Anda di halaman 1dari 207

PENINGKATAN KETERAMPILAN MEMBACA INTENSIF

TEKS PROFIL TOKOH DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL


KOMPONEN INQUIRY PADA SISWA KELAS VII B
SMPN 10 SEMARANG TAHUN AJARAN 2005/2006

SKRIPSI

untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan

Oleh:

Nama : Munawaroh
NIM : 2101401037
Program Studi : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Jurusan : Bahasa dan Sastra Indonesia

FAKULTAS BAHASA DAN SENI


UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2005
SARI

Munawaroh. 2005. Peningkatan Keterampilan Membaca Intensif Teks Profil Tokoh


dengan Pendekatan Kontekstual Komponen Inquiry Pada Siswa
Kelas VII B SMPN 10 Semarang Tahun Ajaran 2005/2006. Skripsi.
Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni,
Universitas Negeri Semarang.
Pembimbing I: Drs. Haryadi, M. Pd., Pembimbing II: Drs. Wagiran,
M. Hum.
Kata kunci: membaca intensif, teks profil tokoh, pendekatan kontekstual, dan
komponen inquiry

Dalam era globalisasi informasi seperti sekarang ini paparan tentang profil
tokoh sangat banyak ditemukan di koran, tabloid,dan majalah. Banyak beredarnya
teks profil tokoh mengindikasikan bahwa membaca intensif teks profil tokoh
sangatlah penting. Mengingat pentingnya keterampilan membaca intensif teks profil
tokoh, maka kompetensi dasar membaca intensif teks profil tokoh harus benar-benar
dikuasai siswa. Berdasarkan pengamatan dan wawancara dengan guru, keterampilan
membaca intensif teks profil tokoh siswa kelas VII B SMPN 10 Semarang masih
rendah, hal ini terlihat pada nilai rata-rata hasil tes yang belum mencapai target.
Rendahnya keterampilan siswa ini disebabkan oleh faktor siswa dan faktor pola
pembelajaran guru yang kurang tepat. Pendekatan kontekstual komponen inquiry
dapat meningkatkan keterampilan membaca intensif teks profil tokoh. pendekatan
kontekstual membantu guru mengaitkan materi dengan situasi nyata siswa dan
mendorong keaktifan siswa untuk menghubungkan pengetahuan yang dimiliki
dengan penerapannya dalam kehidupan mereka. Berdasarkan uraian di atas, peneliti
melakukan penelitian tindakan kelas dengan mengangkat permasalahan; 1)
bagaimanakah peningkatan keterampilan membaca intensif teks profil tokoh dengan
pendekatan kontekstual komponen inquiry pada siswa kelas VII B SMPN 10
Semarang? dan 2) bagaimanakah perubahan tingkah laku siswa kelas VII B SMPN 10
Semarang setelah mengikuti pembelajaran membaca intensif dengan pendekatan
kontekstual komponen inquiry? Berdasarkan permasalahan yang dikaji dalam
penelitian ini, tujuan penelitian ini adalah 1) mendeskripsikan peningkatan
keterampilan membaca intensif teks profil tokoh dengan pendekatan kontekstual
komponen inquiry pada siswa kelas VII B SMPN 10 Semarang, dan 2)
mendeskripsikan perubahan tingkah laku siswa kelas VII B SMPN 10 Semarang
setelah mengikuti pembelajaran membaca intensif teks profil tokoh dengan
pendekatan kontekstual komponen inquiry.
Penelitian tindakan kelas ini dilakukan dalam dua tahap yaitu siklus I dan
siklus II. Masing-masing siklus terdiri darri perencanaan, tindakan, observasi dan
refleksi. Pengambilan data melalui tes dan nontes. Subjek penelitian ini adalah
keterampilan membaca intensif teks profil tokoh siswa kelas VII B SMPN 10
Semarang tahun ajaran 2005/2006. Variabel dalam penelitian ini adalah keterampilan

i
membaca intensif teks profil tokoh dan penggunaan pendekatan kontekstual
komponen inquiry. Alat pengambilan data berupa pedoman observasi, wawancara,
jurnal, dan dokumentasi foto. Data yang diperoleh dianalisis dengan pendekatan
kuantitatif dan kualitatif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterampilan membaca intensif teks
profil tokoh kelas VII B SMPN 10 Semarang mengalami peningkatan setelah
mengikuti pembelajaran dengan pendekatan kontekstual komponen inquiry.
Peningkatan keterampilan siswa ini dapat dilihat dari hasil tes pratindakan, siklus I
dan siklus II. Hasil pratindakan menunjukkan bahwa nilai rata-rata siswa 56,51 atau
berada pada kategori kurang. Setelah dilakukan tindakan siklus I, nilai rata-rata siswa
menjadi 67,46, artinya ada peningkatan sebesar 10,95% dari pratindakan. Setelah
dilakukan tindakan siklus II, nilai rata-rata menjadi 81 atau meningkat sebesar
13,54%. Masing-masing aspek dalam membaca intensif teks profil tokoh juga
mengalami peningkatan. Aspek menyarikan riwayat hidup tokoh skor rata-rata
pratindakan sebesar 58, rata-rata siklus I sebesar 72,3 dan rata-rata siklus II sebesar
85,6. Pada pratindakan, aspek menyimpulkan keistimewaan tokoh pratindakan
sebesar 58, siklus I menjadi 72,3 dan siklus II meningkat menjadi 81,3. Aspek
mencatat hal-hal yang bermanfaat skor rata-rata pratindakan 51, siklus I 56,4 dan
siklus II meningkat sebesar 20% menjadi 76,4. Peningkatan keterampilan membaca
intensif teks profil tokoh ini diikuti dengan perubahan perilaku siswa kelas VIIB
SMPN 10 Semarang. Perilaku negatif siswa berubah menjadi perilaku positif. Pada
siklus II siswa terlihat menikmati pembelajaran, mereka juga semakin aktif dan
semangat mengikuti pembelajaran membaca intensif teks profil tokoh dengan
pendekatan kontekstual komponen inquiry.
Saran yang dapat diberikan berdasarkan hasil penelitian yaitu, (1) guru mata
pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia hendaknya pada pembelajaran membaca,
khususnya membaca intensif teks profil tokoh, menguasai berbagai pendekatan,
metode dan teknik pembelajaran; (2) guru mata pelajaran Bahasa dan Sastra
Indonesia hendaknya dalam menyampaikan pembelajaran membaca intensif teks
profil tokoh menggunakan pendekatan kontekstual komponen inquiry karena dengan
pembelajaran yang melatih siswa untuk menemukan sendiri pengetahuan atau
keterampilan dan mengaitkannya dengan dunia nyata siswa terbukti dapat
meningkatkan keterampilan membaca intensif teks profil tokoh dan mengubah
perilaku siswa dalam mengikuti pembelajaran membaca; (3) siswa hendaknya dalam
mengikuti pembelajaran membaca intensif teks profil tokoh dengan semangat dan
perilaku positif; (4) peneliti di bidang pendidikan maupun di bidang bahasa
hendaknya selalu termotivasi untuk melakukan penelitian tentang teknik-teknik
pembelajaran sehingga diperoleh alternatif teknik pembelajaran baru khususnya
pembelajaran membaca.

ii
PERSETUJUAN PEMBIMBING

Skripsi ini telah disetujui oleh pembimbing untuk diajukan ke Sidang Panitia Ujian
Skripsi.

Semarang, Oktober 2005

Pembimbing I, Pembimbing II,

Drs. Haryadi, M. Pd. Drs. Wagiran, M. Hum.

NIP 132058082 NIP 132050001

iii
PENGESAHAN KELULUSAN

Skripsi ini telah dipertahankan di hadapan sidang Panitia Ujian Skripsi Jurusan

Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri

Semarang.

pada hari : Senin

tanggal : 17 Oktober 2005

Panitia ujian Skripsi

Ketua, Sekretaris

Prof. Dr. Rustono, M. Hum Drs. Agus Yuwono, M. Si.


NIP 131281222 NIP 132049997

Penguji I, Penguji II, Penguji III,

Drs. Subiyantoro, M.Hum Drs. Wagiran, M.Hum Drs. Haryadi, M.Pd


NIP 132005032 NIP 132050001 NIP 132058082

iv
PERNYATAAN

Saya menyatakan bahwa yang tertulis dalam skripsi ini benar-benar hasil karya saya

sendiri, bahkan bukan jiplakan dari karya orang lain, baik sebagian atau seluruhnya.

Pendapat atau temuan orang lain yang terdapat dalam skripsi ini dikutip atau dirujuk

berdasarkan kode etik ilmiah.

Semarang, Oktober 2004

Yang Membuat Pernyataan

v
Munawaroh

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

Wahai manusia, sesungguhnya kamu bekerja keras


dengan benar-benar untuk (menuju) kepada Tuhanmu
lalu kamu akan menemui- Nya.
(Al Insyiqoq:6)
Skripsi ini penulis
persembahkan untuk:
1. Bapak dan Ibu tercinta yang
senantiasa memanjatkan doa dan
mencurahkan kasih sayang yang
tulus kepada penulis.
2. Kakak dan adikku tersayang yang
selalu memberikan dorongan kepada
penulis.

vi
3. Ridho Ahmad Khoir yang
senantiasa mendukung dan
menemaniku.
4. Ika, Erni, Ova, Endah dan Budi
yang selalu memberikan semangat
kepada penulis.
5. Teman-teman PBSI angkatan 2001
yang telah memberikan saran dan
kritiknya.
6. Guru-guruku yang telah
memberikan bekal ilmu
pengetahuan kepada penulis.

PRAKATA

Puji syukur kehadirat Allah S.W.T. yang telah melimpahkan rahmat dan

hidayah-Nya atas terselesaikannya skripsi yang berjudul Peningkatan Keterampilan

Membaca Intensif Teks Profil Tokoh dengan Pendekatan Kontekstual Komponen

Inquiry pada Siswa Kelas VII B SMPN 10 Semarang Tahun Ajaran 2005/2006.

Penulisan skripsi ini sebagai upaya untuk meningkatkan keterampilan siswa dalam

membaca intensif teks profil tokoh.

Penulis ini menyadari sepenuhnya bahwa terselesaikannya skripsi ini tidak

terlepas dari masukan, arahan, dan bimbingan yang telah diberikan dengan tulus

ikhlas dan sabar oleh Drs. Haryadi, M. Pd., dan Drs. Wagiran, M. Hum. sebagai

vii
pembimbing selama penyusunan skripsi ini. Pada kesempatan ini penulis juga

menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Prof. Dr. Rustono, M. Hum., Dekan Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri

Semarang yang telah memberikan izin penelitian kepada penulis.

2. Drs. Mukh Doyin, M. Si., Ketua Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas

Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang, yang telah memberikan izin

penelitian dan segala kemudahan bagi penulis untuk menyelesaikan skripsi ini.

3. Bapak dan Ibu dosen Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia yang telah

memberikan ilmu pengetahuan yang bermakna bagi penulis selama duduk di

bangku perkuliahan.

4. Kepala SMP Negeri 10 Semarang yang telahmemberikan izin kepada penulis

untuk melakukan penelitian di SMP Negeri 10 Semarang.

5. Bu Kamti, guru mata Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia SMP Negeri 10

Semarang yang telah memberikan bimbingan dan bantuan kepada penulis.

6. Keluargaku terkasih yang senantiasa mendukung langkahku dengan iringan doa

dan kasih sayang.

7. Sahabat-sahabatku Erni, Ova, Ika, Endah, dan Budi yang telah memberikan doa

dan dorongan semangat kepada penulis.

8. Teman-teman PBSI angkatan 2001 yang telah memberikan doa, bantuan dan

dukungan kepada penulis.

9. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah membantu

terselesaikannya skripsi ini.

viii
Semoga segala bantuan, dukungan, dan pengorbanan yang telah diberikan

kepada penulis menjadi amal yang dapat diterima dan mendapat balasan dari Allah

S.W.T. Penulis berharap agar skripsi ini bermanfaat bagi semua pihak.

Munawaroh

DAFTAR ISI

SARI..................................................................................................................... i
PERSETUJUAN PEMBIMBING........................................................................ iii
PENGESAHAN KELULUSAN ..................................................................... .... iv
PERNYATAAN.............................................................................................. .... v
MOTTO DAN PERSEMBAHAN ....................................................................... vi
PRAKATA....................................................................................................... ... vii
DAFTAR ISI........................................................................................................ x
DAFTAR TABEL................................................................................................ xiii
DAFTAR GRAFIK.............................................................................................. xiv
DAFTAR GAMBAR ........................................................................................... xv
DAFTAR LAMPIRAN................................................................................... .... xvi
BAB I PENDAHULUAN ………………………………………………… 1

ix
1.1 Latar Belakang Masalah…………………………………………… 1
1.2 Identifikasi Masalah……………………………………………… . 4
1.3 Pembatasan Masalah……………………………………………… 5
1.4 Rumusan Masalah…………………………………………………… 5
1.5 Tujuan Penelitian…………………………………………………… 5
1.6 Manfaat Penelitian………………………………………………… 6
BAB II KAJIAN PUSTAKA…………………………………………………… 7
2.1 Kajian Pustaka ................................................................................. 7
2.2 Landasan Teoretis............................................................................. 11
2.2.1 Hakikat Membaca.................................................................... 11
2.2.2 Tujuan Membaca ..................................................................... 12
2.2.3 Jenis-jenis Membaca ............................................................... 15
2.2.4 Hakikat Membaca Intensif ...................................................... 16
2.2.5 Teks Profil Tokoh.................................................................... 18
2.2.6 Pendekatan Kontekstual .......................................................... 19
2.2.7 Komponen Inquiry................................................................... 20
2.2.8 Pembelajaran Kontekstual Komponen Inquiry........................ 23
2.3 Kerangka Berpikir ............................................................................ 24
2.4 Hipotesis Tindakan ........................................................................... 25
BAB III METODE PENELITIAN ...................................................................... 26
3.1 Desain Penelitian .............................................................................. 26
3.1.1 Prosedur Tindakan pada Siklus I ............................................. 27
3.1.2 Prosedur Tindakan pada Siklus II............................................ 29
3.2 Subjek Penelitian .............................................................................. 31
3.3 Variabel Penelitian ........................................................................... 32
3.4 Instrumen Penelitian ......................................................................... 34
3.4.1 Instrumen Tes .......................................................................... 34
3.4.2 Instrumen Nontes..................................................................... 37
3.5 Teknik Pengumpulan Data ............................................................... 40

x
3.5.1 Teknik Tes ............................................................................... 40
3.5.2 Teknik Nontes ......................................................................... 41
3.6 Teknik Analisis Data ........................................................................ 43
3.6.1 Teknik Kuantitatif ................................................................... 43
3.6.2 Teknik Kualitatif...................................................................... 44
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ..................................... 45
4.1 Hasil Penelitian................................................................................. 45
4.1.1 Hasil Pratindakan..................................................................... 46
4.1.2 Hasil Penelitian Siklus I .......................................................... 48
4.1.2.1 Hasil Tes ..................................................................... 48
4.1.2.2 Hasil Nontes............................................................... 54
4.1.3 Hasil Penelitian Siklus II ......................................................... 69
4.1.3.1 Hasil Tes ..................................................................... 69
4.1.3.2 Hasil Nontes............................................................... 75
4.2 Pembahasan ...................................................................................... 90
4.2.1 Peningkatan Keterampilan Membaca Intensif Teks Profil Tokoh
Kelas VII B SMPN 10 Semarang Setelah Mengikuti Pembelajaran
dengan Pendekatan Kontekstual Komponen Inquiry......................... 90
4.2.2 Perubahan Perilaku Siswa Kelas VII B SMPN 10 Semarang Setelah
Mengikuti Pembelajaran dengan Pendekatan Kontekstual
Komponen Inquiry ............................................................................. 93
BAB V PENUTUP............................................................................................... 100
5.1 Simpulan........................................................................................... 100
5.2 Saran ................................................................................................. 101
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 102
LAMPIRAN......................................................................................................... 103

xi
DAFTAR TABEL

Tabel 1. Aspek dan Skor Penilaian................................................................... 34


Tabel 2. Aspek dan Kriteria Penilaian.............................................................. 35
Tabel 3. Hasil Keterampilan Membaca Intensif Teks Profil Tokoh
Pratindakan......................................................................................... 46
Tabel 4. Hasil Keterampilan Membaca Intensif Teks Profil Tokoh Siklus I ... 49
Tabel 5. Hasil Tes Membaca Intensif Teks Profil Tokoh Aspek Menyarikan
Riwayat Hidup Tokoh ........................................................................ 50
Tabel 6. Hasil Tes Membaca Intensif Teks Profil Tokoh Aspek
Menyimpulkan Keistimewaan Tokoh ................................................ 51
Tabel 7. Hasil Tes Membaca Intensif Teks Profil Tokoh Aspek Mencatat
Hal-hal yang Bermanfaat ................................................................... 52
Tabel 8. Hasil Keterampilan Membaca Intensif Teks Profil Tokoh Siklus II.. 69
Tabel 9. Hasil Tes Membaca Intensif Teks Profil Tokoh Aspek Menyarikan
riwayat Hidup Tokoh ......................................................................... 71

xii
Tabel10. Hasil Tes Membaca Intensif Teks Profil Tokoh Aspek
Menyimpulkan Keistimewaan Tokoh ................................................ 72
Tabel 11. Hasil Tes Membaca Intensif Teks Profil Tokoh Aspek Mencatat
Hal-hal yang Bermanfaat ................................................................... 73
Tabel 12. Peningkatan Keterampilan Membaca Intensif Teks Profil Tokoh ..... 90
Tabel 13. Hasil Observasi Siklus I dan Siklus II................................................ 95

DAFTAR GRAFIK

Grafik 1. Hasil Tes Keterampilan Membaca Intensif Teks Profil Tokoh


Pratindakan ...................................................................................... 47
Grafik 2. Hasil Tes Keterampilan Membaca Intensif Teks Profil Tokoh
Siklus I............................................................................................. 53
Grafik 3. Hasil Tes Keterampilan Membaca Intensif Teks Profil Tokoh
Siklus II............................................................................................ 74

xiii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 Aktivitas pembelajaran membaca intensif teks profil tokoh......... 66


Gambar 2 Situasi kelas pada saat pembelajaran ............................................ 67
Gambar 3 Aktivitas siswa dalam mengerjakan tes ....................................... 68
Gambar 4 Aktivitas siswa pada saat membaca intensif teks profil tokoh...... 87
Gambar 5 Aktivitas siswa pada saat berdiskusi ............................................. 88
Gambar 6 Aktivitas siswa pada saat memberi tanggapan.............................. 89

xiv
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Pedoman Penilaian Tes Membaca Intensif Teks Profil Tokoh……… 103
Lampiran 2 Kriteria Penilaian.............................................................................. 104
Lampiran 3 Pedoman Observasi ......................................................................... 108
Lampiran 4 Lembar Jurnal ................................................................................... 109
Lampiran 5 Pedoman Wawancara ....................................................................... 110
Lampiran 6 Pedoman Dokumentasi .................................................................... 111
Lampiran 7 Rencana Pembelajaran Siklus I ........................................................ 112
Lampiran 8 Rencana Pembelajaran Siklus II ....................................................... 113
Lampiran 9 Soal-soal Tes Membaca Intensif Teks Profil Tokoh ........................ 114
Lampiran 10 Daftar Subjek Penelitian................................................................. 118
Lampiran 11 Hasil Pratindakan............................................................................ 122
Lampiran 12 Hasil Siklus I .................................................................................. 128
Lampiran 13 Hasil Siklus II ................................................................................. 139
Lampiran 14 Hasil Tes Siswa Pratindakan .......................................................... 140
Lampiran 15 Hasil Tes Siswa Siklus I ................................................................. 141
Lampiran 16 Hasil Tes Siswa Siklus II................................................................ 142
Lampiran 17 Hasil Observasi Siklus I ................................................................. 143
Lampiran 18 Hasil Observasi Siklus II ............................................................... 144
Lampiran 19 Hasil Jurnal Siklus I........................................................................ 145
Lampiran 20 Hasil Jurnal Siklus II ...................................................................... 146
Lampiran 21 Hasil Wawancara Siklus I............................................................... 147
Lampiran 22 Hasil Wawancara Siklus II ............................................................. 148
Lampiran 23 Surat Izin Penelitian........................................................................ 149
Lampiran 24 Surat Keterangan Selesai Penelitian ............................................... 150

xv
108
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Keterampilan membaca bagi seorang siswa mempunyai kedudukan

penting. Pertama, penting bagi siswa selama mereka mengikuti pendidikan di

berbagai jenjang dan jenis sekolah. Kedua, penting bagi siswa setelah mereka

selesai bersekolah dan bekerja di masyarakat.

Keterampilan membaca merupakan keterampilan dasar bagi siswa

yang harus mereka kuasai agar dapat mengikuti seluruh kegiatan dalam proses

pendidikan dan pembelajaran. Keberhasilan siswa dalam mengikuti

pembelajaran sangat dipengaruhi oleh kemampuan membacanya. Oleh karena

itu, pembelajaran membaca mempunyai kedudukan yang sangat strategis.

Pembelajaran membaca bertujuan agar siswa mampu memahami

pesan-pesan komunikasi yang disampaikan dengan media bahasa tulis dengan

cermat, tepat, dan cepat secara kritis dan kreatif. Kecermatan dan ketepatan

dalam memahami pesan komunikasi itu sangat penting agar dapat dicapai

pemahaman terhadap pesan komunikasi tersebut.

Dalam era globalisasi informasi seperti sekarang ini, berbagai

informasi disampaikan melalui berbagai media cetak, buku, majalah, dan

sebagainya. Setiap orang, khususnya siswa, dituntut untuk memiliki

kemampuan membaca yang cukup tinggi untuk menafsirkan berbagai

informasi yang tertulis.


Salah satu buku yang berperan penting guna menambah wawasan dan

pengetahuan adalah buku biografi atau otobiografi tokoh (profil tokoh). Buku

biografi atau otobiografi tokoh saat ini banyak beredar di pasaran. Di sisi lain,

paparan tentang profil tokoh juga sangat banyak ditemukan di koran,

tabloid,dan majalah. Banyak beredarnya teks profil tokoh mengindikasikan

bahwa membaca intensif teks profil tokoh sangatlah penting.

Berdasarkan observasi dan wawancara dengan guru, peneliti

menyimpulkan bahwa keterampilan membaca intensif teks profil tokoh siswa

kelas VII B SMPN 10 Semarang masih rendah. Adapun rendahnya

keterampilan tersebut disebabkan karena siswa cenderung membaca sekilas

tidak secara intensif sehingga pemahaman yang didapatkan kurang maksimal.

Di samping itu, berdasarkan wawancara dengan siswa, pada umumnya mereka

tidak termotivasi untuk membaca teks profil tokoh sebab teks tersebut

dianggap kurang bermanfaat dan tidak menarik. Rendahnya keterampilan

siswa kelas VII B SMPN 10 Semarang dalam membaca intensif teks profil

tokoh juga disebabkan penggunaan metode guru yang hanya bersifat satu arah.

Artinya hanya guru yang aktif berceramah, sedangkan siswa sebagai peserta

yang pasif. Siswa hanya mentransfer pengetahuan dari guru sehingga siswa

cenderung tidak melakukan kegiatan. Dengan demikian, keterampilan

membaca intensif teks profil tokoh siswa kelas VII B SMPN 10 Semarang

perlu ditingkatkan.

Untuk itu, diperlukan sebuah strategi pembelajaran yang baru yang

lebih memberdayakan siswa. Strategi pembelajaran itu antara lain pendekatan


kontekstual. Pendekatan kontekstual merupakan konsep belajar yang

membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi

dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan yang dimilikinya

dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari (Depdiknas

2002:1). Dengan konsep itu, hasil pembelajaran diharapkan dapat berlangsung

alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan transfer

pengetahuan dari guru ke siswa.Dalam konteks itu, siswa perlu mengerti apa

makna belajar, apa manfaatnya, dalam status apa mereka, dan bagaimana

mencapainya. Mereka sadar bahwa yang mereka pelajari berguna bagi

hidupnya nanti.

Inquiry merupakan salah satu komponen dalam pendekatan

kontekstual. Pada kegiatan inquiry siswa dilatih untuk menemukan sendiri

pengetahuan atau keterampilan yang ada bukan hasil mengingat seperangkat

fakta-fakta. Dipilihnya komponen inquiry dalam pembelajaran kontekstual

disebabkan pengetahuan atau keterampilan yang ditemukan sendiri oleh siswa

akan lebih bermakna dibandingkan dengan mengingat fakta-fakta yang hanya

bertahan dalam jangka pendek.

Pembelajaran dengan pendekatan kontekstual komponen inquiry

diharapkan dapat mengatasi kesulitan dalam membaca intensif teks profil

tokoh siswa SMPN 10 Semarang kelas VII B sehingga keterampilan membaca

intensif teks profil tokoh dapat meningkat.


1.2 Identifikasi Masalah

Keterampilan membaca intensif siswa kelas VII B SMPN 10

Semarang masih rendah. Hal ini disebabkan oleh dua faktor, yaitu faktor guru

dan faktor siswa.

Faktor dari guru yang menyebabkan siswa kurang mampu membaca

intensif teks profil tokoh adalah pendekatan dan teknik mengajar yang

digunakan oleh guru kurang menarik dan membosankan. Untuk memecahkan

masalah ini, guru harus mengubah metode pembelajaran yang selama ini

digunakan. Apabila selama ini guru sebagai sumber utama pengetahuan maka

untuk memperbaikinya siswa dilatih untuk menemukan sendiri pengetahuan

tersebut. Dengan demikian siswa dituntut untuk produktif. Untuk dapat

menarik perhatian siswa, guru harus mengubah teknik mengajarnya. Teknik

yang digunakan selama ini adalah teknik ceramah, maka guru harus

menggunakan teknik-teknik lain yang bervariasi. Salah satu teknik yang

digunakan dalam proses pembelajaran adalah teknik diskusi, dengan diskusi

siswa akan lebih aktif dalam mengikuti kegiatan pembelajaran.

Faktor siswa yang menyebabkan membaca intensif teks profil tokoh

rendah adalah siswa kurang berminat untuk membaca intensif teks profil

tokoh. Sebagian besar dari siswa beranggapan bahwa membaca intensif teks

profil tokoh kurang bermanfaat bagi mereka. Mereka cenderung menyukai

membaca legenda, dongeng, cerita anak, dan sejenisnya. Untuk mengubah

anggapan ini, seorang guru harus memberikan pengertian kepada siswa

tentang pentingnya membaca intensif teks profil tokoh.


1.3 Pembatasan Masalah

Pembatasan masalah dalam skripsi ini dipusatkan pada upaya

peningkatan keterampilan membaca intensif teks profil tokoh siswa kelas VII

B SMPN 10 Semarang dengan pendekatan kontekstual komponen inquiry.

1.4 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah disampaikan di atas

permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah berikut ini.

1. Bagaimanakah peningkatan keterampilan membaca intensif teks profil

tokoh dengan pendekatan kontekstual komponen inquiry pada siswa kelas

VII B SMPN 10 Semarang?

2. Bagaimanakah perubahan tingkah laku siswa kelas VII B SMPN 10

Semarang setelah mengikuti pembelajaran membaca intensif dengan

pendekatan kontekstual komponen inquiry?

1.5 Tujuan Penelitian

Tujuan yang akan dicapai dalam penelitian tindakan kelas ini

adalah berikut ini.

1. Mendeskripsikan peningkatan keterampilan membaca intensif teks profil

tokoh dengan pendekatan kontekstual komponen inquiry pada siswa kelas

VII B SMPN 10 Semarang.


2. Mendeskripsikan perubahan tingkah laku siswa kelas VII B SMPN 10

Semarang setelah mengikuti pembelajaran membaca intensif teks profil

tokoh dengan pendekatan kontekstual komponen inquiry.

1.6 Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoretis

Penelitian ini diharapkan bermanfaat untuk mengembangkan teori

pembelajaran sehingga dapat meningkatkan mutu pendidikan dan

mempertinggi interaksi belajar mengajar melalui pemberian komponen inquiry

pendekatan kontekstual. Dengan demikian, hasil belajar siswa, khususnya

pembelajaran bahasa aspek membaca, dapat ditingkatkan.

2. Manfaat Praktis

Manfaat praktis penelitian ini adalah bagi guru, siswa, dan peneliti.

Bagi guru, penelitian ini diharapkan bermanfaat untuk memperbaiki

metode pembelajaran membaca intensif teks profil tokoh dan dapat

mengembangkan keterampilan guru bahasa dan sastra Indonesia

khususnya dalam menerapkan pembelajaran pendekatan kontekstual

komponen inquiry, serta dapat menciptakan kegiatan belajar yang menarik

dan tidak membosankan.

Bagi siswa, penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan

keterampilan membaca intensif teks profil tokoh dan siswa mengetahui

beberapa tokoh-tokoh penting. Bagi peneliti lain, penelitian ini dapat

dijadikan dasar untuk membuat penelitian yang sejenis.


BAB II

KAJIAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORETIS

2.1 Tinjauan Pustaka

Penelitian tindakan kelas tentang membaca merupakan penelitian

yang menarik. Banyaknya penelitian tentang membaca dapat dijadikan salah

satu bukti bahwa membaca intensif, salah satunya membaca pemahaman di

sekolah-sekolah, sangat menarik untuk diteliti. Penelitian tentang membaca

intensif pernah dilakukan oleh Nuryani (1998). Sedangkan penelitian tentang

membaca pemahaman telah banyak dilakukan, antara lain oleh Partini

(1999), Handayani (2001), Rejeki (2001), Rohman (2001), Khosiah (2002),

Suryanto (2004) dan Stephanus (2004).

Nuryani (1998) dalam skripsinya Perbedaan Tingkat Pemahaman

Membaca Intensif Siswa yang Diberi Tes Awal (Pre Test) dengan Siswa yang

Tanpa Diberi Tes Awal (Pre Test) pada Siswa SMU 2 Ungaran Tahun Ajaran

1998/1999 mengkaji tentang tingkat pemahaman membaca intensif siswa

yang diberi tes awal (pre test) dengan siswa yang tak diberi tes awal (pre

test). Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini adalah adanya perbedaan

tingkat pemahaman siswa yang diberi tes awal (pre test) dengan siswa yang

tak diberi tes awal (pre test). Siswa yang tak diberi tes awal tingkat

pemahaman membaca intensifnya rendah. Hal ini terbukti dari 26,67 % dari

keseluruhan respondennya mempunyai nilai kurang (<6). Siswa yang diberi

tes awal tingkat pemahaman membaca intensifnya cukup tinggi. Hal ini

7
8

terlihat dari keseluruhan respondennya tidak ada yang mempunyai nilai

kurang (<6). Dengan demikian ada perbedaan antara tingkat pemahaman

antara siswa yang diberi tes awal (pre test) dengan siswa yang tak diberi tes

awal (pre test).

Partini (1999) dalam skripsinya Peningkatan Kemampuan

Membaca Pemahaman dengan Menggunakan Teknik SQ3R pada Siswa Kelas

I SLTP Negeri 1 Karanglewas mengkaji penggunaan teknik SQ3R yaitu

survey, question, read, recite dan review dalam pembelajaran membaca. Hasil

yang diperoleh adanya peningkatan kemampuan membaca pemahaman

dengan menggunakan teknik SQ3R. Hal ini dibuktikan dengan hasil pada

siklus 1 rata-rata 3,5 %, sedangkan pada siklus kedua hasil yang dicapai rata-

rata 4,06 %. Dengan demikian, ada peningkatan sebesar 0, 57 %.

Metode PQRST Sebagai Model Peningkatan Keterampilan

Membaca Pemahaman Siswa Kelas III Cawu 2 SLTP YPE Semarang Tahun

Ajaran 2000/2001 diteliti oleh Handayani (2001). Ia mengkaji penggunaan

metode PQRST dalam meningkatkan keterampilan membaca pemahaman.

Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini adalah dengan adanya metode

PQRST keterampilan membaca pemahaman siswa meningkat. Hal ini

dibuktikan dengan hasil siklus I dan siklus II. Pada siklus I daya serap siswa

mencapai 65 % sedangkan pada siklus II daya serap siswa 70 %. Dengan

demikian, terjadi peningkatan pemahaman siswa sebesar 11 %.

Rejeki (2001) dalam skripsinya Peningkatan Keterampilan

Membaca Pemahaman dengan Menggunakan Teknik Close pada Siswa Kelas


9

II SLTPN I Sukorejo Kendal mengkaji penggunaan teknik close, yaitu

pemberian latihan secara bertahap dari tahap paragraf dilanjutkan dengan

tahap wacana yang lebih luas. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini

adalah dengan teknik close adanya peningkatan keterampilan membaca

pemahaman. Hal ini dibuktikan dengan hasil siklus I rata-rata 72,22 %

sedangkan pada siklus II 76, 56 %. Dengan demikian, ada peningkatan

pemahaman siswa sebesar 4,34 %.

Rohman (2001) dalam skripsinya Peningkatan Keterampilan

Membaca Pemahaman dengan Teknik Skrambel pada Siswa Kelas II A SLTP

Negeri I Patean Kendal mengkaji tentang penggunaan teknik skrambel untuk

meningkatkan keterampilan membaca pemahaman siswa. Hasil yang

diperoleh dalam penelitian ini adalah adanya peningkatan keterampilan

membaca pemahaman. Hal ini dibuktikan dari tes awal ke tes akhir pada

siklus I ada kenaikan 6,48%, dari tes akhir siklus I ke tes akhir siklus II ada

kenaikan 8,37 %.

Peningkatan Keterampilan Membaca Pemahaman dengan Metode

Tugas pada Siswa Kelas II E Mts Al- Asror Gunung Pati Semarang diteliti

oleh Khosiah (2002). Ia mengkaji mengenai metode pemberian tugas yang

dapat membantu mempermudah daya serap memahami bacaan. Hasil yang

diperoleh adalah bahwa metode pemberian tugas sangat efektif untuk

meningkatkan keterampilan membaca pemahaman. Hal ini dibuktikan pada

siklus I daya serap siswa 66,77 % sedangkan pada siklus II daya serap

mencapai 77,34 %. Dengan demikian ada peningkatan daya serap dari siklus I

ke siklus II sebesar 10,57 %.


10

Suryanto (2004) dalam skripsinya Peningkatan Keterampilan

Membaca Pemahaman Melalui Media Komik pada Siswa Kelas V SD PL

Gunung Brintik Semarang Tahun Ajaran 2003/2004 mengkaji tentang

penggunaan media komik dalam meningkatkan keterampilan membaca

pemahaman. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini adalah dengan

menggunakan media komik dapat meningkatkan keterampilan membaca

pemahaman. Hal ini dibuktikan dari tes awal siklus I dan siklus II. Rata-rata

tes awal pada siklus I 6,43 sedangkan pada siklus II 7.71. Dengan demikian,

ada peningkatan sebesar 1,28.

Peningkatan Keterampilan Membaca Pemahaman Melalui Teknik

Latihan Berjenjang Siswa Kelas I SMP PL Bonifasio Tahun 2003/2004

diteliti oleh Stephanus (2004). Ia mengkaji tentang penggunaan teknik latihan

berjenjang untuk meningkatkan keterampilan membaca pemahaman. Hasil

yang diperoleh dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan teknik

latihan berjenjang dapat meningkatkan keterampilan membaca pemahaman

siswa. Hal ini dibuktikan dari hasil siklus I pemahamn siswa sebesar 67,76 %

sedangkan pada siklus II 71,32%. Dengan demikian, ada peningkatan sebesar

3,56%.

Berdasarkan tinjauan pustaka di atas peningkatan keterampilan

membaca intensif, termasuk di dalamnya membaca pemahaman telah

dilakukan dengan menggunakan metode SQ3R, teknik close, metode tanya

jawab, teknik skrambel, media komik dan teknik latihan berjenjang. Namun

penelitian mengenai membaca intensif teks profil tokoh dengan pendekatan


11

kontekstual belum pernah dilakukan sehingga kedudukan penelitian ini

sebagai pelengkap dari penelitian-penelitian sebelumnya.

Pada penelitian ini akan dikaji mengenai peningkatan membaca

intensif teks profil tokoh dan perubahan tingkah laku siswa kelas VII B

SMPN 10 Semarang terhadap pembelajaran membaca intensif setelah

mengikuti pembelajaran dengan pendekatan kontekstual komponen inquiry.

