Anda di halaman 1dari 9

PENGUJIAN DAN EVALUASI ZAT WARNA PADA SERAT POLIAMIDA

Oleh : Abdul Rohman H , Kimia Tekstil 2008


Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil 2010

I. MAKSUD DAN TUJUAN


• Mengidentifikasi dan mengetahui golongan zat warna yang digunakan
pada pencelupan serat poliamida
• Menganalisa perbedaan hasil pengujian setiap zat warna

I. TEORI DASAR
Poliamida adalah jenis serat buatan yang dibuat dari Heksametilena diamina dan
asam adipat, jenis serat ini biasanya disebut poliamida 66,

NH2(CH2)6NH2 + COOH(CH2)4COOH NH2(CH2)6NHCO(CH2)4 COOH +


H2O

Disamping itu ada juga jenis poliamida 6 yang dibuat dari heksametilena
diamina dengan asam sebasat HOOC(CH2)8COOH.

Adapun sifat-sifat poliamida 66 antara lain :


1. Kekuatan dan mulur
Poliamida mempunyai kekuatan dan mulur berkisar dari 8,3 gram per
denier dan 18 % sampai 4,3 gram per denier dan 45 %. Kekuatan
basahnya 80-90 % kekuatan kering.
2. Tahan gosokan dan tekukan
Poliamida mempunyai tahan tekukan dan gosokan yang tinggi. Tahan
gosokan poliamida kira-kira 4-5 kali tahan gosokan wol.
3. Elastisitas
Poliamida selain mempunyai mulur tinggi (22%), juga mempunyai
elastisitas yang tinggi. Pada penarikan 8% poliamida elastis 100%, dan
pada penarikan sampai 16%, poliamida masih mempunyai elastisitas
91%.
4. Sifat Kimia
Poliamida tahan terhadap pelarut-pelarut dalam pencucian kering.
Poliamida tahan terhadap asam-asam encer, tetapi dengan asam klorida
pekat mendidih selama beberapa jam, akan terurai menjadi asam adipat
dan heksa metilena diamonium hidroklorida.
Poliamida sangat tahan terhadap basa. Pengerjaan dengan larutan
Natrium Hidroksida 10% pada suhu 85o selama 10 jam hanya
mengurangi kekuatan poliamida sebanyak 5%.
Pelarut-pelarut yang biasa untuk melrutkan poliamida adalah asam
formiat, kresol dan fenol.

Zat warna yang biasanya dipakai untuk mewarnai serat poliamida biasanya
dibedakan menjadi 2 golongan berdasarkan atas sifat kelarutannya :

1.1. Golongan I
Zat warna yang larut dalam pelarut organic toluene, yaitu zat warna
bejana, zat warna dispersi, beberapa zat warana kompleks logam,
beberapa zat warna dispersi-reaktif, dan semua zat warna naftol.
Reaksi antara zat warna golongan I dengan serat poliamida
• Zat warna Dispersi
Merupakan zat warna yang tidak larut dalam air sehingga proses
pencelupan dengang bahan bergantung pada pembukaan pori-pori serat
poliamida. Berikatan dengan gaya hidrofob dan kadang berikatan
hidrogen sebagai pembantu gaya ikatannya.

ZW – CH3NH + Asetat – OCO – CH3 ZW – CH3NH - H3COO -

OCOCH3 OCOCH3
OH O NHOH3
C C
C
+ C C C
C
C C C C

CH3 HNO OH
CH2OCOCH3

• Zat warna Bejana


Zat warna bejana merupaka zat warna yang tidak larut dalam air sehingga
dalam proses pencelupannya perlu dibuat leuko zat warna dahulu
sehingga dapat mencelup serat poliamida.
Bentuk Leuko ZW Bejana
O H
Reduksi
Na2S2O4 + NaOH + H2O Hn

O OH
NaO
H
ONa

ONa
• ZW Naftol
Zat warna naftol merupakan zat warna yang proses pembentukan
warnanya dilakukan simultan pada saat pencelupan sehingga terjadi
proses penggandengan antara komponen zat warna dengan komponen
kopling.

