Anda di halaman 1dari 20

Understanding speech act is very important in order to have the real meaningful

communication. Learners of foreign languages tend to have difficulty understanding


the

intended meaning communicated by speech act, or producing a speech act using

appropriate language and manner in the language being learned. Requests are part
of

speech acts that are mostly used in day to day communication. In the process of

language learning and teaching, requests are mostly used by the students to the
teacher

and vice versa. This study investigates speech acts focusing on request and its
speech

politeness during the English language learning and teaching process.

http://awan80.blogspot.com/2008/07/tindak-tutur.html

TINDAK TUTUR

TINDAK TUTUR

Kurniawan

A. Pengertian Tindak Tutur


Menurut Muhammad Rohmadi, (2004) teori tindak tutur pertama kali dikemukakan oleh Austin
(1956), seorang guru besar di Universitas Harvard. Teori yang berwujud hasil kuliah itu
kemudian dibukukan oleh J.O.Urmson (1965) dengan judul How to do Things with words?.
Akan tetapi teori itu baru berkembang secara mantap setelah Searle (1969) menerbitkan buku
yang berjudul Speech Acts : An Essay in the Philosophy of language menurut Searle dalam
semua komunikasi linguistik terdapat tindak tutur. Ia berpendapat bahwa komunikasi bukan
sekadar lambang, kata atau kalimat, tetapi akan lebih tepat apabila disebut produk atau hasil dari
lambang, kata atau kalimat yang berwujud perilaku tindak tutur (fire performance of speech acts.
Tindak tutur merupakan analisis pragmatik, yaitu cabang ilmu bahasa yang mengkaji bahasa dari
aspek pemakaian aktualnya. Leech (1983:5-6) menyatakan bahwa pragmatik mempelajari
maksud ujaran (yaitu untuk apa ujaran itu dilakukan); menanyakan apa yang seseorang
maksudkan dengan suatu tindak tutur; dan mengaitkan makna dengan siapa berbicara kepada
siapa, di mana, bilamana, bagaimana. Tindak tutur merupakan entitas yang bersifat sentral di
dalam pragmatik dan juga merupakan dasar bagi analisis topik-topik lain di bidang ini seperti
praanggapan, perikutan, implikatur percakapan, prinsip kerjasama dan prinsip kesantunan.
Berkenaan dengan tuturan, Austin membedakan tiga jenis tindakan: (1) tindak tutur lokusi, yaitu
tindak mengucapkan sesuatu dengan kata dan kalimat sesuai dengan makna di dalam kamus dan
menurut kaidah sintaksisnya. (2) tindak tutur ilokusi, yaitu tindak tutur yang mengandung
maksud; berkaitan dengan siapa bertutur kepada siapa, kapan, dan di mana tindak tutur itu
dilakukan,dsb. (3) tindak tutur perlokusi, yaitu tindak tutur yang pengujarannya dimaksudkan
untuk mempengaruhi mitra tutur. berikut ini adalah penjelasan lebih lengkap mengenai tindak
lokusi, ilokusi dan perlokusi.

1. Tindak lokusi
Tindak lokusi adalah tindak tutur untuk menyatakan sesuatu. Tindak tutur ini sering disebut
sebagai The Act of Saying Something. Sebagai contoh tindak lokusi adalah kalimat berikut:
(1) Mamad belajar membaca,
(2) Ali bermain piano.
Kedua kalimat di atas diutarakan oleh penuturnya semata-mata untuk menginformasikan sesuatu
tanpada tendensi untuk melakukan sesuatu, apalagi untuk mempengaruhi lawan tuturnya. Tindak
lokusi merupakan tindakan yang paling mudah diindentifikasi, karena dalam pengidentifikasian
tindak lokusi tidak memperhitungkan konteks tuturannya.

2. Tindak Ilokusi
Tindak ilakusi adalah tindak tutur yang berfungsi untuk mengatakan atau mengintormasikan
sesuatu dan dipergunakan untuk melakukan sesuatu. Tindak ilokusi disebut sebagai The Act of
Doing Something. Sebagai contoh pada kalimat berikut:
(3) Yuli sudah seminar proposal skripsi kemarin.
(4) Santoso sedang sakit.
Kalimat (3) jika diucapkan kepada seorang mahasiswa semester XII, bukan hanya Sekadar
memberikan informasi saja akan tetapi juga melakukan sesuatu, yaitu memberikan dorongan
agar mahasiswa tadi segera mengerjakan skripsinya. Sedangkan kalimat (4) jika diucapkan
kepada temannya yang menghidupkan radio dengan volume tinggi, berarti bukan saja sebagai
informasi teapi juga untuk menyuruh agar mengecilkan volume atau mematikan radionya.
Tindak ilokusi sangat sulit diidentifikasi karena terlebih daihuhi harus mempertimbangkan siapa
penutur dan lawan tuturnya.

3. Tindak Perlokusi
Tindak perlokusi adalah tindak tutur yang pengutaraannya dimaksudkan untuk mempengaruhi
lawan tuturnya. Tindak perlokusi disebut sebagai The Act of Affecting Someone. Sebuah tuturan
yang diutarakan seseorang sering kali mempunyai daya pengaruh (perlocutionary force) atau
efek bagi yang mendengarnya. Efek yang timbul ini bisa sengaja maupun tidak sengaja. Sebagai
contoh dapat dilihat pada kalimat berikut:
(5) Kemarin ayahku sakit.
(6) Samin bebas SPP.
Kalimat (5) jika diucapkan oleh seseorang yang tidak dapat menghadiri undangan temannya,
maka ilokusinya adalah untuk meminta maaf, dan perlokusinva adalah agar orang yang
mengundangnya harap maklum. Sedangkan kalimat (6) jika diucapkan seorang guru kepada mu-
rid-muridnya, maka ilokusinya adalah meminta agar teman-temannya tidak iri, dan perlokusinya
adalah agar teman-temannya memaklumi keadaan ekonomi orang tua Samin.
Tindak perlokusi juga sulit dideteksi, karena harus melibatkan konteks tuturnya. Dapat
ditegaskan bahwa setiap tuturnya dari seorang penutur memungkinkan sekali mengandung lokusi
saja, dan perlokusi saja. Namun tidak menutup kemungkinan bahwa satu tuturan mengandung
kedua atau ketiganya sekaligus.
Pencetus teori tindak tutur, Searle (1975:59-82; lihat Gunarwan, 1994:85-86) membagi tindak
tutur menjadi lima kategori:1. Representative/asertif, yaitu tuturan yang mengikat penuturnya
akan kebenaran atas apa yang diujarkan2. Direktif/impositif, yaitu tindak tutur yang
dimaksudkan penuturnya agar si pendengar melakukan tindakan yang disebutkan di dalam
tuturan itu3. Ekspresif/evaluatif, yaitu tindak tutur yang dimaksudkan penuturnya agar ujarannya
diartikan sebagai evaluasi tentang hal yang disebutkan dalam tuturan itu.4. Komisif, yaitu tindak
tutur yang mengikat penuturnya untuk melaksanakan apa yang disebutkan di dalam tuturannya5.
Deklarasi/establisif/isbati, yaitu tindak tutur yang dimaksudkan penuturnya untuk menciptakan
hal (status, keadaan, dsb) yang baru.
B. Jenis Tindak Tutur
Wijana (1996:4) menjelaskan bahwa tindak tutur dapat dibedakan menjadi tindak tutur langsung
dan tindak tutur tindak langsung, tindak tutur literal dan tidak literal.
1. Tindak tutur langsung dan tak langsung
Secara formal berdasarkan modusnya, kalimat dibedakan menjadi kalimat berita (deklaratif),
kalimat tanya (interrogative) dan kalimat perintah (imperative). Secara konvensional kalimat
berita (deklaratif) digunakan untuk memberitahukan sesuatu (informasi); kalimat tanya untuk
menanyakan sesuatu, dan kalimat perintah untuk menyatakan perintah, ajakan, permintaaan atau
permohonan. Apabila kalimat berita difungsikan secara konvensional untuk mengadakan
sesuatu, kalimat tanya untuk bertanya dan kalimat perintah untuk menyuruh, mengajak
memohon dan sebagainya, maka akan terbentuk tindak tutur langsung (direct speech). Sebagai
contoh : Yuli merawat ayahnya. Siapa orang itu? Ambilkan buku saya! Ketiga kalimat tersebut
merupakan tindak tutur langsung berupa kalimat berita, tanya, dan perintah.
Tindak tutur tak langsung (indirect speech act) ialah tindak tutur untuk memerintah seseorang
melakukan sesuatu secara tidak langsung. Tindakan ini dilakukan dengan memanfaatkan kalimat
berita atau kalimat tanya agar orang yang diperintah tidak merasa dirinya diperintah. Misalnya
seorang ibu menyuruh anaknya mengambil sapu, diungkapkan dengan Upik, sapunya dimana?”
Kalimat tersebut selain untuk bertanya sekaligus memerintah anaknya untuk mengambilkan
sapu.
2. Tindak tutur literal dan tindak tutur tak literal
Tindak tutur literal (literal speech act) adalah tindak tutur yang dimaksudnya sama dengan
makna kata-kata yang menyusunnya. Sedangkan tindak tutur tidak literal (nonliteral speech act)
adalah tindak tutur yang dimaksudnya tidak sama dengan atau berlawanan dengan kata-kata yang
menyusunnya. Sebagai contoh dapat dilihat kalimat berikut.
1. Penyanyi itu suaranya bagus.
2. Suaramu bagus (tapi kamu tidak usah menyanyi)
Kalimat (1) jika diutarakan dengan maksud untuk memuji atau mengagumi suara penyanyi yang
dibicarakan, maka kalimat itu merupakan tindak tutur literal, sedangkan kalimat (2) penutur
bermaksud mengatakan bahwa suara lawan tuturnya jelek, yaitu dengan mengatakan “Tak usah
menyanyi”. Tindak tutur pada kalimat (2) merupakan tindak tutur tak literal.
Apabila tindak tutur langsung dan tak langsung diinteraksikan dengan tindak tutur literal dan tak
literal, maka akan tercipta tindak tutur sebagai berikut :
1. Tindak tutur langsung literal (direct literal speech act), ialah tindak tutur yang diutarakan
dengan modus tuturan dan makna yang sama dengan maksud pengutaraannya. Maksud
memerintah disampaikan dengan kalimat perintah, memberitakan dengan kalimat berita, dan
menanyakan sesuatu dengan kalimat tanya. Misalnya : Ambilkan buku itu! Kusuma gadis yang
cantik”, Berapa saudaramu, Mad?

