Anda di halaman 1dari 10

JURNAL PSIKIATRI

GANGGUAN KEPRIBADIAN SKIZOTIPAL

DISUSUN OLEH:

NAMA : FELICIA DEWI

NIM : 060100023

PEMBIMBING :

DEPARTEMEN ILMU KEDOKTERAN JIWA

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

2010
Jurnal ini dibuat dengan maksud menyelesaikan tugas yang diberika

2
PENDAHULUAN

Skizotipal merupakan salah satu gangguan kepribadian yang termasuk


dalam Gangguan Kepribadian Cluster A.1,2 Pasien dengan gangguan skizotipal
cenderung mengarah pada gejala psikosis yang nyata, terutama apabila dipicu oleh
stres dan mudah mengalami dekompensasi kepribadian. Pikirannya cenderung
aneh, ideas of reference bisa saja dihayati penderita, demikian pula pikiran yang
magis dan mistis tidak jarang dijumpai. Psikoterapi jenis analitik (insight
oriented) tidak dianjurkan bagi pasien ini dan merupakan kontra indikasi dalam
mencapai kesembuhan. Sering juga ditemukan berbagai campuran kecemasan,
depresi, dan afek disforik lainnya. Selama periode stres yang berat dapat timbul
gejala psikotik yang sepintas. Karena keanehan cara pikirnya orang dengan
gangguan kepribadian skizotipal cenderung berkeyakinan eksentrik, seperti
keyakinan agama yang aneh-aneh.1,2

Konsep dari kepribadian skizotipal dimulai dari studi Danish pada anak-
anak adopsi dengan orang tua skizofrenik. Walaupun beberapa dari anak-anak ini
berkembang menjadi skizofrenia saat dewasa, dijumpai populasi lebih banyak
mengalami yang disebut gejala lebih ringan dari skizofrenia. Kriteria diagnostik
untuk gangguan kepribadian skizotipal dijelaskan oleh Spitzer, Endicott, dan
Gibbon (1979) untuk deskripsikan individual ini. Kriteria ini dimasukkan dan
digabungkan pada DSM-III dan mengalami revisi secukupnya pada DSM-IV dan
DSM IV-TR.2

Pasien dengan gangguan skizotipal biasanya mempunyai kesulitan


berhubungan interpersonal seperti dalam kepribadian skizoid, dan kecemasan
sosial yang berlebihan yang menyebabkan susahnya mereka berhubungan sosial.
Beberapa tambahan, gejala-gejala yang lebih eksentrik seperti akan dijelaskan
dibawah dijumpai pada gangguan kepribadian skizotipal, gejala-gejala ini yang
disebut-sebut sebagai fase prodromal dan residual dari skizofrenia.1

3
Definisi
Skizotipal merupakan salah satu gangguan kepribadian yang ganjil atau
eksentrik yang melibatkan pola defisit antar perseorangan yang sangat kuat,
ditandai dengan perasaan tidak nyaman akut dengan hubungan dekat dan
berkurangnya kapasitas untuk menjalin hubungan dekat dengan dan bias kognitif
atau persepsi. Gangguan kepribadian skizotipal menggambarkan gangguan serius
dan disebut-sebut berhubungan dengan gangguan skizofrenia.3

Epidemiologi
Gangguan kepribadian skizotipal mencakup 3% dari total populasi seluruh
dunia, sebagaimana dilaporkan di DSM-IV-TR.1 Keadaan ini mulai terdeteksi
pada masa kanak-kanak dan remaja yang suka menyendiri, kecemasan dengan
hubungan sosial, nilai-nilai di sekolah jelek, terlalu sensitif, pikiran dan bahasa
yang aneh, dan fantasi-fantasi aneh. Anak dengan gangguan kepribadia skizotipal
biasa digambarkan dengan aneh atau eksentrik, sehingga selalu diejek oleh teman-
teman sebaya. Tidak diketahui dengan pasti jenis kelamin yang lebih sering, tetapi
gangguan kepribadian ini biasanya terdiagnosa pada perempuan dengan fragile X
syndrome.1

