Anda di halaman 1dari 9

MAKALAH PRAKTIKUM

FISIOLOGI TUMBUHAN
Dosen pengampu: Dra. Sri Widoretno, M. Si
JUDUL : AERASI

Disusun oleh:

Kelompok 9

Desy Fajar Priyayi K4308031

Pinkan Amita TP. K4308107

Indah Wulandari K4308092

Meta Nur Indah K4308020

Rizky Elyana K4308059

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI JURUSAN P MIPA


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2010
I. JUDUL PRAKTIKUM: AERASI

II. TUJUAN : Mengetahui pengaruh aerasi pada media tanam pasir malang dan tanah
sawah terhadap kondisi tanaman Impatiens balsamina

III. DASAR TEORI


Aerasi merupakan salah satu factor lingkungan yang mempengaruhi
penyerapan air pada tanaman. Akar pada tanaman memerlukan ruangan di tanah
(aerasi) untuk dapat melakukan respirasi. Aliran udara dalam tanah tergantung pada
ukuran pori-pori media tanam. Aerasi yang tidak baik menghambat metabolism dan
pertumbuhan akar.
Tanah yang memiliki aerasi sempurna adalah tanah dimana gas gas yang
tersedia untuk organisme yang sedang tumbuh (khusus tanaman tingkat tinggi) dalam
jumlah cukup dan dengan perbandingan yang wajar untuk meningkatkan proses
metabolisme sampai tingkat optimum bagi organisme tersebut.
Pada umumnya keadaan yang menyebabkan tanah beraerasi buruk, antara lain
kandungan air sangat tinggi sehingga ruang untuk gas tinggal sedikit atau tidak sama
sekali dan pertukaran gas dengan atmosfir tidak cukup cepat untuk mempertahankan
konsentrasi gas tanah pada tingkat yang diperlukan. Pertukaran gas antara tanah dan
atmosfir diatasnya dipermudah melalui 2 mekanisme yaitu aliran massa dan difusi.
Aliran massa disebabkan perbedaan perbedaan tekanan antara atmofir dan udara
dalam tanah, dan ini relatif tidak penting dalam menentukan pertukaran total yang
terjadi. Sebagian besar pertukaran gas dalam tanah disebabkan karena difusi. Melalui
proses ini tiap gas cenderung bergerak ke satu jurusan yang ditentukan oleh parsiel itu
sendiri.  Misal, jika di dalam ruang udara mengandung 25% oksigen maka tekanan
parsiel oksigen kurang lebih 0.25 atmosfer jika tekanan udara 1 atmosfer. Karena
difusi, terjadi gerakan besar dari suatu daerah kedaerah lain, meskipun secara tekanan
tidak ada perbedaan tekanan. Jadi meskipun tekanan udara total sama dengan
atmosfer, kandungan O2 dalam atmosfer akan lebih tinggi dari kandungan atmosfer
yang ada dalam tanah sehingga ada pergerakan oksigen dari atmosfir masuk kedalam
tanah (Dwijosepoetro, 1990: 40).
Air merupakan sumber kehidupan bagi seluruh makluk hidup. Air mempunyai
peranan sangat penting karena merupakan bahan pelarut bagi kebanyakan reaksi dalm
tubuh makluk hidup. Air juga digunakan sebagai medium enzimatis. Air sangat
penting bagi tumbuhan 30% sampai 90% berat tumbuahan tersusun atas air.
Tumbuhan menggunakan air pada proses fotosintesis. Mineral-mineral yang diserap
oleh akar harus terlarut juga di dalam air.
Air yang diperlukan tumbuhan sebagian besar diserap lewat akar , meski ada
tumbuhan yang mampu menyerap air lewat daun atau batang.
“Soil aeration systems are routinely recommended by urban tree care experts
when construction plans call for raising the grade around a tree. The theory behind
these systems of ventilation pipes and porous fill is that they facilitate better gas
exchange between the root zone and atmosphere than fill soil alone. Gas exchange is
essential to tree function because roots, during the process of respiration, utilize O2
present in soil macropores and in turn, release CO2 . Under normal conditions, most
soil/atmosphere exchange of CO2 for O2 occurs when water saturates the soil
macropores and flushes soil air out. As water drains from the saturated soil, new air is
drawn into the macropores. Anaerobic conditions develop when exchange is
inadequate, causing roots to loose their ability to absorb nutrients and water and to
lack the vigor necessary for new soil exploration. Above ground, photosynthesis rates
decline, stomata close, and shoot growth slows. Studies have shown that this
deterioration of tree health occurs when root zone O 2 content falls below 10% (2).
Compacted soils, or those covered by materials such as asphalt and soil fill, present a
barrier to water infiltration and consequently to gas exchange within the root zone.
Yelenosky compared soil air composition under fill and paving to that of an
undisturbed site. In the undisturbed forest, soil air consisted of no less than 18% O2
