Anda di halaman 1dari 125

LAPORAN KERJA PRAKTEK

STUDI PROSES PENJERNIHAN AIR


MINUM DI INSTALASI PENJERNIHAN AIR
SIWALAN PANJI PDAM DELTA TIRTA
KABUPATEN SIDOARJO

Oleh :

ANDRI KOESAFANDY
0552010004

SUNARYO MEI JAYANTO


0552010016

JANUAR TRI KURNIAWAN


0552010022

JURUSAN TEKNIK LINGKUNGAN


FAKULTAS TEKNIK SIPIL & PERENCANAAN
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN”
JATIM
SURABAYA
2008
LAPORAN KERJA PRAKTEK

STUDI PROSES PENJERNIHAN AIR


MINUM DI INSTALASI PENJERNIHAN AIR
SIWALAN PANJI PDAM DELTA TIRTA
KABUPATEN SIDOARJO
untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam memperoleh
Gelar Sarjana Teknik ( S-1)

JURUSAN TEKNIK LINGKUNGAN

Oleh :

ANDRI KOESAFANDY
0552010004

SUNARYO MEI JAYANTO


0552010016

JANUAR TRI KURNIAWAN


0552010022

FAKULTAS TEKNIK SIPIL & PERENCANAAN


UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN”
JATIM
SURABAYA
2008
LAPORAN KERJA PRAKTEK

STUDI PROSES PENJERNIHAN AIR


MINUM DI INSTALASI PENJERNIHAN AIR
SIWALAN PANJI PDAM DELTA TIRTA
KABUPATEN SIDOARJO
Oleh :

ANDRI KOESAFANDY
0552010004

SUNARYO MEI JAYANTO


0552010016

JANUAR TRI KURNIAWAN


0552010022

Telah diperiksa dan disetujui


Jurusan Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik Sipil & Perencanaan
Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur

Mengetahui Menyetujui
Ketua Jurusan Dosen Pembimbing
Teknik Lingkungan

Okik H. C., ST, MT


NIP : 997.500.172

Ir. Tuhu Agung R., MT Euis Nurul H., ST


NIP : 030.196.525 NIP : 997.700.174

Laporan Kerja Praktek ini telah diterima sebagai salah satu persyaratan
Untuk memperoleh gelar sarjana (S1), tanggal : ……

Dekan Fakultas Teknik Sipil Dan Perencanaan

DR.Ir. Edi Mulyadi,S.U.


NIP. 030.181.517
LEMBAR PENGESAHAN KERJA PRAKTEK

Nama : Andri Koesafandy–Sunaryo Mei Jayanto–Januar Tri K.

N.P.M : 0552010004 – 0552010016 – 0552010022

Jurusan : Teknik Lingkungan

Judul laporan K.P. :Studi Proses Penjernihan Air Minum di Instalasi


Penjernihan Air Siwalan Panji PDAM Delta Tirta
Kabupaten Sidoarjo

telah melaksanakan kerja praktek


di PDAM Delta Tirta Kabupaten Sidoarjo
mulai tanggal 03 Maret 2008 s/d 03 April 2008
dan menyelesaikan semua kewajiban tugas praktek

Menyetujui,

Pembimbing Lapangan Pembimbing Lapangan


Kepala Litbang Plh. Kasi IPA Siwalan Panji

Ir. Bambang Ribut S. Imam Chudori


NIP: 661.196.196 NIP:
KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan

hidayah-Nya sehingga penyusun dapat menyelesaikan Laporan Kerja Praktek

“Studi Proses Penjernihan Air Minum di Instalasi Penjernihan Air (IPA) Siwalan

Panji PDAM Kabupaten Sidoarjo” dengan baik.

Laporan Kerja Praktek ini merupakan salah satu persyaratan bagi setiap

mahasiswa Jurusan Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik Sipil Dan Perencanaan,

UPN “Veteran” Jawa Timur untuk mendapatkan gelar sarjana.

Selama menyelesaikan tugas ini, kami telah banyak memperoleh

bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak, untuk itu pada kesempatan ini

penyusun ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Orang tua dan keluarga tercinta yang memberikan dukungan baik secara

moral maupun material.

2. Bapak DR. Ir. Edy Mulyadi, SU, selaku Dekan Fakultas Teknik Sipil Dan

Perencanaan UPN “Veteran” Jawa Timur.

3. Bapak Ir. Tuhu Agung R., MT , selaku Ketua Jurusan Teknik Lingkungan

UPN “Veteran” Jawa Timur.

4. Bapak Okik Hendriyanto C., ST. MT, selaku Dosen Pembimbing kami.

5. Ibu Euis Nurul H., ST, selaku Dosen Pembimbing kami.

6. Direksi PDAM Delta Tirta Kabupaten Sidoarjo

7. Bapak Ir. Bambang Ribut, selaku Kepala Litbang PDAM Kabupaten

Sidoarjo dan selaku Pembimbing Lapangan.

i
ii

8. Bapak Imam Chudori, selaku Plh. Kepala Seksi Pengolahan IPA Siwalan

Panji dan selaku Pembimbing Lapangan.

9. Ibu Ardhiyani Puspitaningtyas, selaku Plt. Kabag Produksi PDAM

Kabupaten Sidoarjo

10. Bapak Drajat Tjahjono, selaku Kepala Sub Bagian Tata Usaha PDAM

Kabupaten Sidoarjo

11. Seluruh staf dan karyawan PDAM Kabupaten Sidoarjo.

12. Para Operator yang berada di IPA Siwalan Panji.

13. Semua teman-teman TL ’05 yang banyak banget memberi saran, bantuan

dan dukungan dalam penyelesaian laporan ini. Atur nuhun yak.

14. Mbak Leli TL ’04 terima kasih buat saran dan bantuannya.

15. Dan buat semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan laporan

kerja praktek kami.

Penyusun menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penyusunan

laporan kerja praktek ini, untuk itu saran dan kritik yang membangun akan

penyusun terima. Akhir kata penyusun berharap agar laporan ini dapat bermanfaat

dan mohon maaf yang sebesar-besarnya apabila didalam laporan ini terdapat kata-

kata yang kurang berkenan atau kurang dipahami.

Surabaya, Juni 2008

Penyusun
iii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i

DAFTAR ISI iii

DAFTAR GAMBAR vii

DAFTAR TABEL ix

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang 1

1.2. Maksud dan Tujuan 2

1.3. Batasan Masalah 3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Sumber Air 4

2.2. Pengolahan Air Bersih 5

2.3. Jenis-jenis Bangunan Pengolah Air Minum 10

2.3.1. Intake 10

2.3.1.1. Umum 10

2.3.2. Bangunan Prasedimentasi 18

2.3.2.1. Zona pada Bangunan Prasedimentasi 19

2.3.3. Bangunan Pengaduk Cepat (Flash Mix) 21

2.3.3.1. Prinsip Proses 24

2.3.3.2. Proses Koagulasi 25

2.3.3.3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Proses 26

2.3.4. Bangunan Pengadukan Lambat (Slow Mix) 30


iv

2.3.4.1. Prinsip Proses 30

2.3.4.2. Cara-cara Pengadukan Lambat 31

2.3.5. Bangunan Filter 34

2.3.5.1. Jenis-jenis Bangunan Filter 34

2.3.5.2. Mekanisme Filtrasi 38

2.3.5.3. Prinsip Proses Bangunan Filter 41

2.3.6. Bangunan Desinfeksi 43

2.3.7. Reservoar 47

BAB III DISKRIPSI UMUM PERUSAHAAN

3.1. Sejarah dan Perkembangan PDAM Sidoarjo 48

3.1.1. Sejarah PDAM Sidoarjo 48

3.1.2. Perkembangan PDAM Sidoarjo 49

3.2. Lokasi 51

3.3. Permodalan dan Perijinan 53

3.3.1. Permodalan 53

3.3.2. Perijinan 53

3.4. Struktur Organisasi 53

3.5. Ketenagakerjaan 58

3.5.1. Kebutuhan Tenaga dan Jam Kerja 58

3.5.2. Fasilitas Karyawan 58

3.6. K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja) 59

3.6.1. Perlindungan 59

3.6.2. Kebijakan Strategi dari Perusahaan 60


v

BAB IV PROSES PRODUKSI

4.1. Proses Produksi

4.1.1. Tahapan Pengolahan di Instalasi Penjernihan Air Siwalan Panji 61

4.1.2. Bahan Kimia yang Digunakan dalam Proses Pengolahan 66

4.2. Unit-unit Pengolahan Instalasi Penjernihan Air Siwalan Panji 66

4.2.1. Intake 66

4.2.2. Bak Pengumpul I 69

4.2.3. Dosing 70

4.2.4. Unit Pipa Pengaduk cepat/ Flash mix 73

4.2.5. Unit Klarifier 74

4.2.6. Bak Pengumpul II 77

4.2.7. Unit Filtrasi 78

4.2.8. Unit Desinfeksi 81

4.2.9. Reservoar 82

4.2.10. Pompa dan Blower 83

4.3. Utilitas 85

4.3.1. Pengadaan Air Baku 85

4.3.2. Kualitas Air Baku 85

4.3.2.1. Karakteristik Air Baku 86

4.3.3. Analisa Laboratorium 94

4.3.4. Penyediaan Energi Listrik 95


vi

BAB V TUGAS KHUSUS

5.1. Perhitungan Bak Sedimentasi 96

5.1.1. Zona Settling 96

5.1.2. Zona Inlet 99

5.1.3. Zona Sludge 101

5.1.4. Zona Outlet 102

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan 107

6.2. Saran 107

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN
vii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1. Direct Intake 13

Gambar 2.2. Kanal Intake 14

Gambar 2.3. River Intake 15

Gambar 2.4. Zona dalam Prasedimentasi 20

Gambar 3.1. Lokasi PDAM Kabupaten Sidoarjo 52

Gambar 3.2. Struktur Organisasi 57

Gambar 4.1. Intake dan Screen 68

Gambar 4.2. Bak Pengumpul I 69

Gambar 4.3. Tangki pengenceran dan Tangki larutan PAC 71

Gambar 4.4. Tangki Penampung dan Tangki Pelarut Dukem 72

Gambar 4.5. Bagian dalam dari Pipa Flash Mix & gambar Pipa Flash Mix 73

Gambar 4.6. Unit Flokulator Klarifier Rektangular 74

Gambar 4.7. Klarifier Sirkular 5 l/detik 76

Gambar 4.8. Klarifier Rectangular 5 l/detik 76

Gambar 4.9. Klarifier Bentuk Limas Terpancung 50 l/detik 77

Gambar 4.10. Bak Pengumpul II 78

Gambar 4.11. Unit Filtrasi 80

Gambar 4.12. Doser Gas Khlor 81

Gambar 4.13. Pipa Injeksi Gas Klor 82

Gambar 4.14. Tabung Gas Klor 82

Gambar 4.15. Unit Reservoar 82


viii

Gambar 4.16. Pompa Air Baku (submersible) 83

Gambar 4.17. Pompa Distribusi 83

Gambar 4.18. Pompa Dosing 84

Gambar 4.19. Pompa Filter 84

Gambar 4.20. Blower 84


ix

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1. Karakteristik Air Permukaan dan Air Tanah 5

Tabel 2.2. Pemilihan Lokasi Intake 12

Tabel 4.1. Parameter Air Baku 86


BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Air merupakan salah satu kebutuhan yang paling dibutuhkan oleh

makhluk hidup. Akhir - akhir ini kebutuhan akan air bersih, baik didaerah

perkotaan ataupun pedesaan, semakin meningkat seiring dengan

bertambahnya jumlah penduduk di daerah tersebut. Pembangunan instalasi

penjernihan air minum yang berfungsi sebagai penyedia air bersih sangat

diperlukan agar masyarakat dapat menikmati air bersih yang terjamin kualitas,

kuantitas maupun kontinuitas.

Pada umumnya bahan baku dari instalasi pengolahan air minum ini

berasal dari badan air terdekat atau biasa berupa air permukaan (sungai) dan

air tanah. Namun tidak selamanya kualitas dari air baku ini baik, ada kalanya

kualitas dari air baku ini menjadi turun, hal ini disebabkan oleh beberapa

faktor antara lain, kegiatan manusia (industri dan domestik), faktor fisika,

kimia, biologis dan juga faktor alam (cuaca, letak geografis, dll), sehingga

akan mempengaruhi proses pengolahan air minum pada suatu instalasi

pengolahan, dimana masing – masing instalasi tersebut memiliki jenis unit

pengolahan yang berbeda – beda.

Sehubungan dengan hal tersebut di atas, maka kami bermaksud untuk

melakukan Kerja Praktek di PDAM Delta Tirta Kabupaten Sidoarjo yang

1
2
LAPORAN KERJA PRAKTEK DI IPA SIWALAN PANJI

memiliki instalasi pengolahan air minum salah satunya adalah Instalasi

Pengolahan Air Siwalan Panji PDAM Delta Tirta Kabupaten Sidoarjo.

Dalam proses produksinya Instalasi Pengolahan Air Siwalan Panji

PDAM Delta Tirta Kabupaten Sidoarjo menggunakan air baku dari air

permukaan yaitu air Sungai Afvoor di Kecamatan Buduran, yang kemudian di

olah menjadi air minum sesuai Kepmenkes RI: No. 907/SK/VII/2002.

Bangunan pengolahan air minum yang terdapat di Instalasi Pengolahan Air

Siwalan Panji PDAM Delta Tirta Kabupaten Sidoarjo antara lain Intake, Bak

pengumpul I, Koagulasi – Flokulasi, Klarifier, Bak pengumpul II, Filter,

Klorinasi, Reservoar.

1.2. Maksud dan Tujuan

Adapun maksud dan tujuan dari Pelaksanaan Kerja Praktek ini adalah :

1. Mempelajari kesesuaian antara teori yang diperoleh dalam

mempelajari disiplin ilmu Pengolahan Air Minum (PAM) di Jurusan

Teknik Lingkungan FTSP-UPN “Veteran” Jawa Timur, dengan

kondisi penerapan di lapangan pada Instalasi Pengolahan Air Siwalan

Panji PDAM Delta Tirta Kabupaten Sidoarjo.

2. Menganalisa kinerja dan kualitas produksi unit pengolahan air minum

Instalasi Pengolahan Air Siwalan Panji PDAM Delta Tirta Kabupaten

Sidoarjo.
3
LAPORAN KERJA PRAKTEK DI IPA SIWALAN PANJI

1.3. Batasan Masalah

Batasan – batasan pada Kerja Praktek ini meliputi:

1. Secara Umum:

□ Pengenalan perusahaan secara umum meliputi sejarah berdirinya

perusahaan, struktur organisasi, K3 dan lain sebagainya.

2. Secara Khusus:

□ Pengamatan terhadap tahapan proses pengolahan air minum setiap unit

bangunan.

□ Menganalisa sistem yang ada di Instalasi Pengolahan Air Siwalan

Panji PDAM Delta Tirta Kabupaten Sidoarjo yang meliputi :

ƒ Kapasitas pengolahan dan kapasitas produksi.

ƒ Analisa mutu / kualitas air hasil produksi.

3. Pengumpulan data sekunder tentang kualitas air baku dan kualitas air

hasil produksi Instalasi Pengolahan Air Siwalan Panji PDAM Delta

Tirta Kabupaten Sidoarjo

4. Uji laboratorium untuk mengetahui kualitas air baku di beberapa unit

pengolahan dan kualitas air hasil produksi di IPA Siwalan Panji

PDAM Delta Tirta Kabupaten Sidoarjo

5. Pembuatan laporan hasil pengamatan maupun analisis di lapangan

mengenai unit pengolahan air minum meliputi Intake, Bak pengumpul

I, Koagulasi – Flokulasi, Klarifier, Bak pengumpul II, Filter, Klorinasi,

Reservoar.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Sumber Air

Penyediaan air bersih yang baik, tidak terlepas dari sistem yang

dijalankan perusahaan penyediaan air bersih (PDAM), salah satunya

pemilihan sumber air. Sumber air dan karakteristik yang terkandung

didalamnya menentukan sistem yang digunakan. Berikut beberapa potensi

sumber air, antara lain :

1. Air Permukaan

à Sungai

à Danau

à Rawa

à Reservoir/Dam/Waduk

2. Air Hujan

3. Air Laut

4. Air Tanah

à Sumur Dangkal

à Sumur Dalam

à Mata Air

Terdapat beberapa hal dalam pemilihan sumber air yang dapat dipakai

sebagai pertimbangan , antara lain:

à Kuantitas air yang diperlukan

à Kualitas air baku

4
5
LAPORAN KERJA PRAKTEK DI IPA SIWALAN PANJI

à Kondisi iklim

à Kesulitan potensial dalam membangun intake

à Keselamatan operator

à Biaya operasi dan pemeliharaan yang minimal untuk bangunan

pengolahan

à Kemungkinan kontaminasi sumber air pada waktu yang akan

datang

à Kemudahan memperbesar intake jika diperlukan.

