Anda di halaman 1dari 30

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sejak dua puluh tahun terakhir Gangguan Pemusatan Perhatian ini sering disebut sebagai

ADHD (Attention Deficit Hyperactive Disorders). Gangguan ini ditandai dengan adanya

ketidakmampuan anak untuk memusatkan perhatiannya pada sesuatu yang dihadapi, sehingga

rentang perhatiannya sangat singkat waktunya dibandingkan anak lain yang seusia.

Pada awal tahun 1900, anak yang impulsif, hiperaktif dan tidak dapat memusatkan perhatian

karena adanya kerusakan neurologis yang disebabkan oleh ensefalitis digolongkan ke dalam

Sindrom Hiperaktivitas. Kemudian pada tahun 1960-an, kelompok anak yang mempunyai

koordinasi buruk, kesulitan belajar dan emosi yang labil tetapi tidak mempunyai kerusakan

neurologis yang spesifik, digambarkan mempunyai kerusakan otak yang minimal (Minimal

Brain Damage).

Bermacam-macam istilah yang menggambarkan adanya gejala-gejala seperti: overaktif yang

abnormal, kegelisahan, lari dan memanjat berlebihan, serta banyak bicara antara lain

Hyperkinetic Syndrome, Hyperactive, Minimal Brain Dysfunction, Minimal Cerebral

Dysfunction, Perceptual Deficit, Psychoneurologic Integration Deficit, Hyperactive Impulse

Disorder, dan Hyperactive Child Syndrome.

Kondisi ini akan berdampak pada berbagai aspek kehidupan psikososial anak seperti

dampaknya pada prestasi anak di sekolah, sosialisasi yang terganggu, juga dapat menimbulkan

masalah pada perkembangan emosinya. Ini menyebabkan anak tidak dapat mencapai hasil yang

1
optimal sesuai dengan kemampuannya ataupun mengalami kesulitan belajar yang serius karena

kemampuannya ataupun karena sulit untuk dapat berkonsentrasi dalam belajar. Akibat

selanjutnya anak akan mendapat cap/label sebagai anak yang nakal, bodoh dan selalu menjadi

penyebab keributan di kelas. Tentunya keadaan ini sama sekali tidak menguntungkan untuk

perkembangan anak selanjutnya. Bila tidak segera mendapat pertolongan yang adekuat dan

sedini mungkin, anak akan semakin sulit keluar dari gangguan ini. Anak dapat tidak naik kelas,

dan kemungkinan untuk drop out dari sekolah cukup besar dan berbagai permasalahan dapat

muncul.

Angka kejadian kelainan ini adalah sekitar 3 – 10%, di Amerika serikat sekitar 3-7%

sedangkan di negara Jerman, Kanada dan Selandia Baru sekitar 5-10%. Diagnosis and Statistic

Manual (DSM IV) menyebutkan prevalensi kejadian ADHD pada anak usia sekolah berkisar

antara 3 hingga 5 persen. Di indonesia angka kejadiannya masih belum angka yang pasti,

meskipun tampaknya kelainan ini tampak cukup banyak terjadi. Terkadang seorang anak hanya

dianggap 'nakal' atau 'bandel' dan 'bodoh', sehingga seringkali tidak ditangani secara benar,

seperti dengan kekerasan yang dilakukan oleh orang tua dan guru akibat dari kurangnya

pengertian dan pemahaman tentang ADHD. Secara epidemiologis rasio kejadian dengan

perbandingan 4:1. Namun tampaknya semakin lama tampaknya kejadiannya semakin meningkat.

Sering dijumpai pada anak usia pra sekolah dan usia sekolah, terdapat kecenderungan keluhan

ini akan berkurang setelah usia Sekolah Dasar. Meskipun tak jarang beberapa manifestasi klinis

tersebut dijumpai pada remaja atau orang dewasa. ADHD adalah gangguan perkembangan yang

mempunyai onset gejala sebelum usia 7 tahun. Setelah usia anak, akan menetap saat remaja atau

dewasa. Diperkirakan penderita ADHD akan menetap sekitar 15-20% saat dewasa. Sekitar 65%

akan mengalami gejala sisa saat usia dewasa atau kadang secara perlahan menghilang. Angka

2
kejadian ADHD saat usia dewasa sekitar 2-7%. Predisposisi kelainan ini adalah 25 persen pada

keluarga dengan orang tua yang membakat.

Dari laporan kasus yang datang di poliklinik Jiwa Anak dan Remaja RSUPN Cipto

Mangunkusumo Jakarta, selama satu tahun (1 Juli 1995-1 Juli 1996), terdapat 11% kasus anak

dengan gejala hiperaktivitas. Dari Amerika Serikat dilaporkan insidens GPPH sebesar 2-20%

pada murid sekolah dasar.

Ekowarni (2003) menyebutkan data dari unit Psikiatri Anak (day care) RSUD Dr. Soetomo

Surabaya menunjukkan adanya peningkatan (sebesar 3.33%) jumlah pasien anak ADHD dengan

berbagai karakteristik dari tahun 2000 ke tahun 2001, yakni dari 60 anak menjadi 86 anak.

Mengingat jumlah kasus yang cukup besar dari ADHD ini serta kompleksnya akibat yang

ditimbulkannya, diperlukan penanganan yang tepat dan sedini mungkin serta pendekatan yang

menyeluruh dan komprehensive. Dengan tujuan awal dalam penanganan ADHD pada anak

adalah untuk menghilangkan atau mengurangi gejala-gejala yang ada, karena ini yang

merupakan hambatan bagi anak untuk dapat belajar dengan baik serta bersosialisasi. Untuk ini

diperlukan kerjasama yang baik, tidak hanya dari tenaga medis khusus (psikiatri anak, saraf

anak, mata, THT), juga dari dokter umum, pendidik, psikolog, maupun pekerja social serta orang

tua. Untuk itu di perlukan pengetahuan yang cukup luas mengenai ADHD.

Diharapkan dengan penyebarluasan pengetahuan tentang ADHD akan dapat membantu

anak-anak dengan ADHD agar mereka dapat tumbuh dan berkembang seperti anak-anak

sebayanya yang lain.

