Anda di halaman 1dari 10

BAGAIMANA MANAJEMEN RISIKO PADA PERBANKAN SYARIAH?

Besse Sangiang

NPM 120110080030

Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Tugas pada Mata Kuliah Akuntansi Perbankan

yang Dibimbing Oleh Bapak Armanto Witjaksono dan Bapak Sonny Devano

Fakultas Ekonomi

Universitas Padjadjaran

2010
Kata kunci: displaced commercial risk, shariah risk, rate of return risk, Dewan Pengawas Syariah, manajemen

Abstrak
Perbankan syariah merupakan salah satu lembaga keuangan (financial institution) yang sedang berkembang pesat,
khususnya di Indonesia. Sebagaimana bank yang lain, perbankan syariah adalah perusahaan jasa yang
pendapatannya diperoleh dari interaksi dengan nasabah sehingga risiko tidak mungkin tidak ada. Ditambah
dengan situasi yang tidak menentu, maka manajemen resiko sangat diperlukan pada perbankan syariah. Selain itu,
bank syariah juga menghadapi risiko yang memiliki keunikan tersendiri, karena harus mengikuti prinsip-prinsip
syariah. Dengan penerapan manajemen resiko pada perbankan syariah maka risiko-risiko yang kemungkinan akan
terjadi dapat diantisipasi dan diputuskan kebijakan yang sesuai dalam menghadapi risiko tersebut. Jenis-jenis
risiko pada perbankan syariah antara lain: displace commercial risk, shariah risk,dan rate of return risk. Setiap
produk-produk perbankan syariah memiliki risiko masing-masing. Namun, adanya risiko-risiko bagi bank tersebut
bukan berarti bahwa produk tersebut tidak aman (unsecured). Perbankan syariah sudah pasti telah
memperhitungkan risiko-risiko ini melalui manajemen risiko sebelum produk tersebut disampaikan kepada
masyarakat. Masyarakat tidak perlu khawatir karena dalam pelaksanaan operasionalnya, seluruh bank syariah
diawasi. Lembaga-lembaga pengawasan yang memastikan setiap bank syariah dapat mengendalikan risiko dengan
baik antara lain Dewan Komisaris, Dewan Pengawas Syariah, Bank Indonesia, dan Lembaga Penjamin Simpanan.
Fungsi lembaga-lembaga ini memiliki relevansi yang kuat dengan manajemen risiko perbankan syariah, yakni
risiko reputasi, yang selanjutnya berdampak pada risiko lainnya seperti risiko likuiditas. Oleh karena itu,
penerapan manajemen risiko pada perbankan syariah merupakan unsur yang sangat penting untuk diperhatikan.
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Pada era modern ini, perbankan syariah telah menjadi fenomena global di dunia internasional. Hal ini
terlihat pada sepanjang tiga dekade terakhir, perbankan syariah mengalami perkembangan yang cukup pesat.
Perkembangan ini tidak hanya terjadi di negara-negara yang mayoritas berpenduduk muslim tapi juga di
negara-negara berpenduduk minoritas muslim. Berdasarkan prediksi McKinsey tahun 2008 bahwa tingkat
pertumbuhan 100 bank syariah terbesar di dunia mencapai 27% per tahun. Pertumbuhan ini berada di atas
pertumbuhan bank konvensional yang hanya 19% per tahun. Perbankan syariah di Indonesia juga diyakini akan
terus tumbuh dan berkembang. Harapan ini didukung dengan penyebaran jaringan kantor perbankan syariah
yang mengalami pertumbuhan pesat.
Dalam perkembangannya, belakangan perbankan syariah menghadapi beberapa tantangan yang mesti
dihadapi dan dituntut untuk dapat memberikan terobosan dalam rangka mengembangkan potensi perbankan
syariah, diantaranya tantangan bank syariah adalah:
1. Ketidakmengertian masyarakat pada umumnya terhadap produk-produk unggulan perbankan syariah.
