Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar belakang


Fraktur adalah suatu patahan pada kontinuitas struktur tulang. Patahan tadi mungkin tak
lebih dari suatu retakan, suatu pengisutan atau perimpilan korteks; biasanya patahan itu lengkap
dan fragmen tulang bergeser. Bilamana tidak ada luka yang menghubungkan fraktur dengan
udara luar atau permukaan kulit atau kulit diatasnya masih utuh ini disebut fraktur tertutup (atau
sederhana), sedangkan bila terdapat luka yang menghubungkan tulang yang fraktur dengan udara
luar atau permukaan kulit yang cenderung untuk mengalami kontaminasi dan infeksi ini disebut
fraktur terbuka.
Sebagian besar fraktur pada usia lanjut disebabkan karena kecelakaan didalam
rumah.Cidera ini sering terjadi akibat jatuh. Adanya tekanan dari lantai saat jatuh merupakan
sebagian dari penyebab fraktur. Diantaranya berbagai fraktur yang terjadi pada usia lanjut, salah
satunya adalah fraktur collum femoris. Kejadiannya pada wanita tiga kali lebih besar
dibandingkan dengan osteoporosis merupakan faktor predisposisi yang utama (Darmojo, 2000).
Fraktur collum femoris pada usia lanjut terjadi karena proses penurunan tensil strength
pada stiffness jaringan kolagen yang menyebabkan instabilitas persendian, selain itu
berkurangnya jaringan dan ukuran tulang secara keseluruhan yang akan menyebabkan kekuatan
dan kekakuan tulang menurun (Nordin, 1998). Sehigga pada lansia mudah terjadi trauma yang
menyebabkan patah tulang.
Fraktur pada collum femoris merupakan masalah kesehatan yang penting pada usia lanjut
dan sering kali merubah kehidupan seorang lanjut usia menjadi buruk. Maka dalam menangani
fraktur collum femoris diperlukan teknologi kesehatan yang canggih, apabila tidak mendapat
penanganan yang tepat akan menyebabkan necrosis caput femur. Namun pada saat ini kemajuan
teknologi kesehatan sudah dapat mengganti caput femur yang necrosis dengan operasi yaitu
pemasangan Tension Band Wiring (TBW). Dalam menggunakan TBW ini terdapat permasalahan
yang menyangkut kapasitas fisik dan kemampuan fungsional. Untuk itu fisioterapi bisa
memberikan terapi latihan untuk mengurangi nyeri, mengurangi oedema, mengurangi
keterbatasan lingkup gerak sendi. Meningkatkan kekuatan otot, dan yang pasti mengembalikan
pasien keaktifitas fungsional dengan tercapainya kemandirian (Karen, 1999).

1.2. Prevalensi
Lebih dari 250.000 fraktur pinggul terjadi di amerika serikat setiap tahun (50% termasuk
fraktur collum femur), dan jumlah ini diperkirakan dua kali lipat pada tahun 2040. 8o % terjadi
pada wanita, dan insidensinya menjadi 2 kali lipat setiap 5 hingga 6 tahun pada wanita usia
lebih dari 30 tahun.
Terdapat suatu bimodal insidensi, insiden pada pasien muda sangat rendah dan terutama
dikaitkan dengan trauma energi tinggi. Kebanyakan terjadi pada usia tua dengan umur rata-rata
72, sebagai hasil terjatuh dengan energy rendah.
Insiden fraktur collum femur di amerika serikat adalah 63,3 dan 27,7 tiap 100,000
populasi/tahun untuk pria dan wanita , secara respektif. Faktor resiko termasuk jenis kelamin
wanita, ras kulit putih, peningkatan umur,kesehatan yang buruk, pengguna tembakau dan
alcohol, riwayat fraktur terdahulu, riwayat terjatuh dan rendahnya kadar estrogen.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Pengertian dari fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan atau tulang rawan yang
umumnya disebabkan oleh rudapaksa. Sedangkan fraktur colum femur adalah fraktur yang terjadi
pada colum femur. Fraktur kolum femur merupakan fraktur intrakapsular yang terjadi pada
bagian proksimal femur, yang termasuk kolum femur adalah mulai dari bagian distal
permukaan kaput femoris sampai dengan bagian proksimal dari intertrokanter.

