Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN

Aspek bacaan al-Qur’an atau qiraah –dalam pengertian yang luas, bukan
hanya sekedar melafalkan huruf Arab dengan lancar- merupakan salah satu aspek
kajian yang paling jarang diperbincangkan, baik oleh kalangan santri maupun kaum
terpelajar umumnya, padahal membaca al-Qur’an tergolong ibadah mahdlah yang
paling utama. Hal ini barang kali bisa dimengerti, mengingat kurangnya buku rujukan
yang mengupas tuntas ilmu qiraah dan minimnya guru al-Qur’an yang memiliki
kemampuan memadai. Antusiasme para “santri” dalam mempelajari dan mencari
dalil-dalil fiqh, baik dari al-Qur’an, hadis ataupun dari pendapat-pendapat ulama,
ternyata tidak diikuti oleh semangat mentashihkan bacaan atau mencari jawaban
tentang apa dan mengapa ada bacaan saktah, madd, ghunnah yang sama-sama
wajib (kifayah) dipelajari bagi kaum muslimin.
Dari fenomena di atas perlu ditumbuhkan kembali semangat untuk mengkaji aspek
bacaan al-Qur’an yang masih “misteri” bagi kebanyakan orang sebagaimana
semangatnya anak-anak kecil di tempat-tempat pendidikan al-Qur’an untuk bisa
“membaca” dengan lancar.
Sebagai akibat dari kurangnya informasi yang memadai tentang bacaan al-
Qur’an, bagi kebanyakan orang, ilmu qiraah (yang dipersempit dengan ilmu tajwid)
dianggap hanya mempelajari makhraj dan sifat huruf, hukum nun atau mim mati
dan tanwin, dan mad saja, lalu mereka membaca al-Qur’an apa adanya sebagaimana
yang terdapat dalam tulisan mushaf atau rasm, padahal banyak kalimat yang cara
bacanya tidak sama persis dengan tulisannya, seperti bacaan imalah, tash-hil,
isymam dan lain sebagainya.
Dalam kesempatan ini penulis berusaha memberikan sedikit pemahaman
tentang bacaan gharib dari bacaan Imam Ashim dari riwayat Hafs yang banyak
dianut oleh hampir seluruh kaum muslimin, sekaligus alasan-alasan secara bahasa
tentang bacaan gharib tersebut.
Alasan-alasan (ihtijaj) kebahasaan mengenai bacaan gharib al-Qur’an yang
akan penulis paparkan di sini, hanyalah sebutir debu dibanding besar dan luasnya
hikmah atau rahasia sesungguhnya yang dikehendaki Allah. Dengan kata lain, alasan-
alasan tersebut bukanlah faktor utama yang mendorong shahibul Qaul (Allah)
memilih kata atau lahjah tertentu, akan tetapi hanya sebuah usaha dari para ulama
terdahulu untuk memahami rahasia-rahasia Allah melalui tanda-tanda dan ilmu-ilmu
yang dia titipkan pada hambanya. Imam Nashiruddin Ahmad mengatakan bahwa
ihtijajul qira’ah tidak dimaksudkan mengkoreksi bacaan atau bahasa al-Qur’an
dengan kaidah-kaidah bahasa Arab, melakukan sebuah proses argumentasi induktif,
yakni usaha mengkoreksi kaidah-kaidah bahasa Arab dengan bahasa al-Qur’an (Abi
Thahir, 290).
Seringkali argumen-argumen yang dikemukakan mengenai qiraah tertentu
kurang relevan bila dianalogikan dengan bacaan imam lain pada kata yang sama
atau hampir sama. Namun, hal itu justru menjadikan kita semakin meyakini bahwa
perbedaan bentuk bacaan tersebut bukan hasil kreativitas imam-imam qiraah atau
para pakar bahasa Arab di masa itu, akan tetapi mereka mewarisinya dari para
sahabat, dari Nabi, dari Malaikat Jibril, dan dari Allah azza wa jall
D. Rahasia dibalik Bacaan-Bacaan Gharib

1. Saktah
Secara bahasa saktah berasal dari kata ‫ سكت – يسكت – سكوتا‬berarti diam; tidak
bergerak. Secara istilah saktah adalah memutus kata sambil menahan nafas dengan
niat meneruskan bacaan (Makky Nasr, 153). Dalam qira’ah sab’ah bacaan saktah
banyak dijumpai pada bacaan Imam Hamzah (baik dari riwayat khalad maupun
khalaf), yaitu setiap ada hamzah qatha’ yang didahului tanwin atau al ta’rif, seperti
‫ عذاب أليم‬،‫( باآلخرة‬Arwani Amin, 3-6).