2. Kurang populernya produk-produk pembiayaan yang secara teori dapat mendukung sektor rill, misalnya
pembiayaan mudharabah.
3. Rentannya bank syariah terhadap risiko likuiditas jika memberikan pembiayaan mudharabah.
4. Sumber daya manusia yang terbatas
Namun disamping tantangan tersebut, terdapat juga berbagai potensi yang dapat dimanfaatkan perbankan
syariah sebagai momentum untuk memasyarakatkan produknya, diantaranya konsep produknya yang sangat
mendukung bagi perkembangan sektor rill, terutama pembiayaan mudharabah. Namun seperti yang telah saya
sebutkan diatas pada pembiayaan mudharabah, bank syariah dihadapkan pada situasi yang membutuhkan
manajemen risiko yang berkompeten mengingat besarnya risiko yang mesti dihadapi pada sektor rill. Sebagai
lembaga keuangan, bank syariah juga dituntut menjaga likuiditasnya, sementara pembiayaan pada sektor rill
yang sering berfluktuasi membuat bank syariah harus ekstra hati-hati dalam memberikan pembiayaan tersebut,
tapi bukan dengan menghindari pembiayaan tersebut.
Risiko yang tinggi cenderung menghasilkan keuntungan yang lebih besar. Untuk meningkatkan
eksistensinya, bank syariah dituntut mampu memberikan sesuatu yang berbeda dengan perbankan konvensional.
Bermain pada SWBI bukanlah tujuan bank syariah didirikan, pembiayaan murabahah yang menjamur juga
bukan sesuatu yang baru bagi ekonomi Indonesia.
Secara umum, risiko yang dihadapi perbankan syariah merupakan risiko yang relatif sama dengan yang
dihadapi bank konvensional. Namun, bank syariah juga menghadapi risiko yang memiliki keunikan tersendiri,
karena harus mengikuti prinsip-prinsip syariah. Risiko kredit, risiko pasar, risiko operasional dan risiko
likuiditas harus dihadapi bank syariah. Risiko unik ini muncul karena isi neraca bank syariah berbeda dengan
bank konvensional. Dalam hal ini pola bagi hasil yang dilakukan bank syariah menambah kemungkinan
munculnya risiko-risiko lain. Seperti withdrawal risk, fiduciary risk, dan displaced commercial risk merupakan
contoh risiko unik yang harus dihadapi bank syariah.
Selama ini penerapan manajemen risiko dirancang lebih banyak untuk bank konvensional sehingga perlu
mengetahui lebih dalam tentang penerapannya pada bank syariah. Seperti halnya pada bank konvensional,
kerangka manajemen risiko dapat membantu bank syariah mengurangi eksposur terhadap risiko dan
meningkatkan daya saing di pasar. Bank syariah harus mampu untuk menerapkan manajemen risiko yang
komprehensif untuk melakukan identifikasi, pengukuran, pengawasan, pengelolaan, pelaporan, dan
pengendalian berbagai jenis risiko.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa yang dimaksud dengan manajemen risiko?
2. Apa sajakah jenis risiko yang dihadapi oleh perbankan syariah dan bagaimana penerapan manajemen risiko
dalam penyelesaian risiko-risiko perbankan syariah tersebut?
3. Siapa sajakah yang ikut andil dalam penerapan manajemen risiko pada perbankan syariah? Bagaimana
relevansinya?
C. TUJUAN
Untuk mengetahui perlakuan manajemen risiko pada perbankan syariah
D. TEORI PENDUKUNG
Banking Theory—Why banks exist?
1. Banks as providers of liquidity insurance to depositors and clients
2. Rationale for deposit taking and lending by same institution (bank)à Theory of bank intermediation
The Nature of Banking Firm Brings in Liquidity Risk
PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN MANAJEMEN RISIKO