Pada penelitian ini guru akan melatih siswa untuk menemukan sendiri

(inquiry) informasi yang terdapat pada teks profil tokoh sehingga siswa dapat

membaca intensif teks profil tokoh dengan baik dan benar. Dengan demikian,

diharapkan keterampilan membaca intensif teks profil tokoh dan tingkah laku

siswa kelas VII B SMPN 10 Semarang meningkat.

2.2 Landasan Teoretis

2.2.1 Hakikat Membaca

Para ahli banyak yang memberikan pendapat tentang pengertian

membaca. Menurut Hodgson sebagaimana yang dikutip oleh Tarigan (1987:

7), membaca adalah proses yang dilakukan dan dipergunakan oleh pembaca

untuk memperoleh pesan yang hendak disampaikan oleh penulis melalui

media kata-kata atau bahasa tulis. Harjasujana dan Mulyati (1997: 4)

mengemukakan bahwa membaca merupakan kemampuan yang kompleks.

Membaca bukanlah kegiatan memandangi lambang-lambang tertulis semata-

mata. Bermacam-macam perlu dikerahkan agar seseorang pembaca dapat

memahami lambang-lambang yang dilihatnya menjadi lambang-lambang

yang bermakna.
12

Anderson dalam Tarigan (1987:7) mengemukakan bahwa

membaca adalah proses dekoding (decoding) artinya suatu kegiatan untuk

memecahkan lambang-lambang verbal. Proses dekoding atau pembacaan

sandi dapat diartikan pula sebagai proses menghubungkan kata-kata tulis

(written word) dengan bahasa lisan (oral language meaning) yang mencakup

pengubahan tulisan menjadi bunyi yang bermakna.

Sementara itu, Finochiaro dan Bonomo (dalam Tarigan 1987:8)

berpendapat bahwa membaca adalah memetik serta memahami arti atau

makna yang terkandung di dalam bahasa tulis (Tarigan 1987:8). Batasan yang

diberikan oleh Finochario dan Bonomo tampaknya kurang tepat untuk

kegiatan membaca tingkat anak SMP ke atas karena membaca bagi mereka

tidak hanya memahami informasi yang tersurat saja, tetapi juga yang tersirat.

Dari beberapa definisi membaca di atas dapat disimpulkan bahwa

membaca adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh seseorang atau pembaca

untuk memperoleh pesan atau informasi melalui media tulis.

2.2.2 Tujuan Membaca

Tujuan utama dalam membaca adalah untuk mencari serta

memperoleh informasi, mencakup isi dan memahami makna bacaan.

Anderson (dalam Tarigan 1987: 9) mengemukakan beberapa tujuan membaca

yaitu :

a. Membaca untuk menemukan atau mengetahui penemuan-penemuan yang

telah dilakukan oleh sang tokoh; apa yang telah terjadi pada tokoh

khusus, atau untuk memecahkan masalah-masalah yang dibuat oleh sang


13

tokoh. Membaca seperti ini disebut membaca untuk memperoleh

perincian-perincian atau fakta-fakta (reading for details or facts).

b. Membaca untuk mengetahui mengapa hal itu merupakan topik yang baik

dan menarik, masalah yang terdapat dalam cerita, apa-apa yang dipelajari

atau yang dialami sang tokoh, dan merangkumkan hal-hal yang

dilakukan oleh sang tokoh untuk mencapai tujuannya. Membaca seperti

ini disebut membaca untuk memperoleh ide-ide utama (reading for main

ideas).

c. Membaca untuk menemukan atau mengetahui apa yang terjadi pada

setiap bagian cerita, apa yang terjadi mula-mula pertama, kedua, dan

ketiga atau seterusnya. Setiap tahap dibuat untuk memecahkan suatu

masalah, adegan-adegan dan kejadian, kejadian buat dramatisasi. Ini

disebut membaca umtuk mengetahui urutan atau susunan organisasi

cerita (reading for sequence or organization).

d. Membaca untuk menemukan serta mengetahui mengapa para tokoh

merasakan seperti cara mereka itu, apa yang hendak diperlihatkan oleh

sang pengarang kepada pembaca, mengapa para tokoh berubah, kualitas-

kualitas yang dimiliki para tokoh yang membuat mereka berhasil atau

gagal. Ini disebut membaca untuk menyimpulkan, membaca inferensi

(reading for inference).

e. Membaca untuk menemukan serta mengetahui apa-apa yang tidak biasa,

tidak wajar mengenai seseorang tokoh, apa yang lucu dalam cerita, atau

apakah cerita itu benar atau tidak benar. Ini disebut membaca untuk
14

mengelompokkan, membaca untuk mengklasifikasikan (reading to

classify).

f. Membaca untuk menemukan apakah sang tokoh berhasil atau hidup

dengan ukuran-ukuran tertentu, apakah ingin berbuat seperti yang

diperbuat sang tokoh, atau bekerja seperti cara sang tokoh bekerja dalam

cerita itu. Ini disebut membaca menilai, membaca mengevaluasi (reading

to evaluate).

g. Membaca untuk menemukan bagaimana caranya sang tokoh berubah,

bagaimana hidupnya berbeda dari kehidupan yang kita kenal, bagaimana

dua cerita mempunyai persamaan, bagaimana sang tokoh menyerupai

pembaca. Ini disebut membaca untuk memperbandingkan atau

mempertentangkan (reading to compare or contrast).

Nurhadi (2004:14) mengemukakan bermacam-macam variasi tujuan

membaca yaitu:

1. Membaca untuk tujuan studi (telaah ilmiah)

2. Membaca untuk menangkap garis besar bacaan.

3. Membaca untuk tujuan menangkap garis besar bacaan.

4. Membaca untuk menikmati karya sastra.

5. Membaca untuk mengisi waktu luang.

6. Membaca untuk mencari keterangan tentang suatu istilah.

Dari beberapa tujuan membaca di atas dapat disimpulkan bahwa

tujuan membaca adalah untuk menemukan informasi yang terdapat pada

sebuah teks bacaan.


15

2.2.3 Jenis-jenis Membaca

Kegiatan membaca sebagai suatu keterampilan dapat dibedakan

menjadi beberapa jenis. Penjenisan yang didasarkan pada perbedaan tujuan

yang hendak dicapai dikemukakan oleh Tarigan (1987: 12-13). Tarigan

membedakan kegiatan membaca ke dalam jenis membaca bersuara atau

membaca nyaring (oral reading atau reading aloud) dan membaca dalam

hati (silent reading). Membaca bersuara atau membaca nyaring dipandang

tepat untuk mencapai tujuan yang terkandung dalam keterampilan mekanis

seperti pengenalan bentuk huruf dan unsur-unsur linguistik, sedangkan untuk

mencapai tujuan yang bersifat pemahaman maka yang paling tepat adalah

membaca dalam hati.

Membaca nyaring adalah suatu aktivitas yang merupakan alat bagi

guru, murid, atau pun pembaca bersama-sama dengan orang lain atu

pendengar untuk menangkap serta memahami informasi, pikiran dan perasaan

seorang pengarang. Sedangkan Membaca dalam hati hanya mempergunakan

ingatan visual (visual memory) yang melibatkan pengaktifan mata dan

ingatan. Dalam garis besarnya, membaca dalam hati dibagi atas membaca

ekstensif dan intensif.

Membaca ekstensif adalah membaca secara luas. Objeknya

meliputi sebanyak mungkin dalam waktu yang sesingkat mungkin (Tarigan

1987: 31). Membaca ekstensif meliputi membaca survei (survey reading),

membaca sekilas (skimming reading) dan membaca dangkal (superficial

reading).
16

Membaca intensif adalah studi seksama, telaah teliti, dan

penanganan terperinci yang dilaksanakan di dalam kelas terhadap suatu tugas

yang pendek kira-kira sampai empat halaman setiap hari (Tarigan 1987: 35).

Membaca intensif terbagi menjadi membaca telaah isi (content study reading)

dan membaca telaah bahasa.

Membaca telaah isi dibagi menjadi membaca teliti, membaca

pemahaman, membaca kritis, dan membaca ide. Sedangkan membaca telaah

bahasa meliputi kegiatan membaca bahasa dan membaca sastra.

Berdasarkan atas pembagian Tarigan tersebut dapat disimpulkan

bahwa membaca intensif meliputi membaca telaah isi dan telaah bahasa.

2.2.4 Hakikat Membaca Intensif

Membaca intensif merupakan salah satu bagian dari jenis-jenis

membaca yang didasarkan pada perbedaan tujuan yang hendak dicapai.

Membaca intensif adalah membaca dengan teliti, hati-hati agak lambat

terhadap suatu bahan bacaan dengan memahami isi bacaan secara cermat dan

tepat sampai ke relung-relungnya. Dalam prakteknya, membaca intensif

dilakukan di dalam hati hasilnya diungkapkan secara tertulis atau lisan.

Sedangkan Burhan (dalam Nuryani 1998:13) mengemukakan bahwa

membaca intensif adalah perbuatan membaca yang dijalankan dengan hati-

hati serta teliti dan membacanya lambat.

Dalam membaca intensif pendalaman sangatlah diutamakan karena

pembaca menelaah isi dan bahasa. Menurut Tarigan (1987: 36) tujuan

membaca intensif adalah untuk memperoleh sukses dalam pemahaman penuh


17

terhadap argumen-argumen yang logis, urut-urutannya retoris atau pola-pola

teks, pola-pola simbolisnya, nada-nada tambahan yang bersifat emosional dan

sosial, pola-pola sikap dan tujuan sang pengarang, dan juga saran-saran

linguistik yang dipergunakan untuk mencapai tujuan. Burhan (dalam Nuryani

1998:14) mengemukakan bahwa tujuan membaca intensif adalah memahami

keseluruhan bacaan sampai pada bagian yang sekecil-kecilnya.

Menurut Suyatmi dan Mujiyanto (dalam Nuryani 1998:14)

mengemukakan tujuan membaca sebagai berikut.

a. Membaca untuk mendapatkan ilmu

b. Membaca untuk mendapatkan pengetahuan tertentu

c. Membaca untuk mendapatkan hiburan

d. Membaca untuk mendapatkan pengalaman hidup yang berharga

e. Membaca untuk mendapatkan hal-hal yang baru, baik yang ada di dalam

negeri maupun manca negara

f. Membaca untuk mengetahui perkembangan zaman

g. Membaca untuk mendapatkan ketenangan batin

h. Membaca untuk mendapatkan pemecahan problema atau soal-soal yang

sulit baginya.

Secara sederhana dapat disimpulkan bahwa tujuan membaca

intensif pada umumnya untuk mendapatkan suatu pemahaman yang

mendalam serta terperinci terhadap suatu teks bacaan.


18

2.2.5 Teks Profil Tokoh

Tokoh adalah individu yang mengalami peristiwa atau berlakuan di

dalam berbagai peristiwa (Sudjiman dalam Kristin 2003:9). Tokoh juga

merupakan orang-orang yang ditampilkan dalam suatu karya naratif atau

drama yang oleh pembaca ditafsirkan memiliki kualitas moral dan

kecenderungan tertentu seperti yang diekspresikan dalam ucapan dan apa

yang dilakukan dalam tindakan.

Teks profil tokoh adalah teks yang di dalamnya memuat tentang

kehidupan tokoh mulai dari identitas tokoh, keluarga tokoh, riwayat

pendidikan, pekerjaan, prestasi bahkan hobi tokoh juga diulas.

Teks profil tokoh merupakan salah satu teks bacaan yang sangat

penting. Hal ini dikarenakan dengan membaca teks profil tokoh dapat

mengetahui secara mendalam seluk-beluk seorang tokoh. Paparan tentang

profil tokoh dapat ditemukan di berbagai media tulis baik di koran, tabloid,

majalah maupun buku.

Secara garis besar ada beberapa tujuan membaca teks profil tokoh.

Pertama, untuk mencari hal-hal yang menarik dan mengesankan dari

perjalanan hidup seorang tokoh. Kedua, mencari hal-hal yang dapat

diteladani untuk kehidupan sendiri. Ketiga, mengungkapkan hal-hal yang

disukai pada diri tokoh. Keempat, mencari keistimewaan tokoh. Kelima,

mencari inti sari riwayat tokoh. Adapula pembaca yang membaca teks profil

tokoh hanya untuk mengisi waktu luang (Depdiknas 2004: 15).


19

2.2.6 Pendekatan Kontekstual

Pendekatan kontekstual ( Contextual teaching and learning (CTL) )

merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi

yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa

membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan

penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan

masyarakat (Nurhadi dan Gerrad 2003: 4). Dengan konsep itu, hasil

pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan

mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa. Strategi

pembelajaran lebih dipentingkan daripada hasil.

Dalam kelas kontestual, tugas guru adalah membantu siswa

mencapai tujuannya. Guru lebih banyak berurusan dengan strategi

pembelajaran daripada memberi informasi. Tugas guru cenderung mengelola

kelas menjadi sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan sesuatu

yang baru bagi anggota kelas (siswa) (Depdiknas 2002:5). Sesuatu yang baru

baik pengetahuan maupun keterampilan datang dari ‘menemukan sendiri’

bukan dari apa kata guru.

Kontekstual merupakan sebuah strategi pembelajaran yang

dikembangkan dengan tujuan agar pembelajaran lebih produktif dan

bermakna. Pendekatan kontekstual dapat diterapkan dalam kurikulum apa

saja, bidang studi apa saja, dan kelas yang bagaimanapun keadaannya.

Pendekatan kontekstual menjadi pilihan karena sejauh ini

pendidikan kita masih didominasi oleh pandangan bahwa pengetahuan


20

sebagai perangkat fakta-fakta yang harus dihafal. Kelas masih berfokos pada

guru sebagai sumber pengetahuan, kemudian ceramah menjadi pilihan utama

strategi belajar. Untuk itu, diperlukan sebuah strategi belajar ‘baru’ yang

lebih memberdayakan siswa. Sebuah strategi belajar yang tidak

mengharuskan siswa menghafal fakta-fakta, tetapi sebuah strategi yang

mendorong siswa mengkonstruksi pengetahuan di benak mereka sendiri.

Pendekatan kontekstual memiliki tujuh komponen utama yang

mendasari pembelajaran di kelas. Ketujuh komponen itu adalah

konstruktivisme (constructivism), bertanya (questioning), menemukan

(inquiry), masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modeling),

refleksi (reflection), dan penilaian sebenarnya (aunthentic assesment)

(Depdiknas 2002: 10).

2.2.7 Komponen Inquiry

Inquiry (menemukan) merupakan bagian inti dari kegiatan

pembelajaran berbasis kontekstual. Pengetahuan dan keterampilan diharapkan

bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil dari menemukan

sendiri (Depdiknas 2002:12).

Inquiry pada dasarnya adalah cara menyadari apa yang telah

dialami. Oleh karena itu, inquiry menuntut peserta didik berpikir. Metode ini

menuntut peserta didik memproses pengalaman belajar menjadi sesuatu yang

bermakna dalam kehidupan nyata. Dengan demikian, melalui komponen

inquiry peserta didik dibiasakan untuk produktif, analitis, dan kritis.


21

Inquiry mempunyai lima siklus, yaitu observasi (observation),

bertanya (questioning), mengajukan dugaan (hiphotesis), pengumpulan data

(data gathering), dan penyimpulan (conclussion) (Depdiknas 2002: 12).

Langkah-langkah dalam kegiatan inquiry adalah (1) merumuskan

masalah, (2) mengamati atau melakukan observasi, (3) menganalisis dan

manyajikan hasil dalam tulisan, gambar, laporan, tabel dan karya lainnya, (4)

mengkomunikasikan hasil karya pada pembaca, teman sekelas, atau audiens

yang lain (Nurhadi dan Gerrad 2003: 44).

Sedangkan, Mulyasa (2002: 235) mengemukakan langkah-langkah

dalam proses inquiry sebagai berikut.

a. Menyadarkan peserta didik bahwa mereka memiliki keinginan terhadap

sesuatu.

b. Mempradugakan suatu jawaban atau penyelesaian tentatif (hipotesis).

c. Mentes jawaban tentatif (hipotesis) berdasarkan data dan teori.

d. Menarik kesimpulan dan membuat keputusan yang valid untuk menjawab

permasalahan yang didukung oleh bukti-bukti.

e. Menggunakan kesimpulan untuk menganalisis data yang baru. Kesimpulan

tersebut diperlakukan sebagai hipotesis yang baru untuk dibuktikan lebih

lanjut.

Ada beberapa strategi pelaksanaan inquiry salah satunya yang

dikemukakan Mulyasa (2002: 235-236) berikut ini.

a. Guru memberikan penjelasan, instruksi, atau pertanyaan terhadap materi

yang diajarkan. Sebelum memulai pelajaran guru harus memahami sejauh


22

mana peserta didik memiliki persepsi terhadap materi tersebut, kemudian

guru dan peserta didik secara bersama-sama membandingkan persepsi

mereka dengan berbagai pendapat para ahli atau berdasarkan teori-teori

yang ada.

b. Guru memberikan tugas kepada peserta didik untuk membaca atau

menjawab pertanyaan serta pekerjaan rumah.

c. Guru memberikan penjelasan terhadap persoalan-persoalan yang mungkin

membingungkan peserta didik.

d. Resitasi untuk menanamkan fakta-fakta dasar yang telah mereka pelajari

agar dapat dipahami sehingga guru dapat diyakinkan bahwa mereka telah

memahami materi yang telah dipelajari.

e. Guru memberikan penjelasan informasi sebagai pelengkap dan ilustrasi

terhadap data yang disajikan.

f. Siswa mendiskusikan aplikasi dan makna sesuai dengan informasi

tersebut.

g. Siswa merangkum dalam bentuk rumusan sebagi kesimpulan yang dapat

dipertanggungjawabkan.

Sasaran akhir dari komponen inquiry adalah peserta didik mampu

merumuskan kesimpulan dengan kata-kata sendiri terhadap fenomena, fakta

tentang kehidupan manusia. Keberhasilan komponen ini sangat didukung oleh

metode pembelajaran yang lain yang digunakan secara bervariasi seperti

ceramah, tanya jawab, diskusi, pemberian tugas, wawancara, pengamatan dan

belajar sendiri.
23

2.2.8 Pembelajaran Kontekstual dengan Komponen Inquiry

Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning)

adalah konsep belajar di mana guru menghadirkan dunia nyata ke dalam kelas

dan mendorong siswa membuat hubungan antarpengetahuan yang dimilikinya

dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari; sementara siswa

memperoleh pengetahuan dan keterampilan dari konteks yang terbatas,

sedikit demi sedikit, dan dari proses mengkonstruksi sendiri, sebagai bekal

untuk memecahkan masalah dalam kehidupannya sebagai anggota

masyarakat (Nurhadi dan Gerrad 2003: 13).

Inquiry merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran berbasis

kontekstual. Kata kunci dari strategi inquiry adalah 'siswa menemukan

sendiri'. Pengetahuan atau keterampilan siswa diharapkan bukan hasil

mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri.

Inquiry mempunyai lima siklus yaitu observasi (observation),

bertanya (questioning), mengajukan dugaan (hiphotesis), pengumpulan data

(data gathering), dan penyimpulan (conclussion) (Depdiknas 2002: 12).

Dalam pembelajaran kontekstual komponen inquiry kegiatan

berpusat kepada siswa, namun guru tetap memegang peranan penting dalam

membuat desain pembelajaran pengalaman belajar. Guru harus selalu

merancang kegiatan menemukan, apapun materi yang diajarkannya.

Sedangkan bagi siswa, inquiry merupakan kegiatan yang melatih mereka

untuk aktif dalam menemukan sendiri pengetahuaan atau keterampilan baru.


24

Inquiry pada dasarnya menggiring siswa untuk menyadari apa yang

telah didapatkan selama belajar. Inquiry menuntut siswa untuk memproses

pengalaman belajar menjadi sesuatu yang bermakna dalam kehidupan nyata.

Dengan penggunaan komponen inquiry pada pembelajaran kontekstual

diharapkan dapat menciptakan iklim yang kondusif dan menyenangkan ketika

proses pembelajaran berlangsung, sehingga mendorong siswa untuk aktif

dalam mengikuti pembelajaran.

2.3 Kerangka Berpikir

Keterampilan membaca intensif teks profil tokoh siswa kelas VII B

SMPN 10 Semarang belum memuaskan. Hal ini disebabkan oleh dua faktor,

yaitu faktor guru dan faktor siswa. Salah satu faktor dari guru yang

menyebabkan keterampilan membaca intensif teks profil tokoh siswa masih

rendah adalah strategi pembelajaran yang digunakan oleh guru. Selama ini

pembelajaran intensif teks profil tokoh yang dilakukan guru masih dengan

strategi ceramah. Hal ini menyebabkan siswa pasif, artinya siswa hanya

mentransfer dari guru sehingga siswa cenderung hanya mengingat atau

menghafal.

Keterampilan membaca intensif teks profil tokoh siswa kelas VII B

SMPN 10 Semarang akan mengalami peningkatan apabila pembelajaran

keterampilan membaca intensif teks profil tokoh menggunakan pendekatan

kontekstual komponen inquiry. Pada pembelajaran tersebut siswa diminta

untuk membaca secara intensif teks profil tokoh dan menemukan riwayat
25

hidup tokoh , keistimewaan tokoh dan mencatat hal-hal yang bermanfaat dari

teks tersebut dengan melakukan lima siklus pada inquiry yaitu observasi,

bertanya, hipotesis, pengumpulan data dan penyimpulan data. Untuk lebih

mengaitkan dunia nyata siswa dipilih teks yang berkaitan dengan kehidupan

siswa. Penggunaan komponen inquiry dalam pembelajaran membaca intensif

teks profil tokoh membantu siswa memahami seluk beluk tokoh secara lebih

mendalam. Dengan demikian, pembelajaran keterampilan membaca intensif

teks profil tokoh dengan pendekatan kontekstual komponen inquiry dapat

meningkatkan keterampilan membaca intensif teks profil tokoh, karena siswa

dapat menemukan sendiri informasi yang terdapat pada teks profil tokoh.

2.4 Hipotesis Tindakan

Hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah dengan

digunakannya komponen inquiry dalam pembelajaran kontekstual,

keterampilan siswa dalam membaca intensif teks profil tokoh dapat

meningkat dan tingkah laku siswa SMPN 10 Semarang kelas VII B berubah

menjadi positif.
BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Desain Penelitian

Penelitian ini menggunakan prosedur tindakan kelas. Secara singkat,

penelitian tindakan kelas dapat didefinisikan sebagai suatu bentuk kajian yang

bersifat refleksi oleh pelaku tindakan, yang dilaksanakan untuk meningkatkan

kemampuan rasional dari tindakan-tindakan yang dilakukan serta memperbaiki

kondisi di mana praktek-praktek pembelajaran tersebut dilakukan. Untuk

mewujudkan tujuan-tujuan, penelitian tindakan kelas dilaksanakan melalui 2

siklus. Setiap siklusnya ada empat tahap yaitu perencanaan, tindakan, observasi

dan refleksi.

Berikut ini adalah gambar penelitian yang ditempuh peneliti.

P RP

R Siklus I T R Siklus II T

O O

Keterangan:

P : Perencanaan

T : Tindakan

O : Observasi

R : Refleksi

RP : Revisi Perencanaan

26
27

Siklus I

Pelaksanaan pada siklus I meliputi perencanaan, tindakan, observasi dan

refleksi.

1. Perencanaan

Tahap perencanaan ini berupa rencana kegiatan menentukan langkah-

langkah yang akan dilakukan peneliti untuk memecahkan masalah. Langkah ini

merupakan upaya memperbaiki kelemahan dalam proses pembelajaran membaca

intensif teks profil tokoh selama ini. Rencana kegiatan yang akan dilakukan

adalah (1) menyusun rencana pembelajaran membaca intensif teks profil tokoh,

(2) membuat dan menyiapkan instrumen penelitian berupa lembar observasi,

lembar wawancara, lembar jurnal dan dokumentasi foto untuk memperoleh data

nontes, (3) menyiapkan perangkat tes membaca intensif teks profil tokoh, (4)

kolaborasi dengan guru pamong untuk mengonsultasikan rencana pembelajaran

dan kolaborasi dengan teman ketika melakukan observasi.

2. Tindakan

Tindakan adalah perbuatan yang dilakukan oleh guru sebagai upaya

perbaikan. Peningkatan atau perubahan sebagai solusi.

Tindakan yang dilakukan peneliti dalam meneliti proses pembelajaran

membaca intensif teks profil tokoh pada siklus I ini sesuai dengan perencanaan

yang telah disusun. Tindakan yang akan dilakukan peneliti secara garis besar ialah

melaksanakan proses pembelajaran kontekstual komponen inquiry, tindakan ini

dilaksanakan dalam tiga tahap yaitu tahap pendahuluan, tahap kegiatan inti, dan

tahap penutup.
28

Tahap pendahuluan dimulai dari apersepsi yaitu tahap mengkondisikan

siswa untuk siap melaksanakan proses belajar. Misalnya guru menyapa siswa,

menanyakan keadaan siswa. Kemudian guru bertanya kepada siswa tentang teks

profil tokoh. Guru juga menanyakan kepada siswa pernahkah mereka membaca

intensif teks profil tokoh ADI AFI. Selanjutnya guru memotivasi siswa untuk

tertarik terhadap materi yang diajarkan.

Tahap kegiatan inti adalah tahap melaksanakan pembelajaran membaca

intensif teks profil tokoh. Pada tahap ini guru membagikan teks profil tokoh

kepada siswa. Siswa diminta untuk melakukan lima langkah dalam inquiry yaitu

observasi, bertanya, hipotesis, pengumpulan data dan penyimpulan data untuk

menemukan riwayat hidup tokoh, menyebutkan keistimewaan tokoh dan mencatat

hal-hal yang bermanfaat dari teks profil tokoh yang telah dibagikan. Guru

memberikan kesempatan kepada siswa untuk mempresentasikan hasil temuannya.

Siswa lain menanggapi siswa yang tampil. Guru memberikan penguatan atas

jawaban siswa dan memberi penghargaan kepada siswa yang tampil berupa

medali dari kertas. Untuk mengetahui keterampilan membaca intensif teks profil

tokoh siswa, guru menyiapkan soal tes mengenai pembelajaran hari itu.

Pada tahap penutup guru bersama siswa menyimpulkan dan merefleksi

kegiatan pembelajaran hari itu.

3. Observasi

Observasi dalam penelitian ini menggunakan data tes dan nontes. Data tes

berupa tes keterampilan membaca intensif teks profil tokoh sedangkan data nontes

berupa pedoman observasi, jurnal siswa dan guru, pedoman wawancara serta
29

dokumentasi foto. Observasi, dokumentasi foto dan jurnal guru dilaksanakan

selama proses pembelajaran berlangsung sedangkan jurnal siswa dan wawancara

dilaksanakan setelah pembelajaran membaca intensif teks profil tokoh.

4. Refleksi

Pada tahap ini, peneliti menganalisis hasil tes dan nontes siklus I. jika hasil

tes siklus I belum memuaskan akan dilakukan tindakan siklus II. Masalah-

masalah yang timbul pada siklus I akan dicarikan solusinya sedangkan kelebihan-

kelebihannya akan dipertahankan dan ditingkatkan.

Siklus II

Proses penelitian tindakan kelas siklus II merupakan tindak lanjut dari

hasil siklus I. Siklus II terdiri atas 4 tahap yaitu revisi perencanaan, tindakan,

observasi dan refleksi.

1. Revisi perencanaan

Perencanaan pada siklus II berdasarkan temuan hasil siklus I. Adapun

perencanaan yang akan dilakukan adalah (1) membuat perbaikan rencana

pembelajaran membaca intensif teks profil tokoh menggunakan pendekatan

kontekstual komponen inquiry. Pada siklus I siswa diminta untuk menemukan

sendiri riwayat hidup tokoh, keistimewaan tokoh dan mencatat hal-hal yang

bermanfaat dari teks tersebut secara individu sedangkan pada siklus II siswa

diminta untuk menemukan sendiri riwayat hidup tokoh, keistimewaan tokoh dan

mencatat hal-hal yang bermanfaat dari teks tersebut secara individu tetapi pada

saat penyimpulan data dilaksanakan secara berkelompok, (2) menyiapkan lembar

wawancara, lembar observasi, lembar jurnal dan dokumentasi foto untuk


30

memperoleh data nontes siklus II, (3) menyiapkan perangkat tes teks profil tokoh

yang akan digunakan dalam evaluasi hasil belajar siklus II, (4) meningkatkan

kolaborasi dengan guru pamong serta teman untuk merencanakan pembelajaran

selanjutnya.

2. Tindakan

Tindakan-tindakan yang dilakukan pada penelitian ini meliputi

pendahuluan, kegiatan inti dan penutup. Pada siklus II terdapat perubahan teks

bacaan dan metode pembelajaran yang digunakan oleh guru.

Pada tahap pendahuluan guru memberikan apersepsi, kemudian guru

memberikan umpan balik terhadap pembelajaran yang lalu. Guru juga

mengemukakan tujuan pembelajaran hari itu.

Tahap kegiatan inti guru memberikan teks profil tokoh kepada siswa.

Kemudian siswa diminta untuk melakukan langkah-langkah inquiry yaitu

observasi, bertanya, hipotesis, dan pengumpulan data menemukan riwayat hidup

tokoh, menyebutkan keistimewaan tokoh serta mencatat hal-hal yang bermanfaat

bagi siswa. Selanjutnya siswa diminta untuk berkelompok. Siswa diminta untuk

Menyimpulkan data yang diperoleh dengan berdiskusi sehingga masing-masing

anggota kelompok dapat bertukar pikiran nmengenai jawaban yang telah

ditemukan. Wakil tiap kelompok mempresentasikan hasil diskusinya. Guru

memberikan penguatan mengenai jawaban dari tiap kelompok yang tampil. Siswa

yang tampil dalam mewakili kelompoknya diberi penghargaan berupa medali.

Untuk mengetahui keterampilan membaca intensif teks profil tokoh siswa diminta

untuk mengerjakan soal tes yang telah disiapkan oleh guru.


31

3. Observasi

Observasi pada siklus II bentuknya sama dengan observasi pada siklus I.

Observasi pada siklus II ini dilihat dari data tes dan nontes. Data tes berupa tes

keterampilan membaca intensif teks profil tokoh sedangkan data nontes diperoleh

dengan menggunakan pedoman observasi, jurnal siswa dan guru, pedoman

wawancara serta dokumentasi foto. Pada siklus II ini guru menggunakan metode

diskusi, sehingga perilaku siswa saat berdiskusi juga mendapatkan pengamatan

dari guru.

4. Refleksi

Refleksi pada siklus II ini untuk merefleksi hasil evaluasi belajar siswa

siklus I, untuk menentukan kemajuan-kemajuan yang telah dicapai selama proses

pembelajaran, dan untuk mencari kelemahan-kelemahan yang masih muncul

dalam pembelajaran.

3.2. Subjek Penelitian

Subjek penelitian ini adalah keterampilan membaca intensif siswa SMPN

10 Semarang kelas VII B. Kelas VII B tersebut terdiri atas 40 siswa yaitu 23 laki-

laki dan 17 perempuan. Peneliti mengambil subjek tersebut dengan alasan sebagai

berikut.

1. berdasarkan hasil observasi keterampilan membaca intensif teks profil tokoh

kelas VII B masih rendah dibandingkan dengan kelas VII A, VII C, VII D,

VII E dan VII F. Kurang terampilnya membaca intensif teks profil tokoh

siswa disebabkan karena siswa cenderung membaca sekilas tidak secara

intensif sehingga pemahaman yang didapatkan kurang maksimal. Sehingga

siswa kurang mampu dalam menyarikan riwayat hidup tokoh yang dibacanya.

Rendahnya keterampilan membaca intensif teks profil tokoh siswa kelas VII B
32

juga terlihat dari ketidakmampuan siswa dalam menjawab pertanyaan

berkaitan dengan teks profil tokoh. Oleh karena itu, diperlukan pembelajaran

yang dapat meningkatkan keterampilan membaca intensif teks profil.

Pembelajaran dengan pendekatan kontekstual diharapkan dapat meningkatkan

keterampilan tersebut.

2. peneliti bekerjasama dengan guru mata pelajaran Bahasa dan sastra Indonesia

yang mengajar di kelas tersebut.

3. kehadiran peneliti tidak mempengaruhi perilaku siswa karena siswa SMPN 10

Semarang sudah terbiasa mendapat pengawasan oleh staf pengajar yang

bersangkutan untuk menjaga stabilitas proses belajar mengajar yang sedang

berlangsung.

3.3. Variabel Penelitian

Variabel yang diungkap dalam penelitian ini adalah keterampilan

membaca intensif teks profil tokoh dan penggunaan pendekatan kontekstual

komponen inquiry.

3.3.1 Variabel Keterampilan Membaca Intensif Teks Profil Tokoh

Variabel keterampilan membaca intensif teks profil tokoh merupakan

keterampilan siswa dalam membaca intensif teks profil tokoh, yaitu membaca

dengan teliti, hati-hati, dengan waktu relatif lama terhadap suatu teks profil tokoh

untuk mendapatkan pemahaman yang cermat dan tepat sampai ke relung-

relungnya. Target keterampilan yang diharapkan adalah siswa terampil membaca

intensif teks profil tokoh dengan mampu menyarikan riwayat tokoh dan

menyebutkan kelebihan tokoh yang terdapat pada teks yang telah dibacanya serta
33

mampu mencatat hal-hal yang bermanfaat bagi siswa. Dalam penelitian tindakan

kelas ini, siswa dikatakan berhasil dalam pembelajaran membaca intensif teks

profil tokoh apabila mencapai nilai ketuntasan belajar klasikal sebesar tujuh puluh

dan meneladani sikap dari tokoh yang terdapat pada teks profil tokoh.

3.3.2 Variabel Penggunaan Pendekatan Kontekstual Komponen Inquiry

Variabel pendekatan kontekstual komponen inquiry adalah pembelajaran

membaca intensif teks profil tokoh menggunakan pendekatan kontekstual

komponen inquiry. Pendekatan kontekstual adalah pembelajaran yang membantu

guru untuk mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia

nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengatahuan yang

dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Inquiry adalah

salah satu komponen yang terdapat pada pendekatan kontekstual yang melatih

siswa untuk menemukan sendiri informasi atau keterampilan bukan hasil

mengingat seperangkat fakta-fakta. Inquiry mempunyai lima siklus yaitu

observasi, bertanya, hipotesis, pengumpulan data dan penyimpulan data.

Pendekatan kontekstual komponen inquiry adalh pendekatan yang melatih siswa

untuk menemukan sendiri pengetahuan atau keterampilan dan mendorong siswa

untuk membuat hubungan antara pengetahuan yang telah ditemukan dengan

menerapkan dalam kehidupan sehari-hari.


34

3.4. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian yang digunakan untuk pengumpulan data dalam

penelitian tindakan kelas ini berupa soal tes dan soal nontes. Soal tes digunakan

untuk mengungkap data tentang keterampilan membaca intensif teks profil tokoh.

Soal nontes yaitu lembar observasi, lembar jurnal, dan lembar wawancara,

dokumentasi foto digunakan untuk mengungkap perubahan tingkah laku siswa.

3.4.1 Instrumen Tes

Tes yang digunakan keterampilan membaca intensif pada siswa kelas VII

B SMPN 10 Semarang menggunakan teks profil tokoh. Teks tersebut digunakan

pada pembelajaran membaca intensif, pre test, tes akhir siklus I dan tes akhir

siklus II. Setiap tes baik pada pre test, siklus I maupun pada siklus II digunakan

teks profil tokoh yang berbeda-beda. Teks profil tokoh yang digunakan adalah

teks bacaan yang disesuaikan minat dan usia siswa SMP. Bentuk soal berupa

uraian yang berjumlah 3 nomor. Tiap nomor bernilai 10 skor. Nilai akhir

membaca intensif teks profil tokoh adalah jumlah skor dibagi tiga dikali 10.