Berbagai macam sumber air yang ada, sumber air permukaan dan

air tanah merupakan pilihan yang banyak digunakan dengan perbedaan

karakteristik dari keduanya adalah:

Tabel 2.1. Karakteristik Air Permukaan dan Air Tanah


Karakteristik Air Permukaan Air Tanah

Bervariasi, tergantung
Temperatur Relatif konstan
musim

Rendah atau nol,


Kekeruhan, SS Bervariasi, kadang tinggi
kecuali tanah karst

Terutama disebabkan oleh

SS (tanah liat, alga) Disebabkan oleh

Warna kecuali air yang sangat dissolved solid

lunak atau asam (asam (asam humat)

humat)

Kandungan Mineral Bervariasi tergantung Besar, biasanya


6
LAPORAN KERJA PRAKTEK DI IPA SIWALAN PANJI

tanah, hujan, effluen, dll. lebih besar dari air

permukaan

Biasanya tidak ada,

kecuali pada dasar danau


Fe dan Mn Biasanya ada
atau pond dalam proses

eutrofikasi

CO2 Agresif Biasanya tidak ada Sering ada

Sering mendekati jenuh,

DO kecuali pada air yang Biasanya tidak ada

terpolusi

H2S Biasanya tidak ada Sering ada

Ditemukan hanya pada air


NH4 Sering ditemukan
yang terpolusi

Kadang-kadang
Nitrat Umumnya rendah
tinggi

Silika Biasanya sedang Sering tinggi

Bakteri (patogenik), virus,


Organisme Bakteri besi
plankton

Perlarut terkhlorinasi Jarang Sering ada

Sumber : Water Treatment Handbook, Vol.1, tahun 1995.

2.2. Pengolahan Air Bersih

Pengolahan air bersih sangat erat kaitannya dengan bangunan pengolah

yang dipilih, sebab di tiap bangunan pengolah terjadi proses yang berbeda.
7
LAPORAN KERJA PRAKTEK DI IPA SIWALAN PANJI

Berikut beberapa proses yang terjadi selama proses pengolahan air bersih

dengan air sungai sebagai air baku dan menggunakan bangunan pengolah

secara umum, diantaranya:

1. Pengolahan Pendahuluan ( Pretreatment )

Pretreatment dilakukan di awal pengolahan sebelum masuk ke

unit-unit bangunan pengolah air bersih. Yang termasuk dalam

pretreatment ini adalah:

a. Screening, yaitu alat yang digunakan untuk memisahkan kotoran-

kotoran yang berukuran besar agar tidak masuk ke unit-unit

pengolah selanjutnya. Screening biasanya bagian dari intake yang

terdiri atas batang-batang besi yang disusun berjajar atau paralel.

b. Grit chamber, merupakan unit pengolah awal yang berbentuk bak

atau saluran dangkal untuk menangkap grit. Grit adalah partikel

yang berukuran besar (Sg = 2.65, diameter = 2 x 10-2 cm) yang

lebih mudah mengendap dalam air. Contoh grit: kerikil, pasir

kasar, lumpur kasar, butiran kaca, dan sebagainya. Bangunan ini

hanya diperlukan bila air baku mengandung grit dalam jumlah

yang besar.

c. Prasedimentasi (Sedimentasi I), dimaksudkan untuk

mengendapkan partikel diskret atau partikel kasar atau lumpur.

Prasedimentasi hanya diperlukan bila dalam air baku terdapat

partikel diskrit atau partikel kasar atau lumpur dalam jumlah yang

besar. Pengendapan dilakukan dalam bak dengan waktu detensi 2 –


8
LAPORAN KERJA PRAKTEK DI IPA SIWALAN PANJI

4 jam dengan aliran laminer untuk memberikan kesempatan pada

lumpur untuk mengendap tanpa terganggu aliran. Harus dilakukan

pengurasan lumpur secara periodik.

2. Koagulasi dan flokulasi

Merupakan dua proses yang saling terkait satu sama lain dan tidak

terpisahkan. Proses ini terjadi pada bak koagulator dan flokulator.

a. Koagulasi, adalah destabilisasi muatan pada koloid dan padatan

tersuspensi dengan bahan koagulan. Tujuan koagulasi adalah :

untuk menghasilkan flok-flok dari hasil penggabungan ion

koagulan dan partikel yang tidak stabil, untuk menggabungkan

ion-ion dengan muatan berlawanan. Proses ini bersamaan dengan

waktu dimasukkannya koagulan yang disertai dengan pengadukan

cepat ( G = 500 – 1000 dt-1 ) selama maksimal 1 menit.

b. Flokulasi, yaitu proses pembentukan flok dari partikel yang tidak

stabil (hasil koagulasi) menjadi partikel flok atau flok yang

berukuran lebih besar sehingga mudah mengendap. Tujuan

flokulasi yaitu untuk menggabungkan flok kecil menjadi flok yang

berukuran lebih besar sehingga mudah mengendap dan menjaga

flok yang telah terbentuk agar tidak pecah kembali. Proses ini

disertai dengan pengadukan lambat ( G = 20 – 100 dt-1 ) selama 20

– 60 menit.
9
LAPORAN KERJA PRAKTEK DI IPA SIWALAN PANJI

3. Sedimentasi

Yaitu proses pemisahan solid liquid memanfaatkan pengendapan

secara gravitasi untuk menyisihkan suspended solid. Partikel yang

diendapkan adalah partikel flokulen dari bak flokulator. Tujuan

pengendapan II adalah untuk menghilangkan kandungan solid dalam

air dengan cara mengendapkan partikel flokulen di dalam bak

sedimentasi. Prinsipnya sama dengan bak sedimentasi I

(Prasedimentasi), hanya yang membedakan partikel yang diendapkan

adalah partikel flokulen pada sedimentasi II.

4. Filtrasi

Merupakan proses alami yang terjadi di dalam tanah dimana air

tanah melewati media berbutir dan terjadi proses penyaringan sehingga

prinsip tersebut digunakan sebagai dasar perancangan bak filter.

Tujuan filtrasi adalah untuk menghilangkan partikel yang tersuspensi

atau koloidal yang tidak mengendap selama proses sedimentasi selain

itu filtrasi juga dapat menghilangakan bakteri secara efektif dan juga

membantu removal warna, bau, rasa, Fe dan Mn.

5. Desinfeksi

Merupakan langkah terakhir dalam proses pengolahan air bersih.

Proses ini menggunakan desinfektan (biasanya khlor/ kaporit) dengan

memanfaatkan sisa khlor untuk membunuh mikroorganisme yang

terdapat pada air bersih. Desinfeksi wajib dilakukan sebagai prasyarat

air siap dimanfaatkan konsumen.


10
LAPORAN KERJA PRAKTEK DI IPA SIWALAN PANJI

Proses yang terjadi dalam pengolahan air bersih sangat tergantung dari

kualitas dan karakteristik air baku yang digunakan. Bisa saja proses diatas

bertambah misalnya bila air baku yang digunakan memiliki kandungan Fe

dan Mn yang tinggi sehingga dibutuhkan bangunan aerasi untuk meremove

zat tersebut. Demikian halnya bila air baku memiliki kualitas air yang cukup

baik sehingga hanya dibutuhkan desinfeksi sebelum didistribusikan ke

konsumen.

2.3. Jenis-jenis Bangunan Pengolah Air Minum

2.3.1. Intake (Bangunan Sadap)

2.3.1.1. Umum

Sungai mempunyai parameter yang sangat kompleks yang menjadi

dasar desain intake. Adapaun faktor - faktor yang perlu diperhatikan dalam

perencanaan intake, adalah (Razif ,1986):

a. Dipilih aliran yang tidak deras karena dapat menyebabkan terputusnya

aliran air baku untuk air minum.

b. Tanah disekitar intake diusahakan cukup stabil sehingga tidak mudah

tererosi.

c. Dipilih aliran air yang bebas dari hambatan dan gangguan.

d. Terletak cukup jauh dari sumber kontaminan.

e. Sebaiknya diletakkan dibagian hulu.

f. Intake sebaiknya di bawah permukaan sungai (untuk mencegah

masuknya benda-benda terapung) dan sebaiknya inlet juga terletak


11
LAPORAN KERJA PRAKTEK DI IPA SIWALAN PANJI

cukup diatas dari dasar air (untuk mencegah masuknya suspended

matter/lumpur yang ada di dasar).

g. Untuk muka air yang berfluktuasi, inlet yang ke sumur pengumpul

sebaiknya dibuat beberapa level.

h. Sebaiknya dilengkapi dengan screen dan ujung pipa pengambil air

yang berhubungan dengan pompa sebaiknya diberi saringan

(strainer).

i. Jika fluktuasi muka air antara musim hujan dan musim kemarau

besar, maka air dapat ditampung dengan membuat weir kecil

memotong sungai untuk menghadapi musim kemarau.

j. Jika permukaan air sungai selalu konstan dan tebing sungai terendam,

maka intake dapat dibuat di dekat sungai. Pada keadaan ini air

dialirkan dari sungai melalui pipa yang diletakkan secara horisontal.

Intake merupakan suatu bangunan yang dibangun pada suatu badan

air dengan fungsi untuk mengalirkan air dari badan air menuju ke unit

pengolahan air minum lebih lanjut, baik secara gravitasi maupun dengan

sistem pemompaan.

Pada Instalasi yang hanya memiliki satu unit intake, jika terjadi

malfungsi (kerusakan) pada unit ini maka akan menyebabkan

terganggunya proses penyediaan air bersih untuk penduduk. Oleh karena

itu, suatu intake harus diletakkan pada lokasi yang mudah diakses,

direncanakan dan dibangun untuk menyediakan air bersih dengan


12
LAPORAN KERJA PRAKTEK DI IPA SIWALAN PANJI

kualitas yang terbaik serta air baku yang diambil tidak mudah

terpengeruh dalam segala kondisi.

Hal – hal yang diperlukan dalam pemilihan lokasi intake, antara lain:

œ Lokasi yang aman

œ Tanah dekat dengan bangunan intake harus stabil

œ Lokasi intake berada dibawa muka air sumber air

œ Lokasi intake tidak terlalu dekat dengan tanggul

œ Lokasi intake berada dihulu kota

Sedangkan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam perencanaan intake,

adalah:

Tabel 2.2. Pemillihan Lokasi Intake

Kriteria Hal - hal yang diperhatikan

Aliran drainase permukaan

Tempat pembuangan Air Limbah

Kualitas Air Arah aliran air pada badan air

Dampak dari angin dan gelombang

Kedalaman air dan fluktuasinya

Kedalaman air maksimum


Kedalaman air
Penambahan kedalaman pada inlet

Lumpur dan Pasir Terletak pada daerah yang

Navigasi Tidak berada pada daerah pelayaran


13
LAPORAN KERJA PRAKTEK DI IPA SIWALAN PANJI

Sampah Pencegahan agar sampah tidak dapat masuk

Fasilitas Dekat dengan Instalasi pengolahan untuk

Pengaliran meminimalkan panjang pipa

Biaya yang minimum pada pembangunan


Biaya
dengan masa pakai yang lama dan pada O&M

Sumber: AWWA,1990

Alternatif jenis intake air permukaan (Razif,1986) :

a. Intake langsung (direct intake), memiliki karakteristik :

• Ujung pipa suction atau pompa langsung berada di kedalaman sungai.

• Digunakan pada sungai yang dalam, dimana terdapat kemungkinan

terjadinya erosi pada dinding dan pengendapan pada bagian dasarnya.

Gambar 2.1. Direct Intake

b. Intake tak langsung (canal intake), memiliki karakteristik :

• Digunakan sumuran/bak pengumpul/chamber dengan course

screen/saringan kasar yang dibangun dalam sebuah kanal air sungai

yang cukup kuat untuk menahan/mencegah terjadinya erosi.


14
LAPORAN KERJA PRAKTEK DI IPA SIWALAN PANJI

• Ujung pipa suction atau pompa berada pada sumuran tersebut. Dinding

chamber sebagian terbuka ke arah kanal.

Gambar 2.2. Kanal Intake

c. River Intake, memiliki karakteristik :

• Berbentuk sumur pengumpul dengan pipa penyadap

• Lebih ekonomis untuk air sungai yang mempunyai beda level permukaan

air musim hujan dan kemarau yang cukup tinggi.


15
LAPORAN KERJA PRAKTEK DI IPA SIWALAN PANJI

Gambar 2.3. River Intake

Bagian- Bagian Intake

Bagian-bagian dari intake dan kriteria perencanaannya antara lain

(Razif, 1986) :

• Bell Mouth Strainer

- Dipasang pada ujung pipa suction.

- Berbentuk setengah bola yang berlubang-lubang dengan luas total

1/3 luas permukaan setengah bola. Luas permukaan strainer sama

dengan dua kali luas efektif (luas total dari lubang-lubang).

- Lubang strainer berdiameter 6 - 12 mm.


16
LAPORAN KERJA PRAKTEK DI IPA SIWALAN PANJI

- Disarankan agar kecepatan sedapat mungkin mendekati nilai

terendah untuk mencegah masuknya kotoran. Kecepatan melalui

lubang strainer = 0,15 - 0,3 m/dt.

• Cylindrical Strainer

- Kriteria perencanaan sama dengan bell mouth strainer.

- Biasanya digunakan bila head air cukup tinggi di atas air.

- Kedalaman strainer sebaiknya 0,6 - 1 m di bawah muka air

terendah, jika tidak mempunyai lubang di bagian atas. Strainer

yang mempunyai lubang di bagian atas, sebaiknya lebih dari 1 m di

bawah muka air terendah.

• Pipa Gravitasi Air Baku

- Kecepatan air sebaiknya antara 0,6 - 1,5 m/dt untuk mencegah

sedimentasi dan erosi.

- Ukuran pipa disesuaikan, sehingga kecepatan pada LWL (Low

Water Level) lebih besar dari 0,6 m/det. dan pada HWL (High

Water Level) lebih kecil dari 1,5 m/det. Dengan mengetahui head

dan kecepatan, diameter pipa dapat dipilih.

• Suction Well (Sumuran)

- Sebaiknya ada dua sumuran untuk memudahkan pemeliharaan.

- Waktu detensi sebaiknya sekitar 20 menit, atau sumuran sebaiknya

cukup besar untuk menjaga kebutuhan air.

- Dasar sumuran sebaiknya 1 m di bawah dasar sungai.

- Ketinggian foot valve dari dasar sumuran sebaiknya < 0,6m.


17
LAPORAN KERJA PRAKTEK DI IPA SIWALAN PANJI

- Sumuran sebaiknva rapat air dan terbuat dari beton.

- Tebal dinding sebaiknya 20 cm atau lebih.

• Suction Pipe dari Low Lift Pump (Pipa suction untuk pemompaan)

- Kecepatan dalam pipa sebaiknya antara 1 - 1,5 m/dt.

- Perbedaan ketinggian antara muka air terendah dan pusat pompa

sebaiknya tidak > 3,7 m.

- Jika permukaan pompa lebih tinggi dari LWL, maka jarak suction

sebaiknya kurang dari 4 m.

- Lokasi pompa yang terletak dibawah LWL dengan floaded suction

line/garis suction terapung lebih disukai dan kadang-kadang cukup

ekonomis.

• Pipa Backwashing Untuk Membersihkan Foot valve dan Strainer

- Kecepatan dalam pipa sebaiknya tidak lebih dari 3 m/dt.

- Digunakan air yang sudah terolah (cukup bersih).

- Kuantitas air dari backwash sebaiknya 1/3 dari flow/aliran di

suction pipe.

• Pipa Transmisi

Pipa transmisi berfungsi untuk mengalirkan air dari sumber air

baku menuju unit pengelolaan. Lokasi sumber menentukan panjang

pendek saluran dan sistem transportasi yaitu secara gravitasi atau

dengan pompa. Ditinjau dari topografi pipa transmisi yang digunakan

di IPA Siwalan Panji menggunakan sistem gravitasi.


18
LAPORAN KERJA PRAKTEK DI IPA SIWALAN PANJI

Desain hidrolik pipa transmisi dipengaruhi oleh:

™ Ketersediaan dan kebutuhan akan tekanan.

™ Kecepatan dalam pipa diharapkan meminimalisir biaya, scouring

(turbulen) dan terjadinya sedimen.

Pada perencanaan pipa transmisi sering dijumpai beberapa masalah

antara lain:

a. Aliran gravitasi dengan menggunakan lebih dari satu ukuran

diameter pipa.

b. Aliran dengan menggunakan pipa.

c. Pipa diatas garis EGL (Energy Grade Line).

d. Aliran grafitasi dengan total head lebih dari 100m.

Pada Instalasi Pengolahan Air Siwalan Panji intake yang

digunakan merupakan adopsi dari direct intake.

2.3.2. Bangunan Prasedimentasi

Bangunan prasedimentasi berfungsi untuk menyisihkan partikel

diskrit dan material kasar lainnya yang memiliki spesifik gravity ≥ 1,2 dan

diameter ≤ 0,05 mm yang diendapkan secara gravitasi. Dengan adanya

bangunan prasedimentasi maka beban pengolahan untuk unit-unit

berikutnya menjadi berkurang. Di dalam pengoperasiannya bangunan

prasedimentasi dapat mereduksi zat padat ( SS ) sebesar 50 – 70 % dan

BOD sebesar 30 – 40 %. Pengendapan dari partikel dalam bak

prasedimentasi tergantung dari kecepatan pengendapan partikel (Vs) dan


19
LAPORAN KERJA PRAKTEK DI IPA SIWALAN PANJI

kecepatan pengaliran permukaan / over flow rate (Vo). Bila Vs > Vo,

maka partikel dengan diameter yang ditinjau ayau lebih besar akan

mengendap 100 %. Disamping diameter, massa jenis partikel juga

menentukan. Meskipun diameternya lebih kecil namun bila massa jenisnya

lebih besar, maka partikel tersebut juga dapat mengendap. (Hadi,1997)

2.3.2.1. Zona pada Bangunan Prasedimentasi

Bangunan prasedimentasi terbagi menjadi 4 zona, yaitu :

1. Daerah Air Masuk ( Inlet Zone )

Inlet zone merupakan tempat terjadinya distribusi air menuju zona

pengendapan dan tempat memperhalus aliran transisi dari influen ke

aliran Steady uniform di zona pengendapan.

