Anda di halaman 1dari 13

Istimewanya Wanita Islam

Kaum feminis bilang susah jadi wanita ISLAM, lihat saja peraturan dibawah ini :

Wanita auratnya lebih susah dijaga berbanding lelaki.


Wanita perlu meminta izin dari suaminya apabila mau keluar rumah tetapi tidak sebaliknya.
Wanita saksinya kurang berbanding lelaki.
Wanita menerima pusaka kurang dari lelaki.
Wanita perlu menghadapi kesusahan mengandung dan melahirkan anak.
Wanita wajib taat kpd suaminya tetapi suami tak perlu taat pd isterinya.
talak terletak di tgn suami dan bukan isteri.
Wanita kurang dlm beribadat karena masalah haid dan nifas yg tak ada pada lelaki.
makanya mereka nggak capek-capeknya berpromosi untuk “MEMERDEKAKAN WANITA ISLAM”

Pernahkah kita lihat sebaliknya (kenyataannya)??

Benda yg mahal harganya akan dijaga dan dibelai serta disimpan ditempat yg teraman dan terbaik.
Sudah pasti intan permata tidak akan dibiar terserak bukan?

Itulah bandingannya dgn seorg wanita. Wanita perlu taat kpd suami tetapi lelaki wajib taat kepada
ibunya 3 kali lebih utama dari bapaknya. Bukankah ibu adalah seorang wanita?

Wanita menerima pusaka kurang dari lelaki tetapi harta itu menjadi milik pribadinya dan tidak perlu
diserahkan kepada suaminya, manakala lelaki menerima pusaka perlu menggunakan hartanya utk isteri
dan anak-anak.

Wanita perlu bersusah payah mengandung dan melahirkan anak, tetapi setiap saat dia didoakan oleh
segala makhluk, malaikat dan seluruh makhluk ALLAH di mukabumi ini, dan matinya jika karena
melahirkan adalah syahid.

Di akhirat kelak, seorang lelaki akan dipertanggungjawabkan terhadap 4 wanita ini: Isterinya, ibunya,
anak perempuannya dan saudara perempuannya.

Manakala seorang wanita pula, tanggungjawab terhadapnya ditanggung oleh 4 org lelaki ini: Suaminya,
ayahnya, anak lelakinya dan saudara lelakinya.

Seorang wanita boleh memasuki pintu Syurga melalui mana mana pintu Syurga yg disukainya cukup dgn
4 syarat saja : Sembahyang 5 waktu, puasa di bulan Ramadhan, taat suaminya dan menjaga
kehormatannya.

Seorg lelaki perlu pergi berjihad fisabilillah tetapi wanita jika taat akan suaminya serta menunaikan
tanggungjawabnya kepada ALLAH akan turut menerima pahala seperti pahala org pergi berperang
fisabilillah tanpa perlu mengangkat senjata.

[haka7] Mensinergikan Potensi Muslimah


caigong_ara
Mon, 14 May 2007 20:40:28 -0700

Oleh:anis Matta

Berangkat dari format bahwa Islam mendukung penuh perempuan untuk


maju dengan memberi posisi mulia yang sejajar dengan laki-laki, plus
dukungan berbagai pembuktian, maka pada langkah selanjutnya tidak ada
hambatan dan kendala yang memaksa perempuan untuk menyembunyikan
potensinya dalam berkiprah dan berpartisipasi di berbagai sektor
kehidupan.

Dalam suatu hadist yang diriwayatkan oleh Ahmad, nabi Muhammad s.a.w.
bersabda yang bisa disarikan maknanya, bahwa nabi melarang perempuan
yang menyerupai laki-laki dalam bentuk dan penampilan lahiriah.

Namun patut difahami bahwa pelarangan tersebut tidak berlaku pada


upaya perempuan untuk menyerupai laki-laki dalam kecerdasan dan amar
ma'ruf.Tidak salah bahwa gerakan feminisme muncul ketika perempuan
mulai tertindas, terampas hak asasi dan terpojokkan dari tatanan
masyarakat yang "male dominated". Islam adalah pendukung gerakan
feminisme karena dalam perjalanan pertama gerakan ini menuntut
kesetaraan dan pemberian hak asasi setelah selama kurun waktu lama,
perempuan hanya menjadi subordinasi laki-laki dan objek eksploitasi.
Dan landasan tuntutan ini menjadi titik kedatangan Islam di bumi
Makkah.
Meski dalam perkembangannya, fenomena yang ada memperluas aliran
feminisme pada tatanan yang mengandung beragam tuntutan dan proses
pencapaianya seperti feminisme liberal, radikal, sosialis,
ecofeminisme, atau posmodern feminisme. Ekses pembengkakan aliran ini
telah membuat jarak yang cukup berarti dari maksud pertama munculnya
gerakan tersebut. Namun tidak perlu gusar bila dikatakan bahwa
feminis adalah mereka yang memperjuangkan hak asasi perempuan dan
ingin mengembalikan posisi perempuan pada kursi yang mulia,
memerdekakan perempuan dari ketertindasan dan pengebirian potensi.

