang sejenis
yang sah
• Barang yang diperoleh sebagai
pelaksanaan dari perjanjian/kontrak
• Barang yang diperoleh berdasarkan
ketentuan undang-undang
• Barang yang diperoleh berdasarkan
keputusan pengadilan yang telah
memperoleh kekuatan hukum tetap
HIRARKI KEWENANGAN
PENGELOLAAN BARANG MILIK NEGARA
PENGATURAN LAMA PENGATURAN BARU
PEMBINA UMUM PEMEGANG KEKUASAAN
PRESIDEN PENGELOLAAN KEUANGAN
NEGARA
PRESIDEN

PELAKSANA PEMBINA UMUM PENGELOLA BARANG


MENTERI KEUANGAN MENTERI KEUANGAN
Dikuasakan kepada Dikuasakan kepada
DIRJEN PERBENDAHARAAN DIRJEN KEKAYAAN NEGARA
(DIRJEN ANGGARAN) Memiliki kewenangan penetapan
Bersifat pasif dan sebatas pada status penggunaan, pemanfaatan,
perizinan pemanfaatan, penghapusan dan
penghapusan/pemindahtanganan pemindahtanganan.

PEMBINA BARANG INVENTARIS PENGGUNA BARANG


MENTERI/ MENTERI/
PIMPINAN LEMBAGA
PIMPINAN LEMBAGA
Peran dan Tanggung Jawab
Satker / Kuasa Pengguna Barang
 Penunjukan Tim Pelaksana atau Pejabat/Staf yg
melaksanakan inventarisasi pd Satker ybs.
 Penyiapan dan penyampaian dokumen dan data awal yg
diperlukan dlm rangka inventarisasi, penilaian dan sertifikasi
BMn pd Satker ybs kepada Tim Pelaksana DJKN
 Pelaksanaan inventarisasi/cek fisik lapangan atas seluruh
BMN yg berada pd penguasaan masing2.
 Pengamanan BMN yg berada dlm penguasaannya sesuai
ketentuan peraturan perundang-undangan;
 Update data/laporan BMN berdasarkan hasil inventarisasi yg
telah dilakukan dan
 Pelaporan hasil update inventarisasi kpd Pengguna Barang dg
tembusan kpd KPKNL.
RUANG LINGKUP
PENGELOLAAN BARANG MILIK NEGARA

1) PERENCANAAN KEBUTUHAN DAN PENGANGGARAN


2) PEMANFAATAN
(Sewa, Pinjam Pakai, Kerjasama Pemanfaatan, BGS/BSG)
3) PENGGUNAAN
4) PENGAMANAN DAN PEMELIHARAAN
5) PENILAIAN
6) PENGHAPUSAN
7) PEMINDAHTANGANAN
(Penjualan, Tukar Menukar, Hibah, PMP)
8) PENATAUSAHAAN
(Pembukuan, Inventarisasi, Pelaporan)
9) PEMBINAAN, PENGAWASAN DAN PENGENDALIAN
1) PERENCANAAN KEBUTUHAN
DAN PENGANGGARAN

 Disusun dalam Rencana Kerja dan Anggaran


Kementerian/Satker setelah memperhatikan ketersediaan
BMN/D yg ada;
 Berpedoman kpd Standar Barang, Standar Kebutuhan dan
Standar Harga;
 Standar Barang dan Standar Kebutuhan ditetapkan oleh
Pengelola Barang;
 Pengguna Barang menghimpun usul rencana kebutuhan
barang dr para Kuasa Pengguna Barang
 Pengguna Barang menyampaikan usul rencana kebutuhan
BMN/D kpd Pengelola Barang.
 Pengelola Barang bersama Pengguna Barang membahas
usul tsb dg memperhatikan data barang pd pengguna
dan/atau pengelola utk ditetapkan sbg RENCANA
KEBUTUHAN BMN/D (RKBMN/D)
A. Perencanaan Kebutuhan

 Merupakan kegiatan merumuskan


rincian kebutuhan BMN/D untuk
menghubungkan pengadaan
barang yang telah lalu dg
keadaan yg sedang berjalan
sebagai dasar dalam melakukan
tindakan yang akan datang.
B. Penganggaran

 Merupakan kegiatan untuk


menganggarkan kegiatan-
kegiatan sesuai dengan rencana
kebutuhan-kebutuhan yang akan
dilakukan.
2) PENGADAAN

 Prinsipnya Efisien, Efektif, Transparan,


dan Terbuka, Bersaing, Adil/Tidak
diskriminatif dan Akuntabel.
 Pengaturannya diatur sesuai dg
peraturan per-undang2-an yg berlaku
- Keppres No. 80 Tahun 2003;
- Peraturan lainnya ttg pengadaan
Tanah;
- dll
3) PENGGUNAAN
• Pengertian :
Kegiatan yg dilakukan oleh Pengguna barang dlm
mengelola dan menatausahakan BMN yg sesuai dg Tugas
Pokok dan Fungsi Kementerian ybs.

• Status penggunaan BMN ditetapkan oleh Pengelola barang;

• Penetapan Status penggunaan Tanah dan atau Bangunan


dilakukan dg ketentuan bahwa BMN untuk kepentingan
Penyelenggaraan Tugas pokok;

• Pengguna BMN yg tidak menyerahkan Tanah dan Bangunan


yg tidak digunakan dikenakan sanksi berupa Pembekuan
Dana Pemeliharaan Tanah dan bangunan dimaksud.
A. Pengertian
Umum

 Adalah pendayagunaan BMN/D yg


tidak dipergunakan sesuai dengan
tugas pokok dan fungsi kementerian/
Satker/SKPD, dapat dimanfaatkan
dalam bentuk SEWA, PINJAM PAKAI,
KERJASAMA PEMANFAATAN dan
BANGUN SERAH GUNA/BSG atau
BANGUN GUNA SERAH/BGS dengan
tidak mengubah status kepemilikan.
A. SEWA

Sewa adalah Pemanfaatan barang milik negara


oleh pihak lain dalam jangka waktu tertentu
dan menerima imbalan uang tunai

Barang milik negara yang dapat disewakan


adalah tanah dan atau bangunan, baik yang
ada pada Pengelola Barang maupun yang
status penggunaanya ada pada pengguna
barang, dan barang milik negara selain tanah
dan atau bangunan
Subyek Pelaksanaan Sewa
A. Pihak yang dapat menyewakan Barang Milik
Negara yaitu :
 Pengelola barang untuk tanah dan atau
bangunan yg berada pada pengelola barang
 Pengguna barang dengan persetujuan
pengelola barang untuk :
- Sebagian tanah dan atau bangunan yg
status penggunaannya ada pada PB
- BMN selain tanah dan atau bangunan
B. Pihak yang dapat menyewa
Barang Milik Negara

 Badan Usaha Milik Negara


 Badan Usaha Milik Daerah
 Badan Hukum Lainnya
 Perorangan
B. PINJAM PAKAI
Pinjam Pakai Barang Milik Negara adalah penyerahan
penggunaan barang milik negara dari Pemerintah Pusat
kepada Pemerintah Daerah dalam jangka waktu tertentu
tanpa menerima imbalan dan setelah jangka waktu
berakhir BMN tersebut diserahkan kembali ke Pemerintah
Pusat

Pertimbangan Pinjam Pakai untuk mengoptimalkan


pengguna BMN yg belum/tidak dipergunakan untuk
pelaksanaan penyelenggaraan pemerintahan pusat dan
untuk menunjang pelaksanaan penyelenggaraan
pemerintahan daerah.

BMN yang dapat dipinjampakaikan adalah tanah dan


atau bangunan baik yg ada pada PB maupun yg ada pada
Pengguna Barang, serta BMN selain tanah dan Bangunan
Pihak yang dapat meminjampakaikan BMN
adalah :

A. Pengelola barang untuk tanah dan atau bangunan yg


berada pada Pengelola Barang
B. Pengguna barang dengan persetujuan Pengelola
barang untuk :
 Sebagian tanah dan atau bangunan yg status
penggunaannya ada pada Pengguna barang
 BMN selain tanah dan atau bangunan

II. Pihak yg dapat meminjam BMN adalah Pemerintah


Daerah
C. KERJASAMA PEMANFAATAN

Kerjasama Pemanfaatan ad. Pendayagunaan BMN


oleh pihak lain dlm jangka waktu tertentu dalam
rangka meningkatkan penerimaan negara bukan
pajak dan sumber pembiayaan lainnya.

Kerjasama Pemanfaatan BMN dilakukan utk


mengoptimalkan pemanfaatan BMN yg belum /tidak
dipergunakan dalam pelaksanaan tugas pokok dan
fungsi penyelenggaraan pemerintahan,
meningkatkan penerimaan negara dan
mengamankan BMN dlm arti mencegah penggunaan
BMN tanpa didasarkan pd peraturan yg berlaku
A. Pengamanan

 Pengelola, Pengguna dan Kuasa Pengguna


wajib melakukan pengamanan;
 Pengamanan : Administratif, Fisik dan
Hukum;
 BMN – Tanah harus di-SERTIPIKATkan an
Pemerintah RI;
 BMN – Bangunan harus punya Bukti
Kepemilikan an Pemerintah RI;
 BMN – Lainya harus punya Bukti Kepemilikan
an Pengguna Barang
B. Pemeliharaan

 Pengguna Barang/Kuasa PB
bertanggung jawab atas pemeliharaan
BMN
 Pemeliharaan berpedoman pd Daftar
Kebutuhan Pemeliharaan Barang
(DKPB)
 Biaya pemeliharaan dibebankan pd
APBN
 Kuasa PB wajib membuat Daftar Hasil
Pemeliharaan Barang
A. Pengertian Umum

• Adalah proses kegiatan yang


dilakukan oleh penilai untuk
memberikan suatu opini nilai atas
suatu obyek penilaian pada saat
tertentu dalam rangka pengelolaan
BMN/D
Pengertian Penghapusan
Penghapusan ad. tindakan menghapus BMN
dari daftar barang dgn cara menerbitkan Surat
Keputusan dari pejabat yg berwenang untuk
membebaskan pengguna dan atau kuasa
pengguna barang atau pengelola barang dari
tanggung jawab administrasi dan fisik barang
yg berada dalam penguasaanya.
Persyaratan Penghapusan
Selain Tanah dan Bangunan
A. Persyaratan Teknis :
1. Secara fisik barang tidak dapat
dipergunakan lagi karena rusak, dan tidak
ekonomis kalau diperbaiki
2. Secara teknis barang tidak dapat
dipergunakan lagi akibat modernisasi
3. Barang telah melampaui batas waktu
kegunaanya/kadaluarsa
4. Barang Mengalami perubahan dalam
spesifikasi karena penggunaan,
seperti terkikis, aus, dan lain
sejenisnya
5. Berkurangnya barang dalam
timbangan/ukuran disebabkan
penggunaan susut dalam
penyimpanan/pengangkutan
B. Persyaratan Ekonomis yaitu Apabila
secara ekonomis lebih menguntungkan
bagi negara apabila barang dihapuskan,
karena biaya operasional dan
pemeliharaan barang lebih besar dari
manfaat yang diperolehnya
C. Barang hilang, atau dalam kondisi
kekurangan perbendaharaan atau
kerugian karena kematian hewan atau
tanaman
Penghapusan BMN berupa Tanah dan
Bangunan
1. Barang dalam kondisi rusak berat, karena bencana alam atau
sebab lain diluar kemampuan manusia (Force Majeur)
2. Lokasi barang tidak sesuai dengan RUTR, karena adanya
perubahan tata ruang kota
3. Barang perlu dipindahtangankan agar dapat digantikan dengan
barang sejenis yang lebih besar untuk memenuhi kebutuhan
organisasi karena perkembangan tugas.
4. Penyatuan lokasi barang dengan barang lain Milik negara dalam
rangka efisinsi
5. Pertimbangan dalam rangka pelaksanaan rencana strategis hankam
KEBIJAKAN UMUM
PENATAUSAHAAN
BARANG MILIK NEGARA
ALUR PIKIR
PMK 120/PMK.06/2007 TENTANG PENATAUSAHAAN BMN
LANDASAN BATANG TUBUH LAMPIRAN
Landasan Yuridis 13 Bab dan 41 Pasal 1. Pendahuluan (gambaran
1. UU 17/2003 tentang 1. Ketentuan Umum umum)
Kekayaan Negara 2. Tujuan 2. Struktur, bagan organisasi
2. UU 1/2004 tentang 3. Ruang Lingkup & Sasaran dan tugas pelaksana
Perbendaharaan 4. Pelaksana Penatausahaan penatausahaan BMN
Negara 5. Pembukuan 3. Tatacara Pembukuan BMN
3. PP 24/2005 tentang 6. Inventarisasi 4. Tatacara Inventarisasi BMN
Standar Akuntansi 5. Tatacara Pelaporan BMN
7. Pelaporan
Pemerintah (SAP)
8. Penatausahaan BMN Dana 6. Tatacara Penggolongan dan
4. PP 6/2006 tentang Dekonsentrasi, Tugas Kodefifkasi BMN
Pengelolaan BMN/D Pembantuan dan BLU 7. Kebijakan Penatausahaan
9. Penyusunan Rencana Pengadaan BMN
Landasan Formil & Pemeliharaan terkait 8. Daftar dan Wilayah Kerja
Dalam rangka Penatausahaan BMN Kantor Wilayah DJKN
melaksanakan amanat PP 10. Sanksi 9. Daftar dan Wilayah Kerja
6/2006 11. Ketentuan Lain-lain KPKNL
12. Ketentuan Peralihan 10.Format buku, daftar dan
13. Ketentuan Penutup laporan,
TUJUAN DAN SASARAN
PENATAUSAHAAN BARANG MILIK NEGARA