2. Tindak tutur tidak langsung literal (indirect literal speech act) adalah tindak tutur yang
diungkapkan dengan modus kalimat yang tidak sesuai dengan maksud pengutaraannya, tetapi
makna kata-kata yang menyusunnya sesuai dengan apa yang dimaksudkan oleh penutur.
Misalnya : “Lantainya kotor”. Kalimat itu jika diucapkan seorang ayah kepada anaknya bukan
saja menginformasikan, tetapi sekaligus menyuruh untuk membersihkannya.

3. Tindak tutur langsung tidak literal (direct non literal speech) adalah tindak tutur yang
diutarakan dengan modus kalimat yang sesuai dengan maksud dan tuturan, tetapi kata-kata yang
menyusunnya tidak memiliki makna yang sama dengan maksud penuturnya. Misalnya :
“Sepedamu bagus, kok”. Penuturnya sebenarnya ingin mengatakan bahwa sepeda lawan tuturnya
jelek.

4. Tindak tutur tidak langsung tidak literal (indirect non literal speech act) adalah tindak tutur
yang diutarakan dengan modus kalimat yang tidak sesuai dengan maksud yang ingin diutarakan.
Untuk menyuruh seorang pembantu menyapu lantai kotor, seorang majikan dapat saja
mengutarakannya dengan kalimat “Lantainya bersih sekali, Mbok”.

C. Daftar Pustaka
Gunarwan, Asim. 1994. “Kesantunan Negatif di Kalangan Dwibahasawan Indonesia-Jawa di
Jakarta” dalam PELBA 7. Jakarta: Unika Atmajaya Press.
Leech, Geoffrey.1983. Principles of Pragmatics. London: Longman
Rohmadi, Muhammad. 2004. Prakmatik Teori dan Analisis. Yogyakarta: Lingkar Media
Wijana, Dewa Putu. 1996. Dasar-dasar Pragmatik. Yogyakarta: Andi Offset.

TINDAK TUTUR

TINDAK TUTUR

Kurniawan

A. Pengertian Tindak Tutur


Menurut Muhammad Rohmadi, (2004) teori tindak tutur pertama kali dikemukakan oleh Austin
(1956), seorang guru besar di Universitas Harvard. Teori yang berwujud hasil kuliah itu
kemudian dibukukan oleh J.O.Urmson (1965) dengan judul How to do Things with words?.
Akan tetapi teori itu baru berkembang secara mantap setelah Searle (1969) menerbitkan buku
yang berjudul Speech Acts : An Essay in the Philosophy of language menurut Searle dalam
semua komunikasi linguistik terdapat tindak tutur. Ia berpendapat bahwa komunikasi bukan
sekadar lambang, kata atau kalimat, tetapi akan lebih tepat apabila disebut produk atau hasil dari
lambang, kata atau kalimat yang berwujud perilaku tindak tutur (fire performance of speech acts.
Tindak tutur merupakan analisis pragmatik, yaitu cabang ilmu bahasa yang mengkaji bahasa dari
aspek pemakaian aktualnya. Leech (1983:5-6) menyatakan bahwa pragmatik mempelajari
maksud ujaran (yaitu untuk apa ujaran itu dilakukan); menanyakan apa yang seseorang
maksudkan dengan suatu tindak tutur; dan mengaitkan makna dengan siapa berbicara kepada
siapa, di mana, bilamana, bagaimana. Tindak tutur merupakan entitas yang bersifat sentral di
dalam pragmatik dan juga merupakan dasar bagi analisis topik-topik lain di bidang ini seperti
praanggapan, perikutan, implikatur percakapan, prinsip kerjasama dan prinsip kesantunan.
Berkenaan dengan tuturan, Austin membedakan tiga jenis tindakan: (1) tindak tutur lokusi, yaitu
tindak mengucapkan sesuatu dengan kata dan kalimat sesuai dengan makna di dalam kamus dan
menurut kaidah sintaksisnya. (2) tindak tutur ilokusi, yaitu tindak tutur yang mengandung
maksud; berkaitan dengan siapa bertutur kepada siapa, kapan, dan di mana tindak tutur itu
dilakukan,dsb. (3) tindak tutur perlokusi, yaitu tindak tutur yang pengujarannya dimaksudkan
untuk mempengaruhi mitra tutur. berikut ini adalah penjelasan lebih lengkap mengenai tindak
lokusi, ilokusi dan perlokusi.

1. Tindak lokusi
Tindak lokusi adalah tindak tutur untuk menyatakan sesuatu. Tindak tutur ini sering disebut
sebagai The Act of Saying Something. Sebagai contoh tindak lokusi adalah kalimat berikut:
(1) Mamad belajar membaca,
(2) Ali bermain piano.
Kedua kalimat di atas diutarakan oleh penuturnya semata-mata untuk menginformasikan sesuatu
tanpada tendensi untuk melakukan sesuatu, apalagi untuk mempengaruhi lawan tuturnya. Tindak
lokusi merupakan tindakan yang paling mudah diindentifikasi, karena dalam pengidentifikasian
tindak lokusi tidak memperhitungkan konteks tuturannya.

2. Tindak Ilokusi
Tindak ilakusi adalah tindak tutur yang berfungsi untuk mengatakan atau mengintormasikan
sesuatu dan dipergunakan untuk melakukan sesuatu. Tindak ilokusi disebut sebagai The Act of
Doing Something. Sebagai contoh pada kalimat berikut:
(3) Yuli sudah seminar proposal skripsi kemarin.
(4) Santoso sedang sakit.
Kalimat (3) jika diucapkan kepada seorang mahasiswa semester XII, bukan hanya Sekadar
memberikan informasi saja akan tetapi juga melakukan sesuatu, yaitu memberikan dorongan
agar mahasiswa tadi segera mengerjakan skripsinya. Sedangkan kalimat (4) jika diucapkan
kepada temannya yang menghidupkan radio dengan volume tinggi, berarti bukan saja sebagai
informasi teapi juga untuk menyuruh agar mengecilkan volume atau mematikan radionya.
Tindak ilokusi sangat sulit diidentifikasi karena terlebih daihuhi harus mempertimbangkan siapa
penutur dan lawan tuturnya.