Tabel 1 Aspek dan skor Penilaian

Aspek Penilaian Skor Maksimal

Menyarikan riwayat hidup tokoh 10


Menyimpulkan keistimewaan tokoh 10
Mencatat hal-hal yang bermanfaat bagi 10
siswa
35

Tabel 2 Aspek dan Kriteria Penilaian

Aspek Kategori Skor Kriteria Penilaian

Penilaian Skor

Menyarikan Sangat Baik 8-10 Menyebutkan identitas


riwayat hidup tokoh mulai dari nama
tokoh lengkap, tempat
tanggal lahir,
pekerjaan, status,
keluarga, riwayat
pendidikan, prestasi
dan kehidupan tokoh.
Baik 5-7 Menyebutkan identitas
tokoh mulai dari nama
lengkap, tempat
tanggal lahir,
pekerjaan, status,
keluarga, riwayat
pendidikan.
Cukup 2-4 Menyebutkan identitas
tokoh mulai dari nama
lengkap, tempat
tanggal lahir,
pekerjaan, status,
keluarga.
Kurang 0-1 Menyebutkan identitas
tokoh mulai dari nama
lengkap, tempat
tanggal lahir.
36

Menyimpulkan Sangat Baik 8-10 Menyebutkan


keistimewaan keistimewaan tokoh
tokoh secara lengkap dan
benar.
Baik 5-7 Menyebutkan
keistimewaan tokoh
secara tidak lengkap
tetapi benar.
Cukup 2-4 Menyebutkan
keistimewaan tokoh
secara lengkap tetapi
kurang benar.
Kurang 0-1 Menyebutkan
keistimewaan tokoh
tidak lengkap dan
tidak benar.

Mencatat hal-hal Sangat Baik 8-10 Mencatat hal-hal yang


yang bermanfaat bermanfaat bagi siswa
bagi siswa sebanyak 4 buah.
Baik 5-7 Mencatat hal-hal yang
bermanfaat bagi siswa
sebanyak 3 buah.
Cukup 2-4 Mencatat hal-hal yang
bermanfaat bagi siswa
sebanyak 2 buah.
Kurang 0-1 Mencatat hal-hal yang
bermanfaat bagi siswa
sebanyak 1 buah.
37

Skor yang didapat pada tes awal, tes akhir siklus I, dan tes akhir siklus II,

kemudian dimasukan ke dalam tabel kategori skor. Masuk ke dalam kategori skor

sangat baik jika rentang skor yang diperoleh antara 85-100. Masuk ke dalam

kategori skor baik jika rentang skor yang diperoleh antara 75-84. Masuk ke dalam

kategori skor cukup jika rentang skor yang diperoleh 60-74, dan kategori skor

kurang jika rentang skor yang diperoleh antara 0-59.

3.4.2 Instrumen Nontes

3.4.2.1 Observasi

Observasi ini digunakan untuk mengamati tingkah laku siswa selam proses

pembelajaran membaca intensif teks profil tokoh dengan pendekatan kontekstual

komponen inquiry. Objek sasaran amatan peneliti yaitu sikap siswa terhadap

teknik pembelajaran, keaktifan siswa dalam bertanya dan berkomentar, semangat

siswa dalam mengikuti pembelajaran, keaktifan siswa dalam menemukan riwayat

hidup tokoh, keistimewaan tokoh dan mencatat hal-hal yang bermanfaat,

ketertarikan siswa terhadap bahan bacaan yang disajikan oleh guru, kecakapan

siswa dalam menyimpulkan hasil temuannya, keaktifan siswa dalam

pembelajaran, keaktifan siswa dalam menanggapi hasil presentasi temannya dan

keaktifan siswa dalam mengerjakan tes.

3.4.2.2 Pedoman Jurnal

Pedoman jurnal dibuat untuk mengetahui segala sesuatu yang terjadi pada

proses pembelajaran dan untuk mengungkap kemudahan dan kesulitan siswa

dalam membaca intensif teks profil tokoh. Jurnal dibuat baik oleh guru maupun
38

oleh siswa. Jurnal guru memuat segala sesuatu yang terjadi dalam proses

pembelajaran membaca intensif teks profil tokoh. Sedangkan jurnal siswa memuat

tanggapan siswa terhadap bahan bacaan yang disajikan, ketertarikan siswa dengan

pendekatan kontekstual komponen inquiry, kemudahan dan kesulitan siswa dalam

membaca intensif teks profil tokoh, tanggapan siswa terhadap gaya guru mengajar

dan tentang hal-hal lain yang ingin dikemukakan siswa.. Jurnal tersebut dibuat

setiap akhir pembelajaran pada sebuah kertas.

3.4.2.3 Pedoman Wawancara

Pedoman wawancara dilaksanakan oleh peneliti kepada siswa untuk

mendapatkan informasi tentang seberapa jauh responden (siswa) menguasai

keterampilan membaca intensif teks profil tokoh berkaitan dengan variabel

penelitian. Pelaksanaan wawancara mengambil seorang siswa yang memperoleh

nilai tertinggi, cukup dan terendah.

Aspek-aspek yang diungkap dalam wawancara pada siklus I dan II adalah

sebagai berikut.

1. Tanggapan positif dan negatif terhadap teks profil tokoh yang disajikan dalam

pembelajaran membaca intensif.

2. Tanggapan siswa terhadap penggunaan pendekatan kontekstual komponen

inquiry dalam pembelajaran membaca intensif.

3. Kemudahan yang dialami siswa dalam memahami bacaan dengan

menggunakan pendekatan kontekstual komponen inquiry.

4. Kesulitan yang dialami siswa dalam membaca intensif teks profil tokoh.
39

5. Harapan siswa terhadap teks bacaan yang disajikan untuk pertemuan

selanjutnya.

6. Harapan siswa tentang kegiatan pembelajaran yang disajikan untuk pertemuan

selanjutnya.

7. Manfaat yang diperoleh siswa dari kegiatan pembelajaran yang telah

dilaksanakan ini.

3.4.2.4 Dokumentasi Foto

Berikut adalah cara pengambilan dokumentasi aktivitas-aktivitas

pembelajaran membaca intensif teks profil tokoh.

a. Pada saat peneliti melaksanakan tes awal dan siswa sedang mengisi tes

membaca intensif teks profil tokoh.

b. Pada saat siswa sedang aktif mengikuti pembelajaran membaca intensif teks

profil tokoh siklus I, peneliti mendokumentasikan kegiatan tersebut.

c. Pada saat siswa mempresentasikan hasil temuannya pada siklus I, peneliti

mendokumentasikan kegiatan tersebut.

d. Pada saat siswa saling menanggapi hasil temuannya, peneliti

mendokumentasikan kegiatan tersebut.

e. Pada saat siswa berdiskusi menyarikan riwayat hidup tokoh, menyimpulkan

keistimewaannya dan mencatat hal-hal yang bermanfaat bagi siswa pada

siklus II, peneliti mendokumentasikan kegiatan tersebut.

f. Pada saat siswa mempresentasikan hasil temuannya.

g. Pada saat siswa mengerjakan tes membaca intensif teks profil tokoh pada

siklus I dan siklus II.


40

3.4.3 Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen

Bentuk instrumen tes dan nontes dalam penelitian tindakan kelas ini

ditampilkan validitas dan reabilitas permukaannya saja. Hal ini dilakukan dengan

cara mengonsultasikan kepada dosen pembimbing dan guru pamong mata

pelajaran bahasa dan sastra Indonesia tempat peneliti melakukan penelitian. Jika

sudah selesai dikonsultasikan kepada keduanya, yaitu dosen pembimbing dan

guru pamong, semua itu dianggap dapat atau layak untuk digunakan sebagai

instrumen tes.

3.5. Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan dengan teknik tes dan nontes untuk

memperoleh gambaran hasil pembelajaran membaca intensif teks profil tokoh

menggunakan pendekatan kontekstual komponen inquiry.

3.5.1 Teknik Tes

Tes membaca intensif teks profil tokoh dilakukan sebanyak tiga kali. Tes

pertama berupa tes awal untuk mengetahui keterampilan awal yang dimiliki siswa

dalam membaca intensif teks profil tokoh. Sedangkan pada tes kedua dan ketiga

dilaksanakan pada akhir pembelajaran siklus I dan siklus II. Dalam tes ini, siswa

diminta untuk menjawab pertanyaan berkaitan dengan teks profil tokoh. Tes ini

digunakan untuk mengetahui tingkat keterampilan siswa dalam membaca intensif

teks profil tokoh.

Tes dilaksanakan setelah siswa mendapatkan pembelajaran membaca

intensif teks profil tokoh dengan pendekatan kontekstual komponen inquiry


41

dengan memperhatikan alokasi waktu yang tersedia. Prosedur penilaian pada

membaca intensif teks profil tokoh adalah setiap jawaban yang benar diberi skor

10. Nilai akhir adalah jawaban betul dibagi tiga sehingga skor tertinggi 10. Nilai

akhir adalah jawaban betul dibagi tiga kali 10 sehingga skor tertinggi 100.

Rumus:

ΣN
NA = x 10
3

Keterangan:

NA = Nilai akhir

ΣN = Jumlah Skor

3.5.2 Teknik Nontes

Teknik nontes meliputi observasi, jurnal dan wawancara. Berikut

dijelaskan teknik tersebut.

3.5.1.1 Observasi

Observasi digunakan untuk mengungkap data keaktifan siswa dalam

proses pembelajaran menggunakan komponen inquiry. Adapun tahap

observasinya yaitu (1) mempersiapkan lembar observasi yang berisi butir-butir

sasaran amatan tentang sikap siswa terhadap teknik pembelajaran, keaktifan siswa

dalam mengikuti proses pembelajaran maupun keaktifan siswa dalam

mengerjakan tes, (2) melaksanakan observasi selama proses pembelajaran yaitu

mulai dari penjelasan guru, proses belajar-mengajar sampai dengan cara


42

mengerjakan tes, (3) mencatat hasil observasi dengan mengisi lembar observasi

yang telah dipersiapkan.

3.5.1.2 Jurnal

Jurnal dibuat untuk meneliti kejadian-kejadian yang menonjol dalam

proses pembelajaran. Jurnal guru dan siswa dibuat setiap akhir pembelajaran

membaca intensif teks profil tokoh. Jurnal guru mengenai segala sesuatu yang

terjadi ketika proses pembelajaran berlangsung. Jurnal siswa digunakan untuk

mengungkap tanggapan siswa mengenai bahan yang disajikan, ketertarikan siswa

terhadap pembelajaran membaca intensif teks profil tokoh, tanggapan siswa

mengenai gaya guru dalam mengajar, mengenai hal-hal yang ingin dikemukakan

siswa berkaitan dengan pembelajaran membaca intensif teks profil tokoh dengan

pendekatan kontekstual komponen inquiry.

3.5.1.3 Wawancara

Wawancara merupakan alat pengumpul data yang dilakukan dengan tanya

jawab. Teknik wawancara digunakan untuk mengungkap penyebab kesulitan dan

hambatan dalam pembelajaran membaca intensif teks profil tokoh. Sasaran

wawancara adalah para siswa yang nilainya kurang, cukup, baik dalam membaca

intensif teks profil tokoh. Hal ini berdasarkan pada nilai tes pada tiap siklus dan

berdasarkan observasi yang dilakukan guru selama proses pembelajaran.

Wawancara dilaksanakan peneliti setelah pembelajaran membaca intensif

teks profil tokoh dengan pendekatan kontekstual komponen inquiry selesai

dilaksanakan.
43

Adapun cara yang ditempuh peneliti dalam pelaksanaan wawancara yaitu

(1) mempersiapkan lembar wawancara yang berisi daftar pertanyaan yang akan

diajukan pada siswa, (2) menentukan siswa yang nilainya kurang, cukup dan baik,

untuk kemudian diajak wawancara, (3) mencatat hasil wawancara.

3.5.1.4 Dokumentasi

Dokumentasi foto berisi sejumlah kegiatan pembelajaran berisi sejumlah

foto aktivitas pembelajaran dari mulai pelaksanaan tes awal sampai dengan

pengisian jurnal.

3.6. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data dalam penelitian ini dilakukan secara kuantitatif dan

kualitatif. Berikut dijelaskan paparan kedua teknik tersebut.

3.6.1 Teknik Kuantitatif

Teknik kuantitatif digunakan untuk menganalisis data kuantitatif. Data

kuantitatif ini diperoleh dari hasil tes membaca intensif teks profil tokoh yang

pembelajarannya dengan pendekatan kontekstual komponen inquiry pada siklus I

dan siklus II. Nilai hasil tiap-tiap tes dihitung jumlahnya dalam persentase dengan

menggunakan rumus.

∑ N X 100 %
nxs

Keterangan :

∑N = Jumlah nilai satu kelas

n = Nilai maksimal soal tes


s = Banyaknya siswa dalam satu kelas
44

Hasil penghitungan keterampilan membaca intensif teks profil tokoh

dengan komponen inquiry pada pembelajaran kontekstual dari masing-masing

siklus kemudian dibandingkan. Hasil ini akan memberikan gambaran mengenai

prosentase peningkatan keterampilan membaca intensif teks profil tokoh dengan

menggunakan pendekatan kontekstual komponen inquiry.

3.6.2 Teknik Kualitatif

Teknik kualitatif digunakan untuk menganalisis data kualitatif. Data


kualitatif ini diperoleh siswa dari data nontes yaitu data observasi, jurnal, dan
wawancara. Adapun langkah penganalisisan data kualitatif adalah dengan
menganalisis lembar observasi yang telah diisi saat pembelajaran. Data jurnal
dianalisis dengan cara membaca seluruh jurnal siswa dan guru. Data wawancara
dianalisis dengan cara membaca kembali catatan wawancara. Hasil analisis-
analisis tersebut untuk mengetahui siswa yang mengalami kesulitan dalam
membaca intensif teks profil tokoh, untuk mengetahui kelebihan, kekurangan
pembelajaran membaca intensif teks profil tokoh dengan pendekatan kontekstual
komponen inquiry, dan untuk dasar mengetahui peningkatan keterampilan
membaca intensif teks profil tokoh dengan pembelajaran kontekstual komponen
inquiry.
BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian

Hasil penelitian tindakan kelas ini diperoleh dari hasil tes dan nontes, baik

pada siklus I maupun siklus II. Hasil kedua tes tersebut terangkum dalam tiga

bagian yaitu pratindakan, siklus I dan siklus II. Hasil tes pratindakan berupa

keterampilan siswa dalam membaca intensif teks profil tokoh sebelum tindakan

penelitian dilakukan. Hasil tes tindakan siklus I dan siklus II berupa keterampilan

membaca intensif teks profil tokoh dengan pendekatan kontekstual komponen

inquiry. Hasil tes siklus I dan siklus II disajikan dalam bentuk data kuantitatif.

Hasil nontes siklus I diperoleh dari data observasi, jurnal, wawancara dan

dokumentasi foto. Hasil penelitian nontes siklus I dan siklus II disajikan dalam

bentuk deskripsi data kualitatif.

4.1.1 Hasil Pratindakan

Hasil tes pratindakan adalah keterampilan membaca intensif teks profil

tokoh siswa sebelum dilakukannya tindakan penelitian. Hasil tes pratindakan

dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kondisi awal kemampuan siswa dalam

membaca intensif teks profil tokoh siswa kelas VII B SMPN 10 Semarang.

Bacaan yang digunakan dalam tes pratindakan adalah teks yang berjudul K.H.

Gymnastiar Mereparasi Qolbu. Bacaan ini dipilih karena mengisahkan seorang

tokoh terkenal yaitu Aa Gym. Bacaan ini sudah disesuaikan dengan tingkat

45
46

keterbacaan siswa SMP kelas VII. Pada pratindakan ini ada seorang siswa yang

tidak hadir dikarenakan sakit yaitu Dwi Aprilyadi. Dengan demikian, jumlah

keseluruhan siswa sebanyak 39. Hasil tes keterampilan membaca intensif teks

profil tokoh pratindakan dapat dilihat pada tabel berikut ini!

Tabel 3. Hasil Tes Keterampilan Membaca Intensif Teks Profil Tokoh

Pratindakan

No Kategori Rentang Frekuensi Bobot Persen Rata-


Nilai Skor (%) rata
1. Sangat Baik 85 – 100 0 0 0

2. Baik 75 – 84 0 0 0 2204

3. Cukup 60 – 74 14 884 21 39

4. Kurang 0 – 59 25 1320 79 = 56,51

Jumlah 39 2204 100

Dari tabel 3 ditunjukkan bahwa keterampilan siswa kelas VII B SMPN 10

Semarang dalam membaca intensif teks profil tokoh masih kurang, dengan skor

rata-rata klasikal hanya mencapai 56,51. Rincian data tersebut dijelaskan sebagai

berikut. Dari jumlah keseluruhan 39 siswa, 25 orang diantaranya atau sebanyak

64% termasuk dalam kategori kurang dengan nilai 0-59. Kategori cukup dengan

nilai 60-74 dicapai 14 siswa atau 36% dari jumlah keseluruhan siswa. Kategori

baik dan sangat baik belum tercapai, tidak seorang siswa pun atau 0% yang

termasuk dalam kategori tersebut. Masih rendahnya keterampilan siswa dalam

membaca intensif teks profil tokoh ini dikarenakan beberapa faktor yang

melingkupinya yaitu faktor eksternal dan faktor internal. Faktor internal ini
47

berasal dari siswa sendiri. Bukti data tes membaca intensif teks profil tokoh

pratindakan menyatakan bahwa keterampilan siswa dalam menyarikan riwayat

hidup tokoh, menyebutkan keistimewaan tokoh dan mencatat hal-hal yang

bermanfaat secara klasikal masih kurang, di bawah nilai rata-rata.

Untuk lebih jelasnya hasil tes keterampilan membaca intensif teks profil

tokoh pratindakan siswa kelas VII B dapat dilihat pada grafik 1 di bawah ini!

GRAFIK PRATINDAKAN
100
80
JUmlah Skor

60
40
20
0
1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27 29 31 33 35 37 39
Subjek Penelitian

Jumlah Skor

Grafik 1. Hasil Tes Keterampilan Membaca Intensif Teks Profil Tokoh


Pratindakan

Grafik di atas menunjukkan bahwa mayoritas jumlah skor siswa masih

berada pada level skor rendah antara 0-59 atau termasuk dalam kategori kurang.

14 siswa lainnya termasuk dalam kategori cukup karena pada level skor 0-64.

Dengan demikian, keterampilan membaca intensif teks profil tokoh siswa

perlu ditingkatkan. Peningkatan tersebut dapat diwujudkan dengan melakukan

tindakan siklus I dengan pembelajaran kontekstual komponen inquiry.


48

4.1.2 Hasil Penelitian Siklus I

Siklus I ini merupakan pemberlakuan tindakan awal penelitian dengan

menggunakan pendekatan kontekstual komponen inquiry. Tindakan siklus I ini

dilaksanakan sebagai upaya memperbaiki dan memecahkan masalah yang

dihadapi pada pratindakan. Pada pembelajaran siklus II ini terdapat pula seorang

siswa yang tidak bisa hadir dikarenakan sakit sehingga jumlah keseluruhan siswa

sebanyak 39. Pelaksanaan pembelajaran membaca intensif teks profil tokoh siklus

I terdiri dari data tes dan data nontes. Hasil kedua data tersebut diuraikan secara

rinci sebagai berikut.

4.1.2.1 Hasil Tes

Hasil tes membaca intensif teks profil tokoh pada siklus I merupakan data

awal digunakannya pendekatan kontekstual komponen inquiry. Kriteria penilaian

pada siklus I ini masih tetap sama seperti pada tes pratindakan yang meliputi tiga

aspek yaitu: (1) menyarikan riwayat hidup tokoh; (2) menyimpulkan

keistimewaan tokoh; dan (3) mencatat hal-hal yang bermanfaat bagi siswa dari

teks profil tokoh. Teks yang digunakan pada tes siklus I ini adalah teks yang

berjudul Micky Octapaliha Salah Satu Akademia 2. Teks ini menceritakan tentang

profil tokoh Micky Octapaliha, salah satu AFI 2. Dipilihnya teks ini karena

sebagian besar siswa SMP sedang menggemari AFI. Dengan demikian, siswa

SMP kelas VII lebih mudah untuk memahami teks bacaan tersebut. Sebelum

dilaksanakan tes siklus I dilaksanakan pembelajaran membaca intensif teks profil

tokoh dengan pendekatan kontekstual komponen inquiry dengan teks yang

berjudul Adi Sudah Mandiri Sejak Kecil. Antara pelaksanaan dengan


49

pembelajaran sengaja dipilih teks yang berbeda agar siswa terbiasa dengan

beragam kosakata sehingga menambah perbendaharaan kosakata siswa. Secara

umum, hasil tes keterampilan membaca intensif teks profil tokoh dapat dilihat

pada tabel 4 berikut.

Tabel 4. Hasil Tes Keterampilan Membaca Intensif Teks Profil Tokoh Siklus I

No Kategori Rentang Frekuensi Bobot Persen Rata-


Nilai Skor (%) rata
1. Sangat Baik 85 – 100 1 86 3

2. Baik 75 – 84 9 710 23 2631

3. Cukup 60 – 74 19 1290 48 39

4. Kurang 0 – 59 10 545 26 = 67,46

Jumlah 39 2631 100

Pada tabel 4 ditunjukkan bahwa hasil tes keterampilan membaca intensif

teks profil tokoh siswa secara klasikal 67,46 atau dalam kategori cukup. Skor rata-

rata tersebut dapat dikatakan sudah mengalami peningkatan sebesar 10,95% dari

hasil pratindakan. Namun demikian, peneliti belum puas dengan siklus I, karena

target maksimal klasikal sebesar 70 belum tercapai. Dari 39 siswa, hanya 3% atau

1 orang siswa yang berhasil meraih predikat sangat baik dengan jumlah skor 86.

Selanjutnya, 9 siswa atau 23% mendapatkan nilai baik dengan rentang nilai 75-

84. Selebihnya, 19 siswa atau 48% memperoleh nilai cukup dengan rentang nilai

60-74. Sedangkan untuk kategori kurang dicapai 10 orang siswa atau sebesar

26%.
50

Hasil tes tersebut merupakan jumlah skor tiga aspek keterampilan

membaca intensif teks profil tokoh yang diujikan meliputi: (1) menyarikan

riwayat hidup tokoh; (2) menyimpulkan keistimewaan tokoh; dan (3) mencatat

hal-hal yang bermanfaat bagi siswa dari teks profil tokoh.

4.1.2.1.1 Hasil Tes Membaca Intensif Teks Profil Tokoh Aspek Menyarikan

Riwayat Hidup Tokoh

Penilaian aspek menyarikan riwayat hidup tokoh difokuskan pada

kemampuan siswa dalam menyebutkan identitas tokoh, latar belakang pendidikan

tokoh, latar belakang keluarga tokoh dan kehidupan sehari-harinya. Hasil

penilaian tes menyarikan riwayat hidup tokoh dapat dilihat pada tabel 5 berikut.

Tabel 5. Hasil Tes Aspek Menyarikan Riwayat Hidup Tokoh

No Kategori Rentang Frekuensi Bobot Persen Rata-rata


Skor Skor (%)
1. Sangat Baik 8-10 11 99 28
2. Baik 5-7 17 130 43 292
x 10
3. Cukup 2-4 10 59 26 39
4. Kurang 0-1 1 4 3 = 74,8

Jumlah 39 292 100

Pada tabel 5 ditunjukkan bahwa keterampilan siswa untuk kategori sangat

baik yaitu dengan skor 8-10 dicapai 11 siswa atau sebesar 28%. Kategori baik

dengan skor 5-7 dicapai oleh 17 siswa atau sebesar 43%. Kategori cukup dengan

skor 2-4 dicapai oleh 10 orang siswa atau sebesar 26% dan kategori kurang
51

dengan skor 0-1 tidak ada seorang siswa pun yang masuk kategori tersebut. Jadi,

rata-rata skor klasikal pada aspek menyarikan riwayat hidup tokoh sebesar 74,8

atau dalam kategori baik. Siswa cukup paham menyarikan riwayat hidup tokoh

karena aspek tersebut mengenai identitas tokoh yang dibaca. Dengan pemilihan

teks profil tokoh yang sudah dikenal dan digemari oleh siswa maka dalam

menyarikan riwayat hidup tokoh, diharapkan siswa tidak mengalami kesulitan.

4.1.2.1.2 Hasil Tes Membaca Intensif Teks Profil Tokoh Aspek

Menyimpulkan Keistimewaan Tokoh

Penilaian aspek menyimpulkan keistimewaan tokoh difokuskan pada

kemampuan siswa dalam menyebutkan keistimewaan tokoh yang terdapat pada

teks yang dibacanya. Hasil penilaian tes dalam menyimpulkan keistimewaan

tokoh dapat dilihat pada tabel 6 berikut.

Tabel 6. Hasil Tes aspek Menyimpulkan Keistimewaan Tokoh

No Kategori Rentang Frekuensi Bobot Persen Rata-rata


Skor Skor (%)
1. Sangat Baik 8-10 18 149 46
2. Baik 5-7 20 129 51 282
x 10
3. Cukup 2-4 1 4 3 39
4. Kurang 0-1 0 0 0
= 72,3

Jumlah 39 282 100

Pada tabel 6 ditunjukkan bahwa pada tes aspek menyimpulkan

keistimewaan tokoh, kategori sangat baik yaitu dengan skor 8-10 telah dicapai 18

siswa atau sebesar 46%. Sedangkan kategori baik dengan skor antara 5-7 dicapai
52

oleh 20 siswa atau sebesar 51%. Kategori cukup dengan skor antara 2-4 dicapai

oleh seorang siswa atau sebesar 3% dan kategori kurang tidak ada seorang siswa

yang menduduki kategori tersebut atau sebesar 0%. Jadi, setelah direkapitulasikan

rata-rata skor siswa pada aspek menyimpulkan keistimewaan tokoh mencapai 72,3

atau kategori cukup. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa kemampuan siswa

dalam menyimpulkan keistimewaan tokoh secara lengkap dan benar telah

tercapai.

4.1.2.1.3 Hasil Tes Membaca Intensif Teks Profil Tokoh Aspek Mencatat

hal-hal yang Bermanfaat

Penilaian aspek mencatat hal-hal yang bermanfaat dari teks profil tokoh

difokuskan pada kemampuan siswa dalam menyebutkan dan mencatat beberapa

hal yang bermanfaat dari teks yang dibacanya. Hal-hal yang bermanfaat itu dapat

berupa bahasa yang digunakan pada teks bacaan, semboyan hidup yang dapat

diteladani dan sebagainya.

Hasil penilaian tes dalam mencatat hal-hal yang bermanfaat bagi siswa

dari teks profil tokoh dapat dilihat pada tabel 7 berikut ini.

Tabel 7. Hasil Tes Aspek Mencatat Hal-hal yang Bermanfaat

No Kategori Rentang Frekuensi Bobot Persen Rata-rata


Skor Skor (%)

1. Sangat Baik 8-10 4 32 10


2. Baik 5-7 26 153 67 220
3. Cukup 2-4 9 35 23 x 10
39
4. Kurang 0-1 0 0 0
= 56,4
Jumlah 39 220 100
53

Berdasarkan pada tabel 7 tersebut dapat dijelaskan bahwa secara klasikal

mencapai nilai rata-rata 56,4 atau dalam kategori kurang dalam mencatat hal-hal

yang bermanfaat. Pemerolehan skor rata-rata secara rinci diuraikan sebagai

berikut. Siswa yang mendapat skor 8-10 atau dalam kategori sangat baik dicapai

oleh 4 siswa atau sebesar 10%, sedangkan untuk kategori baik dengan skor 5-7

dicapai oleh 26 siswa atau sebesar 67%. Kategori cukup dengan skor 2-4 dicapai

oleh 9 orang atau sebesar 23% dan kategori kurang dengan skor 0-1 tidak ada

seorang pun yang menduduki kategori tersebut atau sebesar 0%. Dengan

demikian, kemampuan siswa dalam mencatat hal-hal yang bermanfaat yang

terdapat pada sebuah teks profil tokoh sudah dapat dikatakan sangat baik.

Hasil tes keterampilan membaca intensif teks profil tokoh siswa pada

siklus I dapat dilihat pada grafik di bawah ini!

GRAFIK SIKLUS I

100
Jumlah Skor

80
60
40
20
0
1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27 29 31 33 35 37 39
Subjek Penelitian

Jumlah Skor

Grafik 2. Hasil Tes Keterampilan Membaca Intensif Teks Profil

Tokoh Siklus I

Pada grafik 2 di atas ditunjukkan bahwa mayoritas siswa masih berada

pada kategori cukup antara 60-74, dan pada kategori baik antara 75-84 diperoleh 9
54

siswa sedangkan predikat sangat baik antara 85-100 diperoleh 3 orang siswa yang

bernama Fernandha, Dika dan Sumawardani.

Pada siklus I ini, hasil tes keterampilan membaca intensif teks profil tokoh

siswa secara klasikal masih menunjukkkan kategori cukup. Selain itu perubahan

tingkah laku dalam pembelajaran membaca intensif teks profil tokoh masih

tergolong normal belum tampak perubahan yang berarti. Dengan demikian,

tindakan siklus II perlu dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut.

4.1.2.2 Hasil Nontes

Hasil Penelitian nontes pada siklus I diperoleh melalui observasi, jurnal,

wawancara, dan dokumentasi foto. Berikut pemaparan data nontes tersebut.

4.1.2.2.1 Hasil Observasi

Observasi dilaksanakan selama pembelajaran membaca intensif teks profil

tokoh dengan pendekatan kontekstual komponen inquiry pada siswa kelas VII B

SMPN 10 Semarang. Observasi ini dilaksanakan oleh peneliti sekaligus sebagai

guru dengan bantuan seorang teman. Objek sasaran yang diamati dalam observasi

ini meliputi sembilan perilaku siswa, baik positif maupun negatif yang muncul

saat pembelajaran berlangsung. Adapun objek sasaran observasi tersebut adalah:

(1) sikap siswa terhadap teknik pembelajaran; (2) keaktifan siswa dalam bertanya

dan berkomentar tentang materi yang dijelaskan; (3) semangat siswa dalam

mengikuti pembelajaran membaca intensif teks profil tokoh; (4) keaktifan siswa

dalam menemukan riwayat hidup tokoh, keistimewaan tokoh dan mencatat hal-

hal yang bermanfaat; (5) ketertarikan siswa terhadap bahan bacaan yang disajikan
55

oleh guru; (6) kecakapan siswa dalam menyimpulkan hasil temuannya; (7)

keaktifan siswa dalam pembelajaran membaca intensif teks profil tokoh; (8)

keaktifan siswa dalam menanggapi hasil kerja; (9) keaktifan siswa dalam

mengerjakan tugas membaca intensif teks profil tokoh.

Pada siklus I ini, terdapat beberapa perilaku siswa yang terdeskripsi

melalui observasi. Selama melakukan kegiatan pembelajaran membaca intensif

teks profil tokoh dengan menggunakan pendekatan kontekstual komponen

inquiry, tidak semua siswa mengikutinya dengan baik. Peneliti menyadari hal

tersebut karena pola pembelajaran yang diterapkan peneliti merupakan hal baru

bagi mereka sehingga perlu proses untuk menyesuaikannnya.

Berdasarkan data yang diperoleh bahwa 56% dari jumlah siswa

mendengarkan penjelasan guru sedangkan 44% kurang merespons penjelasan

guru mereka asyik mengobrol sendiri, bergurau, jalan-jalan, bahkan ada siswa

yang melamun.

Salah satu siswa yang sempat peneliti tegur adalah responden nomor 7.

Siswa tersebut ditegur peneliti karena peneliti yang berperan sebagai guru merasa

terganggu dengan tingkah laku dari responden tersebut yang mengobrol sendiri

dan bergurau dengan teman-temannya.

Teguran yang ditujukan pada responden nomor 7 ternyata membawa

pengaruh baik terhadap pembelajaran membaca intensif teks profil tokoh.

Beberapa siswa mulai tampak tertarik terhadap teknik pembelajaran yang

digunakan oleh guru, banyak bertanya dan berkomentar. Dari hasil data diperoleh

56% dari jumlah keseluruhan siswa tertarik terhadap teknik pembelajaran yang
56

digunakan oleh guru sedangkan sisanya 44% kurang tertarik. Ketertarikan siswa

disebabkan guru menggunakan pendekatan kontekstual komponen inquiry yang

sebelumnya belum pernah dilakukan oleh guru pamong. Berdasarkan data yang

diperoleh 40% dari jumlah keseluruhan siswa aktif bertanya dan berkomentar

sedangkan sisanya 60% masih pasif untuk bertanya maupun berkomentar. Siswa

yang aktif bertanya dan menjawab pertanyaan guru tersebut di antaranya

responden nomor 9, 15, 20, dan 32. Mereka lebih aktif bertanya dibandingkan

dengan teman-temannya yang cenderung pasif tidak mau bertanya.

Pada saat pembelajaran teks profil tokoh 85% dari jumlah keseluruhan

siswa bersemangat mengikuti pembelajaran. Mereka bersemangat mengikuti

pembelajaran karena metode yang digunakan guru tidak membosankan.

Sedangkan sisanya 15% masih tidak bersemangat dalam mengikuti pembelajaran.

Keaktifan siswa dalam menemukan riwayat hidup tokoh, keistimewaan

tokoh dan mencatat hal-hal yang bermanfaat masih kurang. Hal ini terlihat dari

hasil data yang diperoleh peneliti saat melakukan observasi. Dari hasil data

diperoleh 47% dari jumlah keseluruhan siswa sudah aktif dan sungguh-sungguh

dalam menemukan riwayat hidup tokoh, keistimewaan tokoh dan mencatat hal-hal

yang bermanfaat sedangkan sisanya 53% masih pasif. Siswa yang pasif ini

dimungkinkan karena siswa bingung terhadap komponen inquiry dalam

pembelajaran kontekstual. Keadaan ini tentunya harus dicarikan solusi

pemecahannnya agar siswa secara merata aktif menemukan riwayat hidup tokoh,

keistimewaan tokoh dan mencatat hal-hal yang bermanfaat. Masalah ini


57

merupakan suatu tugas bagi peneliti untuk memperbaikinya pada siklus

selanjutnya.

Ketertarikan siswa terhadap bahan bacaan yang disajikan sudah baik. Hal

ini terbukti dari jumlah keseluruhan siswa 63% menyatakan tertarik terhadap

bacaan yang disajikan. Sisanya 47% tidak tertarik terhadap teks yang disajikan.

Namun, kecakapan siswa dalam menyimpulkan hasil temuannya masih

kurang. Dari data diperoleh 48% dari jumlah keseluruhan siswa telah cakap dalam

menyimpulkan hail temuannya sedangkan sisanya 52% masih kurang cakap atau

masih salah dalam menyimpulkan hasil temuannya. Hal ini disebabkan karena

pada saat mereka tidak sungguh-sungguh dalam menemukan riwayat hidup tokoh,

keistimewaan tokoh dan mencatat hal-hal yang bermanfaat.

Keaktifan siswa dalam pembelajaran membaca intensif teks pofil tokoh

sudah baik. Berdasarkan data diperoleh 55% dari jumlah keseluruhan siswa aktif

dalam pembelajaran sedangkan sisanya 45% masih pasif. Keaktifan siswa dalam

pembelajaran dibuktikan dengan adanya siswa yang secara sungguh-sungguh

dalam membaca teks profil tokoh. Mereka sangat tertarik dalam membaca teks

yang disediakan karena teks tersebut berisikan kehidupan tokoh yang mereka

kenal dan digemari yaitu Adi AFI 2.

Sebaliknya keaktifan siswa dalam menanggapi hasil kerja masih kurang.

Dari data diperoleh 41% siswa aktif dalam menanggapi hasil presentasi temannya

sedangkan sisanya 64% masih pasif.

Pada saat pemberian materi telah selesai. Tes membaca intensif teks profil

tokoh dilaksanakan untuk mengukur sejauh mana kemampuan dan pemahaman


58

siswa dalam membaca intensif teks profil tokoh. Keaktifan siswa dalam

mengerjakan tes membaca intensif teks profil tokoh sudah baik. Berdasarkan data

diperoleh 82% dari jumlah keseluruhan siswa sudah aktif dan sungguh-sungguh

dalam mengerjakan tes membaca intensif teks profil tokoh. Sisanya 18% tidak

sungguh-sungguh dalam mengerjakan tes. Bahkan masih ada siswa yang dalam

mengerjakan tes menunggu teguran dari guru. Pada siklus I ini adapula siswa yang

tidak selesai mengerjakan tes dalam waktu yang telah ditentukan.

Berdasarkan pengamatan secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa

perilaku negatif masih banyak menonjol. Siswa belum dapat menyesuaikan pola

pembelajaran yang diterakan guru. Keadaan ini merupakan masalah besar yang

harus dipecahkan peneliti. Rencana pembelajaran pada siklus berikutnya tentunya

harus lebih dimatangkan lagi agar perilaku negatif yang menonjol menjadi

perilaku positif.

