Anda di halaman 1dari 3

c c


 

Jumat, 12 Juni 2009 | 14:21 WIB


 c 
c ² Gelombang pemecatan karyawan sepertinya belum akan
berakhir. Kali ini, American Airlines milik AMR Corp akan memangkas sekitar 1.600
pekerja. Adanya pengurangan tersebut setara dengan 2,4 persen dari total armada, 67.000
unit.

Saat ini, maskapai penerbangan AS mengalami penurunan pendapatan. Pihak maskapai


penerbangan berlomba-lomba memangkas tarif untuk menarik konsumen yang kian
berkurang sejak terjadinya krisis. Tidak sampai di situ saja, adanya lonjakan harga bahan
bakar hingga 31 persen sejak pertengahan Mei kian memberatkan maskapai.

³Ini merupakan masa berat bagi maskapai dan perekonomian kita. Resesi telah menggerus
pendapatan maskapai dan tidak ada cara yang paling mudah untuk mengumumkan lagi kabar
buruk lainnya,´ ujar Jeff Brundage, Senior Vice President for Human Resources.

Brundage bilang, American Airlines kemungkinan akan memangkas kembali pekerjanya


dalam beberapa tahun ke depan akibat adanya penurunan kapasitas. Tahun lalu, maskapai
sudah mengeliminasi sekitar 6.840 pekerja.

Sementara itu, Delta Air Lines Inc bakal memangkas gaji para karyawannya. Delta Air
sepertinya juga tengah mempertimbangkan untuk merestrukturisasi jumlah pekerja. Namun,
belum diketahui secara pasti, berapa jumlah karyawan yang bakal dipangkas. 
 !!"# $

?
?


%

Laporan wartawan 
c%"&'
Rabu, 15 Juli 2009 | 15:11 WIB

KOMPAS/DOTY DAMAYANTI
Pabrik pengolahan bijih nikel milik PT Inco yang berlokasi di Sorowako, Sulawesi Selatan.

(c c%c 
c ) Manajemen PT International Nickel Tbk atau Inco diminta
untuk tidak terburu-buru merencanakan pemutusan hubungan kerja karyawan menyusul
merosotnya kinerja perseroan akibat krisis ekonomi global yang terjadi sejak 2008 lalu. PHK
karyawan dinilai merupakan langkah terakhir karena banyak hal yang dapat dilakukan
manajemen untuk menyelamatkan keberlangsungan hidup perusahaan.

Ketua Umum Serikat Pekerja PT Inco Andi Karman, Rabu (15/7), mengatakan, kalau
memang saat ini permintaan nikel Inco tengah merosot sehingga jumlah tenaga kerja yang
ada dirasakan terlalu banyak, manajemen Inco seharusnya lebih dulu mengurangi jumlah
kontraktor yang selama ini bekerja sama dengan perseroan. "Buat apa kontraktor terlalu
banyak kalau produksi sedang turun," kata Karman.

Jika setelah itu jumlah karyawan yang ada dinilai masih berlebihan, Karman menegaskan,
rencana PHK harus terlebih dahulu dibicarakan dengan Serikat Pekerja Inco sebagaimana
diatur dalam Perjanjian Kerja Bersama dan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang
Ketenagakerjaan.

Sampai saat ini, kata Karman, pihaknya sama sekali belum menerima pemberitahuan resmi
dari manajemen Inco mengenai rencana PHK karyawan. Namun, kabar tersebut telah beredar
luas selama beberapa bulan terakhir sehingga meresahkan karyawan.

Sebenarnya, lanjut Karman, penurunan permintaan dan harga nikel tidak lagi tepat dijadikan
alasan PHK karyawan. Sebab, belakangan ini permintaan dan harga nikel kembali menguat
sehingga masih memberikan keuntungan bagi Inco.

Dua hari terakhir, harga nikel di London Metal Exchange naik 240 dollar AS atau 1,7 persen
menjadi 14.730 dollar AS per ton. Sedangkan bila dihitung dari awal tahun ini, harga nikel
dunia telah meningkat 26 persen. Terkait dengan kabar PHK karyawan trsebut, Presiden
Direktur Inco Arif Siregar belum dapat dihubungi.
?