and no greater than 2% CO2. In contrast, the soil surrounding trees under clay fill was
very poorly aerated, with O2 contents as low as 1% and CO2 contents over 20%.
Anaerobic conditions also developed rapidly in soils subjected to compaction and
asphalt paving, with O2 content dropping from 20% to 4% in two weeks
(Yelenosky.1993).”
Berdasar kutipan jurnal tersebut, pertukaraan gas sangat penting untuk
pertumbuhan tanaman. Aerasi yang tidak baik membuat kondisi tanah yang kurang
akan kadar gas didalamnya. Rendahnya kadar oksigen akan menghambat respirasi
aerob, sehingga energi yang didapat untuk penyerapan zat hara pada akar berkurang,
akibatnya tanaman akan kekurangan nutrient.
Kadar oksigen rendah dapat memacu terjadinya respirasi anaerob,yang hasil
akhirnya berupa alkohol yang mampu melarutkan lipoprotein membrane plasma dan .
Aerasi yang buruk akan meningkatkan kadar CO2 dan PH larutan tanah akan turun
sehingga kekentalan protoplasma naik yang menyebabkan permeabilitas akar terhadap
air berkurang. Hal itu menyebabkan tanaman menjadi layu. Layunya tanaman pada
umumnya terlihat dengan daun yang lemas dan batang yang menunduk. Aerasi yang
baik ditunjukkan dengan adanya ukuran pori-pori ruang udara yang cukup untuk jalan
aliran udara sehingga terjadi pertukaran udara (untuk mensuplai dan memasukkan
oksigen). Oksigen digunakan untuk respirasi akar. Untuk itu, tanaman yang ditanam
pada media ini memiliki kondisi yang baik dan segar (Mudakir, 2004).
“Trees grown in urban settings are often subjected to environmental stresses.
These stresses may result from water deficit, temperature extremes, mineral
deficiency or excess, air pollution, defoliation, or poor root aeration. Trees exposed to
mild levels of stress may exhibit symptoms such as early fall color and leaf drop,
while those exposed to more extreme levels may exhibit symptoms of progressive
canopy thinning, limb dieback, and eventual death (Houston, 1985).”
Menurut pernyataan di atas, tanaman akan mengalami stress yang disebabkan
oleh beberapa factor salah satunya adalah aerasi yang buruk, gejalanya antara lain
warna daun memucat dan banyak daun yang berguguran, dalam beberapa kondisi
yang extrim dapat mengakibatkan kematian.
“Thus, even when stresses are transient or sublethal, trees may still be severely
damaged. Poor root aeration is one form of stress that is particularly important in
urban and park settings. Roots require a continual supply of oxygen, which moves
from the above-ground atmosphere to the below-ground atmosphere through soil
pores. Several factors which commonly occur in urban and park settings can interfere
with this process. One is the movement of soil that typically occurs during
construction and landscaping operations. Because oxygen enters soil largely by
diffusion, the highest concentrations are near the surface, and they decrease with
increasing depth. Thus, adding backfill soil around trees can suddenly and seriously
reduce oxygen levels in deeper parts of the soil profile. Likewise, soil compaction can
interfere with oxygen movement into soil because of the loss of macropore space. The
large pores in a well- structured soil are important avenues of gas exchange, and they
are lost when soils are compacted to high bulk densities. A third factor which
commonly limits root aeration is high soil moisture, resulting from excessive
irrigation or poor drainage. When soil pores are filled with water, oxygen cannot enter
the profile, and the small amounts dissolved in water are rapidly depleted at sites of
high metabolic activity. While species differ, roots generally function best at oxygen
levels above 10 percent (Kozlowski, 1985).”
Berdasarkan pernyataan tersebut, susunan udara tanah sangat bergantung pada
banyaknya ruang udara yang terkandung dalam tanah/pori pori tanah, bersama dengan
kecepatan reaksi biokimia dan pertukaran gas. Udara dan air akan mengisi pori-pori
tanah. Banyaknya pori-pori dalam tanah kurang lebih 50 % dari volume tanah,
sedangkan jumlah air dan udara dalam tanah berubah ubah.Pori-pori tanah dapat
dibedakan menjadi pori-pori kasar dan pori-pori halus. Pori-pori kasar berisi udara
atau air yang mudah hilang karena gaya gravitasi, sedang pori-pori halus berisi air
kapiler dan udara. Tanah yang tergenang maka semua pori-porinya terisi air, sedang
pada tanah lembab air mengisi pori-pori mikro tanah dan udara mengisi pori-pori
tanah yang tidak terisi air.

