Anda di halaman 1dari 98

PANDANGAN DUNIA PENGARANG

DALAM NOVEL SAMAN KARYA AYU UTAMI

SKRIPSI

untuk memperoleh gelar Sarjana Sastra

Oleh

Nama : Lina Puspita Yuniati


NIM : 2150401503
Prodi : Sastra Indonesia
Jurusan : Bahasa dan Sastra Indonesia

FAKULTAS BAHASA DAN SENI


UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2005

i
PERSETUJUAN PEMBIMBING

Skripsi ini telah disetujui oleh pembimbing untuk diajukan ke sidang


Panitia Ujian Skripsi.

Semarang, 15 Agustus 2005


Pembimbing I Pembimbing II

Drs. Agus Nuryatin, M.Hum. Drs. Teguh Supriyanto, M. Hum


NIP 131813650 NIP 131876214

ii
PENGESAHAN KELULUSAN

Skripsi ini telah dipertahankan dihadapan sidang Panitia Ujian Skripsi Jurusan Bahasa
dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang.
pada hari : Rabu
tanggal : 31 Agustus 2005

Panitia Ujian Skripsi

Ketua, Sekretaris,

Prof. Dr. Rustono Drs. Agus Yuwono, M.Si


NIP 131281222 NIP 132049997

Penguji I, Penguji II, Penguji III,

Drs. M. Doyin, M.Si Drs. Teguh Supriyanto., M.Hum Drs. Agus Nuryatin., M.Hum
NIP 132106367 NIP 131876214 NIP 131813650

i
PERNYATAAN

Saya menyatakan bahwa yang tertulis di dalam skripsi ini benar-benar


hasil karya saya sendiri, bukan jiplakan dari karya orang lain, baik sebagian atau
seluruhnya. Pendapat dan temuan orang lain yang terdapat dalam skripsi ini
dikutip atau dirujuk berdasarkan kode etik ilmiah.

Semarang, 2 Agustus 2005

Lina Puspita Yuniati

i
MOTTO DAN PERSEMBAHAN

Motto:
Kesempatan untuk sukses di setiap kondisi selalu dapat diukur oleh seberapa besar
kepercayaan anda pada diri sendiri. (Robert Collier)

Ujian bagi seseorang yang sukses bukanlah pada kemampuannya untuk mencegah
munculnya masalah, tetapi pada waktu menghadapi dan menyelesaikan setiap
kesulitan saat masalah itu terjadi. (David J. Schwartz)

Persembahan:
Untuk kedua orang tuaku, kakakku, serta
adikku tercinta.

ii
PRAKATA

Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah Yang Maha Kuasa yang telah
memberikan segala karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi
ini. Skripsi ini disusun untuk menyelesaikan Studi Strata I yang merupakan salah
satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Sastra pada Fakultas Bahasa dan
Seni, Universitas Negeri Semarang. Penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi
ini tidak mungkin terwujud tanpa bimbingan dan dorongan serta keterlibatannya
dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada.
1. Rektor Universitas Negeri Semarang yang telah memberikan kesempatan
kepada penulis untuk menuntut ilmu di UNNES;
2. Dekan Fakultas Bahasa dan Seni yang telah menyetujui dan memberi izin
kepada penulis untuk menyusun skripsi ini;
3. Ketua Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia yang telah memberikan
kemudahan kepada penulis untuk menyusun skripsi ini;
4. Bapak dan Ibu dosen Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia yang telah
memberikan pengetahuan kepada penulis;
5. Drs. Agus Nuryatin, M. Hum sebagai pembimbing I dan Drs. Teguh
Supriyanto, M. Hum sebagai pembimbing II yang senantiasa memberikan
motivasi, kesabaran, ketelitian dan bimbingan kepada penulis dalam
penyusunan skripsi ini;
6. teman-teman Sastra Indonesia angkatan 2001 yang telah memberikan
semangat kepada penulis selama menyusun skripsi;
7. kakakku Mbak Yuni dan adikku Budi atas persaudaraan, kebersamaan,
dukungan, semangat, dan perjuangan kita bersama-sama menuntut ilmu di
kota Atlas ini;
8. warga Kos Kinanthi I D tercinta atas semangat dan kebersamaannya;
9. teman-teman karibku Fatya, Cay2, Ti2k, Lelis, atas dukungan dan
persahabatannya;

iii
10. UPT Perpustakaan Universitas Negeri Semarang, Kombat 202 Jurusan Sastra
Indonesia yang telah menyediakan buku-buku untuk penyusunan skripsi ini;
11. rental komputer God Bless yang telah membantu penulis dalam menyusun
skripsi ini;
12. semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu yang turut
membantu dalam proses penyusunan skripsi ini hingga selesai.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini jauh dari sempurna. Meskipun
demikian, penulis dengan senang hati menerima kritik dan saran demi
kesempurnaan skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Semarang, Agustus 2005

Penulis

iv
SARI

Yuniati, Lina Puspita. 2005. Pandangan Dunia Pengarang Dalam Novel Saman
Karya Ayu Utami, Skripsi. Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas
Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang. Pembimbing I: Drs. Agus
Nuryatin, M. Hum, Pembimbing II: Drs. Teguh Supriyanto, M. Hum.
Kata kunci: pendekatan sosiologi, strukturalisme genetik, metode dialektik

Novel Saman karya Ayu Utami sangat menarik untuk dikaji dengan
menggunakan teori Strukturalisme Genetik, karena mempunyai hubungan antara
lingkungan sosial saat novel tersebut diciptakan dengan lingkungan sosial
pengarang. Oleh karena itu, dari pengkajian novel Saman ini dapat diketahui
pandangan dunia pengarang. Pemilihan novel Saman di samping berdasarkan
faktor tersebut, juga didasarkan pada belum pernah dilakukannya pengkajian
novel Saman dari segi sosiologi khususnya menggunakan teori Strukturalisme
Genetik.
Masalah yang dikaji dalam penelitian ini adalah (1) bagaimana struktur
novel Saman karya Ayu Utami, (2) bagaimana lingkungan sosial Ayu Utami, (3)
bagaimana lingkungan sosial novel Saman karya Ayu Utami, (4) bagaimana
pandangan dunia pengarang yang terefleksi dalam novel Saman karya Ayu Utami.
Berkaitan dengan masalah tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengungkap
struktur novel Saman karya Ayu Utami, lingkungan sosial Ayu Utami, lingkungan
sosial novel Saman karya Ayu Utami, dan pandangan dunia pengarang yang
terefleksi dalam novel Saman karya Ayu Utami.
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan
sosiologi sastra dengan menggunakan teori Strukturalisme Genetik. Sasaran
penelitian dalam penelitian ini adalah struktur novel Saman karya Ayu Utami,
lingkungan sosial Ayu Utami, lingkungan sosial novel Saman karya Ayu Utami,
dan pandangan dunia pengarang yang terefleksi dalam novel Saman karya Ayu
Utami, yang diterbitkan oleh penerbit Kepustakaan Populer Gramedia (KPG),
Jakarta, pada tahun 1998. Teknik analisis data yang digunakan yaitu dengan
menggunakan model dialektik.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa struktur novel Saman terdiri atas
tokoh dan penokohan, yakni dengan tokoh utama Saman. Saman digambarkan
sebagai tokoh yang religius, mempunyai solidaritas tinggi, ekonomis, suka bekerja
keras, pemikir, optimis, dan percaya kepada hal-hal gaib. Alur dalam novel Saman
dibagi menjadi dua yaitu alur utama dan alur bawahan. Alur utama merujuk pada
penceritaan tokoh Saman, sedangkan alur bawahan yaitu alur yang merujuk pada
penceritaan tokoh Laila. Latar cerita pada novel Saman terjadi di New York,
Pabrik kilang minyak di lepas pantai laut Cina Selatan, Pulau Matak,
Perabumulih, sebuah gereja, Lubukrantau, ruang penyekapan, rumah sakit, dan
terjadi pada tahun 1962 sampai 1996. Adapun tema dalam novel Saman adalah
perjuangan Saman dalam membela penduduk transmigrasi Sei Kumbang. Dilihat
dari lingkungan sosial pengarangnya, Ayu Utami merupakan pengarang novel
sekaligus aktivis. Sebelum menulis novel ia aktif sebagai wartawan di majalah

v
Matra, Forum Keadilan dan D&R. Sekarang ini Ayu Utami masih aktif dalam
bidang jurnalis di Komunitas Utan Kayu sebagai redaktur Jurnal Kebudayaan
Kalam. Dilihat dari lingkungan sosialnya, novel Saman merupakan penggambaran
kehidupan masyarakat Indonesia di bawah kekuasaan rezim Orde Baru yang
terjadi pada tahun 1990-an. Pada tahun 1990-an terjadi peristiwa unjuk rasa yang
dilakukan oleh ratusan petani atau buruh. Pandangan dunia pengarang yang
terefleksi dalam novel Saman ini terlihat dari solusi yang diberikan oleh
pengarang dari permasalahan yang dihadapi oleh tokoh problematik. Tokoh
problematik yang terdapat dalam novel Saman adalah tokoh yang bernama
Saman. Berdasarkan Solusi yang diberikan oleh pengarang pada tokoh
problematik ini dapat disimpulkan bahwa pandangan dunia pengarang yaitu
pengarang mempunyai rasa simpati pada nasib yang dialami oleh penduduk
transmigrasi Sei Kumbang dan pengarang berusaha untuk menolak pandangan
bahwa laki-laki selalu mendominasi perempuan. Lebih dari itu pengarang ingin
menyeimbangkan kedudukan antara laki-laki dan perempuan. Hal ini terlihat dari
pemberian solusi-solusi yang diberikan oleh pengarang pada tokoh problematik.
Pemberian solusi-solusi tersebut sesuai dengan latar belakang lingkungan sosial
pengarang.
Berdasarkan hasil analisis di atas, saran yang penulis sampaikan antara
lain penelitian novel Saman dengan menggunakan teori Strukturalisme Genetik
ini hendaknya dapat bermanfaat bagi pembaca, teori Strukturalisme Genetik ini
dapat digunakan untuk mengkaji karya sastra lainnya, dan novel Saman
hendaknya dapat dikaji atau dikembangkan dengan menggunakan teori yang lain.

vi
DAFTAR ISI

Halaman
PERSETUJUAN PEMBIMBING.................................................................... i
PENGESAHAN KELULUSAN ...................................................................... ii
PERNYATAAN............................................................................................... iii
MOTTO DAN PERSEMBAHAN ................................................................... iv
PRAKATA....................................................................................................... v
SARI................................................................................................................. vii
DAFTAR ISI.................................................................................................... ix
DAFTAR LAMPIRAN.................................................................................... xi
BAB I PENDAHULUAN ........................................................................ 1
1.1 Latar Belakang ....................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah .................................................................. 6
1.3 Tujuan Penelitian ................................................................... 7
1.4 Manfaat Penelitian ................................................................. 7

BAB II LANDASAN TEORETIS............................................................. 8


2.1 Sosiologi Sastra...................................................................... 8
2.2 Struktur Novel........................................................................ 13
2.3 Strukturalisme Genetik........................................................... 16

BAB III METODE PENELITIAN.............................................................. 28


3.1 Pendekatan Penelitian ............................................................ 28
3.2 Sasaran Penelitian .................................................................. 28
3.3 Teknik Analisis Data.............................................................. 29

BAB IV STRUKTUR NOVEL, LINGKUNGAN SOSIAL PENGARANG,


LINGKUNGAN SOSIAL NOVEL, DAN PANDANGAN DUNIA
PENGARANG YANG TEREFLEKSI DALAM SAMAN
KARYA AYU UTAMI................................................................. 30
4.1 Struktur Novel Saman............................................................. 31

vii
4.1.1 Tokoh dan Penokohan.................................................. 30
4.1.2 Latar ............................................................................. 42
4.1.3 Alur .............................................................................. 49
4.1.4 Tema............................................................................. 51
4.2 Lingkungan Sosial Ayu Utami............................................... 52
4.3 Lingkungan Sosial Novel Saman ........................................... 58
4.4 Pandangan Dunia Pengarang dalam Novel Saman ................ 63

BAB V PENUTUP..................................................................................... 77
5.1 Simpulan ................................................................................ 77
5.2 Saran....................................................................................... 79

DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 80


LAMPIRAN..................................................................................................... 82

viii
DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

Lampiran 1. Sinopsis Novel Saman Karya Ayu Utami .................................. 82

ix
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sastra telah menjadi bagian dari pengalaman manusia, baik dari aspek

manusia yang memanfaatkannya bagi pengalaman hidupnya, maupun dari aspek

penciptanya, mengekspresikan pengalaman batinya ke dalam karya sastra. Ditinjau

dari segi penciptanya (pengarang dalam sastra tulis dan pawang atau pelipur lara

dalam sastra lisan), karya sastra merupakan pengalaman batin penciptanya mengenai

kehidupan masyarakat dalam kurun waktu dan situasi budaya tertentu. Di dalam

karya sastra dilukiskan keadaan dan kehidupan sosial suatu masyarakat, peristiwa-

peristiwa, ide dan gagasan, serta nilai-nilai yang diamanatkan pencipta lewat tokoh-

tokoh cerita. Sastra mempersoalkan manusia dalam berbagai kehidupannya. Karya

sastra berguna untuk mengenal manusia, kebudayaan serta zamannya (Zulfahnur dkk

1996: 254). Dikatakan oleh Abrams (dalam Pradopo 1995: 254) bahwa karya sastra

itu mencerminkan masyarakatnya dan secara tidak terhindarkan dipersiapkan oleh

keadaan masyarakat dan kekuatan-kekuatan pada zamannya.

Novel Saman karya Ayu Utami merupakan penggambaran kehidupan

masyarakat saat novel tersebut diciptakan. Novel Saman merupakan refleksi dari

kehidupan masyarakat Indonesia yang berada di bawah kekuasaan rezim Orde Baru,

yang terjadi pada tahun 1990-an (http://www.forum.webqaul.com). Pemerintahan

pada waktu itu di bawah kekuasaan Soeharto. Pada masa Orde Baru muncul konflik

baru yang memanifestasikan dalam bentuk demonstrasi mahasiswa yang memprotes

1
2

beberapa kebijakan pemerintah Orde Baru, diantaranya kasus tanah, perburuhan,

pendekatan keamanan, dan hak azasi manusia (http://www.geoticies.com). Novel

Saman merupakan gambaran peristiwa sengketaan tanah dan kerusuhan yang terjadi

di Medan pada masa Orde Baru. Peristiwa itu membawakan persoalan peka bagi

masyarakat, yaitu akan diubahnya kebun karet menjadi kebun kelapa sawit. Akan

tetapi masyarakat merasa tidak setuju dengan adanya perubahan ini. Hal ini

mengakibatkan oknum penguasa di Sei Kumbang melakukan tindakan sewenang-

wenang yaitu memaksa penduduk untuk melepaskan tanahnya. Mereka

menggunakan kekerasan untuk mempengaruhi pikiran petani, penduduk Sei

Kumbang dengan cara meneror, menindas, memperkosa, bahkan membunuh. Pada

masa itu juga terjadi kerusuhan yang disebabkan unjuk rasa buruh yang

memunculkan wajah rasis. Pemerintah dalam menanggapi protes dan perlawanan

dari rakyat dengan menggunakan cara kekerasan yaitu adanya aksi-aksi aparat

keamanan atau militer yang membela kepentingan Soeharto, yang semakin brutal dan

tidak terkendalikan. Tuntutan itu dijawab dengan pentungan, gas air mata, aksi

penangkapan ilegal, penculikan dan penyiksaan (http://.geoticies.com). Tindakan

sewenang-wenang yang dilakukan oleh aparat keamanan atau militer telah membuka

hati para aktivis untuk mendirikan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Dengan

adanya LSM ini, bukannya membawa keadaan semakin membaik, tetapi LSM

dianggap sebagai gerakan kiri atau gerakan yang melawan pemerintah. Pada masa

rezim Soeharto, LSM selalu diidentikkan sebagai “agen dan antek asing”, “penjual”,

dan “pengkhianat bangsa”. Peryataan ini dilakukan untuk mengurangi keberadaan

LSM di mata rakyat, mengingat LSM saat itu adalah satu-satunya elemen masyarakat
3

yang kritis terhadap pemerintah Soeharto. Posisi LSM dan rezim Soeharto selalu

dalam posisi berlawanan. LSM telah dituduh berpolitik dan mengorganisasikan

rakyat miskin. Maka, wajar bila pemerintah selalu mencurigai aktivis LSM.

Pemerintah juga melakukan tindakan pengejaran dan penangkapan terhadap aktivis-

aktivis LSM (http://www.kompas.com).

Selain itu novel Saman juga bercerita mengenai perjuangan seorang pemuda

bernama Saman, yang dalam perjalanan karirnya sebagai seorang pastor harus

menyaksikan penderitaan penduduk desa yang tertindas oleh negara melalui aparat

militernya. Saman akhirnya menanggalkan jubah kepastorannya itu, dan menjadi

aktivis buron. Sebagai seorang aktivis, Saman mengembangkan hubungan seksual

dengan sejumlah perempuan. Keempat tokoh perempuan dalam novel Saman antara

lain Shakuntala, Laila, Cok, dan Yasmin. Mereka muda, berpendidikan dan berkarir.

Sebagai layaknya sahabat, mereka saling bertukar cerita mengenai pengalaman-

pengalaman cinta, keresahan dan pertanyaan-pertanyaan mereka dalam

mendefinisikan seksualitas perempuan (http://www.forum.webqaul.com).

Kemunculan novel Saman menjelang saat-saat jatuhnya rezim Soeharto pada

tahun 1998, sempat menghebohkan dunia sastra Indonesia karena isinya yang

dianggap kontroversial, mendobrak berbagai tabu di Indonesia baik mengenai represi

politik, intoleransi beragama, dan seksualitas perempuan. Ada pihak-pihak yang

mengkritik novel tersebut karena dianggap terlalu berani dan panas dalam

membicarakan persoalan seks. Banyak pula yang memujinya karena penggambaran

novel tersebut apa adanya, polos, tanpa kepura-puraan.


4

Di tengah kontroversi itu, Saman berhasil mendapat penghargaan Dewan

Kesenian Jakarta 1998. Ketika pertama kali terbit, Saman dibayangkan sebagai

fragmen dari novel pertama Ayu Utami yang akan berjudul Laila Tak Mampir di

New York. Pada tahun 2000, novel Saman mendapatkan penghargaan bergengsi dari

negeri Belanda yaitu Penghargaan Prince Clause Award. Suatu penghargaan yang

diberikan kepada orang-orang dari dunia ketiga yang berprestasi dalam bidang

kebudayaan dan pembangunan. Novel tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa

Belanda dengan judul Samans Missie, yang diluncurkan di Amsterdam pada 9 April

2001 dan dihadiri sendiri oleh Ayu Utami.

Ayu Utami merupakan salah satu pengarang wanita yang dinobatkan sebagai

pemenang pertama dalam Sayembara Mengarang Roman Dewan Kesenian Jakarta.

Penobatan ini seperti telah menjadi perayaan terhadap “kebangkitan” pengarang

wanita dalam khazanah sastra di Tanah Air. Kemenangan Ayu Utami tidak saja telah

memberi kepercayaan diri kepada pengarang wanita lain untuk menerbitkan karya-

karya mereka, tetapi secara substansif telah mendeskontruksi jarak yang tadinya

terbentang antara pengarang dengan pembacanya.

Ayu Utami lahir di Bogor, 21 November 1968, besar di Jakarta dan

menamatkan kuliah di Fakultas Sastra Jurusan Sastra Rusia Universitas Indonesia. Ia

mengaku sejak kecil memang suka bahasa terutama bahasa yang aneh-aneh, eksotis.

Bagi Ayu Utami dunia tulis menulis bukan hal yang baru. Sebelum menjadi penulis

novel, ia pernah menjadi wartawan di majalah Matra, Forum Keadilan, dan D&R.

Tak lama setelah Tempo, Editor, dan Detik di masa Orde Baru ia ikut mendirikan

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) yang memprotes pembredelan pers. Kini ia bekerja
5

di jurnal kebudayaan Kalam dan ikut membangun Komunitas Utan Kayu, sebuah

pusat kegiatan seni, pemikiran, dan kebebasan informasi. Baginya menulis novel

merupakan cara untuk mengeksplorasikan bahasa Indonesia, bahasa yang masih

muda, yang kurang mungkin dilakukannya sebagai wartawan.

Saman banyak mendapat perhatian dari ilmuwan terkemuka, diantaranya

Sapardi Djoko Damono dan Faruk H. T. Sapardi menganggap komposisi Saman

sepanjang pengetahuannya tidak ditemukan di negeri lain, padahal karya-karya

Ondaatje, Salman Rushdie, Vikram Seth, Milan Kudera adalah contoh cara bercerita

sealiran dengan Saman. Yang menyenangkan adalah bahwa teknik itu, aliran bertutur

itu, kini hadir dalam sebuah novel Indonesia.

Menurut Faruk, apa yang dilakukan oleh Ayu adalah keberanian melakukan

aksentuasi terhadap sesuatu yang tadinya bermakna tabu. “Ini juga patut dihargai, ia

telah mengaksentuasikan sesuatu nilai yang tadinya sangat tabu dikatakan oleh kaum

perempuan” (http://www.kompas.com).

Sepengetahuan penulis, novel Saman karya ayu Utami telah dikaji oleh:

Sutimah(2001) mahasiswa UNNES berjudul “Gaya Bahasa Novel Saman Karya Ayu

Utami: Sebuah Kajian Stilistika” yang memfokuskan pada estetika Saman dan

keterkaitan bahasa dengan unsur tema, sudut pandang, latar, dan penokohan. Dengan

demikian diperoleh fungsi gaya bahasa dalam Saman. Alur tidak dapat dirunut

keberadaannya karena alur yang digunakan dalam Saman sangat variatif.