2. Daerah Pengendapan ( Settling Zone )

Settling zone merupakan tempat berlangsungnya pengendapan

(pemisahan) suspensi. Pada zona ini, jika bangunan prasedimentasi

berbentuk persegi, maka lantai dasarnya perlu didesain dengan

kemiringan 5-10 % bila dikuras secara manual setiap 6 bulan sekali

atau dengan kemiringan 1 % bila menggunakan scrapper mekanis.

3. Daerah Lumpur ( Sludge Zone )

Sludge zone merupakan daerah penggumpalan partikel-partikel yang

diendapkan dan juga sebagai tempat pengeluaran lumpur. Kedalaman

ruang lumpur bak prasedimentasi tergantung pada metode pengurasan


20
LAPORAN KERJA PRAKTEK DI IPA SIWALAN PANJI

lumpur, frekuensi pengurasan, kadar lumpur air baku dan massa jenis

lumpur.

4. Daerah Pengeluaran air ( Outlet Zone )

Outlet merupakan daerah dimana partikel-partikel yang belum

mengendap akan mengikuti air keluar dan juga berfungsi untuk

memperhalus aliran transisi dari daerah pengendapan ke effluen.

Pembagian daerah - daerah tersebut dapat dilihat pada gambar berikut :

Inlet Zone
Outlet Zone
Perforated Baffle
Settling Zone

Sludge Zone

Gambar 2.4. Zona dalam Prasedimentasi


21
LAPORAN KERJA PRAKTEK DI IPA SIWALAN PANJI

2.3.3. Bangunan Pengaduk Cepat (Flash Mix)


Bangunan pengaduk cepat (flash mix) digunakan untuk proses

koagulasi yang merupakan proses awal untuk pengendapan partikel-

partikel koloid yang terdapat dalam air baku. Partikel koloid sangat halus

dan sulit untuk diendapkan tanpa proses pengolahan lain (plain

sedimentation).

Koagulasi adalah proses pengadukan cepat dengan pembubuhan

bahan kimia (koagulan) yang berfungsi untuk mengurangi gaya tolak-

menolak antar partikel koloid, untuk kemudian bergabung membentuk flok-

flok. Pengaduk cepat digunakan dalam proses koagulasi, karena:

a. Untuk melarutkan koagulan dalam air

b. Untuk mendistribusikan koagulan secara merata dalam air

c. Untuk menghasilkan partikel-partikel halus sebagai inti koagulasi

(coagulation agent) sebelum reaksi koagulasi selesai

Proses pengadukan cepat dapat dilakukan dengan tiga cara,

yakni:(Masduqi dan Slamet,2002)

1. Pengadukan mekanis

Adalah membuat aliran turbulen dengan tenaga penggerak motor

dimana bak pengaduk dilengkapi dengan peralatan mekanis, seperti:

¾ Paddle, dengan putaran 2-150 rpm

¾ Turbine, dengan putaran 10-150 rpm

¾ Propeller, dengan putaran 150-1500 rpm


22
LAPORAN KERJA PRAKTEK DI IPA SIWALAN PANJI

2. Pengadukan hidrolis

Pengadukan cepat secara hidrolis dapat dibedakan menjadi dua

berdasarkan kondisi alirannya, yakni:

a. Open channel flow

¾ Hydroulic jump mixer

¾ Parshal flume

¾ Palmer bolwus flume

¾ Weir

b. Flow in pressure pipe

¾ Hydroulic energy dissipitor

¾ Turbulent flow pipe mixer

3. Pneumatic Mixing ( Pengadukan Pneumatik)

Pengadukan pneumatic adalah pengadukan yang menggunakan

tenaga angin ( menggunakan blower ). Pengadukan seperti ini biasa

disebut aerasi namun digunakan untuk proses koagulasi.

Pengadukan dengan cara ini adalah dengan cara mengalirkan udara

melalui nozzle-nozzle sehingga udara yang dihasilkan dapat

didstribusikan merata dan berbentuk gelembung udara yang alirannya

keatas. Nozzle-nozzle itu memililki bentuk yang bemacam-macam dan

ukuran yang bermacam-macam pula. Udara yang keluar dari nozzle

akan memutar air dan mengaduk air secara homogen, sehingga dapat

digunakan untuk proses koagulasi.


23
LAPORAN KERJA PRAKTEK DI IPA SIWALAN PANJI

Secara umum efisiensi dari proses ini tergantung pada diameter

nozzle dan tekanan udara yang digunakan.sehingga untuk mendisain

bak koagulasi dengan system ini diperlukan kriteria disain untuk

nozzle.

Kriteria disain untuk perencanaan nozzle adalah sebagai berikut :

Diameter lubang nozzle : 5 - 37 mm

Tinggi discharge : 0,5 - 5 m

Waktu detensi : 0,6 - 2,6 menit

Jarak antar nozzle : 0,5 - 5 m.

Faktor – faktor yang mempengaruhi proses koagulasi dan flokulasi

dipengaruhi oleh variabel – variabel yang kompleks, antara lain :

1. Karakteristik partikel.

2. Kekeruhan.

3. Temperatur.

4. Gradien Kecepatan.

5. Komposisi zat kimia dalam air.

6. Jenis Koagulan dan Flokulen.

7. Waktu Detensi atau kontak ( td ).

8. Turbulensi.

9. pH
24
LAPORAN KERJA PRAKTEK DI IPA SIWALAN PANJI

2.3.3.1. Prinsip Proses

a. Destabilisasi partikel koloid

Pada umumnya partikel koloid penyebab kekeruhan bersifat

hydrophobic (bermuatan negatif). Aagar terjadi penggabungan diperlukan

destabilisasi yang hanya dapat dicapai dengan penambahan elektrolit yang

bermuatan positif, sehingga diharapkan gaya tolak – menolak antar

partikel diperkecil. Selanjutnya diperlukan suatu gaya yang dapat

memperkecil jarak antar partikel, yakni dengan mengadakan tumbukan

antar partikel. Oleh karena itu, dalam proses koagulasi diperlukan

turbulensi yang cukup tinggi untuk meratakan koagulan ke seluruh bagian

zat cair dan memungkinkan terbentuknya inti – inti flok.

Proses destabilisasi sangat dipengaruhi oleh derajat hidrasi partikel

dan konsentrasi muatan. Bila konsentrasi muatan koloid kurang besar,

maka proses destabilisasi akan terhambat. Karena itu, untuk

memudahkannya diperlukan tambahan partikel koloid baru yang dapat

memperbesar muatan.

b. Pembentukan Mikroflok

Pada proses koagulasi, tahap destabilisasi partikel koloid dan

pembentukan mikrofllok terjadi pada penambahan elektrolit positif Al2+

dari koagulan Al2(SO4)3. Di dalam air, koagulan akan bereaksi ganda,

yakni dissosiasi dari hidrolisa, dengan persamaan reaksi sebagai berikut :

¾ Reaksi dissosiasi :

Al2(SO4)3 2Al3+ + 3SO42-


25
LAPORAN KERJA PRAKTEK DI IPA SIWALAN PANJI

¾ Reaksi hidrolisa :

Al2(SO4)3 + 6H2O 2Al(OH)3 + 3H2SO4

Dalam hal ini Al3+ berfungsi sebagai elektrolit positif penetral

muatan negatif partikel pada proses destabilisasi. Al(OH)3 merupakan

presipitat sebagai inti pembentuk mikroflok. Sesuai dengan konsep

destabilisasi koloid, apabila konsentrasi muatan partikel koloid kecil

(kekuatan rendah), maka penetralan oleh Al3+ sulit terjadi. Untuk itu

diperlukan penambahan zat bantu koagulan berupa material kekeruhan.

2.3.3.2. Proses Koagulasi

Proses mixing atau pengadukan ialah proses dimana dua atau lebih

material dicampur untuk memperoleh derajat keseragaman yang

diinginkan. Proses mixing digunakan untuk menimbulkan kondisi turbulen

yang cukup besar pada aliran. Pada proses pengadukan cepat diperlukan

waktu yang relatif kecil, sebab pada prinsipnya tujuan utama mixing ialah

untuk mendispersikan zat-zat kimia (koagulan) secara merata dalam air.

Dengan waktu pengadukan yang relatif kecil, maka volume bak pengaduk

yang diperlukan relatif kecil pula. Waktu mixing atau pengadukan yang

pendek dikonversikan dengan peningkatan gradien kecepatan. Hal ini

harus dipertimbangkan terutama karena peningkatan biaya energi yang

dibutuhkan.
26
LAPORAN KERJA PRAKTEK DI IPA SIWALAN PANJI

2.3.3.3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Proses

Faktor-faktor yang mempengaruhi proses koagulasi dan flokulasi

dipengaruhi oleh variabel-variabel yang kompleks, antara lain

:(Reynold,1992)

1. Karakteristik partikel

Dibedakan atas dua bagian, yakni :

a. karakteristik partikel berdasarkan ukuran

• ukuran 5 nm - 1 μm

• partikel tersuspensi dengan ukuran > 5 μm

• partikel dengan ukuran < 5 μm, yang disebut larutan

b. Karakteristik partikel berdasarkan sifat hidrasi, hidrophobik dan

hidrofilik

2. Kekeruhan

Hal-hal yang diperhatikan mengenai kekeruhan dalam proses

koagulasi dan flokulasi adalah sebagai berikut :

a) Kebutuhan koagulasi pada kekeruhan larutan, akan tetapi

penambahan koagulan tidak berkoreksi linier terhadap

kekeruhan

b) Kekeruhan tinggi umumnya memerlukan dosis koagulan yang

relatif rendah karena dengan tingginya kekeruhan

kemungkinkan akan terjadi tumbukan lebih tinggi dibanding

dengan kekeruhan rendah yang jarak antar partikelnya jauh,

sehingga membutuhkan dosis koagulan yang relatif tinggi.


27
LAPORAN KERJA PRAKTEK DI IPA SIWALAN PANJI

c) Ukuran partikel yang tidak seragam jauh lebih mudah

dikoagulasi daripada partikel tidak seragam. Hal ini disebabkan

karena pusat-pusat yang lebih besar/ mudah terbentuk pada

partikel kecil, sedangkan partikel besar mempercepat

pengendapan.

3. Temperatur

Perubahan temperatur akan menyebabkan perubahan viskositas,

dimana semakin panas suhu, viskositas makin kecil. Pengaruh

perubahan viskositas tersebut menyebabkan perubahan gradien

kecepatan.

4. Gradien kecepatan

Merupakan karakteristik yang digunakan untuk pencampuran

fluida dan dinyatakan dalam detik-1. Didefinisikan sebagai perbedaan

kecepatan antara dua titik atau volume terkecil fluida yang tegak lurus

perpindahan. Gradien kecepatan berhubungan dengan adanya waktu

pengadukan (td). Nilai G yang terlalu besar dapat mengganggu

pembentukan titik akhir flok. Proses koagulasi memerlukan gradien

kecepatan lebih tinggi daripada proses flokulasi.

5. Komposisi zat kimia dalam air

Di dalam air terlarut garam-garam mineral. Pengaruh garam-garam

mineral dalam proses koagulasi dan flokulasi disebabkan oleh

kemampuannya dalam manggantikan kedudukan ion hidroksida pada


28
LAPORAN KERJA PRAKTEK DI IPA SIWALAN PANJI

senyawa kompleks hidrokside. Selain itu, garam-garam mineral

berpengaruh dalam menentukan :

• pH optimum proses koagulasi

• waktu yang diperlukan pada proses koagulasi

• dosis koagulan optimum

6. Jenis koagulan dan flokulan

Pemilihan jenis koagulan dan flokulan disesuaikan dengan jenis

koloid yang terkandung di dalam air. Jenis koagulan dan fllokulan

yang dimasukkan memilik tanda ion berlawanan dengan muatan ion

air. Adapun variabel-variabel yang menentukan jenis koagulan dan

flokulan adalah sebagai berikut :

• temperatur air

• jenis alat pengaduk

• kapasitas alat pengaduk

• pH air baku

• komposisi air baku

7. Waktu detensi/kontak (td)

Merupakan nilai kontak antara partikel kimia dengan air baku.

Waktu kontak dipengaruhi volume bak dan debit air baku.

8. Turbulensi

Adalah aliran fluida yang bergolak karena gesekan fluida tersebut.

Turbulensi diperlukan pada proses koagulasi untuk meratakan


29
LAPORAN KERJA PRAKTEK DI IPA SIWALAN PANJI

koagulan ke seluruh bagian fluida dan memberikan kesempatan pada

partikel koloid untuk saling bergabung membentuk inti flok.

9. Zeta potensial

Merupakan potensial elektrostatik yang ada disekitar kulit suatu

partikel yang dapat mempengaruhi stabilitas koloid. Elektolit yang ada

disekitar partikel yang bermuatan negatif. Lapisan ion ini akan

menarik ion yang bermuatan positif yang terdapat di dalam air. Hanya

zeta potensial mempengaruhi tingkat kemudahan destabilisasi partikel

koloid yang terdapat di dalam air.

10. pH

Pemilihan pH yang tepat akan mempengaruhi dosis optimum dari

koagulan. Hal ini disebabkan oleh sifat kimia koagulan yang sangat

tergantung pada pH. Batasan nilai pH dipengaruhi oleh jenis koagulan

yang digunakan dari komposisi kimia yang terdapat dalam air. Pada

proses koagulasi dan flokulasi terdapat range pH dimana terjadi proses

yang baik dalam waktu singkat dengan suatu dosis koagulan tertentu.

Besaran pH dipengaruhi oleh :

• jenis dan dosis koagulan yang dipakai

• komposisi kimia (pH awal, alkalinitas dan lain-lain)

Untuk pemakaian alum sebagai koagulan, maka pH optimum untuk

air sebesar 6,5 – 7,5.


30
LAPORAN KERJA PRAKTEK DI IPA SIWALAN PANJI

2.3.4. Bangunan Pengadukan Lambat (Slow Mix)

Bangunan pengadukan lambat merupakan proses pengadukan yang

berlangsung secara lambat dan kontinyu, yang bertujuan untuk

menggabungkan partikel tersuspensi (flok-flok kecil) di dalam air baku

yang titik akhir pembentukannya terjadi di flash mix agar ukurannya

menjadi lebih besar, sehingga dapat dipisahkan dari air melalui proses

pengendapan. Pengadukan lambat digunakan untuk proses flokulasi,

didasarkan pada beberapa alasan berikut :

a. Memberi kesempatan inti flok untuk bergabung membentuk flok-flok

yang ukurannya lebih besar.

b. Memudahkan flokulan dengan lengan-lengannya untuk mengikat flok-

flok kecil menjadi ikatan flok dengan ukuran yang lebih besar.

c. Mencegah pecahnya kembali flok-flok yang sudah terbentuk

2.3.4.1. Prinsip Proses

Pada pengadukan lambat titik akhir flok-flok yang terbentuk

karena proses koagulasi, diperbesar sehingga flok-flok tersebut dapat

saling bergabung danakan diendapkan pada bak sedimentasi. Dua

mekanisme penting dalam proses koagulasi adalah :

1. Perikinesis

Pengumpulan dihasilkan dari pengadukan lambat dalam air dan

sangat signifikan untuk partikel lebih kecil dari 1 – 2 mm.


31
LAPORAN KERJA PRAKTEK DI IPA SIWALAN PANJI

2. Ortokinetis

Berhubungan dengan gradien kecepatan, dimana dengan G tertentu

diharapkan terjadi pengadukan yang membantu pengumpulan flok dan

tidak menyebabkan flok-flok lain pecah.

2.3.4.2. Cara-Cara Pengadukan Lambat

Pada proses flokulasi, pengadukan dapat dilakukan dengan dua

cara, yaitu:

1. Cara mekanis

Banyak digunakan di negara-negara maju, karena memiliki

kegunaan yang lebih luas. Pengadukan dilakukan dengan

menggunakan alat mekanis, seperti paddle, turbine ataupun impeller

yang digerakkan dengan motor. Dan kecepatan mekanisnya dapat

disesuaikan dengan variasi debit, temperatur, serta kualitas air baku.

2. Cara hidrolis

Cara ini tidak membutuhkan peralatan mekanis dan kebutuhan

akan tenaga operasional kecil bila tersedia beda tinggi yang cukup.

Sebagian besar flokulasi secara hidrolis beroperasi dengan pendekatan

aliran plug flow.