TUJUAN
 Mewujudkan tertib administrasi dan mendukung tertib
pengelolaan BMN
SASARAN
 Semua barang milik negara tercatat dengan baik

 Semua aktivitas dalam rangka pengelolaan BMN dapat


dilakukan dengan berdasarkan asas fungsional, kepastian
hukum, transparansi dan keterbukaan, efisiensi, akuntabilitas,
serta kepastian nilai.
 Nilai/data BMN baik untuk kebutuhan laporan manajemen
maupun untuk kebutuhan laporan sebagai bahan penyusunan
Neraca Pemerintah Pusat (pada LKPP) sudah menggambarkan
jumlah, kondisi dan nilai BMN yang wajar
RUANG LINGKUP
PENATAUSAHAAN BARANG MILIK NEGARA

Penatausahaan adalah rangkaian


kegiatan yang meliputi pembukuan,
inventarisasi, dan pelaporan BMN/D
PEMBUKUAN sesuai dengan ketentuan yang
berlaku

INVENTARISASI PELAPORAN

PASAL 67
TUGAS PELAKSANA
PENATAUSAHA
PENATAUSAHAAN BARANG MILIK NEGARA
1. Membuat daftar BMN (semua tingkat unit penatausahaan)
2. Melakukan pembukuan BMN
a) Satker (UPKPB) membukukan semua BMN kecuali
tanah dan/atau bangunan yang idle.
b) KPKNL membukukan BMN berupa tanah dan/atau
bangunan idle
3. Melakukan inventarisasi BMN
4. Melakukan pelaporan BMN
5. Melakukan pengamanan dokumen
6. Melakukan rekonsiliasi dan/atau pemutakhiran data
7. Melakukan pembinaan
PENTINGNYA PENATAUSAHAAN YANG BAIK
PENATAUSAHAAN BARANG MILIK NEGARA

 Semua barang milik negara tercatat dengan baik


 Semua aktivitas dalam rangka pengelolaan BMN dapat
dilakukan dengan berdasarkan asas fungsional,
kepastian hukum, transparansi dan keterbukaan,
efisiensi, akuntabilitas, serta kepastian nilai.
 Nilai/data BMN baik untuk kebutuhan laporan
manajemen maupun untuk kebutuhan laporan sebagai
bahan penyusunan Neraca Pemerintah Pusat (pada
LKPP) sudah menggambarkan jumlah, kondisi dan
nilai BMN yang wajar
HARAPAN
KEPADA KEMENTERIAN NEGARA/LEMBAGA

 Ciptakan hubungan yang harmonis antara


pengelola barang dan pengguna barang (konsep
kemitraan)
 Tertib penatausahaan di tingkat kementerian
negara/lembaga merupakan awal untuk tertibnya
penatausahaan tingkat nasional
 Tertibnya pengelolaan barang milik negara adalah
tanggungjawab kita semua
PENGORGANISASIAN
PENATAUSAHAAN
BARANG MILIK NEGARA
RUANG LINGKUP
SISTEM AKUNTANSI PEMERINTAH PUSAT

SAPP SIAP SAKUN

SAU

SAI SAK
UAPB

UAPPB-E1
SABMN
UAPPB-W

UAKPB
PERMENKEU
59/2005
BAGAN ALUR
SISTEM AKUNTANSI DAN PELAPORAN
PEMERINTAH PUSAT

Menteri
SABMN Keuangan SAI

UAPB UAPA

UAPPB-E1 UAPPA-E1

UAPPB-W UAPPA-W

UAKPB UAKPA PERMENKEU


59/2005
PEMBUKUAN
BARANG MILIK NEGARA
DEFINISI
PEMBUKUAN BARANG MILIK NEGARA

 Merupakan kegiatan pendaftaran dan pencatatan BMN/D ke dalam


Daftar Barang menurut penggolongan dan kodefikasi barang,
meliputi:
 Pengguna Barang Daftar Barang Pengguna (DBP)
 Kuasa Pengguna Barang  Daftar Barang Kuasa Pengguna
(DBKP)
 Pengelola Barang  Daftar BMN (Tanah dan/atau Bangunan)
 Pengguna/Kuasa Pengguna Barang harus menyimpan dokumen
kepemilikan BMN/D selain tanah dan/atau bangunan yang berada
dalam penguasaannya.
 Pengelola Barang harus menyimpan dokumen kepemilikan tanah
dan/atau bangunan yang berada dalam pengelolaannya
PASAL 67
PP 6/2006
DOKUMEN SUMBER
PEMBUKUAN BARANG MILIK NEGARA

 Berita acara serah terima BMN


 Dokumen kepemilikan BMN
 Dokumen pengadaan dan/atau pemeliharaan BMN
 Dokumen pembayaran (SPM, SP2D, Faktur, Kuitansi)
 Surat Keterangan Penyelesaian Pembangunan
 Surat Perintah Kerja (SPK)
 Surat Perjanjian/Kontrak
 Dokumen penetapan/pengalihan status penggunaan BMN
 Dokumen pemanfaatan BMN
 Dokumen penghapusan BMN
 Dokumen pemindahtanganan BMN
 Dokumen lainnya yang sah
PRODUK KELUARAN
PEMBUKUAN BARANG MILIK NEGARA

 DAFTAR BARANG
 UPKPB : DAFTAR BARANG KUASA PENGGUNA (DBKP)
 UPPB-W : DAFTAR BARANG PENGGUNA – WILAYAH (DBP-W)
 UPPB-E1 : DAFTAR BARANG PENGGUNA – ESELON 1 (DBP-E1)
 UPPB : DAFTAR BARANG PENGUNA (DBP)
 KPKNL : DAFTAR BARANG MILIK NEGARA – KANTOR DAERAH
 KW-DJKN : DAFTAR BARANG MILIK NEGARA – KANTOR WILAYAH
 DJKN : DAFTAR BARANG MILIK NEGARA
 BUKU BARANG
 UPKPB : INTRAKOMPTABEL DAN EKSTRAKOMPTABEL
 KPKNL : TANAH DAN/ATAU BANGUNAN IDLE
 KARTU IDENTITAS BARANG (KIB)
 BUKU PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK (PNBP)
 UPKPB : BUKU PNBP PENGELOLAAN BMN
 KPKNL : BUKU PNBP TANAH DAN/ATAU BANGUNAN IDLE
JENIS DAFTAR BARANG
PEMBUKUAN BARANG MILIK NEGARA

 DAFTAR PERSEDIAAN
 DAFTAR TANAH
 DAFTAR GEDUNG DAN BANGUNAN
 DAFTAR PERALATAN DAN MESIN
 DAFTAR ALAT ANGKUTAN BERMOTOR
 DAFTAR ALAT BESAR
 DAFTAR ALAT PERSENJATAAN
 DAFTAR PERALATAN LAINNYA
 DAFTAR JALAN, IRIGASI DAN JARINGAN
 DAFTAR ASET TETAP LAINNYA
 DAFTAR KONSTRUKSI DALAM PENGERJAAN
 DAFTAR BARANG BERSEJARAH
 DAFTAR ASET LAINNYA
BATASAN PENYAJIAN DAFTAR
PENATAUSAHAAN BARANG MILIK NEGARA

 Daftar BMN berupa Persediaan


 Tingkat UPKPB, sampai dengan sub-sub kelompok barang.
 Tingkat KPKNL, UPPB-W, UPPB-E1, UPPB, dan DJKN sampai dengan
sub kelompok barang.
 Daftar BMN berupa Aset Tetap
 Tanah, gedung dan bangunan, dan alat angkutan bermotor, disajikan
oleh masing-masing tingkat organisasi pelaksana penatausahaan BMN
pada Pengguna Barang dan Pengelola Barang sampai dengan sub-sub
kelompok barang.
 Aset tetap selain tanah, gedung dan bangunan, dan alat angkutan
bermotor, disajikan :
 Tingkat UPKPB dan KPKNL sampai dengan sub-sub kelompok barang.
 Tingkat UPPB-W, UPPB-E1, Kanwil DJKN sampai dengan sub kelompok
barang.
 Tingkat UPPB dan DJKN sampai dengan kelompok barang.
BATASAN PENYAJIAN DAFTAR
PENATAUSAHAAN BARANG MILIK NEGARA

 Daftar BMN berupa Aset Lainnya


 Tanah, gedung dan bangunan, dan alat angkut bermotor, disajikan oleh
masing-masing tingkat organisasi pelaksana penatausahaan BMN pada
Pengguna Barang dan Pengelola Barang sampai dengan sub-sub
kelompok barang.
 Aset tetap selain tanah, gedung dan bangunan, dan alat angkut
bermotor, disajikan :
 Tingkat UPKPB dan KPKNL sampai dengan sub-sub kelompok

barang.
 Tingkat UPPB-W, UPPB-E1, Kanwil DJKN sampai dengan sub

kelompok barang.
 Tingkat UPPB dan DJKN sampai dengan kelompok barang.
JENIS BUKU BARANG DAN KIB
PEMBUKUAN BARANG MILIK NEGARA

 BUKU BARANG INTRAKOMPTABEL


 BUKU BARANG EKSTRAKOMPTABEL
 BUKU BARANG BERSEJARAH
 BUKU BARANG PERSEDIAAN
 BUKU BARANG KONSTRUKSI DALAM PENGERJAAN (KDP)
 KARTU IDENTITAS BARANG (KIB)
 TANAH
 GEDUNG DAN BANGUNAN
 BANGUNAN AIR
 ALAT ANGKUTAN BERMOTOR
 ALAT BESAR
 ALAT PERSENJATAAN
 DAFTAR BARANG RUANGAN
 DAFTAR BARANG LAINNYA
JENIS TRANSAKSI
PEMBUKUAN BARANG MILIK NEGARA

 Saldo Awal
 Perolehan BMN
 Perubahan BMN
 Penghapusan BMN

PERSAMAAN UMUM SALDO AKHIR :


Saldo Awal + Perolehan + Perubahan - Penghapusan
SALDO AWAL
PEMBUKUAN TRANSAKSI BARANG MILIK
NEGARA

 SALDO AKHIR PERIODE SEBELUMNYA


merupakan akumulasi dari seluruh transaksi BMN periode
sebelumnya.
 KOREKSI SALDO
merupakan koreksi perubahan atas saldo akhir BMN pada
periode sebelumnya yang dikarenakan :
 adanya koreksi pencatatan atas nilai/kuantitas BMN
yang telah dicatat dan telah dilaporkan dalam periode
sebelumnya, dan
 penambahan/pengurangan sebagai akibat dari
pelaksanaan inventarisasi.
PEROLEHAN
PEMBUKUAN TRANSAKSI BARANG MILIK
NEGARA
 HIBAH; transaksi perolehan BMN yang diperoleh dari hibah/sumbangan atau yang
sejenis dari luar Pemerintah Pusat;
 PEMBELIAN; transaksi perolehan BMN yang dibeli atau diperoleh atas beban APBN;
 PENYELESAIAN PEMBANGUNAN; transaksi perolehan BMN dari hasil penyelesaian
pembangunan berupa bangunan/ gedung dan BMN lainnya yang telah
diserahterimakan dengan Berita Acara Serah Terima.
 PELAKSANAAN DARI PERJANJIAN/KONTRAK; barang yang diperoleh dari
pelaksanaan kerjasama pemanfaatan, bangun guna serah/bangun serah guna, tukar
menukar, dan perjanjian/kontrak lainnya;
 PEMBATALAN PENGHAPUSAN; pencatatan BMN dari hasil pembatalan
penghapusan yang sebelumnya telah dihapuskan/ dikeluarkan dari pembukuan
berdasarkan Surat Keputusan Penghapusan;
 RAMPASAN; transaksi perolehan BMN dari hasil rampasan berdasarkan pelaksanaan
ketentuan undang-undang atau putusan pengadilan yang telah memperoleh kekutan
hukum tetap;
 REKLASIFIKASI MASUK; transaksi BMN yang sebelumnya telah dicatat dengan
penggolongan dan kodefikasi BMN yang lain;
 TRANSFER MASUK; transaksi perolehan BMN dari KPB lain dari satu Pengguna
Barang atau dari KPB/Pengguna Barang lainnya.
PERUBAHAN
PEMBUKUAN TRANSAKSI BARANG MILIK
NEGARA
 PENGURANGAN
transaksi pengurangan kuantitas/nilai BMN yang menggunakan
satuan luas atau satuan lain yang pengurangannya tidak
menyebabkan keseluruhan BMN hilang;
 PENGEMBANGAN
transaksi pengembangan BMN yang dikapitalisir yang mengakibatkan
pemindahbukuan di Buku Barang Ekstrakomptabel ke Buku Barang
Intrakomptabel atau perubahan nilai/satuan BMN dalam Buku Barang
Intrakomptabel;
 PERUBAHAN KONDISI
pencatatan perubahan kondisi BMN;
 REVALUASI
transaksi perubahan nilai BMN yang dikarenakan adanya nilai baru
dari BMN yang bersangkutan sebagai akibat dari pelaksanaan
penilaian BMN.
PENGHAPUSAN
PEMBUKUAN TRANSAKSI BARANG MILIK
NEGARA

