Anda di halaman 1dari 58

BUKUAJAR

BUKU AJAR

MATA KULIAH TERMODINAMIKA TEKNIK I

file:///D|/E-Learning/Termodinamika%20Teknik%20I/Textbook/COVER%20BUKU%20AJAR.html (1 of 2)5/8/2007 3:52:24 PM


BUKUAJAR

Disusun Oleh :

Ir. Mulfi Hazwi, M.Sc


Ir. Zamanhuri, MT.
Tulus Burhanuddin Sitorus, ST.,MT.

DEPARTEMEN TEKNIK MESIN


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2006

file:///D|/E-Learning/Termodinamika%20Teknik%20I/Textbook/COVER%20BUKU%20AJAR.html (2 of 2)5/8/2007 3:52:24 PM


DAFTAR ISI

DAFTAR ISI

Halaman Judul
Lembar Identitas dan Pengesahan
Kata Pengantar i
Daftar Isi ii

BAB I DASAR TERMODINAMIKA


1.1. Defenisi 1
1.2. Prinsip Termodinamika 1
1.3. Penerapan Termodinamika 2
1.4. Sistem Termodinamika dan Volume Atur 3
1.5. Sistem Tertutup dan Sistem Terbuka 4
1.6. Pandangan Makroskopik dan Mikroskopik 4
1.7. Kesetimbangan Termal 5
1.8. Konsep Temperatur 6
1.9. Pemuaian Zat Padat dan Zat Cair 8
1.10. Tekanan 8
1.11. Energi 9
1.12. Dimensi dan Sistem Satuan 10
1.13. Kesetimbangan Termodinamik 13
1.14. Sifat-sifat Koordinat Termodinamika 23
1.15. Kerja
23
BAB II HUKUM TERMODINAMIKA I DAN PENGGUNAANNYA
2.1. Defenisi 27
2.2. Persamaan Energi 27
2.3. Proses Adiabatik 30
2.4. Entalpi 33
2.5. Proses Politropik 34

file:///D|/E-Learning/Termodinamika%20Teknik%20I/Textbook/Daftar%20Isi.html (1 of 2)5/8/2007 3:52:25 PM


DAFTAR ISI

BAB III PERUBAHAN FASE


3.1. Diagram P-V untuk zat murni 37
3.2. Diagram P-T untuk zat murni 39
3.3. Panas Laten 42

BAB IV HUKUM TERMODINAMIKA II


4.1. Defenisi 44
4.2. Mesin Panas 45
4.3. Kegunaan Hukum Termodinamika II 49
4.4. Entropi 53

Daftar Pustaka

Lampiran

file:///D|/E-Learning/Termodinamika%20Teknik%20I/Textbook/Daftar%20Isi.html (2 of 2)5/8/2007 3:52:25 PM


KATA PENGANTAR

KATA PENGANTAR

Buku ajar ini merupakan penuntun untuk mahasiswa yang mengambil mata kuliah
termodinamika teknik I. Dan pembuatan buku ajar ini juga berkaitan dengan proyek Inherent
Universitas Sumatera Utara tahun 2006.

Buku ajar singkat ini berisi ringkasan materi yang disampaikan pada mata kuliah termodinamika
teknik I. Diharapkan buku ajar ini dapat membantu mahasiswa dalam mengikuti dan mendalami
mata kuliah termodinamika teknik I sehingga didapatkan hasil yang optimal dalam perkuliahan.

Tim pelaksana juga dalam kesempatan ini mengucapkan terimakasih kepada rekan-rekan yang
mendukung proses perkuliahan ini yaitu Rektor USU, Dekan Fakultas Teknik, Panitia Proyek
Inherent Universitas Sumatera Utara dan para Reviewer, dan khususnya kepada Departemen
Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara atas fasilitas yang diberikan.

Tim Pelaksana
Ketua,

Ir. Mulfi Hazwi, M.Sc

file:///D|/E-Learning/Termodinamika%20Teknik%20I/Textbook/KATA%20PENGANTAR.html5/8/2007 3:52:25 PM
BAB I

BAB I
DASAR TERMODINAMIKA

I.1. Defenisi
Termodinamika merupakan suatu ilmu pengetahuan yang membahas hubungan antara panas dan
kerja yang menyebabkan perubahan suatu zat.
Maksudnya apabila suatu zat atau benda diberi panas (suhunya dinaikkan), maka akan timbul
berbagai-bagai akibat seperti :
- Gas, cairan dan zat padat → memuai
- Termo-elemen membangkitkan GGL
-
Kawat-kawat mengalami perubahan daya tahannya.
Dalam proses demikian, biasanya terdapat suatu pengaliran panas dan bekerjanya suatu gaya yang
mengalami perpindahan (panas) yang mengakibatkan terjadinya “Usaha atau Kerja”.

Tujuannya memecahkan persoalan termodinamika dengan menguasai prinsip dasar (dalil,


persamaan), sistematika pemecahan soal dan defenisi dasar suatu hukum termodinamika.

I.2. Prinsip Termodinamika

● Prinsip-prinsip Termodinamika dapat dirangkum dalam 3 Hukum yaitu :


> Hukum Termodinamika ke-Nol : berkenaan dengan kesetimbangan termal
atau Konsep Temperatur.
> Hukum Termodinamika I : - konsep energi dalam dan menghasilkan
prinsip kekekalan energi.
- menegaskan ke ekivalenan perpindahan
kalor dan perpindahan kerja.
> Hukum Termodinamika II : memperlihatkan arah perubahan alami
distribusi energi dan memperkenalkan
prinsip peningkatan entropi.

Hukum-hukum Termodinamika didasarkan pada penalaran logis , bukti yang

file:///D|/E-Learning/Termodinamika%20Teknik%20I/Textbook/Buku%20Ajar%20Termodinamika%20Teknik%20I.html (1 of 53)5/8/2007 3:52:27 PM


BAB I

membenarkan penggunaan hukum-hukum ini secara menerus diperoleh dari


percobaan yang menyetujui akibat-akibatnya.

I.3. Penerapan Termodinamika


Penerapan termodinamika secara teknik (dalam perencanaan) yaitu :
- Refrigerasi dan Pengkondisian Udara
- Pembangkit Daya Listrik
- Motor Bakar
- Sistem pemanasan surya
- Pesawat Terbang
- Dan sebagainya

Ø Sistem Pembangkit Listrik Tenaga Uap :


Energi kimia atau energi nuklir dikonversikan menjadi energi termal dalam ketel uap
atau reaktor nuklir. Energi ini dilepaskan ke air, yang berubah menjadi uap. Energi uap
ini digunakan untuk menggerakkan turbin uap, dan energi mekanis yang dihasilkan
digunakan untuk meng- gerakkan generator untuk menghasilkan daya listrik.

Ø Sistem Pembangkit Listrik Tenaga Air :


Energi potensial air dikonversikan menjadi energi mekanis melalui penggunaan turbin
air. Energi mekanis ini kemudian dikonversikan lagi
Menjadi energi listrik oleh generator listrik yang disambungkan pada poros turbinnya.

Ø Motor pembakaran dalam


Energi kimiawi bahan bakar dikonversikan menjadi kerja mekanis. Campuran udara-
bahanbakar dimampatkan dan pembakaran dilakukan oleh busi. Ekspansi gas hasil
pembakaran mendorong piston, yang menghasilkan putaran pada poros engkol.

