Anda di halaman 1dari 9

PENANAMAN NILAI-NILAI FEMINISME EKSISTENSIALIS

KEPADA ANAK-ANAK

LEWAT FILM ANIMASI DISNEY BERJUDUL “TINKERBELL”

Penyusun
Nama : LUTHFI FAZAR RIDHO
NIM : D2C007064
Jurusan : ILMU KOMUNIKASI 2008

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK


UNIVERSITAS DIPONEGORO
2010
PENANAMAN NILAI-NILAI FEMINISME EKSISTENSIALIS
KEPADA ANAK-ANAK

LEWAT FILM ANIMASI DISNEY BERJUDUL “TINKERBELL”

I. LATAR BELAKANG

Masa Kanak-kanak merupakan saat-saat krusial dalam pertumbuhan


seorang manusia. Pada masa itu anak-anak akan menyerap semua
informasi yang didapat. Mulai dari apa yang diajarkan orangtuanya di
rumah, di kala bermain bersama temen-temannya, mainan yang
dimiliki, bacaan yang dikonsumsi, dan tontonan yang disukai.
Khususnya film animasi atau kartun.

Walt Disney Pictures adalah salah satu raksasa film animasi


dunia. Dengan menelurkan film-film animasi yang terus diproduksi dari
era film kartun bisu (silent cartoon) tahun 1923 sampai dengan
teknologi 3D dewasa ini. Salah satu franchise nya adalah Disney Fairies
yang membuat film Tinkerbell. Film yang akan dibahas di esai ini.

Film Tinkerbell menceritakan tentang kehidupan seorang peri


dari Pixie Hollow yang ada di Neverland, bernama Tinkerbell, yang
hidup dari tawa dan keceriaan seorang bayi. Nama Tinkerbell sendiri
didapat setelah ia dianugerahi masuk kedalam klan para
pengrajin/tukang (tinker) yang bertugas membuat dan memperbaiki
peralatan yang digunakan oleh para peri dengan bakat alam untuk
mempersiapkan musim semi di Daratan Utama (sebutan untuk dunia
manusia). Namun Tinkerbell yang tidak memiliki bakat alam bermimpi
untuk bisa ke Daratan Utama pada musim semi bersama peri-peri yang
mempunyai bakat alam. Saat itu dimulailah pencarian jati diri Tinkerbell
dalam mewujudkan mimpinya dengan mempelajari cara peri-peri
berbakat alam menjalankan tugasnya seperti menebar angin, membuat

2
embun, mengumpulkan cahaya, melukis bunga, membuat pelangi, dan
sebagainya. Jelas Tinkerbell gagal. Ia frustrasi. Lalu ia terjerat masalah
karena merusak semua persiapan para Peri Pixie Hollow yang akan
pergi ke daratan Utama. Tinkerbell harus mempertanggungjawabkan itu
semua dengan membuat alat-alat dari “The Lost Things”, sebutan untuk
barang-barang asing yang berserakan di pantai Pixie Hollow, yang
diduga adalah milik manusia. Tinkerbell pun sukses mempersiapkan
musim semi dengan alat-alat baru yang diciptakannya sendiri. Akhirnya
Tinkerbell berhasil mewujudkan mimpinya pergi ke Daratan Utama
dengan tugas sebagai Tukang yang memperbaiki “The Lost Things”
milik manusia.

Anak-anak yang menjadi target audiens dari film ini sangat


mungkin untuk ditanamkan nilai-nilai yang akan mereka adopsi dalam
kehidupan mereka setelah menonton film ini. penulis melihat adanya
nilai-nilai dari paham feminis aliran ekstensialisme yang “menyelinap”
di film Tinkerbell ini. Film Tinkerbell ini hanyalah salah satu dari sekian
banyak film animasi Disney yang memiliki pesan-pesan tersembunyi
didalamnya. Feminisme adalah salah satu agenda utamanya. Di
beberapa negara di Dunia, contohnya Australia, feminisme diajarkan
kepada anak-anak usia 10-15 tahun dan materi-materinya dimasukkan
kedalam website yang tampilannya dikhususkan untuk anak-anak,
meskipun memang materinya belum tentu bisa dipahami oleh mereka.
(sumber: http://encyclopedia.kids.net.au/page/fe/Feminism). Bahkan di
Inggris, banyak buku-buku untuk anak-anak yang mengandung unsur-
unsur feminisme di dalamnya. Semuanya aman dan dijual bebas.
Namun konsumsi buku tersebut memang harus diawasi oleh orangtua.
Ini menunjukkan bahwa paham feminis di luar negeri dianggap aman
karena menunjukkan bahwa eksistensi anak-anak di dalam
kelompoknya tergantung apa yang dia usahakan (sumber:
http://www.guardian.co.uk/lifeandstyle/2009/dec/04/feminist-books-five-
year-olds).