3
B. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas dapat dirumuskan permasalahan sebagai

berikut:

1. Apakah ada hubungan usia anak dengan ADHD pada siswa-siswi SDN

Malaka Sari 01 Pagi?

2. Apakah ada hubungan jenis kelamin dengan ADHD pada siswa-siswi

SDN Malaka Sari 01 Pagi?

3. Apakah ada hubungan faktor genetik dengan ADHD pada siswa-siswi

SDN Malaka Sari 01 Pagi?

4. Apakah ada hubungan faktor psikososial dengan ADHD pada siswa-siswi

SDN Malaka Sari 01 Pagi?

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui karakteristik anak dengan ADHD

2. Tujuan Khusus

Untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan terjadinya ADHD pada siswa-

siswi SDN Malaka Sari 01 Pagi

D. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian di harapkan berguna untuk :

1. Diri sendiri

Untuk menambah wawasan tentang ilmu kedokteran, khususnya tentang ADHD pada

anak dan juga untuk mengaplikasikan ilmu pengetahuan yang telah didapat khususnya

ilmu CRP (Community Research Programe).

4
2. Orang Tua dan Para Guru Siswa-Siswi SDN 01 Pagi Malaka Sari

Memberikan gambaran mengenai karakteristik dan menjelaskan faktor-faktor yang

berhubungan dengan terjadinya ADHD sehingga diharapkan dapat terjalin kerjasama

dengan pemerintah atau pihak terkait lainnya dalam upaya menangani ADHD pada anak

khususnya di SDN 01 Pagi Malaka Sari.

3. Pemerintah dan praktisi kesehatan

Sumber informasi bagi praktisi kesehatan dan pemerintah agar lebih memperhatikan

masalah kesehatan pada anak-anak, khususnya mengenai ADHD sehingga dapat

direncanakan strategi-strategi sebagai upaya penanganan ADHD pada anak.

4. Masyarakat umum

Sebagai sumber informasi dan ilmu pengetahuan sehingga diharapkan masyarakat bisa

mengetahui tentang ADHD pada anak.

5. Masyarakat ilmiah

Sebagai data dasar bagi penelitian selanjutnya.

BAB II
5
LANDASAN TEORITIS

A. TINJAUAN PUSTAKA

1. ADHD

a. Definisi

Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) dalam DSM-IV (Diagnostic and

Statistical Manual of Mental Disorder IV) atau Gangguan Hiperkinetik dalam PPDGJ-III

(Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa III) adalah suatu diagnosis untuk pola

perilaku anak yang berlangsung dalam jangka waktu paling sedikit 6 bulan, dimulai sejak berusia

kurang dari 7 tahun, yang menunjukkan sejumlah gejala ketidakmampuan untuk memusatkan

perhatian atau sejumlah gejala perilaku hiperaktif-impulsif, atau kedua-duanya.

b. Epidemiologi

ADHD atau Gangguan Hiperkinatik timbul pada masa perkembangan dini, biasanya pada

umur 5 tahun. Tetapi sulit untuk mendiagnosis pada usia tersebut, sebab ciri kepribadian mereka

masih sangat mudah berubah. Pada kriteria diagnosis DSM-IV, gejala-gejala telah timbul

sebelum usia 7 tahun.

Berdasarkan kriteria diagnosis DSM-IV, prevalensi ADHD 3-10% dari anak usia sekolah.

Menurut jenis kelamin, anak laki-laki lebih sering dari pada anak perempuan. Rasio anak laki-

laki dengan anak perempuan 3:1 sampai 9:1 dari sampel yang diambil dari klinik dan 2:1 sampai

3:1 sampel yang diambel dari bukan klinik.

Kira-kira setengah dari anak-anak dengan ADHD mempunyai gangguan tingkah laku dan

perilaku menentang, 25% gangguan cemas, lebih dari sepertiga menderita depresi, 20-25%

6
menderita gangguan belajar. Anak-anak ADHD pada umumnya datang berobat dengan lebih dari

satu gangguan.

Faktor resiko antara lain adanya riwayat ADHD dalam keluarga, saudara laki-laki

alkoholik atau antisosial, perkawinan atau keluarga yang berselisih, perceraian, disia-siakan dan

kehilangan orang tua, penyiksaan, retardasi mental, gangguan tingkah laku, berta lahir rendah,

anomali fisik ringan, dan berbagai macam kerusakan otak.

c. Etiologi

Etiologi dari ADHD tidak diketahui. Sebagian besar anak dengan ADHD tidak

menunjukkan tanda-tanda cedera struktural yang besar pada sistem saraf pusat. Sebaliknya,

sebagian besar anak dengan gangguan neurologis yang diketahui disebabkan oleh cedera otak

tidak menunjukkan defisit atensi dan hiperaktivitas. Faktor penyumbang yang diajukan untuk

ADHD adalah pemaparan toksin pranatal, prematuritas, dan kerusakan mekanis pranatal pada

sistem saraf janin.

Penyedap makanan, zat pewarna, pengawet, dan gula telah juga diperkirakan sebagai

kemungkinan penyebab untuk perilaku hiperaktif. Tidak ada bukti ilmiah yang menyatakan

bahwa faktor-faktor tersebut menyebabkan gangguan defisit-atensi/hiperaktivitas.

1. Faktor genetik

Bukti-bukti untuk dasar genetik untuk gangguan defisit-atensi/hiperaktivitas (GDAH)

adalah lebih besarnya angka kesesuaian dalam kembar monozigotik dibandingkan kembar

dizigotik. Sanak saudara anak-anak hiperaktif memiliki resiko dua kali menderita gangguan

dibandingkan populasi umum. Salah satu sanak saudara mungkin memiliki gejala hiperaktivitas

yang menonjol dan yang lainnya memiliki inatensi yang menonjol.

7
Gangguan defisit-atensi/hiperaktif lebih sering terjadi pada anak-anak yang orang tuanya

menggunakan alkohol dan memiliki gangguan kepribadian antisosial.