Di sini feminis bisa seorang laki-laki atau perempuan sepanjang ia


berjuang di sektor tersebut.Allah berfirman "dan segala sesuatu, Kami
ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah"(QS
51;49 ).

Yang bisa kita tangkap dari ayat tersebut adalah pesan agama agar
manusia senantiasa menjaga sikap balance (imbang) dengan bukti
penciptaan segala sesuatu berpasang-pasangan, miskin kaya, tinggi
rendah, pintar bodoh, baik buruk, laki-laki perempuan dan sadar bahwa
bumi, langit, beserta kehidupan di dalamnya tercipta untuk manusia
tanpa memandang apakah ia perempuan atau laki-laki. Keseimbangan
harus tercapai dengan kerjasama yang erat untuk mempertahankan
kehidupan di bumi.

Bila kita analogikan dalam konteks kekinian, berarti laki-laki dan


perempuan menjadi penanggungjawab eksistensi peradaban karena esensi
keduanya adalah manusia atau kholifah yang dihidupkan di muka bumi
ini. Satu kehidupan sosial akan timpang jika individu yang terlibat
di dalamnya hanyalah dari unsur yang sama. Namun iklim heterogen akan
membuat kehidupan menjadi kaya perbedaan, sedang pada perbedaan
itulah terletak suatu aset yang high valued (tinggi nilainya).

Kemudian, pada hakekatnya setiap individu mempunyai kemampuan yang


berbeda dan tinggal bagaimana ia mengolah potensi dan menancapkan
visi, kemudian menjadikannya suatu profesi. Sejalan dengan Alqur'an
surat alIsraa' ayat 84 yang menyatakan bahwa tiap-tiap orang berbuat
menurut keadaanya masing-masing, hanya Allah lah yang mengetahui
jalan siapa yang paling benar. Itu berarti menjadi guru adalah
profesi, dokter, karyawan, buruh, jurnalis, insinyur, arsitek,
politikus, ekonom, ibu rumah tangga, pedagang, penulis dan lain
sebagainya adalah juga beberapa profesi yang mulia.Muslimah juga
telah memperoleh hak mendapatkan pendidikan yang sejajar dengan laki-
laki, sayangnya sering pada skala implementasi belum mendapatkan
kesempatan untuk mengoptimalkan aset ilmu yang di peroleh untuk
kemajuan lingkungan di mana ia berada.

Jika rumah tangga adalah tanggungjawab perempuan semata dan bangunan


masyarakat yang komplek adalah daerah kekuasaan laki-laki, maka
dikotomi ini patut di robohkan. Mengapa? Karena di sinilah terjadi
pemborosan sumber daya manusia dan penyia-nyiaan potensi yang
seharusnya bisa dikembangkan di tengah masyarakat. Alasan jender
tidak bisa dijadikan legitimasi dikeluarkanya larangan bagi perempuan
untuk berkiprah di tengah masyarakat, karena dengan begitu justru
terjadi pengebirian potensi yang seharusnya bisa disinergikan menjadi
salah satu muara penting pencerahan di tengah masyarakat.

Muslimah dalam berbagai tingkatan juga mempunyai potensi dan


kemampuan yang sama bahkan terkadang lebih dari pada laki-laki di
beberapa sektor publik. Namun sayangnya karena lingkaran kultur dan
pemahaman pesan agama yang tekstual, mereka sering enggan atau
memilih tinggal di rumah daripada mensosialisasikan kapabilitas yang
dimilikinya. Padahal banyak peluang yang bisa dimasuki oleh muslimah
dengan potensi mereka.