I.4. Sistem Termodinamika dan Volume Atur

Defenisi dari sistem termodinamika adalah memisahkan bagian ruang yang ter batas atau kumpulan

file:///D|/E-Learning/Termodinamika%20Teknik%20I/Textbook/Buku%20Ajar%20Termodinamika%20Teknik%20I.html (2 of 53)5/8/2007 3:52:27 PM


BAB I

zat dari lingkungannya, yang dibatasi oleh suatu permukaan tertutup.

Atau dapat diartikan :


- Bagian yang dipisahkan yang merupakan pusat perhatian kita disebut ”sistem”.
- Segala sesuatu di luar sistem yang mempengaruhi kelakuan sistem
secara langsung disebut ”lingkungan”.

Gambar 1.1. Sistem dan lingkungan

Gambar 1.1 dapat dilihat,. bila silinder dipanaskan, suhu meningkat dan gas mengembang, pengisap
dan batas sistem bergerak ke atas.
Selama proses ini, panas dan kerja berinteraksi melewati batas sistem.

Ø Sistem terisolasi adalah suatu sistem yang tidak dipengaruhi oleh lingkungan, ini berarti
bahwa panas dan kerja tidak dapat berinteraksi dengan sistem melewati batas sistem.

Gambar 1.2. Aliran massa melewati permukaan volume atur yang memiliki pesawat
(kompressor udara).

file:///D|/E-Learning/Termodinamika%20Teknik%20I/Textbook/Buku%20Ajar%20Termodinamika%20Teknik%20I.html (3 of 53)5/8/2007 3:52:27 PM


BAB I

I.5. Sistem Tertutup & Sistem Terbuka

- Sistem Terbuka : massa diperbolehkan melewati batas sistem


- Sistem Tertutup : tidak ada massa yang melewati / melalui batas sistem

• Suatu sistem tertutup hanya dapat mengadakan pertukaran energi dengan


lingkungannya atau sistem lain.
• Bila tidak mengadakan pertukaran energi → sistem terisolasi
• Sistem terisolasi secara termik dari lingkungannya → Sistem adiabatik, tetapi masih
dapat mengadakan pertukaran kerja dengan lingkungannya.

I.6. Pandangan Makroskopik dan Mikroskopik


I.6.1. Pandangan Makroskopik
Uraian suatu sistem dengan menggunakan beberapa sifat yang dapat diukur
sebagai koordinat makroskopik, misalnya:
- Komposisi
- Volume sistem
- Tekanan gas
- Temperatur

Ciri Khas Koordinat Makroskopik


1. Koordinat ini tidak menyangkut pengandaian khusus mengenai struktur materi.
2. Jumlah koordinatnya sedikit
3. Koordinat ini dipilih melalui daya terima indera kita scara langsung.
4. Pada umumnya koordinat ini dapat diukur secara langsung

I.6.2. Pandangan Mikroskopik


Ciri khas mikroskopik:

file:///D|/E-Learning/Termodinamika%20Teknik%20I/Textbook/Buku%20Ajar%20Termodinamika%20Teknik%20I.html (4 of 53)5/8/2007 3:52:27 PM


BAB I

1. Terdapat pengandaian secara struktur materi, yaitu molekul dianggap ada.


2. Banyak kuantitas yang harus diperinci
3. Kuantitas yang diperinci tidak berdasarkan penerimaan indera kita
4. Kuantitas ini tidak bisa diukur.

Kedua pandangan di atas terdapat hubungan, walaupun sepintas kelihatan sangat berbeda,
contoh : kuantitas mikroskopik tekanan adalah perubahan momentum rata-rata yang
ditimbulkan oleh tumbukan molekular pada bidang yang luasnya satu satuan.
Tekanan → dirasakan oleh indera kita, dialamai, diukur.
Jika molekular diubah → konsep tekanan tetap (teori).

I.7. Kesetimbangan Termal

Keadaan setimbang dalam suatu sistem bergantung pada sistem lain yang ada di dekatnya dan siafat
dinding yang memisahkannya.
Dinding → adiabatik atau diaterm.

Contoh soal :
1. Dua buah logam memiliki koordinat termodinamik yang berbeda (kuantitas), dipisahkan oleh
dinding diaterm, maka kedua benda / logam akan mengalami

perubahan yang pada akhirnya akan mempunyai kuantitas yang sama → disebut
kesetimbangan termal.
Sistem saling berinteraksi untuk mencapai kesetimbangan melalui dinding diaterm.

2. Bila dua sistem A dan B yang dipisahkan oleh dinding adiabatik tetapi masing-masing
bersentuhan dengan sistem ketiga, yaitu C melalui dinding diaterm.

file:///D|/E-Learning/Termodinamika%20Teknik%20I/Textbook/Buku%20Ajar%20Termodinamika%20Teknik%20I.html (5 of 53)5/8/2007 3:52:27 PM


BAB I
Gambar 1.3. Keseimbangan Termal

Kedua sistem mencapai kesetimbangan termal dengan sistem ketiga, dan tidak ada perubahan
lagi jika dinding adiabat yang memisahkan A dan B digantikan oleh dinding diaterm.

Maka sistem gabungan akan tetap dalam kesetimbangan termal, disebut sebagai Hukum
Termo ke-Nol.

I.8. Konsep Temperatur

Temperatur (suhu) sebagai perasaan “panas” atau “dingin” bila kita menyentuh suatu benda.

• Temperatur sistem : suatu sifat yang menentukan apakah sistem dalam kesetimbangan
termal dengan sistem lainnya.
• Isoterm adalah kedudukan semua titik yang menggambarkan keadaan sistem dalam
kesetimbangan termal dengan suatu keadaan dari sistem lain.

→ Satuan temperatur : °C ; °F &


Temperatur mutlak : K ; °R

I.8.1. Skala Temperatur

• Alat ukur temp → “Termometer”


• Ada 4 macam skala temperatur dikenal yaitu :

file:///D|/E-Learning/Termodinamika%20Teknik%20I/Textbook/Buku%20Ajar%20Termodinamika%20Teknik%20I.html (6 of 53)5/8/2007 3:52:27 PM


BAB I

Gambar 1.4. Skala beberapa jenis temperatur

Titik Triple air : 273,16 K ; 0,01 °C ; 491,69 °R ; 32.018 °F


Titik Beku air : 273,15 K ; 0 °C ; 491,67 °R ; 32 °F
Titik Didih air : 373,15 K ; 100 °C ; 671,67 °R ; 212 °F

1.9. Pemuaian Zat Padat dan Zat Cair

Pada umumnya setiap zat (padat, cair dan gas) akan bertambah volumenya sebesar dV apabila
temperaturnya naik sebesar dT .

Koef. muai ruang :

Koef. muai panjang :

I.10. Tekanan
Definisi Tekanan :
Dimana:
Fn = Komponen gaya tegak lurus pada A

A = Luas bidang dalam medium yang kecil


A’ = Luas bidang yang terkecil agar medium masih dapat
dianggap sebagai kontinuitas

Istilah : untuk gas cairan → tekanan


untuk zat padat → tegangan

file:///D|/E-Learning/Termodinamika%20Teknik%20I/Textbook/Buku%20Ajar%20Termodinamika%20Teknik%20I.html (7 of 53)5/8/2007 3:52:27 PM


BAB I
• Tekanan Absolut : Tekanan yang diadakan oleh sistem pada batas sistem
• Tekanan di atas Tekanan Atmosfir : Pabs = Prelatif + Patm

• Tekanan di bawahTekanan.Atmosfir → Tek. Relatif (-) (vakum)


Misalnya : Tekenan Relatif = -10 kg/cm2
→ Vakum = 10 kg/cm2

Hubungan antara tekanan absolut, tekanan relatif dan tekanan vakum dapat dilihat di bawah ini.