Kevariatifan ini disebabkan oleh pilihan kata yang sangat komplek dan penggunaan

kalimat yang banyak mengalami penyimpangan kaidah ketatabahasaan. Ning Ediati

(2002) mahasiswa UNNES, berjudul “Tokoh Utama Novel Saman Karya Ayu Utami
6

Tinjauan Psikologis” yang memfokuskan pada penokohan tokoh utama secara fisik

dan tipe psikologis yang paling dominan pada tokoh Saman. Nas Haryati (2002)

dalam Jurnal Bahasa dan seni, berjudul “Beberapa Pilihan Kata pada novel Saman

Karya Ayu Utami” yang memfokuskan pada wujud penggunaan bahasa atau pilihan

kata pada novel Saman dan efek yang ditimbulkan oleh adanya pilihan kata tersebut.

Sofaningrum (2003) mahasiswa UNNES berjudul “Bentuk-bentuk Penyimpangan

Sosial dalam Novel Saman Karya Ayu Utami” yang memfokuskan pada bentuk-

bentuk penyimpangan sosial yang memunculkan dalam novel Saman, serta korelasi

antara penyimpangan sosial yang terefleksi dalam realita kehidupan.

Dari beberapa penelitian tersebut pada dasarnya novel Saman diteliti dari segi

bahasa dan strukturnya saja. Namun dari segi sosiologi khususnya menggunakan

teori Strukturalisme Genetik belum pernah ada yang meneliti. Novel Saman karya

Ayu Utami sangat menarik dan perlu dikaji, karena novel Saman mempunyai

hubungan antara lingkungan sosial saat novel tersebut diciptakan dengan lingkungan

sosial pengarang. Oleh karena itu dari pengkajian novel Saman ini dapat diketahui

pandangan dunia pengarang.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas permasalahan dalam penelitian ini adalah

sebagai berikut.

1. Bagaimana struktur novel Saman karya Ayu Utami?

2. Bagaimana lingkungan sosial Ayu Utami?

3. Bagaimana lingkungan sosial novel Saman karya Ayu Utami?


7

4. Bagaimana pandangan dunia pengarang yang terefleksi dalam novel Saman karya

Ayu Utami?

1.3 Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap:

1. struktur novel Saman karya Ayu Utami.

2. lingkungan sosial Ayu Utami.

3. lingkungan sosial novel Saman karya Ayu Utami.

4. pandangan dunia pengarang yang terefleksi dalam novel Saman karya Ayu

Utami.

1.4 Manfaat Penelitian

Secara teoritis penelitian ini bermanfaat untuk mengembangkan ilmu sastra,

khususnya dalam bidang karya sastra yang berbentuk novel, lebih-lebih dalam

penerapan teori sastra. Selain itu penelitian novel Saman dengan menggunakan teori

Strukturalisme Genetik belum pernah dilakukan, maka secara praktis penelitian ini

bermanfaat untuk membantu pembaca dalam memahami novel Saman.


8

BAB II

LANDASAN TEORETIS

2.1 Sosiologi Sastra

Sosiologi adalah telaah yang obyektif dan ilmiah tentang manusia dalam

masyarakat, telaah tentang lembaga dan proses sosial (Damono 1978: 6). Seperti

halnya sosiologi, sastra juga berurusan dengan manusia dalam masyarakat dengan di

dalamnya terdapat usaha manusia untuk menyesuaikan diri dan usahanya untuk

mengubah masyarakat itu. Pendekatan terhadap sastra yang mempertimbangkan segi-

segi kemasyarakat ini oleh beberapa penulis disebut sosiologi sastra (Damono

1978: 6).

Istilah sosiologi sastra pada dasarnya tidak berbeda pengertiannya dengan

pendekatan sosiologis atau sosiokultur terhadap sastra (Damono 1978: 2). Menurut

Damono (1978: 2), ada dua kecenderungan utama dalam telaah sosiologis terhadap

sastra. Pertama, pendekatan yang berdasarkan anggapan bahwa sastra merupakan

cermin proses sosial ekonomi belaka. Pendekatan ini bergerak dari faktor luar sastra

untuk membicarakan sastra. Kedua, pendekatan yang mengutamakan teks sastra

sebagai bahan penelitian. Metode yang digunakan dalam sosiologi sastra ini adalah

analisis teks untuk mengetahui lebih dalam lagi gejala di luar sastra.

Pendekatan sosiologi bertolak dari asumsi bahwa sastra merupakan

pencerminan kehidupan masyarakat, melalui karya sastra seorang pengarang

mengungkapkan problem kehidupan yang pengarang sendiri ikut di dalam karya

sastra menerima pengaruh dari masyarakat dan sekaligus mampu memberi pengaruh

8
9

terhadap masyarakat bahkan seringkali masyarakat sangat menentukan nilai karya

sastra yang hidup di suatu zaman, sementara sastrawan itu sendiri yang merupakan

anggota masyarakat tidak dapat mengelak dari adanya pengaruh yang diterimanya

dari lingkungan yang membesarkannya dan sekaligus membentuknya (Semi 1993:

73).

Lebih lanjut Goldmann mengemukakan bahwa semua aktivitas manusia

merupakan respon dari subjek kolektif atau individu dalam situasi tertentu yang

merupakan kreasi atau percobaan untuk memodifikasi situasi yang ada agar cocok

dengan aspirasinya. Sesuatu yang dihasilkan merupakan fakta hasil usaha manusia

untuk mencapai keseimbangan yang lebih baik dengan dunia sekitarnya (Fananie

2000: 117).

Sosiologi sastra berdasarkan prinsip bahwa karya sastra (kesusastraan)

merupakan refleksi pada zaman karya sastra (kesusastraan) itu ditulis yaitu

masyarakat yang melingkupi penulis, sebab sebagai anggotanya penulis tidak dapat

lepas darinya.

Wellek dan Warren (dalam Damono 1978: 3) mengemukakan tiga klasifikasi

yang berkaitan dengan sosiologi sastra, antara lain:

1. Sosiologi pengarang. Masalah yang berkaitan adalah dasar ekonomi produksi

sastra, latar belakang sosial, status pengarang, dan ideologi.

2. Sosiologi karya sastra. Masalah yang dibahas mengenai isi karya sastra, tujuan

atau amanat, dan hal-hal lain yang tersirat dalam karya sastra itu sendiri dan

berkaitan dengan masalah sosial.


10

3. Sosiologi pembaca. Membahas masalah pembaca dan pengaruh sosial karya

sastra terhadap pembaca.

Klasifikasi sosiologi sastra menurut Wellek dan Warren tidak jauh berbeda

dengan klasifikasi kajian sosiologi sastra yang dikemukakan oleh Ian Watt. Ian Watt

dalam eseinya yang berjudul “Literatur Society” (dalam Damono 1978: 3-4) yang

membicarakan hubungan timbal balik antara sastrawan, sastra, dan masyarakat.

Pertama, konteks sosial pengarang. Ini ada hubungannya dengan posisi sosial

masyarakat dan kaitannya dengan masyarakat pembaca, dan faktor-faktor sosial yang

mempengaruhi si pengarang sebagai perseorangan dan isi karya sastranya. Yang

terutama harus diteliti adalah (a) bagaimana si pengarang mendapatkan mata

pencahariannya, apakah ia menerima bantuan dari pengayom atau dari masyarakat

secara langsung, atau dari kerja rangkap, (b) profesionalisme dalam kepengarangan:

sejauh mana pengarang itu menganggap pekerjaannya sebagai profesi, dan (c)

masyarakat apa yang dituju oleh pengarang dalam hubungan antara pengarang dan

masyarakat, sebab masyarakat yang dituju sering mempengaruhi bentuk dan isi karya

sastra.

Kedua, sastra sebagai cermin masyarakat: sejauh mana sastra dapat dianggap

mencerminkan keadaan masyarakat pada waktu karya itu ditulis, yang terutama

mendapat perhatian adalah (a) sastra mungkin tidak dapat dikatakan mencerminkan

masyarakat pada waktu ditulis, (b) sifat lain dari yang lain seorang pengarang sering

mempengaruhi pemilihan penampilan faktor-faktor sosial dalam karyanya, (c) genre

sastra merupakan sikap sosial kelompok tertentu, bahkan sikap sosial seluruh

masyarakat, (d) sastra berusaha untuk menampilkan keadaan masyarakat secermat-


11

cermatnya, mungkin saja tidak dipercaya sebagai cermin pandangan sosial pengarang

harus diperhitungkan apabila kita menilai karya sastra sebagai cermin masyarakat.

Ketiga, fungsi sosial sastra. Hal yang perlu dipertanyakan adalah sampai seberapa

jauh nilai sastra berkaitan dengan nilai sosial dan seberapa jauh nilai sastra

dipengaruhi nilai sosial. Pada hubungan ini, ada tiga hal yang harus diperhatikan

yaitu sudut pandang ekstrinsik kaum Romantik, sastra bertugas sebagai penghibur

adanya kompromi dapat dicapai dengan meninjau slogan klasik bahwa sastra harus

menggunakan sesuatu dengan cara menghibur (Damono 1978: 3-4).

Selain itu Laurenson (dalam Fananie 2000: 133) mengemukakan ada tiga

perspektif yang berkaitan dengan sosiologi sastra, antara lain:

1. Perspektif yang memandang sastra sebagai dokumen sosial yang di dalamnya

merupakan refleksi situasi pada masa satra tersebut diciptakan;

2. Perspektif yang mencerminkan situasi sosial penulisnya;

3. Model yang dipakai karya tersebut sebagai manifestasi dari kondisi sosial budaya

atau peristiwa sejarah.

Menurut Wellek dan Warren (1995: 111) hubungan sastra dengan masyarakat

dapat diklasifikasikan sebagai berikut: Pertama, sosiologi pengarang, profesi

pengarang, dan situasi sastra. Masalah yang berkaitan di sini adalah dasar ekonomi,

produksi sastra, latar belakang sosial, status pengarang dan ideologi pengarang yang

terlihat dari berbagai kegiatan di dalam karya sastra. Kedua, isi karya sastra, tujuan,

serta hal-hal lain tersirat dalam karya sastra itu sendiri dan yang berkaitan dengan

masalah sosial. Ketiga, permasalahan pembaca dan dampak sosial sastra.


12

Menurut Goldmann (Endraswara 2003: 57) karya sastra sebagai struktur

bermakna itu akan mewakili pandangan dunia pengarang, tidak sebagai individu

melainkan sebagai anggota masyarakatnya. Sehingga karya sastra tidak akan dapat

dipahami secara utuh jika totalitas kehidupan masyarakat yang telah melahirkan teks

sastra diabaikan begitu saja. Pengabaian unsur masyarakat berarti penelitian sastra

menjadi pincang. Oleh karena itu, karya sastra dapat dipahami asalnya dan

kejadiannya (unsur genetiknya) dari latar belakang sosial tertentu. Keterkaitan

pandangan dunia pengarang dengan ruang dan waktu tertentu tersebut, bagi

Goldmann merupakan hubungan genetik. Oleh karena itu, muncullah teori yang

disebut dengan Strukturalisme Genetik.

Strukturalisme Genetik merupakan embrio penelitian sastra dari aspek sosial

yang kelak disebut sosiologi sastra. Hanya saja, Strukturalisme Genetik tetap

mengedepankan juga aspek struktur. Baik struktur dalam maupun struktur luar, tetap

dianggap penting bagi pemahamah karya sastra (Endraswara 2003: 60).

Dalam skripsi ini digunakan klasifikasi yang kedua dari Wellek dan Warren,

yaitu sosiologi karya sastra. Dalam klasifikasi sosiologi karya sastra ini akan dibahas

mengenai masalah-masalah sosial dan dalam kaitannya dengan isi karya sastra,

tujuan, amanat dan hal-hal lain yang tersirat dalam karya sastra. Jadi, dalam sosiologi

karya sastra yang menjadi pokok bahasan adalah karya sastra itu sendiri. Pendekatan

sosiologi karya sastra akan mengkaji karya sastra yang isinya bersifat sosial. Hal ini

dikarenakan sastra sebagai hasil seorang pengarang tidak bisa lepas dari kehidupan

sosial suatu masyarakat.


13

2.2 Struktur Novel

Menurut Fananie (2000: 83) unsur intrinsik adalah struktur formal karya

sastra yang dapat disebut sebagai elemen-elemen atau unsur-unsur yang membentuk

karya sastra. Unsur-unsur tersebut secara utuh membangun karya sastra fiksi dari

dalam, unsur-unsur intrinsik yang paling pokok terdiri dari: (1) tokoh dan

penokohan, (2) latar, (3) alur, dan (4) tema.

(1) Tokoh dan Penokohan

Tokoh cerita (character) menurut Abrams (dalam Nurgiyantoro 2000: 165)

adalah orang-orang yang ditampilkan dalam karya naratif, atau drama yang oleh

pembaca ditafsirkan memiliki kualitas moral dan kecenderungan tertentu seperti

yang diekspresikan dalam ucapan dan apa yang dilakukan dalam tindakannya.

Menurut Sayuti (1996: 47) ditinjau dari segi keterlibatannya dalam

keseluruhan cerita, tokoh fiksi dibedakan menjadi dua, yakni:

a. Tokoh sentral atau tokoh utama

Tokoh sentral merupakan tokoh yang mengambil bagian terbesar dalam

peristiwa atau tokoh yang paling banyak diceritakan. Tokoh sentral atau tokoh

utama dapat ditentukan dengan tiga cara, yaitu (1) tokoh itu yang paling terlibat

dengan makna atau tema, (2) tokoh itu yang paling banyak berhubungan dengan

tokoh lain, dan (3) tokoh itu paling memerlukan waktu penceritaan.

b. Tokoh periferal atau tokoh tambahan (bawahan)

Tokoh bawahan merupakan tokoh yang mengambil bagian kecil dalam

peristiwa suatu cerita atau tokoh yang sedikit diceritakan.


14

Penokohan adalah pelukisan mengenai tokoh cerita; baik keadaan lahirnya

maupun batinnya yang dapat berupa: pandangan hidupnya, sikapnya, keyakinannya,

adat istiadatnya, dan sebagainya (Suharianto 1982: 31).

Dalam penokohan, dikenal ada dua cara atau metode yang digunakan

pengarang untuk menggambarkan tokoh cerita (Sayuti 1996: 57-59) antara lain:

a. Metode diskursif atau metode analitik

Metode ini digunakan pengarang dengan menyebutkan secara langsung

masing-masing kualitas tokoh-tokohnya.

b. Metode dramatis atau metode tidak langsung

Metode ini digunakan pengarang dengan memberikan tokoh-tokohnya

untuk menyatakan diri mereka sendiri. Metode ini dapat dilakukan dari beberapa

teknik antara lain: (1) teknik pemberian nama, (2) teknik cakapan, (3) teknik

pikiran tokoh, (4) teknik arus kesadaran, (5) teknik lukisan persoalan tokoh, (6)

teknik perbuatan tokoh, (7) teknik pandangan seorang atau banyak tokoh

terhadap tokoh lain, (8) teknik lukisan fisik, dan (9) teknik pelukisan latar.

(2) Latar

Abrams (dalam Nurgiyantoro 2000: 216) yang menyebut latar sebagai landas

tumpu, menyaran pada pengertian tempat, hubungan waktu, dan lingkungan sosial

tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan.

Menurut Sayuti (1996: 80), deskripsi latar fiksi secara garis besar dapat

dikategorikan dalam tiga bagian, yakni:

a. Latar tempat

Latar tempat menyangkut deskripsi tempat suatu cerita terjadi.


15

b. Latar waktu

Latar waktu mengacu kepada saat terjadinya peristiwa secara historis dalam plot.

Dengan jelasnya saat kejadian akan tergambar pula tujuan fiksi tersebut. Secara

jelas pula rangakian peristiwa yang tidak mungkin terjadi terlepas dari perjalanan

waktu dapat ditinjau dari jam, hari, tanggal, bulan, tahun, bahkan zaman tertentu

yang melatarbelakanginya.

c. Latar sosial

Latar sosial merupakan lukisan status yang menunjukkan Hakikat seorang atau

beberapa orang tokoh di dalam masyarakat yang ada di sekelilingnya.

(3) Alur

Salah satu elemen terpenting dalam membentuk sebuah karya fiksi adalah

plot cerita. Dalam analisis cerita, plot sering pula disebut alur, yakni cara pengarang

menjalin kejadian-kejadian secara beruntun dengan memperhatikan hukum sebab

akibat sehingga merupakan kesatuan yang padu, bulat dan utuh (Suharianto 1982:

28).

Menurut Zulfahnur, dkk (1996: 27), berdasarkan fungsinya alur dibagi atas:

a. Alur utama

Alur utama adalah alur yang berisi cerita pokok, dibentuk oleh peristiwa pokok

atau utama.

b. Alur bawahan (subplot)

Alur bawahan adalah alur yang berisi kejadian-kejadian kecil menunjang

peristiwa-peristiwa pokok, sehingga cerita tambahan tersebut berfungsi sebagai

ilustrasi alur utama.


16

(4) Tema

Tema berasal dari kata “thema” (Inggris) ide menjadi pokok suatu

pembicaraan, atau ide pokok suatu tulisan. Tema merupakan omensional yang amat

penting dari suatu cerita, karena dengan dasar itu pengarang dapat membayangkan

dalam fantasinya bagaimana cerita akan dibangun dan berakhir. Dengan adanya tema

pengarang mempunyai pedoman dalam ceritanya pada sasaran. Jadi tema adalah ide

sentral yang mendasari suatu cerita (Zulfahnur 1996: 24).

Akhirnya, dapat dikatakan bahwa pendekatan Strukturalisme Genetik

mempunyai segi-segi yang bermanfaat dan berdaya guna tinggi, apabila peneliti

sendiri tidak melupakan tetap memperhatikan segi-segi intrinsik yang membangun

karya sastra, di samping memperhatikan faktor-faktor sosiologis, serta menyadari

sepenuhnya bahwa karya sastra itu diciptakan oleh suatu kreativitas dengan

memanfaatkan faktor imajinasi (Jabrohim 1994: 82-83).

2.3 Strukturalisme Genetik

Strukturalisme Genetik (genetik structuralism) adalah cabang penelitian

sastra secara struktural yang tak murni. Strukturalisme genetik ini merupakan

penggabungan antara struktural dengan metode penelitian sebelumnya (Endraswara

2003: 55).

Semula, peletak dasar strukturalisme Genetik adalah Taine. Bagi dia, karya

sastra sekedar fakta imajinatif dan pribadi, melainkan dapat merupakan cerminan

atau rekaman budaya, suatu perwujudan pikiran tertentu pada saat karya dilahirkan.
17

Strukturalisme Genetik muncul sebagai reaksi atas “stukturalisme murni”

yang mengabaikan latar belakang sejarah dan latar belakang sastra yang lain. Hal ini

diakui pertama kali oleh Juhl (Teeuw 1988: 173) bahwa penafsiran model

strukturalisme murni atau strukturalisme klasik kurang berhasil (Endraswara 2003:

55-56).

Dari pandangan ini, tampaknya murid utama George Lukacs, dalam apa yang

dikenal sebagai kritik sastra marxis aliran “neo-Hegelian”, Lucien Goldmann,

kritikus asal Rumania adalah satu-satunya tokoh yang ikut mengembangkan

Strukturalisme Genetik. Goldmann berusaha mengulas struktur sebuah teks sastra

dengan tujuan mengetahui sampai sejauh mana teks itu mewujudkan struktur

pemikiran (atau “visi dunia”, world vision) dari kelompok atau kelas sosial dari

mana pengarang berasal.

Penelitian Strukturalisme Genetik, memandang karya sastra dari dua sudut

yaitu intrinsik dan ekstrinsik. Pendekatan ini mempunyai segi-segi yang bermanfaat

dan berdaya guna tinggi, apabila para peneliti sendiri tidak melupakan atau tetap

memperhatikan segi-segi intrinsik yang membangun karya sastra, di samping

memperhatikan faktor-faktor sosiologis, serta menyadari sepenuhnya bahwa karya

sastra itu diciptakan oleh suatu kreativitas dengan memanfaatkan faktor imajinasi

(Jabrohim 1994: 82).

Pendapat di atas sesuai dengan pendapat Endraswara (2003: 56) yang

menyatakan bahwa studi Strukturalisme Genetik memiliki dua kerangka besar.

Pertama hubungan antara makna suatu unsur dengan unsur lainnya dalam suatu karya
18

sastra yang sama, dan kedua hubungan tersebut membentuk suatu jaringan yang

saling mengikat.

Strukturalisme Genetik tidak begitu saja dari struktur dan pandangan dunia

pengarang. Pandangan dunia pengarang itu sendiri dapat diketahui melalui latar

belakang kehidupan pengarang. Hal itulah yang memberikan kekuatan hasil analisis

novel dengan pendekatan sosiologi sastra. pendekata sosiologi sastra secara

singkatnya adalah pendekatan yang memandang karya sastra sebagai cermin

kehidupan masyarakat. Pencipta karya sastra adalah anggota masyarakat. Jelaslah

bahwa pendekatan sosiologi sastra terutama dengan metode Strukturalisme Genetik

sangat erat hubungannya dengan pengarang.

Lebih lanjut Goldmann mengemukakan bahwa semua aktivitas manusia

merupakan kreasi atau percobaan untuk memodifikasi situasi yang ada agar cocok

dengan aspirasinya. Sesuatu yang dihasilkan merupakan fakta hasil usaha manusia

untuk mencapai keseimbangan yang lebih baik dengan dunia sekitarnya (Fananie

2000: 117).