Risiko dalam perbankan merupakan suatu kejadian potensial, baik yang dapat diperkirakan (anticipated)
maupun yang tidak dapat diperkirakan (unanticipated), yang berdampak negatif terhadap pendapatan dan modal
bank. Meskipun manajer bank berusaha untuk menghasilkan keuntungan setinggi-tingginya, secara simultan
mereka juga harus memperhatikan adanya kemungkinan risiko yang timbul menyertai keputusan-keputusan
manajemen tentang struktur aset dan liabilitasnya. Secara spesifik risiko-risiko yang akan menyebabkan
bervariasinya tingkat keuntungan bank meliputi risiko likuiditas, risiko kredit, risiko tingkat bunga, dan resiko
modal. Bank syariah tidak akan menghadapi risiko tingkat bunga, walaupun berlakunya dual banking system
meningkatnya tingkat bunga di pasar konvensional dapat berdampak pada meningkatnya risiko likuiditas sebagai
akibat adanya nasabah yang menarik dana dari bank syariah dan berpindah ke bank konvensional. Bank harus
memerhatikan dengan serius potensi risiko yang dihadapinya dan mengembangkan sistem untuk
mengidentifikasikasi, mengontrol, dan mengelola risiko- risiko tersebut. Pengembangan budaya manajemen
risiko pada bank merupakan bagian yang tak terpisahkan dari tanggung jawab otoritas pengawasan dan regulator.
Oleh karena itu, otoritas pengawas juga harus mengenal baik karakter risiko bank syariah dan turut serta dalam
pengembangan manajemen risiko yang efisien.
Sebelum melangkah kepada pembahasan selanjutnya, maka saya akan menjelaskan tentang manajemen
risiko terlebih dahulu. Manajemen risiko merupakan rangkaian prosedur dan metodologi yang digunakan untuk
mengidentifikasi, mengukur, memantau, dan mengendalikan risiko yang timbul dari kegiatan usaha pada bank.
Tindakan-tindakan yang dapat dilakukan untuk menghadapi risiko:
1. Dihindari, apabila risiko tersebut masih dalam pertimbangan untuk diambil, misalnya karena tidak masuk
kategori risiko yang diinginkan bank atau karena kemungkinan biaya jauh lebih besar dibandingkan
keuntungan yang diharapkan
2. Diterima dan dipertahankan, apabila risiko berada pada tingkat yang paling ekonomis
3. Dinaikkan, diturunkan atau dihilangkan, apabila risiko yang ada dapat dikendalikan dengan tata kelola yang
baik atau melalui pengoperasian exit strategy
4. Dikurangi, misalnya dengan mendiversifikasi portofolio yang ada, atau membagi (share) risiko dengan
pihak lain
5. Dipagari (hedge), apabila risiko dapat dilindungi secara artifisial, misalnya risiko dinetralisir sampai batas
tertentu dengan instrumen derivatif.
Fungsi manajemen risiko:
1. Menyediakan informasi tentang risiko kepada pihak regulator
2. Menetapkan arah dan risk appetite dengan mengkaji ulang secara berkala dan menyetujui risk exposure
limits yang mengikuti perubahan strategi perusahaan
3. Menetapkan limit umumnya mencakup pemberian kredit, penempatan non kredit, asset liability
management, trading dan kegiatan lain seperti derivatif dan lain-lain
4. Menetapkan kecukupan prosedur atau prosedur pemeriksaan (audit) untuk memastikan adanya integrasi
pengukuran risiko, kontrol sistem pelaporan, dan kepatuhan terhadap kebijakan dan prosedur yang berlaku
5. Menetapkan metodologi untuk mengelola risiko dengan menggunakan sistem pencatatan dan pelaporan
yang terintegrasi dengan sistem komputerisasi sehingga dapat diukur dan dipantau sumber risiko utama
terhadap organisasi bank
Kerangka manajemen risiko:
1. Identifikasi risiko dilaksanakan dengan melakukan analisis terhadap karakteristik risiko yang melekat pada
aktivitas fungsional, risiko terhadap produk, dan kegiatan usaha
2. Pengukuran risiko dilaksanakan dengan melakukan evaluasi secara berkala terhadap kesesuaian asumsi,
sumber data dan prosedur yang digunakan untuk mengukur risiko, penyempurnaan terhadap sistem
pengukuran risiko apabila terdapat perubahan kegiatan usaha, produk, transaksi, dan faktor risiko yang
bersifat material
3. Pemantauan risiko dilaksanakan dengan melakukan evaluasi terhadap eksposure risiko. Penyempurnaan
proses pelaporan terdapat perubahan kegiatan usaha, produk, transaksi, faktor risiko, teknologi informasi,
dan sistem informasi manajemen yang bersifat material. Pelaksanaan proses pengendalian risiko digunakan
untuk mengelola risiko tertentu yang dapat membahayakan kelangsungan usaha
Dalam perbankan syariah, terdapat hal-hal unik yang dimilikinya yang juga menyebabkan adanya risiko
yang unik yang harus dihadapi. Keunikan perbankan syariah tersebut terletak pada:
1. Proses transaksi pembiayaan syariah, yaitu proses transaksi bagi hasil dana pihak ketiga dan proses
transaksi devisa
2. Proses manajemen, yaitu sistem dan prosedur operasional akuntansi dan Chart of Account (CoA), sistem
dan prosedur operasional teknologi informasi, sistem dan prosedur operasional tutup buku, serta sistem dan
prosedur operasional pengembangan produk
3. Sumber daya manusia, yaitu spesifikasi kapabilitas yang meliputi aspek-aspek syariah
4. Teknologi, yaitu pada Business Requirement Specification (BRS) untuk pembiayaan berbasis bagi hasil dan
Business Requirement Specification (BRS) dana pihak ketiga
5. Lingkungan eksternal, yaitu adanya dual regulatory body (Bank Indonesia dan Dewan Syariah Nasional)
6. Kerusakan, yaitu ketika terjadi kerusakan pada objek ijarah atau IMBT
Adapun proses manajemen risiko adalah sebagai berikut:

Assessing

Identifying Measuring

Understanding Managing

Monitoring

B. MANAJEMEN RISIKO PADA JENIS-JENIS RISIKO PERBANKAN


Ada tiga (3) risiko yang dialami oleh perbankan syariah tetapi tidak dialami oleh bank konvensional. Hal
inilah yang merupakan perbedaan manajemen risiko bank syariah dengan bank konvensional sebagai akibat dari
perbedaan karakteristik intermediasi, produk, dan penyusunan neraca dan makalah ini akan membahas mengenai
manajemen risiko pada risiko-risiko tersebut. Hal ini karena manajemen risiko pada risiko yang lain cenderung
sama dengan yang ada pada perbankan konvensional. Ketiga risiko tersebut adalah:
1. Displace Commercial Risk
Displace Commercial Risk adalah transfer risiko yang berhubungan dengan simpanan kepada pemegang
ekuitas atau pada saat return investasi di bank syariah lebih rendah dari suku bunga bank konvensional.
Bank syariah menjadi rentan terhadap penarikan dana investasi oleh nasabah (displacement risk). Risiko ini
muncul ketika bank berada di bawah tekanan untuk mendapatkan profit, tapi bank juga harus memberikan
sebagian profitnya kepada deposan untuk menghindari adanya penarikan dana akibat rendahnya tingkat
return. Displace commercial risk mengimplikasikan bahwa meskipun bank mungkin beroperasi dengan
penuh kepatuhan pada ketentuan syariah, tapi bank tidak memiliki tingkat return yang kompetitif
dibandingkan dengan bank syariah lain dan/atau kompetitor lainnya. Hal ini semakin membuat deposan
memiliki alasan untuk menarik dananya. Untuk menghindari penarikan dana ini, pemilik bank perlu
mengalokasikan sebagian dari profit yang diterima kepada para deposan investasi.
Untuk memitigasi risiko komersial ini, bank syariah bisa memutuskan menghilangkan bagian keuntungan
untuk mempertahankan simpanan mereka dan membujuk depositor untuk tidak menarik dana mereka. Bank
syariah sering melakukan self -imposed untuk membujuk pemegang rekening investasi agar tidak menarik
dana mereka yang ada di bank untuk diinvestasikan di tempat lain. Adanya displacement risk
mengharuskan manajemen bank syariah memiliki kemampuan dalam mengenali karakteristik pemilik dana
dan mengukur sensitivitasnya terhadap return perbankan konvensional. Oleh karenanya, praktik yang
dikembangkan untuk menghindari penarikan dana tersebut atau dengan kata lain untuk memitigasi risiko
tersebut adalah dengan Profit Equalization Reserve (PER) dan Investment Risk Reserve (IRR).
2. Shariah Risk
Shariah Risk adalah risiko operasional yang timbul dari lemahnya pengawasan internal dan tata kelola
perusahaan (corporate governance). Hal ini menyebabkan jatuhnya pendapatan arus kas bersih bank
dibandingkan dengan apa yang diharapkan atau ditargetkan sehingga menimbulkan masalah manajemen.
Bank syariah akan menghadapi risiko yang berkaitan dengan persoalan fikih. Hal ini karena perkembangan
perbankan syariah begitu cepat sehingga diperlukan sistem legitimasi syariah yang efisien dan cepat dari
bank. Dari sisi lain, Dewan Pengawas Syariah di perbankan syariah belum memahami secara keseluruhan
konsep manajemen risiko dan sistem-sistem lainnya sehingga masih perlu pemahaman yang komprehensif
agar perbankan syariah tidak bertentangan dengan prinsip- prinsip syariah dalam hal inovasi produk. Salah
satu yang diperlukan pada masa modern sekarang di perbankan syariah adalah kepatuhan terhadap fatwa
syariah dan penjelasan atau pernyataan syariah terhadap audit yang dilakukan.
Diantara tanggung jawab yang paling krusial dari suatu bank Islam adalah menciptakan keyakinan pada
deposannya dan juga pelaku - pelaku pasar lainnya bahwa operasi bank tersebut benar- benar sesuai dengan
prinsip syariah. Untuk tujuan tersebut, ada dua langkah yang harus diambil. Langkah pertama adalah
mendapatkan pengakuan formal dari dewan syariah tentang kesesuaian semua produk-produk bank tersebut
dengan syariah. Langkah kedua, memastikan bahwa semua produknya berjalan sesuai dengan fatwa-fatwa
dewan syariah di mana para auditor dan pengawas perbankan memastikan bahwa tidak ada transaksi-
transaksi bank yang melanggar hukum. Namun pada kenyataannya, sulit bagi Dewan Pengawas Syariah
untuk melakukan hal tersebut. Hal ini karena membutuhkan suatu ulasan terhadap semua transaksi berbeda
yang terjadi di setiap cabang berbeda dari bank yang dimaksud. Ulasan tersebut berguna untuk memastikan
bahwa model transaksi yang sudah dilaksanakan dinyatakan sesuai denga syariah dan prosedur yang telah
difatwakan. Langkah kedua ini memerlukan peninjauan langsung ke lapangan untuk mengamati operasi
bank- bank yang sedang periksa, sebagaimana yang dilakukan oleh para auditor dan pengawas perbankan,