Beberapa kerugian dari pengunaan flokulasi secara hidrolis, antara

lain sebagai berikut :

¾ Tidak ada fleksibilitas untuk merespon perubahan kualitas air

baku
32
LAPORAN KERJA PRAKTEK DI IPA SIWALAN PANJI

¾ Heaadloss yang terjadi biasanya cukup tinggi

¾ Parameter flokulasi hidrolis merupakan fungsi dari debit dan

tidak dapat disesuaikan secara bebas

¾ Pembersihan sulit dilakukan

Beberapa jenis flokulator yang pengadukannya dilakukan secara

hidrolis, antara lain ;

a. Baffle channel flocculator

Merupakan flokulator yang berbentuk saluran yang

dilengkapi dengan baffle. Adapun jenis baffle channel flokulator

ini ada 2, yakni :

¾ Around the end baffle channel

¾ Over and under baffle channel

Baffle channel flokulator digunakan untuk pengolahan

berkapasitas besar (>10.000 m3/hari), dimana laju aliran dapat

menjaga cukup kehilangan tekanan dalam saluran untuk proses

pengadukan lambat, tanpa memerlukan jarak baffle yang terlalu

kecil yang tentu dapat menyebabkan kesulitan dalam

pembersihannya.

Adapun penggunaan unit pengaduk lambat tipe ini karena

pertimbangan sebagai berikut :

¾ Biaya konstruksi murah karena bahan mudah didapat dan

pembuatannya relatif mudah


33
LAPORAN KERJA PRAKTEK DI IPA SIWALAN PANJI

¾ Biaya pemeliharaan dan operasi relatif murah karena tidak

memerlukan biaya energi (listrik) dikarenakan daya diambil

dari tekanan air sendiri

¾ Pembersihan bak relatif mudah karena tidak terlalu dalam dan

tidak rumit

¾ Headloss yang timbul dari derajat pengadukan dapat diatur

(diubah) dengan mudah dengan menambah atau mengulang

baffle yang ada pada bagian-bagian tertentu.

Pengaturan energi flokulasi pada baffle channel biasanya

dilakukan dengan memvariasikan jarak antar baffle, sehingga

untuk gradien kecepatan yang rendah, jarak baffle lebih lebar. Dan

konfigurasi baffle yang akan menghasilkan perubahan gradien

kecepatan lebih baik ditentukan berdasarkan kondisi operasi

bangunan pengolahan.

Perencanaan untuk unit pengaduk lambat tipe around the

end baffle channel ialah sebagai berikut :(Hadi,1997)

• Gradien kecepatan (G) = 20 – 80 detik-1

• Waktu detensi (td) = 10 – 30 menit

• Kecepatan aliran pada saluran lurus (vH) = 0.1 – 0.3 m/detik

• Kecepatan aliran pada belokan (vB) = [2 – 3.5 m/detik] x vH

• Jarak antara baffle > 45 cm

• Kedalaman air > 1 m


34
LAPORAN KERJA PRAKTEK DI IPA SIWALAN PANJI

Perlu diketahui pula bahwa pada perencanaan sistem flokulasi

jumlah partikel yang bergabung dan aktivitas formasi pembentukan

flok ditunjukkan oleh fungsi produk gradien kecepatan dan waktu

detensi (G.td)

b. Hydroulic Jet Action Flocculator

Flokulator ini sangat sesuai untuk pengolahan air minum

skala kecil.

c. Sistem Orifice

Dimana flokulator jenis ini menggunakan pipa-pipa orifice

yang dipasang pada dinding beton, dimana pengadukan terjadi

pada pipa-pipa tersebut

c. d. Gravel Bed Flocculator

Flokulator jenis ini menggunakan media kerikil untuk

membentuk flok dan sangat sesuai untuk pengolahan air minum

dengan skala kecil.

2.3.5. Bangunan Filter

2.3.5.1. Jenis-jenis Bangunan Filter

Bangunan filter adalah bangunan dimana terjadi proses filtrasi,

yaitu proses penyaringan air melalui media berbutir yang porous,

menghilangkan partikel koloid yang tidak terendapkan selama proses

sedimentasi. Beberapa macam proses filtrasi antara lain: (Reynold,1992)


35
LAPORAN KERJA PRAKTEK DI IPA SIWALAN PANJI

1. Rapid Sand Filter

Merupakan proses filtrasi yang dilakukan setelah proses koagulasi,

flokulasi dan sedimentasi. Media yang dipakai terbentuk :

ƒ Single media, misalnya : pasir

ƒ Dual media, misalnya : antrasit dan pasir yang terpisah

ƒ Mixed media, misalnya : antrasit dan pasir yang tercampur.

Namun secara umum media yang sering dipakai ialah antrasit,

pasir dan kerikil. Dan susunan media yang baik untuk filtrasi adalah

bagian atas kasar dan semakin ke bawah semakin halus. Hal ini

dimaksudkan untuk menghindari terjadinya clogging di lapisan atas

dan seluruh media dapat dimanfaatkan sebagai filter/penyaringan.

Adapun pencucian media dapat dilakukan dengan dua cara, yakni

dengan system backwash ataupun surface wash.

Secara umum rapid sand filtration dapat diklasifikasikan menurut :

ƒ Tipe media yang digunakan, meliputi : filter single media, dual

media maupun mixed media

ƒ Rate control sistem pada filteryang digunakan, meliputi : constant

rate filtration dan declining rate filtration.

ƒ Arah aliran filter, meliputi : upflow filtration dan down filtration

ƒ Operasi yang digunakan, meliputi : gravitasi dan pressure filter


36
LAPORAN KERJA PRAKTEK DI IPA SIWALAN PANJI

2. Slow Sand Filter

Saringan pasir yang digunakan pada wal teknologi pengolahan air

pada abad 19 adalah saringan pasir lambat, dengan system inlet, jenis

media pasir, system under drain, dan system outlet.(Fair and

Okun,1971)

Kelebihan yang dimiliki oleh saringan pasir lambat adalah:

(Hadi,1997)

a. Kualitas effluen yang lebih baik bila dibandingkan dengan saringan

pasir cepat, karena adanya lapisan film mikroba di bagian atas

pasir yang berfungsi sebagai pemisah bakteri, zat organik,

kekeruhan dan pencemar lain.

b. Dapat mengatasi fluktuasi kualitas influen, tanpa menurunkan

kualitas effluen.

c. Biaya konstruksi dengan menggunakan konstruksi batu kali

sehingga murah.

d. Biaya operasi pemeliharaan yaitu tanpa peralatan impor sehingga

relatif murah.

e. Sistem pengoperasian dan pemeliharaan yang mudah, sehingga

tidak memerlukan skilled operator.

f. Tidak memerlukan material dan peralatan impor.

g. Tidak memerlukan air pencuci filter dalam jumlah besar.


37
LAPORAN KERJA PRAKTEK DI IPA SIWALAN PANJI

Sedangkan kemungkinan kelemahan dari saringan pasir lambat

adalah: (Hadi,1997)

a. Perlu lahan relatif luas

b. Bila air baku tercemar oleh toxic wastes, lapisan film mikroba

tidak terbentuk,sehingga kualitas bakteriologis effluennya sama

dengan saringan pasir cepat.

c. Bila algae terdapat dalam jumlah yang melimpah, sehingga

pengerukan lapisan atas menjadi terlalu sering.

d. Di daerah gempa memerlukan konstruksi beton, sehongga mahal.

e. Di daerah bersalju perlu penutup agar air tidak membeku.

3. Pressure filtration

Proses penyaringan dengan tekanan pada pengolahan air minum

yang air bakunya berasal dari air tanah sebelum didistribusikan.

4. Direct filtration

Persyaratan yang harus dipenuhi agar dapat dilakukan filtrasi

langsung atau direct filtration adalah:

a. Kekeruhan air baku sebelum masuk filter relatif rendah (< 25

NTU)

b. Pada kekeruhan tinggi diperlukan pengendap pertama

c. Test untuk menentukan kelayakan penggunaan direct filtration,

yaitu bila dosis koagulan ≤ 6 mg/L (ditambah sedikit polimer).

Namun bila dosisnya > 15mg/L tidak sesuai untuk penerapan direct

filtration.(Schulz,1984)
38
LAPORAN KERJA PRAKTEK DI IPA SIWALAN PANJI

Sedangkan karakteristik filtrasi langsung atau direct filtration

adalah biaya fisik & OM relatif rendah dan volume air pencuci relatif

tinggi yaitu 6% (konvensional 3-4%).

2.3.5.2. Mekanisme filtrasi

Proses filtrasi pada dasarnya adalah kombinasi dari berbagai proses

yng berbeda. Proses-proses yang paling penting adalah :

1. Mechanical Straining

Merupakan penyaringan partikel tersuspensi yang terlalu besar

untuk dapat lolos melalui ruang antar butiran media. Proses ini terjadi

pada permukaan filter dan tidak tergantung kecepatan filtrasi.

Clogging pada filter tergantung pada kecepatan filtrasi. Clogging pada

filter akan mengurangi ukuran pori sehingga secara teoritis

meningkatkan efisiensi penyaringan dari media filter dan akan

meningkatkan tahanan filter sehingga perlu dipilih butiran yang lebih

besar ( Santoso, 1997 ).

2. Sedimentasi

Pada proses ini akan terjadi pengendapan partikel tersuspensi yang

lebih halus ukurannya dari lubang pori pada permukaan media. Pada

prinsipnya semua butiran media dapat menjadi tempat pengendapan

ini. Jika filtrasi telah berjalan cukup lama maka endapan akan

mengurangi ukuran efektif pori dan kecepatan air akan bertambah. Hal

ini dapat menyebabkan penggerusan endapan sehingga terbawa ke


39
LAPORAN KERJA PRAKTEK DI IPA SIWALAN PANJI

effluen yang menyebabkan kualitas effluen menjadi lebih buruk

sehingga memerlukan pencucian / backwashing (Santoso, 1997).

3. Adsorpsi

Adsorpsi adalah proses penghilangan impurities air karena adanya

gaya tarik menarik antara impurities dengan butiran media. Proses

adsorpsi ini memegang peranan yang sangat penting dalam filtrasi,

karena akan menghilangkan partikel yang lebih kecil daripada partikel

tersuspensi, seperti partikel impurties dan partikel koloid. Kemampuan

adsorpsi hanya terjadi pada jarak antara 0,01 - 1µm disekitar partikel

butiran. Prinsip proses adsorpsi adalah karena adanya perbedaan

muatan antara permukaan butiran dengan impurties tersuspensi atau

koloid yang ada disekitarnya. Partikel koloid yang berasal dari organik

umumnya bermuatan negatif tidak akan teradsorpsi pada saat filter

masih bersih dan baru beroperasi. Setelah filtrasi berjalan dan banyak

partikel positif tertahan pada butiran media filter, maka permukaan

butiran menjadi lewat jenuh dan menjadi bermuatan positif. Kemudian

terjadi adsorpsi tingkat kedua, yaitu menarik partikel bermuatan

negatif. Jika adsorpsi tingkat kedua mencapai kondisi lewat jenuh,

muatan kembali menjadi negatif dan mengadsorpsi muatan positif.

Semakin lama impurties yang menempel pada permukaan butiran

media akan semakin tebal, sehingga gaya penyebab terjadinya adsorpsi

( gaya Van der Waals dan Coloumb ) menjadi menurun kekuatannya

dan efisiensi filter menurun (Santoso, 1997).


40
LAPORAN KERJA PRAKTEK DI IPA SIWALAN PANJI

4. Aktivitas Kimia

Aktivitas kimia adalah proses dimana impurties yang terlarut

diuraikan menjadi substansi yang lebih sederhana dan tidak berbahaya

atau dirubah menjadi partikel tidak terlarut, sehingga dapat

dihilangkan dengan proses straining, sedimentasi dan adsorpsi pada

media berikutnya.

5. Aktivitas Biologis

Aktivitas ini disebabkan oleh mikroorganisme yang hidup dalam

filter. Secara alamiah bakteri terdapat dalam air baku dan jika melalui

filter ada yang tertahan pada butiran media filter. Bakteri ini

berkembang biak dengan bahan organik dan anorganik sebagai

makanannya yang mengendap di butiran, makanan ini sebagian

dipergunakan untuk proses hidupnya (disimilasi) dan sebagian untuk

proses pertumbuhannya (asimilasi). Hasil disimilasi ini dipergunakan

lagi oleh bakteri yang letaknya lebih dalam.

Pemakaian dari filter ini tidak dapat secara terus menerus tanpa

adanya pencucian filter, karena efektifitas filter akan menurun bila

telah penuh dengan partikel yang menempel dan kelewat jenuh.

Apabila dari effluen filter telah terdapat endapan maka merupakan

pertanda filter perlu dicuci. Pencucian filter dengan cara backwash,

pencucian media dengan aliran balik. Dari mekanisme yang terjadi

dalamfilter dapat disimpulkan bahwa selama prosesnya akan terjadi

perbaikan kualitas air baku yang akan digunakan sebagai air minum.
41
LAPORAN KERJA PRAKTEK DI IPA SIWALAN PANJI

2.3.5.3. Prinsip Proses Bangunan Filter

Pada perencanaan ini digunakan Rapid Sand Filter yang berfungsi

untuk menyaring flok-flok halus hasil proses flokulasi yang belum

terendapkan pada bak pengendap II (sedimentasi), dengan maksud untuk

memperbaiki kualitas air baku. Proses filtrasi dilakukan dengan

melewatkan air baku melalui media berpori tertentu.

Pada perencanaan ini digunakan dual media yaitu pasir dan antrasit

dengan sistem constant rate. Penggunaan dual media ini didasarkan pada :

• Menghindari clogging yang terlalu cepat.

• Efektifitas lapisan film mudah dicapai.

• Headloss dapat diminimalkan.

Pada filter ini pencucian karena adanya penyumbatan dilakukan

dengan tetap menjaga agar media tetap terstratifikasi dengan antrasit pada

bagian atas dan pasir pada bagian bawah. Hal ini diatur dengan berat jenis

media yang berbeda. Antrasit memiliki berat jenis yang lebih kecil

dibandingkan pasir sehingga setelah di backwash posisi antrasit tetap

diatas.

Berikut ini adalah hal-hal yang perlu diperhatikan dalam proses

filtrasi :

1. Kecepatan air melalui saluran atau pipa

Dalam merencanakan perpipaan, saluran, valve, gate valve pada

filter umumnya perlu diperhatikan batasan kecepatan air.


42
LAPORAN KERJA PRAKTEK DI IPA SIWALAN PANJI

2. Media saringan

Media saringan meliputi media filter dan media penyangga. Media

filter umumnya berbentuk single media, dual media atau mixed media.

3. Sistem pengumpul filtrat (underdrain)

Sistem pengumpul filtrat meliputi : orifice, lateral dan manifold.

Filtrat atau air yang telah disaring masuk dari orifice kemudian ke

lateral dan mengalir ke manifold.

Dua tujuan utama penggunaan sistem underdrain filter adalah

untuk menahan filter bed tanpa adanya kehilangan media dan distribusi

yang seragam dari air pencuci filter ke seluruh filter bed. Untuk desain

interfilter-washing unit, headloss yang terjadi di underdrain antara

20-30 cm, dimana dimungkinkan terjadi ketidakseragaman distribusi

aliran, sehingga kedepatan aliran harus cukup kecil agar variasi

tekanan/headloss tidak mempengaruhi perencanaan dari backwash.

4. Pencucian media

Ada dua cara umum dalam pencucian media filter, yaitu :

~ Backwashing system ( pancaran keatas )

Backwash bertujuan untuk menghilangkan material-material

yang terdeposit dalam filter bed selama proses filtrasi berlangsung.

Ketika filter di backwash, aliran upflow dikenakan pada rate tertentu

untuk dapat mengekspansi media filter dan membawa akumulasi

kontaminan pada filter. Prosestase ekspansi media pada setiap rate

ialah fungsi dari ukuran dan spesifik gravity media dan temperatur
43
LAPORAN KERJA PRAKTEK DI IPA SIWALAN PANJI

air. Untuk menentukan total head yang diperlukan untuk backwash,

diperlukan perhitungan headloss pada sistem selama backwash,

termasuk kehilangan tekanan di media filter, media penahan,

underdrain dan pelengkapnya.

Adapun tiga tipe pengaturan backwash yang biasa digunakan,

yaitu : (Hadi,1997)

• Elevated reservoir

• Pompa backwash

• Interfilter washing-unit

~ Surface washing system ( pancaran ke permukaan filter )

Dengan mengetahui debit pencucian maka bisa di hitung

kecepatan aliran, slope dan kehilangan tekanan melalui manifold,

lateral dan orifice. Perhitungan dapat dilakukan dengan

menggunakan rumus atau dengan nomogram. Selain dengan surface

wash dapat pula digunakan udara atau alat mekanis dengan tujuan

yang sama yaitu membantu backwash sehingga filter tetap bersih.