Strukturalisme Genetik pada prinsipnya adalah teori sastra yang berkeyakinan

bahwa karya sastra tidak semata-mata merupakan suatu yang statis dan lahir yang

sendirinya melainkan merupakan hasil strukturasi struktur kategori pikiran subjek

penciptanya atau subjek kolektif tertentu yang terbangun akibat interaksi antara

subjek itu dengan situasi sosial dan ekonomi tertentu. Oleh karena itu pemahaman

mengenai Strukturalisme Genetik, tidak mungkin dilakukan tanpa pertimbangan-

pertimbangan faktor-faktor sosial yang melahirkannya, sebab faktor itulah yang


19

memberikan kepaduan pada struktur karya sastra itu (Goldmann dalam Faruk

1999: 13).

Ada dua kelompok karya sastra menurut Goldmann (dalam Jabrohim 1994:

82), yaitu karya sastra yang dihasilkan oleh pengarang utama dan karya sastra yang

dihasilkan oleh pengarang kelas dua. Karya sastra yang dihasilkan oleh pengarang

utama adalah karya sastra yang strukturnya sebangun dengan struktur kelompok atau

kelas sosial tertentu. Sedangkan, karya sastra yang dihasilkan oleh pengarang kelas

dua adalah karya sastra yang isinya sekedar reproduksi segi permukaan realitas dan

kesadaran kolektif. Untuk penelitian sastra yang mengungkapkan pendekatan

Strukturalisme Genetik oleh Goldmann disarankan menggunakan karya sastra

ciptaan pengarang utama, karena sastra yang dihasilkannya merupakan karya agung

(master peace) yang di dalamnya mempunyai tokoh problematik (problematic hero)

atau mempunyai wira yang memburuk (degraded) dan berusaha mendapatkan nilai

yang sahih (autthentic value).

Menurut Goldmann (dalam Endraswara 2003: 57) karya sastra sebagai

struktur bermakna itu akan mewakili pandangan dunia penulis, tidak sebagai individu

melainkan sebagai anggota masyarakatnya. Dengan demikian, dapat ditanyakan

bahwa Strukturalisme Genetik merupakan penelitian sastra yang menghubungkan

antara struktur sastra dengan struktur masyarakat melalui pandangan dunia atau

ideologi yang diekspresikannya. Keterkaitan pandangan dunia penulis dengan ruang

dan waktu tertentu tersebut, bagi Goldmann merupakan hubungan genetik, karenanya

disebut sebagai Strukturalisme Genetik. Pada bagian lain, Goldmann mengemukakan


20

bahwa pandangan dunia merupakan perspektif yang koheren dan terpadu mengenai

hubungan manusia dengan sesamanya dengan alam semesta.

Sebagai sebuah analisis Strukturalisme Genetik didasarkan faktor kesejarahan

karena tanpa menghubungkan dengan fakta-fakta kesejarahan pada suatu objek

kolektif di mana suatu karya diciptakan, tidak seorang pun akan mampu memahami

secara komprehensif pandangan dunia atau hakikat dari yang dipelajari (Goldmann

dalam Fananie 2000: 120).

Pandangan dunia, yang bagi Goldmann selalu terbayang dalam karya sastra

adalah abstraksi. Abstraksi itu akan mencapai bentuknya yang konkret dalam sastra.

Oleh karena itu pandangan dunia ini suatu bentuk kesadaran kolektif yang mewakili

kelas sosialnya. Oleh karena itu, karya sastra dapat dipahami asalnya dan terjadinya

(unsur genetik) dari latar belakang sosial tertentu. Keterkaitan pandangan dunia

penulis dengan ruang dan waktu tertentu tersebut bagi Goldmann merupakan

hubungan genetik. Karenanya disebut Strukturalisme Genetik. Dalam kaitannya ini,

karya sastra harus dipandang dari asalnya dan kejadiannya (Endraswara 2003: 57).

Atas dasar hal-hal tersebut, Goldmann (dalam Endraswara 2003: 57)

memberikan rumusan penelitian Strukturalisme Genetik ke dalam tiga hal, yaitu: (1)

penelitian terhadap karya sastra seharusnya dilihat sebagai satu kesatuan; (2) karya

sastra yang diteliti mestinya karya sastra yang bernilai sastra yaitu karya yang

mengandung tegangan (tension) antara keragaman dan kesatuan dalam suatu

keseluruhan (a coherent whole); (3) jika kesatuan telah ditemukan, kemudian

dianalisis dalam hubungannya dengan latar belakang sosial. Secara sederhana, kerja
21

penelitian Strukturalisme Genetik dapat diformulasikan dalam tiga langkah antara

lain:

1. Penelitian bermula dari kajian unsur intrinsik, baik secara parsial maupun dalam

jalinan keseluruhan.

Penelitian Strukturalisme Genetik, memandang karya sastra dari dua sudut

pandang yaitu intrinsik dan ekstrinsik. Studi diawali dari bagian unsur intrinsik

(kesatuan dan koherensi) sebagai data dasarnya. Selanjutnya, penelitian akan

menghubungkan berbagai unsur dengan realitas masyarakat. Karya dipandang

sebagai sebuah refleksi zaman, yang dapat mengungkap aspek sosial, budaya,

politik, ekonomi, dan sebagainya. Peristiwa-peristiwa penting dari zamannya akan

dihubungkan langsung dengan unsur-unsur intrinsik karya sastra. Untuk sampai pada

World view yang merupakan pandangan dunia pengarang memang bukan perjalanan

mudah. Karena itu, Goldman mengisyaratkan bahwa penelitian bukan terletak pada

analisis isi, melainkan lebih pada struktur cerita. Dari struktur cerita itu kemudian

dicari jaringan yang membentuk kesatuannya. Penekanan pada struktur dengan

mengabaikan isi kebenarannya merupakan suatu permasalahan tersendiri, karena hal

tersebut dapat mengabaikan hakikat sastra yang merupakan tradisi sendiri

(Laurenson dan Swingewood dalam Endraswara 2003: 57-58).

Penelitian sastra yang menggunakan pendekatan Strukturalisme Genetik

terlebih dahulu harus memulai langkah yaitu kajian unsur-unsur intrinsik. Dari

pengkajian unsur-unsur intrinsik ini akan dapat memunculkan tokoh problematik

dalam novel tersebut. Tokoh problematik yang terdapat dalam novel akan

memunculkan adanya pandangan dunia pengarang akan dimunculkan melalui tokoh


22

problematik (problematic hero). Tokoh problematik (problematik hero) adalah tokoh

yang mempunyai wira bermasalah yang berhadapan dengan kondisi sosial yang

memburuk (degraded) dan berusaha mendapatkan nilai yang sahih (authentic value).

Melalui tokoh problematik inilah pandangan dunia pengarang akan terlihat dari

pemberian solusi-solusi yang diberikan oleh pengarang kepada tokoh problematik

dalam usahanya untuk mengatasi masalah yang sedang dihadapi.

2. Mengkaji kehidupan sosial budaya pengarang, karena ia merupakan bagian dari

komunitas tertentu.

Sosial budaya terdiri atas dua kata yaitu sosial dan budaya. Sosial berarti

berkenaan dengan masyarakat. Budaya adalah keseluruhan hasil cipta, rasa, dan

karsa masyarakat. Budaya dapat dikaitkan sebagai warisan yang dipandang sebagai

karya yang tersusun secara teratur, terbiasa, dan sesuai dengan tata tertib. Hasil

budaya tersebut dapat berupa kemahiran teknik, pikiran, gagasan, kebiasaan-

kebiasaan tertentu atau hal-hal yang bersifat kebendaan. Kata kebudayaan

mengandung pengertian yang kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan,

kesenian, moral, hukum, adat istiadat, cara hidup, dan lain-lain. kemampuan-

kemampuan serta kebiasaan-kebiasaan yang didapat oleh manusia sebagai anggota

masyarakat kebudayaan adalah hasil budi, daya kerja akal manusia dalam rangka

mencukupi kebutuhan hidupnya. Kebudayaan terbentuk karena adanya manusia,

sedang manusia merupakan anggota masyarakat. Simpulan yang diperoleh dari

beberapa pengertian sosial budaya di atas adalah segala sesuatu mencakup

pengetahuan, kepercayaan, moral, hukum, adat istiadat, dan kebiasaan-kebiasaan

yang diperoleh manusia melalui akal budinya sebagai makhluk sosial.


23

Seorang pengarang adalah anggota kelas sosial, maka lewat suatu kelaslah ia

berhubungan dengan perubahan sosial dan politik yang besar. Perubahan sosial dan

politik itu sendiri adalah ekspresi antagonis kelas, dan jelas mempengaruhi kesadaran

kelas (Damono 1978: 42).

Kelas sosial pengarang akan mempengaruhi bentuk karya sastra yang

diciptakannya, sebagaimana dikatakan Griff (dalam Faruk 1999: 55) sekolah dan

latar belakang keluarga dengan nilai-nilai dan tekanannya mempengaruhi apa yang

dikerjakan oleh sastrawan.

Gejolak batin pengarang menjadi hal yang sangat urgen dalam peristiwa

munculnya karya sastra. Sebagai manusia pengarang berusaha mengaktualisasikan

dirinya, menaruh minat terhadap masalah-masalah manusia dan kemanusiaan, hidup,

dan kehidupan melalui karya sastra. Meskipun demikian, karya sastra berbeda

dengan rumusan sejarah. Dalam sebuah karya sastra, kehidupan yang ditampilkan

merupakan peramuan antara pengamatan dunia keseharian dan hasil imajinasi. Jadi,

kehidupan dalam sastra merupakan kehidupan yang telah diwarnai oleh pandangan-

pandangan pengarang.

Latar belakang sosial budaya pengarang dapat mempengaruhi penciptaan

karya-karyanya, karena pada dasarnya sastra mencerminkan keadaan sosial baik

secara individual (pengarang) maupun secara kolektif. Hal tersebut menyebabkan

secara sadar atau tidak sadar bahwa dalam menciptakan karya sastra baik sedikit

ataupun banyak dipengaruhi oleh pemikiran perasaan dan pengalaman hidupnya,

salah satunya yaitu bahwa latar belakang sosial budaya pengarang akan

mempengaruhi penciptaan karya sastra yang ditulisnya.


24

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa kehidupan sosial

budaya pengarang akan mempengaruhi karya sastra yang ditulis. Karena pengarang

merupakan bagian dari komunitas tertentu. Sehingga kehidupan sosial budaya

pengarang akan dapat mempengaruhi karya sastranya. Pengarang bukan hanya

penyalur dari suatu pandangan dunia kelompok masyarakat, tetapi juga menyalurkan

reaksinya terhadap fenomena sosial budaya dan mengeluarkan pikirannya tentang

satu peristiwa. Secara singkat, kehidupan sosial budaya pengarang akan

memunculkan pandangan dunia pengarang, karena pandangan dunia pengarang

terbentuk dari pandangan pengarang setelah ia berintereaksi dengan pandangan

kelompok sosial masyarakat pengarang.

3. Mengkaji latar belakang sosial sejarah yang turut mengkondisikan karya sastra

saat diciptakan oleh pengarang.

Karya sastra lahir di tengah-tengah masyarakat sebagai hasil imajinasi

pengarang serta refleksinya terhadap gejala-gejala sosial di sekitarnya. Oleh karena

itu, kehadiran karya sastra merupakan bagian dari kehidupan masyarakat. Sebuah

karya sastra berakar pada kultur tertentu dan masyarakat tertentu (Iswanto dalam

Jabrohim 1994: 78).

Karya sastra yang besar menurut Goldman (dalam Fananie 2000: 165)

dianggap sebagai fakta sosial dari subjek tran-individual karena merupakan alam

semesta dan kelompok manusia. Itulah sebabnya pandangan dunia yang tercermin

dalam karya sastra terikat oleh ruang dan waktu yang menyebabkan ia bersifat

historis.
25

Johnson (dalam Faruk 1999: 45-46) menyimpulkan bahwa novel

mempresentasikan suatu gambaran yang jauh lebih realistik mengenai kehidupan

sosial. Dengan demikian, karya sastra diciptakan oleh pengarang untuk menuliskan

kembali kehidupan dalam bentuk cerita.

Bonald (dalam Wellek dan Warren 1995: 110) mengemukakan hubungan

antara sastra erat kaitannya dengan masyarakat. Sastra ada hubungan dengan

perasaan masyarakat. Sastra mencerminkan dan mengekspresikan kehidupan secara

keseluruhan kehidupan zaman tertentu secara nyata dan menyeluruh.

Grabstein (dalam Damono 1984: 4) menyatakan bahwa karya sastra tidak

dapat dipahami selengkap-lengkapnya apabila dipisahkan dari lingkungan atau

kebudayaan yang menghasilkannya. Karya sastra harus dipelajari dalam konteks

seluas-luasnya dan tidak hanya menyoroti karya sastra itu sendiri. Setiap karya sastra

adalah hasil dari pengaruh timbal balik antara faktor-faktor sosial kultural dan

merupakan objek kultural yang rumit.

Latar belakang sejarah, zaman dan sosial masyarakat berpengaruh terhadap

proses penciptaan karya sastra, baik dari segi isi maupun bentuknya atau strukturnya.

Suatu masyarakat tertentu yang menghidupi pengarang dengan sendirinya akan

melahirkan suatu warna karya sastra tertentu pula (Iswanto dalam Jabrohim 1994:

64).

Melalui karya sastra seorang pengarang mengungkapkan problem kehidupan

yang pengarang sendiri ikut di dalamnya. Karya sastra memberi pengaruh pada

masyarakat, bahkan seringkali masyarakat sangat menentukan nilai karya sastra yang

hidup pada suatu zaman, sementara sastrawan itu sendiri merupakan anggota
26

masyarakat tidak dapat mengelak dari adanya pengaruh yang diterimanya dari

lingkungan yang membesarkannya dan sekaligus membentuknya sebagai realitas

sosial (Semi 1989: 73).

Semi (1989: 53) menyatakan bahwa karya sastra merupakan suatu fenomena

sosial yang terkait dengan penulis, pembaca, dan kehidupan manusia. Karya sastra

sebagai fenomena sosial tidak hanya terletak pada segi penciptanya saja, tetapi juga

pada hakikat karya sastra itu sendiri. Bahkan dapat dikatakan bahwa reaksi sosial

seorang penulis terhadap fenomena sosial yang dihadapinya mendorong ia menulis

karya sastra. Oleh karena itu, mempelajari karya sastra berarti mempelajari

kehidupan sosial. Hal itu bermakna bahwa kajian karya sastra terkait dengan kajian

manusia, kajian tentang kehidupan.

Untuk lebih jelasnya, dalam melakukan penelitian dengan menggunakan

metode Strukturalisme Genetik dapat kita ikuti langkah-langkah yang ditawarkan

oleh Laurensin dan Swingewood yang disetujui oleh Goldman (dalam Jabrohim

2001: 64-65). Adapun langkah-langkahnya sebagai berikut:

a. Peneliti sastra itu dapat kita ikuti sendiri. Mula-mula sastra diteliti strukturnya

untuk membuktikan jaringan bagian-bagiannya sehingga terjadi keseluruhan

yang padu dan holistik.

b. Penghubungan dengan sosial budaya. Unsur-unsur kesatuan karya sastra

dihubungkan dengan sosio budaya dan sejarahnya, kemudian dihubungkan

dengan struktur mental yang berhubungan dengan pandangan dunia pengarang.


27

c. Untuk mencapai solusi atau kesimpulan digunakan metode induktif, yaitu metode

pencarian kesimpulan dengan jalan melihat premis-premis yang sifatnya spesifik

untuk selanjutnya mencapai premis general.


28

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Pendekatan Penelitian

Pendekatan ini dapat dilakukan dari pemahaman bahwa karya sastra

diciptakan tidak hanya dari imajinasi dan pribadi pengarang, tetapi juga dari

peristiwa yang terjadi dalam masyarakat sehingga karya sastra dapat dikatakan

sebagai cermin rekaman budaya masyarakat. Pemahaman dapat dibuktikan dengan

mengunakan teori Strukturalisme Genetik. Karena Strukturalisme Genetik tidak

hanya memandang karya sastra berdasarkan unsur intrinsik saja tetapi juga unsur

ekstrinsik. Unsur ekstrinsik dari sebuah novel diperoleh dari peristiwa sosial

masyarakat. Sehingga dapat dikatakan bahwa penelitian ini menggunakan

pendekatan sosiologi sastra.

Berdasarkan uraian di atas maka pendekatan dalam penelitian ini

menggunakan sosiologi dalam sastra, merupakan pendekatan terhadap karya sastra

yang mempertimbangkan segi-segi kemasyarakatan yang terdapat dalam karya

sastra. Pendekatan sosiologis digunakan dalam menganalisis novel Saman, karena

karya sastra tidak dapat dipahami secara selengkap-lengkapnya apabila dipisahkan

dengan lingkungan atau zaman pada saat novel ditulis.

3.2 Sasaran Penelitian

Sasaran penelitian dalam skripsi ini adalah struktur novel Saman, lingkungan

sosial pengarang, lingkungan sosial novel, dan pandangan dunia pengarang yang

28
29

terefleksi dalam novel Saman karya Ayu Utami, yang diterbitkan oleh penerbit

Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), Jakarta pada tahun 1998.

3.3 Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian skripsi ini yaitu dengan

menggunakan model dialektik. Secara sederhana, pelaksanaan analisis dialektik

diawali dengan mengkaji unsur intrinsik novel dalam jalinan keseluruhannya,

kemudian megkaji kehidupan sosial budaya pengarang, karena pengarang merupakan

bagian dari komunitas tertentu, kemudian mengkaji latar belakang sosial dan sejarah

yang turut mengkondisikan karya sastra saat diciptakan oleh pengarang (Endraswara

2003: 62).

Langkah-langkah yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

1. Membaca novel Saman karya Ayu Utami secara berulang-ulang dari awal

sampai akhir cerita.

2. Mengkaji struktur novel Saman karya Ayu Utami.

3. Mengkaji lingkungan sosial Ayu Utami.

4. Mengkaji lingkungan sosial novel Saman karya Ayu Utami.

5. Menghubungkan antara struktur novel Saman karya Ayu Utami, lingkungan

sosial Ayu Utami, dan lingkungan sosial novel Saman karya Ayu Utami. Dari

proses tersebut diperoleh pandangan dunia pengarang yang terefleksi dalam

novel Saman melalui tokoh problematik yang ada dalam novel tersebut.

6. Menarik simpulan dari permasalahan yang telah dikaji dalam novel Saman karya

Ayu Utami.
30

BAB IV

STRUKTUR NOVEL, LINGKUNGAN SOSIAL PENGARANG,

LINGKUNGAN SOSIAL NOVEL, DAN PANDANGAN DUNIA

PENGARANG YANG TEREFLEKSI DALAM SAMAN KARYA AYU UTAMI

Pada bab II di atas, telah dijelaskan mengenai teori-teori yang digunakan

untuk menganalisis novel Saman. Sedangkan pada bab IV ini akan dijelaskan

mengenai unsur-unsur intrinsik yang terdapat dalam novel Saman, yang nantinya

dari pengkajian unsur-unsur intrinsik ini akan ditemukan tokoh problematik yang

terdapat dalam novel. Setelah pengkajian Unsur-unsur intrinsik akan diteruskan

dengan penjelasan mengenai lingkungan sosial Ayu Utami yang merupakan

pengarang novel Saman. Penjelasan ini dilakukan supaya dapat diketahui apakah

lingkungan sosial Ayu Utami dapat mempengaruhi dalam penulisan novel Saman.

Kemudian dilanjutkan dengan penjelasan mengenai lingkungan sosial novel. Hal ini

dilakukan supaya dapat diketahui mengenai isi cerita yang terdapat dalam novel

Saman. Setelah dilakukan penjelasan-penjelasan di atas, diteruskan dengan

penjelasan mengenai pandangan dunia pengarang yang terefleksi dalam novel

Saman. Hal ini dilakukan dengan cara menghubung-hubungkan antara unsur

intrinsik, lingkungan sosial Ayu Utami, dan lingkungan sosial novel Saman. Dari

proses menghubung-hubungkan ini akan ditemukan tokoh problematik yang terdapat

dalam novel. Dengan adanya tokoh problematik ini, dapat dilihat pandangan dunia

pengarang yang terefleksi dalam novel Saman, yaitu dengan melihat solusi-solusi apa

yang diberikan oleh pengarang pada waktu tokoh problematik mengalami suatu

30
31

masalah dan berusaha untuk lepas dari permasalahan yang sedang dihadapinya.

Untuk lebih jelasnya akan diuraikan satu per satu.

4.1 Struktur Novel Saman

Struktur yang akan diuraikan pada bab ini adalah struktur yang berupa unsur-

unsur intrinsik yang membangun dalam novel Saman. Unsur-unsur intrinsik ini

terdiri atas tokoh dan penokohan, latar, alur, dan tema.

4.1.1 Tokoh dan Penokohan

4.1.1.1 Tokoh

Ditinjau dari segi keterlibatannya dalam keseluruhan cerita, tokoh dalam

novel Saman dapat dibedakan menjadi dua, yakni tokoh utama dan tokoh bawahan.

Seorang tokoh dapat dikatakan sebagai tokoh utama dalam sebuah novel ditentukan

paling tidak dengan tiga cara yaitu (1) tokoh itu paling banyak memerlukan waktu

penceritaan, (2) tokoh itu paling banyak berhubungan dengan tokoh lain, dan (3)

tokoh itu paling banyak memerlukan waktu penceritaan. Sedangkan seorang tokoh

dapat dikatakan sebagai tokoh bawahan dalam sebuah novel, apabila (1) tokoh itu

mengalami sedikit permasalahan, (2) tokoh itu sedikit berhubungan dengan tokoh

lain, dan (3) tokoh itu sedikit memerlukan waktu penceritaan.