4.1.2.2.2 Hasil Jurnal

Jurnal yang digunakan dalam penelitian ini nada dua macam yaitu jurnal

siswa dan jurnal guru. Kedua jurnal tersebut berisi ungkapan perasaan atau

tanggapan siswa dan guru selama pembelajaran membaca intensif teks profil

tokoh berlangsung.

a. Jurnal Siswa

Pengisian jurnal dilakukan seluruh siswa kelas VII B tanpa terkecuali.

Pengisian tersebut dilakukan setelah pelaksanaan pembelajaran membaca intensif

teks profil tokoh dengan pendekatan kontekstual komponen inquiry, pada siklus I.
59

Tujuan diadakan jurnal siswa untuk mengetahui tanggapan siswa terhadap

pembelajaran yang telah dilaksanakan guna memperbaiki pembelajaran

selanjutnya agar hasil yang diperoleh lebih optimal. Jurnal siswa ini berisikan

pendapat atau tanggapan siswa mengenai: (1) bahan yang disajikan; (2)

kemudahan atau kesulitan yang siswa dalam memahami bacaan; (3) gaya guru

dalam mengajar; (4) kesan dan pesan yang diberikan siswa pada pembelajaran

membaca intensif teks profil tokoh dengan pendekatan kontekstual komponen

inquiry.

Pada saat guru membagikan lembar jurnal kepada siswa kelas VII B,

tampak keantusiasan siswa untuk segera mengisinya. Ketertarikan siswa yaitu

tampak karena ada sebagaian siswa yang ingin segera mendapatkan lembar jurnal

dan berteriak pada temannnya untuk meminta bagiannya. Keadaan ini dapatlah

dipahami karena sebelumnya siswa tidak pernah melakukan kegiatan pengisisan

jurnal di akhir pembelajaran. Setelah semua siswa mendapat bagiannya, siswa

segera mengisi jurnal tersebut dengan jawaban sejelas-jelasnya.

Sebagian besar siswa menyatakan bahwa bahan bacaan yang disajikan

menarik karena berisikan mengenai profil tokoh yang kebetulan tokoh tersebut

mereka gemari yaitu Adi AFI 2 dan Micky AFI 2. Sehingga siswa merasa

tertarik untuk membaca teks tersebut dengan sungguh-sungguh.

Pada dasarnya sebagian besar dari mereka menanggapi baik terhadap

metode pembelajaran guru pada saat memberikan pembelajaran membaca intensif

teks profil tokoh dengan menggunakan pendekatan kontekstual komponen

inquiry. Siswa menilai metode pembelajaran yang digunakan guru dapat


60

membantu mereka dalam memahami bacaan secara mendalam, jelas, dan

menyenangkan. Dengan demikian, tugas guru dalam kelas kontekstual dapat

dikatakan berhasil karena guru telah membimbing siswa untuk mencapai

tujuannya dengan menciptakan pembelajaran yang lebih hidup. Dan

menyenangkan.

Kebanyakan siswa merespon positif terhadap pembelajaran membaca

intensif teks profil tokoh. Pernyataan menarik dan menyenangkan banyak tertulis

dalam jurnal. Pernyataan siswa ini membuktikan bahwa mereka menyukai materi

yang diajarkan guru. Siswa merespons bagus karena dalam pembelajaran guru

meminta siswa untuk mempresentasikan hasil temuannya dan siswa lain

menanggapi serta guru memberikan penghargaan kepada siswa yang tampil.

Kondisi ini merupakan pengalaman baru siswa karena dalam pembelajaran

sebelumnya guru pamong jarang memberikan penghargaan kepada siswa yang

tampil. Pembelajaran yang menyenangkan merupakan respons sebagian besar

siswa yang diungkapkan dalam jurnal. Hal ini merupakan bukti bahwa selama

pembelajaran berlangsung siswa menikmati semua metode pembelajaran guru

mulai apersepsi, kegiatan inti, dan penutup.

Walaupun siswa terlihat menanggapi dan menerima dengan baik

pembelajaran membaca intensif teks profil tokoh, namun kesulitan-kesulitan yang

dialami oleh beberapa siswa ternyata masih ada. Berdasarkan hasil analisis,

kesulitan-kesulitan yang dihadapi siswa dalam pembelajaran membaca intensif

teks profil tokoh meliputi: (1) siswa kesulitan dalam mencatat hal-hal yang

bermanfaat bagi siswa yang terdapat pada teks profil tokoh; (2) siswa kesulitan
61

konsentrasi karena teman sebangkunya ramai; (3) siswa merasa kesulitan karena

mereka tidak paham dan kurang jelas dengan penjelasan guru. Peneliti menilai

bahwa kesulitan-kesulitan yang muncul dan menyelimuti sebagian kecil siswa ini

merupakan hal yang wajar karena dalam pembelajaran membaca intensif teks

profil tokoh merupakan hal yang baru bagi siswa dan tidak semua siswa dapat

menyerap materi dengan mudah, kapasitas pemahaman masing-masing siswa

berbeda. Namun setidaknya hal baru ini dapat memberikan pengetahuan dan

pengalaman nyata yang bermakna bagi siswa dan dapat ditingkatkan pada

kesempatan selanjutnya.

Siswa secara keseluruhan dapat menerima guru dalam mengajar dan

kehadiran guru selama pembelajaran. Hal itu penting untuk diketahui karena agar

proses pembelajaran dapat berlangsung lancar. Kehadiran guru dan gaya guru

dalam mengajar dapat mempengaruhi hasil dari kegiatan pembelajaran karna

dengan diterimanya guru ketika berada di depan kelas maka akan tercipta situasi

kelas yang kondusif dalam pembelajaran.

Pesan, kesan ataupun saran yang diberikan siswa selama pembelajaran

membaca intensif teks profil tokoh dengan pendekatan kontekstual komponen

inquiry berbeda-beda. Adapun masukan yang diberikan siswa adalah mereka

menginginkan agar pada pembelajaran selanjutnya, teks yang digunakan lebih

beragam dan lebih mudah, waktu tes dalam membaca intensif teks profil tokoh

ditambah sehingga siswa dapat mengerjakan tes dengan baik dan tidak tergesa-

gesa, serta bentuk penghargaannya tidak berupa medali dari asturo tetapi berupa
62

hadiah. Saran yang diberikan siswa agar pembelajaran Bahasa Indonesia

menggunakan pendekatan kontekstual komponen inquiry.

b. Jurnal Guru

Jurnal guru ini berisi segala hal yang dirasakan guru selama pembelajaran

berlangsung. Adapun hal-hal yang menjadi objek sasaran jurnal guru ini adalah :

(1) minat siswa dalam mengikuti pembelajaran membaca intensif teks profil tokoh

dengan pendekatan kontekstual komponen inquiry; (2) respons siswa terhadap

teks profil tokoh yang dihadirkan guru; (3) keaktifan siswa dalam mengikuti

pembelajaran membaca intensif teks profil tokoh; (4) fenomena-fenomena yang

muncul di kelas saat pembelajaran berlangsung.

Berdasarkan objek sasaran yang diamati dan dirasakan peneliti saat

menjalankan pembelajaran yang tertuang dalam jurnal, dapat dijelaskan bahwa

guru merasa kurang puas terhadap proses pembelajaran karena masih ada

beberapa siswa yang belum sepenuhnya mengikuti pembelajaran membaca

intensif teks profil tokoh dengan penuh konsentrasi. Namun siswa merespon

positif teks profil tokoh yang berjudul Adi sudah Mandiri Sejak Kecil dan Micky

Octapaliha Salah Satu Akademia 2. Mereka tampak senang karena teks tersebut

berisikan profil tokoh anggota AFI yang saat ini sedang digemari. Guru memilih

teks tersebut agar siswa lebih tertarik untuk membaca secara mendalam. Keaktifan

siswa dalam mengikuti pembelajaran belum merata, hanya siswa tertentu yang

aktif bertanya dan menjawab pertanyaan guru. Siswa kebanyakan masih grogi,

malu dan takut jawabannya salah bila diberi pertanyaan. Fenomena-fenomena lain
63

yang muncul di kelas saat pembelajaran tidak begitu menonjol hanya sebagian

besar siswa masih asing dengan guru praktikan. Walaupun terasa asing, siswa

sudah dapat menerima dengan baik. Hal ini dibuktikan dengan sikap siswa yang

sopan dan ramah pada guru praktikan.

4.1.2.2.3 Hasil Wawancara

Kegiatan wawancara dilaksanakan setelah selesai pembelajaran pada

siklus I. Sasaran wawancara difokuskan pada seorang siswa yang mendapatkan

nilai tertinggi, cukup dan nilai yang terendah pada hasil tes membaca intensif teks

profil tokoh. Wawancara ini mengungkap 7 butir pertanyaan sebagai berikut: (1)

bagaimana pendapat siswa terhadap teks bacaan yang disajikan dalam

pembelajaran; (2) bagaimana pendapat siswa mengenai penggunaaan pendekatan

kontekstual komponen inquiry dalam pembelajaran; (3) kemudahan apa saja yang

didapatkan siswa setelah dilaksanakannnya pembelajaran membaca intensif teks

profil tokoh dengan pendekatan kontekstual komponen inquiry; (4) kesulitan apa

saja yang ditemui siswa setelah mendapatkan pembelajaran membaca intensif teks

profil tokoh melalui pendekatan kontekstual komponen inquiry; (5) manfaat apa

saja yang diperoleh siswa dari kegiatan pembelajaran yang telah dilaksanakan; (6)

apa harapan siswa berkaitan dengan bahan bacaan yang disajikan untuk

pertemuan selanjutnya; (7) apa harapan siswa mengenai kegiatan pembelajaran

yang disajikan untuk pertemuan selanjutnya. Siswa yang diwawancarai yaitu

Fermandha Kurniawan yang memperoleh nilai tertinggi, Fahri Surya Laksana


64

yang memperoleh nilai cukup atau sedang dan Aditya Wijaya yang memperoleh

skor terendah.

Pada awal pelaksanaan wawancara, siswa bingung mengapa diwawancarai

kemudian peneliti menjelaskan bahwa tujuan wawancara kepada siswa yang

diwawancarai. Tujuan wawancara adalah untuk mengetahui kemudahan dan

kesulitan yang dihadapi siswa dalam pembelajaran membaca intensif teks profil

tokoh.

Siswa yang memperoleh nilai tertinggi, cukup dan terendah

mengungkapkan perasaan senang terhadap pembelajaran membaca intensif teks

profil tokoh dengan pendekatan kontekstual komponen inquiry. Mereka

menyatakan bahwa bahan bacaan yang disajikan guru cukup menarik karena

memberikan dorongan kepada mereka untuk membaca secara mendalam.

Ketertarikan siswa terhadap penggunaan pendekatan kontekstual komponen

inquiry yang digunakan dalam pembelajaran terlihat dengan banyaknya siswa

yang aktif menjawab pertanyaan guru dan memberikan tanggapan.

Kemudahan dalam memahami bacaan diungkapkan oleh siswa yang

mendapat nilai tertinggi dan cukup yaitu Fermandha dan Fahri. Mereka

mengungkapkan bahwa dengan penyajian bahan bacaan yang menarik serta

pendekatan yang digunakan oleh guru memudahkan mereka untuk memahami

bacaan. Berbeda dengan Fermandha dan Fahri, Aditya yang mempunyai nilai

terendah merasa kesulitan memahami bacaan dikarenakan bacaannya terlalu

panjang.
65

Kesulitan-kesulitan dalam pembelajaran yang dialami siswa memang

selalu ada. Tidak semua siswa dapat menyerap pembelajaran dengan mudah

seperti yang dikatakan Aditya yang mempunyai nilai terendah. Aditya

menyatakan bahwa ia kesulitan dalam menyarikan riwayat hidup tokoh sedangkan

Fermandha dan Fahri mengaku tidak mempunyai kesulitan dalam pembelajaran

membaca intensif teks profil tokoh.

Manfaat yang cukup besar dari pembelajaran membaca intensif teks profil

tokoh dengan pendekatan kontekstual komponen inquiry diungkapkan oleh

Fermandha, Fahri, dan Aditya. Mereka mengungkapkan bahwa pembelajaran

yang menggunakan pendekatan kontekstual menciptakan suasana pembelajaran

yang menyenangkan dan menarik sehingga dalam mengikuti pembelajaran Bahasa

Indonesia mereka tidak merasa jenuh dan bosan.

Berkaitan dengan bahan bacaan yang digunakan mereka tidak memiliki

harapan tertentu karena pembelajaran dengan pendekatan kontekstual memberi

banyak manfaat dan pengalaman belajar. Mereka berharap bahwa pembelajaran

yang disajikan untuk pertemuan selanjutnya lebih menyenangkan dan

menghidupkan suasana belajar.

4.1.2.2.4 Hasil Dokumentasi Foto

Pada sikus I ini dokumentasi foto yang diambil meliputi aktivitas siswa

pada saat pembelajaran membaca intensif teks profil tokoh, situasi kelas pada saat

pembelajaran dan aktivitas siswa pada saat mengerjakan tes membaca intensif

teks profil tokoh. Deskripsi gambar pada siklus I selengkapnya dipaparkan berikut

ini!
66

Gambar 1. Aktivitas Pembelajaran Membaca Intensif Teks Profil Tokoh

Gambar 1 menunjukkan aktivitas pembelajaran membaca intensif teks

profil tokoh dengan pendekatan kontekstual komponen inquiry. Pada kegiatan ini,

siswa terlihat antusias dalam membaca teks yang berjudul Adi Sudah Mandiri

Sejak Kecil. Ketika siswa diminta untuk membaca teks profil tokoh terlihat

beberapa siswa antusias dan bersemangat terhadap pembelajaran yang

berlangsung. Siswa terlihat tenang pada awal pembelajaran.


67

Gambar 2. Situasi Kelas Pada Saat pembelajaran

Gambar 2 menunjukkan situasi kelas yang tidak kondusif ketika

pembelajaran berlangsung. Pada gambar terlihat siswa yang berjalan-jalan di

sekitar kelas selama pembelajaran berlangsung. Kegiatan yang sedang dilakukan

adalah siswa sedang membaca teks yang dibagikan guru untuk menemukan

riwayat hidup tokoh, keistimewaan tokoh dan menemukan hal-hal yang

bermanfaat dari teks tersebut. Siswa diharuskan membaca secara mendalam dan

serius teks yang telah dibagikan, tetapi tetap saja ada siswa yang tidak membaca

dan kurang serius. Ada pula siswa yang ramai dan berbicara dengan temannya.
68

Gambar 3.Aktivitas Siswa dalam Mengerjakan Tes

Gambar 3 menunjukkan aktivitas siswa pada saat mengerjakan tes

membaca intensif teks profil tokoh dengan pendekatan kontekstual komponen

inquiry. Pada gambar terlihat beberapa siswa yang serius dalam mengerjakan tes,

tetapi adapula siswa yang mencontek jawaban temannya. Masih adanya siswa

yang mencontek menandakan bahwa masih adanya siswa yang kurang paham

mengenai pembelajaran membaca intensif teks profil tokoh.

4.1.3 Hasil Penelitian Siklus II

Siklus II ini merupakan perbaikan dan pemecahan masalah yang dihadapi

pada siklus I. Pada siklus II ini terdapat seorang siswa yang tidak bisa hadir

dikarenakan sakit sehingga jumlah keseluruhan siswa 39. Pelaksanaan

pembelajaran membaca intensif teks profil tokoh siklus II terdiri data tes dan data

nontes. Hasil kedua data tersebut diuraikan secara rinci sebagai berikut.
69

4.1.3.1 Hasil Tes

Hasil tes membaca intensif teks profil tokoh pada siklus II ini merupakan

data kedua setelah dilaksanakannnya tindakan pembelajaran pada siklus I, namun

masih ada strategi pembelajran pendekatan kontekstual komponen inquiry.

Kriteria penilaian pada siklus II ini masih tetap sama seperti pada tes siklus I

meliputi tiga aspek penilaian, meliputi menyarikan riwayat hidup tokoh,

menyimpulkan keistimewaan tokoh dan mencatat hal-hal yang bermanfaat yang

terdapat pada teks profil tokoh. Teks yang digunakan pada tes siklus II adalah teks

yang berjudul Ira koesno Anchor Jelita Pecinta Buku. Teks tersebut telah

disesuaikan dengan tingkat keterbacaan siswa SMP kelas VII. Secara umum, hasil

tes keterampilan membaca intensif teks profil tokoh pada siklus II dapat dilihat

pada tabel 8 berikut.

Tabel 8. Hasil Tes Keterampilan Membaca Intensif Teks Profil Tokoh Siklus II

No Kategori Rentang Frekuensi Bobot Persen Rata-


Nilai Skor (%) rata
1. Sangat Baik 85 – 100 13 1165 33
2. Baik 75 – 84 19 1500 49 3159
3. Cukup 60 – 74 7 494 18 39
4. Kurang 0 – 59 0 0 0 = 81
Jumlah 39 3159 100

Pada tabel 8 ditunjukkan bahwa keterampilan membaca intensif teks profil

tokoh siswa kelas VII B SMP N 10 Semarang sudah baik., dengan rata-rata skor

klasikal hanya mencapai 81. Dari jumlah keseluruhan 39 siswa, 13 siswa

diantaranya atau sebanyak 33% termasuk dalam kategori sangat baik dengan nilai
70

85-100. Kategori baik dengan nilai 75-84 dicapai oleh 19 siswa atau 49% dari

jumlah keseluruhan siswa. Kategori cukup dengan nilai 60-74 dicapai oleh 7

siswa atau sebesar 18%. Sedangkan kategori kurang tidak ada seorang siswa pun

yang menduduki kategori tersebut. atau sebesar 0%. Peningkatan keterampilan

membaca intensif teks profil tokoh siswa dikarenakan beberapa faktor yang

melingkupinya, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal dapat

dilihat pada kemampuan siswa yang mulai meningkat. Siswa mulai paham dengan

apa yang diajarkan guru. Faktor eksternal yang tak kalah pentingnya adalah

strategi yang digunakan guru, melalui pendekatan kontekstual komponen inquiry

guru berhasil meningkatkan pemahaman siswa dalam membaca intensif teks profil

tokoh.

Hasil rata-rata skor yang memuaskan ini, merupakan keberhasilan guru

dan siswa dalam melaksanakan pembelajaran yang berbasis kompetensi. Dengan

menggunakan pendekatan kontekstual komponen inquiry guru dapat mengatasi

permasalahan yang melingkupi siswa kelas VII B SMPN 10 Semarang. Kini siswa

dapat menyarikan riwayat hidup tokoh, menyimpulkan keistimewaan tokoh dan

mencatat hal-hal yang bermanfaat bagi siswa yang terdapat pada sebuah teks. Hal

ini dapat dibuktikan dengan hasil pencapaian skor siswa yang mengalami

peningkatan pada tiap aspek penilaian membaca intensif teks profil tokoh di

bawah ini.
71

4.1.3.1.1 Hasil Tes Membaca Intensif Teks Profil Tokoh Aspek Menyarikan

Riwayat Hidup Tokoh

Penilaian aspek menyarikan riwayat hidup tokoh pada siklus II masih

sama dengan siklus I, yaitu masih difokuskan pada kemampuan siswa dalam

menyebutkan identitas tokoh, latar belakang pendidikan tokoh, latar belakang

keluarga tokoh dan kehidupan sehari-harinya.pada siklus II ini teks yang

digunakan berbeda dari siklus I. Teks yang digunakan adalah teks yang berjudul

Ira Koesno Anchor Jelita Pecinta Buku. Hasil penilaian tes aspek menyarikan

riwayat hidup tokoh dapat dilihat pada tabel 9 berikut.

Tabel 9. Hasil Tes Aspek Menyarikan Riwayat Hidup Tokoh

No Kategori Rentang Frekuensi Bobot Persen Rata-rata


Skor Skor (%)
1. Sangat Baik 8-10 36 314 92
2. Baik 5-7 3 20 8 334
x 10
3. Cukup 2-4 0 0 0 39
4. Kurang 0-1 0 0 0
= 85,6

Jumlah 39 334 100

Pada tabel 9 ditunjukkan bahwa keterampilan siswa dalam membaca

intensif teks profil tokoh aspek menyarikan riwayat hidup tokoh sudah baik yaitu

dengan skor klasikal 85,6 atau dalam kategori sangat baik. Dari keseluruhan siswa

yang menempati kategori sangat baik dengan skor 8-10 dicapai oleh 36 siswa atau

sebesar 92%. Kategori baik dengan skor 5-7 dicapai oleh 3 orang siswa atau

sebesar 8%. Kategori cukup dan kurang tidak seorang pun siswa yang menempati

kategori tersebut. Hasil ini menunjukkan bahwa secara klasikal siswa sudah
72

paham dan mengerti dalam menyarikan riwayat hidup tokoh Ira Koesno.

Dipilihnya teks profil Ira Koesno dilakukan guru guna mempermudah siswa

dalam memahami bacaan karena kebanyakan siswa sudah mengenal Ira Koesno

melalui televisi.

4.1.3.1.2 Hasil Tes Membaca Intensif Teks Profil Tokoh Aspek

Menyimpulkan Keistimewaan Tokoh

Penilaian aspek menyimpulkan keistimewaan tokoh difokuskan pada

kemampuan siswa untuk menyebutkan keistimewaan tokoh yang terdapat pada

teks secara lengkap dan benar. Hasil penilaian tes menyimpulkan keistimewaan

tokoh dapat dilihat pada tabel 10 berikut.

Tabel 10. Hasil Tes Aspek Menyimpulkan Keistimewaan Tokoh

No Kategori Rentang Frekuensi Bobot Persen Rata-rata


Skor Skor (%)
1. Sangat Baik 8-10 32 267 82
2. Baik 5-7 7 47 18 317
x 10
3. Cukup 2-4 0 0 0 39
4. Kurang 0-1 0 0 0
= 81,3

Jumlah 39 317 100

Pada tabel 9 ditunjukkan bahwa pada tes aspek menyimpulkan

keistimewaan tokoh, kategori sangat baik dengan skor 8-10 dicapai oleh 32 siswa

atau sebesar 82% dari jumlah siswa keseluruhan. Kategori baik dicapai oleh 7

siswa atau sebesar 18% dengan skor 5-7. Kategori cukup dan kategori kurang

tidak ada seorang pun siswa yang menempati kategori tersebut. Jadi setelah
73

direkap rata-rata skor siswa pada aspek menyimpulkan keistimewaan tokoh

mencapai 81,3 atau dalam kategori baik. Dengan demikian, dapat dikatakan

bahwa kemampuan siswa dalam menyimpulkan keistimewaan tokoh yang

terdapat pada teks profil tokoh sudah mengalami banyak peningkatan. Siswa telah

berhasil menyebutkan keistimewaan tokoh secara baik, lengkap dan benar.

4.1.3.1.3 Hasil Tes Membaca Intensif Teks Profil Tokoh Aspek Mencatat

Hal-hal yang Bermanfaat

Penilaian aspek mencatat hal-hal yang bermanfaat difokuskan pada

kemampuan siswa dalam menyebutkan dan mencatat beberapa hal yang

bermanfaat dari teks yang dibacanya. hal-hal yang bermanfaat itu dapat berupa

bahasa yang digunakan pada teks, semboyan hidup tokoh, sifat tokoh yang perlu

diteladani dan kunci kesuksesan mereka. Hasil penilaian tes aspek mencatat hal-

hal yang bermanfaat bagi siswa dapat dilihat pada tabel 11 berikut ini.

Tabel 11. Hasil Tes Aspek Mencatat Hal-hal yang Bermanfaat

No Kategori Rentang Frekuensi Bobot Persen Rata-rata


Skor Skor (%)
1. Sangat Baik 8-10 21 176 54
2. Baik 5-7 18 122 46 298
x 10
3. Cukup 2-4 0 0 0 39
4. Kurang 0-1 0 0 0
= 76,4

Jumlah 39 298 100


74

Berdasarkan tabel 11 tersebut dapat dijelaskan bahwa kemampuan siswa

dalam mencatat hal-hal yang bermanfaat yang terdapat pada teks profil tokoh

secara klasikal sudah termasuk kategori baik dengan mencapai rata-rata skor 76,4.

Pemerolehan skor rata-rata secara rinci diuraikan sebagai berikut. Siswa yang

mendapat kategori sangat baik dengan skor 8-10 dicapai oleh 21 siswa atau

sebesar 54%. Kategori baik dicapai oleh 18 siswa atau sebesar 46% dengan skor

5-7. Kategori cukup dan kategori kurang tidak ada yang menempatinya atau

sebesar 0%. Dengan demikian, kemampuan siswa dalam mencatat hal-hal yang

bermanfaat bagi siswa yang terdapat pada teks secara keseluruhan sudah dapat

dikatakan baik.

Hasil tes membaca intensif teks profil tokoh siswa lebih jelasnya dapat

dilihat grafik siklus II di bawah ini.

GRAFIK SIKLUS II

100
Kategori Skor

80
60
40
20
0
1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27 29 31 33 35 37 39
Subjek Penelitian

Jumlah Skor

Grafik 3. Hasil Tes Keterampilan Membaca Intensif Teks Profil Tokoh


75

Grafik 3 di atas ditunjukkan bahwa mayoritas nilai siswa berada pada

kategori baik antara 75-84. Siswa yang memperoleh kategori ini mencapai 49%

atau sebanyak 19 siswa dan sisanya sebanyak 13 siswa atau 33% dari jumlah

keseluruhan mendapat nilai sangat baik yaitu 85-100.

Pada siklus II ini, hasil tes keterampilan membaca intensif teks profil

tokoh secara klasikal sudah menunjukkan kategori baik dan sudah meraih target

yang diinginkan peneliti. Pada siklus II ini nilai rata-rata klasikal pencapaian nilai

rata-rata kelas sudah melebihi target yang ditentukan yaitu 70. Peningkatan

prestasi siswa ini diikuti dengan perubahan tingkah laku siswa dalam

pembelajaran membaca intensif teks profil tokoh. Siswa lebih aktif , jeli dan kritis

dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh guru. Dengan

demikian, tindakan siklus II ini tidak perlu dilakukan karena peneliti sudah puas

dengan hasil penelitian siklus II.

4.1.3.2 Hasil Nontes

Hasil penelitian nontes pada siklus II ini didapatkan dari data observasi,

jurnal, wawancara, dan dokumentasi. Keempat hasil penelitian nontes tersebut

dipaparkan berikut ini.

4.1.3.2.1 Hasil Observasi

Kegiatan observasi pada siklus II dilaksanakan selama proses

pembelajaran membaca intensif teks profil tokoh dengan pendekatan kontekstual

komponen inquiry di kelas VII B SMPN 10 Semarang. Observasi dilakukan oleh

peneliti sekaligus sebagai guru dengan bantuan teman. Objek sasaran dan cara
76

pelaksanaan observasi pada siklus II berbeda dengan siklus I. Pada siklus II ini

metode yang digunakan adalah metode diskusi sehingga peneliti juga meneliti

keaktifan siswa dalam berdiskusi. Ada sepuluh objek sasaran observasi yang

meliputi perilaku positif dan perilaku negatif siswa selama proses pembelajaran.

Pengambilan data observasi bertujuan untuk memotret respons perilaku siswa

dalam menerima pembelajaran membaca intensif teks profil tokoh melalui

pendekatan kontekstual komponen inquiry.

Pada siklus II ini, terdapat beberapa perilaku siswa yang terdeskripsi

melalui kegiatan observasi. Selama melakukan kegiatan pembelajaran membaca

intensif teks profil tokoh dengan menggunakan pendekatan kontekstual komponen

inquiry, guru merasakan ada perubahan tingkah laku siswa. Siswa yang

sebelumnya tidak dapat mengikutinya dengan baik, pada siklus II ini, siswa mulai

mengikuti dan menikmati pembelajaran yang diterapkan oleh guru. Siswa yang

mulanya ditegur guru pada siklus I yaitu ressponden nomor 7, pada siklus II ini

tidak membuat gaduh lagi. Pada siklus II ini siswa sudah dapat menyesuaikan

pendekatan kontekstual yang diberikan guru. Siswa sudah merespons positif

pembelajaran membaca intensif teks profil tokoh dengan baik. Berdasarkan data

diperoleh 80% dari jumlah keseluruhan siswa tertarik terhadap teknik

pembelajaran yang digunakan oleh guru sedangkan sisanya 20% tertarik. Berarti

ada peningkatan sebesar 24% dari siklus I. Ketertarikan siswa dalam pembelajaran

dikarenakan guru mengemas metode pembelajaran sedemikian rupa sehingga

tidak membosankan.
77

Berdasarkan observasi 78% dari jumlah keseluruhan siswa sudah aktif

bertanya dan memberi tanggapan sedangkan sisanya 22% masih pasif. Berarti ada

peningkatan sebesar 38% dari siklus I. Siswa yang aktif tersebut di antaranya

adalah responden nomor 18, 20, 24, 26 dan 32. Siswa-siswa ini lebih aktif

bertanya dan memberi tanggapan dibandingkan teman-temannya yang cenderung

pasif tidak mau bertanya.

Pada siklus II ini sebagian besar siswa atau 86% dari jumlah keseluruhan

siswa bersemangat dalam mengikuti pembelajaran. Berarti ada peningkatan

sebesar 34% dari siklus I. Keberhasilan ini tidak lepas dari pendekatan yang

digunakan oleh guru. Keaktifan siswa dalam menjawab pertanyaan guru juga

mengalami peningkatan sebesar 40% dari siklus I.

Berdasarkan data pada siklus II 85% dari jumlah keseluruhan siswa sudah

aktif dalam menemukan riwayat hidup tokoh, keistimewaan tokoh, dan hal-hal

yang bermanfaat sedangkan sisanya 15% masih pasif. Peningkatan ini

menunjukkan bahwa sebagian besar siswa sudah paham dalam menemukan

informasi yang terdapat pada teks profil tokoh.

Bahan bacaan yang disajikan pada siklus II ini adalah teks bacaan yang

berjudul Chairil Anwar. Sebagian besar siswa atau 86% tertarik terhadap bahan

bacaan yang disajikan sedangkan sisanya 14% merasa kurang tertarik terhadap

bahan bacaan tersebut.

Kecakapan siswa dalam menyimpulkan hasil temuannya sudah baik.

Sebagian besar siswa atau sebesar 82% siswa sudah benar dalam menyimpulkan

hasil temuannya. Berarti pada siklus II ini siswa sudah paham dan sungguh-
78

sungguh pada saat menemukan informasi yang terdapat pada teks profil tokoh

sehingga penyimpulan hasil temuannya sudah benar. Keaktifan siswa dalam

pembelajaran siklus II ini juga meningkat menjadi 77%.

Pada kegiatan inti pembelajaran, guru menugaskan siswa untuk

mendiskusikan teks profil tokoh yang telah dibagikan guru. Mereka diminta untuk

menyarikan riwayat hidup tokoh, menyimpulkan keistimewaan tokoh, dan

mencatat hal-hal yang bermanfaat yang terdapat pada teks profil tokoh. Respons

siswa pada saat itu adalah seluruh siswa tampak aktif dalam mendiskusikan dan

mempresentasikan jawabannya. Hal ini terbukti dengan data yang diperoleh.

Berdasarkan data, sebagian besar siswa atau sebesar 89% siswa aktif dalam

berdiskusi. Kebanyakan siswa sudah berani mempresentasikan hasil diskusinya ke

depan kelas dan menanggapi hasil kerja temannya. Kini 67% siswa sudah berani

memberikan tanggapan dari hasil presentasi temannya walaupun masih ada

beberapa perwakilan kelompok yang masih malu menanggapi hasil kerja

temannya. Selanjutnya guru memberikan penghargaan kepada kelompok yang

jawabannya benar. Siswa tampak senang dan menikmatinya karena sebelumnya

guru pamong belum pernah menggunakan metode seperti itu.

Pada saat pemberian materi telah selesai, tes membaca intensif teks profil

tokoh dilaksanakan untuk mengukur sejauh mana kadar kemampuan dan

pemahaman siswa dalam membaca intensif teks profil tokoh yang telah diajarkan

guru. Sebagian besar siswa atau sebesar 83% siswa mengerjakan tes tersebut

dengan sungguh-sungguh tanpa menunggu teguran dari guru. Pada siklus II

seluruh siswa mampu mengerjakan tes dengan waktu yang ditentukan.


79

Berdasarkan pengamatan secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa

perilaku negatif sudah tergeser menjadi perilaku positif. Peningkatan perilaku

siswa dari perilaku negatif ke dalam perilaku positif tidak lepas dari usaha guru

yang mengubah pola pembelajaran yang disukai siswa. Namun, perubahan pola

pembelajaran ini tentunya masih dalam konteks pembelajaran kontekstual

komponen inquiry. Rencana pembelajaran pada siklus II dilakukan dengan

perencanaan yang matang serta melalui tahap perbaikan tindakan yang sekiranya

dapat diikuti oleh siswa.

4.1.3.2.2 Hasil Jurnal

Jurnal yang digunakan dalam penelitian siklus II masih sama seperti siklus

I yaitu jurnal siswa dan jurnal guru. Kedua jurnal tersebut berisi perasaan,

tanggapan, pesan dan kesan dari perasaan siswa dan guru selama pembelajaran

membaca intensif teks profil tokoh berlangsung.

a. Jurnal Siswa

Jurnal siswa harus diisi oleh siswa tanpa terkecuali. Pengisisan jurnal

tersebut dilakukan pada akhir pembelajaran membaca intensif teks profil tokoh

dengan pendekatan kontekstual komponen inquiry. Tujuan diadakan jurnal siswa

ini untuk mengetahui segala sesuatu yang terjadi pada saat berlangsungnya

pembelajaran dan mengungkap kesulitan-kesulitan siswa. Jurnal siswa ini terdiri

dari dari lima pertanyaan yaitu bagaimana tanggapan, pendapat atau perasaan

siswa mengenai: (1) bahan yang disajikan guru; (2) ketertarikan siswa pada

pembelajaran membaca intensif teks profil tokoh dengan pendekatan kontekstual;


80

(3) kemudahan atau kesulitan siswa dalam memahami bacaan; (4) gaya guru

dalam mengajar; (5) kesan dan pesan siswa terhadap pembelajaran yang telah

dilaksanakan.

Kegiatan pengisian jurnal ini merupakan hal yang tidak baru lagi, karena

penisian ini pernah dilakukan siswa pada siklus I. Pada saat pengisian jurnal ini

siswa tampak antusias ingin segera mendapatkan jurnal dan mengisinya. Setelah

semua siswa mendapatkan bagiannya, siswa segera mengisi jurnal tersebut dengan

situasi tenang. Hasil jurnal siswa pada siklus II ini dipaparkan sebagai berikut.

Pada dasarnya sebagian besar siswa tertarik terhadap bahan yang

disajikan. Mereka juga menanggapi bahwa bahan yang disajikan oleh guru dapat

menambah pengetahuan siswa mengenai jati diri seorang tokoh sehingga mereka

lebih mengenal secara mendalam.

Selama mengikuti pembelajaran membaca intensif teks profil tokoh

dengan menggunakan pendekatan kontekstual komponen inquiry respons yang

diberikan siswa cukup mengesankan. Seluruh siswa menyatakan senang

mengikuti pembelajaran membaca intensif teks profil tokoh. Siswa merasa senang

karena pengalaman baru tentang pembelajaran membaca intensif teks profil tokoh

didapatkannya dengan metode guru yang menarik. Guru memberikan

penghargaan yang sebelumnya tidak didapatkan siswa selama pembelajaran

membaca intensif teks profil tokoh.

Sebagian besar siswa menyatakan bahwa mereka tidak mengalami

kesulitan dalam memahami bacaan. Bahkan ada siswa yang menyatakan

pembelajaran kontekstual komponen inquiry membantu mereka memahami


81

bacaan. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa pendekatan kontekstual

komponen inquiry ini telah berhasil membawa siswa pada pemahaman

pembelajaran yang sempurna.

Siswa secara keseluruhan dapat menerima gaya guru dalam mengajar dan

kehadiran guru selama pembelajaran. Hal itu penting untuk diketahui agar

pembelajaran dapat berlangsung lancar. Kehadiran guru dan gaya guru dalam

mengajar mempengaruhi hasil dari kegiatan pembelajaran. Sebagian besar siswa

menyatakan bahwa dalam menyampaikan materi guru tidak bertele-tele. Dalam

menjelaskannya pun guru menyusupi dengan lelucon agar siswa tidak bosan.