3
II. PERUMUSAN MASALAH

Di Indonesia, paham feminisme masih dinilai tabu bagi masyarakat


kebanyakan, khususnya di daerah urban-rural, yang notabene
merupakan konsumen loyal dari film-film animasi Disney yang menarik
bagi mereka. Namun, Disadari atau tidak film ini membawa misi untuk
menyampaikan nilai-nilai feminisme aliran eksistensialis kedalam
pikiran anak-anak. Hal ini terlihat dalam berbagai adegan, dialog, dan
keseluruhan cerita. Tujuan dari penulisan esai ini adalah untuk
menganalisa, apakah film Tinkerbell ini adalah manifestasi dari
penanaman nilai-nilai feminisme eksistensialis yang diusung oleh
Disney Fairies kepada anak-anak dengan mengangkat cerita Tinkerbell
yang sebelumnya dikenal sebagai pendamping Peterpan.

III. PERSPEKTIF TEORITIS

Aliran Feminisme yang Penulis ambil untuk menganalisa Film ini adalah
Feminisme Eksistensialis yang dipelopori oleh Simone De Beauvoir.
Sebelumnya, paham-paham Beauvoir itu dipengaruhi oleh paham
Eksistensialisme dalam filsafat milik Paul Sartre. Ada beberapa ciri
eksistensialisme, yaitu, selalu melihat cara manusia berada, eksistensi
diartikan secara dinamis sehingga ada unsur berbuat dan menjadi,
manusia dipandang sebagai suatu realitas yang terbuka dan belum
selesai, dan berdasarkan pengalaman yang konkret. (sumber:
http://staff.blog.ui.ac.id/arif51/2008/07/28/simon-de-beauvoir-feminisme-

eksistensialis/).

Menurut Sartre, jiwa dibagi menjadi 3, Jiwa yang ada dalam


dirinya sendiri, yaitu Ada dalam dirinya (etre en soi), Ada bagi dirinya
(etre pour soi), dan Ada untuk orang lain (etre pour les autres). Etre en
soi adalah ada yang penuh, sempurna, dan digunakan untuk membahas
obyek-obyek yang non manusia karena ia tidak berkesadaran.
Sedangkan etre pour-soi mengacu kepada kehadiran yang bergerak dan

4
berkesadaran, yang merupakan ciri khas manusia yang mempunyai
aktivitas menidak. Hal ini sama dengan kebebasan untuk memilih.
Konsep Sartre yang paling dekat dengan feminisme adalah etre pour
les autres. Ini adalah filsafat yang melihat relasi-relasi antar manusia.
Tidak ada yang memaksa kita untuk melakukan tindakan dengan cara
apapun juga. Secara mutlak kita bebas. Masa depan kita benar-benar
terbuka. Namun sebenarnya, Sartre menyebutkan bahwa kebebasan itu
adalah sebuah kutukan. Karena selama seseorang memiliki kesadaran,
sebenarnya kita tidak memiliki pilihan dan kesempatan untuk
menegakkan diri.

Simone de Beauvoir menulis sebuah buku yang diberi


judul The Second Sex yang secara garis besar diungkapkan tentang
bagaimana manusia perempuan itu dijadikan obyek pada dunia laki-laki
ini. Beauvoir melihat dari 3 sisi yang diungkapkan dalam 3 bagian
bukunya, yaitu melalui takdir dan sejarah, disini Dia melihat adanya
alasan-alasan biologis yang dituduh sebagai sebab terobyekannya
perempuan. Banyak bukti-bukti biologis yang diungkapkan oleh para
ahli biologi laki-laki yang mendiskreditkan perempuan, seperti kecilnya
volume otak perempuan sehingga perempuan dianggap tidak bisa
menerima hal-hal yang eksakta sifatnya. Beauvoir mengkritik hal ini
dengan mengatakan bahwa perempuan tidak bisa didefinisikan melalui
tubuh saja tetapi harus dilihat juga melalui manifestasinya lewat
kesadaran yang disalurkan melalui aktifitas-aktifitas sosial.