Tokoh utama dalam novel Saman adalah Saman atau Wisanggeni. Tokoh

Saman ditentukan sebagai tokoh utama karena tokoh Saman paling banyak

berhubungan dengan tokoh lain, tokoh Saman mengalami banyak permasalahan, dan

tokoh Saman merupakan tokoh yang paling banyak memerlukan waktu penceritaan.

Sedangkan tokoh bawahan dalam novel Saman adalah Laila Gagarina, Yasmin

Moningka, Shakuntala, Sihar Situmorang, Cok, Rosano, Upi, Toni, Iman, Hasyim
32

Ali, Romo Dru, Ibu Wis, Pak Sarbini, Teki Kosasih atau Kongtek, Astuti, Ichsan,

Rogam, Anson, Nasri, Mak Argani, Totem Phallus, Petugas PT ALM, Suster

Marietta, Hensel, Gretel, Pak Agus, Timin, Mintoraharjo, Mei Yin, Abby Chan,

Araya, Lukas Hadi Prasetyo, Mayasak Yuly Kristanto, Diyanti Munawar, Romo

Martin, Tulin Nababan, Benjamin Silberman, Nodmi, Ruth, Er, dan Tamar. Tokoh-

tokoh tersebut ditentukan sebagai tokoh bawahan, karena tokoh tersebut mengalami

sedikit permasalahan, sedikit berhubungan dengan tokoh lain, dan sedikit

memerlukan waktu penceritaan. Adanya tokoh bawahan tersebut dalam sebuah cerita

bertujuan sebagai pendukung tokoh utama.

4.1.1.2 Penokohan

Kajian mengenai penokohan yang terdapat dalam novel Saman ini, hanya

akan memfokuskan pada penokohan tokoh utama, yaitu Saman. Karena tokoh Saman

adalah tokoh yang paling banyak mengalami permasalahan dalam cerita.

Wisanggeni lahir di Yogyakarta. Ketika berumur empat tahun, Wis pindah ke

Perabumilih di sebuah kota minyak yang berada di tengah Sumatra Selatan yang

masih sunyi saat itu.

Saat tinggal di Perabumulih Bapak Wis melarang Wis bermain di belakang

kebun. Mendengar larangan itu Wis mematuhinya. Dapat dilihat pada kutipan di

bawah ini.

Karena Wis tidak pernah melanggar pagar pring apus yang dipasang
bapaknya di halaman belakang. Ia hanya bermain-main di lahan yang mereka
tanami singkong serta sayuran. Juga rumpun tebu di pojok kiri kanan.
(Saman, hlm: 46)

Kutipan di atas menunjukkan bahwa Wisanggeni mempunyai sifat sangat

patuh kepada orang tuanya. Pengarang secara langsung mengungkapkan penokohan


33

Wisanggeni yaitu penggambaran tokoh Wisanggeni yang tidak pernah melanggar

perintah Bapaknya untuk tidak melewati pagar pring apus.

Saman dulunya bernama Wisanggeni juga digambarkan sebagai seorang

yang religius. Hal ini terlihat pada kutipan berikut.

Tiga pemuda itu berjubah putih, lumen de lumine, dan Bapa Uskup dengan
mitra kekemasan memanggil nama mereka satu per satu. Juga namanya:
Athanasius Wisanggeni.
(Saman, hlm: 40)

Berdasarkan kutipan di atas terlihat bahwa Wis tokoh secara langsung yang

tampak pada kutipan di atas adalah pengungkapan pada tokoh Wis yang sudah

dewasa, dan ia menetapkan diri untuk masuk seminari. Kutipan lain yang

menunjukkan bahwa Saman sebagai seorang tokoh yang religius, dapat kita lihat

pada kutipan berikut.

Tiga lelaki tak berkasut itu lalu telungkup mencium ubin katedral yang
dingin. Mereka mengucapkan kaulnya. Pada mereka telah dikenakan stola
dan kasula. Sejak hari itu, orang-orang memanggil mereka pater. Dan
namanya menjadi Pater Wisanggeni, atau Romo Wis.
(Saman, hlm: 40)

Kutipan di atas menunjukkan bahwa Wisanggeni adalah seorang nasrani.

Wisanggeni kemudian menjadi seorang pastor setelah mengucapkan sumpah pada

misa pentahbisan dan mengubah namanya menjadi Pater Wisanggeni atau Romo

Wis.

Maafkan saya, datang siang-siang begini,” kemudian dia agak tergagap.


Rumah itu tampak kosong, dan perempuan itu enggan menerima orang asing.
“Saya pastor baru di daerah ini.” “Bukan mau mengajar agama.” “Cuma mau
menegok. Waktu kecil saya tinggal di sini.” “Kira-kira sepuluh tahun
lamanya.”
(Saman, hlm: 59)
34

Penokohan Wisanggeni sebagai seorang yang santun dan religius dapat

dilihat pada kutipan di atas. Wis sebagai seorang pastor yang baru saja bertugas.

Selain itu Wis juga digambarkan sebagai seorang yang sopan dan memiliki tingkat

kepedulian sosial yang tinggi.

Penokohan Wis sebagai seorang yang santun, religius, dan berpendidikan,

diungkapkan lebih jelas pada kutipan di bawah ini.

“Terima kasih banyak. Romo masih ingat saya?” Keduanya pernah bertemu
kira-kira empat tahun lalu. Ketika itu ia baru saja menamatkan pendidikan
teologinya di Driyarkara, dan belajar di Institut Pertanian Bogor. Ia sengaja
mengunjungi pastor pertapa itu untuk menceritakan suatu kisah aneh pada
masa kecilnya, suatu pengalaman yang tidak ia bagikan kepada pater maupun
frater yang lain. Bahkan tidak pada ayahnya.
(Saman, hlm: 41-42)

Berdasarkan kutipan di atas dapat diketahui mengenai penggambaran tokoh

Wisanggeni selain sebagai seorang pastor, ia juga termasuk orang yang terdidik.

Dalam peristiwa itu disampaikan mengenai status pendidikan Wisanggeni sebelum

menjadi seorang pastor.

Penggambaran lain mengenai Wisanggeni yang merupakan sebagai tokoh

yang religius, tampak pada kutipan berikut.

Barangkali Tuhan mengutusnya. Barangkali Tuhan cuma mengabulkan


harapannya Uskup menugaskan dia sebagai pastor paroki parid, yang
melayani kota kecil Perabumulih dan Karang Endah, wilayah Keuskupan
Palembang.
(Saman, hlm: 57)

Pada diri Wissanggeni mempunyai yaitu mempunyai kepercayaan yang kuat

kepada Tuhan Yang Maha Esa. Ciri-ciri itu juga terlihat jelas dari statusnya sebagai

seorang pastor. Sebagai seorang pastor Wisanggeni berkewajiban menjalankan tugas-

tugas kepastorannya, seperti melayani umat di daerah yang terpencil. Selain itu
35

terlihat juga dari perkataan dan perbuatannya dalam segala peristiwa yang

melibatkan dirinya.

Saat malam, Wis suka berdoa diam-diam agar Tuhan tetap memelihara
perkebunan itu, sambil ia menatap ujung-ujung hutan karet, tempat binatang-
binatang yang paling rendah tersangkut. Juga burung-burung yang
beristirahat. Bunyi hutan malam-malam.
(Saman, hlm: 87)

Berdasarkan kutipan di atas dapat diketahui bahwa Wis merupakan orang

yang religius. Wis selalu berdo’a meminta kepada Tuhan Yang Maha Esa pada saat

malam hari, karena pada malam harilah sesuai dengan ajaran agama para

pemeluknya dianjurkan untuk berdo’a agar lebih khusuk dan lebih dekat dengan

Tuhan.

Penokohan tokoh Saman dalam novel Saman selain terdapat penokohan

mengenai tokoh Saman sebagai seorang yang religius, Saman juga digambarkan

sebagai seorang yang mempunyai rasa sosial yang tinggi, hal ini dapat dilihat pada

kutipan di bawah ini.

Malam harinya, Wis di kamar tidur pastoran, kegelisahan membolak-balik


tubuhnya di ranjang seperti orang mematangkan ikan di penggorengan. Ia
telah melihat kesengsaraan di balik kota-kota maju, tetapi belum pernah ia
saksikan keterbelakangan serperti tadi siang.
(Saman, hlm: 73)

Kutipan di atas menunjukkan bahwa Wis digambarkan sebagai tokoh yang

memiliki rasa sosial yang tinggi. Hal ini diungkapkan jelas pada kutipan di atas yang

mengungkapkan tokoh Wis tidak bisa tidur karena melihat kesengsaraan yang terjadi

di sekitarnya.

Saman sebagai tokoh yang mempunyai rasa sosial tinggi terhadap tokoh lain

dapat dilihat pada kutipan berikut.


36

Bisa cuma tiga tahun, bisa juga tiga belas tahun, tergantung pasal apa yang
digunakan. Kriminal atau subversif. Menyadari itu, tiba-tiba Yasmin
menangis. Aku memeluknya, hendak menangkapnya. Ia terus menangis, pilu
bagaikan anak kecil, sehingga aku mendekapnya erat.
(Saman, hlm: 177)

Kutipan di atas menggambarkan bahwa Saman adalah tokoh yang

mempunyai rasa sosial tinggi. Ia berusaha untuk meringankan penderitaan yang

dialami orang lain, seperti usahanya untuk menenangkan Yasmin sedang menangis

karena melihat keadaan dirinya.

Karena merasa persoalan tak akan segera selesai, Wis pergi ke Palembang,
lampung, dan Jakarta, setelah memotret desa dan mengumpulkan data-data
tentang dusun mereka yang tengah maju. Ia mengunjungi kantor-kantor surat
kabar dan LSM. Pada setiap orang yang menerimanya, ia bercerita panjang
lebar dengan bersemangat dan menyerahkan materi berita. Ia membujuk:
kalau bisa, datanglah sendiri dan tengok desa kami. Setelah Koran-koran
mulai menulis serta mengirim wartawannya ke lahan terpencil itu, empat
lelaki itu tidak lagi bolak-balik dengan lembaran blanko kosong. Usaha
menggusur dusun memang jadi tertunda, berbulan-bulan, bahkan hampir
setahun.
(Saman, hlm: 92-93)

Berdasarkan kutipan di atas dapat diketahui bahwa Saman berusaha untuk

membangun lembaga sosial yang dimaksudkan untuk melawan kesewenang-

wenangan yang dilakukan oleh kelompok sosial yang lebih kuat terhadap kelompok

lebih kecil dan lemah. Saman berusaha supaya dusun Lubukrantau tidak digusur.

Usahanya akhirnya berhasil, tetapi hanya untuk beberapa saat saja.

Selain itu, Saman juga digambarkan sebagai tokoh yang mempunyai rasa

sosial terhadap nasib sekelompok penduduk dan berusaha untuk mengurangi

penderitaan itu. Hal tersebut tampak pada kutipan berikut.


37

Semakin aku terlibat dalam penderitaanmu, semakin aku ingin bersamamu.


Dan Wis selalu kembali ke sana. Kian ia mengenal perkebunan itu, kian ia
cemas pada nasib gadis itu. Terutama ketika ia tiba suatu hari, ada keributan
di dusun.
(Saman, hlm: 79)

Kutipan di atas menggambarkan sifat Saman sebagai seorang yang

mempunyai rasa sosial yang tinggi terhadap nasib sekelompok penduduk desa yang

tinggal di daerah perkebunan. Rasa ingin mengurangi penderitaan seorang gadis yang

mengalami sakit jiwa inilah yang menjadikan Wis ingin mengunjungi desa tersebut.

Penggambaran tokoh Saman sebagai seorang tokoh yang mempunyai rasa

sosial tinggi dapat diketahui pula pada kutipan di bawah ini.

Ada perasaan lega jika ia sedang disiksa untuk mengakui di mana Anson,
Sebab berarti pemuda itu belum tertangkap. Dan ketika kembali dalam selnya
sendirian, ia berharap supaya teman-temannya tidak tertangkap. Tapi ia tidak
bisa lagi berdoa untuk itu. Setelah semua kepedihan itu, agaknya Tuhan
memang tak menyelematkan mereka. Tak mau, aku tak sanggup. Atau di
memang tidak ada. Ia amat kesepian.
(Saman, hlm: 106)

Berdasarkan kutipan di atas dapat diketahui bahwa Saman memiliki rasa

sosial yang tinggi. Saman merasa lega kalau dirinya masih disiksa. Ini memandakan

kalau teman-temannya belum tertangkap. Ia berharap teman-temanya jangan sampai

tertangkap. Harapannya ini menunjukkan kalau dirinya memiliki solidaritas yang

tinggi.

Sambil mencampur ammonia ke dalam tangki penampungan. Wis


menawarkan kerja sama di lahan keluarga Argani yang luasnya dua hektar.
Empat bulan ia telah mempelajari perkebunan itu.
(Saman, hlm: 83)

Kutipan di atas menggambarkan bahwa Saman mempunyai rasa sosial yang

tinggi, yaitu ia berusaha untuk mengurangi penderitaan yang dialami oleh penduduk

Lubukrantau yang disebabkan oleh beratnya beban kebutuhan yang dialami oleh
38

penduduk Lubukrantau. Usahanya yaitu dengan cara Saman menawarkan kerja sama

dengan keluarga Argani untuk memperbaiki kebun karetnya. Dengan kerja sama ini

diharapkan penderitaan yang dialami oleh penduduk Lubukrantau dapat diatasi,

karena dengan kerja sama merupakan cara yang paling baik dalam mengatasi

masalah sosial.

Saman, selain digambarkan sebagai seorang tokoh yang mempunyai sifat

religius, rasa sosial tinggi, ia juga digambarkan sebagai seorang yang percaya

terhadap hal-hal gaib. Hal ini dapat dilihat pada kutipan di bawah ini.

Malam kira-kira pukul satu. Wis terbangun oleh bulu tengkuknya yang
menegang. Kulit leher dan bahunya mengerisut seperti tersentuh dingin.
Rambut-rambut halus di sana berdiri, seperti pada seekor kucing yang siaga
di awal perkelahian, sehingga sentuhan paling lembutpun terasa oleh bulu
yang telah menjadi waspada, yang akan memberitahukan padanya bahaya
dalam gerakanya yang paling mula. Ia mendengar langkah-langkah.
(Saman, hlm: 55)

Mbah putri masih terkulai pada lantai. Wis tercengung, sebab ia tetap
mendengar sedu bayi dari belakang tengkuknya. Dan menjadi begitu gelisah.
Sebab adik masih hidup meskipun sudah mati.
(Saman, hlm: 56)

Berdasarkan kutipan di atas dapat diketahui bahwa Saman merupakan tokoh

yang percaya pada hal-hal gaib. Hal ini tampak pada kemampuannya merasakan

kehadiran yang gaib atau tidak kasat mata. Wis percaya kalau adiknya masih hidup

walaupun sudah meninggal.

Makin lama makin ramai di sekelilingnya, seperti nyamuk, seperti


membangunkan atau membingungkannya. Lalu ia merasa ada tenaga
menyusup ke dalam tubuhnya, ada nyawa-nyawa masuk ke raganya. Dan ia
merasa begitu ringan, seperti ia bayangkan orang yang sedang trans, seperti
kelebihan tenaga untuk tubuhnya yang telah menjadi kurus. Rasanya ia bisa
terbang. Ia bangkit dan menjebol pintu yang telah keropos oleh api, lalu
berlari di lorong yang mulai terbakar. Ia berlari, terus berlari, melayang, entah
apa yang mengarahkan langkahnya.
(Saman, hlm: 108-109)
39

Kutipan di atas menunjukkan bahwa Saman percaya kalau ada sesuatu yang

masuk ke dalam tubuhnya, sehingga ia merasakan tenaga yang lebih dari dalam

tubuhnya yang telah menjadi kurus.

Saman juga digambarkan sebagai tokoh yang mempunyai sifat ekonomis.

Hal ini dapat dilihat pada kutipan di bawah ini.

Wis begitu terima kasih sehingga ia tidak tahu harus mengucapkan apa.
Setelah mandi, yang pertama kali ia kerjakan adalah menulis surat kepada
ayahnya. Kali ini, tak hanya berisi cerita kerinduan seperti biasanya, namun
juga permohonan agar si ayah memberinya modal, sekitar lima atau enam
juta rupiah, bukan jumlah yang besar dari tabungan bapaknya.
(Saman, hlm: 82-83)

Kutipan di atas menunjukkan bahwa Saman mempunyai sifat ekonomis,

yaitu mempertimbangkan rugi laba terhadap apa yang ia kerjakan. Saman mampu

memperkirakan jumlah uang yang dipakai untuk modal usahanya.

Saman digambarkan sebagai seorang yang mau bekerja keras. Hal ini dapat

dilihat pada kutipan berikut.

Mak Argani, ibu gadis itu, serta dua abangnya menyilakan dengan agak
bingung. Sisa siang itu Wis membawa gerobak, berkeliling dusun
mengangkuti bongkah-bongkah batako yang tergeletak dari rumah-rumah
transmigran yang ditinggalkan. Jika tak ada yang melihatnya, dia juga
mencungkili batu yang masih menempel pada tembok serta papan dari pintu
yang yang masih bisa digunakan.
(Saman, hlm: 74)

Keduannya mulai dengan menggali jugangan untuk kakus kira-kira sedalam


satu setengah meter, menanam pasak dan menutup sebagian permukaannya
dengan papan pijakan, serta membikin sekat bambu. Hanya itu yang mereka
selesaikan saat petang naik dari timur. Esoknya, Wis hampir tidak sanggup
bangkit. Seluruh ototnya seakan berpilin kaku, sebab meski ia belajar
menyupir traktor dan membiak tanaman di institut pertanian, ia tidak pernah
sungguh-sungguh membuka lahan.
(Saman, hlm: 74)
40

Berdasarkan kutipan di atas dapat diketahui bahwa Saman adalah seorang

yang mempunyai semangat bekerja keras, yaitu bekerja dari siang sampai sore

meskipun pekerjaan yang dilakukannya tidak sesuai dengan tingkat pendidikan dan

statusnya. Pekerjaan ini biasa dilakukan oleh pekerja kasar, tetapi Wis mau

melakukannya. Hal ini yang menunjukkan adanya semangat bekerja keras yang

mencerminkan Saman sebagai manusia yang mempunyai sifat ekonomis.

Saman juga digambarkan sebagai manusia yang menyukai keindahan alam.

Hal ini tampak pada kutipan-kutipan berikut.

Yang paling dekat adalah rumpun-rumpun pisang dan bambu betung yang
begitu tuanya sehingga merunduk membikin lorong satu dengan yang lain.
(Saman, hlm: 47)

Saat malam, Wis suka berdoa diam-diam agar Tuhan tetap memelihara
perkebunan itu, sambil ia menatap ujung-ujung hutan karet, tempat binatang-
binatang yang paling rendah tersangkut. Juga burung-burung yang
beristirahat. Bunyi hutan malam-malam.
(Saman, hlm: 87)

Berdasarkan kutipan di atas, dapat diketahui bahwa Saman seorang yang

senang menikmati keindahan alam sekitarnya, yaitu dengan menatap ujung-ujung

pohon karet, memandang bintang-bintang, dan juga burung-burung yang beristirahat

pada malam hari.

Saman sebagai tokoh utama juga mempunyai sifat sebagai seorang pemikir.

Maksudnya ia selalu memikirkan atau melakukan pertimbangan kepada apa yang

akan ia lakukan. Hal ini dapat dilihat pada kutipan berikut.

Sesungguhnya persoalan itulah yang ingin dibicarakan Wisanggeni. Dengan


hati-hati ia ungkapkan keinginannya. Ia berharap ditugaskan di Perabumulih.
Kenapa, Tanya yang senior. Saya lulusan institut pertanian, jawabnya. Saya
kira banyak yang bisa saya kerjakan di daerah perkebunan.
(Saman, hlm: 42)
41

Kutipan di atas menunjukkan bahwa Saman adalah seorang yang optimis

dalam menentukan harapan hidupnya dan melakukan pertimbangan-pertimbangan

pada keputusan yang diambilnya.

Saman mampu memberikan semangat kepada orang lain. Hal ini dapat dilihat

pada kutipan berikut.

“Jangan sampai tertangkap, Anson. Aku akan mencarimu begitu aku keluar.”
Meskipun ia tidak tahu apa yang akan dia lakukan kelak; apa yang akan
terjadi pada Anson juga orang-orang yang ditahan, ibu-ibu selama ia hanya
berbaring di rumah sakit.
(Saman, hlm: 110)

Berdasarkan kutipan di atas dapat diketahui kalau Saman mampu

memberikan semangat kepada Anson agar jangan sampai tertangkap, Saman

menjanjikan kepada Anson bahwa ia akan mencarinya begitu ia keluar dari penjara

meskipun ia tidak tahu apa yang akan ia lakukan setelah ia keluar dari penjara.