IV. ALAT DAN BAHAN


Dalam praktikum aerasi ini memerlukan beberapa alat yaitu gelas aqua yang
digunakan sebagai pot sebanyak 2 buah, gelas ukur untuk mengukur volume air yang
akan disiramkan tanaman, serta baskom untuk mencuci media tanam sebelum
digunakan dalam percobaan.
Bahan yang diperlukan antara lain pasir malang dan tanah sawah yang
digunakan sebagai media tanam yang akan dibandingkan, air yang digunakan untuk
mencuci dan menyiram media tanam, serta 2 tanaman Impatiens balsamina yang
berukuran relatif sama (tinggi tanaman, diameter batang, jumlah daun, dsb).

V. PRINSIP KERJA
Prinsip kerja pada percobaan ini adalah pengamatan perkembangan dua
tanaman yang ditanam dalam dua media yang berbeda, untuk mengetahui pengaruh
perbedaan tingkat aerasi pada kedua media tersebut terhadap kondisi tanaman.
Pertama kita mempersiapkan alat dan bahan yang akan digunakan yaitu 2 tanaman
Impatiens balsamina, kemudian mencuci media tanam pasir malang dan tanah sawah
serta mengeringkannya. Hal ini bertujuan untuk menghilangkan adanya unsur hara
yang terkandung dalam masing-masing media tanam, sehingga kedua media dalam
kondisi yang sama l. Berikutnya, menanam tanaman Impatiens balsamina pada
masing-masing media tanam. Tanaman yang digunakan disini harus relatif sama
(tinggi tanaman, diameter batang, jumlah daun, dsb). Kemudian tanaman tersebut
disiram dengan air sebanyak 50 ml. Pengamatan percobaan ini dilakukan selama 3
hari, dengan membandingkan kondisi tanaman yang ditanam pada tanah sawah
dengan tanaman yang ditanam pada media tanam pasir malang.