Gambar 1.5. Hubungan antara tekanan absolut, tekanan relatif dan tekanan vakum

I. 11. Energi
Didefinisikan sebagai kemampuan untuk menghasilkan, atau kapasitas untuk menghasilkan suatu
pengaruh.

file:///D|/E-Learning/Termodinamika%20Teknik%20I/Textbook/Buku%20Ajar%20Termodinamika%20Teknik%20I.html (8 of 53)5/8/2007 3:52:27 PM


BAB I

Gambar 1.6. Klasifikasi energi

I. 12. Dimensi dan Sistem Satuan

Sistem satuan yang digunakan adalah sistem satuan metrik atau Sistem Internasional (SI). Di dalam
satuan-satuan dasar digunakan dimensi-dimensi adalah:

L = panjang (meter)
M = massa (kilogram)
t = waktu (detik.menit)
T = suhu (K, °R)

Satuan-satuan lainnya dapat ditentukan atau diturunkan dari satuan-satuan dasar ini.

Tabel 1.1. Satuan-satuan Dasar (SI) dan Tambahan


Besaran Satuan Dasar Notasi
Panjang Meter m
Massa Kilogram kg
Waktu Detik det (s)
Suhu Kelvin K
Arus listrik Ampere A
Intensitas Cahaya Candela d
Satuan Tambahan
Sudut bidang Radias rad
Sudut ruang Steradias Sr

Contoh: Penggunaan satuan, misal Hukum Newton II

F α m.a

file:///D|/E-Learning/Termodinamika%20Teknik%20I/Textbook/Buku%20Ajar%20Termodinamika%20Teknik%20I.html (9 of 53)5/8/2007 3:52:27 PM


BAB I

atau,

dimana : gc = konstanta dimensional (memberikan kesetimbangan terhadap satuan)

Jadi, satuan (SI) :

British :

(untuk massa 1 lbm dibutuhkan


percepatan sebesar 32.174 ft/sec2).

Contoh: Energi Kinetik (EK) =

Maka digunakan suatu faktor yang disebut konstanta dimensional gc sehingga

SI sistem : m = massa (kg)


v = kecepatan (m/det)
gc = 1 kgm/N.det2

Soal :

file:///D|/E-Learning/Termodinamika%20Teknik%20I/Textbook/Buku%20Ajar%20Termodinamika%20Teknik%20I.html (10 of 53)5/8/2007 3:52:27 PM


BAB I

1. Hitunglah Energi kinematik dalam Btu 4000 lbs mobil dengan kecepatan

60 mph. Gunakan juga sistem satuan SI.

Jawab:
60 mph = 88 ft/sec

= 4.8 x 105 ft lbf


= 618 Btu

dalam satuan SI:


v = 60 mph = 28.62 m/det
m = 4000lbs = 1816 kg

= 7,44 x 105 Nm
= 7,44 x 105 Joule

2. Hitung tekanan atmosfir pada ketinggian 0,760 mHg.

Density Hg 13,60 gr/cm3.


Jawab:
dimana:
g = 9.80 m/det2
h = 0.76 m

= 1.013 x 105 N/m2


= 1.013 x 105 pascal

British System
ρ = 13.60 g/cm3 = 847 lbm/ft3

file:///D|/E-Learning/Termodinamika%20Teknik%20I/Textbook/Buku%20Ajar%20Termodinamika%20Teknik%20I.html (11 of 53)5/8/2007 3:52:27 PM


BAB I

g = 32.2 ft/sec2
h = 0.76 m = 2.49 ft

I. 13. Kesetimbangan Termodinamik

• Bila keadaan sistem berubah → terjadi interaksi sistem dengan lingkungan atau jika
koordinat makroskopik berubah → sistem mengalami perubahan keadaan.
• Bila sistem tidak dipengaruhi oleh sekelilingnya, maka sistem terisolasi → Dalam
penerapan praktis termodinamika, sistem biasanya dipengaruhi oleh lingkungannya.

Kesetimbangan termodinamik tidak ada kecenderungan terjadinya perubahan keadaan baik untuk
sistem maupun untuk lingkungannya.

• Sistem dalam kesetimbangan mekanis : bila sistem tidak cenderung mengalami


perubahan spontan dari struktur internalnya, seperti reaksi kimia atau perpindahan materi
dari satu bagian sistem ke bagian lainnya, seperti diffusi atau pelarutan. Bagaimanapun
lambatnya, maka sistem dalam keadaan setimbang kimia.

• Kesetimbangan termal : bila tidak terjadi perubahan spontan dalam koordinat sistem
yang ada dalam kesetimbangan mekanis dan kimia, bila sistem itu dipisahkan dari
lingkungannya oleh dinding diaterm.

Dalam kesetimbangan termal, semua bagian sistem bertemperatur sama, dan temperatur ini sama
dengantemperatur lingkungannya.
Bila pernyataan ini tidak dipenuhi, perubahan keadaan akan berlangsung sampai kesetimbangan

file:///D|/E-Learning/Termodinamika%20Teknik%20I/Textbook/Buku%20Ajar%20Termodinamika%20Teknik%20I.html (12 of 53)5/8/2007 3:52:27 PM


BAB I

termalnya tercapai.

→ Bila salah satu persyaratan dari tiga jenis kesetimbangan yang merupakan komponen dari
kesetimbangan Termodinamik tidak dipenuhi, maka sistem dalam keadaan tak setimbang.

→ Jika kita pandang secara makroskopik pada salah satu dari keadaan tak setimbang, kita
dapatkan tekanan satu bagian sistem berbeda dengan bagian sistem lainnya. Jadi, tidak ada satu
harga tekanan yang dapat mengacu pada sistem secara keseluruhan. Demikian juga temperatur
berbeda dengan lingkungannya.

Dalam bagian ini kita hanya membahas sistem dalam kesetimbangan termodinamik.

Untuk menyederhanakan masalah, misalkan gas dengan :


Ø m = tetap, dalam bejana yang dilengkapi, sehingga p, V, dan T dengan mudah dapat
diatur.

Ø Jika V ditetapkan dan T dipilih harga tertentu, maka kita tidak bisa mengubah p-nya,
atau
Ø V dan T dipilih, harga p pada kesetimbangan diperoleh secara alami.

Diantara ketiga koordinat Termodinamik p, V dan T hanya dua yang merupakan perubah
bebas, hal ini menunjukkan bahwa harus ada satu persamaan kesetimbangan yang
menghubungkan koordinat Termodinamik.

→ Persamaan seperti itu disebut “Persamaan keadaan”.

pV = mRT atau pV = nRT

atau, pv = RT

dimana : p = N/m2 (= Pa)


V = m3

file:///D|/E-Learning/Termodinamika%20Teknik%20I/Textbook/Buku%20Ajar%20Termodinamika%20Teknik%20I.html (13 of 53)5/8/2007 3:52:27 PM


BAB I

v = sp.volum (m3/kg)
T = K, °R

I. 13.1. Perubahan Keadaan Gas Ideal

Perubahan keadaan gas ideal ada 4 empat macam, yang istimewa adalah:

1. Pada tekanan konstan (p = C)

Gambar 1.7. Proses pada tekanan konstan

2. Pada volume konstan (v = C)

Gambar 1.8. Proses pada volume konstan

file:///D|/E-Learning/Termodinamika%20Teknik%20I/Textbook/Buku%20Ajar%20Termodinamika%20Teknik%20I.html (14 of 53)5/8/2007 3:52:27 PM


BAB I

3. Pada temperatur konstan (T = C)

pv = RT = konstan

p1v1 = p2v2 atau

Gambar 1.9. Proses pada temperatur konstan

Dari ketiga proses di atas (p,v,T, konstan), maka dapat di gambarkan pada masing-masing
diagram p,v,T.