tapi Dewan Pengawas Syariah tidak punya cukup waktu untuk menjalankan fungsi tersebut secara efektif.
Oleh karenanya, dibutuhkan alternatif-alternatif untuk mengatasi hal ini, yaitu:
a) Otoritas pengawasan perbankan memasukkan agenda audit syariah didalam susunan agenda kunjungan
pengawasan rutin mereka. Keuntungannya adalah jika otoritas pengawas perbankan melakukan audit
syariah, mereka akan melakukan standardisasi keputusan-keputusan fikih.
b) Mendorong tumbuhnya firma -firma audit syariah independen di sektor swasta. Firma-firma tersebut
akan merekrut dan melatih staf- staf dalam jumlah yang cukup untuk meneliti transaksi -transaksi bank
guna menentukan apakah semua transaksi tersebut sesuai dengan ketentuan syariah. Alternatif ini
memiliki kelemahan, yakni kemungkinan akan melibatkan terlalu banyak institusi. Inspektur- inspektur
dari tiga institusi yang berbeda akan datang menginspeksi ke bank pada waktu berbeda. Salah satu
diantaranya kemungkinan adalah inspektur dari otoritas pengawasan yang dikirim untuk mengevaluasi
conformity operasi bank tersebut dengan hukum di negara tersebut dan prinsip- prinsip kesehatan bank.
Yang kedua mungkin adalah auditor syariah, yang akan mengevaluasi kesesuaian operasi bank tersebut
terhadap syariah. Inspektur ketiga mungkin auditor independen resmi yang ingin memastikan bahwa
laporan keuangan bank telah sesuai dengan standard-standard akuntansi yang diterima umum. Kondisi
seperti ini tentu tidak nyaman bagi bank karena harus menyediakan staf-stafnya untuk membantu
ketiga inspektur tersebut pada saat yang berbeda, yang tentunya akan menambah biaya mereka.
c) Firma-firma audit resmi yang ada mendalami aspek-aspek syariah sehingga memungkinkan mereka
untuk melakukan audit syariah. Hal ini akan membantu menghindari terlalu banyaknya institusi
pengawas yang harus dilayani oleh perbankan syariah. Pihak bank mungkin lebih cenderung memilih
alternatif ini karena akan sangat memudahkan bagi mereka apabila audit syariah dilakukan bersamaan
dengan audit terhadap akun -akunnya.
3. Rate of Return Risk
Perbankan syariah harus menetapkan manajemen risiko yang komprehensif dan pelaporan proses untuk
menilai dampak potensi dari faktor-faktor pasar yang mempengaruhi tingkat pengembalian aset
dibandingkan dengan tingkat keuntungan yang diharapkan bagi pemegang rekening investasi (IAH).
Perbankan syariah harus ada di tempat kerangka yang tepat untuk mengelola risiko komersial. Risiko rate
of return umumnya terkait dengan eksposur neraca secara keseluruhan dimana timbul ketidaksesuaian
antara aset dan saldo dari penyedia dana. Tanggung jawab bank syariah adalah mengelola ekspektasi IAHs
dan kewajiban mereka kepada pemegang rekening giro. Tingkat resiko pengembalian adalah masalah risiko
strategis membentuk bagian dari neraca perbankan syariah manajemen risiko.
Perbankan syariah terkena risiko rate of return pada keseluruhan eksposur neraca mereka. Peningkatan
harga patokan dapat mengakibatkan harapan IAHs memiliki suatu tingkat pengembalian yang lebih tinggi.
Risiko rate of return berbeda dari risiko suku bunga. Sebagai konsekuensi dari tingkat resiko dapat
dipindahkan kembali pada risiko komersial. Perbankan syariah mungkin berada di bawah tekanan pasar
untuk membayar kembali yang melebihi tingkat yang telah diterima atas aktiva yang dibiayai oleh IAH
apabila hasil aset berada di bawah performa dibandingkan dengan harga pesaing. Perbankan syariah dapat
memutuskan untuk melepaskan hak mereka untuk sebagian atau seluruh saham mereka mudharib
keuntungan dalam rangka memenuhi dan mempertahankan penyedia dana dan mencegah penarikan dana.
Pengungsi risiko komersial berasal dari tekanan kompetitif di bank syariah untuk menarik dan
mempertahankan investor (penyedia dana).
Perbankan syariah harus menetapkan manajemen risiko yang komprehensif dan pelaporan proses untuk
menilai dampak potensi dari faktor-faktor pasar yang mempengaruhi tingkat pengembalian aset
dibandingkan dengan tingkat keuntungan yang diharapkan bagi pemegang rekening investasi (IAH). Bank
syariah harus mengambil langkah yang diperlukan untuk memastikan bahwa manajemen yang berkaitan
dengan proses identifikasi, pengukuran, pemantauan, pelaporan, dan pengendalian tingkat risiko kembali
(termasuk struktur yang sesuai) berada di tempat. Karena tingkat risiko pengembalian yang berasal dari
berbagai posisi neraca, bank syariah harus menempatkan staf yang kompeten untuk melakukan analisis
eksposur risiko yang timbul dari aktivitas mereka pada neraca konsolidasian. Bank syariah harus menyadari
