Anda di halaman 1dari 11

TEORI ELASTISITAS

Metode seismik memanfaatkan sifat penjalaran gelombang mekanik yang


dijalarkan melewati bumi. Karena penjalaran gelombang sangat bergantung
pada sifat elastis dari batuan yang ada di bawah permukaan bumi, maka perlu
terlebih dahulu dibahas mengenai konsep dasar elastisitas.
Ukuran dan bentuk sebuah benda padat dapat berubah dengan cara
memberikan gaya ke bagian permukaan luar dari benda tersebut. Gaya luar ini
akan dilawan oleh gaya internal yang akan melawan perubahan bentuk dan
ukuran benda tersebut. Sebagai akibat dari gaya internal tersebut, benda akan
berusaha untuk kembali ke bentuk semula ketika gaya luar dihilangkan. Fluida
akan mempertahankan perubahan volume, tetapi tidak dengan perubahan
bentuk.
Sifat melawan perubahan bentuk atau ukuran dan kembali ke bentuk awal
ketika gaya luar dihilangkan dikenal dengan istilah elastisitas. Sebuah benda
yang elastis sempurna adalah benda yang benar-benar kembali ke bentuk dan
ukuran asal dengan sempurna setelah gaya luar dihilangkan. Batuan bisa
dianggap elastis sempurna dengan melihat bahwa deformasi benda tersebut
(perubahan bentuk atau ukuran) cukup kecil, seperti dalam kasus gelombang
seismik, kecuali untuk bahan yang berada dekat sumber seismik.
Teori elastisitas akan menghubungkan gaya yang diberikan terhadap
suatu benda dengan perubahan bentuk dan ukuran yang diakibatkan.
Hubungan antara gaya yang dikenakan pada benda terhadap deformasi benda
tersebut dinyatakan dalam konsep stress dan strain (tegangan dan regangan).

Tegangan (Stress)
Stress atau tegangan didefinisikan sebagai gaya per satuan luas. Ketika
sebuah gaya diberikan kepada sebuah benda, tegangan adalah perbandingan
antara besar gaya terhadap luas dimana gaya tersebut dikenakan. Jika gaya
yang dikenakan tegak lurus terhadap permukaan benda (luas yang akan
diperhitungkan), maka tegangan tersebut adalah tegangan normal. Jika gaya
yang dikenakan berarah tangensial terhadap elemen luas permukaan benda,
tegangan tersebut adalah tegangan geser. Jika gaya tersebut tidak tegak lurus
maupun paralel terhadap elemen luas permukaan benda tersebut, gaya
tersebut dapat diuraikan ke komponen yang paralel dan tegak lurus terhadap
elemen luas permukaan benda tersebut. Dengan demikian, segala bentuk
tegangan dapat diuraikan dalam komponen normal dan tangensial.

TEORI ELASTISITAS 1
Jika kita mempertimbangkan sebuah elemen kecil volume, tegangan yang
beraksi pada enam buah permukaan dapat diuraikan menjadi komponen-
komponen, seperti yang terlihat pada Gambar 1.
z
σzz
A σzy B
σzx
E F

dz σyz
σxz σyy
O dy
σ σyx C y
dx xy
σxx G
D
x
Gambar 1. Komponen tegangan.

Pada saat benda berada dalam keadaan setimbang statis, gaya-gaya akan
seimbang. Ini berarti bahwa tiga komponen tegangan σxx , σyx , σzx yang
beraksi pada permukaan OABC harus sama dan berlawanan dengan tegangan
pada permukaan DEFG, dengan hubungan yang serupa pula untuk empat
permukaan yang lainnya. Sebagai tambahan, sejumlah tegangan geser, seperti
σyx, merupakan kopel yang cenderung memutar elemennya pada sumbu z.
Besarnya kopel tersebut adalah :
( gaya× lengan pengungkit ) σ=(yx dydz )dx
Jika kita pertimbangkan tegangan pada empat permukaan lain benda
tersebut, kita akan menemukan bahwa kopel ini akan dilawan hanya oleh kopel
yang disebabkan oleh pasangan tegangan σxy dengan besar (σ xy dxdz) dy . Karena
elemen tersebut dalam keadaan setimbang, maka momen total haruslah nol,
dengan demikian σxy = σyx. Secara umum, harus memenuhi σij = σji.
 σ xx σ xy σ xz 
 