 PENGHAPUSAN
transaksi untuk menghapus BMN dari pembukuan berdasarkan suatu
Surat Keputusan Penghapusan.
 TRANFER KELUAR
transaksi penyerahan BMN ke Kuasa Pengguna Barang lain dari satu
Pengguna Barang atau ke Kuasa Pengguna Barang/Pengguna Barang
lainnya.
 HIBAH
transaksi penyerahan BMN yang disebabkan oleh pelaksanaan hibah
atau yang sejenis dari luar Pemerintah Pusat.
 REKLASIFIKASI KELUAR
transaksi BMN kepada pihak lain ke dalam penggolongan dan
kodefikasi BMN yang lain. Transaksi ini berkaitan dengan transaksi
reklasifikasi masuk.
EKSTRAKOMPTABEL &
INTRAKOMPTABEL
PEMBUKUAN BARANG MILIK NEGARA
 BUKU BARANG INTRAKOMPTABEL
mencakup BMN berupa aset tetap yang memenuhi
kriteria kapitalisasi dan seluruh BMN yang diperoleh
sebelum berlakunya kebijakan kapitalisasi, dan BMN
yang diperoleh melalui transaksi Transfer
Masuk/Penerimaan dari pertukaran/ pengalihan masuk
serta BMN yang dipindahbukukan dari Buku Barang
Ekstrakomptabel pada saat nilai akumulasi biaya
perolehan dan nilai pengembangannya telah mencapai
batas minimum kapitalisasi.
 BUKU BARANG EKSTRAKOMPTABEL
mencakup BMN berupa aset tetap yang tidak memenuhi
kriteria kapitalisasi.
BARANG BERSEJARAH
PEMBUKUAN BARANG MILIK NEGARA

 Barang Bersejarah (heritage assets) dibukukan dan dilaporkan


dalam kuantitasnya dan tanpa nilai karena nilai kultural,
lingkungan, pendidikan, dan sejarahnya tidak mungkin secara
penuh dilambangkan dengan nilai keuangan berdasarkan
harga pasar maupun harga perolehannya;
 Biaya untuk perolehan, konstruksi, peningkatan dan
rekonstruksi harus dibebankan sebagai belanja tahun
terjadinya pengeluaran tersebut, tidak dikapitalisasi menjadi
nilai barang atau penambah nilai barang. Biaya tersebut
termasuk seluruh biaya yang berlangsung untuk menjadikan
aset bersejarah tersebut dalam kondisi dan lokasi yang ada
pada periode berjalan. BMN yang memenuhi kriteria aset
bersejarah (heritage assets) dibukukan dalam Buku Barang
Bersejarah dan Daftar Barang Bersejarah.
KEGIATAN PERTAMA KALI
PEMBUKUAN BARANG MILIK NEGARA

UPKPB UPPB (E1/W)


Membukukan dan mencatat semua BMN Mendaftarkan semua BMN yang telah
yang telah ada sebelum diterbitkannya ada sebelum diterbitkannya Peraturan
Peraturan Menteri Keuangan ini ke dalam Menteri Keuangan ini ke dalam DBP
Buku Barang dan/atau Kartu Indentitas (E1/W), yang datanya berasal dari
Barang. DBKP/DBP-W/DBP-E1 di wilayah
kerjanya.

Menyusun dan mendaftarkan semua Meminta pengesahan DBP (E1/W)


BMN yang telah ada sebelum pertama kali kepada penanggung jawab
diterbitkannya Peraturan Menteri UPPB (E1/W)
Keuangan ini ke dalam DBKP.

Meminta pengesahan DBKP pertama kali


kepada penanggung jawab UPKPB
KEGIATAN RUTIN
PEMBUKUAN BARANG MILIK NEGARA
UPKPB UPPB (E1/W)
Membukukan dan mencatat data transaksi BMN ke dalam Mendaftarkan data mutasi BMN ke
Buku Barang Intrakomptabel, Buku Barang dalam DBP-W berdasarkan dokumen
Ekstrakomptabel, Buku Barang Bersejarah, Buku KDP dan sumber.
Buku Persediaan berdasarkan dokumen sumber
Membukukan dan mencatat semua barang dan Mencatat perubahan kondisi barang ke
perubahannya atas perpindahan barang antar dalam DBP-W berdasarkan dokumen
lokasi/ruangan ke dalam Daftar Barang Ruangan (DBR) sumber.
dan/atau Daftar Barang Lainnya (DBL)
Membuat dan/atau memutakhirkan KIB, DBR dan DBL Menghimpun data PNBP yang
bersumber dari pengelolaan BMN yang
Membukukan dan mencatat perubahan kondisi barang ke
berasal dari Laporan PNBP UPKPB di
dalam Buku Barang Intrakomptabel, Buku Barang
wilayah kerjanya
Ekstrakomptabel dan Buku Barang Bersejarah
berdasarkan dokumen sumber
Membukukan dan mencatat PNBP yang bersumber dari Mengarsipkan asli atau
pengelolaan BMN yang berada dalam penguasaannya fotocopy/salinan dokumen
kedalam Buku PNBP penatausahaan dan dokumen
kepemilikan BMN secara tertib.
Mengarsipkan dokumen penatausahaan dan dokumen
kepemilikan BMN secara tertib
KEGIATAN BULANAN
PEMBUKUAN BARANG MILIK NEGARA

UPKPB UPPB (E1/W)


Melakukan rekonsiliasi data
transaksi BMN dengan UAKPA
dan/atau pejabat pembuat
komitmen
KEGIATAN SEMESTERAN
PEMBUKUAN BARANG MILIK NEGARA

UPKPB UPPB (E1/W)


Mencatat setiap perubahan data Mencatat setiap perubahan DBP
BMN kedalam DBKP berdasarkan (E1/W) berdasarkan data dari
data dari Buku Barang dan KIB. DBKP/DBP-W/DBP-E1 di wilayah
kerjanya.
Meminta pengesahan DBKP kepada Meminta pengesahan DBP (E1/W)
penanggung jawab UPKPB. kepada penanggung jawab UPPB
(E1/W)
Melakukan rekonsiliasi atas DBKP
dengan DBMN-KD pada KPKNL, jika
diperlukan.
INVENTARISASI
BARANG MILIK NEGARA
DEFINISI
INVENTARISASI BARANG MILIK NEGARA

 Merupakan kegiatan untuk melakukan pendataan, pencatatan, dan


pelaporan hasil pendataan BMN/D, meliputi:
 Pengguna barang  sekurang-kurangnya sekali dalam 5 tahun
(kecuali berupa persediaan dan konstruksi dalam pengerjaan,
dilakukan setiap tahun)
 Pengguna barang  menyampaikan laporan hasil inventarisasi
tersebut kepada pengelola barang selambat-lambatnya 3 bulan
setelah selesainya inventarisasi
 Pengelola barang  khusus berupa tanah dan bangunan yang
berada dalam penguasaannya sekurang-kurangnya sekali dalam
5 tahun

PASAL 69-70
PP 6/2006
KETENTUAN UMUM
INVENTARISASI BARANG MILIK NEGARA

 Yang dimaksud dengan inventarisasi dalam waktu sekurang-


kurangnya sekali dalam 5 (lima) tahun adalah sensus barang, dan
yang dimaksud dengan inventarisasi terhadap persediaan dan
konstruksi dalam pengerjaan antara lain adalah opname fisik.
 Jika diperlukan, dalam pelaksanaan inventarisasi dapat dibentuk
Tim Inventarisasi pada masing-masing tingkat unit
penatausahaan pada Pengguna Barang dan Pengelola Barang
dan dapat dibantu oleh unit kerja lain pada Pengguna Barang dan
Pengelola Barang.
 Dalam rangka pelaksanaan inventarisasi BMN atas Tanah
dan/atau Bangunan Idle, Pengguna/Kuasa Pengguna Barang
yang sebelumnya menyerahkan tanah dan/atau bangunan
dimaksud tetap berkewajiban membantu pelaksanaan hasil
inventarisasi BMN atas Tanah dan/atau Bangunan Idle.
KETENTUAN UMUM
INVENTARISASI BARANG MILIK NEGARA
 Dalam rangka pelaksanaan inventarisasi BMN, apabila BMN yang
diinventarisasi bukan berada dalam penguasaan masing-masing unit
penatausahaan pada Pengguna Barang atau Pengelola Barang, maka
dapat dibuat Berita Acara Inventarisasi antara unit penatausahaan
dengan pihak yang menguasai barang dimaksud.
 Pihak yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan inventarisasi harus
menyertakan penjelasan atas setiap perbedaan antara data BMN dalam
daftar barang dan hasil inventarisasi.
 Penanggungjawab pelaksanaan inventarisasi BMN pada Pengguna
Barang adalah Menteri/Pimpinan Lembaga atau pejabat yang
dikuasakan, dan penanggungjawab pelaksanaan inventarisasi BMN
berupa Tanah dan/atau Bangunan Idle pada Pengelola Barang adalah
Direktur Jenderal Kekayaan Negara, atau pejabat yang dikuasakan.
TUJUAN & SASARAN
INVENTARISASI BARANG MILIK NEGARA

 TUJUAN
 Agar semua BMN dapat terdata dengan baik dalam upaya
mewujudkan tertib administrasi.
 Mempermudah pelaksanaan pengelolaan BMN

 SASARAN
 Seluruh BMN merupakan sasaran inventarisasi yaitu
semua barang yang dibeli atau diperoleh atas beban
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), atau
berasal dari perolehan lainnya yang sah, baik yang berada
dalam penguasaan Kuasa Pengguna Barang/Pengguna
Barang maupun yang berada dalam pengelolaan
Pengelola Barang
PROSEDUR
INVENTARISASI BARANG MILIK NEGARA

UPKPB UPPB-W UPPB-E1 UPPB

Menyusun Menyusun Menyusun Menyusun


Program Program Program Program

Mengkoordi- Mengkoordi- Mengkoordi-


Melakukan nasikan nasikan nasikan
Inventarisasi pelaksanaan pelaksanaan pelaksanaan
inventarisasi inventarisasi inventarisasi
Menyusun DBHI

Membuat Surat
Pernyataan

Menyusun Menghimpun Menghimpun Menghimpun


Laporan Laporan Laporan Laporan

Membuat SPHI
DOKUMEN SUMBER
INVENTARISASI BMN PADA UPKPB

 Daftar Barang Kuasa Penggguna


 Buku Barang
 Kartu Identitas Barang
 Daftar Barang Ruangan
 Daftar Barang Lainnya
 Laporan Barang Kuasa Pengguna Semesteran dan
Tahunan
 Dokumen kepemilikan BMN
 Dokumen pengelolaan dan penatausahaan
 Dokumen lainnya yang dianggap perlu
PRODUK KELUARAN
INVENTARISASI BARANG MILIK NEGARA

 Laporan Hasil Inventarisasi BMN


 Surat pernyataan kebenaran hasil pelaksanaan
inventarisasi BMN
 Blanko label sementara dan permanen
 Kertas Kerja Inventarisasi
 Daftar Barang Hasil Inventarisasi
 Baik dan Rusak Ringan
 Rusak Berat
 Tidak Diketemukan/hilang
 Berlebih
PROSEDUR DAN TAHAPAN
INVENTARISASI BMN PADA UPKPB

 PERSIAPAN
 PELAKSANAAN
 PELAPORAN
pt bunga mawar
Jl. Kebun Raja 382
JAKARTA 10112

TINDAK LANJUT
Tel. 021-721823


Fax. 021-722324

Jakarta, 10-08-94
Kepada:
PT Jaya Plastiik Indah
Jl. Kemiri 34 Jakarta
Fax. 021-447692

ORDER PEMBELIAN
NO. 18/ORD/VIII/94
pt bunga mawar
Jl. Kebun Raja 382
JAKARTA 10112
Tel. 021-721823
Fax. 021-722324
NO. KODE / DESKRIPSI BARANG JUMLAH HARGA Jakarta, 10-08-94
SATUAN
Kepada:
1. 6900 Spons 1 case 12.750 PT Jaya Plastiik Indah
Jl. Kemiri 34 Jakarta
2. 4509 Kantong Plastik Tebal 200 lembar 475 Fax. 021-447692
3. 1640 Lap Katun 25 lembar 940
4. 1507 Pot Bunga Plastik 5 lusin 3.000

