Anda di halaman 1dari 11

BAHASA DAN PERIBAHASA DALAM HUKUM ADAT

artikel ini untuk memenuhi tugas mata kuliah hukum adat

Dosen Pembimbing:

Arif Wijaya, SH, M.Hum

Penyusun:

Bondan Murdani 2008531003

FAKULTAS AGAMA ISLAM

JURUSAN AHWAL AL SYAKHSYIYYAH

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURABAYA


2010
BAHASA DAN PERIBAHASA DALAM HUKUM ADAT

Bahasa adalah kata-kata yang digunakan sebagai alat bagi


manusia untuk menyatakan atau melukiskan sesuatu kehendak,
perasaan, pikiran maupun pengalamana, terutama dalam
hubungannya dengan manusia lain. Seseorang sarjana Eropapernah
mengungkapkan Die Grenzen mainer Sparche bedeuten die Grenzen
mainer Welt (batas duniaku adalah batas duniaku). Pernyataan kata-
kata dengan ucapan disebut dengan bahasa lisan, jika pernyataan
kata-kata dengan tulisan, disebut dengan bahsa tulisan, dan jika
pernyataan kata-kata dengan bentuk gambar atau tanda, disebut
bahasa perlambang/bahasa pertanda.

Belum pernah dijumpai laporan yang menegaskan sejak kapan


bahasa-bahasa dimuka bumi itu dilahirkan. Namun demikian, bahasa
sebagai alat komunikasi sama tuanya dengan usia manusia. Ini
menunjukkan bahwa kompleksitas hubungan antar manusia satu
dengan lainnya melalui media bahasa. Bahasa memberikan kepada
manusia untuk berpikir secara berkelanjutan, mampu berpikir secara
teratur dan sistematis. Tidak terbayangkan komunikasi yang dapat
dilakukan manusia bila tidak memiliki bahasa.

Menurut Anton M. Moelyono (1974) bahasa yang dipelajari dan


dipakai dalam dunia ilmu pengetahuan adalah bahasa ilmiah datu
bahasa keilmuan, yang memilki beberapa sifat sebagai berikut:

1. Lugas dan eksak, karena menghindari kesamaran dan


ketaksaan

2. Objektif dan menekan prasangka pribadi

3. memberikan definisi yang cermat tentang nama, sifat,


dan kategori yang diselidikinya untuk menghindari kesimpang
siuran.

4. tidak beremosi dan menjauhi tafsiran yang sensasi

5. Cenderung membakukan makna kata-katanya,


ungkapannya, dan gaya paparannya berdasarkan konvensi

6. tidak dokmatik atau fanatic

7. bercorak hemat, hanya kata yang diperlukan yang dipakai

8. bentuk, makna, dan fungsinya lebih mantap dan stabil


dari pada yang dimiliki kata biasa.
pada dasarnya bahasa mempunyai fungsi utama, yaitu selain
sebagai sarana komunikasi antar manusia, bahasa juga berfungsi
sebagai sarana budaya yang mempersatukan kelompok manusia
pengguna bahasa tersebut. Bahasa sebagai sarana komunikasi
mengandung 3(tiga) unsure pokok, yaitu sebagai sarana:

1. penyampai perasaan

2. pengekspresian sikap, dan

3. komunikasi berpikir

memahami hokum dengan mempergunakan media bahasa yang


menjadi pangkal tolak pemikiran adalah persalahan yang menyangkut
tata rumusan, makna, perilaku, serta bagaimanakah orientasi
penegakan hukumnya. Khusus berkaitan dengan penegakan hukum,
maka ia tidak terlepas dari kewibawaan aparat penegak hukum atau
pelaksana hukum dalam menerapkan dan mengkomunikasikan hukum.
Dalm konteksdemikian agar hukum itu dapat dipahami sebaik-baiknya
maka diperlukan adanya kesatuan bahasa sebagai alat untuk
mengkomunikasikan hukum. Harus diakui bahwa bahasa adalah alat
untuk menyampaikan perasaan, maksud hati dan pikiran kepada
sesamanya.