2.3.6. Bangunan Desinfeksi

Desinfeksi merupakan metoda untuk membunuh bakteri yang tidak

dikehendaki ada di dalam air minum, seperti bakteri pathogen sebagai

penyebab berbagai penyakit. Berbeda dengan sterilisasi yang berarti

membunuh semua mikroorganisme hidup. Sasaran sterilisasi adalah untuk

riset, penggunaan dalam bidang kedokteran dan farmasi. Air minum tidak
44
LAPORAN KERJA PRAKTEK DI IPA SIWALAN PANJI

memerlukan sterilisasi. Hal yang perlu diperhatikan dalam konteks

desinfeksi adalah bagaimana mencegah terjadinya pemindahan bibit

penyakit ke tubuh manusia melalui air minum dengan memutus rantai

antara keduanya dengan cara desinfeksi. Ada 3 kategori mikroorganisme

patogen di usus manusia, yaitu bakteri, virus, dan kista.(hadi,1997)

Untuk pertimbangan praktis, desinfeksi harus memenuhi

persyaratan seperti: (Fair,1971)

a. Dapat membunuh berbagai jenis dan semua populasi patogen yang ada

di dalam air minum dalam waktu dan suhu tertentu

b. Desinfektan tidak bersifat racun terhadap manusia/binatang atau ditolak

exsistensinya karena rasa/baunya

c. Biaya pengadaanya murah, metode penyimpanan dan pemberiannya

mudah dan aman

d. Kadarnya dalam air minum mudah dianalisa dan diketahui

e. Masih menyisakan sejumlah kadar tertentu sebelum dikonsumsi.

Desinfeksi dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu :

1. Physical

Air mendidih dapat membunuh organisme penyakit dalam waktu

15 – 20 menit, meskipun untuk amannya air harus dipanaskan dalam

waktu lebih lama. Sinar matahari merupakan desinfektan alamiah

karena sinar matahari mengandung sinar UV (ultraviolet) yang mampu

bertindak sebagai desinfektan.


45
LAPORAN KERJA PRAKTEK DI IPA SIWALAN PANJI

2. Chemical

Khlor, brom dan iodida merupakan kelompok hidrogen yang

efektif untuk desinfektan. Agen pengoksidasi pottasium permanganat,

khlorin dioksida dan ozon juga dapat digunakan sebagai desinfektan.

Pada proses desinfeksi, khlor bekerja dalam bentuk hypokhlorit

atau khlor bebas. Residual khlor bebas bukan khlor bebas molekular

yang bertindak sebagai gas terlarut kecuali pada pH ≤ 5. Kombinasi

khlor denagn air pada pH 5 dan 6 membentuk hipokhlor dan asam

hipokhlorit.

Reaksi yang terjadi :

Cl2 + H2O Ù HOCl + HCl

HOCl ÙH+ + OCl-

Pada pH 8,5 HOCl terionisasi 90% menjadi ion hipokhlorit. HOCl

merupakan desinfektan efektif. Air dengan pH 6 – 7,5 maka 40 – 95%

khlor tersedia bebas dalam bentuk HOCl.

Kaporit dalam air bereaksi sebagai berikut :

Ca(OCl)2 + H2O Ù Ca2+ + H2O + 2OCl-

H+ + OCl- Ù HOCl

Amonia dalam air akan bereaksi dengan khlor atau asam

hipokhlorit membentuk :

- Pada pH 7,7 : monochloramine (NH2Cl)

NH3 + HOCl Ù NH2Cl + H2O

- Pada 4 ≤ pH ≤ 6 : dichloramine (NHCl2)


46
LAPORAN KERJA PRAKTEK DI IPA SIWALAN PANJI

NH2Cl + HOCl2 Ù NHCl2 + H2O

- Pada pH ≥ 7 ; trichloramine

NHCl2 + HOCl Ù NCl2 + H2O

Desinfeksi dengan khlor atau yang biasa dikenal sebagai khlorinasi

dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu :

a. Plain chlorination

Khlorinasi langsung dilakukan ke dalam pipa, dimana pipa ini

menghubungkan sumber air dan kota. Untuk desinfeksi saja diperlukan

sekitar 0,50 mg/l zat khlor atau lebih, agar diperoleh sisa khlor didalam

jarring-jaring pipa distribusi didalam kota. Desinfeksi seperti ini

biasanya dilakukan pada air permukaan tanpa adanya pengolahan (pada

beberapa kota di luar negri).

b. Prekhlorinasi

Khlor ditambahkan langsung pada air sebelum diolah. Bakteri

terbunuh selama prekhlorinasi akan memperkecil kemungkinan

digunakannya filter bed. Prekhlorinasi memperbaiki koagulasi dan

mereduksi rasa dan bau karena oksidasi bahan organik.

c. Post khlorinasi

Khlor ditambahkan pada air yang telah diolah. Dosis khlor

tegantung air baku dan lama kontak yang diperlukan.

Faktor – faktor yang mempengaruhi khlorinasi adalah sebagai berikut :

1. Suspended solid yang terkandung dalam air dapat digunakan

sebagai pelindung bagi bakteri dari khlorin.


47
LAPORAN KERJA PRAKTEK DI IPA SIWALAN PANJI

2. Desinfecting power menurun akibat kehadiran organic matter

(senyawa organik).

3. Khlorinasi berlangsung efektif pada air yang mempunyai pH dan

alkalinitas rendah.

4. Keefektifan khlorin menurun akibat kehadiran nitrit, besi, dan

mangan.

2.3.7. Reservoar

Berfungsi untuk menampung air bersih, sebelum didistribusikan

pada konsumen. Reservoar juga berfungsi sebagai bak kontak

desinfektan ( proses desinfeksi ).

Perencanaan ini menggunakan ground reservoar. Pemilihan ground

resevoar didasarkan pada daerah distribusi yang konturnya datar

sehingga tidak perlu menggunakan elevated reservoar melainkan cukup

dengan pompa distribusi.

Kapasitas Ground Reservoar ditentukan dengan

mempertimbangkan keperluan-keperluan seperti keperluan distribusi

dan keperluan Instalasi. Kapasitas Ground Reservoar juga ditentukan

berdasarkan waktu pemakaian, waktu pemompaan serta debit

pemompaan.
BAB III

DISKRIPSI UMUM PERUSAHAAN

3.1. Sejarah dan Perkembangan PDAM Sidoarjo

3.1.1. Sejarah PDAM Sidoarjo

Dalam UUD 1945 pasal 33 ayat 2 dan 3 telah disebutkan bahwa

cabang-cabang produksi yang penting bagi Negara dan yang menguasai

hajat hidup orang banyak dikuasai oleh Negara. Cabang-cabang produksi

yang penting bagi Negara dan menguasai hajat hidup orang banyak di

antaranya adalah air . Maka untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan

air bersih yang memenuhi syarat kesehatan, pemerintah membentuk

Pengolahan Air Minum.

Proses terbentuknya Perusahan Daerah Air Minum “Delta Tirta”

Kabupaten Dati II Sidoarjo adalah sebagai berikut, berdasarkan penjelasan

atas peraturan daerah Propinsi Daerah Dati I Jawa Timur no. 4 tahun 1976,

tentang peralihan pengurusan saluran air minum Mojokerto kepada

Pemerintah Kabupaten Daerah Tingkat II Sidoarjo, Mojokerto, Jombang,

dan Pemerintahan Kotamadya Daerah Tingkat II Mojokerto, disebutkan

bahwa pada massa Hindia Belanda telah ada beberapa Water Leading

Bedrijuen yang dikuasai oleh pemeritnah Propinsi Jawa tanggal 14

Desember 1933 antara lain :

1) Provincial Water Leading Bedrijf Zuid Sidoarjo yang meliputi

Daerah Tingkat I Sidoarjo.

48
49
LAPORAN KERJA PRAKTEK DI IPA SIWALAN PANJI

2) Provincial Water Leading Bedrijf Zuid Surabaya yang meliputi

Daerah Tingkat II Jombang dan Mojokerto.

Kedua Provincial Water Leading tersebut langsung dibawah pengawasan

Hoofd Central Bedrijf Desint yang secara administatif dan teknis diatur

oleh ketentuan dalam provincial von schroften van oost Java.

setelah tanggal 17 Agustus 1945 pengurusan kedua Provincial

Water Leading Bedrijf tersebut dilakukan sejak tahun 1950 kedua

provincial water leading bedrijf tersebut dilimpahkan kepengurusan pada

Dinas Pekerjaan Umum Propinsi Jawa Timur sebagai Dinas Saluran Air

Minum Keresidenan Surabaya di Mojokerto.

Kemudian memenuhi anjuran Pemerintah Mentri Dalam Negri

dalam suratnya tanggal 11 Juli 1974 nomor. EKBANG/8/43, agar segera

dilaksanakan penyesuaian Perusahaan Air Minum menjadi Perusahaan

Daerah, maka dipandang perlu untuk menyerahkan penguasaan saluran air

minum Mojokerto kepada masing-masing pemerintah kabupaten Daerah

Tingkat II Mojokerto, Jombang, Sidoarjo dan Kotamadya Daerah Tingkat

II Mojokerto. Sejak saat itu pengurusan Perusahaan Daerah Air Minum

adalah sebagai perusahaan daerah oleh masing-masing Daerah Tungkat II

termasuk pemerintahan Kabupaten Dati II Sidoarjo.

3.1.2. Perkembangan PDAM Sidoarjo

Sejak perusahaan daerah air minum yang berlokasi di jalan

Pahlawan no. 1, di dalam pengolahannya terdapat beberapa


50
LAPORAN KERJA PRAKTEK DI IPA SIWALAN PANJI

perkembangan. Adapun perkembangan perusahaan yang terjadi adalah

sebagai berikut:

1. Terjadinya perubahan kepemimpinan / managerial perusahan

mulai berdiri / disahkan 1974 sebagai berikut :

¾ R. Soemardi Darsoatmojo, periode tahun 1978-1985

¾ H. Maskan, periode tahun 1985-1993

¾ Ir. H. Usman Djuanda, periode tahun 1993-1998

¾ Suhara H.A, periode tahun 1998-2001

¾ Drs. Suharyanto, MBA, periode tahun 2001-2006

¾ H. Djajadi, SH, MM, periode 2006-2010

2. Perkembangan bidang produksi PDAM ”Delta Tirta” Kabupaten daerah

Tingkat II Sidoarjo terdiri dari 7 cabang, yaitu meliputi :

¾ Cabang 1 Sidoarjo

Cabang Sidoarjo yang dilayani air dari IPA Siwalan Panji, IPA

wonoayu

¾ Cabang 2 Porong

Sumber air baku yang diambil dari sungai kanal yang terletak di

wilayah Kecamatan Porong dan dari Umbulan. Air baku diolah

dengan menggunakan sistem pengolahan lengkap yaitu dengan

menggunakan Water Treatment

¾ Cabang 3 Krian

Untuk cabang Krian dilayani air dari PT. Taman Tirta Sidoarjo
51
LAPORAN KERJA PRAKTEK DI IPA SIWALAN PANJI

¾ Cabang 4 Sepanjang

Cabang Sepanjang dilayani air PT. Taman Tirta Sidoarjo dan PT.

Hanarida Tirta Birawa

¾ Cabang 5 Waru 1

Cabang 5 Waru 1 (Tambak Sumur) dilayani air dari PT . Taman

Tirta Sidoarjo

¾ Cabang 6 Waru II

Cabang Waru II (Makarya Binangun) dilayani air dari PT.

Taman Tirta Sidoarjo dan PT. Hanarida Tirta Birawa

¾ Cabang 7 Gedangan

Cabang Gedangan dilayani air dari PT. Taman Tirta Sidoarjo, PT

Hanarida Tirta Birawa

3.2. Lokasi

PDAM ”Delta Tirta” Kabupaten Sidoarjo berlokasi di jalan Pahlawan

no. 1 Sidoarjo.
52
LAPORAN KERJA PRAKTEK DI IPA SIWALAN PANJI

gambar 3.1.
53
LAPORAN KERJA PRAKTEK DI IPA SIWALAN PANJI

3.3. Permodalan dan Perizinan

3.3.1. Permodalan

Neraca permodalan perusahaan daerah terdiri atas semua aktiva

dan pasiva dari dinas daerah yang dialihkan menjadi modal dasar

perusahaan daerah. Modal perusahaan daerah tersebut dapat ditambahkan

dari penyisihan sebagian anggaran pendapatan dan belanja daerah

Kabupaten daerah tingkat II Sidoarjo dengan keputusan dewan perwakilan

rakyat daerah. Semua alat liquid disimpan dalam bank pemerintah yang

ditunjuk oleh kepala daerah.

3.3.2. Perijinan

Perijinan pembangunan perusahaan daerah adalah kepala dinas

daerah yang berkenaan dengan kepala daerah dan dewan perwakilan

rakyat daerah.

3.4. Struktur Organisasi

Struktur organisasi PDAM ”Delta Tirta” secara umum:

A. Pimpinan ialah Direksi yang terdiri dari:

1. Direksi Utama

2. Direktur Bidang Umum

3. Direktur Bidang Teknik


54
LAPORAN KERJA PRAKTEK DI IPA SIWALAN PANJI

B. Staf Direksi terdiri dari :

1. Satuan Penelitian dan Pengawasan

2. Satuan Pengawasan Intern

C. Staf Direktur Bidang Terdiri dari :

1. Bagian-bagian

D. Pelaksana terdiri dari :

1. Unit Perusahanan Daerah

2. Unit Instalasi Produksi

Adapun tugas dan pelaksanaan dari bagian-bagian yang berkenaan

dengan kegiatan kerja pratek kami adalah :

1. Direksi PDAM ”Delta Tirta” Sidoarjo

Memiliki tugas dan tanggung jawab untuk memimpin perusahan,

mengurus dan menguasai kekayaan perusahaan daerah, mengusulkan tarif

air minum kepada kepala daerah, menyusun dan mengajukan rencana

anggaran perusahan daerah selambat-lambatnya 3 bulan sebelum tutup

buku, menyusun laporan berkala perhitungan hasil usaha dan kegiatan

perusahaan daerah air minum untuk disampaikan kepada kepala daerah

setiap 3 bulan sekali, mengangkat dan memperhatikan pegawai, setiap

akhir tahun buku direksi berkewajiban menyampaikan perhitungan

tahunan berupa rugi / laba kepada kepala daerah. Dengan persetujuan

Kepala Daerah mengadakan perjanjian atas nama perusahan daerah yang

berlaku dalam jangka waktu lebih dari satu tahun, mengadakan pinjaman

dan pengeluaran obligasi, memperoleh, memindah tangankan atau


55
LAPORAN KERJA PRAKTEK DI IPA SIWALAN PANJI

membebani benda tak bergerak, mengadakan invetasi baru, penyertaan

modal dalam perusahaan lain, mewakili perusahaan daerah didalam

maupun diluar pengadilan.

2 . Bagian SPI PDAM ”Delta Tirta” Sidoarjo

Satuan Pengawas Intern memiliki tugas pokok mengadakan

penilaian atas sistem pengendalian pengolahan perusahaan, melakukan

pengawasan terhadap mekanisme kegiatan seluruh unit / perangkat

organisasi dalam melapokan dan menyampaikan saran kepada direktur

utama. Satuan pengawasan intern dalam melaksanakan tugas pokoknya

mempunyai fungsi pengawasan dibidang keuangan, teknik operasional dan

umum dalam lingkungan perusahaan daerah. Kepala SPI bertanggung

jawab kepada Direktur Utama.

3 . Bagian Litbang PDAM ”Delta Tirta” Sidoarjo.

Penelitian dan pengawasan memiliki tugas melaksanakan

penelitian dan pengembangan sistem pengelolaan perusahaan daerah

dalam bidang umum, keuangan dan teknik serta menyampaikan hasil

sebagai bahan pertimbangan menetapkan kebijaksanaan perusahaan

daerah, penelitian dan pengembangan dalam melaksanakan tugas pokokya

memiliki fungsi pengembangan teknologi air minum, pengembangan

bidang umum perusahaan daerah serta pembinaan program, evaluasi dan

dokumentasi.
56
LAPORAN KERJA PRAKTEK DI IPA SIWALAN PANJI

4 . Bagian Umum PDAM ”Delta Tirta” Sidoarjo.

Memiliki tugas dan tanggung jawab untuk menyelenggarakan

pekerjaan kesekertariatan perusahaan daerah, menyelengarakan ketata

usahaan yang meliputi tata usaha umum/surat masyarakat, tata usaha

kepegawaian, tata usaha pengadaan barang dan jasa, tata usaha

pergudangan, perumahtanggaan, pengamanan, kehumasan hukum dan

perundang-undangan serta membantu direksi dalam melaksanakan

pembinaan organisasi dan ketatalaksanaan perusahaan daerah.

5 . Bagian Produksi PDAM ”Delta Tirta” Sidoarjo.

Memiliki tugas dan tanggung jawab untuk merencanakan

pengembangan produksi air, mengawasi agar volume air dari sumber-

sumber tidak melampaui kapasitas pengolahan, memperkirakan kebutuhan

dan mengawasi penggunaan bahan kimia dan bahan lain oleh laboratorium

untuk proses produksi, menjaga agar persediaan bahan-bahan produksi

tersedia dan melaporkan jumlah pemakaiannya pada tiap akhir bulan,

memeriksa proses pengolahan air dan berfungsinya unit-unit pengolahan,

membuat laporan tentang jumlah air yang diproduksi dan didistribusikan,

melaksanakan tugas lain yang diberikan kepala bagian produksi.