ORDER PEMBELIAN
NO. 18/ORD/VIII/94

NO. KODE / DESKRIPSI BARANG JUMLAH HARGA


SATUAN

1. 6900 Spons 1 case 12.750


2. 4509 Kantong Plastik Tebal 200 lembar 475
3. 1640 Lap Katun 25 lembar 940
4. 1507 Pot Bunga Plastik 5 lusin 3.000
Catatan : Hormat Kami,
• Agar pesanan diantar sebelum tanggal 14-08-94.
• Pembayaran paling lambat 2 (dua) hari setelah delivery.
• Bila ada yang kurang jelas harap hubungi sdr. Mamat (bag. Pembelian).
(Ny. Setiawati Lubis)
Kabag. Pembelian
PROSEDUR DAN TAHAPAN
INVENTARISASI BMN PADA UPKPB

 PERSIAPAN
 Dalam pelaksanaan inventarisasi, dapat dibentuk tim inventarisasi di
bawah koordinasi UPPB-W, UPPB-E1 atau UPPB, dan dapat dibantu
oleh unit kerja lain pada Pengguna Barang dan Pengelola Barang.
 Menyusun rencana kerja pelaksanaan inventarisasi.
 Mengumpulkan dokumen sumber.
 Melakukan pemetaan pelaksanaan inventarisasi, antara lain :
 Menyiapkan denah lokasi.
 Memberi nomor/nama ruangan dan penanggungjawab ruangan pada denah
lokasi.
 Menyiapkan blanko label sementara (dari kertas) yang akan
ditempelkan pada BMN yang bersangkutan.
 Menyiapkan data awal.
 Menyiapkan Kertas Kerja Inventarisasi beserta tata cara pengisiannya.
PROSEDUR DAN TAHAPAN
INVENTARISASI BMN PADA UPKPB
 PELAKSANAAN
 Tahap pendataan
 Menghitung jumlah barang.
 Meneliti kondisi barang (baik, rusak ringan atau rusak berat).
 Menempelkan label registrasi sementara pada BMN yang telah dihitung.
 Mencatat hasil inventarisasi tersebut pada Kertas Kerja Inventarisasi.
 Tahap identifikasi
 Pemberian nilai BMN sesuai Standar Akuntansi Pemerintahan.
 Mengelompokkan barang dan memberikan kode barang sesuai penggolongan dan
kodefikasi barang.
 Pemisahan barang-barang berdasarkan kategori kondisi :
 Barang Baik dan Rusak Ringan
 Barang Rusak Berat /tidak dapat dipakai lagi
 Meneliti kelengkapan/eksistensi barang dengan membandingkan data hasil
inventarisasi dan data awal/dokumen sumber:
 Barang yang tidak diketemukan/hilang
 Barang yang berlebih.
PROSEDUR DAN TAHAPAN
INVENTARISASI BMN PADA UPKPB
 PELAPORAN
 Menyusun Daftar Barang Hasil Inventarisasi (DBHI) yang telah
diinventarisasi berdasarkan data kertas kerja dan hasil identifikasi,
dengan kriteria :
 Barang Baik dan Rusak Ringan
 Barang Rusak Berat/tidak dapat dipakai lagi
 Barang yang tidak diketemukan/hilang
 Barang yang berlebih.
 Membuat surat pernyataan kebenaran hasil pelaksanaan inventarisasi.
 Menyusun laporan hasil inventarisasi BMN.
 Meminta pengesahan atas laporan hasil inventarisasi BMN beserta
DBHI dan surat pernyataan kepada penanggung jawab UPKPB.
 Menyampaikan laporan hasil inventarisasi beserta kelengkapannya
kepada UPPB-W, UPPB-E1, atau UPPB dengan tembusan kepada
KPKNL.
PROSEDUR DAN TAHAPAN
INVENTARISASI BMN PADA UPKPB

 TINDAK LANJUT
 Membukukan dan mendaftarkan data hasil inventarisasi pada Buku
Barang, Kartu Identitas Barang (KIB) dan Daftar Barang Kuasa
Pengguna.
 Memperbaharui DBR dan DBL sesuai dengan hasil inventarisasi yang
telah ditetapkan oleh Menteri/Pimpinan Lembaga atau pejabat yang
dikuasakan.
 Menempelkan blanko label permanen pada masing-masing barang
yang diinventarisasi sesuai hasil inventarisasi.
 Jika diperlukan, UPKPB dapat melakukan rekonsiliasi/pemutakhiran
data hasil inventarisasi dengan UPPB-W, UPPB-E1 atau UPPB dan
KPKNL.
 Untuk barang yang hilang/tidak diketemukan agar ditindaklanjuti sesuai
dengan ketentuan yang berlaku.
PELAPORAN
BARANG MILIK NEGARA
DEFINISI
PELAPORAN BARANG MILIK NEGARA

 Kuasa Pengguna Barang


Menyusun LBKPS dan LBKPT untuk disampaikan kepada
Pengguna Barang
 Pengguna Barang
Menyusun LBPS dan LBPT untuk disampaikan kepada Pengelola
Barang
 Pengelola Barang
 Menyusun LBMN/D berupa tanah dan/atau bangunan semesteran dan
tahunan
 Menghimpun LBPS, LBPT dan LBMN/D berupa tanah dan/atau
bangunan semesteran dan tahunan
 Menyusun LBMN/D sebagai bahan untuk menyusun neraca pemerintah
pusat/daerah
PASAL 71-72
PP 6/2006
BATASAN PENYAJIAN
PELAPORAN BARANG MILIK NEGARA

 Pelaporan BMN berupa persediaan:


 Tingkat UPKPB, sampai dengan sub kelompok barang.
 Tingkat UPPB-W, UPPB-E1, UPPB, KPKNL dan Kanwil DJKN
sampai dengan kelompok barang.
 Pelaporan BMN berupa Aset Tetap dan Aset Lainnya
 Tingkat UPKPB, sampai dengan sub-sub kelompok barang.
 Tingkat UPPB-W dan KPKNL, sampai dengan sub kelompok
barang.
 Tingkat UPPB-E1, UPPB, dan Kanwil DJKN sampai dengan
kelompok barang.
BAGAN ALUR
PELAPORAN BARANG MILIK NEGARA

UPPB Menkeu
cq DJKN

UPPB-E1

UPPB-W KW-DJKN

UAKPA/PPK

UPKPB KPKNL

: Alur Laporan/Daftar Barang (Semesteran/Tahunan)


: Alur Tembusan Laporan/Daftar Barang (Semesteran/Tahunan)
: Alur Rekonsiliasi Laporan/Daftar Barang (Semesteran/Tahunan)
JENIS LAPORAN
PELAPORAN BARANG MILIK NEGARA

 UPKPB
 LAPORAN BARANG KUASA PENGGUNA SEMESTERAN (LBKPS)
 LAPORAN BARANG KUASA PENGGUNA TAHUNAN (LBKPT)
 UPPB-W
 LAPORAN BARANG PENGGUNA WILAYAH SEMESTERAN (LBPWS)
 LAPORAN BARANG PENGGUNA WILAYAH TAHUNAN (LBPWT)
 UPPB-E1
 LAPORAN BARANG PENGGUNA ESELON 1 SEMESTERAN (LBPES)
 LAPORAN BARANG PENGGUNA ESELON 1 TAHUNAN (LBPET)
 UPPB
 LAPORAN BARANG PENGGUNA SEMESTERAN (LBPS)
 LAPORAN BARANG PENGGUNA TAHUNAN (LBPT)
PRODUK KELUARAN
PELAPORAN BARANG MILIK NEGARA

 LAPORAN SEMESTERAN/TAHUNAN
 LAPORAN PERSEDIAAN
 LAPORAN ASET TETAP
 LAPORAN KONSTRUKSI DALAM PENGERJAAN
 LAPORAN ASET LAINNYA
 LAPORAN BARANG BERSEJARAH
 CATATAN RINGKAS BARANG
 LAPORAN MUTASI BMN
 LAPORAN KONDISI BARANG
 LAPORAN PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK (PNBP)
 ARSIP DATA KOMPUTER
KEBIJAKAN AKUNTANSI
PENATAUSAHAAN
BARANG MILIK NEGARA
TUJUAN
KAPITALISASI PENATAUSAHAAN BARANG
MILIK NEGARA

• Sebagai landasan hukum dalam pengelolaan dan


penatausahaan BMN.
• Mewujudkan keseragaman dalam menentukan nilai BMN
yang dikapitalisir.
• Mewujudkan efisiensi dan efektivitas dalam pencatatan
nilai BMN.
PENGELUARAN YANG
DIKAPITALISIR
KAPITALISASI PENATAUSAHAAN BARANG
MILIK NEGARA
• Pengeluaran yang dikapitalisasi dilakukan terhadap pengadaan tanah,
pembelian peralatan dan mesin sampai siap pakai, pembuatan
peralatan, mesin dan bangunan, pembangunan gedung dan bangunan,
pembangunan jalan/irigasi/jaringan, pembelian Aset Tetap lainnya
sampai siap pakai, dan pembangunan/pembuatan Aset Tetap lainnya.
• Pengadaan tanah meliputi biaya pembebasan, pembayaran honor
tim, biaya pembuatan sertifikat, biaya pematangan, pengukuran, dan
pengurugan.
• Pembelian peralatan dan mesin sampai siap pakai meliputi harga
barang, ongkos angkut, biaya asuransi, biaya pemasangan, dan
biaya selama masa uji coba
• Nilai penerimaan hibah dari pihak ketiga meliputi nilai yang dinyatakan
oleh pemberi hadiah atau nilai taksir, ditambah dengan biaya
pengurusan
PENGELUARAN YANG
DIKAPITALISIR
KAPITALISASI PENATAUSAHAAN BARANG
MILIK NEGARA
• Nilai penerimaan Aset Tetap dari rampasan meliputi nilai yang
dicantumkan dalam keputusan pengadilan atau nilai taksiran harga
pasar pada saat aset diperoleh ditambah dengan biaya pengurusan
kecuali untuk Tanah, Gedung dan Bangunan meliputi nilai taksiran atau
harga pasar yang berlaku.
• Nilai reklasifikasi masuk meliputi nilai perolehan aset yang direklasifikasi
ditambah biaya merubah apabila menambah umur, kapasitas dan
manfaat.
• Nilai pengembangan tanah meliputi biaya pengurugan dan pematangan.
• Nilai renovasi dan restorasi meliputi biaya yang dikeluarkan untuk
mengingkatkan kualitas dan/atau kapasitas.
PENGELUARAN YANG
DIKAPITALISIR
KAPITALISASI PENATAUSAHAAN BARANG
MILIK NEGARA
No Kegiatan Pengeluaran yang dikapitalisir
1 Pengadaan tanah  Biaya pembebasan,
 Pembayaran honor tim,
 Biaya pembuatan sertifikat, dan
 Biaya pematangan, pengukuran, dan pengurugan
2 Pembelian peralatan dan  Harga barang,
mesin sampai siap pakai  Ongkos angkut,
 Biaya asuransi,
 Biaya pemasangan, dan
 Biaya selama masa uji coba
PENGELUARAN YANG
DIKAPITALISIR
KAPITALISASI PENATAUSAHAAN BARANG
MILIK NEGARA
No Kegiatan Pengeluaran yang dikapitalisir
3 Pembuatan peralatan, mesin,
dan bangunan
a. Pembuatan peralatan dan  Pengeluaran sebesar nilai kontrak
mesin dan bangunannya  Biaya perencanaan dan pengawasan,
yang dilaksanakan melalui  Biaya perizinan, dan
kontrak
 Jasa konsultan

b. Pembuatan peralatan dan Biaya langsung dan tidak langsung sampai siap
mesin dan bangunannya pakai meliputi :
yang dilaksanakan secara  Biaya bahan baku,
swakelola  Upah tanaga kerja,
 Sewa peralatan,
 Biaya perencanaan dan pengawasan, dan
 Biaya perizinan
PENGELUARAN YANG DIKAPITALISIR
KAPITALISASI PENATAUSAHAAN BARANG
MILIK NEGARA
No Kegiatan Pengeluaran yang dikapitalisir
4 Pembangunan gedung dan
bangunan

a. Pembangunan gedung dan Pengeluran nilai kontrak,


bangunan yang  Biaya perencanaan dan pengawasan,
dilaksanakan melalui  Biaya perizinan,
kontrak
 Jasa konsultan,
 Biaya pengosongan dan pembongkaran bangunan lama.