Sedangkan dalam bacaan Imam Ashim riwayat Hafs; bacaan saktah hanya ada
di empat tempat, yaitu:
1. Surat al-Kahfi ayat 1 : ‫ قيما‬- ‫ولم يجعل له عوجا‬
2. Surat Yasin ayat 52 : ‫ هذا ما وعدنا الرحمن‬- ‫من مرقدنا‬
3. Surat al-Qiyamah 27 : ‫ راق‬- ‫وقيل من‬
4. Surat al-Muthaffifin 14 : ‫ ران‬- ‫كال بل‬
Alasan saktah ini adalah untuk memberikan tanda pada qari’ bahwa waqaf
pada ‫ عوجا‬termasuk waqaf tamm (sempurna), dan kata ‫ قيّما‬bukan sifat/naat dari
‫عوجا‬, ia dinashabkan karena menyimpan fi’il‫ أنزل‬. Demikian juga halnya waqaf pada
‫دنا‬00‫ مرق‬, kata ‫ذا‬00‫ ه‬bukan sifat dari ‫ مرقد‬, melainkan mubtada’ dan kata ‫ذا‬00‫ ه‬dan
sesudahnya adalah perkataan malaikat bukan perkataan orang kafir. Sedangkan
pada ‫ من‬pada ‫ من – راق‬dan ‫ بل‬pada ‫ بل ران‬yaitu sebagai kata tanya pada yang pertama
dan sebagai kata penegas pada yang kedua, juga untuk memperjelas idharnya lam
dan nun karena biasanya dua huruf tersebut bila bertemu ra’ diidghamkan sehingga
bunyi keduanya hilang (al-Qaisy, 1987:II/55).
2. Imalah
Secara bahasa imalah berasal dari kata )‫رمح‬0‫ة (ال‬0‫ل – إمال‬0‫ أمال – يمي‬yang berarti
memiringkan atau membengkokkan (tombak), sedangkan secara istilah imalah
berarti memiringkan fathah ke arah kasrah atau memiringkan alif ke arah ya’ (Abi
Thahir, 311). Bacaan ini banyak ditemui pada bacaan Imam Hamzah dan al-Kisa’i, di
antaranya pada kata yang diakhiri alif layyinah, seperti ‫ هدى‬،‫ سجى‬،‫ قلى‬،‫الضحى‬. Khusus
riwayat Imam Hafs hanya terdapat pada kata ‫( مجراها‬QS.Hud:41). Dalam qira’ah
sab’ah ada bacaan yang menyerupai imalah, yakni taqlil atau baina baina dari Imam
Warsy pada lafadz yang berwazan ‫ فُعلى‬،‫ فِعلى‬،‫( فَعلى‬Arwani Amin, 18), hanya saja taqlil
lebih mendekati fathah seperti bunyi re pada kata mereka.
Bacaan imalah merupakan salah satu dialek bahasa Arab standar (fasih) untuk
penduduk Najed dari suku Tamim, Qais dan Asad. Bacaan imalah ini bermanfaat
untuk memudahkan pengucapan huruf, karena lidah itu akan terangkat bila
membaca fathah dan turun bila membaca imalah dan tentunya turunnya lidah itu
lebih ringan dari terangkatnya lidah. (Abi Thahir, 312)
Alif layyinah itu menyerupai huruf ya’, dengan membaca imalah diharapkan
pendengar tahu asal kata tersebut, sebaliknya dengan membaca fathah dianggap
tidak berakhiran alif layyinah.
3. Naql
Secara bahasa naql berasal dari kata ‫ نقل – ينقل – نقال‬berarti memindah; menggeser.
Adapun secara istilah naql berarti memindahkan harakat suatu huruf ke huruf
sebelumnya, sebagaimana yang banyak ditemui pada riwayat Imam Hamzah dan
Warsy, yakni setiap ada al ta’rif atau tanwin bertemu hamzah, contoh ‫ باآلخرة‬terbaca
‫ بالخرة‬dan ‫ عذاب أليم‬terbaca ‫ عذابنليم‬.