Lalu bagaimana proses pensinergian potensi muslimah pada tataran


praktis? Hingga tidak hanya sekedar teori dan bagaimana pula menjaga
well-balance pada kehidupan berumah tangga disamping pengembangan
potensi di luar lingkungan keluarga? Satu hal yang perlu diluruskan
bahwa menjaga gawang keluarga, mendidik anak dan memperhatikan setiap
perkembangan emosional dan pendidikannya, serta menjadi nahkoda di
sektor domestik bukanlah harga mati tugas utama perempuan. Di mana
tidak ada bergaining dalam proses mekanisme pencapaiannya. Bukankah
situasi tiap orang berlainan yang menuntut strategi berlainan pula
dalam menangani keadaan tertentu?
Seorang ibu atau isteri pada satu waktu harus memperhatikan anak-
anaknya 24 jam sehari selama 20 tahun usia anak tersebut. Atau
melalui pola pendidikan di mana seorang ibu cukup memberi perhatian
dan kontrol pada proses pendewasaan anak tersebut tanpa mencurahkan
20 tahun perhatian tetapi hanya pada masa awal pertumbuhan anak
tersebut. Jika perbedaan ini diberlakukan pada semua keluarga atau
perempuan, sementara situasi tingkat pendidikan dan tuntutan
berkiprah di masyarakat sangat berlainan, maka kepincangan justru
bermula dari sini.

Seperti dalam prinsip The 7 Habits of Highly Effective Family pada


habit ke 6 adalah proses sinergi. Artinya suatu kekekuatan dinamik
yang dihasilkan dari korelasi antara satu bagian dengan bagian yang
lain akan menghasilkan sesuatu yang baru. Kekuatan itu bukan berasal
dari pengorbanan tetapi kemampuan memanage tantangan, dengan
mengidentifikasikan kemampuan dan mengolah perbedaan hingga sampai
pada kesimpulan prinsip "win-win".Di sinilah kemampuan muslimah
teruji, bagaimana ia bisa membaca lingkungan tempat kerja, mengatur
keluarga, mendidik anak dan tetap mengoptimalisasikan potensi diri.

Proses sinergi dalam kehidupan berumah tangga maupun dunia kerja bisa
dianalogikan bagaikan keterkaitan kerja anggota badan, dimana di sana
terdapat kerjasama erat antara kedua tangan, kepala, kaki, hati, otak
dan lain-lain. Kekuatan akan muncul dengan jalinan kooperasi yang
baik dan bagaimana keduanya menyambut perbedaan dan bersahabat dengan
lingkungan kita berada. Bila proses sinergi keluarga ini berhasil
maka pada tahapan selanjutnya sinergi potensi muslimah pun tidak
banyak mengalami kesulitan. Karena keberhasilan proses ini juga tidak
lepas dari seberapa besar ikatan emosi suami dan kerja sama yang
terjalin diantara keduanya. Hal itu berupa kesadaran suami dengan
potensi istri dan tidak menghalangi proses sosialisasi ilmu kepada
publik dan bergabung dalam keterikatan kerja, keterlibatan dalam
lingkungan dan aktualisasi dalam bentuk apapun jika alasan
partisipasi ini adalah dalam rangka optimalisasi diri, apalagi jika
proses kerja ini dalam rangka meringankan ekonomi keluarga.

Kerja atau optimalisasi kapabilitas muslimah tidak lah selalu


berasosiasi pada dunia kerja yang bersifat official dalam hitungan
jam kerja yang ketat, tapi itu bisa saja berbentuk kerja sosial di
LSM , bergabung dalam organisasi politik, kewanitaan, organisasi
dakwah dan lain sebagainya.Yang sering terlupakan adalah jika
optimalisasi ini sampai pada tingkat workaholic atau kerjamania,
hingga muslimah juga lupa bahwa tujuan utama proses sinergi potensi
ini adalah membumikan dan mensinergikan potensi untuk amar ma'ruf
nahi mungkar. Sering pada realisasinya, tugas mendidik anak dan
memperhatikan keluarga terbengkalai, meskipun tanggungjawab keluarga
dan mendidik anak adalah tanggungjawab bersama (suami dan isteri).
Keluarga tetap nomor satu, lalu memprioritaskan diantara mana yang
perlu di kedepankan lah yang patut menjadi pijakan, apa kelangsungan
keluarga atau partisipasi di masyarakat atau tugas mencari nafkah,
atau ketiganya bisa dilalui dalam waktu yang sama? Itu yang perlu
menjadi pertimbangan, bukan dengan mis-uderstanding terhadap pesan
agama tentang kedudukan muslimah yang bekerja atau yang
mengaktualisasikan diri.

Masyarakat di mana pun berada tentu sangat membutuhan ide dan


pemikiran para wanita hingga terkadang perannya tidak tergantikan.
Pada posisi inilah keterlibatan perempuan dalam masyarakat menjadi
wajib hukumnya. Di bidang politik misalnya, muslimah harus ada di
sana mewakili aspirasi kaum hawa.

Di bidang kedokteran barisan dokter muslimah sangat di butuhkan.


Bahkan signifikasi ini juga berlaku pada penanganan kasus-kasus
prostitusi, kenakalan remaja, anak jalanan atau dakwah sesama kaum
hawa sendiri.

