Anda di halaman 1dari 3

Epistaksis Posterior et causa Curiga

Hipertensi dan Kelainan Kardiovarkuler


Dibuat oleh: Dewi Lestari,Modifikasi terakhir pada Wed 01 of Sep, 2010 [01:32 UTC]

ABSTRAK

Dilaporkan suatu kasus epistaksis posterior di rsud temanggung pada seorang laki-laki
berusia 45 tahun dengan keluhan keluar darah dari hidung yang tidak berhenti sejak 8 jam
sebelum masuk rumah sakit, darah mengalir dirasakan sampai keluar dari mulut. Penderita
tampak lemah dan kesakitan dengan tekanan darah 140/90 mmhg. Pada pemeriksaan fisik
telinga tidak ada kelainan. Cairan darah mengalir dari kedua lubang hidung, mukosa
menebal, hiperemi, konka hipertrofi dan nyeri pada palpasi, tidak didapatkan krepitasi. Pada
tenggorokan terdapat sekret darah, post nasal drip, lender, dan tonsil tidak membesar. Dari
pemeriksaan darah rutin menunjukkan angka dalam batas normal. Rotgen thorax
menggambarkan pulmo dalam batas normal dan kardiomegali. CT scan sinus paranasal posisi
water’s ditemukan sinusitis maksilaris et etmoidalis, suspect perdarahan atau massa.
Penderita ini didiagnosis epistaksis posterior et causa curiga hipertensi dan kelainan
kardiovarkuler. Diberikan terapi infus ringer laktat 24 tetes per menit, pasang bellocq
tampon, obat hemostatik, antibiotik, dan analgetik.

Kata Kunci: epistaksis –epistaksis posterior- hipertensi- kardiovaskuler-belloq tampon

Kasus

Seorang laki-laki berumur 45 tahun datang dengan keluhan keluar darah dari hidung yang
tidak berhenti sejak 8 jam sebelum masuk rumah sakit, darah mengalir dirasakan sampai
keluar dari mulut. Penderita merasakannya secara tiba-tiba disertai pusing, mual tetapi tidak
muntah. Pasien belum melakukan penanganan apapun kecuali membersihkan darah yang
mengalir. Penderita mengaku belum pernah mengalami keluhan serupa, tidak ada riwayat
operasi, tidak menjalani pengobatan jangka panjang, tidak ada riwayat trauma, penyakit
serius maupun alergi. Penderita tampak lemah dan kesakitan dengan tekanan darah 140/90
mmHg. Pada pemeriksaan fisik telinga, hidung, dan tenggorokan didapatkan sebagai berikut:

Telinga

Auricula: tampak tenang, tidak ada kelainan congenital, tidak ada tanda-tanda peradangan,
tidak fistula, sikatrik, edema, benjolan, hiperemi. CAE: serumen – otore-, membrane timpani
utuh.

Hidung

Cairan darah mengalir dari kedua lubang hidung, mukosa menebal, hiperemi, septum deviasi
(-), konka hipertrofi, nyeri pada palpasi, krepitasi (-)

Tenggorokan

Orofaring: tidak ada tanda-tanda peradangan, tidak ada jaringan granulasi, edema (-) sekret
darah (+), post nasal drip (+), tonsil T1-T1, lateral band, lendir (+), penebalan mukosa (-),
palatum mole: tidak ada tanda-tanda peradangan.

Dari pemeriksaan darah rutin menunjukkan angka dalam batas normal. Rotgen thorax
menggambarkan pulmo dalam batas normal dan kardiomegali. Pada CT scan sinus paranasal
posisi water’s ditemukan sinusitis maksilaris et etmoidalis, lesi inhomogen di intracavum
nasi, choane, faring, nasofaring sampai orofaring proximal suspect perdarahan atau massa.
Setelah anamnesa dan serangkaian pemeriksaan, penderita ini didiagnosis epistaksis posterior
et causa curiga hipertensi dan kelainan kardiovarkuler. Diberikan terapi infus Ringer laktat 24
tetes per menit, pasang Bellocq tampon, obat hemostatik, antibiotik, dan analgetik.