b. Pembangunan yang Biaya langsung dan tidak langsung sampai siap pakai
dilaksanakan secara meliputi :
swakelola  Biaya bahan baku,
 Upah tenaga kerja,
 Sewa peralatan,
 Biaya perencanaan dan pengawasan,
 Biaya perizinan,
 Biaya pengosongan dan bongkar bangunan lama.
PENGELUARAN YANG DIKAPITALISIR
KAPITALISASI PENATAUSAHAAN BARANG
MILIK NEGARA
No Kegiatan Pengeluaran yang dikapitalisir
5 Pembangunan
jalan/irigasi/jaringan
a. Pembangunan  Nilai kontrak,
jalan/irigasi/ jaringan  Biaya perencanaan dan pengawasan,
yang dilaksanakan  Biaya perizinan,
melalui kontrak  Jasa konsultan,
 Biaya pengosongan dan pembongkaran bangunan yang ada diatas
tanah yang diperuntukkan untuk keperluan pembangunan.

b. Pembangunan  Biaya langsung dan tidak langsung sampai siap pakai meliputi:
jalan/irigasi/jaringan  Biaya bahan baku,
yang dilaksanakan  Upah tenaga kerja,
secara swakelola  Sewa peralatan,
 Biaya perencanaan dan pengawasan,
 Biaya perizinan,
 Biaya pengosongan dan pembongkaran bangunan yang ada diatas
tanah yang diperuntukkan untuk keperluan pembangunan.
PENGELUARAN YANG
DIKAPITALISIR
KAPITALISASI PENATAUSAHAAN BARANG
No Kegiatan MILIK NEGARA
Pengeluaran yang dikapitalisir
6 Pembelian Aset Tetap Lainnya  Harga kontrak/beli,
sampai siap pakai  Ongkos angkut, dan
 Biaya asuransi
7 Pembangunan/pembuatan Aset
Tetap Lainnya

Pembangunan/pembuatan Aset  Nilai kontrak,


Tetap Lainnya yang dilaksanakan  Biaya perencanaan dan pengawasan, dan
melalui kontrak  Biaya perizinan
Pembangunan/pembuatan Aset Biaya langsung dan tidak langsung sampai siap pakai
Tetap Lainnya yang dilaksanakan meliputi :
secara swakelola  Biaya bahan baku,
 Upah tenaga kerja,
 Sewa peralatan,
 Biaya perencanaan dan pengawasan,
 Biaya perizinan, dan
 Jasa konsultan.
NILAI SATUAN MINIMUM
KAPITALISASI PENATAUSAHAAN BARANG
MILIK NEGARA
• Nilai Satuan Minimum Kapitalisasi Aset Tetap adalah pengeluaran pengadaan
baru dan penambahan nilai aset tetap dari hasil pengembangan, reklasifikasi,
renovasi, dan restorasi.
• Nilai Satuan Minimum Kapitalisasi Aset Tetap :
• Pengeluaran untuk per satuan peralatan dan mesin, dan alat olah raga yang
sama dengan atau lebih dari Rp 300.000,00 (tigaratus ribu rupiah), dan
• Pengeluaran untuk gedung dan bangunan yang sama dengan atau lebih dari
Rp 10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah).
• Nilai Satuan Minimum Kapitalisasi Aset Tetap di atas dikecualikan terhadap
pengeluaran untuk tanah, jalan/irigasi/jaringan, dan aset tetap lainnya berupa
koleksi perpustakaan dan barang bercorak kesenian.
PERSEDIAAN-1
AKUNTANSI PENATAUSAHAAN BARANG MILIK
NEGARA
 Persediaan adalah aset lancar dalam bentuk barang atau perlengkapan yang dimaksudkan
untuk mendukung kegiatan operasional pemerintah, dan barang-barang yang dimaksudkan
untuk dijual dan/atau diserahkan dalam rangka pelayanan kepada masyarakat.
 Pengakuan :
 Persediaan diakui pada saat diterima atau hak kepemilikannya/kepenguasaannya berpindah.
 Pada akhir periode akuntansi, persediaan dicatat berdasarkan hasil inventarisasi fisik.
 Persediaan bahan baku dan perlengkapan yang dimiliki dan akan dipakai dalam pekerjaan
pembangunan fisik yang dikerjakan secara swakelola, dimasukkan sebagai perkiraan aset
untuk kontruksi dalam pengerjaan, dan tidak dimasukkan sebagai persediaan.
 Pengukuran :
 Biaya perolehan apabila diperoleh dengan pembelian. Biaya perolehan persediaan meliputi
harga pembelian, biaya pengangkutan, biaya penanganan, dan biaya lainnya yang secara
langsung dapat dibebankan pada perolehan persediaan. Potongan harga, rabat, dan lainnya
yang serupa mengurangi biaya perolehan. Nilai pembelian yang digunakan adalah biaya
perolehan persediaan yang terakhir diperoleh.
 Biaya standar apabila diperoleh dengan memproduksi sendiri. Biaya standar persediaan
meliputi biaya langsung yang terkait dengan persediaan yang diproduksi dan biaya overhead
tetap dan variabel yang dialokasikan secara sistematis, yang terjadi dalam proses konversi
bahan menjadi persediaan.
 Nilai wajar, apabila diperoleh dengan cara lainnya seperti donasi/ rampasan.
PERSEDIAAN-2
AKUNTANSI PENATAUSAHAAN BARANG MILIK
NEGARA
 Pengungkapan :
Persediaan disajikan sebesar nilai moneternya. Dalam Catatan Ringkas Barang (CRB)
harus diungkapkan :
 Kebijakan akuntansi yang digunakan dalam pengukuran persediaan;
 Penjelasan lebih lanjut persediaan seperti barang atau perlengkapan yang digunakan
dalam pelayanan masyarakat, barang atau perlengkapan yang digunakan dalam
proses produksi, barang yang disimpan untuk dijual atau diserahkan kepada
masyarakat, dan barang yang masih dalam proses produksi yang dimaksudkan untuk
dijual atau diserahkan kepada masyarakat;
 Kondisi persediaan;
 Hal-hal lain yang perlu diungkapkan berkaitan dengan persediaan, misalnya
persediaan yang diperoleh melalui hibah atau rampasan.
 Dalam penyusunan laporan keuangan, Persediaan dengan kondisi rusak atau usang tidak
dilaporkan dalam Neraca, tetapi diungkapkan dalam Catatan atas Laporan Keuangan
(CaLK).
TANAH-1
AKUNTANSI PENATAUSAHAAN BARANG MILIK
NEGARA
 Tanah yang dikelompokkan sebagai aset tetap ialah tanah yang diperoleh dengan
maksud untuk dipakai dalam kegiatan operasional pemerintah dan dalam kondisi
siap dipakai.
 Tanah yang dimiliki atau dikuasai oleh instansi pemerintah di luar negeri, misalnya
tanah yang digunakan Perwakilan Republik Indonesia di luar negeri, hanya diakui
bila kepemilikan tersebut berdasarkan isi perjanjian penguasaan dan hukum serta
perundang-undangan yang berlaku di negara tempat Perwakilan Republik Indonesia
berada bersifat permanen.
 Pengakuan
Kepemilikan atas Tanah ditunjukkan dengan adanya bukti bahwa telah terjadi
perpindahan hak kepemilikan dan/atau penguasaan secara hukum seperti sertifikat
tanah. Apabila perolehan tanah belum didukung dengan bukti secara hukum maka
tanah tersebut harus diakui pada saat terdapat bukti bahwa penguasaannya telah
berpindah, misalnya telah terjadi pembayaran dan penguasaan atas sertifikat tanah
atas nama pemilik sebelumnya.
TANAH-2
AKUNTANSI PENATAUSAHAAN BARANG MILIK
NEGARA
 Pengukuran
 Tanah dinilai dengan biaya perolehan. Biaya perolehan mencakup harga pembelian
atau biaya pembebasan tanah, biaya yang dikeluarkan dalam rangka memperoleh
hak, biaya pematangan, pengukuran, penimbunan, dan biaya lainnya yang
dikeluarkan sampai tanah tersebut siap pakai.
 Nilai tanah juga meliputi nilai bangunan tua yang terletak pada tanah yang dibeli
tersebut jika bangunan tua tersebut dimaksudkan untuk dimusnahkan.
 Apabila penilaian tanah dengan menggunakan biaya perolehan tidak memungkinkan,
maka nilai tanah didasarkan pada nilai wajar/ taksiran pada saat perolehan.
 Pengungkapan
Tanah disajikan sebesar nilai moneternya. Dalam Catatan Ringkas Barang (CRB)
harus diungkapkan :
 Dasar penilaian yang digunakan
 Rekonsiliasi jumlah tercatat pada awal dan akhir periode menurut jenis tanah yang
menunjukkan Penambahan; Pelepasan;dan Mutasi Tanah lainnya.
GEDUNG DAN BANGUNAN-1
AKUNTANSI PENATAUSAHAAN BARANG MILIK
NEGARA
 Gedung dan bangunan mencakup seluruh gedung dan bangunan yang dibeli atau
dibangun dengan maksud untuk dipakai dalam kegiatan operasional pemerintah dan
dalam kondisi siap dipakai.
 Termasuk dalam kategori Gedung dan Bangunan adalah BMN yang berupa Bangunan
Gedung, Monumen, Bangunan Menara, Rambu-rambu, serta Tugu Titik Kontrol.
 Pengakuan
 Gedung dan Bangunan yang diperoleh bukan dari donasi diakui pada periode akuntansi
ketika aset tersebut siap digunakan berdasarkan jumlah belanja modal yang diakui untuk
aset tersebut.
 Gedung dan Bangunan yang diperoleh dari donasi diakui pada saat Gedung dan Bangunan
tersebut diterima dan hak kepemilikannya berpindah.
 Pengakuan atas Gedung dan Bangunan ditentukan jenis transaksinya meliputi:
 Penambahan : peningkatan nilai Gedung dan Bangunan yang disebabkan pengadaan baru,
diperluas atau diperbesar. Biaya penambahan dikapitalisasi dan ditambahkan pada harga
perolehan.
 Pengembangan : peningkatan nilai Gedung dan Bangunan karena peningkatan manfaat
yang berakibat pada: durasi masa manfaat, peningkatan efisiensiensi dan penurunan biaya
pengoperasian.
 Pengurangan : penurunan nilai Gedung dan Bangunan dikarenakan berkurangnya kuantitas
asset.
GEDUNG DAN BANGUNAN-2
AKUNTANSI PENATAUSAHAAN BARANG MILIK
NEGARA
 Pengukuran
 Gedung dan Bangunan dinilai dengan biaya perolehan. Apabila penilaian Gedung dan
Bangunan dengan menggunakan biaya perolehan tidak memungkinkan maka nilai
aset tetap didasarkan pada nilai wajar/taksiran pada saat perolehan.
 Biaya perolehan Gedung dan Bangunan yang dibangun dengan cara swakelola
meliputi biaya langsung untuk tenaga kerja, bahan baku, dan biaya tidak langsung
termasuk biaya perencanaan dan pengawasan, perlengkapan, tenaga listrik, sewa
peralatan, dan semua biaya lainnya yang terjadi berkenaan dengan pembangunan
aset tetap tersebut.
 Jika Gedung dan Bangunan diperoleh melalui kontrak, biaya perolehan meliputi nilai
kontrak, biaya perencanaan dan pengawasan, biaya perijinan, serta jasa konsultan.
 Pengungkapan
Gedung dan Bangunan disajikan sebesar nilai moneternya. Dalam Catatan Ringkas
Barang (CRB) diungkapkan :
 Dasar penilaian yang digunakan untuk menentukan nilai.
 Rekonsiliasi jumlah tercatat pada awal dan akhir periode yang menunjukkan
Penambahan; Pengembangan; dan Penghapusan;
 Kebijakan akuntansi untuk kapitalisasi yang berkaitan dengan Gedung dan Bangunan;
PERALATAN DAN MESIN-1
AKUNTANSI PENATAUSAHAAN BARANG MILIK
NEGARA
 Peralatan dan mesin mencakup mesin-mesin dan kendaraan bermotor, alat elektronik, dan
seluruh inventaris kantor yang nilainya signifikan dan masa manfaatnya lebih dari 12 bulan dan
dalam kondisi siap pakai.
 Wujud fisik Peralatan dan Mesin bisa meliputi: Alat Besar, Alat Angkutan, Alat Bengkel dan Alat
Ukur, Alat Pertanian, Alat Kantor dan Rumah Tangga, Alat Studio, Komunikasi dan Pemancar, Alat
Kedokteran dan Kesehatan, Alat Laboratorium, Alat Persenjataan, Komputer, Alat Eksplorasi, Alat
Pemboran, Alat Produksi, Pengolahan dan Pemurnian, Alat Bantu Eksplorasi, Alat Keselamatan
Kerja, Alat Peraga, serta Unit Proses/Produksi.
 Pengakuan
 Peralatan dan Mesin yang diperoleh bukan dari donasi diakui pada periode akuntansi ketika
aset tersebut siap digunakan berdasarkan jumlah belanja modal yang diakui.
 Peralatan dan Mesin yang diperoleh dari donasi diakui pada saat Peralatan dan Mesin
tersebut diterima dan hak kepemilikannya berpindah.
 Pengakuan atas Peralatan dan Mesin ditentukan jenis transaksinya meliputi:
 Penambahan : peningkatan nilai Peralatan dan Mesin yang disebabkan pengadaan baru,
diperluas atau diperbesar. Biaya penambahan dikapitalisasi dan ditambahkan pada harga
perolehan.
 Pengembangan : peningkatan nilai Peralatan dan Mesin karena peningkatan manfaat yang
berakibat pada: durasi masa manfaat, peningkatan efisiensiensi dan penurunan biaya
pengoperasian.
 Pengurangan : penurunan nilai Peralatan dan Mesin dikarenakan berkurangnya kuantitas aset.
PERALATAN DAN MESIN-2
AKUNTANSI PENATAUSAHAAN BARANG MILIK
NEGARA
 Pengukuran
 Biaya perolehan peralatan dan mesin menggambarkan jumlah pengeluaran yang telah
dilakukan untuk memperoleh peralatan dan mesin tersebut sampai siap pakai. Biaya
perolehan atas Peralatan dan Mesin yang berasal dari pembelian meliputi harga pembelian,
 biaya pengangkutan, biaya instalasi, serta biaya langsung lainnya untuk memperoleh dan
mempersiapkan sampai peralatan dan mesin tersebut siap digunakan.
 Biaya perolehan Peralatan dan Mesin yang diperoleh melalui kontrak meliputi nilai kontrak,
biaya perencanaan dan pengawasan, biaya perizinan dan jasa konsultan.
 Biaya perolehan Peralatan dan Mesin yang dibangun dengan cara swakelola meliputi biaya
langsung untuk tenaga kerja, bahan baku, dan biaya tidak langsung termasuk biaya
perencanaan dan pengawasan, perlengkapan, tenaga listrik, sewa peralatan, dan semua
biaya lainnya yang terjadi berkenaan dengan pembangunan Peralatan dan Mesin tersebut.
 Pengungkapan
Peralatan dan Mesin disajikan sebesar nilai moneternya. Selain itu di dalam Catatan Ringkas
Barang (CRB) diungkapkan pula:
 Dasar penilaian yang digunakan untuk menentukan nilai.
 Rekonsiliasi jumlah tercatat pada awal dan akhir periode yang menunjukkan: Penambahan;
Pengembangan; dan Penghapusan;
 Kebijakan akuntansi untuk kapitalisasi yang berkaitan dengan Peralatan dan Mesin.
JALAN, IRIGASI & JARINGAN-1
AKUNTANSI PENATAUSAHAAN BARANG MILIK
NEGARA
 Jalan, irigasi, dan jaringan mencakup jalan, irigasi, dan jaringan yang dibangun oleh
pemerintah serta dikuasai oleh pemerintah dan dalam kondisi siap dipakai. BMN yang
termasuk dalam kategori aset ini adalah Jalan dan Jembatan, Bangunan Air, Instalasi,
dan Jaringan.
 Pengakuan
 Jalan, Irigasi dan Jaringan yang diperoleh bukan dari donasi diakui pada periode akuntansi
ketika aset tersebut siap digunakan berdasarkan jumlah belanja modal yang diakui untuk
aset tersebut.
 Jalan, Irigasi dan Jaringan yang diperoleh dari donasi diakui pada saat Jalan, Irigasi dan
Jaringan tersebut diterima dan hak kepemilikannya berpindah.
 Pengakuan atas Jalan, Irigasi dan Jaringan ditentukan jenis transaksinya.
 Penambahan : peningkatan nilai Jalan, Irigasi dan Jaringan yang disebabkan pengadaan
baru, diperluas atau diperbesar. Biaya penambahan dikapitalisasi dan ditambahkan pada
harga perolehan Jalan, Irigasi dan Jaringan tersebut.
 Pengembangan : peningkatan nilai Jalan, Irigasi dan Jaringan karena peningkatan manfaat
yang berakibat pada: durasi masa manfaat, peningkatan efisiensiensi, dan penurunan biaya
pengoperasian.
 Pengurangan : penurunan nilai Jalan, Irigasi, dan Jaringan dikarenakan berkurangnya
kuantitas asset tersebut.
JALAN, IRIGASI & JARINGAN-2
AKUNTANSI PENATAUSAHAAN BARANG MILIK
NEGARA
 Pengukuran
 Biaya perolehan jalan, irigasi, dan jaringan menggambarkan seluruh biaya yang
dikeluarkan untuk memperoleh jalan, irigasi, dan jaringan sampai siap pakai. Biaya ini
meliputi biaya perolehan atau biaya konstruksi dan biaya-biaya lain yang dikeluarkan
sampai jalan, irigasi dan jaringan tersebut siap pakai.
 Biaya perolehan untuk jalan, irigasi dan jaringan yang diperoleh melalui kontrak meliputi
biaya perencanaan dan pengawasan, biaya perizinan, jasa konsultan, biaya pengosongan,
dan pembongkaran bangunan lama.
 Biaya perolehan untuk jalan, irigasi dan jaringan yang dibangun secara swakelola meliputi
biaya langsung dan tidak langsung, yang terdiri dari meliputi biaya bahan baku, tenaga
kerja, sewa peralatan, biaya perencanaan dan pengawasan, biaya perizinan, biaya
pengosongan dan pembongkaran bangunan lama.
 Pengungkapan
Jalan, Irigasi dan Jaringan disajikan sebesar nilai moneternya. Dalam CRB diungkapkan :
 Dasar penilaian yang digunakan untuk menentukan nilai.
 Rekonsiliasi jumlah tercatat pada awal dan akhir periode yang menunjukkan: Penambahan;
Pengembangan; dan Penghapusan;
 Kebijakan akuntansi untuk kapitalisasi yang berkaitan dengan Jalan, Irigasi dan Jaringan.
ASET TETAP LAINNYA-1
AKUNTANSI PENATAUSAHAAN BARANG MILIK
NEGARA
 Aset tetap lainnya mencakup aset tetap yang tidak dapat dikelompokkan ke dalam
kelompok Tanah; Peralatan dan Mesin; Gedung dan Bangunan; Jalan, Irigasi dan
Jaringan, yang diperoleh dan dimanfaatkan untuk kegiatan operasional pemerintah dan
dalam kondisi siap dipakai. BMN yang termasuk dalam kategori aset ini adalah Koleksi
Perpustakaan/ Buku, Barang Bercorak Kesenian/Kebudayaan/Olah Raga, Hewan, Ikan
dan Tanaman.
 Pengakuan
 Aset Tetap Lainnya yang diperoleh bukan dari donasi diakui pada periode akuntansi ketika
aset tersebut siap digunakan berdasarkan jumlah belanja modal yang diakui untuk aset
tersebut.
 Aset Tetap Lainnya yang diperoleh dari donasi diakui pada saat Aset Tetap Lainnya
tersebut diterima dan hak kepemilikannya berpindah.
 Pengakuan atas Aset Tetap Lainnya ditentukan jenis transaksinya meliputi:
 Penambahan adalah peningkatan nilai Aset Tetap Lainnya yang disebabkan