Akhirnya kembali pada spirit ayat di atas bahwa bumi serta daya tarik
di dalamnya diciptakan untuk memenuhi harapan dan satisfaction
manusia tanpa ada bias jender di dalamnya. Maka jangkauan pelaksanaan
itu bisa berati bahwa posisi kholifah fi-l-ardh itu mengindikasikan
bahwa kiprah dan gerak muslimah sangatlah penting, setara dengan
kedudukan kaum adam.

Dan proyek memajukan dien ini akan terus menjadi harapan kosong bila
ummat Islam terus menakar sisi kebenaran dan kesholihahan seorang
isteri atau ibu dengan kepatuhannya dan tinggal diamnya di rumah
sementara wawasan dan cakrawala keilmuanya sangat dibutuhkan oleh
masyarakat luas.

Maka seyogyanyalah kita sejalan dengan Alqur'an sendiri yang selalu


berupaya untuk merekonstruksi tatanan masyarakat yang paternalistik
menuju bilateral demokratis.Yang menjunjung kebebasan berekspresi dan
mengoptimalisasikan potensi dengan proses sinergi.

Dari sinilah eliminasi pemborosan sumber daya manusia dimulai, menuju


proses konstruksi yanglebih segar. Tentu saja proses ini masih harus
mengalami jalan panjang (tadarruj fi tasyrii'), dengan harapan tidak
timbul permasalahan baru karena kesalahan memahami pemikiran ini,
karena tentu akan menginspirasikan kerancuan dalam implementasi
sinergi potensi muslimah dan kelalaiannya pada tugas alaminya.

Dukungan kaum laki-laki pada proses dinamisasi nilai dan pemahaman


pesan agama sangat besar, artinya memberi kesempatan dan peluang pada
kaum perempuan tidak akan mengurangi kualitas kelaki-lakian seseorang
tetapi justru menghasilkan satu kolaborasi indah lii'lai
kalimatillah. Wallahua'lam.

Karakter Umat Islam: Terbaik dan ‘Moderat’


13 November 2009

 UMAT Islam adalah khoiru ummah, umat terbaik yang menjadi teladan bagi umat manusia
dalam menjalani kehidupan ini dengan benar. Mereka beriman kepada Allah SWT.
Keimanannya ditunjukkan antara lain dengan perilaku senantiasa berbuat baik dan mengajak
orang lain dalam kebaikan, serta menghindari kemunkaran dan mencegah adanya kejahatan. 

“Kalian (umat Islam) adalah umat yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada kebaikan
dan mencegah kemunkaran, dan beriman kepada Allah�” (Q.S. 3:110).
Dengan keimanan kepada Allah SWT itu, umat Islam merupakan umat yang paling tinggi
derajatnya. Allah SWT menegaskan, umat Islam adalah umat terbaik atau paling tinggi
derajatnya di antara umat-umat lain. Hal itu karena umat Islam memiliki akidah, syariah, dan
norma-norma yang sesuai dengan fitrahnya sebagai manusia, yakni akidah, syariah, dan norma-
norma Islam yang diturunkan oleh Sang Mahapencipta dan Maha Pengatur Semesta Alam, yakni
Allah SWT.

“Janganlah kamu bersikap lemah dan janganlah bersedih hati, padahal kamulah orang-orang
yang paling tinggi derajatnya jika kamu orang-orang beriman” (Q.S. 3:139).

Kewajiban utama sebagai umat terbaik, selain beriman kepada Allah SWT, adalah melaksanakan
‘amar ma’ruf nahyi munkar, yakni mengajak manusia lain kepada kebaikan (ma’rufat) dan
mencegah kemunkaran (munkarat). Jika tugas tersebut tidak dilaksanakan, maka akibatnya
adalah sebagaimana disabdakan Nabi Saw, yang artinya:

“Demi Allah, hendaklah kamu beramat ma’ruf nahyi munkar atau Allah akan menurunkan adzab
kepadamu, lalu kamu berdoa kepada-Nya, maka Allah tidak akan mengabulkan doamu” (Q.S.
Tirmidzi).

Tugas ‘amar ma’ruf nahyi munkar ini diberikan kepada umat Islam, karena tujuan utama syariat
Islam itu sendiri adalah membangun kehidupan manusia atas dasar ma’rufat dan
membersihkannya dari munkarat. Ma’rufat adalah kebaikan, yakni nama untuk segala kebajikan
atau sifat-sifat baik yang sepanjang masa telah diterima sebagai baik oleh hati nurani manusia.
Munkarat sebaliknya, yaitu segala dosa dan kejahatan yang sepanjang masa telah dikutuk oleh
watak manusia sebagai jahat.