Bahasa merupakan suatu sarana komunikasi agar manusia dapat


menerima dan menyampaikan kehendak sebaik-baiknya. Dengan
demikian, tanpa bahasa tidak mungkin manusia satu dengan yang
lainnya dapat berkomunikasi. Kalau kita simak perjalanan sejarah,
tidaklah berlebiahan sekelompok pemuda mencetuskan sumpah
pemuda dalam kongres pemuda tahun 1928 yang secara tegas
menyatakan pengakuannya terhadap bahasa Indonesia sebagai
bahasa kesatuan. Ketika kemudian Indonesia merdeka, pernyataan ini
dikukuhkan dalam undang-undang dasar. Bahasa Indonesia
merupakan bahasa resmi sebagaimana dituangkan dalam pasal 36
Undang-undang Dasat 1945.

Bahasa mempunyai sifat khusus dan terbatas dalam lingkungan


tertentu. Maksudnya, disamping harus memperhatikan kaidah-kaidah
bahasa yang bersifat umum dan benar, yaitu kaidah bahasa Indonesia
yang benar, harus juga memperhatikan aturan-aturan yang bersifat
khusus yang sesuai dengan lingkungannya, seperti lingkungan profesi
dan lain-lain. Bahasa yang dipergunakandalam profesi kepolisian tentu
akan berbeda dengan profesi kedokteran, berbeda pula dengan profesi
hukum, sastra, atupun teknik. Peraturan perundang –undangan Negara
dibuat di dalam 1(satu) bahsa, bahasa hukum Indonesia , sehingga
tidak sulit bagi rakyat yang membaca dan mengetahuinya.
Sejak kemerdekaan republic Indonesia, Bahasa Indonesia telah
tumbuh dan berkembang demikian cepat sebagai “ bahasa modern”
yang meliputi berbagai bidang kehidupan masyarakat. Namun
demikian, bahasa ini tidak lepas dari ketentuan dan aturan yang baku
sebagaimana rekomendasi BPHN (1974) :

“…bahasa hukum Indonesia adalah bahasa Indonesia yang


dipergunakan dalam bidang hukum, yang mengikat fungsinya
mempunyai :karakteristik” tersendiri; oleh karena itu bahasa
hukum Indonesia haruslah memenuhi syarat-syarat dan kaidah-
kaidah bahasa Indonesia .”

Sebagimana dikemukakan dalam kesimpulan Seminar Hukum


Adat dan Pembinaan hukum Nasional di Yogyakarta Tahun 1975,
bahwa:

1. penggunaan konsepsi-konsepsi dan asas-asas hukum dari hukum


adapt untuk dirumuskan dalam norma-norma hukum yang
memenuhi kebutuhan masyarakat.
2. Penggunaan lembaga-lembaga hukum adapt yang modernisir
dan disesuaikan dengan kebutuhan zaman.
3. memasukkan konsep-konsep dan asas-asas hukum adapt
kedalam lembaga-lembaga hukum baru.

Secara garis besar, menurut Bahder Johan Nasution (2001)


dasar-dasar pokok dari bahasa hukum dapat dikelompokkan atas:

1. bahasa yang bersumber pada aturan-aturan hukum yang dibuat


oleh Negara.
2. bahasa yang bersumber pada hukum yang berlaku ditengah-
tengah masyarakat. Bahasa hukum seperti ini kita temui dalam
hukum adapt yang berlaku dan tidak bertentangan dengan
hukum Negara.
3. bahasa yang bersumber dari para ahli hukum, kelompok-
kelompok profesi hukum.

Bertitik tolak dengan keragaman hukum (control social) dalam


berbagai masyarakat hukum adapt di Indonesia, disadari betul betapa
manfaat penelaahan bahasa hukum itu. Dengan demikian, pentingnya
mempelajari bahasa hukum, khususnya hukum adapt berdampingan
dengan mempelajari bahasa Indonesia yang umum, dapat
dikemukakan sebagai berikut:

1. melukiskan system hukum dalam masyarakat hukum adapt


2. mempermudah pengkajian atas hukum adapt suatu masyarakat
3. mengembangkan hukum adapt masyarakat yang bersangkutan
saling mengeti dan memahami antara sarjana hukum dan
sarjana bahasa serta dilanjutkan kerjasama dalam melakukan
penelitian bahasa hukum Indonesia, dan menyebarluaskan hasil-hasil
penelitia tersebut, maka kekurangan dan kelemahan yang dirasakan
selama ini akan secara berangsur-angsur dapat dapat diperkecil dan
teratasi. Karakteristik bahasa hukum adat terletak pada istilah isltilah,
komposisi, serta gaya bahasanya yang khusus, dan kandungan artinya
yang khusu juga. Wujudnya dapat berupa peribahasa, ungkapan,
ataupun tanda-tanda yang menurut masyarakat adapt dapat
mempertahankan kepentingan umum dan kepentingan pribadi dalam
masyarakar bersangkutan.

