Anda di halaman 1dari 5

“BAWANG PUTIH DAN BAWANG MERAH”

Suatu hari dirumah yang sederhana tinggalah seorang ayah, ibu, dan anaknya yang
bernama bawang putih. Ibu bawang putih sudah lama sakit-sakitan dan sebelum
kepergiannya ia meniggalkan pesan kepada bawang putih.

Ibu bawang putih : “Anak ku, bawang putih ibu sudah pasrah dengan keadaan ibu
seperti ini, kalau ibu sudah tidak ada jadilah anak baik-baik ya
nak… jaga bapakmu itu.”
Bawang putih : “Iya bu pasti (dengan wajah yang sedih seakan ia tidak rela
ibunya meninggalkannya untuk selamanya).”

Pada saat itu juga, ibunya tidur dan bawang putih kembali pergi ke sungai untuk mencuci
pakaian seperti biasa. Tiba-tiba seorang ibu dan anaknya berwarna bawang merah sedah
menyusun rencana untuk membunuh ibu bawang putih dengan cara memberi racun agar
ibu bawang merah dapat menikah dengan bapak bawang putih karena hartanya.

Ibu bawang merah : “Baik nak, saatya kita beraksi! Bawakan racunya!.” (sambil
mengumpat dan melihat bawang putih pergi).
Bawang merah :“Oke bu, udah siap! Hahahaha.”

Akhirnya ibu bawang merah dan bawang merah masuk kerumah bawang putih dan
kebetulan ayahnya bawang putih tidak ada dirumah karena sedang pergi berdagang. Ibu
bawang merah pun masuk dan langsung masuk ke kamarnya ibu bawang putih sedang
tidur, kemudian ibu bawang merah langsung memaksa ibu bawang putih untk meminum
racun itu. Ibu bawang putih tidak dapat memberontak dan akhirnya iapun meninggal
setelah meminum racun tersebut. Ibu bawang merah dan bawang merah lalu pergi
meniggalkan rumah tersebut agar tidak ketahuan, tidak beberapa lama kemudian bawang
putih pulang beserta bapaknya dan melihat keadaan ibunya.

Bawang putih : “Ibu… ibu…. Ibu bangun bu! (sambil menggoyang-goyang tubuh
ibunya) bu bangun bu jangan tinggalin bawang putih bu!.”

Beberapa bulan kemudian setelah kematian ibu bawang putih, bawang merah dan ibunya
sering berkunjung kerumah bawang putih yang berniat untuk mengambil hati ayah
bawang putih.

Ibu bawang merah : “Pak sudah mau berangkat ya? Ini saya antarkan kopi buat
bapak.” (dengan ramah dan mencari perhatian)
Bapak bawang putih : “Iya bu, terima kasih.” (sambil tesenyum dan berfikir selintas
untuk menjadikannya sebagai calon istri)

Tidak berfikir panjang, pada malam hai bapak bawang putih berbincang-bincang dengan
bawang putih.

Bapak bawang putih : “Nak, bapak tidak ingin kamu sendirian bapak ingin carikan ibu
untukmu.”
Bawang putih : “Iya pak tidak apa-apa, asalkan bapak bahagia.”
Bapak bawang putih :“Oh yasudah nak, baik kalau begitu.” (dengan raut wajah
senyuman).
Sebulan kemudian bapak bawang putih menikahi janda dengan satu anak, yaitu ibu
bawang merah dan sekarang sudah secara sah menjadi suami istri. Bawang putih dan
bawang merah bersaudara. Bawang merah dan ibunya sangat baik terhadap bawang putih
didepan ayahnya, tetapi setelah ayahnya pergi kelakuan mereka berdua terhadap bawang
putih mulai terlihat.

Bawang merah : “Bawang putih semua pakaian kotor yang berada dirumah ini cuci
ya!! Awas masih kotor!!.” (melempar pakaian ke bawang putih).
Bawang putih : “Taaa…pi bawang merah.”
Bawang merah : “Apalagi ha!!! Sudah cepat laksanakan!.”
Bawang putih : “Baiklah bawang merah, semua akan ku cuci pakaian kotor ini.”
(berbalik badan dan menjauh dari bawang merah).

Bawang putih pun pergi ke sungai untuk mencuci baju, namun disana ada teman bawang
putih yang sedang mencuci baju juga.