3. Tindak Perlokusi
Tindak perlokusi adalah tindak tutur yang pengutaraannya dimaksudkan untuk mempengaruhi
lawan tuturnya. Tindak perlokusi disebut sebagai The Act of Affecting Someone. Sebuah tuturan
yang diutarakan seseorang sering kali mempunyai daya pengaruh (perlocutionary force) atau
efek bagi yang mendengarnya. Efek yang timbul ini bisa sengaja maupun tidak sengaja. Sebagai
contoh dapat dilihat pada kalimat berikut:
(5) Kemarin ayahku sakit.
(6) Samin bebas SPP.
Kalimat (5) jika diucapkan oleh seseorang yang tidak dapat menghadiri undangan temannya,
maka ilokusinya adalah untuk meminta maaf, dan perlokusinva adalah agar orang yang
mengundangnya harap maklum. Sedangkan kalimat (6) jika diucapkan seorang guru kepada mu-
rid-muridnya, maka ilokusinya adalah meminta agar teman-temannya tidak iri, dan perlokusinya
adalah agar teman-temannya memaklumi keadaan ekonomi orang tua Samin.
Tindak perlokusi juga sulit dideteksi, karena harus melibatkan konteks tuturnya. Dapat
ditegaskan bahwa setiap tuturnya dari seorang penutur memungkinkan sekali mengandung lokusi
saja, dan perlokusi saja. Namun tidak menutup kemungkinan bahwa satu tuturan mengandung
kedua atau ketiganya sekaligus.
Pencetus teori tindak tutur, Searle (1975:59-82; lihat Gunarwan, 1994:85-86) membagi tindak
tutur menjadi lima kategori:1. Representative/asertif, yaitu tuturan yang mengikat penuturnya
akan kebenaran atas apa yang diujarkan2. Direktif/impositif, yaitu tindak tutur yang
dimaksudkan penuturnya agar si pendengar melakukan tindakan yang disebutkan di dalam
tuturan itu3. Ekspresif/evaluatif, yaitu tindak tutur yang dimaksudkan penuturnya agar ujarannya
diartikan sebagai evaluasi tentang hal yang disebutkan dalam tuturan itu.4. Komisif, yaitu tindak
tutur yang mengikat penuturnya untuk melaksanakan apa yang disebutkan di dalam tuturannya5.
Deklarasi/establisif/isbati, yaitu tindak tutur yang dimaksudkan penuturnya untuk menciptakan
hal (status, keadaan, dsb) yang baru.
B. Jenis Tindak Tutur
Wijana (1996:4) menjelaskan bahwa tindak tutur dapat dibedakan menjadi tindak tutur langsung
dan tindak tutur tindak langsung, tindak tutur literal dan tidak literal.
1. Tindak tutur langsung dan tak langsung
Secara formal berdasarkan modusnya, kalimat dibedakan menjadi kalimat berita (deklaratif),
kalimat tanya (interrogative) dan kalimat perintah (imperative). Secara konvensional kalimat
berita (deklaratif) digunakan untuk memberitahukan sesuatu (informasi); kalimat tanya untuk
menanyakan sesuatu, dan kalimat perintah untuk menyatakan perintah, ajakan, permintaaan atau
permohonan. Apabila kalimat berita difungsikan secara konvensional untuk mengadakan
sesuatu, kalimat tanya untuk bertanya dan kalimat perintah untuk menyuruh, mengajak
memohon dan sebagainya, maka akan terbentuk tindak tutur langsung (direct speech). Sebagai
contoh : Yuli merawat ayahnya. Siapa orang itu? Ambilkan buku saya! Ketiga kalimat tersebut
merupakan tindak tutur langsung berupa kalimat berita, tanya, dan perintah.
Tindak tutur tak langsung (indirect speech act) ialah tindak tutur untuk memerintah seseorang
melakukan sesuatu secara tidak langsung. Tindakan ini dilakukan dengan memanfaatkan kalimat
berita atau kalimat tanya agar orang yang diperintah tidak merasa dirinya diperintah. Misalnya
seorang ibu menyuruh anaknya mengambil sapu, diungkapkan dengan Upik, sapunya dimana?”
Kalimat tersebut selain untuk bertanya sekaligus memerintah anaknya untuk mengambilkan
sapu.
2. Tindak tutur literal dan tindak tutur tak literal
Tindak tutur literal (literal speech act) adalah tindak tutur yang dimaksudnya sama dengan
makna kata-kata yang menyusunnya. Sedangkan tindak tutur tidak literal (nonliteral speech act)
adalah tindak tutur yang dimaksudnya tidak sama dengan atau berlawanan dengan kata-kata yang
menyusunnya. Sebagai contoh dapat dilihat kalimat berikut.
1. Penyanyi itu suaranya bagus.
2. Suaramu bagus (tapi kamu tidak usah menyanyi)
Kalimat (1) jika diutarakan dengan maksud untuk memuji atau mengagumi suara penyanyi yang
dibicarakan, maka kalimat itu merupakan tindak tutur literal, sedangkan kalimat (2) penutur
bermaksud mengatakan bahwa suara lawan tuturnya jelek, yaitu dengan mengatakan “Tak usah
menyanyi”. Tindak tutur pada kalimat (2) merupakan tindak tutur tak literal.
Apabila tindak tutur langsung dan tak langsung diinteraksikan dengan tindak tutur literal dan tak
literal, maka akan tercipta tindak tutur sebagai berikut :
1. Tindak tutur langsung literal (direct literal speech act), ialah tindak tutur yang diutarakan
dengan modus tuturan dan makna yang sama dengan maksud pengutaraannya. Maksud
memerintah disampaikan dengan kalimat perintah, memberitakan dengan kalimat berita, dan
menanyakan sesuatu dengan kalimat tanya. Misalnya : Ambilkan buku itu! Kusuma gadis yang
cantik”, Berapa saudaramu, Mad?

2. Tindak tutur tidak langsung literal (indirect literal speech act) adalah tindak tutur yang
diungkapkan dengan modus kalimat yang tidak sesuai dengan maksud pengutaraannya, tetapi
makna kata-kata yang menyusunnya sesuai dengan apa yang dimaksudkan oleh penutur.
Misalnya : “Lantainya kotor”. Kalimat itu jika diucapkan seorang ayah kepada anaknya bukan
saja menginformasikan, tetapi sekaligus menyuruh untuk membersihkannya.

3. Tindak tutur langsung tidak literal (direct non literal speech) adalah tindak tutur yang
diutarakan dengan modus kalimat yang sesuai dengan maksud dan tuturan, tetapi kata-kata yang
menyusunnya tidak memiliki makna yang sama dengan maksud penuturnya. Misalnya :
“Sepedamu bagus, kok”. Penuturnya sebenarnya ingin mengatakan bahwa sepeda lawan tuturnya
jelek.

4. Tindak tutur tidak langsung tidak literal (indirect non literal speech act) adalah tindak tutur
yang diutarakan dengan modus kalimat yang tidak sesuai dengan maksud yang ingin diutarakan.
Untuk menyuruh seorang pembantu menyapu lantai kotor, seorang majikan dapat saja
mengutarakannya dengan kalimat “Lantainya bersih sekali, Mbok”.

C. Daftar Pustaka
Gunarwan, Asim. 1994. “Kesantunan Negatif di Kalangan Dwibahasawan Indonesia-Jawa di
Jakarta” dalam PELBA 7. Jakarta: Unika Atmajaya Press.
Leech, Geoffrey.1983. Principles of Pragmatics. London: Longman
Rohmadi, Muhammad. 2004. Prakmatik Teori dan Analisis. Yogyakarta: Lingkar Media
Wijana, Dewa Putu. 1996. Dasar-dasar Pragmatik. Yogyakarta: Andi Offset.