Untuk memahami bahasa hukum selain memahami bahasa


Indonesia secara baik dan benar, harus dipahami pula karakteristik
dari bahasa hukum itu sendiri memiliki kekhususan istilah-istilah yang
digunakan, komposisi, gaya penyajian, dan kekhususan dalam
menafsirkannya. Sangat menarik apa yang disampaikan oleh sutan
Takdir Alisyabana( bahder Johan;2001), baik bahasa maupun hukum
merupakan pula sebagaian daripenjelmaan kebudayaan pada suatu
tempat dan waktu. Sudah barang tentu bahasa dan hukum itu saling
berhubungan dan saling mempengaruhi, malahan kebudayaan harus
dianggap sebagai penjelmaan masyarakat, demikian pula
sebaliknyakebudayaan itu mendapatkan pengaruh pula, baik dari
bahasa maupun dari hukum. Jika masyarakat tertentu tidak dapat
hidup dengan bahasanya, bahasa itu akan lenyap. Pada keluarga
modern ada kecenderungan tidak lagi menggunakan bahasa daerah
pada anak-anakanya, tetapi bahsa nasional, hal mana dapat berakibat
akan lenyapnya bahasa daerah dari pergaulan masyarakat modern.
Berikut dikemukakanbahasa dan peribahasa sesuai dalam berbagai
bidang hukum adapt Indonesia .

1. Bahasa dan Peribahasa dalam Hukum Perjanjian Adat

Dalam perjanjian pinjam meminjamkhususnya uang pada


masyarakat adapt dibatak dikenal:

a. Morsali

Pinjam meminjam uang dengan tidak ada keharusan membayar


bunga

b. Manganahi

Pinjam meminja uang dengan ketentuan ada keharusan


membayar sejumlah uang sebagai bungan.
Kalau ada pergaulan pada umumnya istilah titip berarti
penyerahan benda kepada oranglain, maka dalam pergaulan sehari-
hari masyarakat Lampung akan dipersepsikan sebagai berikut:

a) Titip beli yaitu menitip sesuatu dengan sejumlah uang


untuk barang tertentu

b) Titip jual yaitu menitip barang dengan maksud dijual


kepada pihak lain.

c) Titip curah yaitu menitip dengan status harapan perolehan


sejumlah laba

d) Titip tetap/titip tempat yaitu menitip barang untuk


sementara dan akan diambil kembali

e) Titip sewa yaitu menitip barang untuk disewakan


kenikmatannya

Dalam perjanjian transaksi barang dikalangan masyarakat adapt


Jawa dikenal istilah

a) Tukar guling yaitu tukar-menukar suatu barang dengan


nilai yang sama dengan barang lain dengan tidak melihat
perbedaan jenis dan nilai atas barang

b) Tukar tambah yaitu tukar menukar dengan barang lain


dengan nilai berbeda sehingga salah satu pihak harus memberi
sejumlah uang tambahan agar nilai barang menjadi seimbang

Ungkapan yang berupa peribahasa dalam lapangan hukum


perjanjian, diantaranya:

a. Jika kerbau dipegang tali hidungnya, jika manusia dipegang


kata-katanya

Pepatah melayu ini menyiratkan dalam suatu perjanjian yang


dipegang adalah kata-kata sepakat para pihak, sehingga masing-
masing harus mewujudkan kesepakatan itu

b. Ibarat perahu, didayung bersama tidak akan karam sebelah


saja

Pepatah melayu ini menyiratkan bahwa kesepakatan dalam usaha


bersama itu membawa konsekuensi untug maupun rugi harus
dipikul bersama-sama pula.
c. Muda dung hata ni uhum, inda tola digagai

Pepatah batak ini maknanya jika demikian kata hukum, tidak boleh
diingkari. Hal ini bahwa setiap perjanjian haruslah dipenuhi oleh
masing-masing pihak

d. Tak ada kusut yang tak selesai, tak ada keruh yang tiada
jernih

Pepatah ini umumnya dijumpai pada masyarakat adat Sumatra Barat


mengedepankan musyawarah dan mufakat, tidak ada perselisian yang
tidak terselesaikan asalkan masing-masing pihak berpikir jernih lepas
dari syak wasangka.