2. Cedera otak

Telah lama diperkirakan bahwa beberapa anak dengan GDAH mendapatkan cedera otak

yang minimal pada sistem saraf pusat selama periode janin dan perinatalnya. Cedera otak

mungkin disebabkan oleh efek sirkulasi, toksik, metabolik, mekanik, dan efek lain yang

merugikan serta stres dan kerusakan fisik pada otak selama masa bayi yang disebabkan oleh

infeksi, peradangan, dan trauma. Cedera otak yang minimal mungkin bertanggung jawab untuk

timbulnya gangguan belajar dan GDAH.

Tomografi komputer (CT) kepala anak-anak dengan GDAH tidak menunjukkan temuan

yang konsisten. Penelitian dengan menggunakan tomografi emisi positron (PET) telah

menemukan penurunan aliran darah serebral dan kecepatan metabolisme di daerah lobus

frontalis anak-anak dengan GDAH dibandingkan dengan kontrol.

3. Faktor neurokimiawi

Banyak neurotransmiter telah dihubungkan dengan gejala defisit atensi dan

hiperaktivitas. Obat yang paling banyak diteliti dalam terapi gangguan defisit-

atensi/hiperaktivitas, stimulan, mempengaruhi dopamin maupun norepinefrin, yang

menghasilkan hipotesis neurotransmiter yang menyatakan kemungkinan disfungsi pada sistem

adrenergik dan dopaminergik. Sebagai contohnya, clonidine (catapres), suatu agonis

norepinefrin, adalah berguna untuk mengobati hiperaktivitas. Obat lain yang menurunkan

hiperaktivitas adalah trisiklik dan inhibitor monoamin oksidase (MAOI). Secara keseluruhan,

tidak ada bukti-bukti yang jelas yang melibatkan satu neurotransmiter tunggal dalam

8
perkembangan gangguan defisit-atensi/hiperaktivitas, tetapi banyak neurotransmiter mungkin

terlibat dalam proses.

4. Faktor neurologis

Otak manusia normalnya menjalani kecepatan pertumbuhan utama pada beberapa usia: 3

sampai 10 bulan, 2 sampai 4 tahun, 6 sampai 8 tahun, 10 sampai 12 tahun, dan 14 sampai 16

tahun. Beberapa anak mengalami maturasi pertumbuhan secara berurutan dan menunjukkan

gejala GDAH yang sementara. Suatu korelasi fisiologis adalah ditemukannya berbagai pola

elektroensefalogram (EEG) abnormal. Pada beberapa kasus temuan EEG menjadi normal dengan

berjalannya waktu.

5. Faktor psikososial

Anak-anak dalam institusi seringkali overaktif dan memiliki rentang atensi yang buruk.

Kejadian fisik yang menimbulkan stres, suatu gangguan keseimbangan keluarga, dan faktor yang

menyebabkan kecemasan berperan dalam awal atau berlanjutnya GDAH. Faktor predisposisi

mungkin termasuk temperamen anak, faktor genetik-familial, dan tuntutan sosial untuk

mematuhi cara berkelakuan dan bertindak yang rutin. Status sosioekonomi tampaknya bukan

merupakan faktor predisposisi.

d. Diagnosis

Tanda utama hiperaktivitas harus menyadarkan klinisi tentang kemungkinan GDAH.

Riwayat pranatal yang terinci tentang pola perkembangan anak dan pengamatan langsung

biasanya menemukan aktivitas motorik yang berlebihan. Hiperaktivitas mungkin ditemukan pada

beberapa situasi (sebagai contohnya, sekolah) tetapi tidak dalam situasi lainnya (contohnya,

wawancara berhadapan dan menonton televisi), dan mungkin tidak jelas pada situasi tidak

9
terstruktur. Tetapi, hiperaktivitas tidak merupakan manifestasi perilaku yang tersendiri, singkat,

dan transient di bawah stres tetapi ditemukan selama waktu yang lama.

Menurut DSM-IV, gejala harus ditemukan pada sekurangnya dua keadaan (sebagai

contohnya, sekolah, rumah) untuk memenuhi kriteria diagnostik untuk gangguan defisit-

atensi/hiperaktivitas (Tabel 39-1)

Ciri pembeda lain dari GDAH adalah rentang perhatian yang pendek. Di sekolah, anak-

anak dengan GDAH tidak dapat mengikuti instruksi dan sering menuntut perhatian ekstra dari

gurunya. Di rumah, mereka seringkali tidak mematuhi permintaan orang tua. Mereka

berkelakuan secara impulsif, menunjukkan labilitas emosional, dan eksplosif dan iritabel.

Gangguan yang ditemukan mengenai hal membaca, aritmatika, dan koordinasi. Riwayat

penyakit anak dan genetik memberikan petunjuk kepada faktor pranatal, natal, dan pascanatal

yang mungkin telah mempengaruhi sistem saraf pusat. Kecepatan perkembangan, penyimpangan

perkembangan, dan reaksi parental terhadap transisi perilaku yang bermakna dapat membantu

klinisi menentukan derajt dimana orang tua telah berperan terhadap inefisiensi atau disfungsi

anak.

Riwayat di sekolah dan laporan guru adalah penting dalam menilai apakah kesulitan anak

dalam belajar dan perilaku sekolah terutama disebabkan oleh masalah perilaku atau

maturasionalnya atau karena citra diri mereka yang buruk karena merasa tidak berdaya. Laporan

tersebut mengungkapkan bagaimna anak telah menangani masalah tersebut, bagaimana mereka

berhubungan dengan sanak saudara, dengan teman sebaya, dan dengan aktivitas yang bebas dan

terstruktur memberikan petunjuk diagnostik yang berguna mengenai adanya GDAH.