Tensor stress =  σ yx σ yy σ yz 
σ σ zy σ zz 
 zx
Normal Stress
Regangan (Strain)
Ketika benda elastis mendapat tegangan, maka akan terjadi perubahan
bentuk dan dimensi. Perubahan ini, yang dikenal dengan strain atau regangan,
dapat diuraikan dalam beberapa tipe dasar. Perhatikan bidang segiempat PQRS
pada bidang xy (Gambar 2). Pada saat stress berlaku, P akan berpindah ke P’;
PP’ memiliki komponen u dan v. Jika titik sudut lain Q, R dan S memiliki
perpindahan yang sama dengan P, bidang segiempat tersebut akan hanya
TEORI ELASTISITAS 2
akan berpindah secara keseluruhan dengan besar u dan v. Dalam hal ini tidak
ada perubahan bentuk maupun ukuran dan tidak ada regangan yang timbul.
Namun jika besar u dan v berbeda untuk titik sudut yang berbeda, bidang
segiempat tersebut akan mengalami perubahan bentuk dan atau ukuran, dan
regangan akan timbul.

y (du/dy)dy R’
S’
(dv/dy)dy

S δ2 R

Q’
dy u δ1 (dv/dx)dx
P’
v
Gambar 2. Analisis regangan 2 dimensi.
P dx Q (du/dx)dx
Asumsikan u = u(x,y), v = v(x,y), lalu koordinat dari PQRS dan P’Q’R’S’
dinyatakan sebagai berikut: x

P ( x, y ) : P '( x + u, y + v );
∂u ∂v
Q( x + dx, y ) : Q '( x + dx + u + dx, y + v + dx );
∂x ∂x
∂u ∂v
S ( x, y + dy ) : S '( x + u + dy , y + dy + v + dy );
∂y ∂y
∂u ∂u ∂v ∂v
R ( x + dx, y + dy ) : R '( x + dx + u + dx + dy , y + dy + v + dx + dy ).
∂x ∂y ∂x ∂y
secara umum perubahan u dan v jauh lebih kecil daripada besar dx dan dy.

Berdasarkan hal tadi dapat diasumsikan bahwa bentuk ( ∂u ∂x ) ,( ∂u ∂y ) dan


lainnya akan sangat kecil sehingga dapat diabaikan.
Strain didefinisikan sebagai perubahan relatif (perubahan fraksional/kecil)

dalam dimensi atau bentuk dari suatu benda. Kuantitas ∂u ∂v


∂x dan ∂y
merupakan pertambahan panjang yang relatif terhadap sumbu-x dan sumbu-y

dan merujuk kepada normal strain. Kuantitas (∂v ∂x + ∂u ∂y ) merupakan jumlah


dari sudut sebelah kanan dalam bidang xy yang berkurang ketika ada gaya
yang bekerja pada benda dan menyebabkan perubahan bentuk dari medium,