Demikian juga dilihat dari mitos-mitos yang dikenakan pada


perempuan, dimana mitos perempuan adalah ibu rumah tangga yang
baik yang mengasuh anak-anak dirumah, tidak perlu berkarir diluar
rumah, Ada hal yang cukup menarik bagi saya berkenaan dengan
eksistensialisme ini yaitu mengenai gagasan malafide, yaitu suatu
bentuk manusia yang kalah dalam proses mempertahankan
eksistensinya. Malafide ini suatu bentuk manusia munafik yang lebih
suka untuk diatur, yang lebih suka untuk digariskan jalan hidupnya,
mereka tidak mau menerima tanggung jawab yaitu kebebasannya.

5
Simone de Beauvoir berpendapat bahwa setiap jenis kelamin memiliki
keinginan untuk mendapatkan hak dan kebebasan. Namun terkadang
yang terjadi, perempuan selalu tersubordinasi laki-laki. Selain itu,
perempuan telah menanamkan nilai-nilai yang sebenarnya
merendahkan dirinya itu kedalam diri mereka selama bertahun-tahun
sehingga membentuk konstruksi pribadi ataupun sosial. Walaupun
begitu, De Beauvoir meninggikan semua perempuan karena
sebenarnya perempuan menyadari bahwa mereka memiliki kekuatan
bawaan dalam arti semangat memperjuangkan femininitas mereka.
Dalam pandangan para Eksistensialis, kekuatan para perempuan untuk
melebihi para laki-laki adalah suatu yang nyata.

IV. PEMBAHASAN

Tinkerbell digambarkan sebagai peri perempuan yang periang, tertarik


pada hal-hal yang baru, suka tantangan, dan terampil. Tinkerbell tidak
memiliki bakat alam seperti teman-temannya, seperti Silvermist yang
bisa membuat embun, atau Fawn yang mampu menjinakkan binatang.
Tinkerbell dianugerahi tugas sebagai pengrajin/tukang (tinker). Pada
kehidupan nyata, pekerjaan tukang adalah pekerjaan yang biasanya
dilakukan oleh pria. Tink, begitu panggilan singkatnya, merasa salah
dengan apa yang dianugerahkan kepadanya. Karena ia memiliki mimpi
yang tidak dimiliki oleh para pengrajin lainnya. Lalu ia bekerja keras
untuk belajar pada peri-peri dengan bakat alam, walaupun pada
kenyataannya Tink tidak akan pernah bisa memiliki bakat seperti
mereka. Ada beberapa hal dari paruh pertama film ini yang perlu dikaji
menggunakan Feminisme Eksistensialis. Pada dasarnya, perempuan
selalu ingin mendapatkan suatu dengan keinginannya sendiri. Meskipun
ia bisa mendapatkan yang lebih baik dengan cara diberi begitu saja.
Beauvoir mengungkapkan bahwa perempuan yang sadar akan
kebebasannya, mereka akan dapat dengan leluasa menentukan jalan
hidupnya, sehingga menurut Beauvoir perempuan dapat pergi bekerja
dan mengkatualisasikan diri secara maksimal, perempuan bisa menjadi
intelektual dan tidak perlu khawatir akan kemampuannya jika dilihat

6
dari keterbatasan biologisnya. inilah yang dimaksud oleh Beauvoir
sebagai Semangat Pejuang Feminin. Beauvoir berpendapat bahwa
mimpi-mimpi yang dimiliki para perempuan harusnya diangkat setinggi-
tingginya agar semangat para perempuan dalam menjalani hidup, dan
tentunya lepas dari cengekeraman mitos yang dibuat para lelaki.

Ada beberapa tanda-tanda yang bisa kita baca di film ini


terkait dengan nilai-nilai feminisme eksistensialis. salah satunya adalah
ketika Tinkerbell ingin pergi ke Daratan Utama sebagai seorang
Pengrajin. Ini bisa juga dimaknai sebagai pengekangan cita-cita dan
mipi seorang anak perempuan. Refleksi ke kehidupan sehari-hari sangat
gamblang menjelaskan fenomena pengekangan keinginan perempuan
untuk berkarir di luar negeri, atau di luar rumah, dibandiing mengurusi
urusan domestik. Adegan lain adalah ketika Tinkerbell bekerja Lembur
untuk membuat alat-alat baru dengan manggunakan “The Lost Things”
untuk membuktikan bahwa ia mampu pergi ke Daratan Utama dengan
alat-alat buatannya. Hal ini menunjukkan bahwa Tink ingin
mendapatkan sesuatu dengan cara berusaha tanpa bantuan orang lain.