2. Bahasa dan Peribahasa dalam Hukum Perkawinan Adat

Menurut hokum adat, perkawinan harus dimulai dengan berbagai upaya


pendekatan. Pendekatan ini diberbagai masyarakat hokum adapt melalui beberapa
tahapan, upacara, dan kelengkapan sarana social dan budayanya. Di Lampung bahkan ada
acara khusus pergaulan bujang dan gadis yang disebut “manjau mulei”. Disini terjadi
proses “rasan mude” antara pihak bujang dan gadis. Apabila sudah ada
kesepakatan,ditingkatkan dengan “rasan tuwe” perbincangan antara kerabat tetua masing-
masing pihak.

Runtutnya perjalanan kisah-kisah ini akan berakhir secara baik apabila kesepakatan
terbina dari masing-masing pihak. Akan tetapi, bila tidak terjadi kesepakatan, salah satu
pihak menempuh upaya paksa melalui “belarian-begubalan”(Sumatra Selatan),
“sebambangan”(Lampung), ataupun “ngerorot” (Bali). Jika ini terjadi, dalam pandangan
masyarakat telah ada aksi. Terhadap aksi ini perlu upaya pemulihan berupa reaksi.

Di Lampung terdapat perbuatan “ngantak salah”, yaitu pemberitqahuan secara


resmi telah terjadi perbuatan belarian untuk kawin. Pihak mempelai laki-laki menemui
kepala bujang dan kepala marga pihak gadis membawa ikan asin, gula, dan jajanan.
Upaya ini dimaklumi oleh keluarga siwanita dan mengajukan untuk perundingan dan
kesepakatan pada hari yang akan ditentukan kemudian. Bila terjadi sebambangn, di
Lampung pihak wanita meningggalkan pesan “tengepik” semacam untaian surat yang
menerangkan tempat, tujuan, nama, dan alamat pihak laki-laki dengan siapa dia
melakukan sebambangan. Tempat meninggalkan rumah oleh sigadis bisa berangkat dari
pasar atau tempat umum lainnya, tidak harus berangkat dari rumah. Maka tempat
berlindung adalah kepala bujang di desa pihak laki-laki. Perlindungan ini memberikan
jaminan keamanan bahkan kalau adad pemaksaan dari pihak gadis, keluarga gadis akan
sia-sia dan kembali pulang dengan tangan hampa.

Beberapa hal didaerah Bugis, seseorang yang dituduh melarikan gadis dikejar oleh
kerabat wanita. Apabila ketemu, dapat dibunuh. Peristiwa ini disebut “Tomasiri”.
Tampaknya didaerah ini kawin lari adalah sesuatu hal yang tabu.
Beberapa peribahasa adapt dalam lapangan hokum perkawinan, diantaranya:

a. banteng anut ing sapi, peribahasa ini di Banten berarti suami yang menetap di
pihak istri. Apabila ini terjadi, kedudukan istri lebih tingggi dari suami dalam suatu
hubungan perkawinan.

b. Lepas bantal berganti tikar, pepatah melayu yang artinya apabila istri meninggal,
seseorang suami kawin lagi dengan adik istrinya.

c. Urang sumando mengebat tidak erat, memancung tiada putus, langau diekor
kerbau, leach didaki, abu diatas tunggul, pepatah minangkabau yang menunjukkan
seorang suami yang kedudukannya tidak kuat, setelah kawin menetap pada pihak
istri, ia tidak mempunyai kekuasaan, yang berkuasa adadlah mamak, yaitu saudara
laki-laki dari pihak ibu mertua.