10
Tabel 39-1

Kriteria Diagnostik untuk Gangguan Defisit-Atensi/Hiperaktivitas


A. Salah satu (1) atau (2)

(1) Inatensi: enam (atau lebih) gejala inatensi berikut ini telah menetap selama

sekurangnya enam bulan sampai tingkat yang maladaptif dan tidak konsisten

dengan tingkat perkembangan:

a. Sering gagal memberikan perhatian terhadap

perincian atau melakukan kesalahan yang tidak berhati-hati dalam tugas

sekolah, pekerjaan, atau aktivitas lain.

b. Sering mengalami kesulitan dalam mempertahankan

atensi terhadap tugas atau aktivitas permainan.

c. Sering tidak tampak mendengarkan jika berbicara

langsung.

d. Sering tidak mengikuti instruksi dan gagal

menyesalkan tugas sekolah, pekerjaan, atau kewajiban di tempat kerja

(bukan karena perilaku oposisional atau tidak dapat mengerti instruksi).

e. Sering mengalami kesulitan dalam menyusun tugas

dan aktivitas.

f. Sering menghindari, membenci, atau enggan untuk

terlibat dalam tugas yang memerlukan usaha mental yang lama (seperti

tugas sekolah atau pekerjaan rumah).

g. Sering menghindari hal-hal yang perlu untuk tugas

atau aktivitas (misalnya, tugas sekolah, pensil, buku, atau peralatan).

h. Sering mudah dialihkan perhatiannya oleh stimuli


11
luar.

i. Sering lupa dalam aktivitas sehari-hari.

(2) Hiperaktivitas-impulsivitas: Enam (atau lebih) gejala hiperaktivitas-impulsivitas

berikut ini telah menetap selama sekurangnya enam bulan sampai tingkat yang

maladaptive dan tidak konsisten dengan tingkat perkembangan:

Hiperaktivitas

a. Sering gelisah dengan tangan dan

kaki atau menggelia-geliat di tempat duduk.

b. Sering meninggalkan tempat

duduk di kelas atau dalam situasi lain di mana diharapkan tetap duduk.

c. Sering berlari-lari atau memanjat

secra berlebihan dalam situasi yang tidak tepat (pada remaja atau dewasa,

mungkin terbatas pada perasaan subjektif kegelisahan).

d. Sering mengalami kesulitan

beriman atau terlibat dalam aktivitas waktu luang secara tenang.

e. Sering “siap-siap pergi” atau

bertindak seakan-akan “didorong oleh sebuah motor”.

f. Sering bicara berlebihan.

Impulsivitas

g. Sering menjawab tanpa pikir

terhadap pertanyaan sebelum pertanyaan selesai

h. Sering sulit menunggu gilirannya

i. Sering memutus atau

12
mengganggu orang lain (misalnya, memotong masuk ke percakapan atau

permainan).

B. Beberapa gejala hiperaktif-impulsif atau inatentif yang menyebabkan gangguan

telah ada sebelum usia 7 tahun.

C. Beberapa gangguan akibat gejala ada selama dua atau lebih situasi (misalnya, di

sekolah (atau pekerjaan) dan di rumah).

D. Harus terdapat bukti jelas adanya gangguan yang bermakna secara klinis dalam

fungsi sosial, akademik, atau fungsi pekerjaan.

E. Gejala tidak terjadi semata-mata selama perjalanan gangguan perkembangan

pervasive, skizofrenia, atau gangguan psikotik lain, dan tidak diterangkanlebih

baik oleh gangguan mental lain (misalnya, gangguan mood, gangguan kecemasan,

gangguan disosiatif, atau gangguan kepribadian).

Penulisan didasarkan pada tipe:

Gangguan defisit-atensi/hiperaktivitas, tipe kombinasi: jika memenuhi baik kriteria A1

dan A2 selama enam bulan terakhir.

Gangguan defisit-atensi/hiperaktivitas, predominan tipe inatentif: jika memenuhi kriteria

A1 tetapi tidak memenuhi kriteria A2 selama 6 bulan terakhir.

Gangguan defisit-atensi/hiperaktivitas, predominan tipe hiperaktif-impulsif: jika

memenuhi kriteria A2 tetapi tidak memenuhi kriteria A1 selama 6 bulan terakhir.

Catatan penulisan: Untuk individu (terutama remaja dan dewasa) yang sekarang

memiliki gejala yang tidak lagi memenuhi criteria lengkap, harus dituliskkan “dalam

remisi parsial”.
Tabel dan DSM-IV, Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, ed 4. Hak cipta

American Pschiatric Association, Washington, 1994.


13
e. Gambaran klinis

Untuk dapat disebut memiliki gangguan ADHD, harus ada tiga gejala utama yang

nampak dalam perilaku seorang anak, yaitu inatensi, hiperaktif, dan impulsif.

Inatensi atau pemusatan perhatian yang kurang dapat dilihat dari kegagalan seorang anak

dalam memberikan perhatian secara utuh terhadap sesuatu. Anak tidak mampu mempertahankan

konsentrasinya terhadap sesuatu, sehingga mudah sekali beralih perhatian dari satu hal ke hal

yang lain.

Gejala hiperaktif dapat dilihat dari perilaku anak yang tidak bisa diam. Duduk dengan

tenang merupakan sesuatu yang sulit dilakukan. Ia akan bangkit dan berlari-lari, berjalan ke sana

kemari, bahkan memanjat-manjat. Di samping itu, ia cenderung banyak bicara dan menimbulkan

suara berisik.

Gejala impulsif ditandai dengan kesulitan anak untuk menunda respon. Ada semacam

dorongan untuk mengatakan atau melakukan sesuatu yang tidak terkendali. Dorongan tersebut

mendesak untuk diekspresikan dengan segera dan tanpa pertimbangan. Contoh nyata dari gejala

impulsif adalah perilaku tidak sabar. Anak tidak akan sabar untuk menunggu orang

menyelesaikan pembicaraan. Anak akan menyela pembicaraan atau buru-buru menjawab

sebelum pertanyaan selesai diajukan. Anak juga tidak bisa untuk menunggu giliran, seperti antri

misalnya. Sisi lain dari impulsivitas adalah anak berpotensi tinggi untuk melakukan aktivitas

yang membahayakan, baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain.

Gangguan di atas sudah menetap minimal 6 bulan, dan terjadi sebelum anak berusia 7

tahun. Gejala-gejala tersebut muncul setidaknya dalam 2 situasi, misalnya di rumah dan di

sekolah.