Dalam riwayat Hafs bacaan naql hanya ada di satu tempat yaitu pada kata ‫بئس االسم‬
(QS. al-Hujurat:11). Alasan bacaan naql pada kata ‫ االسم‬yaitu terdapatnya dua
hamzah washal (hamzah yang tidak terbaca di tengah kalimat), yakni hamzah pada
al ta’rif dan ismu (salah satu dari sepuluh kata benda yang berhamzah washal), yang
mengapit lam sehingga menjadi tidak terbaca di kala sambung dengan kata
sebelumnya. Di antara manfaat bacaan naql ini adalah untuk memudahkan umat
Islam membacanya.
4. Ibdal (Penggantian)
A. Penggantian Hamzah dengan Ya’
Ibdal yang dimaksud di sini adalah ‫اء‬00‫اكنة بالي‬0‫( إبدال الهمزة الس‬mengganti hamzah
sukun dengan ya’. Semua imam qira’at sepakat mengganti hamzah qatha’ –bila tidak
disambung dengan kata sebelumnya- yang jatuh setelah hamzah washal dengan ya’
sukun, seperti ‫ا ائت‬00‫( لقاءن‬QS. Yunus:15), ‫وني‬00‫موات ائت‬00‫( في الس‬QS .al-Ahqaf:4). Adapun
bacaan Imam Warsy, al-Susy dan Abu Ja’far, hamzah qatha’ dalam kalimat tersebut
diganti ya’ ketika diwashalkan. (Abdul Fattah, 1981:143)
B. Penggantian Shad dengan Siin
Yakni mengganti shad dengan siin pada kata ‫( يبصط‬QS. al-Baqarah:245) dan
‫( بصطة‬QS. al-A’raf:69) untuk selain bacaan Nafi’, al-Bazzi, Ibnu Dzakwan, Syu’bah, Ali
Kisa’i, Abu Ja’far dan Khalad. (Ibid, 119) sedangkan pada ‫يطر‬000‫( بمص‬QS. al-
Ghasyiyah:22) Imam Ashim membaca sebagaimana tulisan mushaf, lain halnya
dengan ‫يطرون‬00‫( المص‬QS. al-Thur:37) kata ini bisa dibaca dengan mengganti shad
dengan siin atau dibaca tetap sebagaimana tulisannya. (Ibid, 306)
Alasan digantinya shad dengan siin pada semua kalimat di atas yaitu
mengembalikan pada asal katanya, sedangkan alasan ditetapkannya shad yaitu
mengikuti rasm/khat utsmani al-Qur’an dan juga untuk menyesuaikan sifat ithbaq
dengan huruf sesudahnya (tha’) yang mempunyai sifat isti’la’. (al-Qaisy, 1987:I/34)
5. Isymam
Yaitu membaca harakat kata yang diwaqaf tanpa ada suara dengan
mengangkat dua bibir setelah mensukunkan huruf yang dirafa’, seperti ‫تعين‬00‫ نس‬.
Dalam bacaan Imam Hisyam, diisymamkannya kata ‫ قيل‬dengan mencampur
dlammah dan kasrah dalam satu huruf, demikian juga Imam Hamzah membaca
isymam kata ‫راط‬00‫ الص‬،‫راط‬00‫ ص‬dengan memadukan bunyi ‫ ص‬dan ‫( ز‬Abdul Fattah,
1981:15). Namun dalam bacaan Hafs isymam hanya ada kata ‫( ال تأمنا‬QS. Yusuf:11),
yakni lidah melafadzkan ‫ ال تأمننا‬tanpa ada perubahan suara alias tetap sama dengan
tulisannya ‫ال تأمنّا‬.
Secara bahasa bisa difahami bahwa memang asal dari kalimat itu terdapat dua
nun yang diidharkan, yang awal didlammah dan kedua difathahkan (Ibid, 161).
Sementara itu rasm al-Qur’an hanya menulis satu nun sehingga untuk
mempertemukan keduanya dipilih jalan tengah yaitu secara bunyi mengikuti rasm
dan gerakan bibir mengikuti kata asal.