pengadaan baru. Biaya penambahan dikapitalisasi dan ditambahkan pada harga


perolehan Aset Tetap Lainnya tersebut.
 Pengurangan adalah penurunan nilai Aset Tetap Lainnya dikarenakan berkurangnya

kuantitas asset tersebut.


ASET TETAP LAINNYA-2
AKUNTANSI PENATAUSAHAAN BARANG MILIK
NEGARA
 Pengukuran
 Biaya perolehan aset tetap lainnya menggambarkan seluruh biaya yang dikeluarkan untuk
memperoleh aset tersebut sampai siap pakai.
 Biaya perolehan aset tetap lainnya yang diperoleh melalui kontrak meliputi pengeluaran
nilai kontrak, biaya perencanaan dan pengawasan, serta biaya perizinan. Biaya perolehan
asset tetap lainnya yang diadakan melalui swakelola meliputi biaya langsung
 dan tidak langsung, yang terdiri dari biaya bahan baku, tenaga kerja, sewa peralatan, biaya
perencanaan dan pengawasan, biaya perizinan, dan jasa konsultan.
 Pengungkapan
Aset Tetap Lainnya disajikan sebesar nilai moneternya. Selain itu di dalam Catatan Ringkas
Barang (CRB) diungkapkan pula:
 Dasar penilaian yang digunakan untuk menentukan nilai.
 Rekonsiliasi jumlah tercatat pada awal dan akhir periode yang menunjukkan Penambahan
dan Penghapusan;
 Kebijakan akuntansi untuk kapitalisasi yang berkaitan dengan Aset Tetap Lainnya.
KONSTRUKSI DALAM PENGERJAAN-1
AKUNTANSI PENATAUSAHAAN BARANG MILIK
NEGARA
 Konstruksi Dalam Pengerjaan (KDP) adalah aset-aset yang sedang dalam proses
pembangunan pada tanggal laporan keuangan. KDP mencakup tanah, peralatan dan
mesin, gedung dan bangunan, jalan, irigasi dan jaringan, dan aset tetap lainnya yang
proses perolehannya dan/atau pembangunannya membutuhkan suatu periode waktu
tertentu dan belum selesai.
 Pengakuan
 KDP merupakan aset yang dimaksudkan untuk digunakan dalam operasional
pemerintah atau dimanfaatkan oleh masyarakat dalam jangka panjang dan oleh
karenanya diklasifikasikan dalam aset tetap.
 Suatu aset berwujud harus diakui sebagai KDP jika biaya perolehan tersebut dapat
diukur secara andal dan masih dalam proses pengerjaan.
 KDP dipindahkan ke aset tetap yang bersangkutan setelah pekerjaan konstruksi
tersebut dinyatakan selesai dan siap digunakan sesuai dengan tujuan perolehannya.
KONSTRUKSI DALAM PENGERJAAN-2
AKUNTANSI PENATAUSAHAAN BARANG MILIK
NEGARA
 Pengukuran
 KDP dicatat sebesar biaya perolehan. Biaya perolehan konstruksi yang dikerjakan
secara swakelola meliputi:
 Biaya yang berhubungan langsung dengan kegiatan konstruksi yang mencakup biaya
pekerja lapangan termasuk penyelia; biaya bahan; pemindahan sarana, peralatan dan
bahan-bahan dari dan ke lokasi konstruksi; penyewaan sarana dan peralatan; serta biaya
rancangan dan bantuan teknis yang berhubungan langsung dengan kegiatan konstruksi.
 Biaya yang dapat diatribusikan pada kegiatan pada umumnya dan dapat dialokasikan ke
konstruksi tersebut mencakup biaya asuransi; Biaya rancangan dan bantuan teknis yang
tidak secara langsung berhubungan dengan konstruksi tertentu; dan biaya-biaya lain yang
dapat diidentifikasikan untuk kegiatan konstruksi yang bersangkutan seperti biaya
inspeksi.
 Biaya perolehan konstruksi yang dikerjakan kontrak konstruksi meliputi:
 Termin yang telah dibayarkan kepada kontraktor sehubungan dengan tingkat penyelesaian
pekerjaan.
 Pembayaran klaim kepada kontraktor atau pihak ketiga sehubungan dengan pelaksanaan
kontrak konstruksi.
 Pembayaran klaim kepada kontraktor atau pihak ketiga sehubungan dengan pelaksanaan
kontrak konstruksi.
KONSTRUKSI DALAM PENGERJAAN-3
AKUNTANSI PENATAUSAHAAN BARANG MILIK
NEGARA
 Pengungkapan
KDP disajikan sebesar nilai moneternya. Selain itu di dalam Catatan Ringkas Barang (CRB)
diungkapkan pula:
 Rincian kontrak KDP berikut tingkat penyelesaian dan jangka waktu penyelesaiannya;
 Nilai kontrak konstruksi dan sumber pembiayaanya;
 Jumlah biaya yang telah dikeluarkan;
 Uang muka kerja yang diberikan;
 Retensi.
ASET BERSEJARAH
AKUNTANSI PENATAUSAHAAN BARANG MILIK
NEGARA
 Aset bersejarah (heritage assets) tidak disajikan di neraca namun aset tersebut harus
diungkapkan dalam Catatan atas Laporan Keuangan.
 Beberapa aset tetap dijelaskan sebagai aset bersejarah dikarenakan kepentingan budaya,
lingkungan, dan sejarah. Contoh dari aset bersejarah adalah bangunan bersejarah,
monumen, tempat-tempat purbakala (archaeological sites) seperti candi, dan karya seni
(works of art).
 Aset bersejarah biasanya diharapkan untuk dipertahankan dalam waktu yang tak terbatas.
Aset bersejarah dibuktikan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
 Aset bersejarah dicatat dalam kuantitasnya tanpa nilai, misalnya jumlah unit koleksi yang
dimiliki atau jumlah unit monumen. Biaya untuk perolehan, konstruksi, peningkatan,
rekonstruksi harus dibebankan sebagai belanja tahun terjadinya pengeluaran tersebut. Biaya
tersebut termasuk seluruh biaya yang berlangsung untuk menjadikan aset bersejarah
tersebut dalam kondisi dan lokasi yang ada pada periode berjalan.
 Beberapa aset bersejarah juga memberikan potensi manfaat lainnya kepada pemerintah
selain nilai sejarahnya, sebagai contoh bangunan bersejarah digunakan untuk ruang
perkantoran. Untuk kasus tersebut, aset ini akan diterapkan prinsip-prinsip yang sama
seperti aset tetap lainnya.
KONDISI BARANG
AKUNTANSI PENATAUSAHAAN BARANG MILIK
NEGARA
No Barang Baik Rusak Ringan Rusak Berat
1 Barang Apabila kondisi Apabila barang tersebut masih Apabila kondisi barang
Bergerak barang tersebut masih dalam keadaan utuh tetapi kurang tersebut tidak utuh dan
dalam keadaan utuh berfungsi dengan baik. Untuk tidak berfungsi lagi atau
dan berfungsi dengan berfungsi dengan baik memerlukan perbaikan
baik memerlukan perbaikan ringan dan besar/ penggantian bagian
tidak memerlukan penggantian utama/komponen pokok,
bagian utama/komponen pokok sehingga tidak ekonomis
lagi untuk diadakan
perbaikan/rehabilitasi