TINDAK TUTUR

TINDAK TUTUR

Kurniawan

A. Pengertian Tindak Tutur


Menurut Muhammad Rohmadi, (2004) teori tindak tutur pertama kali dikemukakan oleh Austin
(1956), seorang guru besar di Universitas Harvard. Teori yang berwujud hasil kuliah itu
kemudian dibukukan oleh J.O.Urmson (1965) dengan judul How to do Things with words?.
Akan tetapi teori itu baru berkembang secara mantap setelah Searle (1969) menerbitkan buku
yang berjudul Speech Acts : An Essay in the Philosophy of language menurut Searle dalam
semua komunikasi linguistik terdapat tindak tutur. Ia berpendapat bahwa komunikasi bukan
sekadar lambang, kata atau kalimat, tetapi akan lebih tepat apabila disebut produk atau hasil dari
lambang, kata atau kalimat yang berwujud perilaku tindak tutur (fire performance of speech acts.
Tindak tutur merupakan analisis pragmatik, yaitu cabang ilmu bahasa yang mengkaji bahasa dari
aspek pemakaian aktualnya. Leech (1983:5-6) menyatakan bahwa pragmatik mempelajari
maksud ujaran (yaitu untuk apa ujaran itu dilakukan); menanyakan apa yang seseorang
maksudkan dengan suatu tindak tutur; dan mengaitkan makna dengan siapa berbicara kepada
siapa, di mana, bilamana, bagaimana. Tindak tutur merupakan entitas yang bersifat sentral di
dalam pragmatik dan juga merupakan dasar bagi analisis topik-topik lain di bidang ini seperti
praanggapan, perikutan, implikatur percakapan, prinsip kerjasama dan prinsip kesantunan.
Berkenaan dengan tuturan, Austin membedakan tiga jenis tindakan: (1) tindak tutur lokusi, yaitu
tindak mengucapkan sesuatu dengan kata dan kalimat sesuai dengan makna di dalam kamus dan
menurut kaidah sintaksisnya. (2) tindak tutur ilokusi, yaitu tindak tutur yang mengandung
maksud; berkaitan dengan siapa bertutur kepada siapa, kapan, dan di mana tindak tutur itu
dilakukan,dsb. (3) tindak tutur perlokusi, yaitu tindak tutur yang pengujarannya dimaksudkan
untuk mempengaruhi mitra tutur. berikut ini adalah penjelasan lebih lengkap mengenai tindak
lokusi, ilokusi dan perlokusi.

1. Tindak lokusi
Tindak lokusi adalah tindak tutur untuk menyatakan sesuatu. Tindak tutur ini sering disebut
sebagai The Act of Saying Something. Sebagai contoh tindak lokusi adalah kalimat berikut:
(1) Mamad belajar membaca,
(2) Ali bermain piano.
Kedua kalimat di atas diutarakan oleh penuturnya semata-mata untuk menginformasikan sesuatu
tanpada tendensi untuk melakukan sesuatu, apalagi untuk mempengaruhi lawan tuturnya. Tindak
lokusi merupakan tindakan yang paling mudah diindentifikasi, karena dalam pengidentifikasian
tindak lokusi tidak memperhitungkan konteks tuturannya.

2. Tindak Ilokusi
Tindak ilakusi adalah tindak tutur yang berfungsi untuk mengatakan atau mengintormasikan
sesuatu dan dipergunakan untuk melakukan sesuatu. Tindak ilokusi disebut sebagai The Act of
Doing Something. Sebagai contoh pada kalimat berikut:
(3) Yuli sudah seminar proposal skripsi kemarin.
(4) Santoso sedang sakit.
Kalimat (3) jika diucapkan kepada seorang mahasiswa semester XII, bukan hanya Sekadar
memberikan informasi saja akan tetapi juga melakukan sesuatu, yaitu memberikan dorongan
agar mahasiswa tadi segera mengerjakan skripsinya. Sedangkan kalimat (4) jika diucapkan
kepada temannya yang menghidupkan radio dengan volume tinggi, berarti bukan saja sebagai
informasi teapi juga untuk menyuruh agar mengecilkan volume atau mematikan radionya.
Tindak ilokusi sangat sulit diidentifikasi karena terlebih daihuhi harus mempertimbangkan siapa
penutur dan lawan tuturnya.

3. Tindak Perlokusi
Tindak perlokusi adalah tindak tutur yang pengutaraannya dimaksudkan untuk mempengaruhi
lawan tuturnya. Tindak perlokusi disebut sebagai The Act of Affecting Someone. Sebuah tuturan
yang diutarakan seseorang sering kali mempunyai daya pengaruh (perlocutionary force) atau
efek bagi yang mendengarnya. Efek yang timbul ini bisa sengaja maupun tidak sengaja. Sebagai
contoh dapat dilihat pada kalimat berikut:
(5) Kemarin ayahku sakit.
(6) Samin bebas SPP.
Kalimat (5) jika diucapkan oleh seseorang yang tidak dapat menghadiri undangan temannya,
maka ilokusinya adalah untuk meminta maaf, dan perlokusinva adalah agar orang yang
mengundangnya harap maklum. Sedangkan kalimat (6) jika diucapkan seorang guru kepada mu-
rid-muridnya, maka ilokusinya adalah meminta agar teman-temannya tidak iri, dan perlokusinya
adalah agar teman-temannya memaklumi keadaan ekonomi orang tua Samin.
Tindak perlokusi juga sulit dideteksi, karena harus melibatkan konteks tuturnya. Dapat
ditegaskan bahwa setiap tuturnya dari seorang penutur memungkinkan sekali mengandung lokusi
saja, dan perlokusi saja. Namun tidak menutup kemungkinan bahwa satu tuturan mengandung
kedua atau ketiganya sekaligus.
Pencetus teori tindak tutur, Searle (1975:59-82; lihat Gunarwan, 1994:85-86) membagi tindak
tutur menjadi lima kategori:1. Representative/asertif, yaitu tuturan yang mengikat penuturnya
akan kebenaran atas apa yang diujarkan2. Direktif/impositif, yaitu tindak tutur yang
dimaksudkan penuturnya agar si pendengar melakukan tindakan yang disebutkan di dalam
tuturan itu3. Ekspresif/evaluatif, yaitu tindak tutur yang dimaksudkan penuturnya agar ujarannya
diartikan sebagai evaluasi tentang hal yang disebutkan dalam tuturan itu.4. Komisif, yaitu tindak
tutur yang mengikat penuturnya untuk melaksanakan apa yang disebutkan di dalam tuturannya5.
Deklarasi/establisif/isbati, yaitu tindak tutur yang dimaksudkan penuturnya untuk menciptakan
hal (status, keadaan, dsb) yang baru.
B. Jenis Tindak Tutur
Wijana (1996:4) menjelaskan bahwa tindak tutur dapat dibedakan menjadi tindak tutur langsung
dan tindak tutur tindak langsung, tindak tutur literal dan tidak literal.
1. Tindak tutur langsung dan tak langsung
Secara formal berdasarkan modusnya, kalimat dibedakan menjadi kalimat berita (deklaratif),
kalimat tanya (interrogative) dan kalimat perintah (imperative). Secara konvensional kalimat
berita (deklaratif) digunakan untuk memberitahukan sesuatu (informasi); kalimat tanya untuk
menanyakan sesuatu, dan kalimat perintah untuk menyatakan perintah, ajakan, permintaaan atau
permohonan. Apabila kalimat berita difungsikan secara konvensional untuk mengadakan
sesuatu, kalimat tanya untuk bertanya dan kalimat perintah untuk menyuruh, mengajak
memohon dan sebagainya, maka akan terbentuk tindak tutur langsung (direct speech). Sebagai
contoh : Yuli merawat ayahnya. Siapa orang itu? Ambilkan buku saya! Ketiga kalimat tersebut
merupakan tindak tutur langsung berupa kalimat berita, tanya, dan perintah.
Tindak tutur tak langsung (indirect speech act) ialah tindak tutur untuk memerintah seseorang
melakukan sesuatu secara tidak langsung. Tindakan ini dilakukan dengan memanfaatkan kalimat
berita atau kalimat tanya agar orang yang diperintah tidak merasa dirinya diperintah. Misalnya
seorang ibu menyuruh anaknya mengambil sapu, diungkapkan dengan Upik, sapunya dimana?”
Kalimat tersebut selain untuk bertanya sekaligus memerintah anaknya untuk mengambilkan
sapu.
2. Tindak tutur literal dan tindak tutur tak literal
Tindak tutur literal (literal speech act) adalah tindak tutur yang dimaksudnya sama dengan
makna kata-kata yang menyusunnya. Sedangkan tindak tutur tidak literal (nonliteral speech act)
adalah tindak tutur yang dimaksudnya tidak sama dengan atau berlawanan dengan kata-kata yang
menyusunnya. Sebagai contoh dapat dilihat kalimat berikut.
1. Penyanyi itu suaranya bagus.
2. Suaramu bagus (tapi kamu tidak usah menyanyi)
Kalimat (1) jika diutarakan dengan maksud untuk memuji atau mengagumi suara penyanyi yang
dibicarakan, maka kalimat itu merupakan tindak tutur literal, sedangkan kalimat (2) penutur
bermaksud mengatakan bahwa suara lawan tuturnya jelek, yaitu dengan mengatakan “Tak usah
menyanyi”. Tindak tutur pada kalimat (2) merupakan tindak tutur tak literal.
Apabila tindak tutur langsung dan tak langsung diinteraksikan dengan tindak tutur literal dan tak
literal, maka akan tercipta tindak tutur sebagai berikut :
1. Tindak tutur langsung literal (direct literal speech act), ialah tindak tutur yang diutarakan
dengan modus tuturan dan makna yang sama dengan maksud pengutaraannya. Maksud
memerintah disampaikan dengan kalimat perintah, memberitakan dengan kalimat berita, dan
menanyakan sesuatu dengan kalimat tanya. Misalnya : Ambilkan buku itu! Kusuma gadis yang
cantik”, Berapa saudaramu, Mad?