TEORI ELASTISITAS 3
dikenal sebagai shearing strain yang dinotasikan oleh ε xy . Kuantitas (∂v ∂x − ∂u ∂y )
merepresentasikan rotasi dari benda di sekitar sumbu-z yang tidak meliputi
perubahan dalam ukuran atau bentuk sehingga ini bukan merupakan strain.
Kuantitas ini dinotasikan dengan simbol θ z .
Strain atau regangan didefinisikan sebagai perubahan relatif (perubahan
kecil) dimensi atau bentuk dari suatu benda. Nilai kuantitas du/dx dan du/dy
adalah pertambahan relatif dimensi panjang dalam arah sumbu x dan y dan
berkenaan dengan regangan normal (normal strain). Sedangkan nilai kuantitas
(du/dx + du/dy) adalah besar dimana sudut sebelah kanan pada bidang xy
berkurang pada saat tegangan diberikan, dengan demikian merupakan ukuran
perubahan bentuk dari medium tersebut, yang dikenal dengan regangan geser
(shearing strain) yang dinotasikan dengan simbol εxy. Dalam perluasan ke
bidang tiga dimensi, elemen dasar dari regangan dinotasikan sebagai berikut :
∂u 
ε xx =
∂x 

∂u 
Regangan Normal ε yy =  (1) Regangan Geser
∂y 
∂w 
ε zz = 
∂z 
∂v ∂ u 
ε xy = ε yx = +
∂x ∂ y 

∂w ∂ v 
ε yz = ε zy = +  (2)
∂y ∂ z 
∂u ∂ w 
ε zx = ε xz = + 
∂z ∂ x 
Sebagai akibat dari regangan tersebut, benda mengalami rotasi
sederhana terhadap ketiga sumbu, yang diberikan oleh :
1  ∂w ∂v  
θx =  −  
2  ∂y ∂z  
1  ∂u ∂w  

θy =  −   (3)
2  ∂z ∂x  
1  ∂u ∂w  
θz =  −  
2  ∂z ∂x  

Perubahan dimensi yang diberikan oleh regangan akan menghasilkan
perubahan volume benda, perubahan volume per unit volume disebut dilatasi
dan direpresentasikan oleh Δ yang diberikan oleh :
∂u ∂v ∂w
∆ = ε xx + ε yy + ε zz = + + (4)
∂x ∂y ∂z

TEORI ELASTISITAS 4
 ε xx ε xy ε xz   θx θy θz 
   
Tensor strain =  ε yx ε yy ε yz  , Rotasi Posisi benda =  ∂ / ∂x ∂ / ∂y ∂ / ∂z 
ε ε zy ε zz   u v w 
 zx  
Hukum Hooke
Hukum Hooke menyatakan bahwa ketika regangannya kecil, regangan
yang diberikan akan proporsional dengan tegangan yang menimbulkannya atau
dengan kata lain, masing-masing regangan merupakan fungsi linier dar
keseluruhan tegangan dan sebaliknya. Untuk medium homogen isotropik,
pernyataan tersebut dapat diekspresikan dalam bentuk :
σ ii = λ∆ + 2µε ii i = x,y,z (5)
σ ij = µε ij i,j = x,y,z, i ≠ j
(6)
Persamaan (5) menyatakan bahwa tegangan normal dapat menghasilkan
tegangan dalam arah selain arah dari tegangan tersebut, sedangkan
persamaan (6) menyatakan bahwa tegangan geser hanya menghasilkan
regangan geser (tidak ada regangan normal).
Besaran λ dan μ dikenal dengan konstanta Lame. Jika dituliskan ε ij = σ ij / µ ,
jelas bahwa nilai ε ij berbanding terbalik dengan μ. Oleh karena itu μ yang
merupakan ukuran tahanan terhadap regangan geser sering merujuk kepada
besaran modulus kekerasan atau modulus geser. Ketika tegangan dinaikkan
hingga melebihi limit elastis, maka Hukum Hooke tak lagi berlaku dan regangan
yang diakibatkan oleh tegangan tersebut tidak sepenuhnya hilang ketika
tegangannya dihilangkan.