2 Tanah Apabila kondisi tanah Apabila kondisi tanah tersebut Apabila kondisi tanah
tersebut siap karena sesuatu sebab tidak dapat tersebut tidak dapat lagi
dipergunakan dipergunakan dan/atau dipergunakan dan/atau
dan/atau dimanfaatkan dan masih dimanfaatkan sesuai
dimanfaatkan sesuai memerlukan dengan peruntukannya
dengan pengolahan/perlakuan (misalnya karena adanya bencana
peruntukannya pengeringan, pengurugan, alam, erosi dan sebagainya.
perataan, dan pemadatan) untuk
dapat dipergunakan sesuai
dengan peruntukannya.
KONDISI BARANG
AKUNTANSI PENATAUSAHAAN BARANG MILIK
NEGARA

No Barang Baik Rusak Ringan Rusak Berat


3 Jalan dan Apabila kondisi fisik Apabila kondisi fisik barang Apabila kondisi fisik barang
Jembatan barang tersebut dalam tersebut dalam keadaan utuh tersebut dalam keadaan
keadaan utuh dan namun memelukan perbaikan tidak utuh/tidak berfungsi
berfungsi dengan baik ringan untuk dapat dengan baik dan
dipergunakan sesuai dengan memerlukan perbaikan
fungsinya dengan biaya besar

4 Bangunan Apabila bangunan Apabila bangunan tersebut Apabila bangunan tersebut


tersebut utuh dan tidak masih utuh, memerlukan tidak utuh dan tidak dapat
memerlukan perbaikan pemeliharaan rutin dan dipergunakan lagi
yang berarti kecuali perbaikan ringan pada
pemeliharaan rutin komponen-komponen bukan
konstruksi utama
PENGGOLONGAN
KODEFIKASI &
BARANG
BARANG MILIK
MILIK NEGARA
NEGARA

PERMENKEU
97/2007
PERMENKEU
120/2007
PENGGOLONGAN
PENGGOLONGAN DAN KODEFIKASI BARANG
MILIK NEGARA
• Penggolongan adalah kegiatan untuk menetapkan secara sistematik
mengenai BMN ke dalam golongan, bidang, kelompok, subkelompok dan
sub-sub kelompok.
SUB
KELOMP KELOMPOK SUB-SUB
OK SUB KELOMPOK
BIDANG
KELOMP KELOMPOK SUB-SUB
GOLONG OK KELOMPOK
SUB
AN
KELOMP KELOMPOK SUB-SUB
BIDANG OK SUB KELOMPOK
KELOMP KELOMPOK SUB-SUB
OK KELOMPOK

• BMN dibagi atas 4 (empat) golongan, yakni :


• Barang Tidak Bergerak
• Barang Bergerak
• Hewan, Ikan, dan Tanaman
• Persediaan
BIDANG BARANG
Kode Barang Tidak Bergerak Barang Bergerak Hewan, Ikan & Tanaman
01 Tanah Alat Besar Hewan
02 Jalan dan Jembatan Alat Angkutan Ikan
03 Bangunan Air Alat Bengkel Dan Alat Ukur Tanaman
04 Instalasi Alat Pertanian
05 Jaringan Alat Kantor & Rumah Tangga
06 Bangunan Gedung Alat Studio, Komunikasi Dan Pemancar
07 Monumen/Bangunan Bersejarah Alat Kedokteran Dan Kesehatan
08 Bangunan Menara Alat Laboratorium
09 Rambu-rambu Koleksi Perpustakaan/Buku
10 Tugu Titik Kontrol/Pasti Barang Bercorak Kesenian/Kebudayaan/
Olahraga
11 Alat Persenjataan
12 Komputer
13 Alat Eksplorasi
14 Alat Pengeboran
15 Alat Produksi, Pengolahan & Pemurnian
16 Alat Bantu Eksplorasi
17 Alat Keselamatan Kerja
18 Alat Peraga
19 Peralatan Proses/Produksi
99 Lainnya
KODEFIKASI
PENGGOLONGAN DAN KODEFIKASI BARANG
MILIK NEGARA
• Kodefikasi adalah pemberian kode BMN sesuai dengan
penggolongan masing-masing BMN.
 Kode 1 untuk golongan Barang Tidak Bergerak
 Kode 2 untuk golongan Barang Bergerak
 Kode 3 untuk golongan Hewan, Ikan dan Tanaman
 Kode 4 untuk golongan Persediaan
 Kode 5 untuk golongan Konstruksi Dalam Pengerjaan
 Kode 6 untuk Aset Tak Berwujud
 Kode 7 sampai dengan 9 disediakan untuk penambahan golongan baru
• Unsur-unsur kodefikasi BMN meliputi:
• Kode Barang
• Kode Lokasi
• Nomor Urut Pendaftaran (NUP)
• Kode Registrasi
KODE BARANG
PENGGOLONGAN DAN KODEFIKASI BARANG
MILIK NEGARA

Kode barang terdiri 10 (sepuluh) angka/digit yang terbagi dalam 5 (lima)


kelompok kode dengan susunan sebagai berikut :

X . X X . X X . X X . X X X

Satu angka/digit pertama : kode Golongan Barang


Dua angka/digit kedua : kode Bidang Barang
Dua angka/digit ketiga : kode Kelompok Barang
Dua angka/digit keempat : kode Sub Kelompok Barang
Tiga angka/digit kelima : kode Sub-Sub Kelompok Barang
KODE LOKASI
PENGGOLONGAN DAN KODEFIKASI BARANG
MILIK NEGARA

Kode Lokasi terdiri 16 (enam belas) angka/digit dengan susunan sebagai berikut:

X X X . X X . X X . X X X X X X . X X X

Tiga angka/digit pertama : kode Pengguna Barang


Dua angka/digit kedua : kode Eselon I
Dua angka/digit ketiga : kode Wilayah
Enam angka/digit keempat : kode Kuasa Pengguna Barang
Tiga angka/digit kelima : kode Pembantu Kuasa Pengguna Barang

Penjelasan:
• Kode Pengguna Barang, mengacu kepada kode Bagian Anggaran Kementerian Negara/
Lembaga yang bersangkutan.
• Kode Eselon I, mengacu kepada Kode Unit Eselon I Bagian Anggaran pada Kementerian
Negara/Lembaga yang bersangkutan.
• Kode Wilayah, mengacu kepada Kode Provinsi. Unit kerja pada kantor pusat
kementerian negara/ lembaga dan unit eselon-1, kode wilayah diisi dengan 00.
• Kode Kuasa Pengguna Barang, mengacu kepada Kode Satuan Kerja pada Kode Bagian
Anggaran.
KODE REGISTRASI
PENGGOLONGAN DAN KODEFIKASI BARANG
MILIK NEGARA

Kode Registrasi merupakan identitas barang yang dipergunakan sebagai


tanda pengenal yang dilekatkan pada barang yang bersangkutan.
Kode Registrasi terdiri dari 16 (enam belas) angka/digit Kode Lokasi
ditambah 4 (empat) angka/digit tahun perolehan dan 10 (sepuluh) angka/
digit Kode barang ditambah 6 (enam) angka/digit nomor urut pendaftaran
barang

Contoh:
Th 2007 DJKN membeli komputer note book. Pada saat pembelian tsb,
nomor pencatatan terakhir BMN yang dikuasai oleh unit kerja dimaksud
adalah 000040, maka KPB mencatat note book tsb sbb :

015 10 00 411792 000 2007

2 12 01 02 003 000041
MAPPING
PENGGOLONGAN BMN KE PERKIRAAN NERACA
Penggolongan dan Kodefikasi BMN Perkiraan Buku Besar Aset
Kode Nama Bidang Kode Nama Perkiraan
1.01 Tanah 131111 Tanah

2.01 Alat Besar 131311 Peralatan dan Mesin


2.02 Alat Angkutan
2.03 Alat Bengkel dan Alat Ukur
2.04 Alat Pertanian
2.05 Alat Kantor & Rumah Tangga
2.06 Alat Studio, Komunikasi dan Pemancar
2.07 Alat Kedokteran dan Kesehatan
2.08 Alat Laboratorium
2.11 Alat Persenjataan
2.12 Komputer
2.13 Alat Eksplorasi
2.14 Alat Pemboran
2.15 Alat Produksi, Pengolahan & Pemurnian
2.16 Alat Bantu Eksplorasi
2.17 Alat Keselamatan Kerja
2.18 Alat Peraga
2.19 Unit Peralatan Proses/ Produksi

1.06 Bangunan Gedung 131511 Gedung dan Bangunan


1.07 Monumen
MAPPING
PENGGOLONGAN BMN KE PERKIRAAN NERACA

Penggolongan dan Kodefikasi BMN Perkiraan Buku Besar Aset


Kode Nama Bidang Kode Nama Perkiraan

1.02 Jalan dan jembatan 131711 Jalan, Irigasi dan Jaringan


1.03 Bangunan Air
1.04 Instalasi
1.05 Jaringan

2.09 Koleksi Perpustakaan/Buku 131911 Aset Tetap Lainnya


2.10 Barang Bercorak Kesenian/Kebudayaan/Olahraga
3.01 Hewan
3.02 Ikan
3.03 Tanaman

5.00 Konstruksi dalam Pengerjaan 132111 Konstruksi dalam Pengerjaan


MAPPING
PENGGOLONGAN BMN KE PERKIRAAN NERACA

Penggolongan dan Kodefikasi BMN Perkiraan Buku Besar Aset


Kode Nama Bidang Kode Nama Perkiraan
4 Persediaan 1151 Persediaan

11511
Persediaan untuk Bahan Operasional
4.01.03.01 115111
4.01.03.02 Alat Tulis Kantor Barang Konsumsi
4.01.03.03 Kertas dan Cover
4.01.03.04 Bahan Cetak
4.01.03.06
Bahan Komputer
4.01.01.03 115112
Alat Listrik
4.01.03.05 115113
4.01.02.00 Bahan Peledak 115114 Amunisi
Perabot Kantor Bahan untuk Pemeliharaan
4.01.05 Suku Cadang 11512 Suku Cadang

4.01.05.01 115121
4.01.05.02 Persediaan untuk dijual/diserahkan 115122 Persediaan untuk dijual/diserahkan
kepada Masyarakat kepada Masyarakat
4.01.05.03 Pita Cukai, Meterai dan leges 115123 Pita Cukai, Meterai dan leges
Tanah dan Bangunan untuk dijual atau Tanah dan Bangunan untuk dijual atau
diserahkan kepada Masyarakat diserahkan kepada Masyarakat
Hewan dan Tanaman untuk dijual atau Hewan dan Tanaman untuk dijual atau
MAPPING
PENGGOLONGAN BMN KE PERKIRAAN NERACA

Penggolongan dan Kodefikasi BMN Perkiraan Buku Besar Aset


Kode Nama Bidang Kode Nama Perkiraan
11513 Persediaan Bahan untuk Proses Produksi
4.01.01.01 Bahan Bangunan dan Konstruksi 115131 Bahan Baku
4.01.01.02
Bahan Kimia
4.01.01.04
4.01.01.05 Bahan Bakar dan Pelumas
4.01.01.06 Bahan Baku
4.01.01.07 Bahan Kimia Nuklir 115132
Barang dalam Proses Barang dalam Proses
11519
4.01.01.08 115191
Persediaan Bahan Lainnya
4.02.01.00 Persediaan untuk Tujuan Strategis/ 115192 Persediaan untuk Tujuan Strategis/
4.02.02.00 Berjaga2 Berjaga2
4.03.01.00 Komponen Persediaan Lainnya
Pipa
Komponen Bekas dan Pipa Bekas
LEVELISASI APLIKASI
SISTEM AKUNTANSI
BARANG MILIK NEGARA
LEVELISASI ORGANISASI
SISTEM APLIKASI BARANG MILIK NEGARA

 Unit Akuntansi Kuasa Pengguna Barang (UAKPB)


 Unit Akuntansi Pembantu Pengguna Barang-
Wilayah (UAPPB-W)
 Unit Akuntansi Pembantu Pengguna Barang-
Eselon I (UAPPB-E1)
 Unit Akuntansi Pengguna Barang (UAPB)

