Anda di halaman 1dari 30

c c

   

Tujuan pembangunan kesehatan adalah tercapainya kemampuan untuk hidup


sehat bagi setiap penduduk agar dapat mewujudkan derajat kesehatan yang optimal
sebagai salah satu unsure kesejahteraan umum dari tujuan pembangunan nasional.
Salah satu yang menjadi tujuan pembangunan dibidang kesehatan terutama
ditujukan untuk meningkatkan pelayanan keperawatan yang komperhensif pada
setiap individu,keluarga maupun masyarakat secara biopsikososial spritual. Untuk
mencapai tujuan tersebut sangat dibutuhkan eksistensi tenaga keperawatan yang
professional dalam memberikan pelayanan digunakan proses keperawatan sebagai
metoda pendekatan dalam pelaksanaan asuhan keperawatan pada klien.


  
½  
ëerupakan selaput yang menyelubungi otak, yang berfungsi sebagai
pelindung, pendukung jaringan dibawahnya. Selaput otak ini terdiri dari
piameter, arachnoid dan durameter yang masing-masing meruapakan suatu
lapisan yang terpisah dan kontinyu.
Antara lapisan piameter dan arachnoid ada hubungan yang disebut dengan
nama ³pakimening´. Piameter merupakan lapisan vaskuler, dan pembuluh
darah melalui piameter menuju struktur Interna Central Nervus Sistem (CNS)
untuk memberi nutrisi pad jaringan neural.
Arachnoid meruapakan membaran fibrosa yang tipis halus dan
vaskuler. Arachnoid meliputi otak dan membran spinalis, tetapi tidak
mengikuti setiap bentuk luarnya seperti piameter. Daerah antara arachnoid dan
paimeter dinamakan ruang subarachnoid dan mengandung arteri, vena
serebral dan tuberkulae. Arachnoid dan cairan cerebrospinal yang membasahi
CNS.
Durameter merupakan suatu jaringan liat dan tidak elastis seperti kulit.
Terdiri dari dua lapisan, lapisan luarnya disebut endoteal dan bagian dalam
disebut durameningeal.
Œ  £ 
   
 
£entrikel merupakan tempat rongga dalam otak yang salaing
berhubungan satu dengan yang lain dan dibatasi dengan epindima dan
mengandung CSF. Pada setiap hemisper serebri terdapat satu ventrikel lateral.
£entrikel ketiga terdapat diensefalon dan ventrikel keempat dalam pons,
medulla oblongata.
Dalam setiap ventrikel terdapat struktur sekresi khusus yang disebut
Fleksus Koroideus. Fleksus ini terdiri dari jaringan pembuluh darah piameter
yang mempunyai hubungan langsung dengan epindima dan mengandung CSF.
Pada setiap hemisper serebri terdapat satu ventrikel lateral. £entrikel ketiga
terdapat di ensefalon dan ventrikel keempat dalam pons, medulla oblongata.
Dalam setiap ventrikel terdapat struktur sekresi khusus yang disebut
Fleksus koroideus. Fleksus ini terdiri dari jaringan pembuluh darah piameter
yang mempunyai hubungan langsung dengan epidemi. Fleksus Koroideus inilah
yang mengsekresi CSF yang jernih dan tidak berwarna, yang merupakan
bantalan cairan yang pelindung disekitar CNS. Kebanyakan CSF direabsorbsi
kedalam darah melalui struktur khusus yang disebut villi arachnoid yang
menonjol dari ruang subarachnoid menuju sinus sagitalis superior otak.
Produksi dan reabsorbsi CSF dalam CNS berlangsung konstan. £olume total
CSF yang terdapat dalam rongga serebrospinal sekitar 125 ml. Sedang
kecepatan sekresi Fleksus Koroideus besarnya hanya sekitar 500 sampai 750 ml
perhari.
Tekanan CSF merupakan fungsi kecepatan pembentukan cairan dan
resistensi reabsorbsi oleh villi arachnoidalis. Tekanan CSF sering diukur waktu
dilakukan lumbal fungsi yaitu sekitar 13 mmHg.
c
  
ëeningitis adalah radang pada meningen (membran yang mengelilingi
otak dan medulla spinalis) dan disebabkan oleh virus, bakteri atau organ-organ
jamur .
ëeningitis merupakan infeksi akut dari meninges, biasanya ditimbulkan
oleh salah satu dari mikroorganisme pneumokok, ëeningokok, Stafilokok,
Streptokok, Hemophilus influenza dan bahan aseptis .
ëeningitis adalah peradangan pada selaput meningen, cairan
serebrospinal dan spinal column yang menyebabkan proses infeksi pada sistem
saraf pusat .
Berdasarkan beberapa pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa
ëeningitis Tuberkulosa adalah reaksi peradangan yang mengenai salah satu atau
semua selaput meningen disekeliling otak dan medulla spinalis yang disebabkan
oleh kuman tuberkulosa.