Konstanta Elastis
Walaupun konstanta Lame sesuai untuk digunakan dalam peristiwa fisika
yang melibatkan sifat elatisitas benda, beberapa konstanta elastis lain sering
digunakan, diantaranya Modulus Young yang dirumuskan dengan :
σ xx µ (3 λ + 2 µ)
E= = (7)
ε xx λ+ µ
dan perbandingan Poisson (Poisson’s Ratio) yang dirumuskan dengan :
−ε yy −ε zz λ
σ= = = (8)
ε xx ε xx 2(λ + µ )
Medium yang mengalami penegangan hidrostatis sebesar –p atau :
σ xx = σ yy = σ zz = -p σ xy = σ yz = σ zx = 0
akan memiliki perbandingan antara tegangan terhadap dilatasi sebesar k :

TEORI ELASTISITAS 5
− p 3λ + 2 µ
k= = (9)
∆ 3
∂u ∂v ∂w
∆ = ε xx + ε yy + ε zz = + +
∂x ∂y ∂z

(10)
Persamaan Gelombang
Gelombang yang berada pada keadaan tidak teredam dapat dinyatakan
dengan persamaan berikut :
1 ∂2ψ
∇ ψ= 2
2

v ∂t 2
(11)
dengan
∂ ∂ ∂
∇ = î + ĵ + k̂
∂x ∂y ∂z
(12)
Persamaan rambat gelombang P dan S dapat diturunkan dari Hukum Hooke
yang menyatakan hubungan stress (gaya persatuan luas) dan strain
(perubahan dimensi) sebagai:
σii = λ∆ + 2µ εii
(13)
σij = µεij ; i≠ j
(14)
dalam persamaan tersebut i,j = x,y,z sedangkan λ dan µ dikenal sebagai
konstanta lame. konstanta µ didefinisikan sebagai kemampuan menahan strain
geser, sehingga µ seringkali disebut sebagai modulus geser. ∆ adalah
perubahan volume sebagai akibat dari tekanan :
∂u ∂v ∂w
∆= + +
∂x ∂y ∂z

Persamaan (13) menyatakan hubungan antara stress ( σii ) dan strain ( εii )
pada keadaan satu arah sedangkan persamaan (14) menyatakan hubungan
stress dan strain yang saling tegak lurus.

TEORI ELASTISITAS 6
tekanan

strain searah

stress

strain tegak lurus


stress

Kondisi benda pada keadaan awal

Kondisi benda pada keadaan akhir

Gambar 3. Penggambaran stress dan strain yang ditimbulkan oleh tekanan.

Dalam hukum Newton, gaya (F) pada suatu benda setara dengan massa
benda (M) dikali dengan percepatannya (a). Sehubungan dengan pergeseran
(u) sebagai akibat dari tekanan sepanjang sumbu-x, hukum Newton tersebut
diungkapkan sebagai berikut:
m.a
Hukum newton : F = = ρ .a
volum

∂2 u ∂σxx ∂σxy ∂σxz


ρ = + +
∂t 2 ∂x ∂y ∂z
(15)
dimana σ xx = Stress normal arah x, σ xy = Stress geser arah x ke y dan σ xz = Stress geser arah x ke
z.

Dengan mengunakan Hukum Hooke :


σii = λ∆ + 2µ εii dan σij = µεij dimana i≠ j
Jika Hukum Hooke dimasukkan ke persamaan (15), akan mendapatkan :
∂2 u ∂ ∂ ∂
ρ = ∂x (λ∆ + 2µεxx ) + ∂y (µεxy ) + ∂z (µεxz )
∂t 2

(16)
∂2 u λ ∂ (∆) + 2µ ∂ (ε ) +µ ∂ (ε ) +µ ∂ (ε )
ρ = xx xy xz
∂t 2 ∂x ∂x ∂y ∂z
(17)
Jika dilakukan operasi divergensi arah sumbu x, sumbu y dan sumbu z :
∂2  ∂  ∂  ∂  ∂  ∂  ∂  ∂  ∂  ∂ 
ρ 2 
(u )  = λ  (∆)  + 2µ  (εxx )  + µ  (εxy )  + µ  (εxz ) 
∂t  ∂x  ∂x  ∂x  ∂x  ∂x  ∂y  ∂x  ∂z  ∂x 
(18)
TEORI ELASTISITAS 7
∂2 ∂  ∂  ∂  ∂  ∂  ∂ ∂  ∂ ∂ 
ρ 
 ∂y ( v) 
 = λ ∂y 
 ∂y ( ∆) 
 + 2µ ∂y 
 ∂y (εyy ) 
 + µ ∂x 
 ∂y (εyx ) 
 + µ ∂z 
 ∂y (εyz ) 