Diskusi

Epistaksis adalah perdarahan yang keluar dari lubang hidung, rongga hidung, dan nasofaring.
Penyakit ini disebabkan oleh kelainan lokal maupun sistemik. Epistaksis ini merupakan
masalah klinis yang berbahaya terutama bila berasal dari bagian hidung paling dalam yaitu
arteri sfenopalatina dan arteri etmoidalis posterior. Sering terjadi pada usia lanjut yang
menderita hipertensi, arteriosclerosis, atau penyakit kardiovaskuler. Perdarahan biasanya
hebat dan jarang berhenti spontan, namun seringkali menunjukkan gejala yang tidak terlalu
khas seperti mual, muntah darah, batuk darah, dan anemia. Pada epistaksis posterior,
sebagian besar darah masuk ke mulut sehingga pemasangan tampon anterior tidak dapat
menghentikan perdarahan.

Epistaksis dapat disebabkan oleh kelainan lokal dan umum atau kelainan sistemik
diantaranya trauma, infeksi, neoplasma, kelainan congenital, benda asing dan perforasi
septum, pengaruh lingkungan, kelainan darah (trombositopenia, hemofilia, leukemia),
penyakit kardiovaskuler, dan gangguan endokrin. Penyebab yang paling mungkin pada
penderita ini adalah kelainan vaskuler didukung dengan tekanan darah penderita yang tinggi
dan gambaran kardiomegali pada foto thorax. Hipertensi dan kelainan pembuluh darah seperti
pada aterosklerosis, nefritis kronik, sirosis hepatis, sifilis, dan diabetes melitus dapat
menyebabkan epistaksis. Episteksis akibat hipertensi biasanya hebat, sering kambuh dan
prognosisnya tidak baik.

Pemeriksaan yang adekuat menggunakan speculum hidung untuk membersihkan, dan


observasi tempat penyebab perdarahan. Pemeriksaan lain yang diperlukan berupa rinoskopi
anterior, rinoskopi posterior, rotgen atau CT scan sinus paranasal, dan skrining terhadap
koagulopati. Prinsip utama dalam menanggulangi epistaksis yaitu menghentikan perdarahan,
mencegah komplikasi dan berulangnya epistaksis. Perdarahan posterior lebih sulit diatasi
karena sumber perdarahan sulit dicari dengan rinoskopi anterior. Untuk mengatasinya
dilakukan pemasangan tampon Bellocq. Tampon ini harus menutupi koane (nares posterior).
Tampon dipasang selama 2-3 hari disertai dengan pemberian antibiotik peroral untuk
mencegah infeksi pada sinus maupun telinga tengah. Pemasangan tampon dapat
menyebabkan sinusitis, otitis media dahkan septicemia. Oleh karena itu antibiotic harus
selalu diberikan pada setiap pemasangan tampon hidung. Setelah 2-3 hari tampon harus
dicabut, meskipun akan dipasang tampon baru bila masih ada perdarahan. Selama
pemasangan tampon, kenyamanan pasien akan terganggu sehingga perlu diberikan analgetik
atau sedative untuk mengontrol rasa nyeri. Disamping tindakan ini juga bisa diberikan
hemostatik untuk membantu menghentikan perdarahan. Sebagai akibat perdarahan yang
hebat dapat terjadi anemia dan syok serta turunnya tekanan darah yang mendadak dapat
menimbulkan masalah pada jantung sehingga harus diberikan infus atau transfusi darah
secepatnya. Pada epistaksis berat dan berulang yang tidak dapat diatasi dengan pemasangan
tampon anterior maupun posterior dapat dilakukan ligasi arteri.

Kesimpulan

Telah dilaporkan kasus epistaksis posterior pada seorang laki-laki 45 tahun penderita
hipertensi dan kelainan kardiovaskuler yang ditangani dengan tampon Bellocq, hemostatik,
antibiotic, dan analgetik.

Referensi

Admin. 2009 Epistaksis. Diakses pada tanggal 9 Agustus 2009 dari http://medlinux.
blogspot.com/2009/02/epistaksis.html

Ichsan, M. 2001 Penatalaksanaan Epistaksis. Laboratorium/SMF Bagian Telinga, Hidung,


dan Tenggorokan. Fakultas Kedokteran Syah Kuala. Aceh

Nuty & Endang. 2002 Buku Ajar Ilmu THT, Kepala dan Leher edisi 5. Jakarta: Balai Penerbit
FK UI.