  
Penyebab utama terjadinya meningitis TB adalah kuman ëikobakterium
Tuberkulosa varian homoris. ëeningitis tuberkulosa ialah radang selaput otak
akibat komplikasi tuberkulosa primer. ëeningitis tuberkulosa merupakan akibat
komplikasi penyebaran tuberculosis primer, biasanya dari paru. Terjadinya
mengitis bukanlah karena terinfeksinya selaput otak langsung oleh penyebaran
hematogen,melainkan biasanya sekunder melalui pembentuklan tuberkel pada
permukaan otak, sum-sum tulang belakang atau vertebra yang kemudian pecah
ke dalam rongga arakhnoid.
Pada pemeriksaan histologis, merupakan meningoensefalitis.Peradangan
ditemukan sebagian besar pada dasar otak, terutama pada batang otak tempat
terdapat eksudat dan tuberkel. Eksudat yang serofibrinosa dan gelatinosa dapat
menimbulkan obstruksi pada sisterna basalis dan mengakibatkan hidrosefalus
serta kelainan pada syaraf otak.

  
ëeningitis bakteri dimulai sebagai infeksi dari oroaring dan diikuti
dengan septikemia, yang menyebar ke meningen otak dan medula spinalis bagian
atas. Saluran vena yang melalui nasofaring posterior, telinga bagian tengah dan
saluran mastoid menuju otak dan dekat saluran vena-vena meningen; semuanya
ini penghubung yang menyokong perkembangan bakteri. Organisme masuk ke
dalam aliran darah dan menyebabkan reaksi radang di dalam meningen dan di
bawah korteks, yang dapat menyebabkan trombus dan penurunan aliran darah
serebral. Jaringan serebral mengalami gangguan metabolisme akibat eksudat
meningen, vaskulitis dan hipoperfusi. Eksudat purulen dapat menyebar sampai
dasar otak dan medula spinalis. Radang juga menyebar ke dinding membran
ventrikel serebral. ëeningitis bakteri dihubungkan dengan perubahan fisiologis
intrakranial, yang terdiri dari peningkatan permeabilitas pada darah, daerah
pertahanan otak (barier oak), edema serebral dan peningkatan TIK.
Pada infeksi akut pasien meninggal akibat toksin bakteri sebelum terjadi
meningitis. Infeksi terbanyak dari pasien ini dengan kerusakan adrenal, kolaps
sirkulasi dan dihubungkan dengan meluasnya hemoragi (pada sindrom
Waterhouse-Friderichssen) sebagai akibat terjadinya kerusakan endotel dan
nekrosis pembuluh darah yang disebabkan oleh meningokokus.
ëeningitis Tuberkulosa timbul sebagai akibat invasi kuman ke jaringan
sel otak (meningen). Penyebaran kuman ke otak melalui penjalaran hematogen
pada saat terjadinya Tuberkulosa millier. ëeningitis tuberkulosa merupakan
akibat komplikasi penyebaran tuberculosis primer, biasanya dari paru. Terjadinya
mengitis bukanlah karena terinfeksinya selaput otak langsung oleh penyebaran
hematogen,melainkan biasanya sekunder melalui pembentuklan tuberkel pada
permukaan otak, sum-sum tulang belakang atau vertebra yang kemudian pecah
ke dalam rongga arakhnoid.
Pada pemeriksaan histologis, merupakan meningoensefalitis.Peradangan
ditemukan sebagian besar pada dasar otak, terutama pada batang otak tempat
terdapat eksudat dan tuberkel. Eksudat yang serofibrinosa dan gelatinosa dapat
menimbulkan obstruksi pada sisterna basalis dan mengakibatkan hidrosefalus
serta kelainan pada syaraf otak.
Oleh karena itu seseorang yang telah mendapat vaksinasi BCG sewaktu
masih anak-anak, masih mungkin menderita ëeningitis Tuberkulosa apabila
sebelum vaksinasi telah terkena infeksi oleh bakteri mycobakterium tuberkulosa.
Kuman yang tersangkut didaerah subarachnoid ini terus hidup dan berkembang
biak. Tetapi dengan adanya imunitas tubuh kuman terkurung didaerah tuberkel,
apabila oelh suatu sebab daya tahan tubuh menurun fokus ini melebar dan pecah
ke dalam rongga subarachnoid.
Disamping fokus rich pecah dapat timbul pada saat tuberkulose paru
sudah menghilang atau memang lesinya sangat kecil, sehingga tidak tampak pada
pemeriksaan radiologik.
ëeningitis Tuberkulosa yang timbul akibat pecahnya fokus rick biasanya
timbul secara akut, bahkan kadang-kadang dengan cepat klien jatuh ke stadium
terminal. Hal ini disebabkan oleh karena dngan pecahnya fokus rich, sejumlah
besar kuman dari tuberkel dalam waktu yang singkat tertuang ke dalam rongga
subarachnoid.