∂t 2          
(19)
∂2  ∂  ∂ ∂  ∂ ∂  ∂ ∂  ∂ ∂ 
ρ 2 
( w )  = λ  (∆)  + 2µ  (εzz )  + µ  (εzx )  + µ  (εzy ) 
∂t  ∂z  ∂z  ∂z  ∂z  ∂z  ∂x  ∂z  ∂y  ∂z 
(20)
Kita kembangkan lebih jauh, lakukan operasi pada 3 arah ”displacement” u, v,
w:
∇ .D = ∇ x.u + ∇ y.v +∇ z.w
(21)
∂ ∂ ∂
∇ .D = ∂x ( u ) + ∂y ( v) + ∂z ( w )

(22)
Kita jumlahkan persamaan (18), persamaan (19), dan persamaan (20) :
∂2
ρ (∇.D ) = λ∇2 ∆+2µ∇2 ∆
∂t 2

(23)
∂2
ρ (∇.D ) = (λ+2µ)∇2 ∆
∂t 2

(24)
Persamaan (24) adalah persamaan untuk gelombang P karena beroperasi
pada arah sejajar (searah) dengan komponen gaya. Jika persamaan (18)
dibandingkan dengan persamaan gelombang umum (11), maka akan diperoleh
perumusan kecepatan gelombang P, yaitu:
λ + 2µ
Vp =
ρ
(19)
dengan λ adalah konstanta Lame dan ρ adalah densitas.
Selanjutnya sehubungan dengan gerak puntir seperti dikemukakan dalam
lampiran B, diperoleh persamaan:
∂ 2 θx
ρ 2 = µ∇ 2 θ x
∂t
(20)
  
dengan θ=∇xζ, yang menyatakan vektor sudut puntir. Persamaan (20) ini
disebut juga sebagai persamaan gelombang S karena gelombang merambat
dengan gerakan memutar (curl).
Dengan membandingkan persamaan (9) dan persamaan gelombang
umum (1) maka diperoleh kecepatan gelombang S, yaitu :
TEORI ELASTISITAS 8
µ
Vs =
ρ
(21)
dengan µ adalah modulus geser dan ρ adalah massa jenis. Berdasarkan
persamaan ini, gelombang S tidak dapat merambat pada medium cair maupun
udara karena cairan dan udara mempunyai modulus geser bernilai nol.

Gambar 4. Perambatan gelombang P dan gelombang S

Konsep Tensor Stress, Strain dan Tensor Anisotropi


Dari Hukum Hooke yang menyatakan hubungan stress (gaya persatuan
luas) dan strain (perubahan dimensi) sebagai:
σ = C.ε
(22)
dimana : σ = tensor stress, ε = tensor strain dan C = tensor stiffness (derajat
kekakuan), atau
σ ij = Cijkl.ε kl