57
LAPORAN KERJA PRAKTEK DI IPA SIWALAN PANJI
58
LAPORAN KERJA PRAKTEK DI IPA SIWALAN PANJI

3.5. Ketenaga Kerjaan

3.5.1. Kebutuhan Tenaga dan Jam Kerja.

Jumlah seluruh karyawan di PDAM ”Delta Tirta” Sidoarjo

sebanyak 378 orang (per januari 2008) dengan jam kerja 8 jam per hari

dan lima hari kerja. Hari efektif di IPA (Instalasi Pengolahan Air)

sebanyak 6 hari.

3.5.2. Fasilitas karyawan.

• Pakaian dinas.

• Mobil dinas untuk direksi dan tunjangan transport untuk seluruh

karyawan.

• Tunjangan keluarga (istri 10% dari gaji pokok dan anak minimal 5% dari

gaji pokok).

• Tunjangan perusahan yang diberikan setiap bulan, sebesar 30% dari gaji

pokok.

• Tunjangan perumahan (berupa rumah dinas bagi direksi dan uang bagi

karyawan yang tidak menempati runah dinas).

• Tunjangan air (biaya pemakaian air).

• Tunjangan beras.

• Pendidikan bagi karyawan yang berprestasi dan bertujuan untuk

memajukan peusahaan (menyekolahkan karyawan).

• Tunjangan rekreasi, berupa rekreasi atau diganti dengan uang.

• Tunjangan pendidikan.
59
LAPORAN KERJA PRAKTEK DI IPA SIWALAN PANJI

• Jasa Produksi (Jaspro).

• Dana pensiun dari ’Dapenma Pamsi’ (Dana Pensiun PDAM Seluruh

Indonesia).

3.6. K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja).

Di lingkungan PDAM Delta Tirta Sidoarjo, mulai diterapkan

secara terpadu sistem kerja K3 secara terstruktur, hal ini di buktikan

dengan di bentuknya panitia (kepengurusan) yang mengurusi masalah K3

baik di lingkungan kantor pusat, ataupun di lingkungan Area Pengolahan

(Rumah Pengolahan).

Untuk lingkungan kantor pusat pelaksanaan K3 berupa penyediaan

sarana dan prasarana kantor yang aman dan nyaman seperti alat pemadam

kebakaran, dll.

Untuk lingkungan Area Pengolahan pelaksanaan K3 berupa

penyediaan masker, sepatu boot, sarung tangan dan alat penetral

kebocoran gas klorin, apabila terjadi kebocoran gas klor yaitu cairan

amonia (berupa spray).

perusahaan sendiri juga mengadakan bimbingan teknis, serta

sosialisasi K3 dan HIV AIDS dilingkungan perusahaan setiap 2 – 3 kali

dalam satu tahun.


60
LAPORAN KERJA PRAKTEK DI IPA SIWALAN PANJI

3.6.1. Perlindungan.

Perlindungan kesehatan bagi karyawan berupa ”JAMSOSTEK”

yang meliputi :

o Jaminan Kecelakaan Kerja.

o Jaminan Kematian.

o Jaminan Hari Tua.

3.6.2. Kebijakan Strategi Dari Perusahaan.

o Bila karyawan atau keluarga mengalami sakit dan harus rawat inap, maka

perusahaan menanggung 50% dari seluruh biaya.

o Bila karyawan atau keluarga mengalami sakit dan harus rawat jalan, maka

perusahaan menanggung beberapa persen dari seluruh biaya (nilai

prosentase menurut jabatan).


BAB IV

PROSES PRODUKSI

4.1. Proses Produksi

4.1.1. Tahap Pengolahan di Instalasi Pengolahan Air Siwalan Panji

Proses pengolahan air minum di PDAM khususnya Instalasi

Pengolahan Air Siwalan Panji merupakan suatu usaha untuk mengubah air

baku (air sungai Afvoor Buduran) dengan karakteristik yang ada menjadi

air minum yang aman di konsumsi. Adapun proses pengolahan di Instalasi

Pengolahan Air Siwalan Panji ada 3 tingkat antara lain :

a. Proses pengolahan fisik, proses ini dilakukan untuk menghilangkan atau

mengurangi kotoran (benda kasar) seperti sampah plastik dan daun-

daun yang jatuh serta menyisihkan pasir dan lumpur yang ada di

dalam air yang akan diolah. Unit yang berperan dalam proses

pengolahan fisik yaitu bar screen, klarifier dan filter.

b. Proses Kimia yaitu pengolahan dengan menambahkan/membubuhkan

zat kimia. Zat kimia (koagulan) yang digunakan ialah PAC dan Dukem

(polimer).

c. Proses desinfeksi yaitu pengolahan air bersih dengan menggunakan gas

khlor untuk membunuh bakteri sehingga didapatkan air minum sesuai

standar yang ditetapkan.

Tahap Pengolahan pada Instalasi Pengolahan Air Siwalan Panji

melalui tahapan sebagai berikut :

61
62
LAPORAN KERJA PRAKTEK DI IPA SIWALAN PANJI

1. Bak pengumpul I

Bangunan bak pengumpul I berfungsi sebagai bak penampungan

air baku yang berasal dari intake, sebelum di alirkan menuju tahap

pengolahan selanjutnya. Di bak pengumpul I terdapat proses aerasi

dengan menggunakan blower. Blower yang digunakan adalah air

diffuser (penginjeksi udara) digunakan untuk mengoksidasi bahan

organik yang ada pada air baku dan mengurangi bau akibat

penbusukan zat – zat organik.

2. Proses Koagulasi dan Flokulasi

Proses ini berlangsung pada pipa flash mix. Didalam pipa ini

terdapat baffle atau penghalang yang disusun berliku – liku, digunakan

sebagai pengganti proses pengadukan cepat.

3. Klarifier

Setelah mengalami proses koagulasi – flokulasi, flok yang

terbentuk akan di endapkan pada unit ini. Di IPA Siwalan Panji

terdapat 4 buah klarifier dimana tiap klarifier memiliki kapasitas yang

berbeda – beda yaitu 50 l/detik, 5 l/detik

4. Bak pengumpul II

Bak pengumpul II berfungsi untuk menampung air yang berasal

dari klarifier kapasitas 50 l/detik, sebelum dialirkan menuju unit

filtrasi.
63
LAPORAN KERJA PRAKTEK DI IPA SIWALAN PANJI

5. Filtrasi

Di IPA Siwalan Panji terdapat 2 macam jenis filter yaitu filter

tekan dan filter grafitasi. Filter tekan hanya memproses air yang

berasal dari klarifier 50 l/detik, sedangkan filter grafitasi digunakan

untuk memproses air yang berasal dari klarifier 5 l/detik.

6. Proses Desinfeksi

Penambahan berlangsung di outlet filter menuju ke unit reservoar,

dengan menggunakan gas khlor.

7. Reservoar

Air yang telah diberi desinfektan dialirkan menuju bak

penampungan akhir (reservoar) sebelum didistribusikan kepada

konsumen. Didalam bak reservoar diberi sekat agar terjadi

pencampuran antara air dan desinfektan dengan sempurna.

Adapun diagram alir proses pengolahan air minum IPA Siwalan

Panji dan denah Instalasi Pengolahan Air Siwalan Panji, dapat dilihat pada

gambar berikut ini


64
LAPORAN KERJA PRAKTEK DI IPA SIWALAN PANJI
65
LAPORAN KERJA PRAKTEK DI IPA SIWALAN PANJI
66
LAPORAN KERJA PRAKTEK DI IPA SIWALAN PANJI

4.1.2. Bahan Kimia Yang Digunakan dalam Proses Pengolahan

1. Poli Aluminium Khlorida (PAC), digunakan rutin untuk koagulasi,


berfungsi untuk membentuk flok, pembubuhan dilakukan pada pipa

pengaduk cepat (flash mix pipe).

2. Dukem (polimer), digunakan rutin untuk flokulasi, berfungsi untuk


mengikat flok-flok yang telah terbentuk dari hasil penambahan tawas

sehingga terbentuk flok yang lebih besar agar dapat diendapkan pada

bak sedimentasi, pembubuhan dilakukan pada pipa pengaduk cepat

(flash mix pipe).

3. Gas Khlor, digunakan rutin untuk desinfeksi, diinjeksikan pada outlet


filter menuju reservoir.

4. Weg Ash, digunakan untuk menambah tingkat kekeruhan pada air


baku/mengefektifkan koagulasi, membantu proses flokulasi.

Penambahan dilakukan pada Inlet.

4.2. Unit-unit Pengolahan Instalasi Pengolahan Air Siwalan Panji

4.2.1. Intake

Bangunan Intake berfungsi sebagai saluran penyadap air baku.

Kondisi Intake di IPA Siwalan Panji sebagai berikut:

→ Intake terletak ditempat yang alirannya cukup tenang

→ Tanah disekitar Intake cukup stabil dan tidak mudah terkena erosi

→ Intake terletak ± 0,5 Km dari sumber kontaminan, yaitu limbah

domestik dan pabrik


67
LAPORAN KERJA PRAKTEK DI IPA SIWALAN PANJI

→ Pipa sadap Intake bersifat grafitasi

Intake:

Ž Jumlah : 1 buah

Ž Panjang :4m

Ž Lebar :2m

Ž Kedalaman :3m

Ž Ø pipa : 600 mm

Ž Jumlah screen : 2 lapis, pada lapis ke dua terdapat 4 buah screen

Jenis Intake yang digunakan adalah Direct Intake. Direct Intake

biasanya digunakan untuk sungai yang dalam dan kemungkinan terjadinya

erosi pada dinding sungai.

Di IPA Siwalan Panji terdapat satu intake dengan 4 buah screen

dan aerator jenis spary aerator (penginjeksi air, sebagai penambah

kekeruhan) serta ada saluran penampung yang menampung air sebelum

masuk ke pipa dengan diameter 600 mm menuju bak pengumpul. Macam

– macam bangunan pelengkap intake adalah :

a. Screen

Screen yang dipakai terbuat dari batang – batang besi yang disusun

berjajar dan berupa jenis saringan yang sangat kasar, seperti ranting –

ranting pohon ,plastik, kertas dan sampah – sampah lainya. dan bukan

jenis saringan yang halus. Proses ini penting untuk pengolahan air minum

yang mengambil air baku mutu dari permukaan. Air permukaan sering kali

penuh dengan tumbuhan air yang cepat berkembang biak, seperti enceng
68
LAPORAN KERJA PRAKTEK DI IPA SIWALAN PANJI

gondok dan lain – lainya. Screen di IPA Siwalan Panji terdiri dari 2 lapis

screen, keduanya memiliki perbedaan pada lebar kisi, dimana screen

pertama memiliki lebar kisi ± 10 cm, dan screen kedua memiliki lebar kisi

± 1.5 cm dengan kedalaman ± 60 cm, screen kedua berfungsi untuk

menyaring benda – benda yang berada di dalam air (mengapung di air) dan

tidak dapat disaring oleh screen awal.

b. Blower / Aerator

Macam aerasi yang digunakan ada 2 yaitu spary aerator

(penginjeksi air) dan air diffuser (penginjeksi udara ). Pada intake, jenis

aerator yang digunakan adalah spray aerator yang berfungsi untuk

menambah kekeruhan air baku masuk ke pengolahan.

Gambar 4.3. Intake dan Screen


69
LAPORAN KERJA PRAKTEK DI IPA SIWALAN PANJI

4.2.2. Bak Pengumpul I

Bak pengumpul digunakan untuk mengumpul air yang telah di sadap

intake.

Bak pengumpul I:

Ž Jumlah : 1 buah

Ž Panjang :9m

Ž Lebar :6m

Ž Kedalaman : 3,7 m

Ž Kedalaman air : 3 m

Gambar 4.4. Bak Pengumpul I

Macam – macam bangunan yang ada bak pengumpul adalah :

a Blower/Aerator

Aerasi pada prinsipnya adalah proses penambah udara ke dalam

air, yang mempunyai kegunaan sebagai berikut :

a.) Menghilangkan kandungan Hidrogen Sulfida di dalam air.


70
LAPORAN KERJA PRAKTEK DI IPA SIWALAN PANJI

b.) Menghilangkan sebagian bau yang disebabkan oleh kandungan gas

dalam air sebagai akibat proses pembusukan zat – zat organik.

c.) Karbon Dioksida yang terkandung dalam air dapat dihilangkan

sampai 70 % (Kabon Dioksida merupakan salah satu penyebab

tumbuhnya algae).

d.) Berguna untuk mengoksidasi kandungan Fe dan Mn.

Macam aerasi yang digunakan di bak pengumpul adalah air

diffuser, yaitu dengan menginjeksikan udara melalui pipa yang diberi air

diffuser model Toot blower ke dalam aerator. Aerator di dalam intake IPA

Siwalan Panji dibuat dengan pipa melingkar 30 cm diatas dasar intake

dengan lubang berdiameter 1,5 cm dengan jarak tiap lubang adalah 15 cm.

Aerasi digunakan untuk meningkatkan kadar oksigen yang diterima oleh

air dan memecah lapisan air sehingga terjadi kontak antara udara dan air.

b. Injeksi Weg Ash

Injeksi weg ash dilakukan bila kondisi air baku jernih / kurang

keruh. Weg ash ditambahkan sebagai pengganti lumpur (menambah

kekeruhan).

4.2.3. Dosing

Berupa bangunan pembuat bahan kimia (koagulan dan flokulan)

melalui proses pengenceran dan pelarutan, diperlukan untuk menentukan

dosis bahan kimia yang dipergunakan untuk menurunkan kekeruhan,

dimana bahan kimia akan diinjeksikan dengan pompa dosing ke saluran


71
LAPORAN KERJA PRAKTEK DI IPA SIWALAN PANJI

yang menuju pipa pengaduk cepat (flash mix pipe) untuk didispersikan

pada air baku.

a. Tangki pengencer PAC:

ŽJumlah tangki : 4 buah (2 tangki berisi PAC pekat, 1 tangki

untuk proses pengenceran dengan bantuan

motor sebagai pengaduknya, 1 buah sebagai

penampung hasil pengenceran)

ŽVolume tangki : Tangki dengan PAC pekat 5200 liter

Tangki pengencer PAC 550 liter

Tangki penampung PAC 550 liter

ŽJumlah pompa : 3 buah

Gambar 4.5. Tangki pengenceran dan Tangki larutan PAC

b. Tangki pelarut Dukem:

ŽJumlah tangki : 2 buah (1 tangki untuk proses pelarutan

dukem dengan bantuan motor sebagai


72
LAPORAN KERJA PRAKTEK DI IPA SIWALAN PANJI

pengaduknya, 1 buah sebagai penampung

hasil pengenceran)

ŽVolume tangki : Tangki pengencer dukem 550 liter

Bak penampung dukem 1100 liter

ŽJumlah pompa : 1 buah

Gambar 4.6. Tangki Penampung dan Tangki Pelarut Dukem

Proses pelarutan atau pengenceran PAC:

ŽBak pengencer diisi dengan PAC pekat sesuai dengan

kebutuhan (PAC berasal dari bak PAC pekat yang di pompa

menuju bak pengencer)

Ž Setelah PAC dimasukkan kemudian ditambahkan air sampai

setinggi tanda yang ada pada dinding tangki.

ŽDiaduk kurang lebih selama 3 jam.

ŽSetelah diaduk selama 3 jam kemudian dipompa menuju bak

penampung PAC.
73
LAPORAN KERJA PRAKTEK DI IPA SIWALAN PANJI

4.2.4. Unit Pipa Pengaduk cepat/ Flash mix

Koagulasi

Proses koagulasi merupakan proses destabilisasi muatan pada

koloid dan padatan tersuspensi dengan bahan koagulan dan bertujuan

untuk menghasilkan flok-flok berukuran kecil yang merupakan hasil

penggabungan antara ion dari koagulan dengan ion partikel yang tidak

stabil. Pada sistem koagulasi IPA Siwalan Panji ini menggunakan sistem

pipa yang didalamnya terdapat sekat – sekat yang berfungsi sebagai

pengganti pengaduk untuk mencampur bahan koagulan dengan air baku..

Hal ini dikarenakan proses pengolahan air berlangsung kontinyu sehingga

diharapkan dengan digunakannya sistem ini maka waktu detensi yang

dibutuhkan lebih kecil.

Gambar 4.7. Bagian dalam dari Pipa Flash Mix & gambar Pipa Flash Mix

Flokulasi

Pada unit pengohan klarifier, terdapat bangunan flokulator dengan

bentuk persegi panjang dan tiap sub bak memiliki dimensi sebagai berikut:
74
LAPORAN KERJA PRAKTEK DI IPA SIWALAN PANJI

Klarifier Rektangular:

a Panjang : 0,8 m

a Lebar : 0,5 m

a Kedalaman : 3m

a Jumlah sub bak dalam 1 unit : 6 buah

Klarifier bentuk Limas Terpancung:

Panjang : 8m

Lebar : 0.6 m

Kedalaman : 6m

Jumlah sub bak dalam 1 unit : 8 buah

Gambar 4.8. Unit Flokulator Klarifier Rektangular

4.2.5. Unit Klarifier

Di IPA Siwalan Panji terdapat 4 buah unit klarifier, dimana

kapasitas tiap unit berbeda – beda. Fungsi bangunan ini adalah untuk

proses sedimentasi dan flokulator. Bagian – bagian dari klarifier adalah:


75
LAPORAN KERJA PRAKTEK DI IPA SIWALAN PANJI

a. Flokulator

Berfungsi untuk pembentukan flok (menggabungkan flok – flok

kecil menjadi flok flok yang lebih besar agar mudah mengendap).