6. Tash-hil
Arti tash-hil secara bahasa “memberi kemudahan atau keringanan”, sedangkan
dalam istilah qiraat, tash-hil diartikan membaca hamzah kedua (dari dua hamzah
yang beriringan) dengan bunyi leburan hamzah dengan alif, seperti ‫ أأنتم‬،‫ أأنذرتهم‬dan
lain-lain.
Hanya saja dalam riwayat Hafs bacaan tash-hil hanya satu yaitu ‫( أأعجمي وعربي‬QS. al-
Fushshilat:44). Ketika bertemu dua hamzah qatha’ yang berurutan pada satu kata
maka melafadzkan kata semacam ini bagi orang Arab terasa berat, sehingga bacaan
seperti ini bisa meringankan.
Juga ada tash-hil yang berasal dari mad lazim, sebagaimana yang dikemukakan
Imam Nasr Makky ada enam tempat, yaitu
1. Surat al-An’am ayat 143 : ‫ن‬0ِ ‫قُلْ َءال َّذ َك َري ِْن َح َّر َم أَ ِم اأْل ُ ْنثَيَ ْي‬
2. Surat al-An’am ayat 144 : ‫ن‬0ِ ‫الذ َك َري ِْن َح َّر َم أَ ِم اأْل ُ ْنثَيَ ْي‬
َّ ‫قُلْ َء‬

3. Surat Yunus 51 : َ‫آآْل نَ َوقَ ْد ُك ْنتُ ْم بِ ِه تَ ْستَ ْع ِجلُون‬


4. Surat Yunus 91 : َ‫صيْتَ قَ ْب ُل َو ُك ْنتَ ِمنَ ْال ُم ْف ِس ِدين‬ َ ‫آآْل نَ َوقَ ْد َع‬
5. Surat Yunus 59 : ‫قُلْ آهَّلل ُ أَ ِذنَ لَ ُك ْم أَ ْم َعلَى هَّللا ِ تَ ْفتَرُون‬
6. Surat al-Naml 59 : َ‫( آهَّلل ُ خَ ْي ٌر أَ َّما يُ ْش ِر ُكون‬Nashr Makky, 137)
7. Madd & Qasr
Dalam qiraat sab’ah khususnya bacaan Hafs, banyak ditemukan kata yang tertulis
dalam rasm utsmani pendek tapi dibaca panjang dan tertulis panjang dibaca pendek,
di antaranya:
a- ‫ ملك‬terbaca ‫مالك‬
Imam Ashim dan Ali Kisa’i membaca mim dengan alif, sedang yang lain
membaca pendek. Mereka yang membaca dengan alif beralasan sesuai dengan ayat
al-Qur’an :‫ قل اللهم مالك الملك‬dan bukan ‫ ملك الملك‬juga karena maalik berarti dzat yang
memiliki, sedangkan malik berarti tuan atau penguasa sehingga dalam al-Quran
Allah berfirman: ‫ ملك الناس‬yang berarti tuhan manusia dan tidak cocok makna yang
seperti itu untuk kata hari pembalasan ‫( يوم الدين‬al-Qaisy, I/26).
b-‫ أنا‬terbaca ‫ أن‬ketika washal
Alasan dipendekkannya nun ketika washal pada semua kata ‫( أنا‬dlamir yang
berarti saya), adalah karena alif tersebut hanya berfungsi menjelaskan harakat
sebagaimana menambahkan ha’ ketika berhenti (‫) هاء السكت‬. Ketika ada kata benda
yang hurufnya sedikit lalu diwaqafkan dengan sukun maka bunyinya akan janggal
dan diberi tambahan alif itu agar bunyi nun tetap sebagaimana asalnya. Sedangkan
tidak ditambahkannya alif ketika washal karena nun sudah berharakat. (al-Qaisy,
1987:II/61)
Ada juga lafadz yang mirip dengan ‫ أنا‬yaitu ‫( لكنا‬QS. Al-Kahfi:38), yakni dibaca
pendek ketika washal dan dibaca panjang ketika waqaf. Hal itu dikarenakan asal dari
‫ لكنا‬adalah ‫ أنا‬+ ‫ لكن‬dan bukan ‫ نحن‬+ ‫ لكن‬.
c- ‫ قواريرا‬،‫ الظنونا‬،‫الرسوال‬
Imam Nafi’, Abu Bakar, Hisyam, al-Kisa’i membaca kata di atas dengan tanwin,
sementara yang lain termasuk Imam Ashim riwayat Hafs membacanya dengan tanpa
tanwin. Semua ulama mewaqafkannya dengan alif kecuali Hamzah dan Qonbul,
keduanya mewaqafkan tanpa alif (al-Qaisy, 1987:II/352).