2.2 Etiologi
Fraktur kolum femur sering tejadi pada wanita yang disebabkan oleh kerapuhan tulang
akibat kombinasi proses penuaan dan osteoporosis pasca menopause. Fraktur dapat berupa
fraktur subkapital, transervikal dan basal, yang kesemuannya terletak didalam simpai sendi
panggul atau intrakapsular, fraktur intertrochanter dan sub trochanter terletak ekstra kapsuler.

2.3 Klasifikasi
Klasifikasi fraktur collum femur
• Fraktur intrakapsuler (collum femur )
• Fraktur extrakapsuler fraktur
Fraktur intrakapsuler ( collum femur ) dapat disebabkan oleh trauma langsung dan trauma
tidak langsung.
Trauma Langsung biasanya terjadi pada penderita dengan posisi miring dimana daerah
trochanter mayor langsung terbentur dengan benda keras, sedangkan pada trauma tidak langsung
disebabkan gerakan eksorotasi yang mendadak dari tungkai bawah. Akrena kepala femur terikat
kuat dengan ligament didalam acetabulum oleh ligament iliofemoral dan kapsul sendi,
mengakibatkan fraktur didaerah collum femur. Pada dewasa muda apabila terjadi fraktur
intrakapsuler (collum femur) berarti traumanya cukup hebat. Sedang kebanyakan pada fraktur
collum ini (intrakapsular), kebanyakan terjadi pada wanita tua (60 tahun keatas) dimana
tulangnya sudah mengalami osteoporotic. Trauma yang dialami oleh wanita tua ini biasanya
ringan (jatuh kepleset dikamar mandi).

Klasifikasi fraktur femur berdasarkan


a. Lokasi anatomi
b. Arah sudut garis patah
c. Dislokasi atau tidak dari fragmennya.

a. Berdasarkan lokasi anatomi dibagi menjadi 3 :


Fraktur subcapital
Fraktur transcervical
Fraktur basis collum femur

b. Berdasarkan arah sudut garis patah dibagi menurut Pauwel :


Tipe I : garis fraktur membentuk sudut 30° dengan bidang horizontal pada posisi tegak
Tipe II : garis fraktur membentuk sudut 30-50° dengan bidang horizontal pada posisi tegak
Tipe III: garis fraktur membentuk sudut >50° dengan bidang horizontal

Klasifikasi Pauwel’s untuk Fraktur Kolum Femur1


Klasifikasi ini berdasarkan atas sudut yang dibentuk oleh garis fraktur dan bidang
horizontal pada posisi tegak.

c. Dislokasi atau tidak fragment ( menurut Garden’s) adalah sebagai berikut :


Grade I : Fraktur inkomplit ( abduksi dan terimpaksi)
Grade II : Fraktur lengkap tanpa pergeseran
Grade III : Fraktur lengkap dengan pergeseran sebagian (varus malaligment)
Grade IV : Fraktur dengan pergeseran seluruh fragmen tanpa ada bagian segmen yang
bersinggungan.

Klasifikasi Garden’s untuk Fraktur Kolum Femur1

a. Manifestasi klinis dan pemeriksaan fisik.


Pada penderita muda ditemukan riwayat mengalami kecelakaan berat namun pada penderita usia
tua biasanya hanya dengan trauma ringan sudah dapat menyebabkan fraktur collum femur.
Penderita tidak dapat berdiri karena rasa sakit sekali pada pada panggul. Posisi panggul dalam
keadaan fleksi dan eksorotasi. Didapatkan juga adanya pemendekakan dari tungkai yang cedera.
Tungkai dalam posisi abduksi dan fleksi serta eksorotasi.pada palpasi sering ditemukan adanya
hematom di panggul. Pada tipe impacted, biasanya penderita masih dapat berjalan disertai rasa
sakit yang tidak begitu hebat. Posisi tungkai tetap dalam keadaan posisi netral.

Pada pemeriksaan fisik, fraktur kolum femur dengan pergeseran akan menyebabkan deformitas
yaitu terjadi pemendekan serta rotasi eksternal sedangkan pada fraktur tanpa pergeseran deformitas
tidak jelas terlihat. Tanpa memperhatikan jumlah pergeseran fraktur yang terjadi, kebanyakan pasien
akan mengeluhkan nyeri bila mendapat pembebanan, nyeri tekan di inguinal dan nyeri bila
pinggul digerakkan.