Dalam Islam, ma’rufat adalah hal-hal yang wajib, sunat, dan mubah dilakukan oleh umat Islam.
Sedangkan munkarat adalah hal-hal yang haram dan makruh dilakukan. Ma’rufat wajib
ditegakkan, sekaligus meruntuhkan munkarat.

Umat Pertengahan

“Demikianlah Kami jadikan kamu umat pertengahan, supaya kami menjadi saksi atas manusia”
(Q.S. 2:143);

Umat Islam juga berkarajter Umat Pertengahan, maksudnya adalah kelompok manusia yang
senantiasa bersikap moderat atau mengambil jalan tengah, yaitu sikap adil dan lurus, yang akan
menjadi saksi atas setiap kecenderungan manusia, ke kanan atau ke kiri, dari garis tengah yang
lurus. (Dr. Yusuf Qordhowi, 1995).

Mengambil jalan tengah dapat dimaknai pula sebagai selalu bersikap proporsional (i’tidal), tidak
berlebih-lebihan (israf), tidak kelewat batas (ghuluw), tidak sok pintar atau sok konsekuen dan
bertele-tele (tanathu’), dan tidak mempersulit diri (tasydid). Dengan demikian, sebagai umat
pertengahan, umat Islam tidak berlebih-lebihan dalam segala hal, termasuk ibadah (misalnya
sampai meninggalkan kehidupan duniawi) dan dalam peperangan sekalipun (Q.S. 2:190); tidak
membesar-besarkan masalah kecil; mendahulukan yang wajib atau lebih penting ketimbang yang
sunah atau kurang penting; berbicara seperlunya alias tidka bertele-tele; tidak terlalu panjang
membaca ayat-ayat dalam mengimami shalat berjamaah.

“Makan dan minumlah dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai
orang-orang yang berlebih-lebihan” (Q.S. Al-A’raf:31).

“Dan orang-orang yang jika membelanjakan harta mereka tidak berlebih-lebihan dan tidak pula
kikir dan pembelanjaan itu di tengah-tengah antara yang demikian” (Q.S. Al-Furqon:67).

Rasulullah Saw bersabda, yang artinya,

“Hindarkanlah daripadamu sikap melampuai batas dalam agama, karena sesungguhnya orang-
orang sebelum kamu telah binasa karenanya” (H.R. Ahmad, Nasa’i, Ibnu Majah, dan Al-Hakim
dari Abdullah bin Abbas).

Sebagai umat pertengahan, umat Islam tidak melakukan hal-hal ekstrem. Syekh Yusuf Qordhowi
mengkategorikan hal-hal berikut sebagai tanda-tanda ekstremitas.
Fanatik terhadap suatu pendapat dan tidak mengakui pendapat-pendapat lain.Mewajibkan
sesuatu yang tidak diwajibkan Allah SWT. Misalnya, memaksa orang lain mengerjakan hal-hal
sunah dengan menganggapnya seolah-olah wajib, atau mengerjakan sesuatu yang lebih
berat/sulit daripada yang ringan/mudah. Padahal, sejalan dengan firman Allah SWT yang
menghendaki kemudahan dan tidak menghendaki kesukaran (Q.S. 2:185).Memperberat yang
tidak pada tempatnya. Misalnya, memasalahkan pakaian ala Barat dan mengharuskan memakai
pakaian ala Arab, atau memasalahkan penggunaan masjid untuk memutar film tentang sejarah
dan iptek.Sikap kasar dan keras dalam berdakwah. Padahal, dakwah harus dilakukan dengan
bijak, pelajaran yang baik, serta perdebatan atau dialog yang lebih baik (Q.S. 16:25). Rasulullah
Saw sendiri adalah orang yang penyayang, lemah-lembut, dan tidak berperangai jahat atau kasar
hati (Q.S. 9:128, 3:159). Bahkan, Allah SWT pun memerintahkan Nabi Musa dan Harun untuk
mendakwahi Fir’aun dengan perkataan yang lemah-lembut (Q.S. 20:43-44). Sikap tegas dan
keras tidak diperkenankan Islam kecuali dalam dua tempat, yakni di medan perang (Q.S. 9:123)
dan dalam rangka pelaksanaan sanksi hukum (Q.S. 24:2).Buruk sangka terhadap manusia. Yakni
memandang orang lain dengan “kacamata hitam” atau negative thinking, seraya
menyembunyikan kebaikan mereka dan membesar-besarkan keburukan mereka. Menuduh juga
termasuk sikap ekstrem, demikian juga mengorek-ngorek aib dan mencari-cari kesalahan orang
lain. Padahal, Allah SWT memerintahkan umat Islam untik menghindari kebanyak buruk sangka
(Q.S. 49:12).Terjerumus kepada jurang pengkafiran. Ini puncak (klimaks) sikap ekstrem karan
mengkafirkan orang lain berarti menggugurkan kerhormatannya, menghalalkan jiwa dan
hartanya, serta mengabaikan haknya untuk tidak diganggu dan diperlakukan secara adil. Karena
itulah, Rasulullah Saw memperingatkan, “Barangsiapa berkata kepada saudaranya (sesama
Muslim) ‘Hai Kafir!’, maka berlakulah perkataan itu pada salah seorang dari keduanya”.
Wallahu a’lam. (ASMR).* 
 
