Anda di halaman 1dari 8

PEMANFAATAN ENERGI

ENERGI DARI LAUT

Energi yang berasal dari laut (ocean energy) dapat dikategorikan menjadi tiga
macam:
• energi ombak (wave energy),
• energi pasang surut (tidal energy),
• hasil konversi energi panas laut (ocean thermal energy conversion).

Kita akan membahas bentuk-bentuk energi tersebut satu persatu dan


bagaimana cara pemanfaatannya untuk menghasilkan energi listrik. Sebagai catatan,
energi angin juga terkadang dikategorikan sebagai salah satu bentuk energi yang
berasal dari laut (pengecualian untuk artikel ini dimana energi angin tidak masuk
dalam pembahasan).

Prinsip sederhana dari pemanfaatan ketiga bentuk energi itu adalah: memakai
energi kinetik untuk memutar turbin yang selanjutnya menggerakkan generator
untuk menghasilkan listrik.

Energi ombak

Ombak dihasilkan oleh angin yang bertiup di permukaan laut. Sesungguhnya


ombak merupakan sumber energi yang cukup besar, namun, untuk memanfaatkan
energi yang terkandungnya tidaklah mudah; terlebih lagi mengubahnya menjadi
listrik dalam jumlah yang memadai. Inilah sebabnya jumlah pembangkit listrik
tenaga ombak yang ada di dunia sangat sedikit.

Salah satu metode yang efektif untuk memanfaatkan energi ombak adalah
dengan membalik cara kerja alat pembuat ombak yang biasa terdapat di kolam
renang. Pada kolam renang dengan ombak buatan, udara ditiupkan keluar masuk
sebuah ruang di tepi kolam yang mendorong air sehingga bergoyang naik turun
menjadi ombak.

Gambar 1. Skema Oscillating Water Column

Pada sebuah pembangkit listrik bertenaga ombak (PLTO), aliran masuk dan
keluarnya ombak ke dalam ruangan khusus menyebabkan terdorongnya udara keluar
dan masuk melalui sebuah saluran di atas ruang tersebut (Lihat gambar 1). Jika di
ujung saluran diletakkan sebuah turbin, maka aliran udara yang keluar masuk
tersebut akan memutar turbin yang menggerakkan generator. Masalah dengan desain
ini ialah aliran keluar masuk udara dapat menimbulkan kebisingan, akan tetapi,

1
karena aliran ombak pun sudah cukup bising umumnya ini tidak menjadi masalah
besar.

Setelah selesai dibangun, energi ombak dapat diperoleh secara gratis, tidak
butuh bahan bakar, dan tidak pula menghasilkan limbah ataupun polusi. Namun
tantangannya adalah bagaimana membangun alat yang mampu bertahan dalam
kondisi cuaca buruk di laut yang terkadang sangat ganas, tetapi pada saat bersamaan
mampu menghasilkan listrik dalam jumlah yang memadai dari ombak-ombak kecil
(jika hanya dapat menghasilkan listrik ketika terjadi badai besar maka suplai
listriknya kurang dapat diandalkan).

Beberapa perusahaan yang mengembangkan PLTO versi komersial sesuai


dengan metode yang dijelaskan di atas antara lain: Wavegen dari Inggris, dengan
prototipnya yang bernama LIMPET dengan kapasitas 500 kW di pantai barat
Skotlandia, dan Energetech dari Australia yang sedang mengusahakan proposal
proyek PLTO berkapasitas 2 MW di Rhode Island.

