Anda di halaman 1dari 4

TUGAS

KIMIA FARMASI ANALISIS I

PENETAPAN KADAR POTASIUM ALUM (KAl(SO4)2) DENGAN METODE TITRASI


KOMPLEKSOMETRI

Disusun Oleh :
Syaipul Irsyad
J1E106206

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU
2011
I. DASAR TEORI

Kompleksometri merupakan jenis titrasi dimana titran dan titrat saling mengkompleks,
membentuk hasil berupa kompleks. Titrasi kompleksometri adalah titrasi berdasarkan
pembentukan senyawa kompleks antara kation dengan zat pembentuk kompleks. Salah satu
zat pembentuk kompleks yang banyak digunakan dalam titrasi kompleksometri adalah garam
dinatrium etilendiamina tetraasetat (dinatrium EDTA) (Anonim2, 2010).
Titrasi dapat ditentukan dengan adanya penambahan indikator yang berguna sebagai
tanda tercapai titik akhir titrasi. Ada beberapa syarat suatu indikator ion logam dapat
digunakan pada pendeteksian visual dari titik-titik akhir yaitu :
1. Mudah dalam penglihatan
Reaksi warna harus sedemikian sehingga sebelum titik akhir, bila hampir semua ion
logam telah berkompleks dengan EDTA, larutan akan berwarna kuat.
2. Spesifik
Reaksi warna itu haruslah spesifik (khusus), atau sedikitnya selektif.
3. Stabil
Kompleks indikator logam tersebut harus memiliki kestabilan yang cukup, karena jika
tidak, akan terjadi disosiasi dan tak akan diperoleh perubahan warna yang tajam. Namun,
kompleks-indikator logam itu harus kurang stabil dibanding kompleks logam-EDTA
untuk menjamin agar pada titik akhir, EDTA memindahkan ion-ion logam dari
kompleks-indikator logam ke kompleks logam-EDTA harus tajam dan cepat.
4. Peka
Kontras warna antara indikator bebas dan kompleks-indikator logam harus sedemikian
sehingga mudah diamati. Indikator harus sangat peka terhadap ion logam (yaitu, terhadap
pM) sehingga perubahan warna terjadi sedikit mungkin dengan titik ekuivalen (Anonim2,
2010).
Indikator-indikator yang umumnya digunakan antara lain adalah sebagai berikut :
1. Mureksida (C.I. 56085)
2. Hitam Solokrom (Hitam Eriokrom T)
3. Indikator Patton dan Reeder
4. Biru Tua Solokrom atau Kalkon
5. Kalmagit
6. Kalsikrom (calcichrome)
7. Hitam Sulfon F Permanen (C.I. 26990)
8. Violet Katekol (Catechol Violet) atau Violet Pirokatekol (Pyrocatechol Violet)
9. Merah Bromopirogalol (Bromopyrogalol Red)
10. Jingga Xilenol (Xylenol Orange)
11. komplekson Timolftalein (Timolftalein)
12. Biru Metiltimol (Komplekson Biru Metiltimol)
13. Zinkon (Zincon) atau 1-(2-hidroksi-5-sulfofenil)-3-fenil-5-(2-karboksifenil)-formazan
14. Biru Variamina (C.I. 37255) (Firdaus, 2009).
Salah satu sampel yang dapat di analisis dengan metode titrasi kompleksometri adalah
Potassium Alum dengan rumus kimia KAl(SO4)2. Potasium Alum atau yang juga dikenal
tawas alum merupakan Kalium Sulfat ganda dari alumunium dan sering ditemukan dalam
bentuk dodecahydrate sebagai KAl(SO4)2.12H2O.

Gambar 1. Potasium alum

Tawas alum dapat berkhasiat sebagai astringen dan antiseptik. Untuk itulah bahan ini
digunakan sebagai deodorant alami dengan kerja menghambat pertumbuhan bakteri yang
menyebabkan bau badan. Penggunaan garam mineralnya tidak menghambat produksi
keringat. Dahulu, zat ini digunakan setelah cukuran, dimaksudkan untuk mencegah
perdarahan pada luka kecil dan juga pada mimisan serta wasir. Zat ini juga sering digunakan
secara topical dalam pengobatan tradisional dan termasuk obat-obatan Ayurveda, disebut
sebagai phitkari atau saurashtri. Dalam pengobatan tradisional Cina, zat ini disebut sebagai
ming fan (Anonim1, 2010).
II. REAKSI

2.1 Bahan yang digunakan

• 1,7 gram Potassium Alumunium


• 30 ml Disodium Edetat 0,05 M
• 1,0 gram Hexamin
• 0,4 ml larutan xylenol orange
• lead nitrat 0,05 M
2.2 Reaksi

Larutan potassium alum dan larutan disodium edetat dipanaskan. Kelebihan disodium
edetat akan memastikan pembentukan kompleks alumunium-edetat. Hexamin digunakan
sebagai penyangga atau buffer yang menstabilkan pH antara 5-6. Larutan xylenol orange
sebagai indikator. Reaksi yang terlibat dapat diwakili sebagai berikut:
Al3+ [H2X]2– → [AlX]– + 2H+

atau KAl(SO4)2. 12H2O ≡ Al3+ ≡ Na2H2X, 2H2O

atau 474.4 g KAl(SO4)2. 12H2O ≡ 20,000 ml 0.05 M

atau 0.02372 g KAl(SO4)2. 12H2O ≡ 1 ml of 0.05 M Disodium Edetate

2.3 Prosedur Analisis

1. Timbang 1,7 gram tawas kalium dan larutkan dalam kondisi panas.
2. Panaskan termos diatas penangas air selama 10 menit.
3. Tambahkan 1 gram Hexamin sebagai penyangga dan di titrasi dengan 0,05 M Timbal
Nitrat dan sebagai indikator adalah larutan Xylenol Orange sebanyak 0,4 ml.
4. Warna akan berubah dari warna kuning menjadi ungu kemerahan.
5. Tiap 1 ml dinatrium edetat 0,05 M setara dengan 0,02372 g KAl(SO4)2.12 H2O

(Kar, 2005).