 ë   
Gejala dan tanda penyakit ëeningitis Tuberkulosa dipengaruhi oleh
banyak faktor, sehingga manifestasi klinik penyakit ini beraneka ragam. Diantara
banyak faktor yang mempengaruhi manifestasi klinis ini yang terpenting adalah
faktor umur dan status fisik klien. Pada seorang anak sangat sensistif terhadap
kuman TBC, masuknya kuman ke dalam cairan serebrospinal akan diikuti oleh
exudasi sel darah putih dan fibrin yang hebat, sehingga manifestasi klinis
ëeningitis Tuberkulosa akan timbul lebih kuat dan hebat dibandingkan dengan
orang dewasa.
ëeningitis yang timbul akibat pecahnya fukos rich biasanya timbul
secara akut dan bahkan kadang-kadang telah menjadi komateus dan spastis
dalam 1 ± 2 hari.
Secara klinis kadang-kadang belum terdapat gejala meningitis nyata
walaupun selaput otak sudah terkena. Hal demikian juga terdapat pada
tiberkulosis milieris, sehingga pada penyebaran milier sebaoiknya dilakukan
punksi lumbal walaupun gejala meningitis belum tampak.
Gejala biasanya didahului stadium prodromal berupa iritasi selaput otak.
ëeningitis biasanya mulai perlahan-lahan tanpa panas atau hanya terdapat
kenaikan suhu yang ringan, jarang terjadi akut dengan panas tinggi. Sering
dijumpai anak mudah terangsang, menjadi apatis dan tidurnya sering terganggu.
Anak besar dapat mengeluh nyeri kepala,anoreklsia, mual dan muntah serta
obstipasi. Stadium ini kemudian disusul dengan stadium transisi dan kejang.
Gejala diatas mulai berat dengan rangsangan meningeal mulai nyata.
Perjalanan penyakit ëeningitis Tuberkulosa yang klasik dapat dibagi
dalam 3 stadium :
1. Stadium prodormal
Pada stadium ini terjadi iritasi selaput otak. ëeningitis biasanya mulai
perlahan-lahan tanpa panas atau terdapat kebaikan suhu yang ringan. Pada
anak sering dijumpai mudah terangsang, apatis dan tidur terganggu. Dan
pada anak besar dapat mengeluh nyeri kepala, anoreksia, obstipasi dan
muntah.
2. Stadium transisi
Gejala pada stadium prodormal menjadi lebih berat dan gejala meningeal
mulai nyata, kaku kuduk, seluruh tubuh menjadi kaku dan timbul
opistotonus. Refleks tendon menjadi lebih tinggi, ubun-ubun menonjol dan
umumnya terdapat kelumpuhan syaraf mata hingga timbul gejala strabismus
dan nistagmus. Kesadaran menurun hingga timbul stupor.
3. Stadium terminal
Terdapat gejala berupa kelumpuhan, koma, pupil melebar dan tidak bereaksi
sama sekali. Nadi dan perbafasan Cheyne Stokes, hyperpireksi.

     
1. Pemeriksaan CSF
ë. Purulenta ë. Serosa/TBC ë. £iral
Tekanan ë ë Normal
Warna merah, kuning / Opalesen kuning Jernih
hijau
Tes none ++ / +++ ++ / +++ -/+
Tes pandi -- / +++ ++ / +++ -/+
Jumlah sel 1000 ± 10.000 200 ± 500 50 ± 100
Protein 100 ± 500 mg % 100 ± 500 mg % 50 ± 100 mg %
Glukosa normal
Bakteri  dgn pewarnaan  dgn pewarnaan (-) dgn pewarnaan

2. Thorax foto


3. Laboratorium
4. LED
5. ëantoux test
6. Diagnosa pasti dengan ditemukannya BTA dalam CSF

·
  
Komplikasi pada ëeningitis Tuberkulosa dapat terjadi akibat pengobatan
yang tidak sempurna atau pengobatan yang terlambat, berupa :
1. Paresis, paralisis sampai deserebrasi.
2. Dehidrasi asidosis
3. Hydrosefalus akibat sumbatan, reabsorbsi berkurang atau produksi berlebih
dari likuor serebrospinal.
4. Dekubitus
5. Retradasi mental.


    
1. ëedis
Dasar pengobatan ëeningitis Tuberkulosa adalah :
a. Pemberian kombinasi obat antituberkulosa.
b. Kortikosteroid
c. Simtomatis
d. Pemberian O2
e. I£D dengan Dextrose 10% dan NaCl 0,9% dalam perbandingan 3 : 1.
2. Perawatan
a. Pemberian nutrisi melalui NGT
b. Pasang kateter
c. Atur posisi yang nyaman
3. Lakukan fisioterapi bila sudah memungkinkan
c c
 ! 