Selain metode yang telah dijelaskan, beberapa perusahaan & institusi lainnya
mengembangkan metode yang berbeda untuk memanfaatkan ombak sebagai
penghasil energi listrik:

• Ocean Power Delivery; perusahaan ini mendesain tabung-tabung yang sekilas


terlihat seperti ular mengambang di permukaan laut (dengan sebutan Pelamis)
sebagai penghasil listrik. Setiap tabung memiliki panjang sekitar 122 meter
dan terbagi menjadi empat segmen. Setiap ombak yang melalui alat ini akan
menyebabkan tabung silinder tersebut bergerak secara vertikal maupun
lateral. Gerakan yang ditimbulkan akan mendorong piston diantara tiap
sambungan segmen yang selanjutnya memompa cairan hidraulik bertekanan
melalui sebuah motor untuk menggerakkan generator listrik. Supaya tidak ikut
terbawa arus, setiap tabung ditahan di dasar laut menggunakan jangkar
khusus.

• Renewable Energy Holdings; ide mereka untuk menghasilkan listrik dari


tenaga ombak menggunakan peralatan yang dipasang di dasar laut dekat tepi
pantai sedikit mirip dengan Pelamis. Prinsipnya menggunakan gerakan naik
turun dari ombak untuk menggerakkan piston yang bergerak naik turun pula di
dalam sebuah silinder. Gerakan dari piston tersebut selanjutnya digunakan
untuk mendorong air laut guna memutar turbin.

• SRI International; konsepnya menggunakan sejenis plastik khusus bernama


elastomer dielektrik yang bereaksi terhadap listrik. Ketika listrik dialirkan
melalui elastomer tersebut, elastomer akan meregang dan terkompresi
bergantian. Sebaliknya jika elastomer tersebut dikompresi atau diregangkan,
maka energi listrik pun timbul. Berdasarkan konsep tersebut idenya ialah
menghubungkan sebuah pelampung dengan elastomer yang terikat di dasar
laut. Ketika pelampung diombang-ambingkan oleh ombak, maka regangan
maupun tahanan yang dialami elastomer akan menghasilkan listrik.

• BioPower Systems; perusahaan inovatif ini mengembangkan sirip-ekor-ikan-


hiu buatan dan rumput laut mekanik untuk menangkap energi dari ombak.
Idenya bermula dari pemikiran sederhana bahwa sistem yang berfungsi paling

2
baik di laut tentunya adalah sistem yang telah ada disana selama beribu-ribu
tahun lamanya. Ketika arus ombak menggoyang sirip ekor mekanik dari
samping ke samping sebuah kotak gir akan mengubah gerakan osilasi tersebut
menjadi gerakan searah yang menggerakkan sebuah generator magnetik.
Rumput laut mekaniknya pun bekerja dengan cara yang sama, yaitu dengan
menangkap arus ombak di permukaan laut dan menggunakan generator yang
serupa untuk merubah pergerakan laut menjadi listrik.

Gambar 2. Berbagai Desain Inovatif dari Pembangkit Listrik Bertenaga Ombak.


Gambar kiri (1): Pelamis Wave Energy Converters dari Ocean Power Delivery. Proyek
komersial pertama dengan kapasitas 2,25 MW telah dibangun di tengah laut 4,8 km
dari tepi pantai Portugal.
Gambar tengah (2): rumput laut mekanik yang disebut juga Biowave.
Gambar kanan (3): sirip ekor ikan hiu buatan yang disebut Biostream.

Secara ringkas, kelebihan dan kekurangan pembangkit listrik berenergi ombak yaitu:

Kelebihan:
• Energi bisa diperoleh secara gratis.
• Tidak butuh bahan bakar.
• Tidak menghasilkan limbah.
• Mudah dioperasikan dan biaya perawatan rendah.
• Dapat menghasilkan energi dalam jumlah yang memadai.

Kekurangan:
• Bergantung pada ombak; kadang dapat energi, kadang pula tidak.
• Perlu menemukan lokasi yang sesuai dimana ombaknya kuat dan muncul
secara konsisten.