Hari itu Nasri membantunya sementara Anson dan Mak Argani menakik di
kebun. Wis menunjukkan rancangan yang ia gambar di atas selembar kertas
minyak. Kerangkeng itu akan terdiri dari tiga bagian utama. Sebidang
halaman terbuka pada cahaya dan air hujan yang ditutup pagar kawat. Sebuah
bilik dari tembok dengan jendela dan ventilasi yang sehat. Serta sebuah WC
dan tempat mandi yang terpisah dari kamar.
(Saman, hlm: 75)

Berdasarkan kutipan di atas, dapat diketahui bahwa Saman adalah sebagai

manusia pemikir. Ini ditunjukkan dengan adanya tindakan Wisanggeni yang

merencanakan pembangunan sebuah kerangkeng untuk Upi. Wisanggeni membuat

rancangan sebuah gambaran. Konsep bangunannya juga menggunakan konsep

pembangunan rumah sakit, yaitu dengan mempertimbangkan penerangan sinar

matahari yang cukup, sirkulasi udara yang memadai, dan sanitasi yang baik.
42

4.1.2 Latar

Latar yang terdapat dalam novel Saman dapat dideskripsikan menjadi tiga

bagian, yaitu latar tempat, latar waktu, dan latar sosial.

a. Latar tempat

Latar tempat yang terdapat dalam novel Saman karya Ayu Utami antara lain:

(1) Di New York

Latar ini dapat dilihat ketika Laila sedang menunggu Sihar. Selain itu di kota

inilah penceritaan mengenai Shakuntala ketika tinggal di New york dan

mengeksplorasi tari. Di New York juga menjadi latar tempat ketika Saman melarikan

diri setelah dituduh kalau dirinya menjadi dalang kerusuhan di Perabumulih.

Melewati perjalanan dari Pekanbaru, Medan dan akhirnya Saman berhasil juga

sampai di New York . Penggambaran situasi New York dapat digambarkan pada

kutipan berikut.

Di taman ini hewan bahagia, seperti saya, seorang turis di New York. Apakah
keindahan perlu damai?
(Saman, hlm: 2)

Badannya menggigil. New York di bulan Mei memang masih dingin. Tapi ia
pucat bagai cicak, yang tak hidup di kota ini.
(Saman, hlm: 117)

Kemudian aku mengerti bahwa New York bukan negeri raksasa. Tapi aku
tidak kecewa, sebab aku telah amat jauh dari ayahku. Kutahu New York
adalah kota yang menakjubkan begitu aku masuk ke dalam kereta bawah
tanah. Metro. Aku menyebutnya memedi trowongan sebab suaranya begitu
menakutkan dan menjalar-jalar dalam lorong yang hitam diantara akar-akar
bangunan.
(Saman, hlm: 140)
43

(2) Di Pabrik Kilang Minyak di Lepas Pantai Laut Cina Selatan

Latar ini digunakan dalam penceritaan mengenai awal pertemuan Laila dan

Sihar di sebuah Rig. Penggambaran latar ini dapat dilihat pada kutipan di bawah ini.

Dari ketinggian dan kejauhan, sebuah rig nampak seperti kotak perak di
tengah laut lapis lazuli. Helikopter terbang mendekat dan air yang semula
nampak tenang sebetulnya terbentuk dari permukaan yang bergolak, kalem
namun perkasa, seperti menyembunyikan kekuatan yang dalam.
(Saman, hlm: 7)

(3) Di Pulau Matak

Latar ini digunakan ketika Sihar dan Laila sedang berbincang-bincang

mengenai Rosano. Pengambaran latar ini dapat dilihat pada kutipan di bawah ini.

Itu adalah pengalaman pertamanya bekerja sebagai insinyur, dan ia tidak


menginginkan yang kedua. Perempuan itu juga menyimpan marah pada
Rosano, yang menasehati agar dia dan Toni tidak ikut campur. “Kalian ke
sini Cuma untuk mengerjakan company profile yang kami pesan. Tak perlu
menjadi wartawan, “ujarnya sebelum heli berangkat ke pelabuhan Matak,
sebab mereka berdua bertanya-tanya bagaimana musibah itu bisa sampai
terjadi.
(Saman, hlm: 17)

(4) Di Perabumulih

Latar ini digunakan dalam penceritaan mengenai pertemuan antara Sihar,

Laila dan Saman. Di tempat ini Laila bertujuan menemui Saman untuk melaporkan

kejadian kecelakaan yang terjadi di kilang minyak. Penggambaran tentang

Perabumulih dapat dilihat pada kutipan di bawah ini.

Saya lalu teringat, kami sedang diperjalanan ke rumah keluarga Hasyim Ali,
disusun Talangrajung, menjelang sungai Lematang. Berangkat pukul tiga
pagi dari Perabumulih. Sihar kelelahan karena di kantor cabang seismoclypse
di kota itu ia mesti menyelesaikan beberapa pekerjaan yang membuatnya tak
tidur semalam. Saya tak tahu jalan, sehingga kami terpaksa berhenti. Kini,
selarit matahari mengejutkan mata saya.
(Saman, hlm: 31)
44

(5) Di sebuah Gereja

Latar ini dapat dilihat pada saat upacara misa pentahbisan Wisanggeni

menjadi Pater Wisanggeni atau Romo Wis. Penggambaran sebuah gereja dapat

dilihat pada kutipan di bawah ini.

Terang yang lain menerobos lewat fragmen kaca patri yang berjajar
sepanjang dinding gereja. Bayangan-bayanganpun jatuh, memanjang ke tujuh
penjuru dari kaki pilar-pilar korintia. Juga dari kaki patung para sanctus.
Terang yang paling kecil datang dari lilin yang dinyalakan koster sebelum
misa pentahbisan dimulai.
(Saman, hlm: 40)

(6) Di Lubukrantau

Latar ini dapat dilihat pada saat penceritaan mengenai Wisanggeni yang

memilih untuk tinggal di Lubukrantau, yang bertujuan untuk meringankan

penderitaan para warga transmigrasi Sei Kumbang terutama meringankan

penderitaan si gadis yang bernama Upi. Kutipan di bawah ini adalah penggambaran

mengenai latar Lubukrantau.

Wis tinggal di Lubukrantau, dusun tempat tinggal Upi itu adalah salah satu
desa daerah transmigrasi Sei Kumbang. Ia telah memutuskan: meringankan
penderitaan si gadis dengan membangun sangkar yang lebih sehat dan
menyenangkan, seperti membikin kurungan besar bagi perkutut dan
cucakrawa ayahnya sebab melepaskan mereka hampir sama dengan
membunuh mereka.
(Saman, hlm: 73-74)

(7) Di Ruang Penyekapan

Latar ini digunakan ketika penceritaan Saman yang disekap oleh orang-

orang PT Anugrah Lahan Makmur, karena Saman dianggap telah mempengaruhi

warga Sei Kumbang supaya tidak mau melepaskan tanahnya untuk dijadikan kebun

kelapa sawit. Penggambaran mengenai latar ini dapat dilihat pada kutipan di bawah

ini.
45

Ngilu sekujur badannya. Tangannya sulit digerakkan seperti telah lama


terbujur kaku, meski tak lagi terbelenggu. Waktu pupil matanya telah
menyesuaikan kadar cahaya, ia melihat sebuah ruangan empat kali empat
meter. Ada sebuah pintu dan dua celah angin yang tinggi, tetapi di luar gelap.
Warna malam. Dan ia hanya mengenakan cawat yang terasa bukan miliknya.
(Saman, hlm: 102)

(8) Di Rumah Sakit

Latar ini dapat kita lihat pada saat penceritaan mengenai tokoh Saman yang

sedang dirawat di rumah sakit, setelah berhasil diselamatkan oleh Anson dan kawan-

kawannya dari tempat penyekapan. Selama Saman berada di dalam penyekapan

Saman mengalami luka parah akibat penyiksaan yang dilakukan oleh orang-orang PT

Anugrah Lahan Makmur. Hal ini dapat dilihat pada kutipan berikut ini.

“Jangan sampai tertangkap, Anson. Aku akan mencarimu begitu aku keluar.”
Meskipun ia tidak tahu apa yang akan dia lakukan kelak; apa yang akan
terjadi pada Anson juga orang-orang yang ditahan, ibu-ibu selama ia hanya
berbaring di rumah sakit.
(Saman, hlm: 110)

b. Latar Waktu

Latar waktu sangat penting dalam sebuah cerita. Sebagaimana latar tempat

yang digambarkan secara jelas dalam novel Saman, maka latar waktu pun

digambarkan secara jelas dalam novel ini. Artinya setiap situasi latar tempat selalu

ada latar waktu yang menyertainya. Latar waktu yang terdapat dalam novel Saman

antara lain:

(1) Central Park, 28 Mei 1996

Latar waktu ini terjadi pada saat Laila menunggu Sihar di Central Park.

(2) Laut Cina Selatan Februari 1993

Latar waktu ini mengisahkan tentang awal pertemuan antara Laila dan Sihar

di sebuah Rig.
46

(3) Pulau Matak, esok harinya

Latar waktu ini menceritakan tentang perbincangan antara Laila dengan Sihar

yang merasa kesal dengan perbuatan yang dilakukan oleh Rosano yang telah

menewaskan Hasyim Ali, karena peristiwa kecelakaan yang terjadi di Rig tempat ia

bekerja.

(4) Pukul dua belas

Latar waktu ini terjadi pada saat Laila sedang menanti kedatangan Sihar di

New York.

(5) Perabumulih, 1993

Latar ini menceritakan tentang pertemuan antara Sihar, Laila dan Saman.

(6) Pukul Tiga

Latar ini menceritakan tentang penantian Laila di sebuah taman di New York

untuk menunggu Sihar.

(7) 1983. Dia belum memakai nama itu: Saman

Latar waktu ini menceritakan kejadian tentang upacara pengangkatan Saman

menjadi pastor.

(8) 1984

Latar ini menceritakan tentang Saman yang menjadi pastor dan ditugaskan di

Perabumulih.

(9) 1990. Sesuatu terjadi pada Upi.

Latar ini menceritakan tentang pertemuan antara warga Sei Kumbang dengan

orang-orang PT ALM sampai pada penceritaan Saman yang disekap oleh orang-
47

orang PT ALM dan penceritaan mengenai Saman yang lolos dari sekapan berkat

bantuan Anson dan teman-temannya.

(10) New York, 28 Mei 1996

Latar ini menceritakan tentang kehidupan tokoh yang bernama Shakuntala

dan penceritaan Cok, Laila, dan Yasmin.

(11) Perabumulih, 11 Desember 1990

Latar ini menceritakan tentang Saman yang menyurati ayahnya.

(12) New York, 7 Mei 1994

Latar ini menceritakan tentang surat-suratan antara Yasmin dan Saman yang

terjadi dari tanggal 7 Mei sampai 21 Juni 1994. Ada juga catatan harian Saman yang

bertanggal 16 April sampai 10 Mei 1994.

Latar waktu yang terdapat dalam novel Saman karya Ayu Utami disusun

tidak secara kronologis atau berurutan, namun latar waktu dalam novel Saman yang

melingkupi sebuah cerita berlangsung selama tiga puluh empat tahun yaitu dari tahun

1962 sampai 1996. Pada tahun 1962 adalah tahun kelahiran Saman. Sedangkan tahun

1996 adalah ketika Laila sedang menunggu Sihar di taman.

c. Latar Sosial

Latar sosial yang terdapat dalam novel Saman dapat terlihat dari asal

keluarga Laila, seperti tampak pada kutipan di bawah ini.

Laila Gagarina, dari nama panjangnya orang Indonesia bisa menduga bahwa
ia lahir dari orang tua Minang setelah tahun enam puluhan. Ayahnya pasti
mengagumi Yuri Gagarin. Ibunya wanita Sunda yang selalu merasa sepertiga
dibanding dua pertiga terhadap Jawa. Laila percaya bahwa logat Batak yang
keras mengandung suatu kualitas kejujuran dan keberanian.
(Saman, hlm: 12)
48

Berdasarkan kutipan di atas dapat dilihat bahwa suku-suku yang ada di

Indonesia menampilkan ciri-ciri orang atau watak yang berbeda pula. Misalnya orang

Jawa yang terkenal mempunyai sifat lembut, sedangkan orang Batak yang terkenal

mempunyai sifat keras. Hal tersebut yang mendasari perilaku Laila.

Pada kisah Shakuntala, latar kehidupan yang mewarnai pribadinya adalah

kehidupan orang-orang New York. Kehidupan New York yang bebas sedikit banyak

akan mempengaruhi kehidupannya.

Maka, di pentas ramai itu ia pun menjadi seorang ledek: melenggok untuk
memuaskan penonton tayub yang menuntut. Ronggeng. Gandrung. Si penari
tak lagi merayakan tubuhnya. Tubuh itu bukan miliknya lagi. Seperti seorang
istri yang tidak memiliki badannya. Karena itu aku selalu kembali ke ruang di
dalam diriku sendiri, di mana penari dan penabuh bermain sendiri-sendiri.
(Saman, hlm: 126)

Kutipan di atas selain dapat diketahui profesi Shakuntala, juga dapat untuk

mengetahui latar sosial yang membangun pribadi Shakuntala.

Selain itu ketika Wis dewasa kehidupan gereja juga mewarnai kehidupan

Wisanggeni. Hal ini dapat dilihat pada kutipan berikut.

Namun, lebih dari itu bagi Wis, Romo Daru yang banyak menghabiskan
waktunya di persemedian Ordo Karmel di lereng gunung sindangreret dikenal
karena kesanggupan khusus. Roh Kudus memberinya satu dari tujuh karunia;
yaitu mata untuk berhubungan dengan dunia yang tak nampak serta iman
sebiji sawi untuk mengusir roh-roh jahat. Wisanggeni menghampiri Romo
Daru dengan hati-hati, tetapi lelaki tua itu memberikan salam sebelum Wis
sempat menyapa. Anak muda itu jadi agak tersipu.
(Saman, hlm: 41)

Kemudian ketika Saman mendapat tugas untuk membimbing umat di

Perabumulih dan ia tinggal di Lubukrantau. Selama ia tinggal di sana, kehidupan

rakyat kecil menjadi akrab ia geluti. Hal ini dapat dilihat pada kutipan di bawah ini.
49

Wis pun tercengung. Dia Cuma bisa termenung mendengarnya. Ia menatap


perempuan muda dalam kandang itu, namun segera membuang muka karena
tak tahan melihat penyiksaan. Tapi dunia yang hadir mengepung mereka di
sana membuatnya tersadar. Dusun itu rumpang. Sekitar seratus rumah petak
tiga kali enam meter berserakan di daerah itu. Namun lebih dari sepertiganya
telah ditinggalkan.
(Saman, hlm: 72)

4.1.3 Alur

Alur cerita yang terdapat dalam novel Saman dapat dibagi menjadi dua alur,

yaitu alur utama dan alur tambahan.

a. Alur utama

Berdasarkan pengertiannya alur utama adalah alur yang berisi cerita pokok.

Alur utama yang terdapat dalam novel Saman antara lain:

(1) Masa kecil Wisanggeni (halaman 44-57)

(2) Upacara pentahbisan Wisanggeni menjadi pastor (halaman 40-43)

(3) Penempatan Wisanggeni di Perabumulih (halaman 57-64)

(4) Pertemuan Saman dengan Upi di Lubukrantau (halaman 64-79)

(5) Keterlibatan Saman dengan penduduk transmigrasi Sei Kumbang (halaman 79-

101)

(6) Penangkapan Wisanggeni (halaman 1001-109)

(7) Pelarian Wisanggeni (halaman 109-113)

(8) Penggantian nama Wisanggeni menjadi Saman (halaman 113-114)

(9) Pelarian Saman ke New York (halaman 175-178)

(10) Saman dan Yasmin surat-suratan (halaman 165-195)

Alur utama yang terdapat dalam novel Saman di atas merupakan alur yang

menceritakan mengenai cerita pokok dari novel Saman. Ditentukan sebagai alur
50

utama, karena cerita-cerita tersebut merupakan inti novel Saman yaitu ceritanya

merujuk pada tokoh Saman. Penceritaan tokoh Saman dari kecil sampai dewasa,

yang akhirnya ia menjadi seorang pastor dan terlibat dengan penduduk transmigrasi

Sei Kumbang. Akhirnya ia menjadi buron, karena dituduh sebagai dalang kekacauan

yang terjadi di Lubukrantau dan berhasil melarikan diri ke New York dengan

bantuan teman-temannya.

b. Alur bawahan

Pengertian alur bawahan adalah kejadian-kejadian kecil yang menunjang

peristiwa-peristiwa pokok. Berdasarkan pengertiannya, dapat diketahui bahwa alur

bawahan yang terdapat dalam novel Saman antara lain:

(1) Pertemuan Laila dengan Sihar (halaman 7-23)

(2) Laila dan Saman bertemu Sihar (halaman 31-36)

(3) Penantian Laila di taman (halaman 1-6)

(4) Lanjutan penantian Laila (halaman 23-30)

(5) Lanjutan penantian Laila (halaman 37-39)

(6) Cerita Shakuntala tentang penantian Laila (halaman 115-155) dan diselingi

dengan surat-surat Saman kepada Bapaknya (halaman 156-164)

Alur bawahan yang terdapat dalam novel Saman ada enam bagian yaitu

diawali dengan penceritaan mengenai pertemuan Laila dengan Sihar sampai

penceritaan Shakuntala tentang penantian Laila. Peristiwa tersebut merupakan alur

tambahan, karena peristiwa ini merupakan cerita yang menunjang peristiwa-peristiwa

pokok. Selain itu alur tambahan ini ceritanya merujuk pada tokoh Laila. Tokoh Laila

mendukung dalam penceritaan tokoh Saman. Hal ini dapat dilihat pada saat Laila dan
51

Sihar pergi ke Perabumulih untuk menemui Saman dalam rangka pencarian keadilan

tentang kasus yang dilakukan oleh Rosano. Mereka saling bekerja sama mencari akal

supaya Rosano dapat dimasukkan ke penjara. Dengan berbagai cara akhirnya mereka

berhasil menjebloskankan Rosano ke penjara.

4.1.4 Tema

Tema dari novel Saman adalah perjuangan Saman dalam membela penduduk

transmigrasi Sei Kumbang. Dalam perjalanan karirnya sebagai seorang pastor,

Saman harus menyaksikan penderitaan penduduk transmigrasi Sei Kumbang dari

tindakan sewenang-wenang yang dilakukan oleh oknum penguasa Sei Kumbang

melalui aparat militer. Mereka menggunakan kekerasan untuk mempengaruhi pikiran

petani penduduk transmigrasi Sei Kumbang dengan cara meneror, menindas,

memperkosa, bahkan membunuh. Keadaan ini membuat Saman terpaksa

menanggalkan jubah kepastorannya dan bersama teman-temannya mendirikan

sebuah LSM yang menangani masalah perkebunan.

Saman berusaha untuk mengurangi penderitaan yang dialami oleh penduduk

transmigrasi Sei Kumbang dari tindakan sewenang-wenang aparat militer dengan

berbagai cara. Akan tetapi, keterlibatan Saman tersebut membuat dirinya mendapat

berbagai fitnah yang dilontarkan oleh aparat militer. Para aparat militer menuduh

Saman telah mengajarkan ajaran yang beraliran kiri, yang membuat mereka akan

menangkap Saman. Berkat bantuan teman-temannya Saman berhasil lolos dari

kejaran aparat militer dan ia melarikan diri ke New York. Meskipun berada di New

York, Saman mencari informasi mengenai keadaan di tanah air, yang saat itu terjadi
52

kerusuhan-kerusuhan terutama di Medan. Saman dan teman-temannya berusaha

membuat suatu usaha yang sedikit banyak bisa membantu membiayai beberapa

orang Lubukrantau yang sekarang tidak lagi mempunyai tanah dan tidak mempunyai

pekerjaan.

4.2 Lingkungan Sosial Ayu Utami

Ayu Utami lahir di Bogor, 21 November 1968. Ayu Utami merupakan anak

bungsu dari lima bersaudara pasangan Sutaryo dan Suhartinah yang berasal dari

Yogyakarta. Sutaryo sebagai ayah Ayu Utami bekerja sebagai jaksa, ia cukup ketat

dalam mendidik anaknya untuk disiplin dan bertanggung jawab. Dalam hal ini ia

sangat perhitungan terhadap anak-anaknya. Kalau ia memberikan sesuatu, pasti ia

akan meminta imbalan yang seimbang dalam bentuk prestasi. Sebaliknya Suhartinah,

sebagai ibu Ayu Utami yang dulu pernah bekerja sebagai guru Matematika di sebuah

SMP adalah orang yang mencintai anak-anaknya tanpa batas. Baginya prestasi anak-

anaknya bukanlah suatu hal yang teramat penting. Jika di lain pihak ayah Ayu Utami

bisa kecewa sekali melihat anak-anaknya gagal meraih prestasi terbaik. Malah

sebaliknya ia selalu siap menghibur jika anak-anaknya gagal. Kombinasi pola asuh

orang tua Ayu Utami yang seperti inilah yang membuat Ayu Utami bisa tumbuh

menjadi pribadi yang matang dan dewasa. Ayu Utami menghabiskan masa kecil di

Bogor hingga tamat sekolah dasar. Kemudian ia melanjutkan SMP di Jakarta, dan

SMU di Tarakanita Jakarta (http://www.cyberman.cbn.net.id).

Semasa SMP dan SMU Ayu Utami melakukan pemberontakan pada orang

tua yaitu dengan tidak mau membaca buku, dan tidak mau belajar. Pokoknya

meremehkan orang dewasa, meminimalkan usahanya untuk belajar. Baginya


53

membaca buku bisa mempengaruhi hidupnya, Ia mau tetap orisinil. Namun soal

membaca, Ayu Utami masih menyisakan waktu untuk membaca Alkitab. Alkitab

sudah menjadi bagian dari dirinya. Ia merupakan penganut Katolik yang mengagumi

buku-buku hasil karya Michael Ondaatje dan Budi Darma. Alkitab adalah buku satu-

satunya yang ia baca mulai dari kecil sampai dewasa. Alasannya, Alkitab ditulis oleh

orang banyak dengan gaya masing-masing. Ada yang bebentuk puisi, buku, dan surat

menyurat. Wajarlah kalau dalam novel Saman, terdapat petikan-petikan ayat Alkitab

(http://www.yoogee.com).