(23)
Cijkl adalah tensor stiffness berukuran 9x9
σ ij =ζ .ε
ijkl kl

(23)
ζ ijkl adalah tensor compliance berukuran 9x9, ζ ijkl = 1/(Cijkl)
dimana σ IJ : Stress (rank 2), ε KL : Strain (rank 2) dan CIJKL : Tensor Elastisitas (rank
4)
σ 11 = C1111. ε 11 + C1112. ε 12 + C1113. ε 13 + C1121. ε 21 + C1122. ε 22 +
C1123. ε 23 + C1131. ε 31 + C1132. ε 32 + C1133. ε 33
σ 12 = C1211. ε 11 + C1212. ε 12 + C1213. ε 13 + C1221. ε 21 + C1222. ε 22 +
C1223. ε 23 + C1231. ε 31 + C1232. ε 32 + C1233. ε 33
σ 13 = C1311. ε 11 + C1312. ε 12 + C1313. ε 13 + C1321. ε 21 + C1322. ε 22 +
C1323. ε 23 + C1331. ε 31 + C1332. ε 32 + C1333. ε 33
σ 21 = C2111. ε 11 + C2112. ε 12 + C2113. ε 13 + C2121. ε 21 + C2122. ε 22 +
C2123. ε 23 + C2131. ε 31 + C2132. ε 32 + C2133. ε 33
σ 22 = C2211. ε 11 + C2212. ε 12 + C2213. ε 13 + C2221. ε 21 + C2222. ε 22 +
C2223. ε 23 + C2231. ε 31 + C2232. ε 32 + C2233. ε 33

TEORI ELASTISITAS 9
σ 23 = C2311. ε 11 + C2312. ε 12 + C2313. ε 13 + C2321. ε 21 + C2322. ε 22 +
C2323. ε 23 + C2331. ε 31 + C2332. ε 32 + C2333. ε 33
σ 31 = C3111. ε 11 + C3112. ε 12 + C3113. ε 13 + C3121. ε 21 + C3122. ε 22 +
C3123. ε 23 + C3131. ε 31 + C3132. ε 32 + C3133. ε 33
σ 32 = C3211. ε 11 + C3212. ε 12 + C3213. ε 13 + C3221. ε 21 + C3222. ε 22 +
C3223. ε 23 + C3231. ε 31 + C3232. ε 32 + C3233. ε 33
σ 33 = C3311. ε 11 + C3312. ε 12 + C3313. ε 13 + C3321. ε 21 + C3322. ε 22 +
C3323. ε 23 + C3331. ε 31 + C3332. ε 32 + C3333. ε 33