faktor-faktor yang menimbulkan rate of return risk. Bentuk utama rate of return risk, terdiri dari bank
syariah meningkatkan tingkat bunga tetap jangka panjang di pasar. Secara umum, tingkat laba yang
diperoleh atas aktiva mencerminkan benchmark periode sebelumnya dan tidak sesuai untuk perubahan tarif
benchmark meningkat. Bank syariah harus menilai pengaruh tingkat ketergantungan mereka pada dana
pemegang rekening berjalan. Meskipun tidak ada pengembalian yang diharapkan oleh para pemegang
rekening giro, penarikan mendadak dana tersebut akan berdampak negatif pada tingkat potensi keseluruhan
kembali untuk bank syariah.
C. PIHAK-PIHAK YANG IKUT ANDIL DALAM MANAJEMEN RISIKO
PERBANKAN SYARIAH
Dewan Pengawas Syari'ah (DPS) memiliki peran penting dan strategis dalam penerapan prinsip syariah di
perbankan syariah. DPS bertanggung jawab untuk memastikan semua produk dan prosedur bank syariah sesuai
dengan prinsip syariah. Karena pentingnya peran DPS tersebut, maka dua undang-undang di Indonesia
mencantumkan keharusan adanya DPS tersebut di perusahaan syariah dan lembaga perbankan syariah, yaitu
UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas dan UU No. 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah.
Dengan demikian secara yuridis, DPS di lembaga perbankan menduduki posisi yang kuat, karena
keberadaannya sangat penting dan strategis. Fungsi dan peran DPS di bank syariah, memiliki relevansi yang
kuat dengan manajemen risiko perbankan syariah, yakni risiko reputasi, yang selanjutnya berdampak pada
displaced commercial risk, seperti risiko likuiditas dan risiko lainnya. Menurut hasil penelitian Bank Indonesia
(2008) yang bekerjasama dengan Ernst & Young yang dibahas dalam seminar akhir tahun 2008 di Bank
Indonesia, salah satu masalah utama dalam implementasi manajemen resiko di perbankan syariah adalah peran
Dewan Pengawas Syariah yang belum optimal. Peran DPS yang belum optimal tersebut disimpulkan para
peneliti sebagai kesenjangan utama manajemen risiko yang harus diperbaiki di masa depan. Jika peran DPS
tidak optimal dalam melakukan pengawasan syariah terhadap praktik syariah sehingga berakibat pada
pelanggaran syariah complience, akan merusak citra dan kredibilitas bank syariah di mata masyarakat sehingga
dapat menurunkan kepercayaan masyarakat kepada bank syariah bersangkutan. Hal inilah yang dikatakan oleh
Shanin A. Shayan, CEO and Board Member of Barakat Foundation:“The biggest risk facing the global
Financial System is not a fall in its earning power but most importantly a loss of faith and credibility on how it
works”. Jadi menurutnya, resiko terbesar menghadapi sistem keuangan global bukanlah kesalahan tentang
kemampuan menciptakan laba, tetapi yang lebih penting adalah kehilangan kepercayaan dan kredibilitas
tentang bagaimana operasional kerjanya. Di sinilah, peran DPS perlu dioptimalkan agar mereka bisa
memastikan segala produk dan sistem operasinal bank syariah benar- benar sesuai syariah. The role of syariah
Board: to ensure that every transaction complies with Islamic Law. Untuk memastikan setiap transaksi sesuai
dengan hukum Islam, anggota DPS harus memahami ilmu ekonomi dan perbankan dan berpengalaman luas di
bidang hukum Islam. Namun pada kenyataannya, masih banyak DPS yang belum memahami ilmu ekonomi
keuangan dan perbankan. Selain mereka tidak memahami ilmu tersebut, mereka juga masih banyak yang tidak
melakukan supervisi dan pemeriksaan akad-akad yang ada di perbankan syariah. Padahal menurut ketentuan
yang berlaku, Dewan Pengawas Syariah bekerja secara independen dan bebas untuk meninjau dan memberikan
komentar pada semua kontrak dan transaksi (The Sharia Supervisory Board works independently and is free to
review and comment on all contracts and transactions). Untuk itulah peran DPS di bank syariah harus benar-
benar dioptimalkan, kualifikasi menjadi DPS harus diperketat, dan formalisasi perannya harus diwujudkan di
bank syariah tersebut sehingga penerapan manajemen risiko juga dapat berjalan dengan sebaik-baiknya.
Selain Dewan Pengawas Syariah, ada Bank Indonesia yang juga terlibat dalam pengendalian manajemen
risiko pada perbankan syariah. Bank Indonesia sedang mempersiapkan peraturan BI (PBI) terbaru bagi bank
syariah. PBI tersebut mengenai manajemen risiko di bank syariah. PBI ini dimaksudkan agar manajemen risiko
perbankan syariah bisa mengelola risiko yang dihadapinya. Dengan demikian, terbentuklah regulasi
manajemen risiko yang sangat membantu perbankan syariah dalam pengendalian manajemen risiko, khususnya
untuk mudharabah dan musyarakah (selama ini belum optimal karena masih berupa debt financing).