2. Tindak tutur tidak langsung literal (indirect literal speech act) adalah tindak tutur yang
diungkapkan dengan modus kalimat yang tidak sesuai dengan maksud pengutaraannya, tetapi
makna kata-kata yang menyusunnya sesuai dengan apa yang dimaksudkan oleh penutur.
Misalnya : “Lantainya kotor”. Kalimat itu jika diucapkan seorang ayah kepada anaknya bukan
saja menginformasikan, tetapi sekaligus menyuruh untuk membersihkannya.

3. Tindak tutur langsung tidak literal (direct non literal speech) adalah tindak tutur yang
diutarakan dengan modus kalimat yang sesuai dengan maksud dan tuturan, tetapi kata-kata yang
menyusunnya tidak memiliki makna yang sama dengan maksud penuturnya. Misalnya :
“Sepedamu bagus, kok”. Penuturnya sebenarnya ingin mengatakan bahwa sepeda lawan tuturnya
jelek.

4. Tindak tutur tidak langsung tidak literal (indirect non literal speech act) adalah tindak tutur
yang diutarakan dengan modus kalimat yang tidak sesuai dengan maksud yang ingin diutarakan.
Untuk menyuruh seorang pembantu menyapu lantai kotor, seorang majikan dapat saja
mengutarakannya dengan kalimat “Lantainya bersih sekali, Mbok”.

C. Daftar Pustaka
Gunarwan, Asim. 1994. “Kesantunan Negatif di Kalangan Dwibahasawan Indonesia-Jawa di
Jakarta” dalam PELBA 7. Jakarta: Unika Atmajaya Press.
Leech, Geoffrey.1983. Principles of Pragmatics. London: Longman
Rohmadi, Muhammad. 2004. Prakmatik Teori dan Analisis. Yogyakarta: Lingkar Media
Wijana, Dewa Putu. 1996. Dasar-dasar Pragmatik. Yogyakarta: Andi Offset.

MAKALAH SOSIOLINGUISTIK "PERISTIWA TUTUR DAN TINDAK


TUTUR"

Penyusunan Makalah
Tugas Individu
Mata Kuliah Sosiolinguistik
Dosen : Dewi Murni R.
Mahasiswa : Zulkarnain (www.zulsangpenyairpatah.blogspot.com)
UNIKA MAMUJU
Kampus Topoyo

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Telah kita ketahui seksama , satu-satunya alat komunikasi yang paling sering digunakan manusia
ialah bahasa. Bahasa merupakan alat penghubung ketika manusia akan berkomunikasi. Selama
ini patut kita sadari, bahasa tidak akan dapat lepas dari ruang gerak manusia dan segala
aktifitasnya. Dalam kehidupan masyarakat, manusia dan bahasa merupakan suatu kesatuan yang
utuh, keduanya tidak dapat dipisahkan, sebab manusia tidak akan dapat berinteraksi tanpa
menggunakan bahasa. Bahasa memiliki arti suatu alat komunikasi yang menghubungkan ujaran
dari para pengujar, sedangkan manusia merupakan makhluk sosial, berakal, saling membutuhkan
dan memiliki tujuan hidup. Dari penyatuan kedua unsur ini, maka lahirlah suatu masyarakat
bahasa.
Dalam kehidupan bermasyarakat, masyarakat bahasa merupakan pengguna bahasa, secara
harfiah masyarakat bahasa memiliki arti sekelompok orang dalam jumlah relatif banyak, yang
merasa sebangsa, sewilayah tempat tinggal, memiliki kepentingan sosial dan merasa
menggunakan bahasa yang sama. Berdasarkan konsep ini, masyarakat bahasa dapat dipersempit
dan di perluas. Masyarakat bahasa dapat melewati batas propinsi, batas negara, bahkan batas
benua. Sebagai contoh masyarakat bahasa yang ada di Indonesia. Indonesia merupakan suatu
negara atau bangsa yang terdiri dari berbagai macam suku dan ras. Seluruh suku di Indonesia
dapat dipersempit dan diperluas, misalnya suku Jawa. Ketika masyarakat bahasa Jawa
berkomunikasi dengan bahasa daerah sifatnya jadi sempit. Namun, apabila mereka menggunakan
lingua franca tentu sifatnya jadi luas.
Dalam ilmu linguistik, masyarakat bahasa juga bisa disebut masyarakat tutur. Diatas telah
dipaparkan bahwa negara Indonesia memiliki berbagai suku dan ras. Berdasarkan hal ini
otomatis masyarakat tutur dan masyarakat kita juga sangat beragam, dari keberagaman inilah
sehingga menimbulkan berbagai macam dialek dan bahasa yang berbeda. Dengan adanya
perbedaan ini, maka terdapat suatu masalah yang harus kita selesaikan dengan cermat. Masalah
yang dimaksud yaitu akan timbulnya diskriminasi bahasa. Diskriminasi bahasa ialah adanya
pembedaan penggunaan bahasa berdasarkan suku, ras atau daerah asal. Secara kedaerahan hal ini
bukanlah suatu masalah, sebab bahasa yang digunakan oleh masyarakat tutur masih berada
dalam ruang lingkup yang sejenis bahasa. Akan tetapi, ketika hal ini berskala nasional akan
terjadi perbedaan bahasa, sebab bahasa yang mereka gunakan yaitu bahasa daerah. Untuk
mengatasi hal tersebut, kita sebagai masyarakat tutur bangsa Indonesia harus menjunjung tinggi
bahasa persatuan kita yaitu bahasa Indonesia. Patut kita sadari betapa pentingnya penggunaan
bahasa Indonesia secara baik dan benar.
Dewasa ini, sebagian besar elemen mahasiswa menganggap penerapan bahasa Indonesia secara
baik dan tepat itu tidak terlalu penting. Mereka beralasan bahwa hal tersebut hanyalah suatu teori
pendidikan yang membatasi ruang dan gerak manusia dalam mengekspresikan bahasa. Mereka
tidak menyadari, ketika mereka dihadapkan dengan tugas pokok mereka sebagai mahasiswa,
bahasa indonesialah yang sangat berjasa terhadap mereka. Bahasa Indonesialah yang
mengantarkan mereka menjadi seorang ilmuwan, diplomat ulung, arsitektur, dan lain-lain.
Dasar hukum yang melandasi betapa pentingnya penerapan bahasa Indonesia dalam kawasan
negara kita, termaktub dalam ikrar sumpah pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928 yang berbunyi
: “ kami poetera dan poeteri Indonesia mendjoendjoeng tinggi bahasa persatuan, bahasa
Indonesia”, dan pada Undang-Undang Dasar 1945 tercantum pasal khusus yang menyatakan
bahwa “Bahasa negara ialah bahasa Indonesia”. Dari dua hal tersebut diatas, tak dapat kita
pungkiri betapa pentingnya bahasa Indonesia bagi masyarakat tutur bangsa Indonesia.