Hal lain yang disampaikan siswa berkaitan dengan pembelajaran

kontekstual komponen inquiry adalah kesan dan pesan siswa setelah mengikuti

pembelajaran. Siswa secara keseluruhan menyatakan bahwa mereka menyukai

pembelajaran dengan pendekatan kontekstual karena pembelajaran dengan

pendekatan kontekstual menghidupkan suasana kelas menjadi hidup sehingga

siswa tidak merasa bosan dan jenuh. Mereka menginginkan agar pembelajaran

selanjutnya wacana yang digunakan lebih mudah dan bervariasi.

b. Jurnal Guru

Jurnal guru ini berisi hal yang dirasakan guru selama proses pembelajaran

berlangsung. Adapun hal-hal yang menjadi objek sasaran jurnal guru ini adalah:

(1) Minat siswa dalam mengikuti pembelajaran membaca intensif profil tokoh

dengan pendidikan kontekstual komponen inquiry; (2) Respons siswa terhadap

teks profil tokoh yang dihadirkan guru; (3) Keaktifan siswa selama mengikuti

pembelajaran membaca intensif teks profil tokoh; (4) Tingkah laku siswa di kelas
82

saat diskusi kelompok berlangsung; (5) Fenomena yang muncul di kelas saat

pembelajaran berlangsung.

Berdasarkan objek sasaran yang diamati dan dirasakan peneliti saat

menjalankan pembelajaran yang tertuang dalam jurnal, dapat dijelaskan bahwa

guru sudah merasa puas terhadap proses pembelajaran, karena hasil yang dicapai

pada siklus II ini sudah sesuai dengan target yang ditentukan, bahkan melampaui

target. Target minimal rata-rata klasikal yang ditentukan pada siklus II adalah 75

sedangkan hasil yang tercapai sebesar 81. Dengan demikian, dapat dikatakan

keberhasilan ini merupakan keberhasilan guru dan siswa dalam memberikan dan

menerima pembelajaran kontekstual komponen inquiry ternyata berhasil dapat

meningkatkan kebutuhan siswa dalam membaca intensif teks profil tokoh. Hal ini

terbukti dengan hasil-hasil yang dicapai baik dari siklus I sampai siklus II yang

terus mengalami peningkatan. Siswa akhirnya dapat menerima dengan baik

pembelajaran yang diberikan guru. Respon positif siswa tergambar pada saat

pembelajaran berlangsung, siswa tampak menikmati pembelajaran yang guru

berikan. Tugas-tugas yang diberikan guru dijalankan dengan baik oleh siswa.

Semua siswa merespon positif teks profil tokoh yang dihadirkan guru.

Mereka tampak antusias dalam membaca teks yang berjudul Chairil Anwar. Teks

ini sengaja dipilih oleh guru karena di dalam teks ini berisikan riwayat hidup

penyair terkenal yaitu Chairil Anwar.

Keaktifan siswa dalam kegiatan pembelajaran sudah banyak mengalami

peningkatan, walaupun masih terdapat beberapa siswa yang malas untuk diskusi
83

kelompok. Sebagian kecil siswa yang berperilaku negatif tidak menyurutkan

semangat siswa yang aktif dalam melakukan kegiatan diskusi.

Tingkah laku siswa pada saat pembelajaran siklus II sudah banyak

kemajuan. Pada siklus II ini siswa lebih banyak bertanya, menjawab pertanyaan

dan berkomentar terhadap hal-hal yang dipertanyakan guru. Siswa sudah berani

mengeluarkan pendapatnya tanpa ragu-ragu lagi dan malu-malu.

Fenomena-fenomena lain yang muncul di kelas saat pembelajaran siklus II

yang paling menonjol adalah siswa semakin aktif dan siswa semakin akrab dengan

guru. Hal ini dapat dilihat dari sikap siswa yang ramah kepada guru praktikan.

Bahkan ada siswa yang menginginkan agar guru praktikan mengajarkan pelajaran

Bahasa Indonesia kepada mereka. Hal inilah yang membuat guru praktikan

merasa senang dan bahagia.

4.1.3.2.3. Hasil Wawancara

Wawancara pada siklus II dilakukan kepada siswa yang memperoleh nilai

tertinggi, nilai sedang atau cukup, dan nilai terendah. Ketiga siswa tersebut

bernama Dika Permatasari yang mempunyai nilai tertinggi, Fadhilah Rahmawati

yang mempunyai nilai sedang dan Dimas Leon yang memperoleh nilai terendah.

Tujuan dilakukannya wawancara siklus II ini untuk mengetahui sejauh mana

sikap-sikap siswa terhadap proses pembelajaran membaca intensif teks profil

tokoh dengan pendekatan kontekstual komponen inquiry. Teknik wawancara

siklus II ini masih sama dengan siklus I. Siswa menjawab semua pertanyaan yang

dilontarkan guru atau pewawancara. Adapun pertanyaan yang diajukan guru


84

kepada siswa meliputi : (1) bagaimana menurut siswa bahan bacaan yang

disajikan oleh guru dalam pembelajaran; (2) bagaimana menurut siswa tentang

penggunaan pendekatan kontekstual komponen inquiry yang digunakan dalam

pembelajaran membaca intensif teks profil tokoh; (3) kemudahan apa saja yang

diperoleh siswa dalam pembelajaran membaca intensif teks profil tokoh dengan

pendekatan kontekstual komponen inquiry; (4) kesulitan apa saja yang ditemui

pendekatan kontekstual komponen inquiry; (5) apa manfaat yang diperoleh siswa

dari kegiatan pembelajaran yang telah dilaksanakan; (6) apa harapan siswa

berkaitan dengan bahan bacaan yang disajikan untuk pertemuan selanjutnya; (7)

apa harapan siswa berkaitan dengan kegiatan pembelajaran yang disajikan untuk

pertemuan selanjutnya.

Pertanyaan pertama yang diajukan pewawancara dijawab oleh ketiga

responden dengan jawaban yang sama. Menurut mereka teks yang disajikan oleh

guru mudah dipahami. Pertanyaan yang kedua juga dijawab sama oleh kedua

responden dari nilai yang tertinggi, sedang dan rendah. Ketiga siswa tersebut

menyatakan bahwa penggunaan pendekatan kontekstual komponen inquiry yang

digunakan dalam pembelajaran membaca intensif teks profil tokoh menciptakan

pembelajaran yang menarik sehingga siswa tidak merasa bosan dalam mengikuti

pembelajaran Bahasa Indonesia.

Pada siklus II siswa mengalami kemudahan dari pembelajaran membaca

intensif teks profil tokoh dengan pendekatan kontekstual komponen inquiry. Hal

yang sama juga diungkapkan oleh Dika, Fadhilah dan Dimas Leon. Mereka

menyatakan bahwa pembelajaran yang telah dilaksanakan dapat memudahkan


85

mereka dalam memahami bacaan. Hal ini dikarenakan pelaksanaan pembelajaran

membaca intensif teks profil dengan pendekatan kontekstual pada siklus II

dilaksanakan secara berkelompok. Pada saat menyarikan riwayat hidup tokoh,

menyimpulkan keistimewaan tokoh dan mencatat hal-hal yang bermanfaat yang

terdapat pada teks, siswa bekerja secara diskusi. Mereka bisa bertukar pikiran,

saling menanggapi dan menyimpulkan untuk mencari jawaban yang tepat.

Selanjutnya pertanyaan keempat masih sama dengan pertanyaan

wawancara siklus I yaitu kesulitan-kesulitan yang dialami siswa setelah

mendapatkan pembelajaran membaca intensif teks profil tokoh melalui

pendekatan kontekstual komponen inquiry. Jawaban yang sama masih terlontar

dari ketiga siswa “tidak ada”. Jawaban singkat ini sungguh berarti bagi seorang

guru karena dapat dikatakan pembelajaran guru dalam membaca intensif teks

profil tokoh sudah berhasil.

Pada pembelajaran siklus II ini siswa memperoleh manfaat yang besar.

Dika, siswa yang mempunyai skor tertinggi menyatakan bahwa pembelajaran

yang dilaksanakan dengan diskusi dapat melatih kerjasama antara sesama siswa.

Sedangkan Fadhilah, siswa yang mempunyai skor cukup menyatakan bahwa

pembelajaran membaca intensif teks profil tokoh dengan pendekatan kontekstual

komponen inquiry menciptakan pembelajaran menjadi menarik sehingga siswa

merasa senang mengikuti pembelajaran Bahasa Indonesia. Berbeda dengan

jawaban Dimas, siswa yang mempunyai skor terendah, ia mengungkapkan bahwa

pembelajaran membaca intensif teks profil tokoh dengan metode diskusi, dapat

mengetahui apakah jawabannya sudah sesuai atau belum.


86

Berkaitan dengan bahan bacaan yang disajikan, Dika berharap bahwa pada

pertemuan selanjutnya bahan bacaannya lebih mudah dipahami dan jelas.

Sedangkan Fadhilah berharap bahwa pada pertemuan selanjutnya bahan

bacaannya tidak terlalu panjang. Berbeda dengan Dika dan Fadhilah, Dimas

berharap bahwa pada pertemuan selanjutnya bahan bacaan yang disajikan harus

lebih menarik, teks yang disajikan tidak hanya profil tokoh dalam negeri saja,

tokoh mancanegara pun juga disajikan. Mereka juga berharap bahwa kegiatan

pembelajaran yang dilaksanakan pada pertemuan selanjutnya agar lebih

menghidupkan suasana belajar dan lebih menarik sehingga mereka tidak merasa

bosan dan jenuh.

Berdasarkan hasil wawancara dari ketiga siswa ini dapat disimpulkan

bahwa mereka sekarang sudah memahami materi pembelajaran membaca intensif

teks profil tokoh. Keberhasilan siswa dalam memahami materi pembelajaran

membaca intensif teks profil tokoh tidak lepas dari pengaruh metode dan cara

mengajar guru yang berbeda dari sebelumnya, siswa merasa senang karena siswa

menemukan pengalaman baru. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa

pembelajaran kontekstual komponen inquiry yang diterapkan guru sudah berhasil

meningkatkan keterampilan siswa dalam membaca intensif teks profil tokoh.

4.1.3.2.4. Hasil Dokumentasi Foto

Pada pelaksanaan pembelajaran siklus II ini, dokumentasi foto yang

diambil meliputi aktivitas siswa pada saat membaca intensif teks profil tokoh,

aktivitas siswa pada saat diskusi, aktivitas siswa pada saat memberi tanggapan,
87

pendapat maupun sanggahan. Deskripsi gambar pada siklus II selengkapnya

dipaparkan berikut ini.

Gambar 4. Aktivitas Siswa Pada Saat Membaca Intensif Teks Profil Tokoh

Gambar 4 menunjukkan aktivitas siswa pada saat membaca intensif teks

profil tokoh. Pada gambar tampak bahwa siswa serius dalam membaca teks yang

berjudul Chairil Anwar. Siswa diminta untuk membaca teks yang berjudul

Chairil Anwar kemudian siswa diminta untuk menyarikan riwayat hidup Chairil

Anwar dan menyimpulkan keistimewaannya serta mencatat hal-hal yang

bermanfaat yang terdapat pada teks tersebut. Pada siklus II ini tidak tampak lagi

siswa yang berjalan-jalan di sekitar kelas, siswa tampak serius dan sungguh-

sungguh dalam membaca teks Chairil Anwar. Pada siklus II ini tidak tampak lagi

siswa yang berjalan di sekitar kelas. Dengan demikian, terjadi perubahan tingkah

laku dari siklus I ke siklus II.


88

Gambar 5. Aktivitas Siswa Pada Saat Berdiskusi.

Gambar 5 ditunjukkan kegiatan siswa pada saat berdiskusi. Pada gambar

tampak bahwa siswa sangat aktif berdiskusi tentang pembelajaran dan soal-soal

yang harus dikerjakan. Ada siswa yang sedang bertukar pikiran untuk menemukan

jawaban yang mereka anggap tepat, ada yang sedang mencatat alternatif jawaban

yang disampaikan temannya, dan ada yang sedang membaca teks bacaan untuk

menemukan jawaban lain. Beberapa kelompok ada yang sangat aktif dan antusias

untuk menjadi yang lebih baik dari kelompok yang lain.

Keantusiasan siswa tampak ketika ada salah satu anggota kelompok yang

bertanya tentang materi pada guru, kelompok yang lain tidak ketinggalan. Mereka

bertanya pada guru tentang materi yang mereka anggap sulit.


89

Gambar 6. Aktivitas Siswa Pada Saat Memberi Tanggapan

Gambar 6 menunjukkan kegiatan siswa pada saat memberi tanggapan,

pendapat maupun sanggahan kepada kelompok yang tampil. Ketika salah satu

kelompok tampil dan mempresentasikan hasil diskusinya, kelompok lain

mendengarkan dan menanggapi atau memberi sanggahan. Pada gambar tampak

bahwa siswa sangat aktif dan antusias dalam memberi tanggapan, pendapat,

maupun sanggahan dari jawaban kelompok yang tampil dengan mengacungkan

jari.

4.2. Pembahasan

Pembahasan dalam skripsi i9ni meliputi pembahasan tentang peningkatan

keterampilan membaca intensif teks profil tokoh kelas VII B SMP Negeri 10

Semarang dan perubahan perilaku siswa kelas VII B setelah mengikuti


90

pembelajaran membaca intensif teks profil tokoh dengan pendekatan kontekstual

komponen inquiry.

4.2.1 Peningkatan Keterampilan Membaca Intensif Teks Profil Tokoh

Kelas VII B SMPN 10 Semarang Setelah Mengikuti Pembelajaran

Membaca Intensif Teks Profil Tokoh dengan Pendekatan Kontekstual

Komponen Inquiry

Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterampilan siswa kelas VII B

dalam membaca intensif teks profil tokoh meningkat setelah mengikuti

pembelajaran dengan pendekatan kontekstual komponen inquiry. Peningkatan

keterampilan siswa dalam membaca intensif teks profil tokoh dapat dilihat pada

tabel 11 berikut ini!

Tabel 11. Peningkatan Keterampilan Membaca Intensif Teks Profil Tokoh

No. Aspek Skor Rata-rata Peningkatan (%)


Penilaian Kelas
PT SI S II PT-S I SI-S II PT-SII
1. Menyarikan 58 74,8 85,6 16,8% 10,8% 27,6%
Riwayat Hidup
Tokoh
2. Menyimpulkan 51 72,3 81,3 21,3% 9% 30,3%
Keistimewaan
Tokoh
3. Mencatat hal- 51 56,4 76,4 5,4% 20% 25,4%
hal yang
bermanfaat
Rat-rata 56,51 67,46 81 10,95% 13,54% 24,49%

Pada tabel 11 ditunjukkan bahwa ketiga hasil tes keterampilan membaca

intensif teks profil tokoh yang meliputi tes awal atau pratindakan, tes akhir siklus

I, dan tes akhir siklus II mengalami peningkatan. Pada pratindakan rata-rata kelas

sebesar 56,51 termasuk kategori kurang. Aspek menyarikan riwayat hidup tokoh
91

pada pratindakan skor rata-rata kelas sebesar 58. Pada pratindakan siswa belum

memahami unsur-unsur apa saja yang perlu disebutkan dalam menyarikan riwayat

hidup tokoh, setelah dilakukan tindakan siklus I siswa mulai paham bahwa dalam

menyarikan riwayat hidup tokoh, identitas dan kehidupan tokoh perlu disebutkan

sehingga pada siklus I skor rata-rata kelas aspek menyarikan riwayat hidup tokoh

meningkat menjadi 72,3. Berarti ada peningkatan sebesar 16,8% dari pratindakan

ke siklus I. Pada siklus II skor rata-rata kelas aspek menyarikan riwayat hidup

tokoh meningkat sebesar 10,8% menjadi 85,6. Peningkatan dari pratindakan ke

siklus II sebesar 27,6%.

Aspek menyimpulkan keistimewaan tokoh pratindakan sebesar 51. Pada

siklus I mengalami peningkatan sebesar 21,3% menjadi 72,3. setelah dilakukan

perbaikan pada siklus II skor rata-rata aspek menyimpulkan keistimewaan tokoh

meningkat sebesar menjadi 81,3. Peningkatan dari pratindakan sampai siklus II

sebesar 30,3%. Peningkatan ini terjadi karena mulanya siswa hanya menyebutkan

keistimewaan tokoh secara garis besar saja setelah dilakukan tindakan pada siklus

I dan siklus II siswa mulai menyimpulkan keistimewaan tokoh secara lengkap dan

benar.

Pada pratindakan skor rata-rata aspek mencatat hal-hal yang bermanfaat

sebesar 51. Pada siklus I mengalami peningkatan sebesar 5,4% menjadi 56,4.

Setelah dilakukan perbaikan pada siklus II skor rata-rata menjadi 76,4 atau

meningkat sebesar 20%. Peningkatan dari pratindakan ke siklus II sebesar 25,4%.

Peningkatan ini terjadi karena siswa mulai paham dalam menyebutkan hal-hal

yang bermanfaat.
92

Rata-rata kelas pada tes pratindakan, tes akhir siklus I dan tes akhir siklus

II juga mengalami peningkatan. Pada tes pratindakan rata-rata kelas sebesar 56,51

atau dalam kategori kurang. Pada siklus I hasil tes menjadi 67,46 atau meningkat

sebesar 10,95%. Peningkatan ini terjadi karena pada siklus I pembelajaran

membaca intensif teks profil tokoh menggunakan pendekatan kontekstual

komponen inquiry.

Pada siklus II hasil tes menjadi 81 atau meningkat sebesar 13,54%. Pada

siklus II rata-rata kelas meningkat menjadi 81%. Skor tertinggi pada tes akhir

siklus II diperoleh oleh Dika Permatasari dengan nilai 96, Desi Tresiana, Dwi Eka

Suci dan Sumawardani dengan nilai 93. Peningkatan itu ditandai pula dengan

tidak adanya yang memperoleh nilai kurang dari 65. Adanya peningkatan antara

siklus I ke siklus II tidak lepas dari penggunaan metode yang digunakan oleh

guru. Pada siklus II peneliti menggunakan metode diskusi. Pelaksanaan diskusi

kelompok pada siklus II dipilih untuk membantu siswa dalam menyimpulkan data

yang diperoleh masing-masing anggota kelompok. Diskusi dilakukan agar antara

siswa yang satu dengan siswa yang lain dapat saling bertukar pikiran,

mengemukakan pendapat maupun sanggahannnya.

Berdasarkan dari data yang terkumpul, siswa yang memperoleh kategori

sangat baik pada tes awal belum ada, tetapi pada siklus I terdapat 1 orang siswa

atau sebanyak 3%, telah berhasil memperoleh kategori nilai sangat baik.

Sedangkan pada siklus II terdapat 13 siswa yang memperoleh kategori skor sangat

baik. Kategori baik pada tes awal belum ada, tetapi pada siklus I terdapat 9 orang

siswa atau sebesar 23% dan pada siklus II terdapat 19 siswa atau sebesar 49%.
93

Sebaliknya kategori nilai cukup mengalami penurunan yang berarti. Pada siklus I

terdapat 19 siswa atau sebesar 48% sedangkan pada siklus II terdapat 7 siswa atau

sebesar 18%. Kategori nilai kurang pada tes awal sebanyak 25 siswa atau sebesar

64% sedangkan pada siklus I terdapat 10 orang siswa atau sebesar 26% dan pada

siklus II tidak seorang siswa pun yang menduduki kategori tersebut. Dengan

demikian terjadi peningkatan yang baik pada siklus I dan siklus II.

Peningkatan keterampilan membaca intensif teks profil tokoh siswa ini

merupakan bukti keberhasilan pendekatan kontekstual komponen inquiry dalam

meningkatkan keterampilan membaca intensif teks profil tokoh. Sebelum

dilaksanakannya pendekatan kontekstual komponen inquiry, keterampilan

membaca intensif teks profil tokoh siswa masih kurang, setelah diberlakukannya

pendekatan kontekstual komponen inquiry pada siklus I dan II mengalami

peningkatan. Pada siklus I masigh kategori cukup, setelah dilakukan perbaikan

pada siklus II keterampilan membaca intensif teks profil tokoh menjadi baik.

4.2.2 Perubahan Perilaku Siswa Kelas VII B SMPN 10 Semarang Setelah

Mengikuti Pembelajaran Membaca Intensif Teks Profil Tokoh

dengan Pendekatan Kontekstual Komponen Inquiry

Peningkatan keterampilan siswa dalam membaca intensif teks profil tokoh

diikuti pula dengan perubahan perilaku siswa. Sebelum dilakukan tindakan,

menunjukkan bahwa kesiapan siswa dalam mengikuti pembelajaran masih kurang

ketika diberi soal tes mereka mengeluh meskipun akhirnya dikerjakan. Perubahan

perilaku siswa setelah mengikuti pembelajaran dapat dilihatv dari hasil observasi.
94

Hasil observasi yang dilakukan pada siklus I dan siklus II dapat dilihat pada tabel

12 berikut ini!

Tabel 13. Hasil Observasi Siklus I dan Siklus II

Persentase Aktivitas
Persentase
No. Jenis Perilaku Siswa
Peningkatan
Siklus I Siklus II
1. Sikap siswa terhadap teknik 56% 80% 24%
pembelajaran
2. Keaktifan siswa dalam 40% 78% 38%
bertanya dan berkomentar
3. Semangat siswa dalam 53% 86% 33%
mengikuti pembelajaran
4. Keaktifan siswa dalam 47% 86% 39%
menemukan riwayat hidup
tokoh, keistimewaan tokoh
dan mencatat hal-hal yang
bermanfaat
5. Ketertarikan siswa terhadap 63% 86% 23%
bahan bacaan yang disajikan
6. Kecakapan siswa dalam 48% 82% 34%
menyimpulkan hasil
temuannya
7. Keaktifan siswa dalam 55% 77% 22%
pembelajaran
8. Keaktifan siswa dalam 41% 67% 26%
menanggapi hasil kerja
temannya
9. Keaktifan siswa dalam 82% 83% 1%
mengerjakan soal
10. Keaktifan Siswa dalam - 88% 87,82%
berdiskusi

Pada tabel 13 ditunjukkan perubahan perilaku siswa dari siklus I ke siklus

II. Kesepuluh jenis perilaku yang diamati mengalami perubahan pada siklus II,

hal ini merupakan bukti bahwa terjadi perubahan perilaku siswa setelah dilakukan

perbaikan pembelajaran kontekstual komponen inquiry. Untuk jenis perilaku

siswa terhadap teknik pembelajaran yang digunakan oleh guru, pada siklus I
95

mencapai 56% dan pada siklus II meningkat menjadi 80%. Terjadi peningkatan

sebesar 24% dari siklus I. Siswa mulai tertarik terhadap teknik pembelajaran yang

dilakukan oleh guru. Siswa menjadi tertarik terhadap teknik pembelajaran yang

digunakan oleh guru karena guru mengemas sedemikian rupa sehingga

pembelajaran menjadi menarik dan tidak membosankan. Siswa mulai aktif dan

bertanya dan berkomentar atau memberi tanggapan. Keaktifan siswa dalam

bertanya dan berkomentar mencapai 40% sedangkan siklus II meningkat menjadi

78%. Terjadi peningkatan sebesar 38% dari siklus I. Peningkatan ini terjadi

karena reward yang diberikan oleh guru pada siklus II lebih menarik. Semangat

siswa dalam mengikuti pembelajaran juga meningkat. Siswa yang bersemangat

dalam pembelajaran siklus I sebesar 85% dan meningkat menjadi 86% pada siklus

II. Terjadi peningkatan sebesar 33%. Peningkatan ini terjadi karena guru

menggunakan metode diskusi sehingga siswa bersemangat dalam mengikuti

pembelajaran karena dapat bertukar pikiran dengan anggota kelompoknya. Siswa

tidak hanya bersemangat mengikuti pembelajaran saja, namun dalam menemukan

riwayat hidup tokoh, keistimewaan tokoh dan mencatat hal-hal yang bermanfaat

masih kurang. Pada siklus I siswa yang aktif dan sungguh-sungguh dalam

menemukan riwayat hidup tokoh, keistimewaan tokoh dan mencatat hal-hal yang

bermanfaat sebesar 47%. Masih sedikitnya siswa yang aktif dan sungguh-sungguh

dalam menemukan riwayat hidup tokoh, keistimewaan tokoh dan mencatat hal-hal

yang bermanfaat disebabkan karena mereka masih bingung terhadap komponen

inquiry dalam pembelajaran kontekstual. Sedangkan pada siklus II siswa yang

aktif dalam menemukan riwayat hidup tokoh, keistimewaan tokoh dan mencatat
96

hal-hal yang bermanfaat meningkat sebesar 39% menjadi 86%. Peningkatan ini

terjadi karena siswa sudah paham mengenai komponen inquiry dalam

pembelajaran kontekstual.

Pada pembelajaran siklus I siswa tertarik terhadap bahan bacaan yang

disajikan oleh guru. Ketertarikan siswa terhadap bahan bacaan yang disajikan

sebesar 63%. Ketertarikan ini terjadi karena guru menyajikan teks profil tokoh

AFI yang sudah mereka kenal. Sedangkan pada siklus II ketertarikan siswa

meningkat menjadi 86%. Ketertarikan ini terjadi karena guru menyajikan tokoh

penyair terkenal Chairil Anwar dan tokoh pertelevisian Ira koesno. Dalam

mencatat hal-hal penting yang disampaikan oleh guru pun meningkat. Pada siklus

I siswa yang mencatat hal-hal penting sebesar 48% sedangkan pada siklus II

sebesar 82%. Peningkatan ini terjadi karena siswa mulai menyadari bahwa dengan

mencatat hal-hal penting yang disampaikan oleh guru membantu mereka dalam

mengerjakan soal yang telah disediakan oleh guru.

Kecakapan siswa dalam menyimpulkan hasil temuannya semakin

meningkat. Berdasarkan data pada siklus I kecakapan siswa dalam menyimpulkan

hasil temuannya sebesar 48% sedangkan pada siklus II meningkat menjadi 82%.

Peningkatan ini terjadi dikarenakan pada siklus II siswa menyimpulkan data

secara berkelompok.

Keaktifan siswa dalam pembelajaran juga sudah terlihat. Pada siklus I 55%

siswa yang aktif dalam pembelajaran sedangkan sisanya 45% masih pasif. Pada

siklus II mengalami peningkatan. Siswa yang aktif dalam pembelajaran sebesar

77%. Peningkatan ini terjadi karena pada siklus II guru menggunakan metode
97

yang berbeda dari siklus I sehingga siswa merasa tertarik untuk terlibat dalam

pembelajaran membaca intensif teks profil tokoh. Pada siklus II guru

menggunakan metode diskusi dimana tiap-tiap kelompok saling barsaing untuk

menemukan jawaban yang tepat dan terpilih menjadi kelompok yang terbaik.

Pada kegiatan diskusi yang diutamakan adalah penemuan riwayat hidup tokoh dan

keistimewaannya serta hal-hal yang bermanfaat yang diusulkan masing-masing

siswa dan penyatuan pendapat. Melalui kerjasama yang baik dalam diskusi,

siswa akan mengalami kemudahan dalam menyarikan riwayat hidup tokoh,

menyimpulkan keistimewaannya dan mencatat hal-hal yang bermanfaat dari teks

profil tokoh. Diskusi pada pembelajaran membaca intensif teks profil tokoh juga

bermanfaat untuk melatih siswa berargumentasi dan mengasah kemampuan

mereka untuk menemukan jawaban yang benar berdasarkan pada alasan yang

tepat. Pada saat berdiskusi, tidak jarang di antara mereka yang menanyakan pada

guru tentang materi. Komunikasi dua arah antara guru dan siswa terjalin baik pada

saat diskusi. Keaktifan siswa dalam berdiskusi pada siklus II sebesar 87,82%.

Untuk mengetahui temuannya benar atau salah siswa diminta untuk

mempresentasikan hasil kerjanya. Kemudian siswa lain menanggapi dan

memberikan penilaian. Pada siklus I siswa yang aktif dalam menanggapi hasil

kerja temannya sebesar 41% sedangkan pada siklus II meningkat menjadi 67%.

Peningkatan ini disebabkan karena mereka sadar bahwa dengan menanggapi hasil

kerja temannya mereka dapat bertukar pikiran untuk menemukan jawaban yang

paling tepat.
98

Perubahan perilaku juga terlihat pada kesungguhan siswa dalam

mengerjakan tes membaca intensif teks profil tokoh. Kesungguhan siswa dalam

mengerjakan tes membaca intensif teks profil tokoh pada siklus I sebesar 82%

sedangkan pada siklus II meningkat sebesar 83%. Siswa terlihat sungguh-sungguh

dan serius dalam mengerjakan tes membaca intensif teks profil tokoh karena

mereka semakin paham dan ingin memperbaiki kesalahan untuk mendapatkan

nilai terbaik. Siswa juga tidak menunjukkan perilaku negatif seperti menyontek

atau melihat pekerjaan temannya. Hasilnya siswa dapat menyelesaikan soal tes

membaca intensif teks profil tokoh pada waktu yang telah ditentukan.

Berdasarkan hasil jurnal, wawancara dan dokumentasi foto ternyata pada

silklus I siswa masih bingung dengan pendekatan kontekstual komponen inquiry

yang diterapkan oleh guru. Pada siklus I siswa masih mengalami kesulitan yaitu

dalam mencatat hal-hal yang bermanfaat dan kurang paham penjelasan guru.

Kondisi yang kurang kondusif pada siklus I juga menganggu konsentrasi mereka

dalam membaca intensif teks profil tokoh. Pada siklus II siswa mengaku lebih

senang mengikuti pembelajaran karena pembelajaran lebih menyenangkan, guru

mrnyampaikan materi lebih menyenangkan sehingga siswa mengalami

kemudahan dalam menguasai materi. Pada siklus II suasana kondusif sudah dapat

tercipta sehingga mereka dapat berkonsentrasi dalam membaca intensif teks profil

tokoh.

Perubahan perilaku siswa yang dijelaskan di atas menunjukkan bahwa

pendekatan kontekstual komponen inquiry dapat mengubah perilaku siswa dalam

membaca intensif teks profil tokoh. Hasil observasi, jurnal, wawancara, dan
99

dokumentasi foto menunjukkan perubahan perilaku siswa. perilaku-perilaku

negatif yang ditunjukkan pada kondisi awal dan siklus I berubah menjadi positif

pada siklus II setelah dilakukan perbaikan-perbaikan pada pembelajaran..


100

BAB V

PENUTUP

5.1 Simpulan

Berdasarkan rumusan masalah, hasil penelitian, dan pembahasan dalam

penelitian ini dapat disimpulkan sebagai berikut.

1. Terjadi peningkatan keterampilan membaca intensif teks profil tokoh dengan

pendekatan kontekstual komponen inquiry dengan bukti skor rata-rata kelas

pada pratindakan sebesar 56,51atau berada dalam kategori kurang. Pada siklus

I rata-rata kelas mengalami peningkatan sebesar 10,95% menjadi 67,46 atau

atau berada pada kategori cukup. Pada siklus II rata-rata kelas meningkat

menjadi 81. Hal ini berarti terjadi peningkatan dari siklus I ke siklus II sebesar

13,54%.

2. Terjadi perubahan perilaku siswa pada pembelajaran membaca intensif teks

profil tokoh setelah menggunakan pendekatan kontekstual komponen inquiry

Perubahan perilaku itu adalah perubahan yang positif. Pada siklus I banyak

siswa kurang tertarik terhadap teknik pembelajaran yang digunakan oleh guru.

Mereka cenderung acuh dan tak acuh pada saat pembelajaran berlangsung.

Berbeda dengan pembelajaran siklus I, pada pembelajaran siklus II ini siswa

tampak tertarik terhadap teknik yang digunakan oleh guru. Pada siklus II i

guru menggunakan metode diskusi kelompok untuk menyimpulkan riwayat

hidup tokoh, keistimewaan tokoh dan mencatat hal-hal yang bermanfaat bagi

siswa. Mereka bersemangat saling bertukar pikiran, menyanggah dan memberi

tanggapan kepada sesama anggota kelompoknya. Ternyata pemilihan kegiatan


101

pembelajaran yang tepat dapat mengubah perilaku siswa dari negatif menjadi

perubahan yang positif.

5.2 Saran

Berdasarkan pada simpulan penelitian ini, peneliti memberikan saran

sebagai berikut.

1. Guru mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia hendaknya pada

pembelajaran membaca khususnya membaca intensif teks profil tokoh

menguasai berbagai pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran.

2. Guru hendaknya dalam menyampaikan pembelajaran membaca intensif teks

profil tokoh mrnggunakan pendekatan kontekstual komponen inquiry karena

pembelajaran yang melatih siswa untuk menemukan sendiri informasi atau

keterampilan dan mengaitkannya dengan dunia nyata siswa terbukti dapat

meningkatkan keterampilan membaca intensif teks profil tokoh dan mengubah

perilaku siswa dalam mengikuti pembelajaran membaca.

3. Siswa hendaknya dalam mengikuti pembelajaran membaca intensif teks profil

tokoh dengan semangat dan perilaku positif.

4. Peneliti di bidang pendidikan maupun di bidang bahasa hendaknya selalu

termotivasi untuk melakukan penelitian tentang teknik-teknik pembelajaran

sehingga diperoleh alternatif teknik pembelajaran baru khususnya

pembelajaran membaca.
DAFTAR PUSTAKA

Depdiknas. 2002. Pendidikan Konstektual. Dirjen Pendidikan Dasar dan


Menengah. Direktorat pendidikan lanjutan pertama.

Depdiknas. 2003. Kurikulum 2004. Standar kompetensi Mata Pelajaran Bahasa


dan Sastra Indonesia SMP. Jakarta: Depdiknas.

Depdiknas. 2004. Keterampilan Membaca Pemahaman. Dirjen Pendidikan Dasar


dan Menengah. Dirjen Pendidikan Lanjutan Pertama.

Handayani. 2001, Metode PQRST sebagai Model Peningkatan Keterampilan


Membaca Pemahaman Siswa Kelas III Cawu 2 SLTP YPE Semarang
Tahun Ajaran 2000/2001. Skripsi UNNES.

Khosiah, Imrotul. 2002. Peningkatan Keterampilan Membaca Pemahaman


dengan Metode Tugas Pada Siswa II E MTs Al-Asror Gunungpati
Semarang. Skripsi UNNES.

Kristin, Milla. 2003. Tokoh-tokoh Kriminal dalam Novel Kerudung Merah


Kirmizi Karya Remy Sylado.Skripsi UNNES.

Mulyasa. 2002. Kurikulum Berbasis Kompetensi Konsep, Karakteristik dan


Implementasi 2002. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Bandung.

Mulyati, Yeti dan Harjasujana, Akhmad. 1996/1991. Membaca 2. Depdikbud.

Nurhadi dan Agus Gerrad. 2003. Pembelajaran Kontekstual (Contextual


Teaching and Learning/CTL) dan Penerapannya dalam KBK. Malang:
Universitas Negeri Malang.

Nurhadi. 2004. Kemampuan Membaca Efektif. Jakarta : Agensindo.

Nuryani. 1998. Perbedaan Tingkat Pemahaman Membaca Sebagai Intensif Siswa


yang Diberi Tes Awal (Pre Test) Dengan Siswa yang Tanpa di beri Tes
Awal (Pre Test) Pada Siswa SMU 2 Ungaran Tahun Ajaran 1998/1999.
Skripsi UNNES.

Partini. 1999. Peningkatan Kemampuan Membaca Pemahaman dengan


Menggunakan Teknik SQ3R pada Siswa Kelas I SLTP Negeri 1 Karang
Lewas. Skripsi UNNES.

Rejeki. 2001. Peningkatan Keterampilan Membaca Pemahaman dengan


Menggunakan Teknik Close pada Siswa Kelas II SLTP 1 Sukorejo Kendal.
Skripsi UNNES.

102
103

Rohman. 2001. Peningkatan Keterampilan Membaca Pemahaman dengan Teknik


Skrambel pada siswa kelas II A SLTP Negeri 1 Patean Kendal. Skripsi
UNNES.

Suryanto. 2004. Peningkatan Keterampilan Membaca Pemahaman melalui Media


Komik Pada Siswa Kelas V SD PL Gunung Brintik Semarang. Tahun
ajaran 2003/2004. Skripsi UNNES.

Stephanus. 2004. Peningkatan Keterampilan Membaca Pemahaman melalui


Latihan Berjenjang Siswa Kelas 1 SMP PL Bonifisio tahun 2003/2004.
Skripsi UNNES.

Tarigan, Henry Guntur. 1987. Membaca sebagai suatu Keterampilan Berbahasa.


