Anda di halaman 1dari 3

Senyuman Nashruddin Terhadap Demokrasinya

Oleh: arab fikr yathr

Banyak peristiwa kehidupan yang tidak bisa dinalar akal, dan selesai begitu saja, dengan
jawaban yang bersahaja, lugas bahkan irrasional. Namun, betapa banyak peristiwa besar
yang diselesaikan dengan cara yang sepele menjadi masalah besar. Orang yang lalu
bersiasat agar nalarnya diterima, lalu dianggap penting. Andakalanya mengandalkan
kemampuan, andakalanya “memasrahkan pada intuisinya, tanpa berpikir panjang.
Setiap orang rindu dan membutuhkan suasana lugu, jujur, tanpa basa basi; sikap yang
akhir-akhir ini, justru dianggap “asing”, karena perubahan-perubahan nilai yang bergeser
pada kemauan-kemauan yang kering dari hikmah. Akhirnya, muncul ekstasisme pada
bidang-bidang kehidupan yang dianggap “wah” – padahal sekedar pelarian tak bertepi –
tanpa mentertawakan diri sendiri.
Bedahal dengan tokoh kita kali ini Nashruddin ia bukan seorang politisi, pedagang
ataupun seorang budayawan. Ia seorang manusia yang dimana ia turut dalam kehidupan
itu, ia berpikir bahwa dalam ruang lingkup tersebut tidak terlepas dari kemana kita akan
melangkah kedepan dan Nashriddin selalu mentertawakan apa yang belum atau telah
dilakukan dirinya. Sebab ia beranggapan dengan mentertawakan hal tersebut, ia tidak
ingin cepat tua dan tidak ingin dianggap lebih muda. Ia pun tidak ingin dianggap gila pula
karena terlalu sering tertawa, ia ingin memperlihatkan agar orang-orang tidak terlalu
serius dalam ruang lingkup yang tengah dijalaninya masing-masing meski terlihat agak
membodohkan dimata orang lain.
sebuah artikulasi yang muncul dengan nuansa “apa adanya” terkadang dianggap kurang
bijaksana. Bahkan sekalipun bermuatan kebenaran dan nilai-nilai luhur. Bisa semacam
bermuatan amar ma’ruf nahi munkar, meskipun ini kadang tidak sesuai dengan orang
lain ingin kan atau tidak sesuai dengan kapasitas pihak-pihak yang menjadi sasaran.
Meski dalam penyampaiannya kurang mengenakan terhadap orang lain, tapi ia mencoba
untuk menyapaikan dengan gayanya. Inilah, barangkali yang menjadi misi seorang
Nashruddin untuk bisa menguraikan kejenuhan-kejenuhan yang menjadi rutinitas dan
keterbatansan manusiawi, agar terselesaikan secara damai, pies and love kata slank
bilang.
Terlepas apakah, ketawa, humor dan lain-lainnya sebagai kebutuhan universal, yang
memiliki saluran-saluran yang tak terbatas, atau dianggap sekedar kebutuhan parsial yang
tidak rutin, toh, ekspresi wajah masam seseorang menjadi pemandangan yang tidak
menyenangkan, bahkan Tuhan sekalipun, mengkritik “muka masam” yang pernah
terlintas pada diri Nabi.
Adapun kisah Nashruddin itu berawal ketika di sebuah desa, tempat Nashrudin tinggal
ada pemilihan kepala desa. Nashruddin turut dalam pencalonan itu dan lawannya adalah
Syekh Mahmud seseorang yang sudah dianggap termasyur karena kaya raya, sedangkan
Nashruddin hanya seorang pedagang pakaian dan seorang teknisi.
Sudah banyak lukisan-lukisan diri Syekh di tiap sudut desa dengan gayanya yang di
temple oleh tim suksesnya, dan syekh ini membagikan bahan-bahan rumah tangga dan
uang. Bedahal Nashruddin ia tidak menempelkan lukisan dirinya seperti yang dilakukan
syekh ia melakukan kegiatan sehari-harinya di pasar berdagang.
Ada seorang ibu menghampirinya “hei, Nashruddin kenpa kau tidak melakukan seperti
yang di buat oleh Syekh itu” ibu itu berkata.
Nashruddin cukup berkata sambil tersenyum “sudah cukup masyarakat kita mendapatkan
apa yang di perlukan rumanya masing-masing dari syekh”
Ibu itu berkata “lalu apa yang akan kau lakukan, apakah akan mendiskon barang akan
kau jual”.
“justru akan saya naikkan…”, kata Nashruddin.
“loh kenapa apa tidak takut kamu kan calon kepala desa” kata ibu. Nashruddin berhenti
sejenak sambil berpikir lalu,”memang betul saya seorang calon kepala desa, karena itu
lah saya naikkan harga karena seperti yang saya bilang sudah cukup masyarakat
mendapatkan apa yang telah diberikan oleh syekh”.
Singkat cerita pemilihan atau penghitungan suara dimulai, ternyata setelah di hitung
suara Syekh Mahmud dan Nashruddin beda satu, Nashruddinlah yang memenangkan
pemilihan ini. lalu ada yang protes karena hasil penghitungan suara yang beda satu.
“kenapa bisa seperti ini pasti ada kecurangan di pihak panitia, saya minta penghitungan
ulang” sykeh mahmud berkata. Lalu Nashruddin cukup menjawab dan tersenyum seperti
biasa ”apakah ada yang salah dari penghitungan ini meski beda satu”
“iya, karena ini ada kecurangan”kata Syekh. Nashruddin berkata “baiklah saya setuju,
tapi sebelumnya ijinkan saya bicara kepada masyarakat”.
“baiklah saya ijinkan” kata syekh, sambil para timnya seperti biasa memberikan sedikit
bekal buat pulang kepada masyarakat. Nashruddin kemudian naik keatas mimbar dan
berkata “wahai saudara-saudaraku, pilihlah saya karena seperti biasa saya akan menaikan
harga tapi jika anda tidak memilih saya saya akan menurunkan harga…” setelah itu
Nashruddin turun dari mimbar sambil tesenyum. Setelah itu Syekh Mahmud ingin
bergantian naik mimbar sambil berkata dalam hatinya “wah ini kesempatanku untuk
memenangkan ini, wahai saudaraku jika memilihku akan kuturunkan harga-harga
dipasar…”. Lalu pemilihan dan penghitungan dimulai lagi, wajah-wajah masam terlihat
beda dengan Nashruddin dari awal tetap tersenyum. Setelah di hitung ternyata Syekh
Mahmud yang memenangkan pemilihan ini untuk menjadi kepala desa, sedangkan suara
Nashruddin hanya mendapatkan 6 suara itu pun dari keluarga dan teman dekatnya. Syekh
mahmud menyambut kemenangnya sambil berteriak-teriak “ aku menang…aku
menang….”. Nashruddin cukup tersenyum. Lalu sykeh menghampirinya dan berkata “
kenapa kau tetap tersenyum sedangkan kau kalah dan aku yang menang”. Nashruddin
berkata, ”saya justru merasa diri saya menang dari awal”
“kenapa begitu?” Syekh berkata sambil kebingungan. “kenapa saya berkata itu, dan
masih bisa tersenyum dari awal sampai sekarang. Karena saya masih memiliki dagangan
dan saya tidak akan di tagih janji saya pada saat itu…”, dan syekh”…?”