B. RUMUSAN MASALAH
Sejauh ini masyarakat tutur dalam mengutarakan maksud, gagasan, dan ide terhadap lawan
tuturnya, masih menggunakan bahasa Indonesia yang serampangan. Bahasa Indonesia yang
mereka gunakan masih menyimpang dari peraturan dan kaidah-kaidah tata bahasa baku bahasa
Indonesia. Padahal jauh sebelumnya, sebagian besar bahkan hampir seluruh masyarakat tutur
telah mengetahui hal tersebut. Namun disisi lain, mereka tetap acuh dan tak peduli akan hal itu.
Oleh sebab itu, untuk mengatasi hal tersebut kita perlu melakukan pendekatan ilmiah, yang
menyangkut tentang tata bahasa baku secara konsekuen dan berkesinambungan.
Sebelum kita melakukan pendekatan tersebut, terlebih dahulu kita harus merumuskan poin-poin
rumusan masalah yang menjadi ruang lingkup materi pokok bahasan ini, adapun rumusan
masalah yang merupakan ruang lingkup materi ini, antara lain :
1. Peristiwa Tutur
Dalam subpokok bahasan ini, kita akan membahas pengertian tindak tutur dan komponen-
komponen yang terdapat didalamnya.
2. Tindak Tutur
Dalam subpokok bahasan ini, kita akan membahas beragam tindak tutur dalam masyarakat tutur.
3. Tindak Tutur dan Pragmatik
Dalam subpokok bahasan ini, kita akan membahas mengenai hubungan tindak tutur dan
pragmatik.
4. Pembakuan Bahasa
Dalam subpokok bahasan ini, kita akan membahas proses terjadinya bahasa baku.
5. Bahasa Baku
Dalam subpokok bahasan ini, kita akan membahas pengertian bahasa baku
6. Fungsi Bahasa Baku
Dalam subpokok bahasan ini, kita akan membahas beragam fungsi bahasa baku dalam
masyarakat tutur.
7. Pemilihan Ragam Baku
Dalam subpokok bahasan ini, kita akan membahas ragam baku dalam masyarakat bahasa.
8. Bahasa Indonesia Baku
Dalam subpokok bahasan ini, kita akan membahaskaidah dan tataran gramatikal bahasa
Indonesia, serta bahasa Indonesia baku dan tidak baku.

C. T U J U A N
Makalah ini kami susun, dimaksudkan dengan bertujuan untuk membahas sejumlah kekeliruan
yang seringkali dilakukan oleh mahasiswa dalam penggunaan bahasa Indonesia, serta penerapan
kaidah bahasa yang masih serampangan dan menyimpang dari tataran baku bahasa Indonesia.
Selain itu, makalah ini juga bertujuan membahas peristiwa-peristiwa tutur, tindak tutur yang
beragam dan sesuai dengan bahasa baku yang dimiliki bahasa Indonesia.

D. M A N F A A T
Manfaat yang dapat kita peroleh dari penulisan makalah ini yaitu :
1. Kita dapat mengetahui pengertian peristiwa tutur dan tindak tutur secara terinci dan lebih jelas.
2. kita dapat mengetahui proses pembakuan bahasa dan bahasa Indonesia baku dan yang tidak
baku.
3. melalui penulisan makalah ini pula, kita dapat meningkatkan daya kreasi mahasiswa dalam hal
tulis menulis.

BAB II
PERISTIWA TUTUR DAN TINDAK TUTUR

A. PERISTIWA TUTUR

Dalam setiap komunikasi manusia saling menyampaikan informasi berupa pikiran, gagasan,
maksud, perasaan dan emosi secara langsung. Dari setiap proses komunikasi inilah terjadi apa
yang disebut peristiwa tutur. Yang dimaksud peristiwa tutur adalah proses terjadinya interaksi
linguistik dalam satu bentuk ujaran atau lebih yang melibatkan dua pihak, yaitu penutur dan
lawan tutur, dengan satu pokok tuturan, didalam waktu, tempat dan situasi tertentu. Jadi,
interaksi yang berlangsung antara seorang pedagang dan pembeli dipasar pada waktu tertentu
dengan menggunakan bahasa sebgai alat komunukasinya adalah sebuah peristiwa tutur. Berbeda
dengan percakapan dibus kota atau dikereta api yang terjadi antara para penumpang yang tidak
saling kenal dengan topik pembicaraan yang tidak menentu, tanpa tujuan, dengan ragam bahasa
yang berganti-ganti. Secara sosiologistik percakapan tersebut tidak dapat dikatan sebuah
peristiwa tutur , sebab pokok percakapannya tidak menentu. Tanpa tujuan, dilakukan oleh orang-
orang yang tidak sengaja untuk bercakap-cakap, dan menggunakan ragam bahasa yang berganti-
ganti.

Dell Hymes, seorang pakar sosiolinguistik, mengatakan bahwa peristiwa tutur harus memenuhi
delapan komponen, yang diakronimkan menjadi SPEAKING, yakni :
Setting and scene, yaitu komponen yang berkenaan dengan tempat dan waktu terjadinya
percakapan. Umpamanya perckapan yang terjadi dikanti sekolah pada waktu istirahat tentu
berbeda dengan yang terjadi dikelas ketika pelajaran sedang berlangsung.
Participants, yaitu orang-orang yang terlibat dalam percakapan. Umpamanya, antara siswa
dengan gurunya. Percakapan siswa dan gurunya ini tentuu berbeda kalau partisipannya buakn
siswa dan guru, melainkan antara siswa dan siswa.
Ends, yaitu mengacu pada maksud dan hasil perckapan. Misalnya, sorang guru bertujuan
menerangkan pelajaran bahasa indonesia secara menarik; tetapi hasil yang didapat malah
sebaliknya, murid-murid bosan karena mereka tidak berminat dengan pelajaran bahasa.
Act Sequences, yaitu hal yang menunjuk pada bentuk dan isi percakapan. Misalnya dalam
kalimat :
1. dia berkata dalam hati “ muda-mudahan lamaranku diterima dengan baik.
2. dia berkata dalam hati “ muda-mudahan lamarannya diterima dengan baik.
Perkataan muda-mudahan lamaranku diterima dengan baik” pada kalimat (1) adalah bentuk
percakapan, sedangkan kalimat (2) adalah contoh isi percakapan.
Key, yaitu mengacu pada cara atau semangat dalam melaksanakan percakapan. Misalnya,
pelajaran linguistik dapat diberikan dengan cara yang santai, tetapi dapat juga dengan semangat
yang menyala-nya.
Instrumentalities, yaitu merujuk pada jalur percakapan, apakah secara lisan atau bukan.
Norms of interaction and interpretation, yaitu merujuk pada norma perilaku percakapan.
Genres, yaitu yang merujuk pada kategori atau ragam bahasa yang digunakan.
Dari yang dikemukakan Hymes itu dapat kita lihat betapa kompleksnya peristiwa tutur yang kita
lihat, atau kita alami sendiri dalam kehidupan sehari-hari.