14
Manifestasi klinis yang terjadi sangat luas, mulai dari yang ringan hingga berat atau bisa

terjadi dengan jumlah gejala minimal hingga lebih banyak gejala. Tampilan klinis ADHD

tampaknuya sudah bisa dideteksi sejak dini Sejas usia bayi. Gejala yang harus lebih dicermati

pada usia bayi adalah bayi yang sangat sensitive terhadap suara dan cahaya, menangis, menjerit,

sulit untuk diam, waktu tidur sangat kurang dan sering terbangun, kolik, sulit makan atau minum

susu baik ASI atau susu botol., tidak bisa ditenangkan atau digendong, menolak untuk disayang,

berlebihan air liur, kadang seperti kehausan sering minta minum, Head banging (membenturkan

kepala, memukul kepala, menjatuhkan kepala kebelakang) dan sering marah berlebihan.

Keluhan lain pada anak besar adalah anak tampak Clumsy (canggung), impulsif, sering

mengalami kecelakaan atau jatuh, perilaku aneh/berubah-ubah yang mengganggu, gerakan

konstan atau monoton, lebih ribut dibandingkan anak lainnya. Agresif, Intelektual (IQ) normal

atau tinggi tapi pretasi di sekolah buruk, Bila di sekolah kurang konsentrasi, aktifitas berlebihan

dan tidak bisa diam, mudah marah dan meledak kemarahannya, nafsu makan buruk. Koordinasi

mata dan tangan jelek., sulit bekerjasama, suka menentang dan tidak menurut, suka menyakiti

diri sendiri (menarik rambut, menyakiti kulit, membentur kepala dll) dan gangguan tidur.

Tanda dan gejala pada anak yang lebih besar adalah tindakan yang hanya terfokus pada

satu hal saja dan cenderung bertindak ceroboh, mudah bingung, lupa pelajaran sekolah dan tugas

di rumah, kesulitan mengerjakan tugas di sekolah maupun di rumah, kesulitan dalam menyimak,

kesulitan dalam menjalankan beberapa perintah, sering keceplosan bicara, tidak sabaran, gaduh

dan bicara berbelit-belit, gelisah dan bertindak berlebihan, terburu-buru, banyak omong dan suka

membuat keributan, dan suka memotong pembicaraan dan ikut campur pembicaraan orang lain

Sekitar 50-60% penderita ADHD didapatkan sedkitnya satu gangguan perilaku penyerta

lainnya. Gangguan perilaku tersebut adalah gangguan belajar, restless-legs syndrome,

15
ophthalmic convergence insufficiency, depresi, gangguan kecemasan, kepribadian antisosial,

substance abuse, gangguan konduksi dan perilaku obsesif-kompulsif.

Penderita ADHD terjadi disorganisasi afektif, penurunan kontrol diri dan aktifitas yang

berlebihan secara nyata. Mereka biasanya bertindak 'nekat' dan impulsif, kurang sopan, dan

suka menyela pembicaraan serta mencampuri urusan orang lain. Sering kurang memperhatikan,

tidak mampu berkonsentrasi dan sering tidak tuntas dalam mengerjakan sesuatu serta berusaha

menghindari pekerjaan yang membutuhkan daya konsentrasi tinggi, tidak menghiraukan mainan

atau sesuatu miliknya, mudah marah, sulit bergaul dan sering tidak disukai teman sebayanya.

Tidak jarang mereka dengan kelainan ini disertai adanya gangguan pertumbuhan dan

perkembangan, tetapi tidak didapatkan kelainan otak yang spesifik. Pada umumnya prestasi

akademik mereka tergolong rendah dan minder. Mereka sering menunjukkan tidakan anti sosial

dengan berbagai alasan sehingga orangtua, guru dan lingkungannya memperlakukan dengan

tidak tepat dan tidak menyelesaikan masalah.

f. Diagnosis Banding

- Tingkat aktivitas yang tinggi dan rentang perhatian yang pendek tapi dalam rentang yang

normal

-Kecemasan

-Depresi

-Mania

-Gangguan tingkah laku

-Gangguan belajar

16
g. Perjalanan & Prognosis

- Gejala-gejala menetap sampai masa remaja di kehidupan dewasa pada 50% kasus dan

50% sisanya mengalami remisi saat pubertas pada masa dewasa awal.

h. Terapi

Terapi medikasi atau farmakologi adalah penanganan dengan menggunakan obat-obatan.

Terapi ini hendaknya hanya sebagai penunjang dan sebagai kontrol terhadap kemungkinan

timbulnya impuls-impuls hiperaktif yang tidak terkendali. Sebelum digunakannya obat-obat ini,

diagnosa ADHD haruslah ditegakkan lebih dulu dan pendekatan terapi okupasi lainnya secara

simultan juga harus dilaksanakan, sebab bila hanya mengandalkan obat ini tidak akan efektif.

Menurut beberapa penelitian dan pengalaman klinis banyak obat yang telah diberikan

pada penderita ADHD, diantaranya adalah: antidepresan, Ritalin (Methylphenidate HCL),

Dexedrine (Dextroamphetamine saccharate/Dextroamphetamine sulfate), Desoxyn

(Methamphetamine HCL), Adderall (Amphetamine/Dextroamphetamine), Cylert (Pemoline),

Busiprone (BuSpar), Clonidine (Catapres).

Methylphenidate, merupakan obat yang paling sering dipergunakan, meskipun

sebenarnya obat ini termasuk golongan stimulan, tetapi pada kasus hiperaktif sering kali justru

menyebabkan ketenangan bagi pemakaiannya. Selain methylphenidate juga dipakai Ritalin

dalam bentuk tablet, memilki efek terapi yang cepat, setidaknya untuk 3-4 jam dan diberikan 2

atau 3 kali dalam sehari. Methylphenidate juga tersedia dalam bentuk dosis tunggal.

Dextroamphetamine merupakan obat lain yang dipergunakan.