ONa
OH + NaOH
+ H2O
alkali Naftola
Naft R R
t
ol

ONa
kapas
+ Sel + NaCl
tercelup
R

1. Golongan II
Zat warna yang larut dalam pelarut air, yaitu zat warna asam, basa, direk,
beberapa zat warna kompleks logam ( pencelupan netral ), semua zat
warna kompleks logam ( celupan asam ) dan semua zat warna krom.
• Zat warna Direk
D – SO3 – Na + Sel – OH DSO3Na - OH
NH2
NH

N= 2
N=N
N + Sel - OH

SO3Na

• Zat warna Asam


Zat warna asam merupakan zat warna yang larut dalam air dan berikatan
ionik dengan serta poliamida. Katuaan pencelupan zat warna asam
sangat bergantung pada kondisi pH larutan sehingga kontrol ketuaan
dapat dilakukan dengan mengontrol pH karena dengan pH yang rendah
maka muatas positif bahan akan bertambah sehingga akan meningkatkan
laju penyerapan zat warna.

H+ COO-
-
W - COO + NH3 –W WCOONH3 – W W – COOH + ZW-
+ NH3-W

• Zat warna Basa


Zat warna basa merupakan zatw arna yang berikatan ionik denga bahan
poliamida perbedaannya denga zat warna asam adalah kondisi proses
dan tahap ikatan yang terjadi antara zat warna denga gugus-gugus pada
bahan.
W – COO- + (Kation – ZW)+ W – COO (Kation – ZW)

Untuk mengetahui zat warna yang ada pada serat poliamida, maka perlu
diadakan uji pendahuluan yang terdiri dari :
- Uji pencucian diikuti dengan pencelupan kembali terhadap multi fibers.
- Uj abu untuk menentukan logam-logam.
- Uji kelarutan untuk pewarnaan lapisan air / lapisan toluene.
Dalam uji kelarutan dibedakan bahwa :
• Lapisan toluene adalah golongan I, yaitu :
- Zw dispersi
- bejana
- zat warna kompleks logam ( netral )
- dispersi-reaktif.
• Lapisan air adalah golongan II, yaitu:
- direk
- basa,
- asam,
- semua zat warna kompleks logam ( asam ), dan
- zat warna krom.

ZW ZW ZW ZW ZW ZW
Serat
No Bejana Dispersi Naftol Direk Asam Basa
Multifibre
A B A B A B A B A B A B
1 Kapas - - - - - - + - - + - -
2 Poliamida - - + + - - - - + - - -
3 Vipoliamida - - - - - - - - - - - -
4 Asetat - - + + - - - - - - - -
5 Wol - - - - - - + + + + + +
6 Viskosa - - - - - - - - - + - -
7 Akrilat - - + + - - + - - - + -
8 Sutera - - - - - - + + + + + +
9 Polyester - - + + - - - - - - - -
Keterangan :
A : Suasana Asam
B : Suasana Basa
+ : Tercelup
- : Tidak tercelup

II. ALAT DAN BAHAN

No Alat-alat Bahan Pereaksi


1 Tabung reaksi Contoh uji Lrutan Sabun
2 Gelas ukur 50 ml Serat kapas Piridina
3 Rak tabung reaksi Serat poliakrilat NH4OH pekat
4 Pipet tetes Serat multifibers Asam asetat
5 Bunsen Serat acetat Na2S2O4
6 Kertas saring Serat wol Toluena
7 Cawan porselin Serat kapas air suling
8 Piala gelas - Asam asetat glacial
9 Kuesa - HCl pekat
10 Pengaduk - NaCl
11 Penjepit - NaOH 10 %
13 - - Natrium bikarbonat
14 - - Alkohol 95 %

V. CARA KERJA
5.1 Cara kerja terlampir pada jurnal praktikum.

5.2 Evaluasi
Evaluasi dilakukan untuk menilai tingkat kepercayaan atau validitas data
yang didapat dari hasil percobaan pada setiap pengujian zat warna. nilai validitas
didapat dengan membandingkan hasil percobaan pada tiap tingkat pengujian
dengan keadaan yang seharusnya dan dinyatakan dalam persen (%). Dengan
nilai persen yang semakin besar menunjukan nilai kevalidan datanya semakin
akurat sehingga terjadinya kesalalahan mengambil kesimpulan dari hasil analisa
akan semakin kecil.
Uji
Uji Pencucian & Uji Uji Penent
Multifiber Piridin Toluen uan
ZW
Bejana 90% 100% 100% 20%
ZW Naftol 90% 100% 100% 20%
ZW
Dispersi 60% 100% 100% 90%
ZW Direk 70% 100% 100% 90%
ZW Asam 80% 100% 100% 90%
ZW Basa 50% 100% 100% 20%