B. TINDAK TUTUR

Yang dimaksud dengan tindak tutur adalah suatu perbuatan tutur yang lebih mengacu terhadap
makna dan arti dari ucapan yang dimaksudkan oleh si penutur. Tindak tutur juga merupakan
gejala individual, bersifat psikologis dan keberlangsungannya ditentukan oleh kemampuan
bahasa si penutur dalam menghadapi situasi tertentu.
Secara performatif, JL. Austin, seorang guru besar di Universitas Harvard, mengklasifikasikan
tiga peristiwa tindakan yang berlangsung sekaligus, yaitu tindak tutur lokusi, tindak tutur ilokusi
dan tindak tutur perlokusi. Tindak tutur lokusi adalah tindak tutur lokusi adalah tindak tutur yang
menyatakan sesuatu dalam arti “berkata” atau tindak tutur dalam bentuk kalimat yang bermakna
dan dapat dipahami. Misalnya, “Ibu guru berkata kepada saya agar saya membantunya”.
Tindak tutur ilokusi adalah tindak tutur yang biasanya di identitifikasikan dengan kalimat
performatif yang eksplisit. Tindak tutur ilokusi ini biasanya berkenaan dengan pemberian izin,
mengucapkan terima kasih, menyuruh, menawarkan dan menjanjikan. Misalnya “ Ibu guru
menyuruh saya agar segera berangkat”.
Tindak tutur perlokusi adalah tindak tutur yang berkenaan dengan adanya ucapan orang lain
sehubungan dengan sikap dan perilaku nonlinguistik dari orang lain itu. Misalnya, karena adanya
ucapan dokter (kepada pasiennya) “Mungkin ibu menderita penyakit jantung koroner”, maka
pasien tersebut akan panik dan sedih.

C. TINDAK TUTUR DAN PRAGMATIK

Hubungan antara tindak tutur dan pragmatik pada dasarnya merupakan suatu kesatuan yang erat.
Karena keeratan itu sebenarnya tindak tutur salah satu fenomena dalam masalah yang lebih luas,
yang lebih dikenal dengan istilah pragmatik. Dalam kajian pragmatik ada beberapa kajian yang
berupa deiksis, presuposisi dan implikatur percakapan. Sebagai topik yang melingkupi ketiga hal
tersebut, pragmatik lazim deberi definisi sebagai “ telaah mengenai hubungan di antara lambang
dan penafsiran”. Yang dimaksud dengan lambang disini adalah satuan ujaran yang mengandung
makna tertentu yang dalam pragmatik ditentukan atas hasil penafsiran si pendengar.
Yang dimaksud dengan deiksis adalah hubungan antara kata yang digunakan di dalam tindak
tutur dengan referen kata itu yang tidak tetap atau dapat berubah dan berpindah. Misalnya,
perhatikan contoh berikut :
A dan B sedang bercakap-bercakap; bagian akhir dari percakapan itu berupa :
A : “Saya belum bayar SPP, belum punya uang”.
B : “Sama, saya juga”.
Jelas, kata saya pada percakapan itu, pertama mengacu pada A; lalu mengacu pada B. Maka, kata
saya itu disebut bersifat deiktis.
Yang dimaksud dengan presuposisi dalam tindak tutur adalah makna atau informasi “tambahan”
yang terdapat dalam ujaran yang digunakan secara tersirat. Jadi, di dalam ujaran tersebut selain
terdapat makna asal dalam ujaran itu, terdapat pula makna lain yang hanya bisa dipahami secara
tersirat.
Yang dimaksud dengan implikatur percakapan adalah adanya keterkaitan antara ujaran-ujaran
yang diucapkan antara dua orang yang sedang bercakap-cakap. Keterkaitan ini tidak tampak
secara literal, tetapi hanya dipahami secara tersirat.

BAB III
PEMBAKUAN BAHASA

Proses pemilihan satu ragam bahasa untuk dijadikan ragam bahasa resmi kenegaraan maupun
kedaerahan, serta usaha-usaha pembinaan dan pengembangannya yang biasa dilakukan terus-
menerus tanpa henti, disebut pembakuan bahasa atau standardisasi bahasa. Apa yang disebut
bahasa baku, apa fungsinya, bagaimana penggunaannya, bagaimana proses pembentukannya,
akan dibicarakan secara singkat dalam bab ini.

A. BAHASA BAKU
Yang dimaksud dengan bahasa baku adalah salah satu variasi bahasa dari sekian banyak variasi,
yang diangkat dan disepakati sebagai ragam bahasa yang akan dijadikan tolak ukur sebagai
bahasa yang “baik dan benar” dalam komunikasi yang bersifat resmi, baik secara lisan maupun
tulisan. Keputusan yang bersifat politis, sosial, dan linguistis. Disebut keputusan politis karena
menyangkut strategi politik yang berkaitan dengan kehidupan bangsa dan negara secara nasional
di masa-masa mendatang. Disebut keputusan sosial karena ragam yang dipilih itu pada mulanya
hanyalah digunakan oleh satu kelompok anggota masyarakat tutur, lalu kemudian menjadi alat
komunikasi dalam status sosial yang lebih tinggi, yaitu dalam situasi komunikasi yang bersifat
resmi kenegaraan yang bersifat nasional.
Keputusan ini juga disebut keputusan linguistik, karena ragam yang dipilih menjadi ragam
bahasa baku itu harus memiliki dan memenuhi persyaratan-persyaratan linguistik tertentu.
Persyaratan-persyaratan linguistik tersebut tanpa hal tata bunyi, tata bentukan, tata kalimat dan
tata kata.

B. FUNGSI BAHASA BAKU


Bahasa baku memiliki empat fungsi, tiga diantaranya bersifat pelambang, sedangkan yang satu
lagi bersifat objektif.
Fungsi pertama yaitu sebagai pemersatu, bahasa baku disebut sebagai pemersatu sebab bahasa
baku dapat menghubungkan semua penutur dari berbagai dialek bahasa yang berbeda. Dengan
demikian bahasa baku mempersatukan mereka menjadi satu masyarakat bahasa dan
meningkatkan proses identifikasi penutur dengan seluruh masyarakat.
Fungsi kedua yaitu pemberi kekhasan, kejhasan yang diemban oleh bahasa baku ialah
memisahkan dan memperbedakan bahasa itu dari bahasa lain. Dengan adanya hal tersebut,
bahasa baku memperkuat perasaan kepribadian nasional masyarakat bahasa yang bersangkutan.
Fungsi ketiga, yaitu pembawaan kewibawaan, bahasa baku menambah prestise sebab bahasa
baku memiliki unsur yang menduduki tempat tinggi pada skala tata nilai dalam masyarakat
bahasa. Terlebih berwibawa lagi apabila yang menggunakan bahasa baku itu dari kalangan
masyarakat yang berpengaruh, dan dia dapat menguasai bahasa tersebut denga mahir.
Fungsi keempat, yaitu sebagai kerangka acuan, yang dimaksud dari fungsi ini ialah bahwa ragam
bahasa baku itu akan dijadikan tolak ukur untuk norma pemakaian bahasa yang baik dan benar
secara umum.

C. PEMILIHAN RAGAM BAKU


Dalam pemilihan ragam baku, sebenarnya banyak dasar atau kriteria yang digunakan untuk
menentukan dan memilih sebuah ragam menjadi ragam bahasa bahasa baku. Dasar atau kriteria
itu antara lain :
1. Dasar Otoritas
Dasar ini maksudnya, penentuan baku atau tidak baku berdasar pada kewenangan orang yang
dianggap ahli, atau pada kewenangan buku tata bahasa atau kamus. Dasar otoritas ini diajukan
karena pada umumnya manusia belum merasa puas bahwa yang dikerjakan atau dikatakannya itu
benar, apa yang dilakukan seseorang untuk mengetahui benar tidaknya atau baku tidaknya suatu
bentuk ujaran dengan mengacu pada pemegang otoritas ini memang tidak ada salahnya tetapi
perlu diingat dasar otoritas ini ada bahayanya. Bisa saja buku tata bahasa dan kamus yang
digunakan sudah kadaluarsa, ketinggalan zaman dan tidak cocok lagi dengan keadaan
kebahasaan pada waktu kini.