• Untuk T = C → diagram p-v

Gambar 1.10. Diagram p-v

• Untuk v = C → diagram p-T

Gambar 1.11. Diagram p-v


Untuk p = C → diagram v-T

file:///D|/E-Learning/Termodinamika%20Teknik%20I/Textbook/Buku%20Ajar%20Termodinamika%20Teknik%20I.html (15 of 53)5/8/2007 3:52:27 PM


BAB I

Gambar 1.12. Diagram p-v

4. Perubahan Keadaan Pada Proses Adiabatik


Pada proses adiabatik: tidak ada panas yang keluar maupun yang masuk dari/ke sistem.
(akan dibicarakan dalam bab selanjutnya).

I.13.2. Persamaan Keadaan

pV = n RT → dimana n = banyaknya mol gas

pV = mRT → untuk satu satuan massa, maka persamaan keadaan adalah:

Persamaan di atas digunakan sebagai benda kerja umumnya dianggap sebagai


gas ideal.

Ø Gas ideal (gas sempurna) adalah gas dimana tenaga ideal molekulnya dapat diabaikan.
Dimana : p = tekanan absolut
V = volume gas (m3 , ft3)
v = spesifik volume gas
R = konstanta gas
T = Temperatur mutlak (K , oR)

Ø Untuk tenaga ikat molekul-molekulnya tidak dapat diabaikan, persamaan pv ≠ RT, dan
dapat dituliskan sebagai berikut:

→ Persamaan Keadaan Gas Van Der Waals.

dimana : a dan b adalah konstanta yang berbeda untuk masing-masing gas.

file:///D|/E-Learning/Termodinamika%20Teknik%20I/Textbook/Buku%20Ajar%20Termodinamika%20Teknik%20I.html (16 of 53)5/8/2007 3:52:27 PM


BAB I

Ø Disamping persamaan persamaan gas V.D Waals, juga Beattie Bridgeman membuat
persamaan gas sebagai berikut:

dimana:

A0, a, B0, b, dan c adalah konstanta-kontanta yang berubah untuk masing-masing gas.

I.13.3. Perubahan Keadaan Dalam Persamaan Differensial

• Pengaruh temperatur terhadap volume suatu zat pada tekanan konstan disebut koefisien
pengembangan atau koefisien muai volum rata-rata (kemuaian volum) → β.

• Pengaruh (efek perubahan) tekanan terhadap volume sistem pada temperatur konstan
disebut Kompressibelitas.

Diantara ketiga koordinat Termodinamika p, V, dan T hanya dua yang merupakan perubah bebas:

→ Persamaan gas ideal:


pv = RT

Jadi:

file:///D|/E-Learning/Termodinamika%20Teknik%20I/Textbook/Buku%20Ajar%20Termodinamika%20Teknik%20I.html (17 of 53)5/8/2007 3:52:27 PM


BAB I

Hubungan setiap koordinat dalam dua koordinat lainnya:


1. V = f (p,T)

2. p = f (V, T)

3. T = f (p,V)

Hubungan antara ketiga koordinat p, V, T adalah sebagai berikut:

f (p, V, T) = 0

→ Dari ketiga koordinat hanya dua yang bebas:

dimana dT = 0 → T = konstan

atau

===>

;
atau,

Bila V = c, dV = 0
(integrasi)

file:///D|/E-Learning/Termodinamika%20Teknik%20I/Textbook/Buku%20Ajar%20Termodinamika%20Teknik%20I.html (18 of 53)5/8/2007 3:52:27 PM


BAB I

Contoh Soal:
Massa air raksa pada tekanan atm dan temperatur 0 °C diusahakan agar volume tetap. Jika
temperatur dinaikkan hingga 10 °C, berapakah tekanan akhirnya?
Jawab:
Besar β dan K dari 0 – 10 °C (dapat dilihat pada tabel tetapan fisis)
β = 181 x 10-6 K-1
K = 3.82 x 10-11 Pa-1

Jadi:

p2 = (473 x 105) Pa + (1 x 105 Pa)

p2 = 474 x 105 Pa

I. 14. Sifat-sifat Koordinat Termodinamika

Dibagi 2 golongan, yaitu:


1. Sifat/koordinat intensif → tidak tergantung langsung pada massa.

(tidak tergantung kepada ukuran atau kuantitas bahan)

2. Sifat/koordinat Ekstensif → tergantung langsung pada massa.

(bergantung pada ukuran atau kuantitas bahan).

Tabel 1.2. Sifat intensif dan Ekstensif

Sifat Intensif Sifat Ekstensif

file:///D|/E-Learning/Termodinamika%20Teknik%20I/Textbook/Buku%20Ajar%20Termodinamika%20Teknik%20I.html (19 of 53)5/8/2007 3:52:27 PM


BAB I

Viskositas (v) Volume (V)

Tekanan (p) Berat / massa (M)

Temperatur (T) Energi / kerja (En)

Tegangan permukaan (σ) Luas permukaan (A)

Intensitas listrik (E) Panjang (L)

Gaya tegang (F)

I.15. Kerja
Sistem mengalami pergeseran karena bereaksinya gaya atau hasil kali gaya dengan pergeseran
(jarak) yang sejajar dengan gaya itu.

dimana:

Karena terjadi pergeseran yang mengakibatkan perubahan volume,


maka kerja adalah:

Kerja positif : Sistem melalui kerja sehingga terjadi pemuaian / pengembangan (pertambahan
volume).

Kerja negatif : Pada sistem dilakukan kerja, sehingga terjadi pengkompressian sistem
(pengurangan volume).

Proses Kuasi – Statik : proses yang hampir statik atau setiap saat keadaan sistem (selama proses)
menghampiri keadaan setimbang terus.

I.15.1. Kerja dari Proses Kusai – Statik

file:///D|/E-Learning/Termodinamika%20Teknik%20I/Textbook/Buku%20Ajar%20Termodinamika%20Teknik%20I.html (20 of 53)5/8/2007 3:52:27 PM


BAB I

Ø Pemuaian dan pemampatan pada T = C dalam proses Kuasi–Statik dari


gas ideal:

Persamaan gas ideal : pV = nRT atau pV = mRT


maka:

Ø Pertambahan tekanan isoterm Kuasi Statik pada zat padat:

ç V = f (p,T)
dan

Pada temperatur tetap : dV = - kV dp


Substitusi harga dV diperoleh:

(integral)

Perubahan dalam V dan K pada T = C sedemikian kecil, sehingga perubahan ini dapat diabaikan,

maka :

dimana :

Pemampatan (compression) dan Pemuaian (expansion) dapat digambarkan dalam p-V diagram
sebagai berikut :

file:///D|/E-Learning/Termodinamika%20Teknik%20I/Textbook/Buku%20Ajar%20Termodinamika%20Teknik%20I.html (21 of 53)5/8/2007 3:52:27 PM


BAB I

Gambar 1.13. P-V diagram pemampatan

Gambar 1.14. P-V diagram pemuaian

Gambar 1.15. Siklus melingkar

BAB II
HUKUM TERMODINAMIKA I DAN PENGGUNAANNYA

II.1. Defenisi

file:///D|/E-Learning/Termodinamika%20Teknik%20I/Textbook/Buku%20Ajar%20Termodinamika%20Teknik%20I.html (22 of 53)5/8/2007 3:52:27 PM


BAB I

Ø Bila sistem diberi panas sebesar dQ, maka sistem akan berekspansi dan melakukan
kerja sebesar dW.