VI. DISKUSI
Berikut adalah grafik validitas data yang didapat pada setiap jenis pengujian.
Data dari grafik diatas adalah tingkat persentase atau kevalidan data hasil
percobaan pengujian zat warna pada nilon untuk setiap jenis pengujian yang
dilakukan pada golongan I dan II.
Berdasarkan grafik terlihat bahwa validitas data yang paling tinggi dan
konstan pada seluruh pengujian jenis zat warna adalah Uji Piridin dan Uji Toluen
dengan tingkat kevalidan data 100% , ini dapat dijelaskan karena memang uji
piridin dan uji toluen lebih mengarah pada hasil penggolongan I dan II zat warna
dimana zat warna yang larut dalam air dan yang tidak larut dalam air sehingga
tingkat kevalidan data dari hasil kedua pengujian ini dapat dipertanggung
jawabkan secara penuh. Namun hasil dari kedua jenis pengujian ini tidak dapat
menentukan jenis zat warna pada bahan secara spesifik jadi hasilnya masih
bersifat general atau umum.
Nilai persentase kevalidan data hasil pengujian pencucian dan celup
multifiber pada setiap uji zat warna berfariasi tertapi secara umum berada diatas
50% tingkat kevalidannya. Variasi tinggi dan rendahnya kevalidan data Uji
Pencucian mengingat dengan uji ini dapat langsung ditemukan jenis zat
warnanya lewat pencelupan multifiber. Umumnya terjadinya kesalahan dalam uji
ini, sehingga mengurangi validitas datanya adalah kurang sempurnanya
pencelupan multifiber bisa karena larutannya kurang, terjadinya pengotoran dari
tabung, dan tidak bersihnya proses pencucian sehingga hasilnya menjadi tidak
akurat dan menimbulkan pengotoran yang tidak diinginkan pada serat lain atau
tidak tercelupnya serat yang seharusnya tercelup sehingga menimbulkan
kesulitan dalam menganalisa jenis zat warnanya.
Validitas data hasil uji penentuan pada setiap zat warna menunjukan nilai
yang sangat bervariasi dari yang validitasnya tinggi misalnya pada zat warna
dispersi, direk, dan asam maupun nilai validitas yang rendah misalnya pada zat
warna bejana, naftol, dan basa sehingga sangat meragukan untuk dijadikan hasil
akhir pengambilan keputusan dalam mengidentifikasi zat warna. Ini terjadi pada
zat warna tertentu yang memang cukup sulit dibedakan sehingga memerlukan
keakuratan penelitian dalam mebedakan hasilnya. Rendahnya nilai validitas data
uji penentuan karena 1. Kesalahan praktikan dalam melakukan pengujian, 2.
Kurang memadainya kualitas zat kimia sehingga hasilnya jauh dari ketentuan.
Sehingga dengan melihat perbadingan data kevalidan tiap pengujian
maka dapat diarik suatu prioritas dalam mengidentifikasi jenis zat warna pada
poliamida dimana prioritas pertimbangan utama ketika data yang lain tidak
sesuai dengan ketentuan adalah dengan pertimbangan data hasil uji pencucian
dan pencelupan multifiber karena nilai rata-rata kevalidannya diatas 50% pada
setian uji zat warna.

VII KESIMPULAN
Berdasarkan hasil identifikasi data percobaan maka didapat kesimpulan:
• Contoh Uji No. 3 dicelup zat warna direk
• Contoh Uji No. 8 dicelup zat warna dispersi
• Contoh Uji No. 12 dicelup zat warna asam
• Contoh Uji No. 17 dicelup zat warna basa
• Contoh Uji No. 54 dicelup zat warna bejana
• Contoh Uji No. 57 dicelup zat warna naftol
Jenis pengujian identifikasi zat warna yang validitasnya baik adalah uji
pencucian & pencelupan multifiber
VIII. DAFTAR PUSTAKA
Kurnia, Dede Wahab. 2002. Laporan Praktikum Evaluasi dan Pengujian Zat
Warna Pada Poliamida. STTT: Bandung.
Moerdoko, Wibowo, S.Teks, dkk.1975. Evaluasi Tekstil (Bagian Kimia), ITT,
Bandung.
Rahayu, Haryanti S.Teks, 1995. Pedoman Praktikum Evaluasi Tekstil Kimia II,
STTT.
Deperindag RI, SII 0735-83, Cara Identifikasi Zat warna Pada Serat Selulosa,
STTT, 1983.