VI. PARAMETER
Parameter yang digunakan dalam percobaan kali ini adalah kondisi tanaman
selama 3 hari yaitu segar, layu, atau mati. Karena perbedaan kondisi tanaman salah
satunya dipengaruhi oleh aerasi media tanamnya.
Tanaman yang ditanam pada media tanam dengan aerasi baik maka kondisi
tanaman tersebut akan segar. Hal itu ditandai dengan daunnya yang berwarna hijau
segar dan tidak lemas, batang tegak. Tanaman yang ditanam pada media tanam
dengan aerasi yang kurang baik maka tanaman akan layu. Hal itu ditandai dengan
daunnya yang lemas dan batangnya tertunduk. Sedangkan tanaman yang ditanam
pada media tanam dengan aerasi yang tidak baik maka tanaman akan mati. Hal itu
ditandai dengan daunnya yang berubah warna menjadi kuning, daun lemas, batang
tertunduk dan lama kelamaan tanaman mengering dan pertumbuhannya berhenti.
Aerasi yang buruk mengakibatkan terjadinya respirasi anaerob,yang hasil
akhirnya berupa alkohol yang mampu melarutkan lipoprotein membran plasma dan
aerasi yang buruk akan meningkatkan kadar CO2 dan PH larutan tanah akan turun
maka kekentalan protoplasma naik yang menyebabkan permeabilitas akar terhadap air
berkurang dan menghambat penyerapan hara dan tanaman akan kekurangan nutrient.
Pengaruhnya tanaman menjadi layu bahkan menyebabkan kematian (Mudakir. 2004).
VII. HASIL PENGAMATAN
Media Kondisi Tanaman
Hari ke 1 Hari ke 2 Hari ke 3
Pasir malang Segar Segar Segar
(daun hijau,batang (daun hijau,batang (daun hijau,batang
tegak dan keras) tegak dan keras) tegak dan keras)
Tanah sawah Segar Agak layu Layu
(daun hijau,batang (daun lemas, (daun lemas dan
tegak dan keras) namun batang menguning, batang
masih tegak) agak lembek
menunduk)

VIII. ANALISA DATA


Pertumbuhan tanaman salah satunya dipengaruhi aerasi tanah atau media
tanam yang digunakan. Menurut Mudakir (2004) aerasi meerupakan rongga atau
ruang dalam tanah untuk sirkulasi udara dalam tanah, karena akar tanaman
memerlukan oksigen untuk respirasi.
Pertukaran gas antara tanah dan atmosfir diatasnya dipermudah melalui 2
mekanisme yaitu aliran massa dan difusi. Aliran massa disebabkan perbedaan
perbedaan tekanan antara atmofir dan udara dalam tanah, dan ini relatif tidak penting
dalam menentukan pertukaran total yang terjadi. Sebagian besar pertukaran gas dalam
tanah disebabkan karena difusi. Melalui proses ini tiap gas cenderung bergerak ke
satu jurusan yang ditentukan oleh parsiel itu sendiri. (Dwijosepoetro, 1990)
Klasifikasi :
Divisi : Spermatophyta
Kelas : Dikotil
Ordo : Geraniales
Famili : Balsaminaceae
Genus : Impatiens
Spesies : Impatiens balsamina
Dalam percobaan didapatkan :
1. Pada media tanam pasir malang hari pertama, kedua dan ketiga kondisi
tanaman pada media tanam pasir malang, masih dalam keadaan segar. Hal ini dapat
diamati dari kondisi batang yang masih tegak dan keras serta kondisi daun dengan
warna hijau segar seperti pada saat awal menanam.
2. Pada media tanam tanah sawah pada hari pertama kondisi tanaman masih
segar, dengan daun hijau tidak lemas,dan batang tegak. Pada hari kedua kondisinya
agak layu, dilihat dari daunnya yang lemas meskipun warnanya masih hijau dan
batangnya tegak. Pada hari ketiga, kondisi tanaman menjadi layu,dilihat dari batang
tanaman yang lemas dan sedikit lembek. Selain itu beberapa daun mulai menguning.
Dari hasil pengamatan di atas dapat dilihat tanaman tumbuh dengan baik pada
media tanam pasir malang karena pasir malang memiliki pori-pori ruang udara yang
cukup sehingga pertukaran gas dalam tanah lancar, maka suplai oksigen untuk
respirasi tercukupi (Mudakir, 2004).
Dari respirasi akan didapatkan energi yang cukup untuk penyerapan zat hara
atau nutrient pada tanah oleh akar maka akan kebutuhan nutrient tanaman tercukupi
dan tanaman tumbuh dengan baik (Yelenosky, 1993).
Tanaman tumbuh dengan baik pada media tanam pasir malang dengan
memiliki aerasi yang baik. Hal ini dapat diamati dari kondisi batang yang masih tegak
dan keras serta kondisi daun dengan warna hijau segar seperti pada saat awal
menanam.
Namun pada media tanam tanah sawah tanaman tumbuh kurang baik
dibandingkan media tanam pasir malang. Karena pada tanah sawah, tanahnya berupa
tanah lumpur, rongga atau pori-pori udaranya tertupup oleh air yang mengakibatkan
udara sulit masuk kedalamnya, menjadikan pertukaran gas tidak lancar (Kozlowski,
1985).
Pertukaran gas yang tidak lancar menyebabkan suplai oksigen kurang
sehingga terjadi respirasi anaerob, yang hasil akhirnya berupa alkohol yang mampu
melarutkan lipoprotein membran plasma dan aerasi yang buruk akan meningkatkan
kadar CO2 dan PH larutan tanah akan turun maka kekentalan protoplasma naik yang
menyebabkan permeabilitas akar terhadap air berkurang dan menghambat penyerapan
hara dan tanaman akan kekurangan nutrient. Pengaruhnya tanaman menjadi layu
bahkan menyebabkan kematian (Mudakir. 2004).
Tanaman Impatiens balsamina memiliki kondisi yang lebih baik yang ditanam
pasir malang dengan aerasi yang baik dibandingkan yang ditanam tanah sawah
dengan aerasi yang baik.