Jenis flokulasi yang digunakan berupa baffle chanel vertical.

b. Inlet zone

Berfungsi sebagai tempat untuk memperhalus transisi aliran dari

aliran influent ke aliran steady uniform di settling zone.

c. Settling zone

Berfungsi sebagai tempat berlangsungnya proses pemisahan flok

dari air baku dan tempat mengendap flok, sebelum ke zona sludge.

d. Sludge zone

Berfungsi sebagai tempat lumpur (flok) yang terbentuk dari zona

settling.

e. Outlet zone

Berfungsi sebagai tempat keluarnya air yang telah jernih.

Klarifier di IPA Siwalan Panji dilengkapi dengan plate settler yang

terbuat dari bahan fiber bergelombang (lamela settler).

Klarifier sirkular:

a Diameter :2m

a Tinggi :3m

a Kedalaman :3m

a Jumlah unit : 1 buah


76
LAPORAN KERJA PRAKTEK DI IPA SIWALAN PANJI

Gambar 4.9. Klarifier Sirkular 5 l/detik

Klarifier Rektangular:

a Panjang : 1,5 m

a Lebar : 1,5 m

a Tinggi :3m

a Kedalaman :3m

a Jumlah unit : 2 buah

Gambar 4.10. Klarifier Rectangular 5 l/detik


77
LAPORAN KERJA PRAKTEK DI IPA SIWALAN PANJI

Klarifier Bentuk Limas Terpancung:

a Panjang :8m

a Lebar :5m

a Tinggi :6m

a Kedalaman :3m

a Ø pipa inlet : 8”

a Ø pipa outlet : 8”

a Jumlah unit : 1 buah

Gambar 4.11. Klarifier Bentuk Limas Terpancung 50 l/detik

4.2.6. Bak Pengumpul II

Bak Pengumpul II hanya melayani air dari hasil pengolahan pada

klarifier yang berkapasitas 50 l/detik. Untuk selanjutnya diolah

menggunakan filter tekan. Terdapat terjunan yang berfungsi sebagai


78
LAPORAN KERJA PRAKTEK DI IPA SIWALAN PANJI

pengganti aerator, agar terjadi kontak antara air dengan udara, sehingga

dapat mengurangi bau.

Bak pengumpul II :

o Panjang :8m

o Lebar :5m

o Tinggi :6m

o Kedalaman :3m

Gambar 4.12. Bak Pengumpul II

4.2.7. Unit Filtrasi

Bangunan filter merupakan bangunan yang berfungsi untuk

menyaring flok – flok halus yang masih terdapat didalam air yang tidak

terendapkan pada bangunan sedimentasi dan juga menyaring bakteri atau

mikroorganisme lain yang masih terdapat di dalam air baku. Dari outlet

bak pengumpul, air dipompa menuju unit filtrasi.


79
LAPORAN KERJA PRAKTEK DI IPA SIWALAN PANJI

a. Unit Filtrasi:

Filter tekan:

Ø tangki : 1,50 m

Tinggi : 3,50 m

Jumlah : 2 buah

Filter grafitasi:

Filter ini menjadi satu dengan unit klarifier dengan kapasitas 5

l/detik.

Bentuk : persegi panjang

Tinggi : 3,20 m

Media filter

Batu kerikil : Tebal = 40 cm

Ukuran = 1 – 3 mm

Batu sedang : Tebal = 40 cm

Ukuran = 4,5 – 5,5 mm

Batu besar : Tebal = 40 cm

Ukuran = 5 -10 mm
80
LAPORAN KERJA PRAKTEK DI IPA SIWALAN PANJI

Pencucian

Backwash : selama ± 25 menit

Fungsi – fungsi dari media yang ada pada filter :

a. Batu kerikil dengan komposisi ukuran diameter 1,0 – 3,0 mm,

ketebalan 400 mm. Batu kerikil merupakan butir – butir yang kasar

tetapi mempunyai berat jenis yang lebih ringan dari media – media

yang lainnya. Fungsi batu kerikil adalah untuk menahan flok – flok

partikel dengan ukuran butir besar, maka flok partikel besar banyak

terbentuk/dominan sehingga prosentase yang ditahan oleh batu kerikil

cukup banyak.

b. Batu sedang dengan ukuran diameter 0.45 – 0.55 mm, ketebalan media

400 mm, berfungsi untuk menahan partikel yang lolos dari saringan

batu kerikil, disaring lagi oleh batu sedang yang butirannya lebih halus

dan lebih berat dari batu kerikil.

Pengoperasian pencucian filter hanya menggunakan sistem back

wash dilakukan pencucian filter. Saat ini kemampuan menyaring unit filter

mulai berkurang sehingga sering dilakukan pencucian.

Gambar 4.13. Unit Filtrasi


81
LAPORAN KERJA PRAKTEK DI IPA SIWALAN PANJI

4.2.8. Unit Desinfeksi

Tujuan utama dari proses desinfeksi adalah untuk memenuhi

persyaratan bakteriologis bagi air minum (membunuh mikroorganisme

patogen dalam air minum). Proses desinfeksi ini dibutuhkan dan sebaiknya

dilakukan setelah proses filtrasi, karena pada proses filtrasi bakteri patogen

masih dapat lolos.

Selain itu desinfeksi juga bermanfaat antara lain untuk :

a. Mengoksidasi Zat organik yang masih ada.

b. Mengurangi bau.

c. Mencegah berkembang biaknya bakteri pada sistem distribusi air

minum.

Pada IPA Siwalan Panji saluran setelah filter terdapat titik

pembubuhan gas khlor sebagai desinfektan. Gas khlor digunakan rutin

untuk desinfeksi dengan dosis 0,7 – 0,8 mg/liter.

Gambar 4.14. Doser Gas Khlor


82
LAPORAN KERJA PRAKTEK DI IPA SIWALAN PANJI

Gambar 4.15. Pipa Injeksi Gas Khlor

Gambar 4.16. Tabung Gas Khlor

4.2.9. Reservoar

Terdapat 1 buah reservoar untuk menampung air yang akan

didistribusikan ke pelanggan.

Gambar 4.17. Unit Reservoar


83
LAPORAN KERJA PRAKTEK DI IPA SIWALAN PANJI

4.2.10. Pompa dan Blower

Pompa berfungsi untuk menaikkan air dari tempat yang rendah ke

tempat yang tinggi dan juga sebagai peralatan penunjang pada IPA

Siwalan Panji yang memiliki beberapa jenis pompa, antara lain pompa air

baku (5 buah), pompa distribusi (3 buah), pompa filter (2 buah), pompa

PAC (3 buah) dan pompa polimer (1 buah).

Gambar 4.18. Pompa Air Baku (submersible)

Gambar 4.19. Pompa Distribusi


84
LAPORAN KERJA PRAKTEK DI IPA SIWALAN PANJI

Gambar 4.20. Pompa Dosing

Gambar 4.21. Pompa Filter

Blower di IPA Siwalan Panji terdapat 2 macam yaitu spray aerator

(penginjeksi air) dan air diffuser (penginjeksi udara ).

Gambar 4.22. Blower


85
LAPORAN KERJA PRAKTEK DI IPA SIWALAN PANJI

4.3. Utilitas

4.3.1. Pengadaan Air Baku

Sumber air baku di pengolahan IPA Siwalan Panji berasal dari

sungai Afvoor Buduran yang kebanyakan dicemari oleh limbah domestik

dan pabrik – pabrik yang berada disekitar aliran sungai Afvoor Buduran

yang berada di dekat IPA Siwalan Panji.

4.3.2. Kualitas Air Baku

Kualitas air baku yang masuk IPA Siwalan Panji dianalisa secara

periodik oleh laboratorium pusat yang merupakan laboratorium induk dan

dibantu oleh laboratorium IPA Siwalan Panji. Hasil analisa yang telah

dilakukan menunjukkan bahwa kualitas air baku tidak konstan

(berfluktuasi).
86
LAPORAN KERJA PRAKTEK DI IPA SIWALAN PANJI

4.3.2.1.Karakteristik Air Baku

Tabel 4.1. Parameter Air Baku

(Sumber: Laboratorium Pusat PDAM Kabupaten Sidoarjo)


87
LAPORAN KERJA PRAKTEK DI IPA SIWALAN PANJI

Dampak dari Parameter yang melebihi ambang batas

PARAMETER FISIKA

1. Daya Hantar Listrik (DHL)

Daya hantar listrik yang besar berarti air tersebut memiliki

kemampuan untuk menghantarkan listrik

2. Kekeruhan

Kekeruhan di air disebabkan oleh zat padat yang tersuspensi, baik

yang bersifat organik maupun anorganik. zat anorganik biasanya berasal

dari lapukan batuan dan logam, sedangkan yang organik dapat berasal dari

lapukan tanaman atau hewan. buangan industri dapat juga merupakan

sumber kekeruhan. zat organik dapat menjadi makanan bakteri, sehingga

mendukung perkembang biakannya. Bakteri ini juga mrupakan zat

tersuspensi sehingga prtambahannya akan menambah pula kekeruhan air.

Demikian pula dngan algae yang berkembang biak karena adanya zat hara

N, P, K akan menambah kekeruhan air. Air yang keruh sulit didesinfeksi,

karena mikroba terlindung oleh zat tersuspensi tersebut. Hal ini tentu

berbahaya bagi kesehatan, bila mikroba itu pathogen.

3. Salinitas

Salinitas menyebabkan air menjadi berasa asin, karena adanya

unsur garam dalam air

4. Warna

Warna disebabkan oleh adanya tannin dan asam humat yang

terdapat secara alamiah di air rawa, berwarna kuning muda, menyerupai


88
LAPORAN KERJA PRAKTEK DI IPA SIWALAN PANJI

urine, oleh karenanya orang tidak mau menggunakannya. zat organik ini

bila terkena khlor dapat membentuk senyawa – senyawa khloroform yang

beracun. Warna juga berasal dari buangan industri.

5. Jumlah Zat Padat Terlarut (TDS)

Menurt ukurannya TDS dibedakan menjadi: Partikel koloid dan

partikel tersuspensi. jenis partikel koloid tersebut merupakan penyebab

kekeruhan dalam air (efek tyndal) yang disebabkan oleh penyimpangan

sinar nyata yang menembus suspensi tersebut.

TDS biasanya terdiri atas zat organik, garam anorganik dan gas

terlarut. bila TDS bertambah maka kesadahan akan naik pula. Selanjutnya,

efek dari kesadahan tersebut tergantung dari unsur kimia pembentuknya.

6. Suhu

Suhu air sebaiknya sejuk atau tidak terlalu tinggi terutama agar

tidak terjadi pelarutan zat kimia yang ada pada saluran pipa, yang dapat

mmbahayakan kesehatan, menghambat reaksi – reaksi biokimia di dalam

saluran pipa, agar mikroorganisme pathogen tidak mudah brkmbang biak.

7. Bau

Berpengaruh pada segi estetika.

8. Rasa

Berpengaruh pada segi eatetika.


89
LAPORAN KERJA PRAKTEK DI IPA SIWALAN PANJI

PARAMETER KIMIA

1. Barium (Ba)

Barium (Ba) merupakan suatu metal, berwarna putih. Sumber

alamiah Ba adalah BaSO4 dan BaSO3. Ba digunakan di dalam industri

gelas, keramik, tekstil, cat, plastik dan lain – lain. Ba yang larut dalam

cairan tubuh seperti BaCl bersifat toksik. Ba merupakan stimultan Jaringan

otot, termasuk otot polos. Keracunan Ba dapat menghentikan otot – otot

jantung dalam waktu satu jam, hingga mengakibatkan kelumpuhan urat

syaraf. Ba-Sulfat yang tidak larut dalam cairan tubuh masih digunakan

orang dalam pembuaatan foto kontras di rumah sakit

2. Besi (Fe)

Besi (Fe) mengakibatkan rasa, warna (kemerahan), pngendapan

pada dinding pipa, pertumbuhan baktri besi dan kekeruhan. Besi

dibutuhkan oleh tubuh dalam pembentukan hemoglobin. banyaknya Fe di

dalam tubuh dikendalikan pada fase adsrbsi. tubuh manusia tidak dapat

mengekskresikan Fe. Karenanya mereka yang sering menerima transfusi

darah, warna kulitnya menjadi hitam karena akumulasi Fe. sekalipun Fe

itu diperlukan oleh tubuh, tetapi dalam dosis besar dapat merusak dinding

usus. debu Fe juga dapat diakumulasikan di dalam aveoli, dan

menyebabkan kekurangan fungsi paru-paru.

3. BOD

Kebutuhan oksigen biologi. merupakan suatu analisa empiris yang

mencoba mendekati secara global proses mikrobiologis yang terjadi di


90
LAPORAN KERJA PRAKTEK DI IPA SIWALAN PANJI

alam. Angka BOD adalah jumlh oksigen yang di butuhkan oleh baktri

untuk mengoksidasi hampir semua zat organik yang terlarut dan sebagian

zat yang tersuspensi dalam air.

Pemeriksaan BOD diperlukan untuk menentukan bahan

pencemaran akibat air buangan penduduk atau industri. semakin besar pula

beban pencmarannya.

4. COD

Kebutuhan oksigen kimia adalah jumlah oksigen yang dibutuhkan

untuk mengoksidasi zat organisme yang ada dalam 1 liter sampel air.

Angka COD merupakan ukuran bagi pencemaran air yang disebabkan

berkurangnya oksigen terlarut dalam air.

5.Detergent

Limbah detergent yang mengandung phospat merupakan nutrisi

bagi ganggang dan tumbuhan air serta lumut. Lapisan gelembung yang

dihasilkan dari limbah detergent dapat menghambat masuknya sinar

matahari dan pergantian oksigen dari dalam atmosfir, sehingga

menyebabkan bakteri organik mati dan berganti dengan bakteri anorganik.

Detergent ada yang bersifat katonik, anionik, maupun nonionik.

Kesemuanya membuat zat yang lipofilik mudah larut dan menyebar di

perairan. Selain itu, ukuran zat lipofilik menjadi lebih halus, sehingga

mempertinggi toksisitas racun. Detergent juga mempermudah adsorsibsi

racun melalui insang.


91
LAPORAN KERJA PRAKTEK DI IPA SIWALAN PANJI

6.Fluroida

Fluroida adalah senyawa fluor. Fluor (F) adalah halogen yang

sangat reaktif, karenanya di alam selalu didapat dalam bentuk senyawa.

Fluroida anorganik bersifat lebih toksik dan lebih iritan daripada yang

organik. Keracunan kronis menyebabkan orang menjadi kurus,

pertumbuhan tubuh ternganggu dan ngangguan pencernaan yang disertai

dehidrasi. Pada kasus keracunan keracunan berat akan terjadi cact tulang,

kelumpuhan dan kematian. Bila air minum mengandung zat fluor lebih

dari 1,5 mg/l maka akan menyebabkan penyakit flurose (atau “mottled

enamel”) penyakit ini termasuk kronis.

7.Kromium

Kromium (Cr ) adalah metal kelabu yang keras. Cr didapatkan

pada industri gelas, metal, fotografi dan elektroplating. Kromium sendiri

sebetulnya tidak toksik, tetapi senyawanya sangat iritan dan korosif,

menimbulkan ulcus yang dalam kulit dan selaput lendir. Inhalasi Cr dapat

menimbulkan kerusakan pada tulang hidung. Dalam paru-paru, Cr dapat

menimbulkan kanker.

8.Mangan

Kehadirannya menimbulkan bau dan rasa pada air minum, bersifat

toksik pada alat pernafasan dan kerusakan pada hati, meniggalkan warna

coklat pada pakaian yang dicuci.

9.Amoniak

Menimbulkan bau dan rasa pada air, bersifat toksik.


92
LAPORAN KERJA PRAKTEK DI IPA SIWALAN PANJI

10.Nitrat

Air yang mengandung N oganik merangsang pertumbuhan alga

yang pada akhirnya menimbulkan eutrofikasi.

11.Nitrit

Menyebabkan turunnya konsentrasi oksigen terlarut (DO), karena

dalam setiap tahap reaksi dalam nitrifikasi akan mengkomsumsi DO.

12.Oksigen Terlarut

Dalam air yang dibutuhkan oksigen untuk pertumbuhan dan

kehidupan mikroorganisme dan manusia yang meminumnya. Baku mutu

oksigen terlarut adalah 6 mg/l, dibawah baku mutu berarti kandungan

oksigen dalam air kurang. sehingga menyebabkan organisme dalam air

mati, karena kekurangan oksigen .

13.pH

pH normal adalah 7, nilai pH dibawah atau diatas menyebabkan

iritasi pada kulit dan menyebabkan beberapa mikroorganisme tidak dapat

bertahan hidup dalam air, pH dibawah 7 bersifat korosif.

14.Phenol

Dalam jumlah sedikitpun menimbulkan bau.

15.Sulfat

Menimbukan bau dan korosi pada perpipaan akibat reduksi sulfat

menjadi H2S dalam kondisi anaerob.