Bandung: Penerbit Angkasa.
LAMPIRAN

Pedoman Penilaian Tes Membaca Intensif Teks Profil Tokoh

No Kategori Rentang Nilai

1. Sangat Baik 85 – 100

2. Baik 75 – 84

3. Cukup 60 – 74

4. Kurang 0 – 59
Kriteria Penilaian

Tabel 1 Aspek dan skor Penilaian

Aspek Penilaian Skor Maksimal


Menyarikan riwayat hidup tokoh 10
Menyimpulkan keistimewaan tokoh 10
Mencatat hal-hal yang bermanfaat bagi 10
siswa

Tabel 2 Aspek dan Kriteria Penilaian

Aspek Kategori Skor Kriteria Penilaian


Penilaian Skor

Menyarikan Sangat Baik 8-10 Menyebutkan identitas


riwayat hidup tokoh mulai dari nama
tokoh lengkap, tempat
tanggal lahir,
pekerjaan, status,
keluarga, riwayat
pendidikan, prestasi
dan kehidupan tokoh.
Baik 5-7 Menyebutkan identitas
tokoh mulai dari nama
lengkap, tempat
tanggal lahir,
pekerjaan, status,
keluarga, riwayat
pendidikan.
Cukup 2-4 Menyebutkan identitas
tokoh mulai dari nama
lengkap, tempat
tanggal lahir,
pekerjaan, status,
keluarga.
Kurang 0-1 Menyebutkan identitas
tokoh mulai dari nama
lengkap, tempat
tanggal lahir.

Menyimpulkan Sangat Baik 8-10 Menyebutkan


keistimewaan keistimewaan tokoh
tokoh secara lengkap dan
benar.
Baik 5-7 Menyebutkan
keistimewaan tokoh
secara tidak lengkap
tetapi benar.
Cukup 2-4 Menyebutkan
keistimewaan tokoh
secara lengkap tetapi
kurang benar.
Kurang 0-1 Menyebutkan
keistimewaan tokoh
tidak lengkap dan
tidak benar.
Mencatat hal-hal Sangat Baik 8-10 Mencatat hal-hal yang
yang bermanfaat bermanfaat bagi siswa
bagi siswa sebanyak 4 buah.
Baik 5-7 Mencatat hal-hal yang
bermanfaat bagi siswa
sebanyak 3 buah.
Cukup 2-4 Mencatat hal-hal yang
bermanfaat bagi siswa
sebanyak 2 buah.
Kurang 0-1 Mencatat hal-hal yang
bermanfaat bagi siswa
sebanyak 1 buah.
Jurnal Siswa

Mata Pelajaran :
Tempat Pelaksanaan :
Hari/ Tanggal :
Kelas :
Tahun Pelajaran :

Jurnal siswa berisi uraian pendapat/ tanggapan/ perasaaan siswa tentang….


1. Bahan yang disajikan
………………………………………………………
2. Ketertarikan siswa pada pembelajaran membaca intensif teks profil tokoh
dengan pendekatan kontekstual
………………………………………………………
3. Kemudahan atau kesulitan siswa memahami bacaan
………………………………………………………
4. Gaya guru dalam mengajar
……………………………………………………..
5. Lain-lain
………………………………………………………
Jurnal Guru Siklus I

Mata Pelajaran :
Tempat Pelaksanaan :
Hari/ Tanggal :
Kelas :
Tahun Pelajaran :

Uraikan pendapat Anda mengenai pertanyaan di bawah ini !


1. Bagaimanakah minat siswa dalam mengikuti pembelajaran memebaca
intensif teks profil tokoh dengan pendekatan kontekstual komponen
inquiry ?
2. Bagaimanakah respons siswa terhadap teks profil tokoh yang dihadirkan
guru ?
3. Bagaimanakah keaktifan siswa dalam mengikuti pembelajaran membaca
intensif teks profil tokoh ?
4. Uraikan fenomena-fenomena lain yang muncul di kelas saat pembelajaran
berlangsung ?
Jurnal Guru Siklus II

Mata Pelajaran :
Tempat Pelaksanaan :
Hari/ Tanggal :
Kelas :
Tahun Pelajaran :

Uraikan pendapat Anda mengenai pertanyaan di bawah ini !


1. Bagaimanakah minat siswa dalam mengikuti pembelajaran memebaca
intensif teks profil tokoh dengan pendekatan kontekstual komponen
inquiry ?
2. Bagaimanakah respons siswa terhadap teks profil tokoh yang dihadirkan
guru ?
3. Bagaimanakah keaktifan siswa dalam mengikuti pembelajaran membaca
intensif teks profil tokoh ?
4. Bagaimanakah tingkah laku siswa di kelas saat diskusi kelompok
berlangsung ?
5. Uraikan fenomena-fenomena lain yang muncul di kelas saat pembelajaran
berlangsung ?
Lampiran 5

Pedoman Wawancara Siklus I dan Siklus II

Mata Pelajaran :
Hari/ Tanggal :
Kelas :
Tahun Pelajaran :

Pertanyaan-pertanyaan yang digunakan dalam wawancara adalah


sebagai berikut.
1. Bagaimana menurut Anda bahan bacaan yang disajikan untuk pembelajaran
membaca intensif teks profil tokoh dengan pendekatan kontekstual komponen
inquiry?
2. Bagaimana menurut Anda tentang penggunaan pendekatan kontekstual
komponen inquiry yang digunakan dalam pembelajaran membaca intensif
teks profil tokoh ini?
3. Kemudahan apa saja yang Anda dapatkan setelah menciptakan pembelajaran
memebaca intensif teks profil tokoh dengan pendekatan kontekstual
komponen inquiry?
4. Kesulitan apa saja yang Anda temui setelah mendapatkan pembelajaran
membaca intensif teks profil tokoh melalui pendekatan kontekstual komponen
inquiry?
5. Apa manfaat yang Anda peroleh dari kegiatan pembelajaran yang telah
dilaksanakan ini?
6. Apa harapan Anda berkaitan dengan bahan bacaan yang disajikan untuk
pertemuan selanjutnya?
7. Apa harapan Anda berkaitan dengan kegiatan pembelajaran yang disajikan
untuk pertemuan selanjutnya?
Daftar Subjek Penelitia

R-01
R-02
R-03
R-04
R-05
R-06
R-07
R-08
R-09
R-10
R-11
R-12
R-13
R-14
R-15
R-16
R-17
R-18
R-19
R-20
R-21
R-22
R-23
R-24
R-25
R-26
R-27
R-28
R-29
R-30
R-31
R-32
R-33
R-34
R-35
R-36
R-37
R-38
R-39
R-40
Jurnal Siswa Siklus I

Mata Pelajaran :
Tempat Pelaksanaan :
Hari/ Tanggal :
Kelas :
Tahun Pelajaran :

1. Bagaimana pendapat anda mengenai bahan yang disajikan oleh guru?


…………………………………………………………………………
……………………………………………………………………….
2. Apakah anda tertarik pada pembelajaran membaca intensif teks profil
tokoh dengan pendekatan kontekstual
…………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………
3. Apakah Anda mengalami kemudahan atau kesulitan siswa memahami
bacaan?
……………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………..
4. Bagaimana pendapat anda mengenai gaya guru dalam mengajar?
……………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………..
5. Bagaimana kesan dan pesan anda setelah mengikuti pembelajaran
membaca intensif teks profil tokoh dengan pendekatan kontekstual
komponen inquiry?
…………………………………………………………………………….
…………………………………………………………………………..
Jurnal Siswa Siklus II
Mata Pelajaran :
Tempat Pelaksanaan :
Hari/ Tanggal :
Kelas :
Tahun Pelajaran :

1. Bagaimana pendapat anda mengenai bahan yang disajikan oleh guru?


…………………………………………………………………………
……………………………………………………………………….
2. Apakah anda tertarik pada pembelajaran membaca intensif teks profil
tokoh dengan pendekatan kontekstual
…………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………
3. Apakah Anda mengalami kemudahan atau kesulitan siswa memahami
bacaan?
……………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………..
4. Bagaimana pendapat anda mengenai gaya guru dalam mengajar?
……………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………..
5. Bagaimana kesan dan pesan anda setelah mengikuti pembelajaran
membaca intensif teks profil tokoh dengan pendekatan kontekstual
komponen inquiry?
…………………………………………………………………………….
Jurnal Guru Siklus I

Mata Pelajaran :
Tempat Pelaksanaan :
Hari/ Tanggal :
Kelas :
Tahun Pelajaran :

Uraikan pendapat Anda mengenai pertanyaan di bawah ini !


1. Bagaimanakah minat siswa dalam mengikuti pembelajaran memebaca
intensif teks profil tokoh dengan pendekatan kontekstual komponen
inquiry ?
……………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………
2. Bagaimanakah respons siswa terhadap teks profil tokoh yang dihadirkan
guru ?
……………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………
3. Bagaimanakah keaktifan siswa dalam mengikuti pembelajaran membaca
intensif teks profil tokoh ?
……………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………
4. Uraikan fenomena-fenomena lain yang muncul di kelas saat pembelajaran
berlangsung ?
……………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………
…………
Jurnal Guru Siklus II

Mata Pelajaran :
Tempat Pelaksanaan :
Hari/ Tanggal :
Kelas :
Tahun Pelajaran :

Uraikan pendapat Anda mengenai pertanyaan di bawah ini !


1. Bagaimanakah minat siswa dalam mengikuti pembelajaran memebaca
intensif teks profil tokoh dengan pendekatan kontekstual komponen
inquiry ?
……………………………………………………………………………
2. Bagaimanakah respons siswa terhadap teks profil tokoh yang dihadirkan
guru ?
……………………………………………………………………………
3. Bagaimanakah keaktifan siswa dalam mengikuti pembelajaran membaca
intensif teks profil tokoh ?
……………………………………………………………………………
4. Bagaimanakah tingkah laku siswa di kelas saat diskusi kelompok
berlangsung ?
……………………………………………………………………………
5. Uraikan fenomena-fenomena lain yang muncul di kelas saat pembelajaran
berlangsung ?
……………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………
Lampiran 20

Hasil Wawancara Siswa Siklus I

Wawancara ke- : 1
Responden : Fermandha Kurniawan
Nilai : 86 (tertinggi)
Hari, tanggal : Rabu, 10 Agustus 2005
Kelas/Sekolah : VII B/ SMPN 10 Semarang

No. Pertanyaan Jawaban


1. Bagaimana menurut anda bahan bacaan yang Menarik.
disajikan dalam pembelajaran ini?

2. Bagaimana menurut anda mengenai penggunaan Sangat bagus karena


pendekatan kontekstual komponen inquiry? dengan metode ini saya
dapat menjawab
pertanyaan yang diberikan
oleh guru.

3. Kemudahan apa saja yang anda dapatkan setelah Saya mudah memahami
dilaksanakannya pembelajaran membaca intensif bacaan.
teks profil tokoh dengan pendekatan kontekstual
komponen inquiry?

Kesulitan apa saja yang anda temui setelah Tidak ada


4. dilaksanakannya pembelajaran membaca intensif
teks profil tokoh dengan pendekatan kontekstual
komponen inquiry?

Apa manfaat yang anda peroleh dari kegiatan Dapat menemukan sendiri
5. pembelajaran yang telah dilaksanakan? jawaban dari bacaan
tersebut.

Apa harapan anda berkaitan dengan bahan bacaan Bahan bacaannya jangan
6. yang disajikan untuk pertemuan selanjutnya? terlalu panjang dan mudah
dipahami

7. Apa harapan siswa mengenai kegiatan Pembelajaran selanjutnya


pembelajaran yang disajikan untuk pertemuan lebih menarik sehingga
selanjutnya? saya tidak jenuh.
Hasil Wawancara Siswa Siklus I

Wawancara ke- :2
Responden : Fahri Surya Laksana
Nilai : 73 (sedang)
Hari, tanggal : Rabu, 10 Agustus 2005
Kelas/Sekolah : VII B/ SMPN 10 Semarang

No. Pertanyaan Jawaban


1. Bagaimana menurut anda bahan bacaan yang Menarik
disajikan dalam pembelajaran ini?

2. Bagaimana menurut anda mengenai penggunaan Dengan pembelajaran


pendekatan kontekstual komponen inquiry? seperti ini saya dapat
menemukan jawaban
sendiri dari soal-soal yang
disediakan oleh guru.

3. Kemudahan apa saja yang anda dapatkan setelah Memahami bacaan


dilaksanakannya pembelajaran membaca intensif
teks profil tokoh dengan pendekatan kontekstual
komponen inquiry?

4. Kesulitan apa saja yang anda temui setelah Tidak ada


dilaksanakannya pembelajaran membaca intensif
teks profil tokoh dengan pendekatan kontekstual
komponen inquiry?

5. Apa manfaat yang anda peroleh dari kegiatan Belajar berkonsentrasi


pembelajaran yang telah dilaksanakan?

6. Apa harapan anda berkaitan dengan bahan bacaan Bahan bacaannya harus
yang disajikan untuk pertemuan selanjutnya? lebih menarik

7. Apa harapan siswa mengenai kegiatan Suasana belajar lebih


pembelajaran yang disajikan untuk pertemuan menyenangkan dan
selanjutnya? menarik
Hasil Wawancara Siswa Siklus I

Wawancara ke- :3
Responden : Aditya Wijaya
Nilai : 50 (terendah)
Hari, tanggal : Rabu, 10 Agustus 2005
Kelas/Sekolah : VII B/SMPN 10 Semarang

No. Pertanyaan Jawaban


1. Bagaimana menurut anda bahan bacaan yang Bahan bacaannya menarik
disajikan dalam pembelajaran ini? tetapi ada kata-katanya
yang kurang jelas.
2. Bagaimana menurut anda mengenai penggunaan Bagus
pendekatan kontekstual komponen inquiry?

3. Kemudahan apa saja yang anda dapatkan setelah Melatih daya ingat dan
dilaksanakannya pembelajaran membaca intensif mudah memahami
teks profil tokoh dengan pendekatan kontekstual bacaannya
komponen inquiry?

4. Kesulitan apa saja yang anda temui setelah Bacannya terlalu panjang
dilaksanakannya pembelajaran membaca intensif dan waktu untuk membaca
teks profil tokoh dengan pendekatan kontekstual terlalu sedikit
komponen inquiry?

5. Apa manfaat yang anda peroleh dari kegiatan Dapat memahami bacaan
pembelajaran yang telah dilaksanakan? secara mendalam

6. Apa harapan anda berkaitan dengan bahan bacaan Bacannya mudah dipahami
yang disajikan untuk pertemuan selanjutnya? dan menarik

7. Apa harapan siswa mengenai kegiatan Pembelajarannya harus


pembelajaran yang disajikan untuk pertemuan lebih menyenangkan
selanjutnya?
Hasil Wawancara Siswa Siklus II

Wawancara ke- :1
Responden : Dika Permatasari
Nilai : 96 (tertinggi)
Hari, tanggal : Kamis, 18 Agustus 2005
Kelas/Sekolah : VII B/SMPN 10 Semarang

No. Pertanyaan Jawaban


1. Bagaimana menurut anda bahan bacaan yang Teksnya mudah dipahami
disajikan dalam pembelajaran ini?

2. Bagaimana menurut anda mengenai penggunaan Bagus, pembelajaran


pendekatan kontekstual komponen inquiry? menjadi menyenangkan

3. Kemudahan apa saja yang anda dapatkan setelah Mudah memahami bacaan
dilaksanakannya pembelajaran membaca intensif
teks profil tokoh dengan pendekatan kontekstual
komponen inquiry?

4. Kesulitan apa saja yang anda temui setelah Tidak ada


dilaksanakannya pembelajaran membaca intensif
teks profil tokoh dengan pendekatan kontekstual
komponen inquiry?

5. Apa manfaat yang anda peroleh dari kegiatan Dengan diskusi dapat
pembelajaran yang telah dilaksanakan? melatih kerjasama antar
siswa

6. Apa harapan anda berkaitan dengan bahan bacaan Bahan bacannya mudah
yang disajikan untuk pertemuan selanjutnya? dipahami dan jelas

7. Apa harapan siswa mengenai kegiatan Pembelajarannya lain kali


pembelajaran yang disajikan untuk pertemuan dengan berdiskusi dan
selanjutnya? pemberian rewardnya lebih
menarik
Hasil Wawancara Siswa Siklus II

Wawancara ke- :2
Responden : Fadhilah Rahmawati
Nilai : 73 (sedang)
Hari, tanggal : Kamis, 18 Agustus 2005
Kelas/Sekolah : VIIB/SMPN 10 Semarang

No. Pertanyaan Jawaban


1. Bagaimana menurut anda bahan bacaan yang Bacannya mudah dipahami
disajikan dalam pembelajaran ini?

2. Bagaimana menurut anda mengenai penggunaan Bagus


pendekatan kontekstual komponen inquiry?

3. Kemudahan apa saja yang anda dapatkan setelah Mudah mengerti bacaan
dilaksanakannya pembelajaran membaca intensif
teks profil tokoh dengan pendekatan kontekstual
komponen inquiry?

4. Kesulitan apa saja yang anda temui setelah Tidak ada


dilaksanakannya pembelajaran membaca intensif
teks profil tokoh dengan pendekatan kontekstual
komponen inquiry?
Pembelajarannya menjadi
5. Apa manfaat yang anda peroleh dari kegiatan menarik
pembelajaran yang telah dilaksanakan?
Bahan bacaannya jangan
6. Apa harapan anda berkaitan dengan bahan bacaan terlalu panjang
yang disajikan untuk pertemuan selanjutnya?
Pembelajarannya seperti
7. Apa harapan siswa mengenai kegiatan ini.
pembelajaran yang disajikan untuk pertemuan
selanjutnya?
Hasil Wawancara Siswa Siklus II

Wawancara ke- :3
Responden : Dimas Leon
Nilai : 66 (terendah)
Hari, tanggal : Kamis, 18 Agustus 2005
Kelas/Sekolah : VII B/SMPN 10 Semarang

No. Pertanyaan Jawaban


1. Bagaimana menurut anda bahan bacaan yang Bahan bacannya lengkap
disajikan dalam pembelajaran ini? dan mudah dipahami

2. Bagaimana menurut anda mengenai penggunaan Bagus karena


pendekatan kontekstual komponen inquiry? pembelajarannya menjadi
menarik

3. Kemudahan apa saja yang anda dapatkan setelah Mudah memahami bacaan
dilaksanakannya pembelajaran membaca intensif
teks profil tokoh dengan pendekatan kontekstual
komponen inquiry?

4. Kesulitan apa saja yang anda temui setelah Tidak ada


dilaksanakannya pembelajaran membaca intensif
teks profil tokoh dengan pendekatan kontekstual
komponen inquiry?

5. Apa manfaat yang anda peroleh dari kegiatan Dengan mempresentasikan


pembelajaran yang telah dilaksanakan? hasil kerjanya kita dapat
mengetahui apakah
jawaban yang telah
disusun benar atau salah

6. Apa harapan anda berkaitan dengan bahan bacaan Bahan bacaan harus lebih
yang disajikan untuk pertemuan selanjutnya? menarik dan tidak hanya
profil dalam negeri saja
sehingga menantang rasa
ingin tahu

7. Apa harapan siswa mengenai kegiatan Lain kali pembelajarannya


pembelajaran yang disajikan untuk pertemuan harus lebih menarik dan
selanjutnyanya? tidak membosankan
Rekapitulasi Jurnal Siswa Siklus I

Mata Pelajaran : Bahasa dan Sastra Indonesia


Tempat Pelaksanaan : SMPN 10 Semarang
Hari/Tanggal : Rabu, 10 Agustus 2005
Kelas : VII B
Tahun Pelajaran : 2005/2006

Jurnal siswa berisi uraian pendapat/tanggapan/perasaan siswa tentang:


1. Bahan yang disajikan
Sebagian besar siswa tertarik terhadap bahan yang disajikan. Mereka juga
menganggap bahan bacaannya mudah dipahami.

2. Ketertarikan Siswa pada pembelajaran membaca intensif teks profil tokoh


dengan pendekatan kontekstual.
Pada pembelajaran siklus I, sebagian besar siswa tertarik terhadap
pembelajaran membaca intensif teks profil tokoh dengan pendekatan
kontekstual. Mereka menganggap pembelajaran kontekstual dapat
menciptakan situasi belajar yang menyenangkan sehingga mereka tidak
mengalami kejenuhan.

3. Kemudahan dan kesulitan siswa dalam memahami bacaan


Kesulitan yang mereka hadapi adalah mereka sulit konsentrasi ketika
membaca teks profil tokoh. Hal ini disebabkan situasi kelas yang kurang
kondusif sehingga pemahaman mereka kurang maksimal.
4. Gaya guru dalam mengajar
Sebagian besar siswa sudah dapat menerima gaya guru dengan baik. Guru
dalam menyampaikan materinya jelas, padat, interaktif serta diselingi humor
sehingga mereka dapat menerima materi dengan baik.

5. Kesan dan pesan


Kesan yang diungkapkan sebagian besar siswa adalah mereka menginginkan
pembelajaran dengan pendekatan kontekstual, karena pembelajaran seperti itu
dapat menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan tidak
membosankan. Mereka juga berharap pada pembelajaran selanjutnya
rewardnya lebih menarik sehingga mereka termotivasi untuk lebih aktif
dalam pembelajaran.
Rekapitulasi Jurnal Siswa Siklus II

Mata Pelajaran : Bahasa dan Sastra Indonesia


Tempat Pelaksanaan : SMPN 10 Semarang
Hari/Tanggal : Kamis,, 19 Agustus 2005
Kelas : VII B
Tahun Pelajaran : 2005/2006

Jurnal siswa berisi uraian pendapat/tanggapan/perasaan siswa tentang:


1. Bahan yang disajikan
Sebagian besar siswa berpendapat bahwa bahan yang disajikan menarik
karena dapat menambah pengetahuan mereka mengenai jati diri seorang
tokoh terkenal.

2. Ketertarikan siswa pada pembelajaran membaca intensif teks profil tokoh.


Seluruh siswa menyatakan senang mengikuti pembelajaran membaca
intensif teks profil tokoh dengan pendekatan kontekstual. Siswa merasa
senang karena mendapat pengalaman baru tentang pembelajaran membaca
intensif teks profil tokoh.

3. Kemudahan dan kesulitan siswa memahami bacaan


Sebagian besar siswa menyatakan tidak mengalami kesulitan dalam
memahami bacaan karena teks yang disajikan kata-katanya jelas dan
padat. Bahkan ada siswa yang menyatakan bahwa pendekatan kontekstual
membantu mereka memahami bacaan secara mendalam.
4. Gaya guru dalam mengajar
Sebagian besar siswa menyatakan bahwa dalam menyampaikan materi
guru tidak bertele-tele. Dalam menjelaskannya pun guru menyusupi
dengan lelucon agar siswa tidak bosan.

5. Kesan dan pesan


Sebagian besar menyatakan bahwa mereka menyukai pembelajarann
dengan pendekatan kontekstual karena pembelajaran dengan pendekatan
kontekstual dapat menghidupkan suasana kelas menjadi hidup sehingga
mereka tidak bosan dan jenuh. Mereka berpesan agar dalam pembelajaran
Bahasa dan Sastra Indonesia selanjutnya menggunakan pembelajaran
kontekstual.
Rekapitulasi Jurnal Guru Siklus I

Mata Pelajaran : Bahasa dan Sastra Indonesia


Tempat Pelaksanaan : SMPN 10 Semarang
Hari/Tanggal : Rabu, 10 Agustus 2005
Kelas : VII B
Tahun Pelajaran : 2005/2006

Jurnal guru berisi mengenai:


1. Minat siswa dalam mengikuti pembelajaran membaca intensif teks profil
tokoh dengan pendekatan kontekstual komponen inquiry.
Minat siswa dalam pembelajaran ini masih kurang. Hal ini terlihat dengan
ketidaksungguhan siswa dalam membaca intensif teks profil tokoh.

2. Respons siswa terhadap teks profil tokoh yang dihadirkan guru.


Pada pembelajaran ini siswa merespon positif teks yang dihadirkan oleh guru.
Mereka tampak senang dengan teks yang dibagikan oleh guru karena teks
tersebut berisikan profil tokoh anggota AFI yang saat ini sedang digemari.

3. Keaktifan siswa dalam mengikuti pembelajaran membaca intensif teka profil


tokoh.
Keaktifan siswa dalam mengikuti pembelajaran belum merata, hanya siswa
tertentu yang aktif bertanya dan menjawab pertanyaan guru. Siswa
kebanyakan masih grogi, malu dan takut jawabannya salah bila diberi
pertanyaan oleh guru.
4. Fenomena-fenomena lain yang muncul di kelas saat pembelajaran
berlangsung.
Fenomena-fenomena lain yang muncul di kelas saat pembelajaran tidak begitu
menonjol hanya sebagian besar siswa masih asing dengan guru praktikan.
Walaupun masih terasa asing siswa sudah dapat menerima dengan baik.
Rekapitulasi Jurnal Guru Siklus II

Mata Pelajaran : Bahasa dan Sastra Indonesia


Tempat Pelaksanaan : SMPN 10 Semarang
Hari/Tanggal : Kamis, 19 Agustus 2005
Kelas : VII B
Tahun Pelajaran : 2005/2006

Jurnal guru berisi mengenai:


1. Minat siswa dalam mengikuti pembelajaran membaca intensif teks profil
tokoh dengan pendekatan kontekstual komponen inquiry.
Pada pembelajaran ini siswa sangat berminat dan antusias dalam mengikuti
pembelajaran. Hal ini disebabkan karena guru menggunakan metode diskusi
yang sebelumnya tidak ada pada siklus I.

2. Respons siswa terhadap teks profil tokoh yang dihadirkan guru.


Semua siswa merespon positif teks profil yang dihadirkan oleh guru. Mereka
tampak antusias dan sungguh-sungguh dalam membaca teks yang telah
dibagikan oleh guru.

3. Keaktifan siswa dalam mengikuti pembelajaran membaca intensif teka profil


tokoh.
Keaktifan siswa dalam kegiatan pembelajaran sudah banyak mengalami
peningkatan, walaupun masih terdapat beberapa siswa yang malas untuk
berdiskusi.
4. Tingkah laku siswa di kelas saat diskusi kelompok berlangsung.
Tingkah laku siswa pada saat pembelajaran siklus II sudah banyak mengalami
kemajuan. Pada siklus II ini sudah banyak siswa yang bertanya dan
menjawab pertanyaan ketika diskusi berlangsung.

5. Fenomena-fenomena lain yang muncul di kelas saat pembelajaran


berlangsung.
Fenomena-fenomena lain yang muncul di kelas saat pembelajaran siklus II
yang paling menonjol adalah siswa semakin aktif dan siswa semakin akrab
dengan guru. Hal ini dapat dilihat dari sikap siswa yang ramah kepada guru
praktikan bahkan ada siswa yang menginginkan agar guru praktikan
mengajarkan pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia.
Rekapitulasi Hasil Wawancara Siklus I

Responden : Fernandha Kurniawan, Fahri Surya Laksana, dan Fadhilah


Rahmawati.
Pelaksanaan : Rabu, 10 Agustus 2005
Kelas/Sekolah : VII B/ SMPN 10 Semarang
Tahun Pelajaran : 2005/2006

Pertanyaan-pertanyaan yang digunakan dalam wawancara adalah sebagai berikut.

1. Bagaimana menurut anda bahan bacaan yang disajikan untuk pendekatan


kontekstual komponen inquiry?
Menurut Fermandha dan Fahri bahan bacaan yang disajikan oleh guru menarik
karena teks tersebut berisikan tokoh AFI. Aditya yang mendapat nilai terendah
menambahkan bahan bacaannya menarik tetapi ada kata-katanya yang kurang
jelas. Padahal menurut Fernandha dan Fahri kata-katanya sudah jelas. Hal ini
disebabkan karena Fernandha dan Fahri sudah mengenal kata-kata yang tidak
baku sedangkan Aditya belum mengenal kata-kata tersebut sehingga ia
mengalami kesulitan dalam memahami bacaan.

2. Bagaimana menurut anda tentang penggunaan pendekatan kontekstual komponen


inquiry yang digunakan dalam pembelajaran membaca intensif teks profil tokoh?
Ketiga responden berpendapat bahwa pembelajaran membaca intensif dengan
pendekatan kontekstual komponen inquiry sangatlah bagus karena dengan metode
seperti ini siswa dapat menjawab soal-soal yang diberikan oleh guru.
3. Kemudahan apa saja yang anda dapatkan setelah menciptakan pembelajaran
membaca intensif teks profil tokoh dengan pendekatan kontekstual komponen
inquiry?
Ketiga responden berpendapat bahwa dengan pembelajaran seperti ini dapat
membantu mereka dalam memahami bacaan secara mendalam.

4. Kesulitan apa saja yang anda temui setelah mendapatkan pembelajaran membaca
intensif teks profil tokoh dengan pendekatan kontekstual komponen inquiry?
Fermandha dan Fahri tidak mengalami kesulitan dalam pembelajaran seperti ini,
tetapi Aditya yang mendapatkan nilai terendah berpendapat bahwa bacaannya
terlalu panjang dan waktu yang diberikan terlalu sedikit sehingga ia tidak
mendapatkan pemahaman yang maksimal.

5. Apa manfaat yang anda peroleh dari kegiatan pembelajaran yang telah
dilaksanakan?
Fermandha mengungkapkan bahwa dengan pembelajaran seperti ini dapat melatih
kita untuk menemukan jawaban sendiri jawaban dari soal-soal yang diberikan
oleh guru sedangkan Fahri berpendapat bahwa pembelajaran seperti ini dapat
melatih konsentrasinya ketika membaca sebuah teks. Berbeda dengan Fermandha
dan Fahri, Aditya berpendapat bahwa pembelajaran seperti ini dapat
membantunya dalam memahami bacaan secara mendalam.

6. Apa harapan anda berkaitan dengan bahan bacaan yang disajikan untuk
pertemuan selanjutnya?
Fermandha berharap agar pada pertemuan selanjutnya bahan bacaannya tidak
terlalu panjang dan lebih mudah dipahami sedangkan Fahri dan Aditya berharap
agar bahan bacaannya pada pertemuan selanjutnya lebih menarik.
7. Apa harapan anda mengenai kegiatan pembelajaran yang disajikan untuk
pertemuan selanjutnya?
Ketiga responden berharap agar pada pertemuan selanjutnya pembelajarannya
lebih menarik dan menyenangkan sehingga mereka tidak merasa jenuh.
Rekapitulasi Hasil Wawancara Siklus II

Responden : Dika Permatasari, Fadhilah Rahmawati dan Dimas Leon.


Pelaksanaan : Kamis, 19 Agustus 2005
Kelas/Sekolah : VII B/ SMPN 10 Semarang
Tahun Pelajaran : 2005/2006

Pertanyaan-pertanyaan yang digunakan dalam wawancara adalah sebagai berikut.


1. Bagaimana menurut anda bahan bacaan yang disajikan untuk pendekatan
kontekstual komponen inquiry?
Ketiga responden berpendapat bahwa bahan bacaan yang disajikan mudah
dipahami. Ini berarti guru sudah tepat dalam memilih bacaan.

2. Bagaimana menurut anda tentang penggunaan pendekatan kontekstual komponen


inquiry yang digunakan dalam pembelajaran membaca intensif teks profil tokoh?
Dika, Fadhilah dan Dimas mengungkapkan bahwa pembelajaran membaca
intensif teks profil tokoh sangatlah bagus karena pembelajarannya menjadi
menyenangkan.

3. Kemudahan apa saja yang anda dapatkan setelah menciptakan pembelajaran


membaca intensif teks profil tokoh dengan pendekatan kontekstual komponen
inquiry?
Ketiga responden mengungkapkan bahwa dengan pembelajaran sepeerti ini
mereka mudah memahami bacaan.

4. Kesulitan apa saja yang anda temui setelah mendapatkan pembelajaran membaca
intensif teks profil tokoh dengan pendekatan kontekstual komponen inquiry?
Ketiga responden mengungkapkan bahwa mereka tidak mengalami kesulitan
dalam pembelajaran membaca intensif teks profil tokoh dengan pendekatan
kontekstual komponen inquiry.

5. Apa manfaat yang anda peroleh dari kegiatan pembelajaran yang telah
dilaksanakan?
Dika mengungkapkan bahwa pembelajaran dengan metode diskusi dapat melatih
kerjasama antar siswa sedangkan Fadhilah berpendapat bahwa pembelajaran
membaca intensif teks profil tokoh dengan pendekatan kontekstual komponen
inquiry dapat menciptakan pembelajaran yang menyenangkan. Sedangkan Dimas
mengungkapkan bahwa dengan mempresentasikan hasil kerjanya dia dapat
mengetahui apakah jawaban yang telah disusun benar atau salah. Dari jawaban
ketiga responden itu dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan pendekatan
kontekstual mempunyai banyak manfaat.

6. Apa harapan anda berkaitan bahan bacaan yang disajikan untuk pertemuan
selanjutnya?
Dika dan fadhilah berharap agar bahan bacaan yang dissajikan untuk pertemuan
selamjutnya tidak terlalu panjang, mudah dipahami dan jelas. Berbeda dengan
Dika dan Fadhilah, Dimas berharap agar bahan bacaan yang disajikan pada
pertemuan selanjutntya harus lebih menarik tidak hanya profil tokoh dalam negeri
saja, tokoh luar negeri pun harus disajikan.

7. Apa harapan anda berkaitan dengan kegiatan pembelajaran yang disajikan untuk
pertemuan selanjutnya?
Dika berharap agar pada pembelajaran selanjutnya dengan berdiskusi dan
pemberian rewardnya lebih menarik sedangkan Fadhilah menginginkan
pertemuan selanjutnya pembelajarannya seperti ini. Dimas menambahi bahwa
pembelajaran selanjutnya harus lebih bervariasi dan tidak membosankan.
RENCANA PEMBELAJARAN I

Mata Pelajaran : Bahasa dan sastra Indonesia


Kelas/Semester : VII/II
Alokasi Waktu : 2 x 45 menit
Jenjang : SMP/MTs

A. STANDAR KOMPETENSI
Mampu membaca dan memahami ragam teks nonsastra dengan berbagai cara
membaca: membacakan teks untuk orang lain, membaca teks pengumuman,
membaca memindai, membaca cepat, membaca tabel/diagram, membaca teks
percakapan, membaca intensif dan ekstensif ragam teks, dan menemukan gagasan
pokok isi suatu teks.

B. KOMPETENSI DASAR
Membaca intensif teks profil tokoh

C. INDIKATOR
• Mampu menyarikan riwayat hidup tokoh
• Mampu menyimpulkan keistimewan tokoh
• Mampu mencatat hal-hal yang bermanfaat bagi siswa

D. MATERI POKOK
Teks profil tokoh
ƒ Riwayat hidup tokoh
ƒ Keistimewan tokoh
ƒ Hal-hal yang bermanfaat
E. SKENARIO PEMBELAJARAN
NO. Kegiatan Alokasi Waktu Metode/teknik
1. PENDAHULUAN 5’
1. Apersepsi Ceramah
2. Guru bertanya kepada
siswa pernahkah mereka
membaca teks profil tokoh?
3. Guru menyampaikan tujuan
pembelajaran hari itu yakni
membaca intensif teks
profil tokoh.

2. KEGIATAN INTI 80’


1. Guru membagikan teks
profil tokoh.
2. Siswa melakukan observasi
dengan membaca sekilas Penugasan
teks tersebut.
3. Siswa bertanya mengenai
isi teks tersebut.
4. Siswa melakukan hipotesis
atau dugaan mengenai isi
teks tersebut.
5. Siswa diminta untuk
menemukan riwayat hidup
tokoh menyimpulkan Inquiry
keistimewaan tokoh serta
mencatat hal-hal yang
bermanfaat bagi siswa.
6. Siswa melakukan
pengumpulan data tentang
riwayat hidup tokoh,
keistimewaannya dan hal-
hal yang bermanfaat bagi
siswa dengan membaca
kembali teks tersebut
secara intensif.
7. Siswa menyimpulkan
jawaban ketiga soal
tersebut.
8. Beberapa siswa
mempresentasikan hasil
temuannya.
9. Siswa lain menanggapi
siswa yang tampil.
10. Guru memberikan
penguatan mengenai
jawaban siswa yang tampil.
11. Guru memberikan
penghargaan kepada siswa
yang tampil berupa medali.
12. Siswa mengerjakan teks
profil tokoh yang telah
disiapkan oleh guru.
3. PENUTUP 5’
1. Guru bersama siswa Refleksi
merefleksi pembelajaran
pada hari itu.
2. Guru memberikan
kesempatan kepada siswa
untuk memberi saran
mengenai pembelajaran
membaca intensif teks
profil tokoh untuk
pertemuan selanjutnya.