Ritalin atau methylphenidate, obat stimulan yang biasa diberikan pada anak penyandang

ADHD ternyata dapat menyebabkan perubahan struktur sel otak untuk jangka waktu lama,

ilmuwan melaporkan. Joan Baizer profesor fisiologi dan biofisika dari University of Buffalo

17
mengungkapkan pemberian Ritalin setiap hari selama bertahun tahun pada sel otak tikus terlihat

sama seperti yang diakibatkan oleh amphetamin atau kokain. Para ilmuwan tersebut melakukan

penelitian pada tikus yang diberikan susu dicampur dengan Ritalin dengan dosis yang sama

diberikan pada anak anak. Para ilmuwan mendapatkan gen c-fos menjadi aktif setelah diberikan

Ritalin. Hal yang sama terjadi pada tikus yang diberikan amphetamin dan kokain.

Ketika dosis Ritalin yang diberikan selesai bekerja dalam tubuh, dianggap Ritalin dapat

hilang dengan sendirinya. Tetapi dalam sebuah penelitian dengan menggunakan model ekspresi

gen pada binatang menunjukkan Ritalin punya potensi menyebabkan perubahan pada struktur

dan fungsi otak untuk jangka waktu yang lama. Ritalin tidak bersifat adiktif atau dapat

menyebabkan ketagihan jika pemberian dosis digunakan secara benar. Efek dari pemberian dosis

tinggi amphetamin dan kokain yang mirip ritalin tersebut telah mengaktifkan salah satu gen yang

disebut gen c-fos dalam sel otak. Jika c-fos aktif pada bagian tertentu otak maka gen tersebut

diketahui berhubungan dengan gejala adiktif. Perubahan pada sel otak untuk jangka waktu lama

pada manusia perlu penelitian lebih lanjut. Mungkin menggunakan sejenis gen mikrochip untuk

mengetahui gen gen mana saja yang menjadi aktif jika diberikan Ritalin. Bila dengan

penggunaan obat tunggal dibilai kurang efektif perlu dipertimbangkan pemberian obat secara

kombinasi. Bila penatalaksanaan terhadap penderita ADHD mengalami kegagalan (tidak

menunjukkan progresifitas), harus segera dilakukan reevaluasi tentang penegakan diagnosis,

perencanaan terapi dan berbagai kondisi yang berpengaruh.

Terapi nutrisi dan diet banyak dilakukan dalam penanganan penderita. Diantaranya

adalah keseimbangan diet karbohidrat, penanganan gangguan pencernaan (Intestinal

Permeability or "Leaky Gut Syndrome"), penanganan alergi makanan atau reaksi simpang

makanan lainnya. Feingold Diet dapat dipakai sebagai terapi alternatif yang dilaporkan cukup

18
efektif. Suatu substansi asam amino (protein), L-Tyrosine, telah diuji-cobakan dengan hasil

yang cukup memuaskan pada beberapa kasus, karena kemampuan L-Tyrosine mampu mensitesa

(memproduksi) norepinephrin (neurotransmitter) yang juga dapat ditingkatkan produksinya

dengan menggunakan golongan amphetamine.

Beberapa terapi biomedis dilakukan dengan pemberian suplemen nutrisi, defisiensi

mineral, essential Fatty Acids, gangguan metabolisme asam amino dan toksisitas Logam berat.

Terapi inovatif yang pernah diberikan terhadap penderita ADHD adalah terapi EEG Biofeed

back, terapi herbal, pengobatan homeopatik dan pengobatan tradisional Cina seperti akupuntur.

Terapi yang diterapkan terhadap penderita ADHD haruslah bersifat holistik dan

menyeluruh. Penanganan ini harus melibatkan multi disiplin ilmu yang dikoordinasikan antara

dokter, orangtua, guru dan lingkungan yang berpengaruh terhadap penderita. Untuk mengatasi

gejala gangguan perkembangan dan perilaku pada penderita ADHD yang sudah ada dapat

dilakukan dengan terapi okupasi. Ada beberapa terapi okupasi untuk memperbaiki gangguan

perkembangan dan perilaku pada anak yang mulai dikenalkan oleh beberapa ahli perkembangan

dan perilaku anak di dunia, diantaranya adalah sensory Integration (AYRES), snoezelen,

neurodevelopment Treatment (BOBATH), modifukasi Perilaku, terapi bermain dan terapi

okupasi lainnya.

Kebutuhan dasar anak dengan gangguan perkembangan adalah sensori. Pada anak dengan

gangguan perkembangan sensorinya mengalami gangguan dan tidak terintegrasi sensorinya.

Sehingga pada anak dengan gangguan perkembangan perlu mendapatkan pengintegrasian sensori

tersebut. Dengan terapi sensori integration.

Sensori integration adalah pengorganisasian informasi melalui beberapa jenis sensori di

anataranya adalah sentuhan, gerakan, kesadaran tubuh dan grafitasi, penglihatan, pendengaran,

19
pengecapan, dan penciuman yang sangat berguna untuk menghasilkan respon yang bermakna.

Beberapa jenis terapi sensori integration adalah memberikan stimulus vestibular, propioseptif

dan taktil input. Menurunkan tactile defensivenes dan meningkatkan tactile discrimanation.

Meningkatkan body awareness berhubungan dengan propioseptik dan kinestetik. Selain sensory

integration terapi sensori lain yang dikenbal dalam terapi gangguan perkembangan dan perilaku

adalah Snoezelen. Snoezelen adalah sebuah aktifitas yang dirancang mempengaruhi system

Susunan Saraf pusat melalui pemberian stimuli yang cukup pada system sensori primer seperti

penglihatan, pendengaran, peraba, perasa lidah dan pembau. Disamping itu juga melibatkan

sensori internal seperti vestibular dan propioseptof untuk mencapai relaksasi atau aktivasi

seseorang untuk memperbaiki kualitas hidupnya

Neurodevelopment treatment (NDT) atau Bobath adalah terapi sensorimotor dalam

menangani gangguan sensoris motor. Terapi NDT dipakai bertujuan untuk meningkatkan

kualitas motorik penderita. Tehnik dalam terapi ini adalah untuk memfokuskan pada fungsi

motorik utama dan kegiatan secara langsung.