penulis :ASM. Romli at warnaislam.com

SEJARAH PENINDASAN PEREMPUAN

SEJARAH PENINDASAN PEREMPUAN


Oleh : Agung Nugroho

“Tulisan
ini kupersembahkan untuk kaum perempuan sedunia, yang telah banyak
berjasa dalam merubah peradaban manusia. Dan juga untuk seluruh kaum
perempuan Indonesia yang sedang terus berjuang merebut kembali
hak-haknya”

Pengatar

Berbicara tentang penindasan


perempuan, memang penuh dengan kontrovesi. Banyak kalangan yang masih
terhegemoni pemikiran superioritas laki-laki menganggap bahwa bukanlah
penindasan jika perempuan diletakkan pada kodratnya. Sementara
dikalangan yang memiliki pemikiran egaliter, menganggap bahwa persoalan
kodrat tidaklah mengharuskan posisi perempuan menjadi tertindas.

Tulisan
ini dimaksud untuk meluruskan cara pandangan kita terhadap posisi
perempuan, tulisan ini tidak serta merta membela secara membabi-buta
tanpa melihat dari akar sejarah dari mana awal ketertindasan perempuan.

Sejarah Perkembangan Masyarakat, Menemukan Akar Awal Penindasan Perempuan

Peradaban
manusia dibumi tidak serta merta langsung berbentuk peradaban maju,
fase peradaban manusia sejalan dengan sejarah perkembangan masyarkat
yang pernah terjadi di bumi ini.

Sebelum muncul peradaban yang


saat ini sesuai dengan perkembangan masyarakat yang juga terjadi saat
ini. Sebelumnya dilalu oleh berbagai fase perkembangan masyarakat,
yaitu :
1.Jaman Komunal Primtif Nomaden
2.Jaman Pertanian Kolektiv Primitif
3.Jaman Perbudak
4.Jaman Industri

1.Jaman Komunal Primitif


Pada
jaman ini kehidupan manusia masih bersifat kolektif, dimana pembagian
tugas belum mengenal pemisahan berdasarkan gender (jenis kelamin)
pembagian tugas baru berdasarkan fungsi saja. Laki - perempuan, tua -
muda, semua memiliki tugas yang sama. Yaitu berburu, jaman ini tidak
mengenal pengecualian. Mereka yang tak mampu ikut berburu tidak akan
mendapat makan, mereka yang lemah baik laki-laki atau perempuan,
perempuan-perempuan yang sedang mengandung atau melahirkan akan
ditinggal kelompoknya yang hidup berpindah dari satu hutan ke hutan
lain untuk mencari sumber makan.

Mereka-mereka yang ditinggal


oleh kelompoknya banyak yang tak dapat bertahan hidup, tentu timbul
pertanyaan mengapa begitu kejam jaman ini ? betul hal ini dianggap
kejam jika kita melihat dari sisi norma yang ada dijaman kita saat ini.
Namun apa yang mereka lakukan saat itu sebatas untuk tidak terdapatnya
beban kolektif, meningat apda saat itu belum ditemukannya tekhnologi.
Mereka masih mengunakan dengan langsung apa yang mereka didapat dari
alam, batu, kayu, dan bekas tulang-tulang binatang. Belum lagi alam
yang mereka hadapi saat itu, yang masih ganas dan liar, dimana bahan
makan belum banyak tersedia. Sehingga jika mereka yang lemah dan tak
dapat ikut berburu harus diberi makan, itu artinya mereka harus
menambah beban mereka untuk memenuhi kebutuhan mereka dan dirinya.