Energi Pasang Surut

3
Gambar 3. Ombak masuk ke dalam
muara sungai ketika terjadi pasang
naik air laut.

Pasang surut menggerakkan air dalam jumlah besar setiap harinya; dan
pemanfaatannya dapat menghasilkan energi dalam jumlah yang cukup besar. Dalam
sehari bisa terjadi hingga dua kali siklus pasang surut. Oleh karena waktu siklus bisa
diperkirakan (kurang lebih setiap 12,5 jam sekali), suplai listriknya pun relatif lebih
dapat diandalkan daripada pembangkit listrik bertenaga ombak. Namun demikian,
menurut situs darvill.clara.net, hanya terdapat sekitar 20 tempat di dunia yang telah
diidentifikasi sebagai tempat yang cocok untuk pembangunan pembangkit listrik
bertenaga pasang surut ombak.

Pada dasarnya ada dua metodologi untuk memanfaatkan energi pasang surut:

Gambar 4. Ketika surut, air mengalir


keluar dari dam menuju laut sambil
memutar turbin.

1. Dam pasang surut (tidal barrages)


Cara ini serupa seperti pembangkitan listrik secara hidro-elektrik yang
terdapat di dam/waduk penampungan air sungai. Hanya saja, dam yang dibangun
untuk memanfaatkan siklus pasang surut jauh lebih besar daripada dam air sungai
pada umumnya. Dam ini biasanya dibangun di muara sungai dimana terjadi
pertemuan antara air sungai dengan air laut. Ketika ombak masuk atau keluar
(terjadi pasang atau surut), air mengalir melalui terowongan yang terdapat di dam.
Aliran masuk atau keluarnya ombak dapat dimanfaatkan untuk memutar turbin (Lihat
gambar 3 dan 4).

4
Gambar 5. PLTPs La Rance, Brittany,
Perancis.
Gambar atas menampilkan aliran air dari
kiri ke kanan.
Gambar sebelah kiri bawah menampilkan
proyek dam ketika masih dalam masa
konstruksi.
Gambar kanan menampilkan proses
perakitan turbin dan baling-balingnya.

Pembangkit listrik tenaga pasang surut (PLTPs) terbesar di dunia terdapat di


muara sungai Rance di sebelah utara Perancis. Pembangkit listrik ini dibangun pada
tahun 1966 dan berkapasitas 240 MW. PLTPs La Rance didesain dengan teknologi
canggih dan beroperasi secara otomatis, sehingga hanya membutuhkan dua orang
saja untuk pengoperasian pada akhir pekan dan malam hari. PLTPs terbesar kedua di
dunia terletak di Annapolis, Nova Scotia, Kanada dengan kapasitas “hanya” 16 MW.

Kekurangan terbesar dari pembangkit listrik tenaga pasang surut adalah


mereka hanya dapat menghasilkan listrik selama ombak mengalir masuk (pasang)
ataupun mengalir keluar (surut), yang terjadi hanya selama kurang lebih 10 jam per
harinya. Namun, karena waktu operasinya dapat diperkirakan, maka ketika PLTPs
tidak aktif, dapat digunakan pembangkit listrik lainnya untuk sementara waktu
hingga terjadi pasang surut lagi.
2. Turbin lepas pantai (offshore turbines)
Pilihan lainnya ialah menggunakan turbin lepas pantai yang lebih menyerupai
pembangkit listrik tenaga angin versi bawah laut. Keunggulannya dibandingkan
metode pertama yaitu: lebih murah biaya instalasinya, dampak lingkungan yang
relatif lebih kecil daripada pembangunan dam, dan persyaratan lokasinya pun lebih
mudah sehingga dapat dipasang di lebih banyak tempat.

Beberapa perusahaan yang mengembangkan teknologi turbin lepas pantai


adalah: Blue Energy dari Kanada, Swan Turbines (ST) dari Inggris, dan Marine Current
Turbines (MCT) dari Inggris. Gambar hasil rekaan tiga dimensi dari ketiga jenis turbin
tersebut ditampilkan dalam Gambar 6.