Catatan :
Apabila diperlukan, UAKPB dimungkinkan memiliki Unit Akuntansi Pembantu
Kuasa Pengguna Barang (UAPKPB)  dengan aturan tertentu
KONSEP APLIKASI
SISTEM APLIKASI BARANG MILIK NEGARA

 Aplikasi terdiri dari empat level sesuai dengan


levelisasi organisasi SABMN (SAKPB, SAPPB-
W,SAPPB-E1 dan SAPB)
 Tiap level memiliki dua menu utama yaitu menu
admin dan menu operator
 Perekaman Data Transaksi hanya ada di level
UAKPB

 
APLIKASI
TINGKAT UAKPB

SISTEM AKUNTANSI
BARANG
MILIK NEGARA
(SABMN)
TAHAP PERSIAPAN
 Persiapan dokumen sumber (BAST, Kwitansi,Faktur,SPM,SPK
dll)
 Masuk aplikasi (menu admin) dengan user Id: admin dan
password: admin
 Membuat kode lokasi dan user operator untuk kode lokasi
tersebut dari menu admin
 Log off dari menu admin masuk ke menu operator dengan user
dan password yang telah dibuat di menu admin
 Merekam data penandatangan
 Merekam daftar ruangan

Catatan:
Kode lokasi UAKPB terdiri dari 16 digit XXX XX XX XXXXXX XXX
3 digit UAPB + 2 digit UAPPB-E1 + 2 digit UAPPB-W + 6 digit
UAKPB + 3 digit UAPKPB
PEMROSESAN DATA TRANSAKSI

 Merekam data transaksi sesuai dengan jenis


transaksinya (saldo awal, perolehan,
perubahan, penghapusan atau BMN
bersejarah)
 Verifikasi Register Transaksi Harian (RTH)
BMN dengan dokumen sumber
 Pencetakan Buku/daftar dan Laporan
AKTIVITAS

 Aktifitas Bulanan
 Penerimaan ADK dari UAPKPB (khusus UAKPB
yang mempunyai UAPKPB)
 Pengiriman ADK ke UAKPA tiap bulan
 Aktivitas Semesteran
 Pengiriman ADK ke UAPPB-W/ UAPPB-E1
 Aktivitas Tahunan
 Melakukan Proses Tutup Tahun sebelum merekam
data BMN tahun anggaran berikutnya.
AKTIVITAS LAINNYA

 BACK UP DATA  sebaiknya dilakukan tiap ada


perubahan data baik merekam data baru maupun
merubah data yang sudah ada
 RESTORE DATA  sebaiknya dilakukan hanya
apabila diperlukan (misal : apabila data kita rusak/
hilang)
 PACK (Pemampatan data)  sebaiknya dilakukan
setelah kita menghapus data
 REINDEX  sebaiknya dilakukan rutin (1 bulan
sekali/ 1 minggu sekali)
MENU ADMIN

 Untuk pertama kali masuk ke menu ADMIN


menggunakan
 user Id : admin;
 password :admin,
 setelah itu user dan password bisa direname (diubah)
tetapi tidak bisa dihapus
 Menu Admin berfungsi untuk :
 membuat user operator
 menentukan lokasi data transaksi dan tabel referensi
 Tiap UAKPB bisa memiliki lebih dari satu user operator
MENU OPERATOR

 Untuk masuk ke menu operator


menggunakan user Id dan password yang
sudah dibuat pada menu admin
 Menu Operator berfungsi untuk :
 Perekaman data transaksi (khusus level
UAKPB)
 Pengiriman dan penerimaan data (ADK)
 Pencetakan buku/ daftar dan laporan
BAGAN ARUS DATA & PELAPORAN BMN
DEPARTEMEN
KEUANGAN
Laporan DJKN DJPb

ADK BMN
Laporan UAPA
UAPB
ADK BB
Laporan ADK BB
ADK BMN
KANWI
UAPPB-E1 L DJPB
ADK BB UAPPA-E1

Laporan
ADK BB
ADK BMN

UAPPB-W UAPPA-W

ADK BB
Laporan
ADK BMN
UAKP UAKP
B A
ADK BB ASET
PROSES PENGOLAHAN DATA BMN

BAST
Output
Bukti Laporan
Kepemilikan BMN
SPM/SP2D Buku
Inventaris
Faktur Lap. Kondisi
Pembelian Barang
Kuitansi Proses DIR
SK KIB
Penghapusan • Inputing
DIL
DS lainnya • Verifikasi
yang sah Lap. Brg.
• Pencetakan Bersejarah

Input
ADK
TRANSFER V.S. HIBAH

UAPB UAPB

UAPKPB-E1 UAPKPB-E1 UAPKPB-E1 UAPKPB-E1 UAPKPB-E1 UAPKPB-E1 UAPKPB-E1 UAPKPB-E1

UAPPB-W UAKPB UAKPB UAKPB UAPPB-W UAKPB UAPPB-W UAKPB UAKPB UAKPB UAPPB-W UAKPB

UAKPB UAKPB UAKPB UAKPB UAKPB UAKPB UAKPB UAKPB UAKPB UAKPB UAKPB UAKPB

Transfer
Hibah
JENIS-JENIS TRANSAKSI DALAM
APLIKASI TINGKAT UAKPB

 TRANSAKSI PEROLEHAN

 TRANSAKSI PERUBAHAN

 TRANSAKSI PENGHAPUSAN
TRANSAKSI PEROLEHAN
  1. Transaksi yang tidak memerlukan SP2D
 Saldo Awal
 Transfer Masuk
 Hibah
 Rampasan
 Pembatalan Penghapusan
 Reklasifikasi Masuk
2. Transaksi yang memerlukan SP2D
 Pembelian
 Penyelesaian Pembangunan
*)KODE TRANSAKSI PEROLEHAN BMN

 Saldo Awal (100), merupakan saldo BMN pada awal


tahun anggaran berjalan atau awal tahun mulai
diimplementasikannnya SABMN yang merupakan
akumulasi dari seluruh transaksi BMN tahun sebelumnya.
 Pembelian (101), merupakan transaksi perolehan
BMNdari hasil pembelian.
 Transfer Masuk (102), merupakan transaksi
perolehan BMNhasil transfer masuk dari UAKPB yang lain
dalam satu UAPB.
 Hibah (103), merupakan transaksi perolehan BMN hasil
penerimaan dari pihak ketiga diluar Kementerian
Negara/Lembaga yang bersangkutan.
 Rampasan (104), merupakan transaksi perolehan
BMNhasil rampasan berdasarkan putusan pengadilan.
**)KODE TRANSAKSI PEROLEHAN BMN

 Penyelesaian Pembangunan (105), merupakan


transaksi perolehan BMN hasil penyelesaian
pembangunan berupa bangunan/gedung dan
BMNlainnya yang telah diserahterimakan dengan
Berita Acara Serah Terima.
 Pembatalan Penghapusan (106), merupakan
pencatatan BMN hasil pembatalan penghapusan
yang sebelumnya telah dihapuskan/ dikeluarkan dari
pembukuan.
 Reklasifikasi Masuk (107), merupakan transaksi
BMN yang sebelumnya telah dicatat dengan klasifikasi
BMN yang lain.
JENIS TRANSAKSI PERUBAHAN BMN

1. Transaksi yang tidak memerlukan SP2D


 Pengurangan
 Perubahan Kondisi
 Koreksi Perubahan Nilai/Kuantitas
 
2. Transaksi yang memerlukan SP2D
 Pengembangan
KODE TRANSAKSI PERUBAHAN BMN
 Pengurangan (201), merupakan transaksi
pengurangan kuantitas BMN.
 Pengembangan (202), merupakan transaksi
pengembangan BMN yang dikapitalisir yang
mengakibatkan pemindahbukuan dari BI
Ekstrakomptabel ke BI Intrakomptabel atau perubahan
nilai/satuan BMN dalam BI Intrakomptabel.
 Perubahan Kondisi (203), merupakan pencatatan
perubahan kondisi BMN.
 Koreksi Perubahan Nilai/Kuantitas (204),
merupakan koreksi pencatatan atas nilai/kuantitas
BMN yang telah dicatat sebelumnya.
KODE TRANSAKSI PENGHAPUSAN BMN
 Penghapusan (301), merupakan transaksi untuk
menghapus BMN dari pembukuan berdasarkan
suatu surat keputusan pengahapusan oleh instansi
yang berwenang;
 Transfer Keluar (302), merupakan transaksi
penyerahan BMN ke UAKPB lain dalam satu UAPB.
 Hibah (303), merupakan transaksi penyerahan
BMN kepada pihak ketiga .
 Reklasifikasi Keluar (304), merupakan transaksi
BMN ke dalam klasifikasi BMN yang lain. Transaksi
ini berkaitan dengan transaksi Reklasifikasi Masuk.
 Koreksi Pencatatan (305), merupakan transaksi
untuk mengubah catatan BMN yang telah
dilaporkan sebelumnya
APLIKASI
TINGKAT UAPPB-W

SISTEM AKUNTANSI
BARANG MILIK
NEGARA (SABMN)
TAHAP PERSIAPAN
 Masuk aplikasi (menu admin) dengan
 user Id: admin
 password: admin
 Membuat kode lokasi dan user operator untuk kode
lokasi tersebut dari menu admin
 Log off dari menu admin masuk ke menu operator
dengan user dan password yang telah dibuat di menu
admin
 Merekam data penandatangan

Catatan:
Kode lokasi UAPPB-W terdiri dari 7 digit XXX XX XX 3 digit UAPB + 2 digit
UAPPB-E1 + 2 digit UAPPB-W
PEMROSESAN DATA TRANSAKSI

 Melakukan proses penerimaan ADK


dari UAKPB setiap semester.
 Pencetakan Laporan
 Melakukan proses pengiriman data
ke UAPPB-E1 setiap semester
sekali.
AKTIVITAS

 Aktivitas Tahunan
Melakukan Proses Tutup Tahun sebelum
melakukan proses penerimaan ADK dari
UAKPB tahun anggaran berikutnya.
 Aktifitas Lainnya
Sama dengan aktifitas lainnya di level
UAKPB
APLIKASI
TINGKAT UAPPB-E1

SISTEM AKUNTANSI
BARANG MILIK
NEGARA (SABMN)
TAHAP PERSIAPAN
1. Masuk aplikasi (menu admin) dengan user Id:
admin dan password: admin
2. Membuat kode lokasi dan user operator untuk
kode lokasi tersebut dari menu admin
3. Log off dari menu admin masuk ke menu
operator dengan user dan password yang
telah dibuat di menu admin
4. Merekam data penandatangan

Catatan:
Kode lokasi UAPPB-E1 terdiri dari 5 digit XXX XX 3 digit UAPB dan 2 digit
kode UAPPB-E1
PEMROSESAN DATA TRANSAKSI

1. Melakukan proses penerimaan ADK


dari UAPPB-W/ UAKPB setiap
semester.
2. Pencetakan Laporan
3. Melakukan proses pengiriman data
ke UAPB setiap semester sekali.
AKTIVITAS

 Aktivitas Tahunan
Melakukan Proses Tutup Tahun sebelum
melakukan proses penerimaan ADK dari
UAPPB-W/UAKPB tahun anggaran berikutnya.
 Aktifitas Lainnya
Sama dengan aktifitas lainnya di level UAKPB
APLIKASI
TINGKAT UAPB

SISTEM AKUNTANSI
BARANG MILIK
NEGARA (SABMN)
PERSIAPAN

1. Masuk aplikasi (menu admin) dengan user Id:


admin dan password: admin
2. Membuat kode lokasi dan user operator untuk
kode lokasi tersebut dari menu admin
3. Log off dari menu admin masuk ke menu
operator dengan user dan password yang telah
dibuat di menu admin
4. Merekam data penandatangan

Catatan:
Kode lokasi UAPB terdiri dari 3 digit XXX
PEMROSESAN DATA TRANSAKSI

1. Melakukan proses penerimaan ADK


dari UAPPB-E1 setiap semester.
2. Pencetakan Laporan
3. Pengiriman ADK ke DJPB (Dit
BMKN)
AKTIVITAS

 Aktivitas Tahunan
Melakukan Proses Tutup Tahun sebelum
melakukan proses penerimaan ADK dari
UAPPB-E1 tahun anggaran berikutnya.
 Aktifitas Lainnya
Sama dengan aktifitas lainnya di level
UAKPB
DAFTAR PUSTAKA
 PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 6 TAHUN 2006 TENTANG
PENGELOLAAN BARANG MILIK NEGARA/DAERAH (BMN/D)
 PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 59/PMK.06/2005 TENTANG
SISTEM AKUNTANSI DAN PELAPORAN KEUANGAN PEMERINTAH
PUSAT
 PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 120/PMK.05/2007
TENTANG PENATAUSAHAAN BARANG MILIK NEGARA (BMN)
 PETUNJUK OPERASIONAL APLIKASI SISTEM AKUNTANSI BARANG
MILIK NEGARA