2.4 Diagnosis
Penegakan diagnosis berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan
penunjang didapatkan : adanya riwayat trauama/ jatuh yang diikuti nyeri pinggul, pada
pemerikasaan didapatkan posisi panggul dalam keadaan fleksi, eksorotasi dan abduksi, dari
pemeriksaan penunjang didaptkan

2.5 Pemeriksaan penunjang


Proyeksi AP dan lateral serta kadang juga dibutuhkan axial. Pada proyeksi AP kadang
tidak jelas ditemukan adanya fraktur pada kasus yang impacted, untuk ini diperlukan
pemerikasaan tambahan proyeksi axial.
Pergeseran dinilai melalui bentuk bayangan tulang yang abnormal dan tingkat
ketidakcocokan garis trabekular pada kaput femoris dan ujung leher femur. Penilaian ini
penting karena fraktur yang terimpaksi atau tidak bergeser ( stadium I dan II Garden ) dapat
membaik setelah fiksasi internal, sementara fraktur yang bergeser sering mengalami non
union dan nekrosis avaskular.

2.6 Terapi
Impacted Fraktur

Pada fraktur intrakapsuler terdapat perbedaan pada daerah collum femur disbanding fraktur
tulang di tempat lain. Pada collum femur-periosteumnya sangat tipis sehingga daya osteogenesinya
sangat keci, sehingga seluruh penyambungan fraktur collum femur boleh dikata tergantung pada
pembentukan calus endosteal. Lagipula aliran pembuluh darah yang melewati collum femur pada
fraktur collum femur terjadi kerusakan. Lebih-lebih lagi terjadinya haemarthrosis akan menyebabkan
aliran darah sekitar fraktur tertekan alirannya. Maka mudah dimengerti apabila terjadi fraktur
intrakapsuler dengan dislokasi akan terjadi avaskular nekrosis.
Penanggulangan Impacted Fraktur

Pada fraktur, collum femur yang benar-benar impacted dan stabil. Makka penderita masih
dapat berjalan selama beberapa hari. Gejalanya ringan, sakit sedikit pada daerah panggul. Kalau
impactednya cukup kuat penderita dirawat 3-4 minggu kemudian diperbolehkan berobat jalan
dengan memakai tongkat selama 8 minggu. Kalau pada x-ray foto impactednya kurang kuat
ditakutkan terjadi disimpacted, penderita dianjurkan untuk operasi dipasang internal fixation.
Operasi yang dikerjakan untuk impacted fraktur biasanya dengan multi pin teknik percutaneus.

Penanggulangan dislokasi fraktur collum femur

Penderita segera dirawat dirumah sakit, tungkai yang sakit dilakukan pemasangan tarikan
kulit (skin traction) dengan buck-extension. Dalam waktu 24-48 jam dilakukan tindakan
reposisi, yang dilanjutkan dengan pemasangan internal fixation. Reposisi yang dilakukan dicoba
dulu dengan reposisi tertutup dengan salah satu cara yaitu: menurut leadbetter. Penderita
terlentang dimeja operasi. Asisten memfiksir pelvis. Lutut dan coxae dibuat fleksi 90 untuk
mengendurkan kapsul dan otot-otot sekitar panggul. Dengan sedikit adduksi paha ditarik ke atas,
kemudian dengan pelan-pelan dilakukan gerakan endorotasi panggul 45. Kemudian sendi
panggul dilakukan gerakan memutardengan melakukan gerakan abduksi dan ekstensi. Setelah
itu dilakuakn test.

Palm heel test: tumit kaki yang cedera diletakkan diatas telapak tangan. Bila posisi kaki tetap
dalam kedudukan abduksi dan endorotasi berarti reposisi berhasil baik. Setelah reposisi berhasil
dilakukan tindakan pemasangan internal fiksasi dengan teknik multi pin percutaneus. Kalau
reposisi pertama gagal dapat diulangi sampai 3 kali, dilakukan open reduksi. Dilakukan reposisi
terbuka setelah tereposisi dilakukan internal fiksasi. Macam-macam alat internal fiksasi
diantaranya: knowless pin, cancellous screw, dan plate.