5
Gambar 6. Bermacam-macam jenis turbin lepas pantai yang digerakkan oleh arus
pasang surut.
Gambar sebelah kiri (1): Seagen Tidal Turbines buatan MCT.
Gambar tengah (2): Tidal Stream Turbines buatan Swan Turbines.
Gambar kanan atas (3): Davis Hydro Turbines dari Blue Energy.
Gambar kanan bawah (4): skema komponen Davis Hydro Turbines milik Blue Energy.

Teknologi MCT bekerja seperti pembangkit listrik tenaga angin yang


dibenamkan di bawah laut. Dua buah baling dengan diameter 15-20 meter memutar
rotor yang menggerakkan generator yang terhubung kepada sebuah kotak gir
(gearbox). Kedua baling tersebut dipasangkan pada sebuah sayap yang membentang
horizontal dari sebuah batang silinder yang diborkan ke dasar laut. Turbin tersebut
akan mampu menghasilkan 750-1500 kW per unitnya, dan dapat disusun dalam
barisan-barisan sehingga menjadi ladang pembangkit listrik. Demi menjaga agar ikan
dan makhluk lainnya tidak terluka oleh alat ini, kecepatan rotor diatur antara 10-20
rpm (sebagai perbandingan saja, kecepatan baling-baling kapal laut bisa berkisar
hingga sepuluh kalinya).

Dibandingkan dengan MCT dan jenis turbin lainnya, desain Swan Turbines
memiliki beberapa perbedaan, yaitu: baling-balingnya langsung terhubung dengan
generator listrik tanpa melalui kotak gir. Ini lebih efisien dan mengurangi
kemungkinan terjadinya kesalahan teknis pada alat. Perbedaan kedua yaitu,
daripada melakukan pemboran turbin ke dasar laut ST menggunakan pemberat
secara gravitasi (berupa balok beton) untuk menahan turbin tetap di dasar laut.

Adapun satu-satunya perbedaan mencolok dari Davis Hydro Turbines milik Blue
Energy adalah poros baling-balingnya yang vertikal (vertical-axis turbines). Turbin ini
juga dipasangkan di dasar laut menggunakan beton dan dapat disusun dalam satu
baris bertumpuk membentuk pagar pasang surut (tidal fence) untuk mencukupi
kebutuhan listrik dalam skala besar.

Berikut ini disajikan secara ringkas kelebihan dan kekurangan dari pembangkit
listrik tenaga pasang surut:

Kelebihan:
• Setelah dibangun, energi pasang surut dapat diperoleh secara gratis.
• Tidak menghasilkan gas rumah kaca ataupun limbah lainnya.
• Tidak membutuhkan bahan bakar.

6
• Biaya operasi rendah.
• Produksi listrik stabil.
• Pasang surut air laut dapat diprediksi.
• Turbin lepas pantai memiliki biaya instalasi rendah dan tidak menimbulkan
dampak lingkungan yang besar.

Kekurangan:
• Sebuah dam yang menutupi muara sungai memiliki biaya pembangunan yang
sangat mahal, dan meliputi area yang sangat luas sehingga merubah ekosistem
lingkungan baik ke arah hulu maupun hilir hingga berkilo-kilometer.
• Hanya dapat mensuplai energi kurang lebih 10 jam setiap harinya, ketika
ombak bergerak masuk ataupun keluar.

Energi Panas Laut

Ide pemanfaatan energi dari laut yang terakhir bersumber dari adanya
perbedaan temperatur di dalam laut. Jika anda pernah berenang di laut dan
menyelam ke bawah permukaannya, anda tentu menyadari bahwa semakin dalam di
bawah permukaan, airnya akan semakin dingin. Temperatur di permukaan laut lebih
hangat karena panas dari sinar matahari diserap sebagian oleh permukaan laut. Tapi
di bawah permukaan, temperatur akan turun dengan cukup drastis. Inilah sebabnya
mengapa penyelam menggunakan pakaian khusus selam ketika menyelam jauh ke
dasar laut. Pakaian khusus tersebut dapat menangkap panas tubuh sehingga menjaga
mereka tetap hangat.