     "#  $ 

Asuhan keperawatan dilakukan dengan menggunakan pendekatan untuk


meningkatkan pendekatan proses keperawatan untuk meningkatkan, mencegah,
mengatasi dan memulihkan kesehatan melalui 4 (empat) tahap proses
keperawatan yang terdiri dari :
1. Pengkajian (Assesment)
2. Perencanaan (Planning)
3. Pelaksanaan (Implementasi)
4. Penilaian (Evaluasi)
Yang masing-masing berkesinambungan serta memerlukan kecakapan
keterampilan professional tenaga keperawatan.
Proses keperawatan adalah cara pendekatan sistematis yang diterapkan
dalam pelaksanaan fungsi keperawatan, ide, pendekatan yang dimiliki,
karakteristik, sistematis, bertujuan, interaksi, dinamis dan ilmiah.
1. Pengkajian Data
Pengkajian merupakan tahapan awal dan merupakan dasar proses
keperawatan, diperlukan pengkajian yang cermat untuk masalah klien, agar
dapat memberi arah pada tindakan keperawatan. Keberhasilan proses
keperawatan sangat tergantung kepada kecermatan dan ketelitian dalam tahap
pengkajian.
Tahap pengkajian terdiri dari 4 (empat) tahapan yaitu: a. Pengumpulan
data, b. Klasifikasi data, c. Analisa data, d. Rumusan diganosa keperawatan.
a. Pengumpulan Data
Pengumpulan data merupakan kegiatan untuk mengumpulkan
informasi dari klien, keluarga, catatan medis atau profesi lain, termasuk hasil
diagnostik test. Data dikumpulkan dengan cara wawancara, observasi dan
pemeriksaan fisik (inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi) yang meliputi
data-data sebagai berikut :
1). Biodata
Terdiri dari identitas pasien: nama, umur, jenis kelamin,
agama, suku bangsa, pendidikan, pekerjaan, penghasilan, nomor
register klien, tanggal masuk dirawat, tanggal pengkajian, diagnosa
medis.
2). Riwayat kesehatan sekarang
a). Keluhan utama: pasien dengan ëeningitis Tuberkulosa
menunjukkan gejala gangguan kesadaran dan kelumpuhan.
b). Riwayat keluhan utama: klien dengan ëeningitis Tuberkulosa
biasanya datang berobat dengan riwayat gangguan kesadaran,
kejang dan panas serta muntah.
3). Riwayat kehamilan dan persalinan meliputi: prenatal, natal, post natal.
4). Riwayat kesehatan masa lalu meliputi: riwayat penyakit yang diderita,
pernah opname atau belum, nutrisi waktu bayi, imunisasi dan riwayat
allergi.
5). Riwayat tumbuh kembang, terdiri atas: berat badan lahir (BBL),
panjang badan lahir (PBL), lingkar kepala, lingkar dada, lingkar
lengan atas pada umur berapa: gigi tumbuh, anak tengkurap, duduk,
berjalan, menggerakkan motorik halus.
6). Data psikososial spiritual: anak dan orang tua.
7). Pola kebiasaan sehar-hari, terdiri dari: makan/minum, istirahat/tidur,
pola eliminasi BAB dan BAK, akativitas sehari-hari sebelum dan
selama sakit.
8). Pemeriksaan fisik meliputi :
a). Inspeksi : (mulai kepala sampai ujung kaki).
Keadaan umum: gangguan kesadaran, ubun-ubun menonjol,
muntah, kejang, kelumpuhan saraf mata sehingga terjadi
strabismus dan nigtasmus, pernafasan Cheyne Stoke.
b). Palpasi : anak dengan meningitis akan menunjukkan aku seluruh
tubuh, suhu tubuh meningkat (panas), nadi tidak teratur, kaku
kuduk.
c). Perkusi : anak dengan ëeningitis Tuberkulosa akan menunjukkan
adanya refleks tendon yang meninggi.
d). Auskultasi : akan terdengar bunyi pernafasan yang tidak teratur,
ronchi basah.
9). Pemeriksaan penunjang
Pada kasus ëeningitis Tuberkulosa biasanya dilakukan pemeriksaan
penunjang :
a). Lumbal punksi untuk memeriksa CSF yang meliputi :
(1). Warna : xanthacrom
(2). Kekeruhan : tergantung pada jumlah sel dalam liquor, bila
lebih dari 200 mm3 liquor sedikit keruh.
(3). Sel : terdiri dari PëN dan limposit. Semakin akut keadaan
penyakit maka makin banyak jumlah PëN
(4). Protein : selalu lebih dari 40%.
b). Tes tuberkulin : pada stadium awal memberikan hasil positif,
sedang distadium akhir hasil negatif.
c). Pemeriksaan radiologis : adanya perubaan gambaran yang dapat
menyokong ëeningitis Tuberkulosa.
d). Pemeriksaan heatologi : Hb, leukosit, hitung jenis., analisa gas
darah.
Nilai normal CSF :
- Warna : jernih.
- Nonne : (-) sampai (+)
- Pandy : (-) sampai (+)
- Sel : 0 sampai 10 /mm3
- Protein : 10 ± 35 mg/100 ml.
- Glukosa : 50 ± 80 mg/100 ml.
b. Klasifikasi Data
ëengklasifikasikan dalam data subyektif dan data obyekti.
1). Data Subyektif
Adalah persepsi klien/keluarga yang bersifat subyektif terhadap
masalah-masalah yang dikluhkan sehubungan dengan ëeningitis
Tuberkulosa.
2). Data Obyektif
Adalah semua data senjang pada klien dengan ëeningitis Tuberkulosa
yang diperoleh dari pemeriksaan fisik (inspeksi, palpasi, perkusi dan
auskultasi) dan hasil-hasil pemeriksaan diagnostik.
c. Analisa Data
Dengan melihat data subyektif dan data objektif dapat ditentukan
permasalahan yang dihadapi oleh klien dan dengan memperhatikan
patofisiologi mengenai penyebab penyakit ëeningitis Tuberkulosa
sampai permasalahannya tersebut.
d. Dignosa Keperawatan
Diagnosa Keperawatan adalah penilaian klinis tentang respon actual dan
potensial dari individu, keluarga, atau masyarakat terhadap masalah
kesehatan proses kehidupan

c
      $ 
1. Resiko terhadap infeksi berhubungan dengan status cairan tubuh,
penekanan respon inflamasi, pemanjangan terhadap patogen
2. Resiko terhadap perubahan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan
edema serebral.
3. Resiko terhadap trauma berhubungan dengan iritasi korteks serebral
4. Nyeri akut berhubungan dengan proses inflamasi
5. Kerusakan mobiltas fisik berhubungan dengan kerusakan neuromuskuler
6. Perubahan persepsi sensorik berhubungan dengan perubahan resepsi
sensorik, integrasi.
7. Kecemasan berhubungan dengan krisis situasi
8. Kurang pengetahuan mengenai penyebab infeksi dan kebutuhan
pengobatan berhubungan dengan kurang pemajangan


 %  $ 
> Resiko terhadap infeksi berhubungan dengan status cairan tubuh,
penekanan respon inflamasi, pemanjangan terhadap pathogen
Tujuan: tidak terjadi infeksi
Kriteria Evaluasi:
j Tidak demam
j Jumlah leukosit dalam rentang normal
Intervensi :
1. Beri tindakan isolasi sebagai tindakan pencegahan
‰ 
     
        


  
   
       
            
    
      
 
2. Pertahankan teknik aseptik dan teknik cuci tangan yan tepat baik
pasien pengunjung maupun staf. Pantau dan batasi pengunjung / staf
sesuai kebutuhan
‰ 
               

           !    
 "  
  "  
 
 
  
3. Pantau suhu secara teratur catat munculnya tanda ± tanda klinis dan
proses infeksi
‰ 
#        
 
 
 $   
   
     %  

    !
  #
    
    
               
        & %    
 %

 !    
   