Terapi modifikasi perilaku harus melalui pendekatan perilaku secara langsung, dengan

lebih memfokuskan pada perunahan secara spesifik. Pendekatan ini cukup berhasil dalam

mengajarkan perilaku yang diinginkan, berupa interaksi sosial, bahasa dan perawatan diri sendiri.

Selain itu juga akan mengurangi perilaku yang tidak diinginkan, seperti agrsif, emosi labil, self

injury dan sebagainya. Modifikasi perilaku, merupakan pola penanganan yang paling efektif

dengan pendekatan positif dan dapat menghindarkan anak dari perasaan frustrasi, marah, dan

berkecil hati menjadi suatu perasaan yang penuh percaya diri.

Terapi bermain sangat penting untuk mengembangkan ketrampilan, kemampuan gerak,

minat dan terbiasa dalam suasana kompetitif dan kooperatif dalam melakukan kegiatan

20
kelompok. Bermain juga dapat dipakai untuk sarana persiapan untuk beraktifitas dan bekerja saat

usia dewasa. Terapi bermain digunakan sebagai sarana pengobatan atau terapitik dimana sarana

tersebut dipakai untuk mencapai aktifitas baru dan ketrampilan sesuai dengan kebutuhan terapi.

Dengan bertambahnya umur pada seorang anak akan tumbuh rasa tanggung jawab dan

kita harus memberikan dorongan yang cukup untuk mereka agar mau belajar mengontrol diri dan

mengendalikan aktifitasnya serta kemampuan untuk memperhatikan segala sesuatu yang harus

dikuasai, dengan menyuruh mereka untuk membuat daftar tugas dan perencanaan kegiatan yang

akan dilakukan sangat membantu dalam upaya mendisiplinkan diri, termasuk didalamnya

kegiatan yang cukup menguras tenaga (olah raga dll) agar dalam dirinya tidak tertimbun

kelebihan tenaga yang dapat mengacaukan seluruh kegiatan yang harus dilakukan. Nasehat untuk

orangtua, sebaiknya orang tua selalu mendampingi dan mengarahkan kegiatan yang seharusnya

dilakukan si anak dengan melakukan modifikasi bentuk kegiatan yang menarik minat, sehingga

lambat laun dapat mengubah perilaku anak yang menyimpang. Pola pengasuhan di rumah, anak

diajarkan dengan benar dan diberikan pengertian yang benar tentang segala sesuatu yang harus ia

kerjakan dan segala sesuatu yang tidak boleh dikerjakan serta memberi kesempatan mereka

untuk secara psikis menerima petunjuk-petunjuk yang diberikan.

Umpan balik, dorongan semangat, dan disiplin, hal ini merupakan pokok dari upaya

perbaikan perilaku anak dengan memberikan umpan balik agar anak bersedia melakukan sesuatu

dengan benar disertai dengan dorongan semangat dan keyakinan bahwa dia mampu

mengerjakan, pada akhirnya bila ia mampu mengerjakannya dengan baik maka harus diberikan

penghargaan yang tulus baik berupa pujian atupun hadiah tertentu yang bersifat konstruktif.

Bila hal ini tidak berhasil dan anak menunjukkan tanda-tanda emosi yang tidak terkendali harus

segera dihentikan atau dialihkan pada kegiatan lainnya yang lebih ia sukai. Strategi di tempat

21
umum, terkadang anak justru akan terpicu perlaku distruktifnya di tempat-tempat umum, dalam

hal ini berbagai rangsangan yang diterima baik berupa suasana ataupun suatu benda tertantu

yang dapat membangkitkan perilaku hiperaktif / destruktif haruslah dihindarkan dan dicegah,

untuk itu orang tua dan guru harus mengetahui hal-hal apa yang yang dapat memicu perilaku

tersebut. Modifikasi perilaku, merupakan pola penanganan yang paling efektif dengan

pendekatan positif dan dapat menghindarkan anak dari perasaan frustrasi, marah, dan berkecil

hati menjadi suatu perasaan yang penuh percaya diri.

Gangguan Defisit-Atensi/Hiperaktivitas yang Tidak Ditentukan

DSM-IV memasukkan gangguan deficit-atensi/hiperaktivitas yang tidak ditentukan

(NOS; not otherwise specified) sebagai kategori residual untuk gangguan dengan gejala yang

menonjol adalah inatensi atau hiperaktivitas yang tidak memenuhi criteria untuk GDAH (Tabel

39-2).

Tabel 39-2.

Kriteria Diagnostik untuk Gangguan Defisit-Atensi/Hiperaktivitas Yang Tidak Ditentukan


Kategori ini adalah untuk gangguan dengan gejala deficit-atensi atau hiperaktivitas-

impulsivitas yang menonjol yang tidak memenuhi criteria untuk gangguan deficit-

atensi/hiperaktivitas.
Tabel dan DSM-IV, Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, ed 4. Hak cipta

American Pschiatric Association, Washington, 1994.

Gambaran klinis

Pada orang dewasa, tanda residual dari gangguan adalah impulsivitas dan deficit atensi

(misalnya, kesulitan menyusun dan menyelesaikan pekerjaan, ketidakmampuan untuk

22
berkonsentrasi, peningkatan distraktibilitas, dan mengambil keputusan dengan mendadak tanpa

memikirkan akibatnya).

Gangguan depresif sekunder berhubungan dengan penghargaan diri yang rendah terkait dengan

hendaya performa.

Perjalanan dan prognosis

Banyak anak yang awalnya didiagnosis ADHD tipe kombinasi menunjukkan gejala-

gejala impulsif-hiperaktif yang lebih sedikit sejalan dengan bertambahnya usia mereka dan saat

mereka dewasa, akan memenuhi kriteria bagi ADHD tipe inatentif.

Orang dewasa dengan ADHD mempunyai gangguan belajar, gangguan cemas, gangguan

mood, dan gangguan pemakaian zat yg lebih tinggi

Perjalanan klinis

Terapi:

Amphetamine (5 sampai 60 mg sehari)

Tanda respon yang positif adalah peningkatan rentang perhatian, penurunan impulsivitas, dan

perbaikan mood.