Pada pertengahan cerita, Tink membuat kesalahan dengan


mengacaukan persiapan para peri Pixie Hollow untuk Musim Semi.
Sudah jelas, ia harus mempertanggungjwabkannya sendiri. Ia lalu
mencari “The Lost Things”, dan menjadi komandan dalam persiapan
Pixie Hollow untuk Musim Semi. Merujuk pada pendapat Beauvoir
tentang strategi perempuan untuk bertransendensi, Tinkerbell sudah
melaksanakan semua cara tersebut. Tink bekerja sebagai seorang
Pengrajin dengan sepenuh hati, walaupun inovasi-inovasinya ditolak
mentah-mentah oleh Peri Clarion, Ratu dari Pixie Hollow. Saat Tink
harus mempertanggungjawabkan perbuatannya, Tink secara sadar
menjadi seorang intelektual, yang memimpin para peri mempercepat
persiapan musim semi. Tink memetakan apa yang harus dilakukan,
barang-barang apa saja yang dibutuhkan, dan melakukan apa yang
tidak dipikirkan sebelumnya oleh para peri. Ini adalah poin dari
feminisme eksistensialis dimana perempuan menjadi objek pemikiran,

7
pengamatan, dan pendefinisian. Dan secara otomatis, seiring
berhasilnya Tinkerbell menjadi pengrajin teladan, karena mampu
memperbaiki kesalahannya, maka ia berhasil melakukan transformasi
sosialis masyarakat Pixie Hollow untuk mau berkenalan dengan hal-hal
yang bersifat inovasi.

Penanaman Nilai-nilai Feminisme Eksistensialis kepada anak-


anak sebenarnya sangat halus dan sulit dilihat apabila kita menikmati
cerita dan kualitas gambarnya yang baik. Menurut Bandura (2004)
proses belajar anak-anak terjadi melalui peniruan (imitation) terhadap
perilaku orang lain yang dilihat atau diobservasi seorang anak.
Tinkerbell sebagai Peri cantik yang kreatif, dan menjunjung tinggi
mimpi akan diadaptasi oleh anak-anak dan nilai-nilai feminismenya
akan melekat hingga dewasa nanti. Film, menurut Cooney (1996) film
kartun dan anak-anak adalah suatu perpaduan yang sangat kuat untuk
menyuntikkan nilai-nilai pendidikan, moral, bahkan feminisme. Film
dapat membantu anak-anak mengetahui hak-hak, khususnya anak
perempuan, dalam menyikapi mimpi yang akan diwujudkannya kelak.
Tink mewakili mimpi-mimpi indah mereka. Dan menjadi penyemangat
untuk mereka.

V. KESIMPULAN

Film Tinkerbell memiliki nilai-nilai feminisme yang mampu merasuk


kepada pikiran-pikiran anak-anak. Menurut pemahaman penulis, paham
feminisme ekstensialis secara sederhana akan meningkatkan
swemangat anak-anak, khususnya anak-anak perempuan untuk
memulai menentukan cita-citanya, dan mewujudkannya dengan
kemampuannya sendiri, dan tidak perlu bantuan orang lain, apalagi
laki-laki.

***

8
KEPUSTAKAAN

Mulyana, Dedi. 2007. Komunikasi, Suatu Pengantar. Bandung: PT.


Remaja Rosdakarya.

Prabasmoro, Aquarini Priyatna. 2009. Feminisme Sebagai Tubuh.


http://pustaka.unpad.ac.id/wp
content/uploads/2009/07/feminisme_sebagai_tubuh.pdf. (diakses
13 November 2010)

Soekanto, Soerjono. 1982. Sosiologi, suatu pengantar. Jakarta : PT. Raja


Grafindo Persada.

Sartre, Jean Paul. 1974. The Writings of Jean-Paul Sartre Evanston:


Northwestern University Press.

Tong, Rosemarie Putnam. 2008. Feminist Thought. Yogyakarta : Jalasutra.