F. SARANA DAN SUMBER BELAJAR


1. Sarana : Teks profil tokoh
Medali
2. Sumber pembelajaran : Buku paket Pemkot

G. PENILAIAN
• Proses
• Hasil
Mengetahui Semarang……………2005
Guru Mata Pelajaran, Peneliti,

Sukamti Munawaroh
NIP. 131253690 NIM. 2101401037

Mengetahui
Kepala Sekolah SMP N 10 Semarang

Sumardi Sri Purwono


NIP. 130339150
RENCANA PEMBELAJARAN II

Mata Pelajaran : Bahasa dan Sastra Indonesia


Kelas/Semester : VII/II
Alokasi Waktu : 2 x 45 menit
Jenjang : SMP/MTs

A. STANDAR KOMPETENSI
Mampu membaca dan memahami ragam teks nonsastra dengan berbagai cara
membaca: membacakan teks untuk orang lain, membaca teks pengumumaman,
membaca memindai, membaca cepat, membaca tabel/diagram, membaca teks
percakapan, membaca intensif dan ekstensif ragam teks, dan menemukan
gagasan pokok isi suatu teks.

B. KOMPETENSI DASAR
Membaca intensif teks profil tokoh

C. INDIKATOR
♦ Mampu menyarikan riwayat hidup tokoh
♦ Mampu menyimpulkan keistimewaan tokoh
♦ Mampu mencatat hal-hal yang bermanfaat bagi siswa
D. MATERI POKOK
Teks profil tokoh
♦ Riwayat hidup tokoh
♦ Keistimewan tokoh
♦ Hal-hal yang bermanfaat
E. SKENARIO PEMBELAJARAN
No. Kegiatan Alokasi Metode/Teknik
Waktu
1. PENDAHULUAN 5’
1. Apersepsi Ceramah
2. Guru memberikan umpan balik
terhadap pembelajaran yang lalu.
3. Guru menanyakan kepada siswa
kesulitan dalam pembelajaran
membaca intensif teks profil
tokoh?

2. KEGIATAN INTI 80’


1. Guru membagikan teks profil
tokoh.
2. Siswa melakukan observasi
dengan membaca sekilas teks
yang telah dibagikan oleh guru.
3. Siswa kemudian bertanya
mengenai isi teks tersebut.
4. Siswa diminta untuk menemukan
dan menemukan riwayat hidup Inquiry
tokoh, menemukan keistimewaan
tokoh serta menyebutkan hal-hal
yang bermanfat bagi siswa.
5. Siswa melakukan hipotesis atau
dugaan mengenai riwayat hidup
tokoh, keistimewaannya serta
hal-hal yang bermanfaat yang
terdapat pada teks.
6. Untuk mengetahui apakah
hipotesisnya benar atau salah,
siswa mengumpulkan data
dengan membaca kembali teks
profil tokoh tersebut secara
intensif.
7. Siswa diminta untuk membentuk
sebuah kelompok dengan Penugasan
beranggotakan 4-5 orang.
8. Tiap-tiap kelompok
mendiskusikan hasil temuannya
dan menyimpulkan jawaban Kerja Kelompok
ketiga soal tersebut.
9. Beberapa kelompok
mempresentasikan hasil
diskusinya.
10. Guru menanggapi dan
memberikan penguatan kepada
kelompok yang tampil.
11. Guru memberikan penghargaan
kepada kelompok yang tampil
yang berupa medali dari kertas.
12. Siswa diminta untuk
mengerjakan soal tes teks profil
tokoh yang telah disiapkan oleh
guru.
3. PENUTUP
1. Guru bersama siswa merefleksi 5’
pembelajaran pada hari itu. Refleksi
2. Siswa diminta untuk
mengungkapkan tanggapannnya
mengenai pembelajaran hari itu.

F. SARANA DAN SUMBER BELAJAR


♦ Sarana : Teks Profil tokoh
Medali dari kertas asturo
♦ Sumber Belajar : Buku Paket Pemkot
♦ Penilaian
- Proses : Diskusi kelompok
Selama pembelajaran berlangsung
- Hasil : Tes profil tokoh
Mengetahui Semarang……………2005
Guru Mata Pelajaran, Peneliti,

Sukamti Munawaroh
NIP. 131253690 NIM. 2101401037

Mengetahui
Kepala Sekolah SMP N 10 Semarang

Sumardi Sri Purwono


NIP. 130339150
Identitas Teks
♦ Judul : Ira Koesno Anchor Jelita Pecinta Buku.
♦ Teks ini digunakan pada : Tes membaca intensif teks profil tokoh dengan
pendekatan kontekstual komponen inquiry siklus
II.
♦ Pelaksanaan tes siklus II : Kamis, 19 Agustus 2005.
♦ Teks ini dibaca selama : 10 menit.

IRA KOESNO
ANCHOR JELITA PECINTA BUKU

Sejak kecil Ira sudah rajin membaca. Kedua orang tuanya pun
mendukungnya secara penuh. Buku-buku cerita karya Enid Blyton dan Hans
Christian Andersen habis dilahapnya juga. Sekarang ia seorang anchor yang cerdas
dan handal.
Pemirsa televisi tentu tidak asing dengan sosok satu ini. Pembaca cerita yang
berhak menentukan karakter acara (dalam pertelevisian lazim disebut Anchor) ini
bernama lengkap Dwi Noviratri. Ira koesno yang berumur 32 tahun ini dikenal lewat
pertanyaan-pertanyaannya yang cerdas. Lawan bicara atau narasumber seringkali
dibuat “terpojok” ketika harus menjawab pertanyaannya.
Kepiawaiannnya dalam berpikir dan berbicara ini adalah buah dari
ketekunannnya membaca. Buku-buku cerita karya Enid Blyton dan Hans Christian
Andersen tak ada yang terlewat. Bahkan Cerita Lima Benua pun masih diingatnya
hingga kini.
Ratusan judul buku sudah dikoleksinya. Dalam deretan koleksinya bisa
dijumpai bacannya di masa kanak-kanak. Ibunyalah yang rajin mengumpulkan semua
bacaannya hinga kini tetap terawat baik. Ira koesno, anak kedua dari pasangan
Koesno Martoatmodjo dan Sri Utami, telah terbiasa membaca sejak kecil. Gadis
penggemar novel Marga T, ini memilah bacaannya menjadi dua kategori, yaitu
bacaan berat dan bacaan ringan. Yang pertama adalah buku-buku yang harus dibaca
karena ada hubungannnya dengan pekerjaan. Kedua adalah buku-buku bacaan untuk
penyegaran yang dinikmatinya menjelang tidur.
Putri pasangan dokter anak dan sarjana ekonomi ini pun masih menambah
bacaannya dengan buku-buku, seperti terampil berpikir, terampil berbicara, dan
sebagainya. Tuntutan untuk tampil berwawancara dalam durasi yang sangat singkat
(empat menit) mengharuskannya mampu mengolah kata tanpa mengaburkan pesan
yang akan disampaikan.
Ditemui di kantornya, lantai 12 Graha SCTV di kawasan Gatot Subroto
Jakarta Selatan, penggemar serial Lima Sekawan ini banyak bertutur tentang buku
dan minat baca. Peraih gelar master di bidang Film and TV Production dari
University of Bristol ini begitu fasih bicara tentang minat baca dan budaya
masyarakat Indonesia. “Budaya kita itu budaya mendengar, bukan membaca,
indoktrinasi!” katanya berapi-api. Pemerintah menurutnya, harus menyiapkan
infrastruktur yang diperlukan untuk meningkatkan budaya baca masyarakat seperti
perpustakaan keliling. Perpustakaan kita sudah diakses, koleksinya tidak lengkap, dan
suasananya kurang mengundang orang untuk membaca berlama-lama. Di Inggris,
tempat Ira juga belajar Broadcasting Journalism di University of Weisminster,
perpustakannnya begitu mudah diakses, koleksinya komplet, dan suasananya sangat
menyenangkan.
Memang, tidak mudah mengembangkan minat baca di tengah masyarakat
yang sedang dilanda krisis ini. Anak-anak lebih membantu orang tua untuk mencari
nafkah daripada harus membaca buku. Akan tetapi, tentu kita tidak boleh pesimis.
Pemerintah, orang tua, dan masyarakat harus bekerja sama bahu membahu untuk
menumbuhkan dan mengembangkan budaya baca. Menurut Ira, orang Indonesia
sebenarnya pintar-pintar. Terbukti dengan buku-buku yang ditulis penulis kita juga
bagus-bagus kualitasnya, tidak kalah jika dibandingkan dengan buku-buku asing.
Hanya dari segi kuantitas belum seimbang dengan jumlah penduduk yang ada.
Dalam upaya pengembangan minat baca ”Tidak ada kata terlambat untuk
memulai daripada tidak sama sekali”, ujar alumnus FEUI tahun 1993 ini. Anak-anak
dari kalangan berpunya sebaiknya dialihkan untuk membaca buku-buku dalam bentuk
CD ROOM daripada main sega (game). Anak-anak dari kalangan kurang mampu
secara swadaya harus dibantu pemerintah dan masyarakat dengan menyediakan
sarana yang dibutuhkan. Pemenjaraan terhadap kretivitas dan pemikiran, serta
pelarangan buku seperti yang pernah kita alami selama tiga dasawarsa hendaknya
ditiadakan. Demikian pesan gadis berdarah Jawa yang antiprimordialisme ini
mengakhiri pembicarannya dengan Buletin Pusat Perbukuan.
(Sumber: Buletin Pusat Perbukuan Vol VI tahun 2002).

Jawablah pertanyaan berikut ini!


1. Sarikan riwayat hidup tokoh Ira Koeno berdasarkan teks di atas!
2. Sebutkan keistimewaan Ira Koesno!
3. Daftarlah hal-hal yang bermanfaat dari teks di atas!

Kunci Jawaban
1. Ira koesno yang bernama lengkap Dwi Noviratri merupakan seorang anchor (
pembaca berita yang berhak menentukan karakter acara) yang cerdas. Ira koesno
yang berumur 32 tahun ini dikenal lewat pertanyaan-pertanyaannya yang cerdas.
Ia dikenal dengan pertanyaannya yang dapat membuat terpojok lawan bicara atau
narasumber. Kepiawaiannnya dalam berpikir tidak lepas dari ketekunannya
membaca. Ira koeno merupakan anak kedua dari pasangan dokter anak dan
sarjana ekonomi. Ibunya bernama Sri Utami sedangkan ayahnya bernama Koesno
martoatmodjo. Ira koesno telah terbiasa membaca sejak kecil sehingga koleksi
buku-bukunya sangat banyak. Buku-buku cerita karya Enid Blyton dan Hans
Christian Andersen tak ada yang terlewat. Bahkan Cerita Lima Benua pun masih
diingatnya hingga kini. Tidak hanya bulu-buku cerita saja ia yang baca, novel pun
digemarinya juga. Novel yang digemarinya adalah novel karya Marga T.
Tuntutan untuk tampil wawancara dalam durasi yang sangat singkat
mengharuskannnya mampu mengolah kata tanpa mengaburkan pesan yang akan
disampaikannnya. Sehingga ia dituntut untuk terampil berbicara, terampil berpikir
dan sebagainya. Penggemar Lima Sekawan ini meraih gelar master di bidang Film
and TV Production dari University of Bristol. Ia juga belajar Broadcasting
Journalism di University of Weisminster Inggris. Tidak hanya itu saja, ia juga
alumnus FEUI tahun 1993. Kini ia seorang anchor yang berkantor di lantai 12
Graha SCTV di kawasan Gatot Subroto Jakarta Selatan. Menurut Ira untuk
meningkatkan budaya masyarakat perlu dipersiapkan infrastruktur seperti
perpustakaan keliling.
2. Kestimewaan Ira Koesno adalah ia merupakan seorang anchor wanita yang cerdas
dengan pendidikan yang tinggi serta minat baca yang tinggi pula sehingga ia
terampil berpikr dan berbicara. Ia juga dapat membuat lawan bicara atau
narasumber “terpojok” ketika harus menjawab pertanyaannya.
3. Hal-hal yang bermanfaat bagi siswa dalam teks tersebut adalah sebagai berikut.
• Kepiawaiannnya dalam berpikir dan berbicara ini adalah buah dari ketekunannnya
membaca.
Hal tersebut merupakan hal yang bermanfaat yang dapat
dilaksanakan bagi seseorang yang ingin berhasil dan terampil dalam berpikir
dan berbicara yaitu tekun membaca.
• Pembaca cerita yang berhak menentukan karakter acara (dalam pertelevisian
lazim disebut Anchor).
Pernyataan tersebut memberikan pengetahuan bagi kita tentang istilah
Anchor yang digunakan untuk pembawa cerita yang berhak menentukan
karakter acara.
• Gadis penggemar novel Marga T, ini memilah bacaannya menjadi dua
kategori, yaitu bacaan berat dan bacaan ringan.
Berdasarkan pernyataan tersebut dapat diketahui bahwa jenis bacaan
ada dua yaitu bacaan ringan dan bacaan berat. Bacaan ringan adalah bacaan
yang sifatnya lebih santai sedangkan bacaan berat adalah bacaan yang
berhubungan dengan sekolah atau pekerjaan. Sehingga pernyataan ira koesno
memberikan pengetahuan baru bagi kita.
• ”Tidak ada kata terlambat untuk memulai daripada tidak sama sekali”.
Pepatah tersebut merupakan pepatah yang disampaikan kepada orang
yang bijaksana dan cerdas. Untuk memulai sesuatu tidaklah ada kata
terlambat. Pepatah tersebut dapat diterapkan pada kehidupan sehari-hari agar
kita sukses dalam hidup.
• Peraih gelar master di bidang Film and TV Production dari University of
Bristol ini begitu fasih bicara tentang minat baca dan budaya masyarakat
Indonesia.
Dari pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa Ira koesno
berpendidikn tinggi. Hal tersebut merupakan hal yang bermanfaat bagi orang
yang ingin sukses dan pandai tidaklah lepas dari pendidikan yang tinggi pula.
Sehingga pendidikan amatlah penting bagi kehidupan.
Penilaian

• Tiap nomor bernilai 10 skor. Nilai akhir membaca intensif teks profil tokoh
adalah jumlah skor dibagi tiga dikali 10
Tabel 1 Aspek dan skor Penilaian

Aspek Penilaian Skor Maksimal


Menyarikan riwayat hidup tokoh 10
Menyimpulkan keistimewaan tokoh 10
Mencatat hal-hal yang bermanfaat bagi 10
siswa

Tabel 2 Pedoman Penilaian

Aspek Katego Skor Kriteria Penilaian

Penilaian ri Skor

Menyarikan Sangat 8-10 Ira koesno yang bernama lengkap Dwi


riwayat hidup
Baik Noviratri merupakan seorang anchor
tokoh
(pembaca berita yang berhak
menentukan karakter acara) yang
cerdas. Ira koesno yang berumur 32
tahun ini dikenal lewat pertanyaan-
pertanyaannya yang cerdas. Ia dikenal
dengan pertanyaannya yang dapat
membuat terpojok lawan bicara atau
narasumber. Kepiawaiannnya dalam
berpikir tidak lepas dari ketekunannya
membaca. Ira koeno merupakan anak
kedua dari pasangan dokter anak dan
sarjana ekonomi. Ibunya bernama Sri
Utami sedangkan ayahnya bernama
Koesno martoatmodjo. Ira koesno
telah terbiasa membaca sejak kecil
sehingga koleksi buku-bukunya sangat
banyak. Ia gemar membaca buku
cerita maupun novel karya Marga T.
Penggemar Lima Sekawan ini meraih
gelar master di bidang Film and TV
Production dari University of Bristol.
Ia juga belajar Broadcasting
Journalism di University of
Weisminster Inggris. Tidak hanya itu
saja, ia juga alumnus FEUI tahun
1993. Tuntutan untuk tampil
wawancara dalam durasi yang sangat
singkat mengharuskannnya mampu
mengolah kata tanpa mengaburkan
pesan yang akan disampaikannnya.
Sehingga ia dituntut untuk terampil
berbicara, terampil berpikir dan
sebagainya.
Baik 5-7 Ira koesno yang bernama lengkap Dwi
Noviratri. Ira koeno merupakan anak
kedua dari pasangan dokter anak dan
sarjana ekonomi. Ibunya bernama Sri
Utami sedangkan ayahnya bernama
Koesno martoatmodjo. Ira koesno
yang berumur 32 tahun ini dikenal
lewat pertanyaan-pertanyaannya yang
cerdas. Ia gemar membaca buku cerita
maupun novel karya Marga T.
Penggemar Lima Sekawan ini meraih
gelar master di bidang Film and TV
Production dari University of Bristol.
Ia juga belajar Broadcasting
Journalism di University of
Weisminster Inggris. Tidak hanya itu
saja, ia juga alumnus FEUI tahun
1993. Ia gemar membaca buku cerita
maupun novel karya Marga T. koleksi
bukunya sangat banyak.
Cukup 2-4 Ira koesno yang bernama lengkap Dwi
Noviratri. Ira koeno merupakan anak
kedua dari pasangan dokter anak dan
sarjana ekonomi. Ibunya bernama Sri
Utami sedangkan ayahnya bernama
Koesno martoatmodjo. Ira koesno
yang berumur 32 tahun ini dikenal
lewat pertanyaan-pertanyaannya yang
cerdas. Ia gemar membaca buku cerita
maupun novel karya Marga T.
Penggemar Lima Sekawan ini meraih
gelar master di bidang Film and TV
Production dari University of Bristol.
Ia juga belajar Broadcasting
Journalism di University of
Weisminster Inggris. Tidak hanya itu
saja, ia juga alumnus FEUI tahun
1993.
Kurang 0-1 Ira koesno yang bernama lengkap Dwi
Noviratri. Ira koeno merupakan anak
kedua dari pasangan dokter anak dan
sarjana ekonomi. Ibunya bernama Sri
Utami sedangkan ayahnya bernama
Koesno martoatmodjo. Ira koesno
yang berumur 32 tahun ini dikenal
lewat pertanyaan.

Menyimpulkan Sangat 8-10 Kestimewaan Ira Koesno adalah ia


keistimewaan Baik merupakan seorang anchor wanita
tokoh yang cerdas dengan pendidikan yang
tinggi serta minat baca yang tinggi
pula sehingga ia terampil berpikr dan
berbicara. Ia juga dapat membuat
lawan bicara atau narasumber
“terpojok” ketika harus menjawab
pertanyaannya.
Baik 5-7 Kestimewaan Ira Koesno adalah ia
merupakan seorang anchor wanita
yang cerdas. Ia juga dapat membuat
lawan bicara atau narasumber
“terpojok” ketika harus menjawab
pertanyaannya.
Cukup 2-4 Kestimewaan Ira Koesno adalah ia
merupakan seorang anchor wanita
yang senang membaca. Ia gemar
membaca buku cerita maupun novel
karya Marga T. Penggemar Lima
Sekawan ini meraih Ia meraih gelar
master di bidang Film and TV
Production. Ia juga belajar di Inggris.
Kurang 0-1 Kestimewaan Ira Koesno adalah ia
merupakan seorang anchor wanita
yang cerdas. Ia gemar membaca buku
cerita dan novel karya Marga T.

Mencatat hal-hal Sangat 8-10 1. Kepiawaiannnya dalam berpikir


yang bermanfaat Baik dan berbicara ini adalah buah dari
bagi siswa ketekunannnya membaca.
Hal tersebut merupakan hal yang
bermanfaat yang dapat
dilaksanakan bagi seseorang yang
ingin berhasil dan terampil dalam
berpikir dan berbicara yaitu tekun
membaca.
2. Pembaca cerita yang berhak
menentukan karakter acara (dalam
pertelevisian lazim disebut
Anchor).
Pernyataan tersebut memberikan
pengetahuan bagi kita tentang istilah
Anchor yang digunakan untuk
pembawa cerita yang berhak
menentukan karakter acara.
3. Gadis penggemar novel Marga T,
ini memilah bacaannya menjadi dua
kategori, yaitu bacaan berat dan
bacaan ringan.
Dari Pernyataan tersebut dapat
diketahui bahwa jenis bacaan ada
dua yaitu bacaan ringan dan bacaan
berat. Bacaan ringan adalah bacaan
yang sifatnya lebih santai sedangkan
bacaan berat adalah bacaan yang
berhubungan dengan sekolah atau
pekerjaan. Sehingga pernyataan ira
koesno memberikan pengetahuan
baru bagi kita.
4. ”Tidak ada kata terlambat untuk
memulai daripada tidak sama
sekali”.
Pepatah tersebut merupakan pepatah
yang disampaikan kepada orang yang
bijaksana dan cerdas. Untuk memulai
sesuatu tidaklah ada kata terlambat.
Pepatah tersebut dapat diterapkan pada
kehidupan sehari-hari agar kita sukses
dalam hidup.
Baik 5-7 1. Kepiawaiannnya dalam berpikir dan
berbicara ini adalah buah dari
ketekunannnya membaca.
Pernyataan tersebut merupakan hal
yang bermanfaat yang dapat
dilaksanakan bagi seseorang yang
ingin berhasil dan terampil dalam
berpikir dan berbicara yaitu tekun
membaca.
2. Pembaca cerita yang berhak
menentukan karakter acara (dalam
pertelevisian lazim disebut Anchor).
Pernyataan tersebut memberikan
pengetahuan bagi kita tentang istilah
Anchor yang digunakan untuk
pembawa cerita yang berhak
menentukan karakter acara.
3. Gadis penggemar novel Marga T, ini
memilah bacaannya menjadi dua
kategori, yaitu bacaan berat dan
bacaan ringan.
Pernyataan tersebut dapat diketahui
bahwa jenis bacaan ada dua yaitu
bacaan ringan dan bacaan berat.
Bacaan ringan adalah bacaan yang
sifatnya lebih santai sedangkan
bacaan berat adalah bacaan yang
berhubungan dengan sekolah atau
pekerjaan. Sehingga pernyataan ira
koesno memberikan pengetahuan
baru bagi kita.
Cukup 2-4 1. Kepiawaiannnya dalam berpikir dan
berbicara ini adalah buah dari
ketekunannnya membaca.
Hal tersebut merupakan hal yang
bermanfaat yang dapat dilaksanakan
bagi seseorang yang ingin berhasil
dan terampil dalam berpikir dan
berbicara yaitu tekun membaca.
2. Pembaca cerita yang berhak
menentukan karakter acara (dalam
pertelevisian lazim disebut Anchor).
Pernyataan tersebut memberikan
pengetahuan bagi kita tentang istilah
Anchor yang digunakan untuk
pembawa cerita yang berhak
menentukan karakter acara.

Kurang 0-1 1. Kepiawaiannnya dalam berpikir dan


berbicara ini adalah buah dari
ketekunannnya membaca.
Hal tersebut merupakan hal yang
bermanfaat yang dapat dilaksanakan
bagi seseorang yang ingin berhasil
dan terampil dalam berpikir dan
berbicara yaitu tekun membaca.
Identitas Teks

♦ Judul : Micky Octapaliha Salah satu Akademia 2.


♦ Teks ini digunakan pada : Tes membaca intensif teks profil tokoh dengan
pendekatan kontekstual komponen inquiry siklus
I.
♦ Pelaksanaan tes siklus II : Rabu, 10 Agustus 2005.
♦ Teks ini dibaca selama : 10 menit.

MICKY OCTAPALIHA SALAH SATU AKADEMIA 2

Pemuda kelahiran Pekanbaru, 2 Oktober 1979 ini mungkin tidak tahu kalau
nasibnya akan terkenal seperti ini. Kehidupan aslinya jauh dari kesan borju dan
kehidupan mewah. Biarpun lahir dari keluarga seniman, ibunya Poppy Kaligis
(penyanyi) dan bapaknya Indra Karina (drummer), Micky tetap hidup bersahaja.
Dari kecil, umur setahun, bakat menyayi Micky ternyata sudah kelihatan.
Menurut ibunya, suaranya waktu kecil sudah melengking banget.
Micky kecil pun mulai ikut-ikutan lomba. Dia pertama kali mulai berani
menyanyi waktu SD. Saat itu, ada acara perpisahan sekolah. Waktu itu, ibu gurunya
memanggil ibunya dan meminta Micky menyanyi di acara perpisahan. Karena Micky
kecil pemalu, mau tidak mau ibunya mencari akal agar ia mau menyanyi. Akhirnya
tante Poppy berkata kepada Micky, “kalau kamu tidak mau menyanyi, tidak naik
kelas. Akhirnya, dia mau”. Akhirnya, Micky mau menyanyi dan suaranya yang tinggi
memukau semua yang datang. Dari sinilah semua orang tahu kalau Micky punya
bakat yang lebih dari dunia tarik suara.
Beranjak SMP, Micky mulai rajin mengikuti acara-acara seni, bahkan mulai
terlibat di sebuah Sanggar Dang Merdu yang ada di kawasan Pemerintahan
Pekanbaru. Di sinilah Micky mulai belajar seni terutama seni tari di bawah asuhan
Pak Yan.
Micky pun mulai keasyikan sibuk di sanggar dan kadang lupa pulang ke
rumah. Makanya, ia kos di rumah Ibu Biadidar, yang ada di belakang sanggar. Karena
mudah kenal akrab, dengan keluarga Ibu Biadidar, yang ada di belakang sanggar.
Akhirnya Micky malah dianggap sebagai anak angkat. Biarpun begitu Micky tetap
kontak dengan keluarganya, terutama ibunya.
Micky pun mulai ikut lomba-lomba menyanyi. Waktu SMA, dia pertama kali
ikut festival tingkat provinsi di RRI. Alhamdulillah dia mendapat juara kedua. Dari
sinilah ibunya mulai memberi dorongan pada Micky untuk terus berlatih.
Bukan hanya dunia tari dan dunia nyanyi, yang dia geluti. Micky yang pernah
bergabung di sebuah band bernama True Box dan sering dikontrak menyanyi di
Timika. Di sini dia juga bergelut di dunia modelling di Pekanbaru, bahkan Micky
pernah menjadi juara kedua dan favorit di pemilihan Putra-Putri Riau tahun 1999.
Micky memang banyak disebut temannnya orang yang care banget. Akan
tetapi, Micky aslinya sangat pemalu dan cool abis. Dia suka memberi kejutan.
Contohnya, ketika dia masuk sepuluh besar AFI dan harus berangkat ke Jakarta.
Selain suka memberi kejutan, ternyata Micky suka gemesan kalau melihat bayi atau
kucing. Pernah kejadian, ketika umur tiga tahun, karena sangat gemes, tidak sadar
kucingnya tercekik sampai mati.

Sumber: Gaul, edisi 20.

Jawablah pertanyaan berikut ini!


1. Sarikan riwayat hidup tokoh Micky Octapaliha?
2. Simpulkan keistemawaan tokoh Micky Octapaliha?
3. Daftarlah hal-hal yang bermanfaat bagi kamu dari teks yang berjudul “Micky
Octapaliha Salah Satu Akademia 2”?
Kunci Jawaban
1. Micky Octapaliha merupakan salah satu akademia 2 yang lahir di Pekanbaru pada
tanggal 2 Oktober 1979. Ia lahir di keluarga seniman, ayahnya bernama Indra
Karina (drummer) dan ibunya bernama Poppy Kaligis (penyanyi). Dari kecil
umur setahun, bakat menyanyi Micky sudah kelihatan. Micky kecil pun mulai
kut-ikutan lomba. Ia pertama kali mulai berani menyanyi waktu Sd di acara
perpisahan sekolah. Beranjak SMP, Micky mulai rajin mengikuti acara-acara seni
dan terlibat di Sanggar tari Dang Merdu. Karena keasyikan sibuk di sanggar
malka ia kos di Ibu Biadidar. Waktu SMA, ia pertama kali ikut festival tingkat
provinsi di RRI dan mendapat juara kedua. Dari sinilah ibunya mulai memberi
dorongan pada Micky untuk terus berlatih. Bukan hanya dunia tarik suara saja
yang ia geluti, dunia tari pun ia geluti juga. Micky pernag bergabung dalam
sebuah band yang bernama True Box dan sering dikontrak di Timika. Micky juga
menggeluti dunia modelling di Pekanbaru, bahkan Micky pernah menjadi juara
kedua dan favorit pemilihan Putra-Putri Riau tahun 1999. Micky mempunyai sifat
pemalu, cool abis, suka memberi kejutan. Selain suka memberi kejutan, ia juga
gemesan kalau melihat bayi atau kucing.
2. Keistimewaan Micky adalah ia mempunyai suara yang bagus sehingga ia dapat
masuk akademia AFI 2 dan segudang prestasi. Prestasi yang pernah ia terima
antara lain juara kedua menyanyi di festival tingkat provinsi di RRI, dikontrak di
Timika dengan grup bandnya True Box, juara kedua dan favorit di pemilihan
Putra-Putri Riau tahun 1999.
3. Hal-hal yang bermanfaat dalam bacaan tersebuta adalah sebagai berikut.
• Dari sinilah ibunya mulai memberi dorongan pada Micky untuk terus berlatih.
Hal tersebut merupakan sesuatu yang bermanfaat yang dapat
dilakukan oleh orang yang ingin memiliki keterampilan dan kepandaian yaitu
berlatih. Dukungan orang tua pun mempunyai peranan yang penting pula
seperti halya Micky yang didukung oleh ibunya.
• Micky memang banyak disebut temannnya orang yang care banget.
Kata care banget merupakan kata tidak baku, kata bakunya adalah
perhatian sekali.

• Akan tetapi, Micky aslinya sangat pemalu dan cool abis.


Cool abis termasuk kata tidak baku, kata bakaunya adalah keren
sekali.
• Biarpun lahir dari keluarga seniman, ibunya Poppy Kaligis (penyanyi) dan
bapaknya Indra Karina (drummer), Micky tetap hidup bersahaja.
Pernyataaan tersebut memberikan pengetahuan bagi kita bahwa orang
yang lahir dari keluarga seniman, pada umumnya mempunyai darah seni yang
tinggi.
• Beranjak SMP, Micky mulai rajin mengikuti acara-acara seni, bahkan mulai
terlibat di sebuah Sanggar Dang Merdu yang ada di kawasan Pemerintahan
Pekanbaru.
Pernyataan tersebut merupakan hal yang bermanfaaat bagi kita bahwa
jika ingin memiliki keterampilan dan kepandaian terutama di bidang seni
hendaknya sering mengikuti acara-acara seni atau bergabung dalam sangaar-
sanggar.

Penilaian
• Tiap nomor bernilai 10 skor. Nilai akhir membaca intensif teks profil tokoh

adalah jumlah skor dibagi tiga dikali 10.

Tabel 1 Aspek dan skor Penilaian


Aspek Penilaian Skor Maksimal
Menyarikan riwayat hidup tokoh 10
Menyimpulkan keistimewaan tokoh 10
Mencatat hal-hal yang bermanfaat bagi 10
siswa
Tabel 2 Pedoman Penilaian

Aspek Kategori Skor Kriteria Penilaian


Penilaian Skor

Menyarikan Sangat 8-10 Micky Octapaliha merupakan salah


riwayat hidup
Baik satu akademia 2 yang lahir di
tokoh
Pekanbaru pada tanggal 2 Oktober
1979. Ia lahir di keluarga seniman,
ayahnya bernama Indra Karina
(drummer) dan ibunya bernama Poppy
Kaligis (penyanyi). Beranjak SMP,
Micky mulai rajin mengikuti acara-
acara seni dan terlibat di Sanggar tari
Dang Merdu. Karena keasyikan sibuk
di sanggar maka ia kos di Ibu
Biadidar. Waktu SMA, ia pertama kali
ikut festival tingkat provinsi di RRI
dan mendapat juara kedua. Dari
sinilah ibunya mulai memberi
dorongan pada Micky untuk terus
berlatih. Bukan hanya dunia tarik
suara saja yang ia geluti, dunia tari
pun ia geluti juga. Micky pernah
bergabung dalam sebuah band yang
bernama True Box dan sering
dikontrak di Timika. Micky juga
menggeluti dunia modelling di
Pekanbaru, bahkan Micky pernah
menjadi juara kedua dan favorit
pemilihan Putra-Putri Riau tahun
1999. Micky mempunyai sifat pemalu,
cool abis, suka memberi kejutan.
Selain suka memberi kejutan, ia juga
gemesan kalau melihat bayi atau
kucing.
Baik 5-7 Micky Octapaliha merupakan salah
satu akademia 2 yang lahir di
Pekanbaru pada tanggal 2 Oktober
1979. Ia lahir di keluarga seniman,
ayahnya bernama Indra Karina
(drummer) dan ibunya bernama Poppy
Kaligis (penyanyi). Ia pernah terlibat
di Sanggar tari Dang Merdu. Karena
keasyikan sibuk di sanggar maka ia
kos di Ibu Biadidar. Waktu SMA, ia
pertama kali ikut festival tingkat
provinsi di RRI dan mendapat juara
kedua. Micky pernah bergabung dalam
sebuah band yang bernama True Box
dan sering dikontrak di Timika.
Cukup 2-4 Micky Octapaliha merupakan salah
satu akademia 2 yang lahir di
Pekanbaru pada tanggal 2 Oktober
1979. Ia lahir di keluarga seniman,
ayahnya bernama Indra Karina
(drummer) dan ibunya bernama Poppy
Kaligis (penyanyi). Ia pernah terlibat
di Sanggar tari Dang Merdu. Micky
pernah bergabung dalam sebuah band
yang bernama True Box dan sering
dikontrak di Timika.

Kurang 3-4 Micky Octapaliha merupakan salah


satu akademia 2 yang lahir di
Pekanbaru pada tanggal 2 Oktober
1979. Ia lahir di keluarga seniman,
ayahnya bernama Indra Karina
(drummer) dan ibunya bernama Poppy
Kaligis (penyanyi).

Menyimpulkan Sangat 8-10 Keistimewaan Micky adalah ia


keistimewaan Baik mempunyai suara yang bagus
tokoh sehingga ia dapat masuk akademia
AFI 2 dan segudang prestasi. Prestasi
yang pernah ia terima antara lain juara
kedua menyanyi di festival tingkat
provinsi di RRI, dikontrak di Timika
dengan grup bandnya True Box, juara
kedua dan favorit di pemilihan Putra-
Putri Riau tahun 1999.
Baik 5-7 Keistimewaan Micky adalah ia
mempunyai suara yang bagus
sehingga ia dapat masuk akademia
AFI 2 dan segudang prestasi.
Cukup 2-4 Keistimewaan Micky adalah ia
mempunyai segudang prestasi. Micky
mempunyai sifat pemalu, cool abis,
suka memberi kejutan. Selain suka
memberi kejutan, ia juga gemesan
kalau melihat bayi atau kucing.
Kurang 0-1 Keistimewaan Micky adalah ia Micky
mempunyai sifat pemalu, cool abis,
suka memberi kejutan.

Mencatat hal-hal Sangat 8-10 • Dari sinilah ibunya mulai memberi


yang bermanfaat Baik dorongan pada Micky untuk terus
bagi siswa berlatih.
Hal tersebut merupakan sesuatu
yang bermanfaat yang dapat
dilakukan oleh orang yang ingin
memiliki keterampilan dan
kepandaian yaitu berlatih.
Dukungan orang tua pun
mempunyai peranan yang penting
pula seperti halya Micky yang
didukung oleh ibunya.
• Micky memang banyak disebut
temannnya orang yang care
banget.
Kata care banget merupakan kata
tidak baku, kata bakunya adalah
perhatian sekali.
• Biarpun lahir dari keluarga
seniman, ibunya Poppy Kaligis
(penyanyi) dan bapaknya Indra
Karina (drummer), Micky tetap
hidup bersahaja.
Pernyataaan tersebut memberikan
pengetahuan bagi kita bahwa orang
yang lahir dari keluarga seniman,
pada umumnya mempunyai darah
seni yang tinggi.
• Beranjak SMP, Micky mulai rajin
mengikuti acara-acara seni, bahkan
mulai terlibat di sebuah Sanggar
Dang Merdu yang ada di kawasan
Pemerintahan Pekanbaru.
Pernyataan tersebut merupakan hal
yang bermanfaaat bagi kita bahwa
jika ingin memiliki keterampilan
dan kepandaian terutama di bidang
seni hendaknya sering mengikuti
acara-acara seni atau bergabung
dalam sangaar-sanggar.
Baik 5-7 • Dari sinilah ibunya mulai memberi
dorongan pada Micky untuk terus
berlatih.
Hal tersebut merupakan sesuatu
yang bermanfaat yang dapat
dilakukan oleh orang yang ingin
memiliki keterampilan dan
kepandaian yaitu berlatih.
Dukungan orang tua pun
mempunyai peranan yang penting
pula seperti halya Micky yang
didukung oleh ibunya.
• Micky memang banyak disebut
temannnya orang yang care
banget.
Kata care banget merupakan kata
tidak baku, kata bakunya adalah
perhatian sekali.
• Biarpun lahir dari keluarga
seniman, ibunya Poppy Kaligis
(penyanyi) dan bapaknya Indra
Karina (drummer), Micky tetap
hidup bersahaja.
Pernyataaan tersebut memberikan
pengetahuan bagi kita bahwa orang
yang lahir dari keluarga seniman,
pada umumnya mempunyai darah
seni yang tinggi.