Teman bawang putih :“Mengapa mukamu pucat dan bersedih seperti ini? Apa yang
terjadi denganmu?.”
Bawang putih : “Tidak apa-apa kok.” (dengan sedihnya menjawab seolah tidak
terjadi apa-apa dengannya).
Teman bawang putih : “Ceritalah kepadaku, apa yang terjadi sebenarnya?”
Bawang putih : “Sebenarnya... setelah ibuku meninggal, ayahku menikah dengan
ibu bawang merah. Aku merana disiksa dengan mereka, aku
dijadikan seperti pembantu oleh mereka, mereka kasar
terhadapku jika ayahku pulang kerumah mereka baik dan sayang
terhadapku.” (sambil menangis dan mencuci pakaian-pakaian
itu).
Teman bawang putih : “Ya ampun… mereka jahat sekali denganmu, aku tidak
menyangka ternyata mereka seperti itu terhadapmu. Kamu sabar
ya mungkin dibalik semua ini ada hikmahnya.” (sambil
memegang pundak bawang putih).
Bawang putih : “Ya aku sih sabar menjalaninya, aku ingin ayahku bahagia
dengan hadirnya seorang pendamping hidup di sisinya.”
Teman bawang putih :“Wah betapa mulianya niatmu, tapi tenang saja ada aku
sahabatmu yang akan menhiburmu disaat kau sedih dan susah
Bawang putih : “Ya terima kasih sahabatku yang baik”. (sambil tersenyum)

Ibu bawang merah dan bawang merah sudah menunggu kedatangan bawang putih untuk
di beri pelajaran berikutnya yang sudah di rencanakan.Tidak beapa lama kemudian
bawang putih pun dating bersama sahabatnya.

Bawang merah : “Bawang putih apakah semua baju sudah kamu cuci?”
Bawang putih : “Sudah bawang merah”.
Ibu bawang merah : “Kalau begitu cepat kamu sapu dan pel rumah ini!Ibu dan
bawang mau pergi ke pasar.”
Bawang merah : “Kalau sampai kami pulang belum selesai pekerjaanku akan kami
tambah lebih banyak lagi!”
Teman bawang putih :“Bawang merah kamu ini apa apaan,dia saudaramu bukan
pembantumu.Tidak sepantasnya kau jadikan dia seperti budak!”
Bawang merah : “Heh siapa kamu?! Gak usah ikut campur!sana pergi kamu dasar
gembel!”
Bawang putih : [menunduk] “Tapi,banyak pekerjaan yang belum selesai.bawang
putih juga harus menemani ayah.”
Teman bawang putih : ”Dasar kalian tidak punya hati!”
Ibu bawang merah : “Halah sudah ayahmu sudah tidur!bicara pun tidak bisa, untuk
apa dipedulikan dan kamu tidak usah ikut campur!”
Bawang merah : “Sudahlah bu, urusan dia itu! Cepat kita pergi sudah gerah aku
dirumah.”

Setelah mereka pergi, bawang putih menhampiri ayahnya yang sudah beberapa hari
berbaring di kamar karena sakit keras. Ia terus berbicara pada ayahnya dan mengukapkan
apa yang iya rasakan walau ia tahu ayahnya tidak dapat berbicara sedikitpun.

Bawang putih : “Ayah, bagaimana ayah sekarang aku merindukan keluarga kita
yang dulu aku tau ini tidak mungkin terjadi lagi. Tapi bawang
putih tidak bisa seperti ini terus bawang putih tau ayahpun
merasakannya.”

Bawang putih tidak bisa menahan harunya melihat ayahnya lalu ia meninggalkan
ayahnya untuk mengurus pekerjaan rumahnya tadi. Tidak berapa lama bawang merah dan
ibunyadatang dan ibu bawang merah melihat keadaan suaminya, tidak disangka suaminya
telah tiada dan berbaring kaku di kamar.

Ibu bawang merah : “Bawang putih!!!”


Bawang putih : “Iya bu….” (sambil menunduk)
Ibu bawang merah : “HAHAHAHA, liat ini ayahmu sudah tiada!”
Bawang putih : “Ayah… ayah bangun ayah, jangan tinggalin bawang putih
sendiri! Ayaaaaaaahhh baaanguuuunn….!!! (sambil menangis
histeris).
Ibu bawang merah : “Akhirnya semua permainan selesai, ayahmu telah tiada! dan
semua hartanya adalah milikku hahaha!!”

Setelah kepergian ayahnya untuk selama-lamanya peyiksaan yang di alami bawang putih
malah semakin menjadi-jadi, sekarang dia sudah tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini
selain sahabatnya. Suatu ketika ia kembali ke sungai untuk mengerjakan tugasnya seperti
biasa bersama sahabatnya dan datanglah seorang peri penolong yang munsul secara tiba-
tiba.
Teman bawang putih : “Aku turut berduka cita ya atas kepergian ayahmu untuk selama-
lamanya.”
Bawang putih : “Iya terima kasih aku harus sabar dan ikhlas menjalankan semua
ini!”
Peri penolong : “Hai bawang putih kamu jangan berlarut-larut dalam kesedihan,
semua ini pasti ada balasannya. Aku akan menolongmu.”

Mereka pun terkejut melihat kedatangan peri yang secara tiba-tiba, dan dengan sekejap
peri itu mengubah pakaian kotor menjadi sangat bersih.

Bawang putih : “Ibu peri….???” (sambil terkejut).