4. Teliti adanya keluhan nyeri dada berkembangnya nadi yang tidak
tertur / disritmia atau demam yang terus menerus
‰ 
 '              
   
 "
!
5. Auskultasi suara nafas. Pantau kecepatan pernafasan dan usaha
pernafasan
‰ 
 (               ! 
           
    
 !      
6. Ubah posisi pasien dengan teratur dan anjurkan untuk melakukan
nafas dalam
‰ 
 
        
    
       !   
   
   
7. Catat karakterisitik urine, seperti warna, kejernihan dan bau
‰ 
 )      
    

      !
  
8. Identifikasi kontak yang beresiko terhadap perkembangan proses
infeksi serebral dan anjurkan mereka untuk meminta pengobatan
‰ 
 *  %          
 
   
      .
> Resiko terhadap perubahan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan
edema serebral.
Tujuan: Perfusi jaringan serebral adekuat
Criteria Evaluasi:
j TT£ dalam rentang normal
j Perbaikan kognitif
j Perbaikan fungsi sensorik dan kognitif
j Peningkatan tingkat kesadaran
Intervensi
1. Pertahankan tirah baring dengan posisi kepala datar dan pantau tanda
vital sesuai indikasi setelah dilakukan fungsi jumbal.
‰ 
            
             
     
 
2. Pantau / catat status neurologis dengan teratur dan bandingkan dengan
keadaan normalnya, seperti GCS
‰ 
  !           
 
    #'+
     

 
    
        
 

3. Kaji adanya regiditas nikal , gemetar, kegelisahan yang meningkat,


peka rangsang dan adanya serangan kejang
‰ 
       
  
! ! 
        
4. Pantau tanda vital seperti tekanan darah. Catat serangan dari hipertensi
sistolik yang terus menerus, dan tekanan nadi yang melebar
‰ 
 ,
  
      
 
 
          
   
       +
   
  
    "  
 


     

    #'+        ! 

                 
       
     
 
5. Pantau frekwensi irama jantung
‰ 
               
   !          
      !    
6. Pantau pernafasan, catat pola dan irama pernafasan, seperti adanya
periode apnea setelah hiperventilasi ( pernafasan Cheyne-Stokes)
‰ 
 # 
         
   #'+  
     
     
    
     
    "
  
7. Pantau suhu dan juga atur suhu lingkungan sesuai kebutuhan. Batasi
penggunaan selimut, lakukan kompres hangat jika ada demam. Tutupi
ekstremitas dengan selimut ketika selimut hipotermia digunakan
‰ 
 -           
 
      
      

  #!        
 
        
    
  #'+
8. Pantau masukan dan haluaran. Catat karakteristik urine, turgol kulit,
dan keadaan membran mukosa
‰ 
 .     
         
            !      
 
 
   



9. Bantu pasien untuk berkemih / membatasi batuk, muntah mengejan.
Anjurkan pasien untuk mengeluarkan nafas selama pergerakan /
perpindahan di tempat tidur
‰ 
 ( "             
          #'+  / 
 
 
             "
"

" .
10.Berikan tindakan yang menimbulkan rasa nyaman, seperti masase
punggung, lingkungan yang tenang, suara yang halus dan sentuhan
yang lembut.
‰ 
          
 
 
  
> Resiko trauma berhubungan dengan iritasi korteks serebral
Tujuan: tidak terjadi trauma
Kriteria Evaluasi:
j Tidak terjadi kejang
Intervensi:
1. Pantau adanya kejang/kedutan pada tangan, kaki ,dan mulut atau otot
wajah yang lain.
‰ 
               

  "
     "      
   
 
2. Berikan keamanan pada pasien dengan memberi bantalan pada
penghalang tempat tidur, pertahankan penghalang tempat tidur tetap
terpasang.
‰ 

  ! !  ! 
3. Pertahankan tirah baring selama fase akut.
‰ 
      !      !  "
      
4. kolaborasi
Berikan obat sesuai indikasi seperti fenitoin (dilantin), diazepam
(valium), fenobarbital (luminal)
‰ 
                 
! 
> Nyeri akut berhubungan dengan proses inflamasi
Intervensi
1. Berikan lingkungan yang tenang, ruangan agak gelap sesuai indikasi
‰ 
        
 
   
"          
 
2. Tingkatkan tirah baring, bantulah kebutuhan perawatan diri yang
penting
‰ 
       
3. Letakkan kantung es pada kepala, pakaian dingin diatas mata.
‰ 
  "    
 
!   
4. Berikan latihan rentang gerak aktif/pasif secara tepat dan masase otot
daerah leher/bahu
‰ 
  
