Anda di halaman 1dari 3

Ida Arimurti MENGENAL TERJADINYA HAID DAN HAMIL Oleh: Mas Ahmad Yasa, dr

'Ida arimurti'
Tue, 27 Feb 2007 16:51:06 -0800
MENGENAL TERJADINYA HAID DAN HAMIL Oleh: Mas Ahmad Yasa, dr
Pada saat setelah haid, permukaan rongga rahim yang terkelupas ketika haid
akan kembali ditumbuhi oleh lapisan baru. Setiap selesai haid, lapisan
rongga rahim itu akan kembali dimatangkan atau disuburkan agar siap untuk
menjadi tempat kehamilan pada siklus haid bulan berikutnya. Pembentukan
lapisan permukaan rongga rahim yang baru ini berlangsung secara bertahap
berhari-hari hingga sampai pada keadaan yang cocok untuk digunakan sebagai
tempat kehamilan.
Sekitar 2 minggu (14 hari) sebelum jadwal haid bulan berikutnya, lapisan
permukaan rongga rahim ini sudah dalam keadaan subur dan siap untuk menerima
calon janin.
bersamaan dengan matangnya rongga rahim, yaitu sekitar 2 minggu sebelum
jadwal haid berikutnya, normalnya akan ada sebuah sel telur (ovum) matang
yang keluar dari kandung telur (ovarium) yang siap untuk dibuahi oleh
sperma. Keluarnya sebuah sel telur matang dari kandung telur ini dikenal
dengan istilah Ovulasi.
Jadi, sekitar 14 hari sebelum haid itu normalnya akan selalu terjadi dua
peristiwa kematangan, yaitu matangnya rongga rahim sehingga siap untuk
menjadi tempat kehamilan, serta peristiwa matangnya sebuah sel telur yang
siap untuk dibuahi. Kedua peristiwa ini berlangsung secara bersamaan, dan
akan terus terjadi berulang kali di setiap siklus bulanan haid selama lebih
dari 30 tahun usia subur wanita hingga menjelang menopause, kecuali bila
terjadi kehamilan atau ada faktor penghambat lainnya.
Hari terjadinya ovulasi itu memang dihitung bukan dari hari pertama haid di
bulan yang bersangkutan, tapi dihitung dari hari pertama haid bulan
berikutnya. Praktisnya untuk menghitung tanggal perkiraan ovulasi adalah
dengan cara mengurangi 14 hari dari lamanya siklus haid. Hal ini karena haid
itu umumnya terjadi pada 14 hari setelah ovulasi.
Jadi misalnya bila siklus haid bulanan seorang wanita adalah 30 hari, maka
hari subur (ovulasi) akan terjadi sekitar hari ke-16 yaitu dari perhitungan
30 dikurangi 14.
Sebagai catatan, hari pertama haid di bulan tersebut dinyatakan sebagai hari
ke-1. Contoh lain, bila siklus haidnya 35 hari, maka hari suburnya adalah
hari ke-21 yaitu dari 35 dikurangi 14. Demikian juga untuk siklus haid 28
hari maka ovulasi akan terjadi sekitar hari ke-14, dan seterusnya.
Patokan jarak 14 hari dari haid bulan berikutnya untuk masa subur sel telur
ini, memang berlaku untuk semua wanita yang normal. Berapapun jarak siklus
haid bulanan seorang wanita, baik yang jarak siklusnya 22 hari, 25 hari, 28
hari, 35 hari, dll., maka keluarnya sel telur matang atau ovulasi atau hari
subur ini terjadi pada jarak waktu yang sama, yaitu sekitar 14 hari (2
minggu) sebelum hari pertama haid bulan berikutnya.
Dalam setiap bulan atau dalam setiap satu siklus haid, normalnya hanya ada
sebuah sel telur saja yang matang, dan kemudian dikeluarkan oleh kandung
telur ke mulut saluran yang menuju rongga rahim. Namun sel telur matang ini
setelah keluar dari kandung telur, ternyata masa suburnya hanya berlangsung
sebentar saja, karena sel telur matang ini hanya mampu bertahan hidup
beberapa jam saja.
Bila pada saat ovulasi atau tepat pada hari ketika keluarnya sel telur
matang ini dilakukan hubungan suami istri, dan sel sperma berhasil membuahi
sel telur matang ini, maka akan terjadi kehamilan, asalkan tidak terdapat
faktor kelainan atau penghambat. Hal ini karena dalam setiap satu siklus
bulanan, masa subur wanita hanya terjadi pada satu hari ketika ovulasi saja.
Adapun sperma, masa suburnya itu terjadi setiap hari, sehingga setiap saat
keluar ketika hubungan badan, sel sperma normalnya selalu dalam keadaan
subur.
Oleh karena itu maka hanya hubungan badan yang dilakukan di sekitar ovulasi
saja yang bisa menyebabkan kehamilan, yaitu sekitar 14 hari sebelum jadwal
haid berikutnya. Sedangkan hubungan suami istri yang dilakukan di luar
ovulasi atau di luar masa subur wanita maka tidak akan menyebabkan
kehamilan, karena di luar masa subur tersebut tidak akan ada sel telur
matang yang bisa dibuahi.
Dengan demikian bila misalnya siklus haid bulanan seorang wanita adalah 30
hari, maka kehamilan bisa terja di kalau hubungan suami istri dilakukan
sekitar hari ke-16 siklus haidnya (30 dikurangi 14). Contoh lain, pada
wanita yang memiliki siklus haid 35 hari maka hubungan badan yang bisa
menyebabkan hamil adalah kalau dilakukan sekitar hari ke-21 sesudah haid
sebelumnya. Demikian juga untuk wanita yang siklus haidnya 28 hari maka bila
dilakukan hubungan suami istri sekitar hari ke-14 maka bisa hamil juga, dst.