Alasan mereka yang mewaqafkan dengan alif adalah karena mengikuti rasm
atau khat mushaf yang mencantumkan alif dan ketika washal alifnya tidak terbaca,
khusus kata ‫ قواريرا‬tidak ditanwin karena sighat muntahal jumu’ yang termasuk isim
ghairu munsharif. Sedangkan ‫ السبيال‬،‫ الرسوال‬،‫ الظنونا‬meskipun bukan termasuk jama’
akan tetapi ia disamakan dengan syair yang akhir baitnya (qafiyah) terdapat fathah
yang dipanjangkan dengan alif (Ibid, II/353).
d- ‫ المالء‬،‫ أولوا‬،‫أولئك‬
Dalam rasm utsmani ada beberapa huruf yang tertulis tapi tidak terbaca
seperti ‫ المالء‬،‫أولئك أولو‬, ada pula yang tak tertulis tapi terbaca seperti ‫ ذلك‬،‫ هذه‬،‫ هذا‬.
Inilah yang merupakan keunikan dari rasm al-Qur’an yang penuh rahasia dan
mukjizat.
8. Shilah
Kaidah umum yang berkaitan dengan ha’ dlamir berbunyi bahwa apabila ada
ha’ dlamir yang tidak didahului huruf mati maka harus dipaanjangkan seperti ‫ به‬،‫له‬
dan juga untuk menguatkan huruf ha’ perlu ditambahkan huruf mad setelahnya,
inilah ijma para ulama qira’ah (al-Qaisy, 1987:I/44), sebaliknya apabila ha didahului
huruf yang disukun maka dibaca pendek, seperti ‫ إليه‬،‫منه‬. Para ulama qurra’ kecuali
Ibnu Katsir, kurang senang menggabungkan dua huruf sukun yang dipisah oleh huruf
lemah yaitu ha, sehingga mereka membuang huruf mad setelah ha’ dan inilah
madzhab Imam Sibawaih. (Ibid, I/42)
Dalam riwayat Hafs ditemukan ha’ dlamir yang dipanjangkan walau didahului
huruf mati seperti ‫( ويخلد فيه مهانا‬QS. al-Furqan:69). Dalam hal ini Imam Hafs sama
bacaannya dengan Ibnu Katsir, yaitu membaca shilah ha’ (panjang). Alasannya
diketahui bahwa ha’ adalah huruf lemah sebagaimana juga hamzah, sehingga ketika
ha’ dikasrahkan, maka sebagai ganti dari wawu sukun adalah ya’ untuk menguatkan
ha’. Dalam perkataan Arab sendiri jarang dijumpai wawu sukun yang didahului
kasrah, sehingga menjadi ‫ فيهي‬atau ‫( عليهي‬al-Qaisy, I/42). Dan ada pula ha’ yang
dipendekkan (kendatipun tidak didahului huruf mati) dengan mendlammahkan ha’
tanpa shilah, yaitu ‫ه لكم‬00‫( يرض‬QS. Al-Zumar:7), bacaan seperti juga dijumpai pada
bacaan Imam Hamzah, Nafi’, Ya’qub (Abdul Fattah, 1981:274).
Alasan dipanjangkannya kata ‫ فيه‬yaitu mengembalikannya pada asalnya, yang
mana ‫ ـه‬berasal dari kata ‫ هو‬. Ketika digabung dengan ‫ في‬menjadi ‫ فيهو‬, akan tetapi
ha’ didahului ya’ sukun yang identik dengan kasrah sehingga harakat ha’ harus
disesuaikan dengan harakat sebelumnya dan mengganti huruf mad wawu menjadi
ya’ untuk menyesuaikannya dengan kasrah sehingga menjadi ‫ فيهي‬dan huruf mad
diganti dengan harakat kasrah berdiri: ‫ فيه‬.
Mengenai alasan dipendekkannnya ha’ pada kata ‫ يرضه‬dan semacamnya yaitu
mengembalikannya pada tulisan mushaf yang tidak terdapat wawu mad setelah ha’.