93
LAPORAN KERJA PRAKTEK DI IPA SIWALAN PANJI

16. Sulfida

Adanya zat sulfida menyebabkan air sangat berbau, seperti bau

telur busuk. karena itu syarat sulfida dalam air minum = 0.

17. Tembaga (Cu)

Tembaga (Cu) sebetulnya dipelukan bagi perkembangan tubuh

manusia. tetapi, dalam dosis tinggi dapat menyebabkan gejala GI, SPP,

ginjal, hati, muntaber, pusing kepala, anemia, kram dan konvulsi. Dalam

dosis rendah dapat menimbulkan rasa kesat, warna dan korosi pada pipa

sambungan dan peralatan dapur.

18. Zat Organik (KMnO4)

Zat organik dalam air berasal dari: alam, minyak, tumbuhan, serat,

lemak hewan, alkohol, selulose, gula, pati, sintesa (berbagai persenyawaan

yang dihasilkan dari dalam pabrik), fermentasi (alkohol, aceton, glycerol,

antibiotik, asam, dll yang berasal dari kegiatan mikroorganisme terhadap

bahan – bahan organik).

Sumber utama dari bahan – bahan tersebut adalah dari kegiatan

rumah tangga, proses industri, peternakan dan pertanian. Kandungan zat

organik yang tinggi menimbulkan bau yang tidak sedap pada air minum

dan gangguan pencernaan.

19. Seng (Zn)

Kebutuhan tubuh akan unsur seng (Zn) perhari adalah 10 – 15 mg,

diperlukan untuk metabolisme, kekurangan akan unsur ini menyebabkan


94
LAPORAN KERJA PRAKTEK DI IPA SIWALAN PANJI

terhambatnya pertumbuhan anak, namun dalam jumlah besar

menimbulkan rasa pahit pada air minum.

(sumber: Kesehatan lingkungan, dr. Juli Soemirat S., 1994)

4.3.3. Analisa Laboratorium

1. Jar Test

Jar test merupakan peralatan laboratorium yang dipergunakan

untuk menentukan dosis pembubuhan bahan kimia pada proses

penjernihan air. Pada kondisi di lapangan analisa jar test jarang dilakukan

atau dilakukan pada kondisi tertentu saja. Para operator berpegang pada

pengalaman dalam hal penentuan dosis pembubuhan koagulan, karena

dirasa terlalu lama melakukan analisa jar test terlebih dahulu untuk

menentukan dosis koagulan apabila terjadi perubahan karakteristik air

baku yaitu kekeruhan yang dipengaruhi oleh perubahan musim yang tidak

menentu.

2. Analisa pH

pH meter yang akan digunakan harus dikalibrasi terlebih dahulu

untuk menghindari gangguan - gangguan yang dapat menyebabkan

pembacaan menjadi tidak akurat. Tujuan dari analisa pH ini adalah untuk

menentukan tingkat keasaman atau basa dalam air melalui konsentrasi ion

hidrogen (H+). pH akan tinggi jika air banyak mengandung ion OH- dan

pH akan rendah jika kandungan ion H+ tinggi. Air yang telah diolah

diharapkan mempunyai pH antara 7 – 8 untuk melindungi jaringan


95
LAPORAN KERJA PRAKTEK DI IPA SIWALAN PANJI

distribusi dari bahaya korosi. Jika air mempunyai pH rendah (kondisi

asam), maka perlu ditambahkan kapur untuk menaikkan pH menjadi 8.

3. Analisa Turbiditi

Analisa turbiditi dengan metode turbidimeter ini didasarkan pada

intensitas cahaya yang dipendarkan oleh suspensi dalam air. Untuk itu,

sebelum memasukkan sampel ke dalam tabung, sebaiknya sampel dikocok

terlebih dahulu agar partikel – partikel yang terdapat di dalam sampel

dapat merata di semua bagian sehingga pada saat pembacaan nilainya

akurat. Gangguan yang sering dialami selama analisa turbiditi ini adalah

tabung yang kurang bersih, buram dan basah. Persyaratan turbiditi untuk

air minum menurut Peraturan Menteri Kesehatan Replubik Indonesia

Nomor .416/ MENKES/ PER/ IX/ 1990 adalah < 5 Ntu.

4. Analisa Sisa Khlor

Pada saat sampel dimasukkan ke dalam masing – masing khlor

meter, sampel diberi beberapa tetes reagen. Jika terjadi perubahan warna

menjadi merah muda menandakan sampel tersebut mengandung sisa khlor.

Nilai sisa khlor dapat diketahui dengan membaca angka yang terdapat

pada samping alat. Sisa khlor ini dimaksudkan untuk menjaga kualitas air

dari bakteri Coli hingga sampai ke pelanggan. Sisa khlor yang sampai ke

pelanggan minimum harus 0,2 menurut Peraturan Menteri Kesehatan

Republik Indonesia Nomor.907/MENKES/PER/VII/2002.

4.3.4. Penyediaan Energi Listrik

Kebutuhan akan energi listrik di IPA Siwalan Panji dipasok dari PLN.
BAB V

TUGAS KHUSUS

5.1. Perhitungan Bak Sedimentasi

5.1.1. Zona Settling

Kriteria perencanaan:

1. Q = 50 l/dt = 0,05 m3/dt

2. Jumlah bak = 1 buah

3. Jumlah subbak = 2 buah

4. Panjang subbak = 6m

5. Lebar subbak = 2m

6. Kedalaman = 4m

Perhitungan:

1. Debit (Q)

Qtotal
Qsubbak =
Σ subbak
0,05m 3 / dt
Qsubbak =
2
Qsubbak = 0,025m 3 / dt

Plate settler

2. Waktu tinggal (td)

LWH
td =
Q
6m * 2m * 4m
td =
0,025m 3 / dt
td = 1920 det ik = 0,53 jam

96
LAPORAN KERJA PRAKTEK DI IPA SIWALAN PANJI 97

Plate settler

C
h (kedalaman plate) = 0,9m
a(kemiringan plate) = 60o
y h w (jarak antar plate) = 0,05m

A w

3. Panjang plate

h
y=
sin α
0,9
y=
sin 60 o
y = 1,04m

4. Panjang lintasan AC

h w
AC = +
sin α tan α
0,9m 0,05m
AC = o
+
sin 60 tan 60 o
AC = 1,07 m

5. Kecepatan mengendap partikel (Vs)

h
Vs =
td
0,9m
Vs =
1920 det ik
Vs = 0,00047m / dt

6. Kecepatan horizontal (Vo)

Vo = (0,5 − 0,7) * Vs
Vo = 0,5 * 0,00047 m / dt
Vo = 0,000235m / dt
LAPORAN KERJA PRAKTEK DI IPA SIWALAN PANJI 98

Dari hasil Vs, diplotkan ke grafik diameter partikel (Reynold, 226) didapatkan

diameter partikel= 4.10-3 cm

Dari hasil Vs/Vo, diplotkan ke grafik % removal (Fair Geiyer and Okun, 25-14)

didapatkan % removal sebesar 79% best performance

7. Radius hidrolis (R)

w sin α
R=
2
0,05m * sin 60 o
R=
2
R = 0,022

8. Luas area settling (A)

Q ⎡ w ⎤
A= ⎢ ⎥
Vo ⎣ (h cos α ) + ( w cos α ) ⎦
2

0,025m 3 / dt ⎡ 0,05m ⎤
A= ⎢ o ⎥
0,000235m / dt ⎣ (0,9m * cos 60 ) + (0,05m * sin 60 ) ⎦
o 2

A = 11,5m
lebar = 2m
A
panjang ( p) =
l
11,5m
panjang ( p) =
2m
panjang ( p) = 5,75m

9. Kecepatan Horizontal (Vh)

Q
Vh =
A sin α
0,025m 3 / dt
Vh =
11,5 sin 60 o
Vh = 0,00251m / dt
LAPORAN KERJA PRAKTEK DI IPA SIWALAN PANJI 99

10. Jumlah settler (n)

p sin α
n= +1
d
p sin α
n=
w [sin α
+1
]
5,75m * sin 60 o
n= +1
⎡0,05m ⎤
⎢⎣ sin 60 o ⎥⎦
n = 116buah

11. Bilangan Reynold (NRE)

VoR
N RE =
ν
0,00251m / dt * 0,022
N RE =
0,8975 *10 −6
N RE = 61,53 <2000………OK!
12. Bilangan Froud (NFR)

Vo 2
N FR =
gR
(0,00251m / dt ) 2
N FR =
9,81m / dt 2 * 0,022
N FR = 2,92 *10 −5 >10-5 ……….OK!

5.1.2. Zona Inlet

Kriteria perencanaan:

1. Berupa pipa dengan panjang L= 54m

2. Q = 50 l/dt = 0,05 m3/dt

3. ∅pipa inlet = 30 cm = 0,3 m


LAPORAN KERJA PRAKTEK DI IPA SIWALAN PANJI 100

Perhitungan:

1. Luas Penampang (A)

1
A = πD 2
4
1
A = * π * 0,3m 2
4
A = 0,071m 2

2. Kecepatan (V)

Q
V =
A
0,05m 3 / dt
V =
0,071m 2
V = 0,7 m / dt (0,3-2,5) m/dt……….. OK!

3. Headloss (hf)

1, 85
⎡ QL ⎤
hf may =⎢ 2 , 63 ⎥
⎣ 0,2785 * C * D ⎦
1, 85
⎡ 0,05m 3 / dt * 54 m ⎤
hf may =⎢ 2 , 63 ⎥
⎣ 0,2785 * 130 * 0,3m ⎦
hf may = 2,87 m

V2
hf min = k
2g
(0,7m / dt ) 2
hf min = 9,6
2 * 9,81m / dt 2
hf min = 1,2m

hf total= hf may + hf min


hf total = 2,87m + 1,2m
hf total = 4,07 m
LAPORAN KERJA PRAKTEK DI IPA SIWALAN PANJI 101

5.1.3. Zona Sludge

Kriteria perencanaan:

1. Beban Ss = 1000mg/l

2. Panjang = 6m

3. Lebar = 2m

4. Kedalaman = 2m

5. ∅pipa penguras = 30cm = 0,3m

6. ρs = 1200 kg/m3

Perhitungan :

1. Solid yang mengendap (S)

S = %removal * bebanSs
S = 79% *1000mg / l
S = 790mg / l = 790 gr / m 3

2. Berat solid (Ws)

Ws = S * Q
Ws = 790 gr / m 3 * 0,025m 3 / dt
Ws = 39,5 gr / dt = 0,01975kg / dt = 1706.4kg / hr

3. Volume sludge (Vsl)

Ws
Vsl =
ρs * Ss * %removal
1706.4kg / hr
Vsl =
1200kg / m 3 * 1,1 * 0,79
Vsl = 1.64m 3 / hr
LAPORAN KERJA PRAKTEK DI IPA SIWALAN PANJI 102

4. Dimensi ruang lumpur (V)

1
V = h( A + A' A * A' )
3
1 1 1
V = h(( P * L) + ( πD 2 ) ( P * L) * ( πD 2 ))
3 4 4
1 1 1
V = * 2m * ((2m * 6m) + ( π * (0,3m) 2 ) (2m * 6m) * ( π * (0,3m) 2 ) )
3 4 4
V = 8.07m 3

5.1.4. Zona Outlet

Kriteria perencanaan :
1. Panjang limpahan = 18,8 m
2. ∅pipa outlet = 30cm = 0,3m
3. grafitasi
Perhitungan :
1. Tinggi air di atas pelimpah (h)
3
3Q
h2 =
2 * Cd * P * 2 g
3
3 * 0,025m 3 / dt
h2 =
2 * 0,6 * 9,4m * 2 * 9,81m / dt 2
h = 0,013m = 1,3cm
2. WLR
Q
WLR =
P
0,05m 3 / dt
WLR =
18.8m
WLR = 0,003m 3 / mdt
LAPORAN KERJA PRAKTEK DI IPA SIWALAN PANJI 103

3. Luas penampang pipa outlet (A)


1
A = πD 2
4
1
A = π * (0,3m) 2
4
A = 0,071m 2
4. Cek kecepatan (V)
Q
V =
A
0,05m 3 / dt
V =
0,071m 2
V = 0,7m / dt (0,3-2,5) m/dt……….. OK!
LAPORAN KERJA PRAKTEK DI IPA SIWALAN PANJI 104
LAPORAN KERJA PRAKTEK DI IPA SIWALAN PANJI 105
LAPORAN KERJA PRAKTEK DI IPA SIWALAN PANJI 106
BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan

1. Hasil analisa laboratorium pada bulan Desember 2007 terhadap kualitas

air produksi IPA Siwalan Panji di Sidoarjo, dimana parameter fisik, kimia

dan mikrobiologi sudah memenuhi standart, kecuali parameter warna.

2. Tidak dilakukannya uji jar test untuk menetukan dosis PAC dalam

pembuatan larutan pembubuh koagulan yang dilakukan oleh operator

bahan kimia, dosis PAC hanya ditambahkan berdasarkan atas pengalaman

operator di lapangan dengan melakukan pengecekan karakteristik air

(kekeruhan).

3. Lumpur dari bangunan Klarifier langsung dibuang ke lingkungan sekitar

tanpa di uji terlebih dahulu, apakah mencemari lingkungan atau tidak

4. Hasil evaluasi didapatkan panjang ruang untuk zona settling yaitu 5,75

meter, sedangkan panjang ruang plate di lapangan 5,1 meter, dan banyak

plate settler 116 buah.

6.2. Saran

1. Bila terjadi produksi yang kurang baik, disegerakan melakukan

pengurasan agar hasil produksi tetap sesuai dengan baku mutu.

107
108
LAPORAN KERJA PRAKTEK DI IPA SIWALAN PANJI

2. Adanya perhitungan untuk tiap unit bangunan pengolahan, agar

memudahkan apabila terjadi penurunan kinerja dari alat-alat di IPA

Siwalan Panji.

3. Menambah media filter dengan karbon aktif, karena karbon aktif memiliki

kemampuan menyaring (adsorpsi) partikel dengan ukuran yang lebih kecil

dan juga dapat menurunkan parameter warna.

4. Melakukan uji terhadap lumpur yang dibuang ke badan air, agar lumpur

yang dibuang memenuhi standar baku mutu.

5. Perlunya dilakukan perbaikan dan perawatan terhadap alat-alat pengolahan

agar dapat berproduksi dengan maksimal.


DAFTAR PUSTAKA

APHA, AWWA, WPCF, 1980, “Standart Methods For The Eximination of Water
and Wastewater, Washington

Fair, G. M. .J. C. Geyer, D. A. Okun, 1971, “Elements of Water Supply and


Wastewater Disposal”, edisi kedua, John Wiley and Sons Inc., New York

Hadi, Wahyono, 2000, “Diktat Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Minum”,


Jurusan Teknik Lingkungan ITS, Surabaya

Sawyer, Clair N., Perry L. McCarty, 1994, “Chemistry for Environmental


Engineering”, edisi ketiga, Mc Graw-Hill Book Company, New York

Schulz, C.R., D. A. Okun, 1984, Surface Water Treatment for Communities in


Developing Countries, John Wiley and Sons Inc., New York.

Gordon M. Fair, Daniel Okun, 1968 Water and Wate Water Engineering

Razif, M, 1986, Bangunan Pengolahan Air Minum, TP-FTSP-ITS, Surabaya

Soemirat, Juli, 1994, Kesehatan Lingkungan, Gajah Mada University Press,


Yogyakarta, Indonesia
LEMBAR PENILAIAN KERJA PRAKTEK

Nama : Andri Koesafandy–Sunaryo Mei Jayanto–Januar Tri Kurniawan

N.P.M : 0552010004 – 0552010016 – 0552010022

Jurusan : Teknik Lingkungan

Judul laporan K.P. : Studi Proses Penjernihan Air Minum di Instalasi Penjernihan
Air (IPA) Siwalan Panji PDAM Kabupaten Sidoarjo

No. ASPEK PENILAIAN NILAI ANGKA

1. Sopan Santun

2 Kesungguhan

3 Adaptasi/ sosialisasi dengan warga perusahaan

4 Hubungan Kerja

5 Tanggung Jawab

6 Penguasaan masalah

7 Inisiatif & Kreatifitas

8 Kedisplinan

9 Penulisan Laporan

10 Presentasi Kehadiran

Nilai rata-rata :

Pembimbing Lapangan

Ir. Bambang Ribut S.

.
LEMBAR PENILAIAN KERJA PRAKTEK

Nama : Andri Koesafandy–Sunaryo Mei Jayanto–Januar Tri Kurniawan

N.P.M : 0552010004 – 0552010016 – 0552010022

Jurusan : Teknik Lingkungan

Judul laporan K.P. : Studi Proses Penjernihan Air Minum di Instalasi Penjernihan
Air (IPA) Siwalan Panji PDAM Kabupaten Sidoarjo

No. ASPEK PENILAIAN NILAI ANGKA

1. Sopan Santun

2 Kesungguhan

3 Adaptasi/ sosialisasi dengan warga perusahaan

4 Hubungan Kerja

5 Tanggung Jawab

6 Penguasaan masalah

7 Inisiatif & Kreatifitas

8 Kedisplinan

9 Penulisan Laporan

10 Presentasi Kehadiran

Nilai rata-rata :

Pembimbing Lapangan

Imam Chudori

.
.