Ø Pemanasan sistem akan menimbulkan beberapa hal :


1. Pertambahan kecepatan molecular dari sistem
2. Pertambahan jarak antara molekul-molekul sistem,
karena sistem berekspansi.

Ø Sehingga panas dQ yang diberikan akan mengakibatkan terjadinya :


1. Pertambahan energi dalam sistem
2. Pertambahan energi kinetik molekul
3. Pertambahan energi potensial
4. Pertambahan energi fluida

akibat gaya-gaya konservatif luas seperti gaya gravitasi.

II.2. Persamaan Energi


Jadi, persamaan energi untuk sistem adalah:
Ini adalah :
dQ = dU + dEk + dEp + dEf + dW Persamaan konservatif energi sistem,

atau Hukum Termodinamika I.

Bila sistem mengalami Ek, EP dan EF konstan, (dEk = 0 ; dEP = 0 ; dEf = 0) disebut sistem
diisolasi, maka Hukum Termodinamika I menjadi:

dQ = dU + dW

Ø Persamaan energi suatu sistem merupakan hubungan persamaan energi-dalam (u)


dengan variabel-variabel keadaan sistem, dalam differensial partial (u):

II.2.1. Variabel Persamaan Energi

file:///D|/E-Learning/Termodinamika%20Teknik%20I/Textbook/Buku%20Ajar%20Termodinamika%20Teknik%20I.html (23 of 53)5/8/2007 3:52:27 PM


BAB I

1. T dan v sebagai variable bebas

U = f (T,v)

Hukum Termodinamika I, dalam satu satuan massa :


dq = du + dw = du + pdv

maka,

a. Proses T = C (isothermal) → dT = 0.

Persamaan 1* menjadi :
atau :

b. Proses V = C (isovolum) → dV = 0

→ dq = Cv dT|v
Sehingga persamaan * menjadi :
>>

c. Proses p = C (Isobar) → dp = 0

→ dq = Cp dT|P
Persamaan * menjadi :
Atau,

d. Proses Adiabatik → dq = 0
Adiabatik : tidak energi (dalam bentuk panas) yang masuk maupun keluar dari /ke sistem.
Persamaan 1* menjadi :

file:///D|/E-Learning/Termodinamika%20Teknik%20I/Textbook/Buku%20Ajar%20Termodinamika%20Teknik%20I.html (24 of 53)5/8/2007 3:52:27 PM


BAB I

atau,

Contoh : Buktikan : cp – cv = R

untuk gas ideal : pv = RT →

energi dalam { U = f (T) } → U = Cv.T + konstanta

, substitusi ke persamaan 2* ,
maka cp – cv = R

2. T dan p sebagai variable bebas

U = f (T,p)

>> Persamaan / Hukum Termodinamika I menjadi:

v = f ( p,T)

Dengan cara yang sama dapat dilakukan untuk proses-proses:

1. T = C → isothermal dT = 0
2. p = C → isobar dP = 0
3. v = C → isovolum dV = 0

file:///D|/E-Learning/Termodinamika%20Teknik%20I/Textbook/Buku%20Ajar%20Termodinamika%20Teknik%20I.html (25 of 53)5/8/2007 3:52:27 PM


BAB I

4. Q = C → adiabatik dq = 0

II.3. Proses Adiabatik

Syarat : dQ = 0 (sistem diisolasi)


Hukum Termodinamika I : dQ = dU + dW
atau : 0 = dU + dW
dU = - dW

→ U2 – U1 = -W → W-, U↑ (kompresi)

Atau, U1 – U2 = W → W+, U↓ (ekspansi)

Hubungan variabel p, v dan T dapat dibuat untuk proses adiabatik, dan dapat
digambarkan di dalam p-v diagram.

------ : garis isotermis.

••• : garis adiabatik.

Gambar 2.1. Hubungan variabel p, v dan T dapat dibuat untuk proses adiabatik

Hukum Termodinamika I : dQ = dU + dW
Proses adiabatik : dQ = 0

file:///D|/E-Learning/Termodinamika%20Teknik%20I/Textbook/Buku%20Ajar%20Termodinamika%20Teknik%20I.html (26 of 53)5/8/2007 3:52:27 PM


BAB I

→ 0 = dU + dW
di mana: dU = mcv dT dan dW = pdv
(du = cv dT)

→ m cv dT = - pdV

Persamaan gas ideal : pV = mRT


Integrasi diperoleh : pdV + Vdp = mRdT

-m cv dT + Vdp = mRdT

= m . cp → Vdp = m cp dT

dari persamaan : m cv dT = -pdV


m cp dT = Vdp

→ (diintegrasikan)

diperoleh : + konst. → dimana

= konst.

atau,

dari, m cv dT + p dV = 0

file:///D|/E-Learning/Termodinamika%20Teknik%20I/Textbook/Buku%20Ajar%20Termodinamika%20Teknik%20I.html (27 of 53)5/8/2007 3:52:27 PM


BAB I

gas ideal : pV = mRT →

→ (diintegrasikan)

ln T + ln VR/CV = konstan

dimana

dengan cara yang sama :

II.3.1. Kerja pada Proses Adiabatik


Pada proses adiabatik maka besarnya kerja yang terjadi adalah :

dimana,

>

II.4. Entalpi
Entalpi suatu sistem → Jumlah energi dalam dengan hasil kali tekanan & volume sistem.

Dari Hukum Termodinamika I : dQ = dU + dW = dU + pdV

→ d (pV) = pdV + Vdp

pdV = d(pV) – Vdp

file:///D|/E-Learning/Termodinamika%20Teknik%20I/Textbook/Buku%20Ajar%20Termodinamika%20Teknik%20I.html (28 of 53)5/8/2007 3:52:27 PM


BAB I

Hukum Termodinamika I menjadi:

dQ = dU + d (pV) - Vdp
dQ = d (U + pV) – Vdp

Entalphi adalah : H = U + pV ; untuk satu satuan massa, h = u + pv.

Sehingga Hukum Termodinamika I :


dQ = dH – Vdp
dH = d (U + pV) = dU + dpV

Untuk gas ideal, dimana dU = mcvdT


pV = mRT
maka, dH = mcvdT + d (mRT) = m (cv + R) dT
dH = mcpdT , untuk satu satuan massa : dh = cp dT.

II.5. Proses Politropik


Proses sesungguhnya yang di jumpai di dalam praktek, misalnya mesin-mesin panas dan
mekanis seperti kompressor adalah proses politropik. Bentuk dan sifat, proses politropik
ditentukan oleh eksponen politropik ( n = 0 ~ ).
Proses Politropik mempunyai bentuk persamaan sebagai berikut :

Pvn = C dimana : n = bilangan konstan,


atau eksponen politropik.

Bila, harga n = 0, berarti proses adalah tekanan konstan (isobar),


n = ~ berarti proses adalah volume konstan (isovolum).