2. Dasar bahasa penulis-penulis terkenal


Dasar ini maksudnya, seperti dikatakan Alisjahbana bahwa bahasa dari para penulis terkenal
sebaiknya digunakan untuk menjadi patokan bahasa yang baik. Kalau dasar bahasa para penulis
terkenal yang dijadikan bahasa baku, maka akan terlihat adanya tiga macam kelemahan. Tiga
macam kelemahan itu antara lain :
a. bahasa bukanlah hanya bahasa tulis saja, tetapi ada juga bahasa lisan
b. tak ada yang bisa menjamin bahwa penulis-penulis yang terkenal telah menguasai aturan tata
bahasa dengan baik
c. kesesuaian bahasa penulis-penulis terkenal dengan zaman sekarang

3. Dasar demokrasi
Dasar ini maksudnya, untuk menentukan bentuk bahasa yang benar dan tidak benar, tentunya
kita harus menggunakan data statistik. Setiap bentuk satuan bahasa harus di selidiki, dicatat, lalu
dihitung frekuensi penggunaannya. Mana yang terbanyak itulah yang dianggap benar, yang
frekuensinya sedikit dianggap tidak benar.

4. dasar logika
Dasar ini dimaksud, dalam penentuan baku dan tidak baku digunakan pemikiran logika, bisa
diterima akal atau tidak. Tempatnya dasar logika tidak dapat digunakan untuk menentukan
kebakuan bahasa, sebab sering kali benar dan tidak benar struktur bahasa tidak sesuai dengan
pemikiran logika.

5. Dasar bahasa orang-orang terkemuka dalam masyarakat


Dasar ini maksudnya, penentuan bakuatau tidaknya suatu bentuk bahasa didasarkan pada bahasa
orang-orang terkemuka seperti pemimpin, wartawan, pengarang, guru, dan sebagainya. Mereka
dijadikan dasar demikian, sebab mereka semua dianggap orang-orangyang palin banyak
mempunyai kesempatan untuk terjun langsung dalam masyarakat.
Dari kelima dasar diatas, menurut Baradja, penentuan baku dan tidaknya suatu bentuk bahasa
indonesia, dapat menggunakan dasar kelima ini dan digabung dengan dasar pertama, yaitu dasar
otoritas.

D. BAHASA INDONESIA BAKU


Bahasa Indonesia baku ialah alat komunikasi antar anggota masyarakat, yang berupa bunyi suara
atau tanda, isyarat, dan lambang yang diakui secara nasional, dan memiliki tataran linguistik dan
aturan baku yang ditetapkan oleh pusat bahasa.
Berdasarkan pengertian tersebut diatas, bahasa baku ditandai ciri-ciri umum sebagai berikut :

1. Stabilitas yang luwes atau kemantapan dinamis


Dalam ciri ini dimaksud bahwa bahasa baku memiliki sifat kaidah yang sudah stabil dan terbuka
untuk menerima perubahan yang bersistem, baik dalam kosakata, peristilahan maupun dalam
bidang kalimat.

2. Intelektualisasi atau kecendikaan


Dalam ciri ini dimaksudkan, bahwa perwujudan bahasa baku dalam kalimat, paragraf, dan satuan
bahasa lain yang lebih besar mengungkapkan penalaran atau pemikiran yang teratur, logis, dan
masuk akal.

3. Kerasionalan dan keseragaman Bahasa Baku


Dalam ciri ini dimaksudkan bahwa tindakan pembekuan bahasa itu harus dikenakan kepada
semua tataran tingkatbahasa, yaitu Fonologi, morfologi, sintaksis, leksikon dan semantik.

Berikut ini beberapa contoh penulisan bentuk kata baku dan tidak baku, serta bentuk baku dan
tidak baku secara gramatikal.
1. Bentuk baku bentuk tidak baku
Administratf administratip
Ahli akhli
Anarki anarkhi
Anggota anggauta
2. Bentuk baku bentuk tidak baku
- Rektor meninjau perumahan karyawan IKIP
- Kuliah sudah berjalan dengan baik - Rektor tinjau perumahan karyawan IKIP
- Kuliah sudah jalan dengan baik
Apabila kita perhatikan dan membandingkan antara deretan kiri dan deretan kanan, maka kita
akan dapat memahami aturan gramatikal dan bentuk kata baku yang dalam bahasa indonesia.

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN

Dalam hubungan dengan penggunaan bahasa, kita sebagai mahasiswa harus dapat membatasi
keluwesan berbahasa dalam perckapan sehari-hari. Agar tidak terdapat lagi penggunaan bahasa
yang ujaran yang sembarangan.
Berikut ini beberapa poin penting yang dapat kita simpulkan dari materi-materi pembahasan.
1. Peristiwa tutur adalah terjadinya ataau berlangsungnya interaksi linguistik dalam satu bentuk
ujaran atau lebih yang melibatkan dua pihak, yaitu penutur dan lawan tutur.
2. Pragmatik ialah penelaahan mengenai hubungan antara lambang dengan penafsiran.
3. Bahasa baku adalah salah satu variasi bahasa yang diangkat dan disepakati sebagai ragam
bahasa yang dijadikan tolak ukur sebagai bahasa yang “baik dan benar” dalam komunikasi yang
bersifat resmi, baik secara lisan maupun tulisan.
4. Bahasa Indonesia baku memiliki ciri-ciri, yaitu kemantapan yang dinamis, kecendekiaan dan
kerasionalan dan keseragaman.

B. SARAN
Dengan berakhirnya makalah kami ini, ada dua saran yang ingin kami kemukakan. Adapun
saran-saran tersebut yaitu :
1. kepada teman-teman mahasiswa, setibanya makalah ini dihadapan anda, hendaklah kalian
menelaahnya. Apabila terdapat kekeliriuan didalamnya, segerahlah beritahu kami agar kami bisa
jadikan bahan perbaikan untuk makalah berikutnya.
2. Kepada dosen pengajar, kami sarankan ketika ada suatu tugas yang diberikan, bimbinglah
kami terutama dengan buku-buku referensi materi.
3. secra umum, kalau bisa makalah yang belum memenuhi syarat, yang diterima.

DAFTAR PUSTAKA

Chaer, Abdul. 2008. Sosiolinguistik Perkenalan Awal. Jakarta: Rineka Cipta.

Suwito. 1985. Sosiolinguistik Pengantar Awal. Surakarta : Henary.


http://www.hisbulwatan.co.cc/2009/04/makalah-sosiolinguistik-peristiwa-tutur.html

http://id.wikipedia.org/wiki/Komunikasi

Komunikasi adalah suatu proses penyampaian informasi (pesan, ide, gagasan) dari
satu pihak kepada pihak lain agar terjadi saling mempengaruhi di antara
keduanya.Pada umumnya, komunikasi dilakukan secara lisan atau verbal yang
dapat dimengerti oleh kedua belah pihak. pabila tidak ada bahasa verbal yang
dapat dimengerti oleh keduanya, komunikasi masih dapat dilakukan dengan
menggunakan gerak-gerik badan, menunjukkan sikap tertentu, misalnya
tersenyum, menggelengkan kepala, mengangkat bahu.Cara seperti ini disebut
komunikasi dengan bahasa nonverbal.

http://www.scientologyhandbook.org/SH5_1.HTM

How does one talk so that another person listens and understands? How does one listen? How
does one know if he has been heard and understood?

These are all points about communication that have never before been analyzed or explained.

People have known that communication is an important part of life but until now no one has ever
been able to tell anyone how to communicate.

Until Scientology, the subject of communication had received no emphasis or study. Any
attention given to it was mechanical and the province of engineers. Yet all human endeavor
depends utterly on a full knowledge of the real basics of communication.

To master communication, one must understand it.

In Scientology, communication has been defined – an accomplishment that has led to a much
deeper understanding of life itself.

Communication, in essence, is the shift of a particle from one part of space to another part of
space. A particle is the thing being communicated. It can be an object, a written message, a
spoken word or an idea. In its crudest definition, this is communication.

This simple view of communication leads to the full definition:

Communication is the consideration and action of impelling an impulse or particle from source-
point across a distance to receipt-point, with the intention of bringing into being at the receipt-
point a duplication and understanding of that which emanated from the source-point.

Duplication is the act of reproducing something exactly. Emanated means “came forth.”

The formula of communication is cause, distance, effect, with intention, attention and duplication
with understanding.

The definition and formula of communication open the door to understanding this subject. By
dissecting communication into its component parts, we can view the function of each and thus
more clearly understand the whole.