ACUAN
Suwiknyo, Dwi. 2009. Akuntansi Perbankan Syariah. Trustmedia, Yogyakarta.
DAFTAR PUSTAKA
(Artikel)
1. Mahmalrizka. (2008). Risiko Likuiditas pada Perbankan. Mahmalrizka.blogspot.com, 04
(Artikel)
2. Mahmalrizka. (2008). Tantangan dan Potensi Perbankan Syariah. Mahmalrizka.blogspot.com, 04
(Jurnal)

3. Nova. (2008). Manajemen Risiko Pada Perbankan Syariah-Bagian 1. www.managementfile.com/journal.php?


sub=journal&awal=10&page=riskmgt&id=45
(Jurnal)

4. Nova. (2008). Manajemen Risiko Pada Perbankan Syariah-Bagian 2. www.managementfile.com/journal.php?


sub=journal&awal=10&page=riskmgt&id=44

(Artikel)

5. Setiawan, Muhammad Budi. (2007). Manajemen Investasi Syariah Bagian-3.


cakwawan.wordpress.com/2007/12/23/.

(Artikel)

6. Zulfikar. (2007). Manajemen Resiko Bank Syariah. Belajar Bank Syariah Yuk. bank-syariah-belajar-
yuk.blogspot.com/2007/07/manajemen-resiko-bank-syariah.html

Anda mungkin juga menyukai