Proses politropik pada keadaan selama proses, awal dan akhir proses dinyatakan sebagai
berikut :

file:///D|/E-Learning/Termodinamika%20Teknik%20I/Textbook/Buku%20Ajar%20Termodinamika%20Teknik%20I.html (29 of 53)5/8/2007 3:52:27 PM


BAB I

Bila kerja dinyatakan sebagai dW = p dV, terjadi antara keadaan awal (1) dan akhir (2), dengan
mengintegrasi persamaan di atas, maka :

Maka kerja untuk proses politropik adalah :

Kerja untuk gas ideal, adalah :

Hubungan p, v, dan T pada proses politropik untuk gas ideal adalah :

II.5.1. Proses Politropik Pada p-V Diagram


Proses Politropik Pada p-V Diagram dapat dilihat pada gambar doi bawah ini :

kompressi

file:///D|/E-Learning/Termodinamika%20Teknik%20I/Textbook/Buku%20Ajar%20Termodinamika%20Teknik%20I.html (30 of 53)5/8/2007 3:52:27 PM


BAB I

ekspansi
Gambar 2.2. Proses Politropik Pada p-V Diagram

Keterangan Gambar :
n = 0 à proses isobar, p = C
n = ~ à proses isovolum, v = C ← cn = cv

n = 1 à proses isotermal, T = C ← cn = ~

n = γ à proses adiabatik, ← cn = 0

BAB III
PERUBAHAN FASE

file:///D|/E-Learning/Termodinamika%20Teknik%20I/Textbook/Buku%20Ajar%20Termodinamika%20Teknik%20I.html (31 of 53)5/8/2007 3:52:27 PM


BAB I

III.1. Diagram p – V untuk Zat Murni


Perubahan fase pada proses termodinamika dapat divisualisasikan pada diagram p-V-T dari
permukaan suatu zat yang memuai saat mencair. Hal tersebut dapat dilihat seperti pada gambar di
bawah ini.

Gambar 3.1. Permukaan p-V-T

Bentuk diagram p-V untuk zat murni dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
Gambar 3.2. Diagram p – V untuk Zat Murni

Keterangan Gambar :
A = fase uap
B = uap jenuh
C = cair jenuh
D = fase cair
AB = fase uap
BC = kesetimbangan fase cair dan fase uap
CD = fase cair
ABCD = merupakan isoterm suatu zat murni pada diagram pV

III.2. Diagram p – T untuk Zat Murni


Bentuk diagram p-T untuk zat murni dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Gambar 3.3. Diagram p – T

file:///D|/E-Learning/Termodinamika%20Teknik%20I/Textbook/Buku%20Ajar%20Termodinamika%20Teknik%20I.html (32 of 53)5/8/2007 3:52:27 PM


BAB I

Gambar 3.4. Diagram p – v

Suatu sistem keadaan mula – mula “uap” yang berada dalam silinder yang pistonnya dapat bergerak
bebas tanpa gesekan (lihat gambar dibawah ini).

Gambar 3.5. Sistem piston di dalam silinder

Uap dikompresikan isothermal sampai pada titik A-A (titik A pada p-V diagram zat murni).
Kompresi dilakukan terus sehingga sistem berubah menjadi fase cair (proses kompresi isobar-
isotermal), sampai pada titik B.

Tinjau sistem yang berada dalam kesetimbangan (grs AB) sebagai berikut:

mf = massa cair dalam silinder


mg = massa uap dalam silinder
m = massa total dari sistem (gabungan uap dan cair)

Jadi : m = mf + mg
dan
vf = volume jenis cairan
vg = volume jenis uap

maka volume sebenarnya dari masing – masing fase adalah :

Vf = mf . vf
Vg = mg . Vg

→ Volume total adalah (V) = Vg + Vf

file:///D|/E-Learning/Termodinamika%20Teknik%20I/Textbook/Buku%20Ajar%20Termodinamika%20Teknik%20I.html (33 of 53)5/8/2007 3:52:27 PM


BAB I

V = mf . vf + mg . vg

→ Volume jenis rata-rata dari sistem adalah :

Catatan :
Bagian fase uap dari sistem → kwalitas uap (x)
Bagian fase cair dari sistem → moisture (y)

Maka diperoleh :

dibuktikan pada gambar (p-V diagram zat murni)

Bila sistem diberi panas, maka sistem melakukan kerja luar, sehingga titik C akan bergerak tekanan,
mengakibatkan volume bertambah sebesar dV, karena vg dan vf konstan.

Maka :

→ Jika massa ditansfer dari phase cair ke phase uap maka :

→ Persamaan menjadi :

→ Bila proses isothermal dan isobar, maka kerja yang dilakukan, adalah :
dW = p.dV
dW = p (vg – vf) dmfg

→ Perubahan energi dalam sistem adalah : dU = ( ug - uf ) dmfg


→ Menurut hukum termodinamika I, panas yang diserap adalah : dQ = dU + pdV

dimana :

atau :

file:///D|/E-Learning/Termodinamika%20Teknik%20I/Textbook/Buku%20Ajar%20Termodinamika%20Teknik%20I.html (34 of 53)5/8/2007 3:52:27 PM


BAB I

Laten heat (=l)

III.3. Panas Laten


Panas Laten atau laten heat merupakanperubahan fasa gas dengan entalphi uap atau panas yang
dibutuhkan untuk merubah fase suatu zat.

Ada 3 macam latent heat yaitu :

l12 = latent heat of fusion (peleburan)


l23 = latetn heat of vaporization (penguapan)
l13 = latent heat of sublimation (sublimasi)

Dari persamaan di atas dapat diturunkan hubungan:

file:///D|/E-Learning/Termodinamika%20Teknik%20I/Textbook/Buku%20Ajar%20Termodinamika%20Teknik%20I.html (35 of 53)5/8/2007 3:52:27 PM


BAB I

BAB IV
HUKUM TERMODINAMIKA II

IV.1. Defenisi
Hukum Termodinamika I adalah :
- Menetapkan adanya suatu ekivalensi antara panas dan kerja (panas ↔ kerja)
- Digunakan untuk menghubungkan dan menentukan type – type energi yang terlibat dalam
suatu proses.
- Atau menyatakan bahwa sewaktu proses berlangsung terdapat suatu keseimbangan
energi.

file:///D|/E-Learning/Termodinamika%20Teknik%20I/Textbook/Buku%20Ajar%20Termodinamika%20Teknik%20I.html (36 of 53)5/8/2007 3:52:27 PM


BAB I

Hukum termodinamika I merupakan pernyataan dari hukum kekekalan energi dan tidak menyatakan
sesuatu apapun mengenai arah dari proses yang berlangsung.

Proses termodinamika itu dapat berlangsung kedua arah yaitu :


- Diekspansikan (pengembangan)
- Dikompresikan (penekanan)

Hukum Termodinamika I juga belum menjelaskan kearah mana suatu perubahan keadaan itu berjalan
dan apakah perubahan itu reversible atau irreversible.

Dalam pengembangannya diterangkan dan dibahas dalam Hukum Termodinamika II

Jadi : Hukum Termodinamika II, memberikan batasan-batasan tentang arah yang dijalani suatu
proses, dan memberikan kriteria apakah proses itu reversible atau irreversible dan salah satu akibat
dari hukum termodinamika II ialah perkembangan dari suatu sifat phisik alam yang disebut entropi.

Perubahan entropi → menentukan arah yang dijalani suatu proses.