IX. KESIMPULAN
1. Pasir malang merupakan media tanam dengan aerasi yang lebih baik dibandingkan
tanah sawah, yang ditunjukkan dengan adanya ukuran pori-pori ruang udara yang
cukup untuk jalan aliran udara sehingga terjadi pertukaran udara (untuk mensuplai
dan memasukkan oksigen). Oksigen digunakan untuk respirasi akar. Untuk itu,
tanaman yang ditanam pada media ini memiliki kondisi yang baik (segar).

2. Tanah sawah merupakan media tanam dengan aerasi yang kurang baik dibandingkan
pasir malang. Tanah sawah memiliki struktur tanah dengan pori-pori yang kecil
dibandingkan pasir malang, sehingga kandungan udara (oksigen) dalam tanah
sedikit, yang mengakibatkan terjadinya respirasi anaerob dan menghasilkan alkohol.
Alkohol akan melarutkan lipoprotein membrane plasma yang menyebabkan akar
menjadi busuk. Kondisi aerasi yang tidak baik dapat menyebabkan kadar CO 2 naik,
PH larutan tanah turun, kekentalan protoplasma naik, dan permeabilitas akar
terhadap air berkurang, sehingga tanaman layu.

X. DAFTAR PUSTAKA

Dwidjosepoetro. 1990. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. Jakarta: Gramedia.


Houston, D.R. 1985. Soil Aeration and Tree Health. Journal of Arboriculture Vol
40:127-147 dalam http ;//soil.faperta.ugm.ac.id/tj/1981/1984%20pene.pdf
diakses tanggal 16 November 2010
Kozlowski, T.T. 1985. Soil aeration, flooding, and tree growth. New York:
Academic Press.
Mudakir, Imam. 2004. Fisiologi Tumbuhan. Jakarta: Gramedia.
Yelenosky, G. 1993. Soil Aeration and Tree Growth. Jourrnal of Arboriculture Vol
7:64-69 dalam http ;//soil.faperta.ugm.ac.id/tj/1981/1984%20pene.pdf diakses
tanggal 16 November 2010