Matriks Stiffness Ordo 9x9


σ ε
11 C1111 C1112 C1113 C1121 C1122 C1123 C1131 C1132 C1133 11

σ ε
12 C1211 C1212 C1213 C1221 C1222 C1223 C1231 C1232 C1233 12

σ ε
13 C1311 C1312 C1313 C1321 C1322 C1323 C1331 C1332 C1333 13

σ ε
21 C2111 C2112 C2113 C2121 C2122 C2123 C2131 C2132 C2133 21

σ ε
22 = C2211 C2212 C2213 C2221 C2222 C2223 C2231 C2232 C2233 22

σ ε
23 C2311 C2312 C2313 C2321 C2322 C2323 C2331 C2332 C2333 23

σ ε
31 C3111 C3112 C3113 C3121 C3122 C3123 C3131 C3132 C3133 31

σ ε
32 C3211 C3212 C3213 C3221 C3222 C3223 C3231 C3232 C3233 32

σ ε
33 C3311 C3313 C3315 C3321 C3322 C3323 C3331 C3332 C3333 33

Jika σ IJ = σ JI, CIJKL = CIJLK, CIJKL = CJIKL dan ε KL =ε LK


σ 11 = C1111. ε 11 + 2 C1112. ε 12 + 2C1113. ε 13 + C1122. ε 22 + 2C1123. ε 23 + C1133. ε 33
σ 12 = C1211. ε 11 + 2 C1212. ε 12 + 2C1213. ε 13 + C1222. ε 22 + 2C1223. ε 23 + C1233. ε 33
σ 21 = C2111. ε 11 + 2 C2112. ε 12 + 2C2113. ε 13 + C2122. ε 22 + 2C2123. ε 23 + C2133. ε 33
σ 13 = C1311. ε 11 + 2 C1312. ε 12 + 2C1313. ε 13 + C1322. ε 22 + 2C1323. ε 23 + C1333. ε 33
σ 22 = C2211. ε 11 + 2 C2212. ε 12 + 2C2213. ε 13 + C2222. ε 22 + 2C2223. ε 23 + C2233. ε 33
σ 23 = C2311. ε 11 + 2 C2312. ε 12 + 2C2313. ε 13 + C2322. ε 22 + 2C2323. ε 23 + C2333. ε 33
σ 31 = C3111. ε 11 + 2 C3112. ε 12 + 2C3113. ε 13 + C3122. ε 22 + 2C3123. ε 23 + C3133. ε 33
σ 32 = C3211. ε 11 + 2 C3212. ε 12 + 2C3213. ε 13 + C3222. ε 22 + 2C3223. ε 23 + C3233. ε 33
σ 33 = C3311. ε 11 + 2 C3312. ε 12 + 2C3313. ε 13 + C3322. ε 22 + 2C3323. ε 23 + C3333. ε 33
atau :
σ 11 = C1111. ε 11 + 2 C1112. ε 12 + 2C1113. ε 13 + C1122. ε 22 + 2C1123. ε 23 + C1133. ε 33
2σ 12 = (C1211 + C2111)ε 11 + 2( C1212 + C2112)ε 12 + 2(C1213 + C2113) ε 13 + (C1222 + C2122) ε 22 + 2(C1223 +C2123)ε 23 + ( C1233
+ C2133)ε 33
2σ 13 = (C1311 + C3111)ε 11 + 2( C1312 + C3112)ε 12 + 2(C1313 + C3113) ε 13 + (C1322 + C3122) ε 22 + 2(C1323 +C3123)ε 23 + ( C1333
+ C3133)ε 33

TEORI ELASTISITAS 10
σ 22 = C2211. ε 11 + 2 C2212. ε 12 + 2C2213. ε 13 + C2222. ε 22 + 2C2223. ε 23 + C2233. ε 33
2σ 23 = (C2311 + C3211)ε 11 + 2( C2312 + C3212)ε 12 + 2(C2313 + C3213) ε 13 + (C2322 + C3222) ε 22 + 2(C2323 +C3223)ε 23 + ( C2333
+ C3233)ε 33
σ 33 = C3311. ε 11 + 2 C3312. ε 12 + 2C3313. ε 13 + C3322. ε 22 + 2C3323. ε 23 + C3333. ε 33

Matriks Stiffness Ordo 6x6

σ 11 C1111 2C1112 2C1113 C1122 2C1123 C1133 ε 11



12 (C1211 + C2111) 2(C1212 + C2112) 2(C1213 + C2113) (C1222 + C2122) 2(C1223 +C2123) (C1233 + C2133) ε 12

13 = (C1311 + C3111) 2(C1312 + C3112) 2(C1313 + C3113) (C1322 + C3122) 2(C1323 +C3123) (C1333 + C3133) ε 13
σ 22 C2211 2C2212 2C2213 C2222 2C2223 C2233 ε 22

23 (C2311 + C3211) 2(C2312 + C3212) 2(C2313 + C3213) (C2322 + C3222) 2(C2323 +C3223) (C2333 + C3233) ε 23
σ 33 C3311 2C3313 2C3315 C3322 2C3323 C3333 ε 33

σ 11 C1111 2C1112 2C1113 C1122 2C1123 C1133 ε 11



12 2C1211 4C1212 4C1213 2C1222 4C1223 2C1233 ε 12

13 = 2C1311 4C1312 4C1313 2C1322 4C1323 2C1333 ε 13
σ 22 C2211 2C2212 2C2213 C2222 2C2223 C2233 ε 22

23 2C2311 4C2312 4C2313 2C2322 4C2323 2C2333 ε 23
σ 33 C3311 2C3313 2C3315 C3322 2C3323 C3333 ε 33

TEORI ELASTISITAS 11