Hukum Termodinamika II menyatakan :

* Tidak mungkin panas dapat dirubah menjadi kerja seluruhnya, tetapi sebaliknya kerja dapat
dirubah menjadi panas.

atau : Q ≠à W seluruhnya
W → Q (sama besarnya)

atau untuk mendapatkan sejumlah kerja (W) dari suatu siklus, maka kalor (Q) yang harus diberikan
kepada sistem selalu lebih besar.

→ Q diserap > W sehingga, η siklus < 100 %.

* Suatu yang bekerja sebagai sebagai suatu siklus tidak dapat memindahkan kalor (Q) dari bagian
yang bertemperatur rendah ke bagian yang bertemperatur lebih tinggi, tanpa menimbulkan perubahan
keadaan pada sistem yang lain.

Dari kedua hal tersebut diatas, menyatakan tentang arah proses perubahan energi dalam dalam

file:///D|/E-Learning/Termodinamika%20Teknik%20I/Textbook/Buku%20Ajar%20Termodinamika%20Teknik%20I.html (37 of 53)5/8/2007 3:52:27 PM


BAB I

bentuk panas ke bentuk kerja → yang menyatakan adanya pembatasan transformasi energi.

IV.2. Mesin Panas ( Heat Engine )


Mesin panas adalah sistem yang bekerja secara siklus, dan melalui permukaan-permukaan
batasannya, energi dalam bentuk panas dan kerja yang dapat mengalir.
Tujuannya mengubah panas menjadi kerja. Mesin panas mengalami proses – proses secara periodik
kembali kekeadaan semula (reversible). Sebagai contoh yaitu PEMBANGKIT TENAGA UAP,
fluida kerjanya adalah H2O yang mengalir secara kontiniu dan stasioner melalui ketel (dalam bentuk
air dan kemudian menguap), mengalir ke turbin. Keluar dari turbin sebagai uap air pada temperatur
dan tekanan rendah. H2O (uap air) masuk ke Condenser, disini H2O (uap air) berubah menjadi air
kembali, dan air ini di pompa kembali ke ketel. Proses ini berlangsung secara periodik.

Gambar 4.1. Instalasi Pembangkit Tenaga

Menurut Hukum Termodinamika I :

atau

Maka, Effisiensi Termik dari siklus tertutup ini adalah :

Disini dapat dilihat bahwa, sistem menerima panas pada temperatur tinggi, kemudian panas dibuang
oleh sistem temperatur rendah, dan kerja dilakukan pada lingkungan.

Kita ambil “dua mesin pemanas”, yang tujuan utamanya adalah mengubah panas menjadi kerja, dan
melakukan kerja pada lingkungan.

file:///D|/E-Learning/Termodinamika%20Teknik%20I/Textbook/Buku%20Ajar%20Termodinamika%20Teknik%20I.html (38 of 53)5/8/2007 3:52:27 PM


BAB I

Gambar 4.2. Mesin panas dan pompa panas

Untuk mesin panas :

Untuk pompa panas :

Contoh Soal

file:///D|/E-Learning/Termodinamika%20Teknik%20I/Textbook/Buku%20Ajar%20Termodinamika%20Teknik%20I.html (39 of 53)5/8/2007 3:52:27 PM


BAB I

1. Panas yang digunakan oleh suatu mesin panas adalah : 1150 Kj/mnt dan mesin menghasilkan
7,5 Kw

Ditanya : a.

b.

Jawab : Qin = 1150 kJ/mnt

Wout = 7,5 kW = 7,5(60) = 450 kJ/mnt

a. = 0,391 (39,1%)

b. = ( 1150 – 450 ) kJ/mnt

= 700 kJ/mnt

2. Sebuah bangunan memerlukan panas : 100.000 Kj/menit dari suatu pompa panas yang menyerap
panas dari udara dingin diluar dan memberikannya ke ruangan – ruangan bangunan tersebut. untuk
menjalankan pompa diperlukan kerja :14.800 Kj.

Ditanya : a) Besarnya panas yang diserap dari udara luar (Qin)


b) (KP) pompa panas

Jawab : Qout = 100.000 kJ/mnt


a) Jumlah panas yang diperlukan pompa panas :

jadi : Qin = 85.200 kJ/mnt

b) Koefisien Panas pompa panas =

file:///D|/E-Learning/Termodinamika%20Teknik%20I/Textbook/Buku%20Ajar%20Termodinamika%20Teknik%20I.html (40 of 53)5/8/2007 3:52:27 PM


BAB I

IV.3. Kegunaan Hukum Termodinámika II

1. Menentukan effisiensi paling tinggi dari mesin panas atau KP yang maximum dari mesin
pendingin.
2. Menentukan apakah proses dapat berlangsung atau tidak (irreversible atau reversible).
3.Menentukan arah atau derajat suatu reaksi kimia.
4. Menentukan skala temperaturyang tidak tergantung pada sifat-sifat fisik tiap zat.
5. Mendefinisikan suatu sifat yang sangat berguna.

IV.3.1 Proses Reversibel


1. Gerakan relative tanpa gesekan (licin)
2. Peregangan dan penekanan suatu pegas.
3. Ekspansi dan kompresi adiabatik tanpa gesekan.
4. Ekspansi dan kompresi isotermik
5. Ekspansi dan kompresipolintropik.
6. Elektrolisa

IV.3.2. Proses Irreversibel


1. Gerakan relatif dengan gesekan.
2. Ekspansi bebas (tidak ada kerja karena Q = 0 → U = 0 )
3. Pembakaran.
4. Proses difusi.

IV.3.3. Siklus Carnot

Siklus carnot ini terdiri dari :


- 2 proses isotermik
- 2 proses adiabatik reversible

Siklus carnot : Memiliki medium kerja yang menerima panas dari suatu temperatur dan
melepaskannya pada temperatur yang lain → jadi diperlukan dua reservoir yang berdasarkan hukum
termodinamika kedua merupakan jumlah minimum.

file:///D|/E-Learning/Termodinamika%20Teknik%20I/Textbook/Buku%20Ajar%20Termodinamika%20Teknik%20I.html (41 of 53)5/8/2007 3:52:27 PM


BAB I

Siklus ini dapat terjadi pada proses-proses tak mengalir reversibel atau pada proses-proses stasioner.

Gambar 4.3. Siklus Carnot pada diagram P-V

Karena sistem mengalami satu siklus maka energi dalam tidak berubah, jadi •U = 0. Maka Hukum
Termodinamika I diperoleh:
dimana : W adalah kerja total
Q2 panas yang diserap sistem
Q1 panas yang dilepaskan oleh sistem

Maka effisiensi temik siklus carnot, yaitu hasil bagi kerja yang dilakukan sistemdengan panas yang
diserap sistem pada temperatur tinggi :

Contoh:

Perhitungan effisiensi termik mesin carnot yang menggunakan gas ideal :

Jawab:
untuk gas ideal: PV = mRT atau pv = RT
du = Cv . dT

- Proses 1-2 : proses isotermik, pv = konstan.

Gambar 4.4. Proses isotermik

file:///D|/E-Learning/Termodinamika%20Teknik%20I/Textbook/Buku%20Ajar%20Termodinamika%20Teknik%20I.html (42 of 53)5/8/2007 3:52:27 PM


BAB I

Proses 2-3 : proses adiabatik reversible, pvγ = konstan, dq = 0.