9. Memfathah atau mendlammah dlad
Dalam al-Qur’an ada lafadz serupa yang diulang tiga kali dalam satu ayat yaitu
‫( ضعْف‬QS. al-Ruum:54). Kata tersebut adalah masdar dari ‫ ضعُف – يض َعف‬. Para ulama
qira’ah berbeda dalam membaca harakat dlad, Imam Hamzah dan syu’bah
memfathah dlad dan ulama lainnya -kecuali Imam Hafs- membacanya dengan
dlammah. Sedang Imam Hafs sendiri membaca fathah dan dlammah.
Alasan terjadinya perbedaan itu karena dalam ilmu sharaf, kata ‫ضعُف – يض َعف‬
itu mempunyai dua masdar yaitu ‫ضعْف‬
َ dan ‫ضعْف‬
ُ , sebagaimana yang terjadi pada
kata ‫ فقر‬juga mempunyai dua masdar yakni ‫ فَ ْقر‬dan ‫( فُ ْقر‬al-Qaisy, II/213).
10. Basmalah dalam Surat Taubat
Dalam Mushaf Utsmani semua surat al-Qur’an diawali dengan basmalah kecuali
surat al-Bara’ah atau surat al-taubat. Terkait dengan hal itu Ubay bin Ka’ab berkata
bahwa Rasulullah pernah menyuruh kami menulis basmalah di setiap awal surat,
dan tidak memerintahkan kami menulisnya di awal surat al-Bara’ah, oleh karenanya
surat tersebut digabungkan dengan surat al-Anfal dan itu lebih utama karena adanya
keserupaan keduanya. Imam Ashim berkata: Basmalah tidak ditulis di awal surat al-
Bara’ah, karena basmalah itu berarti rahmat atau kasih sayang, sedangkan al-
Bara’ah merupakan surat adzab atau siksaan. (al-Qaisy, 1987:I/20)
Para ulama fiqh berbeda pendapat mengenai hukum membaca basmalah di
awal surat al-Bara’ah ini, Imam Ibnu Hajar dan al-Khatib mengharamkan membaca
basmalah di awal surat ini dan memakruhkan membacanya di tengah surat.
Sedangkan Imam Ramli dan para pengikutnya memakruhkan membaca basmalah di
awal surat dan mensunnahkan membacanya di tengah surat sebagaimana surat-
surat yang lain. (Abdul Fattah, 1981:13)
BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Al-Qur’an yang merupakan seperangkat aturan hidup, memberikan porsi
besar kepada perkembangan manusia terutama menyangkut maksimalisasi fungsi
pikirnya. 
Bahasa adalah suatu media untuk menyatakan kehadiran sebuah realita dan
persona. Pengungkapan makna yang terkonsepsikan dalam diri manusia, tidak
mungkin dapat dipahami serta ditransformasikan kepada orang lain tanpa adanya
bahasa sebagai medianya. Baik bahasa itu berupa bahasa tulisan, lisan, maupun
bahasa isyarat.
Al-Qur’an yang memiliki sisi kemu’jizatan dalam tata-letak (nadzm) kata-kata
perkatanya, pun menggunakan bahasa sebagai penyampai pesan ketuhanan
(wahyu) yang bi Lā Ṣaut wa Lā Harf. Karenanya, tidak mungkin kalam Tuhan
tersebut dapat dipahami maknanya tanpa memahami bahasa yang digunakan,
dalam hal ini ialah Bahasa Arab.
Beberapa diskursus keilmuan pun bermunculan dari kitab tersebut, mulai
dari Kalam, Fiqh, Tafsir, hingga beberapa keilmuan kebahasaan yang tidak
mengandung doktrin keagamaan. Dalam artian, kajian kebahasaan yang muncul dari
Al-Qur’an—semisal Nahwu, Balaghah, Sharaf, dan lain sebagainya—dapat digunakan
dalam menganilisis teks-teks bahasa Arab lainnya yang tidak ada korelasinya dengan
Ajaran Islam.
Salah satu diantaranya ialah Ilm Gharīb al-Qur’ān, yakni ilmu yang membahas
tentang makna kata perkata dari susunan ayat al-Qur’an

Anda mungkin juga menyukai