Perhitungan masa subur wanita seperti di atas ini tentunya akan mudah
dilakukan bila siklus haidnya teratur setiap bulan. Sedangkan pada wanita
yang datang haidnya tidak teratur tentu saja akan sulit menerapkannya. Namun
sekarang sudah ada alat test kesuburan atau ovutest yang juga sudah dijual
bebas di pasaran. Melalui alat ini masa subur setiap wanita bisa diketahui
dengan mudah, termasuk pada wanita yang siklus haidnya tidak teratur. Alat
ini ada yang menggunakan metoda pemeriksaan air kemih dan ada juga yang
melalui pemeriksaan air ludah.
Pada pemeriksaan air kemih, prinsipnya adalah mendeteksi kadar hormon
perangsang ovulasi yaitu Luteinizing Hormon ( LH) yang dihasilkan tubuh
wanita. Sekitar 1 - 2 hari sebelum ovulasi, hormon LH ini selalu melonjak
hingga mencapai kadar tertinggi, kemudian turun lagi setelah ovulasi.
Sedangkan pada alat yang menggunakan pemeriksaan air ludah, prinsipnya
adalah mendeteksi kadar elektrolit yang ada di dalam air ludah yang selalu
meningkat pada wanita subur di sekitar 3 hari sebelum ovulasi, dan kemudian
menurun kembali sekitar 3 hari setelah ovulasi.
Pada beberapa hari sebelum ovulasi sampai beberapa hari sesudah ovulasi
tersebut yaitu ketika LH maupun elektrolit meningkat, pemeriksaan ovutest
akan menunjukkan hasil yang positip. Hari-hari yang positip ini disebut juga
"jendela kesuburan".
Pemakaian alat ovutest ini bisa dilakukan setiap bangun pagi, setelah
selesai haid, setiap hari dalam beberapa bulan pertama hingga bisa
mempelajari grafik siklus normal bulanannya dan saat-saat masa suburnya.
Melalui "jendela kesuburan" dari hasil ovutest ini memang bisa diketahui
secara obyektif masa subur setiap wanita, termasuk bagi wanita yang haidnya
tidak teratur. Tapi bagaimanapun juga test ini tidak bisa mendeteksi secara
pasti tentang kapan, hari, jam dan menit waktu terjadinya ovulasi. Namun
yang pasti bahwa lonjakan kadar LH yang selalu terjadi sekitar 1 - 2 hari
sebelum ovulasi, atau pun lonjakan elektrolit yang terjadi sekitar 3 hari
sebelum ovulasi, bisa dideteksi oleh alat ovutest.
Bagi suami istri yang menginginkan punya anak, hubungan badan di hari-hari
awal masa "jendela kesuburan" ini akan memberikan peluang yang lebih besar
untuk mendapatkan kehamilan. Sebaliknya, masa "jendela kesuburan" ini bisa
juga digunakan sebagai patokan untuk menghindarkan hubungan badan bagi suami
istri yang tidak menghendaki kehamilan ( metoda KB alami/ pantang berkala),
meskipun efektivitas cara ini tidak bisa dijamin berhasil 100 % dalam
mencegah kehamilan.
Dalam keadaan normal, sehari sebelum terjadinya ovulasi atau bersamaan
dengan mulai melonjaknya hormon LH, suhu tubuh biasanya meningkat sekitar
0,5 derajat celcius dari sebelumnya. Selanjutnya suhu setinggi ini akan
tetap bertahan hingga datangnya hai d berikutnya. Begitu terjadi haid, suhu
tubuh akan turun lagi 0,5 derajat celcius kembali ke suhu sebelum ovulasi.
Kemudian sekitar sehari menjelang ovulasi berikutnya suhu naik lagi, dan
terus naik turun di setiap menjelang ovulasi dan ketika haid, yang terjadi
secara periodik dalam setiap siklus bulanan haid.
Pengukuran suhu yang terbaik adalah langsung ketika bangun pagi, sebelum
bangkit dari tempat tidur. Bila hal ini dilakukan rutin setiap hari sejak
haid kering, maka pada hari kedua setelah terjadinya kenaikan suhu bisa
dijadikan sebagai patokan perkiraan hari subur atau ovulasi. Pada saat
itulah, bila dilakukan hubungan suami istri, akan mendapatkan peluang yang
besar untuk terjadi kehamilan.
Sekarang malah di pasaran sudah ada termometer digital berprogram komputer
yang dirancang khusus untuk test kesuburan. Bila alat ini dipakai oleh
wanita setiap hari, maka menjelang masa subur atau ovulasi, dari alat ini
akan keluar sinyal indikator dan suara alarm tanda masa subur yang akan
menyala secara otomatis.
Bahkan akhir-akhir ini ada juga jam tangan wanita yang dilengkapi dengan
termometer khusus, untuk mendeteksi masa subur. Sehingga begitu datang masa
subur maka secara otomatis akan ada tanda peringatan dari jam tangan yang
dipakai tersebut. Namun tentu saja bila tubuh sedang menderita demam,
pendeteksian kesuburan melalui suhu ini akan sulit diketahui dengan akurat.
------------ --------- --------- --------- --------- --------- ---
Penulis adalah Alumnus Fakultas Kedokteran UNPAD Bandung, bertugas di
Kalsel.