Etiologi
Penyebab dari perilaku aneh, terkadang pemikiran paranoid, tingkah laku
yang aneh dan gangguan hubungan interpersonal, mengacu pada gangguan-
gangguan ini berhubungan genetik dengan skizofrenia, kemungkinan lebih sedikit
dari bermacam varian yang ada pada Axis I.2
Penelitian keluarga secara konsisten menunjukkan bahwa keluarga dan
saudara dari pasien skizofrenia berisiko lebih tinggi mengalami gangguan
kepribadia skizotipal. Meskipun begitu, meningkatnya resiko skizotipal juga
dijumpai pada keluarga kandung pasien dengan depresi unipolar, mengacu bahwa
gangguan kepribadia skizotipal tidak hanyak berhubungan dengan skizofrenia.2

4
Demikian penelitian keluarga menyediakan setidaknya sedikit bukti yang
menyebutkan bahwa adanya gangguan kepribadian berhubungan kepada
skizofrenia dan gangguan-gangguan lainnya seperti pada skizotipal. Beberapa
pasien mempunyai defisit pada kognitif dan fungsi neuropsikologikal yang sama
dengan yang biasa dilihat pada pasien skizofrenia. Ditambah lagi, pasien dengan
gangguan kepribadian skizotipal dijumpai mempunyai pembesaran ventrikel dan
lesi lobus temporal pada gray matter.2

Diagnosis
Kriteria diagnosis untuk Gangguan Kepribadian Skizotipal3
A. Pola defisit sosial dan interpersonal yang sangat kuat, ditandai oleh
perasaan tidak nyaman akut dengan hubungan dekat dan berkurangnya
kapasitas untuk, menjalin hubungan dekat, bias kognitif atau persepsi
perilaku yang eksentrik, muncul pada masa dewasa awal dan timbul
dengan bermacam variasi, dengan indikasi lima dan lebih tanda-tanda
dibawah ini:
1. Ideas of reference (diluar dari delusi)
2. Kepercayaan aneh atau pemikiran magis yang mempengaruhi
tingkah laku, dan tidak konsisten dengan norma subkulturan
(contoh percaya pada takhayul, ramalan, telepati, atau indra
keenam; pada anak dan remaja, fantasi aneh atau keasyikan
tersendiri).
3. Pengalaman persepsi yang tidak biasa, termasuk ilusi tubuh.
4. Pikiran dan gaya bicara yang aneh (contoh: suara tidak jelas,
percakapan berputar-putar, menggunakan perbandingan kata-kata,
terlalu susah untuk dimengerti dan klise).
5. Selalu curiga dan paranoid.
6. Afek tidak sesuai atau terbatas
7. Tingkah laku dan penampilan yang aneh, eksentrik, atau ganjil.
8. Tidak mempunyai teman dekat dan kerabat selain keluarga
kandung.

5
9. Kecemasan sosial yang berlebihan yang tidak berkurang walaupun
dikelilingi keluarga dan lebih dikarenakan ada ketakutan paranoid
dibandingkan pemikiran negatif tentang diri sendiri.

B. Tidak muncul secara eksklusif selama keadaan Skizofrenia, gangguan


mood dengan gejala psikotik, gangguan psikotik lainnya, atau gangguan
perkembangan pervasif.

Catatan : Apabila kriteria dijumpai bersamaan dengan adanya Skizofrenia,


ditambahkan “Premorbid” contoh “Gangguan Kepribadian Skizotipal
(Premorbid)”.