3. Bahasa dan Peribahasa dalam Hukum waris Adat

Beberapa contoh bahasa dalam pembahasan hukum waris pada masyarakat hokum
adat, diantaranya:

a. Pewaris, yaitu setiap orang yang akan meneruskan harta warisan


b. Ahli waris, yaitu setiap orang yang akan menerima harta warisan, baik sebagai
ahli waris maupun bukan ahli waris, melainkan kewarisan.
c. Warisan, segala harta benda berwujud yang akan diserahkan kepada ahli waris.
d. Lintiran, pemberian warisan sebelum pewaris meninggal dunia
e. Welingan, pemberian warisan dengan penunjukan yang cirri-ciri dan batas
tertentu telah ditetapkan.

Pepatah atau peribahasa dalam lapangan hokum waris adapt, diantaranya:

a. Ada 4 (empat) masalah warisan, yaitu warisan keturunan, warisan kedudukan


adat, warisan nama, dan warisan harta. Di Minangkabauhal demikian artinya bahwa
ada 4 (empat) masalah warisan, yaitu warisan keturunan, warisan kedudukan, warisan
nama, dan warisan harta. Ini menunjukkan bahwa dalam proses pewarisan itu ada 4
hal yang dikoordinasikan,

b. Singir ni ama, ba, singir ni anak, jala utang ni ama, utang ni anak, dibatak
menunjukkan bahwa dalam pewarisan, apa yang dari ayah turun keanak, begitu juga
hutang ayah akan menjadi hutang anak.

4. Bahasa dan Peribahasa dalam Hukum Pwelanggaran dan Peradilan Adat

Konsep pelanggaran dan peradilan sebagai upaya untuk mengembalikan


keseimbangan aksi atas reaksi sehingga stabilitas masyarakat dapat bertahan, diberbagai
daerah tidak seragam. Akibatnya, upaya pemulihannya serta konkretpun berbeda dalam
1(satu) masyarakat hukum adat dengan masyarakat adat lainnya. Dikalangan masyarakat
adat Minangkabau dikenal hokum pidana buang.

a. Buang sirih, Dikeluarkan dari kelompok masyarakat dan diperbolehkan kembali


apabila sudah bertobat.
b. Buang tingkaran, dikeluarkan dari kelompok masyarakat untuk selama-lamanya.
c. Buang daki, dikeluarkan dari kelompok masyarakat, bahkan dilarang sama sekali
untuk kembali kedaerah asalnya termasuk penyitaan seluruh harta kekayaan milik
pribadinya diambil alih oleh ‘negari”.

Perlambang dalam masyarakat hukum adat juga memegang peran penting dalang
kajian hokum tidak tertulis (adat). Misalnya pada masyarakat adat Bali . Sebidang tanah
sawah yang siap untuk ditanam bibit padi, ditengah-tengahnya dipancangkan sebilah
daun kelapa yang disebut “sawen”. Symbol ini berarti larangan, sehingga siapa saja
menginjakkan kaki diareal sawah ( biasanya terdapat banyak belut) merupakan suatu
pelanggaran dan dapat diajukan kesidang masyarakat (sangkep) dan dapat dituntut
sejumlah uang denda.

Tentang peribahasa dan pepatah dalam konsepsi hukum pelanggaran adat adalah
membicarakan pengertian tentang hukum adat yang mengaturtentang pelanggaran-
pelanggaran atas hukum adat sehingga menyebabkan terganggunya keseimbangan
masyarakat dan harus diselesaikan. Terhadap pengertian mana tidak hanya kaidah hukum
adat, tetapi dalam tutur sapa yang diduga dari pepatah atau peribahasa yang sering
diungkapkan oleh masyarakat hukum yang bersangkutan. Diminangkabau dalam hal
terjadi kesalahan berat, misalnya masyarakat memberlakukan “maling curi, tikam bunuh,
sumbang salah, samun sakar, siar baker, rebut rampas, upah racun, dago-dagi”. setelah
diperiksa kenyataan dakwa dan didakwakan dengan saksi, beti (bukti) atau sumpah, maka
tingkat hukuman bagi kesalahan seseorang itu dapat ditentukan seperti berikut:

“Ditegur sapa, atau dipukul, sesat surut, terlangkah kembali, disuruh bertobat dan
dimaafkan, sirih berpucuk, pinang berubah, membayar denda atau mengganti rugi, mati
pada adat dihukum buang, dibuang sirih, dibuang biduk, buang hutang, buang daki,
buang tingkaran.”