       
5. Gunakan pelembab yang agak hangat pada nyeri leher/punggung jika
tidak ada demam
‰ 
    
        
            
6. Kolaborasi
Berikan analgetik ;seperti asetarninofen, kodein
‰ 
  
  
   
> Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan neuromuskuler
Tujuan: mempertahankan kekuatan dan fungsi otot yang optimal
Kriteria Evaluasi:
j Peningkatan rentang ROë
j Tidak terjadi kontraktur
j Dapat melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari yang optimal
Intervensi
2. Periksa kembali kemampuan dan keadaan secara fungsional pada
kerusakan yang terjadi
‰ 
         

 
 "   
 
3. Bantu klien untuk melakukan latihan rentang gerak
‰ 
     
       

    "   
4. Periksa adanya daerah yang mengalami nyeri tekan, kemerahan, kulit
yang hangat, otot yang tegang dan sumbatan pada vena kaki.
Observasi adanya dipneu tiba-tiba, takikardi, demam, distres
pernafasan dan nyeri dada
‰ 
              
" 
 #£- 


 
 
 "
      
 
5. Berikan matras udara atau air, terapikinetik sesuai kebutuhan
‰ 
    !     

       
  "     
 !    !   
> Perubahan persepsi sensorik berhubungan dengan perubahan resepsi
sensorik, integrasi.
Tujuan: ëeningkatkan tingkat kesadaran dan fungsi persepsi
Kriteria Hasil:
j Berinteraksi secara sesuai dengan orang lain dan lingkungan
j ëemperlihatkan pengaturan pikiran secara logis
j ëenginterpretasikan ide yang dikomunikasikan orang lain secara
benar
j ëengkompensasi deficit sensori dengan memaksimalkan indra yang
rusak.
Intervensi
1. Evaluasi atau pantau secara teratur perubahan orientasi, kemampuan
berbicara, alam perasaan sensorik dan proses fikir.
‰ 
  
           


 
       
        
          
           
 0
     
    0   ! 
2. Kaji kesadaran sensorik seperti respon sentuhan, panas, dingin, benda
tajam atau tumpul dan kesadaran terhadap gerakan dan letak tubuh.
Perhatikan adanya masalah penglihatan atau sensasi yang lain.
‰ 
             
     
          " 
  
            
   

3. Observasi respon prilaku seperti rasa bermusuhan, menangis, fektif
yang tidak sesuai, agitasi dan halusinasi.
‰ 
       
       

     

4. Berikan lingkungan terstruktur termasuk terapi dan aktivitas. Buatkan
jadwal untuk pasien jika memungkinkan dan tinjau kembali secara
teratur.
‰ 
            
            
    
  
   
 
5. Rujuk pada ahli fisioterapi, terapi okupasi, terapi bicara dan terapi
kognitif.
‰ 
        
        
 
              
             "       
       "
   0   
 


> Kecemasan berhubungan dengan krisis situasi


Tujuan: menurunkan tingkat kecemasan
Kriteria Evaluasi:
j ëengakui dan mendiskusikan rasa takut
j ëengungkapkan keakuratan pengetahuan tentang situasi
j Tampak rileks dan melaporkan ansietas berkurang sampai pada tingkat
yang dapat diatasi
Intervensi
1. Kaji status mental dan tingkat ansietas pasien atau keluarga. Catat
adanya tanda-tanda verbal atau nonverbal .
‰ 
 1     
   2   
            
    ! 
           

 " 
2. Berikan penjelasan antar hubungan proses penyakit dan gejalanya.
‰ 
                
          
3. Jelaskan tindakan prosedur yang akan dilakukan.
‰ 
-            

    
4. Beri kesempatan pasien untuk mengungkapkan isi pikiran dan
perasaan takut.
‰ 
                   
  !  
5. Libatkan pasien dan keluarga dalam perawatan, perencanaan
kehidupan sehari-hari dan membuat keputusan sebanyak mungkin.
‰ 
       kontrol terhadap diri dan
meningkatkan kemandirian.
> Kurang pengetahuan mengenai penyebab infeksi dan kebutuhan
pengobatan berhubungan dengan kurang pemajangan
Tujuan: ëeningkatkan pengetahuan klien tentang penyakit
Kriteria Evaluasi:
j Pasien dapat mengungkapkan pemahanan tentang kondisi/ proses
penyakit dan pengobatan
j Pasien mengikuti terapi pengobatan
Intervensi
1. Berikan informasi dalam bentuk-bentuk segmen yang singkat dan
sederhana.
‰ 
             
       
     
2. Diskusikan mengenai kemungkinan proses penyembuhan yang lama.
‰ 
   
    

   

               

              ! 
       
 
3. Berikan informasi tentang kebutuhan untuk diet tinggi protein atau
karbohidrat yang dapat diberikan atau di makan dalam jumlah kecil
tapi sering.
‰ 
             

!
  
  
 
   
    
    
   
!         

4. Diskusikan pencegahan proses penyakit sesuai dengan kebutuhan
seperti memperoleh imunisasi yang sesuai, berenang hanya pada air
yang mengandung klorida, lingkungan yang bebas nyamuk untuk
mencegah infeksi.
‰ 
  "  
    
 "   
5. Tekankan pentingnya evaluasi ulang dan terapi rawat jalan secara
rutin.
‰ 
   
        
      !
         