Sejak kecil Ayu Utami gemar menulis. Ketika beranjak remaja, ia menulis

beberapa cerita pendek yang kemudian dimuat di majalah ibukota

(http://cyberman.net.id). Namun, bukan berarti cita-cita Ayu Utami sejak kecil

memang ingin menjadi penulis. Ayu Utami mempunyai bakat melukis. Ia sering

memperoleh order melukis dari teman atau keluarganya. Bahkan impian banyak

pelukis pernah menghampirinya, yakni tawaran dari pembimbing melukisnya untuk

mengadakan pameran tunggal. Itulah sebabnya, setelah lulus dari SMU Ayu Utami

ingin melanjutkan ke Fakultas Seni Rupa dan Desain, ITB. Akan tetapi keinginan itu

ditentang orang tua. Sebagai pelarian akhirnya Ayu Utami masuk ke Fakultas Sastra

Jurusan Sastra Rusia Universitas Indonesia (UI). Ayu Utami memilih UI karena tidak

ingin memberatkan orang tuanya, selai lebih murah dibandingkan dengan kuliah di

luar negeri, selain itu juga semua kakaknya kuliah di UI (http://www.yoogee.com).

Saat masuk ke Fakultas Sastra itulah Ayu Utami seperti kehilangan arah.

Kuliah ia jalani dengan malas. Ia lebih banyak bekerja di berbagai tempat daripada

kuliah. Akan tetapi hal itu bukan merupakan pemberontakan. Ia merasa tidak ada
54

gunanya lulus tanpa pengalaman. Selain itu ia tidak ingin tergantung soal keuangan

pada orang tuanya. Kuliah sambil bekerja yang dilakukan Ayu Utami juga

mendobrak kebiasaan di keluarganya. Pada zaman kakak-kakaknya hal itu tidak bisa

diterima oleh ayahnya. Sifat keras kepala dan kritis Ayu Utami yang membuat

ayahnya mengalah. Pekerjaan sebagai purel hotel berbintang pernah ia jalani. Bahkan

Ayu Utami pernah menjalani dunia model setelah menjadi finalis wajah Femina

tahun 1990. Kemenangan cerpennya di majalah Humor menariknya menjadi

wartawan di majalah Matra. Ia akhirnya pindah ke Forum Keadilan, dan D&R

(http://www.yoogee.com).

Sejak bergabung dengan Forum Keadilan, jiwa aktivisnya tumbuh dan

berkembang. Ia menentang pembredelan pers oleh pemerintah dan mengikuti

pendidikan di Aliansi Jurnalistik Independen (AJI). Konsekwensinya ia akhirnya

dipecat dari majalah Forum. Setelah itu ia sempat bergabung dengan majalah D&R,

karena namanya sudah masuk black list, tidak boleh lagi tercantum disusunan

redaksional media massa manapun. Di majalah ini ia hanya menjadi kontributor. Saat

itu memang tidak ada lagi kemungkinan bagianya untuk menjadi wartawan secara

terang-terangan. Ketika akhirnya ia menjadi aktivis, pihak keluarga sangat

menentang. Ia sendiri sebenarnya tidak pernah berniat untuk menjadi aktivis niat

utamnya adalah menjadi wartawan professional. Akan tetapi pada masa Orde Baru

sekitar tahun 1993-1994, ia akhirnya terbawa arus menjadi aktivis yang

memperjuangkan kebebasan pers (http://www.cyberman.cbn.net.id).

Sewaktu menjadi aktivis, kedudukannya lebih sebagai kurir atau penghubung.

Ia tersentuh sekali melihat teman-teman yang terlibat secara langsung di Aliansi


55

Jurnalistik Indonesia (AJI). Mereka cukup lama hidup dalam persembunyian

menghindar dari kejaran polisi. Biasanya ia bertugas menghubungi mereka untuk

berbagai keperluan, seperti mengantar uang, pesangon, dan sebagainya. Dengan

penampilannya ia bisa mengelabuhi pihak aparat, sehingga mereka sama sekali tidak

curiga dengan kehadirannya. Karena untuk ukuran seorang aktivis sosok Ayu Utami

cukup bersih dan rapi. Hasilnya sepak terjangnya sebagai aktivis memang tidak

pernah tercium oleh pihak aparat (http:cyberman.cbn.net.id).

Setelah melanglang ke majalah D&R selama setengah tahun dan di BBC

selama beberapa bulan, akhirnya Ayu Utami menemukan tempat terakhirnya yaitu

Komunitas Utan Kayu. Ia masih bisa mengembangkan sayap kewartawanannya

sebagai Redaktur Jurnal Kebudayaan Kalam. Ia merasa bahagia, bergaul dengan

berbagai kalangan yang dapat memperkaya wawasannya. Di sinilah Ayu Utami

melahirkan Novel Saman, yang kemudian membuat heboh di tengah masa krisis

moneter (http://www.yoogee.com).

Dalam novel Saman sendiri, sebenarnya lebih sebagai akumulasi dari

pengalaman Ayu Utami sebagai perempuan yang memiliki profesi sebagai wartawan

dan aktivis. Ada dua hal yang ingin ia angkat di dalam novelnya, yaitu persoalan-

persoalan jender dalam hal termasuk seks, dan juga persoalan-persoalan politik yang

lebih umum. Ia hanya berusaha untuk jujur mengungkapkan apa yang ada dalam

pikirannya. Pada masa itu, masalah seks memang masih dianggap tabu untuk

diangkat ke permukaan, termasuk dalam bentuk novel. Itulah sebabnya, ketika

membuat novel Saman ia malah berpikir akan menerbitkannya sendiri, karena ia

takut tidak ada penerbit yang berani menerbitkannya. Ternyata prediksinya salah
56

novel Saman malah menjadi best seller. Ini merupakan satu bukti bahwa masyarakat

Indonesia sudah siap dengan hal-hal yang dianggap tabu, termasuk membicarakan

seks secara terbuka (http:cyberman.cbn.net.id).

Pemaparan seks dalam Saman bukan membahas teknik persetubuhan, tetapi

semata-mata mengajak pembaca untuk merenungkan kembali problematika seks

yang dialami oleh pihak perempuan. Seperti isu keperawanan yang menempatkan

perempuan dalam posisi yang kalah. Ayu Utami bukannya menganjurkan seks

sebelum menikah, tetapi menghimbau pembaca untuk merenungkan kembali isu

keperawanan tersebut, supaya menempatkan isu tersebut sewajarnya saja. Karena

apabila perempuan begitu memuja keperawanan, maka ia sendiri yang akan rugi.

Keperawanan hilang, ia merasa sudah tidak berarti lagi

(http://www.qlen.hlc.unimelb.edu.au).

Dalam hal menjalin cinta dengan seseorang, Ayu Utami adalah wanita yang

sangat realistis. Dalam arti, pada saat tertentu ia bisa sangat mengagumi kekasihnya

dan bergantung kepadanya. Tetapi jika hubungan pada akhirnya memang harus

berakhir, ia pun bisa melupakannya sama sekali. Inilah yang membuatnya tidak

mengenal istilah patah hati dalam hidupnya. Sebab ia bisa berteman baik dengan

mantan kekasihnya, tanpa ada lagi rasa cinta. Soal laki-laki, secara fisik Ayu Utami

suka lelaki yang berbadan tegap dan rambutnya cepak. Entah kenapa seperti itu,

sebetulnya ia sebal sekali dengan militerisme, tetapi soal laki-laki ia suka yang

military look. Dari segi karakter, ia tidak terlalu tertarik dengan laki-laki yang

bicaranya terlalu banyak dan suka pesta. Kalau sebatas teman ia senang sekali, tetapi

bukan untuk menjadi pacar. Ia suka dengan laki-laki yang military look kemungkinan
57

karena citra laki-laki ganteng yang pertama kali ia lihat adalah Pierre Tendean, orang

yang dikenal sebagai salah satu pahlawan revolusi. Seperti kita ketahui bagi orang-

orang sebaya Ayu Utami, doktrin mengenai G 30 S/PKI itu kan demikian kuat.

Proses pembentukannya sepertinya didoktrinasi oleh nila-nilai kepahlawanan seperti

itu. Jadi, meskipun ketika beranjak dewasa apalagi setelah menjadi aktivis, ia benci

sekali dengan tentara, tetapi soal laki-laki ia malah tertarik dengan mereka yang

bergaya militer (http:cyberman.cbn.net.id).

Ayu Utami tidak mau menikah, itu prinsip yang kini ia pegang. Dalam buku

Si Parasit Lajang, ia menuliskan 10 alasan untuk tidak menikah. Salah satunya yang

menurutnya penting yaitu menikah itu selalu menjadi tekanan bagi perempuan.

Meskipun kita selalu mengucapkan bahwa menikah adalah pilihan, akan tetapi dalam

kenyataannya menikah itu satu-satunya pilihan. Karena, kalau tidak menikah

perempuan akan diejek sebagai perawan tua, dan sebagainya. Yang pada akhirnya,

membuat si perempuan menjadi berada di bawah tekanan. Ia ingin menghimbau atau

mengajak atau sebetulnya bertanya kepada orang lain, kenapa kita harus menikah. Ia

menunjukkan tanpa menikah pun bisa bahagia. Di satu pihak ia juga ingin

menyadarkan masyarakat akan dua hal. Pertama, bahwa dalam realitanya hubungan

seks itu bukan hanya ada dalam pernikahan. Yang kedua, hubungan seks dalam

pernikahan sendiri bukan berarti lebih baik dari hubungan seks di luar pernikahan.

Dalam hal ini, Ayu Utami melihat masyarakat kita memang munafik. Mereka

menganggap seolah-olah kalau sudah menikah itu segala sesuatu menjadi beres.

Padahal, banyak sekali orang yang sudah menikah tetapi masih melakukan hubungan
58

seks di luar pasangan sahnya. Dalam hal pernikahan, ia melihat banyak ketidakadilan

yang dialami oleh perempuan (http:cyberman.cbn.net.id).

Keputusan Ayu Utami untuk tidak menikah membuat keluarga, terutama ibu

sempat merasa sedih. Sampai sekarang Ibu Ayu Utami tetap berharap suatu saat akan

menikah. Sebaliknya, di luar pikirannya, Bapak Ayu Utami malah menerima

keputusan ini dengan enteng. Ayu Utami juga tidak mempunyai keinginan untuk

menjadi seorang ibu, menurutnya buat apa punya anak, penduduk Indonesia

sekarang kan sudah padat sekali (http:cyberman.cbn.net.id).

4.3 Lingkungan Sosial Novel Saman

Novel Saman merupakan penggambaran kehidupan masyarakat saat novel

tersebut diciptakan. Novel Saman merupakan refleksi dari kehidupan masyarakat

Indonesia yang berada di bawah kekuasaan rezim Orde Baru, yang terjadi pada tahun

1990-an (http://www.forum.webqaul.com). Pemerintah pada waktu itu di bawah

kekuasaan Soeharto. Pada masa Orde Baru muncul konflik baru yang

memanifestasikan dalam bentuk demonstrasi mahasiswa yang memprotes beberapa

kebijakan pemerintah Orde Baru, diantaranya kasus tanah, perburuan, pendekatan

keamanan, dan hak azasi manusia (http://www.geoticies.com).

Saman menceritakan peristiwa persengketaan tanah dan kerusuhan yang

terjadi di Medan pada masa Orde Baru. Peristiwa itu membawakan pesoalan peka

bagi masyarakat, yaitu akan diubahnya kebun karet menjadi kebun kelapa sawit

(http://www.dind-online.com). Akan tetapi masyarakat merasa tidak setuju dengan

adanya perubahan ini. Hal ini mengakibatkan oknum penguasa di Sei Kumbang
59

melakukan tindakan sewenang-wenang yaitu memaksa penduduk untuk melepaskan

tanahnya. Mereka menggunakan kekerasan untuk mempengaruhi pikiran petani

penduduk Sei Kumbang dengan cara meneror, menindas, memperkosa, bahkan

membunuh. Pada novel ini juga diceritakan mengenai kerusuhan yang disebabkan

unjuk rasa yang memunculkan wajah rasis. Pemerintah dalam menaggapi protes dan

perlawanan dari rakyat dengan menggunakan cara kekerasan yaitu adanya aksi-aksi

aparat keamanan atau militer yang semakin brutal dan tidak terkendalikan. Tindakan

sewenang-wenang yang dilakukan oleh aparat keamanan atau militer telah membuka

hati para aktivis untuk mendirikan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Akan

tetapi LSM telah dituduh berpolitik dan mengorganisasikan rakyat miskin. Maka,

pemerintah melakukan tindakan pengejaran dan penangkapan terhadap aktivis-

aktivis LSM.

Selain itu novel Saman juga menceritakan mengenai perjuangan seorang

pemuda bernama Saman, yang dalam perjalanan karirnya sebagai seorang pastor

harus menyaksikan penderitaan penduduk desa yang ditindas oleh negara melalui

aparat militernya. Saman akhirnya menanggalkan jubah kepastorannya itu, dan

menjadi aktivis buron. Sebagai seorang aktivis, Saman mengembangkan hubungan

seksual dengan sejumlah perempuan. Keempat tokoh perempuan dalam novel itu

antara lain Shakuntala, Laila, Cok, dan Yasmin, merupakan empat sekawan. Mereka

muda, berpendidikan, dan berkarir. Sebagai layaknya sahabat, mereka saling bertukar

cerita mengenai pengalaman-pengalaman cinta, keresahan dan pertanyaan-

pertanyaan mereka dalam mendefinisikan seksualitas perempuan

(http://www.forum.webqaul.com).
60

Novel Saman berani mendobrak tabu yang sangat kuat membebani kaum

hawa. Dalam Saman, seks bukanlah bumbu cerita tetapi menjadi bagian dalam cerita

itu sendiri. Dengan ringan para tokoh berbicara tentang seksualitas begitu terbuka,

mereka berani menunjukkan hasratnya. Sesuatu yang selama ini dianggap tabu bagi

perempuan ternyata ditampilkan dengan cukup memikat bahkan mengejutkan

(http://www.kompas.com).

Keistimewaan Saman memang kemampuannya untuk bercerita tanpa beban.,

ia hanya asyik bercerita. Bahkan, ketika ada sisipan-sisipan pemikiran tentang

Tuhan, agama, negara, hubungan mengenai ikon-ikon generasi Orde Baru yaitu

generasi yang terlahir dan besar selama Orde Baru, yang dibuai dengan kelimpahan

materi atau informasi dan hegemoni pembangunanisme (http://www.dind-

online.com).

Dalam novel Saman tidak hanya masalah hukum dan keadilan sosial saja

yang dikritik, problematika kebudayaan timur pun dibahas, terutama masalah

keperawanan dan seksualitas. Novel Saman tidak hanya menuntut keadilan sosial dan

peningkatan status perempuan Indonesia, tetapi juga hak seksual mereka

(http://www.qlen.hlc.unimelb.edu.au).

Saman menceritakan tentang persoalan antara perempuan dengan seksualitas.

Jika laki-laki tidak pernah merasakan ada persoalan dengan seksualitasnya,

perempuan sebaliknya, karena seksualitas perempuan selalu dipertanyakan jika dia

ingin terjun ke sektor publik. Laki-laki dapat dengan lugas dan terbuka

mengungkapkan hasratnya dan tentu saja tidak ada orang yang akan

mempertanyakan termasuk pasangannya. Namun apa yang terjadi dengan


61

perempuan, untuk mengungkapkan perasaan sukanya pada laki-laki saja perempuan

menemui kendala, masyarakat tidak mudah menerima hal tersebut inilah yang

kemudian terlihat dalam Saman, yaitu bahwa perempuan memiliki hasrat yang sama

dengan laki-laki itu bukanlah sesuatu yang buruk. Saman berhasil menggambarkan

pemberontakan hak seksual perempuan untuk menggunakan bahasa tubuh. Saman

merangkum persoalan seks dan perempuan, menggambarkan perempuan apa adanya,

dan semua didefinisikan secara vulgar (http://www.kompas.com).

Seks dalam Saman bukan membahas teknik persetubuhan, tetapi semata-mata

mengajak pembaca untuk merenungkan kembali problematika seks yang dialami

oleh perempuan. Seperti isu keperawanan yang menempatkan perempuan pada pihak

yang kalah. Perempuan dalam Saman adalah cerminan perempuan Indonesia pada

tahun 1900-an, yang masih mengalami ketidakadilan dan penindasan yaitu

kurangnya perlindungan hukum untuk menangani kekerasan seksual, ataupun norma

masyarakat yang membatasi penggunaan hak seksual perempuan. Shakuntala dan

teman-temannya tidak mempunyai batasan dalam memililiki peran mereka. Tiga

diantaranya empat karakter perempuan belum menikah pada usia tiga puluhan dan

peran mereka tidak sebatas istri atau ibu. Mereka bisa menikmati pendidikan dan

bebas menentukan sendiri profesi mereka, melakukan sesuatu yang tidak hanya

berguna bagi masyarakat, tetapi juga bagi perkembangan kepribadian mereka

masing-masing (http://www.qlen.hlc.unimelb.edu.au).

Perempuan dalam novel Saman sudah tidak terlalu bergantung kepada kaum

pria. Dalam novel ini Saman sebagai lak-laki malah ditolong dan dilindungi oleh

Yasmin dan Cok. Saman menjadi buronan karena kegiatan-kegiatan LSMnya.


62

Yasmin dan Cok membantu Saman melarikan diri dari kejaran polisi dan

mengirimnya ke New York. Proses pelarian ini cukup berbahaya, bahkan Saman

mengakui “Dua cewek ini lumayan tangguh dan barangkali menganggap ketegangan

sebagai petualangan.” Meskipun sudah banyak kemajuan yang dicapai oleh

Shakuntala dan teman-temannya, masih ada juga ketidakadilan bagi perempuan

Indonesia di tahun 1990-an, yang tercermin dalam novel Saman. Contoh adalah Upi,

gadis Lubukrantau yang menderita kelainan jiwa dan kelainan seks. Pemerintah dan

masyarakat sekitar tidak merawat dan melindungi gadis ini. Tidak ada fasilitas

kesehatan dari pemerintah untuk merawat orang-orang seperti Upi, dan juga tidak

ada perlindungan hukum dan keadilan untuk Upi. Para lelaki bisa seenaknya saja

memanfaatkannya atau mempermainkannya, dan tidak ada hukum yang melarang

perbuatan mereka. Keadaan ini dikritik oleh Ayu Utami dengan cara menampilkan

tokoh Saman yang ditampilkan sebagai seorang pastor. Saman bukan hanya tidak

memanfaatkan Upi, ia bahkan membuat rumah perlindungan yang lebih bagus untuk

Upi, dan selalu memikirkan keselamatannya (http://www.qlen.hlc.unimelb.edu.au).

Cerita dalam novel Saman berputar diantara empat perempuan yaitu

Shakuntala, Yasmin, Laila, Cok. Novel ini mengisahkan masa kecil mereka sampai

saat mereka berumur tiga puluhan. Dalam novel ini juga dijabarkan mengenai

pencarian identitas diri mereka sebagai perempuan, konflik batin mereka tentang

masalah seksual dan juga norma masyarakat yang tidak mereka setujui. Selain kisah

keempat perempuan tersebut, juga diceritakan mengenai perjuangan Saman dalam

membantu masyarakat Lubukrantau, masalah politik dan sosial di masa Orde Baru,

iman kepada Tuhan yang diuji, dan bahkan juga ada bagian surealistis yang
63

menceritakan masa lalu Saman di Perabumulih (http://www.qlen.hlc.

unimelb.edu.au).

4.4 Pandangan Dunia Pengarang dalam Novel Saman

Penelitian Strukturalisme Genetik merupakan penelitian yang memandang

karya sastra itu dari dua sudut yaitu intrinsik dan ektrinsik. Studi diawali dari bagian

unsur intrinsik sebagai data dasarnya. Dari pengkajian unsur intrinsik ini akan dapat

menemukan tokoh problematik dalam novel tersebut. Tokoh problematik yang

terdapat dalam novel akan memunculkan adanya pandangan dunia pengarang.

Melalui tokoh problematik inilah pandangan dunia pengarang akan terlihat dari

pemberian solusi-solusi yang diberikan oleh pengarang kepada tokoh problematik

dalam usahanya untuk mengatasi masalah yang sedang dihadapi.

Tokoh problematik dalam novel Saman adalah tokoh yang bernama Saman.

Saman ditentukan sebagai tokoh problematik karena Saman merupakan tokoh yang

mempunyai masalah paling banyak dalam cerita dibandingkan dengan tokoh-tokoh

lainnya. Melalui masalah-masalah inilah pengarang memberikan solusi atas

permasalahan yang sedang dihadapinya.

Masalah pertama yang dihadapi oleh Saman yaitu muncul ketika ia telah

diangkat menjadi seorang pastor dan ia berkeinginan untuk ditugaskan di desa tempat

masa kecilnya mengalami suatu perjalanan aneh yang tidak pernah ia ceritakan

kepada siapa pun. Akan tetapi Saman takut kalau keinginannya tidak sesuai dengan

keputusan yang diberikan oleh Uskup. Hal ini dapat dilihat pada kutipan di bawah

ini.
64

Sesungguhnya persoalan itulah yang ingin dibicarakan Wisanggeni. Dengan


hati-hati ia ungkapkan keinginannya. Ia berharap ditugaskan di Perabumulih.
Kenapa, tanya yang senior. Saya lulusan institut pertanian, jawabnya. Saya
kira banyak yang bisa saya kerjakan di daerah perkebunan. Tetapi, kalau
begitu Anda cocok ditugaskan di Siberut, pulau kecil di mana Gereja Katolik
punya akar cukup besar di antara penduduk pedalaman yang nomaden, yang
mayoritas hidup dari mengumpul panen alam tanpa bertani. Wis mencoba
bertahan.
(Saman, hlm: 42)

Untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi Saman di atas pengarang

memunculkan tokoh yang bernama Romo Daru sebagai seorang pastor senior yang

banyak menghabiskan waktunya di persemedian. Romo Daru berusaha melobi Bapak

Uskup supaya Saman dapat ditugaskan di Perabumulih sesuai dengan keinginan

Saman. Berkat usaha Romo Daru, akhirnya Saman ditugaskan sebagai Pastor Paroki

Parid yang melayani kota kecil di Perabumilih dan Karang Endah wilayah keuskupan

Palembang. Hal ini tampak pada kutipan di bawah ini.