5. Bahasa dan Peribahasa dalam Hukum Ketatanegaraan Adat

Pada struktur pemerintahan masyarakat adat terdapat beberapa lembaga yang


mempunyai peranan dan fungsi masing masing. Ada yang secara khusus dalam lapangan
keagamaan, ada yang dalam bidang tata pemerintahan, dan sebagainya. Apabila istilah
“penghulu” di Minangkabau berarti seseorang yang dituakan dalam suku atau kerabat
besar, pengertian yang sama juga dibatak berarti kepala kampong, sedangkan di
Kalimantan bermakna sebagai kepala adat. Akan tetapi, di Lampung penghulu bermakna
sebagai pejabat Agama, kepala adatnya disebut penyimbang adau sebatin. Suku
Minangkabauberarti bagan dari gabungan kerabat, sedangkan di Lampung berarti bagian
dari kampong yang terdiri dari satuan kerabat yang terdiri dari beberapa subklan. Di
Lampung hal ini mungkin saja, sebab ada beberapa kampong yang memang
keanggotaannya terdiri dari 1 (satu) kerabat Induk/ leluhur yang sama.

Pepatah dan peribahasadalam lapangan hukum ketatanegaraaan adatdiantaranya:

a. Bulat air oleh pembuluh, bulat kata oleh mufakat, pepatah melayu yang
maknanya adalah kerapatan adat didasarkan atas bulat mufakat. Meskipun terjadi
perbedaaan pendapat adalah wajar, tetapi mufakat lebih penting diatas semuannya.

b. Lain pandang, lain belalang, lain lubuk lain ikannya, pepatah melayu yang
menunjukkan suatu norma atau aturan dalam suatu daerah seringkali berbeda dengan
daerah lainnya. Jadi janganlah mempermasalahkan tatanan pergaulan dan hukum
daerah satu dengan yang lainnya.

c. Kemanakan barajo ka mamak, mamak barajo kepenghulu, penghulu barajo


kemufakat, dalam masyarakat Minangkabau menunjukkan bahwa para kemenakan
harus tunduk kepada mamaknya, mamak tunduk kepada penghulu, dan penghulu
tunduk kepada hasil musyawarah.

d. Adat bak po teumeureuhom, hukom bak syah kuala, pada masyarakat adat Aceh
bermakna adat itu adanya ditangan raja, hukum ditangan ulama. Oleh karena itu,
setiap orang wajib mematuhinya.

e. Desa mawa cara, Negara mawa tata, diulingkungan masyarakat adat jawa artinya
setiap daerah, masing-masing mepunyai aturan yang masing-masing harus dipatuhi
sesuai dengan lingkungannya masing-masing.

Ragam ungkapan hukum yang dapat di temuidalam berbagai suku bangsa


masyarakat hukum adat Indonesia diatas hanyalah sebagian kecil dari apa yang
sesungguhnya akan ditemui ketika melakukan telaah terhadap hukum adat. Tujuan dari
istilah itu sesungguhnya adalah untuk mengkomunikasikan hukum itu sendiri melalui
peribahasa, pepatah, petitih, atau penegasan terhadap suatu masalah hukum, konsep
hukum, maupun peristiwa hukum. Melalui ungkapan ini orang akan dapat memahami
hukum dengan baik dan jelas karena panyampaiannya dikomunikasikan melalui
pendekatan bahasa dan perilaku yang hidup sehari-hari dan dirasakan sudah tidak terlalu
asing lagi.

Erat kaitannya denga ragam bahasa dan peribahasa hukum adalah logika hukum.
Logika adalah bidang pengetahuan yang mempelajari asas, aturan, dan tatacara penalaran
yang dekat (correct reasoning). Penalaran adalah proses pemikiran manusia yang
berusaha mencapai pernyataan baru, merupakan kelanjutan dari pernyataan yang
sebelumnya telah diketahui. Pernyataan pertama ini disebut pangkal piker (premise),
sedangkan pernyataan yang terbentuk kemudian disebut kesimpulan (conclusion).
Keduanya harus terbentuk dalam pola piker manusia yang selalu mencari dan
memperoleh kebenaran yang berproses. Dalam kaitan proses ini harus diperhatikan
kebenaran formalnya untuk sampai pada tatanan berpikir logis. Logika silogisme dituntut
ketika akan memahami persoalan hukum yang tercermin ke permukaan dalam bentuk
simbul, bahasa, maupun ucapan.