               
     


  
Pelaksanaan keperawatan adalah pengelolaan dan perwujudan dari
rencana perawatan, untuk memperoleh pelaksanaan yang efektif, dituntut
pengetahuan dan keterampilan yang luas dari tenaga perawat, untuk memberikan
pelayanan perawatan yang baik dan bermutu yang telah ditentukan dapat
direncanakan.
Dalam memberikan pelayanan keperawatan yang baik dan bermutu
memerlukan intelektual dan keterampilan berhubungan, antara manusia yang
harmonis berdasarkan pemikiran yang rasional.
Ada dua syarat hasil yang diharapkan dalam pelaksanaan perawatan,
yiatu :
a. Adanya bukti bahwa klien sedang dalam proses menuju kepada tujuan
keperawatan atau telah mencapai tujuan tersebut.
b. Adanya bukti bahwa tindakan-tindakan perawatan dapat diterima oleh
klien.
Proses pelaksanaan perawatan mencakup tiga hal :
1). ëelaksanakan rencana keperawatan. Yaitu segala informasi yang
tercakup dalam rencana keperawatan, merupakan dasar atau pedoman
dalam intervensi dalam perawatan.
2). ëengidentifikasi reaksi/tanggapan klien.
Dalam mengidentifikasi reaksi/tanggapan klien dituntut upaya yang tidak
tergesa-gesa dan cermat serta teliti, agar menemukan reaksi-reaksi klien
sebagai akibat tindakan perawatan yang diberikan dengan mutlak, akan
sangat membantu perawat dalam mengidentifikasi reaksi klien yang
mungkin menunjukkan adanya penyimpangan-penyimpangan.
3). ëengevaluasi tanggapan/reaksi klien.
ëengevaluasi reaksi klien dengan cara membandingkan terhadap syarat-
syarat dengan hasil yang diharapkan. Langkah ini merupakan tahap
sendiri. Syarat yang pertama yang dipenuhi apabila perawat telah
mencapai tujuan. Syarat yang kedua adalah bukti-bukti intervensi
perawatan yang dapat diterima oleh klien.


 % " 
Evaluasi untuk mengetahui sejauhmana pencapaian tujuan dalam asuhan
keperawatan yang telah dilakukan. Klien perlu dievaluasi sebagai berikut :
1. Apakah tujuan pelayanan keperawatan sudah tercapai atau belum.
2. Apakah masalah yang ada telah terpecahkan atau belum.
3. Apakah perlu pengkajian kembali.
c c&
ëc   

Pemberian asuhan keperawatan merupakan proses terapeutik yang


melibatkan hubungan kerjasama antara perawat dengan klien/keluarga atau
masyarakat untuk mencapai tingkat kesehatan yang optimal.
Proses keperawatan mempersiapkan kerangka acuan untuk mengidentifikasi
kebutuhan klien, menyeleksi, mengintervensi dan mengoreksi keefektifan
pelaksanaan asuhan keperawatan. Perawat memerlukan pengetahuan yang luas
terhadap perawatan untuk menentukan kebutuhan fisiologis dan psikologis klien
beserta keluarganya.
Secara garis besar apa yang telah diuraikan pada teori tentang meningitis
tubekulosis tampak banyak kesamaan dengan tinjauan kasus yang ditemukan pada
klien dengan meningitis tuberculosis, namun ada beberapa perbedaan yang tidak
terlalu menyolok dengan apa yang dibahas dalam tinjauan kasus. Untuk memudahkan
dalam menguraikan kesenjangan yang ada maka kelompok membahas sebagai
berikut:


   '  $ 
Pengkajian merupakan dasar utama dari proses keperawatan, berguna
untuk menentukan aktivitas keperawatan dan sumber data bagi profesi lain. Pada
tahap pengkajian pada Tn. R yang menjadi sumber informasi dalam
pengumpulan data adalah keluarga klien, medical record dan perawat ruangan.
Dalam teori, pengkajian pasien dengan meningitis TB akan ditemukan
adanya tanda dan gejala seperti : Kehilangan motorik, kehilangan komunikasi
(disartria, disfasia/afasia dan apraksia), gangguan persepsi, kerusakan fungsi
kognitif dan efek psikologis, dan tingkat kesadaran, terjadi kelemahan umum, ,
kesulitan menelan, dan lain-lain, dan pada saat pengkajian kami menemukan
kesesuaian akan hal-hal tersebut.
Pada teori disebutkan bahwa pemeriksaan lumbal punksi sangat
menentukan untuk mengetahui adanya infeksi pada selaput otak, namun sampai
saat pengkajian klien belum dilakukan punksi lumbal hal ini kurang diketahui
secara pasti alas an tidak dilakukannya punksi lumbal