Pada
jaman ini tingkat kematian begitu tinggi, ini dapat dilihat dari bukti
peninggalan yang terdapat dalam gua-gua purba yang ditemukan. Dimana
terdapat banyak tulang-tulang fosil bayi. Lantas bagaimana dengan
regenerasi pada saat itu ? bertahannya keturunan mereka lebih
disebabkan oleh kekuatan phisik individu, perempuan-perempuan yang
memiliki kelebihan dalam hal phisiklah yang mampu bertahan hidup baik
dirinya maupun anak yang mereka lahirkan. Dengan menggendong dan sambil
menyusui mereka tetap ikut berburu. Tangan kiri mengendong, tangan
kanan memegang alat untuk membunuh binatang. Tradisi ini masih diwarisi
sampai jaman sekarang dimana kaum ibu banyak menyusui anaknya disebelah
kiri.

2.Jaman Pertanian Kolektiv Primitif

Dengan
seringnya mereka yang lemah dan perempuan hamil dan menyusui yang tak
dapat ikut berburu ditinggal oleh kelompoknya. Lambat laun dari
generasi ke generasi mereka mulai dapat beradaptasi dengan
lingkungannya untuk dapat bertahan hidup. Disini mereka para perempuan
menemukan sitim pertanian primitif dan peternakan primitif.

Mereka
melihat biji sisa makanan yang merea makan, lama kelamaan bias tumbuh
kecambah dan terus tumbuh menjadi pohon, berbunga dan berbuah. Mereka
juga mencoba mejinakan hewan-hewan kecil yang dapat dipelihara dan
dimakan. Dan akhirnya muncul-lah pertanian dan peternakan yang
ditemukan oleh kaum perempuan.

Pada jaman ini perempuan memegang


peranan penting dalam upaya menjinakan dan mengelola alam. Pada jaman
inilah juga mulai ditemukan baju dari kulit pohon, dan binatang, dan
rumah dengan atap dedaunan, dan mata bajak.

Waktu yang terus


berputar, membuat kelompok yang dulu meninggalkan mereka kembali ke
hutan tempat mereka dulu meninggalkan anggota kelompoknya yang tak
dapat ikut berburu. Begitu mereka lihat bahwa anggota kelompoknya yang
dulu mereka tinggal dapat bertahan hidup, maka lahirlah kehidupan baru
dari yang semula nomaden menjadi maden atau menetap. Bravo ! untuk kaum
perempuan yang berhasil merubah peradaban !! Salute…untuk mereka yang
begitu struggle menghadapi hidup..!!

Dijaman ini pertanian


dikerjakan secara kolektif, belum ada pembagian tugas berdasarkan
gender, sama halnya dengan jaman komunal primitif. Dijaman inipula
mulai ditemukan pengobatan dan mulai munculnya orang yang berprofesi
dukun. ikatan darah pada saat ini masih mengikuti ibunya.

3.Jaman Perbudakan

Jaman
pertanian kolektif primitif berlangsung hingga ribuan tahun, berkembang
dan berkembang hingga munculah spesialisasi dalam masyarakat. Dimana
dengan muali adanya tekhnologi, pemikiran manusia mulai berkembang.
Mereka-mereka yang memiliki keahlian khusus dalam membuat alat, mulai
meninggalkan pertanian. Dan hanya menukar alat yang mereka buat dengan
hasil pertanian.

Pada akhirnya munculah ikatan yang dinamakan


keluarga (Family), mereka yang memiliki anggota keluarga yang banyak
otomatis memiliki hasil tani yang lebih banyak pula. Sementara mereka
yang sedikit jumlah anggota keluarganya hanya memiliki sedikit hasil
taninya.
Perubahan alam yang membuat para keluarga yang memiliki
hasil tani sedikit mulai kekurangan ahan pangan. Sehingga mau tidak mau
meminjam dari keluarga yang memiliki jumlah anggota yang banyak.
Disinilah mulai muncul yang namanya hutang piutang. Mereka yang tak
sanggup membayar hutang, maka lahan tanah dan alat produksinya disita
oleh yang menghutang, sementara dirinya menjadi hamba untuk menggarap
tanah bekas milikinya. Maka lahirlah jaman perbudakan…

Dijaman
perbudakaan inilah, posisi kaum perempuan mulai bergeser, dari yang
tadinya ikut berperan secara ekonomi dan politik. Peran perempuan
sedikit demi sedikit mulai bergeser menjadi pekerja domestik
(mengerjakan pekerjaan rumah tangga), walu masih terdapat sebagaian
kecil perempuan yang masih memegang peranan secara ekonomi dan politik,
namun sudah semakin kecil.

Dijaman perbudakan mulai muncul


perbedaan gender, dimana perempuan lebih murah harganya ketimbang budak
laki-laki. Dijaman ini pula para budak yang hendak menikahi budak
perempuan maka wajib menyerahkan terlebih dulu calon istrinya kepada
tuan budak untuk ditiduri. Pada jaman perbudakaan inilah mulai muncul
kasta dalam kehidupan masyarakat. Mereka yang memiliki budak terbanyak
menjadi pemimpin.