Ibu peri : “Tak usah kau terkejut peri cantik akan menolongmu.”
Teaman Bawang putih: “WOW aku tidak percaya!”
Bawang putih : “Terima kasih ibu peri kau telah menolongku.”
Ibu peri hanya tersenyum dan pergi menghilang, dan mereka kembali kerumah masing
masing, tetapi dirumah bawang putih kedatangan seorang tamu yaitu seorang pangeran
tampan.

Bawang merah :“Maaf siapa anda?” (dengan tatapan terkejut melihat ketampanan
sang pangeran).
Pangeran :“Bolehkah saya meminta tanaman jarak ini untuk menyembuhkan
kakek saya?”
Ibu bawang merah : “Oh ya silahkan. Bawang merah tolong ambilkan tanamanya.”
Bawang merah : “Baik bu.” (dengan semangatnya).

Setelah beberapa menit kemudian bawang merah kembali dengan tangan kosong yang
ada hanya luka bekas ia mencabuti tanaman itu.

Bawang merah : “Maaf pangeran tanamannya tidak dapat dicabut.”(dengan raut


muka kecewa).

Mereka kecewa begitu juga dengan pangeran. Akhirnya pangeran kembali ke istananya.

Pangeran :“Ibu…. Ayah aku menemukan tanaman itu tapi kenapa


pemiliknya tidak dapat mencabutnya?”
Ibu pangeran : “Apa?? Kamu sudah mendapatkannya?”
Ayah pangeran : “Ya sudah nanti kita kesana lagi.”
Ibu pangeran :“Tidak bisa, kita harus kesana untuk mendapatkannya dan
menyembuhkan kakek.”
Ayah pangeran : “Iya bu kasihan kakek sudah sekitar satu bulan berbaring di
tempat tidur.”
Ibu pangeran : “Ya sudah, ini sudah malam waktunnya tidur, besok pagi kita
pergi kerumah itu dan satu hal jika ada wanita yang dapat
mencabut tanaman itu maka akan kita jodohkan dengan anak kita
dan itu keputusannya.”
Ayah pangeran : “Iya bu sebagai tanda terima kasih dan kebetulan anak kita sudah
waktunya untuk mencari pendamping hidup.”
Pangeran : “Ya ayah ibu, kalau begitu aku tidur dulu selamat malam.”

Pagi pun menjelang matahari sudah terbit, dan hari ini keluarga pangeran kerumah
bawang putih untuk mengambil tanaman itu.

Pangeran : “Ass…, saya yang kemarin ingin meminta tanaman jarak untuk
obat kakek saya.”
Bawang putih : “Oh….. boleh-boleh.” (dengan senang hati).
Bawang merah : “Eh pangeran lagi sebentar ya saya coba lagi memetiknya.”

Bawang merah pun mengambil alih untuk mencoba memetik tanaman itu sekali lagi,
namun hasil yang ia dapat adalah sama seperti kemarin ia tidak dapat memetik tanaman
itu.

Bawang putih : “Sudah biar aku saja yang memetiknya.”

Setelah beberapa menit kemudian bawang putih pun dating membawakan serangkaian
tanaman jarak tersebut dan begitu mudahnya ia memetik tanaman tersebut.
Pangeran : “Terima kasih PERI CANTIK.” (kata pangeran tersebut dengan
bahagianya).
Ibu pangeran : “Maukah kau menjadi pendamping hidup untuk anakku?”
(dengan penuh pengharapan).
Bawang merah : “Aku??? Aku tentunya pasti mau menikah dengan pangeran.”
(kata bawang merah dengan sombongnya)
Ibu pangeran : “Maaf yang saya maksud perempuan cantik yang berada di
sebelah anda, bukan anda.”
Bawang merah : “Apa? Dia? Kenapa harus dia, bukankah saya yang lebih pantas
menikah dengan pangeran. dia itu jelek dan saya lebih cantik dan
pantas untuk disandingkan dengan pangeran.” (kata bawang
merah dengan marahnya).
Ibu pangeran : “Cukup, saya sudah membuat pernyataan dengan suami saya
jikalau ada anak perempuan di rumah yang ada tanaman jaraknya
dan dia bisa mengambil tanaman tersebut maka dia akan saja jadi
kan istri dengan anak saya.”
Bawang merah : “Tapi kenapa harus dia…” (dengan muka yang menyatakan
bahwa bawang merah tidak menerima bahwa bawang putilah
yang menang).
Ibu pangeran : “Jadi mau kah anda menikah dengan anak saya?” (kata ibu
pangeran kepada bawang putih).
Bawang putih : “Hm…. Ya baik bu.” (dengan tersipu malu dan muka merona
bahagia).

Akhirnya bawang putih pun menikah dengan sang pangeran tampan. Dan mereka tinggal
di istana yang megah dan mereka hidup bahagia selamanya.”

**********TAMAT**********