Pembangkit listrik dapat memanfaatkan perbedaan temperatur tersebut untuk


menghasilkan energi. Pemanfaatan sumber energi jenis ini disebut dengan konversi
energi panas laut (Ocean Themal Energy Conversion atau OTEC). Perbedaan
temperatur antara permukaan yang hangat dengan air laut dalam yang dingin
dibutuhkan minimal sebesar 77 derajat Fahrenheit (25 °C) agar dapat dimanfaatkan
untuk membangkitkan listrik dengan baik. Adapun proyek-proyek demonstrasi dari
OTEC sudah terdapat di Jepang, India, dan Hawaii.

Gambar 7. Ocean
Thermal Energy
Conversion dengan
Siklus Tertutup

Berdasarkan siklus yang digunakan, OTEC dapat dibedakan menjadi tiga


macam: siklus tertutup, siklus terbuka, dan siklus gabungan (hybrid). Pada alat OTEC
dengan siklus tertutup, air laut permukaan yang hangat dimasukkan ke dalam alat

7
penukar panas untuk menguapkan fluida yang mudah menguap seperti misalnya
amonia. Uap amonia akan memutar turbin yang menggerakkan generator. Uap
amonia keluaran turbin selanjutnya dikondensasi dengan air laut yang lebih dingin
dan dikembalikan untuk diuapkan kembali (Lihat gambar 7).
Pada siklus terbuka, air laut permukaan yang hangat langsung diuapkan pada
ruang khusus bertekanan rendah. Kukus yang dihasilkan digunakan sebagai fluida
penggerak turbin bertekanan rendah. Kukus keluaran turbin selanjutnya dikondensasi
dengan air laut yang lebih dingin dan sebagai hasilnya diperoleh air desalinasi. Pada
siklus gabungan, air laut yang hangat masuk ke dalam ruang vakum untuk diuapkan
dalam sekejap (flash-evaporated) menjadi kukus (seperti siklus terbuka). Kukus
tersebut kemudian menguapkan fluida kerja yang memutar turbin (seperti siklus
tertutup). Selanjutnya kukus kembali dikondensasi menjadi air desalinasi.

Fluida kerja yang populer digunakan adalah amonia karena tersedia dalam
jumlah besar, murah, dan mudah ditransportasikan. Namun, amonia beracun dan
mudah terbakar. Senyawa seperti CFC dan HCFC juga merupakan pilihan yang baik,
sayangnya menimbulkan efek penipisan lapisan ozon. Hidrokarbon juga dapat
digunakan, akan tetapi menjadi tidak ekonomis karena menjadikan OTEC sulit
bersaing dengan pemanfaatan hidrokarbon secara langsung. Selain itu, yang juga
perlu diperhatikan adalah ukuran pembangkit listrik OTEC bergantung pada tekanan
uap dari fluida kerja yang digunakan. Semakin tinggi tekanan uapnya maka semakin
kecil ukuran turbin dan alat penukar panas yang dibutuhkan, sementara ukuran tebal
pipa dan alat penukar panas bertambah untuk menahan tingginya tekanan terutama
pada bagian evaporator.

Secara ringkas, kekurangan dan kelebihan dari OTEC yaitu:

Kelebihan:
• Tidak menghasilkan gas rumah kaca ataupun limbah lainnya.
• Tidak membutuhkan bahan bakar.
• Biaya operasi rendah.
• Produksi listrik stabil.
• Dapat dikombinasikan dengan fungsi lainnya: menghasilkan air pendingin,
produksi air minum, suplai air untuk aquaculture, ekstraksi mineral, dan
produksi hidrogen secara elektrolisis.

Kekurangan:
• Belum ada analisa mengenai dampaknya terhadap lingkungan.
• Jika menggunakan amonia sebagai bahan yang diuapkan menimbulkan potensi
bahaya kebocoran.
• Efisiensi total masih rendah sekitar 1%-3%.
• Biaya pembangunan tidak murah.