Diagnosa Banding
Gangguan kepribadian Skizotipal dibedakan dari Skizofrenia, gangguan
delusional, dan gangguan afektif dengan psikosis berdasarkan waktu-waktu
terjadinya gejala psikotik, seperti delusi dan halusinasi. Adanya gangguan
psikotik dengan delusi akan menyebabkan diagnosa untuk gangguan kepribadian
skizotipal menjadi lebih susah.1
Gangguan kepribadian skizotipal juga susah dibedakan dengan beberapa
kelompok heterogen dari masyarakat, anak-anak dengan tingkah laku aneh yang
dikarakteristikkan dengan adanya isolasi sosial, perilaku eksentrik, dan bahasa
yang aneh yang juga dapat terlihat pada Gangguan Autistik, Gangguan Asperger,
dan Mixed Receptive-Expressive Language Disorder. Gangguan berkomunikasi
dapat dibedakan melalui kapan pertama kali dan seberapa parah gangguan bahasa
anak tersebut. Hal ini juga harus ditemukan bersamaan dengan usaha kompensasi
dari anak tersebut untuk berkomunikasi dengan menggunakan cara lain dan
mempunyai spesialisasi dalam bahasa. Gangguan Autistik dan Gangguan
Asperger dibedakan berdasarkan terganggu interaksi sosial dan tingkah laku
stereotype.
Gangguan kepribadian Skizotipal dibedakan dari gangguan kepribadian
lain :

6
 Skizoid dan Paranoid (dimana gangguan ini dapat dijumpai pemikiran
magis, pengalaman persepsi yang tidak biasa, aneh dalam berbicara,
penampilan, dan pemikiran, tetapi jarang).1
 Narsisistik (dengan perasaan dominan mengenai kebesaran, kepercayaan
diri yang rapuh, dam rasa takut mempunyai kekurangan, atau rahasia
kejelekannya terbongkar).1
 Menghindar (dimana jarang juga ditemukan aneh dalam penampilan dan
tingkah laku, dan takut dipermalukan, tidak tertarik dan tidak bisa
berhubungan tetap, yang menyebabkan menghindar dari sosial dan
terisolasi.1
 Borderline (dikarakteristikkan dengan tidak stabilnya afektif dan
hubungan yang terus terganggu, dimana adanya ditemukan tingkah laku
impulsive dan manipulatif. 1

Komplikasi
Komplikasi dari gangguan ini ialah adanya episode psikotik yang terus
menerus biasanya dipicu oleh stres. Gejala terkadang begitu jelas sehingga
memenuhi kriteria gangguan Skizofreniform, gangguan delusi, dan gangguan
psikotik ringan.1
Lebih dari setengah pasien setidaknya pernah mengalami episode depresi
mayor, dan 30-50% pasien dengan depresi mayor berhubungan dengan gangguan
kepribadian ini. Gangguan kepribadian yang sering dijumpai bersamaan dengan
skizotipal adalah skizoid, paranoid, menghindar dan borderline.1 Menurut Morey
(1988) dijumpai pada 33% yang di diagnosa dengan skizotipal juga mempunyai
gangguan narsisistik, 59 % mempunyai gangguan kepribadian menghindar, 59 %
mempunyai gangguan kepribadian paranoid, 44% mempunyai gangguan
kepribadian skizoid.2

7
Penatalaksanaan

Individu dengan gangguan kepribadian tidak sadar bahwa dirinya sakit dan
jarang mencari pertolongan kecuali orang lain di sekitar, misalnya pasangan atau
orang tua yang memaksa. Hal ini terjadi ketika tingkah laku yang terjadi mulai
mempengaruhi dan menyebabkan masalah perkawinan, keluarga dan karir, atau
ketika gangguan mental lainnya (contohnya cemas, depresi, pemakaian obat-obat
terlarang) atau gangguan somatic (contohnya obesitas) mempengaruhi gambaran
klinis. Umumnya pasien dengan gangguan kepribadian membutuhkan beragam
rencana pengobatan yang sering mengkombinasikan antara psikoterapi dan
farmakoterapi.1

Terdapat empat tingkatan mayor dalam mengobati pasien dengan


gangguan kepribadian, yang pertama yaiu manajemen krisis dan stabilisasi, kedua
yaitu menyadarkan mengenai pandangan positif dan nilai berharga dalam hidup,
ketiga yaitu other centered awareness, dan integrated intelligence.1

Terapi yang biasa diterapakan pada pasien dengan gangguan skizotipal5:

Psikoterapi

Pikiran yang aneh dan ganjil dari pasien gangguan kepribadian skizotipal harus
ditangani dengan berhati-hati. Beberapa pasien terlibat dalam pemujaan, praktek
religius yang aneh, dan okulitis. Ahli terapi tidak boleh menertawakan aktivitas
tersebut atau mengadili kepercayaan atau aktivitas mereka.5

 Behavioral therapy
Individu dengan gangguan kepribadian skizotipal membutuhkan
kemampuan untuk menjalin hubungan interpersonal dengan orang lain, ia
membutuhkan teknik-teknik baru untuk melakukan pendekatan dengan
orang lain. Terapis mengajarkan bagaimana mengungkapkan perasaan-
perasaan dan berekspresi secara tepat. Individu juga diajarkan bagaimana
mengatur suara atau berbicara ketika berhadapan dengan orang lain.1.5

8
 Cognitive therapy
Dalam terapi ini individu belajar untuk merespon dan dilatih untuk fokus
terhadap suatu masalah dari pikiran-pikiran menganggu. Terapi ini juga
melatih individu untuk memisahkan masalah-masalah sosial yang
membingungkan dari pikiran-pikirannya sendiri terutama dari hal-hal yang
membuat individu mengelak dari situasi interpersonal.1.5
 Family therapy
Terapi dapat efektif bila semua anggota keluarga dilibatkan, konselor atau
ahli terapi dilibatkan secara langsung dalam keluarga dapat mengurangi
letupan amarah dan menjaga hubungan emosional antar sesama anggota
keluarga. Terapi ini juga dapat meningkatkan moral dalam keluarga.1,5

Farmakoterapi

Tidak ada obat khusus untuk menyembuhkan gangguan kepribadian ini,


dokter menganjurkan obat antidepressant atau antipsikotik bila individu tersebut
juga mengalami gangguan kecemasan, depresi atau gangguan mood lainnya. Obat
risperidone (Risperdal) dan olanzapine (Zyprexa) diberikan bila individu
mengalami penyimpangan (gangguan) dalam berpikir.5

Medikasi antipsikotik berguna untuk mengatasi gagasan mengenai diri


sendiri, waham, dan gejala lain dari gangguan dan dapat digunakan bersama-sama
dengan psikoterapi. Hasil yang positif telah dilaporkan dengan haloperidol. Anti
depresan digunakan jika ditemukan suatu komponen depresif dari kepribadian.5

Prognosis

Pendekatan kepribadian yang akurat secara umum dapat memprediksi


tingkah laku yang berbeda dan membantu dalam prognosis selanjutnya. Pasien
dengan gangguan kepribadian lainnya, seperti anti sosial dan lainnya, cenderung
akan mengalami perbaikan seiring dengan umur dan kedewasaan seseorang. Tapi
hal ini kurang didapat pada anankastik dan khususnya skizotipal.4

9
DAFTAR PUSTAKA

1. Cloninger CR, Svrakic DM. Personality Disorders. In: Kaplan and


Sadock’s, editors. The Comprehensive Textbook of Psychiatry,
Volume II, 9th ed. Philadelphia: Lippincott Williams and Wilkins;
2009. p. 2197-2240
2. Davison GC, Neale MJ, Kring AM. Abnormal Psychology. Ninth
edition. New Jersey: John Wiley and Sons Inc; 2004
3. American Psychiatric Association. Diagnostic and Statistical
Manual of Mental Disorders, Fourth Edition, Text Revision.
Washington DC: American Psychiatric Association; 2000.
4. Puri BK, Laking PJ, Treasaden IH, Textbook of Psychiatry,
Second Edition. London: Churchill Livingstone: 2002.
5. Pong D, Schizotypal Personality Disorder. Artikel Psikologi
Umum [Internet]. 2008 Desember [diakses pada 20 Oktober 2010];
Psikologi.
Diambil dari http://www.pikirdong.org/psikologi/psi34p-std.php
6. MARET Systems International. Understanding Personality Style
and Disorder of Pastoral Counseling. MARET Systems
International; 2006.

10