4.Jaman Feodal / Pertanian Modern

Pertentangan
yang semakin kuat antara para budak dan tuan budak melahirkan revolusi
kaum budak atau yang disebut “pemberontakan budak”. Dengan merdekanya
para budak, berubalah system masyarakat, dari perbudakaan menjadi
feodal. Mereka yang memiliki tanah pertanian mau tidak mau berkompromi
untuk memberlakukan sistim upah.

Dijaman feodal ini posisi


perempuan benar-benar tergeser dan masuk kedalam lembah pekerjaan
domestic. Dijaman ini pulalah garis keturunan berubah jadi mengikuti
bapak. Jaman ini juga disebut jaman patriakal, dimana dominasi
laki-laki terhadap perempuan menjadi penuh. Dijaman ini lahir satu kaum
yaitu kaum pedagang.

Dijaman ini perempuan tak ubahnya sebuah


barang, yang hanya digunakan sebagai pemanis dan kejayaan kaum laki.
Siapa yang banyak memiliki istri, merekalah yang dianggap berjaya dan
terhormat. Sementara di posisi kaum perempuan sering terjadi tekanan
batin, karena harus menghadapi kawin paksa.
Belum lagi ketika
sudah bersuami mereka harus siap dimadu dengan istri-istri baru
suaminya. Praktis dijaman feodal ini perempuan hanya diserahi tiga
tugas yaitu : Sumur, Kasur dan Dapur. Padangan terhadap kaum perempuan
pun semakin rendah mereka dianggap sebagai kaum yang lemah, dan harus
diberi perlindungan oleh kaum laki-laki. Perekonomian, perdagangan,
ilmu pengetahuan adalah hak kaum laki, memasak, urus anak, dan
bersih-bersih rumah menjadi hak kaum perempuan.

5.Jaman Industri

Jaman
feudal tumbang akibat berlangsungnya pemberontakan kaum buruh tani,
yang ditunggangi oleh kaum pedagang yang merasa hak-haknya terlalu
terbatas terhadap hak-hak para raja dan bangsawan. Pemberontakan ini
mulai mengkikis hak-hak para raja dan bangsawan. Tumbangnya jaman
feudal berganti dengan jaman industri, dimana semakin maju ketika
ditemukannya mesin uap.

Namun perubahan ini tetap tidak dapat


membebaskan peran perempuan, dimana para pengusaha masih melestarikan
budaya feudal yang berlaku terhadap kaum perempuan. Diskriminai
terhadap kaum perempuan semakin nyata, walaupun mereka menghargai
persamaan hak namun diskriminasi berdasarkan gender masih berlangsung.
Upah pekerja perempuan lebih murah, hak cuti hamil tidak diberikan,
pekerjaan domestic masih menjadi lahan perempuan.

Sampai
akhirnya terjadi gelombang aksi besar-besaran pada bulan maret tanggal
8, dimana kaumperempuan Amerika menuntut persamaan hak tanpa batas
terhadap diri mereka. Maka lahirlah hari perempuan sedunia yang selalu
diperingati setiap tanggal 8 Maret.

Kondisi Kaum Perempuan Saat ini

Walaupun
keberhasilan telah dicapai, namun dibelahan bumi lainnya terutama di
negera berkembang. Dimana sisa-sisa kekuasaan dan tradisi feudal masih
berlangsung. Posisi perempuan tidak menjadi lebih baik, persamaan hak
walau sudah didapat tapi masih terus diperdebatkan. Pelecehan terhadap
perempuan masih tinggi, pandangan terhadap perempuan masih sebtas
pandangan sebagai obyek seksual laki-laki.

Akankah lahir
kembali sebuah pemberontakan yang membuat kaum perempuan terbebas dari
segala sekat perbedaan gender ? alam dengan roda sejarahnya yang akan
menjawab. Tinggal kepada mereka yang merasa memiliki peradaban tinggi,
sudah seharusnya merubah cara pandang kita terhadap kaum perempuan.
Kodrat alamiah perempuan hanya satu yaitu dapat melahirkan, tapi kodrat
almiah tersebut rasanya kurang bijak jika kita tetap merendahkan peran
perempuan, mengingat merekalah kaum yang pertama kali merubah wajah
dunia. Atau kita masih ingin melanggengkan tradisi dan budaya jman
perbudakaan ? lantas dapatkah kita mengklaim bahwa diri kita adalah
orang yang memiliki peradaban yang tinggi ?