Cukup 2-4 • Dari sinilah ibunya mulai memberi


dorongan pada Micky untuk terus
berlatih.
Hal tersebut merupakan sesuatu
yang bermanfaat yang dapat
dilakukan oleh orang yang ingin
memiliki keterampilan dan
kepandaian yaitu berlatih.
Dukungan orang tua pun
mempunyai peranan yang penting
pula seperti halya Micky yang
didukung oleh ibunya.
• Micky memang banyak disebut
temannnya orang yang care
banget.
Kata care banget merupakan kata
tidak baku, kata bakunya adalah
perhatian sekali.

Kurang 0-1 • Dari sinilah ibunya mulai memberi


dorongan pada Micky untuk terus
berlatih.
Hal tersebut merupakan sesuatu
yang bermanfaat yang dapat
dilakukan oleh orang yang ingin
memiliki keterampilan dan
kepandaian yaitu berlatih.
Dukungan orang tua pun
mempunyai peranan yang penting
pula seperti halya Micky yang
didukung oleh ibunya.
Identitas Teks
♦ Judul : Chairil Anwar
♦ Teks ini digunakan pada : Pembelajaran membaca intensif teks profil tokoh
dengan pendekatan kontekstual komponen
inquiry siklus II.
♦ Pelaksanaan tes siklus II : Kamis, 19 Agustus 2005.
♦ Teks ini dibaca selama : 10 menit.

Chairil Anwar

Chairil Anwar lahir di Medan (Sumatera Utara) 26 Juli 1922 merupakan putra
satu-satunya dari pasangan Toeloes dan Saleha. Ayahnya, Toeloes, berasal dari
kenegerian Taeh, 50 kota (Sumatera Barat) yang bekerja sebagai pamongpraja di
Sumatera Utara, dan zaman revolusi kemerdekaan menjadi Bupati Indragiri,
Karesidenan riau. Sedangkan ibunya, Saleha, berasal dari Koto Gadang (Sumatera
Barat) yang masih memiliki pertalian keluarga dengan ayah Sutan Sjahrir.
Masa kanak-kanak hingga remajanya dihabiskan di kota kelahirannya Medan
dengan bersekolah Belanda HIS (Hollands Inlandsche School, setingkat SD). Di sana
Chairil kecil sudah menampakkan diri sebagai siswa yang cerdas dan berbakat
menulis. Kemudian dia melanjutkan sekolahnya ke MULO (Meer Uitgebreid Lager
Orderwijs, setingkat Sekolah Menengah Pertama). Ketika kelas dua, dalam usia 19
tahun, Chairil hijrah ke Jakarta mengikuti ibunya, sebagai protes terhadap ayahnya
yang menikah lagi dan bercerai dengan ibunya. Karena kesulitan ekonomi pada masa
kolonial Jepang di tahun 1942, akhirnya Chairil putus sekolah.
Di masa putus sekolah itu Chairil di Jakarta mengisi waktunya dengan
membaca sebanyak-banyaknya karya sastra lewat di depannya: Indonesia, Belanda,
Jerman, Inggris, Amerika dan berbagai terjemahan sastra dunia. Sebagai pelajar
MULO Chairil otomatis menguasai tiga bahasa asing yaitu Belanda, Inggris, dan
Jerman secara aktif. Bahasa daerah yang dia kuasai adalah bahasa Minang. Dan
kelak, penguasannya terhadap ketiga bahasa asing itulah yang mengantarkan Chairil
pada karya-karya sastrawan dunia sebagai referensi yang berhasil disadur dan
diterjemahkan. Keberhasilannya menyadur dan menerjemahkan karya puisi atau
cerpen Andre Gide, John Steinbeck, Raine Maria Rlke, Ernest Hemingway, WH
Auden, Conrad Aiken, John Cornford, Hsu Chih-Mo, Archibald MacLeish, Willem
Elsschat, H. Marsman, Edgar du Perron, J. Slaverhoff, dan lain-lain telah
menyudutkan Chairil pada klaim kritikus sastra sebagai plagiator, penyadur, atau
penerima pengaruh berat dari karya-karya itu.
Chairil makin memperlihatkan kematangannnya sebagai penyair yang
menyerahkan hampir seluruh perjalanan kehidupannya dengan penuh kesetiaan untuk
sastra. Di antara kredo penciptaan puisinya sangat menarik adalah puisiku tiap kata
akan kugali-korek sedalamnya hinggga ke kernwoord, ke kernbeeld. Dalam pidato
radio tahun 1946, penyair ini menegaskan kembali pendapatnya, bahwa sebuah sajak
(puisi) yang menjadi adalah suatu dunia. Dunia yang dijadikan, diciptakan oleh si
penyair.
Tiga kumpulan puisi Chairil, yaitu Deru campur Debu (1949), Kerikil Tajam
dan Yang Terempas dan Yang Putus (1949), atau Tiga Menguak Takdir (1950).
Kumpulan puisi bertiga dengan Asrul Sani dan Rivai Apin-merupakan sejumlah puisi
yang selama bertahun-tahun hidup dan memompakan antusiasme dalam sejarah sastra
Indonesia, sekaligus referensi, yang telah memasuki lubuk teks dunia pendidikan dan
bidang kajian penelitian sastra. Chairil juga menjadi bagian tersendiri dalam kejadian
atau penelitian mengenai sastra yang ditulis sastrawan Indonesia. Terjemahan
puisinya ke dalam bahasa Inggris adalah Selected Poems of Chairil Anwar (1970)
oleh Burton Raffel, The Complete Poems of Chairil anwar (1974) oleh Liauw Yock
Fang, dan dalam bahasa Jerman Fever und Asche oleh Walter Karwath.
Nama Chairil Anwar dikenal di lingkungan seniman dan budayawan Jakarta
ketika ia berusia 21 tahun (1843). Pada masa itu, ia sering datang ke kantor redaksi
majalah Panji Poestaka mengantarkan puisi-puisinya. Pergaulannya dengan para
sastrawan dan budayawan senior semakin luas ketika ia kerap muncul di Keimin
Bunka Shidoso, pusat kebudayaan bikinan tentara pendudukan Jepang.
Chairil sempat bekerja menjadi redaksi majalah Gema Suasana (1948). Ia
hanya bertahan selama tiga bulan di sana (Januari-Maret), kemudian keluar dan
bekerja di mingguan berita Siasat. Di sana ia menjadi anggota redaksi ruang
kebudayaan Gelanggang bersama Ida Nasoetion, Asrul Sani, Rivai Apin. Dia salah
seorang pemikir yang memberikan kontribusi pada lahirnya Surat Kepercayaan
Gelanggang.
Untuk menghormati kepenyairan Chairil Anwar, Dewan Kesenian Jakarta
memberikan Anugerah Sastra Chairil Anwar, pertama kepada Mochtar Lubis di tahun
1992 dan kedua, Sutardji Calzoum Bachril di tahun 1998.

Sumber: Derai-derai Cemara dengan Pengubahan Seperlunya.

Jawablah Pertanyaan di bawah ini!


1. Sarikan riwayat hidup tokoh Chairil Anwar pada bacaan di atas!
2. Simpulkan keistimewaan tokoh Chairil Anwar!
3. Catatlah hal-hal yang bermanfaat yang dapat kamu peroleh dari bacaan di atas!

Kunci Jawaban
1. Chairil Anwar lahir di Medan (Sumatera Utara) 26 Juli 1922 merupakan putra
satu satunya dari pasangan Toeloes dan Saleha. Ayahnya, Toeloes, bekerja
sebagai pamongpraja di Sumatera Utara. Sedangkan ibunya, Saleha, berasal dari
Koto Gadang (Sumatera Barat) yang masih memiliki pertalian keluarga dengan
ayah Sutan Sjahrir. Masa kanak-kanak hingga remajanya dihabiskan di HIS
(Hollands Inlandsche School, setingkat SD). Kemudian ia melanjutkan
sekolahnya ke MULO (Meer Uitgebreid Lager Orderwijs, setingkat Sekolah
Menengah Pertama). Karena kesulitan ekonomi pada masa kolonial Jepang di
tahun 1942, akhirnya Chairil putus sekolah. Pada masa itu ia sering membaca
sehingga ia dapat menyadur atau menerjemahkan cerpen. Tiga kumpulan puisi
Chairil, yaitu Deru campur Debu (1949), Kerikil Tajam dan Yang Terempas dan
Yang Putus (1949), atau Tiga Menguak Takdir (1950) sangat terkenal. Chairil
sempat bekerja menjadi redaksi majalah Gema Suasana (1948). Untuk
menghormati kepenyairan Chairil Anwar, Dewan Kesenian Jakarta memberikan
Anugerah Sastra Chairil Anwar.
2. Keistimewaan Chairil Anwar adalah ia dapat menerjemahkan karya puisi atau
cerpen. Ia juga menguasai tiga bahasa asing yaitu Belanda, Inggris, dan Jerman
secara aktif. Chairil Anwar juga membuat kumpulan puisi. Kumpulan puisinya
yang terkenal di antaranya Deru campur Debu (1949), Kerikil Tajam dan Yang
Terempas dan Yang Putus (1949), atau Tiga Menguak Takdir (1950). Ia pernah
mendapatkan Anugerah Sastra dari Dewan Kesenian Jakarta.
3. Hal-hal yang bermanfaat bagi siswa dari teks tersebut adalah :
1. Di masa putus sekolah itu Chairil di Jakarta mengisi waktunya dengan
membaca sebanyak-banyaknya karya sastra lewat di depannya: Indonesia,
Belanda, Jerman, Inggris, Amerika dan berbagai terjemahan sastra dunia.
Dari pernyataan tersebut dapat diketahui bahwa Chairil tidak menyia-
nyiakan waktu walaupun ia sudah berhenti sekolah ia tetap rajin membaca.
Seperti halnya Chairil jika kita memanfaatkan waktu sebaik-baiknya dan
mengisi waktu luang dengan membaca maka kita dapat menjadi orang yang
sukses.
2. Pergaulannya dengan para sastrawan dan budayawan senior semakin luas
ketika ia kerap muncul di Keimin Bunka Shidoso, pusat kebudayaan bikinan
tentara pendudukan Jepang.
Pergaulan seseorang dapat mempengaruhi pola pikir kita. Seperti
halnya Chairil yang pergaulannya dengan sastrawan maka ia pun menjadi
sastrawan pula.
3. Dalam menghadapi hidup kita harus pantang menyerah seperti halnya yang
dilakukan Chairil. Walaupun ia dituduh plagiat ia tetap berkarya.
4. Masa kanak-kanak hingga remajanya dihabiskan di kota kelahirannya Medan
dengan bersekolah Belanda HIS (Hollands Inlandsche School, setingkat SD).
Dari pernyataan tersebut dapat diketahui bahwa Chairil mempunyai
pendidikan yang tinggi pada masa itu. Orang yang sukses tidak terlepas dari
pendidikan tinggi.
Identitas Teks
♦ Judul : K.H. Abdullah Gymnastiar Mereparasi Qolbu
♦ Teks ini digunakan pada : Tes membaca intensif teks profil tokoh dengan
pendekatan kontekstual komponen inquiry
pratindakan.
♦ Pelaksanaan tes siklus II : Rabu, 10 Agustus 2005.
♦ Teks ini dibaca selama : 10 menit.

K.H. Abdullah Gymnastiar Mereparasi Qolbu

Ibarat sebuah magnet yang mampu menyedot, setiap pukul 10.00 Ahad pagi
hingga Zhuhur, ribuan orang hadir di Pondok Pesantren Daarut Tauhid (DT),
Bandung, JABAR. Hadir pula manajer-manajer dan pengusaha papan atas dari
berbagai kota. Bahkan ada yang dari negeri jiran seperti Malaysia, Brunei
Darussalam. Semuanya hendak mendengar taushiyah yang sejuk dan bersahaja dari
seorang ulama muda, K.H. Abdullah Gymnastiar.
Aa’ Gym, panggilan akrabnya selalu mengajak khalayak merenungi diri:
sudah sejauh mana menjaga kebersihan qolbu dalam setiap langkah sehari-hari.
Ayah enam anak ini memang sangat menguasai seni berda’wah. Masa lalunya
yang warna-warni membuatnya mudah diterima beragam lingkungan. Sentilan-
sentilan ringannya terkadang menjadi renungan panjang. Isak tangis dan penyesalan
senantiasa terdengar di antara hadirin setiap kali ia menyampaikan taushiahnya.
“Hal-hal sepele pun kalau Aa’ yang menyampaikan, bisa membuat orang
meneteskan air mata,” kata Muhammad Rajab, mahasiswa sebuah perguruan tinggi
negeri di Bandung. “Terasa seperti sedang memutar rekaman film tentang tingkah
laku kita sendiri,” kata seorang eksekutif muda yang baru pertama kali menghadiri
pengajiannya kepada Sahid di Jakarta.
Ternyata tidak ada resep khusus. “Saya menyampaikan tidak usah yang rumit-
rumit, yang gampang saja, “katanya kepada Sahid. Sesuatu yang disampaikan dengan
hati yang tulus maka akan menyentuh relung hati pendengar yang paling dalam.
Lelaki yang pernah menjadi komandan resimen Mahasiswa Universitas
Jenderal Ahmad Yani, Bandung, ini dikenal oleh banyak orang dengan konsep
Manajemen Qolbunya. Menurutnya, tubuh kita ibarat sebuah kerajaan. Sekujur tubuh
ini adalah bala tentaranya dan rajanya adalah hati. “Kalau rajanya sakit maka
seluruhnya sakit,” ujarnya.
Karena keahliannya dalam hal mereparasi qolbu sampai ada yang menjuluki
pria kelahiran Bandung, 29 Januari 1962 ini sebagai Stephen Covey dari pesantren.
Stephen Covey adalh guru manajemen yang terkenal dengan buku dan pelatihannya
Seven Habits for Effective People.
Rekaman ceramahnya sudah banyak beredar dalam bentuk kaset dan VCD.
Buku-bukunya yang membahas masalah hati dan kiat menjadi SDM unggul laris
manis, seperti Menuju Generasi Ahli Dzikir, Fikir, dan Ikhtiar, Tanda-tanda Ikhlas,
Syukur Pengundang Nikmat, Manajemen Waktu, dan Seni Menata Hati dalam
Bergaul.
Di setiap akhir ceramahnya, mantan vokalis dan penyanyi ini sering mengajak
jamaahnya beristighfar dan berdo’a atau melantunkan serangkaian bait-bait nasyid
dengan suara yang merdu.

Sumber: Hidayatullah, Edisi khusus 01/Thn. XIV.


Mei 2001, hal. 55.

Jawablah pertanyaan di bawah ini!


1. Sarikan riwayat hidup tokoh K.H. Abdullah Gymnastiar berdasarkan teks di atas!
2. Sebutkan keistimewaan tokoh K.H. Abdullah Gymnastiar!
3. Daftarlah hal-hal yang bermanfaat atau hal-hal positif yang dapat kamu peroleh
dari teks di atas!
Kunci Jawaban
1. K.H. Abdullah Gymnastiar lahir di Bandung, 29 Januari 1962. Beliau biasanya
dipanggil dengan Aa’Gym. Ayah enam anak ini memang sangat menguasai seni
berda’wah. Sentilan-sentilan ringannya terkadang menjadi renungan panjang.
Lelaki yang pernah menjadi komandan resimen Mahasiswa Universitas Jenderal
Ahmad Yani, Bandung, ini dikenal oleh banyak orang dengan konsep Manajemen
Qolbunya. Menurutnya, tubuh kita ibarat sebuah kerajaan. Sekujur tubuh ini
adalah bala tentaranya dan rajanya adalah hati. Jika ia berdakwah banyak
pengunjung yang hadir baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Beliau dijuluki
sebagai Stephen Covey dari pesantren. Rekaman ceramahnya banyak beredar
dalam kaset maupun VCD.
2. Keistimewaan Aa’Gym adalah hal-hal sepele pun kalau Aa’ yang menyampaikan,
bisa membuat orang meneteskan air mata. Sentilan-sentilan ringannya terkadang
menjadi renungan panjang. Beliau menyampaikan dakwahnya secara sederhana
dan mudah, tidak rumit-rumit sehingga banyak orang yang hadir ketika ia
menyampaikan dakwahnya.
3. Hal-hal bermanfaat yang dapat diambil dari teks tersebut adalah:
1. Sesuatu yang disampaikan dengan hati yang tulus maka akan menyentuh relung
hati pendengar yang paling dalam.
Dari pernyataan tersebut dapat diketahui bahwa dalam menyampaikan
sesuatu kepada orang lain harus dengan hati tulus sehingga orang yang
mendengarnya pun akan merasa senang dan terharu.
2. Masa lalunya yang warna-warni membuatnya mudah diterima beragam
lingkungan.
Masa lalu merupakan pelajaran berharga yang dapat diambil
hikmahnya dan diamalkan dalam kehidupan.
3. Menurutnya, tubuh kita ibarat sebuah kerajaan. Sekujur tubuh ini adalah bala
tentaranya dan rajanya adalah hati. “Kalau rajanya sakit maka seluruhnya
sakit,” ujarnya.
Dari pernyataan tersebut dapat diketahui bahwa hati merupakan bagian
utama dari tubuh kita. Sehingga jika hati kita sakit maka tubuh kita pun akan
ikut sakit pula.

4. Jika kita mempunyai ilmu hendaknya diamalkan kepada orang lain. Begitu pula
yang dilakukan Aa’Gym ketika ia menyampaikan dakwahnya.

Pedoman Penilaian
• Tiap nomor bernilai 10 skor. Nilai akhir membaca intensif teks profil tokoh

adalah jumlah skor dibagi tiga dikali 10.

Tabel 1 Aspek dan skor Penilaian

Aspek Penilaian Skor Maksimal

Menyarikan riwayat hidup tokoh 10


Menyimpulkan keistimewaan tokoh 10
Mencatat hal-hal yang bermanfaat bagi 10
siswa
Tabel 2 Pedoman Penilaian

Aspek Kategori Skor Kriteria Penilaian


Penilaian Skor

Menyarikan Sangat 8-10 K.H. Abdullah Gymnastiar lahir di


riwayat hidup
Baik Bandung, 29 Januari 1962. Beliau
tokoh
biasanya dipanggil dengan Aa’Gym.
Ayah enam anak ini memang sangat
menguasai seni berda’wah. Sentilan-
sentilan ringannya terkadang menjadi
renungan panjang. Lelaki yang pernah
menjadi komandan resimen
Mahasiswa Universitas Jenderal
Ahmad Yani, Bandung, ini dikenal
oleh banyak orang dengan konsep
Manajemen Qolbunya. Menurutnya,
tubuh kita ibarat sebuah kerajaan.
Sekujur tubuh ini adalah bala
tentaranya dan rajanya adalah hati.
Jika ia berdakwah banyak pengunjung
yang hadir baik dari dalam negeri
maupun luar negeri. Beliau dijuluki
sebagai Stephen Covey dari pesantren.
Rekaman ceramahnya banyak beredar
dalam kaset maupun VCD.
Baik 5-7 K.H. Abdullah Gymnastiar lahir di
Bandung, 29 Januari 1962. Beliau
biasanya dipanggil dengan Aa’Gym.
Ayah enam anak ini memang sangat
menguasai seni berda’wah. Sentilan-
sentilan ringannya terkadang menjadi
renungan panjang. Lelaki yang pernah
menjadi komandan resimen
Mahasiswa Universitas Jenderal
Ahmad Yani, Bandung, ini dikenal
oleh banyak orang dengan konsep
Manajemen Qolbunya. Beliau dijuluki
sebagai Stephen Covey dari pesantren.
Cukup 2-4 K.H. Abdullah Gymnastiar lahir di
Bandung, 29 Januari 1962. Beliau
biasanya dipanggil dengan Aa’Gym.
Ayah enam anak ini memang sangat
menguasai seni berda’wah. Sentilan-
sentilan ringannya terkadang menjadi
renungan panjang. Lelaki yang pernah
menjadi komandan resimen
Mahasiswa Universitas Jenderal
Ahmad Yani, Bandung, ini dikenal
oleh banyak orang dengan konsep
Manajemen Qolbunya.
Kurang 0-1 K.H. Abdullah Gymnastiar lahir di
Bandung, 29 Januari 1962. Beliau
biasanya dipanggil dengan Aa’Gym.
Ayah enam anak ini memang sangat
menguasai seni berda’wah.
Menyimpulkan Sangat 8-10 Keistimewaan Aa’Gym adalah hal-hal
keistimewaan Baik sepele pun kalau Aa’ yang
tokoh menyampaikan, bisa membuat orang
meneteskan air mata. Sentilan-sentilan
ringannya terkadang menjadi renungan
panjang. Beliau menyampaikan
dakwahnya secara sederhana dan
mudah, tidak rumit-rumit sehingga
banyak orang yang hadir ketika ia
menyampaikan dakwahnya.
Baik 5-7 Keistimewaan Aa’Gym adalah hal-hal
sepele pun kalau Aa’ yang
menyampaikan, bisa membuat orang
meneteskan air mata. Sentilan-sentilan
ringannya terkadang menjadi renungan
panjang.
Cukup 2-4 Keistimewaan Aa’Gym adalah hal-hal
sepele pun kalau Aa’ yang
menyampaikan, bisa membuat orang
meneteskan air mata. Beliau dijuluki
sebagai Stephen Covey dari pesantren.
Rekaman ceramahnya banyak beredar
dalam kaset maupun VCD.
Kurang 0-1 Keistimewaan Aa’Gym adalah ia
pernah menjadi komandan Resimen
Mahasiswa Universitas Jenderal
Ahmad Yani, Bandung, ini dikenal
oleh banyak orang dengan konsep
Manajemen Qolbunya.

Mencatat hal-hal Sangat 8-10 1. Sesuatu yang disampaikan dengan


yang bermanfaat Baik hati yang tulus maka akan
bagi siswa menyentuh relung hati pendengar
yang paling dalam.
Dari pernyataan tersebut dapat
diketahui bahwa dalam
menyampaikan sesuatu kepada
orang lain harus dengan hati tulus
sehingga orang yang mendengarnya
pun akan merasa senang dan terharu.
2. Masa lalunya yang warna-warni
membuatnya mudah diterima
beragam lingkungan.
Masa lalu merupakan
pelajaran berharga yang dapat
diambil hikmahnya dan diamalkan
dalam kehidupan.
3. Menurutnya, tubuh kita ibarat sebuah
kerajaan. Sekujur tubuh ini adalah
bala tentaranya dan rajanya adalah
hati. “Kalau rajanya sakit maka
seluruhnya sakit,” ujarnya.
Dari pernyataan tersebut
dapat diketahui bahwa hati
merupakan bagian utama dari tubuh
kita. Sehingga jika hati kita sakit
maka tubuh kita pun akan ikut sakit
pula.
4. Jika kita mempunyai ilmu hendaknya
diamalkan kepada orang lain. Begitu
pula yang dilakukan Aa’Gym ketika
ia menyampaikan dakwahnya.

Baik 5-7 1. Sesuatu yang disampaikan dengan


hati yang tulus maka akan
menyentuh relung hati pendengar
yang paling dalam.
Dari pernyataan tersebut dapat
diketahui bahwa dalam
menyampaikan sesuatu kepada
orang lain harus dengan hati tulus
sehingga orang yang mendengarnya
pun akan merasa senang dan terharu.
2. Masa lalunya yang warna-warni
membuatnya mudah diterima
beragam lingkungan.
Masa lalu merupakan
pelajaran berharga yang dapat
diambil hikmahnya dan diamalkan
dalam kehidupan.
3. Menurutnya, tubuh kita ibarat sebuah
kerajaan. Sekujur tubuh ini adalah
bala tentaranya dan rajanya adalah
hati. “Kalau rajanya sakit maka
seluruhnya sakit,” ujarnya.
Dari pernyataan tersebut dapat
diketahui bahwa hati merupakan
bagian utama dari tubuh kita.
Sehingga jika hati kita sakit maka
tubuh kita pun akan ikut sakit pula.
Cukup 2-4 1. Sesuatu yang disampaikan dengan
hati yang tulus maka akan
menyentuh relung hati pendengar
yang paling dalam.
Dari pernyataan tersebut dapat
diketahui bahwa dalam
menyampaikan sesuatu kepada
orang lain harus dengan hati tulus
sehingga orang yang mendengarnya
pun akan merasa senang dan terharu.
2. Jika kita mempunyai ilmu hendaknya
diamalkan kepada orang lain. Begitu
pula yang dilakukan Aa’Gym ketika
ia menyampaikan dakwahnya.
Kurang 0-1 1. Sesuatu yang disampaikan dengan
hati yang tulus maka akan
menyentuh relung hati pendengar
yang paling dalam.
Dari pernyataan tersebut dapat
diketahui bahwa dalam
menyampaikan sesuatu kepada
orang lain harus dengan hati tulus
sehingga orang yang mendengarnya
pun akan merasa senang dan terharu.
Identitas Teks
♦ Judul : Adi Sudah Mandiri Sejak Kecil
♦ Teks ini digunakan pada : Pembelajaran membaca intensif teks profil tokoh
dengan pendekatan kontekstual komponen
inquiry siklus I.
♦ Pelaksanaan tes siklus II : Rabu, 10 Agustus 2005.
♦ Teks ini dibaca selama : 10 menit.

ADI SUDAH MANDIRI SEJAK KECIL

Masuknya Adi dalam 12 besar AFI 2 bukan hal yang aneh buat bungsu dari
tiga bersaudara pasangan bapak Abdullah Syukur dan Ibu Indrawati (alm.) ini. Sebab,
sebelum ikut AFl, Adi pernah masuk lima besar ajang Popstar. Di ajang pencari bakat
ini juga Adi berkenalan dengan Mawar, Akademia AFI 1. Berbagai lomba tingkat
daerah pun pernah Adi ikuti. Dalam setiap lomba, Adi pasti membawa pulang piala.
Wajar kalau koleksi piala di rumah ada sekitar 50 buah.
Kepiawaian Adi bukan hanya di tarik suara. Didukung, postur tubuh yang
tinggi dan senyum yang manis, nampaknya melengkapi kesuksesan Adi dalam dunia
model. Cowok yang bercita-cita menjadi entertain ini pernah menjadi juara I Mbak
dan Mas (seperti Abang dan None Jakarta), juara Putra-Putri Idola. Pada 2002 lalu,
dia juga berhasil memboyong juara Putra Pariwisata dan memperoleh piala dari
Walikota Jogjakarta. Pada tahun yang sama, Adi juga memperoleh juara I, Mbak dan
Mas tingkat Jawa Tengah. Masih banyak prestasi Adi yang lainnya.
Kecintaan cowok yang lahir pada 1 Januari 1980 ini pada tarik suara sudah
terlihat sejak kecil. Saat berusia dua tahun, mata Adi tidak mau lepas dari televisi.
begitu ada program menyanyi atau menari. Adi memperhatikan dengan seksama.
Setelah acara selesai, giliran Adi menirukan gerak artis di televisi. Hebatnya semua
gerak artis itu bisa persis. Saking pintarnya menirukan gerakan, saat TK Adi sudah
diminta mengajari teman-temannya menari. Melihat perkembangan putra bungsunya
yang cenderung ke seni, ibunya, Indrawati, terus mendorong. Misalnya dengan
membuat pernak-pernik untuk pentas. Soalnya, saat Adi kecil sudah mulai ikut lomba
menyanyi. Melihat bakat seni yang sangat tinggi pada Adi, sang ayah kemudian
mengirim Adi belajar nyanyi pada salah seorang guru vokal yang terkenal di Kudus.
Bakat menyanyi Adi mengalir dari kedua orang tuanya. Ibunya adalah
penyanyi keroncong, sedangkan sang ayah, meski mengajar IPA di SMU I Kudus,
tetapi menjadi pembina seni musik di sekolah favorit di kota penghasil rokok itu. Adi
pun pernah membuat grup band dengan sang kakak. Meski anak bungsu, Adi bukan
tipe anak manja. Sejak kecil sudah diajarkan mandiri. Saat masih kuliah di
Universitas Negeri Jogjakarta, Adi bekerja sambilan untuk memenuhi kebutuhan.
Maklum, uang kiriman orang tua tidak begitu besar. Jadi, untuk kebutuhan selama
kos di Jogjakarta, dia mengajar bahasa Inggris untuk anak-anak SD. Atau mengajar
bule-bule yang ingin belajar bahasa Indonesia. Dari hasil membuat les ini, kadang
Adi mengirim sebagian penghasilannya kepada orang tuanya. Adi juga sering
mendapat hadiah uang dari lomba yang dimenanginya. Kalau mendapat hadiah,
uangnya pasti diberikan kepada ibunya. Katanya, untuk belanja. Dari dulu, Adi
memang memiliki perhatian kepada keluarga. Anaknya sopan, ramah, cerdas, dan
patuh pada orang tua. Dia tidak pernah membantah. Kalau diminta menyapu halaman
rumah oleh orang tuanya, ya, menyapu. Adi juga bisa bergaul dengan siapa saja,”
kata Ibu Erna, tante Adi.
Adi tergolong cerdas. Sejak kecil, dia selalu mendapat peringkat di kelasnya.
Dia juga serba bisa dan mau belajar. Suatu kali, Adi tidak bisa mengoperasikan
komputer, dia belajar komputer sendiri. Beberapa minggu berikutnya, dia sudah bisa
mengutak-ngutik program komputer, bahkan bermain internet. Bahasa Inggris yang
dikuasainya pun berkat kemauan keras Adi belajar. Padahal dia tidak pernah ikut kursus
bahasa Inggris.
Sebagai anak bungsu, wajar kalau Adi dekat dengan orang tuanya, terutama
ibunya. Karena itu, dia sangat terpukul saat ibunda tersayang meninggal karena stroke.
“Waktu itu, Adi masih kuliah di Jogja. Saat ibunya sakit keras, Adi diminta pulang,
sepertinya sang ibu menunggu Adi pulang. Sebab, saat Adi tiba di rumah sang ibu
meninggal dunia. lbunya sempat berbicara kepada saya. la ingin melihat Adi sukses dan
tampil di televisi. Sayangnya, ibunya tidak bisa melihat Adi sekarang,” kata Ibu Erna,
adik kandung ibu Adi. Kepergian ibu tersayang membuat Adi terpukul. Sebab, selama ini
sang ibulah yang paling mendukung dan tempat Adi berkeluh kesah. Sekarang, sang
ayahlah tempat curhat Adi.
“Tidak tahu kenapa, sekarang saya lihat Adi terlihat sensitif. Mungkin, ya, itu
tadi, kangen dengan ibunya. Dari dulu, Adi memang ingin menyenangkan orang tuanya.
Dia sekarang mudah menangis. Padahal, dulu tidak. Kalau ada Akademia yang sakit atau
tereliminasi, dia pasti menangis. Adi memang mudah peduli,” lanjut Ibu Erna.Saat ikut
AFI, Adi melakukan semuanya sendiri. Dari mulai mendaftar sampai proses audisi. Adi
tidak segan-segan mendatangi sekolah-sekolah dan kantor untuk minta dukungan. “Adi
terus mendatangi sekolah dengan naik sepeda motor. Di sana dia menyanyi. Dia juga
mendatangi kantor-kantor. Maklum, dia tidak mempunyai biaya untuk minta dukungan.
Karena itu, dia mendatangi sekolah atau kantor. Kerena terlalu bersemangat dalam
meminta dukungan, Adi sampai terjatuh dari sepeda motor. Sangat beruntung dia tidak
cedera. Pak lurah, Bapak Nurul, tempat Adi tinggal juga mendukung. Kebetulan, Pak
lurah masih muda dan hobi menyanyi. Suatu kali, pernah Pak lurah dan Adi boncengan
naik motor mendatangi sekolah di Kudus. Pak lurah juga ikut membuat spanduk dan
membagikan brosur mendukung Adi,” tandas Ibu Erna.
Pak Abdullah pun ikut mencari dukungan buat Adi. Pak Abdullah mendatangi
SMUN 1 tempat dulu mengajar untuk minta dukungan buat Adi. Kepada beberapa teman
guru yang tidak punya handphone, Pak Abdullah memberikan kartu perdana seharga 50
ribu rupiah. Pak Abdullah berharap Pak Bupati ikut mendukung.

Sumber: Fantasi, Minggu Kedua Mei 200


Jawablah Pertanyaan berikut ini!
1. Sarikan riwayat hidup tokoh Adi!
2. Simpulkan keistimewaan Adi!
3. Catatlah hal-hal yang bermanfaat yang terdapat pada teks tersebut!

Kunci Jawaban
1. Adi adalah anak bungsu dari tiga bersaudara pasangan bapak Abdullah Syukur dan
Ibu Indrawati (alm.) ini. Sebelum ikut AFl, Adi pernah masuk lima besar ajang
Popstar. Di ajang pencari bakat ini juga Adi berkenalan dengan Mawar, Akademia
AFI 1. Berbagai lomba tingkat daerah pun pernah Adi ikuti. Wajar kalau koleksi
piala di rumah ada sekitar 50 buah. Kecintaan cowok yang lahir pada 1 Januari
1980 ini pada tarik suara sudah terlihat sejak kecil. Bakat menyanyi Adi mengalir
dari kedua orang tuanya. Ibunya adalah penyanyi keroncong, sedangkan sang ayah,
meski mengajar IPA di SMU I Kudus, tetapi menjadi pembina seni musik di
sekolah favorit di kota penghasil rokok itu. Meski anak bungsu, Adi bukan tipe
anak manja. Sejak kecil sudah diajarkan mandiri. Saat masih kuliah di Universitas
Negeri Jogjakarta, Adi bekerja sambilan untuk memenuhi kebutuhan. Anaknya
sopan, ramah, cerdas, dan patuh pada orang tua. Dia tidak pernah membantah. Adi
tergolong cerdas. Sejak kecil, dia selalu mendapat peringkat di kelasnya. Dia juga
serba bisa dan mau belajar.
2. Keistimewaan Adi adalah ia mempunyai suara yang indah dan segudang prestasi.
Walaupun anak bungsu ia tidak pernah manja karena sejak kecil sudah diajarkan untuk
mandiri. Ia tergolong anak yang cerdas dan patuh kepada orang tua.
3. Hal-hal yang bermanfaat bagi siswa dari teks tersebut adalah sebagai berikut.
1. Walaupun anak bungsu, ia tidak pernah manja.
Dari pernyataan tersebut dapat diketahui bahwa Adi tidak pernah manja
walaupun anak bungsu. Sikap itu patut kita contoh karena jika sejak kecil kita
sudah terbiasa mandiri maka ketika dewasa pun kita akan mengalami kemudahan
dalam menghadapi segala masalah yang kita hadapi.
2. Anaknya sopan, ramah, cerdas, dan patuh pada orang tua. Dia tidak pernah
membantah.
Dari pernyataan tersebut dapat diketahui bahwa Adi merupakan anak yang
tidak pernah membantah. Sikap Adi itu patutu kita teladani karena anak yang
patuh dan taat kepada orang tualah yang dapat sukses dalam hidup.
3. Adi sering mengikuti lomba-lomba baik dari segi tarik suara maupun model.
Jika kita ingin mempunyai pengalaman kita harus berani mencoba mengikuti
berbagai pertandingan maupun lomba walaupun terkadang kita harus kalah, karena
pengalamn merupakan ilmu yang tiada taranya.
4. Dalam hidup kita harus pantang menyerah dan berusaha keras jika kita ingin
berhasil. Seperti halnya yang dilakukan Adi. Untuk memperoleh suara dalam AFI,
ia rela mengunjungi kantor-kantor maupun sekolah-sekolah. Bahkan sampai ia
terjatuh dari sepeda motor, ia tetap berusaha dan pantang menyerah.