W = - •U = - Cv (T3 – T2) atau W = - •U = - Cv (T1 – T2)

W = - •U = Cv (T2 – T1)

W = - •U = Cv (T2 – T1)

- Proses 3-4 : Proses isotermik ; •U = 0

-Proses 4-1 : Adiabatik reversible dq = 0 , pvγ = konstan

w = - •U = - Cv (T1 – T4)

atau w = - Cv (T2 – T1)

w = Cv (T1 – T2)

→ Jadi jumlah kerja siklus :

→ Untuk proses adiabatik :

file:///D|/E-Learning/Termodinamika%20Teknik%20I/Textbook/Buku%20Ajar%20Termodinamika%20Teknik%20I.html (43 of 53)5/8/2007 3:52:27 PM


BAB I

atau

Jadi η Carnot hanya bergantung pada T1 dan T2.

Maka akan diperoleh effisiensi carnot :

atau:

file:///D|/E-Learning/Termodinamika%20Teknik%20I/Textbook/Buku%20Ajar%20Termodinamika%20Teknik%20I.html (44 of 53)5/8/2007 3:52:27 PM


BAB I

IV.4. Entropi
- Hukum Termodinamika II dalam bentuk ketidaksamaan clasius mengenai entropi
- Dari proses reversibel siklus carnot diketahui :

dimana : Q2 = panas masuk sistem (+)


Q1 = panas keluar sistem (-)

Persamaan diatas ditulis :

atau dapat ditulis

Untuk suatu siklus yang irreversibel integral siklus ini akan lebih kecil dari nol dan dapat ditulis
sebagai;

Persamaan diatas dapat ditulis sebagai berikut :


Ketidaksamaan clausius

besaran merupakan parameter sistem dan disebut “Entropi”

Jadi entropi merupakan adalah perbandingan panas yang ditransfer selama proses reversibel dengan
temperatur absolut sistem.

Contoh soal :

Sebuah mesin uap bekerja diantara sebuah ketel pada temperatur tetap 3280 F, dan sebuah
kondensator dengan temperatur 1260 F. Air masuk kedalam ketel dalam keadaan cair jenuh.

file:///D|/E-Learning/Termodinamika%20Teknik%20I/Textbook/Buku%20Ajar%20Termodinamika%20Teknik%20I.html (45 of 53)5/8/2007 3:52:27 PM


BAB I

tunjukkanlah bahwa berlaku ketidaksamaan clausius untuk siklus ini.

Jawab :

Perpindahan panas terjadi dalam ketel dan kondensor

Ketel :

Kondensor

Jadi integral siklus :

→ Berlaku ketidaksamaan Clausius.

Perbandingan panas yang ditransfer selama proses reversibel dengan temperatur absolut siklus.

Secara matematis

atau :

file:///D|/E-Learning/Termodinamika%20Teknik%20I/Textbook/Buku%20Ajar%20Termodinamika%20Teknik%20I.html (46 of 53)5/8/2007 3:52:28 PM


BAB I

→ Perubahan Entropi dari keadaan 1 ke keadaan 2

IV.4.1. Perhitungan Perubahan Entropi

Perubahan Entropi

dimana : H = U + pV
U = H – pV

Satuan Entropi

(Entropi persatuan massa)

Untuk satu satuan massa :

Contoh:

Hitunglah perubahan entropi untuk 3 kg gas ideal dengan Cv = (18,94+0,0528 T) kg/kg K, selama
proses volume tetap dari 75o C sampai 100o C.

Jawab :

file:///D|/E-Learning/Termodinamika%20Teknik%20I/Textbook/Buku%20Ajar%20Termodinamika%20Teknik%20I.html (47 of 53)5/8/2007 3:52:28 PM


BAB I

Untuk gas ideal : PV = RT, du = Cv . dT


dalam satu satuan massa : Tds = du + pdv
Tds = Cv.dT + pdv

Untuk 3 kg, maka :

IV.4.2. Diagram Temperatur - Entropi

Dari persamaan :

atau

Gambar 4.5. Diagram P-vdan T-S

file:///D|/E-Learning/Termodinamika%20Teknik%20I/Textbook/Buku%20Ajar%20Termodinamika%20Teknik%20I.html (48 of 53)5/8/2007 3:52:28 PM


BAB I

Diagram P-V dan T-S menyatakan proses reversibel dapat kita ambil contoh pada proses / siklus
carnot, sebagai berikut :

Gambar 4.6. Diagram P-V dan T-S pada Siklus Carnot

Garis 1-2 dan 3-4 : proses isotermik (dT = 0)


Garis 2-3 dan 4-1 : proses adiabatik reversibel (dQ = 0 = T dS) ; T ≠ 0 ; dS = 0
Jadi, adiabatik reversibel = isontropik (entropi konstan)
Effisiensi siklus carnot dapat dihitung dari diagram T-S :

file:///D|/E-Learning/Termodinamika%20Teknik%20I/Textbook/Buku%20Ajar%20Termodinamika%20Teknik%20I.html (49 of 53)5/8/2007 3:52:28 PM


BAB I
IV.4.3. Azas Pertambahan Entropi

Azas pertambahan entropi dapat dilihat dari hubungan persamaan-persamaan di bawah ini.

(untuk proses reversibel dan irreversibel)

Bila sistem diisolasi, maka tidak ada hubungan energi dengan lingkungan, sehingga entropinya tetap.

IV.4.4. Energi yang Hilang Pada Proses


Sebagai contoh pada siklus carnot :

Gambar 4.7. Siklus Carnot

Effisiensi siklus carnot dan hubungannya dengan temperatur :

file:///D|/E-Learning/Termodinamika%20Teknik%20I/Textbook/Buku%20Ajar%20Termodinamika%20Teknik%20I.html (50 of 53)5/8/2007 3:52:28 PM


BAB I

Jumlah kerja yang diperoleh :

DAFTAR pustaka

1. “Thermodynamics An Engineering Approach” by Yunus A. Cengel, Michael A. Boles,


Fourth Edition, International Edition, 2004.
2. “Applied Thermodynamics For Engineering Technologies”, Fifth Edition 1996 by T.D.
Eastop, A. McConkey.
3. “Termodinamika, Prinsip dan Aplikasi” Edisi Bahasa Indonesia Jilid I, Penerbit PT.
Prenhallindo Jakarta, Tahun 1997.
4. “Penerapan Termodinamika” Jilid 2 Edisi kedua, Bernard D. Wood, Zulkifli Harahap,
Penerbit Erlangga Jakarta, Tahun 1988.
5. Soebiyantoro, Dasar Termodinamika Teknik, Universitas Gunadarma,1997
6. William C. Reynolds, Henry C. Perkins, Engineering thermodynamics, Mc Graw-Hill,
Engkand, 1997
7. Werlin S. Nainggolan, Termodinamika Teori-Soal-Penyelasaian, CV. Armico, Bandung,
1987

file:///D|/E-Learning/Termodinamika%20Teknik%20I/Textbook/Buku%20Ajar%20Termodinamika%20Teknik%20I.html (51 of 53)5/8/2007 3:52:28 PM


BAB I

file:///D|/E-Learning/Termodinamika%20Teknik%20I/Textbook/Buku%20Ajar%20Termodinamika%20Teknik%20I.html (52 of 53)5/8/2007 3:52:28 PM


BAB I

file:///D|/E-Learning/Termodinamika%20Teknik%20I/Textbook/Buku%20Ajar%20Termodinamika%20Teknik%20I.html (53 of 53)5/8/2007 3:52:28 PM