c
    $ 
Diagnosa keperawatan merupakan penilaian atau kesimpulan yang
diambil dari pengkajian keperawatan. Dalam Doengoes ë.E (2001), disebutkan
ada 8 macam diagnosa keperawatan yang muncul pada klien dengan meningitis
TB, antara lain : Resiko terhadap infeksi berhubungan dengan status cairan
tubuh, penekanan respon inflamasi, pemanjangan terhadap pathogen Resiko
terhadap perubahan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan edema
serebral. Resiko terhadap trauma berhubungan dengan iritasi korteks serebral.
Nyeri akut berhubungan dengan proses inflamasi .kerusakan mobiltas fisik
berhubungan dengan kerusakan neuromuskuler. Perubahan persepsi sensorik
berhubungan dengan perubahan resepsi sensorik, integrasi. Kecemasan
berhubungan dengan krisis situasi. Kurang pengetahuan mengenai penyebab
infeksi dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurang pemajangan
Berdasarkan hasil analisa data yang telah dikumpulkan, beberapa
masalah/diagnosa keperawatan diantaranya yaitu : Perubahan perfusi jaringan, ,
gangguan integritas kulit ,gangguan mobilitas fisik, nutrisi kurang dari
kebutuhan, , dan resiko infeksi.
Pada kasus ini kami mengangkat diagnosa resiko infeksi karena saat
pengkajian, klien sebelumnya telah menjalani beberapa operasi pemasangan alat
invasif. Kami tidak mengangkat diagnosa perubahan persepsi sensori, gangguan
harga diri, dan kurang pengetahuan karena selama proses perawatan, kesadaran
klien masih menurun sehingga hal-hal tersebut sulit dinilai dan sulit untuk
melakukan intervensi pada diagnosa-diagnosa tersebut. Di samping itu, kami
juga tidak mengangkat diagnosa kurang perawatan diri karena kenyataannya
keluarga klien selalu memperhatikan masalah perawatan diri klien. Untuk itu
keluarga selalu merawat dan membersihkan klien dan tidak ditemukan tanda-
tanda kuarang perarawatan diri pada klien. Kami juga tidak mengangkat diagnosa
kerusakan menelan terpasang NGT sehingga diagnosa tersebut sulit dinilai.


 (  $ 
ëerupakan serangkaian tindakan yang dapat mencapai tiap tujuan.
perencanaan memberikan alasan ilmiah berdasarkan literatur, hasil penelitian dan
pengalaman praktik.
Perencanaan dibuat untuk mengatasi respon klien dan untuk mencapai hasil
yang diharapkan seperti : Perfusi jaringan otak dapat tercapai secara optimal,
mempertahankan/meningkatkan kekuatan dan fungsi bagian tubuh yang terkena
(kompensasi), nutrisi yang seimbang sehingga tidak terjadi lagi penurunan berat
badan, dan tidak terjadi infeksi.


  $ 
Implementasi disesuaikan dengan rencana tindakan dan sebelum
melakukan tindakan yang sudah direncanakan, perawat perlu memvalidasi data
dengan singkat apakah data masih sesuai atau masih dibutuhkan.
Implementasi yang dilakukan pada klien berdasarkan intervensi
keperawatan yang telah ditetapkan yang disesuikan dengan kondisi klien Oleh
karena itu, tidak semua intervensi yang direncanakan, dilakukan pada klien.


% "  $ 
Evaluasi adalah proses berkelanjutan untuk menilai efek dari tindakan
keperawatan pada klien. Evaluasi dilakukan terus pada respon klien terhadap
tindakan keperawatan.
Dari ke-8 diagnosa keperawatan yang ditemukan, hanya 1 diagnosa
keperawatan yang teratasi. Diagnosa keperawatan yang teratasi yaitu resiko
infeksi. Sedangkan ke 7 diagnosa keperawatan yang belum teratasi disebabkan
oleh kondisi klien yang masih menurun sehingga kami sulit untuk melakukan
tindakan implementasi serta menilai kemajuan atau perkembangan klien.
c c&
!


 " 
Setelah mepelajari teori serta pengalaman langsung dilahan praktek maka
kelompok menarik kesimpulan sebagai berikut :
1. ëeningitis tuberculosis adalah suatu peradangan pada selaput otak akibat
komplikasi tuberculosis primer yang terdiri dari 3 stadium yaitu ; stadium
prodromal,transisi dan terminal dimana pada stadium terminal ini klien akan
mengalami kelumpuhan,koma dan akhirnya meninggal, namun klien pada
kasus ini belum sampai pada stadium tersebut sehingga tingkat kesembuhan
klien masih sangat besar namun hal ini sangatlah ditentukan oleh perawatan
serta pengobatan yang tepat.
2. Pemeriksaan penunjang dalam hal ini punksi lumbal sangatlah membantu
dalam menegakkan suatu diagnosa medik bahwa klien mengalami meningitis
tuberculosis
3. Dalam diagnosa keperawatan banyak masalah yang dapat diangkat untuk
dasar dalam meberikan asuhan keperawatan secara tepat sehingga klien
dengan meningitis TB dapat sembuh dan terhindar dari cacat akibat
komplikasi yang diakibatkan pelaksanaan perawatan dan pengobatan yang
kurang sempurna/tepat.

c
   
1. ëeningitis TB sangatlah memerlukan masa perawatan yang lama untuk itu
sebagai seorang perawat haruslah memiliki knowledge,skill serta attitude
yang professional dalam memberikan pelayanan asuhan keperawatan pada
klien dengan meningitis tuberculosis.
2. Tindakan kolaborasi seperti halnya pemeriksaan laboratorium (punksi
lumbal) sangatlah penting untuk mengetahui secara pasti proses penyakit
yang dialami klien
3. Perawat haruslah lebih cermat dalam menetukan prioritas masalah sehingga
diagnosa keperawatan yang ditentukan sangat tepat dalam membantu
mengatasi masalah yang dihadapi klien dengan meningitis TB.
4. Pemberian HE pada keluarga akibat proses perawatan yang lama serta derajat
penyakit yang sangat kompleks akan membantu dalam mencapai tujuan
keperawatan yang diharapkan karena adanya hubungan terapeutik antara
keluarga klien dengan petugas kesehatan umumnya dan keperawatan
khususnya.