Barangkali Tuhan mengutusnya. Barangkali Tuhan Cuma mengabulkan


harapannya. Uskup menugaskan dia sebagai Pastor Paroki Parid, yang
melayani kota kecil. Perabumulih dan Karang Endah, wilayah keuskupan
Palembang. Umat di daerah itu sekitar lima ratus saja. Barangkali Romo Daru
melobi untuk dia (Wis belum berhasil menemui dia untuk berterimakasih atau
konfirmasi).
(Saman, hlm: 57)

Pemunculan tokoh Romo Daru yang berkedudukan sebagai pastor senior di

atas, merupakan gambaran kehidupan pengarang. Dalam menulis cerita, pengarang

cenderung menulis tentang pastor dan suster. Cerita-cerita yang pengarang tulis agak

religius. Pengarang menggunakan kata-kata dalam bidang agama seperti Romo,

Uskup, Pastor. Kata-kata tersebut merupakan istilah yang terdapat dalam agama

Katolik. Pengarang bisa secara jelas menceritakan sesuatu yang berhubungan dengan

agama Katolik. Hal ini merupakan gambaran kehidupan pengarang, yaitu pengarang
65

menganut kepercayaan agama Katolik. Sebagai penganut agama Katolik, pengarang

masih menyisakan waktunya untuk membaca Alkitab yang merupakan satu-satunya

buku yang ia baca dari kecil sampai dewasa. Alasannya, Alkitab sudah menjadi

bagian dari dirinya dan ditulis oleh orang dengan gaya masing-masing ada yang

berbentuk buku, puisi, bahkan surat menyurat. Jadi, wajarlah kalau dalam novel

Saman terdapat petikan-petikan ayat Alkitab.

Setelah melakukan perjalanan jauh menuju tempat tugasnya Saman

beristirahat. Di kamar tidur kepastoran Saman mengalami kegelisahan. Ia telah

melihat kesengsaraan di balik kota-kota maju, tetapi belum pernah ia menyaksikan

keterbelakangan yang dialami oleh Upi. Upi adalah anak dari salah satu transmigrasi

Sei Kumbang yang bertempat di Lubukrantau yang mengalami kelainan jiwa dan

kelainan seks. Pemerintah dan masyarakat sekitar tidak merawat dan melindungi

gadis ini. Tidak ada fasilitas kesehatan dan pemerintah untuk merawat orang-orang

seperti Upi, sehingga Upi harus dikurung dan dikerangkeng di sebuah tempat yang

dianggap tidak layak untuk Upi. Para lelaki bisa seenaknya saja memanfaatkannya

atau mempermainkannya dan tidak ada hukum yang melarang perbuatan mereka.

Permasalahan di atas merupakan permasalahan yang dihadapi oleh kaum

perempuan. Adanya ketidakadilan yang dihadapi oleh kaum perempuan pada tahun

1990-an yang tercermin dalam novel Saman yang dimunculkan melalui tokoh yang

bernama Upi. Keadaan ini dikritik oleh pengarang dengan cara menampilkan tokoh

Saman sebagai seorang yang peduli pada penderitaan. Saman berusaha untuk

menyelematkan Upi dengan membuatkan rumah perlindungan yang lebih bagus bagi

Upi. Semua ini ia lakukan dengan cara meminta izin kepada Mak Argani yang
66

merupakan orang tua Upi untuk membuatkan tempat yang lebih baik untuk tempat

tinggal Upi (http://www.qlen.hlc.unimelb.edu.au). Saman diperbolehkan untuk

membangun tempat tinggal Upi yang lebih sehat dan menyenangkan. Dengan

membangun tempat tinggal yang lebih baik, Saman berharap dapat lebih

meringankan penderitaan Upi. Saman begitu memikirkan keselamatan Upi. Sampai-

sampai ia memilih untuk tinggal lebih lama bersama penduduk transmigrasi Sei

Kumbang. Dengan bertempat tinggal bersama penduduk transmigrasi Sei Kumbang

Saman bisa selalu melihat Upi dan bisa selalu menjaganya. Hal ini dapat dilihat pada

kutipan di bawah ini.

Ketika waktunya gips pada kaki Upi dibuka, Wis meminta izin dari pastor
kepala, Pater Wastenberg, untuk pergi lima hari, berangkat Senin siang
kembali Sabtu pagi. Kali ini ia membawa gergaji rantai. Juga segulung kawat
pagar, satu sak semen, dan beberapa lembar seng yang didapatnya dari toko
bangunan Kong Tek. Orang Cina itu memberinya dengan cuma-cuma. Ia juga
berbekal mi instan, sekantong beras ukuran lima liter, dan abon. Sekali lagi
Rogam mengantarnya dengan jip Ichwan. Mereka membawa seorang dokter
muda dari puskesmas. Tengah hari Rogam dan dokter itu kembali ke utara,
namun Wis tinggal di Lubukrantau, dusun tempat tingal Upi itu adalah salah
satu desa di daerah transmigrasi Sei Kumbang. Ia telah memutuskan:
meringankan penderitaan si gadis dengan membangun sangkar yang lebih
sehat dan menyenangkan, seperti membikin kurungan besar bagi perkutut dan
cicakrawa ayahnya sebab melepaskan mereka hampir sama dengan
membunuh mereka.
(Saman, hlm: 73-74)

Saman juga tidak tahan melihat kemunduran petani yang terjadi pada

penduduk transmigrasi Sei Kumbang yang harus pergi meninggalkan desa karena

harga karet mereka terus menerus diserang cendawan putih ataupun merah. Orang-

orang tidak bisa lagi menggantungkan diri dari hasil panen karet. Saman berusaha

untuk memperbaiki keadaan petani di Lubukrantau.


67

Solusi yang diberikan oleh pengarang untuk mengatasi masalah yang

dihadapi oleh Saman adalah dengan cara memunculkan tokoh Pater Wastenberg, Pak

Sarbini, dan Sudoyo. Pater Wastenberg adalah pastor kepala di gereja tempat Saman

diangkat menjadi pastor. Pastor Wastenberg memberikan kesempatan kepada Saman

untuk melakukan rencana memperbaiki keadaan petani penduduk transmigrasi Sei

Kumbang. Walaupun awalnya Pater Wastenberg tidak setuju atas keputusan Saman

untuk melakukan hal ini, karena ia dianggap telah menyepelekan pelajaran gereja. Ia

kerap dipersalahkan karena acap meninggalkan kewajiban itu. Ia lebih sering pergi

ke penduduk transmigrasi Sei Kumbang daripada melayani dan memelihara iman

umat di sana. Akan tetapi setelah mendengar alasan-alasan yang diucapkan Saman,

Pater Wastenberg akhirnya menyetujui akan keputusan yang diambil oleh Saman.

Bahkan Pater Wastenberg berani mengusulkan agar Uskup memberi Saman

pekerjaan kategorial di perkebunan, jika Saman berhasil dalam usahanya. Hal ini

dapat dilihat pada kutipan di bawah ini.

Si pater Belanda mengamati Wis, akhirnya dengan iba menyerahkan kepada


pemuda itu. Apa yang bisa saya lakukan untukmu? tanpa restu Bapa Uskup,
tak ada bujet untuk rencana-rencanamu. Uang sakumu amat kecil, saya kira.
Namun, agak untung juga bahwa kamu memilih menjadi imam praja,
sehingga kamu bisa mengelola uang lepas dari ikatan ordo. Jika kamu bisa
mengusahakan dana sendiri satu bulan. Satu minggu sisanya kamu harus di
ada paroki. Jika saya melihat hasilnya, saya berani mengusulkan agar Uskup
memberimu pekerjaan kategorial di perkebunan.
(Saman, hlm: 82)

Pengarang selain memunculkan tokoh Peter Wastenberg sebagai tokoh yang

memberikan solusi atas permasalahan yang dihadapi Saman, pengarang juga

memunculkan tokoh yang bernama Pak Sarbini. Pak Sarbini adalah teman lampau

ayah Saman yang kini menjadi tengkulak karet Sukasari di kawasan transmigrasi
68

Jawa yang letaknya bersebelahan dengan transmigrasi Sei Kumbang. Saman

membutuhkan jaringan yang berpengalaman dengan jalur jual beli dan pengolahan

getah lateks. Semua itu Saman dapatkan dari Pak Sarbini. Hal ini dapat dilihat pada

kutipan di bawah ini.

… Esoknya ia juga menghubungi Pak Sarbini. Teman lampau ayahnya itu


kini juga menjadi tengkulak karet di Sukasari, kawasan transmigrasi Jawa
yang letaknya bersebelahan dengan Sei Kumbang yang dihuni transmigran
lokal. Lelaki itu keturunan buruh Jawa yang dibawa Belanda ke perkebunan
karet Deli tahun 1930-an. Dia ikut pendidikan bintara, namun kemudian
bertugas dalam Bimas desa-desa transmigrasi. Pak Sarbini begitu
berpengalaman dengan jalur jual-beli dan pengolahan getah lateks. Wis
membutuhkan jaringan itu.
(Saman, hlm: 83)

Selain itu pengarang juga memunculkan tokoh bernama Sudoyo yang

merupakan orang tua Saman. Sudoyo mengabulkan permohonan yang diajukan

Saman yaitu dengan memberikan modal kepada Saman sebesar lima atau enam juta

rupiah. Dengan pemberian modal tersebut Saman bisa menjalankan rencananya

untuk memperbaiki pertanian penduduk transmigrasi Sei Kumbang. Hal ini dapat

dilihat pada kutipan di bawah ini.

Wis berterima kasih sehingga ia tidak tahu harus mengucapkan apa. Setelah
mandi, yang pertama kali ia kerjakan adalah menulis surat kepada ayahnya.
Kali ini, tak hanya berisi cerita dan kerinduan seperti biasanya, namun juga
permohonan agar si ayah memberinya modal, sekitar lima atau enam juta
rupiah, bukan jumlah yang besar dari tabungan bapaknya.
(Saman, hlm: 83)

Ayahnya memberi balasan setuju. Lalu Wis kembali ke Lubukrantau. Upi


menjerit-njerit senang ketika mendengar suara pemuda itu. Tapi ia menemui
gadis itu sebentar saja, sebab ia hendak membicarakan sesuatu yang serius
dengan ibu dan abangnya.
(Saman, hlm: 83)

Setelah semuanya terkumpul Saman menawarkan kerja sama dengan

keluarga Argani yang luasnya dua hektar. Mereka menyetujui rencana Saman.
69

Keesokan harinya Saman bersama keluarga Argani mulai memperbaiki lahan,

memusnahkan tanaman yang sudah tidak bisa diselamatkan, dan menanami kembali

dengan pohon karet yang baru. Berkat bantuan mereka perkebunan karet penduduk

transmigrasi Sei Kumbang ini menjadi lebih baik. Hal ini tampak pada kutipan di

bawah ini.

Waktu itu petani Lubukrantau sudah mulai menakik getah karet muda yang
mereka enam tahun lalu, sebagai ganti pohon-pohon yang tumbang dimakan
kapang. Bibit-bibit PR dan BPM itu sebagian dibeli Wis dan dibiakannya
sendiri. Sebelumnya, ketika sebagian pohon-pohon belum siap disadap,
orang-orang menderes tanaman tua serta memanen kedele dan tumbuhan
tumpang sari. Lalu berkat bantuan Pak Sarbini, bundel-bundel smoked sheet
yang diproduksi rumah asap sederhana di dusun itu cukup mendapatkan
pasarnya.
(Saman, hlm: 87)

Ketika kebun karet milik penduduk Sei Kumbang sudah mulai membaik.

Saman memenuhi permintaan Pater Wastenberg untuk membantunya di Perabumulih

setiap satu pekan dalam sebulan. Saat Saman kembali ke Lubukrantau terjadi

peristiwa yang menimpa Upi. Dua lelaki menjebol pintu rumah Upi dan memperkosa

gadis yang kini telah berumur dua puluh satu tahun dan mereka juga menghancurkan

menara kincir yang dulu dibangun sebagai pembangkit listrik mini buat rumah asap.

Anson yang merupakan kakak Upi merasa yakin bahwa pemerkosaan dan perobohan

menara kincir itu adalah sebagai salah satu bentuk teror dari orang-orang yang

hendak merebut lahan penduduk transmigrasi Sei Kumbang. Orang-orang itu sengaja

melakukannya untuk mengancam penduduk transmigrasi Sei Kumbang agar mau

menyerahkan kebun mereka untuk dijadikan kebun kelapa sawit, karena ada sebagian

penduduk Sei Kumbang yang tidak menyetujui usul tersebut. Saman berusaha

membantu untuk membebaskan penduduk transmigrasi Sei Kumbang dari tindakan


70

sewenang-wenang yang dilakukan oleh oknum pengusaha melalui PT ALM. Akan

tetapi Saman malah dituduh sebagai orang yang telah mengkristenkan orang-orang

Lubukrantau dan mengajari keluarga Argani berburu dan makan babi hutan.

Melihat tindakan sewenang-wenang yang dilakukan oleh oknum pengusaha

melalui PT ALM, akhirnya Saman melakukan perlawanan dengan cara Saman

memutuskan untuk pergi ke Palembang, Lampung, dan Jakarta, setelah memotret

desa dan mengumpulkan data-data tentang dusun mereka yang telah maju. Saman

juga mengunjungi kantor-kantor surat kabar dan LSM. Setelah koran-koran mulai

menulis serta mengirim wartawan ke lahan transmigrasi Sei Kumbang, orang-orang

yang akan menggusur dusun tersebut tidak lagi bolak-balik dengan membawa blanko

kosong. Hal ini dapat dilihat pada kutipan di bawah ini.

Karena merasa persoalan tak akan segera selesai, Wis pergi ke Palembang,
Lampung, dan Jakarta, setelah memotret desa dan mengumpulkan data-data
tentang dusun mereka yang tengah maju. Ia mengunjungi kantor-kantor surat
kabar dan LSM. Pada setiap orang yang menerimanya, ia bercerita panjang
lebar dengan bersemangat dan menyerahkan materi berita. Ia membujuk:
kalau bisa datanglah sendiri dan tengok desa kami. Setelah koran-koran mulai
menulis serta mengirim wartawannya ke lahan terpencil itu, empat lelaki itu
tidak lagi bolak-balik dengan lembaran blanko kosong. Usaha menggusur
dusun memang jadi tertunda, berbulan-bulan, bahkan hampir setahun.
(Saman, hlm: 92-93)

Usaha yang dilakukan oleh Saman untuk mengatasi permasalahan di atas

merupakan gambaran dari kegiatan pengarang yang memiliki profesi sebagai

wartawan. Kegiatan yang dilakukan oleh Saman seperti memotret desa, dan

mengumpulkan data-data di atas merupakan kegiatan yang dilakukan oleh seorang

wartawan ketika ia akan menulis berita. Pengarang bisa menceritakan secara jelas

tentang kegiatan seorang wartawan. Sebelum menjadi penulis novel, pengarang

pernah menjadi wartawati di majalah Matra dan Forum. Ia juga menjadi salah satu
71

pendiri Aliansi Jurnalis Independen. Pengarang lebih banyak menulis esei serta

reportase dari pada menulis fiksi. Pengarang juga pernah menjadi wartawan di

majalah khusus trend pria. Bahkan ia sudah mengisi kolom tetap, sketsa, di SK

Berita Buana, yang isinya berupa renungan tentang berbagai soal politik.

Menurutnya menulis novel merupakan cara untuk mengeksplorasi bahasa Indonesia,

bahasa yang masih muda, yang kurang mungkin dilakukannya sebagai wartawan.

Seorang wartawan dituntut untuk memperhitungkan publik baik latar belakang,

pengetahuan, maupun tingkat emosionalnya. Ditambah lagi wartawan bisa keluar

dari fakta yang menurut pengarang dilematis. Jadi sulit untuk bisa mengembangkan

bahasa yang eksploratif (http://www.rnw.ni.com).

Usaha yang dilakukan oleh Saman ternyata hanya bisa menunda usaha

penggusuran dusun selama beberapa bulan saja bahkan hampir setahun. Akan tetapi

orang-orang tersebut menggunakan cara lain supaya penduduk transmigrasi Sei

Kumbang mau melepaskan tanahnya. Tindakan yang mereka lakukan adalah dengan

cara menggunakan kekerasan yang dilakukan oleh aparat militer. Aparat militer

melakukan tindakan yang sewenang-wenang. Mereka meneror, menindas,

memperkosa, bahkan membunuh.

Melihat kekerasan yang dilakukan oleh aparat militer, Saman dan teman-

temannya berusaha untuk melawan dan memprotes tindakan tersebut. Akan tetapi

protes dan perlawanan yang dilakukan oleh Saman membuat dirinya ditangkap dan

dimasukkan ke ruang penyekapan. Sedangkan Anson dan teman-temannya berhasil

lolos dari kejaran aparat militer. Selama di ruang penyekapan Saman selalu disiksa
72

untuk dimintai keterangan tentang keberadaan Anson dan teman-temannya. Saman

sudah putus asa akan keadaan yang menimpanya.

Permasalahan mengenai penindasan yang dilakukan oleh aparat militer pada

penduduk Sei Kumbang di atas merupakan gambaran atau cerminan dari peristiwa

yang terjadi pada masa rezim Orde Baru di bawah pimpinan Soeharto pada waktu

novel tersebut ditulis (http://www.forum.webqaul.com). Pada masa Orde Baru ini

muncul konflik persengketaan tanah dan kerusuhan yang terjadi di Medan. Peristiwa

itu membawakan persoalan peka bagi masyarakat yaitu akan diubahnya kebun karet

menjadi kebun kelapa sawit. Masyarakat tidak setuju akan perubahan itu, hal ini

membuat oknum penguasa Sei Kumbang melakukan tindakan sewenang-wenang

yaitu memaksa penduduk untuk melepaskan tanahnya. Mereka menggunakan

kekerasan untuk mempengaruhi pikiran petani penduduk transmigrasi Sei Kumbang

dengan cara meneror, menindas, memperkosa, bahkan membunuh.

Solusi yang diberikan oleh pengarang untuk mengatasi permasalahan yang

sedang dihadapi oleh Saman yaitu dengan cara memunculkan tokoh yang bernama

Anson. Anson berhasil melarikan Saman dari ruang penyekapan dan

mengantarkannya ke rumah suster-suster Boromeus di Lahat untuk menjalani

perawatan. Hal ini tampak pada kutipan di bawah ini.

Tapi didengarnya suara-suara itu. Betul, suara-suara yang dirindukannya,


yang meninggalkan dia sejak dipenjara. Makin lama makin ramai di
sekelilingnya, seperti nyamuk, seperti membangunkan atau
membingungkannya. Lalu ia merasa ada energi menyusup ke dalam
tubuhnya, ada nyawa-nyawa masuk ke raganya. Dan ia merasa begitu ringan,
seperti ia bayangkan pada orangyang sedang trans, seperti kelebihan tenaga
untuk tubuhnya yang telah menjadi kurus. Rasanya ia bisa terbang. Ia bangkit
dan menjebol pintu yang telah kropos oleh api, lalu di lorong yang mulai
terbakar. Ia berlari, terus berlari, melayang, entah apa yang mengarahkan
langkahnya. Dan ia sampai pada pintu terakhir.
(Saman, hlm: 108-109)
73

Wis tidak mau ke Perabumulih, sebab ia khawatir orang-orang yang


menyelidiki dirinya mengintai pastoran. Berbahaya bagi Anson, kawannya,
dan dia sendiri, serta gereja. Ia minta diantar ke rumah suster-suster
Boromeus di Lahat. Di sana, ia berpisah dari Anson dan teman-temannya.
Dipeluknya pemuda yang membungkuk ke tempat ia tidur.
(Saman, hlm: 110)

Pada saat Saman dalam persembunyian untuk menghindari kejaran polisi,

karena Saman dituduh sebagai dalang dalam peristiwa yang terjadi di Lubukrantau,

tiba-tiba Yasmin datang menemui Saman. Yasmin membujuk Saman untuk

melarikan diri ke luar negeri. Saman merasa tidak mempunyai cukup waktu untuk

menimbang-nimbang tawaran. Akhirnya ia menyetujui usul itu, karena menurutnya

semakin lama menunda keputusan, semakin sulit untuk keluar dari negeri ini dan

menghindari kejaran polisi.

Untuk mengatasi masalah yang sedang dihadapi Saman dalam usahanya

untuk melakukan pelarian ke luar negeri, pengarang memberikan solusi yaitu dengan

memunculkan tokoh yang bernama Yasmin dan Cok. Yasmin dan Cok membantu

Saman melarikan diri dari kejaran polisi dengan mengirimnya ke New York. Mereka

melarikan Saman keluar dari Medan dengan cara melakukan penyamaran pada diri

Saman. Yasmin telah menyiapkan segala hal dengan rapi. Walaupun proses pelarian

ini cukup berbahaya, tetapi Yasmin dan Cok dapat melampaui rintangan itu dan

berhasil melarikan Saman ke New York.