Pada fraktur collum femur penderita tua (>60 tahun) penanggulangannya agak berlainan. Bila
penderita tidak bersedia dioperasi atau dilakukan prinsip penanggulangan: do nothing dalam arti
tidak dilakukan tindakan internal fiksasi, caranya penderita dirawat, dilakukan skin traksi 3
minggu sampai rasa sakitnya hilang. Kemudian penderita dilatih berjalan dengan menggunakan
tongkat (cruth). Kalau penderita bersedia dilakukan operasi, akan digunakan prinsip pengobatan
do something yaitu dilakukan tindakan operasi arthroplasty dengan pemasangan prothese
austine moore.

2.7 Komplikasi
Komplikasi umum yang biasa menyertai cedera atau operasi pada manula cenderung akan
terjadi, terutama thrombosis vena betis, embolisme paru, pneumonia dan ulkus dekubitus: belum
lagi kelainan yang mungkin telah ada sebelum fraktur dan yang mengakibatkan kematian pada
banyak kasus. Pada beberapa pusat perawatan, antikoagulan digunakan secara rutin.
Nekrosis avaskular terjadi pada sekitar 30% pasien dengan pergeseran fraktur dan 10%
pasien fraktur tanpa pergeseran. Tidak ada cara untuk mendiagnosis hal ini pada saat terjadi
fraktur. Beberapa minggu kemudian, scan nanokoloid dapat memperlihatkan berkurangnya
vaskularitas. Perubahan pada sinar-X –meningkatnya kepadatan kaput femoris- mungkin tidak
nyata selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun. Baik fraktur itu menyatu atau tidak,
kolapsnya kaput femoris akan menyebabkan nyeri dan semakin hilangnya fungsi. Terapinya
adalah dengan penggantian sendi total.
Non-union lebih dari sepertiga fraktur leher femur tidak menyatu, dan resiko ini terutama
mengancam pasien yang mengalami pergeseran berat. Terdapat banyak penyebab: buruknya
pasokan darah, tak sempurnanya reduksi, tak mencukupinya fiksasi, dan lambatnya
penyembuhan yang merupakan tanda khas untuk fraktur intra-artikular.
Tulang di tempat fraktur remuk, fragmen terpecah dan paku atau sekrup menjebol keluar dari
tulang atau menjulur ke lateral. Pasien mengeluh nyeri, tungkai memendek dan sukar berjalan.
Sinar X menunjukkan hasil yang mengecewakan.
Metode terapi bergantung pada penyebab non union dan pada umur pasien.
Pada pasien yang relatif muda, terdapat tiga prosedur. (1) kalau fraktur terlalu vertical, tetapi
kaput tetap dapat hidup, osteotomi subtrokanter dengan fiksasi paku plat mengubah garis fraktur
sehingga membentuk sudut yang lebih horizontal. (2) kalau reduksi atau fiksasi salah dan tidak
terdapat tanda-tanda nekrosis, sekrup itu pantas dibuang, fraktur direduksi, sekrup yang baru
disisipkan dengan benar dan juga menyisipkan cangkokan fibula pada fraktur itu; (3) kalau
kaput bersifat avaskular, kaput ini dapat diganti dengan prosthesis logam; kalu sudah terdapat
arthritis, diperlukan pergantian total.
Pada pasien yang berusia lanjut, hanya dua prosedur yang harus dipertimbangkan. (1) kalau
nyeri tidak hebat, pengangkatan tumit dan penggunaan tongkat yang kuat atau kruk penopang
siku sering mencukupi. (2) kalau nyerinya hebat, maka, tak peduli apakah kaput avaskular atau
tidak, kaput ini terbaik dibuang; kalau pasien cukup sehat, dilakukan penggantian sendi total.
Osteoarthritis nekrosis avaskuler atau kolapsnya kaput femoris dapat mengakibatkan
osteoarthritis sekunder setelah bebearapa tahun. Kalau terdapat banyak kehilangan gerakan
sendi dan kerusakan meluas ke permukaan sendi, diperlukan pergantian sendi total.