23
Terapi psikofarmakolgis diteruskan secara tidak terbatas. Karena potensi penyalahgunaan obat,

sehingga pasien harus dipantau terus.

• Lini I: stimulan

• Tanda-tanda respons positif:

– Peningkatan rentang perhatian

– Penurunan keimpulsifan

– Perbaikan mood

A. KERANGKA TEORI

Faktor psikososial Faktor genetik

ADHD

Cedera otak
Faktor
neurokimiawi

Faktor neurologis

24
B. KERANGKA KONSEP

1. Usia
ADHD (Attention
2. Jenis kelamin Deficit Hyperactive
Disorder)
3. Faktor genetik

4. Faktor
psikososial

A. Hipotesis

1. Ho:

a. Tidak ada hubungan antara usia dengan terjadinya GDAH pada anak.

b. Tidak ada hubungan antara jenis kelamin dengan terjadinya GDAH pada anak.

c. Tidak ada hubungan antara faktor genetik dengan terjadinya GDAH pada anak

d. Tidak ada hubungan antara faktor psikososial dengan terjadinya GDAH pada anak

2. Ha:

a. Ada hubungan antara usia dengan terjadinya GDAH pada anak.

b. Aada hubungan antara jenis kelamin dengan terjadinya GDAH pada anak.

c. Ada hubungan antara faktor genetik dengan terjadinya GDAH pada anak

d. Ada hubungan antara faktor psikososial dengan terjadinya GDAH pada anak

BAB III
25
METODOLOGI PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif analitik, yaitu penelitian

yang mendeskripsikan, mencatat, menganalisa, dan menginterpretasikan kondisi-kondisi

yang sekarang ini terjadi atau ada.

B. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di SDN Malaka Sari 01 Pagi Jakarta Timur.

C. Subjek Penelitian

1. Populasi

Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa-siswi SDN Malaka Sari 01 Pagi

Jakarta Timur.

2. Sampel

Sampel penelitian ini adalah seluruh siswa-siswi dengan ADHD di SDN Malaka

Sari 01 Pagi Jakarta Timur.

D. Identifikasi Variabel Penelitian

Variabel independen : Usia, Jenis Kelamin, Faktor Genetik, Faktor Psikososial

Variabel dependen : Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD)

E. Definisi Operasional Variabel

26
No Varibel Definisi Operasional Alat Hasil Ukur Skala

Ukur

1. Usia Usia responden yang Data • 6-12 tahun Ordinal

terhitung sejak lahir hingga kuesio

ulang tahun terakhir ner

2. Jenis Istilah yang membedakan Data • Laki-laki Nominal

Kelamin antara laki-laki dan kuesio


• Perempuan
perempuan secara biologis, ner

dan dibawa sejak lahir

dengan sejumlah sifat yang

diterima orang sebagai

karakteristik laki-laki dan

perempuan.

3. Faktor Faktor keturunan yang Data • Ada keluarga Nominal

Genetik dimaksud adalah adanya kuesio yang GDAH

riwayat GDAH dalam ner


• Tidak ada
keluarga yaitu orang tua
keluarga yang
atau saudara kandung
GDAH

4. Faktor Adalah setiap perubahan Data • Ada Nominal

Psikososi dalam kehidupan individu kuesio


• Tidak ada
al atau interaksi antara faktor- ner

faktor sosial dan psikologi

atau relasi antara kondisi


27
sosial dan mental

H. Kriteria Inklusi

Semua Siswa-Siswi SDN 01 Malaka Sari Pagi yang memilki kriteria diagnostik untuk

ADHD dan didalamnya mencakup variabel penelitian, yaitu :

• Usia

• Jenis Kelamin

I. Kriteria Eksklusi

Semua Siswa-Siswi SDN 01 Malaka Sari Pagi yang tidak memiliki kriteria diagnostik,

yang didalamnya mencakup variabel penelitian, yaitu :

• Usia

• Jenis Kelamin

J. Cara Kerja

Pengolahan data dilakukan dalam 5 langkah, yaitu :

a. Penyusunan Data

Dalam penyusunan dipertimbangkan hal-hal sebagai berikut :

• Hanya memilih dan memasukkan data yang penting dan benar-benar diperlukan.

• Hanya memilih data yang objektif

28
b. Klasifikasi

Mengelompokkan atau menggolongkan data berdasarkan pada kategori yang dibuat

sesuai dengan justifikasi atau pertimbangan peneliti.

c. Analisis Data

Data diolah dan dianalisis dengan teknik tertentu. Data analisis diolah dengan teknik

analisis kualitatif, sedangkan data kuantitatif dengan teknik analisis kuantitatif.

d. Pengujian Hipotesis

Teknik pengolahan data dalam penelitian kesehatan antara lain :

• Rumusan-rumusan dari teknik deskriptif, yakni : Ukuran Tendensi Sentral (Central

Tendency), Ukuran Penyimpangan (Standard Deviasion), Tabel Persentase, Analisis

Korelasi, dsb.

• Rumusan-rumusan statistik intervensi atau induktif, yakni : Analisis Chi Square,

Analisis Variance, Analisis Korelasi dan Regresi, Analisi Faktorial, dsb.

e. Penafsiran dan Penyimpulan

Penafsiran dilakukan untuk mencari pengertian terhadap hasil pengolahan data, sehingga

membentuk berbagai penemuan ilmiah (Scientific Finding), sedangkan kesimpulan dibuat

dengan memperhatikan beberapa kriteria, yaitu :

• Ringkas dan tempat

29
• Didukung oleh data

• Dapat mencerminkan batas-batas berlakunya

• Merupakan rekapitulasi berbagai informasi yang diberikan sebelumnya atau

pembuktian

• Mencerminkan adanya penerimaan dan penolakan hipotesis

• Dapat menuntun untuk dilakukan penelitian lebih lanjut

K. Keterbatasan

Sedikitnya ketersediaan data baik dari literatur maupun internet menjadi penghambat

pengumpulan informasi serta data penelitian sebelumnya yang dapat dijadikan acuan oleh

peneliti.

30