Perempuan dalam novel Saman seperti Yasmin dan Cok di atas adalah

cerminan perempuan Indonesia pada tahun 1990-an. Jaman sudah semakin

berkembang, perempuan Indonesia pun turut mengalami kemajuan yang cukup pesat.

Mereka mempunyai kepercayaan diri dan pengetahuan luas, sehingga peran mereka

tidak hanya sebagai istri atau ibu. Mereka merupakan perempuan yang sudah tidak
74

terlalu bergantung kepada kaum pria. Saman sebagai laki-laki malah ditolong dan

dilindungi oleh Yasmin dan Cok, ketika Saman melakukan persembunyian ke luar

negeri. Shakuntala dan teman-temannya tidak mempunyai batasan dalam memilih

peranan mereka. Tiga diantara empat karakter perempuan belum menikah pada usia

tiga puluhan dan peren mereka tidak sebatas istri atau ibu. Mereka bisa menikmati

pendidikan dan bebas menentukan sendiri profesi mereka, melakukan sesuatu yang

tidak hanya berguna bagi masyarakat, tetapi juga bagi perkembangan kepribadian

mereka masing-masing (http://www.qlen.hlc.unimelb.edu.au). Hal ini dapat dilihat

pada kutipan di bawah ini.

Pagi-pagi Yasmin telah kembali ke persembunyianku bersama seorang


nyonya melayu yang sama pesoleknya. Ternyata anak itu bekas murid SMP
Tarakanita juga, Cok, teman satu kelas Yasmin dan Laila waktu remaja.
Bocah-bocah itu kini sudah dewasa! Baru kusadari umurku sudah mau tiga
puluh tujuh. Aku tak begitu ingat satu per satu waktu mereka masih kecil.
Cuma Laila yang agak terhafal karena ia sering mengirim surat. Kini Yasmin
telah mengurus segalanya agar aku pergi dari Indonesia. Dan Cok dipilihnya
menjadi orang yang akan membawaku keluar dari Medan. Semula agak ragu
karena aku tak begitu kenal anak ini. Tapi Yasmin nampaknya percaya betul
pada teman karibnya. Dan ternyata mereka mendandaniku dengan serius,
menempel kumis palsu, mencukur rambut, dan mencabuti alisku agar
bentuknya berubah. Lalu mereka mencocok-cocokkan wajahku dengan foto
pada sebuah hotelnya di Pekanbaru. Yasmin memang telah menyiapkan
segala hal dengan rapih seperti ia biasa bekerja.
(Saman, hlm: 175)

Selain itu, pemunculan tokoh dalam novel Saman seperti Laila, Cok,

Shakuntala dan Saman yang belum menikah pada usia tiga puluhan ini, merupakan

gambaran dari pengarang yang sampai sekarang belum menikah, bahkan ia

memutuskan untuk tidak menikah. Pengarang ingin menghimbau atau mengajak atau

sebetulnya bertanya kepada orang lain, kenapa kita harus menikah. Ia menunjukkan

tanpa menikah pun bisa bahagia. Di satu pihak ia juga ingin menyadarkan

masyarakat akan dua hal. Pertama, bahwa dalam realitanya hubungan seks itu bukan

hanya ada dalam pernikahan. Yang kedua, hubungan seks dalam pernikahan sendiri
75

bukan berarti lebih baik dari hubugan seks di luar pernikahan. Usaha yang ingin

disampaikan pengarang dapat dilihat dari pemunculan tokoh dalam novel Saman

seperti Shakuntala, dan Cok yang dapat melakukan hubungan seksual dengan

sejumlah laki-laki dan diantara mereka belum ada ikatan pernikahan. Selain itu,

Yasmin sebagai tokoh yang sudah mempunyai suami dapat melakukan hubungan

seksual dengan tokoh yang bernama Saman yang bukan suaminya sendiri. Hal ini

tampak pada kutipan di bawah ini.

Namun tak kupahami, akhirnya justru akulah yang menjadi seperti anak kecil:
terbenam di dadanya yang kemudian terbuka, seperti bayi yang haus. Tubuh
kami berhimpit gemetar, selesai sebelum mulai, seperti tak sempat mengerti
apa yang baru saja terjadi. Tapi ia tak peduli, ia menggandengku ke kamar.
Aku tak tahu bagaimana aku akhirnya melakukannya. Ketika usai aku
menjadi begitu malu. Namun ada perasaan lega yang luar biasa sehingga aku
terlelap.
(Saman, hlm: 177)

Usaha yang dilakukan Yasmin dan Cok dalam usahanya melarikan Saman ke

luar negeri untuk menghindari kejaran polisi di atas, merupakan gambaran dari

kegiatan yang pernah dilakukan oleh pengarang. Pengarang pernah menjadi aktivis

yang memperjuangkan kebebasan pers. Awalnya pengarang tidak berniat untuk

menjadi seorang aktivis. Akan tetapi pengarang merasa tersentuh setelah ia melihat

keadaan teman-temannya yang terlibat secara langsung di Aliansi Jurnalistik

Indonesia (AJI). Mereka cukup lama hidup dalam persembunyian dari kejaran polisi.

Pada saat itu pengarang berkedudukan hanya sebagai kurir atau penghubung yang

bertugas menghubungi mereka untuk berbagai keperluan. Dengan penampilannya ia

memang bisa mengelabuhi pihak aparat, sehingga mereka sama sekali tidak curiga

akan kehadirannya. Karena untuk ukuran seorang aktivis, sosoknya cukup bersih dan

rapi. Hasilnya, sepak terjangnya sebagai seorang aktivis tidak pernah tercium oleh

pihak aparat.
76

Berdasarkan analisis mengenai permasalahan yang dihadapi oleh tokoh

problematik dan solusi-solusi yang diberikan oleh pengarang pada tokoh problematik

di atas, maka dapat disimpulkan bahwa padangan dunia pengarang dalam novel

Saman karya Ayu Utami yaitu pengarang mempunyai rasa simpati pada nasib yang

dialami oleh penduduk transmigrasi Sei Kumbang dan pengarang berusaha untuk

menolak pandangan bahwa laki-laki selalu mendominasi perempuan. Lebih dari itu

pengarang ingin menyeimbangkan kedudukan antara laki-laki dan perempuan. Hal

ini terlihat dari adanya pemberian solusi-solusi yang diberikan oleh pengarang pada

tokoh problematik. Pemberian solusi-solusi pada tokoh problematik ini sesuai

dengan latar belakang lingkungan sosial pengarang.


77

BAB V

PENUTUP

5.1 Simpulan

Dari analisis novel Saman karya Ayu Utami di atas dapat disimpulkan

sebagai berikut.

1. Stuktur novel Saman karya Ayu Utami ini terdiri atas tokoh dan penokohan yakni

dengan tokoh utama Saman. Saman digambarkan sebagai tokoh yang religius,

santun, berpendidikan, religius, mempunyai rasa sosial tinggi, ekonomis, suka

bekerja keras, pemikir, optimis, dan percaya kepada hal-hal gaib. Alur dalam

novel Saman dibagi menjadi dua yaitu alur utama dan alur bawahan. Alur utama

yaitu alur yang merujuk pada penceritaan tokoh Saman, sedangkan alur bawahan

yaitu alur yang merujuk pada penceritaan tokoh Laila. Latar cerita pada novel

Saman terjadi di New York, Pabrik kilang minyak di lepas pantai laut Cina

selatan, Pulau Matak, Perabumulih, sebuah gereja, Lubukrantau, ruang

penyekapan, rumah sakit, dan terjadi pada tahun 1962 sampai 1996. Adapun

tema dalam novel Saman adalah perjuangan Saman dalam membela penduduk

transmigrasi Sei Kumbang.

2. Dilihat dari lingkungan sosial pengarangnya, Ayu Utami merupakan pengarang

novel sekaligus aktivis. Sebelum menulis novel ia aktif sebagai wartawan di

majalah Matra, Forum Keadilan dan D&R. Sekarang ini Ayu Utami masih aktif

dalam bidang jurnalis di Komunitas Utan Kayu sebagai redaktur Jurnal

Kebudayaan Kalam.

77
78

3. Dilihat dari lingkungan sosialnya, novel Saman merupakan penggambaran

kehidupan masyarakat Indonesia di bawah kekuasaan rezim Orde Baru yang

terjadi pada tahun 1990-an. Pada tahun 1990-an terjadi peristiwa unjuk rasa yang

dilakukan oleh ratusan petani atau buruh. Mereka menuntut keadilan dari

pemerintah. Melihat ketidakadilan yang dialami oleh para buruh atau masyarakat

tani ini, membukakan hati para aktivis yang bergabung dalam LSM-LSM turut

berunjuk rasa. Saat terjadi unjuk rasa, pengunjuk rasa tidak diberondong dengan

senjata api, tetapi banyak dari pemimpin-pemimpin unjuk rasa itu ada yang

diculik, diinterogasi, bahkan dianiaya oleh aparat keamanan.

4. Pandangan dunia pengarang yang terefleksi dalam novel Saman ini terlihat dari

solusi yang diberikan oleh pengarang dari permasalahan yang dihadapi oleh

tokoh problematik. Tokoh problematik dalam novel Saman yaitu tokoh yang

bernama Saman. Berdasarkan Solusi yang diberikan oleh pengarang pada tokoh

problematik ini dapat disimpulkan bahwa pandangan dunia pengarang yaitu

pengarang mempunyai rasa simpati pada nasib yang dialami oleh penduduk

transmigrasi Sei Kumbang dan pengarang berusaha untuk menolak pandangan

bahwa laki-laki selalu mendominasi perempuan. Lebih dari itu pengarang ingin

menyeimbangkan kedudukan antara laki-laki dan perempuan. Hal ini terlihat dari

pemberian solusi-solusi yang diberikan oleh pengarang pada tokoh problematik.

Pemberian solusi-solusi tersebut sesuai dengan latar belakang lingkungan sosial

pengarang.
79

5.2 Saran

1. Penelitian novel Saman karya Ayu Utami dengan menggunakan teori

Strukturalisme Genetik ini hendaknya dapat bermanfaat bagi pembaca.

2. Teori Strukturalisme Genetik ini dapat digunakan untuk mengkaji karya sastra

lainnya.

3. Novel Saman karya Ayu Utami hendaknya dapat dikaji atau dikembangkan

dengan menggunakan teori yang lain.


80

DAFTAR PUSTAKA

Apa Siapa. 2003. http://www.pdart.co.id (19 Mei 2005).

Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.


Yogyakarta: Rineka Cipta.

Ayu Utami, Apa Arti Istilah Parasit Lajang?. 2003.


http://nizamzakaria.diaryland.com (12 April 2005).

Ayu Utami, Saya Tidak Akan Menikah. 2004. http:cyberment.cbn.net.id (12 April
2005).

Ayu Utami Tak Mampir di Kedai. http://www. pantau.or.id (29 Agustus 2004).

Bayang-bayang Perempuan Pengarang. http://www.kompas.com (28 Agustus 2004).

Damono, Sapardi Djoko. 1978. Sosiologi Sastra Sebuah Pengantar Ringkas.


Jakarta: Depdikbud.

Dari Jaman Siti Nurbaya Sampai Jaman Shakuntala. 2001.


http://www.glen.hcl.unimelb.edu.au (29 Agustus 2004).

Ediati, Ning. 2002. Tokoh Utama Novel Saman Karya Ayu Utami. Skripsi.
Universitas Negeri Semarang, Semarang.

Endraswara, Suwardi: 2003. Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka


Widyatama.

Fananie, Zainuddin. 2000. Telaah Sastra. Surakarta. Muhammadiyah University


Press.

Faruk. 1999. Pengantar Sosiologi Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Hardjana, Andre. 1985. Kritik Sastra Sebuah Pengantar. Jakarta: Gramedia Pustaka
Utama.

In Bed With Ayu Utami. 2003. http://randurini.blogspot.com (12 April 2005).

Jabrohim. 2001. Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta: Hanindita Graha Widia.

Kesusastraan Indonesia. http://www.yoogee.com (28 Agustus 2004).

80
81

S, Nas Haryati. 2002. Beberapa Pilihan Kata pada Novel Saman Karya Ayu Utami.
Semarang: Penerbitan UPT UNNES PRESS.

LSM sebagai Kekuatan Sosial Baru.2004. http://www. kompas.

Mendobrak Mitos Usang Tentang Perempuan. http://www.kompas.com (28 Agustus


2004).

NH. Dini Hingga Ayu Utami. 1998. http://www.dind-online.com (28 Agustus 2004)

Nurgiyantoro, Burhan. 2000. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada


University Press.

Perempuan Perlu Pahami Seks. http://www.forum webqaul.com (29 Agustus 2004)

Sinopsis. http://www.kompas.com (28 Agustus 2004)

Skripsi Ngarto Februana. http://www.geoticies.com (30 Agustus 2004).

Sofaningrum. 2003. Bentuk-bentuk Penyimpangan Sosial dalam novel Saman Karya


Ayu Utami. Skripsi. Universitas Negeri Semarang, Semarang.

Suharianto, S. 1982. Dasar-dasar Teori Sastra. Surakarta: Widya Duta.

Tanggapan Masyarakat. http://www.qlen.hlc.unimelb,edu.au (28 Agustus 2004).

Utami, Ayu. 1998. Saman. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.

___________. 2003. Si Parasit Lajang Seks, Sketsa dan Cerita. Jakarta: Gagas
Media.

Wellek, Rene dan Austin Warren. 1995. Teori kesusastraan (diindonesiakan oleh
Melani Budianta). Jakarta: PT Gramedia.

Yati, Lili Suherma. 2004. Novel Bulan Mati di Javasche Oranje Syahid Samurai, dan
Peluru di Matamu Karya Afirah Afrah Amatullah: Kajian Strukturalisme
Genetik. Skripsi. Universitas Negeri Semarang, Semarang.

Zulfahnur, dkk. 1996. Teori Sastra. Jakarta: Depdikbud.


SINOPSIS NOVEL SAMAN KARYA AYU UTAMI

Wis itulah panggilan akrab dari seorang anak lelaki yang mempunyai

nama panjang Wisanggeni. Wis lahir di Muntilan Yogyakarta. Wis termasuk anak

yang beruntung karena dia adalah satu-satunya anak yang lahir dari rahim ibunya

dan hidup. Dua adiknya tidak pernah lahir. Mereka mengalami suatu peristiwa

aneh yang hanya diketahui oleh Wis dan pengalaman ini terjadi pada masa

kecilnya. Ayahnya bernama Sudoyo, bekerja sebagai pegawai Bank Rakyat

Indonesia dan sebagai mantri kesehatan di Yogyakarta. Ibunya masih keturunan

raden ayu.

Pada waktu Wis berumur empat tahun, ayahnya dipindahkan ke

Perabumulih yaitu sebuah kota minyak di tengah Sumatra Selatan yang sunyi

pada masa itu, hanya ada satu bioskop dan bank yang usianya belum panjang. Di

Perabumulih ayah bekerja sebagai kepala cabang Bank Rakyat Indonesia.

Beberapa tahun kemudian Wis dan ayahnya pindah ke Jakarta. Wis

melanjutkan sekolah dengan mengambil pendidikan teologi dan belajar di Institut

Pertanian Bogor. Setelah Wis dan ayahnya pindah di Jakarta. Setelah Wis

menamatkan pendidikannya, maka diadakan upacara pengangkatan Wis sebagai

pastor dan ia mendapatkan julukan Pastor Wisanggeni atau Romo Wis. Setelah

misa, ada acara pesta di balai pastoran untuk merayakan adanya pastor baru. Di

acara itu Wis bertemu dengan Romo Daru dan Wis meminta kepada Romo Daru

agar dirinya ditugaskan di Perabumulih.

82
83

Permintaan Wis dikabulkan yaitu Uskup memberi tugas kepada Wis

sebagai Pastor Paroki Parid yang melayani kota kecil Perabumulih dan Karang

Endah di Palembang. Wis segera menuju ke kota itu. Setelah sampai di

Perabumulih, ia menemukan perubahan-perubahan yang terjadi di kota itu,

diantaranya rumah Wis telah dihuni oleh orang lain. Wis mendatangi rumahnya

yang dulu dan berkenalan dengan penghuni rumahnya yang sekarang. Ketika di

sana Wis mengalami kejadian-kejadian aneh lagi seperti yang pernah ia alami

pada waktu kecil.

Di Perabumulih Wis bertemu dengan seorang gadis yang cacat dan

mempunyai keterbelakangan mental. Gadis itu bernama Upi. Upi adalah anak

seorang transmigrasi Sei Kumbang yang tinggal di Lubukrantau. Karena

perlakuannya dianggap membahayakan orang lain, maka keluarganya

memutuskan untuk mengurung dan mengrangkeng Upi di sebuah bilik yang

terbuat dari kayu dan bambu yang kondisinya sudah tidak sehat. Wis tidak

berdaya melihat gadis di dalam kerangkeng itu. Akhirnya Wis memutuskan untuk

membangun tempat yang lebih sehat dan menyenangkan Upi.

Wis merasa semakin ia mengetahui penderitaan rakyat Lubukrantau

semakin ia merasa bahwa dirinya adalah bagian dari mereka, yang membuatnya

ingin lebih lama tinggal dan ingin memperbaiki penderitaan yang dialami oleh

petani di sana. Berkat izin dari Bapak Uskup dan modal dari ayahnya, maka ia

mengadakan rapat dengan keluarga Mak Argani dan membicarakan tentang

rencananya untuk membangun pengolahan sederhana atau rumah asap di dusun


84

itu sambil memperbaiki kebun. Usul itu disetujui oleh keluarga Argani. Akhirnya

mereka membersihkan kebun.

Wis kembali ke Perabumulih selama dua minggu. Ketika Wis kembali ke

Lubukrantau, Wis dikejutkan oleh kejadian yang telah menimpa Upi gadis cacat

dan gila itu telah diperkosa oleh orang-orang yang hendak merebut lahan mereka

dengan cara menjebol rumah baru Upi.

Beberapa tahun yang lalu empat orang lelaki datang ke wilayah

transmigrasi Sei Kumbang yang mengaku bahwa mereka menjalankan tugas dari

Gubernur tentang lokasi transmigrasi Sei Kumbang yang semula perkebunan karet

akan diganti dengan perkebunan kelapa sawit. Para penduduk tidak sepakat untuk

menganti kebunya dengan kelapa sawit. Melihat keadaan ini Wis dan penduduk

mengadakan rapat yang bertempat di rumah asap. Pada rapat ini menghasilkan

kesepakatan supaya penduduk jangan sesekali mau menandatangani pada

lembaran kosong yang diberikan oleh pihak perusahaan PT Anugrah Lahan

Makmur (ALM).

Tiga minggu kemudian, empat orang itu datang lagi dan menyuruh para

penduduk untuk menyetujui usulnya. Namun Wis dan penduduk tidak menyetujui

usul itu. Empat orang itu akhirnya pergi sambil menahan marah. Perbuatan Wis

ini membuat pihak perusahaan menjadi marah dan memberikan tuduhan-tuduhan

yang tidak benar kepada Wis, seperti dirinya yang dituduh telah mengkristenkan

orang Lubukrantau dan mengajari Argani berburu dan maka babi hutan.

Melihat keadaan ini, akhirnya Wis pergi ke Palembang, Lampung dan

Jakarta dalam rangka mengumpulkan data, untuk mempertahankan perkebunan di


85

trasmigrasi. Usaha Wis tidak sia-sia karena penggusuran dusun jadi tertunda

sampai setahun. Orang-orang tersebut mengunakan cara lain supaya dapat

menggusur dusun itu yaitu dengan cara merobohkan pohon-pohon karet,

menghanguskan tanggul yang tersisa, meneror dusun itu, ternak mulai hilang satu

persatu, merusak rumah kincir, memperkosa Upi dan membakar rumah pada

penduduk.

Wis bermaksud menyelamatkan Upi tetapi orang-orang itu menangkap

Wis dan dimasukkan ke dalam penjara. Selama di dalam penjara Wis selalu

disiksa. Pada saat Wis mulai putus asa dengan keadaan yang menimpanya, Anson

dan pemuda Lubukrantau menyelamatkan Wis dan membawa kabur Wis dari

penjara. Wis keluar dari penjara dalam keadaan yang tidak berdaya. Wis tidak

mau dipulangkan ke Perabumulih, ia meminta diantar ke rumah suster-suster

Boronous yang berada di Lahat. Di sana Wis dirawat oleh suster Marietta selama

kurang lebih tiga bulan. Dalam masa penyembuhan Wis membaca tuduhan-

tuduhan terhadap dirinya melalui surat kabar. Setelah sembuh Wis pergi ke

sebuah tempat yang hanya diketahui oleh lima orang suster dan satu dokter.

Dalam persembunyiannya, tak lama setelah peristiwa itu, Wis mengganti kartu

identitasnya dengan mengganti namanya menjadi Saman.

Tak lama kemudian Saman menulis surat untuk ayahnya. Ia menyatakan

bahwa ia menyesal karena tidak bisa memberi ayah keturunan karena dirinya

menjadi seorang pastor. Ia bercerita tentang rumah asap yang dibangunnya dengan

modal awal dari ayahnya, memohon restu kepada ayahnya untuk tetap tinggal di

Perabumulih, dan ia memohon maaf karena dirinya memutuskan untuk keluar dari
86

kepastoran. Karena Saman dan beberapa temannya ingin mendirikan sebuah

Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang mengurusi perkebunan guna

membantu orang Lubukrantau yang tidak lagi mempunyai tanah dan tidak

mempunyai pekerjaan. Akhirnya berkat bantuan Cok dan Yasmin, Saman dapat

melarikan diri ke New York. Kini Saman telah mengganti penampilannya dan

muncul sebagai aktivis perburuhan dan mengelola LSM.